Irnelya Sari / Sepaket Cerita dari Formosa / tidak ada / tenaga kerja asing
Taiwan telah mengunci hatiku untuk tidak lagi memikirkan tanah kelahiran. Pun juga lelaki yang telah menelantarkanku sedemikian lama.
Dengan gaji yang aku terima tiap bulan, aku bisa membeli apa saja yang kuinginkan. Pakaian bagus, perhiasan, kosmetik, dan mengirimi orangtua uang untuk berobat, seperti yang dulu sangat kuimpikan. Boleh dibilang Taiwan adalah tempat pelarian yang menyenangkan.
***
“A Huan, nanti sore tolong telepon sopir Takyubin untuk ambil pesanan bunga pelanggan aku, ya!” seru cucu menantu nenek dari dalam kamar mandi, saat aku hendak membereskan sampah.
Kebiasaan dia yang tak menutup pintu saat mencuci muka, sangat menguntungkanku. Aku bisa bertanya apa saja yang tidak aku mengerti tanpa menyita waktunya. Aku paham, dia harus banting tulang menghidupi ketiga putrinya sendiri karena keputusannya.
“Baik, Nona. Apakah ada lagi yang bisa aku bantu?” tanyaku.
“Hmmm … Kamu bantu keluarkan ikan dan daging dari dalam kulkas ya. Biar aku bisa langsung masak. Ya, sekitar jam 16:00 deh! Kemarin aku kena omel mertua karena ikannya masih keras di dalamya,” tuturnya sambil tergelak tertawa.
Ah dia memang paling bisa memendam kepiluan hatinya, gumamku dalam hati.
“Ta Cie!!!” teriakkan seorang wanita samar-samar terdengar dari lantai atas.
“Iya,” sahut nona pula, masih tetap tidak beranjak dari kamar mandi.
“A Hong mau makan makanan dari luar saja. Tolong belikan dumpling 2 porsi,” tambah suara itu pula.
Tidak menyahut nona memberengut ke arahku. Dia tahu tak ada gunanya melawan, meski hatinya ingin berontak. Tuan sedang mabuk kepayang dengan wanita itu.
Sebagai seorang istri yang dikhianati suami untuk wanita lain, dan mertua yang memperlakukannya tidak baik, namun masih bertahan pada keluarga yang tidak menerimanya, sungguh aku kagum padanya. Wanita tangguh yang rela mengorbankan segala kepentingannya hanya untuk anak-anaknya.
“Baiklah kalau hanya itu saja yang kamu butuhkan. Kalau ada yang terlupa, telepon saja aku. Aku siap membantu,” imbuhku sambil berlalu dengan tentengan sampah di tangan kanan dan kiriku. Tak tega rasanya melihat nona diperlakukan tidak adil seperti itu.
Tak berapa lama, kudengar dia sudah menyalakan motornya, membeli sarapan. Pekerjaan yang tidak ada habisnya, tak pernah membuat dia mengeluh. Jika disinggung soal itu, dia selalu berujar: “Mengeluh takkan membuat orang lain mengasihaniku. Anak-anak butuh pendidikan, tempat tinggal yang layak, dan orangtua yang utuh. Semua itu, jauh lebih penting dari urusan pribadiku. Dan kamu tahu, aku belum mampu membeli rumah sepetak pun dari hasil kerjaku selama puluhan tahun bukan?”
Dari jawabannya itu, aku sering membandingkannya dengan keadaanku. Rumah hasil jerih payahku di Taiwan, seakan tak rela diinjak beberapa jam saja oleh mantan suamiku. Padahal, dia kesana dengan membawa serta anak semata-wayangku. Hanya karena persoalan penghiatan cintanya beberapa tahun lalu, biaya membesarkan anak yang begitu besar pun aku seolah tak peduli. Bahkan menganggapnya sebagai kewajiban bapaknya karena telah merampas anakku dariku. Apakah aku lebih egois dari lelaki itu?
Di kampungku, status janda bukan lagi hal yang memalukan. Penghasilan suami yang pas-pasan seringkali dijadikan alasan sebuah perceraian. Kawin cerai sudah menjadi hal yang biasa. Ya, semudah itu ikrar suci pernikahan diputuskan.
Waktu telah menunjukkan pukul 08:10 pagi ketika aku selesai mengganti baju nenek. Hari ini jadwal nenek cek up. Rehabilitation bus akan menjemput kami pukul 08:30, berarti hanya tersisa waktu 20 menit untuk aku membersihkan diri dan berganti pakaian. Tak lupa pula, catatan belanja bulanan dan titipan teman-teman yang akan mengirim uang aku bawa serta. Tempat kerjaku yang berada di gunung, membuat aku harus sedikit bersabar ketika ingin mengirim uang. Toko Indonesia hanya bisa aku kunjungi sebulan sekali, itu pun saat nenek cek up ke rumah sakit. Sering pula kami bergantian membelikan kebutuhan bulanan. Sudah seperti saudara, mereka akan dengan senang hati dititipi pesanan dalam bentuk apapun selagi tidak merepotkan.
“Hallo! Selamat pagi,” sapa lelaki bertopi itu. Tepat ketika aku mendorong nenek keluar rumah. Tuan Wu adalah sopir yang ramah. Beliau sudah puluhan kali mengantar-jemput kami ke rumah sakit.
“Pagi juga. Apakah Anda sudah makan Tuan?” tanyaku pula. Menirukan kebiasaan orang Taiwan, aku selalu bertanya apakah lelaki kurus ini sudah makan atau belum. Tentu, tanpa bermaksud meledek. He … he ….
“Sudah,” jawabnya,”oh iya, aku harus menjemput satu pasien lagi sebelum kita berangkat. Mungkin kita akan terlambat tiba di rumah sakit sekitar 20 menit,” jelasnya pula. Begitulah keramahan Tuan Wu, dia bekerja bukan semata hanya mencari penghasilan, tetapi melayani dengan sepenuh hati.
Rehabilitation bus adalah bus gratis yang disediakan pemerintah Taiwan untuk melayani para manula dan penyandang disabilitas. Pasien yang banyak, mengharuskan kita memesannya 5-3 hari sebelum jadwal cek up. Melalui layanan operator kita bisa memilih jam berapa kita diantar dan dijemput, disesuaikan dengan nomor urut pemeriksaan. Seperti yang Tuan Wu bilang, setelah melalui dua gang ke belakang dari rumah majikan, pasien berikutnya sudah berada satu armada dengan kami. Seorang kakek yang aku terka berusia 80-an dijaga oleh seorang wanita bertopi dan berkaca mata hitam besar. Dari cara dia mengucapkan bahasa Mandarin saat berbicara dengan sopir dan kulit sawo matangnya, aku rasa dia bukan anak dari kakek tersebut. Tapi sehubungan sikapnya yang dingin, aku lebih memilih menyibukkan diri dengan hand phone di tanganku.
Mobil pun melaju membawa kami ke Kuang Tien General Hospital tanpa ada obrolan apapun sampai bus berhenti di pelataran rumah sakit. Setelah mengucapkan terima kasih kepada Tuan Wu, aku segera mendorong nenek ke lantai 2 untuk tes darah. Setelah menunggu beberapa nomer, tugas pertamaku pun selesai. Kami turun kembali ke lantai 1 dengan menggunakan lift. Di sanalah aku bertemu kembali dengan wanita yang satu bus denganku tadi. Sialnya, kami hanya berdua dengan dia dan dua pasien kami yang tak bisa bicara. Sungguh aku tidak suka keheningan itu, sehingga aku memutuskan menelepon majikan mengabarkan kondisi nenek sekalian meminta ijin untuk membawa nenek ke Toko Indonesia sembari menunggu hasil laboratorium darah nenek, satu jam lagi.
Aku berjalan ke arah toko Indonesia dengan sangat cepat. Mengirim uang sesegera mungkin, membuat aku tidak mempedulikan lalu-lalang orang di kanan kiri.
Puk!
Tiba-tiba seseorang mengagetkanku dari belakang.
“Mbak. Tunggu sebentar!”serunya sambil menepuk bahuku.
Serta merta aku mengerem laju kursi roda dan menengok dengan sedikit kesal.
Huh!!! Dengusku.
“Oh kamu? Ada apa, Mbak? Aku buru-buru!” jawabku sambil kembali mendorong kursi roda setelah mengetahui siapa yang memanggilku tadi.
“Aku baru beberapa hari kerja di sini, Mbak. Tadi aku dengar kamu ngomong lewat telepon mau ke toko Indonesia. Aku ingin mendaftar kartu telepon. Makanya aku ikuti kamu,” jelasnya sambil menjajari langkahku.
Sebenarnya aku sangat jengkel jika teringat sikap dinginnya tadi. Tapi jika mengingat kemungkinan-kemungkinan di balik sikap dinginnya, dan kita sama-sama mengadu nasib demi keluarga, aku kesampingkan semua itu.
“Ya udah. Kamu ikuti aku saja. Aku dikejar waktu.”
Mengingat masih banyak yang harus aku selesaikan. Aku tak peduli lagi Mbak itu mengikutiku atau tidak.
Di Toko Indonesia, pesanan anak-anak aku cari secepat kilat, begitu pun yang mengirimkan uang. Tapi, lagi-lagi Mbak yang belum aku tahu namanya itu mendekatiku.
“Mbak boleh pinjam ARC-nya nggak?” mohonnya.
“Lah emang ARC kamu kemana?” aku balik bertanya. Heran. Pikiran negatif langsung saja memenuhi otakku.
“ARC aku belum selesai diperpanjang, Mbak,” jelasnya.
“Maaf nggak bisa, Mbak. ARC tidak boleh dipinjamkan untuk hal apapun!” tegasku.
“Aku harus menghubungi anakku di kampung, Mbak,” katanya lagi. Kali ini dengan memasang muka memelas.
“Ya sabar. Tunggu sampai ARC-nya jadi, Mbak.”
Aku tetap tak peduli. Aku tak ingin bermasalah di kemudian hari. Ada banyak kasus penipuan yang aku baca di media sosial berawal dari pinjam-meminjam ARC.
Masih aku ingat kejadian 2 tahun lalu, sebelum aku berangkat ke Taiwan. Bibiku yang sudah pengalaman ke luar negeri, harus menanggung akibat atas kecerobohannya. Menurut pihak bank yang mendatangi bibi saat itu, bibiku meminjam sejumlah uang yang dipakai oleh teman sesama TKI sewaktu di Hongkong. Adapun kedatangan mereka karena teman bibi tidak menyetor cicilan selama 16 bulan. Bagaimana pun bibi membela diri, tapi tidak ada toleransi lagi. Rumah bibi pun akhirnya disita pihak bank sampai temannya yang kabur mau mempertanggungjawabkan hutangnya.
Setelah membayar belanjaan ke kasir aku segera pamit pergi. Sempat aku lihat matanya berkaca-kaca. Tapi tekadku sudah bulat. Aku tidak boleh lemah dalam hal ini. Aku meminta maaf sekali lagi, sebelum berlalu.
Masih ada dua tugas lagi yang harus aku selesaikan sebelum Rehabilitation Bus menjemputku pukul 12:00 nanti, memeriksakan nenek ke dokter dan mengganti selang makan.
Di Taiwan semua harus hati-hati. Berteman bukan berarti uang dan dokumen pribadi dipinjamkan sana-sini. Nanti yang rugi kita sendiri.
Waktu menunjukkan pukul 10:43 ketika giliran nenek periksa. Dari hasil tes darah, dokter menyimpulkan tak ada kendala yang berarti dari kesehatan nenek, selagi pola makan teratur dan diperhatikan buang air besar dan kecilnya. Setelah meminta surat pengantar untuk mengganti selang makan dan menebus obat, kami sudah diperbolehkan pulang.
Sukurlah masih ada waktu untuk membeli test pack, juga nenek dan aku makan siang sebelum Rehabilitation Bus datang. Aku tidak melihat tanda-tanda Mbak itu pulang bersama kami. Aku menarik napas lega karenanya.
***
Sore harinya ketika aku mengeluarkan ikan dan daging pesanan nona dari dalam kulkas, dengan hati-hati pula kuselipkan test pack di tempat yang diperintahkan oleh nona. Tapi alangkah terkejutnya aku, karena suaminya sudah memperhatikanku sedari tadi tanpa aku sadari.
Sial! Gerutuku. Sejak kapan dia berdiri di pintu itu? Tanyaku lebih kepada diri sendiri.
“A Huan, kamu memasukkan apa ke dalam tempat sumpit itu?” tanyanya curiga.
“Ng-nggak ada kok Tuan.”
“Jangan bohong kamu!” serunya.
Akibat teriakannya itu tak berapa lama pacarnya turun dari lantai atas.
“Ada apa ribut-ribut?” tanyanya.
Dengan berat hati aku ambil test pack dari tempat sumpit. Dengan sedikit kesal, aku serahkan ke Tuan yang masih memasang muka curiga.
“Nona minta dibelikan ini saat aku di rumah sakit. Tanya dia untuk apa ini semua, karena aku hanya membelikannya. Tugasku selesai. Aku akan memandikan nenek. Permisi,” kilahku sambil berlalu.
Tuan memang banyak berubah semenjak ia bersama pacar barunya. Ia sering kali mencurigaiku tanpa sebab, karena kedekatanku dengan nona.
Malam harinya sepulangnya nona dari pekerjaan, aku mendengar keributan dari lantai atas. Sepertinya, pacar baru Tuan mengamuk hebat ketika mengetahui Tuan masih berhubungan dengan nona. Miris memang, tapi itulah kenyataannya. Usut punya usut, Tuan menginginkan anak lelaki yang belum juga ia miliki dari pacarnya itu. Sampai larut malam, aku masih memikirkan nona. Perlakuan apa lagi yang akan diterimanya, setelah beberapa waktu keluarga suaminya memaksa dia menerima wanita lain dalam kehidupan rumah tangganya?
Keesokan harinya nona beraktifitas seperti biasa. Mengobrol denganku sambil ia mencuci muka dan aku membereskan sampah. Ada lebam di wajahnya. Tapi tak ada yang perlu dikhawatirkan dari wanita tangguh satu ini sepertinya. Ia sudah terlatih mengatasi masalahnya sendiri. Ketika kutanyakan dia hanya berujar: “Ini perbuatan wanita sundal itu. Tapi jangan khawatir. Dia sudah pergi. Dia sudah menerima akibat dari perbuatannya,” jelasnya tanpa aku minta.
Tuan yang mengetahui nona sedang berbadan dua, menjadi berbalik membelanya. Bahkan dia memperingatkan pacarnya untuk tidak lagi mengganggu rumah tangganya. Persoalan wanita ‘Pengganggu’ selesai sudah.
***
Tuan menjadi sangat protektif semenjak mengetahui nona mengandung bayi laki-laki. Dia bukan saja mewanti-wanti nona untuk tidak memasak sarapan, tapi melarangnya mengerjakan pekerjaan lainnya.
“A Huan, jadi sekarang kamu tahu apa yang harus kamu kerjakan bukan?” ucapnya serius.
“Mengerti, Tuan. Kamu yang harus menggantikan tugas nona memasak untuk kakek ya, A Huan!” ucapku. Sengaja aku mengulangi kata-kata Tuan bermaksud mencandainya.
“Eh, awas ya Kamu. Nanti aku potong gajimu!” serunya sambil berkacak pinggang.
Aku pun lari kocar-kacir.
Ah, akhirnya …
Secuil harapan itu memang telah menjelma jadi kebahagiaan. Dan nona telah mendapatkannya. Di balik diamnya dia tak menyerah. Terus berusaha, berjuang, pantang menyerah, dan mencari tahu kunci untuk merebut kembali semuanya. Dan dia telah menemukan jawabannya. Lalu aku?Bagaimana dengan kebahagiaanku? Dimanakah dia? Kenapa belum aku rasakan itu? Sepaket cerita ini akan kukemas rapi dalam memori. Tentang sjuta alasan kenapa seseorang memilih tidak bercerita, berbuat kejam, dan terlampau berhati-hati dalam segala hal adalah bekalku untuk mengejar kebahagiaan.
***
Lima bulan telah berlalu. Jadwal cek up nenek aku lalui seperti biasa. Memasuki trimester kedua usia kehamilannya, Tuan semakin memanjakan nona dengan perhatian penuh. Raut bahagia terpancar sekali dari wajah nona yang selalu dihiasi senyuman, pun antusias ketiga putrinya menyambut adik lelaki mereka. Sering kali nona kewalahan meladeni mereka yang berebut ingin mencium perut buncitnya. Seperti pagi itu. “Ayo anak-anak. Cepat ambil tas masing-masing nanti kalian terlambat!” seru Tuan saat aku memasak sarapan di dapur.
Ruangan dapur yang hanya tersekat tembok dari ruang tamu, membuat aku leluasa menguping rutinitas mereka. “Aku mau cium adik dulu.” “Aku jugaaa!” seru yang lainnya menyetujui. Entah siapa yang memulai lebih dulu, sehingga keriuhan terjadi di ruangan itu. Tuan berteriak melerai. Nona hanya terkekeh geli. Sementara tiga kakak-beradik berebut ingin duluan mencium. Ah! Andai saja nona sepertiku—yang memilih pergi dari suami, mungkin tak akan aku lihat kebahagiaan seperti ini. Aku hanya tersenyum getir. Setelah memastikan sarapan beres, aku segera bersiap-siap. Rehabilitation Bus akan menjemputku setengah jam lagi. Nenek sudah aku dandani sedari pagi. Waktunya aku mengganti baju dan memoleskan bedak agar kulit sawo matangku terlihat sedikit cerah.
Kali ini bukan Tuan Wu yang menjemput kami. Tapi aku sempatkan berbasa-basi dengannya. Penduduk Taiwan sangat ramah dengan siapapun. Demi menjaga kesopanan aku selalu menyapa meski hanya menganggukan kepala.
Eit! Mbak yang waktu itu? Hatiku bertanya kerika sudah di dalam mobil.
“Hallo, Mbak! Lama nggak ketemu. Apa kabar?” sapaku pada wanita yang telah lebih dulu duduk di dalam Rehabilitation Bus.
“Alhamdulillah baik. Kamu tinggal di sini, Mbak?” tanyanya balik.
“Iya. Oh iya. Maaf ya waktu itu. Aku nggak bisa bantu,” jelasku mengenang kejadian saat pertama kali ketemu wanita itu.
“Tidak apa-apa, Mbak. Wajarlah kalau kamu tidak percaya. Kita kan baru ketemu,” katanya maklum.
“Terus bagaimana?” tanyaku penasaran.
“Ya terpaksa aku menuruti saran kamu. Sabar sampai ARC-ku selesai diperpanjang,” ujarnya sambil terkekeh.
“Sukur, deh, kalau kamu nggak dendam sama aku, Mbak,” ucapku sedikit menyesal.
“Nggaklah kenapa harus dendam?”
Kami sama-sama tertawa. Obrolan kami selanjutnya membahas seputar pekerjaan masing-masing dan hand phone Mbaknya yang dicuri orang saat kongkow-kongkow di taman. Kami pun berpisah dengan tidak ada ganjalan di hati.
Terima kasih Mbak Ami tidak membenciku, karena telah berprasangka buruk menganggapmu seorang TKW Ilegal.