SELANG KEHIDUPAN

EMBUN / SELANG KEHIDUPAN / WANTI / Indonesia / tenaga kerja asing SELANG KEHIDUPAN Pagi yang tidak pernah pungkiri janjinya untuk selalu hadir buat seisi dunia, juga selalu punya cara untuk membuat semua penghuni bumi bangun dan tersenyum lagi. Di sebuah kontrakan tanpa jendela. Seorang gadis baru saja terbangun dari tidurnya. Ia bergegas mandi dan merapikan diri. Tujuannya … Continue reading “SELANG KEHIDUPAN”

EMBUN / SELANG KEHIDUPAN / WANTI / Indonesia / tenaga kerja asing

SELANG KEHIDUPAN
Pagi yang tidak pernah pungkiri janjinya untuk selalu hadir buat seisi dunia, juga selalu punya cara untuk membuat semua penghuni bumi bangun dan tersenyum lagi.

Di sebuah kontrakan tanpa jendela. Seorang gadis baru saja terbangun dari tidurnya. Ia bergegas mandi dan merapikan diri. Tujuannya kali ini adalah pergi ke tempat penampungan. Jauh dari ibu dan adik-adiknya. Ia nekat pergi ke penampungan. Baginya tempat itu adalah salah satu tempat persinggahan, yang bisa mengantarkannya untuk pergi sejauh mungkin dari tanah kelahirannya. Untuk mewujudkan cita-cita dan memenuhi kebutuhan ibu dan juga adik-adiknya.

Ia sudah terlalu bosan dengan keadaan hiruk—pikuk Ibu kota tempatnya bekerja yang hanya cukup memenuhi kebutuhan untuk makan saja. Baginya tempat penampungan itu tak begitu special. Tapi ia mempelajari ilmu kehidupan dari para sahabatnya yang selalu berkeluh kesah kepadanya.

Gadis pernah hidup selama lima purnama di tempat itu. Sebelum dirinya singgah di Taiwan.
Tempat yang bagaikan penjara. Untuk sekedar keluar menghirup udara segar, tak pernah ia rasakan. Waktu begitu cepat melesat dan mengantarkannya terbang ke bumi Formosa.

Ia bekerja pada keluarga yang sangat berada. Pasiennya seorang wanita yang masih cantik walaupun sudah lansia.

Di ruang tunggu masih sama dipenuhi para jiwa yang terkapar, hanya oksigen setia berkabar. Mesin denyut waktu penentu, selang-selang masih setia menyatu. Amplikasi perlahan menggerogoti tubuh yang mulai tak berdaya. Dingin bagai bongkahan es, panas bagai api lepas.

Di ujung terlihat jendela, ketukan embun merangkang segera. Hingga tetesannya menahan dahaga lelah. Senyumnya tampak ada, meski wajah mulai tak berseri. Akankah menunggu akhirnya pergi.

Di rumah sakit seorang perempuan cantik itu berteriak-teriak karena kesakitan dengan penyakit yang dideritanya. Usiannya yang menjelang 87 tahun dirinya masih terlihat sangat muda. Bahkan anaknya juga kalah cantiknya.

Ketika badannya terkapar di ranjang, hanya peralatan medis yang setia menempel. Jantungnya pun sudah bocor dua kali operasi. Kini tubuhnya tergantung dengan peralatan medis. Tiap malam selalu meraung-meraung suaranya meminta tolong.

Sang anak pun menyuruh pihak medis memasang peralatan yang lengkap dan mahal. Mereka sanggup membayar semuanya bahkan tak segan-segan mendatangkan dokter dari luar Negeri. Sayangnya para dokter dan perawat sudah angkat tangan. Mereka pun tidak bisa berbuat apa-apa?

Hanya seorang gadis yang masih setia duduk di samping ranjang pasiennya. Ia masih saja setia berada tempat itu. Berharap yang dirawatnya pun segera pulih dan bisa tersenyum menyapa dirinya.

Sudah tiga belas purnama gadis masih setia menemani pasiennya itu. Tiap hari ketika ia memandang pasiennya hanya buliran yang selalu membasahi pipinya. Berharap mukjizat Sang Kuasa datang menghampiri. Ingatan akan rasa kehilangan selalu terpahat jelas dipikirannya. Karena baginya tidak mudah, petualangan yang sering kali di singgahi punya tempat khusus di hatinya.

Taoyuan,17-03-2016.

 

Semangat Al-Hujuraat 13 untuk Buruh Migran sebagai Pewaris para Nabi-nabi

Luciana / Semangat Al-Hujuraat 13 untuk Buruh Migran sebagai Pewaris para Nabi-nabi / Tidak Ada /  Indonesia / Ex BMI Taiwan Judul Artikel: Semangat Al-Hujuraat 13 untuk Buruh Migran sebagai Pewaris para Nabi-nabi Sebelum mencapai maksud pokok-pokok artikel ini, mari dibaca sebuah ayat dari Al-Quran sebagai berikut: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang … Continue reading “Semangat Al-Hujuraat 13 untuk Buruh Migran sebagai Pewaris para Nabi-nabi”

Luciana / Semangat Al-Hujuraat 13 untuk Buruh Migran sebagai Pewaris para Nabi-nabi / Tidak Ada /  Indonesia / Ex BMI Taiwan

Judul Artikel: Semangat Al-Hujuraat 13 untuk Buruh Migran sebagai Pewaris para Nabi-nabi
Sebelum mencapai maksud pokok-pokok artikel ini, mari dibaca sebuah ayat dari Al-Quran sebagai berikut:
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan berbangsa-bangsa,dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antaramu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha mengenal.”

(Q.S Al-Hujuraat, surat 49 ayat 13)
Mari kita sejenak kembali kepada Sidang PBB yang ke-XV pada tanggal 30 September Tahun 1960. Pada saat itu, Ir. Sukarno membacakan ayat ini dengan kewibawaan yang tinggi di hadapan seluruh negara-negara anggota PBB dan lima negara yang memiliki hak veto. Apa yang melatar belakangi Presiden pertama Republik Indonesia ini dengan ayat Tuhan itu? Adalah sebuah sinyal bagi seluruh negara-negara di dunia, bahwa Tuhan menciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa sebagai karunia dan rahmat-Nya. Yah, ini menjadi menarik bagi seluruh buruh-buruh migran di dunia.
Dari pidato Bung Karno yang ia beri judul: “To Build The New World”, atau membentuk sebuah tatanan dunia baru, yang telah sama kita mahfumi sebelumnya terjadi Perang Dunia Ke-2, atau peristiwa Kemerdekaan Republik Indonesia dari penjajahan Belanda, maka, secara tidak langsung, Bung Karno-lah yang pertama kali membuka hal ini di sana. Sesungguhnya, inilah inti persamaan hak untuk hidup dan diakui sebagai manusia-manusia yang merdeka. Inilah inti keberagaman dalam kebersamaan yang indah itu. Lalu, bagaimana kondisi hak untuk hidup ini sekarang? Terutama kepada buruh-buruh migran yang berjuang di negara-negara lain untuk mencari penghidupan yang lebih baik lagi?
Sekarang, mari sejenak kita renungi pula amanat dalam Konvensi Internasional tentang perlindungan hak semua buruh migran dan anggota keluarganya, yang termaktub dalam Organisasi Buruh Internasional (ILO), seperti dalam konvensi mengenai migrasi untuk bekerja (No. 97), konvensi mengenai migrasi dalam keadaan teraniaya dan pemajuan persamaan kesempatan dan perlakuan bagi buruh migran (No. 143), atau mengenai konvensi penghapusan tentang kerja paksa (No. 105), sudahkah semua instrumen-instrumen ini (juga dari seluruh instrumen-instrumen di dalam sistem dan aturan migran negara-negara) berjalan dengan normal?
Saya kira, berdasarkan pengalaman saya yang bekerja sebagai buruh migran di Taiwan, konvensi-konvensi dan instrumen-instrumen ini bahkan belum tersosialisasi dengan baik. Saya kira pula (lagi dan lagi), sebagai buruh-buruh migran, sudah sepatutnya mempelajari konvensi-konvensi internasional ini, berikut seluruh perangkat-perangkat hukum lainnya, agar menjadi pegangan sebagai pengingat, jika suatu ketika mendapat kesulitan. Kesulitan pertama kali hidup untuk bekerja di sebuah negara adalah beradaptasi primer (utama). Adaptasi dengan sistem hidup di negara itu, adaptasi dengan hukum-hukum positif di negara itu, adaptasi dengan bahasa nasionalnya, adaptasi dengan keanekaragaman budaya dan seni, adaptasi dengan segala keramahan dan kejahatan yang tampak atau samar di negara itu. Banyak adaptasi-adaptasi lainnya yang bersifat sekunder, misalnya, pergaulan hidup, cara berdandan, tentang makanan, tentang tempat tinggal, tentang majikan, tentang transportasi, dan hal-hal sekunder lainnya yang penting pula di sini dikenal.
Kita, atau Anda yang saat ini menjadi buruh migran, tentu tak ingin mendapatkan masalah saat sudah di negara lain. Jadi, sebelum keberangkatan, belajarlah tentang seluruh aspek-aspek pokok sosial budaya dan hukum yang menjadi sendi-sendi negara tujuan itu. Tentu pula skill/keterampilan yang dimiliki terus ditingkatkan. Kita memiliki negara, sedang mereka adalah sebuah negara lain yang menjadi tumpuan hidup, maka, kitalah yang sebenarnya selangkah maju berdasarkan ayat Tuhan yang dibacakan oleh Bung Karno itu. Bukankah kita yang mendatangi mereka? Bukankah inilah proses untuk mengenal suku-suku dan bangsa-bangsa yang banyak itu? Bukankah kita menjadi paham dengan segala sistem negara yang dimiliki mereka? Menurut saya, mereka yang telah siap dengan pondasi yang kuat sebelum berangkat, maka ini yang menjadi kebaikan yang akan didapatkan. Bukan nantinya di sana menjadi terlunta-lunta, menderita, menjadi beban di negara tujuan.
Tetapi, memang, tidak semua kisah hidup itu bak cerita Cinderella, atau kisah dongeng oleh HC. Andersen yang selalu berakhir bahagia. Banyak kawan-kawan buruh migran yang mengalami nasib buruk. Banyak dari mereka kita dengar di berita-berita menjadi pesakitan, terhukum berat, akibat situasi yang buruk dialaminya saat bekerja. Ada dua kemungkinan menurut saya, pertama, situasi buruk itu akibat ketidaksiapan mental dan fisik sebelum berangkat ke tujuan, atau memang mendapatkan bos atau majikan yang berbudi lalim dan kejam. Jika kemungkinan pertama ini yang terjadi, maka, ini menjadi barometer pemerintahan negara yang mengirimkan buruhnya, agar melakukan seleksi yang ketat. Artinya, tes-psikotest harus benar-benar dilakukan. Pemerintah jangan hanya melihat ‘target’ pengiriman buruh-buruh, tetapi benar-benar men-seleksi yang terpilih. Mengapa? Sebab, jika proses pengiriman ‘ngasal’ saja yang dilakukan, maka, akibat yang ditimbulkan berdampak negatif sangat besar. Apa mau, buruh yang menjadi ‘martir-martir’ itu malah membuat coreng-moreng wajah negara sendiri? Akibat proses rekrutmen yang tidak konsisten?
Jika kemungkinan kedua yang didapatkan, hal inilah yang menjadi perhatian serius pula. Maka, pada kemungkinan satu, sudah diberikan penyuluhan—untuk mengantisipasi—bagaimana jika buruh migran yang sudah siap tempur itu—suatu ketika—mendapatkan bos, perusahaan, atau majikan yang jahat. Tentu mereka diberikan cara-cara atau alternatif lainnya. Misal, ke mana harus dilaporkan saat mendapatkan kejadian pahit ini. Hal inilah yang harus dilakukan, walaupun dengan syarat yang minim sekalipun.
Ada hal lain yang menurut saya bisa membantu para buruh migran ini aman dan selamat hidup bekerja di negara orang. Pemerintah melalui Departemen Luar Negeri, atau Departemen Tenaga Kerja, terus melobi kepada negara-negara tempat tujuan buruh migran, agar mereka memperhatikan keselamatan dan kesejahteraan buruh-buruh kita ini, dari bos, perusahaan, atau majikan yang tidak manusiawi. Saya kira, pemerintah perlu pula menanamkan secara simbolis kepada negara-negara tujuan, bahwa, yang dikirimkan ini adalah manusia-manusia yang hidup dan siap bekerja dengan profesional, manusia-manusia yang memiliki harga diri sebuah bangsa yang merdeka, manusia-manusia yang sama tinggi derajatnya dengan para bos-bos atau majikan-majikan itu. Bukan dilihat dari sisi pangkat dan derajat, tetapi dilihat dari sisi kemanusiaannya. Saya yakin, jika pelan-pelan ini ditanamkan, dan memang benar-benar berniat memberikan perlindungan paling hebat kepada setiap warganegaranya yang berjuang di negeri orang, maka, tak ada kata lain: dijalankan dengan penuh tanggung jawab oleh pemerintah! Bukan hanya sekadar lipservice belaka.
Inilah sedikit sumbangsih pemikiran dari saya selaku buruh migran. Saya berharap, kepada kawan-kawan yang membaca tulisan ini, mendapatkan manfaat. Saya sebagai buruh migran tentu memiliki kisah getir juga, namun, setelah membaca tentang segala aturan dan sejarah dunia, saya berkesimpulan: “Buruh migranlah yang membawa pesan-pesan Surat Al-Hujurat ayat 13 itu.” Saya tak pernah merasa rendah diri atau minder, mengapa? Bukankah kita mendapatkan segala ilmu-ilmu yang bermanfaat di negara lain? Kita pandai berbahasa mereka. Kita tahu segala adat mereka. Kita tahu tempat-tempat wisata indah mereka. Kita paham kesulitan-kesulitan mereka. Bahkan, banyak di antara kita pun menikah dengan mereka. Inilah bekal yang kita bawa pulang nanti. Segudang pengalaman hidup yang bermanfaat ataupun pengalaman pahit—untuk membangun Ibu Pertiwi kita: Indonesia tercinta.
Tak disangka, buruh migran pula tak langsung pewaris para nabi-nabi. Membawa pesan persamaan hak dan perdamaian ke seluruh dunia. Subhanallah. Saya merasa berbahagia. Kalian pun sama. Berbahagia.

16 Maret 2016

Luciana

Anh_ Đài Loan ngàn dặm

Mai sinh / Anh_ Đài Loan ngàn dặm / Không / Việt Nam / lao động quốc tịch nước ngoài Anh ơi! Đài loan mùi biển vắng. Quanh co núi rừng xanh ngắt đường đi. Em nghe, nghe tiếng hò của biển, Một khúc dân ca đậm chất tình. 101 kho vàng tháp bạc, Long lanh giữa trời tỏa … Continue reading “Anh_ Đài Loan ngàn dặm”

Mai sinh / Anh_ Đài Loan ngàn dặm / Không / Việt Nam / lao động quốc tịch nước ngoài

Anh ơi! Đài loan mùi biển vắng.
Quanh co núi rừng xanh ngắt đường đi.
Em nghe, nghe tiếng hò của biển,
Một khúc dân ca đậm chất tình.

101 kho vàng tháp bạc,
Long lanh giữa trời tỏa sức sống nơi nơi.
Là anh_ hay là người bản xứ,
Hơi ấm bao trùm giữ chọn tim em.
Cùng em đến thành Tưởng Giới Thạch.
Bước nhẹ nhàng trong lời vọng cổ xưa.
Uy nghi_trang trọng !
Kiên trúc đẹp tựa dấu ấn Đài Loan.
Em đã đến bên anh Ken Ding,
Sóng xanh ngời, ngọc bích biển khơi,
Nắng trải dài con đường đỏ rực.
Đẹp như bức tranh huyền diệu,
Của đức Mẹ thiên nhiên.

Anh ơi, Đài Loan miền đất hứa.
Mang cho người người cuộc sống giàu sang.
Gửi cho em tình người nơi Đảo Ngọc,
Xa xôi rồi Đài Loan ngàn dặm yêu.

Lao động bỏ trốn- “Giận mà Thương”

Đặng Quốc Quân / Lao động bỏ trốn- “Giận mà Thương” / không / Việt Nam / lao động quốc tịch nước ngoài Mỗi sáng thức dậy, đọc báo mạng đều thấy những tin tức như là “lao động nước ngoài bỏ trốn bị công an bắt ,lao động nước ngoài bỏ trốn mượn thẻ bảo hiểm của người … Continue reading “Lao động bỏ trốn- “Giận mà Thương””

Đặng Quốc Quân / Lao động bỏ trốn- “Giận mà Thương” / không / Việt Nam / lao động quốc tịch nước ngoài

Mỗi sáng thức dậy, đọc báo mạng đều thấy những tin tức như là “lao động nước ngoài bỏ trốn bị công an bắt ,lao động nước ngoài bỏ trốn mượn thẻ bảo hiểm của người khác để đi khám bệnh bị phát hiện…hay những tin tương tự như vậy. Thử nói xem nếu một người hỏi các bạn “ Nếu những lao động nước ngoài ấy là đồng bào của bạn, bạn cảm thấy thế nào ? “ ,tôi chả cần suy nghĩ mà trả lời ngay rằng “ giận mà thương” 。 Vì sao ư ??? Tôi xin nói về vế đầu tiên ,” giận“ Tôi luôn tự đặt câu hỏi rẳng tại sao các bạn nước tôi lại làm thế? Chắc các bạn ấy phải biết được những cái được và cái mất khi bỏ trốn rồi chứ? Chắc các bạn ấy suy nghĩ đủ chin chắn để quyết định như vậy chứ ? và gia đình các bạn ấy liệu có an tâm khi các bạn ấy làm như vậy ? Tôi giận khi các bạn tự mình từ bỏ quyền lợi được chăm sóc sức khỏe khi sinh sống và làm việc tại Đài Loan. Khi ốm đau ,sẽ không được hưởng quyền lợi như nhưng người bình thường, thăm khám bênh cứ phải dùng thân phận giả hay mượn thân phận người khác để đi khám mà trong lòng lúc nào cũng nơm nớp lo sợ bị phát hiện. chẳng phải đấy là điều các bạn muốn chăng . Nhìn những bức ảnh cuộc sống lưu vong của các bạn , tôi rơi nước mắt nhưng cũng giận lắm chứ? Các bạn có nơi ăn trốn ở có định, tuy không bằng ở nhà mình được đâu nhưng nó cũng là của riêng bạn vậy mà các bạn bỏ để chấp nhận cuộc sống chui lủi, ăn xó mó lieu, nay đây mái đó, hẳn đó mới là cách các bạn mong muốn? Tôi giân khi các bạn coi nhẹ chính sing mạng của mình. Khi không có một công việc ổn định các bạn phải dấn thân đitìm, bất chấp công việc nguy hiểm, bất chấp bản thân nguy hiểm chỉ để kiếm được tiền. Liệu các bạn có nghĩ rằng nếu kiếm tiền mà các bạn có vấn đề gì thử hỏi người nhận đồng tiền đó sẽ có cảm giác gì? Khi các bạn ra nước ngoài làm việc , các bạn đại diện cho hình ảnh tầng lớp lao động phổ thông của đất nước các bạn , nhìn vào các bạn, họ sẽ đánh giá những người đồng trang lứa với các bạn để rồi suy nghĩ tiếp tục sử dụng anh em đồng bảo của các bạn để làm việc cho công ty họ không? Nhưng thực tế thì sao ? Ngày nào cũng có lao động bỏ trốn, rồi thì rượu chè đánh nhau gây mất trật tự , rồi thì trộm cắp … Đói ăn vụng túng làm liều mà. Chính nhờ các bạn mà cơ hội cho những người có khát khao muốn sang nước ngoài làm việc chính đáng bị giảm đi một phần nào đó, chính nhờ các bạn mà mỗi khi nhận là đồng bào của các bạn thì chúng tôi nhận lại những ánh mắt ,lời nói không mấy thiện cảm . Như vậy chả phải oan uổng cho những người lao động chân chính ,cho những người thật sự cầu thị , như vậy không chỉ tôi mà người khác cũng giận các bạn. Nhưng thiết nghĩ ,”bầu ơi thương lấy bí cùng/ tuy rằng khác giống nhưng chung một giàn”, tôi cũng rất “thương” các bạn. Tôi thương các bạn vì ước mơ hoài bão đổi đời bị vùi dập không hề thương tiếc. Trước khi các bạn sang đây chắc đước vẽ ra một thế giới màu hồng mỹ mãn, công việc nhẹ nhàng, sạch sẽ, lương cao như kiểu ngồi mát ăn bát vàng, các bạn có tiền rủng rỉnh mà gửi về nhà , mà mua cái nọ cái kia. Các bạn nào có ngờ rằng chào đón mình là những công việc nặng nhọc , mệt mỏi trái ngược với những gì mình tưởng tượng hoặc được người khác vẽ ra cho mình. Khi không có hứng thú thì lấy đâu tinh thần làm việc , tôi hiểu chứ. Tôi thương khi các bạn gánh một khoản nợ khổng lồ mà với lứa tuổi đang lớn, tuổi ăn tuổi chơi như thế thì đó là một con số không tưởng. Để sang được nước khác các bạn phải chuẩn bị một khoản phí môi giới không hề nhỏ, tôi không cần đề cập đến phần lam thu , chỉ nói đến chi phí thuần thôi nhưng có gia đình nào trong nhà có đủ số tiền lớn như thế? Nói thật nếu có nhiều như thế chắc bố mẹ sẽ cho các banjhocj cái nghề tự kiếm sống chứ chẳng để con cái mình đi xa như vậy. Đa phần đều phải đi vay mượn cầm cố mới đủ số tiền cho các bạn đóng khoản phí đó, tương lai mong mỏi các bạn có thẻ trả số tiền đó .Các bạn phải từ bỏ ươc mơ của bản thân để bước sang một đất nước khác với gánh nặng cơm áo gạo tiền của gia đình. Áp lực của đồng tiền đè nặng trên đôi vai non nớt ấy.May mắn cho những ai có thể tìm được công xưởng tốt , công việc đều đặn có tang ca. Nếu rơi vào công xưởng mà không có việc, tang ca không có lấy đâu tiền mà gửi về, ước mơ của mẹ, của em làm sao có thể thực hiện? ắt hẳn tức nước thì vỡ bờ thôi, tôi tin lựa chọn bỏ trốn là điều bất đắc dĩ mà không ai muốn cả. Ai cũng có cuộc sống của riêng mình, tôi không nói các bạn nên hay không? Đúng hay sai khi bỏ trốn? Tôi cũng không là người vĩ đại gì để có thể giúp các bạn đòi lại những quyền lợi chính đáng cần được hưởng? Tôi chỉ mong các bạn suy nghĩ cho kỹ khi quyết định và sẵn sàng chấp nhận những kết quả của nó mang lại.Chỉ mong thông qua bài viết này để mọi người biết suy nghĩ của những người đồng bào- anh em của các bạn. Thân

 

 

meniti pelangi

Tri / meniti pelangi / tidak ada / Indonesia / tenaga kerja asing Meniti pelangi Seperti warna pelangi Penuh warna Begitu pula kisah anak Manusia ini Sebut saja ani… Gadis desa dari keluarga yang kurang mampu.. Ani masih muda baru lulus smp Tapi karena ketidak mampuan orang tuanya.. Ani memilih berhenti sekolah. membiarkan kakak dan adik saja yg … Continue reading “meniti pelangi”

Tri / meniti pelangi / tidak ada / Indonesia / tenaga kerja asing

Meniti pelangi
Seperti warna pelangi
Penuh warna
Begitu pula kisah anak Manusia ini
Sebut saja ani…
Gadis desa dari keluarga yang kurang mampu..

Ani masih muda baru lulus smp
Tapi karena ketidak mampuan orang tuanya..
Ani memilih berhenti sekolah. membiarkan kakak dan adik saja yg sekolah..
Di benak pikiran ani…aku harus bisa memenuhi keinginanku kebutuhanku sendiri tanpa harus menyusahkan bpk ibu…
Dari gemblengan hidup yg pas pas an ini lah timbul niat gadis ini..
Untuk bekerja,,,
Waktu itu ada pengumuman di Depnaker tempat tinggal ani
Sebuah pabrik triplek membutuhkan karyawan dan karyawati
Lalu dengan tekat dan hny berijazah smp ani ingin mendaftarkan diri.
Sore itu di dapur sambil membantu mak nya masak
Ani mengutarakan niatnya.
Mak”ada pengumuman di Depnaker lewat radio..
Pengumuman apa nak..?
Di Kalimantan timur membutuhkan tenaga kerja mak.
Ani ingin ndaftar
Ani pengin kerja mak.
Nak itu jauh,,, apa kamu ngk pengin meneruskan sekolahmu?
Ngk mak,, aku pengin kerja aja.
Nak apa kamu nanti ngk iri mbakmu dan adik mu sekolah..?
Ani tetap bersikeras…
Ngk mak biar mbak dan adik aja yg sekolah,
Ani tetap pengin kerja biar bisa membeli apa yg ani mau dan bisa membantu mak bapak.
Lalu dengan izin kedua orang tuanya
Ani mendaftarkan diri dan di terima.
Berangkatlah gadis kecil itu ke pulau seberang dengan sejuta mimpi dan harapan.
Tapi memang kadang tak seindah yg di impikan.
Setelah beberapa bulan bekerja
Karena punya wajah yg lumayan cantik.
Ani pun banyak yg mendekatinya
Dan ani pun terlena hingga menerima cinta salah seorang pria
Bahkan mengajaknya lari dari kontrak kerja yg belum finis.
Dengan umur yg terbilang masih muda 15 thn
Jatuh cinta hingga lupa niatnya dan tujuannya,
Lalu mereka berdua pulang kampung berniat untuk menikah..
Setelah menikah,,,,ini awal dari penderitaan ani..
Yg bermimpi meniti pelangi kehidupan
Ternyata penderitaan yg di dapatkan.
Suami yg di cintainya menjualnya ke tempat makelar untuk di jadikan pelacur..
Air mata terus menjadi teman setianya..ketidak berdayaa wanita Malang ini ada yg simpati.
Seorang pemuda cina menebusnya
Agar ani bisa bebas dari lembah hitam itu..
Kembali menjadi dilema ani yg masih muda itu.
Antar ingin kembali pulang ke kampung ato menyusul suaminya di luar pulau..
Bila memilih pulang di kampung
Ani malu dengan semua tetangga
Yg mengetahui betapa kotornya dia.
Lalu tidak ada pilihan lain kecuali menyusul suaminya..
Lalu mereka kembali hidup bersama
Ani memaafkan suaminya
Dan mengabdi sebagai istri yg baik walau sudah tidak ada cinta di hatinya..
Setelah beberapa thn berlalu
Dijalani hidup sebagai seorang istri dan ibu dari dua anaknya.
Kembali cobaan itu menerpa kesabarannya.
Pabrik tempat suami kena imbas moneter dan gulung tikar.
Lalu ani dan keluraga kecilnya harus plang ke kampung di tempat mertuanya..
Lalu suami ani menyuruh ani untuk menjadi tkw,,
Walau dengan berat hati karena harus berpisah dengan anaknya..
Tapi ani juga ingin agar anaknya bisa sekolah,, maka ani pun berangkat mengikuti proses tujuan negara Taiwan.
ani bermimpi ingin meraih pelangi
Dengan bekerja keluar negeri
Tetapi kembali semua tak seindah mimpi..
Ani terjerembab pada lingkungan yg bebas.
Mungkin kesakitan hatinya
Keputus asaan meraih pelangi kehidupan yg tak kunjung di tangan
dan tak kuatnya iman hingga menjadi pencandu narkoba..
Melapiasankan kekecewaan
Dan penderitaan pada benda yg tidak menolongnya tapi menjerumuskan dirinya hingga harus menjadi tkw kuburan…..semakin bebas tanpa kendali..
Ketergantungan obat yg membuat ani harus membayar mahal
Bukan hanya harus kehilangan pekerjaan, keluarga bahkan nyawanya…
Ani di temukan tewas di sebuah tempat kontrak an karena overdosis dalam mengkonsumsi narkoba.
Ani yg Malang
Ani yg tak pernah meraih pelangi
Karena tak sabar menunggu hujan reda…
Yaa kebahagiaan itu pasti butuh perjuangan..
Kebahagiaan itu pasti ada cobaan
Seperti pelangi akan ada
Setelah ada mendung lalu hujan itu reda….
Maka jangan pantang menyerah
Untuk meraih pelangi kita
Sabar dan terus berusaha
Pasti kita bisa meniti pelangi jingga

# FORMOSA FATAMORGANA #

SAROH / PUISI / TIDAK ADA / Indonesia / tenaga kerja asing # FORMOSA FATAMORGANA # FORMOSA adalah TAiwaN Indah Nan Elok Tuk DipaNdanG Tp TerkadaNg BuaT KesediHaN NamuN Banyak ORang Ingin MenyeberanG dalam KeadaaN FORMOSA FATAMORGANA PENUH PANCA ROBA KELUH KESAH SUSAH SENANG PENUH TANTANGAN FORMOSA FATAMORGANA KU ARUNGI DGN SABAR DAN DOA AGAR … Continue reading “# FORMOSA FATAMORGANA #”

SAROH / PUISI / TIDAK ADA / Indonesia / tenaga kerja asing

# FORMOSA FATAMORGANA #

FORMOSA adalah TAiwaN
Indah Nan Elok Tuk DipaNdanG
Tp TerkadaNg BuaT KesediHaN
NamuN Banyak ORang Ingin MenyeberanG
dalam KeadaaN

FORMOSA FATAMORGANA
PENUH PANCA ROBA
KELUH KESAH SUSAH SENANG
PENUH TANTANGAN

FORMOSA FATAMORGANA
KU ARUNGI DGN SABAR DAN DOA
AGAR KELAK MENJADI INDAH PADA WAKTUNYA

FORMOSA FATAMORGANA
TERIMA KASIHQ PADANYA
KARNANYA Q JADI DEWASA
BERDEPAN DLM SETIAP UJIAN

FORMOSA FATAMORGANA
SEMANGAT ADALAH PEDOMAN
DALAM MENJALANI KEHID

2016.3.13 Press conference

豐富文學版圖 移民工文學獎開跑 2016-03-13 18:17 台灣醒報 記者楊尚為╱台北報導 移民工透過文學,分享生活經歷。由四方文創、國立台灣博物館、國立台灣文學館等單位共同協辦,邀請印尼知名作家、母語評審、導演李崗以及社運工作者陳素香等決選評審,13日宣告第三屆移民工文學獎正式啟程,鼓勵新移民書寫生命經歷,為台灣社會留下更多元、真實的紀錄。

照片(1)

豐富文學版圖 移民工文學獎開跑
2016-03-13 18:17
台灣醒報 記者楊尚為╱台北報導

移民工透過文學,分享生活經歷。由四方文創、國立台灣博物館、國立台灣文學館等單位共同協辦,邀請印尼知名作家、母語評審、導演李崗以及社運工作者陳素香等決選評審,13日宣告第三屆移民工文學獎正式啟程,鼓勵新移民書寫生命經歷,為台灣社會留下更多元、真實的紀錄。 Continue reading “2016.3.13 Press conference”

2015 TLAM Winners

Winners & Video 得獎人及其短片 First Prize 1 winner, 100 thousand NTD, one trophy   ★寶島框架背後的肖像 Potret di Balik Bingkai Kasa Formosa / Dwiita Vita Jury Award 1 winner, 80 thousand NTD, one trophy ★母親的遊戲 Trò chơi của mẹ / Phạm Hùng Hiệp Choice Award 3 winners, 20 thousand NTD, one trophy ★友誼和音樂之寶藏 ขุมทองแห่งมิตรภาพและเสียงเพลง / อนันต์ … Continue reading “2015 TLAM Winners”

Winners & Video
得獎人及其短片

First Prize
1 winner, 100 thousand NTD, one trophy  
★寶島框架背後的肖像

Jury Award
1 winner, 80 thousand NTD, one trophy
★母親的遊戲

Choice Award
3 winners, 20 thousand NTD, one trophy