Jangan Pandang Sebelah Status Kami

Zikriani Putri / Jangan Pandang Sebelah Status Kami / FLP Taiwan & KPKers Taiwan / tenaga kerja asing Jangan Pandang Sebelah Status Kami Karya: Zikriani Putri PRAKKK …!!! Suara kursi melayak ke lantai. Aku hanya terdiam dan menatap ngeri di sudut ruang tamu. Perempuan yang setiap hari selasa, kamis dan sabtu sering aku temui di ruang ini. Sosok … Continue reading “Jangan Pandang Sebelah Status Kami”

Zikriani Putri / Jangan Pandang Sebelah Status Kami / FLP Taiwan & KPKers Taiwan / tenaga kerja asing
Jangan Pandang Sebelah Status Kami
Karya: Zikriani Putri

PRAKKK …!!! Suara kursi melayak ke lantai. Aku hanya terdiam dan menatap ngeri di sudut ruang tamu.

Perempuan yang setiap hari selasa, kamis dan sabtu sering aku temui di ruang ini. Sosok perempuan tegar, menurutku! Aku dengar, saat umurnya 27 tahun dengan tiga anak. Ia harus kehilangan suaminya. Sehingga memaksanya harus berjuang sendiri.

Pranggg …!!! Perempuan itu kembali membating gelas yang ada di atas meja, setelah keluar dari kamar mandi. Dengan nafas tersengal-sengal.

Ia menghampiriku dengan wajah kacau dan kusut. Aku tertunduk dan bingung harus melakukan apa.

***
Kubuka tirai jendela berwarna hijau, angin membelai lembut rambutku yang masih berantakan. Kuhirup dalam-dalam angin segar. Musim dingin telah berlalu, waktu yang bagus untuk membawa Kakek jalan-jalan.

Di Sini aku seperti bagian dari keluarga mereka, semua kepercayaan sepenuhnya diberikan kepadaku. Aku hanya tinggal satu rumah dengan Kakek, sementara majikanku tinggal di apartemen sebelah. Kakek berumur 90 tahun, meski badannya masih sehat tetapi karena faktor umur menderita Demensia. Ia biasa berjalan sendiri sementara segala kebutuhan aku yang menyiapkan.

Meski umurnya sudah banyak. Namun, giginya masih bagus. Untuk menyiapkan makan setiap hari tidak perlu dibedakan. Kata anaknya Kakek orang rajin gosok gigi, setiap hari kadang 5 kali gosok gigi. Pagi ini aku siapkan Cung Yu Ping, dengan telur mata sapi lengkap dengan minumannya yaitu segelas susu ditambah sedikit kopi.

Setelah selesai melahap makanan yang ada di meja, aku siapkan keperluan Kakek untuk jalan-jalan. Setiap pagi dan sore hari rutin olahraga kecuali kalau cuaca tidak bagus. Kakek yang masih bisa berjalan namun ada kalanya ketika kelelahan ingin istirahat, untuk itu setiap kali keluar rumah aku bawakan kursi roda untuk jaga-jaga.

Aku kagum dengan keluarga ini, mereka saling menghargai satu sama lain, begitu pula denganku. Apabila memaggilku atau menyuruhku dengan ucapan yang sopan. Majikanku seorang pengusaha sukses. Menurut dari cerita Nenek sewaktu hidup itu tak lain karena usaha Nenek yang disiplin mendidik anak-anaknya.

Empat tahun di keluarga ini, aku cukup mengenal karekter mereka. Dua tahun yang lalu Nenek yang tegas dan baik itu meninggal karena tumor paru-paru. Menyisakan luka yang amat dalam bagi Kakek, hingga Demensia makin bertambah. Meski dia sudah merelakan kepergian Nenek tetapi aku tahu betul bagiamana rasanya kehilangan istri yang ia cintai itu. Bagaimana tidak! Meski umur mereka yang sudah tua tetapi adakalanya mereka bersendau gurau dan aku melihat bagaimana kasih sayang diantara keduanya.

“Kakek, jalan kesana, yuk? Itu di sana banyak anak-anak kecil bermain?” tanyaku ke Kakek.

Kakek yang hanya memiliki 3 anak lelaki dan lima cucu, sangat senang bila melihat anak-anak. Kalau melihat anak kecil ia sambil senyum-senyum mengajak anak itu bermain dengan tangannya. Memutar-mutar ujung tangannya.

Kakek tidak menolak ajakannku, Di bawah sinar matahari pagi serta angin lembut, kami berjemur.

“Fa, Kakek kamu penurut, ya? Baik lagi,” ucap Laela baru datang dengan Neneknya.

“Alhamdulilah,” balasku kemudian.

Banyak teman-temanku suka bercanda dan kadang merayu Kakek yang murah senyum. Namun, ada kalanya Kakek kalau kambuh, berubah begitu saja. Yang biasa memanggilku dengan sebutan Fa berubah jadi panggil Siou Jie, bahkan memukulku.

Pagi hari tempat ini cukup ramai, banyak pekerja asing dengan pasien mereka masing-masing maupun juga para warga penduduk asli yang membawa anak-anaknya bermain.

Waktu menunjukan 10.30 waktunya kami pulang menyiapkan makan siang untuk pasien kami.

“Laela, aku pulang dulu ya?” ucapku berpamitan dan Kakek melambaikan tangan ke teman-temanku.

Sore hari persediaan sayur yang ada di dalam lemari es mulai menipis, khawatir malam tidak cukup untuk dimasak, aku bawa Kakek di rumah majikanku dan aku titipkan Kakek pada menantunya, Nyonya.

Di tengah perjalanan pulang, aku merasa batinku tidak tenang. Ada sesuatu yang mengganjal. Setelah memarkirkan sepeda dan ke rumah majikanku.

“Fa, Kekek hilang!” Spontan aku gugup dan mencari Kakek.

Kakek ditemukan di lantai 13 tergeletak disisi pojok tangga. Segera Majikanku menelepon 119.

Tak lama suara sirine mobil ambulance datang dan membawa Kakek ke rumah sakit. Di ruang Emergency Kakek langsung mendapatkan perawatan khusus, tidak ada memar di tubuh Kakek. Namun setelah aku raba, ada bencolan di bagian bawah kepala Kakek. Dokter segera melakukan pemeriksaan.

Aku dan Nyonya menunggu dengan gugup. Menurut keterangan dokter Kakek mengalami cereda bagian kepala yang cukup serius.

“Kakek harus secepatnya mendapatkan pertolongan!” ucap dokter, ”Siapa yang bertangungjawab bila segera ditangani? Kalau dibiarkan saja hanya menunggu waktu! Apakah setuju bila dipasang selang oksegien melalui mulutnya?” lanjutnya.

Nyonya panik karena majikanku Tuan Ke masih dalam perjalanan, Dokter membutuhkan tanda tangan darinya.

“Anak-anak Kakek bersedia Dok, Apapun caranya agar Kakek bisa bertahan!” ucap Nyonya setelah mematikan telepon dari Tuan.
Dokter kembali ke ruangan Kakek, kami masih menunggu dengan panik.

Setelah menunggu beberapa saat, Kami diperbolehkan masuk ke sebuah rungan. Ada sedikit sisa darah yang keluar dari mulut Kakek, sepertinya bekas memasukkan selang besar ke mulut Kekek untuk membantu pernafasaan. Disisi ranjang banyak alat-alat dan kebel.

“Bagaimana keadaan Kekek?” tanya Tuan Ke.

Melihat aku tertunduk sepertinya Tuan tahu benar apa yang aku rasakan,”Fa, kami tidak menyalahkanmu,” ucapnya bijak, “Kami tahu Setiap manusia punya waktunya masing-masing, mungkin ini cara Tuhan,” lanjutnya.

Aku tertunduk, mengusap embun yang hampir jatuh di kelopakku.
Tiba-tiba alat yang berada di samping ranjang Kakek berbunyi.

“Niiiiiiiiiitttttt …!”(Suara mesin elektro Kardiogram)

Mesin yang berada disisi ranjang Kekek menunjukan garis lurus. Suara nada panjang terdengar dari alat itu, secara medis Kakek mengalami Cardiac Arrest.

Aku panik dan mencari dokter untuk segera melihat kondisi Kakek. Tak lama suster dan dokter datang.

Dokter menyuruh suster untuk mengambil alat kejut jantung. Beberapa kali alat itu di letakkan di dada Kakek, seketika itu tubuh Kakek melayang beberapa senti. Namun, nampaknya tidak ada hasil.

“Niiiiiiiiittttt…!” (Mesin Kardiogram kembali berbunyi).

***

Aku lihat langit-langit rumah sakit yang bercat putih, duduk di kursi sambil menunggu pasienku memberikan susu. Sebulan semenjak kepergian Kakek, sekarang mendapatkan majikan baru menjaga Kakek lumpuh.

Seminggu sekali aku dikasih uang makan untuk membeli makanan di luar. Di situ aku bertemu beberapa teman TKI yang letak kamar pasien mereka berdekatan dengan kamar Kakekku.

“Ati, kamu tidak keluar beli makan?” tanyaku pada perempuan berambut kriting sebahu. Saat kutemui dia mengambil cucian dari mesin cuci yang letaknya bersebelahan ruang Kakek.

Dia menggelangkan kepala, Aku lihat kusut matanya sepertinya ada yang dia sembunyikan.

“Kamu sudah makan?” tanyaku memberanikan diri.

“Aku tidak makan kalau … tidak ada sisa makanan dari Nenek.”

Mendengar jawaban barusan membuatku menelan ludah.” Begitu nelansa nasibnya?” batinku berbisik.

“Aku ada makanan nanti aku kasihkan ke kamu, ya?”

“Tidak usah, aku takut nanti dimarahi Nenek. Apalagi nanti kalau Nenek lapor anaknya bisa kena masalah.”

“Tapi, An. Kamu tidak boleh diam begitu saja, kamu punya hak. Disini kita punya hak baik makan maupun tempat tinggal kita harus layak,” ucapku.

“Aku takut, Mbak.”

Ani yang baru satu bulan itu rasanya benar-benar ketakutan. Aku hanya menatapnya pergi jauh meninggalkanku.

Selesai memberikan susu pada Kakek, aku bawa ke luar ruangan. Sambil sesekali aku melatihnya untuk berjalan.

“Tut … Tut …Tut,” Pangilan masuk dari layar Sony milikku. Aku geser layarnya.

“Assalamualaikum!”

“Waalaikumsalam. Dek, aku sekarang sudah berlabuh,” ucapnya.

“Alhamdulilah, kalau begitu nanti kalau waktu istirahat telepon lagi ya, Mas. Ini aku lagi bawa Kakek berjemur.”

“Siapa?” tiba-tiba Ririn teman sebelah kamar menepuk punggungku.

“Kakakku, ia kerja di pelayaran,” ucapku.

“Kamu tega! Membiarkan dia kerja di laut. Apa tidak takut?”

“Maksud kamu?” tanyaku penasaran.

“Bekerja di pelayaran itu sangat sengsara. Selain merasakan ganasnya ombak di lautan juga banyak diantara mereka yang merasakan kerasnya kehidupan di daratan, gaji di bawah standar. Saya pernah melihat di palabuhan Pintung saat diajak Nenek ke rumah anaknya, disitu aku melihat bagimana kehidupan mereka. Bahkan tempat tidur mereka tidak begitu layak, apalagi saat mereka berlayar istirahat mereka kurang cukup, sedangkan tenaga mereka diperas habis-habisan,” tutur Ririn sambil meraih botol minuman di belakang kursi roda yang disediakan seperti kantong Doraemon, karena berisi berbagai peralatan Neneknya.

“Awalnya, aku tidak tahu Rin. Kalau Kakakku menyusul kesini. Tiba-tiba saja dia meneleponku setelah seminggu sampai di Taiwan. Sebenarnya aku tak tega, tahu dia mau ke sini aku suruh bekerja di pabrik. Mungkin, lebih minim resikonya. Kalau sudah habis potogan pindah di pabrik,” ucapku mengenang ucapannya beberapa bulan yang lalu.

“Iya, Fa. Kamu masih ingat kasus TKI sebagai nelayan yang membunuh kaptennya?”

“Ingat!”

“Kasihan! Aku rasa tidak ada api kalau tidak ada asap. Menurutku tidak banyak yang tahu dengan kasus ini, mereka menganggap kesalahan sepenuhnya pada TKI. Meski aku tahu, mereka tetap salah karena menghilangkan nyawa seseorang,” Tatapan Ririn menerawang seolah mengulang kejadian yang terjadi beberapa tahun silam.” Aku kasihan, bagaimana dengan keluarga para nelayan itu? Bagaimana menjengukknya? sementara mereka ditahan di sini,” imbuhnya.

“Aku kurang paham, Rin. Kayaknya mereka sekarang ditahan seumur hidup. Atau mungkin menunggu hukuman mati!” ucapku.

“Itulah, Fa. Seakan keadilan itu tidak berpihak pada kita BMI. Masih banyak kasus lainnya yang tidak tercium ke publik. Kamu dengar kasus Indayani yang membunuh mantan majikannya pada 18 April 2015 silam, karena gajinya selama 9 bulan tidak dibayar, bahkan sempat tercium kabar kalau selain tidak dibayar gajinya juga diperlakukan secara tidak senonoh,” ucap gadis lulusan UNS yang lebih memilih jadi TKI untuk pengobatan ayahnya.

“Tidak ada habisnya, Rin. Membahas kasus TKI, Minimnya perlindungan membuat sebagian mengambil jalan pintas, Terkadang dari pihak ejensi yang seharusnya melindungi TKI malah berpihak pada majikan. Semoga saja mereka yang disini menunggu hukuman mati, mendapatkan perlindungan hukum yang lebih baik.” Kulirik jam tangan di pergelangan tanganku, matahari mulai meninggi.

“Rin, aku kembali ke kamar dulu, ya? Ini aku mau ganti selang kencing.”

“Ya, Fa. Aku juga mau sedak dahak.”

Kami berpamitan setelah masuk kamar masing-masing. Tak lama saat aku mengganti selang kencing Kakek, Dokter datang. Memberi kabar kalau Kakek hari ini sudah boleh pulang.

***
Aku membawa rancel warna hitam di punggungku, kenang-kenagan dari almarhum Kakek. Aku memapah Kakek turun dari mobil. Semenjak aku menjaga Kakek ini, baru pertama kali ke rumah. Sebuah rumah bangunan tua, Saat Nyonya masuk Lif, menekan nomer 4.

Di dalam rumah itu, masih ada Nenek. Aku lihat dari sorot matanya begitu teduh.

“Selamat siang, Nek!” sapaku.

Nenek pun melontarkan senyum padaku, dari perbincangan diantara kami, aku ketahui kalau Nenek tidak bisa melihat dengan jelas. Umurnya yang sudah 85 tahun itu, masih kelihatan cantik. Tubuhnya yang mungil dan kulitnya yang bersih, mungkin banyak mengira umurnya belum ada 70-an.

***

Semburat sinar matahari yang bersiap masuk ke perut bumi, ditelan jajaran pegunungan, menampankan pemandangan begitu indah. Aku lihat dari kaca, sesekali berbicara pada Kekek saat ganti perban.

“Kakek, nama kamu siapa?” godaku, meski tanganku memegang kapas untuk membersihkan lukanya setelah mandi.

“Kuo … Zhang … Wei,” ucapnya, karena hanya nama dia yang masih diingatnya, itupun ia terkadang lupa.

Terdengar suara daun pintu terbuka, tak lama Ta Ayi datang membawa sekantung plastik berisi sayur dan daging.

“Fa, ini sayur untuk seminggu. Sayap ayam ini untuk Nenek dan daging babi giling ini untuk Kakek, untuk daging kamu makan sama Kakek, gading babi ini.”

Aku menelan nafas panjang sebelum mengutarakan apa yang mengganjal dihatiku,” Maaf, Ayi. Aku tidak boleh makan danging babi. Di agamaku dilarang,” ucapku memberanikan diri.

“Dulu Ati juga mau makan daging babi, awalnya tidak mau tapi lama-lama mau.”

“Saya bisa makan apa saja, jangan paksa saya untuk makan daging babi.”

“Ya, sudah. Besuk aku carikan ayam untukmu.”

“Sebenarnya tidak daging juga tidak apa, di dalam lemari ada telur, tahu ataupun apa aku bisa memakannya. Maaf, Ayi. Aku lanjutkan dulu kerjaan saya, memapah Kakek ke ruang tamu,” pamitku.

“Ok.” Ayi menaruh barang yang ia bawa ke meja makan, setelah itu ia duduk di kursi ruang tamu sambil mengeluarkan beberapa botol minuman.

“Tut … tut … tut,” suara masangger masuk dalam HP-ku.

Sebuah pesan yang menyatakan bahwa puisiku diterima sepuluh besar dan diharapkan untuk membacakannya bulan depan pada sebuah cara di Taipei City.

Bahagia, itu yang aku rasakan. Seketika itu juga aku bicara sama Ayi untuk meminta izin libur.

“Tidak, kamu tidak boleh libur,” ucapnya membuat aku sedikit kecewa.

“Bukankah dalam kontrak kerja kita diwajibkan libur sebulan sekali?” gumamku dalam hati.

“Please, Ayi. Ini acara penting!” rengekku.

“Ok, kamu aku kasih libur tetapi cuma setengah hari. Berangkat jam 12.00 pulang jam 18.00.”

Aku terima tawaran itu, meski rasanya agak susah, Bagaimana aku bisa menghabiskan perjalananan yang begitu singkat itu, padahal untuk sampai ke Taipei butuh waktu hampir dua jam.

“Hati-hati, Ma, dengan pembantu. Itu lihat di TV seorang TKI dari Indonesia memukuli pasiennya, untung ada rekaman CCTV. Kalau aku tidak datang ke sini. Mungkin, nasib kamu sama dengan nenek itu,” ucap majikanku dengan meneguk segelas bir.

“Tidak semua TKI itu seperti itu, Ayi. Mungkin hanya segelintir orang saja.”

“Kamu tidak tahu, Fa. Diam saja kamu!”

Ku tutup mulutku rapat-rapat meski jujur aku tidak terima kalau semua TKI disamaratakan. Apalagi yang disorot hanya sisi negatifnya saja.

***
Ranting pohon luruh tertiup angin malam, diiringi gesekan dedaunan yang dipermainkan angin. Hewan malam meningkahi dengan jerit paraunya kemudian suaranya perlahan menghilang. Aku duduk diatas kasur sambil mijiti Nenek, selama satu jam lamanya harus memijit telapak kakinya. Setelah itu memberikan obat tidur dan lelahku terbayar seharian dengan pundi–pundi NT yang setiap bulan aku terima.

“Fa, Maukah kamu mambantuku?” ucapnya sebelum lelap tertidur.

“Besuk beli ikan di pasar. Kalau kurang pinjam uang sama kamu, ya?”

“Iya, Nek. Kalau tidak lebih NT 5000 aku ada.”

Pagi yang sama dengan segala aktivitasku tidak ada yang berubah karena semua telah tertulis dalam kertas putih jadwal harianku dari pagi jam 06.00-22.00 malam.

Aku dengar suara segukan dari kamar, lihat Nenek memegang gagang telepon. Sepertinya habis menelepon anaknya, entah anak yang mana? Setahuku Nenek punya 6 anak. Namun, yang sering melihat Nenek setiap harinya hanya El Ayi dan Ta Ayi. Kalau yang lain sebulan sekali baru datang.

“Fa, Nanti kalau Ta Ayi datang. Bila ditanya, aku pinjam uang kamu.”

“Tapi … Nek. Kan, tadi tidak jadi pinjam. Bukankah uangnya untuk membayar ikan cukup?” tanyaku.

“Pokoknya, kamu nurut saja.”

Aku masih bimbang, haruskan aku katakan yang sebenarnya bahwa memang, nenek tidak meminjam uang kepadaku.

Sore hari, sepulang dari bawa Kakek jalan-jalan terdengar keributan.

“Fa, aku beli ikan NT 5000?”

“NT 3000, Nek.”

“Tadi aku beri NT 5000?”

“Nek, Bukannya pas diberikan sama penjualnya dihitung 3 lembar ribuan, Nenek juga lihat sendiri!”

Aku sudah merasa tidak nyaman, saat terdengar lontaran kata kalau aku tidak memperhatikan Nenek sampai salah menghitung. Namun, aku tetap pada pendirian. Disaat aku benar, aku harus bicara tentang kejujuran.

Aku tidak tahu menahu tentang uang itu, tetapi pada dasarnya kesalahan disudutkan padaku. Pertengakaran antara keduanya semakin menjadi, aku merasa terpojok. Apalagi kembali terdengar dari Ta Ayi kalau tas dan perhiasan Nenek dulu sering hilang oleh pembantu yang dulu.

Pada akhirnya, aku meberanikan diri.” Ayi, aku tidak pernah mengambil barang milik orang lain, kecuali barang itu dikasihkan padaku.” Kemudian keributan itu mereda.

Keesokan harinya El Ayi datang dan menanyakkan kejadian kemarin.

“Ayi. Kalau masalah pekerjaan saya diprotes tidak apa. Tetapi kalau menyangkut uang jujur saya merasa tidak nyaman,” terangku,”Maaf, bila ada kataku mungkin tidak berkenan,” lanjutku.

“Aku tahu, Fa. Kamu jujur dan bahkan Nenek juga bercerita kalau kamu sering menemukan uang Nenek yang jatuh ke lantai, kamu kembalikan. Kami tidak menyalahkanmu, Nenek akhir-akhir ini mulai pelupa, Fa. Kamu tahu, kan?”

“Iya, terima kasih, Ayi.”

Akhirnya, seolah memberikan angin segar ketika kepercayaan itu datang dari seseorang. Gerumbul awan putih seolah mewakili tentang rasaku, uang Nenek NT 2000 ternyata diberikan pada cucunya dua hari yang lalu.

“Fa, Hati-hati di jalan. Taruh dompet yang aman!” pesan Nenek sembari memberikan kunci rumah padaku. Semejak melihat berita di televisi tentang pembunuhan yang menimpa bocah kecil tak berdosa dan beberapa pekan dalam waktu yang berdeketan juga banyak kasus yang hampir sama, membuat Nenek khawatir bila aku keluar rumah.

Terukir bahagia lewat wajahku, meski harus berkejaran dengan kereta dan waktu. Bisa melepaskan penat dalam berkerja selama sebulan hilang dengan kegiatan posifif yang aku lakukan.

Dengan membawa kunci rumah aku masuk begitu saja. Disana anak-anak Nenek berkumpul didampingi alkhohol dan makanan di atas meja, tadi pagi aku sajikan.

“Fa, kamu terlambat pulang. Telat 10 menit.”

“Maaf, Ayi. Tadi macet,” terangku.

“Lain kali kalau libur tidak boleh pulang lebih dari jam 18.00 .”

“Siap.” Aku menuju kamar dan menaruh tasku.

Terdengar suara gaduh dari luar setelah sebelumnya aku dengar percekcokan antara mereka. Nenek mencoba menengahi. Sementara, Kakek aku bawa ke kamar. Tidak begitu jelas yang mereka perbincangkan.

Pada akhirnya, Nenek yang mencoba menghalangi Ta Ayi menampar menantunya, tiba-tiba gemetaran dan kejang-kejang. Mereka masih beradu argumen pada pendirian masing-masing.

Aku masuk dalam kerumuan itu dan membawa Nenek duduk di kursi, ia terus gemetar.

“Apa kalian tidak lihat, Ibu kalian sekarat!” teriakku dengan air mata yang meleleh.

“Kamu siapa?” tanya Ta Ayi.

Aku bopong Nenek ke kamar, sementara anak-anaknya mematung. Bagaimana caranya menyelamatkan Nenek? akhirnya Nenek bisa membuka matanya, namun tangan dan sekujur tubuhnya masih dingin dan gemetaran.
***
Kursi yang terbuat dari papan kayu berserakan di lantai, Ayi mendekatiku. “Sepertinya, aku harus meninggalkan tempat ini,” gumamku.

“Kamu itu pembantu tidak punya hak mencampuri urusan kami! Pergi kamu … pergi ” pekiknya dengan menuding-nuding telunjuknya ke wajahku.

“Bagaimana aku membiarkan Nenek begitu saja?” gumamku lirih.

“Fa, jangan kamu hiraukan kata-kata Ta Ayi, dia lagi mabuk berat,” ucap anak bungsu Nenek.

Akhirnya mereka pergi meningglkan tempat Nenek dengan meja berantakan. Kembali ke rumah mereka masing-masing.

***
Langit tak selamanya biru begitu sebaliknya tak selamanya hujan menyisakan pelangi. Kulihat kembali gambar yang tertera dalam Album yang ada di Handpone, wajah Nenek yang masih kuingat setelah hampir satu bulan aku meningalkannya. Bukan karena kasus itu tetapi kontrakku telah usai.

Seperti pesannya yang begitu bijak,”Lakukan kebaikan, seandainya suatu saat kamu jadi orang punya jangan lupa memberikan sedikit rezekimu pada orang lain,” ucapnya sambil menyelipkan beberapa lembar ke tanganku sebagai tanda terima kasih telah menjaganya.

“Nek, seperti pesanmu. Lewat ilmu yang aku berikan pada anak-anak didikku, berbagi. Tumpukan buku bekas yang aku jajar dilemari toko milik ibukku telah dipijam beberapa orang, karena pada dasarnya berbagi bukan dari materi saja, bukan?” ucapku sambil menutup telepon dari Nenek. Rinduku merdu memanggil, tersandung langit kelabu. Menepikan pilu pada desau bayu, membisu.

Selesai

Catatan:
Demensia: Suatu ganguan otak atau pikun menahun
Mas: panggilan untuk saudara tua laki-laki.
Cung Yu Ping: Makanan yang berbahan tepung dan daun bawang.
Kardiogram: Alat pencatat denyut jantung
Cardiac Arres: Penghentian normal sirkulasi darah akibat kegagalan jantung.
Ta Ayi: Tante tertua
El Ayi: Tante kedua
Taiwan, 25 Mei 2016

HARU YANG MENUNGGU

ADI ANTO / HARU YANG MENUNGGU / KOMUNITAS PENULIS KREATIF TAIWAN / tenaga kerja asing HARU YANG MENUNGGU Oleh: Adi Anto Mata itu begitu sayu dan tanpa binar, seakan terpancar sejuta ratap dan putus asa. Bulir bening pun menggenang dalam. Haru yang kental dan begitu syahdu seiring rinai yang menetes ke bumi, waktuku untuk berlari pergi meninggalkannya dalam … Continue reading “HARU YANG MENUNGGU”

ADI ANTO / HARU YANG MENUNGGU / KOMUNITAS PENULIS KREATIF TAIWAN / tenaga kerja asing

HARU YANG MENUNGGU
Oleh: Adi Anto

Mata itu begitu sayu dan tanpa binar, seakan terpancar sejuta ratap dan putus asa. Bulir bening pun menggenang dalam. Haru yang kental dan begitu syahdu seiring rinai yang menetes ke bumi, waktuku untuk berlari pergi meninggalkannya dalam diam yang meradang.
Esok paginya dia pun masih sama, menatap nanar jauh entah di titik mana. Pandangan yang basah oleh titik-titik air mata dan ada alur di bawah mata sayunya tanda tangisnya pecah semalam. Ingin sekali aku bernasihat, memberinya semua kata bijak para pakar, menyemangatinya untuk menghentikan tangisnya. Hidup itu indah dan dia harus belajar menikmatinya. Tetapi sayu masih menggelayut dan dia kian larut. Apa yang bisa kuperbuat?
Sebelum mengayuh sepedaku pulang kulirik dia yang masih diam di tempatnya. Mungkin sudah beberapa hari ini dia tidak beranjak pergi, matanya yang sayu masih nanar menatap langit yang sudah berkelir hitam. Lara itu masih kentara dan tak kuasa rasanya seorang sepertiku mengusir jauh sang lara itu. Aku berlalu dengan kayuhan pelan sepeda tuaku, menjauh pergi membawa lelah dan iba yang berdesakkan.
“Sudah tahu kabar Mr. Yu?” tanya Anton sambil menyantap pientangnya dengan rakus.
“Masih koma ya?” jawabku balik bertanya.
“Iya … katanya tak ada harapan. Luka di kepalanya terlampau parah.”
Kucerna omongan Anton sambil menelan sesuap nasi yang belum hancur terkunyah dan sekilas sorot mata sayu itu terlintas.
Esok paginya kusempatkan duduk sebentar untuk menyapanya, mungkin perhatianku akan mengalihkan dunianya yang sedang biru.
“Cau an … kau baik-baik saja kan?”
Dia tak menjawab, menoleh kepadaku pun tidak. Tatapannya masih jauh menerawang tak bertujuan. Sepuluh menit kami saling diam aku berlalu saat bel panjang tanda jam kerjaku dimulai berdentang-dentang memekakkan.
Entah perasaan apa yang kumiliki rasanya ada keterikatan antara aku dan dirinya. Sungguh ada iba yang menyeruak menyaksikan bening yang menggantung di mata sayunya. Aku tak tega, sungguh andai aku ini adalah pujangga yang pintar membuat rangkaian kata akan kujelaskan bagaimana sorot mata itu memenjarakanku dalam iba yang tanpa pintu. Tak tega tapi sekali lagi aku bisa apa?
Siang harinya kami ada melakukan acara sembahyang selintas terdengar itu adalah asupan doa untuk kesembuhan Mr. Yu yang terbaring koma. Kulirik dia sepintas … masih sama dalam diam abadinya.
Entah hari itu hari apa yang kuingat hanya dua hari setelah doa bersama untuk Mr. Yu, dari corong speaker terdengar pengumuman dalam bahasa mandarin yang simpang siur kutangkap apa maknanya. Tak lama semua membicarakan Mr. Yu yang telah berpulang, pendarahan di otaknya tak mampu diredam. Setengah berlari aku mendatanginya, aku ingin menyampaikan kabar itu padanya. Ingin memeluk dan menghiburnya.
Dia kudapati lunglai sekarang, jika beberapa hari lalu kepalanya masih tertopang kini semua merebah setara tanah. Bening itu tak lagi menggenang tapi sudah bercucuran, dia menangis dalam.
“Kau tahu Mr. Yu meninggal? Dia sudah berpulang … sabar ya?” Entah kenapa justru kata-kata itu yang terlontar padahal ingin kukatakan hal indah yang bisa membuatnya sedikit bahagia.
Aku tetap tak dihiraukan.
“Mas … ayo pulang ngapain ngurusin anjing itu!” teriak sebuah suara di belakangku.
Entah siapa yang mengajakku pulang, fokusku hanya tertuju pada Haru yang telah beberapa hari ini menunggu. Haru yang hanya seekor Rottweiler mempunyai nurani untuk menanti sang tuan yang koma akibat kecelakaan. Haru yang tidak punya perikemanusiaan tapi menunjukkan padaku arti sebuah setia.
Kuusap tubuh gemetar dan mata yang membanjir air mata itu. Dia berduka begitu dalam lebih dalam dari duka para manusia-manusia.
“Bertahanlah Haru ….!” Itu ucap terakhirku sebelum kukayuh sepeda tuaku pulang. Esok paginya Haru juga tiada ….

Tainan, 25 Mei 2016

Giọt Nước Mắt Hạnh Phúc

Ngô Tú Quỳnh Loan / Giọt Nước Mắt Hạnh Phúc / VNEX / sinh viên Tôi sinh ra và lớn lên trong lòng những ngọn núi, nơi sương mù che phủ quanh năm. Con người và không khí nơi đây rất giống nhau: mát lạnh, trong lành và rất ôn hòa. Cuộc sống những người dân miền núi … Continue reading “Giọt Nước Mắt Hạnh Phúc”

Ngô Tú Quỳnh Loan / Giọt Nước Mắt Hạnh Phúc / VNEX / sinh viên

Tôi sinh ra và lớn lên trong lòng những ngọn núi, nơi sương mù che phủ quanh năm. Con người và không khí nơi đây rất giống nhau: mát lạnh, trong lành và rất ôn hòa. Cuộc sống những người dân miền núi vất vả, từ thời tổ tiên đã theo nghề trồng trọt, lệ thuộc rất nhiều vào thiên nhiên và thời tiết. Nghề nông cứ cha truyền con nối cho đến khi hạn hán và bệnh dịch kéo đến. Đất đai khô cằng, cây cỏ không phát triển. Những người dân trong làng buộc phải bán đất cho các nhà máy công nghiệp rồi bỏ xứ ra đi. Các nhà máy mọc đè lên những ruộng lúa và những luống rau. Màu xanh mơn và cái nắng sớm ban mai trên đồng đã dần mất đi, thay vào bằng những ống khói cao ngút xả ngói ngợp trời. Tiếng bon bon của máy móc và còi xe chở hàng vang lên cả ngày lẫn đêm tấp nập. Những thanh niên chạc tuổi tôi người thì lên Hà Nội kiếm việc, người thì vào làm công nhân nhà máy. Tôi may mắn hơn, tìm được một xuất đi lao động phụ bếp và nấu cơm cho các công nhân tại Đài Loan. Hành lý vỏn vẹn vài bộ quần áo và bộc thuốc phòng khi ốm đau, tôi lên chuyến bay đi đến hòn đảo ngọc nơi ấp ủ tương lai và đi tìm hạnh phúc. Ở cái tuổi 20 tròn trĩnh, tôi vẽ ra những bức tranh tương lai tươi đẹp để cố gắng làm lụng tích góp về Việt Nam lập nghiệp, để thoát khỏi cái đói cái khổ, để cha mẹ được hưởng tuổi già an vui. Trên chuyến bay đó, tôi đã gặp các chị em cô dâu Việt mang theo hi vọng đổi đời hạnh phúc bên người chồng Đài khác ngôn ngữ và văn hóa, gặp các em học sinh mang trên vai mầm non xanh cho kiến thức tương lai và nền tản giáo dục, còn cả những anh em lao động như tôi đi tìm kiếm vận may đổi đời tại vùng đất mới. Bắt đầu công việc phụ bếp tại công ty xây dựng đường sắt gần ga Cao Hùng. Hằng ngày tôi phụ chú Công đầu bếp chính chuẩn bị gần hai trăm suất ăn cho các anh em. Món canh chua là món mà mọi người yêu thích nhất vào ngày nghỉ cuối tuần và những ngày lãnh lương dư dã vào cuối tháng. Chú Công dạy tôi cảm nhận hương vị từng món ăn, chú hay bảo: “Phải dùng cái tâm để nấu thì mới đưa ra được những món ăn ngon đến các anh em. Công việc họ vất vả mệt nhọc lắm chỉ có bữa ăn mới bù đắp được đầy đủ năng lượng cho các anh em công nhân.” Ba tháng đầu trôi qua, tôi học được gần hết và nấu thuần thục các món ăn chính, chỉ còn mỗi món canh chua nấu mãi vẫn không ra vị như của Chú Công nấu và mọi người cũng chẳng thích ăn món canh do tôi nấu, lúc thì chua quá, lúc thì ngọt quá. Có lần còn đổ bỏ đi gần cả nồi vì chẳng ai ăn. Tôi tìm hỏi chú Công bí quyết và công thức nấu được món canh ngon, chú ấy bảo chẳng có công thức nào mùi vị chua cay mặn ngọt phải hài hòa như hương vị cuộc sống vậy. Tôi lại hỏi tiếp làm cách nào để hiểu và nếm được hương vị cuộc sống như món canh? Chú nhẹ nhàng mỉm cười đáp: “khi con tìm thấy được giọt nước mắt hạnh phúc con sẽ thấu hiểu được hương vị của cuộc sống này.” Bằng cách nào tìm được giọt nước mắt hạnh phúc, mọi người phải cười vui khi hạnh phúc mới đúng chứ chú, sao lại phải khóc khi hạnh phúc? Hàng trăm câu hỏi và thắc mắc về bí quyết lạ kỳ hiện lên trong đầu tôi. Chú chỉ cười và đáp : Khi con người đau khổ giọt nước mắt xuống đầu tiên từ khóe mắt trái và ngược lại giọt nước mắt hạnh phúc sẽ rơi từ khóe mắt phải. Tôi bắt đầu hành trình đi tìm giọt nước mắt hạnh phúc. Ngày ngày tôi quan sát những người quanh tôi về cuộc sống của họ, thời gian rãnh buổi tối và cuối tuần tôi làm thêm phụ việc tại quán ăn Việt Nam gần ga. Cuộc sống nơi đây tấp nập và hối hả. Hàng trăm, hàng ngàn mảnh đời lướt qua tôi. Tôi dần hiểu ra và cảm nhận rõ nét được từng hương vị của cuộc sống hiểu ra rằng vì sao những đứa trẻ nhỏ luôn thích ăn kẹo ngọt vì chúng chỉ thấy màu hồng ngọt ngào của cuộc sống. Lớn lên một chút thì chúng biết ăn chua rồi đến cái lúc biết cảm nhận tình yêu đôi lứa thì mọi người lại ví như vị đắng của socola. Biết đắng mà vẫn mong cầu và tìm kiếm tình yêu vì khi yêu vượt qua được mọi đắng cây đâu khổ họ sẽ tìm được hạnh phúc bền lâu cũng giống như vị ngọt động lại trong cổ sau khi ăn socola. Đi đến gần hết cuộc đời trải qua những hỉ nộ ái ố, đắng cây mặn ngọt thì về già con người lại trở về như trẻ thơ thích vị ngọt vì họ đã trải qua và nếm đủ các hương vị cuộc sống. Buồn cũng qua một ngày, khổ cũng phải đi hết đoạn đường vậy thì sao phải đau khổ đi trên con đường ấy. Họ chọn cho mình niềm vui ngọt ngào. Hai năm trôi qua, tôi dần hiểu rõ và cảm nhận được từng hương vị của mỗi món ăn. Thấy được hàng trăm giọt nước mắt đau khổ rơi từ khóe mắt trái, thấy được nụ cười và niềm vui của sự hạnh phúc. Nhưng vẫn chưa điều tiết được vị chua cay mặn ngọt trong món canh chua. Vẫn chưa nấu được món canh mà các anh em yêu thích như chú Công đầu bếp. Cho đến một ngày nọ, Anh Vũ một công nhân lao động bỏ trốn đến quán ăn tôi làm thêm xin việc làm thêm buổi tối. Dáng người gầy gò thoan thoát, anh làm việc cả ngày lẫn đêm với mong muốn kiếm tiền gởi về Việt Nam để trả dứt số nợ cho gia đình. Làm việc cùng anh hai tháng hơn mà chẳng thấy anh cười nói với ai, tôi cố bắt chuyện với anh nhưng anh cũng chỉ nói vài câu rồi lại lãng đi nơi khác. Có lần tôi bắt gặp anh tranh thủ đi đổ rác ngồi nói chuyện chat qua điện thoại với con trai thấy tôi anh quẹt vội giọt nước mắt rồi chạy ù vào trong làm việc tiếp. Ai nào có ngờ vào một ngày không may, chị chủ quán bảo tôi chạy lên phòng kêu anh xuống làm thay ca cho tôi vì chờ mãi mà không thấy anh xuống, bằng ngày anh rất đúng giờ, gọi điện cũng chẳng thấy anh bắt máy. Cửa phòng lại khóa, tôi phải vòng xuống lại nhờ chị chủ lên mở khóa dùm. Mở cánh của phòng anh ra, thấy anh nằm ngủ mọi người thở phào nhẹ nhỏm, để anh ngủ tiếp chắc công việc nhiều làm anh mệt mỏi. Sáng sớm hôm sau tôi nhận được cuộc gọi thất thần của chị chủ quán báo anh Vũ qua đời. Anh ngủ một giấc ngủ thiên thu không dậy được nữa. Anh là người bỏ trốn ra ngoài chẳng có giấy tờ nào trên người nhờ sự quyên góp và giúp đỡ của các hội từ thiện và mọi người xung quanh, bố của anh sau hai ngày đã đến được Đài Loan, lo ma chay và mang anh về VN. Tối hôm ấy, bố anh vừa bước đến cạnh xác anh, ông rơi giọt nước mắt từ khóe mắt bên phải. Giọt nước mắt hạnh phúc mà tôi tìm kiếm bấy lâu nay. Không thể tin được vào mắt mình tôi bắt đầu nghi ngờ lời của đầu bếp Công nói về giọt nước mắt hạnh phúc. Lo ma chay xong, chúng tôi thu xếp và đưa bác trai ra sân bay, trên đường đi ra sân bay tôi khá tò mò đã không kìm được mình và hỏi bác về giọt nước mắt ấy. Bác ơi, sao bác hạnh phúc khi nhìn thấy xác con trai mình. Chị chủ quán nghe thấy câu hỏi đã đập thật mạnh vào lưng tôi rồi mắng nhỏ: “cậu nói chuyện linh tinh quá.” Đôi mắt buồn rươm rướm ngước nhìn tôi nói: “đúng cháu ạ. Bác hạnh phúc khi được nhìn thấy đứa con trai mình sau 8 năm xa cách. Bác hạnh phúc vì có thể đến nơi đưa được con bác về với quê hương. Nó khổ lắm cháu ạ, đi qua Đài Loan lúc thằng cún con nó được 2 tháng tuổi. Đến nay nó cũng được 8 tuổi, biết nói biết vòi đồ chơi, cứ gọi qua hỏi khi nào bố về với cún. Mà lần này bố nó về chẳng bao giờ thằng cún vòi được nữa cháu ạ.” Nước mắt tôi rơi từ lúc nào mà không hay biết. Giọt nước mắt biết ơn cuộc sống đã cho tôi gặp và cảm nhận những mảnh đời yêu thương. Tôi thầm cảm ơn cuộc sống đã ưu ái tôi gặp được nhiều may mắn hơn nhiều cảnh đời tôi đi qua. Năm năm trôi qua, làm việc tại Đài Loan tôi tích góp được một số vốn trở về Việt Nam mở một nhà hàng nhỏ mang tên “Hương Vị Quê Hương”, các món ăn nơi đây đều có bốn hương vị chua cay mặn ngọt. Hương vị của cuộc sống hỷ nộ ái ố. Tôi đã thành công trong lĩnh vực kinh doanh nhà hàng và trở lại Đài Loan hợp tác với chị chủ quán cũ mở một quán ăn Việt: Hương Vị Quê hương để giới thiệu văn hóa và ẩm thực Việt Nam đến với bạn bè người Đài và cũng là gia đình ấm cúng đậm đà hương vị quê hương Việt Nam cho các anh chị em xa quê hương tại Đài Loan. Lúc nào tôi cũng thầm cám ơn giọt nước mạnh phúc và sự chăm chỉ cần cù quên cả bản thân mình của Anh Vũ người lao động đã ra đi. Cám ơn đầu bếp Công, người thầy đã chỉ dạy tôi và thổi bùng ngọn lửa ẩm thực trong tôi.

 

Lebaran,kampung halaman dan tanah rantau

Ebie gobel / Lebaran,kampung halaman dan tanah rantau / Oktavia eka / tenaga kerja asing Allahu akbar,allahu akbar,allahu akbar walillahilham.
kumandang takbir menggema,bergemuruh di dalam dada.air mata jatuh gugur mengingat kebesaranmu. Aku tetap mengumandangkan takbir,meski lirih di dalam hati.maklum saja,aku tinggal di negara yang penduduknya mayoritas bukan muslim,jadi tak ada perayan di sini,tak ada kue,tak ada rendang kambing,tak ada … Continue reading “Lebaran,kampung halaman dan tanah rantau”

Ebie gobel / Lebaran,kampung halaman dan tanah rantau / Oktavia eka / tenaga kerja asing
Allahu akbar,allahu akbar,allahu akbar walillahilham.
kumandang takbir menggema,bergemuruh di dalam dada.air mata jatuh gugur mengingat kebesaranmu.
Aku tetap mengumandangkan takbir,meski lirih di dalam hati.maklum saja,aku tinggal di negara yang penduduknya mayoritas bukan muslim,jadi tak ada perayan di sini,tak ada kue,tak ada rendang kambing,tak ada opor ayam,tak ada ketupat dan yang pasti tak ada gelak tawa keluarga,sanak-saudara dan teman-teman yang kehangatannya selalu membuatku rindu.
Dua kali puasa,dua kali lebaran,anakmu tak kunjung pulang mak,dan mungkin ia bakal jadi pengganti bang toyib,sebab ia tak akan pulang sampai lebaran ketiga.
Untuk lebaran yang kesekian kalinya,aku tak pulang ke kampung halaman.entah sudah berapa kali aku melewatkan hari bahagia itu tanpa kalian semua,melewatkan masa di negeri orang,sampai lupa bahwa usiaku sudah mulai senja.sudah hampir kepala tiga,sampai sampai ada yang pernah berkata,
“merantau terus,kapan nikahnya??”
Terus aku kudu piyee jal??…
Makjleeeeeb…
Rasanya,teriris-iris seluruh hati kalau sudah dapat pertanyaan seperti itu.ya memang tak ada yang salah sih dengan pertanyaan itu,mengingat usiaku memang sudah memasuki masa di mana seharusnya sudah berkeluarga.apalagi teman teman di kampung sudah pada menikah semua bahkan sudah ada yang punya momongan.tapi ya apa mau di buat,mungkin tuhan sedang memilihkan jodoh yang tepat buat saya.sabar saja,sebab saya yakin semua akan indah pada waktunya.
halaaaaah kok malah curhat…
Balik lagi ke masalah lebaran tadi,bagi saya anak perantau,yang terpisah jarak ribuan kilometer dari kampung halaman,satu satunya yang selalu bisa membuat saya merasa dekat dan bisa merasakan lebaran bersama keluarga ya cuma njobrol via telepon.meskipun kadang suaranya kurang jelas dan sering terputus putus.maklumlah,rumah saya memang di kampung jauh dari kota jadi agak sedikit susah signal.nah kalau sudah telepon bisa menghabiskan waktu berjam-jam dan hal yang paling menyedihkan adalah ketika harus menyudahi pembicaraan padahal rindu di hati masih ingin terus bercengkrama.apalagi kalau sedang berbicara dengan ibu,halaaah rasanya tak ingin berhenti,ingin rasanya menumpahkan semua beban yang ada di hati ini.ya entah kenapa,kalau sedang berbicara dengan ibu,ada rasa nyaman yang tak pernah kurasakan dari wanita manapun selain ibu.ada rasa tenang di dalamnya.semua kata yang mengalir darinya seperti air yang menyejukkan.semua nasehatnya seperti mentari yang memberi terang pada gelapnya jiwaku redup.bagiku,ibu adalah telaga kasih tanpa pamrih.bidadari syurga menjelma manusia.itulah kenapa aku selalu ingin melihatnya tersenyum dan selalu berusaha untuk membuatnya bahagia.
Dan itulah hal yang selalu membuatku ingin segera pulang ke kampung halaman.merasakan lagi hangat pelukannya,menikmati lagi setiap helai lembut jemarimu.menikmati setiap aroma masakannya,oh sungguh aku benar benar rindu itu semua.
Sudah sudah jangan sedih,sebab air mata hanya akan menambah perih dan rindu di kalbu.hanya akan menambah sesak di dada.sebab apa yang disisakan airmata selain kenangan dan kesedihan.
Haaaaahaaa sok puitis banget ya saya.,
Balik lagi ke persoalan tadi.
Lebaran tanpa keluarga,sanak saudara dan teman mungkin bagiku sudah menjadi hal yang biasa dan itu adalah konsekuensi yang harus diterima dalam hidup.Hidup adalah pilihan dan ini adalah pilihan hidup saya.saya memilih meninggalkan kampung halaman dan pergi menuju tanah rantau.tapi tak pernah ada penyesalan dalam hidup sebab manapun jalan hidup yang kita pilih itulah yang harus kita jalani.akan selalu ada yang baik dan akan selalu ada buruknya,sebab begitulah hidup akan terus berputar tanpa kita tahu pasti kemana roda nasib akan membawa kita,yang pasti seperti apapun jalan yang engkau pilih,susah senang tetap ingat kepada Tuhan sang pencipta alam.jangan pernah takut untuk merevolusi hidup sebab Tuhan takkan pernah merubah nasib seseorang jika bukan orang itu sendiri yang merubahnya.
Allahu akbar,allahu akbar,allahu akbar walillahilham.
Selamat hari raya idul fitri.

Pingtung,25 mei 2016.

Cerita dari ruang ICU

Zaa / Cerita dari ruang ICU / Sima / tenaga kerja asing Cerita dari ruang ICU “Bukankah ganjaran kebaikan itu tidak lain melainkan kebaikan ?”(Q.S. Arrahman:60). ” Kita harus cepat membawanya ke rumah sakit, sekarang! Bahkan kita juga harus minta dokter untuk merawat inap Ama!” Nada suaraku kali ini agak meninggi dan terkesan memerintah. Meskipun aku tahu tidak … Continue reading “Cerita dari ruang ICU”

Zaa / Cerita dari ruang ICU / Sima / tenaga kerja asing

Cerita dari ruang ICU

“Bukankah ganjaran kebaikan itu tidak lain melainkan kebaikan ?”(Q.S. Arrahman:60).
” Kita harus cepat membawanya ke rumah sakit, sekarang! Bahkan kita juga harus minta dokter untuk merawat inap Ama!” Nada suaraku kali ini agak meninggi dan terkesan memerintah. Meskipun aku tahu tidak pantas bersikap seperti itu pada laki-laki yang berpotongan rambut lebih panjang dari potongan rambutku ini, karena bagaimanapun dia adalah anak Ama, Bosku.
“Memangnya rumah sakit itu punya kamu? kalau kata kamu opname’, Ama boleh opname?!” Suaranya juga tak kalah tinggi dan itu sudah biasa dia lakukan padaku, kami adu mulut.
Dia terus mondar-mandir di hadapanku, kepulan asap menyebar kemana-kemana dari mulutnya yang tidak berhenti menghisap sebatang kretek, bertanda bahwa sebenarnya dia juga panik.
Ya, walaupun tampangnya urakan dan bertempramen tinggi, tapi sebenarnya dia baik, terbukti selama ini memperlakukanku juga seperti keluarganya sendiri dan dia pun sangat sayang pada ibunya. Hanya terkadang kebiasaannya bermain komputer tidak bisa diganggu, sehingga terkesan kurang perhatian pada ibunya.
“Iya, kali ini saya sendiri yang akan bilang sama dokternya, Ama harus opname!”
“Semalaman saya lihat Ama susah bernafas karena dahak. Makanya kalau Ama nggak sakit jangn minta opname, sekarang giliran Ama sakit beneran, kamu bingungkan?! Huuft..!” kali ini aku menjawabnya dengan sedikit mendengus, kemarahanku menjadi.
Pikirku biar saja sesekali aku memarahinya, walaupun dia adalah bosku. Karena bagaimanapun Ama adalah pasien yang aku jaga dan itu sudah menjadi kewajiban serta tanggung jawabku segala kondisi tentang Ama. Walaupun sejak aku baru datang merawatnya, Ama sudah tidak berdaya dan hanya berbaring di ranjang saja, tetapi setidaknya tidak semakin parah.
Itu sebab kenapa aku begitu marah, sudah beberapa hari ini aku perhatikan Ama sering terlihat gelisah dan merintih kesakitan. Namun, kondisi Ama yang sudah tidak bisa berbicara, membuatku bingung apa yang dia rasakan. Aku sudah beberapa kali meminta Bosku membawanya ke dokter, tapi tiap kali juga dia beralasan, dia sibuk.
Hari ini puncaknya, kulihat kondisi ama sangat lemas, badanya panas, nafasnya terlihat tersendat, matanya tak terbuka sama sekali. Kuraba denyut nadinya, lemah. Cepat-cepat aku merapihkan pakaiannya dan bergegas membawanya ke rumah sakit.
****
” Anamnesis’: fever’ 39,8. Glukosa’800, atrofi muskular’, hypotension’, MAP less’, pielonefritis’, septic shock’…,” Dan beberapa kalimat istilah kedokteran yang lain, yang tidak aku pahami maknanya, seorang asisten dokter melaporkan hasil chek-up kondisi Ama pada dokter.Terlihat juga ada beberapa perawat lain saling sibuk, ada yang sigap memasang selang oksigen dan infus, dan ada juga lainnya, terus mencoba mencari tekanan jantung dan darah Ama.
Aku menarik diriku lebih ke tepi sisi tembok, memberikan tempat pada nona-nona berseragam putih itu agar tak terhalang olehku dan leluasa bergerak. Ruangan begitu gaduh. Kini nampak Dokter dan asistennya sedang berunding sesuatu denga Bosku, mungkin mereka meminta persetujuan atas tindakan yang akan dilakukan pada tubuh Ama. Sehingga, jika nanti ada resiko yang tak diinginkan, mereka sebagai pihak medis bisa mempertanggung jawabkannya pada pihak keluarga Ama, bahwa sudah ada persetujuan dari salah satu anggota keluarga.
Kulihat kini Bosku di depan meja perawat, menandatangani sebuah kertas. Sedang aku sendiri masih terdiam di sudut ruangan,dan kebingunganku tersentak ketika seorang perawat menghampiriku,
“Maaf Nona, sekarang anggota keluarga mohon menunggu di luar ruangan dulu, ya?!” mempersilahkan diriku meninggalkan ruangan.
Aku hanya mengangguk, diam tak ada sepatah katapun yang aku ucapkan. Diantara deretan kursi lorong aku menunggu, dan bunyi detak jam dinding yang terletak menggantung diatas tembok tepat dihadapanku, seolah ingin menyembunyikan segala perasaanku.
***
Terhitung 5 hari sudah, Ama berada di kamar ICU’, masa kritisnya sudah lewat. Tapi pernafasannya masih dibantu dengan ventilator’, serta beberapa kabel yang tersambung pada sebuah monitor pendeteksi jantung juga masih menempel di dadanya. Rutin aku menjenguknya tiga kali dalam sehari.
Dan di ruang tunggu, di lorong yang berjejer beberapa kursi ini, aku kerap melihatnya.
Aku melihat perempuan baya itu tiga kali sehari, dia sudah datang sebelum pembesuk yang lain datang.
Usianya 65 tahun, dia memberi tahuku saat kami berkenalan beberapa waktu lalu. Mungkin pasien yang dia jenguk sudah lebih lama berada di dalam, dibanding Ama.
Aku memanggilnya dengan sebutan Ayi, yang berarti Bibi dalam bahasa Mandarin.
Wajahnya terlihat begitu tirus, sudah banyak memperlihatkan kerutan- kerutan, suaranya sedikit parau seperti tertahan dan potongan pendek rambutnya pun mulai berbaur warna putih, pakaiannya juga sangat sederhana membalut tubuhnya yang kurus. Namun selalu ada senyum yang senantiasa dia perlihatkan, itu yang membuatku tidak segan untuk memberanikan diri sedikit berbincang dengannya, di sela-sela waktu kami menunggu.
Pernah suatu kali aku coba bertanya, alasan dia begitu bersemangat datang menjenguk si pasien. Padahal menurut ceritanya, jarak tempuh antara rumahnya dan rumah sakit lumayan agak jauh, sekitar 30 menit jika mengayuh sepeda. Aku membayangkan untuk seusianya yang terbilang sudah senja itu tidaklah mudah, belum lagi jika malam hari dan hujan, itu semua butuh tenaga dan tentu saja sebuah alasan. Ya, alasan yang kuat kenapa beliau mau melakukannya. Karena pengorbanan seperti itu secara pribadi jarang aku temui.
Kembali menurut ceritanya, yang didalam ruangan itu adalah kakak laki-laki Ayi yang pertama, umurnya hampir 92 tahun.
Kulihat mata Ayi sedikit berkaca-kaca dengan pandangan menerawang, kini dari bibirnya mengalirlah sebuah cerita,
“Bapak saya, dulu punya enam anak, saya anak ke lima, perempuan satu- satunya. Dan dulu, mempunyai anak perempuan berarti sial, itu juga anggapan Bapak saya…,”
Benar dugaanku, dengan suara paraunya yang sedikit tersendat, beliau mulai mengingat masa kecilnya,
” Tapi saya beruntung mempunyai kakak yang ini, meskipun orang tua saya menyia- nyiakan saya dan memperlakukan tidak adil, dia selalu ada melindungi dan membela saya. Dari makanan, tempat tidur semuanya dia rela berbagi. Walaupun saat dia sudah berumah tangga, begitupun saya. Bahkan hingga masing-masing dari kami sudah memiliki anak, dia tetap melindungi dan menjaga saya. Dia sudah menggantikan tanggung jawab yang seharusnya dilakukan oleh Bapak saya…, dia sangat baik.” Sejenak dia menghentikan ceritanya, sepertinya dia enggan kembali mengingat kenangan pahit masa lalunya,
“Sekarang dia tergeletak lemah, hanya ini yang bisa saya lakukan untuknya. Toh, mau membawa makananpun dia sudah tidak bisa makan apa-apa. Membelikannya sesuatu? dia sudah tidak butuh apa-apa lagi. Saat ini kakak saya hanya butuh do’a dan penyemangat saja…,” Beliau menyambung ceritanya setelah sesaat menghela nafas panjang, dan aku hanya manggut-manggut menunjukan rasa empatiku. Namun sekarang matanya tidak hanya berkaca-kaca, buliran bening mulai menetes perlahan dari matanya dan pandangannya semakin menerawang. Aku mengenggam tangannya dan mengusap-usapnya, ada ketulusan yang aku rasakan di sana.
Kini aku tahu alasan kuat itu, alasan kenapa dia tidak mau melewatkan waktu jam besuk setiap harinya. Padahal menurutku, kalau dia hanya ingin tahu kondisi kakaknya, bisa saja dia menghubungi saudaranya yang lain tanpa harus setiap hari datang membesuk, tapi dia bilang tidak bisa melakukannya. Karena dia takut saudaranya berbohong, mengatakan kakaknya baik- baik saja. Tanpa melihat dengan matanya sendiri, justru akan membuat dia tidak bisa tidur karena memikirkannya.
Kini aku tahu, kenapa beliau begitu bersemangat mengayuh sepeda selama 30 menit, meskipun nafasnya sendiri sudah tersendat- sendat.
Dan alasan kenapa dia tidak perduli cuaca serta keadaan gelap bisa membahayakan dirinya sendiri.
Alasan itu adalah sebuah ketulusan. Kasih sayang yang tulus yang pernah tertanam di hatinya bertahun- tahun, sehingga kini dia mampu melakukan pengorbanan itu.
Benar sekali hukum tabur tuai itu, siapa yang menanam kebaikan dia juga yang akan menuainya.
Cerita Ayi terhenti ketika pintu ICU terbuka, kini waktunya kami memakai baju khusus dan masuk menjenguk pasien kami masing-masing.
Di dalam kulihat kondisi Ama mulai membaik, suster bilang hari ini Ama sudah bisa makan meskipun hanya susu yang diasupkan melalui selang yang terpasang lewat hidungnya dan panjang selang itu mencapai lambungnya atau dalam istilah medis benda tersebut biasa disebut NGT (Nasco Gastic Tube), dengan begitu nutrisi di tubuh Ama tetap tercukupi, dan itu membantu Ama memiliki energi sehingga bisa mempercepat kepulihannya.
Di sebelah ranjang Ama, terlihat seorang lansia perempuan juga, kondisinya tak jauh beda dengan keadaan Ama, hanya saja beliau sudah sadarkan diri. Usianya 90 tahun, itu yang tertulis di papan identitas pasien yang terpasang di atas ranjangnya. Dari arah pintu, seorang Kakek tambun dengan langkah kaki pincang dan nafas yang terengah- engah, melangkah mengarah ranjangnya. Meski sudah dibantu sebuah tongkat yang tak lepas dari sebelah tangannya sebagai penuntun dia berjalan, namun dia masih terlihat susah saat melangkah, mungkin faktor usia dan riwayat penyakit yang dia miliki. Sepertinya dia pernah terkena stroke, itu terlihat dari caranya berjalan dan berbicara yang tidak sempurna, setiap kali akan melangkah dia berusaha keras menyeret kakinya, mengingatkanku pada almarhum Bapakku dulu. Dan jika diperkirakan usianya juga tak jauh dari si nenek itu.
Sambil terus memijit-memijit tubuh Ama , aku sesekali mencuri pandang kearah mereka.Tanpa ada sepatah katapun yang terucap, Kakek itu duduk di sebuah kursi yang sengaja diletakkan di sebelah ranjang nenek itu dan menggenggam tangan yang tak berdaya di ranjang pesakitannya. Merasakan kehangatan tangan seseorang, si Nenek membuka matanya. Namun sama tak mengucap sepatah katapun, hanya mata mereka saja yang saling menatap.
Pemandangan itu berlangsung beberapa menit, hingga laki-laki tua itu tersentak oleh bunyi sebuah mesin disebelahnya, nampak layar monitor menunjukan garis lurus dan memunculkan sebuah tulisan ‘pulse search’. Dia tergopoh, memanggil suster penjaga. Kecemasan nampak dari raut mukanya, dan si suster langsung memahami apa yang terjadi.
” Tidak apa-apa, Kek. Kakek hanya menyenggol ini.” Suster itu menjelaskan, sebab ada bunyi dari sebuah mesin dan layar monitor, dengan menunjuk sebuah benda yang mirip jepitan baju berinfra merah, rupanya alat pendeteksi denyut nadi terlepas dari jari Nenek.
Ada senyum tipis tergaris dari wajah si Nenek, dan si Kakek itupun ikut tersenyum. Mungkin jika aku mengartikan senyuman itu, si Nenek itu ingin berkata, ‘Ah…, Kakek, kamu jangan terlalu gugup! Saya baik-baik saja’, begitupun dari arti senyuman si Kakek mungkin ingin berucap, ‘Iya Nek, saya takut terjadi sesuatu padamu’ atau aih.. Entahlah!Jadi seperti sutradara sinetron saja aku mengartikan senyuman mereka. Entah apapun arti sebenarnya dari senyuman itu, yang terjadi justru aku malah ikut senyum-senyum sendiri melihatnya.
Tiga puluh menit waktu berkunjung habis. Laki- laki tua itu besusah payah mengangkat badannya berdiri, melepas genggamannya pada perempuan tak berdaya itu. Mereka samar-samar masih saling melempar senyum, mungkin kali ini arti senyum itu salam perpisahan sementara diantara keduanya. Hingga akhirnya Si Kakek menghampiri suster penjaga, berulang kali membungkukan badannya tanda berterima kasih,
“Tolong titip istri saya, saya mau dia cepat sembuh,” terbata- bata Kakek itu menitipkan perempuan belahan jiwanya, pada si suster. Terlihat ada kecemasan, sedih, cinta serta ketulusan yang dalam,di sana. Aku saja sampai terbawa suasana haru melihatnya, mungkin si Nenek juga begitu, sehingga begitu terlihat kesedihan diantara keduanya saat harus berpisah.
Melihat itu semua, tak terasa hati ini diam-diam berdo’a. Kelak menemukan seseorang yang akan terus menemani dan menggenggam tangan ini, sampai ragaku menua dan tak berdaya lagi.
**
‘Derrtt..’ telepon genggam di kantong celanaku bergetar, bertepatan jam membesuk habis. Aku melangkah keluar setelah berpamitan pada Ama, meskipun tak ada jawaban darinya tapi tetap aku melakukannya, karena aku tahu Ama masih bisa mendengar. Dokter bilang itu bagus untuk merangsang respon sel-sel syarafnya kembali stabil. Karena menurut Dokter saat ini kesadaran Ama belum sampai tingkat composmentis’, Ama baru mampu merespon dengan membuka matanya saja.
Setelah melepas baju khusus pembesuk yang kukenakan, aku segera melihat siapa yang menghubungiku tadi. Sebuah pesan masuk dari seseorang yang beberapa waktu lalu diperkenalkan Budeku di kampung, katanya biar kami berta’aruf’an.
“Gimana… Suka modelnya?” Sebuah gambar sepasang cincin, dia kirim.
“Besok insyaallah, saya dan orang tua datang menemui anak dan ibumu. Bismillah do’akan lancar ya..?” Isi pesan lanjutannya.
“Aamin, insyaallah..” beserta sebuah smile emotion, aku membalas pesannya.
Pintu lift terbuka, aku langkahkan kakiku keluar gedung rumah sakit. Angin sepoi-sepoi mengiringi langkahku. Hari ini aku belajar sesuatu, yaitu dari kebaikan dan ketulusan.
Ya, Tuhan tidak akan tidur, Dia Maha melihat setiap dan sekecil apapun yang dilakukan makhluknya. Jika kita berbuat baik maka kebaikanlah yang akan kita dapatkan, dan jika kita juga memberikan ketulusan maka ketulusan akan terbalas. Meski mungkin bukan dari orang yang sama kita akan mendapatkan balasannya, atau entah kapan waktunya.
Itu janji Allah, sebagaimana dalam firmannya,
“Bukankah ganjaran kebaikan itu tidak lain melainkan kebaikan ?”di surat Arrahman ayat 60. Maka terus berusaha berbuat dan berprasangka baiklah pada sesama, lirih batinku pada diri sendiri.

Taiwan, 24 mei 2016.

Note:
Opname: rawat inap
ICU : Intensive care Unit
Anamnesis: data riwayat penyakit pasien
fever : demam
Glukosa : kadar gula
atrofi muskular: berkurangnya ukuran dan jumlah serat otot akibat proses penuaan, penurunan aliran darah
Hypotension: tekanan darah rendah
MAP (Mean Arterial Pressure) less: tak terdeksinya hitungan rata-rata tekanan darah arteri yang dibutuhkan agar sirkulasi sampai ke otak
Pielonefritis:infeksi ginjal yg menyebabkan infeksi kandung kemih(air kencing berwarna putih keruh)
Septic shock: keadaan dimana pasien sudah tidak mampu merespon apapun sekelilingnya akibat komplikasi infeksi yg menyerang sistem immun pada tubuhnya.
Pulse search: pencarian denyut nadi
Composmentis:kondisi pasca koma yang sudah sadar seutuhnya dan sudah mampu merespon serta menggerakan anggota badannya.
Ta’aruf: masa pengenalan antara laki-laki dan perempuan ketika berniat ingin ke jenjang pernikahan dalam agama Islam

Tula

Dyen Guilalas / Tula / Served the People Association / dayuhang manggagawa Buhay OFW By:Dyen Guilalas ANG BUHAY NAMIN,GAYA NANG SA TELANG TABING SA KABILA NG LUNGKOT,HIRAP NAKANGITI PA RIN PAGKA’T AMING NAIS PAMILYA NAMIN AY ‘WAG MANGAMBA SASITWASYON NAMIN LUHANG PUMAPATAK AT PAWIS MAN DIN PINAPAHID,TINATAGO,AMING MGA DAING SA HAPAG NG PAGKAIN NA AMING HAIN KAYONG PAMILYA … Continue reading “Tula”

Dyen Guilalas / Tula / Served the People Association / dayuhang manggagawa

Buhay OFW
By:Dyen Guilalas

ANG BUHAY NAMIN,GAYA NANG SA TELANG TABING
SA KABILA NG LUNGKOT,HIRAP NAKANGITI PA RIN
PAGKA’T AMING NAIS PAMILYA NAMIN
AY ‘WAG MANGAMBA SASITWASYON NAMIN

LUHANG PUMAPATAK AT PAWIS MAN DIN
PINAPAHID,TINATAGO,AMING MGA DAING
SA HAPAG NG PAGKAIN NA AMING HAIN
KAYONG PAMILYA ANG NASA ISIP KAPILING

SA BAWAT ORAS,NA BALOT NG LUNGKOT
NATUTUWA PAG AMO AY SWELDO’Y INAABOT
PAGKA’T MAIBIBILI NA RIN
BAWAT INYONG NAIS AT HILING

SARILING HILIG NANG KATAWAN NAMIN
ISASANTABI AT KAYO ANG LAGING UUNAHIN
AMING TANGING PANGARAP AT HILING
BUHAY NATIN KAPWA GUMINHAWA
NANG SA AMING PAGBALIK MULI NA KAYONG KAPILING.