PULANG

MEI JOHANTARI  / PULANG / TIDAK ADA / PURNA BMI TAIWAN PULANG Oleh: MEI JOHANTARI Malam kian larut. Bunga kamboja putih masih menebarkan keharumanya di keheningan malam. Ama meninggalkan Allie sendirian di kamarnya. Direbahkan tubuhnya yang langsing. Inginnya memejamkan mata, tapi ingatanya justru melanglang pada kisah masa lalu Yu Chen. Terjadinya perceraian dengan istrinya disebabkan karena adanya perselingkuhan, … Continue reading “PULANG”

MEI JOHANTARI  / PULANG / TIDAK ADA / PURNA BMI TAIWAN

PULANG

Oleh: MEI JOHANTARI

Malam kian larut. Bunga kamboja putih masih menebarkan keharumanya di keheningan malam. Ama meninggalkan Allie sendirian di kamarnya. Direbahkan tubuhnya yang langsing. Inginnya memejamkan mata, tapi ingatanya justru melanglang pada kisah masa lalu Yu Chen. Terjadinya perceraian dengan istrinya disebabkan karena adanya perselingkuhan, hingga membuatnya shock, dan berakibat pada kesehatanya yang sering terganggu. Belum lama ini dokter telah mengoperasi jantungnya. Seperti apakah sosok istrinya, hingga membuatnya sebegitu menderita?

Terpautnya usia yang cukup jauh, perbedaan kepercayaan, perbedaan adat dan budaya, serta perbedaan-perbedaan lain membuat Allie jadi ragu dan perlu waktu sangat lama untuk memutuskan atas rencana ama menjodohkan dirinya dengan, Yu Chen.

Sikap mengalah dan pengertian Yu Chen, akhirnya mampu meluluhkan hatinya. Tanpa terasa ini adalah tahun ke tiga usia pernikahan mereka. Dan tidak lama lagi kelahiran anak pertama mereka akan segera tiba. Sungguh sayang, ama sudah tidak bisa melihat semua ini, karena sejak satu tahun yang lalu Tuhan telah memanggil beliau.
***

Menikmati suasana senja di pinggiran pantai adalah sesuatu hal yang sering dilakukan Yu Chen bersama Allie. Terutama pada saat merayakan hari-hari spesial mereka.

“Apa kamu suka?” tanya Yu Chen.

“Terima kasih telah membawaku ke sini,” ucap Allie dengan perahu-perahu kertas kecil warna-warni di tangannya.

“Kalau boleh tahu, permintaan apa yang kamu tuliskan dalam lipatan perahu-perahu kertas kecilmu?” tanya Yu Chen seraya membelai rambut Allie yang siap menghanyutkan perahu-perahu kertas kecilnya.

Dihelanya napas panjang sembari menyembulkan senyum termanisnya.

“Rahasia,” jawab Allie.

“Adakah namaku terselip di antara permintaan yang kamu tuliskan di sana?” tanya Yu Chen.

“Menurutmu?” tanya Allie.

“Emmm ….” Yu Chen mengernyitkan dahinya.

“Dulu sewaktu kecil aku sering menghanyutkan perahu-perahu kertas kecil seperti ini bersama aliran air hujan yang mengalir di pelataran rumah. Berharap permintaan-permintaan kecil yang kutuliskan di dalamnya bisa terwujud. Hihi … Bodohnya aku ya, bahkan masih kulakukan hingga sekarang.”

“Bukan bodoh, Allie. Aku yakin segala permintaanmu akan terkabul. Hidup ini rupa-rupa, kadang suka, kadang kecewa. Andai derita menerpa, setidaknya kita sudah berusaha, dan salah satunya adalah dengan doa,” terang Yu Chen.

Semilir angin menambah indahnya suasana senja. Perahu-perahu kertas Allie timbul-tenggelam dan hanyut terbawa air laut, semakin lama semakin tak telihat oleh pandangan mata.

“Hah, apa yang kamu lakukan, Yu Chen?” Allie terkejut dengan yang dilakukan Yu Chen. Dengan selembar kertas kecil, dia menuliskan sesuatu lalu melipatnya menjadi sebuah perahu kecil. Matanya terpejam, seolah sedang memanjatkan sesuatu, lalu menghanyutkanya ke air laut. “Bolehkah aku tahu, apa permintaanmu?”

“Rahasia,” jawab Yu Chen.

“Ayolah, beri tahu aku,” rayu manja Allie.

“Kasih tahu gak, ya ….” ledek Yu Chen.

“Ah, sudahlah kalau tidak mau kasih tahu,” sewot Allie.

“Jangan marah, aku meminta agar kamu lebih rajin lagi dan tidak malas untuk belajar baca tulis huruf china.” Seketika wajah Allie berubah menjadi merah. Selama ini ia memang malas untuk belajar baca tulis huruf china. Sebetulnya bukan sama sekali tidak mengerti akan huruf china, hanya menguasai sedikit sekali.

“He he …,” tawa Allie malu.

“Aku takut jika suatu saat engkau dibohongi orang hanya karena tidak bisa membaca dan menulis huruf china. Lebih-lebih jika aku tiada, siapa yang akan menolong dan melindungimu?” Yu Chen terlihat serius berbicara.

“Jangan bilang begitu, aku yakin kau tidak akan tega meninggalkan aku, apalagi dengan calon bayi kita,” ucap Allie manja sembari memeluk Yu Chen.

Allie selalu merasa bahagia dan beruntung bersuamikan Yu Chen. Disamping seorang yang bertanggung jawab dia juga sosok dewasa dan penuh pengertian. Terlebih sejak sepeninggalnya ama, sikap romantis Yu Chen sangat dirasakan olehnya ketimbang pada awal-awal menikah dengannya.

“Kalau pergi ke toilet, boleh kan?” ucap Yu Chen sembari melangkah meninggalkan Allie.

“Boleh, asal jangan lama-lama,” jawab Allie. Baru beberapa langkah kaki Yu Chen mengayun, tiba-tiba saja tubuhnya ambruk. “Yu Chen! Kamu kenapa?! Yu Chen, Yu Chen!” Suara Allie terdengar nyaring membangunkan suaminya.

Nyawa Yu Chen tiada bisa diselamatkan kendati sempat dilarikan ke rumah sakit. Dokter menyatakan dia terkena serangan jantung. Tangis Allie tiada bisa dibendung. Tubuhnya terlihat lemas dan tidak berdaya, duduk di samping ranjang sebuah rumah sakit di mana tubuh suaminya terbujur kaku. Seakan tidak percaya dengan semua yang terjadi.

“Apa yang harus aku lakukan tanpamu, Yu Chen? Kenapa ini harus terjadi? Apa salahku? Mengapa kau meninggalkanku?” Allie benar-benar tiada kuasa menyembunyikan rasa sedihnya.

“Sabar Allie, mungkin ini sudah takdir dari Tuhan,” ucap A Wen, adik perempuan Yu Chen, yang seketika itu pergi ke rumah sakit setelah mendapat telpon.

“Maaf, ini tadi ada di dalam saku celana suami Anda,” ucap seorang suster sambil memberikan sebuah kotak perhiasan kecil pada Allie.

Allie perlahan bangkit dari tempat duduknya. Dibukanya kotak perhiasan kecil itu. Sebuah cincin berlian yang indah dengan secarik kertas di dalamnya.

‘Start the day with smile,
because it can make you more beautiful.
Thank’s for everything.
Happy birthday Allie.
I love you .’¹

Bulir-bulir bening dari pelupuk matanya mulai jatuh bergelindingan di pipinya yang mulus. Perlahan pandanganya memburam, dunia yang di hadapanya seolah berputar-putar, semakin lama terasa semakin gelap, keseimbanganya pun mulai hilang hingga tak sadarkan diri.
***

Musim dimana bunga sakura sedang indah bermekaran di sepanjang jalan area tempatnya bermukim. Bayi mungil nan cantik, berkulit putih, dan bermata sipit, tampak ceria berbaring di sebuah kereta dorong bayi. Allie terlihat begitu cantik dengan sehelai syal merah yang melingkar di lehernya, dimana di setiap rajutnya terdapat kasih sayang seseorang yang selalu dihormatinya. Syal merah yang dirajut oleh tangan ama sebagai kado pernikahanya dengan almarhum Yu Chen.

“Wind, musim inilah yang paling disukai papamu, di tempat ini dulu papamu menemukan kucing kecil itu, lalu merawatnya hingga dewasa, dan di tempat ini pula ia dikuburkan karena kecelakaan yang terjadi pada waktu itu,” ucap Allie pada bayi mungilnya.

Setelah semua yang terjadi, Allie begitu takut jika harus kehilangan putrinya. Meski terlahir tidak sempurna, dia tetap merawatnya dengan baik. Dokter mengatakan cacat pada anaknya disebabkan oleh penyakit toxoplasmosis². Ketika mengetahui hal tersebut ada rasa sesal dalam hatinya. Andai saja pada masa-masa kehamilan dulu lebih berhati-hati, tapi apalah daya semua sudah terjadi. Takdir dari Yang Maha Kuasa tidak dapat ditolak. Anak adalah amanah dari Tuhan. Apapun keadaanya, Allie selamanya akan tetap menyayanginya.

Allie memberi nama Wind pada bayi kecilnya. Wind adalah nama inggrisnya Yu Chen. Walau sekarang hanya anaknya yang dia punya, perasaanya selalu bahagia. Kenangan akan suami yang begitu mencintainya, mertua yang juga selalu menyayanginya, membuatnya selalu merasa nyaman dan betah untuk tinggal di Taiwan.

“Allie! Sudah aku duga akan menemukanmu di sini,” sapa A Wen yang baru datang.

“A Wen? Kenapa tidak telpon dulu jika mau menemuiku?” tanya Allie.

“Maaf, tadi aku sudah ke rumah, kata tetangga sebelah, kamu lagi keluar jalan-jalan bersama Wind. Jadi aku langsung saja ke sini,” terang A Wen.

“Apa ada sesuatu penting yang ingin kau sampaikan padaku?” tanya Allie.

Di sebuah bangku kayu di bawah pohon bunga sakura tepi sungai mereka duduk berbincang. Semenjak kepergian Yu Chen, hanya A Wen satu-satunya orang yang bisa diajaknya bicara.

“Allie, maafkan aku,” ucap A Wen sambil menundukan kepalanya.

“Maaf untuk apa A Wen, seharusnya akulah yang minta maaf karena sudah sering merepotkan dirimu,” ungkap Allie tulus.

“Sungguh, maafkan kami semua. Jika sekarang tidak berterus terang, akan semakin membuat beban dalam hidupku. Dan aku tidak mau kejadian menakutkan itu terulang padaku,” ucap A Wen yang semakin membuat bingung Allie.

“Katakan A Wen, ada apa?” tanya Allie penasaran.

Walau terlihat ada sedikit keraguan, A Wen tetap menceritakan sebuah rahasia penting yang selama ini dia simpan dalam hatinya. Sesungguhnya tiada pernah terjadi perceraian antara Yu Chen dengan istrinya, karena dia sama sekali belum pernah menikah dengan wanita lain sebelum menikahi Allie. Ia adalah seorang penyuka sesama jenis. Kepulanganya ke rumah ama pada waktu itu dikarenakan kondisi fisiknya yang kurang baik. Ditambah masalah penghianatan yang dilakukan pasanganya membuat kesehatanya makin sering terganggu. Lelaki yang dicintai Yu Chen hanya memanfaatkanya.

“Karena kamu, Yu Chen bisa menjadi lebih baik. Terima kasih, Allie.” Allie masih terdiam. Ada berjuta rasa yang berkecamuk dalam hatinya. Begitu bodohkah dirinya, sehingga keluguan dan ketulusanya bisa dimanfaatkan begitu saja.

“Tapi, kenapa Yu Chen …?”

“Iya, aku tahu Allie, waktu itu kami hanya takut akan masa depan Yu Chen yang terlihat begitu putus asa, sehingga aku dan ama selalu meyakinkanya agar bisa bersamamu. Kami berharap dia bisa kembali menjalani kehidupan yang normal,” terang A Wen.

“Lalu, apa maksud kamu tidak ingin kejadian menakutkan terulang lagi?” tanya Allie.

Bulir-bulir bening itu perlahan jatuh membasahi pipi A Wen. Dengan terisak-isak ia menceritakan kisah di balik kematian ama. Semalam sebelum ditemukanya mayat ama mengapung di kolam pemancingan ikan, kebetulan waktu itu Allie menginap di rumah A Wen. Ama bertengkar hebat dengan Yu Chen, gegaranya dia membawa seorang lelaki muda dan tampan ke rumah. Ama sungguh marah dan memohon padanya agar selalu menghormati istrinya yang selama ini telah banyak berkorban.

“Allie, kalau tidak salah kejadian itu terjadi di saat usia pernikahan kalian baru berumur 4 bulan. Ama merasa malu padamu, merasa tertekan, dan memiliki beban, takut jika semua itu ketahuan dirimu, beliau lebih memilih mengakhiri hidupnya,” terang A Wen yang masih terisak-isak. “Percayalah dengan ketulusan cinta Yu Chen, karena semenjak meninggalnya ama, dia sudah banyak berubah.”

Tiada sepatah kata pun yang terlontar dari bibir Allie. Tak tahu lagi, siapa yang harus dipercayainya sekarang. Ternyata orang-orang yang selama ini begitu dipercayainya hanya memanfaatkan keluguan serta ketulusanya. Meskipun A Wen sudah meyakinkan tentang ketulusan cinta Yu Chen, yang tersisa hanya keraguan di hati. Benarkah dia tulus mencintainya, ataukah yang selama ini dilakukanya hanya sekadar untuk menutupi ketidakwajaranya saja. Ketika ama tiada, Allielah orang yang paling terpukul, selalu dihantui perasaan bersalah karena merasa kurang baik mengurus beliau. Andai saja dari awal ada kejujuran, mungkin rasa sakit yang dirasakan tak sedalam yang dirasakanya saat ini.

Bila saja Allie lebih pintar dalam baca tulis huruf china, pastilah semua in akan lebih awal diketahuinya. Pernah suatu hari, tanpa kesengajaan dia membuka-buka sebuah buku harian, dan ternyata adalah milik Yu Chen. Setelah itu suaminya membakar buku harian tersebut. Saat Allie bertanya, kenapa harus dibakar? Kata Yu Chen, di dalamnya terlalu banyak kenangan bersama mantan istrinya. Allie juga sempat melihat selembar photo orang bule berambut pirang. Di baliknya terdapat tulisan,

‘As the time comes and goes.
But the truest love grows cold.
That’s what i would ask you:
Will you still love me when i’m old.’³

“Oh, My God. Mungkinkah photo lelaki itu …?” Tampak raut sesal di wajahnya. “Maafkan aku, Ibu.” A Wen yang masih duduk di sampingnya hanya mampu terdiam. Masih teringat betul dalam otak Allie ketika ia pulang ke Indonesia bersama Yu Chen dulu. Ibunya bersikukuh tidak merestui pernikahan mereka, karena ingin agar Allie menikah dengan seorang pemuda sederhana di kampungnya. Beliau merasa bahwa putrinya akan hidup lebih bahagia dengan pilihanya. Kendati demikian, sebelum terbang kembali ke Taiwan, sempat berpesan padanya, ‘Andai engkau merasa tidak bahagia pulanglah ke rumah, sampai kapanpun tempat ini adalah milikmu, dan apapun yang akan terjadi engkau adalah tetap putri ibu. Ingatlah, dalam hidup ini diperlukan keberanian besar untuk menjadi pemenangnya.’

Didekap erat bayi mungil dalam peluknya.

“Allie, apa kamu baik-baik saja?” tanya A Wen.

“A Wen, mungkin ungkapan kata yang pernah kakakmu ucapkan padaku dahulu, tentang bagaimana perasaanya atas penghianatan istrinya, sekarang lebih cocok untuk menggambarkan hatiku, it’s easier to break down the flower than to make it grows. And the simple thing, easier to make someone crying than to make them feel happy.”⁴

”Allie … Maafkan kami,” ucap A Wen menyesal.

“Aku rindu rumah, aku ingin pulang,” ucap Allie sembari mengusap air matanya.

Bibir A Wen terasa kelu. Apapun yang akan diputuskanya, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Tak peduli dimanapun keberadaan Allie dan putrinya, sampai kapanpun mereka adalah bagian dari keluarganya.
***

Rekah bunga-bunga sakura masih memerlihatkan senyum terindahnya, walau embusan sang bayu menggugurkan sebagian mahkotanya yang telah layu. Musim akan segera berganti. Langit tampak begitu cerah, secerah harapan Allie untuk lekas pulang.

“Kita pulang, Nak. Kau pasti setuju dengan mama, kan?” ucap Allie pada putrinya. Ini untuk yang terakhir kalinya ia memijakan kedua kakinya di tanah Taiwan.

“Selamat tinggal, Allie. Selamat tinggal, Wind. Aku akan selalu merindukan kalian.” A Wen tak kuasa membendung air mata yang terus bercucuran membasahi pipinya.

Apapun yang akan terjadi, Allie akan terus berusaha memberikan yang terbaik untuk buah hatinya. Ia memutuskan untuk pulang ke kampung halaman Indonesia bersama Wind. Tak perlu risau atau takut dengan masa yang akan datang, dimanapun kaki berpijak, kemenangan hidup akan selalu ada dalam genggaman tangan selama keberanian besar masih berkobar dalam jiwanya.

The End

Note:
1. Awali hari dengan senyuman, karena ia akan membuatmu lebih cantik. Terima kasih atas semuanya. Selamat ulang tahun, Allie. Aku mencintaimu.
2. Toxoplasmosis adalah penyakit yang disebabkan oleh Toxoplasma/Toxoplasma gondii. Toxoplasma/Toxoplasma gondii paling banyak terdapat pada hewan seperti: kucing, anjing, babi, ayam, dan lain sebagainya.
3. Waktu telah datang dan pergi. Tapi ketulusan cinta tumbuh dingin. Oleh karena itu aku ingin bertanya padamu: Akankah kau akan mencintaiku sampai aku tua.
4. Lebih mudah untuk mematahkan setangkai bunga daripada membuatnya tumbuh. Dan sesuatu yang sederhana, lebih mudah untuk membuat seseorang menangis, daripada membuatnya merasa bahagia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *