Sugiyanti / Pahit Manis Di Taipei / Sahabat facebook / tenaga kerja asing
Pahit Manis Di Taipei
Tak pernah aku bayangkan aku di negri orang. Dengan sejuta harapan untuk meraih masa depan. Hempas segala kerinduan yang datang slalu menyiksa. Kini tiba saatnya bangkit dari segala keterpurukan yang ada. Jangan bersedih ini hanya sementara kawan. Taiwan oh Taiwan tujuanku aku memohon padamu lanjutkan cita-citaku. Taiwan oh Taiwan impian aku manis pahitku denganmu terimakasih untukmu Oh Taiwan xie-xie ni oh Taiwan wo ai ni. Itulah sepenggal lirik lagu yang aku tulis ketika aku lelah seharian bekerja.
Namaku Sugiyanti akrab di panggil Giyanti. Aku mencoba menuliskan kisahku di sini dengan menggunakn telepon genggam malam hari ini hari terakhir pengumpulan karya tulis. Banyak yang bilang aku disini enak bisa libur bernyanyi, mengeluarkan bakat yang di punya seakan hidupku ini tanpa ada masalah dan meraka taunya aku orangnya periang tanpa masalah.
Aku punya kisah sedih aku hanyalah gadis desa yang culun yang tak tau dunia luar seperti apa. Mengadu nasib di Taiwan hanya ingin melunasi hutang bank orang tua dan merubah nasib. Saat aku melepaskan diri, satu tujuanku ingin melihat bapak ibuku tersenyum tanpa hutang dan sehat selalu terutama ibuku sakit kencing manis sudah menahun tidak juga sembuh.
Tahun 2010 aku datang ke Taiwan Alhmdulilah, perasaan senang sedih campur jadi satu. Aku kira kerja di Taiwan cuma jaga Akong atau ama ternyata tidak masih ada kerjaan lain yang harus di kerjakan. Aku harus iklas aku harus kuat tidak boleh ganti majikan atau pun pulanh karena aku aku sudah tanda tangan di atas materai bernilai 10 juta kalau sampai dipulangkan aku di denda segitu banyak nya sama agensiku. Agensiku sangat tega satu perjalanan yang ku ingat ketika aku di anter oleh agensiku ke rumah majikan ku dengan berjalan kaki dan naik bus umum sangat jauh panas 38 derjat ketika dia minum air tak sepatah katapu terucap menwarai aku minum air padahal aku haus dan ingin sekali pingsan. Aku ingin sekali bertemu dengan nya ingin ku bilang aku Yanti yang gak bisa kerja, yang malesan, yang jarang mandi yang jelek kini bisa lulus kontrak bekerja dan bisa menyalurkan hobby disini.
Setahun di Taipei aku tak pernah libur aku giat bekerja. Kerja ku jaga akong sambil mengolah sirip ikan kering jadi basah siap di pasarkan, kakun di goreng dan di olah jadi kakin sejenis tulang babi kering yang di goreng sekali goreng 60 kg. Setiap malam aku menangis badan sakit semua tanganku juga rusak menghitam setiap malam aku menanggis kangen rumah, aku tak punya handphone selama 1 tahun karna uangku habis buat nyicil hutang, sedih banget rasanya Ya Alloh.
Waktu telah berlalu pelajaran hidup di masa lalu terkenang rapi dalam memory otakku.
Setipa cobaan dalam hidup kita sabar laluinya yang maha kuasa selalu menunjukan arah yang tepat untuk kita.
Aku sangat berterimakasih pada Taiwan karena telah melanjutkan impianku.
Karena Taiwan aku mampu mempunyai mental bernyanyi,
Karna Taiwan aku banyak menciptakan lagu, karena Taiwan aku bisa sejahterakan keluargaku.
Suskes tidak harus kaya raya. Menurutku sukses ketika kita bisa berguna bagi orang sekitar sudah termasuk suskes.
Belajar dari pengalman keluargaku yang tak punya rumah. Ketika aku masih kecil. Aku sudah gigih bekerja bantu bapak ibu jualan bubur,cendol dan gorengan. Ketika aku harus bangun jam 3 malam dengan menggunakan dimar, aku selalu berdoa Ya Alloh badai pasti berlalu engkau maha penyanyang.
walai raga telah rapuh, aku tetap bertahan. Meski pedih menusuk tulang tak pernah aku hiraukan. Tetap pada satu tujuan, semoga sejahtera saudaraku tercinta. Jangn menangis ini hanya sementara kawan.
Semangat kawan Bmi semuanya.
Jangn putus asa maju terus pantang mundur.
Ingat tujuan kita di sini bekerja dengan baik dan benar.
Salam suskes.