Mungkin Tuhan Salah Dengar

Nunung Nurjanah / Mungkin Tuhan Salah Dengar / Tidak ada / tenaga kerja asing Mungkin Tuhan Salah Dengar by: Nunung Nurjanah Mungkin ini yang dinamakan takdir. Manusia hanya bisa berencana dan Tuhan-lah yang menentukan semuanya. Namaku Nunung, aku dibesarkan di lingkungan keluarga yang sederhana, makanya tumbuh pun jadi gadis yang sederhana. Polos, lugu itulah aku. Bahkan dulu sewaktu … Continue reading “Mungkin Tuhan Salah Dengar”

Nunung Nurjanah / Mungkin Tuhan Salah Dengar / Tidak ada / tenaga kerja asing

Mungkin Tuhan Salah Dengar

by: Nunung Nurjanah

Mungkin ini yang dinamakan takdir. Manusia hanya bisa berencana dan Tuhan-lah yang menentukan semuanya.
Namaku Nunung, aku dibesarkan di lingkungan keluarga yang sederhana, makanya tumbuh pun jadi gadis yang sederhana. Polos, lugu itulah aku. Bahkan dulu sewaktu gadis saat ditanya apa cita-citamu? Jawabanku, bukan jadi dokter atau guru. Tapi, jadi ibu rumah tangga yang baik, tinggal di rumah, mengurus suami, menjaga anak, mengantar anak ke sekolah dan waktu senggang menemani mereka belajar dan bermain. Oh, indah sekali mimpi itu andai jadi kenyataan.
***
Maret, 2006
“Selamat Pagi.”
Aku terperanjat saat tangan mungil memegang bahuku. Terdengar samar sapaan yang diiringi senyum manis dari dua orang asing yang berdiri di hadapanku.
Pandangan terasa buram, mata sulit kubuka. Bukan karena masih ngantuk, tapi semalaman aku tidak bisa mengontrol butiran-butiran bening yang terus menghujani pipi tirusku. Kepala pun tersa pusing karena hingga hampir pajar menyongsong, kantuk tak kunjung tiba.
Dengan pikiran yang masih setengah melayang, aku pandangi setiap sudut ruangan, kamar yang asing, dan orang yang asing pula. Anak itu bukan putriku, wanita paruh baya itupun bukan ibu. Emh, siapa mereka? Aku dimana? Aku pun memcoba mengumpulkan ingatan, memutar memoriku ke hari kemarin.
***
Suhu dingin masih membalut Taiwan kala pertama kupijakan kaki di Bandara Tau yuan. Tubuh kurusku yang hanya terbalut jaket tipis berwarna merah yang diberikan PJTKI, sewaktu aku mau terbang, terasa menggigil. Mungkin aku belum terbiasa dengan cuaca negri Formosa.
Entah seperti apa penampakanku kala itu. Namun yang jelas aku merasa seperti orang bodoh. Diantara gerombolan orang-orang yang lalu-lalang, aku kebingungan dan merasa seperti orang aneh. Kebetulan aku belum berpengalaman ke luar negri, dan di berangkatkan hanya sendirian oleh PJTKI. Sungguh peristiwa itu jadi sesuatu yang tidak dapat terlupakan seumur hidup.
Saat tiba di Agency, disuguhkan dengan peristiwa yang membuat nyali ciut. Aku melihat, agency memukul tangan putranya dengan sebatang rotan, sebagai hukuman. “Oh, Tuhan apakah majikanku juga akan segalak itu?” pikirku.
Kekhawatiran menghiasi malam saat menginap di rumah agency, gelisah tak menentu membayangkan sosok seperti apakah majikanku? Esok paginya aku diantar ke tempat majikan, seorang wanita paruh baya dan anak laki-laki berumur sekitar tiga tahun menyambutku dengan senyum manis dan sapaan ramah. Rasa khawatir dan takut pun lenyap seketika. Apalagi saat mendengar celotehan, Yiyi keke, sapaan anak kecil yang kelak harus kujaga. Rasa rinduku pada putri tercinta, yang ku pendam selama lebih dari dua bulan, terobati.
“Halo, what is your name?” sapanya.
Sesaat aku terdiam aku bingung harus jawab apa? padahal walau aku cuma lulusan SMP, aku pernah belajar bahasa Ingris, dan bisa mengerti sedikit. Tapi, mungkin terlalu grogi membuat lidah ini tiba-tiba kelu, sampai-sampai harus penerjemah yang menjawab pertanyaan anak itu.
“Her name is Nunung.”
“Oh, Nono?” ucap anak itu.
“No …, no, no, no, not Nono, but Nunung!” jelasku.
“No-No,” ejanya lagi.
“No …. Nunu.”
Berulang kali aku menjelaskan namaku, namum wanita paruh baya itu yang tidak lain adalah majikanku, dan cucunya masih saja sulit mengucapkannya. Akhirnya mereka memangilku, Nono! Emh, salah tapi ya sudahlah yang penting aku yakin keluarga majikanku yang bermarga Lin ini, adalah keluarga baik-baik, dan sopan.
Penerjemah membantu menjelaskan tugas-tugasku. Jobku menjaga kakek berumur 85 tahun. Namun, karena kakek masih bisa beraktivitas dan tidak terlalu perlu di jaga, tugasku beralih menjaga cicitnya, dua balita. Satu perempuan berumur satu tahun bernama Jane, dan satunya lagi laki-laki berumur tiga tahun bernama Yiyi. Bangun, jam 06 pagi, dan harus menyiapkan sarapan, juga membereskan rumah. Tapi, fokus pekerjaan utama menjaga anak, pekerjaan lain bisa di nomor duakan.
“Nono …, Nono …!”
Suara pangilan itu, mengagetkanku lagi. Aku terperanjat saat tersadar dari lamunan. Jarum jam menunjuk angka 08: 00, dari sudut jendela kaca kamar diam-diam Sang Surya mulai mengintip.
“Ya Tuhan! Sudah siang, aku kesiangan! Ya Allah bagaimana ini?” bisikku panik.
“So …. So …. Sory Laupaniang, saya kesiangan,” ucapku gugup.
Aku ketakutan setengah mati, apalagi saat mengingat bagaimana agency memukul putranya saat itu. Aku takut sekali!
“Nggak, apa-apa mungkin kamu lelah,” ucap nyonya, diiringi senyum manis, “ayo bangun, sarapan, nanti siang mei-mei akan datang dari Yilan.”
Tidak kuduga! Sungguh, syukur alhamdulilah, Allah memberikan majikan yang sangat baik pada perjalanan pertamaku di luar negri.
Mei-mei? sebenarnya aku masih bingung saat itu. Saat nyonya menyebut nama mei-mei, siapa dia? Tapi, setelah waktunya tiba, aku baru tahu mei-mei itu adik dari Yiyi keke, anak perempuan cantik berambut ikal, namun sangat cengeng.
Senjak dilahirkan anak itu tinggal bersama nenek dari ibu di Yilan, karena ibunya sibuk bekerja sebagai suster. Sedangkan nenek yang di Taipei, nenek dari ayah sibuk menjaga Yiyi keke.
Banyak sekali kenangan dan pelajaran hidup yang bisa kuambil dari perjalanan pertamaku di Taiwan. Aku mengenal banyak teman, mengerti apa itu kebahagiaan sesungguhnya.
***
Ini hari pertama aku diijinkan mengajak anak-anak yang aku asuh jalan-jalan dan bermain di taman, setelah terkurung satu bulan di rumah. Mungkin terlalu pagi, maka suasana pun masih sangat sepi, hanya ada beberapa anak di arena bermain. Aku duduk diatas batu di sudut taman, memperhatikan anak-anak yang asyik bermain ayunan. Tiba-tiba seorang wanita cantik diatas sepeda menyapaku.
“Mbak, Indo ya?” teriaknya.
Aku, yang pemalu dan tak terbiasa bersuara keras hanya menganguk sambil tersenyum, dan wanita cantik itupun berlalu sambil melambaikan tangan, karena lampu hijau sudah menyala.
Selang berapa menit, saat aku asik membaca buku. Aku dikagetkan dengan tepukan tangan di bahu kiri.
“Hey! Khusyuk banget bacanya,” sapanya.
Emh, wanita cantik tadi. Dia tersenyum dan duduk di sasampingku. Mengajak berkenalan, dan banyak bercerita, dia juga menanyakan pekerjaanku.
“Menjaga mereka,” jawabku
“Wah, dua! repot sekali,” ucapnya.
Saat jariku menunjuk ke arah anak laki-laki yang sedang asyik bermain, dan mei-mei yang asik dengan mainanya di dalam kereta bayi.
Aku hanya tersenyum mendengar komentarnya, wanita itupun tersenyum. Namanya Amalia, usia 27 tahun lebih tua dua tahun dariku. Dia menjaga nenek berusia 90 tahun, keluarga majikannya juga baik sama seperti majikanku. Ameilia, adalah anak Indonesia pertama yang aku kenal di Taiwan, dan dia jadi sahabat pertamaku. Sosok yang ramah, dan selalu mampu memberikan semangat kala aku merasa mulai lelah dan rindu rumah.
Tak terasa, dua bulan sudah aku di Taiwan. Walau kadang masih meneteskan air mata menahan rindu yang menggunung, namun aku masih terus bertahan demi cita-cita mendapatkan kehidupan yang lebih baik kelak. Aku ingin menyekolahkan putriku setinggi mungkin. Mengingat akan kesusahan hidup di kampung, ingat kala putriku merengek meminta jajan, sedangkan di tangan cuma cukup untuk beli beras, kesulitan-kesulitan itu yang kadang mencambukku untuk lebih semangat.
Walau sebenarnya menjaga dua anak itu tidak mudah, apalagi si kecil yang cengenya minta ampun. Tapi, aku anggap anak-anak itu seperti anakku sendiri. Aku menyayangi mereka, begitu pun dengan mereka.
Orang bilang aku sangat polos, aku terlalu lugu untuk hidup di kota metropolitan seperti Taipei. Maklum aku berasal dari kampung, rumahku tepat di kaki gunung. Pergaulanku pun tidak luas.
Minggu pagi yang cerah, seperti biasa aku telah duduk di sudut taman.
Pengujung Mei yang indah! Aku suka dengan cuacanya, mentari cerah, kehangatanya membalut kulitku. Di taman kini aku tidak sedirian lagi, ternya banyak sekali teman-teman dari Indonesia yang berprofesi sama sepertiku, seorang BMI. Kini temanku bukan cuma Amalia, ada Santi, Dewi, Mbak Atun, dan masih banyak. Tapi mereka semua berasal dari Jawa Timur, Dan Jawa Tengah, bahasa kami berbeda. Aku sendiri dari Jawa Barat bahasaku sunda, jadi kadang aku hanya bengong tidak mengerti saat mereka saling merumpi. Ya, buku-lah yang jadi teman baikku kala itu. Aku, memilih membaca daripada nimbrung tapi tidak nyambung.
Juli, 2006
Pagi ini ada teman baru, dia berasal dari satu daerah denganku. Aku sangat bahagia saat itu, terasa bertemu sodara, kami pun akrab. Dia sudah seperti kakakku sendiri, namanya Any.
Mbak Any, pernah datang ke Taiwan sebelumnya. Katanya kali ini nasibnya tidak seberuntung dulu, nenek yang ini cerewet dan suka mukul. Aku jadi iba padanya.
Sore itu aku kepasar membeli sayur, anak-anak kutitipkan pada nyonya. Di pinggir taman, aku melihat Mbak Any sedang berbincang dengan seorang wanita paruh baya, yang nampak elegan dengan gaun pink-nya. Aku tidak berani menyapa, aku takut wanita itu majikannya. Kata Mbak Any, majikannya tidak suka dia mengobrol dengan sesama BMI. Emh, kasihan! Namun, belum berapa langkah kakiku beranjak, Mbak Any memangil, aku pun menghentikan langkah, dan menunggunya yang berlari ke arahku.
“Teh, Tadi siapa? Majikannya ya?” tanyaku.
“Bukan! Dia orang baik, aku mengenalnya kemarin di rumah sakit,” jawabnya.
Aku hanya manggut-mangut, sementara dia meraih tanganku dan bergelayut manja. Kebetulan rumah kami satu arah, sepanjang perjalanan dia bercerita tentang kekejaman majikannya.
***
Ada satu hal yang takkan pernah aku lupakan seumur hidupkku, di perjalanan pertamaku itu. Kebodohan, dan kepolosan telah membuahkan sesal yang tak terkira dalam hidupku.
Masih terngiang di telinga. Saat itu, aku masih di penampungan PJTKI, seorang wanita tambun berkulit sawo matang, namanya Sasa. Dia, pernah bekerja di Taiwan, namun hanya 7 bulan saja, entah apa alasannya dia pulang? Namun, dia sering sekali bercerita tentang keburukan majikannya, tapi aneh juga kalau aku berpikir dengan otak yang jernih. Dia sangat marah pada orang Taiwan, bola matanya membara kala bercerita. Tapi, kok, dia masih ingin kembali ke negara itu? Yah, dia sedang proses ke Taiwan lagi. Emh, heran!
Suatu malam dia bercerita ‘Ingatlah, majikan kalian itu yang gaji kalian, orang-orang di sekelilingnya sekalipun keluarga jangan sampai kalian kasih hati, mereka akan menginjak-injak harga diri kalian, memperlakukan kalian seenaknya kalau kalian baik,’ ucapnya.
Ucapanya itu terus terngiang di dinding telingaku. Sungguh aku yang bodoh, dan terlalu polos. Aku terpengaruh dengan ucapanya. Seakan ada magnet negatif yang mengikat hatiku.
Di rumah majikan, ada nenek ‘nyonya meng menggajiku’, ada ibu dan ayah anak-anak dan juga, Aco ‘bapak dari tuan’. Sementara tuan sendiri tinggal di Cia yi, mengurus pabriknya, sebulan sekali dia pulang ke Taipei.
Kata-kata Sasa bak racun dalam kehidupanku, aku terpengaruh!
Setiap pagi, ibu dan ayah anak-anak yang kujaga selalu menyapaku dengan ramah, namun sebaliknya wajah cemberut selalu kupasang untuk mereka. Di benakku tertanam “mereka bukan majikanku, mereka tidak menggajiku’ kalau diingat kembali, sungguh picik pikiranku saat itu.
Agustus, di hari ulang tahunku. Teman-teman ingin mengadakan pesta perayaan untukku katanya. Jam 08:00, seusai buang sampah kami janji berkumpul di taman. Sorenya aku meminta ijin pada nyonya, dia pun mengijnkannya dan menyarankan anak-anak dititipkan pada orang tuanya karena nenek tidak bisa membantuku menjaga anak-anak. Nenek tidak tinggal bersama kami lagi, dia tinggal di apartmen barunya.
Malam setelah buang sampah aku berlari ke taman menemui teman-teman. Bukan lupa, aku pergi tanpa pamit pada ibunya anak-anak, namun aku sengaja. Pikirku, dia bukan majikanku, nenek majikanku karena dia yang menggajiku.
Kejutan demi kejutan indah mengiringi malam ulang tahunku. Di taman teman-teman sudah berkumpul, dengan kue tart yang cukup besar dan juga kado. Air mata pun, tak dapat kukontrol, mengalir begitu saja membiaskan rasa haruku. Semua begitu indah.
Seusai perayaan sekitar 40 menit, kami pun pulang. Senyum ceria menghiasi perjalananku menuju rumah. Setiba di depan pintu, anak laki-laki yang aku jaga sedang duduk di tangga sendirian. Dia menatapku, aneh.
“Aku menunggumu lama di sini,” ucapnya.
Aku segera menghampirinya, mengangkat tubuh mungil itu dan menaruhnya di pangkuan, kukecup manja pipi mulusnya.
“Maaf, tadi aku ada acara,” ucapku.
“Mama mencarimu! katanya kalau kamu pulang suruh kekamarnya.”
Ah, jantungku mendadak berdebar kencang. Pikiranku kacau.
“Pasti kena marah,” pikirku.
Anak itu segera beranjak dari pangkuan, dan menarik tanganku, menuntunku menuju kamar ibunya.
Suasana kamar masih terang, mei-mei pun masih terjaga. Ta Sau, pangilanku pada ibunya anak-anak, dia sedang menikmati acara tv. Sementara Ta Ke, ayah anak-anak tidak ada di rumah. Menyadari kehadiranku, Ta Sau mematikan tv-nya, dan mengalihkan pandangannya ke arahku.
“Kamu dari mana?” tanyanya.
“Maaf, tadi aku ada acara,” jawabku.
Walau kata-kata Sasa, masih menanamkan keangkuhan di hatiku, tapi saat melihat Yiyi keke di tangga tadi, aku tahu salah, lalai dari tugasku. Seharusnya tadi aku titipkan dia pada ibunya dulu. Meraka itu tanggung jawabku sekarang, aku digaji untuk menjaga mereka. Hanya Tuhan yang tahu, betapa tertekannya batinku kala itu.
“Acara apa?” tanya Ta Sau lagi.
“Aku ulang tahun,” jawabku pelan.
“Nono, kamu sayang tidak sama anak-anak?”
Pertanyaan yang aneh, tapi berhasil membuat detak jantungku semakin berpacu kencang.
“Tentu saja! Mereka sudah kuanggap anak sendiri.”
“Emh, kalau begitu kenapa kamu tidak mengajak mereka ke acaramu? Bukankah acara itu, perayaan ulang tahunmu? Apa kamu tidak ingin berbagi kebahagiaan dengan orang yang kamu sayang?”
Ya Allah, aku semakin merasa bersalah, kenapa tadi aku tidak berpikiran seperti itu.
“Keke!” pangil Ta Sau sambil melirik aneh ke arah putranya.
Ta Sau pergi ke kamar mandi, sementara keke tiba-tiba mematikan lampu. Ya Tuhan, sulit kubendung air mataku, aku merasa bersalah pada Ta Sau, dia selalu baik padaku, tapi aku …, Ya Allah.
Ta Sau keluar dari kamar mandi membawa kue tart berbentuk Kity berwarna pink, diiringi nyanyian selamat ulang tahun. Aku sangat terharu. Aku menangis sejadi-jadinya, bersimpuh meminta maaf atas khilafku. Wanita itu sungguh berhati emas, dia hanya tersenyum dan bilang kamu baru, belum kenal siapa kami. Dia pun menjelaskan untuk menganggap keluarganya seperti keluarga sendiri. Aku benar-benar merasa malu dengan sikapku selama ini, aku juga merasa beruntung tinggal di keluarga itu.
Di sini aku tahu, kalau sejatinya kebahagiaan itu ada dalam hati kita sendiri, pekerjaanku kini tanpa beban karena tak ada kebencian. Kujalani hari-hariku penuh keceriaan.
Tanpa beban hati dan pikiran, seberat apapun pekerjaan terasa ringan. Walau pada kenyataan sifat rewel dan nakal Jane, kadang sampai membuat aku harus meneteskan air mata menahan marah.
Aku bukan tipe perempuan yang bisa meluapkan kekesalan dengan marah-marah, tapi dengan menyendiri atau meluapkan dengan tangisan cukup membuat hatiku lega.
Jane mulai besar, namun cengenya belum juga berubah. Bahkan sikap seenaknya semakin menjadi, makan saja sampai harus dua jam. Malam sulit tidur, kadang jam 11:00 lebih, masih melek. Tapi terus terang aku sangat menyayaginya seperti putriku sendiri.
Seperti biasa, Minggu pagi aku sudah membawa anak-anak bermain di taman. Kali ini tidak seperti dulu, Jane sudah pintar berlari ke sana kemari, harus ekstra hati-hati menjaganya. Aku tidak bisa duduk santai seperti dulu lagi. Gadis mungilku itu super aktif.
Teman-temanku yang melihat kebandelannya hanya memandangiku, dan menggeleng kepala.
Saat aku duduk beristirahat di bawah pohon sambil mengelap keringat anak-anak. Seorang wanita cantik menghampiriku, wajahnya terasa tidak asing. Dia, wanita yang pernah kulihat tahun lalu berbincang dengan Mbak Any.
Awalnya dia basa basi, memuji anak-anak yang kujaga, lucu katanya. Lama-lama dia mulai mengutarakan isi hatinya, dia bilang dia iba padaku. Aku nampak lelah menjaga anak-anak, dia pun menyinggung tubuhku yang kurus. Yah, memang semenjak Jane pintar berjalan aku semakin lelah, berat badanpun turun drastis. Tapi jujur aku bahagia bersama mereka. Akhir dari kalimatnya dia menawarkan pekerjaan baru padaku, dengan iming-iming gaji yang sangat mengiurkan. Katanya kalau aku sudah siap, aku bisa menghubunginya dan dia akan menjemputku.
Sebelum berlalu, dia selipkan nomor teleponnya di pangkuanku.
Peristiwa itu cukup membuatku gelisah, hampir saja aku terbuai. Beruntung Amalia, mengingatkan untuk tidak tergoda, dia menyarankan agar nikmati saja pekerjaanku sekarang. Lagipula, aku sudah terlanjur jatuh cinta pada keluarga ini, jadi kubuang saja nomor teleponnya, dan melupakan semuanya.
***
Sudah sangat lama aku tidak bertemu dengan Mbak Any, tiba-tiba aku merindukanya. Aku orangnya ngirit, jarang menelpon teman kalau tidak terlalu penting.
Seperti ada ikatan batin anatara aku dan dia, saat aku sedang mengetik pesan untuknya, ponselku bergetar lebih dulu. Nama Any muncul di layar. Aku segera menekan tombol ON untuk menerima pangilanya. Belum sempat kuucap salam, suara tangis terdengar dari ujung telepon. Mbak Any mengajakku untuk ketemu setelah buang sampah, suaranya terdengar begitu tertekan dan memilukan.
Setelah buang sampah aku pun menemuinya di taman. Matanya nampak masih sembap, aku yakin dia dalam masalah.
Seperti dugaanku, dia bercerita kalau ibunya sakit dan harus dioperasi, dia butuh uang dan berniat meminjam 20.000 NT, padaku. Sebenarnya aku tidak tega, tapi aku juga tidak punya uang sebanyak itu, aku hanya mempunyai uang 7000 NT. Aku berjanji akan meminjamkanya 5000, besok pagi.
Sepertinya kehendak Tuhan, lain. Esok harinya aku tidak bisa keluar rumah sama sekali, Aco sakit.
Bukan bermaksud ingkar, Empat hari aku terkurung oleh tanggung jawab di rumah. Hari ke Lima aku paksakan diri lari ke taman sebentar. Aku terus memikirkan Mbak Any, dia butuh bantuan. Aku mencarinya namun dia tidak ada, hanya ada Amalia dan teman-teman yang lain sedang sibuk merumpi.
Melihat kehadiranku Amalia segara menghampiri. Tak ingin buang waktu aku segera bertanya tentang Mbak Any, tadinya aku ingin menitipkan uangnya pada Amalia. Namun betapa terkejutnya aku saat dia bercerita kalau Mbak Any kabur dua hari yang lalu.
Oh Tuhan! Mendengar semuanya ada perasaan yang berkecamuk di dada, ada sedih karena aku merasa kehilangannya, ada juga syukur karena uangku selamat.
Sejenak suasana hening, hanya terdengar sayup-sayup suara derai tawa teman-teman lain yang asyik merumpi di sudut taman.
“Sebenarnya jujur aku sangat kasihan sama Mbak Any,” ucap Amalia memecah keheningan, “kamu tahu? Dulu dia pernah ke Taiwan. Namun, keberangkatannya yang pertama dia kurang beruntung karena uangnya dihabiskan oleh suaminya, bahkan suaminya tega menikah lagi. Dan keberangkatannya yang ke dua, kamu tahu sendiri majikanya seperti apa? Di tambah lagi agency yang lebih memihak pada majikan. Aku bisa membayangkan bagaimana perasaan Mbak Any, kasihan sekali!”
Sesaat Amalia menghentikan ceritanya, jari-jari lentik menghapus butiran-butiran bening yang tak terkendali menghujani pipinya. Mataku pun mulai beriak kala mendengar ceritanya.
“Dulu, benerapa bulan lalu. Aku memergoki dia sedang menangis tersedu-sedu di sini, di taman ini! Lalu dia bercerita tentang keluarganya. Kata Mbak Any, keluarganya hanya menganggap dia seperti ATM, layaknya mesin pencetak uang. Terutama kakaknya yang membantu mengurus putri Mbak Any, dia seolah menjadikan anak sebagai senjata untuk menguras uang Mbak Any.”
Mendengar cerita Amalia tentang Mbak Any, hatiku tersentuh. Ternyata aku sangat beruntung, aku memiliki keluarga dan juga majikan yang baik dan perhatian. Benar kata Amalia dulu saat aku sedikit putus asa oleh kenakalan Jane, masih banyak orang yang lebih kesulitan dari kita, ucapnya.
Dulu aku sering mengeluh. Mungkin tuhan salah dengar! pikirku. Tapi sekarang aku sadar, banyak sekali hal baik yang kudapat dari-Nya. Andai saja, aku hanya dirumah mengurus anak apa mungkin aku bisa mencukupi apa yang anakku butuhkan? Banyak sekali nikmat yang kulupakan. Di Taiwan aku bisa mencukupi kebutuhan keluargaku, walau sedikit aku bisa membaca dan menulis bahasa mandarin, bahasa Igrisku pun sedikit lebih lancar tanpa harus sekolah, walaupun aku wong deso tapi bisa belajar komputer, bahkan punya laptop sendiri. Nikmat apa lagi yang harus aku dustakan, Allah telah memberikan segalanya yang terbaik untukku. Rencana-Nya memang maha sempurna.

Tau yuan, 18, April, 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *