Namaku Ani

Anni / Namaku Ani / tidak ada / tenaga kerja asing Namaku Ana Oleh: Anna Musim dingin kembali menyelimuti bumi Formosa. Angin di siang hari pun bagaikan serpihan salju yang turun dan memeluk tubuhku. Apalagi berada di kebun ubi yang sepi seperti ini. Januari adalah musim dingin yang sangat aku benci. Bukan aku tidak bersyukur, namun inilah jeritan … Continue reading “Namaku Ani”

Anni / Namaku Ani / tidak ada / tenaga kerja asing

Namaku Ana
Oleh: Anna
Musim dingin kembali menyelimuti bumi Formosa. Angin di siang hari pun bagaikan serpihan salju yang turun dan memeluk tubuhku. Apalagi berada di kebun ubi yang sepi seperti ini. Januari adalah musim dingin yang sangat aku benci. Bukan aku tidak bersyukur, namun inilah jeritan hatiku. Aku ingin bercerita melalui pena, tentang aku dan ratusan bebek peliharaan majikanku. Karena jika aku bersuara pun tidak akan ada yang mendengar, kecuali gunung dan sayuran serta bebek yang mungkin telah bosan mendengar jeritanku. Dan tidak akan ada yang paham dengan semua rintihan dan kesakitan batinku.
Namaku Ana, aku adalah janda berusia 40 tahun. Kedua anakku, Sekar dan Arum. Mereka lah semangatku untuk bertahan berada di di Taiwan. Aku bekerja di Canghwa tepatnya di Puyan. Puyan adalah daerah terpencil dengan suasana pedesaan yang jauh dari hiruk pikuknya udara kota. Sudah hampir tiga tahun aku di sini. Merawat nenek yang lumpuh total, dan membantu kakek ternak bebek, menanam sayur, terkadang juga mencangkul di kebun.
Mungkin bagi yang tidak tahu Taiwan, mereka akan selalu berfikir jika bekerja di Taiwan selalu bergelimang kemewahan, seperti di foto-foto yang terpampang di sosmed. Tapi apa kalian tahu penderitaanku?
Jam 5 pagi aku harus bangun, memasak bubur dan membersihkan rumah, merawat nenek dan menyuapi makan. Jam 8 pagi, aku dan kakek harus memberi makan bebek lalu pergi ke kebun, mencangkul. Sampai siang, pulang makan dan merawat nenek, lalu ke kebun lagi sampai jam 5 sore. Malam setelah nenek tidur, aku pun harus merebus puluhan kilo gram jagung untuk makanan bebekku keesok paginya. Baru jam 1 dini hari, pekerjaanku usai. Itu adalah pekerjaan rutin yang tidak boleh aku tinggalkan. Jangankan untuk berlibur? Masuk toko Indonesia pun aku tidak pernah. Sebulan sekali agency datang, menawarkan diri membantu mengirimkan uang untuk anak-anakku dan membeli kebutuhanku. Jangan bertanya tentang di mana itu Taipei, megahnya Gedung 101 atau indahnya Chiang Kai Shek Memorial Hall. Sungguh, aku mengetahui nama-nama itu cuma lewat majalah usang di lemari nenek dan di dalam TV.
Bukan aku wanita yang bodoh, yang menerima begitu saja pekerjaan ini, kawan. Sama sekali bukan. Tapi, karena aku berfikir kembali tentang niatku pergi ke Taiwan. Aku ke Taiwan untuk mencari uang, bukan untuk tamasya. Walaupun dalam hati aku ingin jalan-jalan seperti kalian. Namun, mungkin ini jalanku. Jalan yang Tuhan berikan padaku. Apalagi semua demi anakku ….
“Bu, apakah Gedung 101 itu indah? Kenapa ibu gak pernah foto-foto seperti Mbak Lina?” Tanya si Bungsu, Arum.
Lina adalah tetanggaku yang juga di Taiwan, yang selalu jalan-jalan di mall dan tempat wisata Taiwan. Apakah aku iri dengan Lina?
Itu pasti.
“Ibu gak sempat, Nak.” Jawabku singkat.
Aku tidak pernah bercerita kepada Sekar dan Arum tentang keadaanku. Karena aku tak mau mereka sedih memikirkan ibunya. Aku selalu bilang jika rumah majikanku di apartemen di daerah Taipei. Keduanya pun percaya. Padahal … setiap hari hanya cangkul dan topi penahan panas yang menemaniku, dilengkapi HP Nokia jaman dulu, bukan android seperti yang kalian punya. Karena bagiku, selama bisa SMS dan telfon anakku di Indonesia, itu sudah cukup.
Jangan tanyakan padaku kenapa aku tidak lapor 1955 atau KDEI tentang pekerjaanku yang bercocok tanam dan merawat bebek-bebek yang berjumlah ratusan. Jangan bertanya, kawan. Karena bagiku, selama majikanku baik, itu sudah cukup. Ya, cukup.
Pernah suatu ketika aku sedang mengantar nenek ke rumah sakit yang lumayan jauh, aku bertemu dengan TKI juga, namanya Dek Ratna. Kami pun mengobrol lama dan dia pun bertanya tentang pekerjaanku.
“Kok Mbak Ana mau dipekerjakan seperti itu? Kalau aku mah ogah, Mbak. Kita ini jauh-jauh dari Indonesia ke Taiwan, masa sih cuma mencangkul, rawat bebek. Gak jijik apa,” celotehnya.
Dek Ratna memang masih muda, masih gadis. Dan aku pun tersenyum menanggapinya.
“Aku ini udah tua, Dek. Gak mikir jijik atau berfikir mau lapor. Karena apapun itu pekerjaanku asal halal. Dan intinya harus bersyukur, itu saja. Dan kamu juga harus bersyukur, tempatmu di kota tidak mencangkul sepertiku,” kataku dengan tenang.
“Aduh, Mbak Ana kayak gak tahu aja. Majikanku rewel, makan aja apa-apa beli sendiri, setiap hari makan bubur aja, aku bosen. Kadang ingin kabur aja rasanya,” tambahnya lagi.
“Ya Allah, Dek. Jangan seperti itu. Kebanyakan manusia itu kurang bersyukur dan selalu melihat ke atas. Mungkin Dek Ratna selalu membandingkan dengan teman adek yang bernasib lebih baik. Tapi pernahkah adek membandingkan dengan yang bernasib sepertiku? Mencangkul, memelihara ratusan bebek, menanam ubi dan sayur. Tak peduli musim panas, hujan bahkan musim dingin sekali pun, kebun dan bebek adalah duniaku. Jadi jangan pernah punya pikiran ingin kabur karena masalah sepele,” kataku panjang kali lebar, menasehati Dek Ratna.
Aku lihat dia terdiam, menduduk dan mungkin memikirkan sesuatu. Tiga puluh menit kami terdiam, berperang melawan pemikiran masing-masing. Dan akhirnya dia berpamitan.
“Mbak Ana, terima kasih ya nasehatnya. Aku akan berusaha mencoba bersyukur. Oh ya, ini nomer HP ku. Kalau Mbak Ana ingin beli sesuatu, SMS aku saja. Nanti aku paketin ke Mbak. Mbak Ana kerja hati-hati, ya.” Ucapnya seraya merangkulku dan pergi.
Mungkin kisahku dan Dek Ratna pernah terjadi pada kalian. Di mana sebenarnya kasus TKI kabur itu karena kurang adanya rasa bersyukur dan terima apa yang Tuhan gariskan pada kita. Mereka selalu membandingkan dengan orang lain yang bernasib lebih baik dari pada dirinya sendiri. Lalu timbul rasa ingin dan iri. Kemudian merasa dirinyalah satu-satunya TKI yang menderita, dan kabur jalan yang ia tempuh. Sebelum kabur mestinya kalian berfikir. Tujuan kalian ke Taiwan itu mencari kebebasan, bertamasya, kuliner atau mencari uang. Memang, ada yang bilang, “menyelam sambil minum air,” yang bisa jadi diartikan, selama jadi TKI boleh lah bertamasya. Boleh, memang boleh. Tapi lihat kondisi dulu. Kalau memang Tuhan memberi kita jalan hidup yang sulit untuk bertamasya, jalan-jalan, apakah iya kita protes pada Tuhan? Tidak kan.
Mungkin dengan apa yang Tuhan berikan, itu yang terbaik untuk kita. Walaupun terkadang sedih, dan seperti tidak sanggup lagi menjalani. Tapi percayalah, hanya dengan bersyukur, semua akan baik-baik saja.
Kurang lima bulan lagi, aku finish kontrak. Dan aku akan DH(Direct Hiring). Mungkin di antara kalian akan bilang aku bodoh, kenapa gak ganti majikan saja, bukan?
Tidak, kawan. Karena yang aku cari adalah uang, kecocokan dan kenyamanan. Dan aku? Nyaman sekali di sini. Aku anggap seperti rumahku sendiri. Jadi seberat apa pun pekerjaan itu, jika kita menjalani penuh ikhlas dan bahagia. Hasilnya pun kita nyaman. Jangan pernah punya keinginan kabur karena masalah sepele. Lihat kembali, di luar sana masih banyak yang bernasib buruk dari kalian, tapi mereka bertahan. Bukan karena mereka bodoh, tapi karena mereka paham, mereka ke Taiwan untuk mencari uang, bukan berfoya-foya yang justru akan menghambat jalan pulang ke kampung halaman.
Taipei, 25 Mei 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *