Sunrise / Keberanian / Tidak ada / pengantin asing
Sudah hampir 3tahun, aku dan anak-anakku berimigrasi ke negara Sakura ini. Banyak teman-teman yang bertanya ,” Kog bisa sih sampe ke Jepang?”… “Enak yah..tinggal di Jepang…?” “Iri banget deh..sama kamu…” Begitulah reaksi teman-temanku setelah tau aku imigrasi keJepang. Memang, bagi sebagian orang, bisa tinggal dinegara maju seperti Jepang merupakan hal yang menyenangkan dan membanggakan. Begitu juga bagiku, tawaran ini kuanggap berkat bagiku. Aku senang sekali, setelah 7tahun lamanya aku dan suami hidup terpisah. Anak-anak tinggal diTaiwan bersamaku, sementara suamiku , dia bekerja sebagai koki diJepang . Kami sekeluarga hanya bisa berkumpul 6bulan sekali, kurang lebih 2minggu . Bisa imigrasi ke Jepang membuatku senang karena kami sekeluarga akan segera berkumpul, setelah sekian lama anak-anak tumbuh besar tanpa ada sosok ayah yang menemani. Tapi disisi lain, memulai hidup diJepang adalah merupakan suatu tantangan berat untukku. Aku dan anak-anak harus memulai segala sesuatunya dari nol. Dihari pertama aku menginjakkan kaki dinegara sakura ini, serasa ada berton-ton beban berat dipundakku. Yah.. Hanya berbekal keberanian saja, aku siap memulai petualangan ku. Tiba-tiba saja, pikiranku serasa kembali ke13 tahun yang lalu. Yuppp.. Saat pertama kalinya aku menginjakkan kaki ku diTaiwan dan menjatuhkan pilihan untuk menikah dengan suamiku. Saat itu usiaku hanya 20tahunan, tergolong usia yang muda memang. Hanya berbekal tekad dan keberanian untuk bisa hidup lebih baik dinegara orang dan bisa membantu ekonomi keluargaku yang terpuruk waktu itu, karena kecanduan ayahku terhadap judi..aku memutuskan berhenti dari kuliahku yang belum setahun, berangkatlah aku keTaiwan.. Ampun..nekad benar aku..!!! Sesampainya aku diTaiwan, walaupun hanya ada perasaan asing dan kesepian yang menyelimuti, tapi kujalani hari-hari ku dengan penuh harapan. Orang rumah dan suami baik dan sayang padaku.. Cukup membuatku merasa hangat dan betah..Hari demi hari kulewati.. Aku mulai sibuk belajar mandarin, belajar memasak, dan mulai ikut membantu usaha suami.. Aku pun hamil dan melahirkan putra pertamaku. Tapi ternyata, tidak semuanya berjalan semulus yang kuharapkan.. Usaha katering(辦桌生意) yang dijalani suami , mengalami krisis keuangan dan bankrut. Suamiku terlilit hutang dalam jumlah besar. Aku tau.. Mimpi burukku akan segera tiba..” Aku harus bagaimana..?? ” tanyaku dalam hati. Perasaanku kacau balau saat itu… Resah dan cemas memenuhi pikiranku. Waktu itu, aku sedang dalam masa kehamilanku yang ke2, putraku baru berumur 3tahun. Hari-hari kulewati dengan berat sekali, menghadapi tagihan hutang, serta beban berat untuk persiapan menyambut kelahiran anak ke2 kami. “Harusnya aku berbahagia saat ini..tapi mengapa malah hal buruk ini yang menimpa ku saat ini..?? ” Sampai pada suatu hari, suami mendapat tawaran untuk kembali kerja diJepang. Dan atas pertimbangan bersama, suami memutuskan untuk kembali bekerja diJepang. Jujur aku sedih, tapi ini adalah salah satu pilihan terbaik buat kami. Dengan harapan gaji yang lebih tinggi, sebagian dapat dipakai untuk melunasi hutang dan sisanya untuk biaya hidupku dan anak-anak. Suamiku berangkat keJepang pada saat putriku baru berumur belum genap 2bulan. Mulai detik itu, tanggung jawab untuk menjaga ke2 anak dan bapak mertuaku yang mulai sakit-sakitan terpaut dipundakku. Sungguh berat, berat sekali rasanya… “Lengkap sudahlah penderitaanku..” .. “Aku merasa Tuhan jahat dan tidak adil padaku. Akulah wanita yang paling malang sedunia ini. ” Begitulah keluhanku setiap detiknya. Aku sempat stress dan depresi, setelah kepergian suamiku keJepang. Aku hanya bisa menangis… Tapi didalam semua kepahitan dan kesusahanku ini, selalu saja ada malaikat-malaikat yang mengelilingi dan membantuku. Mulai saat itu aku sadar, Tuhan baik dan sayang padaku, aku seharusnya bersyukur… Anak-anak membutuhkan ku, aku harus tegar dan bangkit dari keterpurukanku. Aku pasrah, akan kuterima dan kuhadapi semua ini dengan berani. “Semua akan baik-baik saja, badai akan segera berlalu .. ” , kuhibur diriku setiap saat. Begitulah, 7tahun lamanya kulewati hari-hariku tanpa suami. Mengasuh anak, merawat bapak mertua dan memulai bisnis menjual sarapan pagi. Banyak sekali hal dan hikmah yang kudapat selama 7tahun ini. Aku menjadi sosok pribadi yang mandiri dan tegar. Aku belajar menghadapi berbagai masalah seorang diri. Ada kalanya aku merasa beruntung karena selalu ada yang menolongku. Aku bersyukur sekali … Terkadang, aku merasa salut pada diriku sendiri.. “Kog bisa yah aku menghadapi semua ini ?!?” Kunci dari semua ini, hanya satu … “Keberanian !!” Kalau hidup ibaratnya medan perang, keberanian dan tekad adalah senjata yang kumiliki untuk bertempur dimedan perang. Dalam menghadapi segala macam rintangan dan kesulitan, kita membutuhkan sebuah keberanian. Keberanian untuk memutuskan, memulai, menghadapi dan menjalaninya. Saat ini.. Jalan hidupku mungkin masih jauh dari keberhasilan , tapi aku yakin aku akan meraihnya suatu hari nanti.. Apapun yang akan menghalangi jalanku, aku akan tetap kokoh dan tidak akan goyah lagi .. Selesai.. ==Terima Kasih==