Oktavia Eka / Marah Marah Marah / tidak ada / tenaga kerja asing
MARAH MARAH MARAH
” Kamu kerjanya ngapain aja ? Hah ? ”
Jadi yang selama ini mengepel lantai pada pukul 5 pagi, memberi makan anjing setengah jam setelahnya. Mengurus MCK pasien yang 3 kali lamanya dibanding manusia normal. Memastikan semua baju kering tlah diangkat. Mencuci kamar mandi dan lalu mengelapnya lagi sampai kering. Menyiram 17 pot bunga yang ada di balkon. Menyiapkan sarapan tepat pukul setengah 8 pagi. Membersihkan puntung dan abu rokok di sekitar tempat sampah yang berceceran karna dibuang sekenanya. Dan pekerjaan pateng printil lainnya yang harus sudah selesai pukul 8 tepat itu siapa ? Lalu kemudian yang jam 8 baru bangun dan keluar dari dalam kamar langsung melempar pertanyaan; lebih tepatnya hardikan, kamu kerjanya ngapain aja hah hanya karna melihat sehelai rambut di atas keset kamar mandi yang memang tidak sengaja terlewatkan.
Kalau sepagi dan sesejuk ini saja sudah bisa segarang itu, bagaimana nanti siang ? Saat matahari berada di tengah-tengah tegak lurus dengan kepala.
” Lho kok bisa semahal ini ? ”
Pertanyaan yang selalu membuat saya malas pergi belanja saat cuaca buruk tiba. Sudah pasti otomatis harga sayuran, buah-buahan, dan lauk pauk akan naik drastis. Menepikan saya disini yang harus putar otak beberapa kali untuk menyiasati uang belanja yang masih tetap jumlahnya, jumlah keluarga yang harus diberi makan yang juga masih sama jumlahnya, sedangkan harga barang di pasar melambung dengan hebatnya. Dan nanti setelah sampai rumah masih disodori pertanyaan dan pernyataan tentang kenapa kok harga bahan makanan bisa semahal itu. Kalimat-kalimat berbau kecurigaan yang meluncur mulus. Padahal tanda bukti pembelian juga sudah dilampirkan.
” Nenek sekarang kurusan ya ! ”
Aaarrgghh mengapa ada rangkaian kalimat seperti ini pada lisan mereka ? Tidak adakah susunan kata lain yang lebih enak didengar ? Atau setidaknya tidak usahlah melontarkan kalimat semacam itu. Nenek sudah sejak 4 tahun yang lalu sakit. Tentu saja metabolismenya sudah tidak sama dengan manusia sehat. Sehari semalam juga tak kurang dari 4 kali waktu makan yang saya berikan. Pagi : 3 macam buah, 500 cc susu, sekerat roti gandum. Siang : nasi, sayur, kuah, lauk. Sore : 500 cc susu, sebungkus biskuit. Malam : kembali nasi, sayur, kuah, lauk. Porsinya pun kadang saya lebihkan agar benar-benar kenyang. Meski kata dokter porsi makan nenek tidak perlu terlalu banyak karna nenek tidak melakukan rutinitas yang berarti. Jika terjadi kegemukan juga tidak baik untuk kondisi kesehatannya. Tapi mengapa selalu saja kalimat yang sama diucapkan berulang kali. Seakan saya tidak menjaga dan merawat pasien dengan baik. Seakan saya hanya memikirkan perut sendiri dan tidak memperhatikan kesejahteraan pasien.
Memang, saya masih bergantung pada Anda untuk urusan uang. Saya masih membutuhkan gaji untuk mewujudkan semua mimpi. Saya masih harus patuh pada semua perintah Anda. Mengesampingkan hak-hak yang sudah dihapuskan secara sepihak. Menerima setiap ketidak adilan yang terpaksa harus dianggap sudah adil sajalah.
Tapi, saya juga punya nurani. Saya punya perasaan yang bisa saja sakit. Saya punya kemampuan yang berbatas. Saya punya daya ingat yang standar. Tolonglah sedikit saja menganggap saya manusia normal pada umumnya; yang juga butuh istirahat yang cukup, suasana kerja yang nyaman, pengakuan dan penghargaan atas hasil kerja, juga penghargaan atas perasaan yang saya punya.
Tanpa Anda hardik sekalipun, saya akan tetap mengerjakan semua sesuai prosedur. Menjalankan apa yang sudah menjadi kewajiban dan tanggungan saya bekerja pada Anda. Memastikan semuanya selesai dengan baik dan tepat waktu. Menjaga penuh kepercayaan yang sudah diamanatkan. Memperlakukan seluruh anggota keluarga dengan sebaik-baiknya.
Saya hanya meminta hak untuk tenang. Yang tanpa perlu was-was dan takut salah setiap kali melakukan pekerjaan. Kondisi kerja yang nyaman tanpa dirusuhi oleh kecurigaan-kecurigaan yang memang sampai sekarang belum terbukti kebenarannya. Kepercayaan yang selama ini masih seperti mimpi saya untuk memperolehnya dari Anda. Penghargaan atas setiap apa yang saya kerjakan untuk Anda.
Mohon maaf jika memang saya tak sesempurna apa yang Anda harapkan.
Satu hal yang pasti, saya tlah melakukan yang terbaik yang bisa saya lakukan. Untuk Anda dan keluarga Anda.
Taoyuan, 22 Mei 2016
*bukan kisah nyata. Hanya terinspirasi dari cerita salah satu sahabat, lalu didramatisir di beberapa bagian. Hehehe