Zikriani Putri / Jangan Pandang Sebelah Status Kami / FLP Taiwan & KPKers Taiwan / tenaga kerja asing
Jangan Pandang Sebelah Status Kami
Karya: Zikriani Putri
PRAKKK …!!! Suara kursi melayak ke lantai. Aku hanya terdiam dan menatap ngeri di sudut ruang tamu.
Perempuan yang setiap hari selasa, kamis dan sabtu sering aku temui di ruang ini. Sosok perempuan tegar, menurutku! Aku dengar, saat umurnya 27 tahun dengan tiga anak. Ia harus kehilangan suaminya. Sehingga memaksanya harus berjuang sendiri.
Pranggg …!!! Perempuan itu kembali membating gelas yang ada di atas meja, setelah keluar dari kamar mandi. Dengan nafas tersengal-sengal.
Ia menghampiriku dengan wajah kacau dan kusut. Aku tertunduk dan bingung harus melakukan apa.
***
Kubuka tirai jendela berwarna hijau, angin membelai lembut rambutku yang masih berantakan. Kuhirup dalam-dalam angin segar. Musim dingin telah berlalu, waktu yang bagus untuk membawa Kakek jalan-jalan.
Di Sini aku seperti bagian dari keluarga mereka, semua kepercayaan sepenuhnya diberikan kepadaku. Aku hanya tinggal satu rumah dengan Kakek, sementara majikanku tinggal di apartemen sebelah. Kakek berumur 90 tahun, meski badannya masih sehat tetapi karena faktor umur menderita Demensia. Ia biasa berjalan sendiri sementara segala kebutuhan aku yang menyiapkan.
Meski umurnya sudah banyak. Namun, giginya masih bagus. Untuk menyiapkan makan setiap hari tidak perlu dibedakan. Kata anaknya Kakek orang rajin gosok gigi, setiap hari kadang 5 kali gosok gigi. Pagi ini aku siapkan Cung Yu Ping, dengan telur mata sapi lengkap dengan minumannya yaitu segelas susu ditambah sedikit kopi.
Setelah selesai melahap makanan yang ada di meja, aku siapkan keperluan Kakek untuk jalan-jalan. Setiap pagi dan sore hari rutin olahraga kecuali kalau cuaca tidak bagus. Kakek yang masih bisa berjalan namun ada kalanya ketika kelelahan ingin istirahat, untuk itu setiap kali keluar rumah aku bawakan kursi roda untuk jaga-jaga.
Aku kagum dengan keluarga ini, mereka saling menghargai satu sama lain, begitu pula denganku. Apabila memaggilku atau menyuruhku dengan ucapan yang sopan. Majikanku seorang pengusaha sukses. Menurut dari cerita Nenek sewaktu hidup itu tak lain karena usaha Nenek yang disiplin mendidik anak-anaknya.
Empat tahun di keluarga ini, aku cukup mengenal karekter mereka. Dua tahun yang lalu Nenek yang tegas dan baik itu meninggal karena tumor paru-paru. Menyisakan luka yang amat dalam bagi Kakek, hingga Demensia makin bertambah. Meski dia sudah merelakan kepergian Nenek tetapi aku tahu betul bagiamana rasanya kehilangan istri yang ia cintai itu. Bagaimana tidak! Meski umur mereka yang sudah tua tetapi adakalanya mereka bersendau gurau dan aku melihat bagaimana kasih sayang diantara keduanya.
“Kakek, jalan kesana, yuk? Itu di sana banyak anak-anak kecil bermain?” tanyaku ke Kakek.
Kakek yang hanya memiliki 3 anak lelaki dan lima cucu, sangat senang bila melihat anak-anak. Kalau melihat anak kecil ia sambil senyum-senyum mengajak anak itu bermain dengan tangannya. Memutar-mutar ujung tangannya.
Kakek tidak menolak ajakannku, Di bawah sinar matahari pagi serta angin lembut, kami berjemur.
“Fa, Kakek kamu penurut, ya? Baik lagi,” ucap Laela baru datang dengan Neneknya.
“Alhamdulilah,” balasku kemudian.
Banyak teman-temanku suka bercanda dan kadang merayu Kakek yang murah senyum. Namun, ada kalanya Kakek kalau kambuh, berubah begitu saja. Yang biasa memanggilku dengan sebutan Fa berubah jadi panggil Siou Jie, bahkan memukulku.
Pagi hari tempat ini cukup ramai, banyak pekerja asing dengan pasien mereka masing-masing maupun juga para warga penduduk asli yang membawa anak-anaknya bermain.
Waktu menunjukan 10.30 waktunya kami pulang menyiapkan makan siang untuk pasien kami.
“Laela, aku pulang dulu ya?” ucapku berpamitan dan Kakek melambaikan tangan ke teman-temanku.
Sore hari persediaan sayur yang ada di dalam lemari es mulai menipis, khawatir malam tidak cukup untuk dimasak, aku bawa Kakek di rumah majikanku dan aku titipkan Kakek pada menantunya, Nyonya.
Di tengah perjalanan pulang, aku merasa batinku tidak tenang. Ada sesuatu yang mengganjal. Setelah memarkirkan sepeda dan ke rumah majikanku.
“Fa, Kekek hilang!” Spontan aku gugup dan mencari Kakek.
Kakek ditemukan di lantai 13 tergeletak disisi pojok tangga. Segera Majikanku menelepon 119.
Tak lama suara sirine mobil ambulance datang dan membawa Kakek ke rumah sakit. Di ruang Emergency Kakek langsung mendapatkan perawatan khusus, tidak ada memar di tubuh Kakek. Namun setelah aku raba, ada bencolan di bagian bawah kepala Kakek. Dokter segera melakukan pemeriksaan.
Aku dan Nyonya menunggu dengan gugup. Menurut keterangan dokter Kakek mengalami cereda bagian kepala yang cukup serius.
“Kakek harus secepatnya mendapatkan pertolongan!” ucap dokter, ”Siapa yang bertangungjawab bila segera ditangani? Kalau dibiarkan saja hanya menunggu waktu! Apakah setuju bila dipasang selang oksegien melalui mulutnya?” lanjutnya.
Nyonya panik karena majikanku Tuan Ke masih dalam perjalanan, Dokter membutuhkan tanda tangan darinya.
“Anak-anak Kakek bersedia Dok, Apapun caranya agar Kakek bisa bertahan!” ucap Nyonya setelah mematikan telepon dari Tuan.
Dokter kembali ke ruangan Kakek, kami masih menunggu dengan panik.
Setelah menunggu beberapa saat, Kami diperbolehkan masuk ke sebuah rungan. Ada sedikit sisa darah yang keluar dari mulut Kakek, sepertinya bekas memasukkan selang besar ke mulut Kekek untuk membantu pernafasaan. Disisi ranjang banyak alat-alat dan kebel.
“Bagaimana keadaan Kekek?” tanya Tuan Ke.
Melihat aku tertunduk sepertinya Tuan tahu benar apa yang aku rasakan,”Fa, kami tidak menyalahkanmu,” ucapnya bijak, “Kami tahu Setiap manusia punya waktunya masing-masing, mungkin ini cara Tuhan,” lanjutnya.
Aku tertunduk, mengusap embun yang hampir jatuh di kelopakku.
Tiba-tiba alat yang berada di samping ranjang Kakek berbunyi.
“Niiiiiiiiiitttttt …!”(Suara mesin elektro Kardiogram)
Mesin yang berada disisi ranjang Kekek menunjukan garis lurus. Suara nada panjang terdengar dari alat itu, secara medis Kakek mengalami Cardiac Arrest.
Aku panik dan mencari dokter untuk segera melihat kondisi Kakek. Tak lama suster dan dokter datang.
Dokter menyuruh suster untuk mengambil alat kejut jantung. Beberapa kali alat itu di letakkan di dada Kakek, seketika itu tubuh Kakek melayang beberapa senti. Namun, nampaknya tidak ada hasil.
“Niiiiiiiiittttt…!” (Mesin Kardiogram kembali berbunyi).
***
Aku lihat langit-langit rumah sakit yang bercat putih, duduk di kursi sambil menunggu pasienku memberikan susu. Sebulan semenjak kepergian Kakek, sekarang mendapatkan majikan baru menjaga Kakek lumpuh.
Seminggu sekali aku dikasih uang makan untuk membeli makanan di luar. Di situ aku bertemu beberapa teman TKI yang letak kamar pasien mereka berdekatan dengan kamar Kakekku.
“Ati, kamu tidak keluar beli makan?” tanyaku pada perempuan berambut kriting sebahu. Saat kutemui dia mengambil cucian dari mesin cuci yang letaknya bersebelahan ruang Kakek.
Dia menggelangkan kepala, Aku lihat kusut matanya sepertinya ada yang dia sembunyikan.
“Kamu sudah makan?” tanyaku memberanikan diri.
“Aku tidak makan kalau … tidak ada sisa makanan dari Nenek.”
Mendengar jawaban barusan membuatku menelan ludah.” Begitu nelansa nasibnya?” batinku berbisik.
“Aku ada makanan nanti aku kasihkan ke kamu, ya?”
“Tidak usah, aku takut nanti dimarahi Nenek. Apalagi nanti kalau Nenek lapor anaknya bisa kena masalah.”
“Tapi, An. Kamu tidak boleh diam begitu saja, kamu punya hak. Disini kita punya hak baik makan maupun tempat tinggal kita harus layak,” ucapku.
“Aku takut, Mbak.”
Ani yang baru satu bulan itu rasanya benar-benar ketakutan. Aku hanya menatapnya pergi jauh meninggalkanku.
Selesai memberikan susu pada Kakek, aku bawa ke luar ruangan. Sambil sesekali aku melatihnya untuk berjalan.
“Tut … Tut …Tut,” Pangilan masuk dari layar Sony milikku. Aku geser layarnya.
“Assalamualaikum!”
“Waalaikumsalam. Dek, aku sekarang sudah berlabuh,” ucapnya.
“Alhamdulilah, kalau begitu nanti kalau waktu istirahat telepon lagi ya, Mas. Ini aku lagi bawa Kakek berjemur.”
“Siapa?” tiba-tiba Ririn teman sebelah kamar menepuk punggungku.
“Kakakku, ia kerja di pelayaran,” ucapku.
“Kamu tega! Membiarkan dia kerja di laut. Apa tidak takut?”
“Maksud kamu?” tanyaku penasaran.
“Bekerja di pelayaran itu sangat sengsara. Selain merasakan ganasnya ombak di lautan juga banyak diantara mereka yang merasakan kerasnya kehidupan di daratan, gaji di bawah standar. Saya pernah melihat di palabuhan Pintung saat diajak Nenek ke rumah anaknya, disitu aku melihat bagimana kehidupan mereka. Bahkan tempat tidur mereka tidak begitu layak, apalagi saat mereka berlayar istirahat mereka kurang cukup, sedangkan tenaga mereka diperas habis-habisan,” tutur Ririn sambil meraih botol minuman di belakang kursi roda yang disediakan seperti kantong Doraemon, karena berisi berbagai peralatan Neneknya.
“Awalnya, aku tidak tahu Rin. Kalau Kakakku menyusul kesini. Tiba-tiba saja dia meneleponku setelah seminggu sampai di Taiwan. Sebenarnya aku tak tega, tahu dia mau ke sini aku suruh bekerja di pabrik. Mungkin, lebih minim resikonya. Kalau sudah habis potogan pindah di pabrik,” ucapku mengenang ucapannya beberapa bulan yang lalu.
“Iya, Fa. Kamu masih ingat kasus TKI sebagai nelayan yang membunuh kaptennya?”
“Ingat!”
“Kasihan! Aku rasa tidak ada api kalau tidak ada asap. Menurutku tidak banyak yang tahu dengan kasus ini, mereka menganggap kesalahan sepenuhnya pada TKI. Meski aku tahu, mereka tetap salah karena menghilangkan nyawa seseorang,” Tatapan Ririn menerawang seolah mengulang kejadian yang terjadi beberapa tahun silam.” Aku kasihan, bagaimana dengan keluarga para nelayan itu? Bagaimana menjengukknya? sementara mereka ditahan di sini,” imbuhnya.
“Aku kurang paham, Rin. Kayaknya mereka sekarang ditahan seumur hidup. Atau mungkin menunggu hukuman mati!” ucapku.
“Itulah, Fa. Seakan keadilan itu tidak berpihak pada kita BMI. Masih banyak kasus lainnya yang tidak tercium ke publik. Kamu dengar kasus Indayani yang membunuh mantan majikannya pada 18 April 2015 silam, karena gajinya selama 9 bulan tidak dibayar, bahkan sempat tercium kabar kalau selain tidak dibayar gajinya juga diperlakukan secara tidak senonoh,” ucap gadis lulusan UNS yang lebih memilih jadi TKI untuk pengobatan ayahnya.
“Tidak ada habisnya, Rin. Membahas kasus TKI, Minimnya perlindungan membuat sebagian mengambil jalan pintas, Terkadang dari pihak ejensi yang seharusnya melindungi TKI malah berpihak pada majikan. Semoga saja mereka yang disini menunggu hukuman mati, mendapatkan perlindungan hukum yang lebih baik.” Kulirik jam tangan di pergelangan tanganku, matahari mulai meninggi.
“Rin, aku kembali ke kamar dulu, ya? Ini aku mau ganti selang kencing.”
“Ya, Fa. Aku juga mau sedak dahak.”
Kami berpamitan setelah masuk kamar masing-masing. Tak lama saat aku mengganti selang kencing Kakek, Dokter datang. Memberi kabar kalau Kakek hari ini sudah boleh pulang.
***
Aku membawa rancel warna hitam di punggungku, kenang-kenagan dari almarhum Kakek. Aku memapah Kakek turun dari mobil. Semenjak aku menjaga Kakek ini, baru pertama kali ke rumah. Sebuah rumah bangunan tua, Saat Nyonya masuk Lif, menekan nomer 4.
Di dalam rumah itu, masih ada Nenek. Aku lihat dari sorot matanya begitu teduh.
“Selamat siang, Nek!” sapaku.
Nenek pun melontarkan senyum padaku, dari perbincangan diantara kami, aku ketahui kalau Nenek tidak bisa melihat dengan jelas. Umurnya yang sudah 85 tahun itu, masih kelihatan cantik. Tubuhnya yang mungil dan kulitnya yang bersih, mungkin banyak mengira umurnya belum ada 70-an.
***
Semburat sinar matahari yang bersiap masuk ke perut bumi, ditelan jajaran pegunungan, menampankan pemandangan begitu indah. Aku lihat dari kaca, sesekali berbicara pada Kekek saat ganti perban.
“Kakek, nama kamu siapa?” godaku, meski tanganku memegang kapas untuk membersihkan lukanya setelah mandi.
“Kuo … Zhang … Wei,” ucapnya, karena hanya nama dia yang masih diingatnya, itupun ia terkadang lupa.
Terdengar suara daun pintu terbuka, tak lama Ta Ayi datang membawa sekantung plastik berisi sayur dan daging.
“Fa, ini sayur untuk seminggu. Sayap ayam ini untuk Nenek dan daging babi giling ini untuk Kakek, untuk daging kamu makan sama Kakek, gading babi ini.”
Aku menelan nafas panjang sebelum mengutarakan apa yang mengganjal dihatiku,” Maaf, Ayi. Aku tidak boleh makan danging babi. Di agamaku dilarang,” ucapku memberanikan diri.
“Dulu Ati juga mau makan daging babi, awalnya tidak mau tapi lama-lama mau.”
“Saya bisa makan apa saja, jangan paksa saya untuk makan daging babi.”
“Ya, sudah. Besuk aku carikan ayam untukmu.”
“Sebenarnya tidak daging juga tidak apa, di dalam lemari ada telur, tahu ataupun apa aku bisa memakannya. Maaf, Ayi. Aku lanjutkan dulu kerjaan saya, memapah Kakek ke ruang tamu,” pamitku.
“Ok.” Ayi menaruh barang yang ia bawa ke meja makan, setelah itu ia duduk di kursi ruang tamu sambil mengeluarkan beberapa botol minuman.
“Tut … tut … tut,” suara masangger masuk dalam HP-ku.
Sebuah pesan yang menyatakan bahwa puisiku diterima sepuluh besar dan diharapkan untuk membacakannya bulan depan pada sebuah cara di Taipei City.
Bahagia, itu yang aku rasakan. Seketika itu juga aku bicara sama Ayi untuk meminta izin libur.
“Tidak, kamu tidak boleh libur,” ucapnya membuat aku sedikit kecewa.
“Bukankah dalam kontrak kerja kita diwajibkan libur sebulan sekali?” gumamku dalam hati.
“Please, Ayi. Ini acara penting!” rengekku.
“Ok, kamu aku kasih libur tetapi cuma setengah hari. Berangkat jam 12.00 pulang jam 18.00.”
Aku terima tawaran itu, meski rasanya agak susah, Bagaimana aku bisa menghabiskan perjalananan yang begitu singkat itu, padahal untuk sampai ke Taipei butuh waktu hampir dua jam.
“Hati-hati, Ma, dengan pembantu. Itu lihat di TV seorang TKI dari Indonesia memukuli pasiennya, untung ada rekaman CCTV. Kalau aku tidak datang ke sini. Mungkin, nasib kamu sama dengan nenek itu,” ucap majikanku dengan meneguk segelas bir.
“Tidak semua TKI itu seperti itu, Ayi. Mungkin hanya segelintir orang saja.”
“Kamu tidak tahu, Fa. Diam saja kamu!”
Ku tutup mulutku rapat-rapat meski jujur aku tidak terima kalau semua TKI disamaratakan. Apalagi yang disorot hanya sisi negatifnya saja.
***
Ranting pohon luruh tertiup angin malam, diiringi gesekan dedaunan yang dipermainkan angin. Hewan malam meningkahi dengan jerit paraunya kemudian suaranya perlahan menghilang. Aku duduk diatas kasur sambil mijiti Nenek, selama satu jam lamanya harus memijit telapak kakinya. Setelah itu memberikan obat tidur dan lelahku terbayar seharian dengan pundi–pundi NT yang setiap bulan aku terima.
“Fa, Maukah kamu mambantuku?” ucapnya sebelum lelap tertidur.
“Besuk beli ikan di pasar. Kalau kurang pinjam uang sama kamu, ya?”
“Iya, Nek. Kalau tidak lebih NT 5000 aku ada.”
Pagi yang sama dengan segala aktivitasku tidak ada yang berubah karena semua telah tertulis dalam kertas putih jadwal harianku dari pagi jam 06.00-22.00 malam.
Aku dengar suara segukan dari kamar, lihat Nenek memegang gagang telepon. Sepertinya habis menelepon anaknya, entah anak yang mana? Setahuku Nenek punya 6 anak. Namun, yang sering melihat Nenek setiap harinya hanya El Ayi dan Ta Ayi. Kalau yang lain sebulan sekali baru datang.
“Fa, Nanti kalau Ta Ayi datang. Bila ditanya, aku pinjam uang kamu.”
“Tapi … Nek. Kan, tadi tidak jadi pinjam. Bukankah uangnya untuk membayar ikan cukup?” tanyaku.
“Pokoknya, kamu nurut saja.”
Aku masih bimbang, haruskan aku katakan yang sebenarnya bahwa memang, nenek tidak meminjam uang kepadaku.
Sore hari, sepulang dari bawa Kakek jalan-jalan terdengar keributan.
“Fa, aku beli ikan NT 5000?”
“NT 3000, Nek.”
“Tadi aku beri NT 5000?”
“Nek, Bukannya pas diberikan sama penjualnya dihitung 3 lembar ribuan, Nenek juga lihat sendiri!”
Aku sudah merasa tidak nyaman, saat terdengar lontaran kata kalau aku tidak memperhatikan Nenek sampai salah menghitung. Namun, aku tetap pada pendirian. Disaat aku benar, aku harus bicara tentang kejujuran.
Aku tidak tahu menahu tentang uang itu, tetapi pada dasarnya kesalahan disudutkan padaku. Pertengakaran antara keduanya semakin menjadi, aku merasa terpojok. Apalagi kembali terdengar dari Ta Ayi kalau tas dan perhiasan Nenek dulu sering hilang oleh pembantu yang dulu.
Pada akhirnya, aku meberanikan diri.” Ayi, aku tidak pernah mengambil barang milik orang lain, kecuali barang itu dikasihkan padaku.” Kemudian keributan itu mereda.
Keesokan harinya El Ayi datang dan menanyakkan kejadian kemarin.
“Ayi. Kalau masalah pekerjaan saya diprotes tidak apa. Tetapi kalau menyangkut uang jujur saya merasa tidak nyaman,” terangku,”Maaf, bila ada kataku mungkin tidak berkenan,” lanjutku.
“Aku tahu, Fa. Kamu jujur dan bahkan Nenek juga bercerita kalau kamu sering menemukan uang Nenek yang jatuh ke lantai, kamu kembalikan. Kami tidak menyalahkanmu, Nenek akhir-akhir ini mulai pelupa, Fa. Kamu tahu, kan?”
“Iya, terima kasih, Ayi.”
Akhirnya, seolah memberikan angin segar ketika kepercayaan itu datang dari seseorang. Gerumbul awan putih seolah mewakili tentang rasaku, uang Nenek NT 2000 ternyata diberikan pada cucunya dua hari yang lalu.
“Fa, Hati-hati di jalan. Taruh dompet yang aman!” pesan Nenek sembari memberikan kunci rumah padaku. Semejak melihat berita di televisi tentang pembunuhan yang menimpa bocah kecil tak berdosa dan beberapa pekan dalam waktu yang berdeketan juga banyak kasus yang hampir sama, membuat Nenek khawatir bila aku keluar rumah.
Terukir bahagia lewat wajahku, meski harus berkejaran dengan kereta dan waktu. Bisa melepaskan penat dalam berkerja selama sebulan hilang dengan kegiatan posifif yang aku lakukan.
Dengan membawa kunci rumah aku masuk begitu saja. Disana anak-anak Nenek berkumpul didampingi alkhohol dan makanan di atas meja, tadi pagi aku sajikan.
“Fa, kamu terlambat pulang. Telat 10 menit.”
“Maaf, Ayi. Tadi macet,” terangku.
“Lain kali kalau libur tidak boleh pulang lebih dari jam 18.00 .”
“Siap.” Aku menuju kamar dan menaruh tasku.
Terdengar suara gaduh dari luar setelah sebelumnya aku dengar percekcokan antara mereka. Nenek mencoba menengahi. Sementara, Kakek aku bawa ke kamar. Tidak begitu jelas yang mereka perbincangkan.
Pada akhirnya, Nenek yang mencoba menghalangi Ta Ayi menampar menantunya, tiba-tiba gemetaran dan kejang-kejang. Mereka masih beradu argumen pada pendirian masing-masing.
Aku masuk dalam kerumuan itu dan membawa Nenek duduk di kursi, ia terus gemetar.
“Apa kalian tidak lihat, Ibu kalian sekarat!” teriakku dengan air mata yang meleleh.
“Kamu siapa?” tanya Ta Ayi.
Aku bopong Nenek ke kamar, sementara anak-anaknya mematung. Bagaimana caranya menyelamatkan Nenek? akhirnya Nenek bisa membuka matanya, namun tangan dan sekujur tubuhnya masih dingin dan gemetaran.
***
Kursi yang terbuat dari papan kayu berserakan di lantai, Ayi mendekatiku. “Sepertinya, aku harus meninggalkan tempat ini,” gumamku.
“Kamu itu pembantu tidak punya hak mencampuri urusan kami! Pergi kamu … pergi ” pekiknya dengan menuding-nuding telunjuknya ke wajahku.
“Bagaimana aku membiarkan Nenek begitu saja?” gumamku lirih.
“Fa, jangan kamu hiraukan kata-kata Ta Ayi, dia lagi mabuk berat,” ucap anak bungsu Nenek.
Akhirnya mereka pergi meningglkan tempat Nenek dengan meja berantakan. Kembali ke rumah mereka masing-masing.
***
Langit tak selamanya biru begitu sebaliknya tak selamanya hujan menyisakan pelangi. Kulihat kembali gambar yang tertera dalam Album yang ada di Handpone, wajah Nenek yang masih kuingat setelah hampir satu bulan aku meningalkannya. Bukan karena kasus itu tetapi kontrakku telah usai.
Seperti pesannya yang begitu bijak,”Lakukan kebaikan, seandainya suatu saat kamu jadi orang punya jangan lupa memberikan sedikit rezekimu pada orang lain,” ucapnya sambil menyelipkan beberapa lembar ke tanganku sebagai tanda terima kasih telah menjaganya.
“Nek, seperti pesanmu. Lewat ilmu yang aku berikan pada anak-anak didikku, berbagi. Tumpukan buku bekas yang aku jajar dilemari toko milik ibukku telah dipijam beberapa orang, karena pada dasarnya berbagi bukan dari materi saja, bukan?” ucapku sambil menutup telepon dari Nenek. Rinduku merdu memanggil, tersandung langit kelabu. Menepikan pilu pada desau bayu, membisu.
Selesai
Catatan:
Demensia: Suatu ganguan otak atau pikun menahun
Mas: panggilan untuk saudara tua laki-laki.
Cung Yu Ping: Makanan yang berbahan tepung dan daun bawang.
Kardiogram: Alat pencatat denyut jantung
Cardiac Arres: Penghentian normal sirkulasi darah akibat kegagalan jantung.
Ta Ayi: Tante tertua
El Ayi: Tante kedua
Taiwan, 25 Mei 2016
