Serdadu Putri Kesepian

Angela / Serdadu Putri Kesepian / Facebook dan teman-teman / tenaga kerja asing Siapa aku hingga berhak menghakimi orang lain? Sosok lelaki tua, namun terlihat kasar, galak, dan tegap itu tersenyum sedikit padaku. Berdiri di sampingnya, seorang nenek yang masih bugar, namun terkesan serius menatapku. “Ni hao,” kataku. “Ni hao,” kata mereka menyambutku malam itu. Namanya Kakek Tjin … Continue reading “Serdadu Putri Kesepian”

Angela / Serdadu Putri Kesepian / Facebook dan teman-teman / tenaga kerja asing

Siapa aku hingga berhak menghakimi orang lain?
Sosok lelaki tua, namun terlihat kasar, galak, dan tegap itu tersenyum sedikit padaku. Berdiri di sampingnya, seorang nenek yang masih bugar, namun terkesan serius menatapku. “Ni hao,” kataku. “Ni hao,” kata mereka menyambutku malam itu. Namanya Kakek Tjin atau Ape Tjin. Ia tinggal bersama istrinya yang kupanggil Ayi Tjin dan mereka adalah induk semangku. Berusia 90an Ape Tjin masih sangat sehat dan gagah, begitu pula istrinya yang tampak bugar di usia mendekati kepala 8. Berbeda 180 derajat dengan para orang tua di Indonesia. Mereka tinggal di lantai 1, tepat di bawah rumah kos, tempatku tinggal. Rumah kedua orang tua itu bersih sekali, tampak seperti baru. Hampir tidak ada secuilpun debu di rumah beliau. Di dinding rumah terpampang berbagai penghargaan bertuliskan huruf mandarin yang tidak kumengerti. Terpampang pula beberapa foto Ape Tjin, sang istri Ayi Tjin, dan beberapa petinggi pemerintahan. Bahkan, saat aku datang melihat kamar kos, aku sempat melihat ruang tamunya masih dilengkapi pemutar piringan hitam dan tampak seperti baru. Sebuah kebersihan dan ketelatenan yang luar biasa.
Datang ke Taiwan tanpa bekal mumpuni, namun dengan impian tinggi. Impian naif di awal pertemuanku dengan negara ini adalah bermimpi lancar cas…cis..cus…bahasa mandarin seperti sinetron mandarin yang sering kutonton ketika SMA dulu, kemudian mendapatkan pekerjaan ideal di kantor perusahaan besar. Berbekal sedikit bahasa mandarin yang kupelajari dari sinetron Taiwan, beberapa buku mandarin anak-anak, tabungan hasil kerjaku, dan dokumen-dokumen yang menyatakan aku dapat beasiswa belajar bahasa mandarin di salah satu pusat belajar bahasa mandarin Taiwan, aku berangkat dengan percaya diri.
“Kamu orang Indonesia?” tanya Ayi Tjin. “Iya,” jawabku. “Saya juga orang Indonesia, 30 tahun yang lalu datang kemari.” Apakah Indonesia masih banyak orang jahat?” “Bolehkah kalian bercakap mandarin?” “Orang-orang Indonesia masih mata duitan?” tanyanya kembali. Aku bengong, bingung tidak tahu harus menjawab apa karena dari apa yang aku tahu negaraku baik-baik saja. Aku cukup senang karena Ayi Tjin bisa berbahasa Indonesia. Tidak lancar, namun hal itu membantuku sedikit banyak. Yah, baru kusadari ternyata hidup di negeri orang pertama kali tidak semudah bayanganku. Apalagi dengan bahasa yang sangat berbeda dengan bahasa Indonesia. Harga pangan yang lebih tinggi daripada harga makanan di Indonesia, terutama bagiku yang terbiasa makan di rumah memaksaku untuk mencari makanan murah meriah. Terkadang makanan hasil telunjukku tidak seindah bayangan, hanya cukup mengisi perut yang butuh asupan untuk diisi.
Sepasang suami istri itu memintaku berhati-hati di Taiwan karena banyak penjahat berkeliaran, kata mereka. “Taiwan tidak aman, terutama buatmu orang asing.” “Kini di Taiwan banyak penjahat, lihatlah berita TV menayangkan banyak penipu di sekitar kita.” “Anak perempuan jangan pulang malam-malam, banyak orang jahat, kamu harus hati-hati.” Begitulah kata-kata nasehat mereka di awal-awal pertemuan kami. Seringkali pasangan ini mengetuk pintu, membawakanku buah-buahan atau roti sekedar untuk sarapan dan penunjang makananku yang seadanya. “Mereka baik sekali Ma,” kataku pada Ibu di ujung pesawat telepon. “Mungkin karena mereka hanya hidup berdua, tidak punya anak dan keluarga lain, makanya mereka baik?” tambahku. “Baik-baiklah pada mereka, karena mereka yang menjagamu di sana.” “Oke,” sahutku.
Percakapanku dengan kedua suami istri tersebut susah susah gampang. Karena faktor umur, pendengaran Ape sudah jauh berkurang. Bercakap-cakap dengannya terkadang harus dengan suara lantang. Ayi Tjin yang terbiasa dengannya pun berbicara suara keras, kalau tidak katanya tidak jelas. Ape Tjin sering menceritakan masa mudanya yang dihabiskan dengan berlatih bersama prajurit-prajurit lain, di umur 15 tahun terpisah dari keluarganya karena perang saudara hingga akhirnya mengungsi ke Taiwan. Lama menetap di Taiwan tanpa sanak keluarga dan tertutupnya berbagai akses untuk mencari informasi membuat Ape terkungkung. Ape kemudian diperkenalkan dengan Ayi Tjin oleh seorang temannya. Merasa cocok, Ape kemudian melamar Ayi Tjin. Ayi Tjin yang saat itu berada di Indonesia kemudian menerima pinangan Ape karena ingin meninggalkan Indonesia dan merasa hal itu adalah jalan terbaik baginya. Di sisi lain, keluarganya di seberang pulau mengira Ape Tjin sudah tiada. Berdasarkan cerita yang kuperoleh, Ibunda Ape bahkan menangisi putranya setiap hari hingga kesehatan matanya terganggu dan meninggal tanpa tahu kabar berita Ape. Hal itu diceritakan adik Ape Tjin ketika mereka akhirnya bertemu kembali setelah pemerintah Taiwan membuka akses informasi dan adanya kemajuan teknologi 10 tahun yang lalu. Ape Tjin dan Ayi Tjin tidak memiliki anak, namun mereka memiliki seorang anak angkat yang cantik. Terkadang aku bertemu dengannya, tidak banyak cakap namun ramah. Alin nama panggilannya. Mungkin karena ia juga telah berkeluarga, Alin jarang datang menemui Ape dan Ayi, tapi di hari-hari tertentu ia akan datang bersama suami dan anak-anaknya yang masih balita untuk bercengkerama dan makan bersama.
Setengah tahun berlalu, temanku semakin banyak. Melalui informasi dari mereka, aku akhirnya tertarik untuk menjajal masuk perguruan tinggi yang diwarnai dengan iming-iming beasiswa 1 tahun. Diterima! Hati berbunga-bunga bukan kepalang, kupamerkan surat pemberitahuan tersebut pada kedua orang tuaku di Indonesia, namun tidak lupa pula aku kabarkan suka cita tersebut untuk bapak dan ibu kos baik hati itu.
Entah sejak kapan, keharmonisan itu mulai berubah rupa. Jadwal kuliahku yang padat, ditambah dengan kegiatan baruku kerja part time di sebuah kafe kecil membuatku sering lupa waktu dan kini jarang berkomunikasi dengan Ape dan Ayi. Sampai satu waktu, ketika aku baru pulang di malam hari, Ape menegurku. “Anak perempuan pulang malam begini?! Apa kata mamamu di sana?” katanya dengan suara lantang. Aku hanya tertunduk. “Kenapa sekarang sering pulang malam? Kamu tidak lihat sekarang sudah jam 10 lebih?” “Aku dagong,” kataku pelan. “Buat apa kamu dagong? Percuma kamu dagong, tidak menghasilkan. Seorang anak hanya punya kewajiban belajar, bukan bekerja. Bukankah orang tuamu di Indonesia sana kaya raya? Kalau tidak, mana mungkin bisa menyekolahkanmu kemari?” Hatiku terlecut, dalam diam kukatakan, “Kamu bukan siapa-siapa, orang tuaku saja tidak pernah memarahiku seperti itu. Aku kerja untuk kebutuhanku dan meringankan beban mereka, kenapa orang ini sewot sekali?” Masuk ke kamarku, mulai terpikir untuk pindah kos. Taipei sangat aman, selama kuliah 1 tahun, terkadang aku memang pulang malam beberapa kali dan bersyukur selamat sampai kos. Teman-temanku yang lain juga pulang larut malam dan mereka baik-baik saja. Tidak seperti Jakarta, di mana pulang malam artinya lampu kuning, harus ekstra hati-hati. Siang hari saja perempuan jalan sendirian kesulitan, apalagi malam hari.
Meskipun aku sudah betah di tempat kos yang lama, namun aku merasa kesal dengan kata-kata Ape, ditambah jarak ke sekolah dan keinginanku untuk lebih bebas, kubulatkan tekadku untuk pindah. Akhirnya, kuputuskan untuk pindah kos setelah 1,5 tahun menempati kos tersebut. Aku pindah cukup jauh dari tempat kos itu. Jika sebelumnya aku tinggal di sekitar Wanlong ketika belajar bahasa, kini aku pindah ke daerah Shilin yang lebih dekat dengan sekolahku. Ape dan Ayi sepertinya kecewa dengan keputusanku untuk pindah. Melihat mereka berdua melepasku, aku merasa sedikit menyesal dan akhirnya memutuskan untuk tetap menemui mereka di kala ada waktu senggang.
***
Sampai suatu ketika, hatiku bergejolak dan menahan segala amarah yang terpendam. Hari itu Ayi Tjin tiba-tiba bertanya padaku, “Kamu suka Taiwan? Mau nikah sama orang Taiwan? Kamu aku jodohkan saja, mau ya?” tanyanya bertubi-tubi. “Alin saja yang seumuran denganmu sudah punya anak dua, masa kamu belum punya pacar sama sekali?” “Anak dari saudara tetanggaku masih belum menikah sudah umur 40 tahun, Ayi kenalkan ya?” “Kalau kamu belum yakin, tidak apa, kenalan dulu sebagai teman.” Begitu bujuknya. Ape Tjin juga semangat sekali. “Benar, anaknya baik, sudah mapan, gajinya cukup, sudah punya rumah, dan dari keluarga baik-baik. Ape yakin dia jodoh yang cocok untukmu,” katanya berapi-api dengan logat khas, sampai muncrat air liurnya. Aku terpaku, tidak suka disodor-sodorkan seperti itu. “Kamu tunggu di sini sebentar, Ayi telepon orangnya kebetulan hari ini datang ke Taipei.” Dan… hari itu juga aku terpaksa kenalan dengan pria itu. Untungnya pria tersebut sepertinya menyadai aku tidak suka diperkenalkan dengannya. Ia juga kemudian mengambil jarak karena aku tidak mau memberikan nomor ponselku.
“Ma, aku ga suka dikenalin seperti itu, seperti mau digelandang ke pelaminan hari itu juga.” “Mereka bukan siapa-siapa, tapi begitu menurutku keterlaluan.” “Sabar Lala…maksud mereka mungkin baik. Yah namanya saja orang sudah tua, jadi seperti anak kecil. Jangan dimasukkan ke hati,” demikian nasihat ibuku. Ckckckck…sudah bukan jaman Siti Nurbaya, hari gini masih memaksa sebuah perjodohan. Siapa mereka? Keluargaku juga bukan, aku pandang mereka karena mereka dulu baik padaku dan sudah sepuh. “Aku ga mau Ma, pokoknya aku ga akan ke sana lagi, sudah keterlaluan maksa-maksa seperti itu.” “Apa Mama tahu kalau seminggu setelahnya Ayi menyuruhku untuk menghubungi pria tersebut? Rasanya seperti mempermalukan diri sendiri! Rendah sekali seperti ga punya harga diri!!!” Ibuku pun mengalah dengan keputusanku yang tidak ingin datang lagi ke rumah Ape dan Ayi karena insiden pemaksaan tersebut. Hidupku kini pun lebih terasa bebas karena tidak perlu meluangkan waktu untuk ke rumah mereka. Komunikasi sudah hampir tidak pernah terjadi karena aku tidak mau menelepon mereka duluan.
Suatu hari, Ayi Tjin meneleponku. “Lala…apa hari Sabtu malam kamu ada waktu?” Ayi mengundangku makan malam di rumahnya, sekedar melepas rindu. Aku ragu untuk menerima undangannya tersebut. “Apa yang akan mereka perbincangkan kali ini? Apakah akan ada jebakan batman?” pikirku, teringat terakhir kali aku ke sana mereka menyodorkan ‘jodoh’. Pada akhirnya, “iya” adalah jawabanku. Rasanya aneh karena begitu kesalnya aku pada mereka tapi aku masih berkata ‘iya’ untuk berkunjung makan malam. Entah kasihan karena sudah tua atau karena aku teringat ucapan ibuku.
“Banyak sekali makanannya Ayi, Ape…” begitu kataku ketika tiba di ruang makan keluarga Ape Tjin. “Ada apa hari ini?” tanyaku lagi. “Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin makan malam bersama. Hari ini Ape yang masak,” demikian kata Ape. “Alin dan keluarganya juga kami undang, karena itu masakannya cukup banyak.” Ada tim ayam jamur, sup bakut masak sayur asin, ikan asam manis, sayuran hijau, gorengan, selada dingin dengan berbagai daging khas masakan Cina tersaji di meja makan. “Jam berapa Alin akan datang?” tanyaku ketika jarum jam sudah menunjukkan pukul 6.45 malam. Bukan bermaksud tidak sopan, tapi biasanya mereka memulai makan malam tepat pukul 6 sore, karena itu sedikit aneh bagiku.
Pukul 7, Ape Tjin menghela napas dan kemudian berkata, “Ayo kita makan, tidak perlu menunggu Alin.” “Kenapa? Alin kan berkata akan mencoba datang ke mari selesai berkunjung ke rumah mertuanya di Taichong,” demikian Ayi Tjin menjawab. “Hahh…anak itu masih kamu bela terus? Dia lebih mementingkan keluarga kandungnya, keluarga kecilnya, dan mertuanya! Kamu kira aku bodoh! Alin itu tidak suka padaku. Kita memang orang tua angkatnya, ganpa dan ganma, tapi toh kita tidak pernah jadi yang pertama!” Diam terhenyak diriku, begitukah selama ini keadaan mereka? Terkadang aku suka mendengar mereka bertengkar, namun baru kali ini aku mendengar pembicaraan mengenai Alin. “Ayo kita makan sekarang Lala, kamu pasti sudah lapar.” Makan dalam keheningan, terasa Ape dan Ayi sepertinya bersitegang.
“Hidangan-hidangan ini semuanya enak sekali!” demikian kataku memecah keheningan. “Ini semua Ape yang masak?” “Iya benar, ini semua masakanku, dulu aku juga sempat bertugas jadi kepala koki istana” katanya bangga. Ah…mungkin itu sebabnya piagam yang diterima Ape begitu banyak. Sudah hampir 2 tahun aku baru menyadari hal tersebut. Selesai makan malam aku duduk bersama mereka yang menyalakan TV dan menonton berita ulangan hari ini. “Ayi, belakangan ini apa saja kegiatan kalian?” tanyaku pada sang istri. “Aku sekarang mulai ikut komunitas lingkungan untuk mengumpulkan sampah daur ulang. Hitung-hitung aku bisa mendapatkan teman baru dan sedikit tambahan penghasilan.” “Wah, lumayan sekali, Ape tidak mau ikutan?” “Tidak!” jawabnya ketus. “Kemarin saja aku tidak sengaja terjatuh ketika hujan, bisa apa aku kalau mengumpulkan sampah-sampah itu? Untung tidak apa-apa kata dokter, hanya sedikit lecet. Ini coba kamu lihat luka-lukaku. Rasanya sakit sekali, beginilah badan sudah tua.”
“Ape Tjin sebenarnya ingin shenqing wailao, tapi katanya tidak bisa karena beliau masih sehat. Tidak perlu kursi roda dan masih bisa mengerjakan semuanya sendiri,” Ayi Tjin kemudian bercerita betapa mahalnya biaya untuk mempekerjakan seorang asisten perawat di rumah. Sebulan mereka harus menyiapkan uang sekitar 25 ribu NTD dan masih harus menanggung beberapa persyaratan lainnya yang berarti menambah pengeluaran, sedangkan mereka hanya mendapatkan uang pensiun karena tidak lagi bekerja. “Ah…tapi Ayi juga ragu, apa mereka bisa betah kerja di sini? Ape Tjin sangat bersih, semua harus rapi, dan ia sangat menuntut, apa iya ada yang tahan?” “Hmm…mungkin tidak,” begitu pikirku tanpa berani mengucapkan satu katapun, mengingat apa yang pernah terjadi padaku dan apa yang mungkin terjadi jika aku menjawab pertanyaan Ayi dengan jujur. Di balik itu aku jadi berpikir, mereka yang menjaga orang tua di sini, banyak di antara mereka yang disebut wailao itu sebenarnya sangat hebat dan kuat. Kesabaran mereka sangat diuji dengan sifat anak-anak berwujud orang tua seperti Ape dan Ayi.
Ketika akan pamit pulang, Ape Tjin tiba-tiba berkata, “sering-seringlah main ke mari jika kamu ada waktu. Aku ini sudah tua, tidak tahu kapan akan pergi dari sini.” Mata Ape kemudian berkaca-kaca. “Mungkin tidak lama lagi aku akan pergi, waktuku tidak banyak, jadi sering-seringlah main kemari,” matanya mulai memerah menahan air mata. Aku terharu dan tidak tega melihatnya seperti itu. Tepat saat itu Alin dan keluarganya tergopoh-gopoh datang dan meminta maaf kepada Ape dan Ayi karena telat. Alin dan suaminya sempat menyapaku, kemudian mereka berkata mertua Alin hari itu sedang ingin bersama cucu mereka lebih lama, sehingga mereka tidak berani menolak.
“Kami kesepian…tidak banyak hal yang bisa kami lalui, Alin sudah jarang menjenguk kami, kamu juga. Kami hanya ingin ditemani,” demikian Ayi menutup pembicaraan di ambang pintu rumahnya ketika mengantarku.

poem

candice lauren manatad / poem / spa/migrante / dayuhang manggagawa Salamat Taiwan Aking buhay sa taiwan ay walang kasiguruduhan Lahat ng pgsubok at sakit ay aking naranasan. Araw at gabi dasal ko sa maykapal<br> Na sana balang araw mga pgsubok ay lilipas lamang. Salamat sa spa at mga kaibigan na laging sumusuporta, Kung hindi dahil sa inyo buhay … Continue reading “poem”

candice lauren manatad / poem / spa/migrante / dayuhang manggagawa

Salamat Taiwan

Aking buhay sa taiwan ay walang kasiguruduhan
Lahat ng pgsubok at sakit ay aking naranasan.
Araw at gabi dasal ko sa maykapal<br>
Na sana balang araw mga pgsubok ay lilipas lamang.

Salamat sa spa at mga kaibigan na laging sumusuporta,
Kung hindi dahil sa inyo buhay ko sa taiwan ay walang kwenta.
Takot at kirot sa puso ko unti unting nawawala,
Dahil sa nyong pgmamahal na pinapakita na walang ka duda-duda!

Oh! Taiwan huwag mo namang ipagkait sa akin
Ang tamang landas na dapat aking tatahakin!
Upang maabot ko mga pangarap sa buhay,
Na kaytagal na inasam-asam para sa mga mahal sa buhay!

Oh! Taiwan ang bansa kung pinagtratrabahoan,
Hinding-hindi kita makakalimutan.
Sapagkat dito ako natutung maging matapang at lumalaban.
Salamat salamat taiwan!

Mungkin Asa Tak di Formosa

nana / Mungkin Asa Tak di Formosa / Tidak ada / tenaga kerja asing eks taiwan Mungkin Asa Tak di Formosa Oleh Nana Kedua mataku berbinar kurasakan hembusan angin Daratan Cina menyapa lembut wajah, mencumbu tengkuk, menyibakkan rambut yang luruh di dagu saat aku tertunduk. Kupijakkan kaki di pelataran parkir Rumah Sakit Buddist Tzu Chi, di Xindian sesaat … Continue reading “Mungkin Asa Tak di Formosa”

nana / Mungkin Asa Tak di Formosa / Tidak ada / tenaga kerja asing eks taiwan

Mungkin Asa Tak di Formosa
Oleh Nana

Kedua mataku berbinar kurasakan hembusan angin Daratan Cina menyapa lembut wajah, mencumbu tengkuk, menyibakkan rambut yang luruh di dagu saat aku tertunduk. Kupijakkan kaki di pelataran parkir Rumah Sakit Buddist Tzu Chi, di Xindian sesaat setelah oto berplat nomor aksara Han Zi itu memboyongku untuk menemui majikanku. Aku tidak sendiri, ada Mr. Chen yang notabene sebagai agenku. Ada sesuatu yang membuncah isi kepalaku, hatiku membelungsing.
‘Bukankah aku sudah medical check up, kenapa harus ke rumah sakit lagi?’ gumamku dalam hati.
Meski begitu aku tetap mengekor mengikuti jejak Mr. Chen menuju lantai 7, ruangan nomor 23. Aroma pekat obat begitu kuat di dalam ruangan itu. Terdapat tiga ranjang pasien, langkah kami lurus menuju ranjang yang memangku jendela. Sontak perhatianku mengarah pada sosok pria yang tergolek pulas di atas ranjang. Dimana kedua tangannya dalam keadaan terbungkus dan terikat pada masing-masing sisi ranjang. Separuh batok kepalanya terbalut perban ada bercak darah, di hidungnya terpasang selang makan, di lehernya terdapat lubang sebagai saluran sedot dahak, di dadanya terpasang alat pendeteksi detak jantung. Dan di bagian bawah ranjang terdapat kantong kencing.
Kondisi pria itu sungguh memprihatinkan, dan pemandangan ini pertama kalinya sepanjang hidupku. Terdapat dua wanita yang berdiri di masing-masing sisi ranjang.
“Selamat Petang, Nyonya Ma.” Suara Mr. Chen menyapa wanita di depannya memecahkan lamunanku akan sosok pria yang tergolek di atas ranjang.
“Petang, Mr. Chen.” Salah satu wanita menjawab sapaan Mr. Chen. Wanita paruh baya, bertubuh kurus, tingginya kurang lebih sama denganku 150 cm kurang sesenti. Tergambar jelas guratan-guratan penuh beban di wajahnya, kusam, matanya terlihat lelah.
“Namanya Nana, baru datang dari Indonesia pagi ini, ” tambah Mr. Chen.
“Nana, ini Nyonyamu,” ungkap Mr. Chen padaku.
“Selamat petang Nyonya,” sapaku padanya sambil menganggukkan kepala. Ada sedikit rasa gugup meski ini bukan kali pertamanya aku bekerja menjadi buruh.
“Selamat datang,” jawab Nyonya, diikuti seraut senyuman hambar dari wajahnya.
“Nana, tugas utamamu menjaga Tuan Ma.”
“Beliau baru saja operasi di bagian kepala akibat kecelakaan.” Mr. Chen memberi penjelasan singkat padaku.
Perkenalan dilanjutkan dengan penjelasan tugas dan kewajibanku yang Nyonya paparkan panjang lebar. Aku sedikit tergemap, keadaan seperti ini bagai membeli kucing dalam karung. Aku tidak membaca dengan seksama isi lembar hijau yang telah terbubuh oleh tanda tanganku itu. Tepatnya semasa training di asrama PJTKI, sebelum terbang ke Taiwan. Yang ada dibenakku saat itu hanya ingin segera bekerja di Taiwan, tanpa memilah-milah bagaimana kondisi kerjanya. Pekerjaan kali ini sungguh berbeda dengan sewaktu di Singapura, yang kukira berkutat dalam urusan dapur dan kebersihan rumah. Namun berurusan dengan pesakit dan rumah sakit.
Meski begitu aku harus tetap konsisten, semua sudah terlanjur. Terikat perjanjian hutang bank selama 9 bulan, kuharus melunasinya. Aku harus tetap bekerja demi pulang membawa uang.
Mr.Chen pamit undur diri, sepesan wejangan dia wariskan padaku.
“Kerja baik-baik ya?”
“Kalau ada apa-apa hubungi aku,” pesannya sambil menepuk ringan pundakku.
“Terima kasih,” ungkapku sambil mengangguk.
Mr. Chen berlalu meninggalkanku, sementara sesosok wanita lain yang bersama Nyonya adalah yang merawat Tuan sebelum aku tiba. Namanya Ms. Anggie, perawakan tinggi besar dan wajahnya sinis menatapku. Untuk sementara dia juga yang akan mengajariku bagaimana merawat Tuan.
“Nyonya, kecil sekali dia!”
“Apa dia mampu menjaga Tuan?” ungkap wanita itu pada Nyonya sambil sesekali melirikku.
“Nana pernah bekerja di Singapura selama empat tahun.” Nyonya mencoba membela.
Magrib menjelang, senja di ufuk barat menyemburatkan asa yang segera tenggelam dalam dekapan malam langit negeri formosa. Nyonya pun telah berpulang ke kediamannya, dan mempercayakanku merawat Tuan di bawah pengawasan Ms. Anggie yang memang sudah berpengalaman.
“Kamu bisa sedot dahak kan?”
“Coba kamu praktekkan sekarang!” Suruh Ms. Anggie dengan nada agak tinggi. Entah apa yang terjadi, sejak awal kedatangan dia memperlakukanku dengan sinis. Kucuaikan saja, toh dia bukan majikan.
“Aku bisa, Ms. Anggie,” jawabku lirih.
“Selamat malam, Tuan.”
“Namaku Nana.”
“Nantinya aku yang akan merawatmu.”
“Permisi Tuan, aku akan membantumu sedot dahak.” Aku memperkenalkan diri pada Tuan sebelum melakukannya.
Tuan tak bersuara karena dibagian leher ada semacam lubang nafas dan itu dijadikan jalan saat sedot dahak, dia hanya mengangguk sebagai tanda setuju. Sesekali dia melirik ke arah Ms. Anggi, sorotan mata Tuan bak pisau tajam, penuh kebencian. Dahinya mengernyit, bibirnya komat-kamit menyumpah serapah, namun tak terdengar suara.
Kulakukan dengan perlahan penuh kehati-hatian. Aku ingat pesan Nyonya yang kenapa kedua tangan Tuan terikat. Karena otak Tuan bagian pengendali saraf motorik belum benar-benar pulih, hal ini menimbulkan gerak reflek memukul, mencakar, mencabut setiap apa saja yang ada didekatnya dan dia tidak sadar hal itu.
Saat aku sedang menyedot dahak pada sedotan ketiga, tiba-tiba pembungkus tangan Tuan sebelah kanan terlepas. Reflek tangan kanannya menampar wajahku sangat kuat, aku tersungkur menepi ranjang. Tangannya tak terkendali mencabut selang makan, menarik alat yang terpasang pada lehernya. Seketika darah segar muncrat bak air mancur dari lubang sedot dahak itu, tangannya tak berhenti mencakar-cakar tubuhnya sendiri.
“Dokter!”
“Suster!”
“Tolong!” Terdengar teriakan Ms. Anggie, wajahnya menggambarkan ketakutan.
Aku dengan gegas memencet tombol darurat di tepi ranjang, agar pertolongan segera datang. Kuraih tangan kanan Tuan, darah itu menyembur keluar mengenai wajahku. Ada sembilan perawat, tiga dokter yang datang menanganinya. Sesekali aku turut membantu membasuh darah yang mancur tak terkendali itu. Sementara kulirik Ms.Anggie yang berdiri menepi, terlihat sedang berbicara di telepon.
Tak lama Tuan dibawa masuk ke ruang ICU, dan waktu yang bersamaan Nyonya datang bersama kedua putrinya. Wajah mereka penuh kegelisahan berderai air mata. Namun reaksi Nyonya membuatku nanap terpatung.
“Pergi Kau, aku tak ingin melihatmu!” Dengan suara yang begitu lantang hingga beberapa penghuni ruang lantai 7 keluar menyaksikan pengusiran Nyonya padaku. Dia melempar tas yang berisi baju-bajuku, berserakan di lantai.
“Tapi, Nyonya… !” Aku berusaha menjelaskan, Nyonya berlalu tak pedulikanku.
“Tak punya pengalaman jangan kesini,” ejek Ms. Anggie yang mengikuti langkah Nyonya.
Dengan tubuh berlumur darah, kupunguti baju-bajuku. Beberapa pasang mata mengawasiku penuh iba ada pula yang mencaci, menyumpah serapah. Selanjutnya dalam lunglainya sang tubuh, wajahku bagai tersulut api, dadaku terpanggang, rasanya seperti ada hawa panas berdesak-desak, menggerapai kerongkongan, menggumpal di rongga hidung, berjalar pelan, lalu bermuara di balik kelopak mata, kubiarkan saja air mataku merembes mengalir pelan di pipi. Mindaku seolah masuk dalam delusi dan berbisik agar aku tak perlu takut.
Tanganku merogoh ke dalam tas, kuraih telepon genggam yang hanya memiliki tiga fungsi, menelepon, mengirim SMS, dan melatih kesabaran. Kutekan beberapa nomor, dan mulai berbicara.
“Selamat malam, Mr. Chen!”
“Aku….” Dengan nada terbata-bata aku mengubungi agen, namun belum selesai berucap dia sudah memotong pembicaraan.
“Ya, aku sudah tahu.”
“Bermalam saja di rumah sakit.”
“Besok aku jemput.” Mr. Chen berkata dengan nada ketus, sepertinya dia sudah tahu apa yang terjadi. Dia tak memberiku kesempatan berbicara dan langsung mematikan telepon.
Bulir-bulir bening tak berhenti menetes, isak tangis lirih memecah keheningan malam yang semakin larut. Bahkan satu-satunya pelindung di negeri ini menelantarkanku. Aku ingat Ibu, aku ingin mengadu padanya. Tapi tidak, ini kecerobohan yang kubuat sendiri. Aku tidak boleh membebaninya. Aku tidak memahami isi kontrak kerjaku, ambisi untuk segera mengeruk NT mematahkan nalarku, itu kelalaianku.
“Ibu, aku sudah sampai di Taiwan, majikanku sangat baik. Ibu doakan anakmu ya?” Selayang SMS kukirim untuk Ibu, agar beliau tidak khawatir.
Dinginnya AC ruangan lobi rumah sakit membawa lamunku pada sebuah perenungan. Kejadian hari akan jadi pengalaman tak terlupakan seumur hidupku. Belajar, belajar, dan belajar dari setiap skenario hidup yang terjadi.
“Kamu pergi mandi dulu!” Seorang perawat tiba-tiba mendekatiku sambil mengulurkan sebungkus roti dan sekaleng susu.
“Malam ini aku boleh bermalam di kursi ini?” izinku padanya.
Dia mengangguk tanda setuju.

Hongkong, 17 Mei 2016
Catatan:
NT : New Taiwan Dollar
Medical check up : tes kesehatan
Han zi : aksara cina
Training: pelatihan

Formosa, Negeri yang Kukira Surga

Kaka Clearny / Formosa, Negeri yang Kukira Surga / Jassy Ae / tenaga kerja asing Dalam hembusan sapu-sapu angin November, dengan semangat super meluber-luber jiwa dan ragaku lesap menuju negeri empat musim, Taiwan yang melambaikan berjuta asa disetiap koin NT-nya. Iming-iming gaji tinggi yang ditawarkan, mematahkan kesetianku pada negeri jiran, Malaysia yang telah mengayomiku selama empat tahun. Bersama … Continue reading “Formosa, Negeri yang Kukira Surga”

Kaka Clearny / Formosa, Negeri yang Kukira Surga / Jassy Ae / tenaga kerja asing

Dalam hembusan sapu-sapu angin November, dengan semangat super meluber-luber jiwa dan ragaku lesap menuju negeri empat musim, Taiwan yang melambaikan berjuta asa disetiap koin NT-nya. Iming-iming gaji tinggi yang ditawarkan, mematahkan kesetianku pada negeri jiran, Malaysia yang telah mengayomiku selama empat tahun. Bersama maskapai Eva Air yang meliuk di birunya angkasa, menyelinap diantara gumpalan putihnya mega selama lima jam perjalanan mengantarkanku berjodoh dengan Keluarga Lin.

IKAW AT AKO SA MAGKABILANG MUNDO

MYLA FARILLON GAHUM / IKAW AT AKO SA MAGKABILANG MUNDO / Wala / dayuhang manggagawa IKAW AT AKO SA MAGKABILANG MUNDO Nandiyan ka mahal,nandito naman ako. Kapwa pinaglayo ng tadhana at trabaho. Ayaw mo sana,lalo na ako. Nag usap,kapwa nagmuni-muni at plano’y nabuo. Mahal ko kahit tayo’y magkalayo. Magkabilang mundo man ang ating tungo. Tandaan lang na walang … Continue reading “IKAW AT AKO SA MAGKABILANG MUNDO”

MYLA FARILLON GAHUM / IKAW AT AKO SA MAGKABILANG MUNDO / Wala / dayuhang manggagawa

IKAW AT AKO SA MAGKABILANG MUNDO

Nandiyan ka mahal,nandito naman ako.
Kapwa pinaglayo ng tadhana at trabaho.
Ayaw mo sana,lalo na ako.
Nag usap,kapwa nagmuni-muni at plano’y nabuo.

Mahal ko kahit tayo’y magkalayo.
Magkabilang mundo man ang ating tungo.
Tandaan lang na walang magbabago.
Isiping nasa iisang langit pa rin tayo.

Tungo mo ay iba,Taiwan naman ako.
Binabalandra ko ang lugar ko sa Iyo.
Nakikinig ka,nakikitawa,nakikiisa.
Nagpapasalamat at dito ako napunta.

Pamumukadkad at ganda ng Taiwan.
Sa tuwina’y aking pinangangalandakan
Sa tuwing tayo’y magkaharap sa Line.
Sukli mo’y sa susunod tungo mo’y dito naman.

Pahinga ka na mahal,oras mo ay iba.
Sa pagtulog sana iyong isama.
Ang isipin lang ay ang masasaya.
Bukas,makalawa tayo dito ay magkasama.
Salamat sayo Taiwan.Salamat,Salamat.
Sa mga oportunidad at sa aki’y pagtanggap.
Asahang respeto ko ay laging tataas.
Ibabalik sayo ang dapat at sapat.

Sekawan st 366 F 1

Firis Salsabilla / Sekawan st 366 F 1 / Teman satu kuliah / tenaga kerja asing Sekawan st 366 F 1 Rasanya aku baru kemarin berada di sini, tapi kenapa waktu berlalu begitu cepat berlalu. Seorang Iris yang dulu pergi ke Taiwan demi pelarian konyol kini malah bersedih ketika mengetahui hari kepulangan nya ke tanah air. Aku benar-benar … Continue reading “Sekawan st 366 F 1”

Firis Salsabilla / Sekawan st 366 F 1 / Teman satu kuliah / tenaga kerja asing

Sekawan st 366 F 1
Rasanya aku baru kemarin berada di sini, tapi kenapa waktu berlalu begitu cepat berlalu. Seorang Iris yang dulu pergi ke Taiwan demi pelarian konyol kini malah bersedih ketika mengetahui hari kepulangan nya ke tanah air. Aku benar-benar sudah merindukan bumi pertiwi, Indonesia. Di sana lah ku rasa senang. Benar ada nya, walaupun negeri tetangga lebih mashur dan permai tetapi tetapi kampung dan rumahku lah ku rasa senang*. Seketika ingatan ku mengimbas kembali di saat pertama kalinya aku menginjakan kakiku di sini, Taiwan.
Jonghe, November 2013
Selamat siang dan selamat datang di San Non. Nama kamu siapa? Seseorang menyapa ku yang tengah bingung apa yang akan aku lakukan di sini nantinya. Dia begitu ramah dan sangat bersahabat, Miss Sharon namanya. Itu adalah seseorang yang mengajak ku berbicara untuk pertama kalinya aku datang ke sini, Taiwan. Nama ku Iris Aryani. Tetapi Miss Sharon memanggil ku Yani, nama belakang ku jadi setiap orang yang berada di pabrik itu selalu memanggil nama belakang ku. Aku adalah seorang yang beruntung, bagaimana tidak? Bos ku sangat menyayangi ku terbukti ketika mereka untuk pertama kalinya menanyakan berapa umur ku, setelah mereka tahu umur ku mereka meminta agensi ku untuk memperkerjakan satu orang lagi karyawan yang berasal dari Indonesia. Yah, aku memang awalnya sendiri di sini tapi tidak lagi setelah kedatangan teman ku Kimi namanya.
Jonghe, Desember 2013
Kimi adalah teman ku satu – satunya bekerja di sini. Setiap pagi aku dan dia akan bergantian mengayuh sepeda untuk berangkat demi mengejar impian. Aku bekerja sebagai operator QC*. Aku dan Kimi layaknya seorang kakak beradik, yang masih sangat terlalu kecil untuk bekerja di negri orang. Walaupun aku terlihat kecil tetapi aku mempunyai semangat yang berapi, demi cita-cita ku aku rela walaupun harus bekerja di negeri sebrang. Aku rela melepaskan keinginan ku demi untuk tidak melanjutkan pendidikan ke tingkat perkuliahan. Jauh di sudut hati aku akan terus berjuang walaupun harus ku telan pahit nya kehidupan. “ Yani, apakah kamu mau aku belikan Man tao? Itu adalah salah satu kebaikan bos ku. Setiap akhir pekan dia akan menanyakan ku apa yang ingin aku makan, dengan malu – malu aku dan Kimi saling menganggukan kepala ketika bos ku akan memberikan sesuatu. Aku tahu itu sangat tidak sopan berbicara dengan bahasa tubuh tapi aku masih belum terbiasa berbicara mandarin.
Tamsui, Juli 2014
“ Yani, nanti siang kamu ikut saya ke pabrik Silitech untuk mengecek barang yang rusak. Itu perintah dari sang kepala pabrik kala itu. Walaupun aku belum lancar berbicara bahasa mandarin tetapi aku terkadang menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa keseharian ku. Tidak biasanya beliau mengajak ku pergi ke lain pabrik. Dia mengatakan bahwa jangan heran kalau tiba-tiba aku di suruh mengikuti beliau untuk melihat permasalahan barang yang di produksi oleh pabrik ku.
Jonghe, Desember 2014
Tiba-tiba saja bos ku memberikan sesuatu di amplop merah, setelah aku buka ternyata di dalamnya uang. Puji syukur tuhan, bos ku adalah orang yang sangat dermawan. Dia sangat baik dan orang yang sangat toleran. Dia mengetahui bahwa aku seorang muslim, dia mengizinkan ku memakai jilbab, membolehkan ku beribadah di pabrik ketika memasuki waktu sholat, bahkan ketika akan membeli kan sesuatu dia akan lebih dulu mengimbau kepada bendahara bahwa aku tidak boleh memakan babi, terkadang dia juga akan melihat bahan apa saja yang terkandung di dalamnya.
Jonghe, Agustus 2015
“ Yani, nanti tolong kamu yang mengajarkan barang – barang yang rusak yang tidak boleh di kirim dan barang yang bisa di kirim. Sekarang aku mempunyai seorang teman lagi, dia orang Vietnam tapi dia sudah menjadi penduduk sini, namanya Phuong Vi. Aku biasa memanggil dia vi, dia juga sangat baik kepada ku dan Kimi. Dia yang mengajarkan ku berbicara bahasa mandarin, dia sangat pintar berbicara bahasa inggris jadi aku bisa berkomunikasi dengan nya. Setiap hari aku bekerja dengan harapan yang tak pernah padam. Aku sangat terbantu dengan adanya vi bekerja satu grup dengan ku, menjadi seorang QC.
Jonghe, Desember 2015
“ San Non sangat puas dengan kinerja aku dan Kimi, sehingga pada akhirnya bos ku menambahkan satu karyawan lagi dari Indonesia, namanya Anita Pauru. Dia bukan bekerja sebagai qc seperti ku tapi menjadi operator produksi, setiap hari dia akan mendengar dentuman mesin, tidak ayal dia begitu kuat dan bersemangat dalam bekerja sehingga dia merupakan tangan untuk urusan cetak mencetak.
Jonghe, Januari 2016
Ternyata pabrik ku semakin hari semakin mengalami peningkatan yang cukup drastis, pabrik ku sedang kekurangan karyawan. Maka di putuskan dia akan mengambil satu orang karyawan lagi berasal dari Indonesia, Reni namanya. Dia bekerja sama seperti mbak Anita, sama-sama menjadi operator produksi. Di sini lah awal berwarna nya hidup ku. Aku semakin kerasan bekerja di sini. Terlepas dari bos ku yang sangat menyayangi ku, aku semakin menikmati pekerjaan ku sebagai seorang QC. Maka, aku memutuskan untuk memperpanjang kontrak ku. San Non dunia ku, tempat ku bermetamorfosis. Tempat ku mencari rezeki demi cita-cita ku. Sekawan San Non yang menghidupkan ku. Aku, Kimi, Anita dan Reni.

Setangkai tak rasa

Susiyanti / Setangkai tak rasa / tidak ada / tenaga kerja asing Setangkai Tak Rasa (Boneka-boneka Hidup) Mereka telah berubah; mereka sudah tak membutuhkanku …” Mama menjatuhkan tongkat, lalu perlahan-lahan melangkahkan kakinya ke sofa. Dia melihat dua anaknya beserta menantunya sedang asik menonton televisi. Mark melihat Mama dan mendengus. “Sudah ku katakan, lebih baik kita harus mencari orang … Continue reading “Setangkai tak rasa”

Susiyanti / Setangkai tak rasa / tidak ada / tenaga kerja asing
Setangkai Tak Rasa
(Boneka-boneka Hidup)
Mereka telah berubah; mereka sudah tak membutuhkanku …”

Mama menjatuhkan tongkat, lalu perlahan-lahan melangkahkan kakinya ke sofa. Dia melihat dua anaknya beserta menantunya sedang asik menonton televisi.
Mark melihat Mama dan mendengus.
“Sudah ku katakan, lebih baik kita harus mencari orang untuk menjaga Mama.” Ujar Peter.
“Itu betul.”
“Lagi pula dengan begitu lebih mudah dan tidak merepotkan kita.”
“Tentu saja.”

Mama menatap anaknya sangat lama, perhatian yang lambat laun berubah menjadi ketidak pedulian.

Kenapa? Kenapa tak kalian saja yang menjaga Mama?
“Kita semua sibuk, tidak mungkin harus menjaga Mama selama 24 jam.”
Tapi Mama masih bisa melakukan rutinitas sendiri. Kalian tak perlu khawatir Mama tidak akan merepotkan kalian.
“Tidak mungkin.”
Jadi, apa gunanya menjadi anak jika kalian tak mau menjaga Mama?
“Tidak seperti itu.”
Lalu apalagi?
“Mungkin seperti ini, aku memilih orang lain untuk menjaga Mama bukan berarti kami dengan sengaja mengasingkan Mama.”
“Lagipula dengan adanya orang yang bisa menjaga Mama 24 jam, kami tidak akan dihantui rasa khawatir” Ujar Peter.
Begitu ya?
Mata Mama mulai berkaca-kaca.

Untuk beberapa saat ruangan terasa senyap sekali, hanya terdengar celotehan acara sajian televisi yang begitu monoton.

Apa kalian tidak bisa memikirkan lebih panjang lagi?
“Tidak Ma, besok kami akan mengurus orang yang akan menjaga Mama nanti.”
Tapi, Mama tidak mau!
“Sudahlah Ma, turuti saja mau kami.”
Tapi, hmmm ….
Kemudian Mama tidak bisa berkata-kata lagi, bibirnya seakan terasa berat untuk berucap. Dunia seakan sedang mengutuknya, perasaan terabaikan, ketidakpedulian tertampak sudah diraut wajah anak-anaknya. Mama mulai mencoba untuk menepiskan dukanya, mendengar hal itu seperti tamparan keras mengenai wajahnya.

Mama tak tahu apa yang kalian pikirkan, tapi itu tidak akan membuat keadaan menjadi lebih baik.
“Mama harus mencoba pendapat kami.”
Mama tidak bisa, Nak.
“Mama itu cerewet!” geram Peter.
“Tak ada yang sebaik dari pendapat kami.” Mark berkata, dan memandang Mama.
“Kedengarannya mengerikan.”

Dua puluh menit kemudian, Mama menghirup napas dalam-dalam. Ia mulai menyadari bagaimana tangan-tangan alam yang telah membentuk alur kehidupannya, bagaimana dia akan bisa menikmati setiap jengkal waktu menghiasi harinya?, betapa sangat tampak suram masa depannya.

“Mama, ini terakhir kalinya kami datang kesini. Besok kami pindah.”
Kenapa pindah?
“Ada urusan.”
Dimana?
“Amerika.”
Untuk apa?
“Bekerja disana.”
Peter berpikir kembali selama beberapa detik dan segera saja teringat akan janjinya.
“Aku harus pergi, Ma. Soalnya banyak hal yang perlu diurus.”
Kenapa kalian mengorbankan masa tua Mama hanya untuk pekerjaan kalian?
Mark memandang Mama, ia merasa tertuduh dan disudutkan. Emosi semakin menguasainya.
Dulu Mama meninggalkan karier hanya ingin mengurus kalian, dan sekarang nyatanya kalian lebih mencintai pekerjaan kalian. Beberapa orang terlahir sebagai Ibu yang baik, seperti lebah yang hendak menghisap setangkai sari bunga tanpa rasa.

Peter dan Mark menertawai hal itu,
**
Karena itu, pintu sempit telah membawa Mama tepat keruangan penuh boneka-boneka yang dipapah, disuapin, dimandikan dan masing-masing diterangi cahaya usang dari sudut bola matanya. Dan begitu juga setelah itu, Mama berteman dengan imajinasinya. Tak ada solusi, dan bagian lain dari dirinya telah merayap pergi sampai menemukan lubang untuk menunggu mereka yang telah mengasingkannya.
Mama mulai membuka jendela dan menatap sekeliling rimbunan pohon yang mendayu-dayu dengan tatapan kosong seketika bergumam;
“Aku sudah berada dijalan yang mereka inginkan, dirumah ini, tentang boneka-boneka hidup yang terus mengangguk-angguk.”
…..