Keberhasilak Butuh Kesabaran

atin / Keberhasilak Butuh Kesabaran / tidak ada / tenaga kerja asing Kami tinggal di suatu desa yang tidak punya pekerjaan tetap,kami sudah di karuniai dua orang anak cewek cowok.Berawal dari faktor ekonomi dan banyaknya hutang dengan penuh kesabaran aku merayu suami sampai tiga tahun lebih untuk Meminta ijin kerja keluar luar negeri.alhamdulillah akirnya suami mengijinkan aku kerja … Continue reading “Keberhasilak Butuh Kesabaran”

atin / Keberhasilak Butuh Kesabaran / tidak ada / tenaga kerja asing

Kami tinggal di suatu desa yang tidak punya pekerjaan tetap,kami sudah di karuniai dua orang anak cewek cowok.Berawal dari faktor ekonomi dan banyaknya hutang dengan penuh kesabaran aku merayu suami sampai tiga tahun lebih untuk Meminta ijin kerja keluar luar negeri.alhamdulillah akirnya suami mengijinkan aku kerja jadi tkw,negeri formosalah negara tujuanku.Dengan penuh lika liku aku belajar di pt sampai empat bulan lebih akirnya aku bisa terbang ke taiwan.Berat rasanya kaki mau melangkah,rasa senang sedih jadi satu.Senangnya sudah bisa terbang ke taiwan,sedihnya harus berpisah dengan keluarga meninggalkan anak anak ku yang masih kecil.suamiku hanya diam tanpa kata.Tanggal 18-08-2010 pertama kali kakiku menginjak bumi formosa,negara yang begitu asing bagiku.Hanya berbekal tekad dan niat yang kuat demi masa depan anak anak ku ,karena bahasa mandarin aku juga masih blepotan.Setelah selesai medical dan lain lain aku di anter ke kantor egensi untuk tanda tangan perjanjian kerja,rasanya sudah tak sabar pengen cepat sampai di tempat kerja.akirnya jam 14.00 egensi membawa saya kesuatu tempat ,sampai di situ aku di sambut dengan baik,tapi aneh nya aku tidak melihat ama ,karena di perjanjian kerja job saya jaga ama.Tak lama kemudian datanglah seorang laki laki muda ,egen bilang inilah majikanku ,setelah selesai tanda tangan perjanjian dengan laopan egen bilang saya mau di bawa ke sincu karena ama tinggal di sincu.Hari semakin gelap ,perjalanan satu jam lebih belum juga sampai rumah ama,aku semakin penasaran mau di bawa kemana aku ini,tak lama kemudian berhentilah mobil laopan dan naiklah seorang ibu muda ikut bersama kami,ternyata dia kakak perempuan laopan.Jam 20.15 saya di sebuah rumah yang gelap gulita tanpa seorang pun ,hanya se ekor anjing besar.Hatiku semakin penasaran mau di suruh kerja Apa ini.tak lama kemudian majikan masuk rumah dengan mengandeng ama yang masih sehat,ternyata ama maen kerumah tetangga.kami hanya tinggal berdua dengan ama,tapi ama cuci darah setiap hari senin,rabu,jum at.ama agak pikun,alhamdulillah majikan semua baik,saya juga di ijinkan pakek hp.sampai satu minggu aku bersih bersih belum selesai,setiap hari saya melihat uang di mana mana,sengaja aku kumpulkan lalu saya kasihkan majikan ,aku takut itu uang Majikan sengaja mau menguji kejujuranku,ternyata bukan itu semua uang ama ,dia tidak tahu.Ama mempunyai lima orang anak,dua laki laki tiga perempuan,mereka semua kerja seminggu sekali datangnya.Lama kelamaan keluarlah sifat asli ama,suatu malam jam 00.30 ama bangun langsung marah marah katanya nyuri uang ama 4800nt,setiap hari aku di tuduh nyuri telur,ayam dan lain lain.sampai pagi ama tidak tidur marah marah terus, aku mencari uang ama dimana mana gak ketemu ,pas jam 7.00. Aku buka tas ama ternyata uang ama ada didalam tas ,lalu aku kasih ama saya suruh dia ambil sendiri di dalam tas,bukanya ucapan terima kasih yang aku dengar,tetapi malah omelan yang aku dapat,kata nya aku sengaja memindahkan uang ama ke dalam tas.pas jam 8.15 aku di ajak ama ke kantor polisi, sebelum berangkat aku minta ijin ke kamar mandi mau kencing ,padahal aku telepon majikan apa yang sedang terjadi,setelah sampai di depan kantor polisi tiba” hp ama bunyi ,laopan telepon ama nyuruh pulang ,akirnya ama tidak jadi lapor polisi,sambil berjalan pulang ama ngomel” terus.sampai jam 12 siang q pun tidak boleh masak juga tidak boleh makan apa” sedangkan ama minum susu.alhamdulillah semua majikan percaya sama saya .Jam 5sore aku di usir ama tidak boleh masuk rumah ,pintupun di kunci ,haus lapar capek ngantuk sedih jadi satu,jadi teringat anak anak ku.tak tahan air mata ku .aku duduk di pinggir jalan .alhamdulillah di dekat rumah ama ada pembantu dari indo juga.akirnya aku di kasih makan minum ,dan di pinjemin uang untuk beli pulsa.aku telepon majikan jam 18.20 datanglah majikan ,marahin ama dan akupun akirnya di ajak masuk rumah.laopan dan ama bertengkar hebat sampai laopan di usir juga sama ama.majikan nasehatin aku kamu harus sabar karena ama sakit .jadi luan seng ci.aku berusaha sabar dan kuat.walau dengan sembunyi” alhamdulillah aku bisa solat.hari hariku penuh dengan caci makian dari ama ,tak jarang juga aku tidur di teras rumah.pernah juga jam 2 malam aku di usir sambil bawa pakaian duduk di perempatan jalan.aku berusaha iklas menjalani semua.tak lepas dari istifar .akupun tidak berani telepon rumah atau majikan karena aku pikir tengah malam tak ada gunanya juga.sampai pagitaku di luar pas jam 6 pagi aku telepon egen minta pindah majikan.tetapi usahaku tidak berhasil,karena egesi lapor majikan dan majikan tidak mengijinkan saya pindah .dia bilang itu penyakit ama aku harus sabar.Karena majikan semua baik dan percaya sama saya ,gajipun juga lancar.,akirnya aku putuskan untuk tetap bertahan.teman teman juga baik semua.Kulalui hari” ku dengan penuh kesabaran dan keiklasan.setelah aku kerja 6 bulan dapat kabar dari rumah katanya suamiku menghabiskan uang yang aku kirim untuk bayar hutang tidak di bayarkan.ingin rasanya menjerit sekuat kuatnya tapi aku hanya bisa menahan semua itu.aku pasrah mungkin semua karena AllOh swt sayang sama saya.ama pun semakin parah crewetnya.tiada hari tanpa marah.saya yakin semua akan berakir indah jika aku bisa sabar dan iklas,dan aku yakin AlLoh tidak akan menGuji Di luar kemampuan hamba”nya.Waktu berjalan begitu cepat aku Sudah kerja satu tahun lebih.Suatu hari aku di suRuh bersih” rumah anaknya ama yang perempuan karena tidak jauh darI rumah ama .aku pergi sendiri ama Sendiri di rumah.kerja juga beLum ada 15 meniT ,ada telepon darI tetangganya aMa katanya ama Terpeleset di depan rumah,aku langsung lari pulang.sampai rumah Sudah banyak orang meNoLong ama.mereka marahin saYa katanya saya Luan bao meiyO hao hao cauku ama..setelah majikan datang langsung telepon 119 Dan ama di bawa kerumah sakit,tangan ama ternyata retak terpaksa harus di giv.aKirnya ama tidak bisa gerak jadi semua aku yang urus mandi makan Ama.Dengan penuh kesabAraN aku meraWat ama Dia pun sudah tidak marah” lagi.alhamdulillah 4 bulan tangan ama sudah sembuh,aku pikIr dia terus baik padaku tidak tahunya kambuh lagi sifat asLinya.Lama kelamaan aku cari cara bagaiMana ngadepin ini orang?akirnya ketemu juga ,aku minta kunci rumah sama majikan,jadi setiap ama ngusir aku, aku sembunyi di rumah tetangga,lewat pintu jendela aku ngintip ama sudah tidur atau belum,kalau ama sudah tidur aku pelan” masuk rumah dan sembunyi di kamar depan pintu aku kunci,lampu aku mati in semua.dan setiap ama marah” aku cuma diam beribu kata tak ada satu katapun yang aku jawab.begitu aku jalani hari hariku.Kerja sudah dua tahuN lebih dapat kabAr lagi dari rumah bapak ku sakit ,karena mikiriN ulaH suami yang semakin menjadi jadi ,katanya ada pihak bank mau menyita tanah orang tuaku karena suamiKu pinjam uang ke bank. Pakai sertifikat tanah oraNg Tuaku.Coba an terus silih berganti,aku hampir salah pergaulan,karena semua beban yang aku alami.alhamdulillah di AllOh masih sayang Sama saya ,dipertemukanlah aku dengan temen satu pt dia alIm rajin soLat.dan akuPun di perkenalkan dengan salah satu majelis taklim on air yan ada di taiwan ,aku diajak ngaji,setiap ada waktu luang .subhanalloh walau hanya lewat udara dan sambil bekerja kami bisa menuntut ilmu,banyak teman walau hanya lewat telepon.Aku semakin tegaR menghadapi hari hariku.tidak terasa waktu berjalan begitu cepat akirnya saya sudah mau finis kontrak ,majikan semua memohon kepada saya untuk kembali lagi jaga ama.waktu tinggal 40 hari alhamdulillah semua proses berjalan lancar ,semua biaya direct hiring dan tiket pulang pergi semua majikan yang bayar bahkan gaji saya juga di tambah .Puji Syukus selalu saya panjatkan alhamdulillah iNi semua berkat kesabaraN dan KeiklasaN saya. Saya di kasih cUti satu bulan.Rasanya sudah tak tahan pingin cepat ketemu anak anak ku dan keluarga .Begitu keluar dari bandara aku tengok kanan kiri mencari keluarga yang menjemputku tak lama kemudian aku dengar tiriakan ibu itu ibu mas anakku yaNg cewek kupeluk kucium anak anak ku yang sudah tumbuh besar dan berpakaian acak acak an .tak tahan aku menahan air mataku aku peluk mereka erat” tanpa menghiraukan barang” ku.Kamipun langsung puLang jam 5 pagi kami saMpai di rumah ,aku langsung mencari ibuku yang semakiN tua.Aku peluk cium juga dia .Senang rasanya kumpul dengan keluarga melepas rindu yang sekian laMa .waktu aku pulang Bertepatan hari raya idul fitri .SeTelah di rumah 2 minggu datangLah 2 orang tamu pereMpuan dengan berpakaian rapi ,ternyata mereka pegawai bank mau menagih hutang ke suamiku.Aku hanya diam tak mau berkata apa”.Aku gunakan waktu cUtiku dengan Anak”.1 bulan waktu begitu cepatnya belum puas melepas rindu dengan keluarga terpaksa aku harus berangkat lagi walau dengan berat hati .anak” ku orang tua dan tetangga semua menangis. Tanggal 28-08-2013 aku menginjakan kaki ku yang ke 2 di bumi formosa .Setelah medical dan membuat arc aku langsung pulang kerumah ama di sincu.Mulai lagilah saya berjuang sebagai pahlawan devisa .Di kontrak yang ke 2 Ini ama sering keluar masuk rumah sakit.Hari” ku juga masih seperti dulu .ama semakin hari semakin parah dia sudah mulai memukul, mencubit ,nendang bahkan ngludahin aku apalagi kebiasaan ngusirnya semakin menjadi.aku tak menghiraukan semua itu karena aku tahu itu penyakit nya.waktu terus berjalan hanya kesabaran ,keiklasan dan penuh dengan kenyakinan semua akan berakir dengan keindahan dan kesuksesan.Alhamdulillah suamiku Akirnya juga sembuh dari Perbuatan buruknya,anak” juga Sudah tumbuh dewasa,majikan semua semakin Baik semakin sayang sama saya,mereka tak pernah membedakan antara pembantu dan majikan saya sudah di anggap keluarganya sendiri,hanya ama saja yang semakin menjadi jadi .tapi itu semua aku anggap biasa karena mungkin sudah terbiasa malahan kalau ama tidak marah rasanya bagaikan sayur tanpa garam .KesabAraN yang iklas pasti akaN berakir dengan keindahan !!

สร้างความฝันด้วยพลังในต่างแดน

นายไพศาล เมืองแทน / สร้างความฝันด้วยพลังในต่างแดน / สถานีวิทยุอาร์ทีไอ / แรงงานต่างชาติ จากประเทศไทย ผมไพศาล เมืองแทน ขอเล่าประวัติความเป็นอยู่ในต่างแดน จากไต้หวันมุ่งมั่นมาหาเงินส่งกลับบ้านเพื่อสร้างฐานะ และอนาคตที่สดใสต่อไป ย้อนมองหลังยังห่วงหน้าเวลาผ่าน ผมไพศาลพินิจดูอยู่เป้าหมาย มองกลับหลังทางลำบากแสนยากใจ ถึงเส้นชัยตามหมายปลงประสงค์มา เมื่อคราวต้นทุนลำบากคนรากหญ้า ดิ้นรนหาโอกาสใหม่ใจมุ่งหมาย ทิ้งพ่อแม่บ้านเรือนเก่าเราซุกกาย เพิ่มเติมไฟใจนักสู้เลือดภูธร ถิ่นลือนามตามลัดฟ้าห้าพันลี้ มาที่เมืองแปลกใหม่ใจทอดถอน ห่างญาติมิตรทั้งพ่อแม่และเรือนนอน ด้วยสังวรณ์เคยจนยากอยากสู้มัน เมืองไต้หวันก็เปลี่ยนการผกผันกลับ อ้าแขนรับผู้ฝันใฝ่มาไกลบ้าน ให้โอกาสเพื่อสร้างฝันนั้นคืองาน เรามุ่งมั่นโอกาสใหม่ไต้หวันดี จึงเกิดมีสองประสานพลันมาสู่ เราใจสู้บวกโอกาสสมคาดหมาย ผลที่ทำนำเลี้ยงดูผู้อยู่ไกล มีรถใช้ที่ดินบ้านฐานมั่นคง ตรงหนี้สินที่เคยสร้างคราวยังแย่ ได้ปลดแก้ลุล่วงหมดชดเชยให้ วันที่ดีเปลี่ยนจากแย่แม่ชื่นใจ เพื่อนน้อยใหญ่ญาติเครือเราเฝ้ายินดี ณ.จุดนี้คือเส้นชัยไต้หวันมอบ ข้าอยากหมอบกราบขอบคุณที่หนุนข้า เพราะไต้หวันนั้นก่อเกินเจริญมา สมอุราจึงขอมอบคำขอบคุณ ยังมีอีกประทับใจให้อบอุ่น ผู้มีคุณบอกกล่าวเรื่องถิ่นเมืองใหม่ มีข่าวสารสาระหลากจากอาร์ทีไอ ผู้มาไกลรู้กฏบ้านท่านแนะนำ ณ.จุดนี้มาถึงได้อาร์ทีไอช่วย หายงงงวยพูดจีนนั้นท่านขานไข สอนฟังพูดพาฝึกฝนจนเข้าใจ มิตรของไทยที่คงมั่นท่านอุ้มชู เป็นเหมือนผู้เอาทองวางปิดหลังพระ เพื่อนไทยข้าคราท้อถอยคอยหนุนสู้ หนุนใจใหม่อาร์ทีไอได้ฟื้นฟู ซึ้งใจอยู่รู้และชอบจึงขอบคุณ บุญอีกอย่างที่ย่างเท้าเข้ามาพบ ได้ประสบเเพื่อนหญิงชายไทยทั่วหน้า ไทยพลัดถิ่นพี่น้องกันผูกพันมา กัลยา-นิมิตรใหญ่ไทยด้วยกัน … Continue reading “สร้างความฝันด้วยพลังในต่างแดน”

นายไพศาล เมืองแทน / สร้างความฝันด้วยพลังในต่างแดน / สถานีวิทยุอาร์ทีไอ / แรงงานต่างชาติ จากประเทศไทย

ผมไพศาล เมืองแทน ขอเล่าประวัติความเป็นอยู่ในต่างแดน จากไต้หวันมุ่งมั่นมาหาเงินส่งกลับบ้านเพื่อสร้างฐานะ และอนาคตที่สดใสต่อไป
ย้อนมองหลังยังห่วงหน้าเวลาผ่าน ผมไพศาลพินิจดูอยู่เป้าหมาย มองกลับหลังทางลำบากแสนยากใจ ถึงเส้นชัยตามหมายปลงประสงค์มา
เมื่อคราวต้นทุนลำบากคนรากหญ้า ดิ้นรนหาโอกาสใหม่ใจมุ่งหมาย ทิ้งพ่อแม่บ้านเรือนเก่าเราซุกกาย เพิ่มเติมไฟใจนักสู้เลือดภูธร
ถิ่นลือนามตามลัดฟ้าห้าพันลี้ มาที่เมืองแปลกใหม่ใจทอดถอน ห่างญาติมิตรทั้งพ่อแม่และเรือนนอน ด้วยสังวรณ์เคยจนยากอยากสู้มัน
เมืองไต้หวันก็เปลี่ยนการผกผันกลับ อ้าแขนรับผู้ฝันใฝ่มาไกลบ้าน ให้โอกาสเพื่อสร้างฝันนั้นคืองาน เรามุ่งมั่นโอกาสใหม่ไต้หวันดี
จึงเกิดมีสองประสานพลันมาสู่ เราใจสู้บวกโอกาสสมคาดหมาย ผลที่ทำนำเลี้ยงดูผู้อยู่ไกล มีรถใช้ที่ดินบ้านฐานมั่นคง
ตรงหนี้สินที่เคยสร้างคราวยังแย่ ได้ปลดแก้ลุล่วงหมดชดเชยให้ วันที่ดีเปลี่ยนจากแย่แม่ชื่นใจ เพื่อนน้อยใหญ่ญาติเครือเราเฝ้ายินดี
ณ.จุดนี้คือเส้นชัยไต้หวันมอบ ข้าอยากหมอบกราบขอบคุณที่หนุนข้า เพราะไต้หวันนั้นก่อเกินเจริญมา สมอุราจึงขอมอบคำขอบคุณ
ยังมีอีกประทับใจให้อบอุ่น ผู้มีคุณบอกกล่าวเรื่องถิ่นเมืองใหม่ มีข่าวสารสาระหลากจากอาร์ทีไอ ผู้มาไกลรู้กฏบ้านท่านแนะนำ
ณ.จุดนี้มาถึงได้อาร์ทีไอช่วย หายงงงวยพูดจีนนั้นท่านขานไข สอนฟังพูดพาฝึกฝนจนเข้าใจ มิตรของไทยที่คงมั่นท่านอุ้มชู เป็นเหมือนผู้เอาทองวางปิดหลังพระ เพื่อนไทยข้าคราท้อถอยคอยหนุนสู้ หนุนใจใหม่อาร์ทีไอได้ฟื้นฟู ซึ้งใจอยู่รู้และชอบจึงขอบคุณ
บุญอีกอย่างที่ย่างเท้าเข้ามาพบ ได้ประสบเเพื่อนหญิงชายไทยทั่วหน้า ไทยพลัดถิ่นพี่น้องกันผูกพันมา กัลยา-นิมิตรใหญ่ไทยด้วยกัน
ขอขอบคุณพี่น้องไทยที่ใจรัก ที่สมัครสมานใจใกล้ชิดนั่น ด้วยวันนี้ครบสัญญาต้องลากัน หวลคืนบ้านเฝ้าป่วยแม่ดูแลไป พ่อก็จากไปไม่มีวันกลับ ด้วยมะเร็งร้ายเมื่อปีกลาย
ผมไพศาลจำไม่ลืมที่ได้กล่าว ทุกเรื่องราวทุกเหตุการณ์ไต้หวันให้ ตัวจำจรใจไม่อยากพรากหนีไกล มีวันใหม่หวลบรรจบคงพบกัน
เป็นเรื่องราวที่ผ่านมาในไต้หวัน ผมซาบซึ้งใจอย่างมากๆที่ได้มาสร้างฝันมุ่งมั่นหาเงินส่งกลับบ้านครับ

Siapakah Khimar?

Erma / Siapakah Khimar? / Tidak ada / tenaga kerja asing Aku tiba di Taiwan tahun 2014 lalu. Ini adalah kontrak pertamaku. Baju yang kubawa tak banyak. Hanya beberapa kaos favorit, celana pensil, dan obat-obatan. Saat itu rambutku sangat pendek. Banyak yang mengira bahwa aku adalah laki-laki. Tak sedikit pula yang memanggilku dengan sebutan ‘Mas’. “Kerja di pabrik … Continue reading “Siapakah Khimar?”

Erma / Siapakah Khimar? / Tidak ada / tenaga kerja asing

Aku tiba di Taiwan tahun 2014 lalu. Ini adalah kontrak pertamaku. Baju yang kubawa tak banyak. Hanya beberapa kaos favorit, celana pensil, dan obat-obatan. Saat itu rambutku sangat pendek. Banyak yang mengira bahwa aku adalah laki-laki. Tak sedikit pula yang memanggilku dengan sebutan ‘Mas’.

“Kerja di pabrik mana, Mas? Ganteng-ganteng kayak gini kok mau sih jadi kuli di negara orang?” tanyanya. Kita bertemu setelah turun dari pesawat. Dan alangkah terkejutnya pria itu ketika mendengar suaraku.

“Maaf, saya perempuan.” jawabku supaya ia tak menganggapku laki-laki.
“Ha? Perempuan toh! Maaf, Mbak.” ucapnya. Lantas kami pun berpisah untuk meneruskan perjalanan masing-masing.

Aku mendapat job di daerah Hualien, Taiwan bagian timur. Menjaga kakek yang masih sehat adalah rejeki dan jodoh. Aku merasa klop banget dengan mereka. Kita hampir mempunyai kesamaan. Nyonya Ye Su Lan memiliki rambut pendek dan postur tubuhnya tinggi sepertiku. Sedangkan kakek adalah pensiunan guru SMA yang sangat menyukai dunia tulis menulis atau literasi. Sama, aku juga suka menulis. Bercerita tentang dunia dan khayalku.

Satu bulan, aku sudah memiliki teman sekufu. Namun aku tak pandai bersolek seperti mereka. Rupaku yang menyerupai kulit sawo matang tanpa taburan kosmetik ini, sering kali dijadikan bahan ledekan. Mereka bilang, jika aku tak merias diri akan terlihat tampan dan apabila terpoles sedikit bedak, pasti cantik menawan. Hahaha, lucu juga mereka.

Di rumah tingkat dua ini, ada sesuatu yang membuatku terpesona. Kak Lee Reen, dia anak kedua nyonya. Tampan, tinggi, putih, dan berhidung mancung. Baju-bajunya sungguh kece badai. Hari ini ia memakai kaos hitam bergaris putih dilengkapi tulisan mandirin di bagian punggung. Wuih, sungguh keren. Aku jatuh cinta!

Inginku segera bertanya, dimanakah ia membeli kaos itu? Ah, tapi hari ini aku tidak punya banyak waktu. Kakek memintaku untuk menemaninya pergi ke taman. Baiklah, nanti malam aku akan berbicara padanya.

Di sepanjang jalan, aku melihat sebuah distro yang menjual pakaian pria. Wuih, hatiku kembali bergetar tak karuan. Rupanya aku benar-benar kasmaran. Kakiku memaksa untuk kesana, namun tanganku dipegang kakek untuk terus menuntunnya menuju taman.

Jalan-jalan sore seperti ini ternyata menyenangkan juga. Banyak anak Indonesia yang kujumpai. Sering kita saling bertegur sapa menanyakan kabar, bertukar cerita, bahkan bagi-bagi makanan. Kebanyakan dari mereka mendapat job menjaga nenek yang sudah lumpuh. Aku salut, mereka bekerja dengan semangat dan tak mengeluh. Terkadang aku malu dengan diriku sendiri. Pekerjaanku tak begitu berat, namun aku sering tak bersyukur.

Usai mengobrol dengan kawan-kawanku, kakek mengajak duduk di kursi dekat lapangan sepak bola.

“Wati, apa kau tahu mengapa sore ini aku ingin kesini?” tanya Kakek.
“Tidak, Kek. Memangnya kenapa?” ucapku.
“Disini banyak anak sekolah yang bermain sepak bola dan basket. Aku rindu murid-muridku.” jawabnya.

Ah, jangan dianggap serius perasaan kakek. Aku selalu siap kok menjadi muridnya. Apa yang ia kerjakan di pagi hari selalu kuikuti. Senam ala orang Cina, jurus tonjok menonjok, serta berdiri dengan satu kaki. Di rumah pun aku tetap menjadi seorang murid. Lansia berumur 96 tahun itu juga mengajariku menulis mandarin dan cara membaca. Jadi kupikir, kakek tidak akan sampai galau berkelanjutan akibat rindu dengan anak didiknya.

Lama menikmati suasana sore hari, kakek mengajak pulang. Dengan kilat aku beranjak dari kursi lalu meninggalkan taman. Mataku kembali genit melihat sesutu yang dari tadi membuatku jatuh cinta. Kuajak kakek berjalan pelan. Distro itu sungguh menarik perhatian.

“Heeemmmm, keren!” gumamku.
“Kau kenapa, Wati? Matamu sejak tadi berkeliaran menyapu seluruh isi toko baju itu.” ucap Kakek.
“Hehehe, kau memperhatikanku ya, Kek?” jawabku terkekeh.
“Jangan tergoda dengan nikmat dunia.” pungkasnya.

Jlep!
Ucapan kakek seperti peluru yang menghujam jantungku. Garam asam yang kumakan memang belum seberapa dibanding pengalaman hidupnya. Mungkin benar kata kakek, aku tak boleh terlena. Apalagi hanya karena fashion yang tak ada matinya. Mau sampai kapan aku seperti ini? Tapi jika kutinggalkan, aku takut kehilangan kawan-kawanku. Mereka sangat modis dan mengikuti trend. Aku tak mau dijauhi karena penampilan yang udik, norak, dan kampungan.

Sampai rumah, aku menyiapkan air hangat di bak mandi untuk kakek. Ia masih sehat dan bisa mandi sendiri. Setelah itu, kubantu nyonya memasak untuk makan malam.

“Wati, kesini sebentar!” tiba-tiba Kak Lee Reen memanggilku dari lantai dua. Aku bergegas meluncur dan menghadapnya.

“Ada apa, Kak?” tanyaku.
“Aku punya teman kuliah asal Indonesia. Ia banyak bercerita tentang ibadah kalian.” terangnya.
“Lalu?” tanyaku.
“Apa menurutmu tak ada yang salah dengan dirimu?” ia kembali bertanya.
“Maksudmu apa? Tak ada yang salah dengan diriku. Aku sudah bersyukur kalian memberiku waktu untuk beribadah sesuai agamaku.” jawabku.
“Apa kau tak ingin merubah penampilanmu? Jangan tergoda oleh nikmat dunia!” pungkasnya dan pergi menuju ke ruang makan.

Memangnya apa yang salah dengan diriku? Aku tak pernah macam-macam, penampilanku juga wajar. Hari ini sudah dua orang yang menyentil godaan dunia. Tapi aku sama sekali tidak peka.

Makan malam telah siap. Aku duduk di samping kakek dan nyonya menikmati mie kuah rasa sapi serta sayur bayam sebagai pelengkap. Oh iya, mungkin ini saat yang tepat untuk menyatakan sesuatu pada kakak.

“Kak, aku mau ngomong.” kataku.
“Apa? Katakan!” jawabnya.
“Aku suka sama kaos yang kau pakai tadi pagi. Belinya dimana?” tanyaku.
“Kau ini tanya apa? Teman kuliahku selalu berbicara tentang khimar padaku. Tapi mengapa engkau berbeda, Wati!” tanyanya sedikit heran.
“Khimar? Siapa dia? Apa hubungannya denganku!” ucapku tak paham.

Ia diam tak melanjutkan pembahasan. Usai makan, aku langsung mencuci mangkuk lalu mandi. Masih ada sisa dua jam untuk mengantarkan waktu pada pukul sembilan malam. Kak Lee Reen terlihat sibuk dengan tugas kuliahnya, kakek dan nyonya menonton tv, aku sendiri bingung mau ngapain.

Oh, aku tahu. Kupikir tak ada salahnya jika aku bertanya pada nyonya dimana kakak membeli baju itu.

“Nyonya, baju yang dipakai Kak Lee Reen belinya dimana?” tanyaku.
“Apa yang membuatmu terus menanyakan hal itu, Wati? Apa kau selalu tergoda jika melihat pakaian pria yang menurutmu keren?” tanya Nyonya.
“Iya. Aku selalu jatuh cinta dan terobsesi untuk memilikinya. Apa itu salah?” aku kembali bertanya.
“Jangan tergoda dengan nikmat dunia!” pungkas Nyonya.

Jlep! Kalimat itu lagi. Aku heran, kenapa ya mereka selalu memberi jawaban serupa? Padahal baju yang kuinginkan sangat sopan, keren, dan modis. Tapi mengapa mereka seakan tak mengijinkanku untuk mendapatkannya?

“Sudah-sudah, waktunya tidur. Wati, jangan lupa kunci pintu gerbang!” perintah Nyonya.
“Baik.” segera kulaksanakan tugas terakhirku hari ini dan langsung istirahat.

***

Hari terus berlanjut. Musim-musim pun ikut berganti. Kegiatanku yang tidak begitu padat membuatku cepat merasa bosan, apalagi musim dingin seperti ini. Aku ingin libur seperti teman-temanku, tapi aku terkurung. Aku tak bisa menjelajahi Taiwan. Seperti apa eloknya? Bagaimana rasanya menikmati hujan salju di Yang Ming Shan? Sakit kah? Menyenangkan kah? Dingin kah? Aku tak tahu itu semua.

Tapi tak apalah, hari ini aku akan bermain salju di dalam kulkas. Membersihkan freezeer dari bunga es yg membeku. Ya, disana aku akan memperoleh gumpalan es yang unik, lalu kutaruh diatas telapak tangan.Terakhir, selfie bersamanya dan kusimpan dalam ponselku. Nanti jika sudah ada waktu luang, aku pasti mempostingnya di dinding facebook dan kububuhi caption tentunya.

“Hei kawan, lihatlah! Aku juga menemukan segumpal salju dari daerahku. Ya, inilah kembang es dari freezeer kulkas milik majikanku. Hahaha!” seperti itu kira-kira. Memang konyol, tapi itulah aku. Dengan begitu, hatiku sudah merasa senang dan kembali bersemangat untuk bekerja.

Suatu hari, aku diberi baju bekas oleh nyonya. Masih terlihat bagus dan aku suka. Hem kotak-kotak berwana merah dan hitam, serta beberapa helai kaos. Kalian tahu tidak, baju itu pernah dipakai siapa? Ya, siapa lagi kalau bukan si kakak. Nyonya mempunyai dua anak laki-laki. Keduanya memiliki sifat yang berbeda. Tapi kalau masalah pakaian, jangan ditanya lagi. Selera mereka sama, apalagi kedatangan aku. Wuih, kita sudah seperti tiga serangkai. Klop lah!

Meski begitu, aku tahu takaranku. Batasan-batasan seorang pembantu dengan majikan serta keluarganya tak pernah kulupakan. Aku bekerja juga tidak seenak jidatku sendiri.

Tepat pada hari minggu yang lalu, nyonya menyuruhku potong rambut. Tapi diisisi lain, ada bisikan dalam batinku untuk tetap membiarkan rambutku panjang. Aku perempuan, tapi banyak orang yang mengira bahwa aku seorang pria. Sempat berpikir tentang jati diri, tapi aku lebih nyaman berpenampilan tomboy seperti ini.

***

Entah pada bulan apa, aku lupa. Yang jelas akhir-akhir ini banyak postingan di facebook tentang ilustrasi bencana besar, siksa neraka, bahkan ilustrasi kehancuran dunia. Awalnya aku hanya mengabaikan video tersebut. Tapi semakin kesini, kok hatiku jadi gelisah, perasaanku tak enak. Aku ketakutan.

Malamnya, kami menonton tv bersama. Ada sebuah berita yang menayangkan tentang bumi pasti akan hancur. Lalu kakek bertanya padaku.

“Wati, kau percaya jika bumi akan hancur?” tanyanya.
“Percaya, Kek.” jawabku.
“Apa kau takut?” ia kembali bertanya.
“Takut lah, Kek.” ucapku.
“Hahaha, mana mungkin bumi akan hancur.” jawabnya terkekeh.

Berbeda keyakinan, berbeda pula pemikiran kita. Kakek tak percaya jika suatu saat alam semesta akan binasa. Menurutnya, berita di televisi hanya hoax saja. Tak sampai disitu obrolan kami, masih ada seumbruk celotehan dari kakak tentang Khimar. Aku penasaran. Seperti apakah Khimar? Cantik kah? Pandai kah? Bagiku, perempuan tersebut adalah orang spesial di mata kakak. Karena hampir setiap bertemu denganku, ia selalu membahasnya.

Kakak bilang bahwa Khimar itu sangat cantik, sopan, dan tidak pernah terbuka dalam urusan pakaian. Wah, pasti ia adalah wanita muslim yang taat. Hebatnya lagi, cewe tersebut bisa memikat hati anak majikanku yang tampannya tidak ketulungan ini. Uhuy, sepertinya si Lee Reen sedang jatuh cinta dengan Khimar.

Lima hari lagi aku menerima gaji. Kali ini aku akan membelanjakan separuh uangku untuk pergi ke distro. Disana terdapat beragam model pakaian pria, aku pasti hanyut dibuainya. Tapi tenang kawan, membeli satu baju saja sudah cukup buatku. Meski banyak pilihan yang melambai-lambai, tapi pikiranku tetap normal. Aku tidak akan boros.

***

Yes! Akhirnya nyonya memberiku gaji tepat waktu. Kebetulan kakak juga ada di rumah. Aku akan memintanya untuk memberi saran, seperti apa model baju terbaru minggu ini dan bagaimana memilih motif yang tidak pasaran.

“Kak, motif kaos cowok yang bagus seperti apa? Aku mau ke distro.” kataku.
“Tidak perlu ke distro. Besok aku akan memberimu hadiah yang cocok untuk kau pakai.” jawabnya.
“Wah, yang benar? Ok, baiklah. Aku menunggu hadiah darimu saja kalau begitu.” ucapku senang.

Kak Lee Reen memang baik dan perhatian. Dulu, pertama kali ia tahu kalau aku suka menulis, ia langsung memberiku hadiah berupa buku. Saat aku mencoba mengirimkan cerpen di salah satu majalah berbahasa Indonesia di Taiwan, ia juga memberiku semangat dan dukungan. Kalau teringat hal itu, aku jadi sedih. Bukan tanpa alasan mengapa aku sedih, hanya saja aku terharu. Keluarga ini benar-benar tak mengganggapku seperti pembantu. Bahkan, kedua anak nyonya pernah bilang bahwa aku adalah adik perempuannya yang harus dijaga.

Sesingkat pagi menjelma siang, esok pun datang. Aku sudah tak sabar menerima kado dari kakak. Sebelum ia berangkat ke kampus, cowo tinggi itu menitipkan kotak bingkisan kepada mamanya.

“Pagi, Wati. Ada titipan dari Lee Reen. Ia tak bisa memberikan langsung kepadamu. Ada kuliah pagi di kampusnya, jadi ia harus berangkat pagi-pagi.” beritahu Nyonya.
“Isinya apa, Nyonya?” tanyaku penasaran.
“Nanti kau juga tahu sendiri.” jawabnya.

Kotak bingkisan itu terbalut kertas berwarna merah maroon dan hitam, seperti warna kesukaan. Tapi, apakah isinya juga sesuai harapanku? Entahlah. Pagi ini aku harus ke taman mengajak kakek olah raga. Sebaiknya, kusimpan dulu kado cantik itu.

Setelah kakek mencuci muka, kami pun berangkat olahraga. Hari ini ia memakai kaos oblong berwarna kuning, celana kungfu hitam, sepatu merk Fila kesukaannya, dan memakai topi berwarna putih. Sungguh tampan! Semua teman kakek menyapa dengan ramah.

“Hai, selamat pagi.” sapa teman Kakek.
“Pagi.” jawab kami.
“Wah, kau sungguh hebat. Pagi-pagi sudah datang. Semangat ya!” pungkas laki-laki itu.

Kakek hanya tersenyum. Ia terlihat bahagia jika ada orang yang memujinya. Pujian merupakan penyemangat hidup bagi kakek. Namun ia tetap rendah hati. Lansia mantan guru itu selalu membalas dengan pujian pula.

“Kau juga hebat, kawan. Badanmu sangat sehat. Semangat ya!” jawab Kakek.

Usai jalan-jalan di taman, kami langsung pulang lalu sarapan. Setelah perut terasa kenyang, aku mulai menyibukkan diri dengan berbagai macam pekerjaan seperti, bersih-bersih rumah, belanja sayur, dan memasak.

“Khimar memang terlihat sangat cantik!” tiba-tiba terdengar suara Kak Lee Shin.
“Wah, Kakak sudah tahu Khimar ya? Seperti apa orangnya?” tanyaku penasaran.

Kakak pertama hanya tersenyum. Aduh, jangan sampai mereka berdua jatuh cintan dengan perempuan yang sama. Baju saja seleranya selevel, apalagi masalah asmara!

Usai mengerjakan tugas di pagi hari, aku menuju kamar. Kalian pasti tahu apa yang akan kulakukan. Membuka kado? Ya, benar. Aku sudah penasaran dengan isi kado dari kakak kedua. Tanpa menunggu lama, kubuka bingkisan tersebut.

“Lhoh! Apa-apaan ini!” ucapku lirih.
Aku bergegas kembali menemui kakak pertama di ruang tamu, siapa tahu ia mengerti maksud adiknya. Tapi sial, ia sedang berbincang-bincang dengan temannya melalui telepon. Baiklah, akan kutunggu kepulangan si tampan.

Jam makan siang hampir tiba, sebentar lagi orang yang kutunggu pasti muncul.
Mbreeem!!!
Terdengar suara motor memasuki garasi. Bagus! Ia sudah pulang.

“Wati, apa isi kado itu?” suara Kak Lee Shin membuyarkan lamunanku.
“Aku tak tahu.” jawabku sekenanya.
“Itulah khimar! Khimar yang kumaksud kemarin bukanlah orang, tapi kerudung itu. Aku tahu dari teman kuliahku. Ia selalu bercerita tentang ketaatan seorang wanita yang memakai baju longgar, dilengkapi hijab yang menutupi dada. Lalu, aku minta tolong padanya untuk membelikan khimar itu.” kata Kak Lee Reen yang ternyata suda ada di belakangku.

“Lalu maksudmu apa, Kak?” tanyaku. Aku tidak suka isi kado itu! Harapanku, ia memberi kaos model baru seperti miliknya. Bukan kayak gini!

“Wati, kau ini muslim. Taati perintah agamamu! Jangan karena tinggal di Taiwan, kau jadi mengikuti budaya kami! Tak selamanya kau berada disini, jadi kuharap, jangan terpengaruh oleh keadaan. ” tutur Kak Lee Reen.
“Tapi, Kak?” kataku.
“Sudahlah, pakai saja! Aku tahu kewajiban kalian. Jadi buat apa kau taat aturan kerja disini tapi tak mentaati perintah agamamu! Kita sekeluarga tak mau menanggung dosa.” ketusnya.
“Tahu darimana mengenai kewajiban itu?” tanyaku kesal.
“Temanku yang bercerita!” pungkasnya.

Sial, aku tersudut! Kak Lee Reen benar-benar tahu banyak tentang keyakinanku. Mulai saat itu, keluarga kakek menyuruhku memakai khimar, kerudung lebar yang menutupi dada. Kain itu jika kupakai seperti mengenakan mukena. Apakah tak merepotkan? Sepertinya aku harus menyediakan karet gelang untuk mengikat sebagian kainnya. Tapi, aku masih ingin berpenampilan kece dengan mengenakan kaos dan topi kesukaanku. Duh, aku jadi galau.

Seminggu terbiasa dengan kerudung jumbo, banyak tetangga yang ketakutan. Mereka yang biasanya menyapa, kini malah buru-buru pergi. Mengetahui tetangganya yang ketakutan, kakek dan nyonya menjelaskan kepada mereka, bahwa ini adalah agama dan kewajibanku. Bersyukur, akhirnya mereka mengerti dan memperlakukanku seperti sedia kala.

Dalam kesendirian, aku teringat kembali berita di televisi tentang kehancuran bumi. Semakin hari ada rasa takut yang menyelimuti. Bagaimana jika kiamat tiba-tiba datang sedangkan aku masih dalam kelalaian? Bukankah keluarga kakek sudah mengijinkan untuk mentaati agamaku? Kenapa aku tetap keras kepala menuruti egoku?

Aku kembali kepada-Nya. Pelan-pelan kutinggalakan obsesiku untuk tampil keren di mata manusia. Khimar dari kakak merupakan hidayah yang tak kuduga sebelumnya. Khimar yang kukira seorang wanita cantik ternyata ia adalah sehelai kain panjang dan lebar untuk melindungi kecantikan wanita sesungguhnya.

Dulu, ketika aku melihat perempuan yang memakai baju dan kerudung besar, selalu kuanggap remeh. Mereka terlihat kampungan dan tidak gaul. Tapi sekarang, aku salut. Mereka tidak ada yang sempurna, tapi mereka berusaha taat kepada Sang Pencipta. Apalagi musim panas akan segera tiba, pasti terasa melelahkan. Taat memang berat, namun akan terasa ringan jika mengingat akhirat.

Ada yang membuatku sedih saat khimar disalahkan. Ketika seseorang berhijab lalu melakukan kesalahan, banyak yang bilang lebih baik tak usah berhijab jika masih berbuat maksiat. Stop! Jangan pernah berbicara seperti itu. Hijab dan akhlak merupakan dua hal yang sangat berbeda.

Berjilbab adalah perintah Allah, wajib untuk wanita muslim yang telah baligh tanpa memandang akhlak baik atau buruk. Sedangkan akhlak merupakan budi pekerti yang tergantung pada pribadi masing-masing. Jadi, jika ada seorang wanita berjilbab melakukan dosa atau pelanggaran, itu bukan karena jilbabnya, namun karena akhlaknya. Yang berjilbab belum tentu berakhlak mulia, tapi yang berakhlak mulia pasti berjilbab!

Aku sudah sadar jika apa yang kulakukan dulu adalah salah. Menjadi perempuan tomboy memang memiliki nilai tersendiri di mata manusia, tapi tidak di mata Allah. Bodohnya lagi aku tertipu oleh nikmat duniawi hingga melupakan Dia yang menciptakan seluruh isi dunia. Selalu resah memikirkan model baju keluaran terbaru, tapi tak resah memikirkan sebanyak apa dosaku.

Kini, aku dan khimar telah menyatu. Seperti tulang rusuk yang dipertemukan. Setiap hari bekerja dengan kerudung besar, ternyata tidak membuatku kerepotan. Aku masih bisa melakukan aktifitas meski berhijab.

“Kamu sungguh cantik dengan khimar itu.” ucap Kakek kepadaku..Aku hanya tersenyum.

Khimar telah membawaku pada perubahan yang besar. Sikapku yang dulu seperti anak laki-laki, sekarang berubah menjadi lemah lembut dan tidak ceplas-ceplos. Yang biasanya tidak malu berbicara dengan kakak, sekarang mau menyapa saja sudah sungkan.

Keluarga kakek sangat hebat. Aku tak pernah mengira jika mereka sepeduli itu. Pengetahuannya yang luas tentang budaya Indonesia, membuatku semakin betah tinggal bersama mereka. Mengapa? Karena aku tidak perlu menjelaskan lagi mengapa aku puasa, sholat, dan merayakan idul fitri. Nyonya selalu menanyakan kapan waktu puasaku? Jatuh pada tanggal berapa hari raya umat islam? Ia lah yang selalu perhatian. Bahkan, tak jarang wanita tinggi itu membuatkanku makanan untuk sahur.

Aku tidak menyesal dulu pernah tomboy, tapi aku akan menyesal jika saat ini aku belum berubah. Kesempatan datang setiap hari, namun kita terkadang suka mengulur-ulur waktu dan akhirnya tidak jadi memperbaiki diri. Semoga hijrahku diterima oleh Allah dan aku akan berusaha istiqomah bersama khimar-khimar terbaruku.

Selesai.

KAIN ABU ABU DARI IBU

Cikal Kessy / KAIN ABU ABU DARI IBU / Arya Syarief, Erna Sulistyowati / tenaga kerja asing Siang itu 12 Juni 2003 dengan langkah gontai ku tinggalkan halaman sekolah, perasaanku gundah gulana aku tengah memikirkan sesuatu yang menurutku ternilai berat. Antara melanjutkan pendidikan atau bekerja meski hanya berbekal ijazah SLTP. ” Mak sebenarnya aku ingin sekolah aku ingin … Continue reading “KAIN ABU ABU DARI IBU”

Cikal Kessy / KAIN ABU ABU DARI IBU / Arya Syarief, Erna Sulistyowati / tenaga kerja asing

Siang itu 12 Juni 2003 dengan langkah gontai ku tinggalkan halaman sekolah, perasaanku gundah gulana aku tengah memikirkan sesuatu yang menurutku ternilai berat. Antara melanjutkan pendidikan atau bekerja meski hanya berbekal ijazah SLTP. ” Mak sebenarnya aku ingin sekolah aku ingin jadi Polwan tapi mak, bagaimana dengan biayanya sedangkan untuk makan sehari-hari saja kita masih susah ” desahku dalam hati sambil menyeka air mata. Seminggu berlalu sejak kelulusan itu aku sudah mempersiapkan surat-surat untuk melamar kerja tanpa sepengetahuan orang tua, hingga di suatu sore sepulang dari rumah Pak Lik aku melihat sesuatu yang terbungkus koran di atas kasur lusuhku perlahan ku buka bungkusan itu ternyata kain warna biru seragam untuk adikku yang akan mendaftar ke SLTP, tak terasa airmataku menetes sebab cita-citaku untuk menjadi Polwan hanyalah cerita. ” Ini kain siapa mbak ? tanya adikku sembari menyodorkan kain warna Abu-abu kepadaku . Mataku terbelalak secepat kilat aku menyambarnya dan berlari keluar mencari Emak, ” Mak, ini kain untuk siapa mak ? tanyaku pada emak yang sedang asyik ngobrol dengan Bapak.
” Untukmu katanya pengen sekolah SMA lanjutkan pendidikanmu Ndhuk soal biaya biarkan Bapak dan Emak yang memikirkan, kamu ga usah daftar jadi buruh di Pabrik Bratasena ” ucap emak sambil menatapku dengan tersenyum.
” Sekolah yang benar, jangan bolos dan jangan pacaran sekolah harus serius jangan main main kasihan orang tua yang mencarikan biaya ” ucap Bapak sembari menyeruput Kopi Hitam.
Airmataku mengalir tak dapat ku tahan lagi Emak terima kasih kan ku rawat baik-baik hadiah terindah darimu ini, aku akan sekolah dengan serius Mak tak akan ku sia-siakan kesempatan ini Mak, janjiku dalam hati. Tak terasa tiga tahun berlalu dengan cepat selama tiga tahun pula aku tak pernah meminta pada emak untuk mengganti seragam abu-abuku dengan yang baru. Meski lusuh aku tetap mengenakannya hingga hari kelulusan itu. Tradisi coret-coret yang sudah turun temurun pun ikut kami rayakan, aku berlari sejauh mungkin menjauhi teman-temanku karena aku tak ingin seragam Abu-abu pemberian Emak ikut tercoret. Empat Belas tahun telah berlalu sejak pertama kali kain abu-abu itu di berikan emak kepadaku aku masih tetap menyimpan rapi di kamarku sebagai hadiah terindah.
“Jie-jie wo xiang he sui ” ucap Mei-mei yang kujaga sambil menarik jilbab yang kukenakan seketika aku tersentak dari lamunan.
” Hao ” jawabku sambil beranjak mengambilkan air minum untuknya.
Emak terima kasih atas kasih sayangmu, biar waktu berlalu tak kan terbiar kasih untukmu.

FORMOSA DAN KISAHKU

Dewi Susanti / FORMOSA DAN KISAHKU / Tidak ada / tenaga kerja asing FORMOSA DAN KISAHKU By : Dewi Susanti “Jangan! Jangan!” teriakku ketakutan, dua bola mata menatap dengan tajam. “Sini kau!” teriaknya mengertak, lalu, sepasang tangan itu menarikku dari belakang. “Aku mohon, lepaskan?” pintaku. Sekuat tenaga aku menghindar, mencoba melarikan diri dari kejadian yang menyeramkan, tapi, semuanya … Continue reading “FORMOSA DAN KISAHKU”

Dewi Susanti / FORMOSA DAN KISAHKU / Tidak ada / tenaga kerja asing

FORMOSA DAN KISAHKU
By : Dewi Susanti
“Jangan! Jangan!” teriakku ketakutan, dua bola mata menatap dengan tajam.
“Sini kau!” teriaknya mengertak, lalu, sepasang tangan itu menarikku dari belakang.
“Aku mohon, lepaskan?” pintaku.

Sekuat tenaga aku menghindar, mencoba melarikan diri dari kejadian yang menyeramkan, tapi, semuanya sia sia. Sepasang tangan itu lebih kuat menyerang dan melumpuhkanku. Untuk kesekian kalinya, entah sudah berapa banyak, kejadian itu berulang.
___

Tidur di ruangan gelap dan berbau bukan menjadi masalah bagiku, yang terpenting adalah bisa memejamkan mata dengan perasaan tenang dan aman. Setiap kali ketika aku merasa terancam, tempat ini selalu menjadi persembuyian, sudah tidak terhitung berapa banyak malam panjang yang dingin terlewatkan, semut, kecoa, tikus, dan nyamuk seperti sudah bersahabat denganku. “Aaah,” …. desihku dalam hati.

Siapa yang tidak tertarik mempunyai uang banyak dan rumah yang bagus, aku adalah salah satunya. Panggilanku Mirna, sekarang berumur 20 tahun, aku lahir di desa, orangtuaku hanya buruh tani di sawah milik orang, walaupun bukan orang kaya, tapi aku mempunyai cita cita, agar kelak bisa menggangkat derajatku dan keluarga.

Mendengar cerita orang, menjadi buruh migran indonesia ( BMI) menyenangkan, membuat harapanku melambung tinggi, hanya dengan 3 tahun saja sudah bisa membeli rumah dan membawa uang untuk modal usaha. Sungguh cerita itu membuat jiwaku bergelora.

Menjadi BMI bukanlah impianku, tapi nasib yang memaksa, keadaan ekonomi keluarga yang serba kekurangan, membuatku memutuskan untuk bekerja ke luar negeri, menjadi Pahlawan Devisa demi masa depan dan keluarga tercinta.

Hanya dengan berbekal tamatan SD aku memberanikan diri, dan pilihanku jatuh di Taiwan. “mungkin teman bertanya, kenapa Taiwan yang aku pilih? bukan Negara lainnya” Karena banyak tetanggaku pulang dari Taiwan sukses, dan mereka pun bercerita, tentang kehidupan di Negara yang terkenal dengan sebutan Formosa (pulau yang indah) ini menyenangkan, aku juga sempat melihat foto-foto mereka yang penuh dengan kebahagiaan.

Tidak harus menunggu lama, akhirnya harapanku terwujud, atas bantuan Mba Leni, tetangga desa di rumah yang terkenal dengan sebutan Agensi.
“tapi aku hanya Tamatan SD Mba, memang bisa jika aku ingin bekerja di luar negeri?” ucapku polos penuh harap.
“Bisa! Tentu saja bisa, aku akan bantu, kamu tenang saja” jawabnya memberiku harapan.
***
Saat harapan menjadi malapetaka

Mataku berbinang-binar saat Mba Leni memberitahu kalau semuanya sudah siap. hatiku bahagia mendengar ucapannya, serta membayangkan sebentar lagi akan memegang uang yang banyak, bisa membeli apa saja dan bisa membahagiakan keluarga.
Tidak lama berselang, hanya butuh waktu 2 bulan, semua keinginanku untuk bisa menjadi BMI akhirnya terlaksana, Mba Leni benar benar pintar mengurus semua dokumen pemberangkatanku.
“Itu pesawatmu, aku hanya bisa mengantarmu sampai disini” kalimat terakhir Mba Leni

Dengan hati dag … dig … dug, aku menumpangi pesawat Eva Air yaitu sebuah maskapai penerbangan antara Jakarta – Taipei, sebelum meninggalkan negeri tercinta, terlebih dahulu aku berpamitan dengan ibu dan ke 3 adikku, yang saat itu ikut mengantarkanku ke bandara.
Air mata yang tertahan akhirnya tertumpah, jatuh membasahi pipi, saat aku melepaskan gengaman tangan Ibu, tangannya yang biasa hangat, berubah menjadi dingin, mungkin beliau tidak rela melepas kepergianku.

Penerbangan jauh selama kurang lebih 3 jam akhirnya mendarat, pesawat besar telah membawaku sampai di Taiwan. Negara gemerlap yang penuh dengan lampu penerangan membuat indah saat mata memandang.

“Alhamdulillah, akhirnya sampai juga” gumamku dalam hati.
“Mba Namanya Mirna ya?” suara seorang wanita mengagetkanku.
Matanya indah dengan bulu mata memanjang dan bibirnya merona, aku sempat berpikir itu adalah majikanku, ternyata bukan.
“iya”
“Mba ikut saya, saya mau antar kamu ke majikan ” ucapnya menyuruhku untuk mengikutinya.

Lalu, mobil berwarna hitam membawaku pergi jauh, dan, berhenti di sebuah rumah yang sangat megah. Pandanganku tertuju pada bangunan yang mirip seperti Istana.

Wanita itu namanya Any, ia adalah egensiku di Taiwan, itu yang kudengar saat ia memperkenalkan diri waktu di bandara, kemudian, kami berdua pun masuk ke istana, selang beberapa menit keluar seorang perempuan paruh baya, menyambut kami dengan tutur bahasa yang kurang kumengerti.

“ini adalah majikan kamu, Namanya Nyonya Wang, ia tinggal bersama suami dan 2 orang anak laki-lakinya, kamu di sini bekerja menjaga Ama, dia ibu nya Nyonya Wang.” ucap Mba Leni menjelaskan tentang jobku.
“Mba aku takut, aku tidak mengerti bahasa mereka, hanya sedikit yang aku bisa” ujarku tidak percaya diri.

Ini pertama kalinya aku merasa tidak percaya diri dan takut, aku tidak pernah membayangkan pergi ke luar negeri dengan Bahasa yang kurang memahami,

“Harusnya seorang BMI yang ingin bekerja ke luar negeri itu bukan hanya mengutamakan tenaga untuk bekerja, tetapi, dia juga harus memiliki kepandaian dalam berbicara bahasa negara tempat ia akan bekerja”

“kenapa pihak ejensi dengan begitu mudah memberangkatkan para TKI, lalu, bagaimana dengan nasibku di negara orang yang hanya berbekal tenaga? kenapa Mba Leni tidak memberitahuku kalau bahasa itu adalah nomer 1” gumahku dalam Hati.
****
Saat impian tidak seperti harapan

Kenyataan menjadi seorang BMI ternyata jauh dari harapan, tidak pernah terbayangkan semua menjadi seperti ini.

“Sini Mirna!” teriak nyonya dengan nada tinggi.
“Iya, Nyonya” sahutku pelan
“Kamu ini bagaimana, kenapa bajuku jadi jelek begini?!” tukasnya penuh kebencian, seraya melemparkan baju yang telah robek ke arahku.
“Maaf Nyonya, ini bukan aku yang melakukannya” ucapku membela diri, walaupun pada kenyataannya, bukan aku yang melakukan.
“Kalau bukan kamu lalu siapa lagi, kamu kan yang mencuci baju ini?” suaranya bergelegar bagaikan petir kala hujan badai.

Jantungku berdetak kencang, tubuhku gemetar ketakutan, dengan sadisnya tangan nyonya menarik rambutku, … perih! itu yang aku rasa, bukan 1 atau 2 kali nyonya memperlakukanku seperti ini

Terkadang, sempat terlintas di benakku untuk menyerah dan pulang, membebaskan diri secara instan, namun hati kecilku selalu berkata “sabar” teringat Ibu selalu berpesan, untuk bersabar dalam menjalani hidup.

“Bersabarlah saat menghadapi rintangan, sebab, tidak ada kesuksesan tanpa kesabaran, karena kesabaran adalah obat terbaik dari segala kesulitan”.

***
Saat Kesabaran membunuhku pelan pelan.

Memangku akui, sekarang aku memegang uang banyak, dari jerih payahku bekerja di rumah ini, uang itu adalah hasil mengumpulkan selama 5 bulan, semuanya didapat dengan kesabaran, namun, kesabaran aku semakin lama semakin di uji.
“Sini, Mir, bantu aku, jam tanganku hilang?” perintah takeke, ia adalah anak pertama dari Nyonya Wang.

Dengan alasan kehilangan jam tangan dia menyuruhku, untuk masuk ke kamar, dan, aku pun menurutinya, tapi, bukan jam tangan yang ingin ia cari. Dia menginginkan tubuhku.
“Jangan! Takeke. Jangan! kasihani saya, sebentar lagi Nyonya datang,” ucapku mengiba.

Kata kataku tidak di dengar sedikitpun oleh nya, seperti orang kerasukan ia menerkam tubuhku, aku berusaha menghindar dan berlari ke luar kamar, tetapi, tangan kuatnya lebih dulu menarik tubuhku sampai terjatuh.

teng … teng … teng ….

Jam dinding rumah menunjukan angka 10 pagi, seperti orang linglung, dengan rambut acak acakan dan baju yang robek aku keluar kamar.
Sedih dan kecewa perasaan itu berkecamuk di dada, kesucianku telah terengut paksa olehnya, selama 20 tahun tidak ada orang yang berani menyentuh tubuhku, tapi sekarang, aku sudah tidak suci lagi, air mata pun bercucuran membasahi pipi, menyesali keputusanku untuk menjadi seorang BMI.

Malam menjelang, di langit terlihat suram, bintang dan bulan tertutup oleh kabut hitam, sepertinya cuaca mendung, mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Di dalam kamar aku duduk meringkuk di bawah ranjang, meratapi kejadian buruk itu.
“Mirna, aku haus” suara nenek mengagetkanku. Beliau adalah Ibu dari Nyonya Wang, nenek yang aku jaga
“baik”

Perlahanku langkahkan kaki menuju dapur, mengambil air minum, dan sesampainya aku di sana, terlihat Ekeke, ia adalah anak ke 2 dari Majikan tengah mengambil gelas.
“Kamu belum tidur?” tanya Ekeke sambil menatapku
“eh, .. ” jawabku spontan.

Aku tidak mengira ia akan bertanya, karena ia biasanya orang yang paling cuek jika berpapasan denganku. Jangan kan untuk bertanya, menoleh ke arahku pun, ia tidak pernah, tapi, malam ini aku rasakan berbeda.

Satu gelas air putih sudah ada di tangan, aku pun kembali ke kamar, dan tiba tiba sepasang tangan itu menghadang, membuat gelas yang ada di gengaman terjatuh dan pecah. Craaaak ….
“Diam!” gertak takeke sambil membungkam mulutku.
“Tolong!, jangan sentuh aku lagi” ucapku dengan nada keras.
“Diam kau! Kamu dengar yah, jangan pernah bicara pada siapapun, awas kalau bicara, tahu akibatnya!” ucapnya mengancam.

Aku pun mengangguk tanda setuju, memilih diam. Tetapi, kediamanku membuat kelakuan seperti binatangnya terus berulang, aku tidak tahan, dan malam harinya aku memutuskan untuk Kabur dari rumah.
****
Pulau yang indah, Negara impian, semua hanya Angan bagiku, saat kenyataan jauh seperti yang aku harapkan, angin yang dingin dan malam yang gelap, hanya dengan penerangan lampu kecil di taman, aku duduk di bawah pohon, keputusanku memilih kabur ternyata bukanlah keputusan yang tepat.
“Nona, kamu sedang apa” tanya seorang pria ke arahku.
“Tuan, bisa kah aku meminjam hp mu” ucapku dengan nada terbatah batah,

Walaupun sudah genap setengah tahun, tapi aku masih belum mahir berbicara, lalu, pria itu menyodorkan telepon selularnya, dan kemudian aku keluarkan selembar kertas kartu nama dari saku celana.
Nada telepon pun tersambung. tut …. tut … tut.

“Halo, apa kabar, ini dengan siapa yah, bisa saya bantu” suara Mba Any di seberang sana.
“Halo Mba, ini aku, Mirna” jawabku gugup
“kamu dimana, aku jemput!” tegasnya singkat.
“Ini aku dimana?, jangankan untuk membaca papan jalan dengan tulisan KANZI (sebutan untuk tulisan mandarin), mendengar orang berbicara saja, kadang aku salah”
“Tuan bisakah anda memberitahu padanya, ini dimana dan tempat apa?” tanyaku.
“Hshincu. ….. ” ia mengucapkan sederet kalimat yang aku sendiri tidak mengerti, cuma 1 kata yang kupaham artinya, yaitu Hshincu.

Mobil mewah berwarna hitam tiba tiba berhenti pas di hadapanku, lalu, keluar seorang gadis cantik menghampiri, senyumnya mengembang saat melihatku.
“Mba ayuk masuk, cepetan!”
“iya” jawabku sambil belari menghampiri Mba Any

Mobil mewah Mba Any melaju dengan sangat cepat, membawaku pergi jauh meninggalkan rumah Nyonya Wang, dan kemudian mobil itu berhenti di sebuah Hotel, kami pun bermalam disana, menunggu pagi, dan melepaskan malam yang panjang.
____

Selember kertas putih bertuliskan Kanji berada di hadapanku, perempuan cantik yang bernama Any yang menyodorkannya kepadaku.

“Kamu tanda tangan disini” ucapnya dengan jarinya menunjuk ke arah bawah kertas, dengan perasaan gugup dan gemetar, aku mengikuti perintahnya.
“Bentar lagi, Majikan baru kamu datang”
“ini surat apa ya Non?” tanyaku penasaran
“ini Job kamu yang baru” jawabnya singkat.

Tanpa basa basi lagi, ia pun menyuruhku untuk tetap duduk di lobi hotel, menunggu majikan baru datang. Tak lama kemudian, sepasang Suami Istri datang menghampiri, ia melepas senyum ke arahku, dalam benakku melintas sebuah pertanyaan

“apakah ini majikanku yang baru” gumamku
Mba Any kemudian berbincang panjang lebar dengannya, menggunakan bahasa yang tidak aku mengerti. Dan, sebelum pergi ia berkata padaku.
“Mirna, ini Majikan baru kamu, harus nurut yah!, jangan pernah mencoba kabur lagi!, kabur itu engga enak” ucap nya dengan nada tinggi.
“Nama kamu Mirna?” tanyanya, dan ku balas dengan anggukan kepala.
“Kamu ikut saya, kerja di tempat saya!”

Perasaan tiba tiba berubah menjadi tidak nyaman, ketika aku melihat sebuah rumah besar dengan banyak Kendaraan Parkir di depan halaman.
“Ini Tempat apa?” tanyaku penasaran, tapi pertanyaanku tidak dihiraukan, ia terus menyuruhku untuk terus masuk.
“Khuai Tien (cepetan)!” perintahnya dengan nada meninggi.

Berjuta pertanyaan menyelimutiku, dan rasa penasaran makin bertambah, ketika di dalam aku melihat banyak orang, dan ruang yang gelap hanya diterangi beberapa lampu yang bergantian saat menyala.

“aduh oon banget, namanya juga orang udik, tidak tahu, jika itu bola lampu diskotik” gumamku.
“Kamu mulai sekarang kerja disini, melayani dan menemani tamu minum!” seru salah seorang pelayan memerintahku
“Pelayan? Minuman?” Aduh emaaak aku tidak mau!, dalam hatiku mengumpat.
“jam kerja kamu dari Jam 7 malam sampai Jam 7 pagi. Ok” serunya lagi.
****
Saat kebenaran mulai terungkap.

Malam kian larut, suara musik bergema menulikan pendengaranku, tidak terasa sudah satu Bulan telah berlalu, dan perlahan lahan kebenaran pun mulai terungkap, ketika salah satu dari pelayan itu berbicara dengan pelayan yang lain.
“Oh, … Itu Anak baru?” tanya dari salah satu pelayan yang aku sebut A.
“Iya,… Baru datang seminggu yang lalu, masih hangat!” jawab dari salah satu pelayan yang aku sebut B, ucapannya seketika menembak jantungku. Dor …

Ternyata. baru aku sadari, nona yang aku panggil dengan sebutan Mba Any itu, dia telah menjualku. Berbagai cara aku lakukan agar bisa keluar dari tempat Kotor ini. Setiap hari, berlumurkan dengan dosa dan maksiat, para lelaki hidung belang pemburu nafsu berkeliaran, dan, minuman berakhohol.

“Ya Allah ampuni aku” rintihku perih.
“Jangan panggil Aku dengan sebutan wanita penghibur, karena aku bukan seperti itu!”

Menyeset hati, dan tidak terima sebutan itu menempel di tubuh, setiap kali para pria hidung belang memanggilku
“Mirna, bangun!” teriak seorang perempuan yang biasa di sebut Mucikari itu sambil mengedor pintu kamarku, berulang kali, teriakan nya semakin keras, tapi, aku tidak menghiraukan nya.

Selang beberapa jam pintu pun terdobrak oleh seseorang, aku terkejut saat melihat raut wajah nya, seperti aku pernah melihat, tapi, dimana? dan ternyata, ia adalah Takeke anak pertama Nyonya Wang, Majikanku dulu.

“Ternyata kamu disini, sudah lama aku mencari jejakmu” umpatnya sinis.
“Ayo bangun, ikut bersamaku, kau sudah aku beli dari perempuan itu, sekarang kamu bebas”

Kata kata Takeke membuat aku melebarkan mata, kaget! Seakan tidak percaya jika aku telah bebas, dan, aku merasa senang karena bisa keluar dari tempat hina ini.
“demi keamananmu, ikut aku, akan kubawa kau ke tempat yang aman, sembari mengurus semua dokumen untuk kepulanganmu ke Indonesia” ucapnya mendinginkan pikiranku yang kalut.
“Terima kasih’sahutku senang.

Lalu, ia membawaku ke sebuah daerah terpencil di Pegunungan tea milik dari Nyonya Wang, sesampainya di Kebun tea, terlihat Sepasang suami istri keluar menyambut kedatangan kami. mereka adalah penjaga yang di tugaskan oleh Nyonya Wang untuk menunggu Kebun.

Aku berpikir Takeke sudah berubah, ternyata salah, ia sengaja menyekapku di tempat ini, agar ia bisa melampiaskan nafsunya., hampir setiap minggu datang kesini, terkadang juga membawa teman temannya. Dan gilanya! Ia menyuruhku untuk melayani semua orang.

Hanya tempat gelap dan berbau inilah yang selalu menjadi pelarianku untuk bersembunyi, setiap kali mendengar suara deruh mobil, dengan cepat aku berlari ke sini, tuhan sayang padaku karena menyediakan tempat ini untuk aku menyelamatkan diri.

Cuaca buruk melada hampir sebagian tempat di Formosa, termasuk di Kebun tea, suara gemuru petir bergema, angin dan hujan deras pun terjadi, tapi. tidak menyulutkan niatku untuk berlari ke tempat ini, sesaat setelah aku mendengarkan suara klakson mobil.

“Pak, bolehkan bermalam disini, aku habis mengantar teman dekat daerah sini, sekalian aku mampir menjenguk bapak dan ibu” suara merdu sayup sayup kudengar, itu suara siapa? aku benar benar penasaran, lalu, aku memutuskan keluar dari tempat bersembuyian dan ternyata, pemilik suara itu adalah Ekeke. Anak bontot dari Nyonya Wang.

Tatap matanya tajam penuh dengan tanda tanya, tertuju padaku, ini ke 2 kalinya ia menatapku seperti itu.
“Mirna, kog Kamu bisa ada disini?” tanya Ekeke penasaran.
“Iya” jawabku datar.

Atas kebaikan Bapak dan Ibu penjaga Kebun tea, akhirnya kami bisa berbincang, aku menjelaskan semua peristiwa yang sudah terjadi dari A sampai Z, aku melihat raut wajah angkuh, yang selalu cuek saat berhadapan dengan ku berubah menjadi hangat.

“aku terharu, kamu wanita yang hebat dengan Kesabaran luar biasa” ucapannya membuatku melambung tinggi ke langkit 7.
“Hehe,” … selama di Formosa baru pertama kali ini aku tertawa lepas tanpa beban.
“Terima kasih”
“Aku akan membantu semua dokumen kepulanganmu ke tanah air, maafkan atas semua kesalahan Takeke, mama yang selalu menghina dan menyiksamu, juga maafkan aku karena terlambat menyelamatkanmu, kamu wanita hebat yang pertama kutemui”ucapnya sambil melepar senyum manis ke arahku
“eeh” sahutku spontan

Aku tidak pernah menyangka, ia bisa mengucapkan kalimat semanis itu, yang mampu membuatku merasa menjadi wanita sesungguhnya.
Waktu terus berputar, dan hari berganti dengan sangat cepat, tidak terasa saat yang di nanti akhirnya tiba, hari kepulanganku ke negeri tercinta. Atas semua kebaikan hati seorang pria yang membuatku lepas dari semua luka, dan aku seperti memiliki sebuah impian baru.

“Ekeke adalah orang yang sangat baik, andaiku mengenalnya jauh lebih awal, andaikan aku tidak memilih kabur dan andaikan saja kakaknya tidak menodaiku? gerutuku dalam hati
“aah, …. “ sesalku dalam hati

Keperluan kepulanganku Ekeke sudah mempersiapkan semuanya, ia juga memberikan sejumlah uang, dan, sebelum aku pergi meninggalkan Formosa, ia mengucapkan satu kalimat yang membuat jantungku melaju cepat, kaget, bahagia, dan sedih.
“我爱你 (wo ai ni) “ ucapnya membuatku lemas.

Satu kalimat yang tidak pernahku duga akan keluar dari bibirnya, wajah putih dengan tatapan mata teduh, senyum manis merekah dibibirnya. “Ekeke, kamu tampan sekali” gumamku dalam hati.

Dengan langkah kaki terasa berat, aku meninggalkan Formosa, sikap hangat Ekeke membuatku ingin tetap tinggal, berada di sampingnya membuatku merasa aman. Tapi. Sudah waktunya aku untuk pulang, kembali ke kampung halaman.

Selamat Tinggal Formosa, sampai jumpa Ekeke. Aku pasti akan merindukanmu, kau sudah merubah pandanganku tentang Formosa yang menakutkan menjadi menyenangkan.

“Terima kasih Ekeke, wo ai ni” ucapku lirih sambil melambaikan kedua tangan meninggalkan Formosa, dan orang yang sudah mengambil hatiku.

Taipei, 26 Mei 2016
*** TAMAT****

Cerita FORMOSA

keyla / Cerita FORMOSA / BRILIAN TIME / tenaga kerja asing IBU……. Ya…. sosok dan nama yang tersirat dalam benak ku, saat pandangan ku tertuju pada sosok paru baya tepat di hadapan ku. Ya….. Seorang paru baya yang juga sama dengan ku,mengadu nasib di negeri FORMOSA. Secara kasat mata aku melihat ibu paru baya itu,kurang beruntung di sini. … Continue reading “Cerita FORMOSA”

keyla / Cerita FORMOSA / BRILIAN TIME / tenaga kerja asing

IBU…….
Ya….
sosok dan nama yang tersirat dalam benak ku, saat pandangan ku tertuju pada sosok paru baya tepat di hadapan ku.
Ya…..
Seorang paru baya yang juga sama dengan ku,mengadu nasib di negeri FORMOSA.
Secara kasat mata aku melihat ibu paru baya itu,kurang beruntung di sini.
Saat itu beliau mendorong kursi roda, duduk seorang gadis yang berkebutuhan khusus, dengan pengawalan seorang perempuan yang terlihat secara paras lebih muda dari ibu paru baya yang mendorong gadis berkebutuhan khusus itu.
Terlihat jelas mimik muka gugup dari ibu paru baya itu saat menyapa ku.
Gugup,takut dan tertekan mungkin itu gambaran yang pas.
Aku hanya mampu tersnyum dan mengangguk menyambut sapa nya.
Dan …..
ada kejadian yang sangat menyakit kan seketika itu, sang majikan yang aku bilang mengawal tadi, memarahi ibu paru baya itu di atas MRT di depan padat nya penumpang saat itu,aku lihat ibu paru baya itu hanya tetunduk diam.
Hati ku sakit teriris saat itu,tak kuasa aku menahan tangis.
Tak terbayang betapa sakit dan sedih nya perasaan ibu paru baya itu.
Tak bisa ku bayang kan bagaimana jika itu terjadi pada ibu ku ?
ingin ku menegur sang majikan,tapi apalah daya aku bukan siapa – siapa.
Dan aku pun tak mau jika sikap gegabah ku semakin menyusahkan ibu paru baya itu.
Sejenak aku termenung, melihat kejadian yang sangat menyakit kan itu, Betapa aku sering mengabaikan ibu ku.
Sesak di dada ku,membuat aku semakin berfikir untuk selalu berusaha membahagiakan ibu ku.
Sesampainya di rumah aku bergegas mengambil telephon genggam ku,dan menelfon ibuku. Hanya sekedar menanyakan sedang apa dan apa kabar hari ini ( karena aku termasuk sering sekali menelfon ibu ) jadi kita hanya sekedar mengobrol ringan saja,dengan begitu sedikit lega rasanya.
Kejadian tadi mengingatkan aku dengan cerita salah satu teman ku, dengan tuntutan dan kenakalan anak nya di Indonesia dengan segudang permintaan nya.( ya salam )
sampai – sampai kepngen banget aku menyampaikan ke anak nya
Tidak kah kamu tau bagaimana perjuangan ibu mu ?
Teringat pula dengan kejadian saat beberapa hari yang lalu aku membaca berita tentang seorang anak kecil yang di tinggal ibunya merantau bertahun-tahun tanpa kabar.
( tidak kah kau ingat penantian panjang anak mu untuk bertemu dengan mu ibu ? )
Begitulah kehidupan…..
Mengingat kejadian demi kejadian membuat ku semakin bisa perlahan menurun kan sedih dan amarah ku tentang kejadian tadi….
Aku hanya mampu mendoakan ibu paru baya tadi dari jauh.
Semoga di beri ketabahan dan kesabaran dalam menjalani semuanya.
Aku terbawa suasana lagi melow melow ga jelas,mendramatisir keadaan. Seolah – olah aku terhanyut dalam keadaan dan situasi itu..
ahh sudah lah…..
inilah Fenomena kehidupan ..
Banyak hal terjadi di sekitar kita tanpa di sangka – sangka dan di duga.
Lebih banyak bersyukur saja supaya di mudahkan dalam segala hal.
Aamiin……….

Bahagia itu Mudah

Yusnita / Bahagia itu Mudah / tidak ada / tenaga kerja asing Bahagia itu Mudah Seperti biasa pagi hari aku bersama akong dan ama jalan -jalan ke taman sebelum pulang kami mampir dulu ke pasar tradisiolan yang tidak jauh letaknya strategis tempatnya tidak luas ditambah para pedagang kebanyakan juga lansia. Senyum semeringah menyambut para calon pembeli menawarkan berbagai … Continue reading “Bahagia itu Mudah”

Yusnita / Bahagia itu Mudah / tidak ada / tenaga kerja asing

Bahagia itu Mudah

Seperti biasa pagi hari aku bersama akong dan ama jalan -jalan ke taman sebelum pulang kami mampir dulu ke pasar tradisiolan yang tidak jauh letaknya strategis tempatnya tidak luas ditambah para pedagang kebanyakan juga lansia. Senyum semeringah menyambut para calon pembeli menawarkan berbagai sayur maupun bahan makanan. Tujuan kami adalah pedagang daun ubi langganan usianya tidak jauh beda dengan akong sekitar 80 tahun jalannya pun sudah membungkuk tapi masih mampu mengendarai motor kebetulan dia baru sampai di depan toko kami menunggu sampai barangnya diturunkan usia yang serentan itu masih berjuang mengais rezeki tanpa minta-minta ataupun mengemis dalam batinku bangga dan beruntung bisa melihat perjuangan mereka.
Demikian contoh secercah kebahagiaan kita bisa melihat perjuangan, pengalaman orang di sekitar melihat warna dunia dari segi positifnya.
Bahagia itu mudah saat kita bisa merasakan indahnya bersyukur dan selalu berfikir positif saat kaki kita lelah berjalan setidaknya kita punya kaki yang sehat cukup istirahat semua selesai, kita juga tidak perlu berfikir terlalu berat seperti kapan sukses, kapan menikah syukuri saja kita masih hidup sehat dan bisa beribadah. Syukuri semua panca indra bisa melihat, mencium wanginya bunga, merasakan lezatnya makanan dan merasakan alunan dunia lewat musik maupun angin.
Jangan lupa tersenyum.