Serdadu Putri Kesepian

Angela / Serdadu Putri Kesepian / Facebook dan teman-teman / tenaga kerja asing Siapa aku hingga berhak menghakimi orang lain? Sosok lelaki tua, namun terlihat kasar, galak, dan tegap itu tersenyum sedikit padaku. Berdiri di sampingnya, seorang nenek yang masih bugar, namun terkesan serius menatapku. “Ni hao,” kataku. “Ni hao,” kata mereka menyambutku malam itu. Namanya Kakek Tjin … Continue reading “Serdadu Putri Kesepian”

Angela / Serdadu Putri Kesepian / Facebook dan teman-teman / tenaga kerja asing

Siapa aku hingga berhak menghakimi orang lain?
Sosok lelaki tua, namun terlihat kasar, galak, dan tegap itu tersenyum sedikit padaku. Berdiri di sampingnya, seorang nenek yang masih bugar, namun terkesan serius menatapku. “Ni hao,” kataku. “Ni hao,” kata mereka menyambutku malam itu. Namanya Kakek Tjin atau Ape Tjin. Ia tinggal bersama istrinya yang kupanggil Ayi Tjin dan mereka adalah induk semangku. Berusia 90an Ape Tjin masih sangat sehat dan gagah, begitu pula istrinya yang tampak bugar di usia mendekati kepala 8. Berbeda 180 derajat dengan para orang tua di Indonesia. Mereka tinggal di lantai 1, tepat di bawah rumah kos, tempatku tinggal. Rumah kedua orang tua itu bersih sekali, tampak seperti baru. Hampir tidak ada secuilpun debu di rumah beliau. Di dinding rumah terpampang berbagai penghargaan bertuliskan huruf mandarin yang tidak kumengerti. Terpampang pula beberapa foto Ape Tjin, sang istri Ayi Tjin, dan beberapa petinggi pemerintahan. Bahkan, saat aku datang melihat kamar kos, aku sempat melihat ruang tamunya masih dilengkapi pemutar piringan hitam dan tampak seperti baru. Sebuah kebersihan dan ketelatenan yang luar biasa.
Datang ke Taiwan tanpa bekal mumpuni, namun dengan impian tinggi. Impian naif di awal pertemuanku dengan negara ini adalah bermimpi lancar cas…cis..cus…bahasa mandarin seperti sinetron mandarin yang sering kutonton ketika SMA dulu, kemudian mendapatkan pekerjaan ideal di kantor perusahaan besar. Berbekal sedikit bahasa mandarin yang kupelajari dari sinetron Taiwan, beberapa buku mandarin anak-anak, tabungan hasil kerjaku, dan dokumen-dokumen yang menyatakan aku dapat beasiswa belajar bahasa mandarin di salah satu pusat belajar bahasa mandarin Taiwan, aku berangkat dengan percaya diri.
“Kamu orang Indonesia?” tanya Ayi Tjin. “Iya,” jawabku. “Saya juga orang Indonesia, 30 tahun yang lalu datang kemari.” Apakah Indonesia masih banyak orang jahat?” “Bolehkah kalian bercakap mandarin?” “Orang-orang Indonesia masih mata duitan?” tanyanya kembali. Aku bengong, bingung tidak tahu harus menjawab apa karena dari apa yang aku tahu negaraku baik-baik saja. Aku cukup senang karena Ayi Tjin bisa berbahasa Indonesia. Tidak lancar, namun hal itu membantuku sedikit banyak. Yah, baru kusadari ternyata hidup di negeri orang pertama kali tidak semudah bayanganku. Apalagi dengan bahasa yang sangat berbeda dengan bahasa Indonesia. Harga pangan yang lebih tinggi daripada harga makanan di Indonesia, terutama bagiku yang terbiasa makan di rumah memaksaku untuk mencari makanan murah meriah. Terkadang makanan hasil telunjukku tidak seindah bayangan, hanya cukup mengisi perut yang butuh asupan untuk diisi.
Sepasang suami istri itu memintaku berhati-hati di Taiwan karena banyak penjahat berkeliaran, kata mereka. “Taiwan tidak aman, terutama buatmu orang asing.” “Kini di Taiwan banyak penjahat, lihatlah berita TV menayangkan banyak penipu di sekitar kita.” “Anak perempuan jangan pulang malam-malam, banyak orang jahat, kamu harus hati-hati.” Begitulah kata-kata nasehat mereka di awal-awal pertemuan kami. Seringkali pasangan ini mengetuk pintu, membawakanku buah-buahan atau roti sekedar untuk sarapan dan penunjang makananku yang seadanya. “Mereka baik sekali Ma,” kataku pada Ibu di ujung pesawat telepon. “Mungkin karena mereka hanya hidup berdua, tidak punya anak dan keluarga lain, makanya mereka baik?” tambahku. “Baik-baiklah pada mereka, karena mereka yang menjagamu di sana.” “Oke,” sahutku.
Percakapanku dengan kedua suami istri tersebut susah susah gampang. Karena faktor umur, pendengaran Ape sudah jauh berkurang. Bercakap-cakap dengannya terkadang harus dengan suara lantang. Ayi Tjin yang terbiasa dengannya pun berbicara suara keras, kalau tidak katanya tidak jelas. Ape Tjin sering menceritakan masa mudanya yang dihabiskan dengan berlatih bersama prajurit-prajurit lain, di umur 15 tahun terpisah dari keluarganya karena perang saudara hingga akhirnya mengungsi ke Taiwan. Lama menetap di Taiwan tanpa sanak keluarga dan tertutupnya berbagai akses untuk mencari informasi membuat Ape terkungkung. Ape kemudian diperkenalkan dengan Ayi Tjin oleh seorang temannya. Merasa cocok, Ape kemudian melamar Ayi Tjin. Ayi Tjin yang saat itu berada di Indonesia kemudian menerima pinangan Ape karena ingin meninggalkan Indonesia dan merasa hal itu adalah jalan terbaik baginya. Di sisi lain, keluarganya di seberang pulau mengira Ape Tjin sudah tiada. Berdasarkan cerita yang kuperoleh, Ibunda Ape bahkan menangisi putranya setiap hari hingga kesehatan matanya terganggu dan meninggal tanpa tahu kabar berita Ape. Hal itu diceritakan adik Ape Tjin ketika mereka akhirnya bertemu kembali setelah pemerintah Taiwan membuka akses informasi dan adanya kemajuan teknologi 10 tahun yang lalu. Ape Tjin dan Ayi Tjin tidak memiliki anak, namun mereka memiliki seorang anak angkat yang cantik. Terkadang aku bertemu dengannya, tidak banyak cakap namun ramah. Alin nama panggilannya. Mungkin karena ia juga telah berkeluarga, Alin jarang datang menemui Ape dan Ayi, tapi di hari-hari tertentu ia akan datang bersama suami dan anak-anaknya yang masih balita untuk bercengkerama dan makan bersama.
Setengah tahun berlalu, temanku semakin banyak. Melalui informasi dari mereka, aku akhirnya tertarik untuk menjajal masuk perguruan tinggi yang diwarnai dengan iming-iming beasiswa 1 tahun. Diterima! Hati berbunga-bunga bukan kepalang, kupamerkan surat pemberitahuan tersebut pada kedua orang tuaku di Indonesia, namun tidak lupa pula aku kabarkan suka cita tersebut untuk bapak dan ibu kos baik hati itu.
Entah sejak kapan, keharmonisan itu mulai berubah rupa. Jadwal kuliahku yang padat, ditambah dengan kegiatan baruku kerja part time di sebuah kafe kecil membuatku sering lupa waktu dan kini jarang berkomunikasi dengan Ape dan Ayi. Sampai satu waktu, ketika aku baru pulang di malam hari, Ape menegurku. “Anak perempuan pulang malam begini?! Apa kata mamamu di sana?” katanya dengan suara lantang. Aku hanya tertunduk. “Kenapa sekarang sering pulang malam? Kamu tidak lihat sekarang sudah jam 10 lebih?” “Aku dagong,” kataku pelan. “Buat apa kamu dagong? Percuma kamu dagong, tidak menghasilkan. Seorang anak hanya punya kewajiban belajar, bukan bekerja. Bukankah orang tuamu di Indonesia sana kaya raya? Kalau tidak, mana mungkin bisa menyekolahkanmu kemari?” Hatiku terlecut, dalam diam kukatakan, “Kamu bukan siapa-siapa, orang tuaku saja tidak pernah memarahiku seperti itu. Aku kerja untuk kebutuhanku dan meringankan beban mereka, kenapa orang ini sewot sekali?” Masuk ke kamarku, mulai terpikir untuk pindah kos. Taipei sangat aman, selama kuliah 1 tahun, terkadang aku memang pulang malam beberapa kali dan bersyukur selamat sampai kos. Teman-temanku yang lain juga pulang larut malam dan mereka baik-baik saja. Tidak seperti Jakarta, di mana pulang malam artinya lampu kuning, harus ekstra hati-hati. Siang hari saja perempuan jalan sendirian kesulitan, apalagi malam hari.
Meskipun aku sudah betah di tempat kos yang lama, namun aku merasa kesal dengan kata-kata Ape, ditambah jarak ke sekolah dan keinginanku untuk lebih bebas, kubulatkan tekadku untuk pindah. Akhirnya, kuputuskan untuk pindah kos setelah 1,5 tahun menempati kos tersebut. Aku pindah cukup jauh dari tempat kos itu. Jika sebelumnya aku tinggal di sekitar Wanlong ketika belajar bahasa, kini aku pindah ke daerah Shilin yang lebih dekat dengan sekolahku. Ape dan Ayi sepertinya kecewa dengan keputusanku untuk pindah. Melihat mereka berdua melepasku, aku merasa sedikit menyesal dan akhirnya memutuskan untuk tetap menemui mereka di kala ada waktu senggang.
***
Sampai suatu ketika, hatiku bergejolak dan menahan segala amarah yang terpendam. Hari itu Ayi Tjin tiba-tiba bertanya padaku, “Kamu suka Taiwan? Mau nikah sama orang Taiwan? Kamu aku jodohkan saja, mau ya?” tanyanya bertubi-tubi. “Alin saja yang seumuran denganmu sudah punya anak dua, masa kamu belum punya pacar sama sekali?” “Anak dari saudara tetanggaku masih belum menikah sudah umur 40 tahun, Ayi kenalkan ya?” “Kalau kamu belum yakin, tidak apa, kenalan dulu sebagai teman.” Begitu bujuknya. Ape Tjin juga semangat sekali. “Benar, anaknya baik, sudah mapan, gajinya cukup, sudah punya rumah, dan dari keluarga baik-baik. Ape yakin dia jodoh yang cocok untukmu,” katanya berapi-api dengan logat khas, sampai muncrat air liurnya. Aku terpaku, tidak suka disodor-sodorkan seperti itu. “Kamu tunggu di sini sebentar, Ayi telepon orangnya kebetulan hari ini datang ke Taipei.” Dan… hari itu juga aku terpaksa kenalan dengan pria itu. Untungnya pria tersebut sepertinya menyadai aku tidak suka diperkenalkan dengannya. Ia juga kemudian mengambil jarak karena aku tidak mau memberikan nomor ponselku.
“Ma, aku ga suka dikenalin seperti itu, seperti mau digelandang ke pelaminan hari itu juga.” “Mereka bukan siapa-siapa, tapi begitu menurutku keterlaluan.” “Sabar Lala…maksud mereka mungkin baik. Yah namanya saja orang sudah tua, jadi seperti anak kecil. Jangan dimasukkan ke hati,” demikian nasihat ibuku. Ckckckck…sudah bukan jaman Siti Nurbaya, hari gini masih memaksa sebuah perjodohan. Siapa mereka? Keluargaku juga bukan, aku pandang mereka karena mereka dulu baik padaku dan sudah sepuh. “Aku ga mau Ma, pokoknya aku ga akan ke sana lagi, sudah keterlaluan maksa-maksa seperti itu.” “Apa Mama tahu kalau seminggu setelahnya Ayi menyuruhku untuk menghubungi pria tersebut? Rasanya seperti mempermalukan diri sendiri! Rendah sekali seperti ga punya harga diri!!!” Ibuku pun mengalah dengan keputusanku yang tidak ingin datang lagi ke rumah Ape dan Ayi karena insiden pemaksaan tersebut. Hidupku kini pun lebih terasa bebas karena tidak perlu meluangkan waktu untuk ke rumah mereka. Komunikasi sudah hampir tidak pernah terjadi karena aku tidak mau menelepon mereka duluan.
Suatu hari, Ayi Tjin meneleponku. “Lala…apa hari Sabtu malam kamu ada waktu?” Ayi mengundangku makan malam di rumahnya, sekedar melepas rindu. Aku ragu untuk menerima undangannya tersebut. “Apa yang akan mereka perbincangkan kali ini? Apakah akan ada jebakan batman?” pikirku, teringat terakhir kali aku ke sana mereka menyodorkan ‘jodoh’. Pada akhirnya, “iya” adalah jawabanku. Rasanya aneh karena begitu kesalnya aku pada mereka tapi aku masih berkata ‘iya’ untuk berkunjung makan malam. Entah kasihan karena sudah tua atau karena aku teringat ucapan ibuku.
“Banyak sekali makanannya Ayi, Ape…” begitu kataku ketika tiba di ruang makan keluarga Ape Tjin. “Ada apa hari ini?” tanyaku lagi. “Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin makan malam bersama. Hari ini Ape yang masak,” demikian kata Ape. “Alin dan keluarganya juga kami undang, karena itu masakannya cukup banyak.” Ada tim ayam jamur, sup bakut masak sayur asin, ikan asam manis, sayuran hijau, gorengan, selada dingin dengan berbagai daging khas masakan Cina tersaji di meja makan. “Jam berapa Alin akan datang?” tanyaku ketika jarum jam sudah menunjukkan pukul 6.45 malam. Bukan bermaksud tidak sopan, tapi biasanya mereka memulai makan malam tepat pukul 6 sore, karena itu sedikit aneh bagiku.
Pukul 7, Ape Tjin menghela napas dan kemudian berkata, “Ayo kita makan, tidak perlu menunggu Alin.” “Kenapa? Alin kan berkata akan mencoba datang ke mari selesai berkunjung ke rumah mertuanya di Taichong,” demikian Ayi Tjin menjawab. “Hahh…anak itu masih kamu bela terus? Dia lebih mementingkan keluarga kandungnya, keluarga kecilnya, dan mertuanya! Kamu kira aku bodoh! Alin itu tidak suka padaku. Kita memang orang tua angkatnya, ganpa dan ganma, tapi toh kita tidak pernah jadi yang pertama!” Diam terhenyak diriku, begitukah selama ini keadaan mereka? Terkadang aku suka mendengar mereka bertengkar, namun baru kali ini aku mendengar pembicaraan mengenai Alin. “Ayo kita makan sekarang Lala, kamu pasti sudah lapar.” Makan dalam keheningan, terasa Ape dan Ayi sepertinya bersitegang.
“Hidangan-hidangan ini semuanya enak sekali!” demikian kataku memecah keheningan. “Ini semua Ape yang masak?” “Iya benar, ini semua masakanku, dulu aku juga sempat bertugas jadi kepala koki istana” katanya bangga. Ah…mungkin itu sebabnya piagam yang diterima Ape begitu banyak. Sudah hampir 2 tahun aku baru menyadari hal tersebut. Selesai makan malam aku duduk bersama mereka yang menyalakan TV dan menonton berita ulangan hari ini. “Ayi, belakangan ini apa saja kegiatan kalian?” tanyaku pada sang istri. “Aku sekarang mulai ikut komunitas lingkungan untuk mengumpulkan sampah daur ulang. Hitung-hitung aku bisa mendapatkan teman baru dan sedikit tambahan penghasilan.” “Wah, lumayan sekali, Ape tidak mau ikutan?” “Tidak!” jawabnya ketus. “Kemarin saja aku tidak sengaja terjatuh ketika hujan, bisa apa aku kalau mengumpulkan sampah-sampah itu? Untung tidak apa-apa kata dokter, hanya sedikit lecet. Ini coba kamu lihat luka-lukaku. Rasanya sakit sekali, beginilah badan sudah tua.”
“Ape Tjin sebenarnya ingin shenqing wailao, tapi katanya tidak bisa karena beliau masih sehat. Tidak perlu kursi roda dan masih bisa mengerjakan semuanya sendiri,” Ayi Tjin kemudian bercerita betapa mahalnya biaya untuk mempekerjakan seorang asisten perawat di rumah. Sebulan mereka harus menyiapkan uang sekitar 25 ribu NTD dan masih harus menanggung beberapa persyaratan lainnya yang berarti menambah pengeluaran, sedangkan mereka hanya mendapatkan uang pensiun karena tidak lagi bekerja. “Ah…tapi Ayi juga ragu, apa mereka bisa betah kerja di sini? Ape Tjin sangat bersih, semua harus rapi, dan ia sangat menuntut, apa iya ada yang tahan?” “Hmm…mungkin tidak,” begitu pikirku tanpa berani mengucapkan satu katapun, mengingat apa yang pernah terjadi padaku dan apa yang mungkin terjadi jika aku menjawab pertanyaan Ayi dengan jujur. Di balik itu aku jadi berpikir, mereka yang menjaga orang tua di sini, banyak di antara mereka yang disebut wailao itu sebenarnya sangat hebat dan kuat. Kesabaran mereka sangat diuji dengan sifat anak-anak berwujud orang tua seperti Ape dan Ayi.
Ketika akan pamit pulang, Ape Tjin tiba-tiba berkata, “sering-seringlah main ke mari jika kamu ada waktu. Aku ini sudah tua, tidak tahu kapan akan pergi dari sini.” Mata Ape kemudian berkaca-kaca. “Mungkin tidak lama lagi aku akan pergi, waktuku tidak banyak, jadi sering-seringlah main kemari,” matanya mulai memerah menahan air mata. Aku terharu dan tidak tega melihatnya seperti itu. Tepat saat itu Alin dan keluarganya tergopoh-gopoh datang dan meminta maaf kepada Ape dan Ayi karena telat. Alin dan suaminya sempat menyapaku, kemudian mereka berkata mertua Alin hari itu sedang ingin bersama cucu mereka lebih lama, sehingga mereka tidak berani menolak.
“Kami kesepian…tidak banyak hal yang bisa kami lalui, Alin sudah jarang menjenguk kami, kamu juga. Kami hanya ingin ditemani,” demikian Ayi menutup pembicaraan di ambang pintu rumahnya ketika mengantarku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *