UMI SUGIHARTI / MAHALNYA HARGA KEPERCAYAAN / tidak ada / tenaga kerja asing
Nilam, perempuan bertubuh langsing, berkulit putih bersih, tertunduk berusaha menutupi wajahnya di balik rambut hitam panjangnya. Perempuan belia berusia 24 tahun yang memiliki impian untuk mengubah nasibnya agar lebih baik dengan bekerja di negeri Formosa itu berupaya menutupi wajahnya dengan untaian rambut panjangnya demi menghindari bidikan camera. Ia menjadi sorotan berita berbagai media, lantaran tindakan kriminal yang dilakukannya. Sementara tangannya diborgol, dua orang polisi wanita menggandengnya, sedikit memaksa menuju mobil sedan putih yang diatasnya terpasang lampu merah biru yang terus berpijar.
“Cantik-cantik penipu! Dasar manusia licik!” teriak garang seorang lelaki kerempeng, berambut ikal hitam panjang sebahu. Matanya merah melotot geram dan mengacung-acungkan kepalan tangan ke arah Nilam. Andai tidak dikawal ketat mungkin sudah meninju wajah perempuan itu. Wajah-wajah kesal lainnya seolah setuju denganya.
“Nilam! Kamu jahat, Nilam!” jerit perempuan penuh amarah dari arah depan, dekat mobil polisi. Nilam menatapnya dari sela juntaian rambut, tanpa mengangkat wajah. Ia sangat mengenalnya, hingga membuat tenggorokan seakan tercekat. Tubuhnya semakin menggigil dingin walau udara siang begitu gerah. lidah terasa kelu. Bahkan sebuah kata maaf saja, tidak bisa keluar dari mulut Nilam. Hanya air mata penyesalan mengaliri pipi tirusnya.
Dalam kendaraan yang membawanya menuju kantor polisi Nilam termangu dan ingatannya melayang masuk ke masa segala persoalan bermula.
Hati Nilam semakin sedih. Ingatannya kembali membuka memori tentang kedekatannya dengan Dinda. Ia pejamkan mata rapat-rapat, membayangkan bening bola mata gadis manis yang berasal dari Tegal, Jawa tengah itu, tersenyum menyapanya saat mereka sama-sama menjaga pasien di taman. Hingga satu minggu yang lalu, menjadi awal cerita duka.
***
“Nilam, kamu punya uang sepuluh ribu, nggak?” tanya Dinda dengan merendahkan suaranya, begitu duduk di samping kiri Nilam. Ia menoleh sebentar pada nenek yang sedang berjemur di bangku sebelah yang rupanya sedang asyik berbicara dengan dua temannya. Dirasa aman, Dinda kembali berbisik “Aku butuh banget,” lanjutnya. Mimiknya yang memelas, berhasil menyentuh hati Nilam.
“Wah, aku belum gajian. Tapi kalau memang butuh, aku punya teman yang bisa membantumu,” jawab Nilam tanpa ragu.
“Pasti ada, kan?” Dinda ingin memastikan perkataan Nilam. Namun yang pasti ada sedikit kelegaan mendengarnya.
“Pokoknya ada, deh. Percaya sama aku, pasti beres.” Kerlingan mata kiri Nilam, meyakinan. Lalu sedetik kemudian wajahnya berubah serius dan mendekatkan bibirnya ke telinga kanan Dinda, “siapkan saja persyaratannya! Fotokopi pasport dan ID!” perintahnya.
Saat itu juga Dinda minta ijin ke nenek yang di jaganya dengan alasan membeli minuman ke toko seven-eleven (7-11). Ia pun memfotokopi pasport dan kartu Identitas. Lalu mengambil tiga botol teh hijau melati. Beruntung tak banyak pengunjung, hingga tak butuh waktu lama. Dengan langkah ringan, Dinda menghampiri Nilam yang tampaknya sedang bicara serius dengan seseorang lewat telepon.
“Ok, nanti sore aku ke rumahmu. Bye-bye,” ujar Nilam menutup teleponnya. Senyum sumringah dan sinar matanya menyiratkan kebahagiaan. Lalu beralih menatap Dinda, tangan kanannya menengadah siap menerima sesuatu.
Dinda tanggap dan menyerahkan dua lembar kertas fotokopi yang sengaja digulung. Nilam segera membuka untuk memeriksanya.
“Tanda tangan dulu di bawah sini!” Nilam menunjuk sudut kiri kertas bergambar pasport. Dinda merogoh kantong depan tas kecilnya, mengambil pulpen bertinta biru. Lalu segera membubuhkan tanda tangan.
“Oke,” ujarnya dibarengi senyum kepuasan. Membayangkan besok sudah bisa mengirim uang ke keluarganya.
“Aku bantu kirim sekalian, ya?” tawar Nilam. Menyibak rambutponi yang panjang menghalangi pandangan mata kanannya.
“Iya, mau. Maaf bila merepotkan,” sahut Dinda. Ia pun memberikan secarik kertas resi pengiriman bulan lalu.
“Nggak apa, kita kan sahabat,” sahut Nilam sembari menggulung kembali kertas itu dan memasukkannya ke tas punggung berwarna merah hati. Ia sangat yakin semua masalah pasti dapat diselesaikan.
***
Air mata Nilam mengalir membayangkan betapa bening hati Dinda. Begitu mempercayainya. Sejuk udara dari AC mobil tak mampu membantu rasa panas di hatinya. Mobil berhenti bergerak menunggu lampu merah hingga berubah hijau. Nilam masih tertunduk, tegang. Ia sempat melirik tumbuhan perdu yang mulai memamerkan deretan bunga-bunga mekar beragam warna yang tertata rapi di sepanjang jalan Zhong Shan North Road. Indahnya seperti cinta yang ada di hati Nilam untuk seorang pemuda.
Namun saat memikirkan kekasihnya, bukan senyum yang ada, tetapi kebencian yang dalam. Karena dialah yang menghancurkan persahabatannya dengan Dinda. Bahkan borgol besi menjadi saksi kebodohannya. Dinda melapor ke polisi karena paspornya disalah gunakan Nilam. Karena sang rentenir mengirim surat tagihan ke alamat majikan Dinda.
Begitu sampai di kantor polisi, Nilam menjalani pemeriksaan. Setelah interogasi selesai, petugas semakin memperhatikan wajah Nilam, lalu keluar ruang. Selang lima menit, lelaki itu sudah kembali dengan sebuah laptop. Ia meletakkannya di atas meja kayu, dan membuka layar. Nilam terperangah saat petugas menunjukkan video rekaman CCTV. Tampak jelas ia menyerahkan sejumlah uang kepada kekasihnya, Randi, di sebuah tempat karaoke.
“Mungkinkah ini salah satu bukti penggunaan uang itu? Tapi bagaimana Dinda dan polisi tahu?” guman Nilam semakin bingung. Dalam hati mencoba menghubungkan video itu dengan perkara yang dilaporkan Dinda. Ia mengaku bersalah atas penggunaan dokumen orang lain, untuk meminjam uang ke seorang rentenir.
“Apa hubungan anda dengan orang ini?” Suara bariton lelaki tegap berkaos putih dibungkus rompi hitam bertuliskan identitas kepolisian, membuyarkan lamunan Nilam.
“Pa-pacar, Pak,” sahut Nilam sedikit tergagap.
“Sudah lama?”
“Baru dua bulan,” jawab Nilam agak malu. Masih tertunduk sambil menata debar hati yang semakin cepat.
“Kamu tahu, kemarin dia kami tangkap saat sedang berpesta sabu-sabu.” Petugas itu menerangkan
Kali ini membuat mata Nilam membulat. Menatap lekat mata lelaki di hadapannya. Bibirnya bergetar seolah kedinginan berada di dalam gundukan salju, membekukan tubuhnya. Namun api kemarahan mendorongnya untuk berontak.
“Tidak mungkin, Pak! Tidak mungkin!” Teriak Nilam, panik. Ia tidak percaya dengan perkataan polisi barusan. Rasa takut semakin menghinggapi hatinya. Wajahnya kian pucat, kini masalahnya bertambah berat.
“Anda juga pemakai, kan?” desak petugas berusaha menyudutkan Nilam.
“Sumpah, Pak. Saya tidak tahu apa-apa tentang narkoba. Pak, tolong jangan libatkan saya. Di video itu, saya menyerahkan uang. Tapi saya tidak tahu tentang masalah narkoba. Saya terpaksa karena dia mengancam,” ceracu Nilam berusaha membela diri.
“Tenang, tenang dulu. Anda harus menjelaskannya saat sidang nanti,” jawab Pak polisi, tegas. Ia pun mengisyaratkan sesuatu kepada seorang polisi wanita dengan sebuah anggukan kepala saja.
Rupanya itu sebuah perintah untuk membawa Nilam ke ruang tahanan. Sekotak ruang sempit berpintu jeruji besi. Tempat yang tidak pernah Nilam bayangkan. Dinginnya dinding terasa menusuk tulang, kala menyandarkan punggungnya. Nilam menatap langit-langit dan seluruh ruang. Walau bersih, namun tetap saja menakutkan hati.
Masih segar dalam ingatan kata-kata Randi, saat mereka duduk berdua di Taman Daan. Disitulah pangkal persoalan bermula. Nilam yang sangat lugu dan sangat mencintai kekasihnya nitu tak menyadari bahwa ia sedang diperalat.
***
“Sayang, bantu aku tiga puluh ribu nt. saja, ya. Pasti aku balikin bulan depan,” rayu lelaki ganteng berjanggut lancip, jangkung kurus, mata sedikit sayu. Rambut cepak bercat pirang menambah wah penampilan pemuda yang mengaku sebagai karyawan pabrik tisyu di daerah Taoyuan.
“Sayang, kok banyak amat? Untuk apa?” Nilam seketika menoleh, menatap lebih lekat mata pacarnya. Hanya mata merah dengan wajah memucat yang tertangkap. Pangkal alis mata Nilam menyatu merasakan kejanggalan akan kondisi tubuh Dandi. Seperti sedang sakit.
“Please, Sayang? Aku janji, ini yang terakhir,” rengek Randi. Suaranya semakin bergetar. Sejenak menatap sayu Nilam. Menyadari dirinya diperhatikan begitu serius, ia berpura-pura membuang muka ke arah tupai yang kebetulan sedang asyik makan di sebuah batang pohon yang terpotong.
Randi merogoh saku celana, mengambil telepon genggamnya. Lalu segera menunjukkan beberapa photo kepada Nilam, yang mendadak berubah gusar.Keringat dingin seakan menjalar dari ujung kepala hingga kaki. Tanpa penjelasan lebih banyak, ia mulai mengerti bahwa nama baiknya akan hancur bila tidak memenuhi kemauan pacarnya. Photo mereka yang sungguh tidak pantas untuk dipertontonkan.
***
Secara kebetulan saat liburan itu, Dinda sedang butuh uang. Dan demi memenuhi keinginan sang kekasih, akhirnya paspor Dinda sebagai jaminan untuk meminjam uang sebesar Nt. 40.000 pada seorang rentenir. Itulah sebenarnya penyebab petaka ini. Isak tangis Nilam tiada terbendung lagi mengingatnya. Sakit hati tiada terperih.
Tiba-tiba bayangan wajah ibu bermain di pelupuk matanya yang mulai sembab. “Nak, hati-hati bekerja. Jaga kepercayaan itu sangat penting. Allah maha melihat segala perbuatan kita.” Begitu nasehat ibunya setiap kali Nilam menelepon. Rasa bersalahpun semakin membuatnya tersudut.
“Maafkan Nilam, Bu,” sesal Nilam. Ia menekuk kedua kaki, hingga pahanya menekan perutnya. Kepalanya tertunduk, bersembunyi di tengah-tengah kedua tangannya yang merangkul dengkul. Tubuhnya bergetar karena tangis kesedihan dan penyesalan.