話 KATA-KATA

 2016 Babak penyisihan 印尼文初選   📜 話 KATA-KATA 👤 Aiyu Nara   Perempuan itu memandang kosong ke bawah kaki meja, makanan yang kupesan untuknya tak ia sentuh, dibiarkannya dingin diembus angin. Aku menunggunya untuk bicara, membiarkan sejenak ia bermain dengan pikirannya. Agar ketika aku berbicara dengannya nanti, pikirannya tak bermain-main lagi. “Saya sudah bekerja pada mereka hampir … Continue reading “話 KATA-KATA”

 2016 Babak penyisihan 印尼文初選  

📜 話 KATA-KATA

👤 Aiyu Nara

 

Perempuan itu memandang kosong ke bawah kaki meja, makanan yang kupesan untuknya tak ia sentuh, dibiarkannya dingin diembus angin. Aku menunggunya untuk bicara, membiarkan sejenak ia bermain dengan pikirannya. Agar ketika aku berbicara dengannya nanti, pikirannya tak bermain-main lagi.
“Saya sudah bekerja pada mereka hampir sepuluh tahun, Mbak. Sebentar lagi finish kontrak, kurang lima bulan lagi. Malah dapat masalah seperti ini, saya dituduh mencuri kalung Nenek.” Ia diam sejenak. Matanya nanar berkaca-kaca.
“Saya takut, Mbak. Bagaimana kalau saya dipenjara. Nasib anak-anak saya di rumah nanti bagaimana. Karena saya tulang punggung satu-satunya di keluarga.” Kali ini matanya tak lagi nanar, tapi sudah pecah isak lirih dari bibirnya.
Aku menyodorkan tisue padanya, ia menerimanya sambil sesenggukan. Make up di wajahnya mulai memudar, luntur oleh air mata dan sapuan tisue yang serampangan, memperlihatkan kulit aslinya yang telah banyak kerutan. Namanya Rumini, Ia meneleponku beberapa hari lalu. Bercerita kalau sedang dalam masalah dengan majikannya. Apa yang Ia ceritakan di telepon sama persis dengan yang Ia katakan barusan. Hanya saja penuh kegugupan ketika pertama kali bicara. Cerita yang sama aku dengar pada hari-hari selanjutnya, sampai kemudian aku memintanya untuk bertemu pada hari ini, Minggu sore, di tepian Viktory.
Aku dan Rumini, sebenarnya kami berdua adalah sama-sama seorang buruh migran. Namun dua tahun terakhir ini, aku lebih banyak berkecimpung dalam organisasi buruh, menjadi salah satu konselor di dalam tim advokasi organisasi. Menjadi pendengar, pendamping, teman bicara, kadang juga penasihat teman berkasus. Buatku menjadi konselor adalah suatu pengalaman yang sangat berharga, membantu teman-teman sesama buruh migran yang berkasus baik dengan agen ataupun majikan, dan memberi mereka dukungan untuk tetap tegar menghadapi masalahnya. Sebab dulu, aku juga pernah mengalami hal serupa. Menjadi korban kebiadaban majikan, penelantaran agen dan keacuhan pemerintah. Berangkat dari hal tersebut, sesuatu dalam hatiku mengatakan “ada yang bisa aku lakukan, agar tak banyak teman mengalami hal serupa.”
***
Aku meringis menahan perih dari aliran air musim dingin yang membasuh tanganku. Luka-luka di punggung tangan ini semakin bertambah lebar dari sebelumnya. Aku pias melihat tumpukan piring-piring kotor yang belum selesai aku cuci. Sebentar lagi adalah jam menyapu rumah. Jika tak aku lakukan tepat waktu, pasti akan bertambah satu baris lagi bilur-bilur di punggungku.
“Aya …!”
“Aya …!”
Benar saja dugaanku, suara itu sudah melengking kencang menggema di setiap ruang. Mengabarkan undangan penyiksaan.
“Iya, Nyonya … Saya datang.”
Aku berjalan tergopoh-gopoh ke ruang keluarga, tempat suara itu bermuara. Melihat perempuan paruh baya itu duduk dengan kemoceng di tangan kanannya. Dan aku sudah sangat hapal apa maksudnya.
“Ini sudah jam berapa, ha? Waktunya menyapu ruangan, dan kamu terlambat sepuluh menit. Bisa membaca jam gak sih, kamu?!”
Aku tak ingat lagi kata-kata kasar apa yang Nyonya ucapkan setelah aku menjawab bahwa di dapur aku belum menyelesaikan pekerjaan. Perih dari lecutan kemuceng itu telah membiaskan kata-katanya. Belum cukup sampai di situ, aku masih harus memegang kedua telinga dan berdiri dengan satu kaki di sebelah televisi. Ada orang lain di ruangan itu, Tuan dan kedua anaknya. Namun untukku, tak akan ada pembelaan atau sedikit belas kasian dari penyiksaan yang Nyonya lakukan. Karena aku hanya seorang pembantu. Bagi mereka, adegan ini serupa iklan yang muncul di televisi. Hanya dilihat tanpa perlu diambil peduli.
Sudah beberapa bulan aku bertahan dalam kondisi seperti ini. Tak ada yang bisa aku lakukan, sebab aku hidup dalam kurungan. Nyonya tidak bekerja, dan hanya keluar ketika ada keperluan saja. Rumah yang selalu dikunci ketika mereka pergi, jendela yang rapat dengan terali, membuatku berpikir tak ada jalan untuk bisa lari. Pernah sekali aku mendapat kesempatan, ketika Nyonya menyuruhku mencuci pintu depan, dan Ia lengah tak memperhatikan, aku bergerak menuju pintu rumah tetangga apartemen. Menekan bel pintunya, menunggu si empunya rumah membuka pintu. Namun naas, demi dilihatnya penampilanku yang serupa pengemis, ditutupnyalah pintu itu, sebelum sempat aku menyampaikan kata-kata, “tolong bantu aku.”
Hanya delapan bulan aku mampu bertahan di rumah itu. Delapan bulan dalam masa-masa yang pedih. Penyiksaan demi penyiksaan dari Nyonya terus aku alami jika pekerjaanku dianggap tidak benar. Tak hanya fisik, tapi juga cacian dan potong gaji. Aku benar-benar menjadi budak. Aku selalu ingin berontak setiap menerima perlakuan kejam darinya. Namun setiap apa yang selalu ingin aku sampaikan menguap begitu saja, berhenti di kerongkongan tanpa pernah keluar menjadi kata-kata. Bayangan Ibuku yang sudah tua, anakku yang butuh biaya dan tagihan potong gaji dari agen, membuatku terperangkap dalam lingkaran tanpa jalan keluar. Aku bingung, tak tahu apa yang harus aku lakukan. Tak ada teman yang bisa diajak bicara, tak ada telepon yang bisa aku pakai untuk menghubungi seseorang. Nyonya benar-benar membuatku berada dalam penjara di apartemen istananya.
Namun pada suatu ketika, tak sengaja aku mendengar Tuan bicara kepada Nyonya.
“Hentikan kegilaanmu, istriku. Aku tak mau pembantu itu mati di rumah ini karena kau siksa tiap hari. Itu akan sangat merepotkan kita.”
Tiba-tiba terlintas dalam pikiranku, sebuah ide agar aku bisa keluar dari rumah ini. Ide yang tak memerlukan kata-kata. Keesokan harinya, ketika Tuan berada di rumah, aku berpura-pura pingsan. Cara ini berhasil, Tuan kebingungan dan menelpon Agen untuk menjemputku. Hari itu, aku resmi di putus kontrak. Aku tidak peduli agen mengambil sebagian hak-hak yang majikan bayar untukku. Dalam pikiranku saat itu hanya ada satu hal, keluar dari rumah yang mirip dengan penjara tersebut. Karena ketika saat dalam keadaan seperti ini, yang penting bagiku adalah bagaimana bisa menyelamatkan diri.
Namun aku tak bisa memaafkan begitu saja perlakukan Nyonya kepadaku. Atas rekomendasi teman di building house agen, dibantu seorang teman yang aku kenal dari sebuah organisasi, aku melaporkan majikanku ke Labour Tribunal. Cukup lama proses persidangan yang harus aku jalani, berbulan-bulan. Pertemuanku dengan polisi, pengacara, juga teman dari organisasi yang selalu mendampingiku, perlahan membongkar ketakutanku dan membuka keberanianku. Setelah perjuangan panjang dan melelahkan, akhirnya kasus ini aku menangkan. Hakim melihat bukti-bukti yang kuat atas apa yang dilakukan oleh Majikanku. Majikan perempuanku mendapat hukuman penjara dan juga wajib memberikan biaya pengobatan atas luka-luka fisik yang aku alami. Aku lalu memutuskan untuk ikut berorganisasi, mendobrak ketakutan dan kebisuan yang selama ini aku pendam.
***
Aku menjemput Rumini di shelter pagi itu. Hari ini adalah jadwa sidang pertamanya. Dia tak nampak sedang baik-baik saja. Wajar, aku dulu juga pernah mengalami bagaimana rasanya pertama kali diintrogasi. Takut, tegang dan gelisah. Aku merangkul pundaknya dan berkata,
“Kamu harus mengalahkan ketakutanmu. Ungkapkan semua kebenaran yang kamu ketahui. Kebenaran tak akan pernah menjadi kebenaran jika kamu tak mengatakannya.”
Aiyu Nara, Hongkong 31 Mei 2016


📜 話 KATA-KATA

👤 Aiyu Nara

 

眼前那個女人,茫然的看著桌腳,完全沒碰我為她點的食物,就這樣任食物讓風吹涼了。我耐心等她開口,先讓好好沉溺在思裡,等一下跟我說話時才會專心一點。

「姐,我已經在他們那邊工作快十年了。過不久,合約就要到期了,還差五個月。怎麼會纏上這樣的問題?我被指控偷竊奶奶的項鍊。」她停頓了一下,眼淚在眼裡打轉。
「姐,我很怕。如果我被關起來,家裡的孩子該怎麼辦?我是家裡唯一的支撐。」她輕聲的哭泣。

我遞面紙給她,她邊啜泣邊接過面紙。臉上的妝,被淚水和面紙弄花了,露出她滿皺紋,未上妝的膚色。她的名字是魯米尼,幾天前,打電話向我訴說她與雇主之間所發生的問題。她在電話中所說的,跟剛剛描述的事情完全一樣,只是多了點緊張,畢竟那是我們初次接觸。接下來的幾天,我聽著同樣的故事,直到我們相約見面,就是現在,星期日的下午,在維多利亞公園週邊

魯米尼和我,其實同樣都是移工。但過去兩年,我勤於參與勞動組織,成為擁護團隊其中一位輔導員。扮演傾聽者角色陪伴與移工朋友聊天,有時也成為解決事情的顧問。對我來說,成為輔導員是一個寶貴的經驗,可以幫助更多同是移工的朋友,不管處理是跟仲介是跟雇主之間的問題,給予他們精神上的鼓勵,支持他們面對問題。因為,以前的我也經歷過同樣的事情。成為野蠻雇主,刻意忽視的仲介和冷漠的政府機關底下的犧牲品。自從那件事情後,我心總是告訴我:「我應該能做些什麼,別讓更多的朋友經歷同樣的事情」。

當時,我的臉抽搐著,忍冬天冰冷的冰水,淋在我的受傷的手上。手背上的傷口,變得比先前還大。我看著成眼前堆髒兮兮的碗盤還沒洗,等等又是掃地時間。如果沒有準時做完,恐怕手背一條條的鞭痕又要增加了。

「阿雅!」
「阿雅!」

果然,就像我所想的一樣,尖銳的聲音在房裡每一處迴盪。預告著酷刑的前奏。

「是的,夫人…我來了。」我搖搖擺擺走向聲音的來源─客廳。看到那位中年女子持著雞毛撢子,不用開口,我就知道她的意思
「現在已經幾點了?現在是掃地的時間,妳已經遲到十分鐘了,妳到底會不會看時鐘呀?」

我回答,因為廚房裡的工作還沒做完,我不記得接下來她什麼難聽的話。只知道,雞毛撢子打在身上帶來的抽痛那疼痛早已磨滅惡言惡語。這樣還沒完,我還必須手拉耳、單腳站立在電視旁邊。那個空間裡其實還有其他人,她的先生與兩個小孩就在一旁看著。但是,對於我處境,夫人對我施加的所有酷刑,完全沒有人試著袒護或憐憫。因為我只是幫傭,對他們來說,這個場景猶如電視上的廣告,只需要觀賞無需理會。

這種情形我已忍受好幾個月了,我無能為力改變,因為我活在籠子裡。夫人沒有上班,平時只出去買日常用品。他們出去時,就會鎖住門,窗戶也緊閉在鐵窗內,使我想不到任何逃跑方式。有一次,我逮到機會,當夫人叫我洗前門,趁她不注意,我走向隔壁鄰居的公寓按門鈴,等待主人開門。然而不幸的,他看到了長得如乞丐般的我,很快就關上了門,快得讓我來不及說「請幫助我」。

在那間屋裡,我只能撐八個月。那是充滿痛苦的八個月。老闆娘一次又一次的折磨我,如果她認為我所做的事不及格。不只在肢體上施加酷刑伴隨而來的還有各種辱罵和扣薪資。在這裡,我真的成了一個奴隸。

我總是想要反抗對我的所做所為,但我想講的話,每一次都像蒸發了一樣,留在喉嚨裡,未成言語發聲。想到年邁的母親、小孩都需要錢,還有高昂的仲介費這些都困住我,在沒有出口的圈子裡。我很茫然,不知道能做些什麼。身邊沒有可以傾訴的朋友,沒有任何可以聯絡的電話。夫人真的讓我感覺自己像被監禁在的公寓城堡內。

有一天我偶然聽到先生與夫人之間的談話。

「老婆,停止的瘋狂行為吧。我不希望那位幫傭因為每一天的折磨而死在這間屋子裡,那樣我們會很麻煩的。」

突然間,我想到一個可以讓我離開這個家的方法了。這個方法不需要任何言語即可行。隔天,當先生在家裡時,我假裝昏倒。這個方法果然作用,先生急忙打電話給仲介來接我。當天,我正式被解約。我不在乎仲介拿走了多少原本屬於我的權益。在我的腦袋裡只有一件事離開那個像監獄般的房子。因為在那樣緊急的情況下,最重要的是如何解救自己。

我無法原諒夫人對待我的方式,經由仲介收容所裡的朋友的介紹,在我朋友隸屬的組織協助下,向勞資審裁處舉報我的雇主。法庭的調查審判經過很長的一段時間,好幾個月。無論是跟警察、律師的面談,都有組織的朋友陪伴,慢慢的消去我的恐懼,多了一分勇氣。經過漫長又辛苦的奮鬥,這場官司我終於勝訴。法官看到雇主虐待我的有力證據,使女雇主被判服監及賠償我所遭受的肢體傷害的醫療費用。之後我決定加入該組織,打破我一直以來的恐懼和沉默。

那天早晨,我去收容所接魯米尼。今天是她第一次開庭。她的臉色看起來不是很好。這是當然的,我以前也曾經歷第一次審判時的恐懼、緊張和焦慮。我抱著她的肩膀,對她說「必須擊敗的恐懼。把所知道的真相說出來。如果不說出來,真相永遠不會成為真相」。

愛玉奈良,香港2016年5月31日


Comment  Bahasa Indonesia bagus. Tema baik sekali. Cara penceritaan terlalu mengedepankan unsur advokasi.  又是一個家庭工作者的激勵故事,起初是暴力的受害者,後來成為維護與守護者。這是非常有啟發性的故事,使工作者勇於捍衛自己的權利。

Comment  Satu lagi contoh kisah kebangkitan pekerja domestk yang pada awalnya adalah korban kekerasan, menjadi pembela dan penolong. Ini adalah cerita yang mengandung kekuatan dan inspirasi untuk para pekerja berani membela hak-haknya.  很好的印尼語,很好的主題。故事描述太強調宣傳元素。

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *