Dewi Hariwinanti / Tenaga Kerja Istimewa / Boedi Oetomo / tenaga kerja asing
Adakalanya jenuh menghadapi wanita setengah baya berkelakuan remaja yang sedang mematut diri di depan cermin itu. Meski berbagai penyakit jelas-jelas menggerogoti tubuhnya, dari program menyusutkan berat badan yang terkadang hampir merenggut nyawanya, dia tetap bertingkah bak remaja kemarin sore yang terus tersenyum dan berdandan untuk menarik perhatian lawan jenis. Menyuruhku memberi pendapat tentang dandanannya, mengantarkannya belanja, kemudian bertemu lelaki-lelaki yang sama tuanya sekedar berbincang dan pamer betapa sukses anak-anaknya. Jenuh mengikuti rutinitas itu, tapi inilah sumber peghasilanku.
Dia tidak mau dipanggil Ama hanya karena umurnya belum genap 50 tahun. Juga tidak mau dipanggil Nyonya, karena kematian suaminya merubah status Nyonya jadi Nona. Maunya dipanggil Mam hanya karena anak-anaknya lahir, besar dan bermukim di luar Taiwan. Almarhum suaminya adalah orang China, pemilik pabrik LCD, LED dan perangkat keras elektronik yang dipakai hampir seluruh perusahaan elektronik terkenal, seperti Samsung, Apple, Xiaomi dan brand besar lainnya. Anak lelakinya yang meneruskan bisnis itu, membuatnya lebih lama tinggal di China dari pada Taiwan. Sedangkan anak perempuannya sekolah dan bekerja di Amerika.
“Kau masih ingat Tuan Huang?” Dia tiba-tiba berbalik, menatapku penuh harap seolah jawaban dariku adalah pemecahan teka-taki silang berhadiah jutaan NT. “Yang kenalan di bandara saat kita mengantar YuFeng pulang ke China.”
Tuan Huang? Bandara? YuFeng? China? Kata kunci yang harus kupecahkan hanya untuk mendiskripsikan Tuan Huang itu. Demi Tuhan, lelaki yang bermarga Huang berjumlah jutaan di Taiwan ini. Aku dan dia juga sudah belasan kali mengantar YuFeng, anak lelakinya ke bandara. Terakhir kali kegiatan itu adalah tiga minggu yang lalu, dan aku tak ingat telah bertemu dengan Tuan Huang.
“Huang Zitao? Huang Gai? Huang Ding? Huang…”
“Hahahahaha…,” tawanya pecah.” Kenapa kau menyebutkan semua nama tetangga kita yang punya marga Huang? Kau payah dalam hal mengingat orang.”
“Kadang aku seperti itu. Hanya lelaki-lelaki tampan yang mudah kuingat.”
Sekali lagi tawanya pecah, membuat riasan wajah yang sudah selama dua jam dibuat dengan susah payah mengkerut-kerut seiring kerutan mukanya. Sebentar kemudian tawa itu mereda diikuti batuk keras yang keluar berkali-kali dari mulutnya. Segera kuraih air putih yang selalu ada di meja tepi tempat tidurnya. Kuulurkan padanya, dia menerima lalu meneguk air itu sampai batuknya teratasi.
“Memperkerjakanmu memang membuatku awet muda, tapi harus waspada kalau-kalau aku mati lebih cepat karena terlalu banyak tertawa. Kau lucu sekali!” Ini kalimat kesekian ratus yang diucapkannya untuk memujiku. Kupikir tidak ada yang lucu denganku. Seorang pembantu yang setiap hari menunjukkan wajah bosan, berharap sekali saja dibiarkan lepas dari rutinitas memikirkan masalah majikan. “Tuan Huang juga tampan dan baik. Dia mentraktir kita makan di kedai Chang Kee. Harusnya kau ingat dia juga.”
Oh, lelaki tinggi besar mirip preman yang katanya kerja sebagai direktur di perusahaan X itu? Di mataku, lelaki itu lebih mirip kuli panggul dari pada seorang direktur. Lagipula kalau dia benar seorang direktur harusnya mentraktir di restoran Italia, pesan pasta seafood dan chesse cake, bukan mie sayur dan bakpao daging di kedai pinggir jalan. Prediksiku, lelaki itu hanya menginginkan harta majikanku seperti beberapa lelaki sebelumnya.
“Mam…”
“Sssstttt!” katanya sambil menepatkan telunjuk di depan bibirnya. “Aku tahu kau mau bicara apa, tapi kali ini kumohon, biarkan aku meraih kebahagianku walau sekejap.”
Aku tidak tega kalau dia sudah memohon. Meski kita sama-sama tahu akhiran seperti apa yang akan dia dapat bersama lelaki itu, tapi dia tetap tak menyerah. Dia pernah bilang apa alasannya mencari lelaki, sebelum tubuhnya menyerah dengan penyakit yang terus merongrong kesehatannya, biarkan dia mencicipi kebahagiaan seteguk-seteguk. Alih-alih mencari kebahagian pada teman, saudara dan anak-anaknya, dia lebih memilih mencari lelaki. Katanya pasangan adalah kebahagiaan sesungguhnya untuk wanita kesepian sepertinya.
“Lupakan soal itu,” lanjutnya sambil berbalik menghadap cermin. “Jadi bagaimana penampilanku?” Dia berputar-putar, menggerankkan dress-nya ke kiri, ke kanan untuk mencari angel yang bagus dalam cermin. “Aku ada kencan dengan Tuan Huang, karena ini sangat mendadak aku belum sempat memberitahumu.”
“Dress hitam lebih menarik untuk acara makan malam, terlihat cantik, seksi, dan dewasa. Make up yang natural, pakai high heels perak tujuh centi dan jangan bawa tas Gucci itu terus. Bawa clutch bag senada dengan warna heels-mu.”
Dia memandangku dari cermin, melongo sejenak sebelum kemudian tersenyum cerah. “Ada jaminan kalau Tuan Huang akan tertarik kalau aku berpenampilan seperti itu?”
Aku mengangguk. Bukan hanya Tuan Huang, mungkin semua lelaki yang melihatnya akan tertarik padanya, apalagi kalau tahu betapa kayanya dia. “Dari pada baju pink itu. Melihatnya saja aku jadi sakit mata, bagimana dengan orang lain?”
“Hahahahaha,” tawanya pecah lagi. “Kau sudah seperti ahli fashion. Kalau begitu dandani aku!”
Aku menyeleksi semua gaun hitamnya. Mengambil satu yang paling sopan. Memilihkan sepatu hak tinggi warna perak blink-blink hadiah dari anak perempuannya, juga clutch berwarna sama. Kurias wajahnya, menutup tanda penuaan dengan concealer. Membuat shading pipi tirus dan tipuan mata lebar. Lalu tetek bengek lainnya kuaplikasikan padanya, lalu selesai.
Dia lebih pantas berpenampialan dewasa karena dia memang wanita dewasa. Aku melihat senyum itu terus terkembang saat dia mengaca. Tapi aku juga melihat kalau senyum itu akan luntur, seperti lunturnya maskara abal-abal yang terkena air mata. Kemudian cinta semunya dengan Tuan Huang yang menyusul luntur.
“Tuan Huang akan datang.”
“Tunggu sebentar, aku akan ganti baju!”
“Lu…,” cegahnya sambil menarik lenganku untuk tak meninggalkan tempat. Senyumya masih setia muncul ketika aku memberinya atensi. “Kali ini aku pergi sendiri.”
Aku mengernyit mendengar itu. Tak bisa. Menemaninya kemanapun dia pergi sudah seperti ritual wajib yang harus kulakukan. Aku harus bawa obat-obatan, air minum, mantel hangat dan semua keperluannya. Tidak ada yang bisa mencegahku ikut saat penyakitnya bisa kambuh kapan saja dan di mana saja. Karena aku tak mau kecolongan untuk hal satu itu.
“Satu kali ini saja. Aku bersama Tuan Huang dan banyak lagi orang di luar sana yang akan peduli padaku. Jadi tak akan terjadi apapun,” katanya meyakinkanku. “Aku akan bawa obat, mantel dan apapun yang akan kau berikan, tapi kau harus mengijinkanku pergi sendiri.”
Aku kalah berdebat, toh pada akhirnya tetap dialah majikanku. Mengantarkannya ke depan pintu adalah satu-satunya hal yang bisa kulakukan kali ini. Aku berikan semua yang akan dia butuhkan bila terjadi masalah kesehatan. Lalu kututurkan banyak hal, seperti aku inilah yang majikan.
“Lulu,” sebelum dia pergi masih sempat tersenyum manis. “Kuharap…”
“YuFeng dan YueYue tak tahu?” Dia mengagguk kecil. Sudah terlalu sering dia mengatakan kalimat itu setiap kali keluar dengan lelaki, aku sampai hafal. “Asal kau mau berjanji kembali dalam keadaaan baik seperti kau pergi sekarang, Mam!”
“Kau memang istimewa!” katanya mantap.
“Selamat bersenang-senang!”
YuFeng ada di Taiwan. Dia tak pernah selonggar ini kalau ada di rumah. Biasanya keluar bersama teman-teman, atau keluar bertemu kolega dengan kedok bisnis. Hari ini lain, dia berdiri di ambang pintu dapur, mengamatiku sedari menyiapkan bahan masakan sampai hampir selesai memasak. Sesekali tersenyum saat aku memandangnya, seperti jatuh cinta berulang-ulang. Serius, ini bukan soal cinta majikan dan pembantu, tapi cinta yang lebih rumit lagi.
“Lulu baby, ayo menikah!” ajaknya seakan pernah berlutut di depanku dan menyatakan cinta.
Aku memutar bola mataku. Terlalu tahu ajakannya itu punya maksud. Terakhir kali dia mengatakan akan menikahiku, agar ibunya memperbolehkanku ikut jalan-jalan dengannya. Dia akan menemui kekasihnya di luar sana, berkencan, bermesraan dan aku jadi setannya. Ditaruh di kursi belakang mobil dan dianggap tak ada, dibiarkan mengkonsumsi pemandangan mengerikan antara dia dan kekasihnya sampai aku harus menahan muntah berulang-ulang.
Tidak, YuFeng bukan playboy atau lelaki kurang kerjaan yang memanfaatkan pembantu untuk kepentingan pribadi. Dia adalah lelaki dewasa, berperawakan tegap, berbadan bagus, dan wajah tampan. YuFeng adalah lelaki introvert yang dingin bak bongkahan es dari kutub utara. Hanya dengan segelintir orang dia mau terbuka soal dan masalah hidupnya. Aku adalah salah satu orang itu, yang entah disebut untung atau buntung karena terjebak oleh masalahnya.
Sama dengan ibunya, YuFeng memiliki masalah pribadi menyangkut soal cinta. Bukan cinta sembarangan, karena YuFeng satu dari sekian orang yang menganut paham setia pada pasangan. Dia hanya lelaki yang kebetulan punya orientasi seksual berbeda dengan orang kebanyakan. Dia mencintai sesamanya.
“Aku punya 100 ribu NT cash untukmu,” katanya sambil berjalan masuk dapur. Duduk, dan bersiap makan. “Aku butuh kau satu minggu.”
Sudah seperti transaksi di panti pijat plus-plus saja. Dia lelaki hidung belang dan aku gula-gula yang siap dibawa pulang. Namun nyatanya ini bukan antara aku dan dia. Jasaku merayu ibunyalah yang dibeli. Karena ibunya tahu hubungannya dengan sesama lelaki, dia dilarang keras untuk keluar menemui kekasihnya atau ibunya akan mengancam bunuh diri. Satu-satunya cara adalah mengajakku, sebagai centeng yang merangkap informan untuk ibunya.
Sebulan yang lalu aku mengumpulkan 70 ribu per minggu, sekarang tawarannya naik. Masih dengan tugas sama, menjadi mahkluk kasat mata yang harus menahan muntah berkali-kali. Harus melihatnya bercumbu, pelukan, ciuman dan saling mengucapkan kalimat cinta. Pertama kali aku mengalami pusing mendadak kemudian muntah, ketika YuFeng dengan kekasihnya berciuman panas di depan mataku. Demi Tuhan bagaimana bisa dua orang dengan gender sama melakukannya? Namun kemudian aku mulai terbiasa, hanya mual tanpa muntah.
“Nanti kutambahkan sebelum aku kembali ke China.”
“Kenapa menawarkan uang sebegitu banyak?”
Sambil menyesap coklat panas yang kubuat dia menggeleng. “Tidak ada. Hanya jalan-jalan seperti biasanya, tapi kita akan menginap. Jangan khawatirkan Mama, dia akan memberikan ijin. Lagipula kita cuma pergi untuk satu malam saja, paginya kita sudah kembali. Aku yakin Mama akan baik-baik saja.”
Kalau memang tidak keluar kota, untuk apa menginap? Ajakannya iu janggal.
Kuletakkan sayur dan daging terakhir yang kumasak di depannya. YuFeng memandang sayur itu, kemudian memandangku, memandang sayurnya lagi, lalu padaku lagi. Seperti dihadapkan pada pilihan sulit, memakan sayur atau memakanku?
“Aku memutuskan alergi sayur hari ini,” katanya sambil mendorong mangkuk sayur itu menjauh. “Buatkan aku garlic bread!”
“Makin lama kau makin banyak maunya.”
“Maafkan aku!” katanya cepat. “Kau boleh tak pernah menjawab pinanganku, tapi jangan menyiksaku dengan makanan seperti ini dipagi hari.”
YuFeng menyengir, mengisyaratkan kalau dirinya telah berubah jadi manusia timur yang simple. Minum coklat panas dan makan roti di pagi hari. Siangnya makan di luar, di restoran mahal berteman westerner’s, dan baru malam hari mau makan masakan rumah. Itupun kalau mood-nya sedang bagus.
“Lulu baby,” panggilannya mengusikku yang sedang mengolesi roti dengan campuran mentega dan bawang putih. Segera kumasukkan roti itu dalam panggangan yang disetel otomatis untuk satu menit. “Kau masih ingat yang kubilang dulu? Ketika cinta sudah waktunya tumbuh, tidak peduli dengan siapa, kita akan tetap jatuh cinta.”
YuFeng mengatakan kalau apa yang dirasakannya pada BaiXian juga cinta. Cintanya tidak beda dengan pasangan lainnya, hanya beda pada pasangan. Menyukai sesama jenis itu bukan penyakit, karena selama ini belum pernah ada yang namanya obat untuk menyembuhkan cinta sesama jenis. Dan banyak lagi yang dikatakannya padaku, sayangnya walau semua perkataannya benar, cintanya tetap tak bisa diterima semua orang. Itulah yang membuatnya lebih banyak diam daripada harus berdebat dengan orang-orang tentang orientasi seksualnya.
Kalau YuFeng jadi semelow ini, aku jadi tidak tega. Benar dia tampan, pintar dan kaya, tapi perbedaan itu membuatnya terlihat menyedihkan.
Pemanggang membunyikan suara, tandanya rotinya sudah matang. Aku mengeluarkannya, menaruhnya di depan YuFeng yang disambut dengan senyuman lebar.
“Kau memang calon istri yang istimewa!” Langsung dicomotnya selembar roti lalu menggigitnya panas-panas. “Terakhir kali bertemu BaiXian, kita sedang bertengkar. Dia sering sekali tak menjawab telepon dariku, padahal aku sangat merindukannya. Makanya untuk hari ini kuputuskan menginap dengannya.”
Kembali pada topik menginap. Jadi karena mereka sedang bertengkar, YuFeng memutuskan menginap. Untuk menyelesaikan masalah dengan kekasihnya. Aku lega kalau kejanggalan yang kurasakan sebelumnya tidak benar-benar ada.
Kuambil air putih sekedar untuk membasahi tenggorakan. Sedangkan YuFeng terus menggigiti garlic bread yang kubuat.
“Aku benar-benar merindukannya.” Pandangannya menerawang jauh ke arah BaiXian berada. Dia tersenyum mencurigakan. “Sudah lama tak kusentuh dia. Jadi nanti kau menginap di kamar terpisah saat aku melakukannya,” katanya dengan wajah mesum.
Brusssssss
“Ohok! Ohok!”
Aku menyemburkan air minumku, tersedak, dan kerongkonganku jadi panas.
Tetapi dengan tidak berperikemanusiaan, YuFeng tertawa terbahak-bahak. Sialan!.
“Ladies and Gantleman, this is where we were introduced to this God like entity. Danish fucking Alfa. 5 years down the line… My first and everlasting love.”
Kemudian mahkluk kecil berkulit gelap itu beraksi, menggeliat seperti cacing, patah-patah seperti robot dan jungkir balik berakrobat. Dia sedang menari, berhenti sejenak untuk mengetes suara. Detik berikutnya mulut kecilnya melantunkan suara berisik menirukan bunyi kereta, bunyi panci di pukul dan segala bunyi-bunyian asing di telinga. Beatboxing, apalah namanya itu.
“I freaking love you. Soooo soo much, Alf. Perfection… Dreamboat….Sigh!” yel-yel YueYue pada si anak yang barusan menyelesaikan dance dan beatbox dengan menyebut merek mobil Lamborghini Gelardo.
Aku, Mam dan YuFeng melonggo kurang lebih lima belas menit. Menyaksikan tingkah gila seorang anak didalangi oleh YueYue. YueYue pulang dari Amerika, baru masuk rumah dan acara inilah yang diberikannya pada kami. Entah anak siapa yang diculik dan dibawanya ke Taiwan, yang jelas wanita itu sudah mulai terlihat gila.
Seperti tahu apa yang sedang kami pikirkan, YueYue mulai memperkenalkan bocah itu. “Ma, YuFeng, dan Lulu, ini Alfa. Anakku dengan kekasih yang kuceriakan pada kalian dulu,” katanya seakan tak ada beban.
Dia memang cerita kalau punya kekasih di Amerika. Kekasihnya baik dan sangat bertanggung jawab. Tapi YueYue tak pernah bilang punya anak, juga tak pernah bilang kalau kekasihnya adalah keturunan kulit hitam. Punya anak sebelum menikah itu tabu untuk orang Asia, dan YueYue tak peduli soal itu.
Tuhan sepertinya mengutuk keluarga Dong, mereka kaya raya namun juga memiliki pemikiran menyimpang dari orang kebanyakan. Nyonya rumah yang suka mengejar lelaki, anak lelaki yang berpecaran dengan sesama lelaki, dan anak perempuan yang punya anak sebelum menikah.
“Lu, antarkan aku ke kamar!” pinta majikanku. Wajahnya tersenyum, tapi senyumnya keruh, sekeruh semua masalah di keluarganya.
Aku menuntunnya. Menjadi sandaran sementara oleh tubuh rapuh yang kapanpun bisa patah oleh terpaan cobaan. Kusaksikan mata itu sembab, berusaha terus-terusan ditahan agar air matanya tak jatuh sebelum masuk kamar. Dan setelah aku mendudukkannya di tempat tidur, dia menangis tanpa suara. Sudah tak bisa ditahannya lagi rasa sakit dari luka-luka kasat mata itu. Sementara aku tak bisa berbuat apa-apa.
“Apa Mama marah?” tanya YueYue ketika aku berada di dapur bersamanya, bersama putranya juga. “Apa dia sedih?”
Majikanku sangat sedih, menyalahkan dirinya sendiri karena tak becus mengurus anak. Dia juga menyimpulkan kalau masalah anak-anaknya itu sudah pasti karma dari perbuatannya.
Aku hanya bisa menggeleng. “Sedikit sedih, tapi dia akan baik-baik saja.”
YueYue menceritakan perihal hubungannya dengan kekasih Amerikanya. Dia bilang sangat menyintai kekasihnya. Tidak peduli mereka menikah atau tidak, yang penting bisa hidup bersama. Alfa, adalah bukti cinta mereka. Keduanya sangat menyayangi bocah itu. YueYue pikir, pulang ke Taiwan memberi kejutan untuk Ibunya, tapi tidak disangka kalau reaksi ibunya seperti itu.
“Lu, aku cuma punya seminggu untuk tinggal di Taiwan. Sebelum kembali, bisa kau bantu aku membujuk Mama?”
“Aku bisa apa?” jawabku pesimis.
“Aku tahu sejak dulu kau istimewa. Kau membantu Mama dengan lelakinya, membantu YuFeng dengan kekasihnya, kenapa tak membantuku juga? Aku cuma mau Alfa diakui cucu olehnya.”
YuFeng dan YueYue sudah tahu seperti apa ibunya, tapi mereka pura-pura tak tahu. Bingung. Aku percaya YueYue mencintai anaknya. Dia bisa membesarkan anak itu dengan atau tanpa akuan dari ibunya, tapi dia memilih agar diakui. Salut dengan sifatnya itu, tapi aku tidak seistimewa yang dia katakan. Harus kumulai darimana untuk membujuk majikanku?
“Lulu…” pintanya sambil mengatupkan kedua tangannya, memelas padaku.
“Akan kulakukan, tapi aku tidak bisa menjamin.” Aku selalu tidak tega kalau melihat orang memelas.
“Terima kasih!”
Sebulan kemudian hampir seperti tak terjadi apapun. Majikanku tiba-tiba mengulurkan segepok uang padaku, juga selembar kertas untuk ditanda tangani. Ini gajiku awal bulan ini. Saat kuhitung, jumlahnya lebih banyak dari sebelumnya.
“Tuan Ma mau mengajakku kencan nanti malam, antar aku ke salon ya!”
Dan aku tahu kalau uang ini sogokan agar memperbolehkannya pergi berdua tanpaku.
Di satu kesempatan YuFeng menggandengku ke pusat perbelanjaan. Dia mengoceh dengan gaya stoic-nya. Kalimat terakhir yang aku tangkap, dia mengatakan tas produk baru yang akan dibelikannya untukku.
“Setelah beli tas, nanti antar aku ke toko perhiasan.”
Saat kutanya untuk apa? Dia bilang beli cincin untuk melamar BaiXian. Membayangkan YuFeng dan BaiXian menikah, makanan yang barusan kumakan seperti mendesak ingin keluar dari perut.
Sedangkan YuFeng, tertawa lagi dan lagi.
Lalu di suatu pagi yang cerah, telepon berbunyi sangat nyaring. Telepon dari Amerika, YueYue menyapa dengan ceria. Sampai kalimat itu muncul menusuk telingaku.
“Aku punya kabar gembira. Coba tebak!” tapi aku tak mau menebak. “Aku akan datang lagi bulan depan. Kau senang tidak?” tanyanya berlebihan. “Satu lagi, aku hamil. Lulu, kau terkejut, kan?”
Sangat, aku sangat terkejut. Beritanya itu membuat pagi cerah ini jadi mendung seketika.
Ah, perasaanku saja yang sedang mendung.
Kata mereka aku istimewa, tapi keistimewaan itu menjadikanku tumbal untuk kebahagiaan majikanku dan anak-anaknya.
Aku harus melawan kebosanan akan masalah mereka.
Kalau dalam waktu dekat aku tak mampu keluar dari kebosanan ini, aku menolak untuk jadi istimewa.