2016 Babak penyisihan 印尼文初選
📜 寄放孩童 ANAK AMANAH
👤 Yully Agyl
“Lis, apa kamu yakin tidak kembali lagi?”
Pertanyaan itu kembali dilontarkan Keke, mengingat kontrak kerja keduaku tinggal lima bulan lagi.
“Tidak, Ke. Maaf. Bukan tidak butuh duit, tapi aku sudah hampir enam tahun meninggalkan anak-anak. Kasihan ibuku yang juga sudah tua. Kemungkinan anak lelaki yang sulung akan ke Taiwan.”
Keke adalah anak lelaki satu-satunya mama yang kurawat. Usianya sudah 36 tahun, tetapi belum menikah. Dua kakak dan satu adik perempuannya sudah berumahtangga dan ikut suami. Suami mama sudah meninggal karena kecelakaan, dan mama sendiri mengalami gagal ginjal yang mengharuskan dia cuci darah seminggu dua kali.
Panggilan Mama, Keke, Cie-Cie adalah permintaan mereka agar terjalin keakraban.
“Iya, aku paham. Kalau begitu aku akan segera urus untuk proses ambil pembantu baru. Tapi, aku mau meminta tolong kepadamu.”
“Minta tolong apa?” tanyaku tidak mengerti.
Keke menarik nafas panjang, raut mukanya mulai terlihat benar-benar serius.
Dia mulai memceritakan semua dari A sampai Z, dan aku menjadi pendengar setianya. Sekali-sekali aku mengangguk dan menguman tak jelas menanggapi ceritanya.
“Begitulah, Lis ceritanya,” Keke mengakhiri cerita, ” Aku sudah bicara dengan Kakak dan adikku, mereka setuju. Mereka percaya kau akan bisa menjadi ibu dari anakku” lanjutnya.
“Apa…? Maksudnya bagaimana?” tanyaku tidak mengerti.
“Yah, maksudnya… aku ingin kamu rawat anakku.”
“Bagaimana mungkin, Ke? Aku janda, lagian tidak kembali ke sini lagi, ” jawabku.
“Nah, karena kamu janda itulah aku berani menawarkan hal ini. Kalau kamu punya suami jelas aku tidak berani karena suamimu pasti menyangka yang tidak-tidak.”
“Benar-benar ide gila, Ke. Tetap sama saja, resikonya besar,” sanggahku.
“Please, Lis,” kata Keke sambil menyatukan dua telapak tangan di depan dadanya dan dengan mimik yang memelas,” hanya kamu yang bisa menolongku, Lis. Karena kami percaya kamu mampu,” lanjutnya.
Aku tidak bisa memberikan jawaban sekaligus, karena juga butuh persetujuan keluarga.
——
“Lis, bagaimana keputusannya?” tanya Keke satu minggu kemudian.
Aku mengira Keke tidak lagi mempermasalahkan hal itu, tetapi ternyata meleset. Dia masih menunggu keputusanku.
“Ke, kalau boleh tahu. Seandainya aku bersedia, sampai berapa lama aku menjadi ibu dari anakmu?
“Jadi kamu mau, Lis,” kata Keke dengan nada riang, “paling lama dua tahun. Tapi bisa juga tidak sampai dua tahun, tapi kamu jangan khawatir, selama itu pula aku tetap menggaji kamu,” lanjutnya.
“Kenapa harus aku, Ke? Bukankah di Taiwan banyak baby sister?”
“Keadaan, Lis. Kamu sudah kuberitahu masalahnya kan?”
“Baiklah, Ke. Aku bersedia. Aku sudah bicara dengan ibu dan adikku, dan mereka tidak keberatan. Kami siap menanggung resikonya.”
“Terimakasih, Lis,” jawab Keke dengan riang dan segera menjabat tanganku dengan cepat.
“Oya, soal anakmu yang mau ke Taiwan, akupun siap membantu, Lis. Biar dia nanti kerja di pabrikku,”
“Benarkah? Terimakasih, Ke.”
Kami saling tersenyum, ada gurat kelegaan di wajah Keke. Keputusan besar yang kuambil dengan ijin Emak dan adikku. Kami sekeluarga telah siap menghadapi kemungkinan terburuk. Cemooh dan gunjingan orang kampung.
‘Kalau niat kita baik, Tuhan pasti memberikan kemudahan. Kalau kamu siap, Emak hanya bisa mendoakan saja.”
Kata emak kala itu yang memantapkan niatku menerima tawaran Keke.
Sebagai calon pewaris tunggal harta kekayaan orangtuanya, Keke sangat beruntung. Selain pabrik yang memproduksi kunci pas, juga ada kebun kopi yang luas yang dipercayakan ke kakak iparnya.
——
Semua persiapan untuk kepulanganku, Keke yang mengatur. Barang-barang hampir semua dipaketkan.
Saat kepulangan semakin dekat. Pembantu penganti pun datang setengah bulan sebelum kepulangnku. Aku masih ada kesempatan untuk mengajarinya. Mama pun senang, karena penggantiku terlihat santun.
“Syukurlah, Lis. Sebelum kamu pulang mbaknya udah datang, jadi Mama dan Keke tidak repot,” kata Mama ketika kami makan malam bersama.
Keke tersenyum. Mbak Lia penggantiku yang duduk disebelahku hanya bisa diam.
“Mbak, sekali lagi aku pesankan. Rawat mama seperti yang kuajarkan dan yang disarankan dokter. Disini bebas, semua baik, tapi kita harus tetap ingat posisi kita.
Jangan seperti yang sering kita dengar diluar sana, mentang-mentang jobnya jaga orang tua, disuruh kerjain lainnya protes. Boss akan baik kalau kita baik, asal pekerjaan yang diberikan masih dalam batas wajar dan tidak mengganggu tugas pokok, apa salahnya. Satu lagi, jangan karena HP, lupa kerjaan.”
“Iya, Mbak Lis. Aku bisa rasakan, di sini semua begitu akrab seperti keluarga sendiri.”
“Itulah. Maaf ya, aku bukan menggurui, ini demi kebaikan kita. Jangan jadikan pekerjaan sebagai beban, tapi jadikan sebagai ladang ilmu dan ibadah. Pasti semua terasa ringan dan nikmat. Aku yakin Mbak Lia mampu,” kataku memberikan semangat.
—-
Ada pertemuan, ada perpisahannya. Waktuku telah tiba, aku harus kembali kepangkuan ibu pertiwi. Mama, Mbak Lia, Cie-Cie hanya bisa melepasku dari teras rumah. Hanya Keke yang mengantarku, karena kami punya misi rahasia lain.
“Kita ke rumahku satunya,” kata Keke sambil menyetir.
“Jadi…,” kata-kataku menggantung.
“Nanti kamu akan tahu.”
Aku terdiam, mobil meluncur jauh keluar kota. Disebuah perkebunan kopi milik Keke yang juga terdapat rumah persinggahan itulah tujuan kami.
Disana, seorang perempuan sebayaku menyambut sambil menggendong bayi mungil yang tertidur lelap.
“Apa kabar Lis?”
“Baik, Nona.”
“Ini anakku, Lis. Dia baru satu bulan lahir. Dia yang akan kamu asuh. Semua surat-surat sudah beres. Kamu tinggal berangkat saja. Oya terpaksa, untuk memudahkan proses kepulanganmu, bayi ini kukatakan anakmu ke pihak imigrasi, itulah sebabnya aku minta tandatangan kamu beberapa waktu lalu,” jelas Keke.
“Terus, kapan kami pulang?” tanyaku.
“Tiga hari lagi, kamu disini dulu sambil menyesuaikan diri dengan Xiao Suai Suai,” kata Nona.
“Wah, cowok ya, Selamat ya, Ke, Xiao Cie.”
Mereka tersenyum. Senyum bahagia yang tersembul dibalik kesedihan.
Xiao Suai Suai seolah mengerti keadaan orangtuanya. Dia jarang rewel kecuali bila lapar dan merasa tak nyaman dengan pampers karena basah atau beol.
Aku yang pada dasarnya suka dengan anak-anak, cepat bisa mengambil perhatian bayi mungil itu.
Ketika hari kepulanganku tiba, Keke dan Nona mengantar aku dan Xiao Suai Suai ke bandara.
Tak banyak cakap selama perjalanan. Kami larut dalam perasaan masing-masing. Keke dan Nona akan merasakan seperti yang kurasakan selama ini. Berpisah dari anak tercinta dalam kurun waktu lama. Mereka akan merasakan, betapa tersiksanya memendam rindu yang terhalang waktu dan jarak.
“Aku benar-benar percaya, kamu bisa mengasuh dan menjaga anakku, Lis,” ucap Keke dengan terbata ketika tiba saat perpisahan itu.
Aku mengangguk.
Bayi berkulit putih itu masih tertidur pulas digendonganku. Dia tidak menyadari, enam jam lagi akan berada di negeri yang jauh.
Banyak mata menatapku curiga, saling berbisik satu dengan lain. Kuyakin mereka mengira bayi ini hasil perbuatan bejatku, seperti banyak kejadian diluar sana.
Aku tidak peduli. Tiket pesawat kelas eksekutif yang dibelikan keke bisa membebaskan aku sejenak dari tatapan mencemooh mereka
——-
“Bu….hu…hu…hu…”
Egy anak perempuanku yang masih duduk di kelas 2 SD pulang dengan menangis.
“Ada apa, Gy? Kok nangis.”
“Bu, teman-teman mengolok-olok aku. Katanya aku punya adik tidak ada bapaknya.”
Aku tersenyum, dan kuelus rambut Egy putri kecilku yang manja.
“Jangan diambil hati, suatu saat teman-teman akan tahu. Sabar ya, Egy pasti ingat kan yang ibu pernah katakan? Tuh lihat adik Suai Suai terbangun karena dengar suara kamu.”
Kualihkan percakapan, agar kesedihannya hilang. Satu tahun aku kembali berkumpul dengan keluarga. Xiao Suai Suai, tumbuh sehat dan menggemaskan. Kulitnya putih bersih dengan rambut hitam pekat dan mata sipit khas orang Taiwan.
Hampir tiap hari Keke atau Nona menanyakan kabar anaknya. Kadang ku kirim rekaman video tentang tingkah polah Xiao Suai Suai yang lucu.
Cemooh dan sindiran orang kampung sudah membuat telingaku juga ibu dan adikku tebal.
“Wah, kapan bapaknya Xiao Suai Suai pulang? Kok sampai sekarang tidak kelihatan batang hidungnya?”
Pertanyaan seperti itu, hanya kutanggapi dengan senyum, walau dalam hati ingin memaki.
‘Suatu saat kalian akan tahu, dan bungkam seribu bahasa,’ batinku.
—
Setiap kesabaran akan berbuah kenikmatan.
Keke menepati janjinya. Dia datang berdua dengan Nona ke tanah kelahiranku.
Dua keluarga dengan segala perbedaannya disatukan oleh rasa saling percaya. Kepercayaan atas amanah Tuhan yang dititipkan keke kepadaku, Xiao Suai Suai.
Kebiasaan orang kampung yang seperti melihat mahkluk luar angkasa ada dirumahku, membuat mereka berdatangan.
Kesempatan tidak kusia-siakan.
“Ibu-ibu perkenalkan, Tuan ini adalah majikanku. Mamanya yang dulu kurawat. Dialah papa Xiao Suai Suai.”
“Ooo… jadi mereka akan menjemputmu, Lis?” celetuk seorang tetanggaku.
“Menjemput Xiao Suai Suai, bukan aku.”
“Lha, bukankah kamu ibunya?” sahut yang lain.
“Bukan, aku hanya pengasuhnya. Aku membawa Xiao Suai Suai pulang karena permintaan mereka. Tuan adalah pewaris tunggal keluarganya, penerus garis keturunan keluarga. Karena di masyarakat Taiwan masih banyak yang menganut tradisi tersebut, bahwa anak lelaki yang mempunyai kuasa lebih atas harta warisan keluarga. Anak lelaki juga yang merawat orangtua mereka.”
“Seperti tradisi orang Bali ya?” sahut seseorang.
“Ya, hampir sama. Tuan sangat menyayangi mamanya, tapi dia juga sangat mencintai nona. Tapi karena tentangan dari kedua belah pihak, yang aku tidak tahu masalahnya, mereka menjalin hubungan secara diam-diam,” lanjutku.
Semua terdiam.
“Menurut tuan, mamanya baru beberapa bulan yang lalu merestui mereka, setelah diperlihatkan foto-foto dan video Xiao Suai Suai. Tetapi keluarga nona tetap menentang.”
“Jadi Xiao Suai Suai lahir diluar nikah?” tanya tetanggaku yang lain.
“Ya, itulah sebabnya bayi kecil Xiao Suai Suai diamanahkan ke aku. Selama ini Tuan yang membiayai kebutuhan Xiao Suai Suai, menggaji aku, juga memberangkatkan Putra untuk bekerja di pabriknya. Sekarang mereka mau mengambil haknya kembali,” jelasku.
Semua yang hadir mengangguk-angguk. Wajah mereka menyimpan malu, karena selama ini sering berguncing tentang aku.
Entah siapa yang memulai, mereka satu persatu menyalami tuan, nona dan aku, seolah ingin mengatakan maaf dan selamat yang tak mampu terucap.
Ada perasaan lega dihatiku. Amanat berat setahun lebih telah kulakukan dengan baik.
Dan bahagia karena keluarga kecil itu berkumpul kembali.
Kebahagiaan adalah milik mereka yang punya kesabaran dan keihlasan hati dalam menjalani hidup.
*****TAMAT****
Nantao, 16 Mei 2016
📜 寄放孩童 ANAK AMANAH
👤 Yully Agyl
「李氏,妳確定不會再回來了嗎?」哥哥再一次問我這個問題,因為我的工作合約只剩下五個月。
「不了,哥。抱歉,不是不需要錢,但我已經離開我的孩子六年,也心疼我高齡的媽媽,但是我的長子可能會來台灣工作。」
我所照顧的哥哥是家中唯一的兒子。他已經三十六歲,還沒有結婚。兩個姐姐和一個妹妹都已經嫁人了。媽媽的先生因車禍而亡,媽媽本身因為腎功能衰竭所以每週需要洗兩次腎。媽媽、哥哥、姐姐是他們要求的稱呼,這樣彼此關係比較親切。
「好吧,我理解。那我要趕快處理新看護的手續。但還有一件事,我需要妳的幫忙。」
「你需要我幫什麼忙呢?」我不明白的問。哥哥深深吸了一口氣,臉上表情變嚴肅了。他從頭到尾將事情講給我聽,我也成了忠實的聽眾。有時我點頭附和,有時發出不明白的聲音回應他。
「故事就是那樣,李氏。我已經告訴我的姐姐和妹妹,她們都同意,她們相信妳可以成為我孩子的媽媽。」他說著。
「什麼…?什麼意思呀?」我不解的問。
「我的意思是…希望妳可以照顧我的小孩。」
「哥哥,不可能啦,我是寡婦,而且不會再回來這裡工作了」我回答。
「就是因為妳是寡婦我才敢問妳這件事。如果妳有先生,我才不敢問,怕妳先生會亂想。」
「這是很瘋狂的想法,哥,風險很大。」我回說。
「拜託,李氏。」哥哥將手合十放在胸前,一臉懇求的說,「只有妳能幫得了我,李氏。而且我們相信妳可以的。」當下我無法給予任何答案,因為這需要得到家人的認可。
----
「李氏,妳的決定如何?」哥哥一個禮拜後又問。我以為他不會再提這件事了,但是我錯了,他還在等我的決定。
「哥,我可以了解更多嗎?如果我答應的話,我得當你小孩多久的媽媽?」
「這麼說妳答應囉,李氏?」哥哥開心的說「最多兩年,但也有可能不到兩年,妳放心,這段期間我照樣給妳薪水。」
「為什麼選我,哥?台灣不是有很多看護嗎?」
「因為情況的關係,李氏。我不是告訴過妳問題所在嗎?」
「好吧,哥。我可以。我已經跟我媽媽和妹妹說了,她們不介意。我們願意一起承擔這個風險。」
「謝謝妳,李氏。」哥哥很高興的回我,迅速握著我的手。
「對了,有關妳兒子要來台灣的事,我也願意幫忙,李氏。就讓他到我的工廠上班吧。」
「真的嗎?謝謝你,哥。」我們都微笑著,哥哥也露出鬆一口氣的表情。這個重要的決定,得到我媽媽和妹妹的同意。我們準備好面對最壞的情況,那就是村人的嘲笑和閒言閒語。
「如果我們心存好意,上天會給予協助的。如果妳準備好了,媽媽會為妳祈禱。」母親的話語支持我接受哥哥的請求。作為唯一的財產繼承人,哥哥非常幸運。除了擁有一間工廠外,還有姐夫信託給他的一個龐大的咖啡園。
-----
所有回去的準備,哥哥都安排好了,東西也都打理好了。隨著回國的時間逼近,替代我的看護,早在我預訂回去半個月前就已經來到。因此我還有交接工作的機會。媽媽也很開心,代替我的人看起來很有禮貌。「太好了,李氏。妳回去之前,新的看護已經來了,媽媽和哥哥免了一樁麻煩事。」當我們一起用晚餐時媽媽說。哥哥微笑著,代替我的麗雅只是靜靜的坐在我旁邊。
「麗雅,我再次叮嚀喔。請依照我的方式和醫生的建議來照顧媽媽。在這裡很自由,大家都很好,但我們要記得自己的本份。不要像我們常常在外面聽到的,不要因為我們的工作是照顧老人,叫妳做其他的事情就抱怨。如果我們好好做事的話,老闆也會對我們好,只要工作量還在正常的範圍內,也沒有影響到主要的工作,多做一點沒有什麼不對。還有一點,不要因為手機而忘了工作。」
「好的,李氏姐姐,在這裡,我可以感覺到大家就像一家人一樣。」
「對呀,不好意思,這些話不是想要教育妳,這都是為我們自己好。別把工作當作是一種負擔,而是把它當作一片學習與修行的園地。一切都會變得更加輕鬆和舒適,我相信麗雅做得到。」我鼓勵她。
有相遇當然也會有別離的時候,我的時間到了,必須回到祖國的懷裡。媽媽、麗雅、姐姐送我到陽台。只有哥哥送我離開,因為還有另一個秘密任務在等著我們。
「我們到我另一個家。」他邊開車邊說。
「那…」我的話只說到一半。
「等等妳就會知道。」聽到哥哥這麼說,我沉默了,車一路開到外縣市,位在哥哥咖啡田裡面的一個小房子是我們的目的地。
在那邊,一位跟我差不大的女人,抱著一名沉睡中的嬰兒出來迎接我。
「妳好嗎?李氏。」
「很好,小姐。」
「李氏,這是我的小孩,他才剛滿月,他就是要請妳照顧的嬰兒,全部文件都辦好了,妳只需要出發就好。對了,我已經跟移民署說這是妳的小孩,那就是我為什麼之前跟妳要簽名的緣故。」哥哥解釋說。
「那,我們什麼時候回家?」我問。
「再過三天,妳先住在這裡,順便跟小帥帥相處。」小姐說。
「哇,是男生喔,恭喜你們,哥哥、小姐。」他們微笑著,即使悲傷,仍露出幸福的笑容。
小帥帥好像了解父母親的情況。平時除了肚子餓、尿布濕了或大便之外,很少吵鬧。我本來就很喜歡小孩,所以很快就能抓住小嬰兒的心。回國的時間到了,哥哥和小姐送我和小帥帥到機場。路途中大家並不多談,大家都沉溺在自己的感受中。此時,哥哥和小姐都感受到我一直以來所體會的感受,必須跟心愛的兒子分開好長一段時間。他們會感受到因為時間與距離帶來的思念與煎熬。
「我真的相信妳會好好照顧和撫養我的兒子,李氏。」哥哥踐別時說,我點點頭。白皙皮膚的嬰兒在我懷裡睡得很香。他沒有意識到,再過六個小時,就會抵達遙遠的國度。飛機上,很多雙眼睛用充滿質疑的眼神看著我,他們互相竊竊私語。我敢肯定,他們以為這個嬰兒是我所做的孽,就像其他人一樣。我不在乎。哥哥為我買的商務艙可以暫時讓我遠離這些嘲笑的眼神。
-------------
「哇…哇…哇…」我就讀國小二年級女兒,恩奇,哭著跑回家。
「恩奇,怎麼了,為什麼哭?」
「媽,我的朋友們都在笑我。說我有一個沒有爸爸的弟弟。」我微笑撫摸著那愛撒嬌的女兒的頭。
「別放在心上,有一天他們都會知道。思奇要耐心點,還記得媽媽曾經說過的話嗎?看吧,帥帥弟弟被妳的聲音吵醒了。」
我轉移話題,試著撫平她的傷心。我回來跟家人團聚已經一年了。小帥帥長得很健康也超可愛。他有著白皙皮膚配上烏黑的頭髮和一雙台灣人典型的小眼睛。哥哥和小姐幾乎每天都在問他們兒子的消息。有時我會寄給他們小帥帥可愛的影片。而我、我媽和妹妹,面對村裡的調侃和諷刺已經麻痺了
「哇,小帥帥的爸爸什麼時候回來?怎麼到現在還沒看到影子呀?」面對那樣的「慰問」,我只能微笑做答,就算心裡很想罵人。
「有一天你們會知道真相,到時就啞口無言。」我心裡想著。
耐心會結出好的果實,哥哥遵守了諾言,他與小姐兩人來到了我的祖國。兩個完全不同的家庭因相互信任而結合。我信任上天,而祂讓哥哥放心將小帥帥委託給我照顧。當村人看到哥哥和小姐,就像看到外星人來我家,大家紛紛來到我家。我當然不會浪費這麼難得的機會。
「各位女士,這位先生是我的雇主。我之前負責照顧他的媽媽,他就是小帥帥的爸爸。」
「喔…所以他們來接你嗎,李氏?」一位鄰居尖銳的問。
「是來接小帥帥,不是我。」
「哈,你不是他的母親嗎?」另一個人問。
「不,我只是監護人。我把小帥帥帶回家是出自他們的請求。先生是家裡唯一的繼承人,家族血統的繼承者。在台灣還是有不少這樣的傳統,也就是男孩子擁有更多的權力和繼承權。也是由男孩來照顧父母。」
「跟巴厘島的傳統一樣嗎?」其中一位村民又問
「是的,幾乎一樣。先生很愛他的媽媽,但同時也很愛小姐。但是雙方父母反對,為什麼反對我不了解原因,但是他們瞞著父母偷偷在一起,」我繼續說,大家都靜了下來。
「先生說,他媽媽直到幾個月前才同意他們在一起,因為她看到小帥帥的照片和影片,但是女方的家長還是不同意。」
「所以小帥帥是非婚生子嗎?」其他的鄰居問。
「對,這是為什麼小帥帥委託給我照顧。這段時間,先生支付了小帥帥的生活費,雇用我並讓我的兒子在他的工廠上班,現在他們要接回他們的兒子了。」我解釋著。
現場的人點了點頭,他們的神情顯得尷尬,因為在這段時間,他們經常說我的閒言閒語。不知道是誰先開始,他們一一跟先生、小姐和我握手,彷彿在向我們道歉和表示說不出來的恭喜。我心裡浮出放鬆的感覺。我終於圓滿完成這一年多沉重的寄養委託。看著小家庭重新聚在一起,讓我感到很幸福。
幸福,屬於那些有耐心和誠心誠意過生活的人。
*****結束******
南投,2016年5月16日
Comment 1 ︳Sangat dramatis dengan tema langka diangkat oleh penulis dari kalangan BMI. Kasih sayang seorang BMI terhadap anak majikan sangat manusiawi. Tema persahabatan yang indah antara BMI dengan majikannya, orang Taiwan. Kereeen! 一個非常戲劇性而且鮮少出現在印尼移工的作品。印尼移工對於雇主骨肉的愛非常人性化。一個印尼移工與台灣雇主美麗友情的主題。太酷了!
Comment 2 ︳Pentingnya menjaga rasa saling percaya antara majikan dan pekerja kembali dibuktikan dari lahirnya kisah ini. Boleh saja ini adalah kisah fiksi, namun tetap memberi banyak pelajaran untuk siapa pun yang bekerja di Taiwan. Penulis berhasil membawa saya membacanya sampai tuntas dan detail. Selain karena kisahnya indah, juga karena tata bahasanya yang rapi. 看護移工與雇主相互信任的重要性再次由這個故事來證明。這或許只是一篇小說,但仍然可以是在台工作者的經驗談。筆者成功讓我仔細地將整篇看完。除了故事很精彩,語法也很整潔。