Arumi Olive / Malam-malam yang Tabah / Hsin Hung / tenaga kerja asing 移工
Malam-malam yang Tabah
Dia melihat perempuan menopang dagu di tepi jendela dengan rambut tergerai diterpa angin malam. Sesekali wajah perempuan itu tersorot lampu dari dalam kamar. Dia berusaha menajamkan pengelihatannya, menelusur lebih dalam bagaimana rupa perempuan itu. Apartemen minimalis di Taipei tumbuh bagai jamur musim hujan. Dengan model jendela kaca yang lebar mirip layar lcd tv semakin memudahkan pandangannya.
“Ma…!” Seseorang memanggilnya. Kali ini dia tidak menghiraukan. Bukan seperti malam-malam sebelumnya, jika mendengar suara tadi biasanya dia akan segera meninggalkan apa pun yang sedang dikerjakannya. Dia kembali duduk memperhatikan perempuan yang sedari tadi belum berpindah dari tepi jendela.
Kali ini perempuan itu menarik korden dengan kasar, nampak jelas kondisi kamar yang berantakan. Lemari pakaian di sebelah kanan perempuan itu tepat menghadap pintu masuk dengan isi yang telah berhamburan memenuhi lantai. Sepasang baju pengantin di atas tempat tidur tidak lagi utuh ketika jasnya telah robek di setiap sisi.
Pemandangan yang semakin membuat Ma terus mengikutinya. Tubuh mungilnya dibalut piama duduk bersila menatap ke arah laptop di atas tempat tidur. Dia mulai menangis mengusap wajahnya, menjambak rambutnya dan setelah membanting laptopnya dia kembali memeluk kedua lututnya.
Tangan Ma berusaha menggapai perempuan itu namun suara yang begitu gaduh menarik tubuhnya tanpa bisa menolak. Bunyi pecahan kaca melenyapkan wajah perempuan itu dari hadapannya.
“Praaang…!” Panci jatuh disusul oleh piring-piring yang melebur di lantai. Pandangan Ma terhalang dinding tinggi, tubuhnya seakan terpaku. Bunyi-bunyian yang memacu detak jantungnya.
“Jangan mendekat! Atau peluru ini akan melesat di kepalamu.” Ma mendengar jelas perempuan yang baru saja bicara.
“Kamu sudah gila? Kita bisa bicara baik-baik. Kegaduhanmu bisa menarik perhatian polisi.” Suara lelaki berusaha menenangkan, satu langkah kakinya menyingkirkan serpihan kaca.
“Kenapa? Kamu takut? Bukankah selama ini kamu bilang tuhan saja tunduk kepadamu? Apa yang kamu takutkan? Uang itu? Atau mayat-mayat yang telah kamu bakar?” Suaranya mulai terisak.
“Selama ini, sebagai perempuan aku telah berusaha menjadi ibu yang baik bagi anak-anakmu dan istri yang setia di hadapan keluargamu. Menutup rapat apa yang sebenarnya sedang kamu lakukan di luar sana. Tapi tidak untuk hal yang satu ini, ketika ada perempuan lain di hatimu berarti kamu telah bersiap untuk mengakhiri hidup.”
“Istriku, cintaku, maafkan aku. Kita bisa memperbaiki semua ini. Aku bisa meninggalkan perempuan itu, tapi tidak denganmu.”
“Semua sudah terlambat, perempuan itu telah hamil olehmu.”
“Dooor…!” melengking nyaring. Tubuh Ma ikut terpental dari dinding tempatnya menempel.
“Istrikuuu …!!!” Teriakan suaminya disambut oleh sirene yang bersahutan.
Ma tertatih dibawa angin malam meninggalkan kekacauan menyusuri jalanan kota Taipei yang mulai lenggang. Pikirannya kosong, sekosong selongsong peluru yang ditinggalkan amunisinya. Gedung-gedung tinggi, jalan raya yang mengular, lintasan kereta listrik dan taman-taman yang mereka ciptakan membuat kota ini semakin sempurna membangun dirinya.
Ma menjadi saksi bisu bagaimana kota ini memoles wajahnya. Seperti seorang lelaki tua di hadapan cermin yang dia jumpai beberapa waktu lalu. Lelaki dengan sisir dan kepala yang mulai ditinggalkan oleh helaian rambutnya. Hal yang paling diharapkan oleh kakek itu sebenarnya adalah anak cucu yang menemaninya. Sebagaimana juga yang dirindukan oleh kota ini adalah penghuninya. Yang membangun kebahagiaan di dalam hati dan pikirannya masing-masing, tanpa harus menciptakan gedung-gedung tinggi untuk menyimbolkan kata bahagia. Ma tidak memiliki kuasa berbuat sesuatu. Untuk menghibur pak tua dan kota yang sedih ini sebuah ucapan meluncur darinya.
“Tetaplah kuat dan sabar, tidak ada lelaki yang boleh lemah dan kota tidak boleh sepi. Mereka adalah bagian darimu, yang kelak juga akan mati sepertimu.”
Sesekali pandangan Ma teralihkan oleh segelintir orang tertidur di bangku taman. Tubuh mereka dibalut jaket tebal yang lusuh. Tahun ini musim dingin begitu kejam, dalam beberapa hari terakhir televisi memberitakan tentang tuna wisma yang meninggal akibat perubahan cuaca.
Ma melanjutkan perjalan sembari memutar ulang yang baru saja disaksikan dan didengarnya. Mengingat peristiwa demi peristiwa. Sebelum matahari terbit Ma harus berhasil membangun kembali ingatannya. Atau jika tidak, dia akan kehilangan malam-malam selanjutnya.
Perempuan di jendela itu masih belum lama menyandang gelar pengantin. Lin, istri dari seorang jutawan muda bernama David. Pemilik beberapa perusahaan besar yang mempengaruhi pembangunan kota Taipei. Pesta pernikahannya sempat diliput salah satu stasiun tv internasional. Mereka juga masuk dalam survei pasangan teladan versi majalah lokal.
Kebahagian itu tidak berlangsung lama manakala selembar surat berisi hasil pemeriksaan medikal dibaca oleh Lin. Suaminya positif HIV aids. Demi kehormatan dan nama baik keluarga besarnya, Lin diam- diam menyewa detektif untuk menyelidiki siapa sebenarnya orang yang selama ini mengisi hatinya.
Kedua lutut Lin lemah seketika kehilangan tulang belulang. David yang telah 7 tahun menjadi bagian dari nafasnya juga menjalin hubungan dengan orang lain. Sesama jenis. Begitu rapinya jalinan yang tersembunyi membuat Lin tampak bodoh di hadapan cinta yang ia agungkan. Lin berharap bahwa laporan dari detektifnya salah. Lin tidak mampu merubah keadaan, dia menyisakan satu harapan bahwa penyakit itu tidak berpindah ke tubuhnya.
Ma kembali memutar ingatan tentang bunyi pistol yang melemparkannya dari dinding. Wilayah yang barusan ditinggalkannya terkenal sebagai distrik orang-orang elite. Berbagai macam orang kaya dari penjuru Taiwan berusaha keras mendapatkan rumah di sana dengan harga sangat mahal. Adalah sebuah simbol kesuksesan bagi siapa yang berhasil mendapatkan tempat di sana, walau kadang pada akhirnya bangunan-bangunan bertingkat itu kosong tanpa penghuni.
Ma bersikeras menebak siapa pemilik suara yang tengah menangisi kematian istrinya. Suara yang tak asing bagi Ma. Suara yang pernah bergema ketika pemilu tiba. Ma masih merekam bagaimana lelaki itu berpidato di hadapan simpatisan. Tuan Chang, begitu para simpatisan mengelukan namanya. Tersohor sebagai seorang yang dermawan. Dan istrinya Nyonya Chen adalah perempuan yang dipinang dari Beijing. Perempuan sosialita, tidak pernah melepaskan tas mahal dari pergelangan tangan setiap kali menemani suaminya berkampanye.
Tuan Chang hanyalah sebagian kecil dari mafia hitam yang bergerak di bawah tanah. Keberaniannya muncul di area politik hanya pengalihan publik agar teman-temanya dapat melanjutkan bisnis. Tanpa menciptakan kerisauan masyarakat ketika korupsi, prostitusi, narkotika dan perdagangan manusia membangun akarnya.
Ma semakin letih, tanpa terasa langkahnya terhenti di sudut sebuah rumah sakit. Sebelum tenaganya benar-benar habis, dalam remang-remang pengelihatan tertangkap bayangan perempuan yang duduk di tepi ranjang pasien. Buku tebal dipangkunya dan suara merdu mengantarkan Ma ke tempat yang jauh.
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati dengan kesabaran.”(1)
***
“Ma, maafkan aku jika beberapa hari ini tidak dapat menemuimu. Pabrik tempatku bekerja mengharuskanku lembur. Tapi tidak mengapa, itu artinya uangku akan cepat terkumpul dan aku bisa segera bertemu anak istriku di Indonesia.”
Sebuah pesan yang kembali menggerakkan langkah Ma. Dia bergegas menembus kabut malam menuju pabrik kabel di daerah Thaichung. Pengirim pesan itu tak lain adalah pemilik suara yang memanggilnya kemarin malam. Bejo, pekerja asal Indonesia yang mencari penghasilan di Taiwan. Bejo adalah satu dari sekian pekerja asing yang mampu membuat Ma berlama-lama duduk mendengarkan cerita. Suatu ketika Ma ingin ikut serta bersama Bejo pulang ke negerinya. Negeri yang menawarkan kunang-kunang dan bunyi jangkrik di setiap malamnya.
Bejo sering bercerita tentang kampung halamannya. Dengan bahasa mandarin yang terbata-bata Bejo memamerkan hijau sawah dan birunya lautan. Juga tentang kebiasaan anak-anak di desanya yang harus mandi sebelum pergi ke sekolah. Ma menyaksikan bagaimana kelopak mata itu berubah menjadi bintang yang terang tiap kali Bejo mengingat tanah kelahirannya. Jika negerinya telah menawarkan sekian keindahan, lantas apa yang membuat Bejo terpisah dari istrinya. Hal ini membuat Ma setia mendengarnya berkisah. Ma berharap Bejo akan menuturkan peristiwa apa yang membuatnya terdampar ke pulau ini.
Kehadiran Ma tidak disambut oleh Bejo yang tengah sibuk merapikan gulungan kabel. Mesin-mesin besar menciptakan kebisingan. Dua, tiga orang dengan jarak berjauhan mengerjakan tugas masing-masing. Bejo perlahan terantuk-antuk, tidak bisa dipungkiri bahwa tubuhnya butuh istirahat. Kepalanya semakin sering terantuk, dia terlihat menuju kamar mandi mengguyur kepalanya dengan air dingin. Suhu air ketika malam musim dingin bisa mencapai 5C, sedikit mengusir rasa kantuknya. Masih tersisa 1jam lagi dan Bejo bisa beristirahat. Seberapa lelah dia tidak dirasakan ketika teringat perut istrinya yang sedang membuncit. Buah hati yang telah dinantikan Bejo bertahun lamanya.
Dengan cekatan jemari Bejo merapikan kabel-kabel di hadapannya. Namun guyuran air es tidak mampu menandingi rasa kantuk yang menggelayuti kelopak mata Bejo. Semakin lama matanya semakin berat. Tubuhnya tumbang ditengah tumpukan kabel, sementara mesin penggulung kabel terus beroperasi. Ma berlari menghampiri Bejo, namun kecepatannya tidak mampu menahan mesin-mesin yang melilit Bejo. Gelap.
***
“Ma, tolong sampaikan surat ini kepada istriku tercinta. Ma, engkau adalah malam-malam yang tabah menyaksikan kisah demi kisah. Sebagaimana dada istriku yang selalu menahan gundah. Kutitipkan seluruh kisahku kepadamu. Mungkin dengan tulisan ini istriku bisa menjalani malam-malam dengan senyum paling cantik ditemani kunang-kunang. Istriku paling bercahaya dan aku adalah cinta yang tersimpan di hatinya. Ma, mintalah kepada Tuhan agar tangan dan kaki istriku kuat menahan beban. Menahan seluruh rindu yang siap bergejolak kapan saja.”
Bejo.
Catatan:
…
(1). Diambil dari terjemah surat Al-ashr 103 Al Qur’an.