Cerita dari ruang ICU

Zaa / Cerita dari ruang ICU / Sima / tenaga kerja asing Cerita dari ruang ICU “Bukankah ganjaran kebaikan itu tidak lain melainkan kebaikan ?”(Q.S. Arrahman:60). ” Kita harus cepat membawanya ke rumah sakit, sekarang! Bahkan kita juga harus minta dokter untuk merawat inap Ama!” Nada suaraku kali ini agak meninggi dan terkesan memerintah. Meskipun aku tahu tidak … Continue reading “Cerita dari ruang ICU”

Zaa / Cerita dari ruang ICU / Sima / tenaga kerja asing

Cerita dari ruang ICU

“Bukankah ganjaran kebaikan itu tidak lain melainkan kebaikan ?”(Q.S. Arrahman:60).
” Kita harus cepat membawanya ke rumah sakit, sekarang! Bahkan kita juga harus minta dokter untuk merawat inap Ama!” Nada suaraku kali ini agak meninggi dan terkesan memerintah. Meskipun aku tahu tidak pantas bersikap seperti itu pada laki-laki yang berpotongan rambut lebih panjang dari potongan rambutku ini, karena bagaimanapun dia adalah anak Ama, Bosku.
“Memangnya rumah sakit itu punya kamu? kalau kata kamu opname’, Ama boleh opname?!” Suaranya juga tak kalah tinggi dan itu sudah biasa dia lakukan padaku, kami adu mulut.
Dia terus mondar-mandir di hadapanku, kepulan asap menyebar kemana-kemana dari mulutnya yang tidak berhenti menghisap sebatang kretek, bertanda bahwa sebenarnya dia juga panik.
Ya, walaupun tampangnya urakan dan bertempramen tinggi, tapi sebenarnya dia baik, terbukti selama ini memperlakukanku juga seperti keluarganya sendiri dan dia pun sangat sayang pada ibunya. Hanya terkadang kebiasaannya bermain komputer tidak bisa diganggu, sehingga terkesan kurang perhatian pada ibunya.
“Iya, kali ini saya sendiri yang akan bilang sama dokternya, Ama harus opname!”
“Semalaman saya lihat Ama susah bernafas karena dahak. Makanya kalau Ama nggak sakit jangn minta opname, sekarang giliran Ama sakit beneran, kamu bingungkan?! Huuft..!” kali ini aku menjawabnya dengan sedikit mendengus, kemarahanku menjadi.
Pikirku biar saja sesekali aku memarahinya, walaupun dia adalah bosku. Karena bagaimanapun Ama adalah pasien yang aku jaga dan itu sudah menjadi kewajiban serta tanggung jawabku segala kondisi tentang Ama. Walaupun sejak aku baru datang merawatnya, Ama sudah tidak berdaya dan hanya berbaring di ranjang saja, tetapi setidaknya tidak semakin parah.
Itu sebab kenapa aku begitu marah, sudah beberapa hari ini aku perhatikan Ama sering terlihat gelisah dan merintih kesakitan. Namun, kondisi Ama yang sudah tidak bisa berbicara, membuatku bingung apa yang dia rasakan. Aku sudah beberapa kali meminta Bosku membawanya ke dokter, tapi tiap kali juga dia beralasan, dia sibuk.
Hari ini puncaknya, kulihat kondisi ama sangat lemas, badanya panas, nafasnya terlihat tersendat, matanya tak terbuka sama sekali. Kuraba denyut nadinya, lemah. Cepat-cepat aku merapihkan pakaiannya dan bergegas membawanya ke rumah sakit.
****
” Anamnesis’: fever’ 39,8. Glukosa’800, atrofi muskular’, hypotension’, MAP less’, pielonefritis’, septic shock’…,” Dan beberapa kalimat istilah kedokteran yang lain, yang tidak aku pahami maknanya, seorang asisten dokter melaporkan hasil chek-up kondisi Ama pada dokter.Terlihat juga ada beberapa perawat lain saling sibuk, ada yang sigap memasang selang oksigen dan infus, dan ada juga lainnya, terus mencoba mencari tekanan jantung dan darah Ama.
Aku menarik diriku lebih ke tepi sisi tembok, memberikan tempat pada nona-nona berseragam putih itu agar tak terhalang olehku dan leluasa bergerak. Ruangan begitu gaduh. Kini nampak Dokter dan asistennya sedang berunding sesuatu denga Bosku, mungkin mereka meminta persetujuan atas tindakan yang akan dilakukan pada tubuh Ama. Sehingga, jika nanti ada resiko yang tak diinginkan, mereka sebagai pihak medis bisa mempertanggung jawabkannya pada pihak keluarga Ama, bahwa sudah ada persetujuan dari salah satu anggota keluarga.
Kulihat kini Bosku di depan meja perawat, menandatangani sebuah kertas. Sedang aku sendiri masih terdiam di sudut ruangan,dan kebingunganku tersentak ketika seorang perawat menghampiriku,
“Maaf Nona, sekarang anggota keluarga mohon menunggu di luar ruangan dulu, ya?!” mempersilahkan diriku meninggalkan ruangan.
Aku hanya mengangguk, diam tak ada sepatah katapun yang aku ucapkan. Diantara deretan kursi lorong aku menunggu, dan bunyi detak jam dinding yang terletak menggantung diatas tembok tepat dihadapanku, seolah ingin menyembunyikan segala perasaanku.
***
Terhitung 5 hari sudah, Ama berada di kamar ICU’, masa kritisnya sudah lewat. Tapi pernafasannya masih dibantu dengan ventilator’, serta beberapa kabel yang tersambung pada sebuah monitor pendeteksi jantung juga masih menempel di dadanya. Rutin aku menjenguknya tiga kali dalam sehari.
Dan di ruang tunggu, di lorong yang berjejer beberapa kursi ini, aku kerap melihatnya.
Aku melihat perempuan baya itu tiga kali sehari, dia sudah datang sebelum pembesuk yang lain datang.
Usianya 65 tahun, dia memberi tahuku saat kami berkenalan beberapa waktu lalu. Mungkin pasien yang dia jenguk sudah lebih lama berada di dalam, dibanding Ama.
Aku memanggilnya dengan sebutan Ayi, yang berarti Bibi dalam bahasa Mandarin.
Wajahnya terlihat begitu tirus, sudah banyak memperlihatkan kerutan- kerutan, suaranya sedikit parau seperti tertahan dan potongan pendek rambutnya pun mulai berbaur warna putih, pakaiannya juga sangat sederhana membalut tubuhnya yang kurus. Namun selalu ada senyum yang senantiasa dia perlihatkan, itu yang membuatku tidak segan untuk memberanikan diri sedikit berbincang dengannya, di sela-sela waktu kami menunggu.
Pernah suatu kali aku coba bertanya, alasan dia begitu bersemangat datang menjenguk si pasien. Padahal menurut ceritanya, jarak tempuh antara rumahnya dan rumah sakit lumayan agak jauh, sekitar 30 menit jika mengayuh sepeda. Aku membayangkan untuk seusianya yang terbilang sudah senja itu tidaklah mudah, belum lagi jika malam hari dan hujan, itu semua butuh tenaga dan tentu saja sebuah alasan. Ya, alasan yang kuat kenapa beliau mau melakukannya. Karena pengorbanan seperti itu secara pribadi jarang aku temui.
Kembali menurut ceritanya, yang didalam ruangan itu adalah kakak laki-laki Ayi yang pertama, umurnya hampir 92 tahun.
Kulihat mata Ayi sedikit berkaca-kaca dengan pandangan menerawang, kini dari bibirnya mengalirlah sebuah cerita,
“Bapak saya, dulu punya enam anak, saya anak ke lima, perempuan satu- satunya. Dan dulu, mempunyai anak perempuan berarti sial, itu juga anggapan Bapak saya…,”
Benar dugaanku, dengan suara paraunya yang sedikit tersendat, beliau mulai mengingat masa kecilnya,
” Tapi saya beruntung mempunyai kakak yang ini, meskipun orang tua saya menyia- nyiakan saya dan memperlakukan tidak adil, dia selalu ada melindungi dan membela saya. Dari makanan, tempat tidur semuanya dia rela berbagi. Walaupun saat dia sudah berumah tangga, begitupun saya. Bahkan hingga masing-masing dari kami sudah memiliki anak, dia tetap melindungi dan menjaga saya. Dia sudah menggantikan tanggung jawab yang seharusnya dilakukan oleh Bapak saya…, dia sangat baik.” Sejenak dia menghentikan ceritanya, sepertinya dia enggan kembali mengingat kenangan pahit masa lalunya,
“Sekarang dia tergeletak lemah, hanya ini yang bisa saya lakukan untuknya. Toh, mau membawa makananpun dia sudah tidak bisa makan apa-apa. Membelikannya sesuatu? dia sudah tidak butuh apa-apa lagi. Saat ini kakak saya hanya butuh do’a dan penyemangat saja…,” Beliau menyambung ceritanya setelah sesaat menghela nafas panjang, dan aku hanya manggut-manggut menunjukan rasa empatiku. Namun sekarang matanya tidak hanya berkaca-kaca, buliran bening mulai menetes perlahan dari matanya dan pandangannya semakin menerawang. Aku mengenggam tangannya dan mengusap-usapnya, ada ketulusan yang aku rasakan di sana.
Kini aku tahu alasan kuat itu, alasan kenapa dia tidak mau melewatkan waktu jam besuk setiap harinya. Padahal menurutku, kalau dia hanya ingin tahu kondisi kakaknya, bisa saja dia menghubungi saudaranya yang lain tanpa harus setiap hari datang membesuk, tapi dia bilang tidak bisa melakukannya. Karena dia takut saudaranya berbohong, mengatakan kakaknya baik- baik saja. Tanpa melihat dengan matanya sendiri, justru akan membuat dia tidak bisa tidur karena memikirkannya.
Kini aku tahu, kenapa beliau begitu bersemangat mengayuh sepeda selama 30 menit, meskipun nafasnya sendiri sudah tersendat- sendat.
Dan alasan kenapa dia tidak perduli cuaca serta keadaan gelap bisa membahayakan dirinya sendiri.
Alasan itu adalah sebuah ketulusan. Kasih sayang yang tulus yang pernah tertanam di hatinya bertahun- tahun, sehingga kini dia mampu melakukan pengorbanan itu.
Benar sekali hukum tabur tuai itu, siapa yang menanam kebaikan dia juga yang akan menuainya.
Cerita Ayi terhenti ketika pintu ICU terbuka, kini waktunya kami memakai baju khusus dan masuk menjenguk pasien kami masing-masing.
Di dalam kulihat kondisi Ama mulai membaik, suster bilang hari ini Ama sudah bisa makan meskipun hanya susu yang diasupkan melalui selang yang terpasang lewat hidungnya dan panjang selang itu mencapai lambungnya atau dalam istilah medis benda tersebut biasa disebut NGT (Nasco Gastic Tube), dengan begitu nutrisi di tubuh Ama tetap tercukupi, dan itu membantu Ama memiliki energi sehingga bisa mempercepat kepulihannya.
Di sebelah ranjang Ama, terlihat seorang lansia perempuan juga, kondisinya tak jauh beda dengan keadaan Ama, hanya saja beliau sudah sadarkan diri. Usianya 90 tahun, itu yang tertulis di papan identitas pasien yang terpasang di atas ranjangnya. Dari arah pintu, seorang Kakek tambun dengan langkah kaki pincang dan nafas yang terengah- engah, melangkah mengarah ranjangnya. Meski sudah dibantu sebuah tongkat yang tak lepas dari sebelah tangannya sebagai penuntun dia berjalan, namun dia masih terlihat susah saat melangkah, mungkin faktor usia dan riwayat penyakit yang dia miliki. Sepertinya dia pernah terkena stroke, itu terlihat dari caranya berjalan dan berbicara yang tidak sempurna, setiap kali akan melangkah dia berusaha keras menyeret kakinya, mengingatkanku pada almarhum Bapakku dulu. Dan jika diperkirakan usianya juga tak jauh dari si nenek itu.
Sambil terus memijit-memijit tubuh Ama , aku sesekali mencuri pandang kearah mereka.Tanpa ada sepatah katapun yang terucap, Kakek itu duduk di sebuah kursi yang sengaja diletakkan di sebelah ranjang nenek itu dan menggenggam tangan yang tak berdaya di ranjang pesakitannya. Merasakan kehangatan tangan seseorang, si Nenek membuka matanya. Namun sama tak mengucap sepatah katapun, hanya mata mereka saja yang saling menatap.
Pemandangan itu berlangsung beberapa menit, hingga laki-laki tua itu tersentak oleh bunyi sebuah mesin disebelahnya, nampak layar monitor menunjukan garis lurus dan memunculkan sebuah tulisan ‘pulse search’. Dia tergopoh, memanggil suster penjaga. Kecemasan nampak dari raut mukanya, dan si suster langsung memahami apa yang terjadi.
” Tidak apa-apa, Kek. Kakek hanya menyenggol ini.” Suster itu menjelaskan, sebab ada bunyi dari sebuah mesin dan layar monitor, dengan menunjuk sebuah benda yang mirip jepitan baju berinfra merah, rupanya alat pendeteksi denyut nadi terlepas dari jari Nenek.
Ada senyum tipis tergaris dari wajah si Nenek, dan si Kakek itupun ikut tersenyum. Mungkin jika aku mengartikan senyuman itu, si Nenek itu ingin berkata, ‘Ah…, Kakek, kamu jangan terlalu gugup! Saya baik-baik saja’, begitupun dari arti senyuman si Kakek mungkin ingin berucap, ‘Iya Nek, saya takut terjadi sesuatu padamu’ atau aih.. Entahlah!Jadi seperti sutradara sinetron saja aku mengartikan senyuman mereka. Entah apapun arti sebenarnya dari senyuman itu, yang terjadi justru aku malah ikut senyum-senyum sendiri melihatnya.
Tiga puluh menit waktu berkunjung habis. Laki- laki tua itu besusah payah mengangkat badannya berdiri, melepas genggamannya pada perempuan tak berdaya itu. Mereka samar-samar masih saling melempar senyum, mungkin kali ini arti senyum itu salam perpisahan sementara diantara keduanya. Hingga akhirnya Si Kakek menghampiri suster penjaga, berulang kali membungkukan badannya tanda berterima kasih,
“Tolong titip istri saya, saya mau dia cepat sembuh,” terbata- bata Kakek itu menitipkan perempuan belahan jiwanya, pada si suster. Terlihat ada kecemasan, sedih, cinta serta ketulusan yang dalam,di sana. Aku saja sampai terbawa suasana haru melihatnya, mungkin si Nenek juga begitu, sehingga begitu terlihat kesedihan diantara keduanya saat harus berpisah.
Melihat itu semua, tak terasa hati ini diam-diam berdo’a. Kelak menemukan seseorang yang akan terus menemani dan menggenggam tangan ini, sampai ragaku menua dan tak berdaya lagi.
**
‘Derrtt..’ telepon genggam di kantong celanaku bergetar, bertepatan jam membesuk habis. Aku melangkah keluar setelah berpamitan pada Ama, meskipun tak ada jawaban darinya tapi tetap aku melakukannya, karena aku tahu Ama masih bisa mendengar. Dokter bilang itu bagus untuk merangsang respon sel-sel syarafnya kembali stabil. Karena menurut Dokter saat ini kesadaran Ama belum sampai tingkat composmentis’, Ama baru mampu merespon dengan membuka matanya saja.
Setelah melepas baju khusus pembesuk yang kukenakan, aku segera melihat siapa yang menghubungiku tadi. Sebuah pesan masuk dari seseorang yang beberapa waktu lalu diperkenalkan Budeku di kampung, katanya biar kami berta’aruf’an.
“Gimana… Suka modelnya?” Sebuah gambar sepasang cincin, dia kirim.
“Besok insyaallah, saya dan orang tua datang menemui anak dan ibumu. Bismillah do’akan lancar ya..?” Isi pesan lanjutannya.
“Aamin, insyaallah..” beserta sebuah smile emotion, aku membalas pesannya.
Pintu lift terbuka, aku langkahkan kakiku keluar gedung rumah sakit. Angin sepoi-sepoi mengiringi langkahku. Hari ini aku belajar sesuatu, yaitu dari kebaikan dan ketulusan.
Ya, Tuhan tidak akan tidur, Dia Maha melihat setiap dan sekecil apapun yang dilakukan makhluknya. Jika kita berbuat baik maka kebaikanlah yang akan kita dapatkan, dan jika kita juga memberikan ketulusan maka ketulusan akan terbalas. Meski mungkin bukan dari orang yang sama kita akan mendapatkan balasannya, atau entah kapan waktunya.
Itu janji Allah, sebagaimana dalam firmannya,
“Bukankah ganjaran kebaikan itu tidak lain melainkan kebaikan ?”di surat Arrahman ayat 60. Maka terus berusaha berbuat dan berprasangka baiklah pada sesama, lirih batinku pada diri sendiri.

Taiwan, 24 mei 2016.

Note:
Opname: rawat inap
ICU : Intensive care Unit
Anamnesis: data riwayat penyakit pasien
fever : demam
Glukosa : kadar gula
atrofi muskular: berkurangnya ukuran dan jumlah serat otot akibat proses penuaan, penurunan aliran darah
Hypotension: tekanan darah rendah
MAP (Mean Arterial Pressure) less: tak terdeksinya hitungan rata-rata tekanan darah arteri yang dibutuhkan agar sirkulasi sampai ke otak
Pielonefritis:infeksi ginjal yg menyebabkan infeksi kandung kemih(air kencing berwarna putih keruh)
Septic shock: keadaan dimana pasien sudah tidak mampu merespon apapun sekelilingnya akibat komplikasi infeksi yg menyerang sistem immun pada tubuhnya.
Pulse search: pencarian denyut nadi
Composmentis:kondisi pasca koma yang sudah sadar seutuhnya dan sudah mampu merespon serta menggerakan anggota badannya.
Ta’aruf: masa pengenalan antara laki-laki dan perempuan ketika berniat ingin ke jenjang pernikahan dalam agama Islam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *