SELANG KEHIDUPAN

EMBUN / SELANG KEHIDUPAN / WANTI / Indonesia / tenaga kerja asing SELANG KEHIDUPAN Pagi yang tidak pernah pungkiri janjinya untuk selalu hadir buat seisi dunia, juga selalu punya cara untuk membuat semua penghuni bumi bangun dan tersenyum lagi. Di sebuah kontrakan tanpa jendela. Seorang gadis baru saja terbangun dari tidurnya. Ia bergegas mandi dan merapikan diri. Tujuannya … Continue reading “SELANG KEHIDUPAN”

EMBUN / SELANG KEHIDUPAN / WANTI / Indonesia / tenaga kerja asing

SELANG KEHIDUPAN
Pagi yang tidak pernah pungkiri janjinya untuk selalu hadir buat seisi dunia, juga selalu punya cara untuk membuat semua penghuni bumi bangun dan tersenyum lagi.

Di sebuah kontrakan tanpa jendela. Seorang gadis baru saja terbangun dari tidurnya. Ia bergegas mandi dan merapikan diri. Tujuannya kali ini adalah pergi ke tempat penampungan. Jauh dari ibu dan adik-adiknya. Ia nekat pergi ke penampungan. Baginya tempat itu adalah salah satu tempat persinggahan, yang bisa mengantarkannya untuk pergi sejauh mungkin dari tanah kelahirannya. Untuk mewujudkan cita-cita dan memenuhi kebutuhan ibu dan juga adik-adiknya.

Ia sudah terlalu bosan dengan keadaan hiruk—pikuk Ibu kota tempatnya bekerja yang hanya cukup memenuhi kebutuhan untuk makan saja. Baginya tempat penampungan itu tak begitu special. Tapi ia mempelajari ilmu kehidupan dari para sahabatnya yang selalu berkeluh kesah kepadanya.

Gadis pernah hidup selama lima purnama di tempat itu. Sebelum dirinya singgah di Taiwan.
Tempat yang bagaikan penjara. Untuk sekedar keluar menghirup udara segar, tak pernah ia rasakan. Waktu begitu cepat melesat dan mengantarkannya terbang ke bumi Formosa.

Ia bekerja pada keluarga yang sangat berada. Pasiennya seorang wanita yang masih cantik walaupun sudah lansia.

Di ruang tunggu masih sama dipenuhi para jiwa yang terkapar, hanya oksigen setia berkabar. Mesin denyut waktu penentu, selang-selang masih setia menyatu. Amplikasi perlahan menggerogoti tubuh yang mulai tak berdaya. Dingin bagai bongkahan es, panas bagai api lepas.

Di ujung terlihat jendela, ketukan embun merangkang segera. Hingga tetesannya menahan dahaga lelah. Senyumnya tampak ada, meski wajah mulai tak berseri. Akankah menunggu akhirnya pergi.

Di rumah sakit seorang perempuan cantik itu berteriak-teriak karena kesakitan dengan penyakit yang dideritanya. Usiannya yang menjelang 87 tahun dirinya masih terlihat sangat muda. Bahkan anaknya juga kalah cantiknya.

Ketika badannya terkapar di ranjang, hanya peralatan medis yang setia menempel. Jantungnya pun sudah bocor dua kali operasi. Kini tubuhnya tergantung dengan peralatan medis. Tiap malam selalu meraung-meraung suaranya meminta tolong.

Sang anak pun menyuruh pihak medis memasang peralatan yang lengkap dan mahal. Mereka sanggup membayar semuanya bahkan tak segan-segan mendatangkan dokter dari luar Negeri. Sayangnya para dokter dan perawat sudah angkat tangan. Mereka pun tidak bisa berbuat apa-apa?

Hanya seorang gadis yang masih setia duduk di samping ranjang pasiennya. Ia masih saja setia berada tempat itu. Berharap yang dirawatnya pun segera pulih dan bisa tersenyum menyapa dirinya.

Sudah tiga belas purnama gadis masih setia menemani pasiennya itu. Tiap hari ketika ia memandang pasiennya hanya buliran yang selalu membasahi pipinya. Berharap mukjizat Sang Kuasa datang menghampiri. Ingatan akan rasa kehilangan selalu terpahat jelas dipikirannya. Karena baginya tidak mudah, petualangan yang sering kali di singgahi punya tempat khusus di hatinya.

Taoyuan,17-03-2016.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *