Buah Ketulusan

Asih Aspalia / Buah Ketulusan / tidak ada / tenaga kerja asing Brak … ember berwarna hijau yang berisi air hangat itu jatuh bebas ke lantai. Tumpahan airpun sebagaian membasahi seprei. ” Huh … aku bisa mati kedinginan jika dimandikan perawat Indonesia yang kerjanya lamban ini!” Omel pepe dengan suara lantang membahana. Nyonya Pin Pin istrinya, segera mendekatinya … Continue reading “Buah Ketulusan”

Asih Aspalia / Buah Ketulusan / tidak ada / tenaga kerja asing

Brak … ember berwarna hijau yang berisi air hangat itu jatuh bebas ke lantai. Tumpahan airpun sebagaian membasahi seprei.
” Huh … aku bisa mati kedinginan jika dimandikan perawat Indonesia yang kerjanya lamban ini!” Omel pepe dengan suara lantang membahana. Nyonya Pin Pin istrinya, segera mendekatinya dan berusaha menghentikan omelanya. Sementara Achen Siaoce wanita asal China daratan , yang selama ini merawatnya, segera mengambil handuk besar untuk menutupi tubuh pepe yang tidak pakai baju.
Saat itu hari kedua aku kerja. Kemarin pagi aku dibawa agency ke rumah sakit terbesar di kota Taipei, dengan tugas merawat laki – laki berusia 60 taun yang minta aku panggil pepe. Pepe lumpuh total akibat sakit kanker prostatnya. Menurut cerita nyonya, pepe lumpuh setelah menjalani oprasi pemindahan pelir kencingnya ke pinggang sebelah kirinya. Dan kepalanya botak akibat kemoterapi dan radioterapi yang dilakukan pasca oprasi.
Achen Siaoce sejak aku datang, mengajariku cara merawat pepe. Dan di hari kedua, aku harus memraktikkannya. Namun rupanya pepe tak menyukaiku.
Walaupun aku telah berusaha maksimal untuk melaksanakan tugas sesuai yang diajarkan Achen Siaoce, nyatanya selalu menuai caci maki.
Seperti yang baru saja terjadi. Aku memraktikkan mengelap tubuh pepe. Walaupun aku telah berusaha mengerjakan secepat mungkn, nyatanya tetap dinilai lamban.
Aku masih berusaha sabar dan tabah. Mungkin karena masih awal, kuanggap pepe mengujiku saja. Namun kesabaranku rasanya semakin menipis, kala sepekan telah berlalu, sifat pepe semakin tidak bersahabat padaku.
Bahkan berulang kali kudengar, dia meminta pada istrinya untuk mengembalikan aku ke agency. Sedih memang kurasakan, namun suara Emy agencyku yang selalu memecut semangatku, tiap kali kutelpon, seakan suplemen yang menyegarkan kembali semangatku yang hampir layu.
Ditambah rasa takutku harus pulang tanpa kesuksesan, yang akan melahirkan masalah berat ketika berada di kampung kelahiran sana.
Aku hanyalah seorang janda miskin yang butuh uang untuk biaya sekolah kedua putriku yang ditelantarkan ayahnya ya mantan suamiku.
Dan keberangkatanku ke negeri Formosa ini tidaklah gratis. Dengan sangat terpaksa aku pinjam tiga ekor kambing bibiku yang punya penyakit syaraf yang akut. Jika aku tidak bisa secepatnya mengembalikan, kemungkinan akan memperparah penyakit bibiku yang hidupnya tergantung obat- obatan itu.
*****
Dua pekan telah berlalu. Sikap pepe masih tiada berubah. Tiap saat, tiap hari, caci makinya menggaung di telingaku. Ember berisi air masih sering jatuh kena sambaran tangannya.
Bahkan ketika kupotong kukunya, dia teriak lantang bilang aku telah memotong jemarinya. Belum lagi teriakkanya tiap malam, yang katanya merasa kesakitan tiap tiga jam sekali kukasih balik badan.
Meski jantungku berdebar penuh ketakutan tiap kali hendak memulai melakukan tugasku, Achen Siouce tetap memenuhi pesan Nyonya Pin Pin, agar aku tetap mengerjakan tugasku dalam pengawasan Achen Siaoce. Kuhibur diriku, dengan teriakan hati,” Wo iting cuo te tau, aku pasti bisa!” setiap kali putus asa merayuku.
Tepat dua puluh hari aku kerja, hari raya imlek tiba. Achen Siaoce harus cuti untuk merayakan imlek bersama keluarganya. Karena dia bersuamikan orang Taiwan. Dan kesempatan itulah ingin kugunakan sebaik-baiknya, untuk merealisasikan kalimat yang bergema di hatiku, yaitu,” Aku pasti bisa!” Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa menunaikan kerjaanku.
Malam pertama aku sendirian menjaga pepe dikamar nomer 9 itu, ujian berat telah datang. Pepe yang sudah tiga hari tidak buang air besar, malam itu pukul 20.00, tepat satu jam setelah kepergian Achen Siauce, pepe buang air besar bercampur darah kental dalam jumlah yang banyak.
Berulang kali bel kupencet untuk memanggil perawat. Tapi tak satupun perawat muncul. Mungkin mereka sibuk mengurus pasien lain. Apalagi malam hari, jumlah perawat lebih sedikit, dan harus mengurus puluhan pasien yang semuanya menderita kanker ganas. Sementara luka membusuk di pantat pepe, akibat dari kurangnya balik badan, di kala dijaga orang China sebelum Achen, harus cepat diganti perban dan obatnya.
Dalam keadaan setengah bingung, aku memutar otakku sendiri. Sementara menunggu suster datang, aku lepas perban yang membalut pantat pepe yang dipenuhi luka bernanah. Karena aku takut perban yang berlepotan kotoran dan darah itu, akan memperparah lukanya. Namun, baru saja kulepas perbannya, darah kental kembali keluar lebih banyak, dan mengotori luka di pantat pepe. Kucoba lagi memencet bel. Kali ini, ada suster yang datang.
Dia menyuruhku membersihkan darah itu. Berdasarkan pengalaman dari merawat pasien yang dulu, ku sengaja menampung darah itu di plastik, dan aku taruh di tong sampah yang ada di dalam kamar. Waktu suster mengganti obat, kuberanikan diri menyatakan keinginanku.
“Siaoce, sudikah anda mengajariku cara mengganti obat dan perban, agar bila suster repot, aku bisa menggantikan sendiri.”
” Boleh sekali, sekarang juga aku ajari kamu.” Ucapnya sambil langsung mengajariku. Dimulai memperkenalkan alat alatnya, dengan kalimat pelan, dia dengan senang hati mengajariku. Aku catat semua di memori otakku.
Belum sampai lima belas menit suster berlalu, pepe kembali berak darah. Berlandasan pelajaran yang aku dapatkan dari suster tadi, aku praktikkan cara mengganti perban dan obat. Aku sempat terheran heran, pepe tidak lagi teriak mencaci makiku meskipun aku bolak -balik badannya. Bahkan dengan kata kata lembut dia bertanya padaku.
” Apa aku berak, Asih? Gimana beraknya, baik baik saja kan?” tanyanya.
Dia memang telah mati rasa di area pinggang ke bawah. Makanya tidak merasakan sakit dipantatnya, meski dipenuhi luka bernanah dan berdarah.
“Ya benar pepe, pepe berak banyak sekali, mungkin karena sudah tiga hari pepe tidak berak. Tenang saja, beraknya bagus kok, tidak ada masalah.” Aku sengaja tidak memberitahu tentang berak darahnya, agar dia tidak ketakutan, yang akan memperburuk kesehatanya.
Setelah, aku bersihkan semua , Dan pepe tertidur, aku pergi ke kantor suster, memberitahukan tentang pepe yang berak darah terus menerus. Ketika kembali ke kamar, pepe ternyata berak lagi, kuganti lagi obatnya, begitu seterusnya, sampai pukul 24. 00. Bahkan aku sampai belum sempat makan malam. Tepat pukul 24.15, dokter jaga datang memeriksa.
Untung aku tampung berak darahnya diplastik, dan belum aku buang di tempat sampah yang ada diluar kamar. Karena benar dugaanku, dokter ingin lihat darah itu. Yang pasti, meski berat kerjaanku, aku merasa lega, bisa mencairkan hati pepe yang selama ini keras padaku.
Pagi itu, tidak seperti pagi pagi sebelumnya, yang selalu pasang muka masam dan penuh kebencian padaku. Kulihat pepe tersenyum padaku, dan ini senyum pertama untukku. Bahkan ketika aku terapi kakinya, dia mulai bertanya tentang aku, dan dengan senang hati aku bercerita tentang keluargaku, tentang Indonesiaku, juga tentang pengalamanku kerja di Taiwan. Bahkan pepe bisa tertawa terbahak – bahak ketika aku bercerita tentang pengalamanku yang lucu.
Nyonya Pin pin, istri pepe yang baru saja datang, langsung bertanya pada pepe, sebagai bentuk rasa ragu, aku mampu menjaga pepe tanpa Achien Siaoce apa tidak? Suster yang sedang memeriksa tekanan darah pepe, langsung memberi jawaban atas keraguan Nyonya Pin Pin. “Jangan khawatir Nyonya, tadi malam aku lihat sendiri, Asih begitu baik menjaga tuan.” Meski masih memendam ragu, Nyonya Pin Pin, mengucapkan terima kasih padaku.
******
Hari berganti hari, kulewati dengan suasana yang berbeda dibanding saat baru datang atau tepatnya saat ada Achen Siaoce. Pepe semakin baik padaku, yang membuat semangat kerjaku semakin meningkat pula. Adik dan kakak- kakak pepe, menilai aku lebih baik menjaga pepe dibanding Achen. Karena melihat raut muka pepe yang lebih bahagia dan juga luka dipantatnya yang mulai kering, karena ketlatenanku mengganti obat dan balik badan. Setiap malam menjelang tidur, pepe bercerita sambil berselancar di dunia maya menggunakan laptop toshibanya.
Tiada terasa, dua pekan berlalu. Achen Siaoce telah mengakhiri masa cutinya. Pagi itu, dia kembali. Namun malamnya, dia berkemas, dan bilang padaku, esuk dia sudah tidak merawat pepe lagi. “Apa, siaoce tidak suka kerja merawat pepe lagi?” tanyaku, sambil melihat Achen Siauce yang mengemasi barangnya yang ada di lemari. “Aku suka menjaga pepe. Tapi aku juga tak kuasa menolak, ketika Nyonya Pin pin, memintaku berhenti. Kamu sudah mampu menjaga pepe, jadi rugi kan, jika harus mempekerjakan aku juga?” Achen Siaoce memberitahu aku alasan dia berhenti bekerja. Kulihat raut mukanya bermendung kekecewaan.
Dengan berhentinya Achen Siaoce, maka sejak saat itu, aku resmi merawat pepe sendirian. Meski kerjaanku merawat pepe yang penyakitnya sudah parah, bukanlah pekerjaan yang ringan, namun karena kebaikan pepe dan keluarganya, aku merasa tidaklah berat. Setiap kerjaan yang kulakukan, bukan saja karena uang semata. Tapi juga terdorong rasa ingin membantu juga mencari pengalaman baru yang bermanfaat.
*****
“Selamat pagi Dokter,” sapaku pada Dokter Lee. Laki-laki setengah baya berbadan tinggi tegap dan berkaca mata tebal itu tersenyum manis padaku. Dialah yang selama ini menangani pepe. .
“Selamat pagi Asih, ” jawabnya ramah sekali. Pelan- pelan aku bangunkan pepe yang tidur pulas setelah aku suapi sarapan pagi tadi.
‘’Pepe bangun! Dokter datang melihatmu,’’ bisikku di telinga pepe yang bersih, karena tiap hari aku bersihkan dengan cotton bud, sambil menggoyangkan tubuhnya dengan halus. Perlahan mata pepe terbuka, bibirnya langsung mengulas senyum begitu melihat Dokter Lee.
“Selamat pagi Ddokter Lee,’’ ujar pepe pelan nyaris tak berbunyi.
“Selamat pagi Tuan Chen, gimana keadaan hari ini, ada perkembangan tidak?” Dokter spesialis kanker itu membuka selimut yang menutupi tubuh pepe, dan memeriksa tubuh pepe, dari ujung kaki hingga kepala.
Pepe diam. Mulutnya bergerak untuk bicara, tapi tak terdengar suaranya.
“Asih, nyonya belum datang ya?” tanya dokter menanyakan Nyonya Pin Pin. “Belum dokter, mungkin sebentar lagi datang,’’ jawabku, sambil mengambil buku laporan yang akan kupergunakan sebagai referensi jawaban atas pertanyaan dokter yang setiap hari pasti dipertanyakan. Dalam buku itu, sudah kucatat dengan rapi, apaun aktifitas pepe, termasuk kencing, berak, makan, dan muntah . Aku harus menimbang makanan, kotoran, muntahan, dan menghitung volume kencingnya, setiap hari . Semua itu perlu dicatat sebagai parameter untuk mengetahui perkembangan kesehatan pepe.
“Hari ini pepe buang air besar tidak Asih?” tanya Dokter Lee.
“Belum dokter, kemarin malam dia buang air bercampur darah kental lagi,’’ jawabku berbisik agar tidak terdengar pepe, yang kemudian dicatat suster asisten Dokter Lee. Aku bacakan semua yang aku catat, dengan mengucapkannya dengan bahasa mandarin campur baur dengan bahasa inggrisku yang pas-pasan. Mungkin karena sudah terbiasa, suster itu bisa menangkap dengan baik apapun yang kuucapkan.
Sebelum meninggalkan kamar, Dokter Lee berpesan, bila Nyonya Pin Pin datang, di suruh menghadap dokter di kantornya.
Tak berapa lama setelah kepergian Dokter Lee, Nyonya Pin Pin wanita tinggi semampai dengan potongan rambut cepak ala lelaki itu datang. Seperti biasa dia mengucapkan salam pada pepe dengan panggilan sayangnya.
“Dady … aku datang. Wo ai ni,’’ ucapnya sambil mengecup pipi kiri dan kanan pepe. Kala melihat betapa manisnya sikap Nyonya Pin Pin pagi itu, mungkin orang akan mempredeksi bahwa Nyonya Pin Pin adalah sosok yang penyayang. Padahal pada hakekatnya, aku sering dibuat menebah dada oleh sikapnya yang pemarah. Pepe hanya memandang istrinya dengan tatapan sendu. Sekali lagi kulihat bibirnya bergerak ingin bicara, tapi yang terdengar hanya seperti orang berkumur saja.
‘Nyonya, tadi Dokter Lee pesan, nyonya disuruh menghadap beliau,’’ kataku menyampaikan pesan Dokter Lee dengan pelan dan sedikit gemetar.
Aku memang agak takut dengan nyonya yang semakin lama aku ketahui watak aslinya yang seperti orang terkena hipertensi akut. Salah sedikit dalam berucap saja, dia akan tersinggung dan umpatan pedaspun tak segan dilontarkan.
Jangankan dengan aku yang notabene orang suruhan, dan dia mengeluarkan uang untukku. Sudah demikian seringnya aku dengar dan tatap sendiri Nyonya Pin Pin mengajak pepe yang tiada berdaya bertengkar dengan pokok permasalahan yang tidak aku mengerti. Bertengkar dengan para perawat, atau tukang timbang badanpun tidak terhitung berapa kali.

“Oke, aku sekarang mau menghadap dokter, jaga pepe baik- baik ya! Jangan lupa kupas apel untuk pepe, lalu kasih pepe minum obat herbal, kemudian kasih terapi. Eh … satu lagi jangan biarkan pepe tidur terus! Harus kau ajak ngobrol biar tidak ngantuk. ” Wanita cantik dengan bibirnya yang tipis itu, mengucapkan kalimatnya dengan cepat, beruntun tanpa tanda koma. Seolah aku ini orang sebangsa dan sebahasa dengannnya. Untung saja bahasa mandarinku lumayan, sehingga aku cepat menangkap bicaranya. Andai saja dia punya pembantu yang baru pertama kali datang ke Taiwan, dengan bahasa yang masih minim, tentu dia akan marah- marah tiap hari. Karena dia pantang mengulang kedua kali perkataannya.
Hatiku ikut tak tenang dengan panggilan dokter tadi. Sebab biasanya jika dokter memanggil keluarga pasien untuk menghadap ke kantornya, pasti ada yang tidak beres mengenai perkembangan penyakit pasien. Dan biasanya pula malah perkembangan yang mengalir ke arah negatif. Jika ada perkembangan positif, dengan gembira dokter akan menyampaikan langsung pada pasien.
Tiga bulan aku merawat pepe, perkembangan penyakitnya pasang surut tidak karuan. Dan semenjak dibawa pulang selama satu pekan, kulihat kondisinya semakin mengenaskan. Rona merah dipipinya yang putih bersih yang sering diasosiasikan sebagai tanda pepe segar bugar, kini tak pernah kulihat. Juga sudah tidak bisa lagi bermain internet dengan laptop toshibanya.
Aku telah berusaha menyenangkan hatinya dengan cara menuruti apapun keinginannya, termasuk makan ice cream kesukaannya. Dalam sehari bisa menghabiskan empat sampai lima batang ice cream rasa coklat kesukaanya, meskipun harus sembunyi- sembunyi dari nyonya. Jika nyonya tahu ada ice cream di kulkas, dan langsung menyemburkan lava panas emosinya, aku terpaksa mengakui jika ice itu punyaku. Bukan sebuah kecerobohan jika aku berani memberikan ice cream pada pepe. Waktu masih lancar bicara pepe selalu bertanya pada dokter tentang makanan apa saja yang boleh dikonsumsinya. Dan dokter menyatakan pepe boleh makan Ice cream itu, asalkan dibeli di toko Ice cream yang ada di kantin rumah sakit yang terjamin kebersihan dan keheygenisanya.
Aku menunggu nyonya sambil memberi fisioterapi kaki dan tangan pepe. Limabelas menit kemudian datanglah anak perempuan pepe yang biasa kupanggil Magie Siaoce, bersama kakak dan adik perempuan pepe.
“Asih, mama apakah sudah datang?” tanya Magie siaoce sambil menepuk halus pundakku. Sikap Magie Siaoce amat kontras jika dibandingkan dengan mamanya. Gadis cantik ini pembawaanya kalem dan sopan pada siapaun termasuk denganku.
“Sudah datang siauce. Sekarang lagi ke kantor Dokter Lee,’’ mendengar ucapanku Magie Siaouce tampak berubah roman mukanya. Demikian pula Ta Kuku(kakak perempuan Pepe) dan xiao kuku(adik perempuan pepe), aku membaca rona cemas di wajah mereka.
Beberapa menit kemudian kulihat nyonya terpaku di depan pintu. Dia lambaikan tangan memanggil Magie Siaoce. Magie Siaoce keluar dan diikuti dua kukunya. Pintu kamar ditutup dari luar. Aku semakin penasaran. Sekilas tadi kulihat ada duka di wajah nyonya.
Tak seperti biasanya, dimana mereka tidak akan berlama- lama meninggalkan pepe. Tapi kali ini kuhitung sudah lebih dari setengah jam mereka ada di luar kamar, tapi tidak kembali masuk juga. Aku semakin penasaran. Kebetulan air panas di tremos habis. Dengan alasan mengambil air panas di ruang pantri, aku punya kesempatan keluar sebentar untuk memastikan mereka masih ada di luar kamar.
Pintu kamar aku buka, dan alangkah terkejutnya aku, merelihat mereka menangis tersedu- sedu. Melihatku nyonya memanggilku mendekat.
“Asih, mulai sekarang kamu harus menjaga pepe dengan lebih baik dan penuh kasih sayang, agar di saat- saat terakhirnya, dia dalam keadaan senang dan bahagia.”
Tak perlu dijelaskan dengan kalimat yang mendetail, aku sudah faham dengan apa yang terjadi pada diri pepe. Karena bukan sekali ini saja aku merawat pasien yang menderita penyakit kanker ganas.
“Baiklah nyonya, saya faham dan mengerti, selama inipun saya sudah menjaganya seperti aku menjaga bapakku sendiri.’’
“Terima kasih Asih,’’ ucap Magie Siaoce sambil memelukku. Kutatap matanya masih merah, tentu sudah begitu lama dia menangis tadi.
……….
Kucuri dengar pembicaraan dokter dan nyonya pagi itu. Ternyata sel kanker yang bersarang di tubuh pepe sudah menjalar ke paru- paru, yang berarti sudah tiada harapan hidup lebih lama lagi.
Tubuh pepe semakin lemah, dan sudah tidak bisa mengaduh kesakitan seperti kemarin. Morfin yang dimasukkan kedalam tubuhnya melalui infus, rasanya sudah tidak dibutuhkan lagi.
Dari pagi semua anggota keluarga termasuk semua saudara pepe yang berjumlah delapan orang berkumpul berdesakan di kamar yang tidak begitu besar itu. Pukul delapan malam pepe menjalani kemoterapi. Obat kemoterapi yang digunakan untuk membunuh sel-sel kanker yang menggerogoti tubuh pepe itu, tergolong cukup keras. Mungkin karena pengaruh obat itu, pepe tidur pulas seperti orang pingsan.
Karena capek semua anggota keluarga pamit pulang termasuk kedua anak pepe yang mau kerja dan kuliah esuk harinya. Nyonya juga pamit pulang sebentar untuk mengambil baju dinginnya yang tadi lupa dibawanya. Otomatis tinggal aku sendiri yang menjaga pepe. Dalam keadaan tidak separah ini, aku biasa menjaga pepe sendiri di malam hari. Tapi sejak dokter menyatakan hidup pepe tak lama lagi. Nyonya menemaniku siang dan malam.
Baru limabelas menit mereka meninggalkan tempat. Terpaksa aku telpon untuk kembali ke rumah sakit lagi. Karena pepe tidak respek samasekali ketika kubangunkan untuk minum obat. Pagi tadi dia masih bisa merespon ketika aku bangunkan. Aku segera memanggil dokter. Meski sudah jelas nyawa pepe tinggal di mesin. Namun dokter belum berani melakukan tindakan apapun sebelum anggota keluarga datang.
Tak berapa lama nyonya datang lebih dahulu. Kemudian disusul anak laki- laki dan Magie Siaoce. Dan atas persetujuan keluarga semua selang yang dihubungkan ke tubuh pepe dicabut . Tigapuluh menit kemudian pepe menghembuskan nafasnya yang terakhir kalinya. Tangis kehilangan memecah keheningan malam itu.
Meskipun aku berusaha menjaga pepe dengan baik, namun tak kuasa melawan takdir Tuhan juga melawan penyakit pepe. Hari itu, tepat empat bulan aku merawatnya, pepe harus pergi untuk selama-lamanya, diiringi tangis kehilangan keluarganya. Meski duka menyelimuti hati keluarganya, namun ada terselip rasa syukur di hati mereka. Karena luka dipantat pepe sudah bersih total. Aku terharu, ketika adik dan kakak pepe, mengucap terima kasih, karena telah berusaha membuat luka pepe sembuh. Aku tidak menyangka kesembuhan luka itu amat berarti bagi mereka.*

memanfaatkan waktu sebaik mungkin

nurhasanah / memanfaatkan waktu sebaik mungkin / tidak ada / tenaga kerja asing Memanfaatkan waktu sebaik mungkin Iyah gagal pertama wajar, karna seseorang itu harus salah terlebih dulu sebelum benar namanya juga hidup harus banyak belajar. Semuanya bisa dijadikan pengalaman, dan pengalaman ku itu di awali dengan kesalahan-kesalahan sebelum akhirnya aku merasa bener, meski bener tapi tetap saja … Continue reading “memanfaatkan waktu sebaik mungkin”

nurhasanah / memanfaatkan waktu sebaik mungkin / tidak ada / tenaga kerja asing

Memanfaatkan waktu sebaik mungkin
Iyah gagal pertama wajar, karna seseorang itu harus salah terlebih dulu sebelum benar namanya juga hidup harus banyak belajar.
Semuanya bisa dijadikan pengalaman, dan pengalaman ku itu di awali dengan kesalahan-kesalahan sebelum akhirnya aku merasa bener, meski bener tapi tetap saja ada orang di belakang yang menuntun ku dengan sabar.
Hari ini malu sih tapi PD aja pas balik lg alhamdulilah bisa, dan lancar tanpa minta tolong sama pegawai seven eleven disitu, karna sudah di kasih penjelasan sama mba karina ,yg baik hati pintar dan tidak sombong.
Buat banyak orang yg sudah terbiasa kirim uang lewat seven, akan terlihat mudah dan gk banyak orang yg mau ngajarin sesabar mba karina,karna dari pengalaman2n sebelumnya ada beberapa gk banyak sih tp ada saja temen yg di tanya kalau cara mengirim uang di seven bagaimana? Dan mereka jawab gampang saja, lalu aku bilang bantuin aku daftar dan pasti jawabannya iyah nanti aku bantu pada akhirnya gk tahu kapan mau bantu daftarin.
Setelah berteman di facebook dengan mba karina ,dari awal mendaftar dengan mudah dan gratis sama dia, sampai cara mengirim untuk kali pertama nya saja aku gk mengerti dia yg aku tanya, dengan sabar dia menjelaskan nya, sampai akhirnya aku bisa. Dengan bisanya aku mengirim uang lewat seven eleven itu sangat membantu dan memudahkan aku untuk kapan saja mengirim uang ke indonesia , karna selama ini aku sangat bergantung dengan majikan ku menunggu ada nya waktu senggang untuk bisa mengantarkan aku ke toko indonesia untuk mengirim uang, dan itu pun kadang aku tidak enak karna takut majikanku sibuk dan mengganggu waktu nya. pertama kalinya aku mengirim uang lewat wastern union aku harus salah sampai 2 x,
Memang mudah untuk yg sudah terbiasa tetapi untuk aku yg baru pertama kali merasakan gugup dan takut. karna nya aku melakukan kesalahan sampai 2x dan membayar 6nt setiap aku salah, itu yg membuat aku tertawa malu, hehe…
Mba karina itu bisa di bilang sudah lama disini, tp siapa yg tahu meski sudah lama di taiwan dia tidak menunjukan kesombongan sedikitpun, dia sangat memanfaatkan waktu disini untuk belajar apa saja, yg dilihatnya bermanfaat dia anggap itu ilmu.
Kegemarannya membaca membuat dia berwawasan luas, ntah tamatan apa dia tp buat aku dia adalah sumber inspirasi, tekun bekerja meski dia sudah lama bekerja di rumah tuannya dia tidak mengabaikan kewajiban nya, selalu berusaha untuk membuat keluarga majikannya itu semakin baik padanya. Dengan cara membuat makanan2 khas orang taiwan yg dia bisa, mungkin semua makanan bisa dia buat untuk majikannya,dan bisa jadi adalah salah satu trik untuk mendapatkan kebaikan dari keluarga majikan.karna jika majikan baik maka pekerja pun nyaman.
Aku tidak tahu berapa umur dia, tp mungkin bisa di kira kurang lebih seumuran dengan ibuku, tp dia sangat cerdas.
Arti cerdas nya dia menurut aku dia mampu berkomentar, jika yg di lihat salah maka dia akan berkomentar salah dan jika benar dia pun akan membenarkannya.
Hidupnya simple dan tidak foya2 itu lah mba karina .
Aku saja sempat iri kepada dia, umurku dengan dia mungkin jauh karna aku sangat muda di bandingkan dengan dirinya tp yg aku tahu terbatas dari apa yg dia ketahui,iyah kalau di lihat dari pengalaman hidup jelas poin tinggi untuk dia karna dia sudah dewasa dan sudah banyak menelan asam garam kehidupan. Yg membuat aku iri padanya yaitu pengetahuan,bahwa kita hidup di negara yg sama status yg sama pekerjaan yg sama hanya yg membedakan waktu saja, bisa di bilang jika waktu dia untuk bekerja mungkin aku disini sudah beristirahat karna kerjaan aku disini gk banyak, hanya menjaga akong yg berumur 84 tahun dan tidak begitu repot. Tp waktu ku banyak yg terbuang sia2 tidak ada yg berguna dari panjang nya waktu istirahat dari pada kerja ku.
1 novel yg aku punya dengan 274 halaman itu aku baca sekitar 4-5 bulan selesai, tp dengan melihat dia bertumpuk-tumpuk novel yg dia punya dengan kegemarannya membaca bisa jadi 1 novel bisa terselesaikan dalam waktu kurang lebih 1 bulan,mungkin salah satunya itu perbedaan cara memanfaatkan waktu aku dengan mba karina.
Dan intinya tidak banyak orang yg mempunyai ilmu dia gunakan untuk berbagi kepada sesama, padahal ilmu yg berguna adalah ilmu yg bermanfaat untuk sesama, karna sebaik- baiknya ilmu ialah yg di amalkan.
Kesombongan adalah pilihan, karna sikap rendah hati jauh lebih membuat orang di hormati dan di sayang banyak orang.
Dan belajar itu tidak ada batas usia, belajar itu untuk siapa saja yg niat untuk pintar.
Jangan melihat tampilannya karna belum tentu orang yg sudah tua dia sungkan untuk pintar karna yg muda enggan untuk pintar jauh lebih banyak.

Bến bờ hạnh phúc

Thanh Lan / Bến bờ hạnh phúc / không / lao động quốc tịch nước ngoài Trong cuộc sống, dù bạn có tin hay không nhưng ước mơ lớn nhất của rất nhiều người có lẽ là được trở về ngôi nhà của mình,một ngôi nhà theo đúng nghĩa của nó.Đối với những người tha hương mà nói,nỗi … Continue reading “Bến bờ hạnh phúc”

Thanh Lan / Bến bờ hạnh phúc / không / lao động quốc tịch nước ngoài

Trong cuộc sống, dù bạn có tin hay không nhưng ước mơ lớn nhất của rất nhiều người có lẽ là được trở về ngôi nhà của mình,một ngôi nhà theo đúng nghĩa của nó.Đối với những người tha hương mà nói,nỗi khao khát đó càng mạnh mẽ hơn bao giờ hết,nó ăn sâu vào tâm trí,vào tiềm thức của mỗi người,ẩn hiện trong từng giấc mơ của họ.Tôi thì khác,6 năm xa đất mẹ,lưu lạc trên đất đài là những chuỗi ngày nỗ lực rũ bỏ, chạy trốn.Trốn cái gì ư? Trốn cái nghèo đói chung thuỷ,bao năm tháng vẫn tha thiết bám lấy tôi không rời nửa bước,trốn khỏi cái mà người ta gọi là “tình yêu,hạnh phúc “- nhưng đối với tôi lại là những chuỗi ngày bất hạnh, cay đắng khôn nguôi..
Sinh ra trong một gia đình nghèo ở miền bắc,từ nhỏ đã gắn bó với mưa nắng ruộng đồng.Tôi là chị cả,dưới còn có hai em trai.Cuộc sống khốn khó nhưng êm đềm cứ thế trôi qua,chúng tôi lớn lên trong tình yêu thương vô vàn của cha mẹ.Sóng gió bắt đầu ập đến gia đình tôi khi tôi học lớp 7.Mẹ đột nhiên mắc bệnh nặng,phải đi hết trạm nọ viện kia chạy chữa.Nhà vốn đã nghèo giờ lại thêm túng thiếu,bố tôi dồn hết tiền tích cóp còn lại,vay thêm anh em họ hàng nhưng vẫn không đủ để chữa bệnh.Đường cùng ông phải đi vay lãi.Mẹ dần bình phục,cả nhà vui mừng khôn xiết.Nhưng niềm vui ngắn ngủi đó không kéo dài được bao lâu thì bố tôi lại thay phiên đổ bệnh.Bác sĩ nói, bố làm việc quá sức trong một thời gian dài,cộng với suy nghĩ nhiều nên thần kinh bị ảnh hưởng khá nghiêm trọng.Nhiều lúc vô cớ bố cũg lôi chị em tôi ra đánh,đánh xog,tỉnh lại bố hầu như quên hết nhữg gì mình vừa mới làm.Mẹ tôi còn chưa khoẻ hẳn,công việc đồng áng chẳng biết giao cho ai,tôi đành bỏ học giữa chừg để ở nhà phụ giúp mẹ,lo cho các e.hi vọng các e có thể tiếp tục cắp sách đến trường,thực hiện nốt ước mơ của tôi vẫn còn đang dang dở..
Thời gian thấm thoát trôi qua,bệnh tình của bố mẹ cũng đã ổn định trở lại.các em đang tuổi ăn tuổi lớn,học phí mỗi năm lại một tăng cao,vài sào hoa màu không đủ để trang trải.Nợ cũ chưa trả hết,giờ lại thêm những khoản nợ khác,cái nợ cứ thế xoay vòng,đeo bám gia đình tôi mãi k buông tha..
18 tuổi,tôi đc người quen mai mối cho Anh-người mà sau này tôi gọi là chồng.Anh đẹp trai,tuấn tú,lại hoạt bát, gia đình cũng thuộc hạng khá giả trong vùng.bố mẹ tôi ưng anh lắm,anh em làng xóm ai cũng hết lời,vun vén cho hai đứa nên duyên.Tôi lúc đó cũg xiêu lòg vì viễn cảnh mà anh và gia đình vẽ ra,hứa sẽ mag cho tôi cuoc sống hạnh phúc,hứa sẽ giúp tôi và gia đình trả hết những món nợ đang mang.
Bước chân về nhà chồng trong niềm vui,lòng hân hoan,hạnh phúc vô bờ bến.tu nay cuộc sống của tôi và gia đình sẽ bước sang một trang mới,tôi có được một người chồng tốt,các e tôi sẽ có tiền tiếp tục đi học,bố mẹ cũng sẽ bớt gánh nặng nợ nần.Lòng tôi như nở hoa,mọi thứ như trong mơ,một giấc mơ mà chưa bao giờ tôi dám mơ đến.
Nhưng giấc mơ chỉ là giấc mơ.Khi còn chưa tận hưởng được hết hạnh phúc ngọt ngào của cuộc hôn nhân vội vàng mang đến thì tôi đã dần dần hiểu ra rằng,thực tế khác xa những gì mà tôi đã từng nghĩ.Anh bỗng nhiên biến thành một con người hoàn toàn xa lạ.A đi miết,từ tối cho đến tận ngày hôm sau mới về,đàn đúm rượu chè say khướt.Về nhà là tìm cớ gây sự sinh chuyện,đánh đập chửi bới.Bố mẹ chồng phong kiến cổ hủ,không hề coi tôi là con dâu,mà chỉ xem như là đầy tớ trong nhà.họ cưới tôi về chỉ để có người trông nom anh,hi vọng có vợ rồi anh sẽ thay tâm đổi tính.Tôi gần như sụp đổ.hi vọng bao nhiêu thì thực tế lại phũ phàng bấy nhiêu.Tôi sống trong sự cô đơn, ghẻ lạnh. Nhiều lúc chỉ muốn chết đi cho xog nhưng nghĩ đến ba mẹ,nghĩ về các em,lòng tôi như đứt từng khúc ruột.Món nợ vẫn còn đó,các e vẫn fải cắp sách đến truờng,tôi nỡ lòg nào ích kỷ giải thoát cho bản thân mình mà vứt lại tất cả..
Mang thai bé thứ 2 cũg là gái,gia đình nhà chồng ghét tôi ra mặt.anh k những k thương vợ mà còn lợi dụng lúc tôi mag thai lén lút với người phụ nữ khác, nguoi đó không fải ai xa lạ mà chính là cô bạn thân của tôi.Đau đớn chồng chất đớn đau, tôi quyết định đệ đơn xin ly hôn.Anh k chấp nhận mà còn lôi con, lôi món nợ cũ của ba mẹ tôi ra chèn ép(thực chất a chưa hề giúp tôi trả món nợ đó).phần sợ mất con,phần sợ ba mẹ vỡ nợ,cực chẳng đã tôi đành giả câm giả điếc sống như trâu ngựa bên nhà chồng.
Lúc tôi gần như buông xuôi,chấp nhận tất cả thì Lạ thay,một thời gian sau a lại bỗng nhiên thay đổi.Như có 1phép màu lạ,Anh yêu thương mẹ con tôi hơn trước,biet quan tâm,lo lắng cho gia đình,k còn ăn chơi lêu lổng như trước nữa.Tôi nghĩ,có lẽ va vấp nhiều rồi, giờ a mới nhận ra đúng-sai,ai mới là người luôn ở bên san sẻ,cùng anh đi đến suốt cuộc đời.Mẹ con tôi vui lắm,đông qua xuân tới,tôi chìm đắm trong hạnh phúc, quên đi nỗi đau năm nào.Ai chẳng có 1thời lần lầm lỡ,quan trọng là biết quay đầu làm lại.Còn gì hạnh phúc hơn khi gia đình sum vầy,đoàn tụ. Con tôi cần có bố,và tôi cũng cần có anh..
Thời buổi kinh tế khó khăn làm vất vả mà cũng chẳng thấy dư được đồng nào. Thấy người ta đi nước ngoài làm ăn đựoc,chồng tôi bàn bạc,muốn để tôi đi Đài Loan làm thử.phải xa gia đình xa bố mẹ già đau ốm,các con tôi còn nhỏ dại, tôi chẳng nỡ lòng nào,nhưng nghĩ đến tương lai các con , tôi quyết định dứt áo ra đi, a hứa ở nhà sẽ thay tôi chăm sóc cho bố mẹ,lo cho các con khôn lớn nên người,rằng tôi cứ yên tâm,chung thuỷ hết hạn trở về với bố con anh là Được..
Nhũng ngày đầu,thật vất vả để có thể vượt qua được sự khác biêt về ngôn ngữ,văn hoá,công việc. Ngày làm mệt mỏi, đêm về đặt mình là ngủ.Niềm an ủi duy nhất của tôi lúc đó là gọi điện về cho gia đình.Chồng tôi quan tâm tôi hết mực, a luôn bên cạnh,động viên tôi, ủng hộ tôi,giúp tôi có thêm động lực,niềm vui,bớt đi sự cô quạnh trong những tháng ngày xa xứ.Ngày lại ngày như thế nối tiếp qua đi,có lẽ tôi sẽ mãi chìm trog giấc mơ màu hồng đó nếu k tình cơ biết được cái sự thật được cất giấu kỹ càng sâu trong đó.Lần đó tôi theo một người bạn đi họp hội đồng hương tận trên đài Bắc. Người đông như kiến,tôi ngồi gọn vào một xó,bị che khuất bởi đám đông náo nhiệt.Đang cắm cúi vào cái màn hình điện thoại,bỗng một bàn tay lạ đặt lên vai,giật mình quay lại,sau giây phút ngỡ ngàng tôi nhận ra chị,người cùng quê,cách nhà chồng tôi chỉ khoản vài trăm mét.Nhà chị có một tiệm tạp hoá nhỏ,thỉnh thoảng tôi vẫn ra đó mua chai mắm hay gói xà phòng,hoặc đôi khi chỉ là buồn buồn tám vài câu chuyện nhạt nhẽo.Từ ngày tôi sang đây cũng k liên lạc gì,giờ vô tình gặp nhau vui mừng không tả hết.Nghe tôi kể chuyện gia đình,mắt chị tròn xoe,nhìn tôi k chớp mắt.Chị nhìn tôi với ánh mắt xót xa,giọng nói trầm dần xuống:’Em àg,e cả tin quá,bị nó lừa rồi..!’Đầu óc tôi quay cuồng,hoá ra tất cả chỉ là một vở kịch.Bao nhiêu mồ hôi nước mắt,dành dụm chắt chiu để gửi về trả nợ đều đã bị anh nướng sạch vào lô đề,gái gú.Các con tôi sống cùng ông bà nội,mới tí tuổi đã phải cơm nước giặt giũ cho cả nhà,làm không nên lại bị ông bà mắng té tát.Hoá ra hắn ngon ngọt vơi tôi chỉ là để gạt tôi sang đây,làm trâu làm ngựa cung phụng,để hắn ở nhà có tiền ăn chơi,đàn đúm.Giờ đây hắn cười nhạo, chế giễu cái sự ngờ nghệch,nhẹ dạ tin người của tôi.Hắn dùng hai con để làm vật uy hiếp tôi,hắn doạ sẽ đánh chúng nếu tôi cố gắg tìm cách ly hôn hay bỏ trốn không về..Cuộc sống đã từng đuợc cứu dỗi bây giờ lại một lần nữa lâm vào bế tắc.Hai hàng nước mắt cứ tuôn ra,trach sao số phận lại nghiệt ngã với tôi như vây?đày đọa tôi chưa đủ,giờ lại thêm các con tôi..!!
Tôi nghĩ mình k nên chìm đắm trog đau khổ,tuyệt vọng mà cần phải mạnh mẽ,đứng lên hành động đòi lại công bằng, đòi lại những gì mình đã mất.Không có viện trợ về tiền trog năm cuối,hắn trở nên điên loạn,liên tục gọi sag mắng nhiếc,đe dọa tôi.
Ngày về,Vừa đặt chân xuốg sân bay,mặt hắn hầm hầm,vẻ tức tối, không nói một lời đi đến giật phắt giấy tờ hành lý từ tay tôi đi thẳng ra chỗ xe đợi.tôi đã lường trước được tình cảnh như thế nhưg trog lòng vẫn không ngừng nuốt ngược những giot nước mắt chỉ trực trào ra trên má.Đưa vội bọc tiền đã giấu sẵn từ trước cho dì rồi vội vã bước theo hắn.Đông về lạnh quá Hà Nội ơi..!
3năm,làg quê thay đổi nhiều quá,chỉ có tình yêu của gia đình và các con dành cho tôi thì vẫn như ngày nào.Tôi giấu biệt k một ai ngoài dì ruột biết việc tôi sẽ sag lại đài loan vì dì là nguoi giúp tôi lo việc giấy tờ và thủ tục.Nếu tôi k quay lại,tương lai các con tôi rồi sẽ ra sao? Bản thân tôi liệu có được yên ổn khi chung sống với một con người như thế..
Hắn nháo nhào tìm kiếm,lục lọi hết mọi nơi mà hắn cho rằng tôi có thể trốn. Khi biết tôi đã sag lại,hắn như phát rồ xog k thể làm gì đuợc vì không gặp đc tôi.Về phần mình tôi nhờ toà giải quyết cho ly hôn vắg mặt.Với những chứng cứ có lợi,tôi dành đươc quyền nuôi con.Từ đây 3mẹ con tôi sẽ bắt đầu một cuộc sống mới mà không có bóng hình của con người tệ bạc đó.tuy rằng gian nan nhưng chỉ cần có lòng yêu thương và ý chí,tôi tin không gì là không thể..
Ngày có quyết định ly hôn chính thức, anh ta tìm đến nhà tôi chửi bới gây sự,kiếm cớ đòi vay tiền để sang đài loan làm ăn.Tất nhiên là tôi không đồng ý, nhưng hắn doạ sẽ giết con tôi,.Bố mẹ tôi lo lắng mất ăn mất ngủ, sợ bệnh tình cũ lại tái phát. Không còn cách nào khác tôi đành phải cho vay.Tưởng thế đã êm xuôi nào ngờ sang Đài rồi hắn vẫn tìm tôi,lấy cớ k biết tiếng nhờ giúp đỡ.Tôi k giúp lại quay ra kiếm chuyện, mắng tôi xơi xơi.Cũng may mà mọi người k ai hiểu tiếng việt không thì tôi k biết giấu mặt vào đâu cả..Biết con nguoi này bản chất không thể nào thay đôi được nên tránh xa càng xa càng tốt. tôi tránh mặt,tìm nhiều lần k gặp đc,hắn dần thôi k tới nữa. Nghe phong phah đang ăn chơi trác táng cặp kè với chị dâu Đài nào đó.Tôi chỉ biết lắc đầu ngao ngán..
Sóng gió đã thật sự rời xa, cuộc đời tôi đã lật sag một trang mới mà k có hắn bên cạnh.thời gian làm những tổn thương bầm dập dần lành lại,nhưng vẫn còn đó vết sẹo của ngày nào.Tôi khép chặt lòng mình,tuong rằng con tim trai sạn đó sẽ k bao giờ mở ra một lần nữa.Mãi cho đến một ngày tôi gặp Hưng khi anh đang nằm trị bệnh tại bệnh viện nơi tôi đang làm việc, 30tuổi và vẫn còn độc thân.Tôi kể hết cho a nghe về những gì tôi từng trải,về quá khứ đầy mặc cảm của mình.a k những không chê bai mà còn luôn động viên,vỗ về tôi bằng tình yêu,lòng bao dung vô bờ bến.Cũng nhờ sự chân thành, thấu hiểu,bao dung và kiên trì đó anh đã khiến tôi dần tự tin, xóa bỏ mặc cảm quá khứ, tin vào tình yêu nơi anh.Biết chuyện,ban đầu gia đình bên anh cũng rất phản đối vì hoàn cảnh của chúng tôi quá chênh lệch nhưng sau vì thương anh nên mọi người cũng dần chấp nhận tôi. Chúng tôi dự tính sẽ tổ chức đám cưới sau khi về nước. Những tưởng hạnh phúc đang đến gần thì tôi bỗng nhận được tin dữ, anh bị giập nát và phải cắt bỏ cánh tay phải Lúc đi làm thêm xây dựng bên ngoài. Ông chủ và công tay bảo hiểm đều không chịu chi trả viện phí và buộc anh phải về nước sau khi điều trị ổn định do tự ý đi làm thêm bên ngoài. Tôi vừa đi làm trong bệnh viện vừa xin thêm rửa bát tại các quán ăn để giúp anh trả viện phí. Sau hai tháng, anh được xuất viện và làm thủ tục về nước. Ban đầu anh rất suy sụp và chán nản, nhờ được mọi người khuyên nhủ mà dần vững tâm trở lại, gia đình bên anh thương anh nhìu hơn, họ dần cảm phục và quý mến tôi hơn. A về được tầm một tháng thì tôi phát hiện ra mình đang mang thai, khỏi phải nói tôi, anh, và gia định hai bên vui mừng khôn xiết đến mức nào. A và mọi người đều giục tôi về để chuẩn bị cho đám cưới. Nói chuyên với anh tôi cười, nhưng nước mắt cứ lăn dài trên má,những giot nước mắt hạnh phúc.lần này tôi sẽ không phải chạy trốn nữa. Biết rằng từ đây tôi đã tìm được bến đỗ sau bao tháng này lênh đênh vất vả,giờ đây mọi khó khăn sẽ có anh, con và gia đình hai bên san sẻ gánh vác cùng tôi.
Ngày lên đường về nước, lòng tôi tràn ngập hạnh phúc. Cuối cùng sau bao vất vả, hy sinh, cố gắng giờ đây cánh cửa của hạnh phúc đã ở ngay trước mắt, tôi sẽ được về quê hương Việt Nam yêu dấu,vê với ngôi nhà thân yêu mà tôi mơ ước, nơi đó có những người thân đang giang tay chào đón tôi, nơi của tình yêu, sẻ chia, hạnh phúc, sum vầy. Tạm biệt và cảm ơn Đài Loan rất nhìu, mảnh đất đã cho tôi nương náu, ôm tôi vào lòng trong những ngày tháng khó khăn, gian khổ, mảnh đất ươm mầm hy vọng, khát khao hạnh phúc và tình yêu của tôi. Hôm nay bầu trời đầy nắng, nắng lan tỏa đến đôi mắt đang ánh cười mãn nguyện vọng, tôi đưa tay vỗ về thiên thần nhỏ trong bụng, tâm hồn và trái tim tôi đều tràn ngập nắng. Nắng sẽ đến sau những cơn mưa nếu con người biết nhẫn nại, hy sinh, dũng cảm, chân thành và bởi biết trao yêu thương sẽ nhận được những đong đầy.

Arogansi Kehidupan

Ike Lindiyani / Arogansi Kehidupan / Tidak ada / tenaga kerja asing AROGANSI KEHIDUPAN Oleh : Ike Lindiyani Seperti biasa, mentari terbenam diufuk barat. Cahayanya menghilang diujung mata, entah kemana perginya. Perlahan, kegelapan mulai menyelimuti malam. Menjadi sangat menyenangkan bagi para kelelawar mencari makan setelah 12 jam tertidur dengan lelapnya. Dibalik tirai jendela apartemen pandanganku tertuju pada … Continue reading “Arogansi Kehidupan”

Ike Lindiyani / Arogansi Kehidupan / Tidak ada / tenaga kerja asing

AROGANSI KEHIDUPAN
Oleh : Ike Lindiyani
Seperti biasa, mentari terbenam diufuk barat. Cahayanya menghilang diujung mata, entah kemana perginya. Perlahan, kegelapan mulai menyelimuti malam. Menjadi sangat menyenangkan bagi para kelelawar mencari makan setelah 12 jam tertidur dengan lelapnya. Dibalik tirai jendela apartemen pandanganku tertuju pada laju kendaraan yang lalu lalang dijalan. Diluar bunyi klakson kendaraan sangat jelas terdengar. Benar-benar memekikkan telinga. Gemerlap lampu trotoar memanjakan mata. Tak terasa, ini sudah tahun ketiga ku berada di Taiwan atau juga di kenal dengan nama Negeri Formosa yang artinya Pulau yang Indah. Negeri yang menjadi tujuan kaum menengah ke bawah untuk mengais pundi-pundi rupiah. Negeri yang mayoritas penghuninya adalah non-muslim. Negeri yang terkenal dengan kemajuan IPTEK dan SDM-nya. Negeri yang terkenal akan kedisiplinan waktunya. Ya, paling tidak itu yang kurasakan jika dibandingkan dengan Indonesiaku tercinta, Negeri ini berkembang lebih pesat.

Ah! Rasanya hatiku perih manakala teringat akan hiruk pikuknya kampung halaman. Jiwaku mendadak tak bergairah, senyum diwajahku pun membisu. Ini tentang rintih gemercik pilu yang tertatih lintasi Samudra dan lautan nan biru. Ada jengah disitu tapi bukan pertanda lelah. Dalam remah renungan senja, aku berangan akan hening dan damainya sebuah dunia. Anganku melayang. Aku bermimpi bisa bersembunyi diantara ilalang kering dan ideologi penghamba dunia. Kisah Indonesiaku hampir membuatku pingsan bahkan kehilangan sisi warasku. Oh, Indonesiaku sayang, kau membuatku semakin bangga padamu. Gelandangan berceceran naikan prestasi dunia, perut kosong kian nyaring terdengar dijembatan rapuh tepi sungai kumuh. Makanan empuk hewan pengerat yang tak tahu malu. Mereka adalah saksi bisu ulah para petinggi yang acuh dan tak mau tahu. Lewat pengemis renta aku berkaca, “Inikah drama uji kehidupan? Dimana letak keadilan? Yang kaya makin kaya, yang miskin semakin melarat dan diinjak-injak”. Sayang, kemana perginya nilai-nilai Pancasila yang kau punya? Kemana perginya semboyan Bhineka Tunggal Ika yang dengan gagah berbunyi berbeda-beda tapi satu? Liatlah, orang-orang itu rela mati demi uang, karena uang manusia menjadi kanibal. Makan kawan, makan lawan. Sebenarnya aku ingin reaksikan tragedi dalam tabung kaca atau melelehkan larutan ketidakadilan dalam setiap eksperimen kehidupan. Tapi aku bisa apa? Aku sadar aku bukan siapa-siapa. Aku hanya sebutir bawang dalam kerupuk. Aku bukan seonggok polimer yang mampu sisihkan monomer untuk menembus sebuah cerita. Ah, sudahlah! Seandainya aku mampu tentu aku tak berada disini sekarang. Kerasnya dunia mengharuskanku untuk mengabaikan impian-impian untuk mengenyam pendidkan yang lebih tinggi. Persepsi masyarakat desa yang terbilang masih kolot yang beranggapan;“Bocah wadon kudu miang luar negeri bari sugih lan ngerubah nasib, kerja ning kene mah laka olihe” (baca: “Anak perempuan harus pergi keluar negeri agar bisa kaya dan merubah nasib, kerja disini tidak bisa diharapkan.”) ternyata berdampak juga kepadaku. Akupun terkena imbasnya. Aku harus rela meninggalkan keluarga, kampung halaman dan orang-orang tercinta. Banting tulang menguras keringat demi memperbaiki keadaan ekonomi keluarga agar mendapat pengakuan. Ya, sebuah pengakuan. Miris memang, tapi itulah yang terjadi di kehidupan sosial. Pengakuan dan reputasi merupakan hal sangat penting dalam kehidupan seseorang pada satu tahap tertentu.

Aku ingat betul saat pertama kali aku mendaratkan kakiku di tanah Formosa ini, 28 Juni 2012. Usaiku masih sangat muda kala itu. Dengan bermodal doa restu orang tua, akhirnya aku sampai di negeri ini. Dadaku sesak, tubuhku gemetar, nafasku seakan tersedat dan aku merasakan jiwaku ingin melarikan diri dari ragaku. Ingin rasanya aku menumpahkan genangan bening yang ada dipelupuk mataku tapi apa daya aku tak mampu. Alih-alih menumpahkannya aku malah membiarkannya terbujur kaku dipelupuk mataku. Aku teringat wejangan ibuku, Ibuku bilang; “Orang dewasa tidak pantas menangis. Karena ia telah dewasa, ia seharusnya mampu menyimpan sedih dan amarahnya dengan bijaksana, lalu dikeluarkan untuk hal-hal yang perlu saja.” Berkat kalimat inilah aku tumbuh menjadi perempuan mandiri yang kuat didunia yang serba patriarkal. Didikan kerasnya mengkondisikanku untuk yakin bahwa semua hal yang aku inginkan didunia ini datang dengan harga yang harus dibayar, yaitu peluh dan determinasi. Bukan dengan rengekan atau rayuan paras tak bercela. Akupun membulatkan tekad. Melangkah kakiku perlahan. Walau masih dalam mendung yang menggelayut. Meneguk semua keparauan dunia. Sadar bahwa hidup ini pun soal tanggung jawab. Bukan hanya soal sekedar hidup saja. Bukankah tidak ada kalimat yang sempurna, seperti tidak ada keputusan yang sempurna?

Aku harus memulai semuanya dari awal. Mencoba beradaptasi dengan lingkungan baru, orang-orang baru, keluarga baru dan bahasa yang asing ditelingaku. Ya, inilah dunia baruku di Taiwan. Tugasku adalah merawat 小姐 (baca:Xiǎojiě) dengan sebaik-baiknya. Usianya tidak muda, 45 tahun. Dia cacat sedari lahir. Keluarga majikan memperlakukanku dengan amat baik. Bahkan menganggapku sebagai anaknya sendiri. Aku bersyukur. Aku mulai menikmati ranah jalan hidupku disini. Walaupun tentu saja ada hari dimana aku merengek tatkala jemu menjerang rindu. Ketika aku tengah sendirian. Sendiri dalam arti hanya ada aku dan udara di sekelilingku. Hanya ada aku dan kenangan-kenangan yang berlari-lari kecil di taman atau hanya ada aku dan ruang yang lapang di kepalaku. Dan boom! Maka ingatan masa lalu memelukku begitu saja, begitu erat hingga aku bahkan dapat mendengar detak jantungku sendiri. Rasanya menyebalkan ketika aku harus berusaha melawan jutaan ingatan tentang masa lalu yang mulai mengepul di otakku, seperti asap rokok yang menggantung di udara. Impian untuk mengenyam pendidikan tinggi mencuat kembali kepermukaan. Awalnya aku mengabaikannya dengan dalih impian ini akan memudar dan padam dengan sendirinya. Akan tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Impian itu semakin menggerogoti pikiranku. Aku gamang. Aku seperti berdiri di puing titik kata. Tak dapat memilih dan mencari arah pada layar perahu yang ku hempas.

Hingga pada suatu siang, mataku terbelalak menatap layar handphoneku. Aku menemukan sebuah selebaran yang berisi tentang pendaftaran mahasiswa baru Indonesia Open University di Taiwan. Aku girang tiada kepayang. Impianku untuk sekolahpun menemukan titik terang. Awalnya aku sempat ragu untuk menyampaikan niatku kepada bos. Tapi karena tekadku sudah bulat dan dengan mengucap Bissmillah. Aku memberanikan diri menghadap bos, apapun resikonya akan aku terima. Aku bahkan bertekad tidak akan melanjutkan kontrak kerjaku jika tidak diberikan ijin. Karena dari kabar burung yang beredar, mayoritas orang Taiwan sangat perhitungan dalam hal apapun dan sebagian tidak suka jika pekerjanya sekolah apalagi sampai mengambil libur. Bosku mematahkan penilaian tersebut. Dia sangat mendukung impianku. Dia memberikanku ijin libur ketika aku harus ke Taipei untuk belajar. Aku merasa berdosa karena sudah berburuk sangka terhadapnya. Negeri ini pada akhirnya merupakan rumah kedua tempatku melabuhkan segudang harapan dan impianku. Tanah ini bukan hanya sekedar tempatku mengais pundi-pundi rupiah tetapi juga tempatku menuntut ilmu dengan harapan kelak aku bisa membawa pulang ilmu dan gelar baru yang akan ku bagikan kepada adik-adik kurang beruntung dikampung halamanku. Dirumah ini banyak petualangan yang kualami. Banyak kesadaran baru yang mulai aku mengerti. Benang merah antara peristiwa demi peristiwa kini tampak secara perlahan. Seperti peribahasa lama; “Kalau ada asap pasti ada api.” Hanya saja aku masih sering latah. Aku sering memperumit sesuatu yang seharusnya sederhana. Apa mungkin ini pengaruh dari keinginan yang seringkali melenceng dengan kenyataan? Atau ini apologiku untuk membela diri karena ketidaksabaran untuk mencapai semuanya dengan proses? Ya, proses. Penerjemahan dari usaha beriring dengan waktu. Mungkin mindsetku yang ingin semuanya serba instan. Aku ingin hasil yang cepat. Walaupun aku yakin Allah pasti punya rencana yang indah untukku. Untuk mengurai semua kamuflase yang kulakukan. Ataupun memecahkan cangkang yang mengungkungku. Entahlah. Sekarang aku hanya bisa berjalan menyusuri setiap sudut peristiwa. Menjawab pertanyaan yg muncul disela-sela waktuku menghitung arti diriku di dunia. Di sela-sela senyum dan kepedulian palsu yg datang dan pergi, aku kembali menyulam satu per satu mimpi demi mimpi meski dalam keramaian arogansi kehidupan yang sedang terjadi.

Marah Marah Marah

Oktavia Eka / Marah Marah Marah / tidak ada / tenaga kerja asing MARAH MARAH MARAH ” Kamu kerjanya ngapain aja ? Hah ? ” Jadi yang selama ini mengepel lantai pada pukul 5 pagi, memberi makan anjing setengah jam setelahnya. Mengurus MCK pasien yang 3 kali lamanya dibanding manusia normal. Memastikan semua baju kering tlah diangkat. Mencuci … Continue reading “Marah Marah Marah”

Oktavia Eka / Marah Marah Marah / tidak ada / tenaga kerja asing

MARAH MARAH MARAH

” Kamu kerjanya ngapain aja ? Hah ? ”

Jadi yang selama ini mengepel lantai pada pukul 5 pagi, memberi makan anjing setengah jam setelahnya. Mengurus MCK pasien yang 3 kali lamanya dibanding manusia normal. Memastikan semua baju kering tlah diangkat. Mencuci kamar mandi dan lalu mengelapnya lagi sampai kering. Menyiram 17 pot bunga yang ada di balkon. Menyiapkan sarapan tepat pukul setengah 8 pagi. Membersihkan puntung dan abu rokok di sekitar tempat sampah yang berceceran karna dibuang sekenanya. Dan pekerjaan pateng printil lainnya yang harus sudah selesai pukul 8 tepat itu siapa ? Lalu kemudian yang jam 8 baru bangun dan keluar dari dalam kamar langsung melempar pertanyaan; lebih tepatnya hardikan, kamu kerjanya ngapain aja hah hanya karna melihat sehelai rambut di atas keset kamar mandi yang memang tidak sengaja terlewatkan.
Kalau sepagi dan sesejuk ini saja sudah bisa segarang itu, bagaimana nanti siang ? Saat matahari berada di tengah-tengah tegak lurus dengan kepala.

” Lho kok bisa semahal ini ? ”

Pertanyaan yang selalu membuat saya malas pergi belanja saat cuaca buruk tiba. Sudah pasti otomatis harga sayuran, buah-buahan, dan lauk pauk akan naik drastis. Menepikan saya disini yang harus putar otak beberapa kali untuk menyiasati uang belanja yang masih tetap jumlahnya, jumlah keluarga yang harus diberi makan yang juga masih sama jumlahnya, sedangkan harga barang di pasar melambung dengan hebatnya. Dan nanti setelah sampai rumah masih disodori pertanyaan dan pernyataan tentang kenapa kok harga bahan makanan bisa semahal itu. Kalimat-kalimat berbau kecurigaan yang meluncur mulus. Padahal tanda bukti pembelian juga sudah dilampirkan.

” Nenek sekarang kurusan ya ! ”

Aaarrgghh mengapa ada rangkaian kalimat seperti ini pada lisan mereka ? Tidak adakah susunan kata lain yang lebih enak didengar ? Atau setidaknya tidak usahlah melontarkan kalimat semacam itu. Nenek sudah sejak 4 tahun yang lalu sakit. Tentu saja metabolismenya sudah tidak sama dengan manusia sehat. Sehari semalam juga tak kurang dari 4 kali waktu makan yang saya berikan. Pagi : 3 macam buah, 500 cc susu, sekerat roti gandum. Siang : nasi, sayur, kuah, lauk. Sore : 500 cc susu, sebungkus biskuit. Malam : kembali nasi, sayur, kuah, lauk. Porsinya pun kadang saya lebihkan agar benar-benar kenyang. Meski kata dokter porsi makan nenek tidak perlu terlalu banyak karna nenek tidak melakukan rutinitas yang berarti. Jika terjadi kegemukan juga tidak baik untuk kondisi kesehatannya. Tapi mengapa selalu saja kalimat yang sama diucapkan berulang kali. Seakan saya tidak menjaga dan merawat pasien dengan baik. Seakan saya hanya memikirkan perut sendiri dan tidak memperhatikan kesejahteraan pasien.

Memang, saya masih bergantung pada Anda untuk urusan uang. Saya masih membutuhkan gaji untuk mewujudkan semua mimpi. Saya masih harus patuh pada semua perintah Anda. Mengesampingkan hak-hak yang sudah dihapuskan secara sepihak. Menerima setiap ketidak adilan yang terpaksa harus dianggap sudah adil sajalah.

Tapi, saya juga punya nurani. Saya punya perasaan yang bisa saja sakit. Saya punya kemampuan yang berbatas. Saya punya daya ingat yang standar. Tolonglah sedikit saja menganggap saya manusia normal pada umumnya; yang juga butuh istirahat yang cukup, suasana kerja yang nyaman, pengakuan dan penghargaan atas hasil kerja, juga penghargaan atas perasaan yang saya punya.

Tanpa Anda hardik sekalipun, saya akan tetap mengerjakan semua sesuai prosedur. Menjalankan apa yang sudah menjadi kewajiban dan tanggungan saya bekerja pada Anda. Memastikan semuanya selesai dengan baik dan tepat waktu. Menjaga penuh kepercayaan yang sudah diamanatkan. Memperlakukan seluruh anggota keluarga dengan sebaik-baiknya.

Saya hanya meminta hak untuk tenang. Yang tanpa perlu was-was dan takut salah setiap kali melakukan pekerjaan. Kondisi kerja yang nyaman tanpa dirusuhi oleh kecurigaan-kecurigaan yang memang sampai sekarang belum terbukti kebenarannya. Kepercayaan yang selama ini masih seperti mimpi saya untuk memperolehnya dari Anda. Penghargaan atas setiap apa yang saya kerjakan untuk Anda.

Mohon maaf jika memang saya tak sesempurna apa yang Anda harapkan.

Satu hal yang pasti, saya tlah melakukan yang terbaik yang bisa saya lakukan. Untuk Anda dan keluarga Anda.

Taoyuan, 22 Mei 2016
*bukan kisah nyata. Hanya terinspirasi dari cerita salah satu sahabat, lalu didramatisir di beberapa bagian. Hehehe

Putih Abu – Abu Yang Ku Perjuangkan

Sesilia / Putih Abu – Abu Yang Ku Perjuangkan / Tidak ada / tenaga kerja asing Waktu itu aku berusia 15 tahun, aku di landa sebuah dilema akan sebuah pilihan antara impian ku atau keselamatan adik ku. Sebagai seorang kakak yang ingin meneruskan sekolah ke tingkat SMK, tapi harus dihadapkan dengan kondisi adik ku yang sangat memprihatinkan, butuh … Continue reading “Putih Abu – Abu Yang Ku Perjuangkan”

Sesilia / Putih Abu – Abu Yang Ku Perjuangkan / Tidak ada / tenaga kerja asing

Waktu itu aku berusia 15 tahun, aku di landa sebuah dilema akan sebuah pilihan antara impian ku atau keselamatan adik ku. Sebagai seorang kakak yang ingin meneruskan sekolah ke tingkat SMK, tapi harus dihadapkan dengan kondisi adik ku yang sangat memprihatinkan, butuh tindakan cepat untuk menolongnya. Aku hanya bisa pasrah melepaskan impian ku untuk adik ku tercinta. Hanya itu yang dapat ku lakukan untuknya saat itu. Karena saat itu bapak mengalami krisis, hingga akhirnya kuserahkan biaya sekolah ku untuk pengobatan adik ku, yang harus secara rutin satu bulan sekali selama dua tahun menjalani pengobatan rutin. Walau sesak rasa dada ini karena harus melepaskan impianku, tapi aku merasa bahagia karena adik ku dapat tertolong. Itulah pengorbanan ku untuk mu adik ku.
Pada suatu malam aku utarakan keinginan hati ku kapada orang tua ku, bahwa aku ingin bekerja ke Jakarta mencari uang untuk biaya sekolah dan aku mencoba meyakinkan mereka.
” Bapak, ibu, aku pasti bisa, aku ingin tetap melanjutkan sekolah,aku akan jaga diri baik – baik, tolong izinkan dan doakan aku.” Pinta ku kepada orang tua ku.
Suasana saat itu menjadi sunyi, orang tua ku terdiam dan terlihat buliran air mata menetes tak hentinya dari sudut mata mereka.
” Ndok, kalau itu memang sudah menjadi keputusan mu, bapak dan ibu akan mengizinkan mu dan akan mendoakan mu untuk menggapai impian mu.” Seru bapak yang langsung memeluk ku di iringi oleh ibu.
Akhirnya izin orang tua ku aku dapat kan dan segeralah aku mempersialkan perlengkapan untuk ke Jakarta.
Sore itu di Terminal bus aku di antarkan oleh bapak dan ibu. Aku selalu mencoba tersenyum ketika menatap wajah mereka agar mereka tak terlalu khawatir ke pada ku. Walau ku lihat raut wajah yang amat cemas yang tampak di wajah mereka.
” Pak, buk, jaga diri baik – baik, jaga kesehatan, aku pergi dulu.” Pamit ku seraya memeluk ke dua orang tua ku.
” Jaga diri baik – baik ndok, restu dan doa kami bersamamu. Jangan lupa kasih kabar ke kami kalau sudah tiba di Jakarta.” Tutur bapak yang di iringi isak tangis ibu yang dari tadi hanya terdiam di samping ku dan memeluk ku tanpa berkata apa pun.
Bus itu dan lambaian kedua tangan orang tua ku telah menjadi bukti sebuah perpisahan yang berbekal niat, keinginan, dan doa saat itu.
Ketika tiba di Jakarta aku selalu memberi kabar kepada orang tua ku agar mereka tidak terlalu mencemaskan ku, dan dapat memberikan pengobatan yang maksimal kepada adik ku.
Aku di Jakarta tinggal bersama kakak ku perempuan, dia sudah menikah dan mempunyai 4 orang anak. Dialah orang yang selalu membantu ku, dia juga yang memberikan pekerjaan kepada ku. Karena aku tidak ingin merepotkan siapa pun selama aku mampu mengatasinya sendiri. Aku menyuruhnya memperlakukan aku sebagai seorang karyawan agar aku dapat hidup mandiri.
Setelah satu tahun lamanya aku bekerja dan uang ku telH terkumpul serta cukup untuk biaya sekolah, aku mendaftarkan diri di SMK Jakarta dan aku di terima.
Di sanalah aku menuntut ilmu dan di sanalah aku mendapatkan seragam ku sebuah seragam yang aku perjuang kan ” putih abu – abu.”
Aku sangat bahagia karena mendapatkan sahabat yang amat baik, para guru yang selalu memberi ku motivasi.
” Uwie, kamu mau ikut kami setelah pulang sekolah nanti, kami mau nonton di bioskop.” Terdengar ajakan dari salah satu sahabat kepada ku.”
” Maaf aku tidak bisa karena aku ada pekerjaan.” Tolak ku.
Ya, karena aku tidak bisa seperti teman – teman yang dapat bermain sesuka hati mereka setelah jam pulang sekolah karena aku harus bekerja di toko kakak ku. Setelah pulang sekolah aku bekerja hingga pukul 21.00 malam, setelah itu aku masih harus mengerjakan tugas sekolah ku. Bahkan hari minggu pun aku tetap bekerja karena di hari minggu aku mendapat gaji penuh, sayang jika di tinggalkan. Sebenarnya kakak ku tidak tega dan ingin membantu ku tapi aku menolak karena aku sudah berkomitmen kepada diri ku, bahwa aku tidak akan pernah nerepotkan orang lain selama aku masih mampu.
Di sekolah aku mendapatkan jabatan sebagai Ketua Osis dan mendapatkan gelar murid tauladan dari para guru dan teman – teman. Sungguh bahagia sekali rasanya, aku dapat melalui hari – hari ku dengan sangat baik, walau rasa lelah menghinggapi tubuh ku tapi semua itu tidak membuat ku rapuh.
” Uwie,…Uwie…” Terdengar teriakan dari seseorang tapi hanya sekilas setelah itu semua gelap.”
Dan ketika aku membuka mata aku sudah berada di rumah sakit .Aku positif terjangkit tifes dan harus di rawat di rumah sakit, karena sebelumnya aku mengalami panas yang sangat tinggi selama satu minggu.
” Uwie, bulan depan kita akan mengikuti ujian, bagaimana dengan mu,” Ujar salah satu sahabat yang menjenguk ku sore itu.”
” Aku tetap akan mengikutinya, aku pasti bisa,” Jawab ku yang penuh semangat tapi bertolak belakang dengan keadaan fisik ku saat itu.”
” Ok, cepat sembuh wie, aku akan bawakan catatan untuk mu,” Sahut salah satu sahabat lain.”
Aku sangat beruntung mempunyai sahabat yang amat peduli kepada ku tanpa membedakan status. Mereka juga salah satu semangat ku dalam menuntut ilmu, karena mereka tahu aku sangat menghargai waktu. Karena setiap sedetik waktu yang hilang berarti kita telah melepaskan sedetik ilmu yang akan kita dapatkan.
Waktu ujian pun di mulai, akhirnya aku bisa mengikutinya. Walau masih dalam keadaan lemas tapi aku optimis dan semangat ku yang menggebu telah melenyapkan rasa lesu yang bersarang di tubuh ku. Puji syukur ku terhadap Tuhan karena aku dapat mengikuti ujian ku dengan baik dan lancar.
Dan hari yang ku tunggu – tunggu telah tiba, hari di mana perjuangan ku selama 3 tahun lamanya akan terlihat hasilnya. Wali kelas pun membacakan hasil dari ujian, dan nama ku terletak di posisi ke dua. Walau rasa sedikit kecewa menghinggap di hati ku karena selama 3 tahun aku selalu berada di posisi teratas. Tapi saat ini aku harus merelakan untuk orang lain. Karena sebuah penyakit yang menyerang ku waktu itu. Tapi tak mengapa, aku tetap bangga, aku dapat menyelesaikan sekolah ku dengan baik dengan kerja keras ku selama ini.
” Pak, buk aku lulus, Alhamdulilah dapat peringkat ke dua.” Jelas ku kepada ibu menggunakan telepon seluler waktu itu.”
” Alhamdulilah, bapak bangga kepada mu ndok.” Sahut bapak dan ibu yang terdengar sedang menangis karena bahagia.”
” Terima kasih pak, buk ini semua berkat doa kalian.” Tutup ku dalam pembicaraan tak lupa ku ucapkan salam.
Kebahagiaan yang ku dapatkan adalah sebuah bukti perjuangan yang telah aku lakukan untuk mendapatkan seragam putih abu – abu ku dan kini aku telah mendapatkannya. Aku percaya setiap kemauan pasti ada jalan jika kita mau berusaha dan berdoa. Dan sebuah kekurangan jangan lah jadi alasan untuk menyerah dan menggagalkannya. Sebuab pengorbanan ku untuk adik ku juga berbuah manis, dia sudah membaik sekarang walau belum sembuh total. Inilah kisah ku, Uwie seorang gadis yang telah berhasil memperjuangkan seragamnya.

May JURAGAN And DEGAN

Ana widiya H / May JURAGAN And DEGAN / Tidak ada / tenaga kerja asing Dear juragan bukan dear mantan, meme mau bilang sebenernya ini bukan rayuan atau sogokan tapi lebih mirip Surat pengakuan. Ketika aku membelah degan faforitmu, aku telah mematahkan pisau daging kesayanganmu, yang baru saja kamu beli dari jepang. Disini kejujuranku di uji, antara bilang … Continue reading “May JURAGAN And DEGAN”

Ana widiya H / May JURAGAN And DEGAN / Tidak ada / tenaga kerja asing

Dear juragan bukan dear mantan, meme mau bilang sebenernya ini bukan rayuan atau sogokan tapi lebih mirip Surat pengakuan. Ketika aku membelah degan faforitmu, aku telah mematahkan pisau daging kesayanganmu, yang baru saja kamu beli dari jepang.
Disini kejujuranku di uji, antara bilang jujur meski ajur dan kemungkinan gajiku dipotong atau berbohong sebentar aman tapi lama kelamaan ketauan malah jadi bumerang .
Dan aku memilih jujur meski hatiku hancur,membayangkan kemungkinan yang nanti akan menjadi hukumanku, keyakinanku semakin kuat ketika pesan almarhum bapak selalu mewanti wanti dalam wejangannya ” jadilah pribadi yang sabar, jujur dan rendah hati. Itu yang akan membuatmu tenteram, aman dan insyaAllah selamat dapat dipercaya majikan, meski kamu hanya seorang pembantu.
” Yes, almarhum bapak pasti angkat dua jempol buat ku di surga sana, untuk keputusanku kali ini” suara hatiku yakin.
Rucuh ( es degan kelapa muda ) dengan sirup gula merah, bercampur dengan serutan daging kelapa yang lembut sudah tertata menggoda, kuberi topping irisan strawberri dan daun mint di bibir gelas bening, yang mungkin nggak nyambung dengan isinya ku tata semanis mungkin. Berharap, ketika juragan pulang dari shoppingnya lalu Mendengarkan ratapan kesalahanku, akan sedikit lebih adem tanpa harus marah berapi api.
” Ting tong ” bel pintupun berbunyi, yang berarti juragan telah datang, kupaksakan wajahku tersenyum wellcome bergegas ku raih segala belanjaan dari tangan juragan.
” Hari ini sangat panas” keluhnya sambil berjalan menuju dapur , ku ikuti dari belakang dengan Persiapan wajah termelas dan terkusut.
” Lumayan lah ” sahutku menandakan responku yang selalu ON.
” Waow coconat with black sugar ” melihat beberapa gelas es degan yang telah kupersiapkan, wajah juragan nampak bersinar dan cerah secerah musim panas tahun ini.
Segera ia raih segelas es degan dan menyeruputnya ” ahh….,segar, manis sekali” penilaiannya tentang es degan buatanku.
” Benarkah? Trimakasih” jawabku sambil menata barang dalam kegalauan.
” Juragan, aku ingin bicara jujur padamu, hari ini aku merusakkan barang mu lagi” tuturku memelas.
” What?” Juragan terkejut. Aku menunduk.
” Barang apa lagi yang kamu rusakkan sekarang?” Tanyanya menyergap dalam curiga.
” Pisau daging yang baru kamu beli bulan lalu dari jepang, ku pakek untuk membelah
degan. Maaf, aku tidak sengaja melakukan semua ini” kataku menjelaskan kronologi patahnya pisau daging juragan.
Wajah juragan memerah bak kepiting rebus.
” Ya Tuhan, setelah kamu merusakkan kloset, memecahkan piring, mematahkan gagang pelpelan, menghilangkan gunting, menghilangkan uang jajan, sekarang kamu patahkan pisau dagingku? Anaaaaaa……, kenapa kamu ceroboh sekali?” Deretan daftar kesalahanku telah di jabarkan dengan geram.
” Nanti malam, setelah pekerjaanmu selesai temui aku di lantai atas” perintahny berlalu pergi.
Aku hanya bisa terapaku mendungu. Kemelut dalam otak dan benakku seakan akan membuat jaringan fonis kematian.
” Yah, tamatnya pekerjaanku nanti malam, atau di marahi habis habisan dengan fonis akhir, mengganti rugi di potong pas gajian dan kumungkinan terburuk aku benar- benar di pulangkan” bathinku dalam kegusaran yang mendalam.
Ku hela nafas dalam- dalam berharap jarum jam disitu saja, di angka satu siang jangan memutar menuju malam.
” Oh malam apa yang akan kuper buat?” Kegalauan ini menghantui siang sore ku.
Makan malam berjalan dengan lancar, duduk semeja antara dua juragan, nenek, dua cucunya dan aku. Kali ini makan malam berlangsung hening, tanpa candaan dan obrolan seperti biasanya. Setelah selesai mencuci piring aku bergegas nail ke lantai atas. Hatiku deg deg gan aku mulai gugup.
” Aku sudah siap Mendengarkan segala keputusanmu tentang kesalahanku, juragan” kataku gemeteran.
” Oh ya, es degan yang kamu buat siang tadi apa masih sisa ?” Tanya juragan , yang nggak nyambung dengan pertanyaanku.
” Masih, sisa dua gelas ” jawabku, cepat ku jawab, kutunjukkan sikap siagaku tanpa ragu.
” bulan 6 mendatang kita akan berlibur ke Amerika, ini naskah interfiu yang harus kamu hafalkan, untuk pengajuan Visa USA mu, jika kamu lolos dalam interfiu itu, semua kesalahanmu akan kami lupakan, jika kamu tidak lolos kami semua akan kecewa padamu” ancaman juragan yang masih ku telaah lama.
Ku tatap wajah nenek yang penuh dukungan mengangguk, ku lempar pandangan pada kedua juragan di sambut senyuman dan kepalan tangan penyemangat.
” Semangat ya an” kata mereka serempak.
Tubuhku lemas dan aku benar- benar tidak percaya, kebaikan keluarga juragan benar- benar menguras air mata jelataku. Dan sejak hari itu aku bertekad untuk tidak mengecewakan mereka lagi.
4 Mei, aku diantar juragan peremupuan untuk memgikuti tes interfiu di kedutaan USA, nasib baik berpihak padaku, Alhamdulillah aku dinyatakan lolos dengan mengantongi dua tahun masa tenggang Visa. Ku isaratkan senyuman pada juragan yang berada di luar ruangan, pertanda kabar bahagia, ketika aku keluar dari ruangan interfiu, kebahagiaan juragan meluap luap melebihi rasa bahagiaku yang kupendam sopan.
Setiba kami di rumah, juragan langsung sembahyang pada Tuhanny, aku hanya terpaku berdiri di depan pintu memunguti segala rasa bak menang undian milyaran,kejutan, kebaikan keluarga juragan, segala ujian dalam hidupku sejak dulu di jawab oleh Tuhanku, dengan melimpahkan segala kemudahan dan nikmat tanpa ku duga.
Juragan peremupuan meraih tanganku, menuntunku duduk berjejeran di sova, dia berkata ” kami sangat bahagia bisa mengajakmu ke Amerika, dengan segala perjuangan tentang kepengurusan dokumenmu yang begitu rumit, kami tak pernah menyerah agar kamu bisa merasakan kebahagiaan yang belum tentu seumur hidupmu bisa menginjakkan kaki di negara Amerika, trimakasih atas bantuanmu di keluarga kami, kita adalah keluarga dan kami tak pernah membeda bedakanmu tentang itu”

Dedikatet, buat keluarga Lan, ditengah tengah kelurgamu aku merasa berharga dari hanya sekedar pembantu yang kebanyakan di pandangan sebelah mata. Trimakasih atas segalanya.

Happiness will kill your sickness

R,Riyanti / Happiness will kill your sickness / Tidak ada / tenaga kerja asing HAPPINESS WILL KILL YOUR SICKNES Banyak yang mengatakan hidup adalah sebuah pilihan aku pikir juga begitu, tapi menurutku ada banyak hal dalam hidup ini yang tidak bisa kita pilih mungkin itulah yang dinamakan takdir ,yang pasti apa dan bagaimanapun jalan hidup kita itu tergantung … Continue reading “Happiness will kill your sickness”

R,Riyanti / Happiness will kill your sickness / Tidak ada / tenaga kerja asing

HAPPINESS WILL KILL YOUR SICKNES

Banyak yang mengatakan hidup adalah sebuah pilihan aku pikir juga begitu, tapi menurutku ada banyak hal dalam hidup ini yang tidak bisa kita pilih mungkin itulah yang dinamakan takdir ,yang pasti apa dan bagaimanapun jalan hidup kita itu tergantung bagaimana kita menjalani dan bagaiamana cara kita bersyukur dengan apa yang sudah diberikan Tuhan untuk kita karena setiap hal yang kita lewati seberapa menyakitkan itu pasti akan ada hikmah dan pelajaran yang bisa kita ambil didalamnya jika kita pandai memaknainya .
Tak ada seorang pun yang bercita-cita untuk menjadi TKI/TKW begitupun aku seingetku dulu waktu kecil kalau ditanya “kamu mau jadi apa ? …. aku pasti akan menjawab aku mau jadi polwan” 😀
Tapi apa mau dikata jika jalan Tuhan menjadikan aku seorang TKW ahhh! Tapi apa salahnya menjadi seorang tkw toh bukan pekerjaan yang buruk ,ya walau pun masih ada saja yang memandang pekerjaan kami ini dengan sebelah mata ,mereka tidak tahu saja menjadi seorang tkw itu tidak mudah membutuhkan skil yang tinggi harus bisa bahasa dari negara yang ditempati dan banyak lagi keterampilan yang harus dikuasai.
Taiwan orang sering menyebutnya dengan negri formosa banyak orang yang menggantungkan harapan dan cita-citanya disini termasuk aku ,bagiku taiwan bukan hanya tempat untuk mengais rezeki tapi juga jalanku untuk meraih mimpi yang sempat tertunda ,mimpi ku menjadi seorang sarjana, ini kali kedua kedatanganku kenegri formosa pekerjaanku disini merawat ama disela sela kegiatanku sebagai seorang care giver aku gunakan waktu luang ku untuk kuliah disalah satu universitas Indonesia yang dikelola oleh mahasiswa Indonesia yang sedang mengambil pendidikan ditaiwan tentunya atas seijin majikanku,menjadi sarjana adalah cita2 keduaku setelah aku gagal menjadi seorang polwan hehe .
Hubunganku dengan majikan cukup dekat mereka tidak menganggapku seperti orang lain mereka menganggapku seperti keluarga sendiri setidaknya itu yang aku rasakan 😀 ,dan bagiku mereka bukan hanya sekadar majikan tapi juga guru terbaiku mereka mengajariku banyak hal tentang hidup.
Biasanya kalau pulang lebih awal laobaniang (Bos perempuan) selalu bercerita tentang aktifitasnya dikampus tempat beliau mengajar pernah beliau cerita ada salah satu dosen dikampus tempat beliau mengajar yang mengidap penyakit kangker”
“Lizze kamu ingat dulu aku pernah cerita kalau ada satu temanku yang mengidap penyakit kanker ,iya aku ingat
Dulu saya pernah menawari untuk menggantikan beliau mengajar ,tapi beliau menolak saya fikir semester ini beliau tidak akan mengambil matakuliah lagi ,karena saya melihat kondisinya sudah tidak memungkinkan untuk kembali mengajar , tapi hari ini saya melihat beliau kembali mengajar saya lihat keadaannya sudah sangat lemah saya sempat bertanya kenapa kamu tidak istirahat saja dirumah ,dia mengatakan aku tidak mau hanya diam dirumah untuk menunggu mati”disisa umurku yang entah sampai kapan paling tidak saya masih bisa memberikan sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain” .
setahun yang lalu beliau pernah dioperasi kesehatannya sempat membaik tapi sel kangkernya sudah menyebar ke bagian organ tubuhnya yang lain , saat ini beliau rutin melakukan kemoterapi beliau tahu kemoterapi tidak membnuh sel kangker dalam tubuhnya tapi hanya bisa memperlambat pertumbuhannya dan itu beliau lakukan untuk membantu mahasiswanya yang sedang melakukan penelitian untuk pengidap penyakit kangker ,aku sempat terkejut haahh ! penelitian seru ku ,(seketika itu tumbuh kekaguman dalam diriku walaupun aku tidak pernah mengenal sosoknya tapi bagiku beliau orang yang sangat luar biasa bagaimana tidak dalam keadaan sekaratpun beliau masih memikirkan orang lain.) .
Biasanya kalau pas liburan semester aku disela sela waktu kosongku aku gunakan untuk sekedar browsing internet atau buka youtube tentunya chanel Indonesia sekedar melepas kangen dan mencari tahu bagaimana situasi diindonesia terbaru,entah kebetulan atau apa,pas aku iseng buka youtube ada salah satu acara reality show di Indonesia bintang tamunya adalah seorang anak baru berumur 5 tahun yang mengidap leukemia (kangker darah) diacara itu disebutkan bahwa sang anak mulai mengidap leukemia sejak berumur 9 bulan ,Tapi yang membuat menarik anak itu bisa bertahan sampai usianya yang kelima itu dari sebuah wayang konon katanya anak ini sangat mengidolakan salah satu tokoh wayang yang yang bernama wisangeni ,wisangeni ini tokoh wayang yang sangat kuat bahkan kekuatannya melebihi gatot kaca ,entah bagaimana dia menghidupkan tokoh wayang ini kedalam dirinya , ayahnya ini menceritakan bagaimana kuat nya sang anak menghadapi penyakit bahkn ketika dikemo atau diambil sumsum tulang belakangnya tidak mengeluarkan air matanya dia selalu berkata “ayah wisangeni itu kuat ya tidak pernah nangis ,aku juga mau seperti wisangeni yang kuat ,sesekali si ayah terlihat berkaca kaca dan tetap melanjutkan ceritanya pernah leukositnya naik sampai 260ribu, kata dokter harus dirawat tapi anak saya bilang ayah ,ayahkan sudah janji mau nonton wayang saat itu anak saya baru berumur 2,5 thn saat itu yang dalam pikiran saya entah hari ini atau besok Tuhan mengambilnya saya ikhlas ,yang penting untuk saat ini adalah kebahagian dia akhirnya saya tidak menuruti perkataan dokter dan saya membawa anak saya nonton wayang saya melihat dia sangat bahagia sekali ,dan saya memutuskan untuk tidak kembali kerumah sakit karena saya melihat keadaannya sudah lebih baik setelah 3hari kemudian chek up lagi kerumah sakit Alhamdulillah leukositnya turun menjadi 198rb,hampir semua semua audiens yang menoton acara itu menangis termasuk aku walau aku hanya melihatnya dari monitor .
Ternyata benar apa yang dikatakan sebagian orang happiness is the best medicine (kebahagian adalah obat terbaik) aku teringat apa yang slalu dikatakan laobaniangku ,tidak peduli nanti akan seperti apa selama itu positif lakukan apa yang membuat mu bahagia.
Cerita dari mereka membuat aku berpikir bahagia itu tidak selalu berupa materi,seperti halnya teman majikanku dengan mengajar dia merasa bahagia dan hidupnya lebih berarti dari hanya sekedar berdiam diri dirumah menunggu kematian karena sakitnya dan si anak kecil itu wayang adalah kebahagiannya ,dengan menonton wayang dia mersa semangat hidupnya tumbuh dan memiki kekuatan untuk melawan hidupnya
Ternyata bahagia itu sangat sederhana lakukan apa yang kita suka maka kita akan bahagia…

End
NB : Darah manusia terdiri atas sel-sel darah dan cairan yang disebut sebagai plasma darah. Sel darah terdiri atas
Sel darah merah (erythrocit), Sel darah merah akan membawa nutrisi serta oksigen ke organ, jaringan dan sel-sel dalam tubuh kita.
Sel darah putih (leukosit), Sel darah putih (leukosit) merupakan sistem pertahanan tubuh yang penting untuk menangkal bakteri, virus, kuman, dan kotoran lain yang memicu penyakit yang melemahkan tubuh. (Baca : Penyebab kelebihan sel darah putih)
Keping darah (trombosit). Leukosit mempertahankan tubuh dari serangan penyakit dengan cara memakan (fagositosis) penyakit tersebut. Begitu tubuh mendeteksi adanya infeksi maka sumsum tulang akan memproduksi lebih banyak sel-sel darah putih untuk melawan infeksi.

SAKURA DI TAMAN HATI

Nok Djoyorady Ipank / SAKURA DI TAMAN HATI / Forum Lingkar Pena Taiwan / tenaga kerja asing SAKURA DI TAMAN HATI Sepi. Seperti inilah suasana taman yang setiap hari aku dan Nenek kunjungi. Orang-orang lebih memilih mengunjungi taman yang lebih besar di tempat lain daripada di sini. Hampir setiap pagi aku menemani Nenek yang kurawat ke taman ini … Continue reading “SAKURA DI TAMAN HATI”

Nok Djoyorady Ipank / SAKURA DI TAMAN HATI / Forum Lingkar Pena Taiwan / tenaga kerja asing

SAKURA DI TAMAN HATI

Sepi. Seperti inilah suasana taman yang setiap hari aku dan Nenek kunjungi. Orang-orang lebih memilih mengunjungi taman yang lebih besar di tempat lain daripada di sini.

Hampir setiap pagi aku menemani Nenek yang kurawat ke taman ini untuk jalan-jalan santai mengitari taman atau sekadar duduk-duduk berjemur. Namun, Nenek lebih suka olahraga Yoga di sini. Karena tempatnya lengang dan lumayan sejuk, cocok untuk beryoga.

“Kenapa Nenek lebih suka di sini daripada di taman lain?” suatu hari tanyaku padanya.

“Di taman ini ada sejuta kenang dalam hidupku, Mei.”

“Bukankah di sana lebih besar, indah, dan banyak orang, Nek?”

“Iya…, aku jauh nyaman di sini.”

Oh, alasan itulah Nenek lebih suka singgah di sini daripada di tempat lain. Kumaklumi, walau sebenarnya aku kepingin sangat ke taman besar di seberang jalan. Di sana,aku bisa berjumpa dengan teman dari tanah air. Apalah daya?

***

Pagi ini, setelah ikut lari-lari kecil mengitari taman bersama Nenek, aku istirahat di gardu taman. Nenek berolahraga Yoga tak jauh dari tempat dudukku.

Di bangku taman ini, sembari menunggu Nenek aku bisa menikmati sejuknya taman penuh bunga-bunga. Merehatkan penatnya badan dari rutinitas bertumpuk-tumpuk, pekerjaan rumah yang kujalani.

Menikmati musim daun-daun gugur, menikmati hujan Sakura di kala bunga-bunganya mekar dan jatuh satu-satu dibelai-belai mesra angin. Terkadang aku juga bisa menikmati turunnya hujan deras saat kami terjebak hujan. Pun, hujan airmataku saat-saat aku merindukan rumah.

“Mei, keluarkan manthou dan kopi di termosnya. Kita sarapan dulu, ya?” ucap Nenek menghampiriku.

“Iya, Nek. Tumben yoganya sebentar?”

“Iya. Aku pengen ngobrol denganmu.”

Nenek duduk di bangku hadapanku sembari makan manthou kukusnya. Sesekali menyeruput kopi. Pun aku, sama. Saban hari kita selalu membawa bekal sarapan dari rumah.

“Kamu nggak bosan, kan, selama ini menemani nenek hampir setiap hari di taman ini?”

Nenek menatapku kalem.

“Tidak, Nek. Justru suka sangat. Di sini Amei bisa melihat Sakura bermekaran, Azalea mekar dengan indahnya….”

“Dan…, itu kali pertama dalam hidupmu melihat Sakura, kan?” ucapnya memotong pembicaraanku.

‘Hahaha…hahaha….’

Kami tertawa bareng. Memang kenyataannya seperti itu.

“Taukah, Mei? Kenapa taman ini begitu berkesan?”

“Kenapa, Nek?”

“Di sini nenek kali pertama bertemu dan berkenalan dengan almarhum Kakek. Pun setiap hari sampai sebelum Kakek meninggal selalu beryoga bareng di sini.”

Nenek mulai serius memulai curhatnya. Di situ aku mulai tahu banyak hal betapa tempat yang indah ini bagi Nenek dengan segala kenangannya.

Di sini aku juga sering berbagi banyak hal tentang keluargaku, kampung halaman, pohon Mangga di depan rumah, juga tentang kekasihku kepadanya.

Nenek tahu itu semuanya. Karena sembari menungguinya berolahraga, aku sering kali menelepon ke kampung halaman, mendengarkan musik dari earphone hpku, pun terkadang menulis diari berisi serupa surat-surat cinta, puisi-puisi kerinduan, dan sejenisnya di bawah pohon Sakura yang sedang mekar-mekarnya. Sejuk, indah!

“Kamu suka nulis juga, ya?” tanyanya sambil mengelap mulut dengan tisu dari sruputan terakhir kopinya menuju tandas.

“Suka sangat, Nek.” jawabku singkat.

“Selama ini kamu juga suka, kan, menjaga nenek dan bekerja di rumah kami?”

Raut muka Nenek mendadak sedih.

“Suka, Nek.”

“Terima kasih. Aku selama ini terlalu merepotkanmu, Mei.”

“Kenapa berkata seperti itu, Nek?” lirih tanyaku.

“Tak apa. Suatu saat nanti aku juga bakal merindukan ‘surat rindu’ dari kampung halamanmu untukku, seperti yang selalu kautulis di bawah Sakura di taman ini.” ucapnya penuh harap.

“Emmm…, itu pasti, Nek.” jawabku mantap. “Kan, kutulis untuk Nenek di bawah Pohon Mangga besar. Di pelataran depan rumahku.”

Mata Nenek berkaca-kaca. Pada akhirnya tangisnya pecah. Terisak-isak. Pun hujan deras dari mataku jatuh berderai-derai di pipi, yang sebelumnya gerimis jauh lebih dulu mampir di mataku. Saat terucap kata pamit dan pisah, tadi.

Dan, aku pasti akan merindukan yang semua-muanya tentang Taiwan, selama 3 tahun di sini.

Besok, aku pulang….
Bukit Perindu, 208516_
Ap Aksara Pelangi