Purnama Sebelas Kandas

Ze Cayank Heaven / Purnama Sebelas Kandas / Tari Shasa / Indonesia / tenaga kerja asing Purnama Sebelas Kandas Karya : Ze Cayank Heaven “Cinta itu indah, yang menyakitkan ketika kita kehilangan seseorang yang kita cintai. Cinta sejati itu bagaikan langit dan bumi walau terpisah jarak beribu mil nanum tetap saling membutuhkan. Tak akan terpisah ruang dan waktu, karena … Continue reading “Purnama Sebelas Kandas”

Ze Cayank Heaven / Purnama Sebelas Kandas / Tari Shasa / Indonesia / tenaga kerja asing

Purnama Sebelas Kandas

Karya : Ze Cayank Heaven

“Cinta itu indah, yang menyakitkan ketika kita kehilangan seseorang yang kita cintai. Cinta sejati itu bagaikan langit dan bumi walau terpisah jarak beribu mil nanum tetap saling membutuhkan. Tak akan terpisah ruang dan waktu, karena kesungguhan rasa terpadu di antara keduanya.”
Terkadang kita harus belajar dari derasnya hujan, agar tahu betapa kejamnya hidup dalam kenyataan. Ada kalanya tiap rintik yang ia jatuhkan adalah sebuah pilar yang harus kita nikmati. Kemana tetes air itu jatuh dan mengalir, ke arah itu pula perjalanan hidup terus berjalan. Ia tak kan pernah menyalahkan langit ke mana ia akan di jatuhkan.
Belajar dari arti hidup. Aku bukan wanita pecundang namun bukan pula wanita yang tak punya logika. Ketika sendi-sendi tubuh mulai mengeram dan menjadikanku harimau yang sekaan sebagai pemenang. Inilah aku wanita yang mempunyai cinta pada engkau sosok pangeran yang selalu kupuja. Dalam setiap hembus doa kulafadkan nama untuk penenang jiwaku. Jika aku mampu menjadikannya utuh. Berarti Tuhan Maha pendegar segala doa. Namun, mustahil bagiku karena diriku ada karena Dia.

Tahun 2013 september lalu, di bawah rambu-rambu berdiri sosok lelaki yang tak pernah ku temui secara nyata sebelumnya. Tampan, gagah dan cool ibarat sang Arjuna. Ketika mendekatiku, degup jantung seakan menguat dua kali lipat. Bias sinar matanya yang mempesona, aduhai membuat pandangan tak lepas darinya. Motor RX- King yang iya tunggangi menambah kegagahan pada dirinya. Begitu mempesona dan tak jemu aku memandangnya.
“Hai, Ze? Sapanya dari kejauhan.
“Iya, Mas Anas. Timpalku.
“Iya, wajahmu tak berubah dan masih tetap seperti Ze yang dulu kukenal, sekarang makin cantik aja,” ucapnya manis merayu.
Rayuan maut itu seakan menutup logika, entah apa yang membuat aku melayang tinggi bagai rembulan di antara bintang-bintang. Aku tersanjung–
“Ahhh … Mas, kamu juga tetap sama seperti pertama aku mengenalmu.” Kataku sambil menunduk.
Semakin dekat semakin tak ada jarak aku dan dia berdampingan. Duduk di kursi tempat mangkal para polisi. Ya, di sana kami memulai cerita.
Anas, lelaki 29 tahun yang status berpacaran dua tahun bersamaku. Lengkang dan hambar tertelan sang waktu. Keadaan yang memaksa kita untuk tidak bersatu. Aku menyadari itu___. Dia adalah pangeran impianku waktu dulu. Orang yang selalu mengerti, menyayangi bahkan bersamanya aku merasa tenang dan bahagia.

Kebahagiaan itu tak berlangsung lama, kita logika menyadarkanku. Pada Naurin, gadis imut dan cantik yang terlintas dalam setiap kedip mataku. Dia putri kesayanganku dari pernikahan dini. Naurin membuyarkan lamunan yang telah menyeka otaku beberapa saat. Tentang sosok Anas, yang mengatakan aku adalah cinta pertamanya.
Pagi itu seakan buta, seberkas cahaya penerang tak lagi bersinar. Karena tertutup selimut cinta yang mengajarkan aku tentang apa arti bahagia sesungguhnya. Pertemuanku dengan Anas di sebuah villa di puncak Tawangmangu. Bersama silir angin sepoi membaur menjadikan aku dan dia menjadi kami. Kami terjerat dalam indahnya mahligai yang berdarah. Anas lelaki yang tampan gagah juga orang kaya. Dia menelanjangiku dalam pagi buta, menjadikanku permaisuri dalam hatinya. Aku bahagia–.
“Ai, apa janjinya untuk hubungan kita ini?” bisiknya lirih mendesah ditelingaku.
“Emm, mengapa Mas bertanya begitu padaku?” Jawabku pelan.
“Aku bertanya karena aku tak ingin kamu di miliki laki-laki lain selainku.” Ucapnya nada memelas.
Memelukku erat dan hangat. Makin terasa bahwa cintanya begitu besar padaku. Aku tersanjung. Melayang pikiran dan anganku hingga tak ku sadari dia sudah termiliki. Ya wanita itu, Suli.
Perpisahan dua tahun lamanya membuat dia berpaling dariku karena paksaan orantuanya. Ketika berusia dua puluh lima tahun. Ayahnya memaksanya untuk menikah. Entah! Sedangbrasa itu masih utuh dan bersemi. Laksana pohon yang subur kian hari makin rindang. Begitulah cinta itu bersemi.
“Aku mencintaimu ada dan tiada dirimu sayang, jika memang waktu tak memihak kita, biarkan surga kelak menanti untuk kita bersama.” Jawabku tegas karena aku begitu yakin padanya.
“Oh, My honey,” ciuman melayang di keningku.
******
Waktupun berlalu, perjalanan kesahku dengannya seakan tiada rasa sedih. Selain dia begitu baik pun bertanggung jawab atas aku dan buah hatiku. Walaupun bukan darah dagingnya. Anas sudah menjalin pernikahan selama lima tahun, namun tak kunjung Tuhan berikan momongan kepada pasangan itu.
Hatinya selalu sedih ketika orangtua dan kerabat serta sanak keluarganya menanyakan hal itu padanya. Namun sebagai sosok lelaki yang kuat ia tak pernah menunjukkan kelemahannya pada orang lain. Tetap terseny ramah dan tak pernah marah walaupun banyak orang menertawakannya.
“Cemen bro, nikah sekian tahun belum sukses juga?” Cela temannya.
“Emang belum dikasih sama Tuhan, apa aku harus marah? cetus Anas.

Pertemuanku dengannya kerap dijadikan ajang curhat. Karena bagi Anas aku adalah wanita yang sangat mengerti keadaan dia. Bahkann tak ada seka rahasia di antara kami. Selalu canda tawa menhiasi dan tak lupa di sela-sela candaan dia mengajariku tentang agama islam.
Terhenyak aku ketika—-
“Ai, maukah kamu kelak menjadi ibu dari anak-anaku? Aku ingin mempunyai keturunan dari rahimmu.” Pintanya sambil bersimpuh di depanku.
Aku terdiam. Tak kuasa seakan jendela mataku berlinang. Peluh bahagia sedih trrasa campur jadi satu. Bagaimana aku menjalani semua ini? Dia milik wanita lain, tetapi ingin hidup bersamaku. Salahkah aku? Kecamuk jiwa kian membuncah. Tatkala masalah datang bertubi-tubi menghampiriku.
“Ai jawab pertanyaanku, Sayang? ucapnya sembari genggam tanganku.
“Iya, Mas Insya Allah. Bagaimanapun rencana kita tetap Allah yang akan menentukannya nanti.” Jawabku.
Apa yang dia pikirkan hingga terucap kata-kata itu, apakah istrinya tidak bisa hamil, atau dia sedang mengujiku. Tuhan ujian apa lagi yang kau berikan kepadaku. Jangan kau biarkan aku terlarut dalam cinta terlarang ini. Namun Tuhan, jika memang cinta ini terlarang kenapa kau ciptakan rasa ini begitu megah di sukmaku. Apa rencana-Mu kelak untuk hamba yang tiada berdaya.

Satu tahun kemudian ….
Aku memutuskan untuk pergi merantau ke bumi Formosa. Keberangkatanku bukan aku menolak untuk mengandung anak darinya. Namun masih terlalu banyak problematika yang aku rencanakan. Membahagiakan putriku, Naurin. Ia butuh masa depan. Butuh biaya hidup. Sedang aku hanyalah wanita pengganguran. Karena rasa sayang dan wujud cintaku pada Anas, kutinggalkan sejenak barang kali tiga tahun untuk aku mencari modal dan berpikir kedepannya nanti.
Enam belas bulan aku mengadu nasib di Taiwan, aku bantu carikan ramuan tradisional china dari seorang tabib. Berharap agar istri dari Anas bisa hamil dan aku akan pergi. Aku iklhas dan bahagia melihat orang yang aku cintai juga bahagia bersama keluarganya. Selang beberapa bulan Suli meminum ramuan itu, pun lantaran jamu tradisional cina istri Anas pun hamil.
Telepon genggamku berdering ….

I can be tough, I can be strong
(Aku bisa tegar, aku bisa kuat )
But with you, it’s not like that at all
(Namun bersamamu, aku berubah )
There’s a girl that gives a shit
(Seorang gadis memperhatikan )
Behind this wall you just walk through it
(Di balik tembok yang baru saja kau lewati)
Segera kuangkat telepon,
“Ai, Mbak suli hamil. Terima kasih sayang. Mmmuachhh i love you.” Ucapnya.
Kebiasaan yang tak pernah lupa ucapan i love you ketika kebahagiaan terjadi di antara kami
Apa pun itu!
“Alhamdulilah Ya Allah, engkau kabulkan doa kami. Selamat ya Ai, I love you too.” Sahutku gembira.
Buah dari sebuah kesabaran pasti kemenangan. Entah bagaimana Tuhan berikan jalan untuk hambanya untuk hambanya yang selalu bersabar. Dan menerima ketentuan dari-Nya. Seakaan lengkap sudah buah dari penantianp yang panjang.
Aku—
Aku akan pergi dari hidupmu. Karena aku tahu semua ini hanya semu. Biarkanlah kuteruskan langkah arungi realita ini. Doaku untukmu, Ai. Bersama tulisan ini dan seluruh jiwa raga ini aku tersadar. Kulepas Kau–
Bahwasanya hidup berbahagia, bersedih, terluka dan kecewa hanyalah sementara. Rasa iklas dan ridha akan ketetapan Tuhan menjadikan pribadi yang tegar dan kuat. Karena hanya titipan dan esok kan kembali pada-NYa.
Sepenggal kata untukmu Anasku.
Purnama Sebelas
Purnama sebelas singkap sebuah rasa
Mencibir kecut pada danastri yang terluka
Luka teramat getir, memudar
Trauma; di balik senja

Aku tertatih dalam kenaifan
Angkara yang membendung begitu tajam
Membuncah dusta tinggalkan rasa
Yang kian mendera, putus asa

Pada jendela langit kukabarkan
Onak jiwa mengembara sepi
Terkebiri atma tertusuk duri
Tersayat perih dalam relung jiwa

Mendung jendela mata kian memuncak
Menjadikan gumpalan, terhenyak
Memecah keheningan dalam lautan sepi
Rintiknya bahasi pipi

Andaikan gelas kaca itu masih
Sedikit harapku menantikan hadirmu
Lewat cermin hati terlukis naluri
Aku, kau atau dia yang terisolasi.

Taiwan, 22 Maret 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *