Suara Terakhir

Ismii Khalifah / Suara Terakhir / Tari Sasa / tenaga kerja asing Suara Terakhir Oleh: Ismii Khalifah Denting jam berbunyi menunjukan pukul 21:30, ketika detik demi detik terdengar lebih nyaring dari biasanya sedangkan aku pun nampak begitu resah dalam diamku, aku duduk beralaskan tikar dan bersandarkan tembok dengan kekhawatiran yang hanya bisa kusimpan aku mencoba tenang, perjuangan mendapatkan … Continue reading “Suara Terakhir”

Ismii Khalifah / Suara Terakhir / Tari Sasa / tenaga kerja asing

Suara Terakhir
Oleh: Ismii Khalifah

Denting jam berbunyi menunjukan pukul 21:30, ketika detik demi detik terdengar lebih nyaring dari biasanya sedangkan aku pun nampak begitu resah dalam diamku, aku duduk beralaskan tikar dan bersandarkan tembok dengan kekhawatiran yang hanya bisa kusimpan aku mencoba tenang, perjuangan mendapatkan ketenangan yang kurasa seperti perjuangan menahan lapar seharian saat berpuasa.
Terlihat olehku raut wajah ayah yang juga mengekspresikan kekhawatirannya, ayah yang sedari tadi mondar-mandir didepanku hampir membuatku pusing, tapi aku pun tidak bisa memaksanya untuk tenang karena aku paham jika setiap orang punya cara tersendiri menunjukan kekhawatirannya.
Sampai pada akhirnya tangis bayi memecah keheningan yang sempat terjadi cukup lama itu, air mataku menetes tanpa bisa tertahan, rasa haru menyelimuti hatiku terlebih ketika aku melihat senyum pertama ayah setelah kecemasannya yang langsung memasuki kamar tempat ibu melahirkan.
Segera kuusap air mataku lalu beranjak dari tempat dudukku dan mendekati kamar tapi langkahku terhenti ketika didepan pintu kamar, kulihat ayah menggendong adikku sembari mengadzaninya, ku melirik ke arah ibu yang masih terlihat lemas diatas tempat tidur, seharusnya ini adalah kebahagiaan dalam babak baru kehidupan.
Hari-hari kuisi dengan merawat adikku ketika ibu sedang mengerjakan beberapa pekerjaan rumah yang masih bisa dijangkau setelah ibu melahirkan, sedangkan ayahku mengerjakan pekerjaannya yaitu sebagai seorang petani, ayah berangkat setelah mencuci pakaian ibu dan pulang sebelum ashar.
Sempat terpikir dalam hati ini begitu lelah menjaga adikku walau sekedar duduk mengayun ayunan tempat adikku saat tertidur agar adikku bisa tidur nyenyak dan ibu bisa sedikit beristirahat, lelah itu hadir ketika aku hanya bisa menyaksikan teman sebayaku bermain didepan rumah sedangkan aku hanya bisa melihat dari jendela karena harus fokus menjaga adikku, dan seketika kejailanku muncul entah drimana sumbernya, kubuat adikku terbangun hingga menjadikan ibu menghentikan pekerjaannya, dan disaat ibuku menenangkan adikku lah aku punya kesempatan untuk bermain bersama teman-temanku.
Yang aku rasakan adalah lelah dan lelah sampai aku pernah mengerutkan dahi sembari memandang kearah adik bayiku, aku merasa tidak suka kalau setiap hari aku harus kehilangan waktu bermainku.
Tahun demi tahun berlalu dan kulihat adikku semakin besar, ada kebahagiaan yang seakan luar biasa ketika kulihat adikku memakai seragam pertamanya untuk pergi ke sekolah, tidak lupa kuajak dia berfoto dengan tujuan kelak ketika dia tumbuh dewasa dia bisa melihat foto itu.
Aku yang seorang siswi salah satu SMK di Indramayu seringkali disibukkan dengan tugas-tugas sekolah yang seringkali memusingkan kepalaku, bahkan sempat aku memarahi adikku hanya karena hal sepele, dan sebenarnya aku tidak patut melakukan itu, aku seakan melarikan kelelahanku akan tugas sekolah dengan memarahi adikku.
Sampai dipenghujung tahun yang menegaskan jika aku tinggal menjalankan beberapa ujian sebelum akhirnya diwisuda, aku punya keinginan untuk memberikan yang terbaik untuk orang tuaku karena dua tahun ini aku gagal dapat beasiswa, walaupun nilaiku besar tapi aku hanya bisa sampai dilima besar karena empat orang diatasku mendapatkan nilai yang lebih besar dariku, aku berharap ditahun terakhir sekolah aku bisa membanggakan orang tua.
Kumaksimalkan tenaga, pikiran, waktu, materi, semuanya untuk ujian-ujian terakhir sekolah, sampai pada akhirnya semua semangatku terhenti ketika kurasa mataku semakin samar melihat dunia, entah apa yang terjadi karena yang kutahu aku sudah ada didalam rumah padahal sebelumnya aku masih berada di sekolah.
Aku mencoba tidak terlalu menganggap serius kejadian itu karena aku berpikir mungkin saja aku kelelahan hingga pingsan, tapi ternyata anggapanku salah ketika seminggu berturut-turut aku mengalami hal yang sama, ayah tidak kuasa melihat aku pulang dengan tubuh tidak sadar sedangkan setiap berangkat sekolah selalu membawa keceriaan, sampai ada kalimat beliau yang benar-benar membuatku seakan dihantam benda keras, beliau menyuruhku untuk berhenti sekolah karena anggapan beliau jika aku sudah tidak ada kesempatan untuk sekolah.
Dengan wajah tertunduk aku membatin dalam diam, sejujurnya aku tidak mungkin menghentikan sekolahku begitu saja, terlebih hanya tinggal beberapa tahap lagi menuju kelulusan, tapi aku pun bingung bagaimana menemukan kesembuhan saat beberapa dokter dan tabib tidak bisa menyembuhkanku, sedangkan aku tidak punya banyak waktu untuk bersantai-santai, tugas sekolah sudah menumpuk, hari terus berlalu dan waktu ujian semakin dekat tapi aku tidak tau bagaimana meyakinkan ayah sedangkan tubuhku ini begitu lemah.
“Yayu harus cepat sembuh, kasihan teman-teman yayu yang setiap hari selalu mengantar yayu pulang, kasihan ibu dan bapak” Ucap adikku sembari menatapku yang sedang terbaring lemah diatas tempat tidur,
Aku hanya bisa terdiam sembari sesekali menyeka air mataku yang mencoba membasahi pipiku.
Walau aku masih sering pingsan tapi aku mencoba untuk menutupinya dari orang tuaku terutama ayah, aku tidak ingin membuat mereka khawatir dan sangat amat tidak mau jika ayah sampai mencabut paksa izin untukku bersekolah,
“Ayah, aku masih ingin sekolah, aku punya cita-cita, izinkan aku menyelesaikan sekolahku, aku akan berusaha untuk sembuh dan tidak membuat ayah dan ibu khawatir lagi” Ucapku dalam renunganku disuatu malam, dan banyak perjuangan yang amat tidak mudah kulalui tapi aku bersyukur bisa menyelesaikan sekolahku.
Masa berikutnya dimulai, ketika aku berusaha mencari pekerjaan seusai lulus sekolah, dalam benakku rasanya ingin sekali segera bisa membahagiakan orangtua dengan jerih payahku sendiri, juga untuk adikku yang senantiasa membuatku semakin semangat walau kusadar tubuh lemahku seringkai enggan menampung besarnya semangatku.
Beberapa kali mencoba pekerjaan, menempati satu demi satu tempat kerja dari toko, kompeksi, garmen, belum lagi pekerjaan-pekerjaan lain yang enggan menerimaku, semua itu terkadang membuatku lelah, orangtua memang tidak menuntutku tapi aku serasa punya tanggung jawab untuk membahagiakan mereka, sampai akhirnya aku memutuskan untuk mendaftarkan diri sebaga Tenaga Kerja indonesia untuk pemberangkatan menuju Taiwan.
Aku merasa Allah sudah mendekatkan aku dengan mimpiku yaitu membahagiakan orangtua dan adikku, beberapa bulan kulalui hingga sampai didetik-detik penerbanganku, aku mencoba menghubungi orang tua untuk melepas rindu sekaligus meminta doa untuk kelancaran perjalananku, ku panggil-panggil adikku yang terdengar cukup jauh ketika aku sedang berbicara dengan ibu lewat telephone,
“De, yayu mau ngomong” Saut ibu pada adikku,
“Tidak mau!” Jawab adikku yang membuatku tertawa ketika mendengarnya,
“Tidak apa-apa bu” Ucapku,
Obrolan itu terhentikan ketika ibu asrama meneriaki waktu pengumpulan hp, aku pun langsung menghentikan obrolanku dan mengatakan pada ibu jika minggu depan saja dilanjutkan obrolannya.
Suatu kejadian membuatku harus segera pulang menuju rumah sederhana disebuah kampung kecil wilayah jawa barat, tiada yg ingin ku lakukan selain pulang menemui orang tua juga kedua adikku, dalam benakku aku harus kuat, tiada sedikit rasa lelah,, sedih juga kecewa yg boleh aku tunjukan, ya, aku harus tegar didepan keluargaku walau entah hatiku seperti apa saat itu, karena langkah kaki pun seakan kapas yg terhempas angin seperti itulah kakiku yg melangkah namun tiada merasa.
Akhirnya jam 19: 30 aku pulang dari Jakarta menuju rumah orang tuaku, tiada kurasa pusing yang biasanya sering kurasakan saat menaiki mobil, tiada kurasa dingin walau malam semakin larut, tiada rasa lapar walau beberapa hari sebelumnya perutku hanya berisi air dan air, diam dan diam itu yg kulakukan ketika didalam mobil, karena aku ingin segera sampai dirumah, waktu berlalu desa demi desa ku lewati sampai akhirnya sekitar jam 1 hampir dini hari aku tiba dirumah, seseorang yg baik hati mau mengantarkanku sampai depan rumah.
Ketika sesampainya dirumah kulihat kedua orang tuaku juga pamanku tengah duduk didepan rumah, entah apa yg membuat mereka masih terjaga padahal hari itu aku tidak mengabari kalau ingin pulang, kujabat tangan kedua orang tuaku dgn penuh penghormatan juga kerinduan setelah beberapa bulan tidak bertemu, setelah kuletakkan barang bawaanku didalam kamar aku memutuskan untuk ikut berbincang-bincang bersama kedua orang tuaku, tiada rasa kantuk dalam benakku, akhirnya jam 4 dini hari aku baru tertidur dan 1 jam kemudian terbangun, waktu istirahat yang cukup singkat tapi terasa cukup untukku saat itu, aku pun melakukan aktifitasku selayaknya gadis desa, membantu pekerjaan rumah, memasak dan belanja, tidak lupa kuperhatikan makanan orang tuaku juga kedua adikku, tidak perduli aku makan atau tidak tapi mereka harus makan, aku tau kejadian itu sungguh mengguncang batin tidak terkecuali aku, tapi hidup terus berjalan dan aku masih ingin melihat mereka sehat, hari-hari kulalui dengan rasa yang berbeda, sempat tercipta tawa tapi seakan tawa semu yang tiada arti tapi setidaknya ada tawa yang kulihat dari mereka.
Tujuh hari berlalu, Oh My Allah… sungguh air mata ini tidak mampu lagi kubendung karena kesedihanku tidak mampu lagi kutahan, disamping makamnya kubacakan surat yasin beserta do’a dan tidak lupa permintaan maaf karena belum sempat menjadi kaka yang baik dan juga membahagiakannya, entah dia mendengar atau tidak, yang kutau aku merasa dia ada dan melihatku, masih ada rasa tidak percaya KAYU NISAN yang kulihat saat itu bertuliskan namamu dik, andai kala itu mimpi, sungguh aku ingin segera bangun bangun dan bangun, tapi itu bukan mimpi bahkan sekalipun aku menampar pipiku amat keras kusadar itu bukan mimpi, dengan perasaan amat berat kutinggalkan MAKAM itu dan pulang menuju rumah, Oh My Allah sungguh tiada yang mengetahui kapan Umur berhenti, tapi mungkin Engkau lebih menyayanginya daripada aku dan keluargaku..
Malam itu kukemasi baju dan perlengkapan lainnya, aku harus kembali lagi ke Jakarta untuk meraih mimpiku, entah apa sebabnya pada tengah malam badanku panas dan aku menggigil, aku menangis kesakitan, aku hanya tidur sendiri dikamarku dan entah sekeras apa tangisku itu sampai membuat ayahku terbangun, samar-samar kudengar beliau membangunkan ibu yang sepertinya tengah tertidur pulas, aku sungguh tiada maksud mengganggu waktu istirahat mereka, yang kutau pastilah mereka amat lelah jiwa dan raga mengurus pemakaman dan 7 harian alm adikku tapi itulah kasih sayang yang tiada terucap, kudengar langkah kaki yang perlahan mendekat padaku, kudengar suara lirih dari ibuku yang menanyakan aku kenapa dan rasa sakit apa yang membuatku menangis tengah malam, aku menangis dalam mata yang terpejam dan enggan terbuka tapi aku mampu merasa dan mendengar apa yang terjadi saat itu, akupun mulai tenang ketika tangan lembut ibu membelai rambutku, beliau menyelimutiku, dan menemaniku hingga kutertidur saat itu, aku langsung merasa tenang saat itu.
Mentari bersinar menerangi bumi Allah nan luas, aku masih dalam rasa sakitku tapi aku tidak boleh mengeluh dan manja, aku harus tetap pergi ke Jakarta untuk melanjutkan mimpiku, pagi itu ibuku menyiapkan sarapan untukku dan disela acara makan kami beliau bertanya apa tidak sebaiknya rencanaku di tunda, tapi aku tetap memilih untuk pergi walau untuk berdiri saja badanku terasa berat.
Ketika hendak pergi kulihat masih ada raut kesedihan dalam wajah mereka tapi aku tidak mau larut dalam kesedihan, bukan karena aku tidak sedih tapi rencana Allah adalah sebaik-baiknya rencana dan itu yang kutekankan dalam diri yg lemah ini.
Aku hanya ingin membahagiakan kalian, aku hanya ingin punya kesempatan untuk membahagiakan kalian, aku tau dan paham dengan karakter kalian wahai ibu bapakku, kalian memang bukan tipikal orang yg selalu mengatakan “nak ibu bapak menyayangimu”, tapi tindakanlah yang langsung kalian lakukan, biarlah cinta dalam diam kalian yang kalian pilih tapi aku tetep bisa merasakannya, aku tetap tau kalau ibu dan bapak menyayangiku tanpa perlu mengungkapkan rasa sayang itu dengan kata-kata.
Entah berapa kali kudengar kalimat tentang apa yang sepertinya cocok untukku yaitu penyesalan selalu ada diakhir, seandainya dan seandainya, berandai-andai yang menjadikanku seringkali mengingat masa-masa dimana aku merasa sangat tidak baik bersikap terhadap adikku bahkan kurang bisa menjaganya.
Ketika berkali-kali aku mencoba menenangkan diri aku mendapati sebuah keyakinan jika Allah lebih menginginkannya kembali kesisi_Nya, dalam doa disetiap ibadahku kuselipkan permintaan maaf dan terimakasihku, maaf karena mungkin aku hanyalah seburuk-buruknya seorang kaka, terimakasih karena sudah menjadi adik yang luar biasa dan sampai kapanpun kamu akan menjadi adikku, itulah kalimat-kalimat yang seringkali aku ulang-ulang.
Suara ditelfon waktu itu adalah suara terakhirnya, pelan, lirih, samar, suara yang kupikir sekedar menggodaku saat enggan diajak berbicara tapi ternyata itu adalah suatu pertanda jika memang dia ingin pergi.
Aku tidak bisa mengelakan sebuah takdir kematian yang akan hadir pada setiap yang bernyawa, aku baru sadar jika aku benar-benar menyayanginya, seorang adik yang lebih sering kuabaikan daripada kuperhatikan ternyata adalah salah satu orang yang kubutuhkan, penyemangat dalam kerapuhan, tapi semua sudah terlambat kurasakan karena dia telah pulang dan semua tinggal kenangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *