Riris Sirius / Semangkuk Sup / Ririn Arums / tenaga kerja asing
Musim dingin belum berakhir, bulan Maret masih terasa menusuk tulang. Angin yang terbit sebentar-sebentar menembus persendian, ngilu. Jaket tebal yang kukenakan seperti tak mampu menghangatkan tubuhku, jari-jariku beku. Aku sedang dalam perjalanan pulang dari mengantar majikan perempuanku dari terapi penyembuhan kakinya.
Hari menjelang waktu makan siang ketika sekonyong-konyong, majikan perempuan yang masih terlihat cantik di usianya yang tidak muda lagi itu mengatakan keinginannya untuk singgah makan sup di kedai langganan kami. Dalam hati aku bersorak; horai!
Kedai Yoyo hiruk pikuk ketika kemudian bos laki-laki yang turut serta mengantar berhasil menemukan tempat duduk untuk kami makan bertiga. Meja paling depan setelah pintu masuk, terdapat tiga buah kursi. Di atas meja terdapat dua buah botol kecil, masing-masing diisi kecap asin dan sebotol lagi diisi minyak cabe. Satu gulung tisu yang kuperkirakan tinggal setengah.
Seorang pelayan datang menyodorkan dua lembar kertas menu pada kami, aku menerimanya. Atas anjuran nyonyaku aku kemudian memesan sup daging kesukaanku. Sup mie daging kambing pedas manis. Nyonya memesan sup mie udang, dan tuan sup daging sapi. Seporsi oseng kangkung dan tiga buah telur hitam dimasak tahu.
Ketika pesanan sampai di meja kami, dengan serta merta kami memakannya dengan lahap. Amboi, porsi supnya luar biasa banyak. Tubuhku yang kecil ini tak mampu menghabiskan sup yang luar biasa enaknya itu. Meski sayang, terpaksa mangkuk yang isinya masih setengah itu aku singkirkan, kuletakkan sumpit dan sendok di posisi sejajar . Karena aku takut perutku sakit karena kekenyangan, jadi kuakhiri saja.
“Ah, enakkk, mantapp sekali!” kelakarku puas.
“Dulis, kau tidak habiskan supmu?” tanya nyonyaku, tuan menoleh. Aku menggeleng, mengelus perutku yang kini terlihat lebih besar. Seperti berkata, “Aku kenyang Nyonyaku sayang.”
“Sini aku habiskan…” ujar nyonya meminta sisa supku.
“Ha?!” aku kaget tentu saja.
“Ya, aku habiskan?” katanya lagi dengan tersenyum. Meski agak bingung kukatakan, “Hao? Hehee maaf ya?” setengah hati tidak enak, kusodorkan mangkukku ke arahnya.
“Tidak masalah” ujarnya, sekali lagi dengan tersenyum. Tuanku tersenyum melihat ulah istrinya. Lalu ia pun membuatku terkejut untuk kesekian kalinya ketika kemudian ia bahkan turut serta menghabiskan supku.
Keduanya asyik mengudap makanan itu. Nyonya dan tuan mungkin memang sedang lapar. Tadi pagi kami hanya sempat sarapan roti bakar dan kopi panas. Tapi aku rasa bukan karena rasa lapar itu, terlebih ada perasaan tertentu yang aku sendiri tidak tahu.
“Ternyata sup ini pedas sekali, ya?” tuan melontarkan tanya.
“Iya. Tapi rasanya sangat beda.”
Keduanya membincangkan sup itu, sebentar tertawa kecil, sebentar berbincang. Kuperhatikan keadaan nyonyaku dari hari ke hari makin membaik. Ketika sedang makan dengan lahap seperti itu, nyonya seperti layaknya seorang yang tidak menderita sakit apapun.
“Ah, andai saja kedua tanganku ini bisa menyembuhkan sakit nyonyaku dalam satu kali pijatan saja, alangkah bahagianya aku.” Kalimat yang selalu hanya bisa aku ucapkan dalam hati saja.
Demi menghindari air mata haruku terjatuh, aku lempar pandangan ke sudut-sudut ruangan yang masih hiruk pikuk para pengunjung. Seseorang duduk di tempat meja paling belakang dekat lemari besar penyimpan minuman dingin, tengah asik mengobrol dengan ketiga rekannya. Tampak sekali mereka menikmati keakraban itu.
Kuarahkan pandanganku ke dinding yang bercat biru laut, yang dipajang berbagai menu kedai Yoyo, juga foto-foto artis jaman dulu. Pernak pernik jaman dahulu juga dipajang di almari-almari kaca. Kedai Yoyo adalah kedai satu-satunya yang menurutku sangat unik, sangat membuat nyaman para pelanggan, menunyapun tergolong tidak mahal. Rasa supnya yang pas yang senantiasa menjadi favorit kami.
“Benarr kau sudah kenyang?” tanya nyonyaku lagi. Aku mengangguk.
“Sangat kenyang sekali, terimakasih” jawabku.
Menyaksikan mereka dengan tulus tanpa perasaan canggung menghabiskan sisa makananku, aku terharu. Aku merasa telah menjadi TKI yang paling beruntung karena memiliki majikan rendah hati seperti keduanya. Aku merasa harus bersyukur kepada Tuhanku karena mengabulkan doaku untuk bekerja pada keluarga yang baik hati kepadaku. Yang memiliki rasa kasih meskipun hanya kepada seorang pembantu seperti aku.
Nyonyaku yang baik ini sekarang kehilangan kemampuan untuk berjalan karena sebuah kecelakaan. Suatu keadaan yang tentu saja sangat berat bagi seorang semuda beliau. Untungnya, ia seorang yang berpikiran luas dan bijaksana. Keluasan berpikir itu membuatnya selalu mampu melihat suatu masalah dengan pikiran yang adil. Ia seorang yang berpendidikan dan rajin beribadah. Aku selalu menyertainya bersembahyang di kuil. Aku selalu menyaksikannya berdoa dengan sungguh-sungguh.
Nyonyaku seorang yang tidak rapuh. Ia bahkan seorang wanita yang tabah dalam menghadapi cobaan. Ia tidak putus asa meskipun telah menerima ujian berat dari Tuhan dengan kelumpuhan yang diderita kedua kakinya.
Melihat Nyonya, kadang aku merasa sedang melihat kearifan ibuku sendiri. Seorang yang sangat memahami hati banyak orang, bukan hanya kepada suami dan anak-anaknya, tetapi juga kepada banyak orang lain di sekitarnya. Nyonyaku yang terbatas ruang geraknya masih mampu melihat keluasan dunia dengan mata hatinya. Hati seorang bunda. Banyak sekali hal mengharukan yang sering dilakukan Nyonya kepadaku. Sering pula ia memberi kesempatan kepadaku untuk belajar banyak hal.
Ia selalu mendukungku untuk belajar. Ia tidak melarangku membaca, ataupun menggunakan telepon genggam. Membiarkan aku menikmati hobiku di sela-sela waktu menjaganya. Ia mengajariku cara membaca huruf-huruf Mandarin dengan sabar. Ketika aku menyerah ia akan membangkitkan semangatku . Tetapi, karena dukungan nyonyaku, aku bertekad akan terus belajar.
“Selama masih di Taiwan belajarlah yang banyak, siapa tahu akan berguna buatmu ketika kembali ke tanah air nanti.” Kalimat itu yang sering Nyonyaku sampaikan untuk menyemangatiku.
Kadang, sekali waktu kebaikan Nyonyaku membuat aku rindu pada ibuku di kampung. Rindu kepada nasehat-nasehat dan petuah-petuah ibuku. Rindu pada cerita-ceritanya yang selalu penuh makna. Rindu belaian ibuku ketika menenangkan aku saat aku menghadapi masalah-masalah yang sulit kupecahkan. Aku juga ingat kata-kata ibuku agar aku selalu kuat dan tidak cengeng. Mengingat ibuku, melihat majikan perempuanku, aku kemudian bersyukur, Tuhan tidak memberikan cobaan sebesar cobaan yang diberikanNya pada nyonyaku. Tuanpun sama baiknya seperti Nyonya.
Kadang ia memang keras, karena ia adalah orang yang memang disiplin. Ia selalu menunjukkan sikap tak mengenal kompromi pada hal-hal yang bersifat baik. Tapi beliau selalu memikirkan yang terbaik. Kesetiaannya pada keluarga ini, kepada Nyonyaku untuk terus pantang menyerah, selalu mendampinginya dalam situasi sesulit apapun, selalu membuatku terharu. Ia selalu mengingatkan
aku akan rasa sayang ayahku kepada ibuku.
Yah, memang aku tidak biasa hidup di lingkungan keluarga yang berantakan. Ayah dan ibuku selalu mengatakan menjaga keutuhan keluarga sangat penting. Bantu membantu dan kasih sayang antara adik dan kakakku tidak boleh aku abaikan. Meskipun aku sekarang sedang ada di perantauan. Dan berada di keluarga ini, aku merasa sedang memiliki keluarga kedua.
Kenyataannya, bahkan majikanku sering mengatakan aku layaknya anak mereka sendiri. Aku berharap, aku tidak akan lupa diri karena kebaikan mereka. Bagaimanapun, aku memiliki tanggung jawab untuk bekerja dengan baik di keluarga ini. Aku harus bisa menjaga kepercayaan majikanku itu, sehingga mereka tidak akan kecewa telah memutuskan mengambilku sebagai pekerja mereka. Kiranya tuan dan Nyonyaku selalu sebaik saat ini, sudah barang tentu kedua anaknya juga layaknya kedua adikku.
Majikanku memiliki dua anak. Keduanya baik padaku. Satu kuliah dan yang satunya masih kelas dua SMA. Mereka pandai dalam segala bidang pelajaran. Mereka juga sering mengajari aku belajar menulis Mandarin. Mereka sangat mengerti keadaan mama mereka. Meskipun mereka belum ada yang menyelesaikan sekolah, tetapi mereka tidak manja. Mereka mampu menyelesaikan tugas-tugas dan kewajiban mereka tanpa harus merepotkan aku yang harus melayani kebutuhan ibu mereka.
Memang, ada kalanya mereka merepotkan. Sesuatu yang sangat wajar. Emosi kanak-kanak yang muncul kadang-kadang. Melihat keduaya, aku seperti menemukan kembali sosok kedua adikku. Mereka memiliki kesamaan; kadang menjengkelkan tapi lebih sering menyenangkan.
Aku benar-benar sangat bersyukur karena Tuhan telah memberikan aku satu keluarga yang baik di negara yang jauh dari tanah kelahiranku.
“Oh… kenyang… Dulis, kita pulang.” kelakar nyonya mengejutkan aku dari lamunan.
“Baikk” Sahutku sedikit geragapan. Kamipun bersiap untuk pulang. Kudorong kursi nyonya menuju mobil di mana tuan memarkirnya.
Ketika aku melangkah menyertai Nyonyaku, ada sisa rasa hangat sup yang menyusup di tubuhku, membaur dalam kehangatan keluarga majikanku.
Hshincu, 25 Mei 2016