2016 Babak penyisihan 印尼文初選
Continue reading “書生夢 SARJANA IMPIAN “
書生夢 SARJANA IMPIAN
2016 Babak penyisihan 印尼文初選
Taiwan Literature Awards for Migrants
2016 Babak penyisihan 印尼文初選
2016 Babak penyisihan 印尼文初選
Continue reading “書生夢 SARJANA IMPIAN “
Sesilia / Putih Abu – Abu Yang Ku Perjuangkan / Tidak ada / tenaga kerja asing Waktu itu aku berusia 15 tahun, aku di landa sebuah dilema akan sebuah pilihan antara impian ku atau keselamatan adik ku. Sebagai seorang kakak yang ingin meneruskan sekolah ke tingkat SMK, tapi harus dihadapkan dengan kondisi adik ku yang sangat memprihatinkan, butuh … Continue reading “Putih Abu – Abu Yang Ku Perjuangkan”
Sesilia / Putih Abu – Abu Yang Ku Perjuangkan / Tidak ada / tenaga kerja asing
Waktu itu aku berusia 15 tahun, aku di landa sebuah dilema akan sebuah pilihan antara impian ku atau keselamatan adik ku. Sebagai seorang kakak yang ingin meneruskan sekolah ke tingkat SMK, tapi harus dihadapkan dengan kondisi adik ku yang sangat memprihatinkan, butuh tindakan cepat untuk menolongnya. Aku hanya bisa pasrah melepaskan impian ku untuk adik ku tercinta. Hanya itu yang dapat ku lakukan untuknya saat itu. Karena saat itu bapak mengalami krisis, hingga akhirnya kuserahkan biaya sekolah ku untuk pengobatan adik ku, yang harus secara rutin satu bulan sekali selama dua tahun menjalani pengobatan rutin. Walau sesak rasa dada ini karena harus melepaskan impianku, tapi aku merasa bahagia karena adik ku dapat tertolong. Itulah pengorbanan ku untuk mu adik ku.
Pada suatu malam aku utarakan keinginan hati ku kapada orang tua ku, bahwa aku ingin bekerja ke Jakarta mencari uang untuk biaya sekolah dan aku mencoba meyakinkan mereka.
” Bapak, ibu, aku pasti bisa, aku ingin tetap melanjutkan sekolah,aku akan jaga diri baik – baik, tolong izinkan dan doakan aku.” Pinta ku kepada orang tua ku.
Suasana saat itu menjadi sunyi, orang tua ku terdiam dan terlihat buliran air mata menetes tak hentinya dari sudut mata mereka.
” Ndok, kalau itu memang sudah menjadi keputusan mu, bapak dan ibu akan mengizinkan mu dan akan mendoakan mu untuk menggapai impian mu.” Seru bapak yang langsung memeluk ku di iringi oleh ibu.
Akhirnya izin orang tua ku aku dapat kan dan segeralah aku mempersialkan perlengkapan untuk ke Jakarta.
Sore itu di Terminal bus aku di antarkan oleh bapak dan ibu. Aku selalu mencoba tersenyum ketika menatap wajah mereka agar mereka tak terlalu khawatir ke pada ku. Walau ku lihat raut wajah yang amat cemas yang tampak di wajah mereka.
” Pak, buk, jaga diri baik – baik, jaga kesehatan, aku pergi dulu.” Pamit ku seraya memeluk ke dua orang tua ku.
” Jaga diri baik – baik ndok, restu dan doa kami bersamamu. Jangan lupa kasih kabar ke kami kalau sudah tiba di Jakarta.” Tutur bapak yang di iringi isak tangis ibu yang dari tadi hanya terdiam di samping ku dan memeluk ku tanpa berkata apa pun.
Bus itu dan lambaian kedua tangan orang tua ku telah menjadi bukti sebuah perpisahan yang berbekal niat, keinginan, dan doa saat itu.
Ketika tiba di Jakarta aku selalu memberi kabar kepada orang tua ku agar mereka tidak terlalu mencemaskan ku, dan dapat memberikan pengobatan yang maksimal kepada adik ku.
Aku di Jakarta tinggal bersama kakak ku perempuan, dia sudah menikah dan mempunyai 4 orang anak. Dialah orang yang selalu membantu ku, dia juga yang memberikan pekerjaan kepada ku. Karena aku tidak ingin merepotkan siapa pun selama aku mampu mengatasinya sendiri. Aku menyuruhnya memperlakukan aku sebagai seorang karyawan agar aku dapat hidup mandiri.
Setelah satu tahun lamanya aku bekerja dan uang ku telH terkumpul serta cukup untuk biaya sekolah, aku mendaftarkan diri di SMK Jakarta dan aku di terima.
Di sanalah aku menuntut ilmu dan di sanalah aku mendapatkan seragam ku sebuah seragam yang aku perjuang kan ” putih abu – abu.”
Aku sangat bahagia karena mendapatkan sahabat yang amat baik, para guru yang selalu memberi ku motivasi.
” Uwie, kamu mau ikut kami setelah pulang sekolah nanti, kami mau nonton di bioskop.” Terdengar ajakan dari salah satu sahabat kepada ku.”
” Maaf aku tidak bisa karena aku ada pekerjaan.” Tolak ku.
Ya, karena aku tidak bisa seperti teman – teman yang dapat bermain sesuka hati mereka setelah jam pulang sekolah karena aku harus bekerja di toko kakak ku. Setelah pulang sekolah aku bekerja hingga pukul 21.00 malam, setelah itu aku masih harus mengerjakan tugas sekolah ku. Bahkan hari minggu pun aku tetap bekerja karena di hari minggu aku mendapat gaji penuh, sayang jika di tinggalkan. Sebenarnya kakak ku tidak tega dan ingin membantu ku tapi aku menolak karena aku sudah berkomitmen kepada diri ku, bahwa aku tidak akan pernah nerepotkan orang lain selama aku masih mampu.
Di sekolah aku mendapatkan jabatan sebagai Ketua Osis dan mendapatkan gelar murid tauladan dari para guru dan teman – teman. Sungguh bahagia sekali rasanya, aku dapat melalui hari – hari ku dengan sangat baik, walau rasa lelah menghinggapi tubuh ku tapi semua itu tidak membuat ku rapuh.
” Uwie,…Uwie…” Terdengar teriakan dari seseorang tapi hanya sekilas setelah itu semua gelap.”
Dan ketika aku membuka mata aku sudah berada di rumah sakit .Aku positif terjangkit tifes dan harus di rawat di rumah sakit, karena sebelumnya aku mengalami panas yang sangat tinggi selama satu minggu.
” Uwie, bulan depan kita akan mengikuti ujian, bagaimana dengan mu,” Ujar salah satu sahabat yang menjenguk ku sore itu.”
” Aku tetap akan mengikutinya, aku pasti bisa,” Jawab ku yang penuh semangat tapi bertolak belakang dengan keadaan fisik ku saat itu.”
” Ok, cepat sembuh wie, aku akan bawakan catatan untuk mu,” Sahut salah satu sahabat lain.”
Aku sangat beruntung mempunyai sahabat yang amat peduli kepada ku tanpa membedakan status. Mereka juga salah satu semangat ku dalam menuntut ilmu, karena mereka tahu aku sangat menghargai waktu. Karena setiap sedetik waktu yang hilang berarti kita telah melepaskan sedetik ilmu yang akan kita dapatkan.
Waktu ujian pun di mulai, akhirnya aku bisa mengikutinya. Walau masih dalam keadaan lemas tapi aku optimis dan semangat ku yang menggebu telah melenyapkan rasa lesu yang bersarang di tubuh ku. Puji syukur ku terhadap Tuhan karena aku dapat mengikuti ujian ku dengan baik dan lancar.
Dan hari yang ku tunggu – tunggu telah tiba, hari di mana perjuangan ku selama 3 tahun lamanya akan terlihat hasilnya. Wali kelas pun membacakan hasil dari ujian, dan nama ku terletak di posisi ke dua. Walau rasa sedikit kecewa menghinggap di hati ku karena selama 3 tahun aku selalu berada di posisi teratas. Tapi saat ini aku harus merelakan untuk orang lain. Karena sebuah penyakit yang menyerang ku waktu itu. Tapi tak mengapa, aku tetap bangga, aku dapat menyelesaikan sekolah ku dengan baik dengan kerja keras ku selama ini.
” Pak, buk aku lulus, Alhamdulilah dapat peringkat ke dua.” Jelas ku kepada ibu menggunakan telepon seluler waktu itu.”
” Alhamdulilah, bapak bangga kepada mu ndok.” Sahut bapak dan ibu yang terdengar sedang menangis karena bahagia.”
” Terima kasih pak, buk ini semua berkat doa kalian.” Tutup ku dalam pembicaraan tak lupa ku ucapkan salam.
Kebahagiaan yang ku dapatkan adalah sebuah bukti perjuangan yang telah aku lakukan untuk mendapatkan seragam putih abu – abu ku dan kini aku telah mendapatkannya. Aku percaya setiap kemauan pasti ada jalan jika kita mau berusaha dan berdoa. Dan sebuah kekurangan jangan lah jadi alasan untuk menyerah dan menggagalkannya. Sebuab pengorbanan ku untuk adik ku juga berbuah manis, dia sudah membaik sekarang walau belum sembuh total. Inilah kisah ku, Uwie seorang gadis yang telah berhasil memperjuangkan seragamnya.
Ana widiya H / May JURAGAN And DEGAN / Tidak ada / tenaga kerja asing Dear juragan bukan dear mantan, meme mau bilang sebenernya ini bukan rayuan atau sogokan tapi lebih mirip Surat pengakuan. Ketika aku membelah degan faforitmu, aku telah mematahkan pisau daging kesayanganmu, yang baru saja kamu beli dari jepang. Disini kejujuranku di uji, antara bilang … Continue reading “May JURAGAN And DEGAN”
Ana widiya H / May JURAGAN And DEGAN / Tidak ada / tenaga kerja asing
Dear juragan bukan dear mantan, meme mau bilang sebenernya ini bukan rayuan atau sogokan tapi lebih mirip Surat pengakuan. Ketika aku membelah degan faforitmu, aku telah mematahkan pisau daging kesayanganmu, yang baru saja kamu beli dari jepang.
Disini kejujuranku di uji, antara bilang jujur meski ajur dan kemungkinan gajiku dipotong atau berbohong sebentar aman tapi lama kelamaan ketauan malah jadi bumerang .
Dan aku memilih jujur meski hatiku hancur,membayangkan kemungkinan yang nanti akan menjadi hukumanku, keyakinanku semakin kuat ketika pesan almarhum bapak selalu mewanti wanti dalam wejangannya ” jadilah pribadi yang sabar, jujur dan rendah hati. Itu yang akan membuatmu tenteram, aman dan insyaAllah selamat dapat dipercaya majikan, meski kamu hanya seorang pembantu.
” Yes, almarhum bapak pasti angkat dua jempol buat ku di surga sana, untuk keputusanku kali ini” suara hatiku yakin.
Rucuh ( es degan kelapa muda ) dengan sirup gula merah, bercampur dengan serutan daging kelapa yang lembut sudah tertata menggoda, kuberi topping irisan strawberri dan daun mint di bibir gelas bening, yang mungkin nggak nyambung dengan isinya ku tata semanis mungkin. Berharap, ketika juragan pulang dari shoppingnya lalu Mendengarkan ratapan kesalahanku, akan sedikit lebih adem tanpa harus marah berapi api.
” Ting tong ” bel pintupun berbunyi, yang berarti juragan telah datang, kupaksakan wajahku tersenyum wellcome bergegas ku raih segala belanjaan dari tangan juragan.
” Hari ini sangat panas” keluhnya sambil berjalan menuju dapur , ku ikuti dari belakang dengan Persiapan wajah termelas dan terkusut.
” Lumayan lah ” sahutku menandakan responku yang selalu ON.
” Waow coconat with black sugar ” melihat beberapa gelas es degan yang telah kupersiapkan, wajah juragan nampak bersinar dan cerah secerah musim panas tahun ini.
Segera ia raih segelas es degan dan menyeruputnya ” ahh….,segar, manis sekali” penilaiannya tentang es degan buatanku.
” Benarkah? Trimakasih” jawabku sambil menata barang dalam kegalauan.
” Juragan, aku ingin bicara jujur padamu, hari ini aku merusakkan barang mu lagi” tuturku memelas.
” What?” Juragan terkejut. Aku menunduk.
” Barang apa lagi yang kamu rusakkan sekarang?” Tanyanya menyergap dalam curiga.
” Pisau daging yang baru kamu beli bulan lalu dari jepang, ku pakek untuk membelah
degan. Maaf, aku tidak sengaja melakukan semua ini” kataku menjelaskan kronologi patahnya pisau daging juragan.
Wajah juragan memerah bak kepiting rebus.
” Ya Tuhan, setelah kamu merusakkan kloset, memecahkan piring, mematahkan gagang pelpelan, menghilangkan gunting, menghilangkan uang jajan, sekarang kamu patahkan pisau dagingku? Anaaaaaa……, kenapa kamu ceroboh sekali?” Deretan daftar kesalahanku telah di jabarkan dengan geram.
” Nanti malam, setelah pekerjaanmu selesai temui aku di lantai atas” perintahny berlalu pergi.
Aku hanya bisa terapaku mendungu. Kemelut dalam otak dan benakku seakan akan membuat jaringan fonis kematian.
” Yah, tamatnya pekerjaanku nanti malam, atau di marahi habis habisan dengan fonis akhir, mengganti rugi di potong pas gajian dan kumungkinan terburuk aku benar- benar di pulangkan” bathinku dalam kegusaran yang mendalam.
Ku hela nafas dalam- dalam berharap jarum jam disitu saja, di angka satu siang jangan memutar menuju malam.
” Oh malam apa yang akan kuper buat?” Kegalauan ini menghantui siang sore ku.
Makan malam berjalan dengan lancar, duduk semeja antara dua juragan, nenek, dua cucunya dan aku. Kali ini makan malam berlangsung hening, tanpa candaan dan obrolan seperti biasanya. Setelah selesai mencuci piring aku bergegas nail ke lantai atas. Hatiku deg deg gan aku mulai gugup.
” Aku sudah siap Mendengarkan segala keputusanmu tentang kesalahanku, juragan” kataku gemeteran.
” Oh ya, es degan yang kamu buat siang tadi apa masih sisa ?” Tanya juragan , yang nggak nyambung dengan pertanyaanku.
” Masih, sisa dua gelas ” jawabku, cepat ku jawab, kutunjukkan sikap siagaku tanpa ragu.
” bulan 6 mendatang kita akan berlibur ke Amerika, ini naskah interfiu yang harus kamu hafalkan, untuk pengajuan Visa USA mu, jika kamu lolos dalam interfiu itu, semua kesalahanmu akan kami lupakan, jika kamu tidak lolos kami semua akan kecewa padamu” ancaman juragan yang masih ku telaah lama.
Ku tatap wajah nenek yang penuh dukungan mengangguk, ku lempar pandangan pada kedua juragan di sambut senyuman dan kepalan tangan penyemangat.
” Semangat ya an” kata mereka serempak.
Tubuhku lemas dan aku benar- benar tidak percaya, kebaikan keluarga juragan benar- benar menguras air mata jelataku. Dan sejak hari itu aku bertekad untuk tidak mengecewakan mereka lagi.
4 Mei, aku diantar juragan peremupuan untuk memgikuti tes interfiu di kedutaan USA, nasib baik berpihak padaku, Alhamdulillah aku dinyatakan lolos dengan mengantongi dua tahun masa tenggang Visa. Ku isaratkan senyuman pada juragan yang berada di luar ruangan, pertanda kabar bahagia, ketika aku keluar dari ruangan interfiu, kebahagiaan juragan meluap luap melebihi rasa bahagiaku yang kupendam sopan.
Setiba kami di rumah, juragan langsung sembahyang pada Tuhanny, aku hanya terpaku berdiri di depan pintu memunguti segala rasa bak menang undian milyaran,kejutan, kebaikan keluarga juragan, segala ujian dalam hidupku sejak dulu di jawab oleh Tuhanku, dengan melimpahkan segala kemudahan dan nikmat tanpa ku duga.
Juragan peremupuan meraih tanganku, menuntunku duduk berjejeran di sova, dia berkata ” kami sangat bahagia bisa mengajakmu ke Amerika, dengan segala perjuangan tentang kepengurusan dokumenmu yang begitu rumit, kami tak pernah menyerah agar kamu bisa merasakan kebahagiaan yang belum tentu seumur hidupmu bisa menginjakkan kaki di negara Amerika, trimakasih atas bantuanmu di keluarga kami, kita adalah keluarga dan kami tak pernah membeda bedakanmu tentang itu”
Dedikatet, buat keluarga Lan, ditengah tengah kelurgamu aku merasa berharga dari hanya sekedar pembantu yang kebanyakan di pandangan sebelah mata. Trimakasih atas segalanya.
R,Riyanti / Happiness will kill your sickness / Tidak ada / tenaga kerja asing HAPPINESS WILL KILL YOUR SICKNES Banyak yang mengatakan hidup adalah sebuah pilihan aku pikir juga begitu, tapi menurutku ada banyak hal dalam hidup ini yang tidak bisa kita pilih mungkin itulah yang dinamakan takdir ,yang pasti apa dan bagaimanapun jalan hidup kita itu tergantung … Continue reading “Happiness will kill your sickness”
R,Riyanti / Happiness will kill your sickness / Tidak ada / tenaga kerja asing
HAPPINESS WILL KILL YOUR SICKNES
Banyak yang mengatakan hidup adalah sebuah pilihan aku pikir juga begitu, tapi menurutku ada banyak hal dalam hidup ini yang tidak bisa kita pilih mungkin itulah yang dinamakan takdir ,yang pasti apa dan bagaimanapun jalan hidup kita itu tergantung bagaimana kita menjalani dan bagaiamana cara kita bersyukur dengan apa yang sudah diberikan Tuhan untuk kita karena setiap hal yang kita lewati seberapa menyakitkan itu pasti akan ada hikmah dan pelajaran yang bisa kita ambil didalamnya jika kita pandai memaknainya .
Tak ada seorang pun yang bercita-cita untuk menjadi TKI/TKW begitupun aku seingetku dulu waktu kecil kalau ditanya “kamu mau jadi apa ? …. aku pasti akan menjawab aku mau jadi polwan” 😀
Tapi apa mau dikata jika jalan Tuhan menjadikan aku seorang TKW ahhh! Tapi apa salahnya menjadi seorang tkw toh bukan pekerjaan yang buruk ,ya walau pun masih ada saja yang memandang pekerjaan kami ini dengan sebelah mata ,mereka tidak tahu saja menjadi seorang tkw itu tidak mudah membutuhkan skil yang tinggi harus bisa bahasa dari negara yang ditempati dan banyak lagi keterampilan yang harus dikuasai.
Taiwan orang sering menyebutnya dengan negri formosa banyak orang yang menggantungkan harapan dan cita-citanya disini termasuk aku ,bagiku taiwan bukan hanya tempat untuk mengais rezeki tapi juga jalanku untuk meraih mimpi yang sempat tertunda ,mimpi ku menjadi seorang sarjana, ini kali kedua kedatanganku kenegri formosa pekerjaanku disini merawat ama disela sela kegiatanku sebagai seorang care giver aku gunakan waktu luang ku untuk kuliah disalah satu universitas Indonesia yang dikelola oleh mahasiswa Indonesia yang sedang mengambil pendidikan ditaiwan tentunya atas seijin majikanku,menjadi sarjana adalah cita2 keduaku setelah aku gagal menjadi seorang polwan hehe .
Hubunganku dengan majikan cukup dekat mereka tidak menganggapku seperti orang lain mereka menganggapku seperti keluarga sendiri setidaknya itu yang aku rasakan 😀 ,dan bagiku mereka bukan hanya sekadar majikan tapi juga guru terbaiku mereka mengajariku banyak hal tentang hidup.
Biasanya kalau pulang lebih awal laobaniang (Bos perempuan) selalu bercerita tentang aktifitasnya dikampus tempat beliau mengajar pernah beliau cerita ada salah satu dosen dikampus tempat beliau mengajar yang mengidap penyakit kangker”
“Lizze kamu ingat dulu aku pernah cerita kalau ada satu temanku yang mengidap penyakit kanker ,iya aku ingat
Dulu saya pernah menawari untuk menggantikan beliau mengajar ,tapi beliau menolak saya fikir semester ini beliau tidak akan mengambil matakuliah lagi ,karena saya melihat kondisinya sudah tidak memungkinkan untuk kembali mengajar , tapi hari ini saya melihat beliau kembali mengajar saya lihat keadaannya sudah sangat lemah saya sempat bertanya kenapa kamu tidak istirahat saja dirumah ,dia mengatakan aku tidak mau hanya diam dirumah untuk menunggu mati”disisa umurku yang entah sampai kapan paling tidak saya masih bisa memberikan sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain” .
setahun yang lalu beliau pernah dioperasi kesehatannya sempat membaik tapi sel kangkernya sudah menyebar ke bagian organ tubuhnya yang lain , saat ini beliau rutin melakukan kemoterapi beliau tahu kemoterapi tidak membnuh sel kangker dalam tubuhnya tapi hanya bisa memperlambat pertumbuhannya dan itu beliau lakukan untuk membantu mahasiswanya yang sedang melakukan penelitian untuk pengidap penyakit kangker ,aku sempat terkejut haahh ! penelitian seru ku ,(seketika itu tumbuh kekaguman dalam diriku walaupun aku tidak pernah mengenal sosoknya tapi bagiku beliau orang yang sangat luar biasa bagaimana tidak dalam keadaan sekaratpun beliau masih memikirkan orang lain.) .
Biasanya kalau pas liburan semester aku disela sela waktu kosongku aku gunakan untuk sekedar browsing internet atau buka youtube tentunya chanel Indonesia sekedar melepas kangen dan mencari tahu bagaimana situasi diindonesia terbaru,entah kebetulan atau apa,pas aku iseng buka youtube ada salah satu acara reality show di Indonesia bintang tamunya adalah seorang anak baru berumur 5 tahun yang mengidap leukemia (kangker darah) diacara itu disebutkan bahwa sang anak mulai mengidap leukemia sejak berumur 9 bulan ,Tapi yang membuat menarik anak itu bisa bertahan sampai usianya yang kelima itu dari sebuah wayang konon katanya anak ini sangat mengidolakan salah satu tokoh wayang yang yang bernama wisangeni ,wisangeni ini tokoh wayang yang sangat kuat bahkan kekuatannya melebihi gatot kaca ,entah bagaimana dia menghidupkan tokoh wayang ini kedalam dirinya , ayahnya ini menceritakan bagaimana kuat nya sang anak menghadapi penyakit bahkn ketika dikemo atau diambil sumsum tulang belakangnya tidak mengeluarkan air matanya dia selalu berkata “ayah wisangeni itu kuat ya tidak pernah nangis ,aku juga mau seperti wisangeni yang kuat ,sesekali si ayah terlihat berkaca kaca dan tetap melanjutkan ceritanya pernah leukositnya naik sampai 260ribu, kata dokter harus dirawat tapi anak saya bilang ayah ,ayahkan sudah janji mau nonton wayang saat itu anak saya baru berumur 2,5 thn saat itu yang dalam pikiran saya entah hari ini atau besok Tuhan mengambilnya saya ikhlas ,yang penting untuk saat ini adalah kebahagian dia akhirnya saya tidak menuruti perkataan dokter dan saya membawa anak saya nonton wayang saya melihat dia sangat bahagia sekali ,dan saya memutuskan untuk tidak kembali kerumah sakit karena saya melihat keadaannya sudah lebih baik setelah 3hari kemudian chek up lagi kerumah sakit Alhamdulillah leukositnya turun menjadi 198rb,hampir semua semua audiens yang menoton acara itu menangis termasuk aku walau aku hanya melihatnya dari monitor .
Ternyata benar apa yang dikatakan sebagian orang happiness is the best medicine (kebahagian adalah obat terbaik) aku teringat apa yang slalu dikatakan laobaniangku ,tidak peduli nanti akan seperti apa selama itu positif lakukan apa yang membuat mu bahagia.
Cerita dari mereka membuat aku berpikir bahagia itu tidak selalu berupa materi,seperti halnya teman majikanku dengan mengajar dia merasa bahagia dan hidupnya lebih berarti dari hanya sekedar berdiam diri dirumah menunggu kematian karena sakitnya dan si anak kecil itu wayang adalah kebahagiannya ,dengan menonton wayang dia mersa semangat hidupnya tumbuh dan memiki kekuatan untuk melawan hidupnya
Ternyata bahagia itu sangat sederhana lakukan apa yang kita suka maka kita akan bahagia…
End
NB : Darah manusia terdiri atas sel-sel darah dan cairan yang disebut sebagai plasma darah. Sel darah terdiri atas
Sel darah merah (erythrocit), Sel darah merah akan membawa nutrisi serta oksigen ke organ, jaringan dan sel-sel dalam tubuh kita.
Sel darah putih (leukosit), Sel darah putih (leukosit) merupakan sistem pertahanan tubuh yang penting untuk menangkal bakteri, virus, kuman, dan kotoran lain yang memicu penyakit yang melemahkan tubuh. (Baca : Penyebab kelebihan sel darah putih)
Keping darah (trombosit). Leukosit mempertahankan tubuh dari serangan penyakit dengan cara memakan (fagositosis) penyakit tersebut. Begitu tubuh mendeteksi adanya infeksi maka sumsum tulang akan memproduksi lebih banyak sel-sel darah putih untuk melawan infeksi.
Nok Djoyorady Ipank / SAKURA DI TAMAN HATI / Forum Lingkar Pena Taiwan / tenaga kerja asing SAKURA DI TAMAN HATI Sepi. Seperti inilah suasana taman yang setiap hari aku dan Nenek kunjungi. Orang-orang lebih memilih mengunjungi taman yang lebih besar di tempat lain daripada di sini. Hampir setiap pagi aku menemani Nenek yang kurawat ke taman ini … Continue reading “SAKURA DI TAMAN HATI”
Nok Djoyorady Ipank / SAKURA DI TAMAN HATI / Forum Lingkar Pena Taiwan / tenaga kerja asing
SAKURA DI TAMAN HATI
Sepi. Seperti inilah suasana taman yang setiap hari aku dan Nenek kunjungi. Orang-orang lebih memilih mengunjungi taman yang lebih besar di tempat lain daripada di sini.
Hampir setiap pagi aku menemani Nenek yang kurawat ke taman ini untuk jalan-jalan santai mengitari taman atau sekadar duduk-duduk berjemur. Namun, Nenek lebih suka olahraga Yoga di sini. Karena tempatnya lengang dan lumayan sejuk, cocok untuk beryoga.
“Kenapa Nenek lebih suka di sini daripada di taman lain?” suatu hari tanyaku padanya.
“Di taman ini ada sejuta kenang dalam hidupku, Mei.”
“Bukankah di sana lebih besar, indah, dan banyak orang, Nek?”
“Iya…, aku jauh nyaman di sini.”
Oh, alasan itulah Nenek lebih suka singgah di sini daripada di tempat lain. Kumaklumi, walau sebenarnya aku kepingin sangat ke taman besar di seberang jalan. Di sana,aku bisa berjumpa dengan teman dari tanah air. Apalah daya?
***
Pagi ini, setelah ikut lari-lari kecil mengitari taman bersama Nenek, aku istirahat di gardu taman. Nenek berolahraga Yoga tak jauh dari tempat dudukku.
Di bangku taman ini, sembari menunggu Nenek aku bisa menikmati sejuknya taman penuh bunga-bunga. Merehatkan penatnya badan dari rutinitas bertumpuk-tumpuk, pekerjaan rumah yang kujalani.
Menikmati musim daun-daun gugur, menikmati hujan Sakura di kala bunga-bunganya mekar dan jatuh satu-satu dibelai-belai mesra angin. Terkadang aku juga bisa menikmati turunnya hujan deras saat kami terjebak hujan. Pun, hujan airmataku saat-saat aku merindukan rumah.
“Mei, keluarkan manthou dan kopi di termosnya. Kita sarapan dulu, ya?” ucap Nenek menghampiriku.
“Iya, Nek. Tumben yoganya sebentar?”
“Iya. Aku pengen ngobrol denganmu.”
Nenek duduk di bangku hadapanku sembari makan manthou kukusnya. Sesekali menyeruput kopi. Pun aku, sama. Saban hari kita selalu membawa bekal sarapan dari rumah.
“Kamu nggak bosan, kan, selama ini menemani nenek hampir setiap hari di taman ini?”
Nenek menatapku kalem.
“Tidak, Nek. Justru suka sangat. Di sini Amei bisa melihat Sakura bermekaran, Azalea mekar dengan indahnya….”
“Dan…, itu kali pertama dalam hidupmu melihat Sakura, kan?” ucapnya memotong pembicaraanku.
‘Hahaha…hahaha….’
Kami tertawa bareng. Memang kenyataannya seperti itu.
“Taukah, Mei? Kenapa taman ini begitu berkesan?”
“Kenapa, Nek?”
“Di sini nenek kali pertama bertemu dan berkenalan dengan almarhum Kakek. Pun setiap hari sampai sebelum Kakek meninggal selalu beryoga bareng di sini.”
Nenek mulai serius memulai curhatnya. Di situ aku mulai tahu banyak hal betapa tempat yang indah ini bagi Nenek dengan segala kenangannya.
Di sini aku juga sering berbagi banyak hal tentang keluargaku, kampung halaman, pohon Mangga di depan rumah, juga tentang kekasihku kepadanya.
Nenek tahu itu semuanya. Karena sembari menungguinya berolahraga, aku sering kali menelepon ke kampung halaman, mendengarkan musik dari earphone hpku, pun terkadang menulis diari berisi serupa surat-surat cinta, puisi-puisi kerinduan, dan sejenisnya di bawah pohon Sakura yang sedang mekar-mekarnya. Sejuk, indah!
“Kamu suka nulis juga, ya?” tanyanya sambil mengelap mulut dengan tisu dari sruputan terakhir kopinya menuju tandas.
“Suka sangat, Nek.” jawabku singkat.
“Selama ini kamu juga suka, kan, menjaga nenek dan bekerja di rumah kami?”
Raut muka Nenek mendadak sedih.
“Suka, Nek.”
“Terima kasih. Aku selama ini terlalu merepotkanmu, Mei.”
“Kenapa berkata seperti itu, Nek?” lirih tanyaku.
“Tak apa. Suatu saat nanti aku juga bakal merindukan ‘surat rindu’ dari kampung halamanmu untukku, seperti yang selalu kautulis di bawah Sakura di taman ini.” ucapnya penuh harap.
“Emmm…, itu pasti, Nek.” jawabku mantap. “Kan, kutulis untuk Nenek di bawah Pohon Mangga besar. Di pelataran depan rumahku.”
Mata Nenek berkaca-kaca. Pada akhirnya tangisnya pecah. Terisak-isak. Pun hujan deras dari mataku jatuh berderai-derai di pipi, yang sebelumnya gerimis jauh lebih dulu mampir di mataku. Saat terucap kata pamit dan pisah, tadi.
Dan, aku pasti akan merindukan yang semua-muanya tentang Taiwan, selama 3 tahun di sini.
Besok, aku pulang….
Bukit Perindu, 208516_
Ap Aksara Pelangi
Novi Ayu Rahayu / Bukan Rumah Tuhan / tidak ada / tenaga kerja asing BUKAN RUMAH TUHAN Oleh. Novi Ayu Rahayu Udara dingin di malam itu serasa menusuk ke dalam tulang. Aku kedinginan. Ini kali pertama aku tidur di negeri orang. Mulai pagi hari sekali aku sudah bergegas untuk bekerja, karena di siang hari nya aku harus bersiap … Continue reading “Bukan Rumah Tuhan”
Novi Ayu Rahayu / Bukan Rumah Tuhan / tidak ada / tenaga kerja asing
BUKAN RUMAH TUHAN
Oleh. Novi Ayu Rahayu
Udara dingin di malam itu serasa menusuk ke dalam tulang. Aku kedinginan. Ini kali pertama aku tidur di negeri orang.
Mulai pagi hari sekali aku sudah bergegas untuk bekerja, karena di siang hari nya aku harus bersiap meninggalkan pekerjaanku, dan menuju tempat kursus bahasa hingga sore.
Dari sore hari hingga malam, aku melanjutkan mengurus anak-anak dan keluarga. Memasak, mencuci, membersihkan rumah, dan menemani mereka belajar. Itu semua kulakukan sendiri, karena aku seorang ibu tunggal.
Bekerja, belajar, dan menjadi orang tua tunggal memang tidak mudah. Tapi aku harus berjuang demi masa depan mereka.
Delapan bulan aku berjuang sekuat jiwa pikiran dan tenaga, untuk mengikuti ujian test tersebut. Dan hasilnya. Aku gagal.
Aku dinyatakan gagal lulus dalam ujian tes kelayakan bahasa, untuk bekerja di korea selatan. Cita cita ku untuk mendapatkan gaji yang lebih tinggi lenyap sudah.
Perasaan sedih, kecewa, putus asa dan tidak bersemangat, semua menjadi satu, hingga membuat aku jatuh sakit.
Tidak mau berlarut larut dalam keputusasaan dan kesedihan, aku pun segera bangkit berdiri dan mencoba usaha lagi.
Empat bulan lamanya aku menunggu, dan akhirnya aku berhasil terbang menuju Taiwan.
****
Udara dingin tadi malam rupanya tak bisa membuat tidurku nyaman. Lebih baik aku bangun saja dan memasak makanan, sekaligus bisa menghangat kan badan di depan api kompor.
Di rumah ini kami hanya tinggal berdua saja, aku dan Ama. Nenek yang aku jaga ini usia nya sudah 93 tahun, beliau lumpuh total, memakai selang kencing, dan selang di hidung.
Jujur saja, pada awalnya aku tidak suka tempat ini. Yang pertama, karena tidak ada suara adzan dan Rumah Tuhan, tempat ibadah nya Umat Islam, yaitu Masjid.
Inilah yang pertama kali aku rindukan semenjak datang kesini.
Yang kedua, selama bekerja disini aku tidak bisa liburan seperti teman2 yang lain. Dan yang terakhir aku tidak bisa berbahasa seperti mereka disini dengan baik, karena majikan dan aku tidak tinggal bersama dan kami jarang bertemu, majikan hanya datang sesekali saja jika bahan makanan sudah habis.
Ingin rasanya pulang, aku rindu rumah yang penuh dengan cinta dan kasih sayang, rindu dengan Rumah Tuhan, yang setiap lima waktu memanggil untuk datang.
Ada penyesalan di hati, kenapa dulu saat aku berada dekat dengan Rumah Tuhan, aku jarang datang, aku lalai menjalankan perintahNya, karena sibuk dengan pekerjaan.
Sekarang aku kena hukuman, Allah Tuhanku sudah menjauhkan aku dari RumahNya.
Dalam kesendirian dan kesedihan, aku mulai menemukan sebuah sinar yang terang, di sela sela waktu bekerja aku mulai belajar Al-Quran, kitab suci umat Islam.
Al Quran telah mengajarkan aku banyak ilmu kehidupan dan jalan kebenaran.
Apa tujuan hidupku, kini telah aku temukan.
Yaa. Aku telah menemukan apa yang aku cari selama ini. Dan itu bukanlah kekayaan, uang, atau kekuasaan. Karena dulu pun aku pernah mendapatkan itu semua, rumah, kendaraan, hidup yang berkecukupan dan kekayaan, semua itu pernah aku miliki, tapi pada kenyataannya tidak membuat aku jadi lebih bahagia.
Setelah lama tinggal disini, bekerja disini, dan belajar Al Quran disini, aku mulai suka tempat ini.
Rumah ini memang bukan Rumah Tuhan, tetapi aku merasakan Tuhan berada di dalam nya.
Hidupku mulai terarah, semakin bersemangat, dan semakin jadi lebih bahagia.
Setiap hari, di saat aku bekerja aku selalu di temani ayat ayat AlQuran yang aku dengar lewat handphone Samsungku. Dan saat waktu istirahat tiba, aku segera membuka kitab suci AlQuran dan membacanya.
Saat mendengar ayat ayat tersebut hati ini menjadi tenang dan damai, begitu pun saat membaca firman-firman Nya, hati dan jiwa ini terasa sangat bahagia.
Sungguh perasaan yang luar biasa, perasaan bahagia yang sebelumnya tidak pernah ada.
Terima kasih Tuhan, mungkin jika dulu aku sudah mengenal AlQuran aku tidak akan kena hukuman sampai kerja jauh ke taiwan, namun pula jika aku tidak kerja di taiwan aku tidak mungkin jadi mengenal dan belajar AlQuran.
Terima kasih Taiwan, karena sudah menemukan aku dengan Rumah Tuhan, sudah menemukan aku dengan arti kebahagiaan dan tujuan kehidupan.
Bukan gaji tinggi, bukan kekayaan, bukan kemewahan, bukan juga kekuasaan dan jabatan.
Tujuan ku, tujuan mu, tujuan hidup kita adalah Allah, Tuhan yang menciptakan semesta Alam.
Taichung, 21 mei 2016
舒亞果 / Musibah atau Anugerah??? / Tidak ada / Pernah bekerja di Ardentec Taiwan Musibah atau Anugerah??? Fauzi adalah salah satu BMI asal Lampung yang bekerja di sebuah perusahaan internasional di Taipei, Taiwan. Sudah satu tahun dia berada di Taipei dan sudah jago pula berbicara mandarin. Dia memiliki dua teman klop, yang cewek namanya Titin Nurdiansyah biasa dipanggil … Continue reading “Musibah atau Anugerah???”
舒亞果 / Musibah atau Anugerah??? / Tidak ada / Pernah bekerja di Ardentec Taiwan
Musibah atau Anugerah???
Fauzi adalah salah satu BMI asal Lampung yang bekerja di sebuah perusahaan internasional di Taipei, Taiwan. Sudah satu tahun dia berada di Taipei dan sudah jago pula berbicara mandarin. Dia memiliki dua teman klop, yang cewek namanya Titin Nurdiansyah biasa dipanggil Titin dan yang cowok namanya Kiki. Titin ini sudah bekerja di KDEI Taipei, sedangkan Kiki bekerja di perusahaan yang sama dengan Fauzi.
Fauzi bertubuh tinggi tegap dengan kumis tipis. Anaknya sangat iseng, suka ngebully orang, dan suka nggombalin orang. Sedangkan Kiki sebaliknya, anaknya pendiam, dengan wajah seperti nggak ada beban.
Sedangkan si Titin, gadis yang memakai jilbab, dan sangat baik hati.
Mereka sudah kenal lama sekali, jadi mereka sudah hafal sikap masing – masing. Kalau si Fauzi lagi diem aja, berarti dia lagi bad mood atau kalau engga, dia lagi marah sama seseorang atau punya masalah – masalah yang belum selesai.
Si Titin dan Kiki, dua duanya adalah orang yang sangat jarang marah, jadi kalau dihitung perminggu skala marahnya berapa maka bisa dipastikaan mereka punya skala 1 dimana 1 = sangat sekali jarang marah, sampai dengan 7 = sangat suka sekali marah. Bisa dipastikaan mereka sangat sabar. Kalau si Fauzi sudah engga usah ditanya, nilai dia = 7 *ini kenapa jadi kayak kuesioner aja ya, hehehe*
Satu lagi yang mesti kalian tahu dari Fauzi. Dia sangat suka nonton film horor guys. Mulai dari Suzzana, Masih Dunia Lain, horor – horor luar negeri seperti Shutter, Horor Jepang, Horor Korea, USA, Inggris, Afrika Selatan, India, Suster ngesot, Pocong Kesurupan, Kuntilanak Minta Kawin, Gendrowo Goyang Karawang, dll. Saking banyaknya butuh waktu 2 hari 2 malam buat ngelist daftar horor yang pernah ditonton, jadi engga aku sebutin semua ya disini. Semua genre horor tersebut pasti dia sudah hafal. Hobinya sudah sangat akut, kalau dia dalam sehari engga nonton film horor, dia seperti kecanduan guys. Iya… dia pasti guling – guling di tanah, trus mencakar – cakar tanah, menggali tanah, habis itu boker di tanah, dan menimbun kembali bokernya dengan tanah *eh ini kucing apa manusia ya? hehehe*
Karena hobinya dengan yang berbau horor, makanya dia ingin sekali bisa melihat yang namanya HANTU, dia ingin sekali melihat langsung muka hantu. Asal tau aja ya guys, di Indonesia si Fauzi ini pernah datang ke seorang dukun ternama yaitu Eyang Subur. Dia minta penglihatan agar bisa melihat dunia lain, makanya dia terapi beberapa kali ke Eyang Subur. Tapi akhirnya terapinya gagal karena ditengah terapi Eyang subur terlibat konflik dengan Arya Wigundul, jadi si Eyang sibuk ngurusin masalahnya sendiri, jadinya si Fauzi diterlantarkan begitu saja.
Si Fauzi engga pantang menyerah guys, di Taipei pun dia mencoba mencari cara agar bisa melihat dunia lain. Dan akhirnya dia menemukan sebuah cara yang kemungkinan besar ampuh. Dia tahu cara ini dari beberapa teman taiwannya. Yah, mereka berkata kalau dia ingin melihat hantu dia harus makan – makanan yang disediakan untuk orang mati di 7 kuil dan dia harus pergi ke kuil tersebut pada waktu bulan purnama penuh. Kebetulan sekali di Taipei banyak sekali kuil – kuil dan dia merasa beruntung ada di sini. Tapi cara ini sangat mengandung resiko. Kata teman – temannya, kalau sudah mencoba cara ini dia tidak akan bisa kembali normal lagi, seumur hidupnya, dia akan bisa melihat hantu terus dan keselamatannya belum tentu terjamin. Berbeda dengan terapi di Eyang Subur. Sewaktu – waktu kalau dia tidak kuat, dia bisa menghilangkan penglihatannya terhadap makhluk halus.
Tapi sepertinya keputusan Fauzi ini sudah bulat, apapun yang terjadi dia sangat ingin melihat hantu – hantu itu, ditambah lagi dia juga capek dengan terapi – terapi karena butuh waktu yang sangat lama, belum lagi biayanya yang juga mahal. dan cara yang ini adalah sangat praktis dan mudah. Dia hanya perlu datang ke kuil pada saat bulan purnama, memakan sedikit makanan, dan hanya dilakukan 7 kali di kuil yang berbeda. Sangat mudah bukan?
Dia menceritakan keinginannya itu kepada Kiki dan Titin, kontan saja mereka berdua keberatan. “Jangan Zi, hidup cuma sekali, nikmati aja hidup yang sudah diberikan oleh Tuhan. Engga usah macem – macem.” Pinta si Titin sewaktu mereka tengah makan siang di Yang Ming Shan.
Si Fauzi tetap kekeh dengan keinginannya, meski gelap hujan badai guntur cetar membahana, dia tetap ingin melihat hantu!!!
Si kiki pun juga tidak bisa berbuat apa – apa, anak pendiam ini pasti kalah adu argumen dengan Fauzi yang sangat cerewet.
Bulan purnama ke – 1. Pukul 8.00 malam
Fauzi, Titin dan Kiki janjian untuk pergi ke salah satu kuil di Taipei sebut saja namanya Taipei zoo. Eh eh, tunggu bentar… Taipei zoo kok seperti nama kebun binatang ya?, ganti nama, sebut saja namanya Taipei 101…
Kenapa guys? masih salah ya?
Ya sudah, sebut saja namanya Sandao Temple.
Mereka ke Sandao temple bertiga dengan menaiki sepeda U-Bike berwarna kuning. Yang tidak tahu, U-bike itu sepeda berbentuk U berwarna kuning yang disewakan.
Nah, mereka bertiga menaiki U-Bike ke Sandao temple. Diperjalanan, roda sepeda Fauzi bocor. “Nah, salah satu pertanda buruk itu”, kata kiki.
Tapi Fauzi tetep kukuh dengan keinginannya. Karena sekali lagi, Taipei sangat keren, dia bisa menemukan sepeda U-bike lagi di MRT (Mass Rapid Transporation) terdekat.
Sampai akhirnya, sekitar pukul 10.00 malam, mereka sampai ke kuil Sandao itu.
Yah, sebagaimana kuil yang ada di Taipei, beberapa kuil memiliki keunikannya masing – masing.
Di dalam kuil sudah sepi orang, jadi Fauzi dengan leluasa mengambil makanan yang ada di dekat tempat persembahan. Fauzi mengambil apel yang ada diatas tumpukan buah – buahan lain yang di tengahnya ada dupa panjang. Dia dengan mudahnya mengantongi satu apel tersebut dan kemudian berjalan keluar. Si Kiki dan Titin yang menunggu diluar hanya bisa menggelengkan kepala mereka saja melihat kelauan si Fauzi.
“Krauk krauk”, Bunyi apel yang digigit Fauzi selama perjalanan. Dia menghabiskan apel itu selama menaiki sepedanya kembali ke mess (asrama).
Tidak ada sesuatu yang berbeda ketika dia telah selesai memakan apel itu, engga sesuatu banget lah pokoknya, tetep mainstream aja. Fauzi agak sedikit kecewa, dia mengharapkan sesuatu hal aneh akan terjadi, tapi ternyata, nihil guys.
Kiki dan Titin bersama-sama mengucap syukur….
Bulan purnama selanjutnya Fauzi pergi ke kuil berikutnya. Tapi Kiki dan Titin tidak ikut, mereka sudah capek dengan kelakuan Fauzi yang susah sekali diingatkan. Sampai akhirnya Fauzi berhasil memakan makanan di tujuh kuil.
Lalu apa yang selanjutnya terjadi saudara-saudara??
Apakah Fauzi akan menemukan cinta sejatinya?? *pertanyaan yg ini engga masuk deh kayaknya*
Apakah Fauzi bisa melihat hantu???
Berikut Berita selanjutnya. hehe
Fauzi ingin mencoba kemampuan barunya di salah satu kamar asrama kamar xxx (nama disamarkan aja biar aman). Sebenarnya kamar itu sudah diberitakan berhantu sejak lama karena gosipnya ada yang meninggal dikamar itu, dan sekarang tidak ada yg berani menempati kamar itu. Sebenarnya Fauzi sudah mencoba tidur di kamar itu sekali, sewaktu dia belum menjalani ritual keliling kuil, tapi tidak ada apa – apa.
Jadi sebenernya dia enggan untuk mencoba lagi, tapi ya sutrah lah. Karena sampai saat ini dia belum bisa melihat hantu.
Malam itu di kamar xxx dia mencoba menginap sendirian, tapi tak disangka dia ketemu Kiki di lift dan mengajaknya ikut menginap untuk membuktikan bahwa tidak ada apa – apa disitu. Dan akhirnya, Kiki pun setuju menemani Fauzi. Kamar xxx itu layaknya kamar biasanya, terdiri dari 2 ranjang bertingkat, jadi satu ranjang ada 2 kasur, atas dan bawah. Jadi kalau kita kebagian kasur yang atas, kita harus memanjat dulu tangga kayu. Ranjang itu terletak bersebelahan satu sama lain, artinya 1 ranjang di sisi kiri dan 1 ranjang di sisi kanan.
Yang bikin berbeda adalah kamar itu sangat kotor. Yah, asal tau aja kamar xxx itu sudah tidak ada penghuninya selama 2 tahun.
Dum…
Dum…
Dum…
Dum…
Suara keras itu membangunkan Fauzi dari tidurnya dan anehnya lagi terjadi sesuatu di tubuh Fauzi. Iya guys leher Fauzi kesakitan. Dia merasa sangat haus, tenggorokannya kering, dia seperti memakan sesuatu yang sangat pahit yang belum pernah dia makan sebelumnya. Ditambah lagi, lehernya sangat sakit, dia merasa ada sesuatu yang mencekik lehernya, sakit sekali.
Dia membuka mata, dan suara dum dum itu hilang…
Dia mencoba membangunkan Kiki yang tidur di ranjang sebelah, tapi kiki sepertinya sangat pulas tertidur dengan sedikit mendengkur.
Tiba – tiba Fauzi turun dari tempat tidurnya, mencari asal suara itu. Dia mendekatkan kepalanya ke lantai untuk mengetahui apakah suara itu dari lantai bawah.
Dan…
Dum…. suara itu ada lagi, dan Fauzi pun tahu apa penyebabnya.
Sewaktu dia mendekatkan kepalanya ke lantai dan wajahnya menghadap ke ranjang Kiki, tiba – tiba ada orang terjatuh dari atas kasur itu, dengan kepala mencapai lantai dahulu.
Kejadian itu terjadi tidak hanya sekali, tapi berulang -ulang.
Kepala anak itu pecah dan berlumuran darah….
“Kiki… Tolong….” Fauzi menjerit membangunkan Kiki, tapi suara Fauzi tidak bisa keluar, dan rasa sakit itu masih ada di tenggorokan dan juga lehernya. Terpaksa Dia membangunkan Kiki dengan menggoyangkan tubuhnya.
“fāshēng shénme shì?”Jawab kiki dengan bahasa mandarin yang artinya ada apa?
Fauzi kaget, dia tahu kiki tidak bisa bahasa mandarin sama sekali.
“Eh Ki, kenapa ngomong mandarin?” tanya Fauzi dengan bahasa Indonesia
“wǒ bù zhīdào nǐ shuō shénme (Aku engga tahu kamu ngomong apa??? tiba – tiba kiki menyeringai lebar…
Sedetik kemudian, kepalanya putus dan jatuh ke lantai. Tapi dia masih bisa menyeringai dan kemudian Fauzi sadar, itu bukan Kiki, tapi wajah anak yang jatuh dari kasur tadi…
Fauzi menjerit…
Tapi suaranya tetap tidak bisa keluar, dia berlari mendekati pintu.
Pintu itu tidak bisa dibuka….
Kepala itu menggelinding ke arah Fauzi.
Fauzi yang pasrah karena tidak bisa membuka pintunya kemudian menutup mata.
Dia sekuat mungkin menenangkan pikirinnya…
“Aku yang menginginkan semua ini terjadi, aku ingin melihat semua ini” Batin Fauzi
“Sekarang aku sudah bisa melihatnya, aku harus kuat”
Aku harus berani, mereka lebih rendah derajatnya dari manusia…. Jadi apa yang aku takutkan?
Aku masih punya Tuhan”. Lanjut batinnya…
Dia membuka mata selebar lebarnya…
Tidak disangka, wajah hantu itu malah berada sangat dekat dengan wajah Fauzi, hanya berupa kepala yang melayang dengan wajah yang penuh darah dan menyeringai ke arah Fauzi…
Fauzi tersentak kaget bukan main…
Dia membuka pintu itu sekuat tenaga dan akhirnya pintu itu terbuka…
Dia berlari menggedor pintu kamar sebelahnya, tapi tidak ada yang bangun…
Dia berlari menuju lift…
Sewaktu lift membuka, dia mengurungkan niatnya masuk lift, karena dia merasa akan ada kejadian aneh di lift itu….
Tapi tiba – tiba ada yang mendorongnya masuk lift itu, dan pintu lift menutup dengan sendirinya…
Fauzi terjatuh di lift, dia melihat disekelilingnya ada asap dan bau gosong, seperti bau daging bakar.
Leher Fauzi masih sakit,
Tiba – tiba dia melihat banyak orang – orang dengan kulit terbakar di sampingnya….
Dia berteriak…
Tapi suaranya tetap tidak bisa keluar…
Dia memencet tombol lift sambil memejamkan matanya…
Tubuhnya sangat kepanasan, dia seperti terbakar di lift itu…
Akhirnya dia bisa keluar lift…
Dia lari ke luar asramanya… Anehnya dia tidak menemukan ada seorangpun disana…. Sepi… Senyap…
Dia berteriak – teriak bak orang kesurupan, tapi dengan leher yang masih sakit dan tetap tidak bisa mengeluarkan suaranya….
Tiba – tiba banyak orang yang mengelilingi Fauzi…
Lebih tepatnya itu semua hantu dengan muka rata….
Semuanya menghadap ke Fauzi….
Fauzi lari mencari batu untuk memukul besi didekatnya agar orang – orang mendengar…
Dong…. Dong….
Dia memukul mukulnya puluhan kali…
Akhirnya dua orang satpam asrama menghampirinya.
“Ada apa?” tanya salah satu satpam dengan tatapan aneh dengan bahasa mandarin.
satu satpam lain memegang bahu Fauzi yang lemas.
“Saya melihat banyak hantu pak?” Jawab Fauzi.
“Kamu ini aneh, engga ada apa apa kok?” sahut satpam yang memegang Fauzi.
“Ayo ke kamarmu sekarang, kamu harus tidur lagi, jangan buat keributan di tengah malam buta” Lanjut satpamnya.
Fauzi menjelaskan mati – matian peristiwa yang baru dia alami, dia juga menjelaskan tidak mau kembali ke kamar hantu itu dan lehernya masih sakit sampai saat ini…
Akhirnya kedua satpam tersebut membawa Fauzi ke lounge asrama (tempat berkumpulnya penghuni asrama untuk duduk, mengobrol, dsb). Lounge itu sangat sepi, padahal biasanya ramai meskipun tengah malam….
Sampai disitu Fauzi masih ngerasa ketakutan, dia masih meminta ditemani satpam tersebut…
“Makanya engga usah aneh – aneh ingin ngelihat hantu, ketakutan juga sekarang kan?” kata Satpam…
“Bagaimana Bapak bisa tahu? Aku belum cerita tentang hal itu?” tanya Fauzi ketakutan
“Menurutmu, Kami ini siapa?” Tanya kedua satpam itu yang ternyata sudah berubah menjadi sangat menakutkan…
Wajahnya penuh luka sabetan benda tajam. Yang satunya, wajahnya penuh tembakan peluru,
darah berceceran kemana – mana…
Dia sudah lemas sekali guys….
Dia mencoba melafalkan ayat alquran yang biasanya dia baca waktu sholat… Sia – sia…
Dia tidak bisa mengingat ayat – ayat itu….
Dia hanya mendekap dipojokan ruangan lounge.
dengan tubuh yang sangat lemas, tapi anehnya dia masih bisa terjaga, dia tidak pingsan.
Bahkan dia ingin secepat mungkin tidak sadarkan diri, tapi dia tidak bisa…
Selama beberapa jam dia di situ dengan dikelilingi suara – suara aneh.
Dia tetap memejamkan matanya…
Sampai akhirnya dia berpikir jernih, dia tahu seseorang yang bisa menyelamatkannya.
Orang itu dikenal sangat alim… Namanya Pak Sigit.
Dia tinggal di rumah kontrakan yang tidak jauh dari asrama.
Dengan tetap memejamkan mata dia berjalan…
Dia menabrak sesuatu….
Dia tidak bisa berpikir jernih waktu itu, entah yang ditabrak hantu, atau mungkin kursi…. Dia tetap berjalan…
Sampai akhirnya, dengan mengintip sedikit demi sedikit melalui celah tangannya, dia tiba didepan pintu kontrakan rumah Pak Sigit. Kebetulan Pak sigit ini tinggal di lantai 1.
Karena sadar dia tidak bisa memasuki rumah dari depan, Fauzi tidak putus asa mengelilingi rumah untuk mencari kamar Pak Sigit sambil berteriak.
Dia tetap berjalan dengan menutup matanya…
Suara – suara aneh tetap bisa didengarnya….
Dia memperkirakan berapa jendela kamar yang dia lewati.
Sekarang dia yakin, kamar didepannya adalah milik Pak Sigit.
Dia menggedor gedornya dengan keras….
Dan Pak Sigit membuka jendelanya….
Dia kaget melihat Fauzi yang sangat engga karuan,
Fauzi membuka matanya. Dia lega melihat Pak Sigit.
Dan akhirnya Fauzi pingsan…
Jam 8.00 Pagi…
Fauzi terbangun di kamar Pak Sigit, banyak orang yang mengelilingya membacakan doa, termasuk Kiki….
Di saat itu, Fauzi merasa aman. Tenggorokannya juga tidak sakit lagi…
Dia menceritakan semua yang terjadi pada dirinya pada orang – orang yang berada di sekelilingnya…
Fauzi menangis menyesali perbuatannya….
“Makanya engga usah main – main yang aneh, kena akibatnya kan kamu” kata orang yang ada dipojokan kamar…
Orang itu tinggi besar, dengan jenggot menjulai kebawah….
Dia melotot ke arah Fauzi dan tiba – tiba tenggorokan Fauzi sakit lagi.
Fauzi teriak sekencang kencangnya…. Pak Sigit tahu apa yang terjadi, dia mengambil kain hitam penutup mata dan menutup mata Fauzi…
“Pak, apakah saya bisa sembuh?” tanya Fauzi ke Pak Sigit.
“Saya tahu apa yang terjadi sama kamu. Apabila tenggorokanmu terasa sakit, artinya kamu akan melihat hal hal yang tidak seharusnya kamu lihat”‘ jawab Pak Sigit
“Jadi untuk sekarang ini lebih baik mata kamu ditutup dulu. Kamu harus rajin berdoa meminta petunjuk” lanjut Pak Sigit.
Hari -hari selanjutnya Fauzi tetap menggunakan penutup matanya tersebut sampai dia merasa kuat dan sanggup untuk melihat hal – hal gaib di luar nalarnya.
Sering sekali tenggorokannya sakit, yang artinya pasti ada sesuatu di dekatnya.
Dan karena itu juga, dia semakin rajin berdoa…
-Pesan Moral-
Syukurilah apa yang kita punya sekarang. Makhluk gaib itu ada dan punya dunia sendiri – sendiri. Kita cukup meyakininya tanpa harus bisa melihatnya.
Nb: Cerita ini hanya fiktif dan hasil dari imaginasi saja…
kejadian, nama tokoh, waktu dan tempat, tidak ada kaitannya dengan apapun, siapapun, dan dimanapun.
Ninik Nuryati / Pelangi Di Langit Formosa / Tidak ada / tenaga kerja asing Namaku Layla,tetapi majikanku biasa memanggilku Lala.Aku tidak tahu apa penyebabnya,mungkin saja nama Lala lebih terdengar indah daripada Layla,atau nama Lala lebih mudah disebut.Apapun penyebabnya itu tidak menjadi masalah bagiku.Yang terpenting adalah Ama(sebutan untuk nenek)dan anak-anaknya baik terhadapku.Mereka benar-benar memperlakukanku dengan baik,mereka menganggapku seperti keluarga … Continue reading “Pelangi Di Langit Formosa”
Ninik Nuryati / Pelangi Di Langit Formosa / Tidak ada / tenaga kerja asing
Namaku Layla,tetapi majikanku biasa memanggilku Lala.Aku tidak tahu apa penyebabnya,mungkin saja nama Lala lebih terdengar indah daripada Layla,atau nama Lala lebih mudah disebut.Apapun penyebabnya itu tidak menjadi masalah bagiku.Yang terpenting adalah Ama(sebutan untuk nenek)dan anak-anaknya baik terhadapku.Mereka benar-benar memperlakukanku dengan baik,mereka menganggapku seperti keluarga sendiri.Anak-anak perempuan Ama melarangku memanggil dengan sebutan Thai-thai ataupun Siaoce ,mereka menyuruhku memanggil dengan sebutan Jie-Jie,biar lebih akrab.Bagiku dan tentunya bagi para BMI lainnya saat awal mulai kerja di Taiwan adalah masa yang sulit bagi kami.Kami harus belajar menyesuaikan diri dengan kehidupan baru.Tentang makanan yang mungkin pada awalnya terasa aneh (hambar)di lidah kami, yang sudah terbiasa dengan pedasnya sambal.Bekunya musim dingin yang belum pernah kami rasakan sebelumnya di Indonesia.Dinginnya sampai merasuk ke tulang,sudah pakai rompi jaket tetap saja dingin.Kalau mau jujur terkadang rasanya malas untuk keluar dari hangatnya selimut tebal,tapi bagaimanapun aku berusaha melakukan tugas-tugasku sebaik mungkin.Sikap kekeluargaan dari majikan seperti mesin penghangat yang memompa semangatku.Semuanya berjalan dengan baik,apa yang disukai dan yang tidak disukai Ama sekeluarga aku sudah hafal di keluar kepala.
Hingga pada suatu hari Ama yang telah divonis dokter menderita kanker sejak setahun lalu,kondisinya semakin memburuk.Dia tidak mau makan dan minum.Tubuh rentanya semakin mengurus.Benjolan tumor ganas di leher Ama membuat dia kesulitan untuk menelan makanan,bahkan untuk minum susu pun dia meringis kesakitan.
“Lala, besuk kita harus membawa Ama ke rumah sakit.Tolong siapkan semua keperluan Ama selama di rumah sakit” kata Jie jie kepadaku.
“Hao” jawabku,kemudian bergegas menyiapkan segala keperluan Ama.
“Jangan lupa membawa keperluan kamu sendiri” terdengar suara Jiejie yang lembut,mengingatkanku.
Pagi-pagi sekali kami berangkat dari rumah,mengendarai mobil menuju sebuah rumah sakit besar di Taipei.Jalanan kota Miaoli yang kami lewati masih lengang.Baru satu dua kendaraan terlihat berpapasan dengan kami.Ama terkulai lemah di pangkuanku.Iba sekali melihatnya.Meskipun baru 2 bulan merawatnya tapi aku sudah menganggap seperti nenekku sendiri.
Serangkaian pemeriksaan dilakukan oleh para petugas medis,setibanya di rumah sakit.
“Setelah melalui berbagai pemeriksaan,kami menemukan penyakit kanker di tubuh Ama sudah mencapai stadium 4” , ucap seorang lelaki berbaju putih yang kupastikan dia adalah dokter yang menangani Ama.Dia memberikan penjelasan panjang lebar yang tentunya aku tidak paham.Aku hanya diam melongo.
Hari – hari berikutnya kulalui di rumah sakit.Setiap hari secara bergiliran anak-anak Ama datang menemani.Siang hari mereka menyuruhku tidur,karena mereka tahu malam hari aku jarang tidur.Malam hari Ama susah tidur,dan aku dengan setia menemani di sampingnya,membelai tangannya.Aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengurangi sakit Ama ,setidaknya genggaman tanganku bisa menenangkan hatinya.Dokter mengatakan kemungkinan Ama untuk sembuh sangat kecil.Perlu dilakukan serangkaian pengobatan kemoterapi dan juga operasi pengangkatan tumor.Tapi,mengingat usia Ama yang sudah 90 tahun operasi tidak bisa dilakukan.Menitik air mata ini mendengarnya.Apa mau dikata hidup mati setiap manusia sudah diatur.
Hingga sampai saatnya malam itu semua anak-anak Ama sudah berkumpul,Ama menghembuskan nafasnya yang terakhir.Tangannya masih dalam genggamanku,mata yang hanya berkaca-kaca telah tumpah mengeluarkan airmata.
Selamat jalan Ama,semoga engkau tenang di sana.
Dengan kepergian Ama berarti finish sudah kontrak kerjaku dengan keluarga bermarga Xi itu.Aku tidak pernah membayangkan Ama akan pergi secepat itu,belum genap 4 bulan aku harus mencari majikan baru,
“Lala, kalau kamu mau ikutlah kami ke Taipei,merawat ibu mertua ku.” suara Tuan Xi menghapuskan kegelisahan ku,keresahan ku tentang masa depan ku di negeri Formosa ini.
Sama seperti sebelumnya keluarga mertua Tuan Xi juga memperlakukan ku dengan baik.Ibu mertua Tuan Xi(untuk memudahkan disini aku menyebutnya Ama juga)menderita kanker hati.Oh Tuhan,kanker hati yang dideritanya sudah menginjak stadium 4 juga.Semalaman Ama tidak tidur,akupun bergadang setiap malam.Aku merawatnya dengan ikhlas,sejak awal aku selalu menanamkan di hatiku bahwa tidak ada yang sia-sia.Selalu ada indah di balik kesusahan,ada hikmah di setiap musibah.Dengan begitu setiap pekerjaan apapun akan terasa lebih ringan.Aku selalu berharap adanya sebuah mukjizat,berharap Ama bisa membaik.Ternyata takdir berkata lain,aku kembali harus membiasakan diri dengan aroma obat-obatan yang menyengat.Kondisi Ama yang memburuk membuat kami harus membawanya ke rumah sakit..
Kejadian yang sama terulang lagi.Persis seperti dua bulan yang lalu,Ama menghembuskan nafasnya yang terakhir,sembari masih menggenggam tangan ku erat.Airmata menitik melepas kepergiannya.Selamat jalan semoga engkau tenang di alam sana.Setiap yang bernyawa pasti akan pergi,ini adalah hukum alam yang tidak bisa dipungkiri.
“Hhuhhhh” ku hela nafas panjang .Setelah usai upacara penghormatan Ama yang terakhir saatnya aku memikirkan masa depan ku di negeri ini.Ya…harus mencari majikan yang baru.Sebagai manusia biasa ,aku juga tak luput dari rasa was was ,memikirkan tentang majikan selanjutnya.
“Lala,aku punya teman ,dia mempunyai ayah yang perlu dijaga, kamu mau gak kerja di sana ” Ucap majikan ku di suatu sore.Sebelum aku menjawab di melanjutkan perkataannya ” Sekarang ini ada seseorang yang menjaga dia,juga orang Indonesia tetapi mereka kurang begitu suka.Kalau kamu mau kerja di sana Ati (nama BMI yang ada disana)akan di kembalikan ketempat agency”.
Aku terdiam sebentar…”Bagaimana?” majikan ku bertanya ulang sambil memandangku.
“Maaf Tuan,agency sudah menelepon saya pagi tadi ,saya sudah mendapat majikan baru.”Jawab ku berbohong.Jawaban yang sebenarnya adalah aku tidak mau merampas pekerjaan mbak Ati.Meskipun aku belum pernah bertemu dia,tetapi bagiku sesama BMI adalah semuanya teman,saudara harus saling menolong.
Kaki ku selanjutnya menapak di Daan Distrik,sebuah tempat yang strategis dekat Taman Daan.Sayangnya meskipun rumah majikan ku dekat dengan Taman Daan ,sekalipun aku belum pernah ke sana karena Ama yang ku jaga tidak mau keluar.Seperti roda sepeda yang selalu berputar ,dua majikan ku dulu sangat baik terhadap ku ,tapi yang ini “agak”kurang bersahabat.Kesan keramahan yang kulihat pertama kali saat masuk ke rumah ini,sekejap langsung menghilang bersamaan dengan deru mobil agency yang menjauh meninggalkan ku sendiri di rumah majikan baru ku.Bukan ,bukan sendiri karena di situ ada mbak Ani,perempuan asal Jawa Timur yang usianya beberapa tahun di atas ku.Perasaan ku dag dig dug juga,mengingat obrolan teman-teman di fb kalau satu rumah dua orang BMI pasti tidak enak,saling iri,saling menjatuhkan dan sederet kata lainnya yang berkesan negatif.
“Lalaaaaa,”suara serak Ama mengagetkan ku.
“Kamu kerja di sini harus mengikuti jadwal .Harus mengerjakan sesuai dengan waktunya,menyapu,mengepel,masak,dan menjaga ku,karena Ani bertugas merawat Akong.”ucap Ama panjang lebar.
Seperti anak sekolah sedang mendengarkan penjelasan ibu guru ,kepala ku manggut-manggut mendengarkan mbak Ani menjelaskan tentang jadwal kerjaku.Benar -benar seperti anak sekolah.Semua harus dikerjakan tepat waktu ,kalau terlambat 5 menit saja aku harus siap-siap mendengarkan ceramah Amaku yang dulu juga berprofesi sebagai guru.He…he….
Kami ,aku dan mbak Ani lumayan cocok ,kami bekerjasama menyelesaikan pekerjaan rumah .Ketakutan ku tentang permasalahan yang selalu ada bila 2 BMI bekerja di satu tempat tidak terbukti,nyatanya kami akur-akur saja.Saling membantu,pekerjaan mana yang belum selesai dikerjakan bersama-sama.Seringkali kami mendapat ceramah dari Ama,kami diam mendengarkan,tapi setelah itu kami lari ke dapur,saling pandang dan akhirnya tertawa bersama-sama.Yah,itulah cara kami menghilangkan rasa stress karena setiap hari harus menghadapi Ama yang super dan pekerjaan yang seperti tak ada habisnya.Kami bekerjasama menjaga Ama dan Akong yang sama-sama sudah lanjut usia.Apalagi Akong,kata mbak Ani sudah dua tahun ini Akong hidupnya bergantung pada tabung oksigen.Keluar masuk rumah sakit sudah menjadi kegiatan rutin.Sementara satu satunya anak Ama tinggal di Amerika.Jadi segala sesuatu kami yang mengurus.Hari -hari terasa begitu melelahkan ,apalagi saat Akong masuk rumah sakit.Karena mbak Ani menjaga Akong di rumah sakit,itu berarti aku harus menyiapkan telingaku untuk mendengarkan ceramah Ama yang tak ada habisnya,sepanjang hari.Belum lagi masalah belanja,kami harus laporan satu-satu sehabis belanja.Satu sen pun tidak boleh salah menghitung.Rumus matematika pun berlaku untuk menghitung berapa harga sebuah pampers. Huhhhh,jengkel banget rasanya.Tapi apa boleh buat ,ini adalah pekerjaanku,tanggung-jawabku.Meski letih aku harus berjalan sampai tujuan terakhir.
Waktu berjalan seiring bergantinya musim,dari musim panas ,ke musim gugur ,melewati musim dingin dan kembali ke musim semi.Musim semi tahun ini genap setahun aku bekerja di keluarga bermarga Zhao ini.Lelah rasanya,capek tenaga dan pikiran.Dan ternyata Akong juga lelah mondar mandir ke rumah sakit.Dia menghembuskan nafasnya yang terakhir di rumah di hadapan kami,aku dan mbak Ani.Ama sudah tertidur,saat itu.Aku bergegas membangunkan Ama,mbak Ani menelepon keponakan Ama,sekejap beberapa orang berdatangan ,juga dua orang polisi untuk memastikan bahwa kematian Akong adalah wajar bukan karena tindak kriminal.Belakangan baru ku tahu bahwa setiap kematian di rumah maka pihak berwajib akan datang untuk melakukan pemeriksaan.
Selamat jalan Akong……sekarang kamu sudah tidak merasakan sakit lagi.Selama setahun lebih aku sudah menyaksikan 3 orang menghembuskan nafasnya di depan mataku.Setiap yang bernyawa pasti akan mati.Selagi ada kesempatan marilah kita berbuat yang terbaik.
Suara deringan telpon mengejutkan lamunanku,
“Wei,maaf ini siapa?”tanyaku dengan bahasa Mandarin.
“Layla” suara yang sangat ku hafal,satu satunya orangTaiwan yang bisa mengeja namaku dengan benar ,Mr.Wu ,agency ku yang sekaligus juga agency mb Ani.
Mr.Wu memberikan penjelasan panjang lebar yang intinya bahwa karena Akong meninggal semestinya mbak Ani harus berpindah majikan tetapi Ama memutuskan agar mbak Ani tetap tinggal disitu karena mbak Ani lebih lama disitu jadi paham semuanya dibanding aku yang belum genap setahun di situ.Separoh rasa lega dan was-was.Lega karena selanjutnya tidak harus mendengarkan kuliah gratis dari Ama dan was-was memikirkan majikan baru.
Sudahlah,semuanya akan baik-baik saja bisikku dalam hati menyemangati diriku sendiri.Meskipun Ama orang nya rewel tapi dia tetap berbaik hati,selama menunggu majikan baru aku tetap boleh tinggal di situ ,bekerja di situ sampai mendapat majikan baru.Bayangan tidak menyenangkan tentang bagaimana rasanya harus menunggu majikan di tempat agency hilang sudah.
Selama ini sering terdengar cerita sedikit miring bahwa kita diwajibkan membayar sekian ratus nt perhari sebelum mendapat majikan baru.Entahlah mungkin setiap agency punya aturan sendiri-sendiri.
Waktu mengalir,sudah lebih dari sebulan aku menanti kabar dari agency.Tetapi mereka belum memberi kabar pasti.Yah,mungkin saja dengan sisa kontrak kerja ku yang tinggal 1,5 tahun ini agak sulit untuk mendapatkan majikan.Akupun tak tinggal diam ,bertanya kesana kemari siapa tahu ada teman yang punya informasi,tak lupa update status di fb ,siapa tahu nasib baik,he….he…
Banyak teman-teman BMI yang memberi respon,menunjukkan solidaritas yang tinggi di antara teman seperjuangan.Pesan memenuhi inboxku,aku saring satu persatu.Tapi sayangnya dari sekian info yang diberikan teman-teman BMI semuanya adalah job dari agency yang berbeda.Jadi aku harus berganti agency.Sudah bukan rahasia lagi ganti agency tidak semudah naik MRT,dalam hitungan menit sudah mencapai tempat tujuan.Dan benar saja Mr.Wu tidak mau melepaskanku.Gagal dech…
Hingga suatu hari seseorang menyapa ku saat aku mengantar Ama ke rumah sakit .
“Ni she Inni ma?” tanyanya sopan.
“She te.”
Lelaki berusia sekitar 40an itu bermarga Wang,dia mengantar ibunya untuk periksa dokter.Dia membutuhkan seorang caretaker untuk merawat ibunya.Karena setiap hari dia bekerja,tidak ada yang menemani ibunya di rumah.Pucuk dicinta ulam pun tiba,kata peribahasa.Aku menyapa ibu Tuan Wang dengan anggukan kepala .Perempuan itu tersenyum kecil.Hemmmm,kelihatannya orangnya baik dan ramah.
Aku memberikan nomor telepon agency dan juga nomor telepon ku agar mudah untuk urusan selanjutnya.Secercah sinar menerangi hatiku yang dipenuhi kegelesihan.Kegelisahan karena takut dipulangkan Indonesia jika dalam 2 bulan aku tidak juga mendapatkan majikan baru.Dari agency aku mendapat kabar kalau Mr.Wang menghubungi dia dan meminta aku bekerja di sana,aku senang sekali.Tapi,,masih ada tapinya
“Layla kamu harus bersabar lagi menunggu karena Mr.Wang belum mengurus surat -surat yang diperlukan untuk mengambil seorang caretaker.Dan aku kurang begitu yakin,karena kelihatannya ibu Mr.Wang masih sehat.” kata-kata Mr.Wu membuat ku tertunduk lesu. “Berdoa saja.”
Ya.Betul sekali ,berdoa ,aku yakin Tuhan akan mendengarkan doa-doaku.Selama menunggu mengurus surat-surat yang di perlukan Mr.Wang sering menelponku,memberitahukan kalau dia masih mengurus surat dokter ,ini,itu dan lain sebagainya.Kadang juga cuma bertanya kabar.Dan untuk menghormati karena dia adalah”calon majikan baru” aku pun selalu mengangkat teleponnya.Tak jarang dia mengirim sms dengan huruf pagar yang sebagian besar aku tak tahu artinya,karena memang di Indonesia kami tidak diajari menulis mandarin.Ditambah lagi aku malas belajar,ha….ha…melihat hurufnya yang bertumpuk melingkar-lingkar sudah membuat pusing.Jalan termudah biasanya aku hanya membalasnya dengan sticker.Obrolan di telepon mengalir begitu saja,dia sering mentertawakan bahasa mandarinku yang berlepotan,yang nadanya ngalor ngidul.Dia selalu menyemangati ku untuk terus belajar mandarin ,siapa tahu nanti berguna setelah pulang ke Indonesia.Benar juga toh tak ada salahnya menguasai bahasa lain selain bahasa nasional.Aku optimis jika nanti aku bekerja di rumah Tuan Wang pasti menyenangkan sekali,orangnya baik,siapa tahu mau mengajariku juga .
Jalan tak selamanya mulus,harapan tak selalu sesuai dengan kenyataan.
“Lala,duepuchi rumah sakit tidak meloloskan permohonan surat untuk ibu,karena beliau masih tampak sehat,jadi aku tidak bisa mengambil kamu bekerja di rumahku.Sebenarnya kami sangat membutuhkan seorang caretaker.” suara Wr,Wang lirih diseberang.Aku tidak begitu jelas apa yang dikatakan selanjutnya karena aku sibuk menenangkan diriku.Salah siapa aku terlalu optimis kalau aku bisa bekerja di rumah Mr.Wang.Menangis lagi,air mata adalah senjata ampuh untuk menumpahkan segala beban.
“Sabarlah ,aku akan mencobanya lagi.” kata Mr.Wang di ujung pembicaraan kami.
Aku mungkin bisa bersabar tapi 2 bulan masa tenggang ku untuk mencari majikan baru apakah juga bisa bersabar?,,,tentu saja tidak,aturan tetap aturan.Aku tidak boleh pulang ke Indonesia ,bisikku dalam hati.Terbayang jelas kedua orang tuaku bermandikan cucuran keringat,tidak peduli panas hujan selalu giat bekerja di sawah.Senyum mereka saat mereka melepasku terlintas kembali.Ya,aku tidak boleh pulang,aku harus menyelasaikan 3 tahun ku di sini.Aku ingin membawakan keberhasilan untuk mereka.
Akhirnya aku menerima tawaran agency untuk bekerja di Xindian.Aku mengiyakan tanpa berpikir panjang ,yang penting adalah aku segera mendapat majikan baru.
“Pekerjaan mu adalah menjaga Akong di rumah Chou Siaoce.Tapi karena dia belum begitu membutuhkan kamu untuk sementara dipinjamkan ke temannya dulu menjaga Ama juga di Xindian.”
Aku diam saja,”dipinjamkan” sebenarnya aku ingin protes,kenapa harus dipinjamkan.Tapi ku urungkan niatku.Di pinjamkan berarti hanya sementara,biarlah kuterima saja yang penting lancar.
Ama berusia 75 tahun itu sekarang menjadi majikan ku.Dia tinggal bersama cucunya yang masih sekolah.Pekerjaan ku adalah merawat Ama dan antar jemput anak itu.Sifatku yang tidak begitu menuntut membuat aku menerima pekerjaan yang kurasa lebih berat dari pekerjaan pekerjaan sebelumnya.Betapa tidak ,setiap hari aku harus mendorong kursi roda berjalan hampir satu jam lebih,mengajak Ama jalan-jalan.Dia memang sangat senang jalan-jalan,tapi kondisinya yang habis operasi tidak memungkinkan dia untuk berjalan sendiri.Tak peduli panas terik kalau dia mau jalan jalan aku juga harus patuh.Bahkan gerimis tetap juga jalan.Tubuhnya yang tinggi besar,hampir 90 kg membuat ku kewalahan.Ditambah lagi harus mengurus cucunya yang maaf agak lemah mentalnya.Lelah.
Tapi aku selalu menyemangati diri ku sendiri.Harus kuat,ikhlas agar terasa lebih ringan.Jia you ,jia you.
Semua akan lewat dan indah pada saatnya.Lama-lama aku menjadi terbiasa,meskipun tiap hari harus berjalan jauh aku anggap saja olahraga.Jalan kaki baik untuk kesehatan.Ha,,ha…meski tiap malam harus merendam kaki dengan air hangat agar tak terasa pegal.Berat badanku pun turun 2 kg,anggap saja diet gratis.
Sikap Ama kurang bersahabat meskipun aku sudah bekerja dengan baik.
“Itu memang sifat Ama jangan di masukkan hati.” hibur anak-anak Ama.Bagiku itu bukan masalah besar.Aku sudah mengalami hal yang sama dimajikan ku sebelumnya.Sudah terbiasa mendengar kata-kata yang tidak enak.Benar dianggap salah,salah harus siap-siap mendengarkan uraian panjang lebat.Sudah biasa,semua pasti berlalu. Pengalaman di waktu lalu telah membuat ku lebih kebal.
Empat bulan berlalu,agency menelpon aku harus segera berkemas dia akan mengantar ku ke rumah Chou Siaoce,karena besuk caretaker Ama yang sebenarnya akan datang dari Indonesia.Alhamdulillah,lepas sudah semuanya,semoga keluarga Chou Siaoce lebih baik,bisikku dalam hati.Meskipun senang lepas dari tugas-tugas rutin selama ini tapi iba juga melihat Ama berkaca-kaca melepas kepergianku.Yah,setiap orang selalu mempunyai sisi baik dan buruk.Semoga mbak yang merawat Ama bisa kerasan dan bisa beradaptasi dengan sikap Ama yang sedikit keras.
Ini kelima kalinya aku harus menenteng lagi koper kesayangan ku.Pindah rumah,pindah majikan.Perasaan ku biasa-biasa saja,tidak seperti dahulu waktu pindah ke majikan baru.Mungkin karena sudah terbiasa,bergonta ganti majikan,menghadapi pekerjaan yang berbeda,perlakuan yang berbeda pula membuat ku menjadi lebih siap menghadapi pekerjaan baru ini.Kalau tidak baik pasti kurang baik atau mungkin rewel,cerewet,apapun aku pernah mengalami.
Pintu terbuka,seraut wajah cantik keluar dengan senyum ramahnya,itulah Chou Siaoce.Seorang Akong duduk di sofa ruang tamu,tersenyum.Yah,dialah Akong yang akan ku rawat mulai hari ini dan seterusnya….
Terima kasih Tuhan,doa doa ku terjawab.Chou Siaoce sekeluarga memperlakukan ku dengan baik.Aku juga bebas masak apa saja kesukaan ku,masakan Indonesia .Tak jarang Jie jie(Chou Siaoce)menyukai masakan Indonesia yang ku masak,karena ternyata dia juga menyukai masakan pedas.Akong,bukan kesulitan bagiku untuk merawat dia.Meskipun agak ribet bagiku tidak masalah yang penting mereka baik terhadap aku.Mempercayai aku.Jie jie juga membebaskan aku untuk beribadah ,dan melakukan apa saja yang penting pekerjaan ku beres.Meskipun jarang libur tapi aku bisa mengajak Akong jalan -jalan keluar.Satu hal yang tidak pernah kubayangkan.Aku menganggap ini adalah jawaban Allah atas doa-doaku.Setelah melewati berbagai kesulitan setelah rintik hujan muncullah pelangi ,pelangi di langit hidupku.Hampir tak ada masalah ,aku kerasan sekali.Jie jie menyukai cara kerjaku.Orangtua ku juga senang mendengarnya.Bahkan Jiejie bilang kalau aku mau setelah selesai kontrakku yang kurang beberapa bulan ini aku bisa balik bekerja di sini.Dia akan membantuku dengan proses Direct Hiring.Dengan begitu gajiku utuh tidak terpotong sana sini.Aku bersyukur sekali mendapat majikan seperti dia.Akhinya di akhir kontrakku aku menemukan majikan yang baik.Kalau tidak ada halangan aku pasti balik ke sini lagi,karena aku punya cita-cita membuatkan rumah untuk kedua orang tua ku.
“妳好嗎?我想妳” .
Sebuah pesan masuk di Line ku.Pesan dari Tuan Wang.Hampir saja aku melupakan orang itu.Ternyata dia masih mengingatku.Komunikasi terjalin kembali,saling bertanya kabar,sedang melakukan apa seperti seorang sahabat.Oh ya,aku sedikit-sedikit mulai belajar mengetik huruf mandarin.Tuan Wang selalu meledekku karena aku tak paham pesan pesan singkat yang dikirim dengan huruf pagar itu.Tapi itu memacu semangatku untuk belajar.Di sela-sela kesibukan bekerja aku mulai belajar mengenali huruf-huruf rumit itu.Di waktu luang aku sering browsing internet dan memanfaatkan fb untuk belajar dan bertukar pengalaman dengan teman lain.Tidak banyak yang aku bisa tapi setidaknya aku bisa membalas pesan-pesan Tuan Wang dengan huruf Mandarin.Hubungan semakin akrab,hingga di suatu sore kami bertemu,aku minta ijin Jie jie keluar sebentar.Aku ingin memberitahu dia bahwa 3 tahun kontrak kerjaku akan berakhir.Yah 4 bulan lagi aku akan pulang ke Indonesia.Tak di sangka dia menyatakan bahwa dia menyukai ku.Ingin hidup bersamaku.Aku anggap itu hanya gurauan ,aku tak begitu menanggapi.Dia menjelaskan semuanya panjang lebar.Dia sudah menyampaikan maksud hatinya kepada ibunya ,beliau sudah menyetujuinya.
Aku tidak bisa menjawabnya,aku jga tidak tahu bagaimana perasaan ku terhadapnya.Jujur aku menyukainya tapi aku tidak yakin aku bisa hidup bersamanya.Banyak hal yang perlu di pertimbangkan.Ini bukan hanya antara aku dan dia,tapi menyangkut orang tua ku juga.Hahhhh….menghela nafas panjang menjadi satu cara untuk melepaskan beban di hati.Tuan Wang semakin baik kepada ku.Dia membelikan oleh-oleh untuk kedua orang tua ku.Aku menolaknya tapi dia memaksanya.Akhirnya kuterima.Aku tidak tahu bagaimana memberi jawaban padanya.
Sampai detik ini,saat aku duduk di pesawat Eva Airlines aku belum bisa memberikan jawaban kepada Tuan Wang.Dia baik,aku menyukainya,hadirnya dalam lembaran hidupku memberi corak indah, tapi aku tak yakin bisa bersamanya….Biarlah waktu yang menjawab.
Taiwan selamat tinggal,Formosa yang telah mengajari banyak hal.Memberitahu ku bagaimana cara bersabar ,bagaimana harus ikhlas, dan tegar menghadapi kerikil tajam kehidupan.Semua kesulitan akan berlalu ,selagi kita tetap melangkah tidak ada kata gagal.Tuhan sealu punya rencana indah setiap manusia,jadi jangan pernah putus asa.Terima kasih Taiwan ,banyak hal yang aku dapatkan dari indahnya negerimu.Satu bulan lagi aku akan datang kembali….
Sekilas ku melihat keluar,semburat indahnya pelangi menghiasai langit Formosa,再見。
Indonesia aku pulang……
生活就是一個過程甜過,苦過,愛過,恨過
Shenghuo jiushe yi ge guocheng tianguo,khuguo,aiguo,henguo
Kehidupan adalah sebuah tahapan,manis,pahit,cinta,benci
其實每個過程會有結果
Qishe meige guocheng hui you jieguo.
Sebenarnya setiap tahapan pasti ada hasil/hikmahnya.
Keterangan :
Ama : Nenek
Akong : Kakek
Siaoce : Nona
Nihao : Apa kabar
Dupuchi : Maaf
妳好嗎 :Ni hao ma (Apa kabar)
我想妳 :Wo xiang ni (Saya rindu kamu)
再見 :Zai Jian (Selamat tinggal)
******
Yuni Lai / Perjalanan Sebuah Persahabatan / Tidak ada / tenaga kerja asing Perjalanan Sebuah Persahabatan Mentari masih bersembunyi di balik awan, suasana mendung namun hujan tak kunjung datang, ku ayuh sepedaku menuju tempat dimana aku bersekolah, Ya sekolah SMA N 2 dimana aku menuntut ilmu yang tak jauh dari rumahku. Namaku Laras, aku terlahir bukan dari keluarga … Continue reading “Perjalanan Sebuah Persahabatan”
Yuni Lai / Perjalanan Sebuah Persahabatan / Tidak ada / tenaga kerja asing
Perjalanan Sebuah Persahabatan
Mentari masih bersembunyi di balik awan, suasana mendung namun hujan tak kunjung datang, ku ayuh sepedaku menuju tempat dimana aku bersekolah, Ya sekolah SMA N 2 dimana aku menuntut ilmu yang tak jauh dari rumahku.
Namaku Laras, aku terlahir bukan dari keluarga berpunya, mungkin karena itu aku minder untuk bermain dengan teman sekelasku. Hari ini hari terakhir ku tuntaskan pendidikan, hari yang penuh dengan kecemasan, antara tidak lulus dan lulus hanya itu yang ada di pikiran aku sekarang.
Laras” pangil sang guru yang sedang membagikan kertas hasil ujian.
Dengan berdebar ku maju kedepan , setelah kudapat ku buka pelan- pelan,
Saat terlihat disitu tertulis Lulus, hatiku sangat gembira, aku ingin segera pulang dan memberitahukan hasil ujian terakhirku kepada kedua orang tuaku.
Setiap orang pasti menginginkan berpendidikan tinggi, begitupun aku, namun apakah aku bisa seperti mereka, untuk melanjutkan ke jenjang SMA saja kalau bukan karena beasiswa mungkin aku tak akan bisa.Namun jika harus berhenti disini apa kata keluarga bapak aku nanti, pasti mereka akan mencibir keluargaku, menghina dan mengejekku.
Keesokan harinya seorang tetangga yang kebetulan juga seorang guru memberiku selembar brosur.
Laras kamu ikut saja khursus keperawatan disini, kamu masih bisa mendapatkan beasiswa!, disini tertulis jika kamu pernah mendapatkan rangking 10 besar kamu berhak mendapatkan beasiswa 1 smester, kamu sang juara kelas, kamu pantas untuk mendapat pendidikan yang tinggi” kata Bu Nur serambi memberikan brosur itu.
Tapi bu ini berada dikota, jika dilanju naik kendaraan pasti bisa terlambat sampai kampus, jika harus kos, apa bapak dan ibu saya sanggup membiayai, pastinya makan dan tempat tinggal di kota mahal. Jawabku sambil mengamati syarat pendaftaran yang tertulis di brosur. dan kamipun saling berdiam diri.
Malamnya ku tanyakan kepada ibu dan bapak, dalam hati aku berdoa mereka menyetujuinya apalagi setelah lulus smester 2 lembaga akan mencarikan pekerjaan langsung. Aku tak harus capek cari lowongan kerja.
Kujelaskan panjang lebar, dan kebetulan di situ ada bibi, adik dari ibu aku yang sejak kecil ikut membantu mengasuhkku saat ibu ke ladang.
Tenang untuk biaya kos nanti bibi yang biayai! kata bibi meyakinkan.
Walau berat hati ibu karena harus merepotkan bibi tapi ibu setuju untuk aku mengikuti khursus keperawatan.
Inilah tantangan baru, aku harus jauh dari bapak dan ibu, harus lebih mandiri dan dewasa, sungguh aku sedih sulit untuk aku adaptasi dengan kehidupan ini .
Boleh aku duduk sebelah kamu?” tanya seorang teman mengagetkan lamunanku.
Ohh,,silahkan! Aku dengan senang hati. Kami pun mulai ngobrol. Dia bernama Venes rumah dia tak jauh dr kampung tempat aku tinggal, setelah menanyakan dimana dia kos.
Aku pun bingung, aku belum dapat tempat kos, untuk sementara aku laju naik angkot” jawab venes.
Bagaiman kalo kita ngekos bareng satu kamar saja, nanti pulang kita bareng ke tempat aku, kita coba tanyakan ke bu kos’ ajakku.
Inilah awal perkenalanku dengan venes, aku sangat berharap dia akan menjadi teman dan sahabat yang bisa saling membantu.
Bagiku venes anak yang sederhana dan baik, tutur katanya yang sopan dan dewasa membuat ku merasa ada kakak yang selalu memberi ku sebuah pendapat dan mengajariku banyak hal.
Ternyata kehidupan menjadi anak kos tak seperti cerita para anak kos, yang mereka bilang menyenangkan dan bebas, bagiku kehidupan menjadi anak kos mengajarkan aku untuk mandiri, berhemat dan lebih ketat untuk mampu bertahan hidup dalam uang yang pas-pasan, mungkin ini karena uang saku yang kita punya sangat kecil,cukup makan gak cukup puasa.
Sudah 2 minggu kita ga mudik Ras, uang saku nipis nih, kata venes sambil membuka buku pelajaran.
Iya nih Nes, aku ada ide bagaimana kalo kita cari kerja, kan enak bisa buat tambahan uang makan. Jawabku sambil berfikir pekerjaan apa yang bisa kita kerjakan.
Emang kerja pa Ras, waktu kita kan ga seberapa!
Bagaimana kalo semacam setrika baju , atau kerja cuci piring setelah kita pulang kuliah.
Boleh juga tuh Ras, tapi gimana caranya? venes sambil gigit jari.
Kita minta bantuan bu kos saja , diakan orang sini dan kenal warga sini sapa tau dia bisa bantu cari?
What……? bu pelit bin cerewet itu, gak mungkin deh Ras, dia kan benci banget,
Dan sudah kaya kucing dan tikus dalam kos kita ini.
Bener juga katamu Nes! Aku sambil berfikir keras mencari jalan keluar.
Tak terasa satu semester telah terselesikan.
Walau kadang banyak bolos namun dosen” selalu memberi maaf dengan alasan kita yang ada saja.
“Ras, aku hari ini terlambat, angkot macet!” Pesan aku menggunakan via hp jadul.
“Aku juga masih di perjalanan, kayaknya juga bakal telat.”
“Lu mah Mis Telat Nes.”
“Ga beda jauh dari kamu Ras.”
“Kamu sampe mana Nes?”
“Masih di Bis Nes!”
“Kamu tunggu aku di terminal.”
“OK Ras!”
Sesampai di terminal, kita pun langsung menuju ke angkot.
Eh…si nwng kembar, kesiangan hari ini neng, ayo cepet naik ke angkot! Salah satu supir angkot yang sering kita naiki.
Iya bang ayo cepat berangkat! Jawab kita serempak.
Di terminal para supir mengira kita anak kembar. Kadang ini menjadi gelak tawa kami, kami yang tak ada sedikitpun persamaan mereka bilang kembar.
Ras, kita telat hampir satu jam, bolos aja , kita nongkrong di terminal daripada pulang kena marah. Kata laras sambil melihat jamnya.
Bolos lagi Nes. Jawabku sedih.
Kita sekarang sudah tak lagi kos, karena jam kuliah lebih siang dan bisa di laju dengan bis dan diganti angkot, terkecuali ada kemacetan pastinya kita bolos.
Ternyata untuk menyelesaikan sekolah sampai semester 2 tidak mudah, dan kendala pertama adalah di uang, walau untuk biaya pendidikan kita mendapat beasiswa, tapi untuk kebutuhan sehari , angkot, makan dan kebutuhan lain membuat aku kadang tak tega untuk meminta kepada orang tua.
Tinggal setengah semester lagi kita wisuda, sekolahpun mengadakan PKL pelatihan kerja lapangan. Namun sayang kali ini aku harus terpisahkan dengan Venes selama 2 bulan, karena Rumah Sakit tempat kita PKL berbeda.
Ternyata menjadi suster dalam rumah sakit tak segampang yang kita tau. Setiap hari harus berhadapan dengan orang sakit, harus sopan, berhadapan dengan darah dan infus juga jarum.
“Nes kamu dah dapat pasien berapa, dengan diagnosa apa? Pesan sms kepada venes.
“Types, diare, kecelakaan dah dapat 7, kamu gimana Ras?
“aku dapat pasien meningal 2 kali, pertama karena dah tua, kedua kecelakaan, tau ga lu Nes, kepalanya pecah, aku lihat dwngan jelas itu mata keluar, muka ngelupas, rasanya aku pengin pingsan, yang parah dokter nyuruh aku ambil itu otak dia yg pecah suruh masukin plastik, gila banget Nes!”
“Hebat lu Ras”
“Eh Nes aku kangen banget, besok minggu kamu kerumahku ya nginep, dah q mau tugas lagi , bye” lasas mengakhiri pesan.
Minggu ini venes nginep di rumah. Sebenarnya ga enak harus ngajak dia nginep di rumah berdindingkan bambu, berlantaikan tanah. Tapi ini lah rumahku, rumah yang penuh kedamaian dan kebahagiaan.
Venes sahabat satu” nya yang aku punya, aku sayang dia layaknya saudaraku sendiri.
Teringat saat kos dulu, saat kita kehabisan makan, sepiring nasi kita bagi berdua, bahkan kadang semangkok mie instan kita pun makan berdua.
Kena marah ibu kos berdua.
Bolos sekolah berdua.
Semua ini membuat kita makin akrab.
Persahabatan ini memiliki beribu kepahitan yang tak akan pernah terlupakan.
PKL pun berakhir, dan ujian terkhirpun kita tempuh, menunggu hari kelulusan dan wisuda pun tiba.
Hari ini kita berdandan cantik, memakai seragam wisuda , datang bersama keluarga.
Akhirnya kita lulus dan di wisuda!!!
Teriak kami para murid.
Akhir sekolah bukan pula akhir persahabatan.
Pertama bekerja aku masih bersama venes,
Tapi kini tidak seperti dulu saling berjauhan, kadang kurang komunikasi, bahkan rasanya saling acuh, tapi kita tetap sahabat.
Perjalanan persahabatan kita tak akan terlupakan sampai akhir hayat.
Venes adalah sahabat sejatiku.
Aku rindu kamu venes yang jauh di yempat kamu bekerja,
Doa ku kita dapat berkumpul dan bermain seperti dulu.
Indahnya perjalanan sebuah persahabatan!
LÊ THANH ÁNH QUYÊN-黎請映娟 / “Con đã từng ghét bố như thế……” / 儒林補習班萬事通教育中心 / phối ngẫu quốc tịch nước ngoài “Con đã từng ghét bố như thế……” Buổi sáng sớm vẫn đang cuộn mình trong chăn thì bố gọi điện và mình đã khóc…. -Bố: Con à, con khỏe không? Hôm vừa rồi bố nghe có … Continue reading ““Con đã từng ghét bố như thế……””
LÊ THANH ÁNH QUYÊN-黎請映娟 / “Con đã từng ghét bố như thế……” / 儒林補習班萬事通教育中心 / phối ngẫu quốc tịch nước ngoài
“Con đã từng ghét bố như thế……”
Buổi sáng sớm vẫn đang cuộn mình trong chăn thì bố gọi điện và mình đã khóc….
-Bố: Con à, con khỏe không? Hôm vừa rồi bố nghe có tin động đất ở Đài Loan, có sao không con?
-Con gái: Dạ con khỏe ạ, động đất không ảnh hưởng lắm đến nơi con ở nên bình an. Bố thì sao ạ?
-Bố: Bố bình thường, bố nhớ các con lắm….
-Con gái:…!!!…Con xin lỗi bố….đáng lẽ con nên gọi cho bố. Con đi làm về thì tiệm bán thẻ điện thoại đã đóng cửa, con vẫn chưa mua thẻ điện thoại nữa.
-Bố: ừ, bố hiểu. Không sao cả, để bố gọi. Rồi công việc của con ổn cả chứ?
-Con gái: Dạ, công việc tốt lắm bố ạ. Giám đốc trung tâm rất trọng dụng và luôn ủng hộ những dự án phát triển giáo dục cho Tân Di Dân của con. Còn các đồng nghiệp người Đài thì rất cởi mở, tử tế. Họ luôn sẵn sàng giúp đỡ khi con cần. Để đáp lại, con cũng luôn quý trọng và giúp đỡ lại khi các bạn cần con, ví dụ như các bạn muốn học tiếng Việt thì con đều giành thời gian để chia sẻ, hay muốn luyện nói tiếng anh thì con cũng đều sẵn sàng trợ giúp.
-Bố: vậy hả con? vậy thì tốt quá, bố có thể yên tâm về con rồi.
-Con gái: Bố…..bố ơi…..
-Bố: Sao con?
-Con gái: Bố…con cảm ơn bố….khi con tìm được công việc ý nghĩa này thì con đã nhớ đến bố rất nhiều. Hôm nay con muốn nói với bố rằng con cảm ơn bố vì tất cả. Và con cũng khai 1 sự thật là hồi nhỏ con đã rất ghét bố!
-Bố: hahaha, sao lại thế con?
-Con gái: Con ghét vì sự nghiêm khắc của bố. Mới có lớp 6 bố đã đưa con xuống thị xã học rồi, 1 tuần mới được về nhà 1 lần. Bố có biết, con đã khóc rất nhiều vì phải xa bố mẹ không?. Lúc ở trọ, mọi thứ con đều phải tự thân thu xếp, còn con người ta thì bố mẹ luôn cưng chiều, lo lắng cho hết. Đã vậy vào cuối học kỳ, bố nhất định phải kiểm tra sổ điểm, làm con thi cử lúc nào cũng phải cố, cố mà học bằng bạn bằng bè, cố mà đạt điểm cao.
-Bố: vậy hả?
-Con gái: Chưa hết, lúc con học lớp 7 trở đi, con người ta được xem tivi, chơi game thoải mái, đằng này mỗi ngày cứ đến 7h tối là bố tắt hết tivi rồi bắt tụi con ngồi vào bàn lấy sách vở ra học bài, trớ trêu hơn là bố và mẹ chẳng đi đâu, mẹ ngồi bên cạnh soạn giáo án và bố thì ngồi đọc sách canh chừng con đến khi nào con làm bài xong thì thôi. Sao bố lại nghiêm khắc lại dã man như vậy với tụi con chứ? Không cho con tự do chơi bời bay nhảy!!!
-Bố: ….Bố..bố đã không nghĩ nhiều về việc các con nghĩ gì, bố chỉ biết rằng nếu không học các con sẽ khổ sở trong tương lai. Các con còn nhỏ vẫn còn ngây thơ lắm, cái ăn cái uống vẫn 1 tay bố mẹ lo, các con đã trải nghiệm cuộc sống này đâu mà biết hậu quả của 1 cuộc đời học không đến nơi đến chốn? Công việc của bố là bắt những thằng ăn trộm, ăn cắp hàng ngày nên bố biết, tất cả hậu quả xấu đó đều là do không chịu học hành mà ra. Chỉ vì học hành không đến nơi đến chốn, không kiếm được việc nào đàng hoàng nên mới đi ăn trộm ăn cắp làm cái việc bị xã hội xem thường như thế. Nhìn mấy đứa ấy thực sự bố thấy tụi nó đáng thương hơn đáng trách. Ước gì bố mẹ chúng nó đừng lơ là, đừng quá nuông chiều tụi nó từ lúc nhỏ. Bởi vậy bố mẹ quyết định không nuông chiều tụi con. Tuy yêu thương nhưng nhất định không dễ dãi để tụi con muốn làm gì thì làm.
-Thời đại này xã hội vẫn còn trọng bằng cấp lắm con ạ, con có tấm bằng trong tay thì đi đâu cũng yên tâm chút đỉnh, đặc biệt là con gái. Con gái thì phải lấy chồng sinh con, nếu may mắn thì gặp thằng chồng tốt yêu thương hết lòng, lo cho con trọn đời thì không phải nói gì, còn nếu gặp cái thằng không tốt, đối xử với con không ra gì thì con còn có kiến thức mà đi xin việc mà tự nuôi sống bản thân và con cái.
-Nhà mình không giàu có gì nhưng nhất định không được nghèo về kiến thức. Bố mẹ có khổ cực tới đâu cũng ráng cố gắng để cho con học hành tới nơi tới chốn là như vậy.
-Cô con gái nước mắt giàn dụa và thấy hối hận vô cùng. Cô hối hận vì đã ghét bố mình, một người bố sâu sắc đã cho cô sự tự tin để bước đi trên con đường đời bây giờ của mình. Cổ họng cô nghẹn lại và không thể nói được gì nữa chỉ trả lời một tiếng “dạ, con hiểu rồi bố ạ.”
– Bố: Ừ, cố gắng lên con gái, con giữ gìn sức khỏe nghe con. Sắp hết tiền điện thoại rồi, hôm khác bố sẽ gọi lại.
Con gái: Dạ….. vâng………
***Bây giờ đã làm mẹ rồi thì mình mới hiểu thấu được lòng cha mẹ. Đến khi thực hiện những dự án giáo dục cho Tân Di Dân, mình cũng thấy thêm được một điều rằng dù bố mẹ có là ai đi chăng nữa thì tình yêu thương của họ giành cho con đều giống nhau và chỉ có một. Tình cha mẹ thật vĩ đại mà chỉ sau này khi ta lớn khôn, ta gặp thành công hay gian khó ta mới hiểu hết được!
**Tự dặn lòng là phải luôn yêu thương và nói lời cảm ơn với những ai yêu mình thật nhiều thật nhiều khi có thể, vì thời gian là thứ không bao giờ lấy lại được của đời người………..I LOVE YOU DADDY!