Ryan Ferdian Darsudi / Aku, Bosku, dan Hijabku / Flp Taiwan / tenaga kerja asing
Aku, Bosku, dan Hijabku
“Cindy, kami mengizinkanmu memakai hijab seperti yang kamu pakai sekarang atau dengan pakaian perempuan muslimah yang jilbabnya lebar dan bajunya longgar. Tapi kami minta kamu tidak memakai cadar. Patuhi dan hormati peratutan Negara kami, demi kenyamanan kita bersama.” Pinta Nyonya di suatu pagi sebelum berangkat ke kampus tempatnya mengajar.
***
Tak pernah sedikitpun aku memiliki nama panggilan sebagus ini, ‘Cindy’. Sebuah nama yang hanya aku tahu dari televisi. Nama-nama para artis. Kini nama itu menjadi nama panggilanku semenjak aku menginjakkan kaki di Taiwan.
“Cindy, ini kamarmu. Kamu tidur bareng Ama biar gampang kalau Ama memanggilmu kalau Ama ada apa-apa.” Kata majikan perempuanku kala pertama kali aku memasuki rumah majikanku ini. Rumah berlantai dua di daerah yang jauh dari ibu kota. Hualien. Kota di mana aku harus bekerja. Majikanku yang lelaki adalah seorang dokter, sementara istrinya adalah seorang dosen di sebuah universitas ternama di Hualien, mereka memiliki 2 orang anak lelaki yang sedang kuliah di Tainan. Jarang sekali kedua anaknya pulang kecuali liburan kuliah.
“Baik, Nyonya.” jawabku. Kata Mandarin pertama yang aku ucapkan di Taiwan setelah tiga bulan lama aku belajar bahasa di penampungan (PJTKI) di Jakarta. Meski sudah sering mendengar bahasa Mandarin saat “sekolah” tapi rasanya di telingaku pengucapan kata-kata majikanku yang bermarga Liu ini sedikit asing. Terasa lebih halus dari pengucapan guru pengajar di penampungan yang memang asli orang Indonesia. Mereka adalah purna TKW yang dianggap bahasanya sudah memenuhi standart pekerja di Taiwan. Kebanyakan mereka berasal dari Jawa Tengah atau Jawa Timur yang tentu saja aksen bahasa mereka masih kental daerah asalnya.
“Cindy, aku dan Tuan setiap hari pergi bekerja, hanya hari sabtu dan minggu kami libur, kamu tolong jaga Ama yang baik, ya. Aku akan mengajarimu cara memandikan Ama, dan yang lainnya. Kamu juga tidak perlu sungkan. Kalau Ama sudah tidur, kamu bisa masak untuk makan siangmu. Di kulkas sudah aku sediakan sayur-mayur juga daging ayam. Kamu bisa masak, kan?” jelas nyonyaku. Aku hanya menganggukkan kepala tanda aku mengerti.
***
Setahun telah berlalu. Aku mulai terbiasa dengan nama baruku. Nama asliku Siti Munawaroh tak lagi pernah menjadi panggilanku selama di Taiwan, kecuali saat aku menelpon keluarga. Bahkan teman-temanku sesama orang Indonesia yang aku kenal di sini bila aku sedang membawa Ama jalan-jalan sore tak mau memanggil nama asliku, “Biarin aja namamu jadi Cindy, kan malah keren. Ini kan Taiwan, Cin. Sudah biasa. Di pabrik tempat suamiku bekerja malah lebih lucu. Bayangin aja, nama Sutris jadi Ali, nama Anggi jadi Ati, nama Andi jadi Anti, Ibrahim jadi Mante, Rano jadi Sani. Kan nggak nyambung, to?” celetuk Shanti. Gadis asal Indramayu yang suka ceplas-ceplos kalau bicara. “Kita ini hidup di negeri orang, kita harus menghormati kebiasaan, budaya dan peraturan setiap Negara yang kita tinggali saat ini untuk mencari rezeki. Bukankah kita sejak sekolah SD sudah diajarkan ‘Di mana bumi dipijak di sana langit dijunjung’? kalimat itu kan bukan cuma slogan belaka tapi harus kita maknai dan kita praktekkan dalam kehidupan nyata.” Lanjut mantan guru honorer SD kampungnya dulu.
Aku dan teman-temanku hanya diam dan saling lirik sambil tersenyum membayangkan nama-nama teman suaminya yang menjadi nama-nama untuk perempuan kalau di Indonesia.
***
Hari minggu adalah saat yang paling menyenangkan bagiku, karena pada hari minggu-lah Tuan dan Nyonyaku berada di rumah. Mereka sering mengajakku jalan-jalan ke tempat wisata di sekitar Hualien. Ada pantai Ci Sin Tan, pantai yang sangat indah dan bersih. Di pantai ini kita tak bisa menyaksikan tenggelamnya matahari di laut atau sunset tapi di pantai ini kita hanya bisa menyaksikan matahari mulai menyenari dunia atau sunrise, karena pantai ini menghadap ke timur. Tapi saat sunset kita tetap dapat menyaksikan keindahan panorama pergantian siang hari ke malam. Gunung-gunung di sekitar pantai ini tak kalah indah dengan pantainya. Selain pantai, majikanku sering mengajakku ke tempat wisata pegunungan yang terkenal dengan tebing-tebingnya; Taroko.
“Cindy, kamu harus bersyukur dapat tempat kerja di Hualien. Banyak tempat-tempat indah yang bisa kamu kunjungi di sini. Lihatlah mereka ke sini dengan ongkos yang mahal dan waktu yang tidak sebentar.” Kata Nyonya sambil menunjuk kerumunan wisatawan lokal dan asing yang di sana terdapat beberapa orang Indonesia.
“Cindy, kamu nanti boleh menyeberang ke bukit sana. Kamu lihat pagoda di atas bukit itu. Dari pagoda itu kamu dapat menikmati keindahan alam di sekitar sini. Kamu boleh menaiki pagoda itu, kalau mau ke pagoda itu kamu harus menyeberangi sungai lewat jembatan merah di sebelah kiri itu. Biar Ama dengan kami di sini.” Jelas Tuanku menjelaskan.
Memang benar keindahan tempat wisata ini tak diragukan lagi. Sejak perjalanan memasuki Taroko mataku sudah disuguhi pemandangan yang membuat kita takjub pada ala mini dan takjub pada Sang Pencipta alam ini. Sungai-sungai kecil di antara gunung yang mangapitnya tampak begitu dalam. Jalan-jalan yang kita lewati adalah sisi gundung yang dibuat semacam terowongan yang sengaja dibuat di pinggir gunung itu sendiri agar kita dapat menikmati keindahannya. Bagi takut ketinggian melihat ke bawah tentu akan membuat aliran darahnya mengalir semakin deras.
Aku memberanikan diri menuju bukit yang terdapat bangunan pagoda di atas sana. Ama, Tuan dan Nyonya tetap di tempat semacam pasar kecil di puncak Taroko ini. Mereka menyebutnya ‘Kota’ meski hanya beberapa rumah lumayan mewah dan hotel tapi terdapat kantor pos di sana. Di tempat itu bila malam wisatawan boleh mambuat tenda untuk bermalam bagi yang tidak mau menginap di hotel yang tarifnya permalam 5000 NT$ hingga 6000 NT$ untuk kelas biasa. Tak hanya di ‘Kota’ saja tetapi di spot-spot yang banyak dikunjungi juga diizinkan membuat tenda untuk tidur dengan syarat setelah pukul 6 sore dan pagi sebelum pukul 8 waktu setempat.
Berjalan ke kiri menyeberangi jembatan panjang, kulihat jembatan merah yang dimaksud oleh Tuan. “Itu dia jembatannya!” batinku. Aku lihat rombongan orang Indonesia, mereka semua membawa kamera besar dikalungkan di leher. “Wuih keren!” kataku takjub.
Melihat aku yang berjalan sendirian salah seorang menyapaku, “Mba, orang Indonesia, ya?”
“Iya, Mas,” balasku.
“Kok sendirian?”
“Aku sama majikanku kok, mereka nunggu aku di sana. Soalnya Ama yang aku rawat kan nggak bisa ke sini,” jawabku.
“Ya, sudah kita bareng aja yuk. Tuh teman-temanku sudah pada sibuk jeprat-jepret. Oh iya, namaku Anto, aku kerja di Taipei. Sebenarnya aku ke sini sudah sering. Kali ini aku ngantar teman-teman yang penasaran dengan Taroko. Dari Hualien kami menyewa taksi. Berhubung kami berdelapan kami menyewe dua taksi.” Terang lelaki hitam manis bernama Anto ini.
“Mahal ya, Mas kalau nyewa taksi?” tanyaku penasaran.
“Lumayanlah, Mba. Satu taksi 5000 NT$ sekali jalan. Tapi kita diantar ke spot-spot pilihan yang banyak dikunjungi wisatawan. Seharusnya pagoda ini spot terakhir, tapi kami minta ke sini dulu sebelum ke spot yang satu lagi. Kuil di atas bukit yang yang ada air terjunnya itu, Mba,” lanjut Anto menerangkan.
Aku sedikit terkejut dengan tarif yang harus dibayar untuk mereka sampai ke tempat wisata ini. aku bersyukur bekerja di kota yang dekat dengan tempat indah ini.
“Oh iya, Mas, namaku Siti. Panjangnya Siti Munawaroh, tapi majikanku memanggilku Cindy,” kataku yang hampir lupa memperkenalkan diri.
“Ya sudah aku panggil kamu Cindy aja, ya biar keren. He he he …” goda Mas Anto sambil terkekeh.
“Terserah sampean sajalah.” Jawabku pasrah.
“Kamu sering ke sini, Cin?”
“Sering. Tapi Cuma sampai ‘Kota’, baru kali ini majikanku menyuruhku jalan sendiri ke pagoda di atas sana, katanya biar tahu keindahan alam sekitar sini dari dalam pagoda,”
“ooo….” Sahut Mas Anto.
Kami berjalan melewati jembatan merah menaiki anak tangga menuju pagoda, setelah pagoda kami ke kuil di atas sana. Kuil yang memiliki halaman cukup luas. Ada patung bertubuh manusia, berhidung berbelalai gajah, dan memliki tangan banyak seperti di India.
“Cin, kamu jadi model kami, ya! Kami butuh model nih. Pemandangan seindah ini tanpa model rasanya kurang lengkap.”pinta salah seorang komunitas fotografi ini. Mimpi apa aku diminta menjadi model? Setelah namaku berganti menjadi Cindy, ini adalah hal yang kurasa aneh tapi nyata dalam hidupku.
***
Januari 2016
Hari itu minggu sore, ketika kami berkumpul di ruang tamu menonton tv bersama setelah pulang dari jalan-jalan ke pantai Ci Sin Tan. Tuan menyetel chanel berita lokal yang sedang menyiarkan berita. Tiba-tiba ada berita tentang acara pekerja migrant dari Indonesia.
“Cindy, lihatlah! Tadi ada acara orang Indonesia di stasiun Taipei. Ramai sekali, ya?”
Aku yang sedang berada di dapur untuk membuatkan the hangat untuk mereka langsung berlari kecil menuju ruang tengah.
“Oh … ada pengajian rupanya,” batinku sambil melihat lekat ke layar tv flat di ruang tamu.
“Mengapa mereka memakai pakaian seperti orang Arab, Cin? Apa nggak gerah di musim panas begini?” tanya Tuan padaku.
Deg!
Tiba-tiba jantungku seakan berhenti berdetak untuk beberapa detik. Kemudian berdetak lebih kencang dari sebelumnya, “ini kesempatanku untuk menjelaskan pada Tuan dan Nyonya untuk menjelaskan sekaligus aku meminta izin untuk berhijab. Bismillah.” Bisik hatiku.
“Begini, Tuan, sebenarnya bagi kami yang beragama Islam wajib bagi seorang perempuan wajib menganakan hijab dan menutup seluruh anggota badan kecuali ini dan ini,” jelasku sambil menunjuk telapak tangan dan wajahku. Perlahan aku menjelaskan dengan bahasa sebisaku. Karena saat belajar di penampungan PJTKI tidak ada pelajaran bahasa Mandarin mengenai agama.
Tuan dan Nyonya tampak serius menyimak penjelasaku yang tampak kesulitan menjelaskan dalam bahasa Mandarin tentang hijab. Aku pun masih gemetar berdiri di samping kursi roda Ama yang mulai terkantuk.
“Baiklah, Cindy. Kamu tidak usah menjelaskan lebih detail lagi tentang hijab. Biar nanti kami cari informasi lebih detail tentang hijab di google.” Kata Tuan. Nyonya yang duduk di sampingnya mengangguk sambil tersenyum.
“Tuan, Nyonya, bolehkah saya memakai hijab?” tanyaku memberanikan diri. Tuan dan Nyonya saling pandang.
“Apa kamu yakin?” jawab mereka serempak balik bertanya.
“Yakin, Tuan, Nyonya.” Jawabku mantab.
“Tapi dengan syarat tidak menganggu gerakmu dalam bekerja, ya!” jawab Nyonya sedikit tegas.
“Baik, Nyonya, Tuan. Saya berjanji akan tetap bekerja seperti biasanya walau dengan memakai hijab.”
Ada rasa lega dan bahagia mendengar jawaban Nyonya yang di-amini oleh Tuan saat izin mengenakan hijab kudapatkan. “Terima kasih atas kemudahan ini ya Allah,” ucapku dalam hati.
***
Sejak hari itu aku mulai mengenakan hijab meski awalnya hanya kerudung biasa yang aku pakai. Kaos-kaos dan celana-celana pendek mulai kukemasi. Aku hanya memakai kaos lengan panjang serta celana panjang. Aku mulai membeli celana-celana berbahan katun agak longgar, begitu juga dengan baju. Tidak lagi kaos yang aku beli. Aku membeli pakaian-pakaian itu di pasar malam sekitar rumah. Sebenarnya ingin membeli baju muslimah syar’i secara on-line tapi harganya sangat mahal menurut ukuranku yang orang desa ini. Bukan. Bukan sayang uang untuk menyempurnakan ibadahku menutup aurat, tetapi kebutuhan ekonomi di kampungku yang masih banyak membuatku memilih membeli pakaian di pasar malam dengan hanya beberapa ratus NT dollar saja. Yang penting menutup aurat dan tidak ketat. Begitu prinsipku.
“Semoga Allah mengampuni dosaku. Semoga suatu hari nanti aku bisa mengenakan pakaian muslimah secara sempurna sesuai syariat Islam.”
***
“Cindy … cepat kemari!” panggil Nyonya dengan suara keras tidak seperti biasanya. Aku yang sedang memijit-mijit kaki Ama di kamar segera menghambur ke ruang tamu.
“Lihat berita di tv. Ada orang Indonesia memakai baju serba hitam dan cadar sambil menghunus pedang masuk berita.”
Mataku langsung tertuju pada layar yang terdapat foto seorang TKW bercadar sambil menghunus pedang dan mengacungkan jari telunjuknya ke atas dan satu foto lagi tangan kanan memegang gagang pedang dan tangan kiri menyentuh ujung pedang. Di atas fotonya terdapat tulisan “Nggoleti Pistol Ra Ketemu Adane Pedang”.
Aku merinding. “Belum genap aku diizinkan mengenakan hijab, mengapa harus ada berita seperti ini?” gumamku. Aku hanya bisa diam. Biarlah waktu yang akan menjawab berita ini.
Selang beberapa hari pemberitaan TKW bercadar yang menjadi Headline terjawab sudah. Rupanya ini berhubungan dengan dugaan ISIS yang disinyalir sebagai teroris dunia telah memasuki Taiwan, karena itu di Taiwan diberlakukan aturan larangan mengenakan cadar di tempat umum tetapi masih diperbolehkan mengganti cadar dengan masker.
“Cindy, kami mengizinkanmu memakai hijab seperti yang kamu pakai sekarang atau dengan pakaian perempuan muslimah yang jilbabnya lebar dan bajunya longgar. Tapi kami minta kamu tidak memakai cadar. Patuhi dan hormati peratutan Negara kami, demi kenyamanan kita bersama.” Pinta Nyonya di suatu pagi sebelum berangkat ke kampus tempatnya mengajar.
“Baik, Nyonya.” Sahutku sambil mengangguk.
***
Selepas Nyonya pergi aku kembali ke rutinitasku merawat Ama. Perempuan tua yang sudah kuanggap seperti nenekku sendiri ini begitu sayang padaku. Meski tak banyak bicara tapi dapat kulihat dari senyum dan sorot matanya. Jauh berbeda dengan pertama kali aku datang ke rumah ini. Ia begitu judes, kasar, dan tidak percayaan. Hal ini berlangsung sekitar 3 bulan lamanya. Setelah aku merawatnya dengan sabar dan penuh kasih sayang berlahan sikapnya berubah. Kami yang lebih sering menghabiskan hari-hari hanya berdua membuat kami semakin akrab, Ama pun sering bercerita tentang apa saja yang diingatnya. Kami sering tertawa bersama. Bahkan aku tidak sungkan mencium pipi keriputnya bila melihatnya tersenyum. Lucu dan menggemaskan. Tuan dan Nyonya pun sekarang sudah tahu bahwa Ama begitu sayang padaku, pun tidak mempermasalahkan aku mencium penuh gemas pipi Ama kalau melihatku menyayangi Ama.
“Cindy, kamu nggak geli apa nyiumin Ama?” Tanya Nyonya suatu ketika.
“Nggak, Nyonya. ‘kan nyonya bersih. Habisnya Ama lucu dan bikin saya gemas, Nyonya. Apa lagi kalau tertawa.” Jawabku sambil tersenyum.
Taoyuan, 23 Mei 2016