KUJEMPUT ASA DI BUMI FORMOSA

Imelda Primantika / KUJEMPUT ASA DI BUMI FORMOSA / Forum Lingkar Pena (FLP) Taiwan / tenaga kerja asing KUJEMPUT ASA DI BUMI FORMOSA Menapaki anak tangga kehidupan memang tidak mudah seperti membalikan telapak tangan. Kerikil-kerikil tajam dan jalanan yang berliku penuh rintangan harus kita hadapi. Memerlukan perjuangan keras, ketekunan dan juga do’a supaya semua bisa berjalan secara harmoni, … Continue reading “KUJEMPUT ASA DI BUMI FORMOSA”

Imelda Primantika / KUJEMPUT ASA DI BUMI FORMOSA / Forum Lingkar Pena (FLP) Taiwan / tenaga kerja asing

KUJEMPUT ASA DI BUMI FORMOSA

Menapaki anak tangga kehidupan memang tidak mudah seperti membalikan telapak tangan. Kerikil-kerikil tajam dan jalanan yang berliku penuh rintangan harus kita hadapi. Memerlukan perjuangan keras, ketekunan dan juga do’a supaya semua bisa berjalan secara harmoni, bagaikan ritme dalam sebuah melodi. Karena mustahil tanpa campur tangan-Nya kita menjadi seperti ini. Bukankah hidup adalah perjuangan, hidup adalah pengorbanan dan hidup itu indah bila kita hayati dan syukuri.

Aku sangat memahami bahwa perjalanan hidup manusia seperti sungai yang mengalir menyusuri tebing-tebing yang kadang-kadang sulit ditebak kedalamannya, yang rela menerima segala sampah dan yang pada akhirnya berhenti ketika bertemu dengan laut. Begitu juga kehidupan yang sangat extrim kurasakan. Namun dengan segumpal iman serta sebongkah hati yang menyatu dan terpatri dalam atma, aku mampu bertahan hingga detik ini.

Namaku Imelda, anak ke-2 dari empat bersaudara. Aku terlahir dari keluarga sederhana yang tidak begitu jauh dari kota Semarang. Sejak usiaku sepuluh tahun, ayahku sudah kembali kepada Sang Kholik. Jadi ibu adalah orang tua tunggal bagi kami. Dengan susah payah beliau memeras keringat, mencari nafkah bagi kami anaknya. Satu prinsip beliau yang membuat aku bangga adalah hidup boleh susah tetapi pendidikan harus tetap berjalan. Ilmu adalah modal dan aset berharga untuk merubah taraf hidup yang lebih baik.

Dengan suport yang begitu besar dari keluarga, membuat aku sangat bergairah dalam meraih cita-cita. Bagaimana tidak…..? Dengan sosokku yang agresif, aktif layaknya manusia yang haus akan ilmu, membuatku selalu menjadi bintang kelas. Mulai dari Sekolah Dasar (SD) sampai pada bangku Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA). Bahkan beberapa piagam olah raga dan apresiasi seni dapat aku bawa pulang dari event-event perlombaan yang aku ikuti buat mengharumkan nama almamaterku.

Beberapa kampus ternama di Jakarta memberikan iming-iming beasiswa penerimaan mahasiswa baru padaku. Dengan segala pertimbangan yang matang dan proses seleksi yang tidak mudah akhirnya aku bisa masuk ke Universitas Pelita Harapan (UPH) Lippo Karawaci, Tangerang dengan mendapatkan beasiswa full.

*****

Masa depan adalah misteri. Tetapi kalau kita mau mempersiapkan hari ini, maka 50 persen dari masa depan itu sudah bisa diprediksi. Sungguh hidup ini bagaikan mimpi. Aku yang terlahir serba pas-pasan dapat diterima di kampus termahal di Indonesia, yang notabene mahasiswanya dari kalangan borjuis, serta mayoritas para pengajarnya dari belahan dunia. Bahasa Inggris adalah menjadi bahasa pengantarnya.

*****

“Bu…maafkan anakmu ini, sepertinya aku masuk ke lingkungan yang salah.” Nadaku penuh gemetar sambil kucium takzim tangan beliau sehabis menunaikan sholat magrib.

“Apa yang terjadi nak? Bicaralah baik-baik tidak usah sambil menangis.” Suara lembutnya kudengar, sambil mengusap butiran hangat yang membasahi pipiku.

“Maaf……M-A-A-F bu, tadi aku dipanggil ke kantor, katanya aku di Drop Out (DO). Karena nilaiku tidak memenuhi standart untuk semester ini.” Jawabku terbata-bata karena merasa bersalah tidak bisa membahagiakan hati ibuku.

“Ya sudahlah kalau memang ini rencana Alloh yang terbaik untukmu nak.” Terdengar lirih suara beliau. Aku tahu sebenarnya beliau kecewa terhadapku. Namun dengan senyumnya beliau mampu menutupi kepedihannya.

Dengan keadaan yang sangat mencolok membuatku minder, serta bagaikan terasing di negeri sendiri. Yang berimbas dengan merosotnya nilai-nilai akademikku. Pada akhirnya aku harus menerima segala konsekuensi itu. Walau Dewi Fortuna belum berpihak kepadaku tetapi aku ikhlas dan berbesar hati. Hidup ini terlalu indah jika harus kusesali. Kujadikan pengalaman ini sebagai cambuk kehidupan untuk terus meraih mimpi.

*****

Kuputar haluan 180 derajat, dengan terinspirasi oleh tetanggaku yang sudah menjadi saudagar kaya di kampungku, dengan uang hasil keringatnya bertahun-tahun merantau ke Taiwan akhirnya kuberanikan niatku untuk meminta ijin kepada Malaikat tanpa sayap yaitu ibuku.

“Bu…ijinkan aku untuk bekerja ke Taiwan.” Sambil bergelayut manja di bahunya, kuminta do’a restu dari ibuku.

“Kalau ini sudah menjadi tekadmu, ibu tidak bisa berbuat banyak. Apabila kamu menemukan kesulitan nak, berdo’alah pada Alloh, sebaik-baik penolongmu. Hitung-hitung jihad buat keluarga.” Dengan terharu kupeluk dan kukecup kening yang sudah mengeriput. Kulihat kristal-kristal bening mengalir dari sudut matanya.

*****

30 Juli 2015 Burung besi itu telah mengantarkanku untuk menapakan kaki ini pertama kalinya di Bumi Formosa, Taiwan. “Bismillah…….” Bibirku berucap, dan kupandangi sekelilingku petugas imigrasi sedang mengecek dokumenku dengan teliti.

*****

Ms. Lee selaku agensiku mengantarkan ke kediaman majikanku yang bermarga Chan. Dengan perasaan yang takut serta grogi aku diperkenalkan dengan keluarga majikanku yang semuanya ada empat orang. Majikanku yang seorang janda dan kedua anaknya serta nenek yang harus aku rawat. Dengan penjelasan yang panjang lebar agensikupun berpamitan kepada kami.

Merawat nenek yang menderita penyakit Diabets yang harus disuntik insulin dan makan obat setiap waktu bagiku tidak terlalu sulit. Karena nenekku dulu juga punya riwayat penyakit yang sama. Aku harus mengatur pola makan nenek sedemikian rupa sehingga membuat nenek tanpak lebih sehat dibandingkan sebelum aku datang. Ini membuat majikanku merasa senang dan adaptasi yang kulakukan tidak menjadi beban buatku.

Berbekal skill dan etos kerja yang maksimal, membuat aku diterima dengan tangan terbuka oleh keluarga Ms. Chan. Dengan segala toleransi, perhatian serta kasih sayang yang diberikan padaku membuat aku nyaman, layaknya keluarga ke-2 bagiku.

Perlahan namun pasti Pelangi kehidupan mulai terlihat. Walaupun tidak mudah dan instan, semua membutuhkan proses yang menguji kesabaran serta keyakinan diri. Terkadang kesulitan harus kita rasakan terlebih dahulu sebelum kehidupan yang sempurna datang kepada kita. Bukankah Pelangi akan turun setelah hujan membasahi bumi….?

Aku jadikan saat-saat yang berat, saat-saat yang penat, saat-saat berkeringat dengan rasa syukur yang mendalam. Inilah masa yang akan menguatkanku menjadi manusia yang lebih matang dalam berproses. Hanya satu angan yang terselip dalam atma, untuk menjemput asa di Bumi Formosa ini.

Semua kujadikan kunci untuk membuka mimpi-mimpiku. Meski harus kulalui dengan proses panjang dan melelahkan. Apresiasi yang begitu besar buat Taiwan yang telah memelukku dengan bentangan tangan hangatmu. Sehingga mimpi-mimpiku yang kugantungkan tinggi, setinggi menara gedung 101 mulai terlihat jelas. Badai kehidupan walau perlahan telah mampu kutepiskan. Kini kumampu meretas mimpi menjadi sebuah prestasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *