Esah ramadani / #Demi kehormatan orang tuaku# / Bambang nurfauzi /
Tiga tahun telah berlalu, dengan ijin tuhan aku mampu membiayai pembangunan rumah yang lebih layak untuk kedua orang tuaku. Senyum bahagia selalu menghiasi hari-hariku, rasa syukur selalu kupancatkan disetiap bait-bait doaku. Tiba-tiba muncul ingatanku ke masa silam, sosok yang membuatku mempunyai keinginan besar untuk mewujudkan impianku (meninggikan derajat orang tuaku) saya sangat tidak rela melihat ibuku menangis karena penghinaan dari orang lain kepadanya. Dijauhi tetangga karena mereka takut ibuku akan berhutang, sore itu ibuku menyuruhku pergi kerumah tetangga yang rumahnya agak jauh untuk (Tandur) menanam padi tapi bayarannya nanti karena ibuku belum punya uang. Belum selesai aku bicara, beliau sudah menolak dengan memalingkan muka. Dia bilang “sudah ada yang nyuruh, bayarannya langsung lagi.” jawabnya dengan nada merendahkanku. Seperti ditampar di muka umum, karena disitu banyak orang yang melihat. Butir-butir air mata jatuh dipipi merahku, aku tidak kuasa menahan tangis “Aku akan ingat ini,” bisikku dalam hati. Bibiku yang melihatku di permalukan seperti itu, langsung menghampiriku dan berkata : “sesok aku sing tandur nduk.” Besok aku yang menanam padinya sayang sahut bibiku sedikit mengobati luka hatiku. Dalam perjalanan pulang aku terus menangis, aku berpikir “ternyata sakit yah di hina orang lain, lalu bagaimana perasaan ibuku ? beliau bertahun-tahun banting tulang membantu perekonomian keluarga karena tenaga bapak tidak sekuat dulu, setelah beliau mendonorkan darahnya. Dan ibu tidak merasa malu untuk berhutang demi anak-anaknya yang masih kecil sedangkan aku baru sekali saja, sudah mewek.” Aku tidak memberitahu ibu dan hanya bilang kalau tetangga itu sudah ada yang nyuruh, pelan-pelan aku pandangi wajahnya yang kelihatan lelah. Detik itu juga aku berjanji pada diriku sendiri untuk meninggikan derajat ibu, agar tidak dihina lagi oleh orang lain. 6 juni 2012 aku terbang ke Taiwan, negeri formosa yang menjanjikan impian, 3 bulan aku dipenampungan. Aku bekerja di keluarga WU, aku tidak terlalu kesulitan untuk beradaptasi dengan bermodalkan sedikit pengetahuan tentang bahasa inggris. Tapi nyonya saya berpesan “walau kamu tahu bahasa inggris, kamu tidak boleh malas belajar bahasa mandarin” terus saya menjawab dengan anggukkan. Saya sering sakit saat musim dingin tiba, tapi majikan saya selalu membawa saya periksa ke dokter dengan kartu kesehatan yang saya punya (cien pao ka) ternyata tidak semudah yang saya kira, bahasa mandarin cukup membuat saya pusing selain kata-katanya yang hampir mirip tetapi juga beda pengartiannya. Tapi saya tidak menyerah, yang ada dalam benak saya adalah “Ibu dan Ayahku.” Beberapa bulan bekerja aku mengalami kesulitan, selain tidak boleh berkomunikasi dengan orang luar aku juga tidak diperbolehkan menggunakan Hp. Aku mencoba untuk tidak protes karena dalam perjanjian memang aku menyetujuinya, tapi aku yakin suatu saat majikan saya akan menuruti kemauan saya jika saya bekerja dengan baik. 8 bulan berlalu, aku berhasil melalui masa-masa sulit percobaan/adaptasi. Walau dengan tangisan dan merasa jauh dari orang-orang yang tersayang, tapi aku berhasil melewatinya. “Mungkin kedengarannya cengeng, tapi kalau aku merasa sendiri memang aku suka nangis hihi.” Dengan sabar dan telaten aku turuti dan patuh dengan perintah majikan dan agent ku, walau kadang aku merasa “kenapa hidup tidak adil.” Seminggu setelah itu, aku meminta ijin untuk menelepon pacarku. Aku menerima kabar yang kurang baik, pacarku bilang kalau orang tuanya menyuruh dia menkah dengan wanita lain jika aku tidak pulang dan menikah dengannya. Mendengar berita itu hatiku tidak tenang, di satu sisi aku berjanji untuk kehormatan orang tuaku tapi disisi lain aku menyayangi pacarku. Dengan perasaan sedih dan pikiran yang tidak karuan aku menelepon agent ku, untuk memintanya memulangkan aku ke Indonesia. Esok harinya mereka datang ketempatku dan menanyakan perihal yang terjadi “Pokoknya saya mau pulang,” isak tangisku dihadapan majikan dan agent ku. mereka menyuruhku berpikir dulu “pikirkanlah dulu, kalau kamu pulang kamu tidak bawa uang, dan kamu akan kesulitan lagi untuk datang kesini.” Jawab mereka meyakinkan saya, tapi aku tetap bersikeras untuk pulang. Setelah jurus-jurus rayuan dan nasehat mereka keluarkan, pikiranku mulai sedikit terbuka dan dapat pencerahan. Akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan kontrak dengan syarat, aku dibolehkan menggunakan Hp dan diijinkan libur saat aku ada keperluan. Majikankupun tidak punya pilihan lain selain setuju, karena aku minta pulangpun tidak main-main. Sedikit demi sedikit aku mulai melupakan mantanku itu, aku mengikhlaskan dia menikah dengan wanita lain karena akupun tidak punya jaminan apa-apa untuk hubungan itu. Selama aku di Taiwan orang tuaku menyembunyikan kesengsaraannya, dulu yang aku setiap hujan pasti kebocoran dimana-mana. Tapi sekarang air hujan sudah mulai masuk kerumah tua itu, setiap hari bapak dan ibuku harus tidur kedinginan ditempat tidur diatas genangan air. Kali ini benar-benar menguras air mataku mendengar berita dari tetanggaku tentang keadaan orang tuaku, tapi mereka tidak mau pindah dan tetap menempati rumah tua itu. Bagaikan teriris sembilu, aku disini bisa tidur dengan nyaman dan bantal yang empuk sedangkan orang tuaku tidur kedinginan diatas genangan air hujan. “Ya Allah bantu hamba dengan kekuatanmu, niatku untuk membuat hidup orang tua hamba lebih baik. Engkaupun pasti tidak tega melihatnya, tolong ridhoi niat hamba ya Allah, hamba yakin dengan kuasamu yang maha besar kabulkanlah permintaanku Aamiin.” penggalan-penggalan doa yang selalu aku pancatkan setelah sholatku, dengan penuh keyakinan dan kerendahan hati aku berserah diri pada tuhan. Aku berusaha sehemat mungkin untuk menabung, hari demi hari ingatkan diriku untuk tidak sembarangan membeli sesuatu sampai impianku terwujud. Alahmdulillah setelah 2 tahu lebih, uang yang aku tabung cukup untuk mendirikan rumah sederhana untuk kedua orang tuaku. Aku mengirimkan uang itu dan bilang kepada ibuku untuk menyewa tukang dan membangun rumah baru untuk mereka. Mereka terkejut dengan apa yang terjadi, mereka bertanya darimana aku tahu tentang air hujan yang masuk kerumah. Aku hanya menjawab “sudahlah yang penting sekarang adalah bagaimana niat kita berjalan dengan lancar.” Aku tidak bisa tidur nyenyak semenjak mendengar kesengsaraan orang tuaku, dan sekarang aku harus berpikir masalah biaya pembangunan dan biaya tukang. “Ya Allah bantu aku, mampukan aku hanya akulah harapan mereka.” Antara takut biayanya kurang dan takut yang namanya hutang aku selalu gelisah. Majikanku menawarkan hutang padaku, tapi mamaku bilang toko bangunan bisa meminjami sampai aku punya uang untuk melunasi “Alhamdulillah.” ucapku dengan rasa bersyukur. Sekarang tinggal mikirin pintu, jendela dan hutang. 2 bulan gajiku, aku kirimkan untuk membeli pintu dan jendela, tapi mendengar adikku sudah lulus sekolah dasar. Aku bilang uangnya untuk beli pintu dan biaya adik sekolah dulu, biar hutang dan jendelanya nanti saja toh masih ada bulan-bulan berikutnya. 3 tahun berlalu sudah saatnya aku harus pulang ke rumah baru orang tuaku, tadinya aku tidak ingin kesini lagi karena majikan tidak menyanggupi untuk menaikkan gajiku jadi aku bilang aku balik langsung. Tapi ternyata setelah melihat kesungguhanku bekerja, majikanku berubah pikiran dia mau menaikkan gajiku dan bersedia mengijinkanku pulang selama 1 bulan untuk mengurus visa dan melepas rindu kepada keluarga di rumah. Kejutan-kejuta dari Allah mulai terasa, aku mendapatkan kehangatan keluarga dan berhasil membuat orang bangga kepada ibu karena telah melahirkan aku. Kini rumah ibu sudah kokoh dan kuat, tidak akan ada lagi bocor sana-sini dan air hujan yang masuk kerumah. “Alhamdulillah ya Allah, jika aku tahu dari awal bahwa rencanamu lebih indah tentu aku tidak akan sesedih waktu itu.” ucapku dalam hati. Kini adik bisa melanjutkan sekolah dan hutang-hutang sudah terlunaskan, aku berangkat lagi dengan semangat baru dari doa-doa keluargaku. Mereka yang menguatkan aku, dan menjadi penyemangatku. Pelan-pelan aku mulai mendewasa dan mempunyai rasa kasih sayang yang lebih pada sesama. Orang yang dulu menghinaku telah aku selip jauh, kini dia baik padaku dan kepada orang tuaku. “Sebenarnya aku harus berterima kasih padanya, jika dia tidak menghinaku mungkin aku tidak akan pernah tau kalau sebenarnya aku punya kemampuan untuk menghemat uang hehe.” Rencana tuhan memang selalu lebih indah untuk orang-orang yang bersabar dan mau berusaha. Aku belajar banyak hal dari perjalanan ku bekerja di Taiwan, bagaimana majikanku mengutamakan keluarga dan kedisplinan. Merekapun sudah mengaggapku seperti keluarga mereka sendiri, terima kasih Taiwan engkau ijinkan aku menginjak bumimu dan mengais pundi-pundi NT mu. Aku bangga bisa mengharumkan nama bangsa dengan bekerja sebaik-baiknya di rumah majikan. Doakan aku untuk melanjutkan kontrak kedua ku dan meninggalkan nama baik di keluarga majikanku Aamiin. Esah ramadani Taipei 7/4/2016