台南黎明前的哭泣 TANGISAN JELANG FAJAR DI TAINAN

 2016 Babak penyisihan 印尼文初選   📜 台南黎明前的哭泣 TANGISAN JELANG FAJAR DI TAINAN 👤 Jay Wijayanti   Getaran tanah Formosa perlahan dirasakan oleh sebagian orang yang masih terlelap dalam tidur mereka. Langit masih gelap, sebagian darinya harus terbangun dalam kepanikan yang melanda. Guncangan hebat dirasakan oleh seluruh warga di wilayah Taiwan, terutama di Tainan. Hanya ketakutanlah merajai … Continue reading “台南黎明前的哭泣 TANGISAN JELANG FAJAR DI TAINAN”

 2016 Babak penyisihan 印尼文初選  

📜 台南黎明前的哭泣 TANGISAN JELANG FAJAR DI TAINAN

👤 Jay Wijayanti

 

Getaran tanah Formosa perlahan dirasakan oleh sebagian orang yang masih terlelap dalam tidur mereka. Langit masih gelap, sebagian darinya harus terbangun dalam kepanikan yang melanda. Guncangan hebat dirasakan oleh seluruh warga di wilayah Taiwan, terutama di Tainan. Hanya ketakutanlah merajai pikiran mereka, detak jantung semakin kencang, kekalutan dan kekhawatiran menjadikan kepiluan yang mencekam. Peristiwa itu, menjadikan duka berkepanjangan. Sebuah gempa dengan kekuatan 6,4 Skala Ritcher mengguncang hebat, sungguh tak terbayang bagaimana reaksi warganya. Lima gempa susulan pun terjadi selang waktu 30 menit setelah kejadian gempa pertama dan terbesar.

“Ada apa ini?” sebagian dari mereka dihantam rasa cemas. Teriakan pun sontak terdengar dari berbagai penjuru kota. Tiang-tiang listrik bergoyang, disertai ayunan lampu yang sungguh membuat pemandangan dini hari semakin tanda tanya. Motor dan mobil yang berjajar rapi di sepanjang pinggiran jalan pun bergerak dengan sendirinya. Sebagian sepeda di samping taman pun ambruk dan bertindihan. Jalanan hening nan sepi pun berubah memilukan. Ada diantara yang berhasil menghamburkan diri keluar dari rumah.

“Ya Tuhan, ada apa lagi ini?” sebagian dari mereka saling berpelukan, menatap langit-langit rumah penuh heran. Lampu mewah yang bergelantungan dalam apartemen bergoyang dengan hebatnya. Vas-vas bermerk, perabotan rumah, buku, meja kursi, benda mahal yang menghiasi almari kaca, runtuh seketika dan memenuhi lantai marmer. Rata, hancur bertebaran tak terselamatkan. Gempa dahsyat telah meluluh-lantahkan seisi apartemen.

Saat itu juga, lampu-lampu di sekitar apartemen lain pun menyala bergantian dari sudut kota, suasana hening pun seketika berubah. Tepat di jam 03:57 Am terdengar dentuman hebat. “Brukkk… bluumm“ suara itu menggelegar, mengagetkan seluruh jiwa yang terbangun dari lelapnya tidur. Sebuah bangunan besar setinggi 15 lantai runtuh seketika, suara teriakan minta tolong terdengar bersahutan, disertai raungan histeris, bahkan tangisan yang begitu menyayat hati. Reruntuhan itu saling menindih satu dengan yang lainnya, tiada dapat diperkirakan berapa orang yang masih ada di dalamnya.

Hantaman gempa pun memiringkan gedung sampai 45 derajat, menindih puluhan mobil dan motor yang diparkir di pelataran apartemen, tertindih hingga hancur remuk seketika. Pemandangan yang miris untuk direkam dalam ingatan. Jalanan sempat tertutup dengan beberapa puing-puing reruntuhan. Seketika listrik padam, hanya terdengar teriakan minta tolong menahan rintihan sakit, tangisan ketakutan, terjebak di dalam tumpukan beton.

“Tolong… tolong … tolong!!!” Teriakan demi teriakan bersahutan, langit Tainan pun seakan pecah dengan kehisterisan para warganya yang menyambut fajar disambut ketakutan mencekam. Wajah-wajah sedih nampak menghiasi sebagian penghuni kawasan itu, namun bagi mereka yang tertimpa dan terjebak reruntuhan hanya bisa pasrah pada nasib. Menunggu bantuan datang. Hanya doa yang melangit, sebaik-baiknya pelindung.

“Saat kejadian itu, aku terbangun seketika, mendapati anakku yang sempat menangis. Kucoba untuk menenangkannya, namun gagal. Sungguh tiada terbayang olehku, jika saat itu aku tak menyelamatkan diri, mungkin saat ini tak lagi bisa berada di sini,” ujar wanita yang masih meratapi anak perempuan semata wayangnya yang terselamatkan.

Dalam pelukan wanita bermata sipit dengan rambut acak-acakan, balita yang masih polos itu hanya merengek meminta air susunya. Sementara, luka memar di tangan dan kaki sang ibu masih mengalir darah, dikarenakan tergores sebagian reruntuhan saat dia mencoba keluar dari jendela. Dinding pembatas kamarnya retak, besi-besi batangan yang patah dan membengkok seakan menjadi duri tajam yang keluar dari bongkahan dinding. Sayang, anaknya terjebak dalam reruntuhan di kamar sebelah.

***
Pertolongan pun datang, meski seorang Nyonya bermarga Lin itu meronta dan ingin mencari anaknya yang masih terjebak dalam apartemen di lantai 10. Para penyelamat dari kalangan militer, polisi, dan pemadam kebakaran yang dikerahkan oleh pemerintah setempat. Seorang penyelamat sempat melarangnya dan meraih tubuh langsingnya itu untuk menjauhi tempat kejadian. Sementara beberapa lelaki berseragam merah, memakai sarung tangan warna kuning kecoklatan, bersepatu lengkap dengan helm yang bagian depan terdapat cahaya senter itu mencari dan memasuki tempat yang dimaksud. Lewat jendela, mereka memecahkan sebagian kaca untuk bisa menerobos masuk. Suara tangisan balita pun terdengar, mereka langsung mencari sumber suara dan menyelamatkannya.

Diraihnya balita itu dengan keadaan selamat, para pahlawan berseragam merah saling meraihnya dengan bergantian. Sebuah pemandangan yang benar-benar menyentuh hati, tanpa terasa air mata mengalir di pipi para warga setempat yang menatapnya dari kejauhan. Dikerahkan sebagian dari mereka untuk memasang tangga agar saling tersambung, perlahan namun pasti balita itu diturunkan dari tangan satu ke tangan lainnya. Selimut warna kuning dengan corak merah bulat seakan menjadi saksi bisu dari usaha penyelamatan anak Nyonya Lin. Menyusul balita-balita lain yang masih bisa terselamatkan, diantara mereka pun berurai tangis karena terharu. Pekatnya debu reruntuhan dan tebalnya asap gas yang keluar dari sebagian gedung apartemen, membuat kecemasan semakin dirasakan oleh para penyelamat. Apalagi kekhawatiran dari mereka yang memperkirakan masih banyak anggota keluarga belum terselamatkan.

Ciuman kasih sayang dan tangis haru melengkapi dekapan hangat seorang Ibu pun menjadi tontonan yang tak dapat dilewatkan. Sungguh, iba rasanya ketika melihat mereka yang hampir saja dipisahkan oleh maut dalam tragedi 6 Februari 2016, hari Sabtu. Balita yang tubuhnya berbalut selimut tebal hanya diam dan memandangi wajah ibunya, polos. Sementara, dekapan dan ciuman tak hentinya mendarat di wajah anak semata wayangnya
.

“Tuhan masih memberikan kita kesempatan, Nak. Ibu tak rela jika harus berpisah denganmu, ini adalah keajaiban yang tak dapat kutulis oleh kata-kata. Kelak, cukuplah kisah ini menjadi sejarah dalam perjalananmu,” ungkap Nyonya Lin dengan sesekali terisak dan sesenggukan. Mata sipitnya terlihat sedikit membengkak akibat menguras banyak air mata. Pengorbanan seorang ibu kepada anaknya, sungguh tak dapat terbalas oleh isi dunia.

***
Gedung apartemen megah di Tainan telah tumbang, media terus meliput secara live dari detik ke detik berikutnya. Negara tetangga pun juga menyiarkan serentak tragedi itu di setiap chanel berita tivi. Demi mencari keberadaan para korban, tak ketinggalan juga, anjing pelacak pun dikerahkan untuk mengendus sebagian dari mereka yang masih terjebak dalam reruntuhan bangunan. Jendela, mungkin menjadi pintu satu-satunya jalan dalam memasuki setiap ruangan. Banyak korban masih terkurung dan tidak bisa keluar, sebagian pun telah diselamatkan mesti harus dibawa oleh ambulans ke rumah sakit terdekat karena mengalami luka-luka. Tiga ratus orang lebih mengalami trauma dalam kejadian itu, tak sedikit dari mereka yang keluar dari reruntuhan dengan luka penuh darah, lebam, memar, dan ada yang ditandu karena tak dapat berjalan.

“Ayah! Aku di sini!” Teriak seorang anak yang memanggil ayahnya sambil berlari mendekat, mereka berpelukan. Sang ayah pun mencium anak laki-lakinya, “Ayah tidak apa-apa, Nak. Untung kamu dan Ibu kemarin pergi ke Taipei. Cukup Ayah saja yang mengalami rasa sakit ini,” sahut pria berbaju lengan panjang biru tua dengan penuh dengan ketegaran.

Di sisi lain …

“Mana anakku? Cepat selamatkan dia! Aku tak ingin berpisah dengan Xiao Lee. Kumohon, Pak!” Teriak salah seorang Nyonya sambil memohon kepada petugas berseragam merah dan berkacamata di hadapannya. Pria bermasker itu pun mengangguk dan bergegas, “Kami akan berusaha sebaik mungkin untuk menyelamatkan semua orang termasuk putra Ibu yang terjebak di dalam sana. Tenanglah,” dia pun mencoba menenangkan wanita di hadapannya. Nyonya terus menyebut nama Xiao Lee, sesekali meronta mengurai tangis.

***
“Apalah daya, jika manusia sepertiku harus memangkas waktu. Tak dapat menolak tua, dan hanya bisa bertahan pada langkah-langkah mundur sebuah dilema kehidupan. Bahkan, aku tak kuasa untuk menolak garis kerutan di wajah ini. Biarkan saja waktu yang mengusir segala kenangan kemarin menjadi sebuah memori, namun hanya keinginanku satu, yaitu untuk bisa menjadi pahlawan yang selalu dikenang oleh banyak orang.” Begitulah salah satu tulisan di media surat kabar Taiwan, potret perjuangan lelaki berseragam merah dalam menyelamatkan banyak orang. Tertulis sebuah tulisanMandarin besar berjudul yang artinya, “Pahlawan Fajar”.

Mulia sekali tugas mereka, bekerja dengan sepenuh hati, solidaritas tinggi yang membawa cinta untuk menguatkan jiwa-jiwa para korban yang dirundung kesedihan mendalam. Tanggung-jawabnya luar biasa, bekerja tanpa mengenal batas waktu, senantiasa siaga dalam berbagai kemungkinan yang terjadi. Tangisan menjelang fajar itu membuahkan cerita mendalam bagi penduduk Tainan setempat. Kejadian gempa luar biasa hingga sampai merugikan banyak orang, tidak hanya harta benda, tapi juga nyawa banyak orang.

***
“Ma, Xiao Lee baik-baik saja bukan? Bagaimana dengan Mama? Papa pagi ini segera meluncur ke Tainan untuk menjenguk kalian,” ujar Tuanku dengan mimik muka yang cemas. Kemarin, kami bertiga berpamitan untuk pergi ke Taicung mengantar Ama(nenek) untuk periksa ke rumah sakit. Terpaksa harus meninggalkan Nyonya dan anaknya di apartemen sendiri. Siapa sangka jika televisi yang ditayangkan dini hari itu, terpampang wajah nyonya dan Xiao Lee berurai tangis. Sesak dada kami, terutama aku.

“Kami selamat, Pa. Cepatlah kembali, …” sahut Nyonya, terdengar jelas dari suara ponsel Tuan yang di-speaker. Mendengar itu, aku menghela napas panjang, “Alhamdulillah.”

“Rini, persiapkan semua pakaian Ibuku dan kamu, kita kembali pulang untuk membawa Nyonya dan Xiao Lee kumpul bersama lagi,” perintah Tuan kepadaku.

“Baik, Tuan.” Sambil mendorong kursi roda menuju mobil, semua sudah kupersiapkan dengan rapi. Aku duduk di jok belakang bersama Ama. Baru sesaat kusadari air mata Ama telah mengalir, “Ama, kenapa menangis?” tanyaku.

“Aku saat ini sangat rindu sekali dengan cucu dan menantuku, kenapa mereka harus mengalami kejadian mengenaskan itu?” aku menyapukan punggung tanganku ke wajah Ama, setelah itu kudekap erat tubuhnya. Akupun berbisik, “Ama, mereka sekarang baik-baik saja. Tuhan masih melindungi mereka. Kita nanti akan memeluk mereka berdua, seperti aku memeluk Ama saat ini.”

Dari balik spion depan, Tuan sempat mencuri pandang ke arah kami berdua, di sana dia mencoba tersenyum, berusaha menyembunyikan kesedihan diantara kedua tatapan matanya. Aku bekerja kepada Tuan Lee hampir dua periode tahun ini sangat merasakan betapa pentingnya arti keutuhan keluarga, seperti aku yang meninggalkan keluargaku di Indonesia demi sebuah harapan di masa depan. Mobil BMW berwarna metalik pun meluncur, membawa cinta dan kerinduan kami yang mendalam.

***
Ketika sekembali di Tainan, Senin, 8 Februari 2016
Aku melihatnya
Aku menyaksikannya
Aku merasakannya tanpa pernah melupa, semoga insiden tragedi jelang fajar di Tainan cukup kali ini saja, karena aku tak sanggup lagi untuk merekam jejak duka kesedihan dan ketakutan. Biarlah pertemuan ini, menjadi hikmah tersendiri bahwa di balik musibah ada kekuatan cinta yang mampu membelah langitNya dengan indahnya keikhlasan.

THE END.


📜 台南黎明前的哭泣 TANGISAN JELANG FAJAR DI TAINAN

👤 Jay Wijayanti

 

睡的人都感受到福爾摩沙土地正在緩緩震動。天空仍是一片漆黑,有些恐慌中醒了過來接著,全台都感受到這股的晃動,特別是台南。他們被恐懼感籠罩,心臟跳得極快,困惑與擔憂籠罩著。這一事件,造成漫長的悲痛。一個規模6.4的強震,大力地搖晃房屋,真的無法想像,當地居民當時做何反應。歷經第一震也是最大的強震之後,間隔三十分內,緊接著還有五個餘震。

「到底發生什麼事?」莫名的焦慮,狠狠地擊中台南居民。撕裂的嚎啕哭聲,在整城市內迴盪。電線桿伴隨路燈擺盪,搖晃的光影清晨增添未知原本沿著道路整齊停放的摩托車和汽車都移位了停放在公園旁的自行車,大部分相疊倒下平時寧靜的街道,瞬間變得怵目驚心讓人心碎,有些人成功逃離家園。

「哦,我的上帝啊,發生什麼事?」他們中,有一些人在事發時互相擁抱,充滿惑的盯著天花板。看著華麗燈飾搖晃得很嚴重。花瓶、家居用品、書籍、桌椅、玻璃櫥櫃裡的昂貴裝飾品,紛紛瞬間倒大理石地板地震造成無法挽回的餘地,這個大地震毀了整個公寓。

那一刻,公寓的燈光一一逝去,各個城市角落交替地閃爍,寂靜的氣氛瞬間改變。凌晨3:57響起了巨響。「撲通…撲通…」巨響迴盪在四周,驚醒正在沈睡的靈魂。一十五層樓的高大建築瞬間倒塌,呼救聲接連傳出,伴隨著歇斯底里的咆哮,還有哭斷腸的泣聲。廢墟相互疊,完全無法預測到底還有多少人深埋其中

地震襲擊的大樓傾斜至四十五度,重壓在幾十輛停在大樓前的汽車和摩托車,瞬間,汽機車四分五裂。這畫面,將永恆記錄在人們的腦海中。街道被雜物覆蓋,電也瞬間停了,只聽到呼救聲、疼痛的哀嚎與恐懼的呼喊,紛紛從混凝土樁下傳出

「救命啊…救命啊…救命啊!」呼救聲連連。這時的台南,彷彿身陷在恐怖電影的情節,歇斯底里地迎接破曉黎明明顯的,悲傷高掛在居民的臉上,但對於那些被瓦礫堆所困的人,現在只能臣服於命運。等待求援達,好好的祈禱,成為最後的守護。

「事情發生時,我立刻醒過來,發現我的兒子正在哭。我試圖安慰他,但失敗了。我真的無法想像,如果當時我沒有自救,現在可能就不在這裡了」一女子感嘆當時與幸運存活下來女兒。鏡頭裡的她,有著一雙瞇瞇眼,頭髮顯得凌亂,懷裡無辜的孩子,只要求媽媽喝奶。同時,媽媽手上的瘀傷和腳上的傷口仍然流血。

那都是她從窗戶跑出來時被瓦礫所割的傷口。房間的隔牆斷裂了,裡面的鋼筋被折斷或彎曲,形成牆壁上的尖刺。不幸的是,她的兒子被困在隔壁房間的瓦礫堆裡。

***

救援來了,一位林太太試著從救援照護中掙脫,想要找被困在十樓的兒子。當地政府動員救護人員搜救,那是由警察、軍方和消防隊員所組成的團隊。一位救護人員出面制止,並將纖細的她帶離現場。幾位穿著紅色制服、黃色手套、鞋子,頭戴上面有手電筒的帽子的人員,透過窗,打破玻璃進入剛剛那位女士所講的位址。沒多久,小朋友的哭聲馬上就被聽到,他們立即找到聲音來源並進行救援行動。

小男孩獲救了,這些穿著紅色制服的英雄,一個接一個抱小男孩。這真是令人感動的畫面,不遠處觀看的居民,不知不覺流下眼淚。他們當中有幾位幫忙接梯子,再慢慢的將懷中的小男孩,一手接一手傳遞下那件紅點點的毛毯,彷彿成了林太太兒子被幸運救援的沉默見證。接下來,陸續救出了幾位小朋友,他們都流下感動的眼淚。

大樓揚起厚厚灰塵和碎片,增加了救護員的擔憂。此外,他們也憂愁,還有許多家庭成員尚未獲救。親暱落下的吻和感動的淚水,以及母親的溫暖擁抱,成為該起事件的矚目焦點。他們母子倆,歷經這場地震,又差點被二月六號一場災難分離,處境很讓人動容。毛毯包覆孩子只是靜靜的、天真的望著母親。同時,母親的擁抱和親吻,不斷落在那無辜的臉龐

「上天再一次給我們機會啊,孩子。媽媽不願意跟你分開,這真的是一個無法用言語形容的奇蹟。未來還在等著你,希望這只是你生命中的一段插曲」林太太一邊啜泣一邊說著。 她一雙瞇瞇眼,因為流太多淚看起來有點腫。一母親對兒女的無悔犧牲,世間無以回報。

位於台南的宏偉公寓大樓倒下了,每分每秒都有媒體現場報導。周邊國家也同步播出這場悲劇。為了尋找受害者的下落,搜救團隊派出搜查犬,希望嗅出一些仍被困在倒塌的建築下的人。窗,成為唯一進入每個空間的可能途徑。許多受害者仍被困住而無法脫身,部分被救出的民眾,必須由救護車帶到附近的醫院療傷。三百多人在事件中遭受創傷,不少從廢墟出的人,身上帶著流血的傷口和瘀傷,許多人因為無法自行走路而使用擔架。

「爸爸!我在這裡!」一個孩子大聲的呼喚他爸爸,邊跑向他,他們擁抱在一起。爸爸親吻他的兒子說「爸爸沒事,兒子。還好,你和媽媽昨天去台北。爸爸一個人經歷這些苦難就夠了。」穿著深藍色長袖襯衫的男子堅定的說。

另一方面…

「我的兒子在那裡?快救救他!我不想跟小李分開。我求求你!」其中一位太太大請求眼前帶眼鏡、穿紅色制服護人員的幫忙。那位帶著防護罩的男子點點頭回答「我們將竭盡所能拯救所有的人,包括您在裡面的兒子,請您放心!」即使如此,那位太太還是一直呼喚的小李的名字,聲嘶力竭的哭泣

***

「我們能怎樣像我這樣的人,不得不向時間低頭。無法拒絕老,只能在生命困境中努力存活,我甚至無法阻止臉上一條條皺紋的產生。就讓時間驅逐昨日的一切回憶,但是我有一個願望,希望昨日的英雄,可以成為大眾的記憶。」就像台灣報紙裡的肖像,這位身穿紅色制服的男性拯救了很多人,新聞上方有一行標題寫著「黎明的英雄」。

他們的工作非常的偉大,全心全意工作,帶著愛與關懷,撫慰受害著的悲傷心靈。他們超乎想像的盡責,不眠不休的工作,為所有可能性做準備。黎明的哭泣,變成了台南人難忘的故事。巨大地震傷害了許多人,不僅損失財產,還傷及許多性命。

「媽媽,小李好嗎?媽媽自己又怎麼樣了呢?爸爸今天上午開車到台南看你們」焦急的先生說。昨日,我們三個人才剛和太太與她的兒子道別,前往台中,準備帶阿嬤到醫院做檢查。誰能料想到,今天早上的電視新聞,播出太太和小李眼中充滿淚的畫面,我們的呼吸都快停止了,尤其是我。

「爸,我們安全了。快點回來…」太太的聲音,從手機擴音器傳出。聽完了,我也鬆了一口氣,「感謝上帝。」。
「里尼,準備好妳和我媽的衣服,我們回家跟媽媽和小李一起團圓」先生命令著我。
「好的,先生。」我推著輪椅上車,一切準備就緒。我跟阿嬤坐在後座。這時,我才意識到阿嬤在流眼淚「阿嬤,怎麼哭了?」我問。
「我非常想念孫子和媳婦,為什麼他們要經歷這麼悲慘的事情呢?」我用手背擦拭阿嬤的眼淚,然後緊緊抱著她。我輕聲對她說「阿嬤,他們現在好。神保護他們。」稍後,我們將擁抱太太與她的兒子,就像今天我抱住阿嬤一樣

後視鏡上,先生偷了我們兩個,雖然他試圖微笑,掩飾他雙眼裡的悲傷。我在李先生這裡工作快兩期了,今年我強烈感受到,完整的家是多麼的重要,像我遠離家鄉工作,只為了未來有個希望。銀色的賓士繼續移動,帶著我們深深的愛與思念。

***

一回到台南, 2016年2月8日 週一

我看到了,我目睹著。我無法忘卻只能全然感受著。希望台南這場悲劇,只發生這一次,因為我實在無法再次記下悲傷和恐懼的影子。希望這場災難,可以轉化為獨特的智慧,其中有著真誠與愛的力量,能夠劃破祂的天空。

結束。


Comment  Tema langka, tentang hiruk-pikuk dan tragedi.gempa di Taiwan 6,4 SR. Penulis berhasil mendeskripsikan latar belakang hubungan dengan keluarga majikan, berujung saat-saat gempa terjadi. Keren! 罕見的主題,關於台灣6.4級地震的騷動。作者成功的描述與雇主家族背景關係,流落在地震時刻。太酷了!

Comment  Bahasa Indonesia bagus. Tema menarik. Penceritaan cukup baik.  很好的印尼語,有趣的主題。故事講得不錯。

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *