Bukan Rumah Tuhan

Novi Ayu Rahayu / Bukan Rumah Tuhan / tidak ada / tenaga kerja asing BUKAN RUMAH TUHAN Oleh. Novi Ayu Rahayu Udara dingin di malam itu serasa menusuk ke dalam tulang. Aku kedinginan. Ini kali pertama aku tidur di negeri orang. Mulai pagi hari sekali aku sudah bergegas untuk bekerja, karena di siang hari nya aku harus bersiap … Continue reading “Bukan Rumah Tuhan”

Novi Ayu Rahayu / Bukan Rumah Tuhan / tidak ada / tenaga kerja asing

BUKAN RUMAH TUHAN
Oleh. Novi Ayu Rahayu
Udara dingin di malam itu serasa menusuk ke dalam tulang. Aku kedinginan. Ini kali pertama aku tidur di negeri orang.

Mulai pagi hari sekali aku sudah bergegas untuk bekerja, karena di siang hari nya aku harus bersiap meninggalkan pekerjaanku, dan menuju tempat kursus bahasa hingga sore.

Dari sore hari hingga malam, aku melanjutkan mengurus anak-anak dan keluarga. Memasak, mencuci, membersihkan rumah, dan menemani mereka belajar. Itu semua kulakukan sendiri, karena aku seorang ibu tunggal.

Bekerja, belajar, dan menjadi orang tua tunggal memang tidak mudah. Tapi aku harus berjuang demi masa depan mereka.

Delapan bulan aku berjuang sekuat jiwa pikiran dan tenaga, untuk mengikuti ujian test tersebut. Dan hasilnya. Aku gagal.

Aku dinyatakan gagal lulus dalam ujian tes kelayakan bahasa, untuk bekerja di korea selatan. Cita cita ku untuk mendapatkan gaji yang lebih tinggi lenyap sudah.

Perasaan sedih, kecewa, putus asa dan tidak bersemangat, semua menjadi satu, hingga membuat aku jatuh sakit.

Tidak mau berlarut larut dalam keputusasaan dan kesedihan, aku pun segera bangkit berdiri dan mencoba usaha lagi.

Empat bulan lamanya aku menunggu, dan akhirnya aku berhasil terbang menuju Taiwan.
****

Udara dingin tadi malam rupanya tak bisa membuat tidurku nyaman. Lebih baik aku bangun saja dan memasak makanan, sekaligus bisa menghangat kan badan di depan api kompor.

Di rumah ini kami hanya tinggal berdua saja, aku dan Ama. Nenek yang aku jaga ini usia nya sudah 93 tahun, beliau lumpuh total, memakai selang kencing, dan selang di hidung.

Jujur saja, pada awalnya aku tidak suka tempat ini. Yang pertama, karena tidak ada suara adzan dan Rumah Tuhan, tempat ibadah nya Umat Islam, yaitu Masjid.
Inilah yang pertama kali aku rindukan semenjak datang kesini.

Yang kedua, selama bekerja disini aku tidak bisa liburan seperti teman2 yang lain. Dan yang terakhir aku tidak bisa berbahasa seperti mereka disini dengan baik, karena majikan dan aku tidak tinggal bersama dan kami jarang bertemu, majikan hanya datang sesekali saja jika bahan makanan sudah habis.

Ingin rasanya pulang, aku rindu rumah yang penuh dengan cinta dan kasih sayang, rindu dengan Rumah Tuhan, yang setiap lima waktu memanggil untuk datang.

Ada penyesalan di hati, kenapa dulu saat aku berada dekat dengan Rumah Tuhan, aku jarang datang, aku lalai menjalankan perintahNya, karena sibuk dengan pekerjaan.

Sekarang aku kena hukuman, Allah Tuhanku sudah menjauhkan aku dari RumahNya.

Dalam kesendirian dan kesedihan, aku mulai menemukan sebuah sinar yang terang, di sela sela waktu bekerja aku mulai belajar Al-Quran, kitab suci umat Islam.

Al Quran telah mengajarkan aku banyak ilmu kehidupan dan jalan kebenaran.

Apa tujuan hidupku, kini telah aku temukan.
Yaa. Aku telah menemukan apa yang aku cari selama ini. Dan itu bukanlah kekayaan, uang, atau kekuasaan. Karena dulu pun aku pernah mendapatkan itu semua, rumah, kendaraan, hidup yang berkecukupan dan kekayaan, semua itu pernah aku miliki, tapi pada kenyataannya tidak membuat aku jadi lebih bahagia.

Setelah lama tinggal disini, bekerja disini, dan belajar Al Quran disini, aku mulai suka tempat ini.

Rumah ini memang bukan Rumah Tuhan, tetapi aku merasakan Tuhan berada di dalam nya.

Hidupku mulai terarah, semakin bersemangat, dan semakin jadi lebih bahagia.

Setiap hari, di saat aku bekerja aku selalu di temani ayat ayat AlQuran yang aku dengar lewat handphone Samsungku. Dan saat waktu istirahat tiba, aku segera membuka kitab suci AlQuran dan membacanya.

Saat mendengar ayat ayat tersebut hati ini menjadi tenang dan damai, begitu pun saat membaca firman-firman Nya, hati dan jiwa ini terasa sangat bahagia.

Sungguh perasaan yang luar biasa, perasaan bahagia yang sebelumnya tidak pernah ada.

Terima kasih Tuhan, mungkin jika dulu aku sudah mengenal AlQuran aku tidak akan kena hukuman sampai kerja jauh ke taiwan, namun pula jika aku tidak kerja di taiwan aku tidak mungkin jadi mengenal dan belajar AlQuran.

Terima kasih Taiwan, karena sudah menemukan aku dengan Rumah Tuhan, sudah menemukan aku dengan arti kebahagiaan dan tujuan kehidupan.

Bukan gaji tinggi, bukan kekayaan, bukan kemewahan, bukan juga kekuasaan dan jabatan.

Tujuan ku, tujuan mu, tujuan hidup kita adalah Allah, Tuhan yang menciptakan semesta Alam.

Taichung, 21 mei 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *