Yunni Lai / Kakakku pengantin Mantanku / Tidak / tenaga kerja asing
Cerpen
*Kakakku Pengantin Mantanku*
Selamat menempuh hidup baru kakaku sayang” ucap sang adik kepada kakaknya yang sedang bersanding yang tak lain dengan mantan kekasihnya.
Dalam hati dua merasa lega karena tak akan ada lagi cewek yang akan menjadi korban cinta palsunya.
Ya seperti janji dia padaku, ‘Sayang aku akan menikahimu dan aku akan menjagamu”. Masih teringat jelas kata” itu dalam benakku.
Aku Lina, umurku 25 yang menurut orang tuaku, aku sudah harus berpikir berumah tangga. Ibu saat bahagia saat mendengar aku akan segera menikah, ya saat itu ibu mempersiapkan segalanya. Tapi ternyata jodoh sudah ada yang mengatur.
“Sayang orang tuaku menjodohkanku dengan wanita pilihanya” kata Riyan.
Ya Riyan adalah cowo yang mengisi hariku dan berjanji akan menikahiku.
Dengan senyum pahit aku menjawab, “Ga apa mas, Lina rela jika itu jodoh mas, tapi bagaimana dengan aku, bagaimana jika aku hamil mas?’
Ya tiga hari yang lalu kita bersama dalam satu kamar, saat itu aku merasa bodoh, entah mengapa dan kenapa semua terjadi begitu saja.
Aku tak ingin menangis di depan Riyan, Aku merasa bimbang karena di kala itu antara rela dan takut.
Satu minggu kemudian aku berusaha lupakan semua, aku bercerita kepada orang tuaku. Apa yang harus aku lakukan,’ itu pertanyaan yang selalu melintas di benakku.
Aku segera ke dokter namun belum ada hasil apakah aku positif atau negatif, alhasil aku pasrah.
Saat itu aku memberi satu sms pada Riyan, ‘ Mas aku rela kamu menikah dengan pilihan orang tuamu, tapi dengan satu syarat jika aku hamil jangan salahkan aku tak menganggap kamu adalah ayah dari anak itu, berbahagialah mas”
Tak lama Riyanpun menjawab ” aku akan bertanggung jawab, aku akan tolak perjodohan itu.
Saat itu aku mulai menjau tak mengabari riyan kembali.
Hanya ada satu sms yang terakhir “Kita sudahi hubungan kita semoga kamu bahagia”
Masih dalam perasaan takut , jika nanti aku benar” mengandung anaknya, akupun bersiap” jika aku harus menjadi ibu sekaligus ayah buat anak ini,
Setiap hari alu berolah raga yang kiranya melelahkan, makan” nan yang kiranya bisa mempercepat haid datang.
Tapi itu bukan aku berniat ingin membunuh anak itu jika hamil.
Satu bulan, dua bulan ternyata aku tak haid juga, mungkinkah aku hamil. Aku tak memberi tahu semua ini karena aku tahu di antara aku dan dia sudah tak ada hubungan lagi sekalipun aku mengandung.
Saat itu kakakku menelponku, berkata bahwa dia akan segera bertunangan. Aku sangat bahagia. Tapi saat mendengar siapa pendamping hidupnya dengan sedikit ada senyum kecewa aku menjawab dengan ikhlas.
“Ka aku seneng kaka mau menikah”
Ya tak lama aku melihat foto pertunangan mereka.
Aku hanya takut kakaku tersakiti. Tapi itu mungkin hanya perasaanku.
Itu masa lalu dan aku tak harus mengingatnya kembali.
Hari pernihakahan mereka pun berlangsung . Mereka sah menjadi suami istri dan aku di sini masih tetap sendiri .
Saat itu pula ku tau bahwa aku tidak hamil .
Akhirnya tak akan ada cerita
“Kakakku ibu Tiri Anakku”
Tapi
“Kakaku pengantin Mantanku”