Sesilia / Putih Abu – Abu Yang Ku Perjuangkan / Tidak ada / tenaga kerja asing
Waktu itu aku berusia 15 tahun, aku di landa sebuah dilema akan sebuah pilihan antara impian ku atau keselamatan adik ku. Sebagai seorang kakak yang ingin meneruskan sekolah ke tingkat SMK, tapi harus dihadapkan dengan kondisi adik ku yang sangat memprihatinkan, butuh tindakan cepat untuk menolongnya. Aku hanya bisa pasrah melepaskan impian ku untuk adik ku tercinta. Hanya itu yang dapat ku lakukan untuknya saat itu. Karena saat itu bapak mengalami krisis, hingga akhirnya kuserahkan biaya sekolah ku untuk pengobatan adik ku, yang harus secara rutin satu bulan sekali selama dua tahun menjalani pengobatan rutin. Walau sesak rasa dada ini karena harus melepaskan impianku, tapi aku merasa bahagia karena adik ku dapat tertolong. Itulah pengorbanan ku untuk mu adik ku.
Pada suatu malam aku utarakan keinginan hati ku kapada orang tua ku, bahwa aku ingin bekerja ke Jakarta mencari uang untuk biaya sekolah dan aku mencoba meyakinkan mereka.
” Bapak, ibu, aku pasti bisa, aku ingin tetap melanjutkan sekolah,aku akan jaga diri baik – baik, tolong izinkan dan doakan aku.” Pinta ku kepada orang tua ku.
Suasana saat itu menjadi sunyi, orang tua ku terdiam dan terlihat buliran air mata menetes tak hentinya dari sudut mata mereka.
” Ndok, kalau itu memang sudah menjadi keputusan mu, bapak dan ibu akan mengizinkan mu dan akan mendoakan mu untuk menggapai impian mu.” Seru bapak yang langsung memeluk ku di iringi oleh ibu.
Akhirnya izin orang tua ku aku dapat kan dan segeralah aku mempersialkan perlengkapan untuk ke Jakarta.
Sore itu di Terminal bus aku di antarkan oleh bapak dan ibu. Aku selalu mencoba tersenyum ketika menatap wajah mereka agar mereka tak terlalu khawatir ke pada ku. Walau ku lihat raut wajah yang amat cemas yang tampak di wajah mereka.
” Pak, buk, jaga diri baik – baik, jaga kesehatan, aku pergi dulu.” Pamit ku seraya memeluk ke dua orang tua ku.
” Jaga diri baik – baik ndok, restu dan doa kami bersamamu. Jangan lupa kasih kabar ke kami kalau sudah tiba di Jakarta.” Tutur bapak yang di iringi isak tangis ibu yang dari tadi hanya terdiam di samping ku dan memeluk ku tanpa berkata apa pun.
Bus itu dan lambaian kedua tangan orang tua ku telah menjadi bukti sebuah perpisahan yang berbekal niat, keinginan, dan doa saat itu.
Ketika tiba di Jakarta aku selalu memberi kabar kepada orang tua ku agar mereka tidak terlalu mencemaskan ku, dan dapat memberikan pengobatan yang maksimal kepada adik ku.
Aku di Jakarta tinggal bersama kakak ku perempuan, dia sudah menikah dan mempunyai 4 orang anak. Dialah orang yang selalu membantu ku, dia juga yang memberikan pekerjaan kepada ku. Karena aku tidak ingin merepotkan siapa pun selama aku mampu mengatasinya sendiri. Aku menyuruhnya memperlakukan aku sebagai seorang karyawan agar aku dapat hidup mandiri.
Setelah satu tahun lamanya aku bekerja dan uang ku telH terkumpul serta cukup untuk biaya sekolah, aku mendaftarkan diri di SMK Jakarta dan aku di terima.
Di sanalah aku menuntut ilmu dan di sanalah aku mendapatkan seragam ku sebuah seragam yang aku perjuang kan ” putih abu – abu.”
Aku sangat bahagia karena mendapatkan sahabat yang amat baik, para guru yang selalu memberi ku motivasi.
” Uwie, kamu mau ikut kami setelah pulang sekolah nanti, kami mau nonton di bioskop.” Terdengar ajakan dari salah satu sahabat kepada ku.”
” Maaf aku tidak bisa karena aku ada pekerjaan.” Tolak ku.
Ya, karena aku tidak bisa seperti teman – teman yang dapat bermain sesuka hati mereka setelah jam pulang sekolah karena aku harus bekerja di toko kakak ku. Setelah pulang sekolah aku bekerja hingga pukul 21.00 malam, setelah itu aku masih harus mengerjakan tugas sekolah ku. Bahkan hari minggu pun aku tetap bekerja karena di hari minggu aku mendapat gaji penuh, sayang jika di tinggalkan. Sebenarnya kakak ku tidak tega dan ingin membantu ku tapi aku menolak karena aku sudah berkomitmen kepada diri ku, bahwa aku tidak akan pernah nerepotkan orang lain selama aku masih mampu.
Di sekolah aku mendapatkan jabatan sebagai Ketua Osis dan mendapatkan gelar murid tauladan dari para guru dan teman – teman. Sungguh bahagia sekali rasanya, aku dapat melalui hari – hari ku dengan sangat baik, walau rasa lelah menghinggapi tubuh ku tapi semua itu tidak membuat ku rapuh.
” Uwie,…Uwie…” Terdengar teriakan dari seseorang tapi hanya sekilas setelah itu semua gelap.”
Dan ketika aku membuka mata aku sudah berada di rumah sakit .Aku positif terjangkit tifes dan harus di rawat di rumah sakit, karena sebelumnya aku mengalami panas yang sangat tinggi selama satu minggu.
” Uwie, bulan depan kita akan mengikuti ujian, bagaimana dengan mu,” Ujar salah satu sahabat yang menjenguk ku sore itu.”
” Aku tetap akan mengikutinya, aku pasti bisa,” Jawab ku yang penuh semangat tapi bertolak belakang dengan keadaan fisik ku saat itu.”
” Ok, cepat sembuh wie, aku akan bawakan catatan untuk mu,” Sahut salah satu sahabat lain.”
Aku sangat beruntung mempunyai sahabat yang amat peduli kepada ku tanpa membedakan status. Mereka juga salah satu semangat ku dalam menuntut ilmu, karena mereka tahu aku sangat menghargai waktu. Karena setiap sedetik waktu yang hilang berarti kita telah melepaskan sedetik ilmu yang akan kita dapatkan.
Waktu ujian pun di mulai, akhirnya aku bisa mengikutinya. Walau masih dalam keadaan lemas tapi aku optimis dan semangat ku yang menggebu telah melenyapkan rasa lesu yang bersarang di tubuh ku. Puji syukur ku terhadap Tuhan karena aku dapat mengikuti ujian ku dengan baik dan lancar.
Dan hari yang ku tunggu – tunggu telah tiba, hari di mana perjuangan ku selama 3 tahun lamanya akan terlihat hasilnya. Wali kelas pun membacakan hasil dari ujian, dan nama ku terletak di posisi ke dua. Walau rasa sedikit kecewa menghinggap di hati ku karena selama 3 tahun aku selalu berada di posisi teratas. Tapi saat ini aku harus merelakan untuk orang lain. Karena sebuah penyakit yang menyerang ku waktu itu. Tapi tak mengapa, aku tetap bangga, aku dapat menyelesaikan sekolah ku dengan baik dengan kerja keras ku selama ini.
” Pak, buk aku lulus, Alhamdulilah dapat peringkat ke dua.” Jelas ku kepada ibu menggunakan telepon seluler waktu itu.”
” Alhamdulilah, bapak bangga kepada mu ndok.” Sahut bapak dan ibu yang terdengar sedang menangis karena bahagia.”
” Terima kasih pak, buk ini semua berkat doa kalian.” Tutup ku dalam pembicaraan tak lupa ku ucapkan salam.
Kebahagiaan yang ku dapatkan adalah sebuah bukti perjuangan yang telah aku lakukan untuk mendapatkan seragam putih abu – abu ku dan kini aku telah mendapatkannya. Aku percaya setiap kemauan pasti ada jalan jika kita mau berusaha dan berdoa. Dan sebuah kekurangan jangan lah jadi alasan untuk menyerah dan menggagalkannya. Sebuab pengorbanan ku untuk adik ku juga berbuah manis, dia sudah membaik sekarang walau belum sembuh total. Inilah kisah ku, Uwie seorang gadis yang telah berhasil memperjuangkan seragamnya.