KARENA GENGSI KARENA DIA MEMBENCI

Hatin Sam / KARENA GENGSI KARENA DIA MEMBENCI / FLP & KPKers Taiwan / tenaga kerja asing KARENA GENGSI DIA MEMBENCI Oleh : Hatin Sam Cuaca panas dilangit formosa tidak menghalangi segala aktivitas kerjaku. Setiap pagi sebelum berangkat, kupersiapkan barang dan segala keperluan yang akan dibawa pergi ke tempat clinic terapi serta memeriksa terlebih dahulu keadaan kursi roda. … Continue reading “KARENA GENGSI KARENA DIA MEMBENCI”

Hatin Sam / KARENA GENGSI KARENA DIA MEMBENCI / FLP & KPKers Taiwan / tenaga kerja asing

KARENA GENGSI DIA MEMBENCI
Oleh : Hatin Sam

Cuaca panas dilangit formosa tidak menghalangi segala aktivitas kerjaku. Setiap pagi sebelum berangkat, kupersiapkan barang dan segala keperluan yang akan dibawa pergi ke tempat clinic terapi serta memeriksa terlebih dahulu keadaan kursi roda. Setelah semua siap saya berpamitan pada majikan dan meluncur menuju tempat clinic terapi. Setiap hari saya berjalan kaki dan mendorong kursi roda yang diduduki Ama berjalan menelusuri jalan raya yang padat lalu lintas kurang lebih memakan waktu 30 menit sekali jalan dengan kecepatan jalan diatas rata-rata. Demi tugas dan tanggung jawab pekerjaan ini saya kerjakan dengan iklhas sepenuh hati serta perasaan riang dan gembira. Tanpa terasa waktu bergulir cepat dan tahun ini memasuki tahun ke 4 saya berada di Taiwan.Mungkin karena kesibukan aktivitas kerja yang terlalu padat, kalau pagi rutinitasku mengantar Ama ke clinic terapi, siang pulang ke rumah beristirahat sebentar dan sore membawa Ama jalan-jalan ke taman, begitu setiap hari terus berputar.

Oh ya, sebelumnya perkenalkan nama saya Prihatin berasal dari desa Pangkal Sawoo sebuah desa yang terpencil di Kabupaten Ponorogo Jawa Timur lndonesia, dimana tempat itu telah banyak mengajarkan saya tentang makna sebuah ketegaran serta perjuangan dan pelajaran dalam kehidupan. Empat tahun yang silam saya datang ke Taiwan sebagai buruh tenaga kerja asing dan mengabdi pada keluarga Huang, didalam keluarga tersebut majikan saya memanggil namaku dengan sebutan Tina, karena menurut mereka nama saya terlalu sulit untuk diucapkan dalam logat bahasa cina, tugas utama dan tanggung jawabku adalah menjaga Ama. Tugas rutin harian dari hari senin sampai sabtu pagi harus mengantarkan serta menemani Ama ketempat Clinic Rehabilation yang beralamat di Yhonghe City, New Taipei City, Taiwan untuk mengikuti terapi rutin penyembuhan dan pemulihan kondisi fisik Ama. Ama yang kujaga harus rutin melakukan terapi penyembuhan karena habis operasi akibat patah tulang. Peristiwa saat menjalani operasi tulang pinggul kanan kiri, Ama harus menjalani rawat inap di rumah sakit kurang lebih satu bulan. Pada awalnya setelah masa perawatan di rumah sakit Ama menjalani proses terapi penyembuhan dan pemulihan juga di rumah sakit yang sama yaitu Suangho Hospital Taipei Medical Univercity yang beralamat di Jhonghe City New Taipei City Taiwan. Karena lokasi rumah sakit lumayan jauh dan kurang efisien dalam sektor transportasi majikan saya mencari tempat rehabilisation yang terdekat dengan tempat tinggalnya.

Hari itu seperti biasa setiap tiba dilokasi clinic para pasien yang menjalani terapi harus terlebih dahulu antri untuk mendaftarkan nama pasien sesuai nomer yang tertera pada kartu asuransi kesehatan. Setelah itu para pasien bisa menuju tempat tujuan sesuai yang tertulis dilembaran kertas data nama pasien. Dikertas tersebut tercantum nama, nomer askes dan keluhan serta solusi penanganannya ditempat terapi. Clinic Rehabilisation tersebut berdiri disebuah areal ruko apartement yang terdiri dari lantai 1 hingga lantai 7, yang masing-masing untuk lantai 1 dan 2 untuk terapi yang menggunakan alat bantu mesin komputer, lantai 3 untuk terapi yang berhubungan dengan olahraga para pasien, lantai 5 dan 6 untuk anak2 autis, lantai 7 untuk terapi pengembalian dan latihan vokal / suara bagi pasien yang terkena stroke atau bagi pasien yang mengalami gangguan dalam hal berbicara. Di ruangan lantai 3 Ama menjalani terapi jenis olahraga diantara bersepeda santai, berjalan / berlari kecil disebuah alat khusus berlari dengan timer waktu dan setingan yang sudah ditentukan serta disesuaikan bagi masing2 pasien.
“Selamat pagi, Tuan”, kataku, menyapa kepada para petugas klinik terapi.
“Pagi”, jawaban singkat dari petugas jaga klinik terapi.

Mungkin karena terlalu banyak pengunjung yang datang setiap harinya, dalam menggunakan peralatan fasilitas terapi olahraga, setiap pasien harus antri secara bergiliran. Ama yang ku jaga orangnya punya karakter keras dan paling tidak suka jika harus menunggu lama, saat antri menunggu giliran ada salah seorang care taker Taiwan / perawat orangtua/ pasien asli warga Taiwan tanpa sengaja menjatuhkan kursi kayu yang biasa dipergunakan tempat duduk pasien. Saat itu saya dan teman2 sesama perawat orangtua yang berasal dari lndonesia yang mempunyai jiwa solidaritas dan sosial berusaha membantu mengangkat dan membetulkan kembali kursi kayu yang terjatuh. Kursi kayu tersebut terbuat dari bahan kayu-kayu ringan dan mudah reyot. Berhubung banyaknya jumlah pasien duduk serta bergantian, membuat kursi-kursi itu mudah reyot dan bila digunakan duduk bagi pasien yang badannya gemuk dan besar seperti Amaku terasa oleng dan goyang-goyang sehingga menimbulkan rasa was-was dan kuatir. Sambil menunggu antrian saya memeriksa serta menyiapkan kursi tempat duduk untuk Ama, agar bisa mendapatkan tempat yang aman dan nyaman. Di tengah kesibukanku memilih kursi untuk duduk Ama, tiba-tiba suara teriakan keras dari petugas terapi menyebut nyebut namaku, Tina, Tina, Tina, pembantu bodoh, tidak sopan, kamu telah merusakan kursi kayu ini, teriak petugas yang semakin memicu kegaduhan diruangan terapi. Mendengar kegaduhan dilantai 3, petugas jaga di lantai lain berhamburan datang. Saya terperanjat dan kaget dituduh serta diteriaki seperti maling atau penjahat kakap . Nasib malang dan keberuntungan tidak berpihak pada saya, pihak petugas terapian tetap bersikeras menuduh saya telah merusakkan kursi kayu dan menuduh berbuat onar serta mempunyai kelakuan tidak baik dan sopan ditempat terapian.

Kejadian kursi jatuh menjadi sebuah masalah besar ditempat terapian ( clinic rehabilasation ). Petugas jaga yang berdinas di lantai 3 yang biasa disebut dengan panggilan Tuan Ge, dia seperti orang kesurupan, tak puas dengan aksinya dia memanggilku dan memarahi lagi dengan umpatan kata-kata keras dan kurang bijaksana, dituduh seperti itu saya mencoba membela diri dan mengelak bahwa semua tuduhan itu tidak benar, karena saya tidak merusakan kursi kayu itu.
“Tina, dasar pembantu bodoh, kamu berbuat tidak sopan dan berkelakuan tidak baik serta telah merusakan kursi kayu tempat duduk, saya akan laporkan kamu pada majikanmu” teriak petugas jaga di lantai 3, sambil menunjuk wajahku.
“Mohon maaf Tuan, saya tidak merusakan kursi duduk itu, jika tidak percaya di rekaman camera cctv pasti terlihat jelas siapa dan bagaimana kejadian jatuhnyanya kursi tersebut” jawabku dengan jujur untuk membela diri.
“Tidak, saya tahu kelakuanmu disini setiap hari, kamu punya kelakuan tidak baik dan tidak sopan” jawab Tuan Ge guru /petugas itu dengan ketus.

Seketika itu raut wajahku memerah menahan rasa malu karena harga diriku diinjak-injak serta dipermalukan dihadapan banyak orang. Walaupun kami berstatus pembantu kami masih punya harga diri dan hati nurani, tetapi mengapa petugas itu memperlakukan kami semena-mena tanpa meneliti dengan cermat kronologi kejadian yang sebenarnya. Ini semua rasanya tidak adil dan terlalu karena sudah seharusnya kita bisa saling menghargai sesama manusia walaupun banyak perbedaan propesi, suku, bangsa dan negara. Karena kita sama-sama bekerja dan bertanggung jawab penuh pada tugas dan pekerjaan masing-masing.
Tuan Ge, tidak bisa menerima penjelasan saya, karena gengsi dia terus membenciku, kasus tersebut terus meruncing hingga dilaporkan pada dokter serta pimpinan clinik rehabilisation maupun pada majikan saya. Jam 12.00 siang, sebelum saya dan Ama meninggalkan lokasi terapian, guru / petugas terapi itu kembali memanggilku masuk ke ruangannya.
“Tina, kamu serahkan surat ini pada majikanmu” kata guru petugas dengan nada ketus bercampur amarah.
” lya Tuan, akan saya sampaikan pada majikanku, terima kasih, saya pamit dan selamat siang” ujarku dengan sopan, kemudian saya pamit keluar ruangan terus membawa Ama pulang ke rumah.

Setelah sampai dirumah saya menyiapkan makan siang dulu buat Ama dan majikanku. Sesudah selesai makan siang bersama, kemudian saya melaporkan segala kejadian yang terjadi di klinik terapi dan menyerahkan surat titipan dari guru petugas terapian pada majikanku.
“Maaf Tuan, saya ingin melaporkan kejadian hari ini di tempat terapi, petugas menuduh saya telah merusakan kursi kayu di sana dan ini ada titipan surat dari guru petugas terapi untuk Tuan” ujarku pada majikanku yang laki-laki.
“Tina, kamu tenang saja, tidak usah panik atau takut, jika kamu berada diposisi benar, saya akan lindungi kamu dan bicara pada petugas terapi itu, kamu jangan kuatir, tenang ya !” jawab majikanku dengan tenang dan bijaksana.
“Terima kasih, Tuan ! Sungguh saya tidak merusak kursi tersebut Tuan, di tempat terapi disetiap ruangan terpasang kamera cctv, segala kejadian bisa dilihat ulang dalam rekam Tuan, tolong sampaikan pada petugas, saya tidak bersalah. Petugas memarahi saya dan menjelekan saya berkelakuan buruk dan tidak sopan, tolong jelaskan pada mereka, karena Tuan tahu tentang sikap dan kelakuanku selama bekerja disini, karena saya bekerja dan mengabdi pada keluarga Tuan sudah hampir 4 tahun, saya benar-benar minta tolong pada Tuan untuk menjelaskan semua pembelaan saya pada petugas klinik terapi” kataku panjang lebar memohon bantuan majikanku.

Dalam waktu seminggu, setiap hari Tuan Ge, menitipkan surat untuk majikan saya yang mungkin isi surat tersebut adalah laporan tentang segala kelakuan dan sikapku selama berada diterapian yang bergaris besar menjelekan pribadi saya. Tetapi karena majikanku setiap hari juga sibuk urusan pekerjaannya tentang urusan surat titipan dari petugas terapi belum ditanggapi. Mungkin merasa belum mendapat tanggapan dari pihak majikanku petugas terapi semakin hari semakin membenciku dan kurang memperhatikan Ama yang butuh terapi penyembuhan di clinic itu.

Setelah kejadian tersebut majikan saya diundang datang ke clinic agar menghadap pimpinan clinik untuk membahas kelakuan saya dan memaksa saya untuk meminta maaf secara terbuka dihadapan pemimpin dan para petugas clinic. Saat itu hari Sabtu pagi Nyonya Huang majikanku yang perempuan ikut keterapian bersama-sama. Kemudian kami menghadap Dokter Huang Direktur Klinik untuk menjelaskan dan meminta bersama-sama melihat tayangan ulang rekaman kamera cctv.
“Tok … tok … tok, permisi Dok, izinkan kami masuk” kata Tina bersama majikannya mengetuk pintu ruangan dinas Dokter Huang.
“lya, silakan masuk” jawab Dokter Huang.
“Dok, ada perlu apa Dokter dan pihak petugas clinic memanggil saya datang?” tanya majikanku.
“Begini Nyonya Huang, menurut laporan petugas di lantai 3, Tina pembantu nyonya telah berbuat onar dan merusakan kursi kayu yang berada disana” jawab Dokter Huang menjelaskan.
“Dok, jika Tina pembantu saya benar berbuat salah, tak segan-segan saya menegurnya dan memarahi dia, tetapi kalau boleh saya minta pada Dokter, agar kita bersama-sama melihat tayangan ulang rekaman kamera cctv yang terpasang disetiap sudut ruangan” sambung Nyonya Huang majikanku.
“Baiklah nyonya, saya akan panggil Tuan Ge dan Tuan Chen, kemudian kita lihat bersama-sama hasil rekaman kamera cctv” jawab Dokter Huang.

Sementara saya hanya berdiri dan terdiam, hatinya bergemuruh dan jantungnya bergetar lebih cepat, ada rasa kalut namun berusaha tetap tenang, disamping majikannya dia hanya terpaku serta mendengarkan dialog antara Dokter dan majikannya yang akan membahas kebenaran tragedi kursi jatuh, dalam hatiku tak henti berdoa semoga kebenaran dan kejujuran menyelematkan dari tuduhan prasangka. Aku yakin dan percaya Tuhan maha mendengar dan pasti menolong hambaNya yang teraniaya. Alhasil dari rekaman camera cctv yang terekam kejadian kursi jatuh terbukti bukan Tina yang menjatuhkan hingga rusak, melainkan oranglain seorang perawat yang juga berkewarganegaraan Taiwan.
Menilik kasus tersebut Tuan Ge kalah banding dan terpojok, karena bukti dari rekaman camera itu murni bukan kesalahan Tina . Sebuah bukti nyata sudah jelas namun sikap dan perlakuan Tuan Ge terhadapku tidak pernah berubah bahkan malah semakin membenci serta tetap mengirimkan surat pada majikannya yang intinya tetap mengharuskan Tina untuk meminta maaf secara langsung dan terbuka.

Hari senin memasuki minggu kedua setelah kejadian tragedi kursi rusak, Tuan Ge menitipkan surat lagi untuk majikan Tina, selepas pulang dari tempat terapi surat titipan dari Tuan Ge langsung diserahkan pada majikannya yang laki-laki. Tuan Huang majikan Tina kebetulan berada dirumah kemudian langsung menelepon Tuan Ge, menjawab isi surat titipan darinya dan untungnya majikan laki-laki orangnya sangat bijaksana dan bertanggung jawab penuh serta bersikap melindungi terhadap pegawainya, pembantu ataupun perawat yang menjaga orangtuanya. Lewat media telepon majikanku berkata pada Tuan Ge, petugas clinic yang amat sangat membenci entah apa alasanya, mungkin karena terlalu gengsi dia semakin membenci.
“Hallo Tuan Ge, saya Tuan Huang majikan dari Tina yang menjaga dan merawat orangtua saya, saya tegaskan Tina sudah hampir 4 tahun bekerja ikut keluarga saya, jadi saya paham dan tahu betul sifat dan sikap serta kelakuan Tina, Tuan Ge tak perlu mengusik dan menjelekan Tina, tugas Tina diterapian adalah mengantar dan menjaga orangtua saya, satu hal yang terpenting adalah Tina tidak merusakan kursi terapian dan yang terpenting Tina bisa menjaga orang tua saya dengan baik, saya dan keluarga percaya penuh pada Tina, jadi sekarang Tuan Ge, sebagai petugas lakukan tugas anda dengan baik, tak perlu mengurus apapun tentang kelakuan Tina, mengerti, terima kasih”, ujar Tuan Huang majikanku menjelaskan panjang lebar pada petugas clinic.

Sejak kejadian tersebut sikap dan perlakuan petugas klinik pada Tina semakin menimbulkan kebencian yang mendalam. Setiap hari bila Tina mengantar dan menemani Ama untuk menjalani terapi, sikap petugas tersebut berubah semakin cuek dan tiada peduli serta kurang memperhatikan Ama yang dijaga Tina. Namun hal tersebut tidak membuat surut semangat serta tanggung jawab Tina yang setiap hari harus menemani Ama-nya rutin terapi walaupun dilokasi clinic selalu dipandang sebelah mata dan tidak dipedulikan, demi sebuah kejujuran dan kebenaran Tina berusaha keras untuk tetap menegakkan dengan mengungkapkan dan menjelaskan realita kejadian yang sebenarnya, walaupun harus menghadapi kenyataan pahit dibenci dan diabaikan oleh orang-orang yang merasa mempunyai kedudukan derajat dan pangkat yang lebih tinggi.

Tina sangat beruntung mempunyai majikan yang baik, tegas, tanggung jawab dan bijaksana serta mempunyai pengertian terhadap pembantunya yang sudah dianggap bagian anggota keluarganya, sehingga Tina benar-benar bersyukur dan tetap jalankan tugas dan tanggung jawabnya menjaga dan merawat Ama dengan penuh kasih sayang seperti merawat neneknya sendiri, hingga suatu hari Ama yang dijaganya mengalami sakit panas tinggi dan masuk rumah sakit dan ternyata penyakit Ama sudah komplikasi dan tidak tertolong lagi hingga akhirnya Ama menghembuskan napas terakhir pergi menghadap yang Maha Kuasa.

Setelah kepergian Ama kegiatan Tina yang dulu setiap hari harus mengantar ke klinik terapi secara otomatis ikut berhenti dan Tina tidak akan bertemu lagi dengan wajah -wajah sangar penuh kebencian dari petugas klinik yang membencinya. Tina harus pindah majikan dan memulai kehidupan baru dan beradaptasi lagi dengan lingkungan baru. Semoga ditempat yang baru Tina mendapatkan majikan dan lingkungan yang baik dan bersahabat. Dari setiap kejadian yang terjadi bisa dipetik hikmah dan hidayahNya, dimanapun bumi dipijak, disitupun langit dijunjung, dimana kaki kita berpijak dan beradaptasi serta bersosialisasi dengan siapapun pasti kita temui berbagai macam karakter seseorang. Terkadang kita dipertemukan dan berkumpul serta berada di tengan-tengah orang yang menyayangi kita bahkan juga sebaliknya kita bertemu dan berkumpul dengan orang-orang yang tidak menyukai serta membenci kita. Apapun keadaan yang kita hadapi sebagai buruh migrant yang sedang mengadu nasib dan bekerja pada majikan, sebisa mungkin kita harus tanamkan jiwa yang bertanggung jawab dan bekerja dengan baik serta menjaga hubungan baik dengan keluarga majikan. Karena di perantauan majikan adalah keluarga kedua kita selama kita berada jauh dari keluarga yang di lndonesia, majikan adalah bagian keluarga kita dan kita pun juga bagian kecil ditengah keluarga mereka.
Saling menghargai dan mengerti serta bertanggung jawab pada tugas dan pekerjaan kita, disitu majikan pasti mengerti dan menghargai kita. Di keluarga Huang, Tina bekerja merawat Ama dari pertama masuk hingga finish kontrak yang pertama kemudian cuti pulang kampung dan kembali lagi ke rumah majikan terhitung selama empat tahun lebih dan hubungannya dengan keluarga majikanya seperti keluarga sendiri. Karena Ama yang dijaganya sudah meninggal Tina harus bersiap-siap pindah majikan baru. Sekelumit kisah pilu tragedi kursi rusak di clinic rehabilisation akan menjadi bagian sejarah dalam kehidupan Tina yang akan menjadi sebuah pelajaran yang sangat berharga bahwa dalam kehidupan ini keras, dimanapun kaki kita berpijak harus tetap memegang teguh kejujuran dan berlandaskan saling menghargai dan menghormati antar sesama manusia, walaupun banyak perbedaan.

Selamat jalan Ama, tenang dan damailah dialam sana, maafkanlah saya bila dalam menjagamu banyak khilaf dan kekurangan.
. Terima kasih, Tuan / Nyonya, atas segala kehangatan dan kasih sayang serta perhatian yang sudah Tuan / Nyonya berikan untuk saya serta menjadikan saya bagian keluarga Tuan dan Nyonya, saya mohon maaf atas kesalahan dan khilafku selama mengabdi disini, saya mencintai kalian, jaga diri baik-baik dan izikankan saya pergi ke tempat majikan baru, percayalah saya akan selalu merindukankan kalian. Tiba-tiba Nyonya mendekapku dengan erat, sorot mata kami bertatapan dan bekaca-kaca seakan tak mau saling melepaskan, namun petugas agency sudah datang menjemput, dengan perlahan ku lepasksn pelukan Nyonya, kulambaikan tangan sebagai salam perpisahan, ku melangkah pergi mengikuti agency yang akan membawaku ketempat majikan baru.
●Selesai●
Xindian Distric New Taipei City, 23 Mei 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *