Puji Asri / Badai Di Awal Musim / Asri Fara / tenaga kerja asing
Kabar terbaik yang selalu ditunggu setiap pasien, hanyalah kesembuhan dari sakit yang dideritanya. Kabar itu lah yang saat ini selalu aku tunggu, ibuku dan juga ayah dari anak-anakku.
Awalnya aku tak pernah mengira jika sakit ini akan aku derita juga. Suatu pagi di bulan Maret, saat aku terbangun oleh bunyi alarm. Kepalaku terasa berat dan sekujur tubuhku tak bertenaga. Namun kupaksakan bangun juga untuk melakukan aktivitas seperti biasanya. Hingga siang menjelang, dadaku berdebar tak beraturan, keringat dingin membasahi bajuku, dan suhu badanku sangat tinggi.
“Mungkin saya hanya flu biasa, Nainai. Tak usah terlalu risau.” Ucapku pada nainai, yang tampak mengkhawatirkanku.
Malamnya ketika majikan pulang kerja, aku meminta ijin untuk periksa ke dokter. Klinik THT yang aku tuju, karena tiba-tiba saja muncul benjolan asing dipangkal leherku yang bila tersentuh terasa nyeri.
“Ini agak serius ,Nona. Kamu harus ke rumah sakit besar dan melakukan medical check-up untuk mengetahui jenis kanker di lehermu.”
Penjelasan dokter itu seperti sebuah palu raksasa yang dengan tiba-tiba menghantam kepalaku. Sejenak aku limbung, pandanganku terasa gelap. Namun masih kudengar suara perawat dan dokter yang memanggil-memanggilku.
“Nona, nona, apa kamu baik-baik saja?”Pertanyaan perawat itu mengembalikan kesadaranku. Aku pun melangkah gontai menuju rumah majikan setelah mnyelesaikan administrasi.
Sesampainya di rumah majikan, kuberikan selembar kertas rujukan dari dokter tadi kepada majikan. Tampak wajah majikan tak kalah terkejutnya denganku. Esoknya aku pun diantarkan ke rumah sakit besar, kali ini dokter spesialis tiroid yang kami tuju. Setelah pemeriksaan, dokter memberikan berlembar-lembar kertas dalam dua bahasa, Inggris dan Mandarin, untuk diisi dengan hasil laboratorium.
Seminggu setelah itu ,hasil laboratorium menyatakan bahwa aku mengidap kanker tiroid stadium dua, dan jika dibiarkan akan mengganggu kerja otot jantung dan kotak. Hanya satu tindakan untuk mengatasinya, yaitu operasi pengangkatan.
Meski sudah kupersiapkan hati sejak awal pemeriksaan, masih saja aku terhenyak menghadapi kenyataan ini, yaa, kini aku salah satu pasien dari penyakit paling ditakuti semua orang. Ingin aku menangis, tapi hanya mataku yang terasa panas tanpa setetes pun air jatuh dari kelopaknya.
“Tuhan, mengapa harus aku?” Tanyaku dalam hati.
Di tengah kalut itu, aku menelepon ke Indonesia dan bermaksud menceritakan yang kualami kepada ibuku untuk meringankan sesak yang memenuhi rongga dada. Namun bukan suara ibu yang biasanya menyapa, melainkan tangis anak sulungku yang kudengar di sana.”Ibu, pulanglah, nenek tiba-tiba tak bisa bangun dari tempat tidurnya.Hu.hu.hu.hu. Gimana ini ,Bu?” Suara terbata anakku di antara tangis itu kembali menampar ketegaranku nyaris sirna.
“Ya, Tuhan … ujian apa lagi yang kau berikan padaku?” Sekali lagi ingin kumemprotes Tuhan. Aku benar-benar jatuh dan tertimpa tangga pula. Tapi aku tak mau berlarut dalam duka, aku harus tetap kuat untuk menguatkan anakku, dan ibuku. Segera kuhubungi saudara sepupuku, karena aku tak punya saudara kandung. Ibuku pun dibawa ke rumah sakit untuk menjalani perawatan.
Satu minggu ibuku dirawat karena serangan stroke, bersamaan itu aku mendapat kabar bahwa mantan suamiku, sakit jantungnya kambuh dan harus dirawat di rumah sakit. Dengan begitu, tak ada yang membantu mengawasi anak-anakku. Lengkap sudah kabar buruk yang diterima di awal musim ini.
Hanya doa tanpa putus yang kupanjatkan kepada sang pemilik takdir ,agar aku kuat dan mampu menjalani ujianNya. Hanya kesembuhan yang kupinta untukku, ibuku dan mantan suamiku. Beruntung, aku memiliki majikan yang baik dan peduli dan tak pernah lelah memberiku dorongan semangat dan dukungan. Terlebih Nainai, bila aku menemaninya nonton titi atau pun berjalan-jalan ke taman, beliau selalu menasehatiku dan menggenggam erat tanganku. “Percayalah, semua ini pasti berlalu.” Begitu selalu ucapnya seraya meraih kepalaku dalam rangkulannya. Di situlah aku menemukan kekuatan yang membuatku tetap bertahan.
Setiap hari ,majikan menyuruhku agar selalu menghubungi keluargaku untuk mengetahui keadaan ibu. Karena aku tak diijinkan pulang sebelum penyakitku sembuh.
Pelan tapi pasti , keadaan ibuku semakin membaik, beliau sudah mulai bisa berjalan setelah melakukan terapi rutin. Berita baik itu segera kukabarkan pada majikan, mereka pun turut merasakan kelegaan itu. Karena selama ini mereka pun tak kalah khawatirnya denganku.
Namun rupanya ujianku belumlah usai sampai di situ, Tuhan masih mengharuskanku mengerjakan soal baru. Bersamaan kabar baik dari ibuku, datang pula kabar buruk dari keluarga mantan suamiku. Tuhan telah memanggilnya menghadap, setelah satu bulan lebih berperang melawan sakit jantungnya. Kembali air mataku harus terjatuh, namun bukan karena kematiannya. Melainkan tentang bagaimana dengan anak-anakku yang masih terlalu kecil untuk menghadapi kehilangan ayah kandungnya.
Angin berhembus perlahan, menggoyangkan bunga-bunga yang bermekaran di awal musim ini, dia mengabarkan pada dunia bahwa musim akan segera berganti. Dan seperti angin itu yang berhembus sesaat, aku pun berharap badai yang sedang menyapaku juga segera berlalu. Sehingga aku mampu terus melangkah dan berjuang sendirian untuk membahagiakan ibuku serta membesarkan anak-anakku walau dengan tangan-tangan kecilku. Aku percaya, matahari akan bersinar lebih cerah selepas badai.
Nangang 26 Mei 2016