“Sabar Itu Indah”

Anie Laskar Cienta / “Sabar Itu Indah” / Tidak / Tenaga Kerja Indonesia “Sabar Itu Indah” Sebut saja aku anie. Di sini, aku bercerita tentang betapa susahnya mencari uang. Bahkan demi merubah nasib, aku rela pergi meninggalkan keluarga tercinta di indonesia demi uang, mereka berharap dengan perginya aku ke negeri formosa dapat bisa merubah perekonomian keluarga menjadi lebih … Continue reading ““Sabar Itu Indah””

Anie Laskar Cienta / “Sabar Itu Indah” / Tidak / Tenaga Kerja Indonesia

“Sabar Itu Indah”

Sebut saja aku anie.
Di sini, aku bercerita tentang betapa susahnya mencari uang. Bahkan demi merubah nasib, aku rela pergi meninggalkan keluarga tercinta di indonesia demi uang, mereka berharap dengan perginya aku ke negeri formosa dapat bisa merubah perekonomian keluarga menjadi lebih baik dari sebelumnya, tetapi tidak seperti yang aku bayangkan.

“Taiwan…Ohhh….Taiwan.” Aku berharap semua berubah sejak aku mengginjakkan kaki di negeri formosa ini. Kenyataan tak seindah bayangan.

Awal aku pergi ke taiwan, job yang aku terima adalah menjaga ama yang berumur 67 tahun. Dalam satu rumah, kami tinggal 5 orang. Anak anak nenek yang aku rawat semua baik, mereka selalu perhatikan kesehatan aku. Bahkan menantu nenek juga sanggat baik padaku.

Semua berubah menjadi benci padaku, setelah lima bulan aku bekerja, nenek selalu memarahiku dan selalu memukulku menggunakan gayung untuk mandi.

Baik ketika ada anak anaknya, itulah nenek yang aku rawat. Selama lima bulan bekerja, aku kirim uang kepada keluargaku. Hanya sedikit aku sisa untuk keperluan sehari hariku.

Serasa tak kuat aku menghadapi nenek, dan aku memutuskan pulang ke indonesia, tapi agency membujukku supaya aku mau berganti majikan. Sambil menunggu pergantian majikan, aku di perbolehkan untuk tetap bekerja dan merawat nenek sementara di rumah itu dan aku pun masih di gaji, karena mereka masih mengharapkan aku untuk tetap di sana menjaga nenek.

Delapan bulan sudah aku di rumah nenek, dan akhirnya aku melangkah keluar dari rumah yang sejak pertama aku datang. Ya….di mana saatnya aku bertempat di majikan yang baru.

Awal aku mengginjakkan kaki di majikan kedua, semua terlihat aneh. Biasa, bisa di sebut seperti itu. Perbedaan yang sanggat jauh, antara kaya dan biasa.

Job kedua, aku menjaga pasien yang tidak bisa apa apa, hanya terbaring di ranjangnya, di ibaratkan aku merawat mayat hidup. Dan, awal aku melihat pasienku, tak kuat hati aku melihatnya dan selalu meneteskan air mata. Lama dan lama aku merawat, terasa sudah terbiasa.

Setahun sudah aku di majikan kedua, dari awal sampai akhir aku hanya menggandalkan gajiku untuk bertahan hidup di taiwan. Dari awal aku bekerja, majikan pertama dan kedua tidak menafkahi aku. Makan, dan kebutuhan yang lain aku sendiri yang mencukupi dari hasil gajiku. Setahun setengah aku berada di taiwan, tak kunjung perekonomian keluargaku berubah.

“Dek, kakak butuh uang buat bikin ktp ibu.”
“Dek, keponakan kamu harus di rawat inap, karena deman berdarah, kakak pinjam uang.”
“Kak, kami butuh uang buat bayar sekolah karena sebentar lagi ujian akhir semester.”
“Dek, ibu minta uang buat beli beras sama kontrak rumah.”
Di sini lah tak bisa aku bendung air mata ini. Berharap semua berubah dengan perginya aku merantau, tapi tidak.

Di taiwan semua mahal, jajan mahal, dan semua kebutuhan aku cukupi sendiri. Setiap bulan aku kirim uang ke pada keluarga, dan sisanya aku pakai untuk kebutuhan bulananku.

“Tak bisa menabung.”

“Yaaaa…..apa mau di kata, sudah seperti ini mau di apa kan lagi.” Yang terpenting keluargaku bisa makan, itu sudah cukup buat aku tenang. Allhamdullillah, aku ada sedikit tabunggan karena aku sudah berniat untuk balik taiwan dengan job pabrik. Sekarang, dengan sisa masa kontrak, aku benar benar harus berhemat dan menabung, aku juga masih bisa sedikit menggirim uang buat keluarga.

Semanggat dalam bekerja itu tujuhan aku, supaya keluargaku tidak kekuranggan lagi. Hanya bisa bersabar dan banyak berdo’a dengan keadaan ini.

“Salam semanggat dariku kawan, semoga dengan berjuang dan banyak berdo’a, kita semua dapat menjadi apa yang di inginkan, amin.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *