Buah Ketulusan

Asih Aspalia / Buah Ketulusan / tidak ada / tenaga kerja asing Brak … ember berwarna hijau yang berisi air hangat itu jatuh bebas ke lantai. Tumpahan airpun sebagaian membasahi seprei. ” Huh … aku bisa mati kedinginan jika dimandikan perawat Indonesia yang kerjanya lamban ini!” Omel pepe dengan suara lantang membahana. Nyonya Pin Pin istrinya, segera mendekatinya … Continue reading “Buah Ketulusan”

Asih Aspalia / Buah Ketulusan / tidak ada / tenaga kerja asing

Brak … ember berwarna hijau yang berisi air hangat itu jatuh bebas ke lantai. Tumpahan airpun sebagaian membasahi seprei.
” Huh … aku bisa mati kedinginan jika dimandikan perawat Indonesia yang kerjanya lamban ini!” Omel pepe dengan suara lantang membahana. Nyonya Pin Pin istrinya, segera mendekatinya dan berusaha menghentikan omelanya. Sementara Achen Siaoce wanita asal China daratan , yang selama ini merawatnya, segera mengambil handuk besar untuk menutupi tubuh pepe yang tidak pakai baju.
Saat itu hari kedua aku kerja. Kemarin pagi aku dibawa agency ke rumah sakit terbesar di kota Taipei, dengan tugas merawat laki – laki berusia 60 taun yang minta aku panggil pepe. Pepe lumpuh total akibat sakit kanker prostatnya. Menurut cerita nyonya, pepe lumpuh setelah menjalani oprasi pemindahan pelir kencingnya ke pinggang sebelah kirinya. Dan kepalanya botak akibat kemoterapi dan radioterapi yang dilakukan pasca oprasi.
Achen Siaoce sejak aku datang, mengajariku cara merawat pepe. Dan di hari kedua, aku harus memraktikkannya. Namun rupanya pepe tak menyukaiku.
Walaupun aku telah berusaha maksimal untuk melaksanakan tugas sesuai yang diajarkan Achen Siaoce, nyatanya selalu menuai caci maki.
Seperti yang baru saja terjadi. Aku memraktikkan mengelap tubuh pepe. Walaupun aku telah berusaha mengerjakan secepat mungkn, nyatanya tetap dinilai lamban.
Aku masih berusaha sabar dan tabah. Mungkin karena masih awal, kuanggap pepe mengujiku saja. Namun kesabaranku rasanya semakin menipis, kala sepekan telah berlalu, sifat pepe semakin tidak bersahabat padaku.
Bahkan berulang kali kudengar, dia meminta pada istrinya untuk mengembalikan aku ke agency. Sedih memang kurasakan, namun suara Emy agencyku yang selalu memecut semangatku, tiap kali kutelpon, seakan suplemen yang menyegarkan kembali semangatku yang hampir layu.
Ditambah rasa takutku harus pulang tanpa kesuksesan, yang akan melahirkan masalah berat ketika berada di kampung kelahiran sana.
Aku hanyalah seorang janda miskin yang butuh uang untuk biaya sekolah kedua putriku yang ditelantarkan ayahnya ya mantan suamiku.
Dan keberangkatanku ke negeri Formosa ini tidaklah gratis. Dengan sangat terpaksa aku pinjam tiga ekor kambing bibiku yang punya penyakit syaraf yang akut. Jika aku tidak bisa secepatnya mengembalikan, kemungkinan akan memperparah penyakit bibiku yang hidupnya tergantung obat- obatan itu.
*****
Dua pekan telah berlalu. Sikap pepe masih tiada berubah. Tiap saat, tiap hari, caci makinya menggaung di telingaku. Ember berisi air masih sering jatuh kena sambaran tangannya.
Bahkan ketika kupotong kukunya, dia teriak lantang bilang aku telah memotong jemarinya. Belum lagi teriakkanya tiap malam, yang katanya merasa kesakitan tiap tiga jam sekali kukasih balik badan.
Meski jantungku berdebar penuh ketakutan tiap kali hendak memulai melakukan tugasku, Achen Siouce tetap memenuhi pesan Nyonya Pin Pin, agar aku tetap mengerjakan tugasku dalam pengawasan Achen Siaoce. Kuhibur diriku, dengan teriakan hati,” Wo iting cuo te tau, aku pasti bisa!” setiap kali putus asa merayuku.
Tepat dua puluh hari aku kerja, hari raya imlek tiba. Achen Siaoce harus cuti untuk merayakan imlek bersama keluarganya. Karena dia bersuamikan orang Taiwan. Dan kesempatan itulah ingin kugunakan sebaik-baiknya, untuk merealisasikan kalimat yang bergema di hatiku, yaitu,” Aku pasti bisa!” Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa menunaikan kerjaanku.
Malam pertama aku sendirian menjaga pepe dikamar nomer 9 itu, ujian berat telah datang. Pepe yang sudah tiga hari tidak buang air besar, malam itu pukul 20.00, tepat satu jam setelah kepergian Achen Siauce, pepe buang air besar bercampur darah kental dalam jumlah yang banyak.
Berulang kali bel kupencet untuk memanggil perawat. Tapi tak satupun perawat muncul. Mungkin mereka sibuk mengurus pasien lain. Apalagi malam hari, jumlah perawat lebih sedikit, dan harus mengurus puluhan pasien yang semuanya menderita kanker ganas. Sementara luka membusuk di pantat pepe, akibat dari kurangnya balik badan, di kala dijaga orang China sebelum Achen, harus cepat diganti perban dan obatnya.
Dalam keadaan setengah bingung, aku memutar otakku sendiri. Sementara menunggu suster datang, aku lepas perban yang membalut pantat pepe yang dipenuhi luka bernanah. Karena aku takut perban yang berlepotan kotoran dan darah itu, akan memperparah lukanya. Namun, baru saja kulepas perbannya, darah kental kembali keluar lebih banyak, dan mengotori luka di pantat pepe. Kucoba lagi memencet bel. Kali ini, ada suster yang datang.
Dia menyuruhku membersihkan darah itu. Berdasarkan pengalaman dari merawat pasien yang dulu, ku sengaja menampung darah itu di plastik, dan aku taruh di tong sampah yang ada di dalam kamar. Waktu suster mengganti obat, kuberanikan diri menyatakan keinginanku.
“Siaoce, sudikah anda mengajariku cara mengganti obat dan perban, agar bila suster repot, aku bisa menggantikan sendiri.”
” Boleh sekali, sekarang juga aku ajari kamu.” Ucapnya sambil langsung mengajariku. Dimulai memperkenalkan alat alatnya, dengan kalimat pelan, dia dengan senang hati mengajariku. Aku catat semua di memori otakku.
Belum sampai lima belas menit suster berlalu, pepe kembali berak darah. Berlandasan pelajaran yang aku dapatkan dari suster tadi, aku praktikkan cara mengganti perban dan obat. Aku sempat terheran heran, pepe tidak lagi teriak mencaci makiku meskipun aku bolak -balik badannya. Bahkan dengan kata kata lembut dia bertanya padaku.
” Apa aku berak, Asih? Gimana beraknya, baik baik saja kan?” tanyanya.
Dia memang telah mati rasa di area pinggang ke bawah. Makanya tidak merasakan sakit dipantatnya, meski dipenuhi luka bernanah dan berdarah.
“Ya benar pepe, pepe berak banyak sekali, mungkin karena sudah tiga hari pepe tidak berak. Tenang saja, beraknya bagus kok, tidak ada masalah.” Aku sengaja tidak memberitahu tentang berak darahnya, agar dia tidak ketakutan, yang akan memperburuk kesehatanya.
Setelah, aku bersihkan semua , Dan pepe tertidur, aku pergi ke kantor suster, memberitahukan tentang pepe yang berak darah terus menerus. Ketika kembali ke kamar, pepe ternyata berak lagi, kuganti lagi obatnya, begitu seterusnya, sampai pukul 24. 00. Bahkan aku sampai belum sempat makan malam. Tepat pukul 24.15, dokter jaga datang memeriksa.
Untung aku tampung berak darahnya diplastik, dan belum aku buang di tempat sampah yang ada diluar kamar. Karena benar dugaanku, dokter ingin lihat darah itu. Yang pasti, meski berat kerjaanku, aku merasa lega, bisa mencairkan hati pepe yang selama ini keras padaku.
Pagi itu, tidak seperti pagi pagi sebelumnya, yang selalu pasang muka masam dan penuh kebencian padaku. Kulihat pepe tersenyum padaku, dan ini senyum pertama untukku. Bahkan ketika aku terapi kakinya, dia mulai bertanya tentang aku, dan dengan senang hati aku bercerita tentang keluargaku, tentang Indonesiaku, juga tentang pengalamanku kerja di Taiwan. Bahkan pepe bisa tertawa terbahak – bahak ketika aku bercerita tentang pengalamanku yang lucu.
Nyonya Pin pin, istri pepe yang baru saja datang, langsung bertanya pada pepe, sebagai bentuk rasa ragu, aku mampu menjaga pepe tanpa Achien Siaoce apa tidak? Suster yang sedang memeriksa tekanan darah pepe, langsung memberi jawaban atas keraguan Nyonya Pin Pin. “Jangan khawatir Nyonya, tadi malam aku lihat sendiri, Asih begitu baik menjaga tuan.” Meski masih memendam ragu, Nyonya Pin Pin, mengucapkan terima kasih padaku.
******
Hari berganti hari, kulewati dengan suasana yang berbeda dibanding saat baru datang atau tepatnya saat ada Achen Siaoce. Pepe semakin baik padaku, yang membuat semangat kerjaku semakin meningkat pula. Adik dan kakak- kakak pepe, menilai aku lebih baik menjaga pepe dibanding Achen. Karena melihat raut muka pepe yang lebih bahagia dan juga luka dipantatnya yang mulai kering, karena ketlatenanku mengganti obat dan balik badan. Setiap malam menjelang tidur, pepe bercerita sambil berselancar di dunia maya menggunakan laptop toshibanya.
Tiada terasa, dua pekan berlalu. Achen Siaoce telah mengakhiri masa cutinya. Pagi itu, dia kembali. Namun malamnya, dia berkemas, dan bilang padaku, esuk dia sudah tidak merawat pepe lagi. “Apa, siaoce tidak suka kerja merawat pepe lagi?” tanyaku, sambil melihat Achen Siauce yang mengemasi barangnya yang ada di lemari. “Aku suka menjaga pepe. Tapi aku juga tak kuasa menolak, ketika Nyonya Pin pin, memintaku berhenti. Kamu sudah mampu menjaga pepe, jadi rugi kan, jika harus mempekerjakan aku juga?” Achen Siaoce memberitahu aku alasan dia berhenti bekerja. Kulihat raut mukanya bermendung kekecewaan.
Dengan berhentinya Achen Siaoce, maka sejak saat itu, aku resmi merawat pepe sendirian. Meski kerjaanku merawat pepe yang penyakitnya sudah parah, bukanlah pekerjaan yang ringan, namun karena kebaikan pepe dan keluarganya, aku merasa tidaklah berat. Setiap kerjaan yang kulakukan, bukan saja karena uang semata. Tapi juga terdorong rasa ingin membantu juga mencari pengalaman baru yang bermanfaat.
*****
“Selamat pagi Dokter,” sapaku pada Dokter Lee. Laki-laki setengah baya berbadan tinggi tegap dan berkaca mata tebal itu tersenyum manis padaku. Dialah yang selama ini menangani pepe. .
“Selamat pagi Asih, ” jawabnya ramah sekali. Pelan- pelan aku bangunkan pepe yang tidur pulas setelah aku suapi sarapan pagi tadi.
‘’Pepe bangun! Dokter datang melihatmu,’’ bisikku di telinga pepe yang bersih, karena tiap hari aku bersihkan dengan cotton bud, sambil menggoyangkan tubuhnya dengan halus. Perlahan mata pepe terbuka, bibirnya langsung mengulas senyum begitu melihat Dokter Lee.
“Selamat pagi Ddokter Lee,’’ ujar pepe pelan nyaris tak berbunyi.
“Selamat pagi Tuan Chen, gimana keadaan hari ini, ada perkembangan tidak?” Dokter spesialis kanker itu membuka selimut yang menutupi tubuh pepe, dan memeriksa tubuh pepe, dari ujung kaki hingga kepala.
Pepe diam. Mulutnya bergerak untuk bicara, tapi tak terdengar suaranya.
“Asih, nyonya belum datang ya?” tanya dokter menanyakan Nyonya Pin Pin. “Belum dokter, mungkin sebentar lagi datang,’’ jawabku, sambil mengambil buku laporan yang akan kupergunakan sebagai referensi jawaban atas pertanyaan dokter yang setiap hari pasti dipertanyakan. Dalam buku itu, sudah kucatat dengan rapi, apaun aktifitas pepe, termasuk kencing, berak, makan, dan muntah . Aku harus menimbang makanan, kotoran, muntahan, dan menghitung volume kencingnya, setiap hari . Semua itu perlu dicatat sebagai parameter untuk mengetahui perkembangan kesehatan pepe.
“Hari ini pepe buang air besar tidak Asih?” tanya Dokter Lee.
“Belum dokter, kemarin malam dia buang air bercampur darah kental lagi,’’ jawabku berbisik agar tidak terdengar pepe, yang kemudian dicatat suster asisten Dokter Lee. Aku bacakan semua yang aku catat, dengan mengucapkannya dengan bahasa mandarin campur baur dengan bahasa inggrisku yang pas-pasan. Mungkin karena sudah terbiasa, suster itu bisa menangkap dengan baik apapun yang kuucapkan.
Sebelum meninggalkan kamar, Dokter Lee berpesan, bila Nyonya Pin Pin datang, di suruh menghadap dokter di kantornya.
Tak berapa lama setelah kepergian Dokter Lee, Nyonya Pin Pin wanita tinggi semampai dengan potongan rambut cepak ala lelaki itu datang. Seperti biasa dia mengucapkan salam pada pepe dengan panggilan sayangnya.
“Dady … aku datang. Wo ai ni,’’ ucapnya sambil mengecup pipi kiri dan kanan pepe. Kala melihat betapa manisnya sikap Nyonya Pin Pin pagi itu, mungkin orang akan mempredeksi bahwa Nyonya Pin Pin adalah sosok yang penyayang. Padahal pada hakekatnya, aku sering dibuat menebah dada oleh sikapnya yang pemarah. Pepe hanya memandang istrinya dengan tatapan sendu. Sekali lagi kulihat bibirnya bergerak ingin bicara, tapi yang terdengar hanya seperti orang berkumur saja.
‘Nyonya, tadi Dokter Lee pesan, nyonya disuruh menghadap beliau,’’ kataku menyampaikan pesan Dokter Lee dengan pelan dan sedikit gemetar.
Aku memang agak takut dengan nyonya yang semakin lama aku ketahui watak aslinya yang seperti orang terkena hipertensi akut. Salah sedikit dalam berucap saja, dia akan tersinggung dan umpatan pedaspun tak segan dilontarkan.
Jangankan dengan aku yang notabene orang suruhan, dan dia mengeluarkan uang untukku. Sudah demikian seringnya aku dengar dan tatap sendiri Nyonya Pin Pin mengajak pepe yang tiada berdaya bertengkar dengan pokok permasalahan yang tidak aku mengerti. Bertengkar dengan para perawat, atau tukang timbang badanpun tidak terhitung berapa kali.

“Oke, aku sekarang mau menghadap dokter, jaga pepe baik- baik ya! Jangan lupa kupas apel untuk pepe, lalu kasih pepe minum obat herbal, kemudian kasih terapi. Eh … satu lagi jangan biarkan pepe tidur terus! Harus kau ajak ngobrol biar tidak ngantuk. ” Wanita cantik dengan bibirnya yang tipis itu, mengucapkan kalimatnya dengan cepat, beruntun tanpa tanda koma. Seolah aku ini orang sebangsa dan sebahasa dengannnya. Untung saja bahasa mandarinku lumayan, sehingga aku cepat menangkap bicaranya. Andai saja dia punya pembantu yang baru pertama kali datang ke Taiwan, dengan bahasa yang masih minim, tentu dia akan marah- marah tiap hari. Karena dia pantang mengulang kedua kali perkataannya.
Hatiku ikut tak tenang dengan panggilan dokter tadi. Sebab biasanya jika dokter memanggil keluarga pasien untuk menghadap ke kantornya, pasti ada yang tidak beres mengenai perkembangan penyakit pasien. Dan biasanya pula malah perkembangan yang mengalir ke arah negatif. Jika ada perkembangan positif, dengan gembira dokter akan menyampaikan langsung pada pasien.
Tiga bulan aku merawat pepe, perkembangan penyakitnya pasang surut tidak karuan. Dan semenjak dibawa pulang selama satu pekan, kulihat kondisinya semakin mengenaskan. Rona merah dipipinya yang putih bersih yang sering diasosiasikan sebagai tanda pepe segar bugar, kini tak pernah kulihat. Juga sudah tidak bisa lagi bermain internet dengan laptop toshibanya.
Aku telah berusaha menyenangkan hatinya dengan cara menuruti apapun keinginannya, termasuk makan ice cream kesukaannya. Dalam sehari bisa menghabiskan empat sampai lima batang ice cream rasa coklat kesukaanya, meskipun harus sembunyi- sembunyi dari nyonya. Jika nyonya tahu ada ice cream di kulkas, dan langsung menyemburkan lava panas emosinya, aku terpaksa mengakui jika ice itu punyaku. Bukan sebuah kecerobohan jika aku berani memberikan ice cream pada pepe. Waktu masih lancar bicara pepe selalu bertanya pada dokter tentang makanan apa saja yang boleh dikonsumsinya. Dan dokter menyatakan pepe boleh makan Ice cream itu, asalkan dibeli di toko Ice cream yang ada di kantin rumah sakit yang terjamin kebersihan dan keheygenisanya.
Aku menunggu nyonya sambil memberi fisioterapi kaki dan tangan pepe. Limabelas menit kemudian datanglah anak perempuan pepe yang biasa kupanggil Magie Siaoce, bersama kakak dan adik perempuan pepe.
“Asih, mama apakah sudah datang?” tanya Magie siaoce sambil menepuk halus pundakku. Sikap Magie Siaoce amat kontras jika dibandingkan dengan mamanya. Gadis cantik ini pembawaanya kalem dan sopan pada siapaun termasuk denganku.
“Sudah datang siauce. Sekarang lagi ke kantor Dokter Lee,’’ mendengar ucapanku Magie Siaouce tampak berubah roman mukanya. Demikian pula Ta Kuku(kakak perempuan Pepe) dan xiao kuku(adik perempuan pepe), aku membaca rona cemas di wajah mereka.
Beberapa menit kemudian kulihat nyonya terpaku di depan pintu. Dia lambaikan tangan memanggil Magie Siaoce. Magie Siaoce keluar dan diikuti dua kukunya. Pintu kamar ditutup dari luar. Aku semakin penasaran. Sekilas tadi kulihat ada duka di wajah nyonya.
Tak seperti biasanya, dimana mereka tidak akan berlama- lama meninggalkan pepe. Tapi kali ini kuhitung sudah lebih dari setengah jam mereka ada di luar kamar, tapi tidak kembali masuk juga. Aku semakin penasaran. Kebetulan air panas di tremos habis. Dengan alasan mengambil air panas di ruang pantri, aku punya kesempatan keluar sebentar untuk memastikan mereka masih ada di luar kamar.
Pintu kamar aku buka, dan alangkah terkejutnya aku, merelihat mereka menangis tersedu- sedu. Melihatku nyonya memanggilku mendekat.
“Asih, mulai sekarang kamu harus menjaga pepe dengan lebih baik dan penuh kasih sayang, agar di saat- saat terakhirnya, dia dalam keadaan senang dan bahagia.”
Tak perlu dijelaskan dengan kalimat yang mendetail, aku sudah faham dengan apa yang terjadi pada diri pepe. Karena bukan sekali ini saja aku merawat pasien yang menderita penyakit kanker ganas.
“Baiklah nyonya, saya faham dan mengerti, selama inipun saya sudah menjaganya seperti aku menjaga bapakku sendiri.’’
“Terima kasih Asih,’’ ucap Magie Siaoce sambil memelukku. Kutatap matanya masih merah, tentu sudah begitu lama dia menangis tadi.
……….
Kucuri dengar pembicaraan dokter dan nyonya pagi itu. Ternyata sel kanker yang bersarang di tubuh pepe sudah menjalar ke paru- paru, yang berarti sudah tiada harapan hidup lebih lama lagi.
Tubuh pepe semakin lemah, dan sudah tidak bisa mengaduh kesakitan seperti kemarin. Morfin yang dimasukkan kedalam tubuhnya melalui infus, rasanya sudah tidak dibutuhkan lagi.
Dari pagi semua anggota keluarga termasuk semua saudara pepe yang berjumlah delapan orang berkumpul berdesakan di kamar yang tidak begitu besar itu. Pukul delapan malam pepe menjalani kemoterapi. Obat kemoterapi yang digunakan untuk membunuh sel-sel kanker yang menggerogoti tubuh pepe itu, tergolong cukup keras. Mungkin karena pengaruh obat itu, pepe tidur pulas seperti orang pingsan.
Karena capek semua anggota keluarga pamit pulang termasuk kedua anak pepe yang mau kerja dan kuliah esuk harinya. Nyonya juga pamit pulang sebentar untuk mengambil baju dinginnya yang tadi lupa dibawanya. Otomatis tinggal aku sendiri yang menjaga pepe. Dalam keadaan tidak separah ini, aku biasa menjaga pepe sendiri di malam hari. Tapi sejak dokter menyatakan hidup pepe tak lama lagi. Nyonya menemaniku siang dan malam.
Baru limabelas menit mereka meninggalkan tempat. Terpaksa aku telpon untuk kembali ke rumah sakit lagi. Karena pepe tidak respek samasekali ketika kubangunkan untuk minum obat. Pagi tadi dia masih bisa merespon ketika aku bangunkan. Aku segera memanggil dokter. Meski sudah jelas nyawa pepe tinggal di mesin. Namun dokter belum berani melakukan tindakan apapun sebelum anggota keluarga datang.
Tak berapa lama nyonya datang lebih dahulu. Kemudian disusul anak laki- laki dan Magie Siaoce. Dan atas persetujuan keluarga semua selang yang dihubungkan ke tubuh pepe dicabut . Tigapuluh menit kemudian pepe menghembuskan nafasnya yang terakhir kalinya. Tangis kehilangan memecah keheningan malam itu.
Meskipun aku berusaha menjaga pepe dengan baik, namun tak kuasa melawan takdir Tuhan juga melawan penyakit pepe. Hari itu, tepat empat bulan aku merawatnya, pepe harus pergi untuk selama-lamanya, diiringi tangis kehilangan keluarganya. Meski duka menyelimuti hati keluarganya, namun ada terselip rasa syukur di hati mereka. Karena luka dipantat pepe sudah bersih total. Aku terharu, ketika adik dan kakak pepe, mengucap terima kasih, karena telah berusaha membuat luka pepe sembuh. Aku tidak menyangka kesembuhan luka itu amat berarti bagi mereka.*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *