Aku, Bosku, dan Hijabku

Ryan Ferdian Darsudi / Aku, Bosku, dan Hijabku / Flp Taiwan / tenaga kerja asing Aku, Bosku, dan Hijabku “Cindy, kami mengizinkanmu memakai hijab seperti yang kamu pakai sekarang atau dengan pakaian perempuan muslimah yang jilbabnya lebar dan bajunya longgar. Tapi kami minta kamu tidak memakai cadar. Patuhi dan hormati peratutan Negara kami, demi kenyamanan kita bersama.” Pinta … Continue reading “Aku, Bosku, dan Hijabku”

Ryan Ferdian Darsudi / Aku, Bosku, dan Hijabku / Flp Taiwan / tenaga kerja asing

Aku, Bosku, dan Hijabku

“Cindy, kami mengizinkanmu memakai hijab seperti yang kamu pakai sekarang atau dengan pakaian perempuan muslimah yang jilbabnya lebar dan bajunya longgar. Tapi kami minta kamu tidak memakai cadar. Patuhi dan hormati peratutan Negara kami, demi kenyamanan kita bersama.” Pinta Nyonya di suatu pagi sebelum berangkat ke kampus tempatnya mengajar.
***
Tak pernah sedikitpun aku memiliki nama panggilan sebagus ini, ‘Cindy’. Sebuah nama yang hanya aku tahu dari televisi. Nama-nama para artis. Kini nama itu menjadi nama panggilanku semenjak aku menginjakkan kaki di Taiwan.
“Cindy, ini kamarmu. Kamu tidur bareng Ama biar gampang kalau Ama memanggilmu kalau Ama ada apa-apa.” Kata majikan perempuanku kala pertama kali aku memasuki rumah majikanku ini. Rumah berlantai dua di daerah yang jauh dari ibu kota. Hualien. Kota di mana aku harus bekerja. Majikanku yang lelaki adalah seorang dokter, sementara istrinya adalah seorang dosen di sebuah universitas ternama di Hualien, mereka memiliki 2 orang anak lelaki yang sedang kuliah di Tainan. Jarang sekali kedua anaknya pulang kecuali liburan kuliah.
“Baik, Nyonya.” jawabku. Kata Mandarin pertama yang aku ucapkan di Taiwan setelah tiga bulan lama aku belajar bahasa di penampungan (PJTKI) di Jakarta. Meski sudah sering mendengar bahasa Mandarin saat “sekolah” tapi rasanya di telingaku pengucapan kata-kata majikanku yang bermarga Liu ini sedikit asing. Terasa lebih halus dari pengucapan guru pengajar di penampungan yang memang asli orang Indonesia. Mereka adalah purna TKW yang dianggap bahasanya sudah memenuhi standart pekerja di Taiwan. Kebanyakan mereka berasal dari Jawa Tengah atau Jawa Timur yang tentu saja aksen bahasa mereka masih kental daerah asalnya.
“Cindy, aku dan Tuan setiap hari pergi bekerja, hanya hari sabtu dan minggu kami libur, kamu tolong jaga Ama yang baik, ya. Aku akan mengajarimu cara memandikan Ama, dan yang lainnya. Kamu juga tidak perlu sungkan. Kalau Ama sudah tidur, kamu bisa masak untuk makan siangmu. Di kulkas sudah aku sediakan sayur-mayur juga daging ayam. Kamu bisa masak, kan?” jelas nyonyaku. Aku hanya menganggukkan kepala tanda aku mengerti.
***

Setahun telah berlalu. Aku mulai terbiasa dengan nama baruku. Nama asliku Siti Munawaroh tak lagi pernah menjadi panggilanku selama di Taiwan, kecuali saat aku menelpon keluarga. Bahkan teman-temanku sesama orang Indonesia yang aku kenal di sini bila aku sedang membawa Ama jalan-jalan sore tak mau memanggil nama asliku, “Biarin aja namamu jadi Cindy, kan malah keren. Ini kan Taiwan, Cin. Sudah biasa. Di pabrik tempat suamiku bekerja malah lebih lucu. Bayangin aja, nama Sutris jadi Ali, nama Anggi jadi Ati, nama Andi jadi Anti, Ibrahim jadi Mante, Rano jadi Sani. Kan nggak nyambung, to?” celetuk Shanti. Gadis asal Indramayu yang suka ceplas-ceplos kalau bicara. “Kita ini hidup di negeri orang, kita harus menghormati kebiasaan, budaya dan peraturan setiap Negara yang kita tinggali saat ini untuk mencari rezeki. Bukankah kita sejak sekolah SD sudah diajarkan ‘Di mana bumi dipijak di sana langit dijunjung’? kalimat itu kan bukan cuma slogan belaka tapi harus kita maknai dan kita praktekkan dalam kehidupan nyata.” Lanjut mantan guru honorer SD kampungnya dulu.
Aku dan teman-temanku hanya diam dan saling lirik sambil tersenyum membayangkan nama-nama teman suaminya yang menjadi nama-nama untuk perempuan kalau di Indonesia.
***

Hari minggu adalah saat yang paling menyenangkan bagiku, karena pada hari minggu-lah Tuan dan Nyonyaku berada di rumah. Mereka sering mengajakku jalan-jalan ke tempat wisata di sekitar Hualien. Ada pantai Ci Sin Tan, pantai yang sangat indah dan bersih. Di pantai ini kita tak bisa menyaksikan tenggelamnya matahari di laut atau sunset tapi di pantai ini kita hanya bisa menyaksikan matahari mulai menyenari dunia atau sunrise, karena pantai ini menghadap ke timur. Tapi saat sunset kita tetap dapat menyaksikan keindahan panorama pergantian siang hari ke malam. Gunung-gunung di sekitar pantai ini tak kalah indah dengan pantainya. Selain pantai, majikanku sering mengajakku ke tempat wisata pegunungan yang terkenal dengan tebing-tebingnya; Taroko.
“Cindy, kamu harus bersyukur dapat tempat kerja di Hualien. Banyak tempat-tempat indah yang bisa kamu kunjungi di sini. Lihatlah mereka ke sini dengan ongkos yang mahal dan waktu yang tidak sebentar.” Kata Nyonya sambil menunjuk kerumunan wisatawan lokal dan asing yang di sana terdapat beberapa orang Indonesia.
“Cindy, kamu nanti boleh menyeberang ke bukit sana. Kamu lihat pagoda di atas bukit itu. Dari pagoda itu kamu dapat menikmati keindahan alam di sekitar sini. Kamu boleh menaiki pagoda itu, kalau mau ke pagoda itu kamu harus menyeberangi sungai lewat jembatan merah di sebelah kiri itu. Biar Ama dengan kami di sini.” Jelas Tuanku menjelaskan.
Memang benar keindahan tempat wisata ini tak diragukan lagi. Sejak perjalanan memasuki Taroko mataku sudah disuguhi pemandangan yang membuat kita takjub pada ala mini dan takjub pada Sang Pencipta alam ini. Sungai-sungai kecil di antara gunung yang mangapitnya tampak begitu dalam. Jalan-jalan yang kita lewati adalah sisi gundung yang dibuat semacam terowongan yang sengaja dibuat di pinggir gunung itu sendiri agar kita dapat menikmati keindahannya. Bagi takut ketinggian melihat ke bawah tentu akan membuat aliran darahnya mengalir semakin deras.
Aku memberanikan diri menuju bukit yang terdapat bangunan pagoda di atas sana. Ama, Tuan dan Nyonya tetap di tempat semacam pasar kecil di puncak Taroko ini. Mereka menyebutnya ‘Kota’ meski hanya beberapa rumah lumayan mewah dan hotel tapi terdapat kantor pos di sana. Di tempat itu bila malam wisatawan boleh mambuat tenda untuk bermalam bagi yang tidak mau menginap di hotel yang tarifnya permalam 5000 NT$ hingga 6000 NT$ untuk kelas biasa. Tak hanya di ‘Kota’ saja tetapi di spot-spot yang banyak dikunjungi juga diizinkan membuat tenda untuk tidur dengan syarat setelah pukul 6 sore dan pagi sebelum pukul 8 waktu setempat.
Berjalan ke kiri menyeberangi jembatan panjang, kulihat jembatan merah yang dimaksud oleh Tuan. “Itu dia jembatannya!” batinku. Aku lihat rombongan orang Indonesia, mereka semua membawa kamera besar dikalungkan di leher. “Wuih keren!” kataku takjub.
Melihat aku yang berjalan sendirian salah seorang menyapaku, “Mba, orang Indonesia, ya?”
“Iya, Mas,” balasku.
“Kok sendirian?”
“Aku sama majikanku kok, mereka nunggu aku di sana. Soalnya Ama yang aku rawat kan nggak bisa ke sini,” jawabku.
“Ya, sudah kita bareng aja yuk. Tuh teman-temanku sudah pada sibuk jeprat-jepret. Oh iya, namaku Anto, aku kerja di Taipei. Sebenarnya aku ke sini sudah sering. Kali ini aku ngantar teman-teman yang penasaran dengan Taroko. Dari Hualien kami menyewa taksi. Berhubung kami berdelapan kami menyewe dua taksi.” Terang lelaki hitam manis bernama Anto ini.
“Mahal ya, Mas kalau nyewa taksi?” tanyaku penasaran.
“Lumayanlah, Mba. Satu taksi 5000 NT$ sekali jalan. Tapi kita diantar ke spot-spot pilihan yang banyak dikunjungi wisatawan. Seharusnya pagoda ini spot terakhir, tapi kami minta ke sini dulu sebelum ke spot yang satu lagi. Kuil di atas bukit yang yang ada air terjunnya itu, Mba,” lanjut Anto menerangkan.
Aku sedikit terkejut dengan tarif yang harus dibayar untuk mereka sampai ke tempat wisata ini. aku bersyukur bekerja di kota yang dekat dengan tempat indah ini.
“Oh iya, Mas, namaku Siti. Panjangnya Siti Munawaroh, tapi majikanku memanggilku Cindy,” kataku yang hampir lupa memperkenalkan diri.
“Ya sudah aku panggil kamu Cindy aja, ya biar keren. He he he …” goda Mas Anto sambil terkekeh.
“Terserah sampean sajalah.” Jawabku pasrah.
“Kamu sering ke sini, Cin?”
“Sering. Tapi Cuma sampai ‘Kota’, baru kali ini majikanku menyuruhku jalan sendiri ke pagoda di atas sana, katanya biar tahu keindahan alam sekitar sini dari dalam pagoda,”
“ooo….” Sahut Mas Anto.
Kami berjalan melewati jembatan merah menaiki anak tangga menuju pagoda, setelah pagoda kami ke kuil di atas sana. Kuil yang memiliki halaman cukup luas. Ada patung bertubuh manusia, berhidung berbelalai gajah, dan memliki tangan banyak seperti di India.
“Cin, kamu jadi model kami, ya! Kami butuh model nih. Pemandangan seindah ini tanpa model rasanya kurang lengkap.”pinta salah seorang komunitas fotografi ini. Mimpi apa aku diminta menjadi model? Setelah namaku berganti menjadi Cindy, ini adalah hal yang kurasa aneh tapi nyata dalam hidupku.
***

Januari 2016
Hari itu minggu sore, ketika kami berkumpul di ruang tamu menonton tv bersama setelah pulang dari jalan-jalan ke pantai Ci Sin Tan. Tuan menyetel chanel berita lokal yang sedang menyiarkan berita. Tiba-tiba ada berita tentang acara pekerja migrant dari Indonesia.
“Cindy, lihatlah! Tadi ada acara orang Indonesia di stasiun Taipei. Ramai sekali, ya?”
Aku yang sedang berada di dapur untuk membuatkan the hangat untuk mereka langsung berlari kecil menuju ruang tengah.
“Oh … ada pengajian rupanya,” batinku sambil melihat lekat ke layar tv flat di ruang tamu.
“Mengapa mereka memakai pakaian seperti orang Arab, Cin? Apa nggak gerah di musim panas begini?” tanya Tuan padaku.
Deg!
Tiba-tiba jantungku seakan berhenti berdetak untuk beberapa detik. Kemudian berdetak lebih kencang dari sebelumnya, “ini kesempatanku untuk menjelaskan pada Tuan dan Nyonya untuk menjelaskan sekaligus aku meminta izin untuk berhijab. Bismillah.” Bisik hatiku.
“Begini, Tuan, sebenarnya bagi kami yang beragama Islam wajib bagi seorang perempuan wajib menganakan hijab dan menutup seluruh anggota badan kecuali ini dan ini,” jelasku sambil menunjuk telapak tangan dan wajahku. Perlahan aku menjelaskan dengan bahasa sebisaku. Karena saat belajar di penampungan PJTKI tidak ada pelajaran bahasa Mandarin mengenai agama.
Tuan dan Nyonya tampak serius menyimak penjelasaku yang tampak kesulitan menjelaskan dalam bahasa Mandarin tentang hijab. Aku pun masih gemetar berdiri di samping kursi roda Ama yang mulai terkantuk.
“Baiklah, Cindy. Kamu tidak usah menjelaskan lebih detail lagi tentang hijab. Biar nanti kami cari informasi lebih detail tentang hijab di google.” Kata Tuan. Nyonya yang duduk di sampingnya mengangguk sambil tersenyum.
“Tuan, Nyonya, bolehkah saya memakai hijab?” tanyaku memberanikan diri. Tuan dan Nyonya saling pandang.
“Apa kamu yakin?” jawab mereka serempak balik bertanya.
“Yakin, Tuan, Nyonya.” Jawabku mantab.
“Tapi dengan syarat tidak menganggu gerakmu dalam bekerja, ya!” jawab Nyonya sedikit tegas.
“Baik, Nyonya, Tuan. Saya berjanji akan tetap bekerja seperti biasanya walau dengan memakai hijab.”
Ada rasa lega dan bahagia mendengar jawaban Nyonya yang di-amini oleh Tuan saat izin mengenakan hijab kudapatkan. “Terima kasih atas kemudahan ini ya Allah,” ucapku dalam hati.
***
Sejak hari itu aku mulai mengenakan hijab meski awalnya hanya kerudung biasa yang aku pakai. Kaos-kaos dan celana-celana pendek mulai kukemasi. Aku hanya memakai kaos lengan panjang serta celana panjang. Aku mulai membeli celana-celana berbahan katun agak longgar, begitu juga dengan baju. Tidak lagi kaos yang aku beli. Aku membeli pakaian-pakaian itu di pasar malam sekitar rumah. Sebenarnya ingin membeli baju muslimah syar’i secara on-line tapi harganya sangat mahal menurut ukuranku yang orang desa ini. Bukan. Bukan sayang uang untuk menyempurnakan ibadahku menutup aurat, tetapi kebutuhan ekonomi di kampungku yang masih banyak membuatku memilih membeli pakaian di pasar malam dengan hanya beberapa ratus NT dollar saja. Yang penting menutup aurat dan tidak ketat. Begitu prinsipku.
“Semoga Allah mengampuni dosaku. Semoga suatu hari nanti aku bisa mengenakan pakaian muslimah secara sempurna sesuai syariat Islam.”
***

“Cindy … cepat kemari!” panggil Nyonya dengan suara keras tidak seperti biasanya. Aku yang sedang memijit-mijit kaki Ama di kamar segera menghambur ke ruang tamu.
“Lihat berita di tv. Ada orang Indonesia memakai baju serba hitam dan cadar sambil menghunus pedang masuk berita.”
Mataku langsung tertuju pada layar yang terdapat foto seorang TKW bercadar sambil menghunus pedang dan mengacungkan jari telunjuknya ke atas dan satu foto lagi tangan kanan memegang gagang pedang dan tangan kiri menyentuh ujung pedang. Di atas fotonya terdapat tulisan “Nggoleti Pistol Ra Ketemu Adane Pedang”.
Aku merinding. “Belum genap aku diizinkan mengenakan hijab, mengapa harus ada berita seperti ini?” gumamku. Aku hanya bisa diam. Biarlah waktu yang akan menjawab berita ini.
Selang beberapa hari pemberitaan TKW bercadar yang menjadi Headline terjawab sudah. Rupanya ini berhubungan dengan dugaan ISIS yang disinyalir sebagai teroris dunia telah memasuki Taiwan, karena itu di Taiwan diberlakukan aturan larangan mengenakan cadar di tempat umum tetapi masih diperbolehkan mengganti cadar dengan masker.
“Cindy, kami mengizinkanmu memakai hijab seperti yang kamu pakai sekarang atau dengan pakaian perempuan muslimah yang jilbabnya lebar dan bajunya longgar. Tapi kami minta kamu tidak memakai cadar. Patuhi dan hormati peratutan Negara kami, demi kenyamanan kita bersama.” Pinta Nyonya di suatu pagi sebelum berangkat ke kampus tempatnya mengajar.
“Baik, Nyonya.” Sahutku sambil mengangguk.
***
Selepas Nyonya pergi aku kembali ke rutinitasku merawat Ama. Perempuan tua yang sudah kuanggap seperti nenekku sendiri ini begitu sayang padaku. Meski tak banyak bicara tapi dapat kulihat dari senyum dan sorot matanya. Jauh berbeda dengan pertama kali aku datang ke rumah ini. Ia begitu judes, kasar, dan tidak percayaan. Hal ini berlangsung sekitar 3 bulan lamanya. Setelah aku merawatnya dengan sabar dan penuh kasih sayang berlahan sikapnya berubah. Kami yang lebih sering menghabiskan hari-hari hanya berdua membuat kami semakin akrab, Ama pun sering bercerita tentang apa saja yang diingatnya. Kami sering tertawa bersama. Bahkan aku tidak sungkan mencium pipi keriputnya bila melihatnya tersenyum. Lucu dan menggemaskan. Tuan dan Nyonya pun sekarang sudah tahu bahwa Ama begitu sayang padaku, pun tidak mempermasalahkan aku mencium penuh gemas pipi Ama kalau melihatku menyayangi Ama.
“Cindy, kamu nggak geli apa nyiumin Ama?” Tanya Nyonya suatu ketika.
“Nggak, Nyonya. ‘kan nyonya bersih. Habisnya Ama lucu dan bikin saya gemas, Nyonya. Apa lagi kalau tertawa.” Jawabku sambil tersenyum.

Taoyuan, 23 Mei 2016

 

36 Purnama di Taiwan

Dwi Setyawaningsih / 36 Purnama di Taiwan / Tidak ada / Purna BMI 36 Purnama di Taiwan “Rangkaian mimpi terpahat dalam setiap do’a. Taiwan, negeri yang 36 purnama kedepan akan menjadi pijakan kaki melangkah. Negeri yang entah akan mendayungkan ribuan mimpi ke seberang atau menenggelamkannya sebelum sampai ke tujuan.” *** Alam beringsut menuju pagi, detak jarum jam seolah … Continue reading “36 Purnama di Taiwan”

Dwi Setyawaningsih / 36 Purnama di Taiwan / Tidak ada / Purna BMI

36 Purnama di Taiwan
“Rangkaian mimpi terpahat dalam setiap do’a. Taiwan, negeri yang 36 purnama kedepan akan menjadi pijakan kaki melangkah. Negeri yang entah akan mendayungkan ribuan mimpi ke seberang atau menenggelamkannya sebelum sampai ke tujuan.”
***
Alam beringsut menuju pagi, detak jarum jam seolah menjadi musik yang setia mengiringi pergantian hari. Cuaca masih dingin pagi itu, cahaya fajar dan kabut putih mulai merambahi pematang sawah. Seperti hari-hari sebelumnya, saat pagi menjelang Arin pun sudah siap memulai hari. Memasak, menyiapkan sarapan untuk bapak dan adiknya serta pekerjaan rumah lainnya. Seiring waktu berjalan tanpa kehadiran seorang ibu, keadaan tersebut mampu mendidiknya menjadi sosok gadis mandiri.
Jarum jam tepat menunjuk angka 9, Arin pun bersiap melangkahkan kaki dari rumah ke rumah untuk mengais rezeki. Berharap di antara deretan rumah tersebut ada yang membutuhkan jasanya untuk mencuci pakaian, menyetrika atau pekerjaan lainnya. Ia ingin membantu meringankan beban ekonomi keluarga yang selama ini hanya bertumpu pada pekerjaan bapaknya sebagai kuli panggul di pasar.
Empat tahun berlalu sejak kepergian ibunya. Kala itu ibunya mengatakan akan merantau ke Taiwan, dengan harapan negeri itu akan menjadi pelabuhan mimpinya mewujudkan kehidupan lebih baik saat kembali ke tanah air kelak. Sejak tahun pertama kepergian ibunya, Arin tak pernah mengetahui kabar keberadaannya. Meski dari angin yang berhembus atau dari kicauan burung yang hinggap di dahan pohon sebelah rumahnya. Hanya do’a yang mampu terucap agar dimanapun ibunya berada Tuhan selalu bersamanya. Sejak itu pula Arin memutuskan berhenti sekolah, supaya adiknya tetap bisa melanjutkan pendidikan.
Bulan bulat penuh menggantung di langit malam, pendar cahayanya seolah hendak mengganti malam menjadi siang. Arin tertegun menatap cahayanya. Ingatan tentang ibunya berkecamuk dalam jiwa. Terbersit keinginan mencari keberadaannya di negeri seberang. Sayup berbisik dalam benak bahwa Ia harus pergi, meski berat hati meninggalkan bapak dan adiknya. Fikiran itu terus berkelindan hingga membuatnya gelisah. Perlahan bibirnya melafadzkan dzikir, berharap hatinya menuai ketenangan.
Arin17 tahun kala itu, usia dimana seharusnya Ia bisa menikmati masa remaja dan menuntut ilmu tanpa beban. Garis kemiskinan yang karib bersahabat, memaksanya melewatkan masa-masa itu. Berbekal tekad dan do’a yang tiada terputus, serta restu bapak dan adiknya, Arin mendaftarkan diri menjadi buruh migran di Taiwan.
Bagi Arin, hidup adalah sebuah pilihan. Begitupun ketika Ia memutuskan menjadi buruh migran, berarti Ia harus siap dengan segala resiko yang akan dihadapi. Kerap kali nyalinya ciut, mengingat dirinya hanya lulusan sekolah dasar dan baru pertama akan menginjakkan kaki di negara asing yang tentu saja berbeda adat budayanya. Ditambah ketika mendengar kisah tragis para buruh migran yang teraniaya oleh agensi dan majikan, cacat akibat kecelakaan kerja, bahkan tak sedikit yang pulang sebelum kontrak berakhir sebagai jasad. Tapi tekad untuk menemukan ibunya, keinginan memperbaiki kehidupan keluarganya, keinginan melanjutkan sekolah kembali, merontokkan segala kekhawatiran itu. Ia yakin Tuhanlah pelindung terbaiknya.
***
Dimanapun kaki berpijak disitulah langit dijunjung, dan hukum tetap akan berlanjut. Hidup dibalik jeruji besi sudah tentu tidak mengenakkan, segala akses kehidupan dibatasi, cita-cita mengais rezeki pun pupus sudah. Ia tak pernah menyangka bahwa mimpinya akan berakhir di ruangan berlangit-langit rendah, berbau lembab dengan tatapan sendu para penghuninya. Jerat hukum telah dijalani, dalam lorong waktu yang meski bergerak tapi baginya tetap saja diam.
Yana seakan terisolasi dalam lembaran kenangan peristiwa silam. Peristiwa yang membawanya berdiri dibalik barisan jeruji besi. Berjuang untuk menghapusnya, berharap agar sepekat gelap didalam lorong itu berganti dengan segurat sinar yang mampu memendarkan kembali cahaya mimpinya. Mimpi yang disulamnya bersama keluarga di tanah air silam. Yana tahu itu hanya angan-angan kosong, tapi Ia ingin ketegaran itu tetap kokoh bercokol di hati, supaya lapang dadanya menghadapi semua.
Masa hukuman 20 tahun menjadi keputusan mutlak baginya. Baginya yang sebenarnya sedang membela diri yang terancam kala itu. Masih tergambar jelas dibenaknya, peristiwa yang benar-benar memutus garis kehidupannya. Sejak vonis itu ditetapkan, dirinya sendiri telah menganggap bahwa jiwanya pun telah mati. Dan seseorang yang tiba-tiba hadir mampu menyalakan kembali binar-binar kehidupannya.
Taiwan, negeri yang padanya dititipkan rangkaian cita untuk kedua putri juga suaminya, negeri yang menjanjikan kebaikan mimpi seperti para kerabat yang telah menuai keberhasilan. Awal musim dingin menyambut kedatangannya, di negeri dimana angin topan berhembus setiap tahunnya. Tiga bulan untuk pekerjaan pertamanya, menjaga seorang nenek berumur 90 tahun, yang hidupnya bergantung pada peralatan medis. Keluarga majikan yang baik dan pengertian adalah kebahagiaan tersendiri baginya. Tapi semua tidak berlangsung lama, nenek yang dijaganya meninggal dunia. Sesuai prosedur perjanjian kerja, jika pasien yang dirawat meninggal maka otomatis kontrak kerja pun terputus. Dan mau tidak mau Yana harus berganti dengan pekerjaan baru. Sisa potongan biaya agensi yang masih harus diangsur, memaksanya untuk menerima pekerjaan apapun yang diberikan tanpa punya pilihan untuk berkata tidak setuju. Tak bisa dipungkiri bahwa buruh migran ibarat pemain dalam pertunjukan yang digerakkan agensi, seringkali tak punya kesempatan untuk membela diri karena dililit aturan agensi yang terkadang tidak jelas, seperti ancaman dipulangkan. Hanya sebagian kecil agensi yang ada sebagai pengayom, dan sisanya sekedar meraup untung dari pekerja tanpa memperjuangkan hak-haknya.
Pekerjaan keduanya di sebuah peternakan sapi perah. Awal mimpi buruk dalam drama kehidupannya. Tak pernah terfikir bahwa pekerjaannya kali ini Ia harus mengurus 150 ekor sapi. Pukul 3 dini hari, ketika hitam malam masih pekat menyelimuti, ketika kebanyakan orang semakin lelap dalam buaian, Yana sudah harus menyongsong harinya. Memerah susu, memberi makan sapi, membersihkan kandang. Kemudian beristirahat sebentar di tengah hari, dan melanjutkan pekerjaannya hingga langit benar-benar gelap. Tepat pukul 9 malam Yana telah menyelesaikan semua pekerjaan. Beristirahat di sebuah ruangan kecil di samping kandang. Ruangan yang lebih layak disebut gudang karena bercampur dengan peralatan peternakan. Ia rebahkan tubuhnya pada sehelai tikar yang menghampar dilantai, melepas segala penat, berharap esok mampu bangkit menyongsong hari kembali.
Tiga bulan Yana bertahan di peternakan dan tiga bulan juga pengaduannya tak mendapat jawaban. Bahkan ketika bertanya tentang pekerjaan baru yang dijanjikan agensi, hanya sumpah serapah yang didapat. Yana tak mampu bertahan lagi, eksploitasi waktu, beratnya pekerjaan, majikan yang tak segan memukul saat dirinya melakukan kesalahan, janji agensi dan perlindungan yang tak kunjung didapat. Semua itu membuat kondisi tubuh dan kejiwaannya semakin melemah, hingga memaksanya untuk meninggalkan peternakan.
Langit sore seakan dikurung mendung, sesekali angin berpusar menanggalkan daun-daun dari dahannya. Senada dengan dirinya yang terpaksa memupuskan segala cita. Menjadi seorang tenaga kerja kaburan, tentu bukan potongan kisah yang diinginkan siapapun, termasuk Yana. Yana sudah paham resiko apa yang akan dihadapi saat Ia memutuskan menjadi tenaga kerja kaburan, kehilangan hak asuransi kesehatan, kehilangan ijin tinggal, kehilangan hak perlindungan, jika tertangkap harus membayar denda 30.000 sampai 150.000 NT, dipenjara dan akan dideportasi serta tidak boleh bekerja lagi di Taiwan. Hal itulah yang selalu diperingatkan berulang-ulang oleh agensi di Indonesia dulu. Tapi sekali lagi Yana tidak punya pilihan, segala akses komunikasi yang terampas membuatnya tidak tahu kemana lagi tempat berlindung.
Yana pasrah dengan keadaannya, mengikuti kemana kakinya melangkah. Berjalan dari satu taman ke taman lain berharap mendapat informasi dari sesama tenaga kerja Indonesia yang biasa berkumpul di taman kota. Hingga akhirnya Ia bertemu dengan Tina, wanita Indonesia yang bersedia menolongnya. Tina membawanya ke sebuah kantor agensi resmi yang secara sembunyi ternyata merangkap sebagai agensi ilegal, menawarkan pekerjaan dengan syarat bahwa Yana harus membayar uang muka senilai 6000 NT sebelum memulai bekerja. Dan saat bekerja nanti Yana harus membagi hasil gajinya setiap bulan kepada agensi ilegal yang jumlahnya diluar batas kewajaran. Sudah jatuh tertimpa tangga, begitupun keadaan Yana. Tiada pilihan lain selain menerima, karena hidupnya harus tetap berlanjut.
Hari-hari dilaluinya dengan berganti-ganti pekerjaan. Jika keberuntungan berpihak Yana bisa bertemu dengan majikan yang baik, dan bukan sekali dua kali Yana pun mendapat majikan yang kasar dan memperlakukannya dengan tidak manusiawi, disiksa, dipukul, bahkan pernah disekap tanpa diberi makan. Hingga akhirnya harus lari dan lari dari satu tempat ke tempat lain. Terkadang lelah menyelimuti, memaksanya memutar potongan kisah hidupnya di bumi pertiwi. Seketika airmatanya pun tumpah tak terbendung.
“Diri juga ingin pulang,” lirihnya.
Pekerjaan terakhir yang membawanya berada di balik jeruji pesakitan. Yana tinggal di sebuah apartemen sederhana di pinggiran kota Taipei, menjaga seorang nenek yang terkena stroke. Majikan Yana, Tuan Huang hanya sesekali datang berkunjung. Yana bertekad setelah uangnya terkumpul untuk membayar denda dan tiket pesawat, Ia ingin menyerahkan diri ke kantor polisi dan mengurus kepulanganya ke tanah air.
Tak satupun dari kita bisa memilih keadaan. Di hari naas itu, tiba-tiba seorang lelaki masuk ke kamar Yana, mencengkeram tubuhnya dan menyeretnya ke ranjang. Yana yang kaget tak bisa sedikitpun bergerak karena cengkeraman lelaki itu teramat kuat, nenek yang duduk di kursi roda hanya bisa berteriak “Uhh..uh.” Lelaki itu bahkan tak memperdulikan teriakan nenek yang jika diterjemahkan mungkin akan berarti jangan lakukan. Yana berteriak, memohon pada lelaki itu untuk menghentikan perbuatannya. Lelaki itu mengatakan bahwa Tuan Huang telah menjual Yana padanya, dan dirinya bebas melakukan apapun pada Yana. Sontak Yana tersadar bahwa dirinya telah menjadi korban trafficking, resiko terbesar yang pasti dihadapi tenaga kerja kaburan sebagai pintu utama perdagangan manusia.
Nenek semakin keras berteriak, tapi lelaki itu pun tetap tak mengindahkan. Yana berhasil melepaskan diri setelah menendang diantara kedua paha lelaki itu. Ia terus berteriak berharap ada yang mendengarnya, berlari mengitari ruangan mencari tombol darurat agar bisa terhubung dengan petugas apartemen untuk meminta pertolongan. Lelaki itu terus mengejarnya, Yana berlari menuju belakang kursi roda nenek. Nenek masih terus berteriak di sisa kekuatan suaranya. Lelaki itu semakin beringas, memukul dan mendorong nenek hingga terjatuh dan berdarah. Yana semakin terdesak, nenek sudah tak sadarkan diri. Ia pun tak tahu apa nenek masih hidup atau tidak. Pengaruh alkohol begitu jahat menerkam kesadaran lelaki itu. Ia menendang Yana dan menyeretnya. Darah terlihat mengalir dari hidung Yana, Ia menjerit kesakitan, berusaha berontak dalam ketidakberdayaan. Diraihnya tongkat nenek disamping kursi roda dan memukulkannya tepat mengenai kepala lelaki itu. Seketika lelaki itu melepaskan tangannya. Yana berlari menuju pintu berusaha membukanya, tapi pintu pun telah terkunci. Lelaki biadab itu sudah semakin mendekat dengan tatapan mata penuh dendam. Yana yang panik, tak sadar bahwa lelaki itu siap mengayunkan tongkat di kepalanya, seketika darah pun mengalir dari sela-sela rambutnya. Yana yang sudah benar-benar terancam nyawanya, sigap merampas tongkat yang dipegang lelaki itu dan memukulkan berkali-kali tepat dikepala bagian depan. Seketika lelaki itu limbung, jatuh tersungkur di lantai. Darah semakin deras menganak sungai dari kepalanya. Yana tak bisa berkata apapun tentang kengerian itu, Ia bersumpah pada Tuhan bahwa tak ada niat dalam hatinya untuk membuat orang lain celaka. Tapi sekali lagi tak seorang pun bisa memilih keadaan. Dan Lelaki itu telah mati.
Langkahnya terasa lemas, airmata semakin deras tak terbendung. Ia tersadar dari kepekatan hatinya, berusaha membuang kilatan keputusasaan dan perih akibat luka yang menganga. Tiba-tiba Ia melihat ruang kosong antara dirinya dan orang-orang yang berdiri di depannya, Ia pasrah saat polisi itu memborgolnya.
***
Tak terasa waktu melesat begitu cepat. Rentang masa itu pula Tuhan telah mendayungkan serangkaian mimpinya ke seberang. Arin bahagia dengan pekerjaannya di Taiwan. Bersyukur di tengah keberagaman, perbedaan adat juga kepercayaan, majikannya benar-benar memperlakukannya dengan baik. Bahkan Arin diijinkan untuk melanjutkan pendidikannya di tingkat kesetaraan yang diselenggarakan oleh perwakilan pemerintah Indonesia setiap hari Minggu. Arin juga memanfaatkan liburnya untuk bergabung dengan berbagai organisasi orang Indonesia di Taiwan, mengikuti kursus bahasa Mandarin, bahasa Inggris, juga pelatihan kewirausahaan. Arin kagum dengan kawan-kawan sesama buruh migran, disela kesibukannya bekerja masih bersemangat melanjutkan pendidikannya di tingkat kesetaraan maupun universitas, sukses berwirausaha dengan berjualan online, membuka usaha katering, menyebarkan pesan-pesan kebaikan melalui organisasi keagamaan, mengejar prestasi dalam dunia seni, olahraga dan sastra. Semua seolah membuktikan bahwa buruh migran bukan hanya cukup disebut pahlawan devisa, namun mereka adalah pahlawan yang tak kenal kata menyerah, mampu berprestasi dalam berbagai bidang meski terbatas ruang dan waktu.
Lie Hua putri Nyonya Chen, gadis 15 tahun penderita retardasi mental. Sepintas Lie Hua seperti kebanyakan remaja pada umumnya, tumbuh besar dan cantik. Tapi jika dicermati seksama, Lie Hua tetaplah gadis kecil dan usianya seakan terkunci disitu. Keterbatasan yang membuat Nyonya Chen menyekolahkan Lie Hua di sekolah kaum difabel, agar Ia tidak merasa sendiri dan bisa berkomunikasi dengan orang disekitarnya.
Setiap sore tiba, Arin akan membawa Lie Hua berjalan-jalan di sekitar apartemen, mengajaknya bercerita tentang banyak hal. Tentang ibunya, kehidupannya di kampung dulu, tentang cita-citanya, tentang rasa sayangnya pada Lie Hua. Dan Lie Hua akan menimpalinya dengan ceracauan yang tak jelas. Saat Arin tertawa maka Lie Hua pun akan ikut tertawa. Arin ingin membiasakan Lie Hua berinteraksi dengan dunia luar. Tubuh Lie Hua yang rentan sakit jika terlalu lelah berjalan, mengharuskan Arin menggunakan kursi roda di setiap aktivitasnya. Lie Hua juga tak bisa mengeluarkan kata-kata dengan baik dari pita suaranya. Awalnya Arin sulit mengerti, tapi dengan mengikuti aktivitas tubuh Lie Hua, Arin berusaha memahami maksud dari setiap gerakannya. Setiap hari semua berjalan seperti itu, lama-kelamaan Arin pun terbiasa. Bagi Arin, Lie Hua begitu manis dan dianggapnya seperti adik sendiri. Meski emosi Lie Hua sering tidak stabil tapi Arin tetap sabar dan lembut memperlakukannya. Dan Lie Hua pun begitu sayang kepada Arin.
Nyonya Chen sudah menganggap Arin sebagai bagian dari keluarga kecilnya. Sejak kedatangan Arin, Lie Hua mengalami banyak hal luar biasa. Ia sudah mau tersenyum kepada orang-orang dan membalas sapaan meski dengan mengeja, Ia bisa makan sendiri meski berserakan, dan Ia juga sudah mandiri dengan aktivitas pribadinya di toilet. Arin hanya cukup mengantar dan menunggunya di depan pintu. Saat malam Arin akan membacakan dongeng dan memutarkan lagu pengantar tidur. Dengan begitu Lie Hua akan cepat terlelap. Nyonya Chen menaruh harapan besar pada Arin, karena tiada kebahagiaan berarti selain melihat putrinya berkembang.
Hari libur adalah hari berharga baginya, menuntut ilmu, melakukan serangkaian kegiatan dan mengunjungi ibunya adalah satu hal yang sangat dinanti. Setelah menyiapkan sarapan dan obat untuk Lie Hua, kemudian Arin akan berpamitan padanya dan mengatakan akan pulang sebelum jam makan malam tiba. Dengan senyum lebarnya Lie Hua akan memeluk Arin dan melambaikan tangannya.
Dua pekan sekali di hari Minggu, Arin akan berkunjung ke Lembaga Pemasyarakatan di kawasan Tucheng. Pukul 9:30 Arin telah tiba di pelataran gerbangnya, membeli 2 porsi makanan untuk ibunya. Kemudian masuk menuju ruang tunggu mengantri di loket pendaftaran. Menyerahkan kartu identitas, nomer telepon dan nomer narapidana yang akan dikunjungi. Setelah itu makanan yang dibawa akan diambil petugas dan Arin akan menerima secarik kertas yang berisi gelombang kunjungan dan nomer loket kaca.
Setelah beberapa kali datang, Arin faham dengan satu dua peraturan pengunjung yang diterapkan. Seperti jenis dan berat makanan yang dibawa, tidak boleh melebihi 2 kg. Juga sesuatu yang ingin diberikan kepada narapidana tidak semua bisa diijinkan, seperti majalah, karena dikategorikan sarat informasi dan seorang narapidana dilarang mendapat informasi keadaan diluar lapas. Bahkan buku bacaan pun tidak boleh ada bekas coretan, karena dikhawatirkan coretan tersebut adalah kode petunjuk rahasia bagi narapidana.
Ketika libur Arin akan menuju tempat-tempat utama yang banyak dikunjungi pekerja Indonesia, seperti main station, masjid atau taman kota. Disitu Arin akan meneliti wajah-wajah yang lewat dihadapannya dan menunjukkan foto ibunya. Arin juga mencari informasi melalui kawan-kawan di organisasi dan memposting foto ibunya di komunitas media sosial. Waktu melaju merambat hari, berbilang pekan dan bulan. Kabar keberadaan ibunya pun mulai tersemat. Tiba-tiba telaga menggenang di kedua bola matanya, perlahan meneteskan gerimis. Saat itu Ia pun merasakan kepedihan yang sama dengan kisah hidup wanita yang dicintainya. Pertemuan itu akan menjadi hal yang berharga. Mendekap kembali sosok yang paling dirindukannya setelah hampir 7 tahun Ia belajar tegar dalam cekik kehilangan.
Wanita berwajah teduh itu terlihat takjub saat melihat Arin. Pastinya Ia tak bisa menyangka sama sekali bahwa putrinya yang ditinggalkan beberapa tahun silam mampu menemukannya. Arin faham, kejutan ini pastilah membuat hati wanita itu diliputi keharuan yang tak bisa diungkapkan. Sebungkus airmata yang disembunyikan dalam senyumnya pun tumpah. “Ibu,” suara Arin mengambang ringan di bawah lanskap langit-langit ruangan itu, didekapnya tubuh ibunya. Ia tak menyangka bahwa wanita yang dicarinya itu tengah pasrah menjalani sisa hidupnya di balik jeruji besi.
Arin terbuyar dari lamunan saat nomer antriannya disebut oleh alat pemanggil otomatis. Segera diusap airmatanya karena Ia tak ingin menunjukkan wajah sedih saat bertemu dengan ibunya. Arin beranjak menuju ruang pertemuan, ruangan dengan sebaris kamar kaca seperti warung telepon di tanah air. Terlihat Yana ibunya telah duduk di sisi lain di balik kamar kaca nomer 20. Arin pun masuk menuju kamar kaca tersebut. Tak ada yang berubah dalam diri ibunya, meski harapannya telah terputus tapi Ia tetap berikan senyum sumringahnya. Saat semua pengunjung sudah siap dalam ruangan kaca masing-masing, petugas pun meneriakkan aba-aba untuk memulai percakapan melalui gagang telepon. Sepuluh menit, waktu untuk menumpahkan segala kerinduan, menatap wajahnya dari balik kaca, mendengar setiap penggalan kalimatnya. Arin tahu ibunya adalah wanita yang tegar, dan ada sebuah alasan kuat yang mendasari setiap kata yang meluncur dari bibirnya.
“Saat engkau kembali ke tanah air nanti, biarkan kisah ini menjadi rahasia. Biarkan bapak dan adikmu menganggap bahwa Ibu telah mati.” Yana terdiam sesaat, airmata terlihat menetes di wajahnya. “Tak seorang pun dari kita tahu dimana bisa ditemukan batas antara kehidupan dan kematian. Meski melambungnya keinginan ini, Ibu tetap harus memilih satu kenyataan getir yang tak sanggup Ibu elakkan. Ibu pun tak ingin dikubur di daratan yang jauh ini, Ibu ingin mati di tanah air dimana kaki ini pernah berlindung di bawah atap langitnya, tapi…”
Sepuluh menit pun seolah terlibas pedang tak tersisa. Airmata merinai di wajahnya yang ayu, perpisahan dengan ibunya. Bisikan-bisikan di balik gagang telepon itupun terputus saat petugas meneriakkan aba-aba berhenti.
***
Udara dingin membalut kelamnya malam. Para penumpang pesawat itu pun telah hanyut dalam kantuk. Percakapan dengan ibunya mendengung dalam relung telinga, saat sepi hatinya menghujam, fragmen itu seolah berputar kembali. “Ibu, apapun alasan yang engkau simpan, aku tahu engkau adalah wanita yang sanggup berkorban bahagia untuk siapapun meski engkau tertikam pedih di ulu hatimu. Dan aku akan mengatakan apa yang engkau minta.”
Malam semakin meninggi, sedikit saja jarum jam yang panjang tergelincir maka hari berganti baru. 36 purnama telah terlampaui, wajah-wajah itu kembali berkelebat dalam bayang. Lie Hua, Nyonya Chen, bapak, adiknya, ibunya. Semua sama, mengharap kehadirannya.
36 purnama sudah Yana menjalani hukumannya, terpisah bermil-mil dari sanak saudara di tanah air yang mungkin sudah menganggapnya tiada. Dan di 36 purnama selanjutnya, Arin akan tetap melangkahkan kakinya di bumi Taiwan. Masih tetap menjaga Lie Hua, menemani ibunya di hari Minggu ke dua, mewujudkan cita-cita adiknya meraih masa depan gemilang dan untuk dirinya sendiri, Ia ingin bermanfaat bagi siapapun. Burung besi itu masih terus melaju membelah angkasa, melintasi samudera. Arin pun terlelap dalam kantuk, saat matahari bersinar esok pagi Ia akan menemukan senyum di wajah bapak dan adiknya.

 

KARENA GENGSI KARENA DIA MEMBENCI

Hatin Sam / KARENA GENGSI KARENA DIA MEMBENCI / FLP & KPKers Taiwan / tenaga kerja asing KARENA GENGSI DIA MEMBENCI Oleh : Hatin Sam Cuaca panas dilangit formosa tidak menghalangi segala aktivitas kerjaku. Setiap pagi sebelum berangkat, kupersiapkan barang dan segala keperluan yang akan dibawa pergi ke tempat clinic terapi serta memeriksa terlebih dahulu keadaan kursi roda. … Continue reading “KARENA GENGSI KARENA DIA MEMBENCI”

Hatin Sam / KARENA GENGSI KARENA DIA MEMBENCI / FLP & KPKers Taiwan / tenaga kerja asing

KARENA GENGSI DIA MEMBENCI
Oleh : Hatin Sam

Cuaca panas dilangit formosa tidak menghalangi segala aktivitas kerjaku. Setiap pagi sebelum berangkat, kupersiapkan barang dan segala keperluan yang akan dibawa pergi ke tempat clinic terapi serta memeriksa terlebih dahulu keadaan kursi roda. Setelah semua siap saya berpamitan pada majikan dan meluncur menuju tempat clinic terapi. Setiap hari saya berjalan kaki dan mendorong kursi roda yang diduduki Ama berjalan menelusuri jalan raya yang padat lalu lintas kurang lebih memakan waktu 30 menit sekali jalan dengan kecepatan jalan diatas rata-rata. Demi tugas dan tanggung jawab pekerjaan ini saya kerjakan dengan iklhas sepenuh hati serta perasaan riang dan gembira. Tanpa terasa waktu bergulir cepat dan tahun ini memasuki tahun ke 4 saya berada di Taiwan.Mungkin karena kesibukan aktivitas kerja yang terlalu padat, kalau pagi rutinitasku mengantar Ama ke clinic terapi, siang pulang ke rumah beristirahat sebentar dan sore membawa Ama jalan-jalan ke taman, begitu setiap hari terus berputar.

Oh ya, sebelumnya perkenalkan nama saya Prihatin berasal dari desa Pangkal Sawoo sebuah desa yang terpencil di Kabupaten Ponorogo Jawa Timur lndonesia, dimana tempat itu telah banyak mengajarkan saya tentang makna sebuah ketegaran serta perjuangan dan pelajaran dalam kehidupan. Empat tahun yang silam saya datang ke Taiwan sebagai buruh tenaga kerja asing dan mengabdi pada keluarga Huang, didalam keluarga tersebut majikan saya memanggil namaku dengan sebutan Tina, karena menurut mereka nama saya terlalu sulit untuk diucapkan dalam logat bahasa cina, tugas utama dan tanggung jawabku adalah menjaga Ama. Tugas rutin harian dari hari senin sampai sabtu pagi harus mengantarkan serta menemani Ama ketempat Clinic Rehabilation yang beralamat di Yhonghe City, New Taipei City, Taiwan untuk mengikuti terapi rutin penyembuhan dan pemulihan kondisi fisik Ama. Ama yang kujaga harus rutin melakukan terapi penyembuhan karena habis operasi akibat patah tulang. Peristiwa saat menjalani operasi tulang pinggul kanan kiri, Ama harus menjalani rawat inap di rumah sakit kurang lebih satu bulan. Pada awalnya setelah masa perawatan di rumah sakit Ama menjalani proses terapi penyembuhan dan pemulihan juga di rumah sakit yang sama yaitu Suangho Hospital Taipei Medical Univercity yang beralamat di Jhonghe City New Taipei City Taiwan. Karena lokasi rumah sakit lumayan jauh dan kurang efisien dalam sektor transportasi majikan saya mencari tempat rehabilisation yang terdekat dengan tempat tinggalnya.

Hari itu seperti biasa setiap tiba dilokasi clinic para pasien yang menjalani terapi harus terlebih dahulu antri untuk mendaftarkan nama pasien sesuai nomer yang tertera pada kartu asuransi kesehatan. Setelah itu para pasien bisa menuju tempat tujuan sesuai yang tertulis dilembaran kertas data nama pasien. Dikertas tersebut tercantum nama, nomer askes dan keluhan serta solusi penanganannya ditempat terapi. Clinic Rehabilisation tersebut berdiri disebuah areal ruko apartement yang terdiri dari lantai 1 hingga lantai 7, yang masing-masing untuk lantai 1 dan 2 untuk terapi yang menggunakan alat bantu mesin komputer, lantai 3 untuk terapi yang berhubungan dengan olahraga para pasien, lantai 5 dan 6 untuk anak2 autis, lantai 7 untuk terapi pengembalian dan latihan vokal / suara bagi pasien yang terkena stroke atau bagi pasien yang mengalami gangguan dalam hal berbicara. Di ruangan lantai 3 Ama menjalani terapi jenis olahraga diantara bersepeda santai, berjalan / berlari kecil disebuah alat khusus berlari dengan timer waktu dan setingan yang sudah ditentukan serta disesuaikan bagi masing2 pasien.
“Selamat pagi, Tuan”, kataku, menyapa kepada para petugas klinik terapi.
“Pagi”, jawaban singkat dari petugas jaga klinik terapi.

Mungkin karena terlalu banyak pengunjung yang datang setiap harinya, dalam menggunakan peralatan fasilitas terapi olahraga, setiap pasien harus antri secara bergiliran. Ama yang ku jaga orangnya punya karakter keras dan paling tidak suka jika harus menunggu lama, saat antri menunggu giliran ada salah seorang care taker Taiwan / perawat orangtua/ pasien asli warga Taiwan tanpa sengaja menjatuhkan kursi kayu yang biasa dipergunakan tempat duduk pasien. Saat itu saya dan teman2 sesama perawat orangtua yang berasal dari lndonesia yang mempunyai jiwa solidaritas dan sosial berusaha membantu mengangkat dan membetulkan kembali kursi kayu yang terjatuh. Kursi kayu tersebut terbuat dari bahan kayu-kayu ringan dan mudah reyot. Berhubung banyaknya jumlah pasien duduk serta bergantian, membuat kursi-kursi itu mudah reyot dan bila digunakan duduk bagi pasien yang badannya gemuk dan besar seperti Amaku terasa oleng dan goyang-goyang sehingga menimbulkan rasa was-was dan kuatir. Sambil menunggu antrian saya memeriksa serta menyiapkan kursi tempat duduk untuk Ama, agar bisa mendapatkan tempat yang aman dan nyaman. Di tengah kesibukanku memilih kursi untuk duduk Ama, tiba-tiba suara teriakan keras dari petugas terapi menyebut nyebut namaku, Tina, Tina, Tina, pembantu bodoh, tidak sopan, kamu telah merusakan kursi kayu ini, teriak petugas yang semakin memicu kegaduhan diruangan terapi. Mendengar kegaduhan dilantai 3, petugas jaga di lantai lain berhamburan datang. Saya terperanjat dan kaget dituduh serta diteriaki seperti maling atau penjahat kakap . Nasib malang dan keberuntungan tidak berpihak pada saya, pihak petugas terapian tetap bersikeras menuduh saya telah merusakkan kursi kayu dan menuduh berbuat onar serta mempunyai kelakuan tidak baik dan sopan ditempat terapian.

Kejadian kursi jatuh menjadi sebuah masalah besar ditempat terapian ( clinic rehabilasation ). Petugas jaga yang berdinas di lantai 3 yang biasa disebut dengan panggilan Tuan Ge, dia seperti orang kesurupan, tak puas dengan aksinya dia memanggilku dan memarahi lagi dengan umpatan kata-kata keras dan kurang bijaksana, dituduh seperti itu saya mencoba membela diri dan mengelak bahwa semua tuduhan itu tidak benar, karena saya tidak merusakan kursi kayu itu.
“Tina, dasar pembantu bodoh, kamu berbuat tidak sopan dan berkelakuan tidak baik serta telah merusakan kursi kayu tempat duduk, saya akan laporkan kamu pada majikanmu” teriak petugas jaga di lantai 3, sambil menunjuk wajahku.
“Mohon maaf Tuan, saya tidak merusakan kursi duduk itu, jika tidak percaya di rekaman camera cctv pasti terlihat jelas siapa dan bagaimana kejadian jatuhnyanya kursi tersebut” jawabku dengan jujur untuk membela diri.
“Tidak, saya tahu kelakuanmu disini setiap hari, kamu punya kelakuan tidak baik dan tidak sopan” jawab Tuan Ge guru /petugas itu dengan ketus.

Seketika itu raut wajahku memerah menahan rasa malu karena harga diriku diinjak-injak serta dipermalukan dihadapan banyak orang. Walaupun kami berstatus pembantu kami masih punya harga diri dan hati nurani, tetapi mengapa petugas itu memperlakukan kami semena-mena tanpa meneliti dengan cermat kronologi kejadian yang sebenarnya. Ini semua rasanya tidak adil dan terlalu karena sudah seharusnya kita bisa saling menghargai sesama manusia walaupun banyak perbedaan propesi, suku, bangsa dan negara. Karena kita sama-sama bekerja dan bertanggung jawab penuh pada tugas dan pekerjaan masing-masing.
Tuan Ge, tidak bisa menerima penjelasan saya, karena gengsi dia terus membenciku, kasus tersebut terus meruncing hingga dilaporkan pada dokter serta pimpinan clinik rehabilisation maupun pada majikan saya. Jam 12.00 siang, sebelum saya dan Ama meninggalkan lokasi terapian, guru / petugas terapi itu kembali memanggilku masuk ke ruangannya.
“Tina, kamu serahkan surat ini pada majikanmu” kata guru petugas dengan nada ketus bercampur amarah.
” lya Tuan, akan saya sampaikan pada majikanku, terima kasih, saya pamit dan selamat siang” ujarku dengan sopan, kemudian saya pamit keluar ruangan terus membawa Ama pulang ke rumah.

Setelah sampai dirumah saya menyiapkan makan siang dulu buat Ama dan majikanku. Sesudah selesai makan siang bersama, kemudian saya melaporkan segala kejadian yang terjadi di klinik terapi dan menyerahkan surat titipan dari guru petugas terapian pada majikanku.
“Maaf Tuan, saya ingin melaporkan kejadian hari ini di tempat terapi, petugas menuduh saya telah merusakan kursi kayu di sana dan ini ada titipan surat dari guru petugas terapi untuk Tuan” ujarku pada majikanku yang laki-laki.
“Tina, kamu tenang saja, tidak usah panik atau takut, jika kamu berada diposisi benar, saya akan lindungi kamu dan bicara pada petugas terapi itu, kamu jangan kuatir, tenang ya !” jawab majikanku dengan tenang dan bijaksana.
“Terima kasih, Tuan ! Sungguh saya tidak merusak kursi tersebut Tuan, di tempat terapi disetiap ruangan terpasang kamera cctv, segala kejadian bisa dilihat ulang dalam rekam Tuan, tolong sampaikan pada petugas, saya tidak bersalah. Petugas memarahi saya dan menjelekan saya berkelakuan buruk dan tidak sopan, tolong jelaskan pada mereka, karena Tuan tahu tentang sikap dan kelakuanku selama bekerja disini, karena saya bekerja dan mengabdi pada keluarga Tuan sudah hampir 4 tahun, saya benar-benar minta tolong pada Tuan untuk menjelaskan semua pembelaan saya pada petugas klinik terapi” kataku panjang lebar memohon bantuan majikanku.

Dalam waktu seminggu, setiap hari Tuan Ge, menitipkan surat untuk majikan saya yang mungkin isi surat tersebut adalah laporan tentang segala kelakuan dan sikapku selama berada diterapian yang bergaris besar menjelekan pribadi saya. Tetapi karena majikanku setiap hari juga sibuk urusan pekerjaannya tentang urusan surat titipan dari petugas terapi belum ditanggapi. Mungkin merasa belum mendapat tanggapan dari pihak majikanku petugas terapi semakin hari semakin membenciku dan kurang memperhatikan Ama yang butuh terapi penyembuhan di clinic itu.

Setelah kejadian tersebut majikan saya diundang datang ke clinic agar menghadap pimpinan clinik untuk membahas kelakuan saya dan memaksa saya untuk meminta maaf secara terbuka dihadapan pemimpin dan para petugas clinic. Saat itu hari Sabtu pagi Nyonya Huang majikanku yang perempuan ikut keterapian bersama-sama. Kemudian kami menghadap Dokter Huang Direktur Klinik untuk menjelaskan dan meminta bersama-sama melihat tayangan ulang rekaman kamera cctv.
“Tok … tok … tok, permisi Dok, izinkan kami masuk” kata Tina bersama majikannya mengetuk pintu ruangan dinas Dokter Huang.
“lya, silakan masuk” jawab Dokter Huang.
“Dok, ada perlu apa Dokter dan pihak petugas clinic memanggil saya datang?” tanya majikanku.
“Begini Nyonya Huang, menurut laporan petugas di lantai 3, Tina pembantu nyonya telah berbuat onar dan merusakan kursi kayu yang berada disana” jawab Dokter Huang menjelaskan.
“Dok, jika Tina pembantu saya benar berbuat salah, tak segan-segan saya menegurnya dan memarahi dia, tetapi kalau boleh saya minta pada Dokter, agar kita bersama-sama melihat tayangan ulang rekaman kamera cctv yang terpasang disetiap sudut ruangan” sambung Nyonya Huang majikanku.
“Baiklah nyonya, saya akan panggil Tuan Ge dan Tuan Chen, kemudian kita lihat bersama-sama hasil rekaman kamera cctv” jawab Dokter Huang.

Sementara saya hanya berdiri dan terdiam, hatinya bergemuruh dan jantungnya bergetar lebih cepat, ada rasa kalut namun berusaha tetap tenang, disamping majikannya dia hanya terpaku serta mendengarkan dialog antara Dokter dan majikannya yang akan membahas kebenaran tragedi kursi jatuh, dalam hatiku tak henti berdoa semoga kebenaran dan kejujuran menyelematkan dari tuduhan prasangka. Aku yakin dan percaya Tuhan maha mendengar dan pasti menolong hambaNya yang teraniaya. Alhasil dari rekaman camera cctv yang terekam kejadian kursi jatuh terbukti bukan Tina yang menjatuhkan hingga rusak, melainkan oranglain seorang perawat yang juga berkewarganegaraan Taiwan.
Menilik kasus tersebut Tuan Ge kalah banding dan terpojok, karena bukti dari rekaman camera itu murni bukan kesalahan Tina . Sebuah bukti nyata sudah jelas namun sikap dan perlakuan Tuan Ge terhadapku tidak pernah berubah bahkan malah semakin membenci serta tetap mengirimkan surat pada majikannya yang intinya tetap mengharuskan Tina untuk meminta maaf secara langsung dan terbuka.

Hari senin memasuki minggu kedua setelah kejadian tragedi kursi rusak, Tuan Ge menitipkan surat lagi untuk majikan Tina, selepas pulang dari tempat terapi surat titipan dari Tuan Ge langsung diserahkan pada majikannya yang laki-laki. Tuan Huang majikan Tina kebetulan berada dirumah kemudian langsung menelepon Tuan Ge, menjawab isi surat titipan darinya dan untungnya majikan laki-laki orangnya sangat bijaksana dan bertanggung jawab penuh serta bersikap melindungi terhadap pegawainya, pembantu ataupun perawat yang menjaga orangtuanya. Lewat media telepon majikanku berkata pada Tuan Ge, petugas clinic yang amat sangat membenci entah apa alasanya, mungkin karena terlalu gengsi dia semakin membenci.
“Hallo Tuan Ge, saya Tuan Huang majikan dari Tina yang menjaga dan merawat orangtua saya, saya tegaskan Tina sudah hampir 4 tahun bekerja ikut keluarga saya, jadi saya paham dan tahu betul sifat dan sikap serta kelakuan Tina, Tuan Ge tak perlu mengusik dan menjelekan Tina, tugas Tina diterapian adalah mengantar dan menjaga orangtua saya, satu hal yang terpenting adalah Tina tidak merusakan kursi terapian dan yang terpenting Tina bisa menjaga orang tua saya dengan baik, saya dan keluarga percaya penuh pada Tina, jadi sekarang Tuan Ge, sebagai petugas lakukan tugas anda dengan baik, tak perlu mengurus apapun tentang kelakuan Tina, mengerti, terima kasih”, ujar Tuan Huang majikanku menjelaskan panjang lebar pada petugas clinic.

Sejak kejadian tersebut sikap dan perlakuan petugas klinik pada Tina semakin menimbulkan kebencian yang mendalam. Setiap hari bila Tina mengantar dan menemani Ama untuk menjalani terapi, sikap petugas tersebut berubah semakin cuek dan tiada peduli serta kurang memperhatikan Ama yang dijaga Tina. Namun hal tersebut tidak membuat surut semangat serta tanggung jawab Tina yang setiap hari harus menemani Ama-nya rutin terapi walaupun dilokasi clinic selalu dipandang sebelah mata dan tidak dipedulikan, demi sebuah kejujuran dan kebenaran Tina berusaha keras untuk tetap menegakkan dengan mengungkapkan dan menjelaskan realita kejadian yang sebenarnya, walaupun harus menghadapi kenyataan pahit dibenci dan diabaikan oleh orang-orang yang merasa mempunyai kedudukan derajat dan pangkat yang lebih tinggi.

Tina sangat beruntung mempunyai majikan yang baik, tegas, tanggung jawab dan bijaksana serta mempunyai pengertian terhadap pembantunya yang sudah dianggap bagian anggota keluarganya, sehingga Tina benar-benar bersyukur dan tetap jalankan tugas dan tanggung jawabnya menjaga dan merawat Ama dengan penuh kasih sayang seperti merawat neneknya sendiri, hingga suatu hari Ama yang dijaganya mengalami sakit panas tinggi dan masuk rumah sakit dan ternyata penyakit Ama sudah komplikasi dan tidak tertolong lagi hingga akhirnya Ama menghembuskan napas terakhir pergi menghadap yang Maha Kuasa.

Setelah kepergian Ama kegiatan Tina yang dulu setiap hari harus mengantar ke klinik terapi secara otomatis ikut berhenti dan Tina tidak akan bertemu lagi dengan wajah -wajah sangar penuh kebencian dari petugas klinik yang membencinya. Tina harus pindah majikan dan memulai kehidupan baru dan beradaptasi lagi dengan lingkungan baru. Semoga ditempat yang baru Tina mendapatkan majikan dan lingkungan yang baik dan bersahabat. Dari setiap kejadian yang terjadi bisa dipetik hikmah dan hidayahNya, dimanapun bumi dipijak, disitupun langit dijunjung, dimana kaki kita berpijak dan beradaptasi serta bersosialisasi dengan siapapun pasti kita temui berbagai macam karakter seseorang. Terkadang kita dipertemukan dan berkumpul serta berada di tengan-tengah orang yang menyayangi kita bahkan juga sebaliknya kita bertemu dan berkumpul dengan orang-orang yang tidak menyukai serta membenci kita. Apapun keadaan yang kita hadapi sebagai buruh migrant yang sedang mengadu nasib dan bekerja pada majikan, sebisa mungkin kita harus tanamkan jiwa yang bertanggung jawab dan bekerja dengan baik serta menjaga hubungan baik dengan keluarga majikan. Karena di perantauan majikan adalah keluarga kedua kita selama kita berada jauh dari keluarga yang di lndonesia, majikan adalah bagian keluarga kita dan kita pun juga bagian kecil ditengah keluarga mereka.
Saling menghargai dan mengerti serta bertanggung jawab pada tugas dan pekerjaan kita, disitu majikan pasti mengerti dan menghargai kita. Di keluarga Huang, Tina bekerja merawat Ama dari pertama masuk hingga finish kontrak yang pertama kemudian cuti pulang kampung dan kembali lagi ke rumah majikan terhitung selama empat tahun lebih dan hubungannya dengan keluarga majikanya seperti keluarga sendiri. Karena Ama yang dijaganya sudah meninggal Tina harus bersiap-siap pindah majikan baru. Sekelumit kisah pilu tragedi kursi rusak di clinic rehabilisation akan menjadi bagian sejarah dalam kehidupan Tina yang akan menjadi sebuah pelajaran yang sangat berharga bahwa dalam kehidupan ini keras, dimanapun kaki kita berpijak harus tetap memegang teguh kejujuran dan berlandaskan saling menghargai dan menghormati antar sesama manusia, walaupun banyak perbedaan.

Selamat jalan Ama, tenang dan damailah dialam sana, maafkanlah saya bila dalam menjagamu banyak khilaf dan kekurangan.
. Terima kasih, Tuan / Nyonya, atas segala kehangatan dan kasih sayang serta perhatian yang sudah Tuan / Nyonya berikan untuk saya serta menjadikan saya bagian keluarga Tuan dan Nyonya, saya mohon maaf atas kesalahan dan khilafku selama mengabdi disini, saya mencintai kalian, jaga diri baik-baik dan izikankan saya pergi ke tempat majikan baru, percayalah saya akan selalu merindukankan kalian. Tiba-tiba Nyonya mendekapku dengan erat, sorot mata kami bertatapan dan bekaca-kaca seakan tak mau saling melepaskan, namun petugas agency sudah datang menjemput, dengan perlahan ku lepasksn pelukan Nyonya, kulambaikan tangan sebagai salam perpisahan, ku melangkah pergi mengikuti agency yang akan membawaku ketempat majikan baru.
●Selesai●
Xindian Distric New Taipei City, 23 Mei 2016

KUJEMPUT ASA DI BUMI FORMOSA

Imelda Primantika / KUJEMPUT ASA DI BUMI FORMOSA / Forum Lingkar Pena (FLP) Taiwan / tenaga kerja asing KUJEMPUT ASA DI BUMI FORMOSA Menapaki anak tangga kehidupan memang tidak mudah seperti membalikan telapak tangan. Kerikil-kerikil tajam dan jalanan yang berliku penuh rintangan harus kita hadapi. Memerlukan perjuangan keras, ketekunan dan juga do’a supaya semua bisa berjalan secara harmoni, … Continue reading “KUJEMPUT ASA DI BUMI FORMOSA”

Imelda Primantika / KUJEMPUT ASA DI BUMI FORMOSA / Forum Lingkar Pena (FLP) Taiwan / tenaga kerja asing

KUJEMPUT ASA DI BUMI FORMOSA

Menapaki anak tangga kehidupan memang tidak mudah seperti membalikan telapak tangan. Kerikil-kerikil tajam dan jalanan yang berliku penuh rintangan harus kita hadapi. Memerlukan perjuangan keras, ketekunan dan juga do’a supaya semua bisa berjalan secara harmoni, bagaikan ritme dalam sebuah melodi. Karena mustahil tanpa campur tangan-Nya kita menjadi seperti ini. Bukankah hidup adalah perjuangan, hidup adalah pengorbanan dan hidup itu indah bila kita hayati dan syukuri.

Aku sangat memahami bahwa perjalanan hidup manusia seperti sungai yang mengalir menyusuri tebing-tebing yang kadang-kadang sulit ditebak kedalamannya, yang rela menerima segala sampah dan yang pada akhirnya berhenti ketika bertemu dengan laut. Begitu juga kehidupan yang sangat extrim kurasakan. Namun dengan segumpal iman serta sebongkah hati yang menyatu dan terpatri dalam atma, aku mampu bertahan hingga detik ini.

Namaku Imelda, anak ke-2 dari empat bersaudara. Aku terlahir dari keluarga sederhana yang tidak begitu jauh dari kota Semarang. Sejak usiaku sepuluh tahun, ayahku sudah kembali kepada Sang Kholik. Jadi ibu adalah orang tua tunggal bagi kami. Dengan susah payah beliau memeras keringat, mencari nafkah bagi kami anaknya. Satu prinsip beliau yang membuat aku bangga adalah hidup boleh susah tetapi pendidikan harus tetap berjalan. Ilmu adalah modal dan aset berharga untuk merubah taraf hidup yang lebih baik.

Dengan suport yang begitu besar dari keluarga, membuat aku sangat bergairah dalam meraih cita-cita. Bagaimana tidak…..? Dengan sosokku yang agresif, aktif layaknya manusia yang haus akan ilmu, membuatku selalu menjadi bintang kelas. Mulai dari Sekolah Dasar (SD) sampai pada bangku Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA). Bahkan beberapa piagam olah raga dan apresiasi seni dapat aku bawa pulang dari event-event perlombaan yang aku ikuti buat mengharumkan nama almamaterku.

Beberapa kampus ternama di Jakarta memberikan iming-iming beasiswa penerimaan mahasiswa baru padaku. Dengan segala pertimbangan yang matang dan proses seleksi yang tidak mudah akhirnya aku bisa masuk ke Universitas Pelita Harapan (UPH) Lippo Karawaci, Tangerang dengan mendapatkan beasiswa full.

*****

Masa depan adalah misteri. Tetapi kalau kita mau mempersiapkan hari ini, maka 50 persen dari masa depan itu sudah bisa diprediksi. Sungguh hidup ini bagaikan mimpi. Aku yang terlahir serba pas-pasan dapat diterima di kampus termahal di Indonesia, yang notabene mahasiswanya dari kalangan borjuis, serta mayoritas para pengajarnya dari belahan dunia. Bahasa Inggris adalah menjadi bahasa pengantarnya.

*****

“Bu…maafkan anakmu ini, sepertinya aku masuk ke lingkungan yang salah.” Nadaku penuh gemetar sambil kucium takzim tangan beliau sehabis menunaikan sholat magrib.

“Apa yang terjadi nak? Bicaralah baik-baik tidak usah sambil menangis.” Suara lembutnya kudengar, sambil mengusap butiran hangat yang membasahi pipiku.

“Maaf……M-A-A-F bu, tadi aku dipanggil ke kantor, katanya aku di Drop Out (DO). Karena nilaiku tidak memenuhi standart untuk semester ini.” Jawabku terbata-bata karena merasa bersalah tidak bisa membahagiakan hati ibuku.

“Ya sudahlah kalau memang ini rencana Alloh yang terbaik untukmu nak.” Terdengar lirih suara beliau. Aku tahu sebenarnya beliau kecewa terhadapku. Namun dengan senyumnya beliau mampu menutupi kepedihannya.

Dengan keadaan yang sangat mencolok membuatku minder, serta bagaikan terasing di negeri sendiri. Yang berimbas dengan merosotnya nilai-nilai akademikku. Pada akhirnya aku harus menerima segala konsekuensi itu. Walau Dewi Fortuna belum berpihak kepadaku tetapi aku ikhlas dan berbesar hati. Hidup ini terlalu indah jika harus kusesali. Kujadikan pengalaman ini sebagai cambuk kehidupan untuk terus meraih mimpi.

*****

Kuputar haluan 180 derajat, dengan terinspirasi oleh tetanggaku yang sudah menjadi saudagar kaya di kampungku, dengan uang hasil keringatnya bertahun-tahun merantau ke Taiwan akhirnya kuberanikan niatku untuk meminta ijin kepada Malaikat tanpa sayap yaitu ibuku.

“Bu…ijinkan aku untuk bekerja ke Taiwan.” Sambil bergelayut manja di bahunya, kuminta do’a restu dari ibuku.

“Kalau ini sudah menjadi tekadmu, ibu tidak bisa berbuat banyak. Apabila kamu menemukan kesulitan nak, berdo’alah pada Alloh, sebaik-baik penolongmu. Hitung-hitung jihad buat keluarga.” Dengan terharu kupeluk dan kukecup kening yang sudah mengeriput. Kulihat kristal-kristal bening mengalir dari sudut matanya.

*****

30 Juli 2015 Burung besi itu telah mengantarkanku untuk menapakan kaki ini pertama kalinya di Bumi Formosa, Taiwan. “Bismillah…….” Bibirku berucap, dan kupandangi sekelilingku petugas imigrasi sedang mengecek dokumenku dengan teliti.

*****

Ms. Lee selaku agensiku mengantarkan ke kediaman majikanku yang bermarga Chan. Dengan perasaan yang takut serta grogi aku diperkenalkan dengan keluarga majikanku yang semuanya ada empat orang. Majikanku yang seorang janda dan kedua anaknya serta nenek yang harus aku rawat. Dengan penjelasan yang panjang lebar agensikupun berpamitan kepada kami.

Merawat nenek yang menderita penyakit Diabets yang harus disuntik insulin dan makan obat setiap waktu bagiku tidak terlalu sulit. Karena nenekku dulu juga punya riwayat penyakit yang sama. Aku harus mengatur pola makan nenek sedemikian rupa sehingga membuat nenek tanpak lebih sehat dibandingkan sebelum aku datang. Ini membuat majikanku merasa senang dan adaptasi yang kulakukan tidak menjadi beban buatku.

Berbekal skill dan etos kerja yang maksimal, membuat aku diterima dengan tangan terbuka oleh keluarga Ms. Chan. Dengan segala toleransi, perhatian serta kasih sayang yang diberikan padaku membuat aku nyaman, layaknya keluarga ke-2 bagiku.

Perlahan namun pasti Pelangi kehidupan mulai terlihat. Walaupun tidak mudah dan instan, semua membutuhkan proses yang menguji kesabaran serta keyakinan diri. Terkadang kesulitan harus kita rasakan terlebih dahulu sebelum kehidupan yang sempurna datang kepada kita. Bukankah Pelangi akan turun setelah hujan membasahi bumi….?

Aku jadikan saat-saat yang berat, saat-saat yang penat, saat-saat berkeringat dengan rasa syukur yang mendalam. Inilah masa yang akan menguatkanku menjadi manusia yang lebih matang dalam berproses. Hanya satu angan yang terselip dalam atma, untuk menjemput asa di Bumi Formosa ini.

Semua kujadikan kunci untuk membuka mimpi-mimpiku. Meski harus kulalui dengan proses panjang dan melelahkan. Apresiasi yang begitu besar buat Taiwan yang telah memelukku dengan bentangan tangan hangatmu. Sehingga mimpi-mimpiku yang kugantungkan tinggi, setinggi menara gedung 101 mulai terlihat jelas. Badai kehidupan walau perlahan telah mampu kutepiskan. Kini kumampu meretas mimpi menjadi sebuah prestasi.

TAIWAN yg Mngubah Kluarga Ku

Tutik kasiati / TAIWAN yg Mngubah Kluarga Ku / tidak ada / tenaga kerja asing Aku anak prtama dr 3 br saodara. Aku dah punya suwami dan 2 anak laki laki asal ku dr kampung pedesaan. Ibu kandung ku tr jerumus dng utang rentenir semua harta benda nya ludes untuk sang rentenir. meliat ke adaan ibuk aku amat … Continue reading “TAIWAN yg Mngubah Kluarga Ku”

Tutik kasiati / TAIWAN yg Mngubah Kluarga Ku / tidak ada / tenaga kerja asing

Aku anak prtama dr 3 br saodara. Aku dah punya suwami dan 2 anak laki laki asal ku dr kampung pedesaan. Ibu kandung ku tr jerumus dng utang rentenir semua harta benda nya ludes untuk sang rentenir. meliat ke adaan ibuk aku amat prihatin. Saat ibuk di himpit kesusahan tiba tiba ibuk hamil lg di usia nya yg sudah 50 th an ibuk panik bingung br usaha mgugur kan kehamilannya…. tapi Alhandulilah kandungan ibuk selamat. Lair bayi prempuan. Menginjak umur 2 th ibuk ingin mjadi TKW ke malesia. Anak ibuk aku yg mengasuh nya untuk mbelikan susu dan juga mhidupi bapak juga adik ku dan kluarga ku sendiri.semua dr hasil toko kecil ku 8 bln br lalu ibuk blum juga tr bang ke malesia. Akir nya aku di tlp pihak PT untuk menebus ibuk ibuk gk bisa tr bang ke malesia krn faktor usia. Akir nya aku nebus ibuk 3 jt juwal almari ibuk satu satu nya. Ibuk pulang dan mjalani kehidupannya.. toko kecilku pun br anjak surut dan aku tr jebak utang yg banyak aku tutup toko br alih usaha produksi criping pisang hasil nya lumayan krn banyak nya utang yg sudah numpuk akir nya aku nekat menjadi TKW ke arap saudi untuk mbatar utang itu. setelahkrja gaji di kirim rutin sama bos 2 th br lalu aku hrs pulang sampai rumah utang ku masih numpuk. Aku br juwang di rumah  utang tak kunjung selasai akir nya aku mlangkah lg jadi TKW ke taiwan aku dpt jop jaga nenek lumpuh total majikan ku suka mukul krn aku blum tau bahasa aku tlp 1955 krn aku blum br untung 1stengah bulan aku di pulang kan. Di rumah satu th an ke adaan rumah tidak jg br ubah ku langkah kan kaki lg masuk ke. Taiwan lg jop ku jaga kakek alhamdulilah kakek nenek baik majikan jg sangat baik namun Alloh msih juga mberiku cobaan tiba tiba aku dpt surat dr pngadilan takut setengah mati.. dan tr yata ada orang yg buka sim kat pakai biodata ku waktu br lalu dr gaji ku di sini aku bisa melunasi hutang ku juga bisa mbantu ibukku juga adik adikku tr masuk aku bisa meyekolah kan anak anak ku…. TAIWAN suka duka ku tr toreh di sini TAIWAN di sinilah aku bisa membayar utang ku utang ibukku juga utang adikku TAIWAN di sini lah aku bisa meyekolahkan anakku dan dengan ke baikkan Majikanku be serta kluarganya Aku bisa MENGULIAH KAN ANAK ku yg semula mimpi pun gak pernah. TAIWAN sebuah negara yg tak kan aku lupa kan… Majikanku beserta kluarganya trimakasih dr kalian kluarga ku br ubah aku tidak bisa mngungkap kan untuk majikan ku aku hanya bisa br doa untuk mreka.

MỘT CON NGƯỜI, HAI THẾ GIỚI.

CHIÊU ANH CÁC / MỘT CON NGƯỜI, HAI THẾ GIỚI. / Không / sinh viên “Chúng ta không có quyền chọn cho mình nơi để sinh ra, nhưng chúng ta được chọn cách mình sẽ sống”. Hôm nay trên đường đi làm về, bất chợt Tôi được nghe câu nói ấy, mà từ rất lâu lắm rồi, Tôi … Continue reading “MỘT CON NGƯỜI, HAI THẾ GIỚI.”

CHIÊU ANH CÁC / MỘT CON NGƯỜI, HAI THẾ GIỚI. / Không / sinh viên

“Chúng ta không có quyền chọn cho mình nơi để sinh ra, nhưng chúng ta được chọn cách mình sẽ sống”. Hôm nay trên đường đi làm về, bất chợt Tôi được nghe câu nói ấy, mà từ rất lâu lắm rồi, Tôi mới có dịp nghe lại lần nữa. Tôi đứng lại và quan sát xung quanh, Tôi rất bất ngờ vì câu nói ấy được thốt ra từ một cậu bé, độ chừng học lớp 5 hay lớp 6 gì đó. Tôi không biết là em đọc được câu nói đó ở đâu hay tình cờ em nghe một ai đó nói, rồi em nói lại hoặc em cảm nhận được giá trị của cuộc sống thực này. Thế là kí ức bất chợt lại ùa về trong tiềm thức, một cảm giác rất lạ, khiến Tôi phải suy nghĩ rất nhiều về cuộc sống bộn bề xung quanh Mình.
“Đất mẹ Việt Nam” từ từ hiện dần trước mắt Tôi, một quê hương của những con người chất phác, cần cù, một nắng hai sương với đồng ruộng, nơi Tôi được sinh ra và lớn lên với biết bao nhiêu hoài bảo và khát vọng đổi đời. Thời gian dần trôi qua lặng lẽ, và Tôi cũng lớn lên theo dòng thời gian đó. Càng lớn, Tôi mới nhận ra rằng, tất cả không như những gì chúng ta nghĩ, đều có thể làm được, vì thực tại: ” Nhân cách của con người dần dần bị biến chất”, mọi thứ đều quy thành tiền và hình thành quy luật bất biến như một thông lệ của cuộc sống:”Nhất thân, nhì thế…”. Chính vì câu nói này, bao ước mơ, hoài bảo của hầu hết những đứa Con có gốc”thuần nông” như chúng Tôi đều bị dập tắt.
Ông bà ta có câu:”Con vua thì được làm vua, con của nhà Chùa thì quét lá đa” luôn ăn sâu trong suy nghĩ của mỗi người dân quê Tôi. Cả mấy thế hệ nối tiếp nhau đều nông dân, với ý nghĩ “học cho nhiều vào, sau này cũng về làm ruộng”, thế là cái nghèo cứ nối tiếp cái nghèo của hầu hết người dân nơi đây.
Trong cuộc sống, có lúc chúng ta sẽ chững lại, hoang mang trước những định kiến của cuộc đời, chúng ta muốn đi con đường của mình, sống cuộc đời của chính mình nhưng lo sợ những định kiến sẽ khiến cho chúng ta gục ngã. Đó là tâm lí chung của hầu hết những bạn trẻ ở lứa tuổi như Tôi vào lúc đó. Không cam chịu và đầu hàng trước định kiến lối mòn đó, Tôi lao vào học tập miệt mài, vượt qua bao khó khăn của những quãng thời gian dài Đại học. Tôi tự trang trải mọi thứ, Tôi làm việc như một con thiêu thân, với tất cả mọi nghề có thể, chỉ mong đủ tiền cho việc đóng học phí. Có nhiều lần quá khó khăn, tưởng chừng như bỏ cuộc, đến mức Tôi phải ăn mì gói suốt hơn 3 tháng liền để tiết kiệm tiền đóng học phí,…
Xã hội mà, đâu ai bận tâm rằng bạn làm gì, cuộc sống bạn như thế nào, miễn sao có tiền đóng học phí là được. Chính vì vậy, mà Tôi biết được rất nhiều từ xã hội bon chen này, sống không có tình cảm, lừa gạt và bán rẻ nhân phẩm, họ sống rất ít kỉ và sẵn sàng hại nhau để thu lợi về cho mình. Chán nản với cuộc sống thành thị, sau khi tốt nghiệp Đại học, Tôi may mắn được về làm việc cho Công ty Formosa Đồng nai. Làm việc hơn 2 năm, từ nhân viên kỹ thuật Tôi được đề bạc lên làm trưởng bộ phận quản lí chất lượng của công ty, với mức lương khá tốt đối với sinh viên mới ra trường như Tôi. Suốt hai năm làm việc, Tôi luôn tự đặt câu hỏi cho bản thân, và luôn suy tư trăn trở, người Đài Loan cũng tương đồng như người Việt nam, tại sao họ lại giàu có, phát triển mạnh đến như vậy? Nguyên nhân do đâu? Chính câu hỏi đó, làm Tôi phải trầm tư, và thôi thúc Tôi phải đưa ra một quyết định, chuyển hướng sang ngã rẽ mới của cuộc đời, quyết định phải sang Đài Loan để tìm ra câu trả lời cho chính Mình. thế là, Tôi xin học bổng để sang Đài Loan du học, sau khi Tôi trình bày tâm tư và nguyện vọng của Tôi với một Giáo sư đang giảng dạy nghiên cứu khoa học ở Đài Loan, cuối cùng Tôi cũng được Giáo sư chấp thuận. Khi biết tin Tôi sắp sang Đài loan du học, gia đình, bạn bè và người thân của Tôi đều không đồng ý, vì hiện tại công việc và thu nhập của tôi rất tốt. Nhưng tất cả những thứ đó không làm cho Tôi từ bỏ được ý định, phải tìm ra câu trả lời cho tương lai sau này của chính mình. Thế là, Tôi tự thân một mình, khăn gói chuẩn bị sang xứ Đài Loan hoa lệ. Ngày đầu tiên Tôi đặt chân xuống sân bay Taoyuan, là một ngày mưa tầm tả, lạnh buốt, mọi thứ đối với Tôi đều xa lạ, Tôi không biết ai và tất cả cũng không biết Tôi. Không biết tiếng bản ngữ, không có điện thoại, không có bạn bè,…mọi thứ bắt đầu từ con số không, chỉ có một thứ duy nhất là niềm tin và hoài bảo mãnh liệt luôn là người bạn đồng hành cùng với Tôi trong thời gian này. Tôi bắt đầu tự xoay sở mọi thứ, thử thách đầu tiên của Tôi là phải tự tìm đường về Trường của mình, tự bắt xe và làm mọi thứ có thể….Khi Tôi đến được quầy bán vé, Tôi rất may mắn khi nhận được sự giúp đỡ nhiệt tình của Chị bán vé tàu, dù tiếng Anh của Chị không tốt lắm nhưng bằng hành động, Chị dẫn Tôi ra tận xe, đưa Tôi lên chỗ ngồi, rồi dặn dò bác tài xế gì đó…Nhìn nụ cười của Chị rất niềm nở, khiến cho bao suy nghĩ rối ren của Tôi tan biến hết, khóe mắt của Tôi bắt đầu cay cay, vì từ trước đến giờ, Tôi chưa bao giờ có được sự quan tâm như vậy ở Đất nước của Mình. Tôi không quên gửi lời cảm ơn chân thành đến Chị và chúc Chị luôn có nhiều sức khỏe. Ngồi trên xe hơn 5 giờ từ Taoyuan về Kaoshiung, Tôi suy nghĩ rất nhiều về đất nước Đài Loan xinh đẹp này, đang suy nghĩ mông lung, thì bác lái xe thông báo sắp đến trạm Kaoshiung và thử thách tiếp theo lại đến với Tôi, làm cách nào để về được Trường, trong khi Tôi chưa có sim điện thoại để liên lạc với Giáo sư, Tôi rất lúng túng không biết nên hỏi ai, vì đa số người dân không biết tiếng anh, đang loay hoay suy nghĩ cách, may mắn Tôi được một Cô lớn tuổi ngồi cạnh giúp đỡ, thấy Tôi có vẻ mặt đang cần sự giúp đỡ, Cô đến bên cạnh Tôi và nói câu gì đó, nhưng Tôi nghe không hiểu nghĩa là gì. Cô chỉ vào tờ giấy ở trên taycủa Tôi. Hiểu ý, Tôi đưa nó cho Cô, thế là Cô mỉm cười, Cô dùng điện thoại liên lạc về trường giúp Tôi. Sau cuộc gọi, Cô bảo Tôi xuống xe, theo Cô vào ghế ngồi chờ xe của Trường đến đón, ban đầu Tôi cũng có chút đắng đo, do dự vì không biết Cô là người tốt hay người xấu, ở Việt nam tình huống như vậy không hề có. Cô biết Tôi đang suy nghĩ gì, nên Cô gọi điện thoại một lần nữa về Trường của Tôi, và lúc này Tôi là người nói chuyện với văn phòng quốc tế của Trường. Lúc này, Tôi mới thật sự nhẹ nhỏm trong lòng về sự hoài nghi đó, tự nhiên Tôi cảm thấy có lỗi với Cô, vì Tôi có sự nghi ngờ vào lòng tốt của Cô đối với Tôi. Cô nhìn Tôi với vẻ mặt thông cảm, trìu mến, rồi dẫn Tôi vào phòng chờ xe của Trường đến đón. Hơn 20 phút, thì xe Trường đến, Cô mới bắt tuyến xe buýt quay ngược lại để về nhà. Trước khi lên xe buýt, Cô nhìn Tôi và nói câu gì đó rất dài, rồi bước lên xe đi về, Tôi chỉ kịp nói một câu cảm ơn Cô rất nhiều. Khi hỏi lại Anh ở văn phòng trường, lúc nãy Cô nói gì? Anh mỉm cười trả lời: Cô nói, Cô chúc em luôn vui vẻ, học thật tốt và tận hưởng khoảng thời gian ở Đài Loan này”. Về đến trường, điều đầu tiên khiến Tôi rất bất ngờ là kiến trúc của trường, rất cổ kính, rộng lớn và đường xá sạch sẽ.
Mọi thứ sắp xếp xong, Tôi vào văn phòng khoa để chào hỏi Giáo sư, hết bất ngờ này lại đến bất ngờ khác, ở Việt nam, muốn gặp Giáo sư rất khó, phải hẹn lịch gặp trước vài ngày, chưa chắc đã được gặp. Ngược lại với suy nghĩ của Tôi, Giáo sư ở đây rất ân cần và chu đáo, Giáo sư hỏi chuyện Tôi rất nhiều, đích thân Giáo sư dẫn Tôi về kí túc xá, sắp xếp phòng và lái xe chở Tôi đi mua những vật dụng cá nhân khác, Giáo sư lái xe chạy lòng vòng thành phố Kaoshiung, giới thiệu cho Tôi biết về thành phố và tập quán của người dân nơi đây. Khi vào trung tâm mua sắm, mua những thứ cần thiết xong, Giáo sư chở Tôi đi ăn và kể cho Tôi nghe rất nhiều chuyện, làm cho Tôi có cảm giác rất gần gũi và đánh tan sự lo lắng. Tôi cảm nhận như mình là một con người mới thật sự, Tôi đang rơi vào trạng thái không suy nghĩ, không biết là Tôi đang mơ hay đang tỉnh. Vì ở Việt nam, sự việc đang diễn ra như vậy là không thể. Tôi chưa bao giờ có được cảm giác hạnh phúc như lúc này. Ngày qua ngày, thời gian trôi qua nhanh thật, thắm thoắt đã gần 1 năm rồi, trong khoảng thời gian đó, Tôi học được rất nhiều từ Con người và Đất nước thân yêu này. Giáo sư, thì luôn xem Tôi như Con của ông, Ông dẫn Tôi đi nhiều nơi, tham quan nhiều địa điểm du lịch từ Đài bắc đến Đài nam, các Giáo sư khác cũng vậy, họ đều rất tốt với sinh viên, luôn tạo nhiều điều kiện cho sinh viên phát triển hết tiềm năng, chính phủ thì chu đáo, lo lắng cho người dân tất cả, từ giáo dục, cơ sở hạ tầng đến y tế, đặc biệt họ rất ưu ái cho những người kém may mắn, môi trường thì trong lành, người dân ở xung quanh trường thì hòa đồng vui vẻ, niềm nở. Tôi rất may mắn khi học tập, làm việc ở mái trường và Đất nước bình yên này. Nếu quay ngược lại dòng thời gian, cho Tôi một cơ hội lựa chọn lần nữa, chắc chắn Tôi sẽ chọn con người và đất nước Đài loan này làm quê hương thứ hai của mình.Tôi rút ra được một chân lý sống, lòng tốt sẽ luôn tồn tại, đánh bật những thói xấu xa của người đời. Chỉ cần chúng ta luôn tin tưởng vào cuộc sống và không ngừng làm những điều tốt đẹp, thì lòng tốt sẽ mãi hiện hữu trong cuộc đời này.
Cuộc sống chứa đựng quá nhiều thử thách và nghiệt ngã, và dường như đôi lúc chúng ta không đủ sức để vượt qua nó. Tôi không quan tâm bạn là ai, bạn tài giỏi như thế nào mà chỉ muốn biết bạn khao khát điều gì và có dám hành động để đạt được điều mình đang khao khát không? Một cánh cửa đóng lại thì sẽ có một cánh cửa khác mở ra cho cuộc đời bạn. Cuộc sống là một chuỗi dài những ngày tìm kiếm những điều mình mong muốn. Nhưng có rất nhiều người trong chúng ta rất sợ hành trình ấy quá nghiệt ngã và chứa đựng nhiều thách thức khiến chúng ta không dám mơ ước và thực hiện những mơ ước của mình.
Một lần nữa, Tôi rất cảm ơn những người bạn, người thầy, người anh, người chị ở quê hương thứ hai này, đã cho Tôi hiểu biết và cảm nhận nhiều hơn nữa thế nào là một cuộc sống đúng nghĩa của nó, biết yêu thương, giúp đỡ, hòa nhã và kỉ luật trong ý thức hệ với một con người mới có hai quê hương.

Đời cô

范鄭瑞綾 / Đời cô / Không / phối ngẫu quốc tịch nước ngoài Đời Cô Cuộc đời mỗi người giống như một quyển truyện dài, ta chỉ có thể lật xem cho đến trang viết ngày hôm nay, còn ngày mai giống như một câu hỏi mang nhiều đáp án vì mỗi người sẽ lí giải theo cách … Continue reading “Đời cô”

范鄭瑞綾 / Đời cô / Không / phối ngẫu quốc tịch nước ngoài

Đời Cô
Cuộc đời mỗi người giống như một quyển truyện dài, ta chỉ có thể lật xem cho đến trang viết ngày hôm nay, còn ngày mai giống như một câu hỏi mang nhiều đáp án vì mỗi người sẽ lí giải theo cách của riêng mình. Tôi đang kể lại câu chuyện đời cô, một người phụ nữ bé nhỏ nhưng mang trong mình sức sống mãnh liệt, cho dù bảo táp phong ba cũng không bao giờ gục ngã.
Tây Ninh là quê hương cô, hơn ba mươi tám năm về trước là một miền quê nghèo đầy nắng. Cô được sinh ra trong một gia đình đông con, có chín anh chị em, nên từ bé cô đã sớm quen với những nhọc nhằn vất vả. Vì muốn sớm có thể đỡ đần cha mẹ, mười lăm tuổi cô chấp nhận xa gia đình, xa làng quê để xuống Sài Gòn phụ việc cho tiệm bánh của người bà con xa. Nhờ sự nhanh nhẹn và thật thà cô được nhà chủ yêu mến lo cho ăn ở và cả nhu yếu phẩm, còn tất cả tiền lương cô đều gửi hết về phụ giúp gia đình. Rồi một năm trôi qua cô nàng bán bánh tròn mười sáu, da trắng môi hồng với nụ cười duyên đã làm rung động tâm hồn người lính trẻ. Mối tình đầu của họ đẹp và nên thơ qua những bức thư xa và những lần gặp mặt ngắn ngủi, những ngày tháng lãng mạn đó kéo dài suốt bốn năm cho đến ngày gia đình cô gặp biến cố lớn, ba cô bệnh nặng không tiền chữa trị, nợ chồng thêm nợ… cô đành gác lại tình cảm của mình. Bức thư cuối cùng anh gửi cho cô cũng là bức thư ngắn nhất mà anh từng viết [Anh hiểu… Hãy luôn mĩm cười em nhé vì em đẹp nhất khi em cười], cô bật khóc thành tiếng rồi nước mắt cứ rơi làm cho trang thư ấy cũng phải nhạt nhòa. Cô xếp tất cả thư tình vào thùng giấy và chôn nó xuống một cái hố thật sâu trong vườn sau nhà, giống như cô đang chôn chặt nổi đau sâu tận đáy tim mình. Cô lấy chồng xa, xa lắm…rồi cũng đến ngày cô làm thủ tục chuẩn bị xuất cảnh sang Đài Loan miệng cô nở nụ cười tươi vẫy tay chào những người thân và nói lời “tạm biệt”. Cô phải đi rồi, cô ra đi không phải vì mu cầu hạnh phúc cho chính mình, cô ra đi vì muốn mang lại hạnh phúc cho những người ở lại, những người thân yêu của cô.
Tôi ba mươi tuổi đã kết hôn hơn bốn năm, chồng tôi là người Đài Loan, tôi và anh quen nhau khi tôi vừa học đại học liên thông năm nhất, cô chính là chiếc cầu nối của chúng tôi. Sau khi tốt nghiệp đại học tôi theo anh về làm dâu trong một gia đình lớn, rồi không lâu sau tôi được làm mẹ của hai thiên thần nhỏ với số tuổi cách nhau khá gần và tất nhiên khi bắt đầu cuộc sống mới với những bất đồng về ngôn ngữ, văn hóa tôi cũng gặp phải không ít khó khăn. Vì thế tôi càng thấu hiểu sâu sắc hơn về những nhọc nhằn cô đã và đang phải đối mặt. Rất nhiều lần tôi thuyết phục cô cho phép tôi được chia sẽ về câu chuyện cuộc đời cô, và hôm nay cô đã đồng ý với điều kiện “viết mọi chyện một cách nhẹ nhàng thôi, vì những chuyện đã qua thì cho nó qua đi, dù sao cô cũng cảm ơn gia đình chồng cô, cô mới có được cơ hội qua Đài Loan để có thể chăm lo cho người thân của mình”. Không ít lần tôi đã khóc vì thương, vì cảm nhận được nổi đau, vì tôn trọng nghị lực sống và vì tôi là chứng nhân trong quá khứ và hiện tại của cô (ba tôi thứ hai còn cô thứ tám, cô là cô ruột của tôi).
Mười sáu năm trước lúc cô mới về nhà chồng ở khu Quan Điền thành phố Đài Nam thì gia đình và xã hội Đài Loan vẫn còn hà khắc đối với các cô dâu nước ngoài. Qua được hai ngày cô bắt đầu đi làm, tiền thì ba chồng cô giữ dùm, cô không gởi về Việt Nam được, cô đã khóc rất nhiều. Một ngày của cô bắt đầu từ năm giờ sáng và kết thúc khi đã quá nửa đêm. Cô làm những công việc có thể linh động thời gian như nhặt trứng vịt, rửa chén, hái ấu… vì còn chuẩn bị cơm nước ngày ba bữa, dọn dẹp nhà cửa, chăm sóc vườn rau, vườn cây trái khá rộng của gia đình… và chăm lo cho mẹ chồng vì mẹ chồng cô bị liệt gần ba mươi năm không làm bất cứ chuyện gì được. Ba chồng cô đã lớn tuổi, khó tính và tiết kiệm nhất vùng, ông nói một là một không được nói hai. Nhưng nhiều lúc cô cảm nhận được ông cũng thương và quan tâm đến cô, cô qua Đài Loan ngày 6 tháng 6, mỗi năm vào ngày này ông đều mua một cái bánh bông lan nhỏ cho cô và mua hai ly đậu hủ một ly cho má còn một ly cho cô, ông thì không ăn… Ông nói hôm nay là ngày sinh nhật của cô (vì trên giấy tờ không có ghi lại chính xác ngày sinh của cô).
Chồng cô rất hiền, thật thà và chăm chỉ với công việc của mình nhưng anh rất ít giao tiếp với thế giới bên ngoài, nên cô thay chồng gánh vát gia đình. Lấy chồng được bốn năm mà không sinh được con, nhiều người lời ra tiếng vào cô chịu nhiều áp lực lắm. Sau nhiều lần đi từ các bệnh viện lớn nhỏ, từ đông y đến tây y sau bốn năm thì cô sinh được một bé gái và bốn năm sau lại sinh được một bé trai. Cô cứ nghĩ hạnh phúc đang dần đến với mình… nhưng, con cô rất khó nuôi hai cháu đều chậm phát triển, cô đưa hai cháu đi bệnh viện huấn luyện gần sáu năm nay rồi. Có lần cô nói “Vừa đi làm vừa phải đưa rước, cơm nước, còn đi bệnh viện, nhiều lúc cô cảm thấy rất mệt mỏi, mệt mỏi cô sẽ vượt qua được, chỉ mong sao cho con cô được mạnh khỏe tròn vẹn như những đứa bé khác là cô vui rồi”.
Ba mẹ chồng lần lượt ra đi, bổn phận làm dâu cô đã trọn. Hai năm nay cô tranh thủ lúc đưa con đi huấn luyện thì đến lớp bổ túc ban đêm của trường tiểu học Tân Tiến – Tân Doanh để học chữ. Sáu tháng trước cô tham gia lớp huấn luyện nấu ăn do chính phủ tổ chức và sau đó đăng ký thi lấy bằng đầu bếp sơ cấp. Cô được nhận vào làm bếp chính cho một trường mẫu giáo nhưng vì còn đưa rước các con mình nên cô chỉ nhận làm phụ bếp bán thời gian trong căng tin của trường Đại Học Nghệ Thuật Đài Nam.
Tôi biết cô tôi cũng giống như bao người phụ nữ khác, cũng có lúc yếu mềm cần được chở che. Khi gặp phải những chướng ngại trong cuộc đời cô cũng đã khóc đến nhòa cả mắt, cũng đã từng than trách cuộc đời đã quá bất công với mình, nhưng sau những phút giây đó cô đã ngẩng đầu cười thật xinh tươi. Trong cô luôn tràn đầy nguồn năng lượng sống và một sự kiên trì bền vững với thời gian. Cô sống rất chân thành và luôn sẳn sàng giúp đỡ người khác nếu nó nằm trong khả năng của mình, nên anh chị em chồng hết lòng yêu mến, nên bên cạnh cô luôn có những người bạn tốt có Việt có Đài và những cả người bạn đến từ các quốc gia khác, luôn động viên cô để cô vững bước trên con đường còn dài và còn nhiều chông gai. Và tôi chắc rằng khắp nơi trên mọi miền đất nước vẫn còn nhiều nghị lực sống kiên cường, luôn nổ lực vươn lên số phận với niềm tin vào ngày mai sẽ tốt đẹp hơn.
Bánh xe cuộc đời thì vẫn mãi lăn, người sống trên đời vẫn nên tiến về phía trước. Câu chuyện đời cô vẫn chưa có hồi kết, nhưng tôi luôn hy vọng điều kỳ diệu sẽ đến với gia đình cô và đến với tất cả những ai đang không ngừng cố gắng như những câu truyện cổ ngày xưa.
“ Để những ai nhìn đời toàn gai góc
Còn cơ may trông thấy được hoa hồng.”
(Let those who only see the thorns have eyes to see the rose – thơ Rabindranath )
P/S: Mỗi người trong chúng ta đều có câu chuyện của đời mình, và tôi cũng vậy.

Caretaker

Annie / Caretaker / Wala / dayuhang manggagawa Ikalawang taon ng pakikipagsapalaran at ikalawang taon ng pagsasalaysay ng aking karanasan bilang dayuhang manggagawa ng Taiwan. Ang dami ng bagong pangyayare,nanalo n c Tsai Ying-wen bilang unang babaeng pangulo ng Taiwan at nanalo na din c Duterte bilang may kamay na bakal na pangulo ng Pilipinas. Hindi ito ngaun … Continue reading “Caretaker”

Annie / Caretaker / Wala / dayuhang manggagawa

Ikalawang taon ng pakikipagsapalaran at ikalawang taon ng pagsasalaysay ng aking karanasan bilang dayuhang manggagawa ng Taiwan. Ang dami ng bagong pangyayare,nanalo n c Tsai Ying-wen bilang unang babaeng pangulo ng Taiwan at nanalo na din c Duterte bilang may kamay na bakal na pangulo ng Pilipinas. Hindi ito ngaun tungkol ngayon sa alaga ko o sa amo ko. Ibabagi ko naman ngayon ang kwento ng buhay ko sa labas ng trabaho. Linggo May 2,2016 isang malungkot na panahon na tila ba nagdadamot na sumilay ang haring araw. Dalawang buwan ang hinihintay ko upang makapag day off,tama po 2 buwan. Swerte na ako kasi yong iba wala day off sa gaya kong caretaker. Espesyal na araw dahil makakasama ko na muli ang aking asawa sa pamamasyal,sa pagkain at 8 oras na kwentuhan. Isang nkakapagod na buong araw. Oras na ng pamamaalam sa isat isa. Napawi na naman ang tamis na ngiti sa aking labi. Nag aabang na ako ng tren pauwi sa Taoyuan. Rush hour kya madami pasahero. Swerte ko nmn kasi nakaupo pa ako. Pagtingin ko sa bandang pinto may lolo na nkatayo. Tinawag ko sya at ibinigay ang nireserba kong upuan. Turo kasi plagi sa subject na GMRC (Good Moral and Right Conduct) simula primary hanggang secondary na bigyan priority ang matatanda bata at buntis. Nagulat si lolo,walang pagsidlan kaligayahan nya sa mukha. Tinanong nya agad ako bakit ko binigay upuan ko. Bakit hindi diba? Nagkakwentuhan kami,sa edad nyang 89 humanga ako sa lakas ng tuhod nya,pandinig at pinaka importante, fluent si lolo sa English. Mr. Lee Liu (yan yong unawa ko sa name nya) salamat sa masarap na kwentuhan. Di ko po makontak binigay nyo saken na cp no. Gusto ko po matuloy invitation nyo n dinner sa bahay nyo na sabi nyo po bilang pasasalamat sa munti kong ngawa. Pero paano? Sana po magka himala na magkita uli tau. Kahit ako na ang magluto pra sa inyo. Ingat po palagi lolo.

Gia đình

Chip Dao / Gia đình / không / sinh viên Gia đình là nơi dừng chân của những nỗi buồn trong tôi, nâng đỡ tôi mỗi khi vấp ngã và để lại trong tôi biết bao kỉ niệm buồn vui lẫn lộn. Ôi! Tôi yêu sao cái gia đình bé nhỏ mà ấm áp tình thương, nơi có … Continue reading “Gia đình”

Chip Dao / Gia đình / không / sinh viên

Gia đình là nơi dừng chân của những nỗi buồn trong tôi, nâng đỡ tôi mỗi khi vấp ngã và để lại trong tôi biết bao kỉ niệm buồn vui lẫn lộn. Ôi! Tôi yêu sao cái gia đình bé nhỏ mà ấm áp tình thương, nơi có những người thân tôi yêu quý nhất!
Bà tôi đã già lắm rồi, tóc bà bạc trắng, lưng hơi còng. Bà phúc hậu và có lắm những câu chuyện đời xưa kế suốt một đêm không hết. Phải nói ở bà là một kho vô tận những câu chuyện hồi đó và những câu đố. “Ngày xửa ngày xưa…”… vậy là tất cả bỗng nhiên đổi khác, tất cả bỗng nhiên trở nên thật huyền diệu: cô gái lặng lẽ xé vỏ thị bước ra; con chim phượng hoàng biết nói tiếng người tìm đến cây khế của chàng trai nghèo; người đàn bà chờ chồng hóa đá. Rồi: “cây gì đầu rồng đuôi phượng le le, mùa xuân ấp trứng mùa hè đẻ con?”… Cứ thế, trí tưởng tượng của tôi như được thêu dệt, đầu óc được kích thích đến nỗi đêm nằm xuống, những câu chuyện của bà cứ chập chờn trong giấc ngủ, lảng vảng trong đầu óc non nớt của tôi. Bà tiên trong câu chuyện cổ tích cũng chính là bà tôi – bà tiên áo vá, chân trần, ngửa vạt áo cho trái thị thơm tho rơi xuống… Con yêu bà lắm bà ngoại ơi, bà tiên trong chuyện cổ tích của con.
Đôi mắt của tôi luôn sáng lên khi nghe bố giảng bài. Từ bố, tôi hiểu được sâu sắc từng ý nghĩa, nội dung trong mỗi bài toán, nhờ đó mà tôi học toán khá hơn. Bố cùng tôi học tập, cùng tôi vui chơi, những buổi chiều đầy nắng và gió, bố cùng tôi đi thả diều, cùng tung tăng chạy nhảy lên đám cỏ, rồi bố cùng tôi khua chân dưới nước… Những kỉ niệm đẹp ấy tưởng chừng như sẽ phai nhạt theo bước đi lạnh lùng của thời gian, vậy nhưng tôi vẫn nhớ mãi. Bố cùng tôi luyện chữ, bao khó khăn tôi luôn vượt qua được nhờ có bố luôn ở bên để động viên, giúp đỡ. Khi tôi chán nản trước những con chứ cần rèn, tôi muốn xé tan từng trang giấy, thì hình ảnh bố với mái tóc đã lấm tấm sợi bạc, đôi mắt trũng sâu vì đêm ngày lo lắng lại hiện lên. Hình ảnh bố âm thầm, lặng lẽ, vất vẻ một nắng hai sương lại hiện lên. Cảnh vật xung quanh tôi hình như đang nhòa đi, giọt nước mắt hối hận lăn đều trên má. Rồi tôi lại ngồi xuống, tập nắn nót từng nét chữ. Lúc này, bố lại xuất hiện, như con tim bố nối tim tôi, bố biết và hiểu được những gì tôi đang nghĩ. Đến bên tôi, bố cười trìu mến rồi bảo: “Con đừng buồn, đừng nhụt chí, hãy kiên trì và phải cố lên vì ở bên con luôn có bà, bố mẹ, chị và dưới con còn em nữa mà!”. Ôi! Mắt của tôi lại nhòa rồi! Cho đến giờ, khi nhớ lại, tôi vẫn còn nghe văng vẳng bên tai lời động viên ngày nào của bố. Con cảm ơn bố nhiều lắm, nhờ bố con mới có đủ cam đảm để là con của ngày hôm nay.
Mẹ tôi sinh ra từ một vùng quê nghèo nhỏ bé. Tuy mẹ tôi nghèo chữ nhưng lại rất giàu những câu ca, những bài thơ và những câu chuyện cổ tích. Mỗi trưa hè nắng cháy, trên chiếc võng Trường Sơn của bố, tôi mơ màng nghe tiếng mẹ ru:
“Thuở còn thơ ngày hai buổi đến trường
Yêu quê hương qua từng trang sách nhỏ
Ai bảo chăn trâu là khổ?
Tôi mơ màng nghe chim hót trên cao…”
Rồi:
“Bà Trưng quê ở Châu Phong
Giận người tham bạo, thù chồng chẳng quên
Chị em nặng một lời nguyền
Phất cờ nương tử thay quyền tướng quân..”
Những câu thơ bình dị, dân dã ấy sao cứ đọng mãi trong lòng tôi, có lẽ vì nó là câu hát ru quen thuộc năm nào của mẹ:
“Giã ơn cái cối cái chày
Nửa đêm gà gáy có mày có tao
Giã ơn cái cọc bờ ao
Nửa đêm gà gáy có tao có mày”
Lời ru đượm buồn của mẹ cất lên từ cái nhà đất có tiếng thạch sung chép miệng, có tiếng gió đầu hồi làm cho trái tim non nớt của tôi nhận ra vị đắng cay của cuộc đời đi ở. Tuy chưa hiểu hết ý nghĩa của câu ca, nhưng tôi thấy nó thật gần gũi. Và
“Vui từ trong ngõ vui ra
Buồn từ ngã bảy, ngã ba buồn về”
Sao vậy? Đây có phải là tâm sự của một người không gặp may trong cuộc đười, một trái tim thất vọng, một nỗi niềm uẩn khúc? Mẹ chỉ đọc một lần là tôi thuộc ngay, thuộc rồi cứ một mình đọc đi đọc lại mãi, rồi tự nhiên hiểu ra cái ấm ức, cái ngậm ngùi trong lời ca ấy. Những câu ca như là những viên ngọc, và có biết bao nhiêu là viên ngọc như thế ở trên đời?
“Chàng buồn chàng có thờ than
Em buồn như thể nén nhang lụi dần
Có bát sứ, tình phụ bát đàn
Nâng niu bát sứ vỡ tan có ngày…”
Mỗi câu ca là một chuyện đời, một trái tim đang thổ lộ, giãi bày thổn thức. Tôi nhận được từ mẹ sự giáo dục yêu văn học… Ba chữ “ yêu văn học” hình thành trong tôi như có sự ảnh hưởng rất đặc biệt từ mẹ vô hạn, tôi thấy trong cái khiếu văn học của mình dường như có sự vun vén đầy ưu ái của mẹ. Mẹ là tia nắng ấm áp soi sáng tâm hồn con. Mẹ là ngọn gió hiu hiu mỗi trưa hè nắng gắt. Mẹ là ngọn lửa hồng sưởi ấm cho trái tim con mỗi khi thời tiết chuyển mình, thay chiếc áo mùa đông lạnh lẽo.
Tôi thật may mắn khi có được người chị gái mê đọc truyện, hơn nữa lại rất thích kể lại những gì mình thích thú cho em gái mình. Vào mỗi buổi tối, sau khi đã đọc và làm bài tập xong xuôi, chị vẫn thường kể cho tôi nghe truyện “Tắt đèn”, truyện “Dế mèn phiêu lưu kí”, “Truyện Kiều”… Cậu chuyện làm tôi xúc động vô cùng, nhiều lần ngồi nghe mà tôi chảy cả nước mắt. Tôi thích thú và say mê đến độ sau đó chép lại những câu chuyện đã được nghe vào cuốn số tay nhỏ. Ham nghe kể chuyện, tôi còn rất ham đọc sách. Tôi đọc sách đến quên ăn, quên ngủ. Thấy vậy, chị bảo: “Ham đọc sách là rất tốt, nhưng đọc nhồi nhét, đọc ngấu nghiến thì lại phản tác dụng. Em phải biết cách đọc, đọc thong thả, đọc chăm chú và quan trọng là em phải biết thưởng thức cái hay không chỉ ở trong cốt chuyện mà còn ở cả lời văn, ý nghĩa nữa”. Thế là từ đó, tôi đọc sách vẫn nhiều nhưng đã đọc thong thả hơn, có giờ giấc hơn và tôi đã biết cách thưởng thức cái hay trong từng lời văn, câu chữ. Ngoài ra, chị cũng là một tấm gương sáng, đáng để tôi soi vào. Buổi sáng chị đi học ở trường, còn chiều về chị luôn cố sắp xếp thời gian đi làm thêm để kiếm ít thu nhập, trang trải cho việc học tập, đỡ đần cho gia đình một khoản chi tiêu. Chị luôn dạy tôi rằng: “Phải biết sống tự lập, nỗ lực vào bản thân, bởi mai này ra ngoài xã hội, chỉ có một mình và em có thể vấp ngã bất cứ lúc nào. Đường đời đầy rẫy những chông gai, thử thách buộc em phải tự đối đầu trong mọi hoàn cảnh. Em phải luôn chuẩn bị cho mình một cái đầu lạnh, một trái tim nóngbỏng sôi sục nhiệt huyết và một tâm lí vững vàng, … để sẵn sang vượt qua chúng”.
Nguồn động viên tinh thần lớn nhất cho tôi chính là cậu em trai bướng bỉnh. Dù còn khá nhỏ tuổi, và lại là con trai, nhưng dường như “cậu út” khá là tâm lý. Khi tôi buồn, nó luôn đến bên hỏi han này nọ, rồi an ủi, động viên tôi, không thì lại làm trò khiến tôi phải cười mới thôi. Khi tôi vui, nó cũng vui theo, nó còn hát rồi trò chuyện cùng tôi nữa kìa… Tuy vậy, bản năng của “một thằng con trai” trong nó vẫn không mất đi. Nó vẫn thường hay đi bắt châu chấu, bắt gián hay thạch thùng về, và xem nó như là một thú vui…Nhiều khi tôi và nó là hai đứa út nên hay cãi nhau lắm. Chỉ từ một chuyện nhỏ xíu xìu xiu như con kiến giàng co qua lại, tôi không nhường nó, nó không nghe tôi… Vậy là hai chị em lại cãi nhau ầm ĩ hết lên. Thế nhưng dù thế đi chăng nữa, tình cảm giữa hai chị em tôi vẫn không hề rạn nứt, tôi vẫn yêu quý em trai tôi nhất!
Quên gia đình ư? Không, tôi không bao giờ có thể quên được người bà phúc hậu kể chuyện ngày xưa cho tôi nghe vào mỗi buổi tối, người bố, người mẹ sinh ra và chăm sóc, nuôi nấng tôi bao tháng ngày, người chị luôn chia sẻ kỉ niệm vui buồn, chỉ dạy tội những kinh nghiệm quý báu và người em luôn tạo cho tôi tiếng cười…
“Công cha như núi ngất trời
Nghĩa mẹ như nước ngời ngời biển Đông”
Vâng, thật vậy và cho đến bây giờ tôi mới thấm thía câu da dao giản dị mà chưa chan lời ca ngợi công ơn của bố mẹ. Dù rằng hiện tại tôi chỉ có một thân một mình trên đất Đài Loan và những câu chuyện gia đình đó hiện trong tôi chỉ còn là những dòng hồi ức vô giá. Thế nhưng bất kể khi nào tôi cần, gia đình luôn kịp thời bên cạnh và là chỗ dựa vững trãi, vực dậy tinh thần cho tôi. Cả nhà ơi! Cả nhà hãy luôn sống vui vẻ, mạnh khỏe mãi bên con, dắt tay con và nâng đỡ con trên đường đời đầy chông gai này nhé. Cuộc sống có mệt mỏi thăng trầm khó khăn, chỉ cần có mọi người ở bên, đối với con thế là đủ rồi. Con yêu cả nhà nhất trên đời!

My Journey in Formosa

Nyofitri nova / My Journey in Formosa / Tidak ada / tenaga kerja asing MyJourney in Formosa Formosa,kata ini sangat lekat denganku selama enam tahun terakhir banyak hal yang kulalui dari pertama aku menjejaki bumimu hingga sekarang,yah…lebih tepatnya kaulah yang mengajariku segala hal dari hal yang putih sampai hitam, kau termasuk penyumbang terbesar dari kedewasaanku sekarang.Tapi aku rasa … Continue reading “My Journey in Formosa”

Nyofitri nova / My Journey in Formosa / Tidak ada / tenaga kerja asing

MyJourney in Formosa

Formosa,kata ini sangat lekat denganku selama enam tahun terakhir banyak hal yang kulalui dari pertama aku menjejaki bumimu hingga sekarang,yah…lebih tepatnya kaulah yang mengajariku segala hal dari hal yang putih sampai hitam, kau termasuk penyumbang terbesar dari kedewasaanku sekarang.Tapi aku rasa kata tersebut masih terisi setengah dalam Tubuhku dan aku pasti berusaha menjadi lebih baik.

Kenalkan namaku “Nyofitri Nova Dian Bayu Rezeza”wiuhhh panjang banget panggil saja aku”Nyoo” anak ketiga dari enam bersaudara dari umur dua bulan aku diasuh oleh kakek nenekku,mereka mendidiku dengan cara main pukul tapi aku tidak pernah menyesal di didik oleh beliau bahkan aku sangat berterima kasih atas semua pengorbanan beliau yang berjuang keras menyekolahkan kami bersaudara hingga tamat SMA,hingga harta mereka habis,sebenarnya waktu beliau dikejar-kejar penagih hutang bank hatiku sangat sakit, dalam diam,ku hanya bisa menangis tapi apa daya waktu itu aku masih sekolah,perjuangan mereka memang benar-benar membuatku makin sayang pada beliau.2009 lulus SMA aku sudah terpikir untuk kerja ke taiwan,karna aku tidak punya uang sama sekali maka aku berkerja selama dua bulan dibali setelah itu berangkat kejakarta untuk proses kerja di taiwan,tiga bulan lamanya akhirnya ku pijakkan kaki ku di bumi taiwan tepatnya tanggal 28 January 2010, di daerah chiayi bekerja menjaga ama 80 tahun,di tempat itulah cikal bakal aku mahir bahasa thai karna mayoritas orang disana berbahasa thai,well…aku yang selama dipenampungan belajar bahasa mandarin tidak begitu kepakek karna ama tidak bisa bahasa mandarin,untung saja ada akong yang bisa bahasa mandarin dengan logat thai nya hehe, dari beliau lah jika ada kata ama yang tidak mengerti,aku minta untuk di translate ke mandarin,meski mandarinku waktu itu masih terbatas tapi ya….emmm bisa lah untuk percakapan sehari hari,kerja di keluarga ini selam tiga tahun aku tidak pernah libur sama sekali.Jenuh,bosan,kesepian,adalah hal yang selalu kulahap setiap hari,untung saja mereka membebaskanku menonton tv dari sini aku mulai bisa belajar bahasa thai dan bisa sedikit membaca aksara cina ,karna akong selalu nonton sinetron berbahasa thai lama kelamaan aku mengerti apa yang ama,akong,dan orang sekitar bicarakan. Meski merasa sangat bosan,flat,terpenjara dengan kerjaanku tapi akong begitu baik padaku beliau selalu membagi makannanya denganku,tiba akhirnya aku pulang keindonesia hal yang tak terduga adalah akong menangis saat aku berpamitan dengannya dan kata yang membuatku menangis “我把你當我的家人了”ohh akong atas segala kemurahan hatimu semoga beliau panjang umur sehat selalu.
Setelah pulang,selang setengah tahun aku kerja ketaiwan lagi,kali ini aku menjaga ama berumur 70 tahun beliau kelihatannya masih sehat ternyata setelah beberapa bulan tinggal dengannya aku baru tau kalau beliau mengidap penyakit kanker,bekerja dengannya aku sungguh mendapatkan perlakuan yang tidak baik,ama seorang yang terlalu hemat (super pelit),perfectionist,dari ujung rambut sampai kaki selalu menjadi omelanya,cara berjalan,berpakian,produk sehari-hari yang aku pakai pun diurusnya tidak jarang aku selalu perang mulut dengannya sungguh benar-benar tidak kuat,disaat itu aku mengutarakan untuk pindah majikan dan anak ama bilang”kamu harus kuat ama emang begitu orangnya kami pun tidak kuat olehnya”katanya menenangkanku,aku selalu di buatnya menangis, aku tidak di perbolehkan libur,selalu banyak alasan saat aku minta izin libur,senang sekali membicarakan hal-hal yang jelek tentangku seolah-olah aku adalah orang yang benar buruk adanya.
“TUHAN AKU SUDAH TIDAK KUAT”
Menginjak tahun kedua penyakit ama semakin hari semakin parah hingga akhirnya beliau meninggal disaat Itu aku kaget,menangis,tidak karuan tapi dalam hati kecil aku bahagia tuhan ternyata merencanakan hal yang lebih indah dari yang direncanakan mahluknya kenapa aku bilang begitu,setalah 25hari mencari majikan,aku memperoleh pekerjaan yang 180 derajat kebalikan dari yang selama ini aku bekerja,menjaga AI yang baru saja terkena stroke beliau bernama “謝瑞竹” beliau sangat baik padaku mereka sekeluarga memanggapku seperti keluarga sendiri, aku baru merasakan yang namanya kehangatan keluarga,disini aku diperbolehkan libur1 -2 kali dalam sebulan,bebas melakukan hal apapun yang aku mau asal pekerjaan ku terselesaikan,kerja ku disini tidak berat,mengatar Ai fu chien,masak bersih-bersih pun tidak tiap hari,aku sangat bahagia
Dari keluarga inilah aku mengerti indahnya negeri formosa,karna disaat aku libur pasti aku sempatkan untuk berwisata, dan kalau tidak aku pasti ikut les belajar nulis mandarin,ikut komunitas belajar bersama ditaiwan sungguh hari liburku penuh warna dan kegiatan positive.
Sampai sekarang aku masih bekerja menjaga Ai terimakasih Tuhan Engkau adalah sebaik baiknya tempatku meminta