The Light at Formosa’s Sky (Cahaya di Langit Formosa)

Eny Trihariyanti / The Light at Formosa’s Sky (Cahaya di Langit Formosa) / tidak / tenaga kerja asing The Light at Formosa’s Sky (Cahaya di Langit Formosa) Mataku mata ikan, tak dapat terlelap malam ini. Sesekali mencoba memejamkan kedua bola mata namun pikiranku melayang. Terpaku memandang wajah malaikat-malaikat yang terlelap pulas di atas tikar tua. Maksud hati ingin … Continue reading “The Light at Formosa’s Sky (Cahaya di Langit Formosa)”

Eny Trihariyanti / The Light at Formosa’s Sky (Cahaya di Langit Formosa) / tidak / tenaga kerja asing

The Light at Formosa’s Sky
(Cahaya di Langit Formosa)
Mataku mata ikan, tak dapat terlelap malam ini. Sesekali mencoba memejamkan kedua bola mata namun pikiranku melayang. Terpaku memandang wajah malaikat-malaikat yang terlelap pulas di atas tikar tua. Maksud hati ingin memberikan selembar kertas hasil seleksi SNMPTN yang sudah berada dalam genggaman. “Bismillah, ini waktu yang tepat Aya!” gumamku dalam hati seraya menepuk dada dan menghela nafas panjang.
Aku mendekati malaikat itu. Segaris senyuman seperti mekarnya bunga desember yang merah merekah menghiasi raut wajahku. Belum sampai tangan menyentuh raganya. Tiba-tiba Ibu berbisik lirih dengan mata setengah terjaga. Segera kulipat kertas tadi memasukkannya kedalam saku celana.
“Aya, masih belum tidur?” tanya Ibuku sembari bergegas menuju dapur mengambil baskom berisi air hangat dan handuk.
“susah tidur Bu, siapa yang sakit? Citra?”
Ibu hanya menggelengkan kepala. Aku berpikir bahwa yang sakit adalah Citra adikku yang berumur 3 tahun Atau Aji kakakku. Kecemasanku mengikuti langkah Ibu dari dapur menuju kamar. Ia meletakkan kompresan itu diatas leher Bapak.
Apa yang terlihat adalah sebuah jawaban pertanyaanku. Ibu memberi tahu hasil lab dari puskesmas. Bapak terkena infeksi tenggorokan. Benjolan di lehernya semakin membesar. Menyulitkannya untuk menelan makan atau minum. Tubuhnya semakin kurus dan sudah tak mampu bekerja. Dokter menganjurkan segera dioperasi tapi, kendala biaya dan keadaan keluargaku yang jadi masalah.
“jangan cemas Ay, kita berdoa semoga ada jalan keluar. Bagaimana hasil beasiswanya?” ibu mengalihkan pembicaraan.
“Maaf Bu, Cayaha gagal” jawabku singkat.
Suasana menjadi hening. Air mataku tumpah tak dapat dibendung. Ibu mendekapku erat. Belaian tangan, tutur kata, dan pelukannya terasa hangat. Tak terasa ingusku menempel dibajunya. Sebenarnya, aku mendapatkan beasiswa masuk perguruan tinggi. Aku terpaksa berbohong karena tidak ingin menyulitkan keadaan keluargaku.

Yang kami butuhkan saat ini adalah uang. Aku harus mencari biaya operasi bapak. Kebutuhan sehari-hari, menyicil hutang, dan biaya adikku yang masih TK. Mereka berharap banyak terhadapku. Apa yang harus aku lakukan?.
Raja pagi telah menampakkan sinarnya. Aku mengasingkan diri di bawah pohon rindang. Buku harian usang dan pena yang tintanya hampir sekarat menjadi teman sekaligus bidang kemarahanku. Sambil menatap langit dan berpangku tangan membuka menutup diary dengan kasarnya. Tiba-tiba ada yang menarik perhatianku. Aku melihat sesosok bayangan hitam besar seolah-olah akan menerkamku dari arah belakang.
Awalnya aku takut tapi, matahari di siang itu begitu teriknya bayangan itu nampak jelas seperti tokoh wayang Semar. Sontak menggengam kedua tanganku seperti pose meminta. Aku harap itu Jin Botol yang bisa mengabulkan 3 permintaan atau Doraemon yang punya kantong ajaib. “Jreng…jreng…jreng iwak peyek nasi jagung yuhuu”
Ternyata kakakku Aji datang dengan petikan sinar gitarnya. Dengan ekspresi datar, aku hanya menurunkan kedua tangan yang mengadah tadi. Ditariknya tanganku tanpa sepatah kata, hanya teriakan namaku yang terdengar.
“Ay!”
“Oalah Mas, ngamen lagi?”
“Kamu malu? Yang penting kan halal!”
“Maksudku bukan begitu, Mas bisa mendapat kerja yang lebih baik menggunakan ijazah SMA kan?” jelasku.
“Dipikir nyari kerja itu gampang apa? Kamu sendiri juga belom kerja kok! kerja apapun yang penting halal dan menghasilkan duit!”
Aku diam mengiyakannya. Mas Aji mengeluarkan uang recehan hasil mengamen. Aku memberitahu keadaan Bapak yang sakit. Saat ini, kami berpikir keras mencari jalan.
“Kerja di Taiwan asyik juga ay! Temen mas Aji banyak yang sukses kerja disana lho” cetus mas Aji.
“Gundulmu mas! Ngomong itu mbok ya dipikir dulu! Kenyataan tak seindah drama taiwan METEOR GARDEN !”jelasku.
“Cari biaya operasi Ay!”
Aku sempat berpikir keras tentang saran kakaku. Mungkin ini jalan untuk mencari biaya operasi Bapak, masa depan keluarga dan masa depanku kelak. Berhari-hari kuberanikan diri menghasilkan tekad bulat. Awalnya orang tuaku tidak mengizinkan bekerja ke luar negeri. Tapi akhirnya mereka mengizinkan meskipun dengan berat hati.
Keesokannya, aku pergi ke koperasi simpan pinjam yang berada di desa. Aku meminjam uang untuk operasi Bapak dengan ketetapan bunga yang dibayar tiap bulannya. Bapak sudah berada di rumah sakit menjalani operasi. Kuintip dari pintu ruangan yang setengah terbuka. Ibuku memangku adikku dengan wajah bermuram durja.
Aku bersandar di dinding luar yang dingin dengan mata berkaca-kaca.
“Aku harus kuat! Sampai kapan? Kamu melihat Bapak mencari kayu bakar di hutan dan melihat Ibu menjadi buruh cuci baju tetangga!” Aku berbicara pada diriku sendiri.
Kubuka daun pintu menghampiri Ibu mengajaknya pulang.
Beliau terlihat letih sekali. Selang waktu berganti, And Aji datang menjemput kami menggunakan sepeda motor tua era 70-an. Selama di perjalanan, Mas Aji memberitahu persyaratan tentang PT yang menjadi tempat pelatihan TKI. Mas Aji mendadak berhenti di sebuah salon. Aku dan ibu dibuat keheranan.
“Eh Mas, mau ngajak kita nyalon? Atau cuma numpang parkir aja!”
Mas Aji memegang pundakku dan berkata,
“Rambutmu ay! Rambutmu!” jawabnya.
“Lah rambutku panjang dan rapi kok mas”
“Kenapa sama rambutnya aya?” Sambung Ibuku.
“Peraturannya rambut harus dipotong model cowok. Kayak rambutku.” jawab Mas Aji memamerkan gaya rambutnya.
Kami bertiga saling bertatap muka sejenak. Rasanya jatuh tertimpa tangga pula. Perasaan sedih saat berada di depan cermin melihat mahkota terakhirku. Alat-alat pemotong rambut telah menebas habis setiap helai rambutku. Air mata dan potongan rambut jatuh bersamaan.
“Wah kamu tampan Ay” berbicara di depan cermin sambil mengusap air mata yang tak henti menetes.
“Cahaya, akan tetap cantik dengan wujud apapun di mata Ibu” diraihnya tanganku yang bergemetar. Kamipun melanjutkan perjalanan pulang.
Sesampainya dirumah, aku mempersiapkan baju dan perlengkapan selama pelatihan. Lusa adalah jadwal keberangkatanku masuk PT. Aku hanya membawa beberapa pasang baju secukupnya. Dari kecil hingga beranjak dewasa hanyalah baju-baju bekas pemberian tetangga tempat ibuku bekerja yang memiliki anak seusiaku.
Aku mulai memasukkan semua perlengkapan kedalam tas. Sebuah tas yang terlihat seperti peninggalan nenek moyang. Jadul, kusam dan terdapat motif robekan-robekan kecil yang kasat mata.
Diwaktu bersamaan, terdengar suara bising dari arah dapur. Ibuku terlihat pergi dengan terburu-buru membawa panci masak. Aku mengikuti tanpa sepengetahuannya.
Selang beberapa menit Ibu tiba di sebuah toko. Sedang apa Ibu disana? Membawa panci masak? Pikirku keheranan. Akupun tercengang dibuatnya. Kuintip dari celah daun pisang yang menjuntai. Perlahan mendekat mengikuti suara berbisik namun terdengar jelas.
“Mbok! Mbok! kemarin Mbok butuh panci ini buat lebaran kan? Jadi tawar berapa?”sambil meletakkan panci diatas meja.
“Iya, katanya gak jadi dijual? Itu kan kenanganmu kerja semasa menjadi TKI di Arab?”saut Mbok Romlah.
“Ada keperluan mendadak Mbok”
Karena dagangan Mbok Romlah sepi hari itu dan tidak bisa memberikan uang sebagai gantinya, Mbok Romlah menukar dengan salah satu dagangan miliknya. Kulihat Ibuku menunjuk salah satu koper yang lebih murah harganya. Penjualan panci bekas dengan harga koper memang selisih banyak. Ibu berjanji akan membayar sisanya bulan depan.
Air mataku tumpah tak henti menetes kala melihat Ibu menjual panci masaknya kepada Mbok Romlah. Langkahku semakin berat sembari mengelus dada yang kian sesak rasanya. Aku pun berlari kearahnya. Senyuman kecil yang terhias diwajahnya telah menyambut ragaku. Bibirku membisu, tatapanku terpaku padanya.
Hari telah berganti, Bapak sudah diperbolehkan pulang. Alhamdulillah aku bahagia. Kulihat sekitar rumah untuk terakhir kali. Akupun berpamitan kepada Bapak, Ibu, dan Adikku. Aku juga sudah tidak menghubungi teman ataupun kekasihku. Kulepaskan semuanya.
Aku hanya punya ongkos yang pas-pasan untuk perjalanan banyuwangi-surabaya. Mas Aji mengantarkanku ke PT dengan modal gitar dan suaranya. Karena dengan mengamen, ongkos yang tandinya untuk 2 orang penumpang bisa gratis. Semua supir bus di terminal sudah mengenal kakakku. Mas Aji mencarikan kursi untukku. Akupun duduk disebelah jendela.
“Tunggu sini Ay”
“Mas Aji mau kemana?”
“Biasalah, konser tunggal hehe”
Hatiku terenyuh melihatnya berdiri dihadapan para penumpang menyapa dengan kata pamungkasnya.
“Assalamualaikum Pa’e, bu’e dan mbak’e. Ketemu lagi sama saya, artis yang tak pernah masuk TV. Sebuah lagu “Oplosan” akan menghibur anda semua!” seru Mas Aji.
Aku melihatnya bernyanyi beberapa lagu sambil berdiri. Mas aji sudah terbiasa bermain gitar dengan mengangkat gitar diatas kepalanya. Untuk menghindari penumpang yang naik turun. Lalu, Ia menyodorkan kantong plastik kosong bekas bungkus permen kepada penumpang. Ada yang memasukkan uang koin, uang kertas bahkan tidak sama sekali. Ia tetap mengucapkan terimakasih.
Malam telah larut, kami menghabiskan waktu semalam di perjalanan. Setelah bergonta-ganti bus dan terminal. Akhirnya kami telah sampai di depan gerbang PT. Rasa takut yang muncul membuat langkah kakiku menjadi berat. Pagar besi itu telah terbuka lebar di hadapanku. Nampak ratusan calon TKI yang sedang mengantri makan siangnya.
Rupanya, aku benar-benar keluar dari zona amanku dan melihat dunia yang berbeda.

Siang itu juga Mas Aji harus pulang karena tidak diperbolehkan barada di PT.
“Jaga dirimu Ay, kalo ada waktu segera hubungi Ibu, Bapak dan Mas Aji”
“ Pasti Mas, terimakasih sudah mengantar cahaya. Hati-hati dijalan mas”
Langit yang tadinya cerah tiba-tiba mendung menitikkan hujan. Hujan meninggalkan genangan. Hidupku dilanda hujan berkepanjangan. Pagar besi telah tertutup rapat. Kupejamkan mata sejenak, menahan rasa dalam hati. Seorang wanita menyapaku,
“Mbak calon TKI baru ya, silahkan medical di ruang sana. Mari saya antar!”sapanya.
Aku hanya mengangguk mengiyakan mengikuti tahap medical dan persyaratan lainnya. Setelah semuanya selesai, wanita itu menunjukkan tempat tidur dan loker para TKI. Juga memberitahu jadwal apa saja yang harus di lakukan dari pagi-malam. Dari mulai piket membersihkan ruangan, kamar mandi, pelajaran bahasa mandarin, pelajaran suster, praktek memasak dan masih banyak hal lainnya.
Semua hal adalah pertama kalinya untukku. Aku mendapatkan pengalaman dan pelajaran berharga disini. Diajarkan untuk disiplin, saling berbagi dan kekuatan mental. Kenapa menjadi TKI? Ternyata dari sekian alasan yang aku tampung, masalah umum adalah ekonomi. Sulitnya lapangan pekerjaan di negara sendiri untuk orang yang terbatas pendidikan. Bahkan yang lulusan sarjana saja terkadang masih bingung mencari pekerjaan.
Semua orang datang dengan alasan berbeda namun, tujuan yang sama yaitu sukses. 4 bulan kemudian, masa pendidikan dan ujian telah usai. Jadwal penerbanganku sudah ditetapkan. Aku menghubungi kedua orang tuaku untuk datang menjengukku. Perasaanku sedikit campur aduk rasanya. Aku menunggu orang tuaku yang akan datang hari ini.
“Ni hau? ada yang namanya cahaya? Ditunggu keluarganya di pendopo sekarang.”
“Hau, xie-xie.” Jawabku dan bergegas lari menuju pendopo.
Dari kejauhan terlihat kedua orang tuaku telah menunggu. Kucium dan kupeluk erat mereka. Kedua orang tuaku diperbolehkan menginap karena besok jadwal penerbanganku ke taiwan.
“Bagaimana disini Ay? kamu nggak apa-apa kan nak?” tanya Ibuku.
“Aya sudah terbiasa, Ibu dan Bapak tidak usah mengkhawatirkan Aya”
“Jika kamu berubah pikiran, ayo kita pulang saja nak” sahud Bapak.
“Langkah Aya sudah sampai sejauh ini, Aya Cuma minta doa saja. Ini demi mengubah nasip keluarga kita.”
Senja sore itu sudah tak nampak. Langit mulai petang berganti malam. Ibu membawa bekal dari rumah semua makanan kesukaanku. Nasi yang di bungkus daun pisang, sambal teri, sambal goreng tempe dan kerupuk. Kami makan bersama dengan lahap. Entah rasa sambal yang terlalu pedas membuat mataku selalu berair. Sebuah tangisan bahagia menikmati detik terakhirku bersama mereka. Hingga waktu istirahat tiba, aku tertidur lelap dalam dekapan orang tuaku.
Ini adalah jam-jam terakhirku meninggalkan mereka. Formosa? Kenapa harus aku? Seorang puteri di negara sendiri telah menjadi upik abu di negara lain. Ada kalanya, kehidupan seseorang yang awalnya terang benderang seketika gelap gulita. Sesak rasanya bila meratapi kenyataan di hadapanku. Mau dikata apa? Inilah hidup! Suka atau tidak suka semua berjalan sesuai garis-NYA. Aku juga sudah menitipkan surat untuk kekasihku kepada Ibuku.
“Assalamualaikum Arga, terimakasih atas 6 tahun terakhir kita bersama. Ada kalanya orang dihadirkan untuk menjadi masalalu dan tidak untuk masa depan. Jika kita ditakdirkan berjodoh, sejauh apapun kita terpisah maka kita pasti akan bersama. Setidaknya aku sempat memiliki pangeran yang mencintai gadis biasa sepertiku. Salam manis cahaya.”
Keesokan harinya, waktu menunjukkan pukul 03.00 pagi. Aku bergegas mandi di temani Ibuku. Sambil mendengarkan nasehat-nasehatnya. Setelahnya, aku mengambil koper bersama teman-teman TKI. Selang beberapa menit sebuah mobil merah datang menjemput. Air mata kedua orang tuaku tak kuasa menahan isak tangis. Air matanya membasahi bajuku tepat pundak sebelah kiri saat kami berpelukan. Tanpa daya memasuki mobil yang akan membawaku ke bandara. Kulihat dibalik kaca mobil dari dalam mereka melambaikan tangan untuk perpisahan sementara ini.
“Selamat tinggal Indonesia”
Terbang dengan maskapai penerbangan asing dari bandara surabaya menuju taiwan. Aku melihat bentangan luas samudera di balik awan cerah. 7 jam kemudian aku telah sampai di bumi formosa. Aku duduk di bangku menunggu antrian sampai namaku dipanggil. Aku membuka tas kecil mencari makanan karena perutku mulai lapar. Kulihat isi dompet hanya terdapat uang Rp.2000 saja. Sungguh terlalu!.
Selang beberapa menit, Agency menjemputku dibandara dan melanjutkan perjalanan ke kantor agency. Karena sudah terlalu malam, besok pagi agency akan mengantarkanku ke tempat majikan. Aku mendapatkan job menjaga seorang nenek yang lumpuh total, ada selang sonde, sedot dahak, membantunya berbaring, tepuk punggung dan masih banyak pekerjaan pembantu pada umumya.
Terik surya telah menyapa hangat jiwaku di langit formosa. Kicauan burung pagi hari bersenandung merdu berterbangan riang di angkasa. Aku telah tiba di rumah majikan. Alhamdulillah semua menerima dengan baik. Kulakukan pekerjaan dengan sepenuh hati. Aku banyak mendapatkan kebaikan disini, mereka memperbolehkan sholat, mengaji dan menghubungi keluargaku. Sekarang aku berfikir, Taiwan seindah drama “Meteor Garden” pasalnya nenek memiliki 4 orang cucu laki-laki. Serasa aku seperti menjadi tokoh San Chai dalam drama F4. Hahaha.. kedatanganku adalah memburu NT untuk mewujudkan impianku di masa depan.
Terlahir dari keluarga sederhana itu tak masalah bagiku, asalkan kaya kebahagiaan bersama orang yang kita sayangi dan selalu ada orang yang menyemangati. Kemiskinan bukan kendala untuk bahagia. Bagiku keluargaku adalah malaikat yang terlihat. Ada Sebuah Cahaya di Langit Formosa yang menerangi hidup seorang Cahaya.

LỜI CON MUỐN NÓI

何秋燕 / LỜI CON MUỐN NÓI / không / Phiên dịch viên LỜI CON MUỐN NÓI Cuộc đời mỗi một người ắt hẳn sẽ có một thứ quan trọng hơn tất cả, trong cuộc đời của tôi, thứ duy nhất ấy chính là bố mẹ, anh chị em…họ chính là những thành viên trong gia đình thân yêu … Continue reading “LỜI CON MUỐN NÓI”

何秋燕 / LỜI CON MUỐN NÓI / không / Phiên dịch viên

LỜI CON MUỐN NÓI

Cuộc đời mỗi một người ắt hẳn sẽ có một thứ quan trọng hơn tất cả, trong cuộc đời của tôi, thứ duy nhất ấy chính là bố mẹ, anh chị em…họ chính là những thành viên trong gia đình thân yêu nhất của tôi.
Gia đình là nơi bình yên nhất, là nơi luôn mở rộng cánh cửa để tôi trở về sau những bộn bề xã hội, là nơi tràn ngập yêu thương và hạnh phúc và đầy ắp những tiếng cười, là nơi mà tôi luôn tưởng nhớ về dù cho có ở nơi đâu.
Gia đình làm tôi quên đi sự yêu thương và nhung nhớ một người nào đó, duy chỉ có gia đình làm con người tôi có thể bất chấp nỗi đau, đánh đổi và hy sinh tất cả chỉ để đổi lấy nụ cười hạnh phúc rạng rỡ trên khuôn mặt của những người mà tôi yêu thương. Và cũng chỉ có gia đình là động lực duy nhất khiến tôi có thể can tâm hy sinh trọn tuổi trẻ để có được những thứ tốt đẹp nhất dành cho họ, có lẽ cũng chính những điều đó đã đưa tôi đến với nơi này, một nơi mà mọi người vẫn thường gọi bằng cái tên thân thương “ Đảo Ngọc Đài Loan”.

******
Bố mẹ thương nhớ của con…!
Vậy là thấm thoát đã hơn 2 năm trôi qua, chỉ còn hơn 8 tháng nữa thôi, con sẽ lại được xum họp bên gia đình mình rồi. Mỗi lần gọi điện về lúc nào cũng cười nói rất vui, nhưng chưa bao giờ con nói ra được một lời, rằng con ở bên này nhớ bố mẹ nhiều lắm, yêu bố mẹ nhiều lắm, con muốn được kể cho bố mẹ nghe thật nhiều chuyện, muốn kể về những suy nghĩ trong lòng con, những trăn trở cuộc đời, những khó khăn, khổ đau hay những niềm vui về cuộc sống của con ở một nơi xa xôi như thế này, con muốn nói thật nhiều, thật nhiều nữa…
Nghĩ lại hơn 2 năm về trước…
Khi con 23 tuổi, cái tuổi mà bạn bè cùng trang lứa đã ổn định công việc, gia đình. Nhưng với con đây mới là cái tuổi của sự bắt đầu.
Gần 1 năm sau khi tôt nghiệp đại học, con đi làm nhưng không giúp đỡ được gia đình điều gì, vì trách nhiệm bản thân,vì muốn được làm đứa con hiếu thảo, muốn trở thành niềm tự hào của gia đình, con đã quyết tâm thi tuyển đi Đài Loan làm phiên dịch, rồi con trúng tuyển được như mong đợi.
Nhớ ngày ấy 26/2/2014, ngày con bay, con không để bố mẹ xuống tiễn, vì con sợ bố mẹ đường xa vất vả, lại sợ không nỡ lòng. Con cũng không có ô tô chở ra sân bay như các bạn mà chỉ có chiếc Jupiter cũ màu đỏ được anh người yêu củ chở con và chiếc va li buộc tạm phía sau lưng, chỉ đơn giản như vậy thôi, nhưng con không hề cảm thấy tủi thân, một chút cũng không.
Và rồi máy bay cất cánh cùng những giọt nước mắt lăn dài trên má, nhớ lời chị dặn dò “sang đó nếu vất vả quá thì về nhé, đừng cố nhớ chưa”. Trong lòng con khi ấy chỉ nghĩ rằng từ khi quyết định đi xa đã hạ quyết tâm, dù cho có khổ đến mấy con cũng sẽ không thất bại trở về. Cứ thế máy bay hạ cánh đưa con đến với mảnh đất này, từng bước chân đầu tiên với những bỡ ngỡ và lạ lẫm vô cùng.
Ngày hôm ấy, Đài Loan chào đón con bằng tiết trời ảm đạm với những hạt mưa lạnh lất phất rơi, xung quanh con mọi người nói nói cười cười, riêng chỉ có con cảm thấy thấy mình thật nhỏ bé và lạc lõng.
Và thời gian cứ thế dần trôi, phấn đấu rõng rã từng ngày từng giờ, mỗi ngày trôi qua con lại học thêm được nhiều điều mới, con ngày càng trưởng thành và mạnh mẽ hơn. Trong thời gian ấy bố mẹ biết không? Con đã rơi biết bao nước mắt, biết bao khó khăn, nhiều lúc làm con muốn bỏ cuộc để trở về với bố mẹ với quê hương. Nhưng nghĩ đến bố mẹ và chị em ở nhà vất vả cơ cực, còn khổ hơn con gấp trăm lần, chỉ nghĩ đến đó thôi là ý chí của con lại vựng dậy, cho con động lực để con có thể vượt qua được tất cả. Năm đầu con khóc nhiều hơn cười, còn buồn nhiều hơn vui, nhưng vì gia đình mình con đã cố gắng rất nhiều, trong công ty con may mắn được mọi người tín nhiệm, được công nhận năng lực, con cũng tự hào rằng mình chỉ là một người Việt Nam nhỏ bé, nhưng cũng không chịu thua kém gì những người Đài Loan khác.
Một kỷ niệm mà có lẽ con sẽ không bao giờ quên được. Đó là vào đầu năm 2016, con gặp phải trở ngại về vấn đề sức khỏe, con ốm và phải nhập viện cấp cứu điều trị 2 lần với căn bệnh viêm phổi, lúc ấy con có tủi thân, nhưng tự an ủi rằng thế đã là gì so với bố mẹ ở nhà chịu vất vả ốm đau cơ chứ, chỉ là một mình nên con hơi buồn một chút xíu thôi. Vẫn may mắn cho con vì đây là Đài loan bố mẹ ạ! Ý tế bên này phát triển và rất thuận tiện , nên con luôn tin rằng bệnh của con sẽ sớm được chữa khỏi. Hai lần con vào nhâp viện, bên cạnh con luôn có những anh chị đồng nghiệp, bạn bè, cả những bạn công nhân của con quản lý, mọi người thay nhau đến chăm sóc cho con rất tận tình. Bên cạnh đó các bác sỹ, y tá ở đây họ cũng rất tốt, nhiệt tình và rất có trách nhiệm, họ chăm sóc cho con từng li từng tí, thực sự mọi người khiến con rất cảm động, con không biết phải cảm ơn họ như thế nào mới đủ. Con cảm thấy mình còn may mắn rất nhiều, vì ở nơi đất khách quê người con vẫn luôn có họ bên cạnh.
Con chỉ muốn nói rằng con biết ơn lắm những người đã hết lòng chăm sóc con, những bác sĩ y tá nơi đây đã chữa bệnh cho con, để ngày hôm nay đây con có thể khỏe mạnh hơn có thể tiếp tục đi làm, tiếp tục thực hiện ước mơ còn đang dang dở kia. Con muốn nói rằng con yêu lắm những con người và đất nước này, nơi mà con có thể hoàn thành ước mơ của mình, nơi mà đã rèn rũa con trưởng thành và biết suy nghĩ hơn, cho con biết yêu thương, biết sống có trách nhiệm và cho con bắt đầu một cuộc sống mới. Con muốn nói rằng con yêu gia đình mình nhiều lắm, cảm ơn bố mẹ vì đã đưa con đến với thế giới này, cho con sinh mệnh được làm người, nuôi nấng chăm lo cho con từng bước đi, cho đến khi con trưởng thành, con đã tự hứa với bản thân rằng cuộc đời này con nguyện làm tất cả những gì con có thể, chỉ cần gia đình mình được vui…

Saat Aku Bersenandung Di Formosa

Ratna Sari Endang Sulastri / Saat Aku Bersenandung Di Formosa / melalu fb / tenaga kerja asing Saat Aku Bersenandung di Formosa Bukan sesosok yang sempurna Bukan pula orang yang tanpa dosa Masih sama Suka gemerlap dan aroma indah dunia Sering melirik dan ikut bercengkrama dengan hal yang tak semestinya Menjadi bagian dari mereka Yang tenggelam diantara impian … Continue reading “Saat Aku Bersenandung Di Formosa”

Ratna Sari Endang Sulastri / Saat Aku Bersenandung Di Formosa / melalu fb / tenaga kerja asing

Saat Aku Bersenandung di Formosa

Bukan sesosok yang sempurna
Bukan pula orang yang tanpa dosa
Masih sama
Suka gemerlap dan aroma indah dunia
Sering melirik dan ikut bercengkrama dengan hal yang tak semestinya
Menjadi bagian dari mereka
Yang tenggelam diantara impian dan fatamorgana negeri foromosa
Itulah aku

AKU Bukan gadis
Aku ibu muda yang mulai terkikis
Aku tulang rusuk
Tapi aku setangguh tulang punggung
Aku bukan pemimpi
Tapi aku punya mimpi
Aku pengagum gemerlap dunia
Tapi aku nyaman dengan kesederhanaan
Aku sedang salah jalan
Tapi aku ingin pulang
Aku…
Tau mana salah mana sia sia
Bukan tanpa sebab aku hilang arah
Tulang punggungku yang merapuhkan ku
Iman ku yang perlahan terkikis
Gemerlap formosa yang semakin indah dimataku
Beban masalah,tuntutan ekonomi,kurang nya kasih sayang dan kurang nya rasa syukur melemahkan kesadaran ku
Disini…
Aku masih berpijak
Masih kusimpan impian saat aku pertama menyapa formosa
Sederhana…
Namun belum sanggup aku sempurnakan
Meski sudah berdiri tegak
Gubuk kecil dari kucuran keringatku
Tapi,kini senyawa rumah tanggaku mulai memudar
Tergoyah mahligai yang sudah terbina 10 tahun
Untuk sebuah mimpi..
Aku hampir kehilangan masa depan
Mahal memang harga yang harus dibayar untuk sebuah kebahagiaan

Formosa
Sejengkal dataran penuh pesona
Kau tawarkan sejuta mimpi,sejuta harapan,sejuta fatamorgana
Bukan salah dia atau mereka
Saat pilihan yang kupilih berbuah sia sia
Karena smua kesadaran yang memilih
Hari ini…
Aku masih berdiri tegak
Diantara cinta formosa dan arti sebuah kata bahagia
Mungkin banyak kesia siaan yang kupunya
Tapi masih ada 26 bulan penuh harapan
Biarlah malam ini menutup kisah sia ku
Aku yakin,mentari menantiku dengan harapan baru
Formosa….kembalikan aku yang dulu
Formosa…biarkan aku menundukkan kepalaku untuk impian ku
Formosa….dekaplah aku dengan hangatnya keramahan mu
Formosa….percantik hati ku dengan keteguhan iman
Formosa…manjakan aku dengann kerja kerasku
Formosa..sanjung aku dengan keberhasilan ku
Formosa…kenanglah aku,saat aku pulang kepangkuan ibu pertiwiku
Karena aku adalah kebanggaan ibu pertiwiku
Terima kasih formosa

KETIKA KITA MERENUNG

ADE AHIDIN / KETIKA KITA MERENUNG / ADE JUNITA / tenaga kerja asing KETIKA KITA MERENUNG Namaku ratih aku seorang gadis desa ,aku di lahirkan di keluarga yang serba kekurangan , ayah ku bekerja sebagai tukang becak sementara ibuku adalah seorang ibu rumah tangga, aku tidak mempunyai kerabat dekat ,karna mereka sudah tidak ada akhibat bencana alam , … Continue reading “KETIKA KITA MERENUNG”

ADE AHIDIN / KETIKA KITA MERENUNG / ADE JUNITA / tenaga kerja asing

KETIKA KITA MERENUNG
Namaku ratih aku seorang gadis desa ,aku di lahirkan di keluarga yang serba kekurangan , ayah ku bekerja sebagai tukang becak sementara ibuku adalah seorang ibu rumah tangga, aku tidak mempunyai kerabat dekat ,karna mereka sudah tidak ada akhibat bencana alam , aku adalah anak pertama aku memiliki adik dia seorang perempuan namanya riri dia baru umur 5 tahun, aku masih melanjutkan sekolah aku sekarang duduk di kelas 10 SMA ,walaupun aku dan keluargaku adalah keluarga kekurangan tapi aku tidak mau berhenti sekolah karna ini adalah jalan satu satunya untuk merubah kehidupan aku menjadi lebih baik.
Aku hanya bia melihat suasan keluarga ku yang setiap hari selalu kebingungan untuk mencari makan , mencari uang untuk biaya sekolah aku, dan setiap hari aku selalu menangi s dan aku selalu berkata kepada dunia”wahai dunia ku kenapa kau terlalu kejam bagi kehidupan aku” aku selalu mengeluh dan terkadang aku juga berfikiran “ apakah aku harus berhenti sekolah dan membantu kedua orang tua ku mencari uang “. Tapi pemikiran seperti itu akhirnya hilang ketika ibuku berusaha menyemangatiku.
Waktu sekolah pun telah tiba aku bersiap sipa untuk sekolah dan aku hanya bisa mengharapkan semoga kehidupan aku suatu saat nanti bisa berubah, tibanya disekolah aku selalu melihat teman -teman aku yang selalu berpakaian bagus sepatu bagus, sedangkan aku hanya bisa mengenakan baju bekas dan sepatu bekas, tapi itu semua tidak menjadi suatu masalah bagi diriku karna ini semu telah terbiasa .
Akhirnya waktu belajar pun dimulai, aku selalu duduk di bangku belakang , karna aku harus belajar dan mengerjakan kerjaan ku yang bisa membatu kehidupan keluarga ku, aku selalu mengambil sisa sisa bekas makanan para siswa siswi di kelasku ini yang aku lakukan setiap harinya tapi semua itu belum pernah ada teman ku yang melihat itu semua, aku pun menutupi semua tindakan aku ini dengan berprilaku baik kepada setiap teman teman aku,
Tapi pada suatu hari di sekolahan ku terjadi rajia bsar besaran dan mendatangkan langsung kepolisian untuk bisa membatu pengoprasian rajia , aku pun hanya bisa ketakutan dan gemetar ketika informasi itu terdengar oleh telingaku sendiri, kini pengoprasian rajia pun dimulai dari tiap kelas kekelasa lainya, waktu menunjukan pukul 11:00 siang , dan giliran kelasku untuk pemeriksaan kini semuanya meletakan tasnya di ats menja dan aku hanya bisa pasrah dan wajah yang ketakutan , perlahan lahan kini kepolisian menghampiriku dan berkata “ mana tas mu nak, sini bapak periksa”. Dan aku saat itu menangis, dan hanya bisa berkata “ tolong jangan di buka tas saya pak”, semua nya kebingungan dan heran kepada tingkah ku. Pak polisi pun berkata lagi “ sini nak bapak periksa dulu sebentar “ dengan nada tenang, aku pun menjawab “ tolong pak jangan periksa tas saya “ sambil menangis , kini pa polisi pun bertindak tegas “ sini saya periksa tasmu, apa kamu membawa benda benda terlarang” dengan nada tinggi, aku pun haya bisa ketakutan dan berkata “tidak pak, tolong jangan buka tas saya”. Sang guru pun memasuki kelas dan menenangkan semuanya , para siswa siswi pun keheranan dengan tingkah laku aku yang tidak biasanya, kini sanggurupun membujuk aku agar tasnya bisa di periksa, tapi aku tetap tidak mau.
Akhirnya sang guru dan kepolisian pun memberikan tindakan kepada aku, aku pun dibawa ke kantor sekolah dan semua orang menatap diriku seperti orang yang aneh, dan diriku menatap kepada mereka dengan penuh kebencian karna aku akan dipermalukan, kini setiba di ruangan kantor kepala sekolah pun menenangkan suasana ini dan berkata kepada murid murid supaya tetap tenang, dan akhirnya di ruangan kantor haya ada diriku, kepala sekolah dan bapak polisi, dan kepala sekolah pun dengan nada tenang ia menyuruh aku untuk membuka tas “ nak anaku sayang coba buka tas mu”, kini aku pun membuka tas ku pelan pelan, dan isinya adalah makanan sisa yang tadi pagi baru dikumpulkan, kepala sekolah dan ke polisian pun kaget dengan semua ini, dan akhirnya aku menceritakan kepada mereka “ aku adalah orang fakir yang tidak mempunyai apa-apa,ini semua ku lakukan demi mengurangi beban hidup keluargaku aku ga mau semua orang tau tentang ke adaan ku yang seperti ini, karna kalau mereka tahu bawa aku seperti ini maka pendidikan ku akan berakhir dan menjadi bahan ejekan bagi mereka “ dengan suasana menangis, dan akhirnya mereka yang menyaksikan kejadian ini semua nya menangis sejadi- jadinya, dan kepala sekolah serta kepolisian pun tidak bisa berkata apa apa dan hanya bisa menangis .

CATATAN: ketika kita sibuk dengan keadaan hidup kita sendiri coba lah sesekali lihat keadaan kehidupan di bawah kita.
Karya: ADE AH

KAWANKU, INILAH JIHAD

Chen Indigo / KAWANKU, INILAH JIHAD / Anggi Sutriaji / tenaga kerja asing KAWANKU, INILAH JIHAD Kawanku… 2400 mil kita dari tanah kelahiran Senasib kita di tanah perantauan Tanah Formosa negeri Taiwan Demi sebuah pekerjaan atau sesuap makan Demi rencana dan masa depan Kawanku… Hari demi hari kita lalui Meski keluh dan peluh bercampur satu Tetap langkahkan kaki … Continue reading “KAWANKU, INILAH JIHAD”

Chen Indigo / KAWANKU, INILAH JIHAD / Anggi Sutriaji / tenaga kerja asing

KAWANKU, INILAH JIHAD
Kawanku…
2400 mil kita dari tanah kelahiran
Senasib kita di tanah perantauan
Tanah Formosa negeri Taiwan
Demi sebuah pekerjaan atau sesuap makan
Demi rencana dan masa depan

Kawanku…
Hari demi hari kita lalui
Meski keluh dan peluh bercampur satu
Tetap langkahkan kaki demi pijakkan pasti
Kau bilang kita sedang berjihad
Kawan, aku setuju
Setiap hari kita berjibaku
Untuk Tuhan…
Untuk ayah dan ibu…
Untuk keluarga…
Untuk diri kita sendiri…

Kawanku…kau benar,
Inilah jihad masa kini
Bekerja demi orang yang disayangi
Berusaha demi kejar cita dan wujudkan mimpi
Bukan yang seperti itu…
Tidak yang seperti itu…
Kau tahu?ah pasti kau sudah tahu
Gerakan radikal yang membawa bawa panji agama
Ya agama kita…
Menebarkan teror tak punya kerjaan
Membantai manusia dengan syahadat menggema
Ah…MEMALUKAN!!!
ISLAM tidak seperti itu…

BANG…BANG…BANG
Paris, 13 November 2015
Rentetan peluru bernyanyi disertai teriakan takbir mengiringi
Ratusan manusia tak bersalah rubuh
Malam itu Eiffel yang gagah telah “runtuh”

Jakarta, 14 Januari 2016
Bom dan desing peluru saling bersahutan
Aparat terluka dan orang tak bersalah kehilangan nyawa
Siang itu monas kehilangan “mahkota emas”

Blam…blam…blam
Brussels, 22 Maret 2016
Raungan bom memekakkan suasana
Puluhan orang tewas seketika
Bandara burung besi luluh lantak
Hari itu Manneken Piss menangis

Kau tahu itu kawan…
Deretan aksi yang mereka bilang jihad
Jihad macam apa yang begitu jahat
Mungkin sudah ratusan kepala mereka pancung
Anak anak yang terbunuh
Wanita wanita yang disetubuhi

Jihad macam apa yang begitu laknat
Mengkafirkan satu agama
Membenci lain agama
Menjauhi orang tua dan keluarga
Ah…MEMILUKAN!!!
ISLAM tidak seperti ini…

Mereka tebar teror, kita menanggung malu
Mereka tebar fitnah, kita mendulang getah
Mereka buat kekacauan, membuat dunia buta kenyataan
Mereka sesat kawan, merekabsesata
Ajaran ISLAM tidak seperti itu!!!

Sekarang di negeri ini mereka tampak tanamkan benih
Tebarkan doktrin sesat tentang jihad
Di tanah penuh toleransi ini mereka buat pondasi
Membuat fitnah semakin menjadi jadi

Kawanku,
Kawanku,
Kawanku…
Berpeganglah kuat imanmu
Eratkan ikatan dengan TUHAN
Jangan pernah jadi bagian dari mereka
Gerombolan gila mirip serigala
Haus darah dan nyawa
Semoga mereka yang tersesat berhenti
Tersadar dan kembali
Pada kebenaran yang hakiki

Kawanku,
Bersabar adalah pilihan
Semoga tanah formosa tetap damai
Toleransi tetap dijunjung tinggi

Kawanku,
Kuatkanlah hati…
Kita buktikan dan kita telah buktikan
Jihad bukan seperti itu…
Islam tidak seperti itu…

 

Fang Nai Nai (方奶奶)

A Shi / Fang Nai Nai (方奶奶) / tidak ada / tenaga kerja asing FANG NAI NAI (方奶奶) Oleh: A Shi Jika membicarakan tentang cinta, aku rasa memang tidak akan pernah tiada habisnya. Bahkan milyaran kata pun tak mampu mewakili cerita tentang cinta. Terkadang cinta mampu membuat kita bahagia dan menderita. Namun ada pula yang mampu bertahan hidup … Continue reading “Fang Nai Nai (方奶奶)”

A Shi / Fang Nai Nai (方奶奶) / tidak ada / tenaga kerja asing

FANG NAI NAI (方奶奶)
Oleh: A Shi
Jika membicarakan tentang cinta, aku rasa memang tidak akan pernah tiada habisnya. Bahkan milyaran kata pun tak mampu mewakili cerita tentang cinta. Terkadang cinta mampu membuat kita bahagia dan menderita. Namun ada pula yang mampu bertahan hidup karena cinta. Seperti Fang Nai nai ….
Taiwan adalah salah satu negara Asia yang dijuluki Formosa, yang konon katanya mempunyai arti Pulau yang Indah (bahasa portugis).

Sebut saja namaku A Shi, hanya sebuah nama panggilan Yeye dan Nai nai padaku. Aku orang Indonesia asli yang menjadi TKI di Taiwan sejak lima tahun silam, tepatnya di tahun 2011. Tempatku bekerja berada di wilayah Taipei, tepatnya di Kota Shipai. Kawasan apartemen yang menurutku biasa saja, tidak terlalu mewah dan tidak terlalu kumuh. Rumah majikanku tidak jauh dari rumah sakit Shipai, atau lebih dikenal dengan sebutan Taipei Veterans General Hospital. Tugasku hanya menjaga Yeye, sebutan untuk kakek yang sekarang ada di sampingku. Aku memanggilnya Fang Yeye. Beliau adalah lelaki tua berumur 95 tahun, menderita stroke, tapi masih mampu bicara walaupun terkadang tidak jelas. Fang Yeye masih mempunyai istri yang sangat setia, dan aku memanggilnya Fang Nai nai. Di rumah ini kami cuma bertiga. Namun, mereka mempunyai 1 anak perempuan di China atau lebih dikenal dengan sebutan Talu. Anak mereka lah yang menggajiku. Fang Nai nai setiap hari cuma sibuk dengan sampah-sampahnya. Beliau setiap hari mengumpulkan botol-botol minuman atau sampah apa pun yang bisa didaur ulang, lalu dijual, walaupun mendapatkan uang yang tidak seberapa. Dan aku, cuma di rumah menjaga Fang Yeye. Jujur, untuk makan sehari-hari, kurasa memang tidak layak. Dengan sayur 1 ikat dan telur dadar. Terkadang telur dadar dan sosis. Itu pun jarang. Aku tidak pernah mengeluh soal makan, karena melihat Fang Nai nai dan Fang Yeye tertawa pun aku sudah bahagia. Maklum, karena dari bayi, aku tidak mempunyai kakek dan nenek. Terkadang aku heran, kenapa anaknya tidak membawa orang tuanya ke Talu saja dan hidup bersama. Entahlah.
Suatu hari, kucoba memberanikan diri bertanya pada Fang Nai nai.

“Nai nai, kenapa Siaoce (panggilanku kepada anak perempuan Fang Na nai) tidak mengajak nai nai dan yeye ke Talu saja? Dari pada di sini, kalian pasti ingin berkumpul dengan anak cucu, kan?” Tanyaku setengah lancang.

Aku tidak pernah menduga jika pertanyaanku membuat Fang Nai nai menangis. Beliau menangis walaupun tidak bersuara, tapi kumelihat dengan jelas, air mata itu mengalir deras.

“Nai nai, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuatmu bersedih, ya sudah. Lupakan pertanyaanku, ya,” kataku gugup.

Wanita tua berusia 90 tahun itu angkat bicara walaupun dengan suara parau.

“A Shi, kamu tidak bersalah. Kalau kamu mau, aku akan bercerita padamu tentang keluargaku,” kata Fang Nai nai.

“Baiklah,” ujarku mantap.
Fang Nai nai mulai bercerita.

Jika dulu sewaktu Fang Yeye berusia 30 an, beliau adalah seorang jenderal di China/Talu. Ketua para pejuang di masa penjajahan. Waktu itu Fang Nai nai sedang hamil, sedangkan Fang Yeye harus pergi bertugas entah di mana dan entah pulang dalam keadaan hidup atau mati. Dengan berat hati, Fang Nai nai melepaskan suami tercinta untuk tugas negara. Satu bulan berlalu, 1 tahun dilalui, dan 40 tahun terlewati. Kabar apa pun tak kunjung datang. Fang Nai nai merawat dan membesarkan anak perempuan satu-satunya seorang diri. Sampai anak itu menikah dan lahirlah kedua cucunya. Namun, lagi-lagi kabar tentang keberadaan Fang Yeye pun tidak ada. Fang Yeye seperti debu yang ditiup angin begitu saja, lenyap. Tidak mudah bagi Fang Nai nai untuk bertahan sendirian. Antara menjadi janda atau masih berstatus isteri jenderal. Dulu tidak sedikit pemuda yang datang ingin menikahi, namun Fang Nai nai tetap percaya jika suaminya masih hidup. Dan beliau bertahan seperti itu, karena cinta. Ya, cinta ….

Fang Nai nai menangis ….

“Nai nai, tidak usah diteruskan tidak apa-apa. Kalau nai nai capek, istirahat saja dulu,” kataku sambil menepuk pelan bahunya.

“Tidak, A Shi. Kamu harus mendengarkan ceritaku sampai habis,” ucapnya sambil menyeka sudut matanya yang basah.

Empat puluh tahun, Fang Nai nai bertahan demi cinta. Bertahan demi suaminya dan bertahan atas dasar percaya dengan isi hati. Dan itu terlalu sukar aku cerna dengan logika.
Entah suatu hari, melalui media radio dan koran. Dua puluh tahun lalu, pemerintahan Taiwan mengumumkan para pejuang dari China/Talu yang masih hidup dan menetap di Taiwan. Dan dari situlah Fang Nai nai yakin jika nama Fang Cheng Ci adalah suaminya yang empat puluh tahun ditunggu-tunggu. Akhirnya, bersama anak perempuan dan menantunya, Fang Nai nai pergi ke Taiwan. Dengan melalui berbagai cara, akhirnya ditemukan alamat Fang Cheng Ci, yang tak lain adalah Fang yeye. Fang yeye bekerja sebagai pemulung sampah daur ulang untuk melanjutkan hidup dan mendapat uang santunan dari pemerintah setiap bulannya.

Dan pertemuan dua sejoli, satu cinta yang sudah menua itu terjadi …. Saat bertemu, Fang Nai nai sudah 65 tahun. Dan Fang Yeye 70 tahun.
Sungguh, dari sini air mataku tak mampu aku bendung lagi. Aku pun ikut menangis. Fang Nai nai bertemu dengan Fang Yeye dua puluh tahun yang lalu, di usia yang tak lagi muda tapi cinta mereka tetap suci dan tidak berubah. Empat puluh tahun tidak mudah untuk bertahan pada cinta yang hilang, sungguh kesetiaan yang luar biasa. Sejak saat itu, Fang Nai nai dapat ijin tinggal di Taiwan karena memang masih mempunyai surat nikah syah sebagai isteri Fang Yeye. Anak mereka memilih ikut suami yang berada di Talu. Dan mengunjungi Taiwan setahun sekali.
Seiring berjalannya waktu, Fang yeye sakit-sakitan dan positif menderita stroke. Sebelum ada aku, Fang Nai nai lah lebih dulu merawat Fang yeye yang terkena stroke ini selama sepuluh tahun.
Fang Nai nai kembali menangis. Tanpa aku sadar, Fang Yeye yang dari tadi duduk tertidur di sofa pun ikut mendengar. Keduanya meneteskan airmata. Dan aku? Seperti melihat dongeng di hadapanku sendiri. Kupeluk mereka berdua dengan setulus-tulusnya. Aku menyayangi mereka, seperti kakek nenekku sendiri.

Pagi itu, Januari 2014 ….
Fang Nai nai pamit mau ke pasar beli ikan. Hujan lumayan deras, aku menyuruhnya di rumah dan biar aku saja yang pergi. Tapi beliau bersikeras mau pergi. Seperti biasa kalau pergi, aku selalu menaruh HP nya di saku jaket samping kanan. Dia pun bilang, mau belikan bakso ikan kesukaanku. Aku pun meng iyakan. Satu jam berlalu, dua jam telah berjalan. Fang Nai nai tak kunjung datang. Aku berfikir mungkin di pasar memunguti botol sampah seperti biasanya. Tiga jam berlalu. Aku mencoba menghubungi, namun … yang mengangkat orang lain, polisi. Entah aku harus bercerita apa di sini. Yang jelas, Fang nai nai ditabrak bus umum waktu mau nyebrang dan dia dilarikan di rumah sakit. Aku segera menghubungi Siaoce di Talu. Dan dengan gugup dan berlinangan air mata, aku dudukkan Fang Yeye di kursi roda lalu kubawa ke Rumah Sakit Veterans General Hospital, 10 menit kudorong kursi roda itu, diiringi gerimis dan hawa dingin yang amat sangat di Bulan Januari. Fang Yeye meremas tanganku, mungkin beliau ingin bertanya ‘ada apa’ tapi lidahnya kaku untuk bicara. Aku cuma bisa berkata, kalau Fang Nai nai tidak enak badan dan sekarang di rumah sakit. Walaupun beliau susah bicara dan stroke, aku yakin hatinya masih hidup dan memahami apa yang telah terjadi. Setibanya di rumah sakit, semua terlambat ….
Fang Nai nai pergi untuk selamanya ….
Bakso ikan itu, selalu mengingatkanku padanya. Kisah cinta mereka, selalu menjadi inspirasiku jika cinta suci itu ada. Perjuangan mereka membuatku paham akan arti kebersamaan. Dan kesetiaan Fang Nai nai mengajariku arti harga diri dan kehormatan.
Selamat tinggal Fang Nai nai. Aku akan menjaga Fang Yeye sampai kisah kalian usai.
Sepeninggal Fang Nai nai, rumah ini sepi. Hanya aku dan Fang Yeye. Terkadang aku melihat Fang Yeye meneteskan airmata. Aku tahu, beliau paham apa yang terjadi, dan hatinya peka. Hari-hari kami lalui dengan bercanda, walaupun susah bagiku untuk menyembunyikan kesedihan ini, tapi aku harus selalu ceria di hadapan Fang Yeye. Siaoce 1 minggu 1 kali terkadang menelpon, menanyakan kabar. Cuma itu.

Juni, 2014 ….
Aku sangat menyayangkan bekerja di Taiwan itu harus terikat kontrak. Yang di mana aku harus pulang ketika keadaan tak memungkinkan. Juni 2014, aku harus pulang ke Indonesia, setelah kurang lebih enam bulan hidup berdua bersama Fang Yeye. Sungguh aku tidak tega, tidak sanggup dan berat meninggalkan beliau. Jujur, aku tidak mau pulang. Tapi apa dayaku? Taiwan tetaplah negara asing dan aku harus taat pada peraturan. Siaoce datang merawat Fang Yeye, selama penggantiku belum datang. Andai Taiwan adalah Indonesia? Kan kubawa Fang Yeye ke rumahku, dan kurawat. Tuhan, aku tidak mau pulang ….

Tanggal 15 Juni 2014, aku pulang.
Membawa seribu duka yang mendalam, membunuh setiap rinduku pada Fang Yeye. Berusaha tertawa saat berpamitan pada Fang Yeye, walaupun hatiku bagaikan diiris-iris, dan menangis terisak dalam-dalam. Kupeluk beliau, dan beliau pun meneteskan airmata.

“Taiwan, aku mohon beri aku waktu untuk bertemu Fang Yeye lagi,” bisikku dalam hati.

Dan aku pun pulang ….
Selama aku di Indonesia, Siaoce selalu menelponku menanyakan ini dan itu, cara merawat Fang Yeye. Dua bulan berlalu, dan HP-ku berdering lagi.

“A Shi, kapan kamu datang ke Taiwan. Yeye menanyakan kamu terus, tadi malam dia jatuh dari ranjang, hidungnya berdarah dan ….”

Suara Siaoce di seberang sana menggantung, menggema dalam telepon genggamku.

“A Shi, Yeye meninggal ….”

Sambungan terputus. Bumi yang kupijak seakan membeku. Detik jam dinding pun berhenti. Waktu pun ikut mati. Fang Yeye telah tiada, tanpa ada aku di sampingnya. Dan cerita tentang cinta sejati itu telah usai …. walaupun bukan aku yang menjadi endingnya.

“Fang Yeye, Fang Nai nai … terima kasih, perjalanan hidup kalian adalah sepenggal nasihat dalam hidupku. Maafkan aku tidak bisa menyelesaikan tugas terakhir menjaga Fang Yeye ….”

Taipei, 18 April 2016