2016 Babak penyisihan 印尼文初選
📜 書生夢 SARJANA IMPIAN
👤 ETIK NURHALIMAH
Tak banyak yang kupinta Tuhan, hanya seulas senyum di masa depan. Saat toga disematkan, ijazah tabung aku genggam. Kebahagiaan bapak dan emak mengembang. Biarkan jemari melukis indahnya mimpi menjadi nyata. Sebagai bakti seorang anak kepada orangtua.
“Nek, hari ini mau jalan-jalan tidak?” tanyaku pada nenek. Wanita tua berumur 95 tahun yang hampir enam tahun kujaga.
“Tidak Ami. Hari ini saya tidak enak badan,” jawabnya pelan. Disertai tarikan selimut untuk menutupi kembali tubuh rentanya. Seolah tidak mau terendus sinar matahari.
Bukan hal mudah menuruti kemauannya–laksana anak kecil–ia ingin selalu diperhatikan dan dimanja. Usianya yang hampir seabad, membuatnya kerap lupa dan pikun. Tak jarang, sesuatu yang telah diberikannya, akan dicari kembali. Dengan dalih kehilangan barang yang disayang.
Namaku Aminah, anak sulung dari empat bersaudara. Berasal dari Desa Sidodadi, Sekampung Udik. Sebuah desa kecil yang mengajarkanku arti kehidupan, ketegaran, dan perjuangan. Wanita seusiaku–yang sudah kepala tiga– bila di kampung telah memiliki anak dua ataupun tiga. Karena jika lewat tujuh belas tahun, bisa dikelompokan menjadi perawan tua. Sedangkan aku? Entah berapa kali lebaran dan takbir berkumandang, selalu di perantauan. Mulai dari membantu menyekolahkan ketiga adik-adikku, hingga kini mereka telah menikah. Dan punya anak.
Setelah kusiapkan sarapan pagi untuk beliau, dengan cekatan kuambil tas ransel hitam untuk pergi berbelanja. Selain mengurus nenek, membersihkan rumah, dan mengantar ke rumah sakit, aku pun harus ke pasar membeli sayuran, dan kebutuhan lainnya. Aku tinggal bersama majikan, dan nenek. Majikanku; Tuan Shu Cang Lai. Beliau tidak menikah. Meski hampir enam tahun aku mengabdi di rumah ini, belum pernah aku melihat foto seorang wanita pun di kamarnya. Apalagi melihat ia bersama kekasih. Sedangkan nenek memiliki empat orang anak. Tiga laki-laki, yang paling bungsu perempuan.
“Paman, kangkung ini satu ikatnya berapa?” tanyaku pada penjual, seraya memilih kangkung hijau yang masih segar.
“Dua puluh lima dolar saja, Nona. Segar-segar loh! Kamu boleh memilih, kalau membeli banyak aku kasih murah,” ucap penjual antusias.
“Terima kasih, Paman. Aku beli dua ikat saja,” seraya kuulurkan uang logam satu keping. Bertuliskan lima puluh dolar. Tidak lupa kuucapkan terima kasih kepada lelaki paruh baya itu.
Majikanku bukanlah tipikal orang yang tidak punya. Karena setahuku ia seorang yang bermain saham. Meskipun tidak pernah pergi bekerja, tetapi tetap mendapat penghasilan. Hanya saja dalam perihal keuangan, perhitungannya sangatlah kikir. Semua jenis pengeluaran, harus ditekan seirit mungkin. Apa pun bentuknya ia selalu bilang, “Puyau Langfei.”
Ransel hitam yang kutenteng telah penuh dan sesak. Terjejal beberapa ikat sayuran, buah, dan ikan. Serta bumbu-bumbu dapur lainnya. Sesegera mungkin kulangkahkan kaki menuju apartemen Yonglun Li, Taipei, tempat aku bekerja. Karena untuk berbelanja pun, nenek memberiku deadline waktu. Alias tidak boleh terlalu lama. Nenek paling tidak suka, jika aku bercakap-cakap dengan sesama pekerja Indonesia. Di benaknya, jika sesama pekerja berbincang-bincang, pasti tengah membahas majikan masin-masing. Padahal semua tidak benar. Kami bersaid “hello” sebagai sesama warga Indonesia untuk menyapa.
“Saya pulang, Nek,” sapaku pada wanita tua yang duduk di atas sofa.
“Kamu belanja apa hari ini, Ami?” celetuk nenek dengan logat keponya.
“Hari ini saya membeli kangkung, Nek. Buah, dan beberapa lauk pauk.”
“Tiap hari kog makan kangkung?” tandasnya ketus.
“Lah, Nek. Kemarin-kemarinkan kita masak sawi, brokoli, dan kubis? Hari ini kebetulan kangkungnya segar-segar, makanya aku beli.”
Nenek terdiam. Sifat pikun, dan ingin tahu seolah telah menyatu dengan kulit putihnya.Tabiat mengatur yang identik dengan profesinya dahulu sebagai guru, tidak pernah hilang. Ia memperlakukanku seperti muridnya. Apa pun selalu diatur, dinasihati. Tidak boleh ini, dan itu. Harus begini, dan begitu.
***
Lonceng jam dinding berdentang dua belas kali. Pertanda waktu makan siang telah tiba. Setelah semua hidangan tersaji di meja, lalu kupersilahkan mereka untuk makan. Jika hari Senin sampai Jumat, anak pertama nenek yang kupanggil Ta Ke datang kemari untuk makan. Maklumlah untuk menekan anggaran pengeluaran rumah tangga, kan uangnya bisa untuk kebutuhan yang lain. Itulah penuturan yang kudengar dari nenek.
“Nenek, Tuan, Ta Ke. Silahkan makan,” ucapku seramah mungkin.
“Baik, Ami. Terima kasih,” timpal majikan seraya menuju ke meja makan.
Sementara mereka makan, aku membersihkan dapur dan perabotan. Selama bekerja di sini, aku tidak pernah makan bersama. Selalu menunggu mereka selesai. Dan hasilnya, hanya tersisa beberapa helai sayuran, kepala, dan duri ikan. Yang tidak layak untuk dimakan.Untung ada sebotol sambal terasi yang kubeli saat libur. Sedikit memberi rasa dan menemani gumpalan nasi putih di dalam mangkuk.
Sebenarnya ingin sekali aku memisahkan makanan sebelum kutaruh di meja. Tetapi apa yang harus disisakan? Semua menu jumlahnya sedikit. Jika kuambil duluan, akan ketahuan. Dan tidak pantas untuk disajikan. Hanya sabar, yang bisa kulakukan.
Teringat pesan emak ketika aku lelah menghadapi perjuangan hidup, beliau selalu mengingatkan, “Nduk, dunia ini keras. Bahkan ia takkan pernah memberikan sebuah kebahagiaan pada penghuninya secara gratis. Dan harapan adalah tiang penyangga dunia. Untuk itu tetaplah semangat!”
Emak …. Bahkan aku masih teringat, bagaimana seluruh saudara dan tetangga mencibir kita, lantaran emak berusaha mencari pinjaman uang untuk membeli beras saat adikku yang bungsu masih bayi. Kala itu, bapak belum pulang dari buruh panjat kelapa, sedangkan kami seharian belum makan. Saat itu, emak tidak bisa bekerja mencuci baju di rumah tetangga, karena baru melahirkan.
“Makanya kalau gak punya uang jangan beranak terus. Sudah tahu hidupnya susah, anak malah dibanyakin,” rutuk Bude Yati, tetangga sebelah kami yang waktu itu menjual sayuran keliling.
Berkat jerih payahku, alhamdulilah tetangga yang dahulu mencibir mulai berpikir. Jika manusia mau berusaha, pasti ada jalan keluarnya. Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat untukku berkelana sebagai buruh migran. Mulai dari Singapura, Hong kong, dan kini Taiwanlah destinasi terakhirku. Tak hanya bekerja, aku di sini juga meneruskan pendidikan ke jenjang perkuliahan. Secara diam-diam. Aku ingin mewujudkan sebuah impian yang tertunda, lantaran dahulu terbentur biaya. Selain pulang membawa uang, juga membawa ilmu. Yang bisa dimanfaatkan setelah aku menjadi purna tenaga kerja. Aku bersekolah di perguruan tinggi, yang menyediakan via online untuk mengakses pelajaran. Setiap pribadi dituntut untuk mandiri, dalam meraih prestasi.
***
“Ami …,” teriakkan nenek membuyarkan lamunanku. Suara stereonya menggema ke seluruh ruangan.
“Iya, Nek. Aku datang,’ balasku dengan tergopoh-gopoh.
“Kamu ada lihat uang saya gak? Saya taruh di laci ini, tapi sekarang nggak ada.”
“Wah, aku tidak melihat, Nek. Kan nenek melarangku untuk membuka laci ini? Jadi aku tidak pernah membuka, apalagi membersihkan.”
“Uang saya hilang. Dan nggak ada orang lain yang masuk ke rumah ini. Cuma saya, kamu, dan anak saya,” gerutu nenek, dengan nada meninggi.
Aku mengigit bibir, sepasang mata ini berjuang keras menahan embun yang berdesak hendak keluar. Memuntahkan kekesalan dan sakit hati, atas tuduhan yang tak berbukti. Karena ini, bukan kali pertama nenek menuduhku sebagai pencuri. Dulu juga pernah terjadi. Di mana ia kehilangan uang lima ribu dolar. Dan ternyata, uang itu dipakai untuk memperbaiki kloset WC yang pecah.
Rupanya tak hanya sampai sini nenek mencari gara-gara. Ketika majikan pulang pun, ia tetap berpikir jika uangnya sebanyak lima belasa ribu dolar hilang. Jangankan mencuri, melihat bentuk dan tumpukannya saja aku tidak pernah. Apalagi uang berjumlah banyak, uang receh sisa belanja pun diminta lagi, jika aku pulang dari pasar. Uang untuk membeli koran setiap hari sepuluh dolar, pun dipas. Jika seminggu, maka ia akan menyiapkan sebanyak tujuh puluh dolar.
“Ami, kata nenek uangnya hilang. Apa kamu melihatnya?” tanya Tuan Shu penuh selidik.
“Tidak, Tuan. Saya tidak melihat, apalagi mengambil. Mungkin nenek lupa menaruh uang itu,” pungkasku.
“Saya tidak lupa! Saya belum pikun,” sembur nenek dengan nada menyalak.
Akhirnya Tuan Shu menyuruhku pergi ke belakang, untuk menghindari pertengkaran dengan ibunya. Tetapi semenjak peristiwa itu, sikap tuan dan nenek sangat berubah. Mereka berdua tidak acuh padaku. Acapkali bersitatap dengan tuan, mata itu menyiratkan kebencian. Pun dengan nenek, biasanya setiap kupijit kaki nenek, ia selalu mendongengkan masa-masa mudanya saat menjadi primadona di zaman penjajahan jepang, tetapi kini hanya bergeming.
“Nek, kalau nenek mau lapor polisi atau agensi, silahkan. Jika memang hari ini juga aku harus dipulangkan ke Indonesia nggak apa-apa. Karena aku memang tidak mengambil uang itu,” tuturku pada nenek, saat membantunya mandi.
Nenek tetap tidak perduli dengan apa yang kukatakan. Ia diam, seribu bahasa. Entah apa yang ada di benaknya? Hanya Tuhan yang tahu. Dan aku hanya minta perlindungan-Nya, atas segala apa yang akan menimpa diri ini. Bukankah sebuah keberhasilan adalah; kemampuan dalam melewati dan mengatasi ujian. Dan saat ini, aku tengah diuji.
***
Dengan runut, aku terus membersihkan tubuh nenek. Mulai punggung, lengan, dada, paha, hingga pergelangan kaki. Nenek hanya mau dilap, katanya tidak perlu mandi. Agar menghemat air. Beliau mau mandi, dan masuk bath tub hanya setahu sekali. Yaitu menyambut Chiness New Year. Aku terhenyak. Saat aku sedang mengelap bagian mata kaki nenek, entah disengaja atau tidak, tiba-tiba nenek menjambak ekor rambutku yang kuikat tinggi. Hingga seringaian sakit kurasakan.
“Nenek, apa yang kau lakukan?” desisku kesal.
Tapi nenek hanya diam. Tanpa mengucap sepatah kata pun. Seolah tidak bersalah. Sebenaranya bisa saja aku balik memukul dia. Toh … sudah renta ini. Tenagaku jauh lebih kuat dibanding tenaganya, yang terbalut kulit keriput. Namun kuurungkan niat itu. Takkan kuluapkan deposit amarahku padanya. Karena emak selalu berpesan, “Nduk, perlakukanlah orang yang lebih tua dengan sikap terhormat. Niscaya, hidupmu kelak pun akan dihormati oleh orang lain.”
“Emak, hanya nasihatmu yang menjadi remot kontrol dalam setiap perilakuku.”
***
Hujan membungkus malam. Guntur dan petir bersahutan. Pada bulan April hingga Mei, Taiwan kerap dikunjungi hujan lebat dan angin kencang. Di musim semi, merupakan transisi dari musim dingin ke musim panas. Di dalam kamar kecilku, kupandangi layar pipih berwarna putih–laptop kesayangan. Sarana untuk aku belajar, dan mengikuti tutorial online di akademik.
Jika ditanya lelah? Sudah pasti kujawab “Iya”. Tetapi, lagi-lagi impian yang menggebu, membuat semangat membaja. Laksana otot raksasa. Hingga kurela membelai malam yang dingin, dengan lembaran-lembaran buku yang harus kupelajari
Kling!
Sebuah panggilan di messengger masuk. Rupanya dari sahabatku, Dewi. Ia menanyakan, kenapa skypeku hingga kini belum menyala. Padahal lima menit lagi kelas online dari dosen akan dimulai.
“Ayo, Ami. Semangat. Ini adalah semester akhir kita. Dan pastikan kita harus menyemat toga di acara graduation perdana di university. Bukankah kau ingin pulang, dan mengajak orangtuamu untuk merayakan wisuda bersama?” bujuk Dewi penuh semangat.
“Kamu tahu, Wi. Hari ini aku dituduh mencuri uang nenek, belum lagi rambutku yang juga ia jambak. Aku sakit hati, dan sedih sekali,” jelasku, disertai buraian air mata. Yang menjatuhi pipi.
“Ingat, Ami. Ibarat lari, kita telah berada di ambang finish. Jangan sampai semua pengorbananmu selama ini sia-sia, hanya karena sebuah kecengengan di dalam hidup,” ucap Dewi “Jangan sampai kerapuhan menghambat sebuah kesuksesan, dan untuk maju. Langkahkan kaki, tendang kerikil, arungi kehidupan.
“Tapi, Wi–“
“Come on, Girls. Mana Ami yang kukenal dulu? Laksana batu karang di tengah lautan, akan tetap tenang meski badai menerjang.”
Sedihku hilang. Malasku terbang. Laksana mendapat asupan nutrisis dan gizi dari ucapan Dewi, sahabatku. Dia memang teman yang baik, dan mengerti akan diriku. Bahkan, dialah satu-satunya teman yang tahu, jika selama ini aku berkuliah secara diam-diam. Tanpa sepengetahuan tuan dan nenek.
“Siapa kamu? Istriku bukan! Adikku bukan! Kog di sini mau sekolah,” maki tuan, ketika dahulu aku berpamitan hendak berkuliah “Saya menggajimu untuk menjaga nenek, jadi kerjakan tugasmu sebaik mungkin. Tidak usah aneh-aneh.”
Sebenarnya niatku meminta izin secara baik-baik. Toh kuliah juga hanya satu hari setiap bulan, itu pun jika pas dilaksanakan tatap muka dan ujian semester. Selebihnya belajar bisa dilakukan secara mandiri di rumah. Tetapi sayangnya, bukan izin yang kudapat. Melainkan caci maki yang kuterima. Hingga akhirnya aku memutuskan berkuliah secara sembunyi-sembunyi.Tak mudah memang, acapkali pengiriman module datang, aku harus memberi security di apartemen dengan dua bungkus kopi, dan biskuit.
“Tuan, kalau ada kiriman barang atas namaku tolong terima dan simpan dahulu ya. Nanti jam istirahat, aku akan turun untuk mengambilnya,” ucapku pada satpam apartemen.
“Oh iya, Nona. Kalau boleh tahu, bentuk paketan apa itu?” tanya lelaki paruh baya itu.
“Hanya berupa buku kog. Dan tidak perlu membayar.”
“Oke, kalau begitu.”
“Terima kasih, Tuan. Dan ini ada sedikit camilan untuk nanti sore,” seraya kusodorkan bungkusan kecil berisi biskuit dan kopi.
“Wah, terima kasih, Nona.”
“Sama-sama, Tuan,” balasku, sambil berlalu untuk naik ke apartemen.
Bukan menyogok sih–tanda terima kasih–karena selama ini, ia kerap membantuku menyelamatkan buku-buku, dan module sekolah, yang dikirim pihak pengajar untuk belajar.
Ujian di ambang mata. Lagi-lagi aku masih bingung, bagaimana harus mendapatkan izin agar bisa libur dua kali di bulan ini. Karena, sebenarnya tuan hanya memberikan jatah satu kali libur dalam sebulan. Terpaksa kali ini aku harus meminta bantuan agensi. Beliau baik sekali, memperlukanku seperti anaknya sendiri. Bahkan, di tengah penentangan yang dilakukan oleh tuan atas niatku bersekolah, beliau memberi dukungan seratus persen.
“Kuliahlah! Karena hanya dengan ilmu, dan pendidikan, engkau mampu merubah dunia. Maka rubahlah duniamu, menjadi indah dan penuh warna.”tuturnya memberi semangat.
Sebenarnya bukan tanpa alasan beliau baik padaku. Dahulu, saat kali pertama aku menginjakkan kaki di Formosa. Nasibku kurang beruntung. Di dalam job kerja yang kutandatangani ketika di PJTKI, tugasku menjaga nenek. Ternyata, aku dipekerjakan di pabrik. Harus membersihkan area pabrik yang luasnya seperti lapangan bola, serta berketinggian tingkat lima. Belum lagi harus memasakan tujuh belas orang setiap hari. Tidak ada seorang TKW pun yang betah bekerja di sana terlalu lama. Satu sampai dua bulan, pasti mereka kabur. Tetapi aku, mampu bertahan hampir dua tahunan. Dan oleh sebab itulah agensi mengagumi kesabaranku. Hingga akhirnya ketika aku sudah tidak kuat lagi, ia menjemput dan mempekerjakanku di sini. Bagiku, mimpi buruk itu telah terlewati. Di mana aku terpasung dalam kesunyian, tertekan dalam tahanan, serta tertindas dalam penjajahan.
Pagi cerah, matahari menyapa ramah. Sisa-siasa embun masih menempel di keindahan daun-daun, dan kelopak bunga. Hari ini adalah hari liburku, sekaligus pelaksaan ujian semester akhir. Seperti biasa, sebelum berangkat, terlebih dahulu kubersihkan rumah, membeli koran pagi untuk nenek, sekaligus mengajaknya berolahraga sebentar di lantai bawah. Setelah itu, menyiapkan sarapan untuk nenek.
“Kamu nanti berangkat jam berapa, Ami?” tanya nenek.
“Jam delapan, Nek. Setelah beres semuanya, aku mau bersiap-siap,” jawabku yang tengah menyiapkan obat pagi untuk nenek.
“Kalau libur hati-hati ya. Apalagi di tengah kerumunan orang banyak, kamu harus selalu jeli dan teliti. Jangan hanya bermain HP! Hingg tidak tahu apa yang terjadi.”
“Iya, Nek. Aku bakalan hati-hati kog. Dan terima kasih atas peringatannya.”
Akhir-akhir ini, memang marak terjadi tindak kriminalitas justru di tempat-tempat umum. Mulai dari pembunuhan terhadap anak balita, penyerangan membabi buta terhadap petugas stasion , hingga banyak tertangkapnya orang yang membawa senjata tajam saat bepergian. Sehingga membuat pemerintah Taiwan semakin ketat melakukan pemeriksaan.
Tak hanya itu, pemerintah juga melakukan razia terhadap tenaga kerja asing berstatus ilegal. Tak hanya di jalanan, juga dilakukan di tempat-tempat umum; aula Taipei Main Station, dan tempat vital lainnya. Tetapi karena aku resmi, jadi tidak perlu takut. Yang terpenting, selalu membawa ARC atau kartu identitas lainnya saat keluar rumah.
***
Suasana tegang dan mendebarkan, di mana lembaran soal ujian ada di depan mata. Berbekal niat dan mengucap bismilah, satu persatu soal kukerjakan. Harapanku satu, mendapat nilai memuaskan yang akan kupersembahkan pada bapak,emak. Sebagai hasil jerih payah dan keringat yang bercucuran selama kami berpisah. Entah berapa tetes airmata tercurah, berapa besar kerinduan menggumpal. Yang hanya bisa tersalurkan melalui sambungan telepone. Tingginya sekatan, jauhnya jarang membentang, merupakan penghalang untuk kami saling bersama, cengkrama, dalam keluaraga.
“Ami, selesai kuliah mau kemana?” seloroh Dewi, ditengah obrolan bersama kami.
“Kita makan ke toko Indo saja ya. Soalnya kalau di rumah aku tidak pernah makan menu itu,” jawabku penuh semangat.
“Oke … oke … .Deh. Si nona ternyata kalau di rumah kelaparanya, he … he … he …” Ejek Dewi, menggoda.
Kami pun pergi ke area toko Indo, untuk mencicipi masakan nusantara. Kebetulan matahari mulai condong meninggi, serta perut kecilku sudah kelaparan. Pada saat inilah aku bisa merasakan menu makanan.
Kembali aku sendiri bersama malam, bersama langit jernih yang mengumbar bintang-bintang. Dan remang-remang lampu menghiasi pinggir-pinggir jalan. Kusandarkan tubuh lelahku di kursi bus bernomor 215 yang akan membawaku pulang ke tempat kerja. Sesegera mungkin, inginku menuju kantung tidur, dengan membawa enaknya cita rasa nasi Padang yang kunikmati di Toko Indo tadi ke alam mimpi. Agar besok pagi, aku tidak perlu kelaparan. Karena hanya disiapkan selembar roti tawar tipis dan segelas air putih, Menu sarapan pagi setiap hari.
Kutekan bel pintu rumah, karena nenek tak pernah membiarkanku membawa kunci jika bepergian. Aku bercedak kaget. Saat mengetahui anak bungsu neneklah yang membukakan pintu untukku.
“Cece, Apa kabar?” sapaku, dengan menyuguhkan senyum ramah terbalut letih.
“Kabar baik, Ami. Sudah pulang liburannya?” tanyanya berbasa-basi.
Perasaanku tidak nyaman. Kenapa semua anak nenek berkumpul di rumah? Sebenarnya apa yang terjadi? Mungkinkah ada hubungannya dengan uang nenek yang ia bilang hilang tempo hari lalu? Belum sempat kuletakkan tas punggung berisis buku dan alat lainnya. Tiba-tiba cece memanggilku untuk duduk di ruang tamu. Dan seketika itu juga perasaan was-was menyelimuti. Jangan-jangan, mereka akan memulangkanku ke Indonesia sekarang juga? Belum sirna rasa penasaranku, cece dengan cepat membuka percakapan.
“Ami, atas nama nenek saya minta maaf, karena telah berburuk sangka padamu. Sebenarnya kalau saya pribadi yakin benar, kamu tidak mencuri uang itu,” terangnya,”Karena kamu sudah lama bekerja di sini, serta merawat nenek dengan baik-baik.”
Aku terdiam, bingung. Kenapa cece berkata seperti itu? Dan ia tahu dari mana, jika bukan aku yang mengambil uang itu. Belum hilang sejuta tanya dalam hati. Cece langsung menjelaskan; jika tadi nenek sempat tidak enak badan. Tensi darahnya mencapai 185. Dengan cepat Tuan Shu menelepone anak-anak nenek yang lain, agar turut serta mengantar ke rumah sakit. Setelah mium obat dari dokter, tensinya kembali normal. Hingga tidak perlu menjalani rawat inap, dan diperbolehkan pulang. Berhubung kamar nenek sempit, sedangkan anaknya berjumlah empat orang datang semua, terpaksa bantal-bantal yang berada di samping kanan-kiri nenek tidur, ditumpuk menjadi satu. Ketika itulah tumpukan uang itu ditemukan di bawah bantal oleh anak kedua nenek yang kupanggil Er keke.
Aku pun terharu mendengar cerita itu, tak sadar telaga ini berkaca-kaca. Kemudian buliran bening itu jatuh. Bahagia. Kebenaran akan tetep tampak, meskipun harus mengalah beberapa saat. Serta sebuah usaha dan kesabaran, pasti akan berbuah manis. Terima kasih Tuhan, akhirnya Kau jawab semua doaku.
Dengan langkah gontai aku menuju kamar nenek, ia tengah tergolek lemah di tempat tidur. Matanya yang sayu, mengingatkanku pada sosok emak. Wanita yang selama ini sangat kurindukan. Wanita yang rela menghabiskan waktunya untuk menungguiku ketika aku sakit. Dan wanita yang selalu mendoakanku dengan penuh keikhlasan, untuk meraih kesuksesan.
“Emak, tunggulah aku kembali. Kan kuukir senyummu indah berseri.”
Taipei, 21 Mei 2016
📜 書生夢 SARJANA IMPIAN
👤 ETIK NURHALIMAH
我向老天祈求不多,只求未來換來一抹笑容。身上穿著畢業服,手上拿著畢業證書,臉上洋溢幸福笑容,父母親為我而感到驕傲的笑容。把這份美夢化為成真,當作是一種孩子對父母的孝順。
「奶奶,今天要出去走一走嗎?」我問奶奶。我照顧她將近六年,是一位高齡九十五歲老奶奶。
「不,阿密。我今天身體不太舒服。」她回答,便拉著棉被,蓋住她虛弱的身體似乎不想被太陽曬到的樣子。
照顧奶奶並不是件容易的事,尤其滿足所有無理取鬧的要求更是不簡單,如同孩子般,她總是想要被關注、被疼愛。她歷經近一世紀的歲月,使得失智症時常發作。很多時候,拿給她東西後,她會不停地找東找西,原因是她找不到或那東西早就不見。
我叫阿密娜,家中四個兄弟姊妹,我排行老大。我來自Sidodadi村,Udik鄉。一個教會我人生意義,如何堅強及奮鬥的小村莊。像我這樣三十初的女人,若待在村子,往往已經有兩、三個小孩了。因為在那裡,超過十七歲卻還未婚的話,將被嘲笑為老處女。而我呢?好幾次開齋節及大贊辭節日人都在外地。不返鄉當然是為了我三個弟弟、妹妹們的學費著想,不得不這麼做。現在他們已各自成家也有了孩子。真是幸福。
準備好奶奶的早餐,我趕緊拿著黑色袋子準備出門買菜。除了照顧奶奶外,我還得打掃家裡、送她到醫院,到超市去買菜及其他用品。我和雇主一起住,包括奶奶,我的雇主為蘇倉來先生,他單身還沒結過婚。服務這個家庭六年以來,從未看過女人的照片,也從沒看過他有女朋友。奶奶共有四個孩子。三位男生和一位女生。
「大叔,空心菜一把多少錢?」我挑了又綠又新鮮的空心菜問著老闆。
「二十五塊而已,都很新鮮喔!妳可以隨便選,買多的話就算妳便宜」老闆熱情說道。
「謝謝大叔。我買兩把好了」我從口袋拿出一個五十塊硬幣給老闆,對那中年男子說聲謝謝再離開。
我的雇主稱不上經濟不好,因為我知道他有在玩股票。雖然人沒在工作,但依然有收入,可是在金錢上略為計較,所有開支都必須控制為最低才行,總是會說「不要浪費。」我背著又沉又重的黑色袋子回去。裡面裝滿青菜、水果、魚,以及其他香料。邁開步伐趕快往我工作的地方回去,位於台北永倫里的公寓。因為連去超市買菜,奶奶也會限制時間,不能去太久,因此我得趕緊回去。奶奶不喜歡我和其他印尼同仁聊天。在她腦海的印象中,同仁們聚在一起聊天時一定講各自雇主的壞話。但這不完全正確。我們只是與同鄉的同仁打個招呼說聲Hello罷了。
「奶奶,我回來了!」我向坐在沙發的老奶奶報告。
「妳今天買了什麼,阿密?」奶奶好奇的問我。
「今天買了空心菜,水果和其他配菜。」
「為什麼每天都買空心菜?」她不開心的說道。
「沒有呀,我們昨天吃的是白菜、花椰菜、還有捲心菜呢。今天空心菜特別新鮮,所以買了它。」
奶奶安靜了一下。她的失智症加上天生好奇心,這樣的對話幾乎每天上演。她愛管理事情的個性,離不開與先前的職業,一位老師。她似乎把我當成她學生,任何事情都要管理、都要關心。不可以這樣或那樣,應該這樣、那樣。
***
掛在牆壁的時鐘響了十二聲,代表午餐時間到了。將所有菜端好上桌,我便請大家過來吃飯。奶奶的大兒子,我通常稱他大哥,他星期一到星期五都會過來一起吃飯。當然是為了節省支出,這是我從奶奶那裡聽說的。
「奶奶、先生、大哥請開動。」我熱情的說。
「好的,阿密,謝謝妳。」我雇主邊說邊走到吃飯桌。
他們享用午餐時,我便清潔廚房和其他家具。我在這裡工作這麼多年來,從來都沒有跟他們一起共桌過吃飯。每次都先等他們吃完我再吃。僅剩餘沒幾片的青菜,頭以及魚骨頭。當然不適於吃了。幸好有放假時買的印尼好吃蝦醬,救了我乏味的午餐,配上這碗白飯讓它稍微有味道。其實我一直都很想在把菜端到桌子前,先把我的份拿走。但,這又有什麼用呢?菜的份量都非常少。若我先拿,一定會被發現,我唯一能做的只有忍耐。
每當遇到挫折時,我都會記得母親對我的忠告,她每次都對我說「孩子,這世界有時很殘忍。天底下沒有白吃的午餐。凡事一定要努力,因為努力和希望是世界的基礎,所以一定要加油!」
我親愛的媽媽…還記得,過去我們家被親戚朋友看低,因為那時我們生活困頓,母親為了買米供我們吃飯,去借了一筆錢。那時,父親還得在外頭找尋椰子去賣,而我們整天吃不到一口飯,母親也因為剛生產完,沒辦法去鄰居家洗衣服掙錢。
「如果沒有錢的話,就不要一直生小孩嘛。明明知道自己生活艱苦,卻一直生孩子。」隔壁的鄰居雅蒂姨婆就這麼說。
所以我得不斷努力,感謝真主阿拉當時貶低我們鄰居終於再也不敢看低我們了。只要我們肯努力,一定有路可走。十年不是短暫的時間,我在外地,整整打拼了十年。從新加坡、香港,一路定居台灣。我在這裡除了工作之外也求學。當然是默默進行,不讓雇主知道。我想要完成過去因錢不夠而未完成的夢想。除了帶薪水回國,也希望帶所學知識返鄉。希望可以與其他同仁分享所學到的知識。我念學士班,由校方提供線上課程,每位學生都須獨立學習,好達成卓越學習成果。
***
「阿密…」奶奶大聲喊道,讓發呆中的我回到現實。奶奶的音量讓室內充滿回音。
「是的,奶奶。我來了。」我回答。
「妳有看到我的錢嗎?我放在抽屜裡,可是現在不見了。」
「奶奶我沒有看到,而且妳完全禁止我打開這抽屜呀。所以我從來都沒有打開過,我也沒有打掃過這裡。」
「我的錢不見了,但沒有其他人進來呀。只有我、妳,還有我兒子。」奶奶生氣得說。
我咬著下唇,努力不讓眼淚流下來。我心很痛,因為沒有證據而被誣告。這已經不是第一次奶奶誣賴我是小偷,之前曾發生過同樣的事情。奶奶說她的五千元不見,那筆錢打算用來支付修理故障的馬桶費用。不僅如此,雇主回來的時候,奶奶還是認為她的一萬五不見了。不要說偷,那疊錢我連看都沒看過。再說,不用說這麼多的錢,家裡連每次買菜的零錢都要回去。每天買報紙的錢也是剛剛好的十元,一個禮拜就準備七十元讓我採買。
「阿密,奶奶說她的錢不見。妳有看到嗎?」蘇先生問。
「沒有,先生,我沒有看到,更沒有拿,可能奶奶忘記放在哪裡。」我說。
「我沒有忘記!我還沒有癡呆!」奶奶用很兇的口氣回應。
蘇先生把叫我到後面去,避免與她母親正面衝突。但自從這件事發生後,先生與奶奶對待我的態度完全變了。他們對我很冷淡。有時候與先生對到眼,先生的眼似乎充滿敵意,奶奶也一樣,往常在幫她按摩腳時,她會很熱情地分享年輕時候的故事,例如在日治時期她曾是一位漂亮女子等等,但現在的她沈默不語。
「奶奶,如果妳想要報警或通知仲介,我沒意見,如果我被遣返到印尼也無所謂,因為我真的沒有拿那筆錢。」我邊幫奶奶洗澡邊說道。奶奶還是沒反應,一點都沒將我講的話聽進去,她保持沈默,我真不知道奶奶在想什麼。我只求真主阿拉保佑我,讓我能度過這難關。因為我相信,成功就是當你度過和解決考驗。現在的我正被考驗。
***
我悶悶不樂地繼續幫奶奶洗澡。背部、肩膀、胸部、大腿以及腳腕。奶奶只想要擦身體,她說不需要洗澡。為了要省水,她只願意在一年一度的春節時洗澡或泡澡。突然,我被嚇了一跳,在為擦她腳腕的時候,不知道故意與否,奶奶突然扯著我綁的馬尾,我只感覺到痛。
「奶奶,您在做什麼?」我無奈的問道。奶奶仍保持沉默,沒有開口說出任何一句話。也沒有覺得做錯任何事。
其實,我大可以回手,畢竟她也已經是老人。相較之下,我力氣比只剩皮包骨的她大,當然,我不會這麼做,我不會把我的氣發洩在她身上。因為母親對我說過:「孩子,對待比妳老的長輩,必須要尊重他們,將來妳也才會被人尊重。」母親,唯有妳的忠告能成為我所有行為的準則。
***
下雨的夜晚,雷聲隆隆。四月至五月份的台灣常常颳風暴雨。春季是冬天轉換成夏天的時機,我在我小房間裡,看著前方的白色螢幕,那是我最愛的筆電,我讀書和線上上課的工具。如果問我累不累?我的答案是當然累。但是對夢想的渴望遠勝我的疲憊,因此,現在的我精神百倍,宛如擁有巨大超能力。讓我心甘情願與這些必讀的書本為伍,度過這淒冷的夜晚。
Kling!有簡訊進來了。原來是我的朋友Dewi。她問我為什麼還沒連上Skype,因為再五分鐘,教授就要開始上課了。
「加油吧,阿密。這是我們最後一個學期。我們要一起穿上畢業服,參加大學的畢業典禮。妳不是一直想要邀父母一起參加妳的畢業典禮嗎?」Dewi真心勸我。
「Dewi,妳知道嗎?我今天被誣告偷了奶奶的錢,而且奶奶還扯我的頭髮。我心好痛,我現在真的很傷心。」我邊向Dewi哭訴邊解釋。
「阿密,妳要記住,就像跑步一樣,我們就要跑到終點線了。不要讓妳這些年的努力白白浪費,尤其只為了小小的挫折。」Dewi說道。「不要讓脆弱阻礙成功道路。往前走,踢掉那些沙粒抵達人生的美好,好嗎?」
「可是Dewi…」
「拜託,小姐。我認識的阿密去哪裡了?之前的阿密就像海中的礁石,就算歷經大風大浪但依然堅固呀。」聽到這,我悲傷突然消失得無影無蹤,怠惰也不見了。像從Dewi的話攝取到養分和營養般重生。她的確是很好的朋友而且也很了解我,甚至是唯一知道我默默上課的人,先生和奶奶完全不知道。
「妳是誰呀?不是我老婆!也不是我妹!憑什麼要去上課?」當初我向先生我要上課的時候,他就這麽回答。「我付給妳薪水是來照顧奶奶的,所以把妳該做的事情做好就好,不要提出無理取鬧的要求。」
其實我只是好聲好氣請求允許,而且課程每個月只有一次,那也是如果有需要面對面或考試而已,其餘都在家裡自修。可惜我得到的不是允許,而是侮辱。最後,我決定偷偷做這件事。那的確不容易,每次當包裹寄過來的時候,我得給公寓警衛兩包咖啡和餅乾。
「先生,如果有我的包裹寄到這裡,麻煩你先把它收起來,休息時間我再下來拿。」我跟警衛說。
「對了,小姐。請問包裹長什麼樣子?」那中年男子問。
「啊,那只是書本,而且不用另外付款。」
「好的,了解。」
「謝謝你,先生,這是給你的下午茶點心。」我把咖啡和餅乾送給了他。
「哇,謝謝妳,小姐。」
「不客氣!」我答完便走回公寓。
不是要收買警衛,只是純粹表達我的謝意,這段期間幸虧有他,他救了這些教授寄過來當教材的書和上課講義。考試期間就在眼前,但我正猶豫如何得到兩天假期。因為其實先生只允許一個月放假一天,我只能央求仲介為我說話。仲介先生人很好,他把我當女兒般看待,甚至在雇主禁止我上課的狀態下,他還是百分之百鼓勵、支持我。
「上課去吧!因為只有透過知識和教育,妳才能改變世界。所以先改變妳的世界吧,讓它變成一個美好又多彩的世界。」他這樣激勵我。
其實,他對我好不是沒有原因。當初,我甫到福爾摩沙島時,實在有點倒霉。我在印尼人力資源服務公司簽的工作合約,工作內容明明為照顧長輩。但實際上,我卻被分配到工廠工作,我必須打掃整個如球場般大且高達五層樓的工廠,再加上每天得煮十七人份的飯,沒有一位女性勞工願意長期待在那裡。通常一到兩個月後她們就逃跑不做了。但我卻願意待上兩年。由此,仲介的人都非常佩服我的耐心,直到真的做不下去了,他便來接我,之後才有照顧奶奶這份工作。
對我來說,之前的孤寂,如同待在監獄的壓迫感,彷彿活在高壓統治底下毫無自由,跟過去相比,這些惡夢全都已經過去了。晴朗的早晨,太陽熱情的迎接,漂亮的露水在葉子和花瓣上滾動。今天是我的假日,也是我的期末考日。像往常一樣,出去之前,我先打掃家裡,買早報給奶奶順便帶她在樓下運動散散步,最後準備奶奶早餐。
「妳待會幾點出發,阿密?」奶奶問。
「八點,奶奶。所有東西都用好之後,我就準備出發」我一邊回答,一邊準備奶奶早上吃的藥。
「今天假日,人特別多,妳出去時要小心,要時時警惕和細心,千萬不要玩手機!因為這樣妳會不知道周圍發生什麼事。」
「好的,奶奶,我會小心,謝謝妳的警告。」
最近的確發生很多犯罪行為,尤其在公共場所。如謀殺女童,刀刺捷運警衛,以及隨身攜帶武器等,種種意外導致台灣政府嚴謹並加強檢查。不僅如此,政府也隨機抽查是否有非法勞工。在路上甚至在公共場所如台北車站大廳及其他熱鬧地方。因為我是合法勞工,所以我一點都不擔心。最重要的居留證和其他身分證往往隨身攜帶。
***
被緊張和激動的氣氛包圍著,考卷就擺在我眼前。做好心理準備和祈禱阿拉保佑後,我開始填寫每一題的答案。我只希望達成一件事─得到好成績,讓父母親以我為榮,為我驕傲。這也將證明我離鄉背井期間的所有努力,數不清淚水與濃到化不開的思念。這些平時只能透過電話傳遞。千里遠外的距離是我與家人相聚、聊天的大阻礙。
「阿密,上完課要去哪裡?」聊天時Dewi突然問我。
「我們去吃印尼料理吧。因為我在家裡很少會吃得到印尼食物。」我開心回答。
「看來這位小姐平常在家裡常常餓肚子喔,哈哈。」調皮的Dewi開我玩笑。
我們走到印尼料理餐廳,去吃好久沒吃的印尼菜。太陽高掛,難怪我肚子開始餓了,這時候可以吃家鄉料理真是幸福。這天,我又回到孤獨的夜晚,天上掛著許多星星。朦朧的路燈點亮馬路。我將疲憊的身體倚靠在215公車座位上,這是開往家的公車,一路上我幾乎快睡著了,心裡依然想著在印尼餐廳好吃的巴東。
Comment ︳Bahasa indonesia baik. tema menarik. Penceritaan cukup baik. 很好的印尼語,有趣的主題。故事講得不錯。