Semangkuk Sup

Riris Sirius / Semangkuk Sup / Ririn Arums / tenaga kerja asing Musim dingin belum berakhir, bulan Maret masih terasa menusuk tulang. Angin yang terbit sebentar-sebentar menembus persendian, ngilu. Jaket tebal yang kukenakan seperti tak mampu menghangatkan tubuhku, jari-jariku beku. Aku sedang dalam perjalanan pulang dari mengantar majikan perempuanku dari terapi penyembuhan kakinya. Hari menjelang waktu makan siang … Continue reading “Semangkuk Sup”

Riris Sirius / Semangkuk Sup / Ririn Arums / tenaga kerja asing

Musim dingin belum berakhir, bulan Maret masih terasa menusuk tulang. Angin yang terbit sebentar-sebentar menembus persendian, ngilu. Jaket tebal yang kukenakan seperti tak mampu menghangatkan tubuhku, jari-jariku beku. Aku sedang dalam perjalanan pulang dari mengantar majikan perempuanku dari terapi penyembuhan kakinya.

Hari menjelang waktu makan siang ketika sekonyong-konyong, majikan perempuan yang masih terlihat cantik di usianya yang tidak muda lagi itu mengatakan keinginannya untuk singgah makan sup di kedai langganan kami. Dalam hati aku bersorak; horai!

Kedai Yoyo hiruk pikuk ketika kemudian bos laki-laki yang turut serta mengantar berhasil menemukan tempat duduk untuk kami makan bertiga. Meja paling depan setelah pintu masuk, terdapat tiga buah kursi. Di atas meja terdapat dua buah botol kecil, masing-masing diisi kecap asin dan sebotol lagi diisi minyak cabe. Satu gulung tisu yang kuperkirakan tinggal setengah.
Seorang pelayan datang menyodorkan dua lembar kertas menu pada kami, aku menerimanya. Atas anjuran nyonyaku aku kemudian memesan sup daging kesukaanku. Sup mie daging kambing pedas manis. Nyonya memesan sup mie udang, dan tuan sup daging sapi. Seporsi oseng kangkung dan tiga buah telur hitam dimasak tahu.

Ketika pesanan sampai di meja kami, dengan serta merta kami memakannya dengan lahap. Amboi, porsi supnya luar biasa banyak. Tubuhku yang kecil ini tak mampu menghabiskan sup yang luar biasa enaknya itu. Meski sayang, terpaksa mangkuk yang isinya masih setengah itu aku singkirkan, kuletakkan sumpit dan sendok di posisi sejajar . Karena aku takut perutku sakit karena kekenyangan, jadi kuakhiri saja.

“Ah, enakkk, mantapp sekali!” kelakarku puas.

“Dulis, kau tidak habiskan supmu?” tanya nyonyaku, tuan menoleh. Aku menggeleng, mengelus perutku yang kini terlihat lebih besar. Seperti berkata, “Aku kenyang Nyonyaku sayang.”

“Sini aku habiskan…” ujar nyonya meminta sisa supku.

“Ha?!” aku kaget tentu saja.

“Ya, aku habiskan?” katanya lagi dengan tersenyum. Meski agak bingung kukatakan, “Hao? Hehee maaf ya?” setengah hati tidak enak, kusodorkan mangkukku ke arahnya.

“Tidak masalah” ujarnya, sekali lagi dengan tersenyum. Tuanku tersenyum melihat ulah istrinya. Lalu ia pun membuatku terkejut untuk kesekian kalinya ketika kemudian ia bahkan turut serta menghabiskan supku.

Keduanya asyik mengudap makanan itu. Nyonya dan tuan mungkin memang sedang lapar. Tadi pagi kami hanya sempat sarapan roti bakar dan kopi panas. Tapi aku rasa bukan karena rasa lapar itu, terlebih ada perasaan tertentu yang aku sendiri tidak tahu.
“Ternyata sup ini pedas sekali, ya?” tuan melontarkan tanya.

“Iya. Tapi rasanya sangat beda.”

Keduanya membincangkan sup itu, sebentar tertawa kecil, sebentar berbincang. Kuperhatikan keadaan nyonyaku dari hari ke hari makin membaik. Ketika sedang makan dengan lahap seperti itu, nyonya seperti layaknya seorang yang tidak menderita sakit apapun.

“Ah, andai saja kedua tanganku ini bisa menyembuhkan sakit nyonyaku dalam satu kali pijatan saja, alangkah bahagianya aku.” Kalimat yang selalu hanya bisa aku ucapkan dalam hati saja.

Demi menghindari air mata haruku terjatuh, aku lempar pandangan ke sudut-sudut ruangan yang masih hiruk pikuk para pengunjung. Seseorang duduk di tempat meja paling belakang dekat lemari besar penyimpan minuman dingin, tengah asik mengobrol dengan ketiga rekannya. Tampak sekali mereka menikmati keakraban itu.

Kuarahkan pandanganku ke dinding yang bercat biru laut, yang dipajang berbagai menu kedai Yoyo, juga foto-foto artis jaman dulu. Pernak pernik jaman dahulu juga dipajang di almari-almari kaca. Kedai Yoyo adalah kedai satu-satunya yang menurutku sangat unik, sangat membuat nyaman para pelanggan, menunyapun tergolong tidak mahal. Rasa supnya yang pas yang senantiasa menjadi favorit kami.

“Benarr kau sudah kenyang?” tanya nyonyaku lagi. Aku mengangguk.

“Sangat kenyang sekali, terimakasih” jawabku.

Menyaksikan mereka dengan tulus tanpa perasaan canggung menghabiskan sisa makananku, aku terharu. Aku merasa telah menjadi TKI yang paling beruntung karena memiliki majikan rendah hati seperti keduanya. Aku merasa harus bersyukur kepada Tuhanku karena mengabulkan doaku untuk bekerja pada keluarga yang baik hati kepadaku. Yang memiliki rasa kasih meskipun hanya kepada seorang pembantu seperti aku.

Nyonyaku yang baik ini sekarang kehilangan kemampuan untuk berjalan karena sebuah kecelakaan. Suatu keadaan yang tentu saja sangat berat bagi seorang semuda beliau. Untungnya, ia seorang yang berpikiran luas dan bijaksana. Keluasan berpikir itu membuatnya selalu mampu melihat suatu masalah dengan pikiran yang adil. Ia seorang yang berpendidikan dan rajin beribadah. Aku selalu menyertainya bersembahyang di kuil. Aku selalu menyaksikannya berdoa dengan sungguh-sungguh.
Nyonyaku seorang yang tidak rapuh. Ia bahkan seorang wanita yang tabah dalam menghadapi cobaan. Ia tidak putus asa meskipun telah menerima ujian berat dari Tuhan dengan kelumpuhan yang diderita kedua kakinya.

Melihat Nyonya, kadang aku merasa sedang melihat kearifan ibuku sendiri. Seorang yang sangat memahami hati banyak orang, bukan hanya kepada suami dan anak-anaknya, tetapi juga kepada banyak orang lain di sekitarnya. Nyonyaku yang terbatas ruang geraknya masih mampu melihat keluasan dunia dengan mata hatinya. Hati seorang bunda. Banyak sekali hal mengharukan yang sering dilakukan Nyonya kepadaku. Sering pula ia memberi kesempatan kepadaku untuk belajar banyak hal.

Ia selalu mendukungku untuk belajar. Ia tidak melarangku membaca, ataupun menggunakan telepon genggam. Membiarkan aku menikmati hobiku di sela-sela waktu menjaganya. Ia mengajariku cara membaca huruf-huruf Mandarin dengan sabar. Ketika aku menyerah ia akan membangkitkan semangatku . Tetapi, karena dukungan nyonyaku, aku bertekad akan terus belajar.

“Selama masih di Taiwan belajarlah yang banyak, siapa tahu akan berguna buatmu ketika kembali ke tanah air nanti.” Kalimat itu yang sering Nyonyaku sampaikan untuk menyemangatiku.

Kadang, sekali waktu kebaikan Nyonyaku membuat aku rindu pada ibuku di kampung. Rindu kepada nasehat-nasehat dan petuah-petuah ibuku. Rindu pada cerita-ceritanya yang selalu penuh makna. Rindu belaian ibuku ketika menenangkan aku saat aku menghadapi masalah-masalah yang sulit kupecahkan. Aku juga ingat kata-kata ibuku agar aku selalu kuat dan tidak cengeng. Mengingat ibuku, melihat majikan perempuanku, aku kemudian bersyukur, Tuhan tidak memberikan cobaan sebesar cobaan yang diberikanNya pada nyonyaku. Tuanpun sama baiknya seperti Nyonya.

Kadang ia memang keras, karena ia adalah orang yang memang disiplin. Ia selalu menunjukkan sikap tak mengenal kompromi pada hal-hal yang bersifat baik. Tapi beliau selalu memikirkan yang terbaik. Kesetiaannya pada keluarga ini, kepada Nyonyaku untuk terus pantang menyerah, selalu mendampinginya dalam situasi sesulit apapun, selalu membuatku terharu. Ia selalu mengingatkan
aku akan rasa sayang ayahku kepada ibuku.

Yah, memang aku tidak biasa hidup di lingkungan keluarga yang berantakan. Ayah dan ibuku selalu mengatakan menjaga keutuhan keluarga sangat penting. Bantu membantu dan kasih sayang antara adik dan kakakku tidak boleh aku abaikan. Meskipun aku sekarang sedang ada di perantauan. Dan berada di keluarga ini, aku merasa sedang memiliki keluarga kedua.
Kenyataannya, bahkan majikanku sering mengatakan aku layaknya anak mereka sendiri. Aku berharap, aku tidak akan lupa diri karena kebaikan mereka. Bagaimanapun, aku memiliki tanggung jawab untuk bekerja dengan baik di keluarga ini. Aku harus bisa menjaga kepercayaan majikanku itu, sehingga mereka tidak akan kecewa telah memutuskan mengambilku sebagai pekerja mereka. Kiranya tuan dan Nyonyaku selalu sebaik saat ini, sudah barang tentu kedua anaknya juga layaknya kedua adikku.
Majikanku memiliki dua anak. Keduanya baik padaku. Satu kuliah dan yang satunya masih kelas dua SMA. Mereka pandai dalam segala bidang pelajaran. Mereka juga sering mengajari aku belajar menulis Mandarin. Mereka sangat mengerti keadaan mama mereka. Meskipun mereka belum ada yang menyelesaikan sekolah, tetapi mereka tidak manja. Mereka mampu menyelesaikan tugas-tugas dan kewajiban mereka tanpa harus merepotkan aku yang harus melayani kebutuhan ibu mereka.

Memang, ada kalanya mereka merepotkan. Sesuatu yang sangat wajar. Emosi kanak-kanak yang muncul kadang-kadang. Melihat keduaya, aku seperti menemukan kembali sosok kedua adikku. Mereka memiliki kesamaan; kadang menjengkelkan tapi lebih sering menyenangkan.

Aku benar-benar sangat bersyukur karena Tuhan telah memberikan aku satu keluarga yang baik di negara yang jauh dari tanah kelahiranku.

“Oh… kenyang… Dulis, kita pulang.” kelakar nyonya mengejutkan aku dari lamunan.

“Baikk” Sahutku sedikit geragapan. Kamipun bersiap untuk pulang. Kudorong kursi nyonya menuju mobil di mana tuan memarkirnya.

Ketika aku melangkah menyertai Nyonyaku, ada sisa rasa hangat sup yang menyusup di tubuhku, membaur dalam kehangatan keluarga majikanku.
Hshincu, 25 Mei 2016

Sepaket Cerita dari Formosa

Irnelya Sari / Sepaket Cerita dari Formosa / tidak ada / tenaga kerja asing Taiwan telah mengunci hatiku untuk tidak lagi memikirkan tanah kelahiran. Pun juga lelaki yang telah menelantarkanku sedemikian lama. Dengan gaji yang aku terima tiap bulan, aku bisa membeli apa saja yang kuinginkan. Pakaian bagus, perhiasan, kosmetik, dan mengirimi orangtua uang untuk berobat, seperti yang … Continue reading “Sepaket Cerita dari Formosa”

Irnelya Sari / Sepaket Cerita dari Formosa / tidak ada / tenaga kerja asing

Taiwan telah mengunci hatiku untuk tidak lagi memikirkan tanah kelahiran. Pun juga lelaki yang telah menelantarkanku sedemikian lama.

Dengan gaji yang aku terima tiap bulan, aku bisa membeli apa saja yang kuinginkan. Pakaian bagus, perhiasan, kosmetik, dan mengirimi orangtua uang untuk berobat, seperti yang dulu sangat kuimpikan. Boleh dibilang Taiwan adalah tempat pelarian yang menyenangkan.

***

“A Huan, nanti sore tolong telepon sopir Takyubin untuk ambil pesanan bunga pelanggan aku, ya!” seru cucu menantu nenek dari dalam kamar mandi, saat aku hendak membereskan sampah.

Kebiasaan dia yang tak menutup pintu saat mencuci muka, sangat menguntungkanku. Aku bisa bertanya apa saja yang tidak aku mengerti tanpa menyita waktunya. Aku paham, dia harus banting tulang menghidupi ketiga putrinya sendiri karena keputusannya.

“Baik, Nona. Apakah ada lagi yang bisa aku bantu?” tanyaku.

“Hmmm … Kamu bantu keluarkan ikan dan daging dari dalam kulkas ya. Biar aku bisa langsung masak. Ya, sekitar jam 16:00 deh! Kemarin aku kena omel mertua karena ikannya masih keras di dalamya,” tuturnya sambil tergelak tertawa.

Ah dia memang paling bisa memendam kepiluan hatinya, gumamku dalam hati.

“Ta Cie!!!” teriakkan seorang wanita samar-samar terdengar dari lantai atas.

“Iya,” sahut nona pula, masih tetap tidak beranjak dari kamar mandi.

“A Hong mau makan makanan dari luar saja. Tolong belikan dumpling 2 porsi,” tambah suara itu pula.

Tidak menyahut nona memberengut ke arahku. Dia tahu tak ada gunanya melawan, meski hatinya ingin berontak. Tuan sedang mabuk kepayang dengan wanita itu.
Sebagai seorang istri yang dikhianati suami untuk wanita lain, dan mertua yang memperlakukannya tidak baik, namun masih bertahan pada keluarga yang tidak menerimanya, sungguh aku kagum padanya. Wanita tangguh yang rela mengorbankan segala kepentingannya hanya untuk anak-anaknya.

“Baiklah kalau hanya itu saja yang kamu butuhkan. Kalau ada yang terlupa, telepon saja aku. Aku siap membantu,” imbuhku sambil berlalu dengan tentengan sampah di tangan kanan dan kiriku. Tak tega rasanya melihat nona diperlakukan tidak adil seperti itu.

Tak berapa lama, kudengar dia sudah menyalakan motornya, membeli sarapan. Pekerjaan yang tidak ada habisnya, tak pernah membuat dia mengeluh. Jika disinggung soal itu, dia selalu berujar: “Mengeluh takkan membuat orang lain mengasihaniku. Anak-anak butuh pendidikan, tempat tinggal yang layak, dan orangtua yang utuh. Semua itu, jauh lebih penting dari urusan pribadiku. Dan kamu tahu, aku belum mampu membeli rumah sepetak pun dari hasil kerjaku selama puluhan tahun bukan?”

Dari jawabannya itu, aku sering membandingkannya dengan keadaanku. Rumah hasil jerih payahku di Taiwan, seakan tak rela diinjak beberapa jam saja oleh mantan suamiku. Padahal, dia kesana dengan membawa serta anak semata-wayangku. Hanya karena persoalan penghiatan cintanya beberapa tahun lalu, biaya membesarkan anak yang begitu besar pun aku seolah tak peduli. Bahkan menganggapnya sebagai kewajiban bapaknya karena telah merampas anakku dariku. Apakah aku lebih egois dari lelaki itu?

Di kampungku, status janda bukan lagi hal yang memalukan. Penghasilan suami yang pas-pasan seringkali dijadikan alasan sebuah perceraian. Kawin cerai sudah menjadi hal yang biasa. Ya, semudah itu ikrar suci pernikahan diputuskan.

Waktu telah menunjukkan pukul 08:10 pagi ketika aku selesai mengganti baju nenek. Hari ini jadwal nenek cek up. Rehabilitation bus akan menjemput kami pukul 08:30, berarti hanya tersisa waktu 20 menit untuk aku membersihkan diri dan berganti pakaian. Tak lupa pula, catatan belanja bulanan dan titipan teman-teman yang akan mengirim uang aku bawa serta. Tempat kerjaku yang berada di gunung, membuat aku harus sedikit bersabar ketika ingin mengirim uang. Toko Indonesia hanya bisa aku kunjungi sebulan sekali, itu pun saat nenek cek up ke rumah sakit. Sering pula kami bergantian membelikan kebutuhan bulanan. Sudah seperti saudara, mereka akan dengan senang hati dititipi pesanan dalam bentuk apapun selagi tidak merepotkan.

“Hallo! Selamat pagi,” sapa lelaki bertopi itu. Tepat ketika aku mendorong nenek keluar rumah. Tuan Wu adalah sopir yang ramah. Beliau sudah puluhan kali mengantar-jemput kami ke rumah sakit.

“Pagi juga. Apakah Anda sudah makan Tuan?” tanyaku pula. Menirukan kebiasaan orang Taiwan, aku selalu bertanya apakah lelaki kurus ini sudah makan atau belum. Tentu, tanpa bermaksud meledek. He … he ….

“Sudah,” jawabnya,”oh iya, aku harus menjemput satu pasien lagi sebelum kita berangkat. Mungkin kita akan terlambat tiba di rumah sakit sekitar 20 menit,” jelasnya pula. Begitulah keramahan Tuan Wu, dia bekerja bukan semata hanya mencari penghasilan, tetapi melayani dengan sepenuh hati.

Rehabilitation bus adalah bus gratis yang disediakan pemerintah Taiwan untuk melayani para manula dan penyandang disabilitas. Pasien yang banyak, mengharuskan kita memesannya 5-3 hari sebelum jadwal cek up. Melalui layanan operator kita bisa memilih jam berapa kita diantar dan dijemput, disesuaikan dengan nomor urut pemeriksaan. Seperti yang Tuan Wu bilang, setelah melalui dua gang ke belakang dari rumah majikan, pasien berikutnya sudah berada satu armada dengan kami. Seorang kakek yang aku terka berusia 80-an dijaga oleh seorang wanita bertopi dan berkaca mata hitam besar. Dari cara dia mengucapkan bahasa Mandarin saat berbicara dengan sopir dan kulit sawo matangnya, aku rasa dia bukan anak dari kakek tersebut. Tapi sehubungan sikapnya yang dingin, aku lebih memilih menyibukkan diri dengan hand phone di tanganku.

Mobil pun melaju membawa kami ke Kuang Tien General Hospital tanpa ada obrolan apapun sampai bus berhenti di pelataran rumah sakit. Setelah mengucapkan terima kasih kepada Tuan Wu, aku segera mendorong nenek ke lantai 2 untuk tes darah. Setelah menunggu beberapa nomer, tugas pertamaku pun selesai. Kami turun kembali ke lantai 1 dengan menggunakan lift. Di sanalah aku bertemu kembali dengan wanita yang satu bus denganku tadi. Sialnya, kami hanya berdua dengan dia dan dua pasien kami yang tak bisa bicara. Sungguh aku tidak suka keheningan itu, sehingga aku memutuskan menelepon majikan mengabarkan kondisi nenek sekalian meminta ijin untuk membawa nenek ke Toko Indonesia sembari menunggu hasil laboratorium darah nenek, satu jam lagi.
Aku berjalan ke arah toko Indonesia dengan sangat cepat. Mengirim uang sesegera mungkin, membuat aku tidak mempedulikan lalu-lalang orang di kanan kiri.

Puk!

Tiba-tiba seseorang mengagetkanku dari belakang.

“Mbak. Tunggu sebentar!”serunya sambil menepuk bahuku.
Serta merta aku mengerem laju kursi roda dan menengok dengan sedikit kesal.
Huh!!! Dengusku.

“Oh kamu? Ada apa, Mbak? Aku buru-buru!” jawabku sambil kembali mendorong kursi roda setelah mengetahui siapa yang memanggilku tadi.

“Aku baru beberapa hari kerja di sini, Mbak. Tadi aku dengar kamu ngomong lewat telepon mau ke toko Indonesia. Aku ingin mendaftar kartu telepon. Makanya aku ikuti kamu,” jelasnya sambil menjajari langkahku.

Sebenarnya aku sangat jengkel jika teringat sikap dinginnya tadi. Tapi jika mengingat kemungkinan-kemungkinan di balik sikap dinginnya, dan kita sama-sama mengadu nasib demi keluarga, aku kesampingkan semua itu.

“Ya udah. Kamu ikuti aku saja. Aku dikejar waktu.”

Mengingat masih banyak yang harus aku selesaikan. Aku tak peduli lagi Mbak itu mengikutiku atau tidak.
Di Toko Indonesia, pesanan anak-anak aku cari secepat kilat, begitu pun yang mengirimkan uang. Tapi, lagi-lagi Mbak yang belum aku tahu namanya itu mendekatiku.

“Mbak boleh pinjam ARC-nya nggak?” mohonnya.

“Lah emang ARC kamu kemana?” aku balik bertanya. Heran. Pikiran negatif langsung saja memenuhi otakku.

“ARC aku belum selesai diperpanjang, Mbak,” jelasnya.

“Maaf nggak bisa, Mbak. ARC tidak boleh dipinjamkan untuk hal apapun!” tegasku.

“Aku harus menghubungi anakku di kampung, Mbak,” katanya lagi. Kali ini dengan memasang muka memelas.

“Ya sabar. Tunggu sampai ARC-nya jadi, Mbak.”

Aku tetap tak peduli. Aku tak ingin bermasalah di kemudian hari. Ada banyak kasus penipuan yang aku baca di media sosial berawal dari pinjam-meminjam ARC.

Masih aku ingat kejadian 2 tahun lalu, sebelum aku berangkat ke Taiwan. Bibiku yang sudah pengalaman ke luar negeri, harus menanggung akibat atas kecerobohannya. Menurut pihak bank yang mendatangi bibi saat itu, bibiku meminjam sejumlah uang yang dipakai oleh teman sesama TKI sewaktu di Hongkong. Adapun kedatangan mereka karena teman bibi tidak menyetor cicilan selama 16 bulan. Bagaimana pun bibi membela diri, tapi tidak ada toleransi lagi. Rumah bibi pun akhirnya disita pihak bank sampai temannya yang kabur mau mempertanggungjawabkan hutangnya.

Setelah membayar belanjaan ke kasir aku segera pamit pergi. Sempat aku lihat matanya berkaca-kaca. Tapi tekadku sudah bulat. Aku tidak boleh lemah dalam hal ini. Aku meminta maaf sekali lagi, sebelum berlalu.

Masih ada dua tugas lagi yang harus aku selesaikan sebelum Rehabilitation Bus menjemputku pukul 12:00 nanti, memeriksakan nenek ke dokter dan mengganti selang makan.

Di Taiwan semua harus hati-hati. Berteman bukan berarti uang dan dokumen pribadi dipinjamkan sana-sini. Nanti yang rugi kita sendiri.

Waktu menunjukkan pukul 10:43 ketika giliran nenek periksa. Dari hasil tes darah, dokter menyimpulkan tak ada kendala yang berarti dari kesehatan nenek, selagi pola makan teratur dan diperhatikan buang air besar dan kecilnya. Setelah meminta surat pengantar untuk mengganti selang makan dan menebus obat, kami sudah diperbolehkan pulang.

Sukurlah masih ada waktu untuk membeli test pack, juga nenek dan aku makan siang sebelum Rehabilitation Bus datang. Aku tidak melihat tanda-tanda Mbak itu pulang bersama kami. Aku menarik napas lega karenanya.

***

Sore harinya ketika aku mengeluarkan ikan dan daging pesanan nona dari dalam kulkas, dengan hati-hati pula kuselipkan test pack di tempat yang diperintahkan oleh nona. Tapi alangkah terkejutnya aku, karena suaminya sudah memperhatikanku sedari tadi tanpa aku sadari.

Sial! Gerutuku. Sejak kapan dia berdiri di pintu itu? Tanyaku lebih kepada diri sendiri.

“A Huan, kamu memasukkan apa ke dalam tempat sumpit itu?” tanyanya curiga.

“Ng-nggak ada kok Tuan.”

“Jangan bohong kamu!” serunya.
Akibat teriakannya itu tak berapa lama pacarnya turun dari lantai atas.

“Ada apa ribut-ribut?” tanyanya.
Dengan berat hati aku ambil test pack dari tempat sumpit. Dengan sedikit kesal, aku serahkan ke Tuan yang masih memasang muka curiga.

“Nona minta dibelikan ini saat aku di rumah sakit. Tanya dia untuk apa ini semua, karena aku hanya membelikannya. Tugasku selesai. Aku akan memandikan nenek. Permisi,” kilahku sambil berlalu.

Tuan memang banyak berubah semenjak ia bersama pacar barunya. Ia sering kali mencurigaiku tanpa sebab, karena kedekatanku dengan nona.

Malam harinya sepulangnya nona dari pekerjaan, aku mendengar keributan dari lantai atas. Sepertinya, pacar baru Tuan mengamuk hebat ketika mengetahui Tuan masih berhubungan dengan nona. Miris memang, tapi itulah kenyataannya. Usut punya usut, Tuan menginginkan anak lelaki yang belum juga ia miliki dari pacarnya itu. Sampai larut malam, aku masih memikirkan nona. Perlakuan apa lagi yang akan diterimanya, setelah beberapa waktu keluarga suaminya memaksa dia menerima wanita lain dalam kehidupan rumah tangganya?

Keesokan harinya nona beraktifitas seperti biasa. Mengobrol denganku sambil ia mencuci muka dan aku membereskan sampah. Ada lebam di wajahnya. Tapi tak ada yang perlu dikhawatirkan dari wanita tangguh satu ini sepertinya. Ia sudah terlatih mengatasi masalahnya sendiri. Ketika kutanyakan dia hanya berujar: “Ini perbuatan wanita sundal itu. Tapi jangan khawatir. Dia sudah pergi. Dia sudah menerima akibat dari perbuatannya,” jelasnya tanpa aku minta.

Tuan yang mengetahui nona sedang berbadan dua, menjadi berbalik membelanya. Bahkan dia memperingatkan pacarnya untuk tidak lagi mengganggu rumah tangganya. Persoalan wanita ‘Pengganggu’ selesai sudah.

***

Tuan menjadi sangat protektif semenjak mengetahui nona mengandung bayi laki-laki. Dia bukan saja mewanti-wanti nona untuk tidak memasak sarapan, tapi melarangnya mengerjakan pekerjaan lainnya.

“A Huan, jadi sekarang kamu tahu apa yang harus kamu kerjakan bukan?” ucapnya serius.

“Mengerti, Tuan. Kamu yang harus menggantikan tugas nona memasak untuk kakek ya, A Huan!” ucapku. Sengaja aku mengulangi kata-kata Tuan bermaksud mencandainya.

“Eh, awas ya Kamu. Nanti aku potong gajimu!” serunya sambil berkacak pinggang.
Aku pun lari kocar-kacir.

Ah, akhirnya …
Secuil harapan itu memang telah menjelma jadi kebahagiaan. Dan nona telah mendapatkannya. Di balik diamnya dia tak menyerah. Terus berusaha, berjuang, pantang menyerah, dan mencari tahu kunci untuk merebut kembali semuanya. Dan dia telah menemukan jawabannya. Lalu aku?Bagaimana dengan kebahagiaanku? Dimanakah dia? Kenapa belum aku rasakan itu? Sepaket cerita ini akan kukemas rapi dalam memori. Tentang sjuta alasan kenapa seseorang memilih tidak bercerita, berbuat kejam, dan terlampau berhati-hati dalam segala hal adalah bekalku untuk mengejar kebahagiaan.

***

Lima bulan telah berlalu. Jadwal cek up nenek aku lalui seperti biasa. Memasuki trimester kedua usia kehamilannya, Tuan semakin memanjakan nona dengan perhatian penuh. Raut bahagia terpancar sekali dari wajah nona yang selalu dihiasi senyuman, pun antusias ketiga putrinya menyambut adik lelaki mereka. Sering kali nona kewalahan meladeni mereka yang berebut ingin mencium perut buncitnya. Seperti pagi itu. “Ayo anak-anak. Cepat ambil tas masing-masing nanti kalian terlambat!” seru Tuan saat aku memasak sarapan di dapur.

Ruangan dapur yang hanya tersekat tembok dari ruang tamu, membuat aku leluasa menguping rutinitas mereka. “Aku mau cium adik dulu.” “Aku jugaaa!” seru yang lainnya menyetujui. Entah siapa yang memulai lebih dulu, sehingga keriuhan terjadi di ruangan itu. Tuan berteriak melerai. Nona hanya terkekeh geli. Sementara tiga kakak-beradik berebut ingin duluan mencium. Ah! Andai saja nona sepertiku—yang memilih pergi dari suami, mungkin tak akan aku lihat kebahagiaan seperti ini. Aku hanya tersenyum getir. Setelah memastikan sarapan beres, aku segera bersiap-siap. Rehabilitation Bus akan menjemputku setengah jam lagi. Nenek sudah aku dandani sedari pagi. Waktunya aku mengganti baju dan memoleskan bedak agar kulit sawo matangku terlihat sedikit cerah.

Kali ini bukan Tuan Wu yang menjemput kami. Tapi aku sempatkan berbasa-basi dengannya. Penduduk Taiwan sangat ramah dengan siapapun. Demi menjaga kesopanan aku selalu menyapa meski hanya menganggukan kepala.
Eit! Mbak yang waktu itu? Hatiku bertanya kerika sudah di dalam mobil.

“Hallo, Mbak! Lama nggak ketemu. Apa kabar?” sapaku pada wanita yang telah lebih dulu duduk di dalam Rehabilitation Bus.

“Alhamdulillah baik. Kamu tinggal di sini, Mbak?” tanyanya balik.

“Iya. Oh iya. Maaf ya waktu itu. Aku nggak bisa bantu,” jelasku mengenang kejadian saat pertama kali ketemu wanita itu.

“Tidak apa-apa, Mbak. Wajarlah kalau kamu tidak percaya. Kita kan baru ketemu,” katanya maklum.

“Terus bagaimana?” tanyaku penasaran.

“Ya terpaksa aku menuruti saran kamu. Sabar sampai ARC-ku selesai diperpanjang,” ujarnya sambil terkekeh.

“Sukur, deh, kalau kamu nggak dendam sama aku, Mbak,” ucapku sedikit menyesal.

“Nggaklah kenapa harus dendam?”
Kami sama-sama tertawa. Obrolan kami selanjutnya membahas seputar pekerjaan masing-masing dan hand phone Mbaknya yang dicuri orang saat kongkow-kongkow di taman. Kami pun berpisah dengan tidak ada ganjalan di hati.

Terima kasih Mbak Ami tidak membenciku, karena telah berprasangka buruk menganggapmu seorang TKW Ilegal.

Phía cuối con đường

Sen Hạ / Phía cuối con đường / Không / phối ngẫu quốc tịch nước ngoài Màn đêm đã buông xuống từ lâu, không gian yên ắng, tĩnh mịch đến lạ thường. Trong căn phòng nhỏ, dưới ánh sáng xanh dịu nhẹ của chiếc đèn ngủ, cô con gái nhỏ của My đang ôm chú thỏ bông say … Continue reading “Phía cuối con đường”

Sen Hạ / Phía cuối con đường / Không / phối ngẫu quốc tịch nước ngoài

Màn đêm đã buông xuống từ lâu, không gian yên ắng, tĩnh mịch đến lạ thường. Trong căn phòng nhỏ, dưới ánh sáng xanh dịu nhẹ của chiếc đèn ngủ, cô con gái nhỏ của My đang ôm chú thỏ bông say giấc nồng trên chiếc giường gỗ. A Hải chồng My thì mới sang Việt Nam cùng một người bạn để bàn công chuyện làm ăn từ 5 ngày trước. Giờ này chỉ còn mình My vẫn còn thức trong căn phòng nhỏ, cô khẽ ngả người lên chiếc ghế sa lông, tai cài chiếc phôn tai và thả hồn theo giai điệu du dương của lời bài hát “Bức thư tình thứ hai” của nhạc sỹ Đỗ Bảo. Có lẽ đã lâu lắm rồi kể từ ngày My và cô con gái nhỏ theo A Hải về Đài Loan sinh sống, My mới lại có khoảng thời gian và không gian của riêng mình và nghe lại bài hát Việt mà cô yêu thích từ thời con gái.

“Có khi bước trên đường hun hút.
Em tự hỏi mình, ta đang đi về đâu?
Nếu ngày ấy em không đi về phía anh.
Không gặp nhau, giờ này ta thế nào?

Có khi nhìn kim đồng hồ quay.
Em tự hỏi mình, ý nghĩa những phút giây!
Nếu ngày ấy, vào một phút giây khác
Có chắc, mình trông thấy nhau”

Mới đó mà đã 8 năm trôi qua, kể từ ngày My và A Hải gặp nhau lần đầu tiên. Mọi cảm xúc và kỉ niệm lại ùa về trong tâm trí của My.
8 năm về trước: Một buổi sáng mùa thu đẹp trời, khi ấy My đang là nhân viên phiên dịch tiếng Trung cho một công ty Đài Loan có chi nhánh ở Việt Nam. My được phân công ra sân bay Nội Bài – Hà Nội để đón một đồng nghiệp người Đài Loan sang bên công ty chi nhánh Việt Nam để làm việc. Giây phút ban đầu gặp mặt ấy, cho đến tận giờ, My vẫn còn nhớ như in. Đó là một anh chàng đồng nghiệp Đài Loan to béo, tóc xoăn, đeo chiếc kính cận dày cộp, khuôn mặt nghiêm nghị, còn ánh mắt thì đăm chiêu. Anh chàng này thậm chí còn không hề nở nụ cười nào suốt cả quãng đường tầm 40 cây số từ sân bay cho đến khi về đến công ty. My thầm nghĩ và tự mỉm cười một mình: anh chàng này đúng kiểu một “thanh niên nghiêm túc”, nhìn y như một ông cụ non chính hiệu, không phải là tuýp người trong mộng của My.
Thế mà đúng là “Ghét của nào, trời trao của ấy”, sau quãng thời gian 3 năm làm việc chung ấy, tình yêu đến với My và A Hải lúc nào không hay. My nhận thấy đằng sau cái ngoại hình to béo và khuôn mặt lúc nào cũng nghiêm nghị của A Hải, lại là một con người hoàn toàn khác, càng ngày My càng cảm thấy mến cái anh chàng to béo, nhưng hay quan tâm đến người khác. Và quan trọng hơn hết, My thấy tính cách của anh chàng đồng nghiệp người Đài này có điều gì đó rất giống với tính cách của mình: thẳng thắn, tốt bụng, hay sẵn sàng giúp đỡ mọi người. Tình yêu của My và A Hải cứ lớn dần lên sau những ngày làm việc chung, những buổi gặp gỡ, hẹn hò riêng. Sau lời cầu hôn ngọt ngào của người yêu, My thông báo với cả nhà muốn kết hôn. Chả phải nói, trong nhà ai cũng phản đối kịch liệt. Không phải phản đối vì chênh lệch ngoại hình. Anh chàng thì to béo, còn My thì thấp bé nhẹ cân, hai người đi bên cạnh chả khác nào người khổng lồ và gã tí hon. Gia đình My phản đối cũng không phải bởi rào cản ngôn ngữ, bởi vì My là nhân viên phiên dịch tiếng Trung, nên việc giao tiếp với người Đài bằng tiếng Trung không hẳn quá khó khăn. Lí do bố mẹ My phản đối là vì My là con gái út trong gia đình, từ nhỏ tới lớn đã quen sống trong sự bao bọc yêu thương của gia đình. Trong con mắt bố mẹ, My vẫn còn trẻ con, chưa tự lập. Anh chàng kia lại là con trai trưởng trong gia đình, bố mẹ My lo nếu về sau phải sang Đài sinh sống, My sẽ không biết xoay sở mọi chuyện, gánh nặng của nàng dâu trưởng không phải đơn giản như trong suy nghĩ của My, rồi còn nhiều sự khác biệt về suy nghĩ, lối sống, phong tục tập quán…giữa hai lãnh thổ mà một nàng dâu Việt còn ít tuổi như My không phải chỉ một sớm một chiều là có thể thích nghi ngay được.

Thế rồi cùng với thời gian và sự kiên trì thuyết phục của My, cuối cùng gia đình My cũng đồng ý để hai đứa kết hôn. Một năm sau ngày cưới, gia đình nhỏ của My đón thêm một thành viên mới trong niềm hạnh phúc ngập tràn. Cô con gái nhỏ ra đời là trái ngọt tình yêu của vợ chồng My. Cuộc sống yên bình cứ lặng lẽ trôi đi. Khi con cứng cáp hơn chút và hết thời gian nghỉ thai sản, My nhờ bố mẹ đẻ trông cháu giúp vợ chồng My buổi ban ngày, để My tiếp tục trở lại với công việc mà My yêu thích.
Với My, cuộc sống lúc đó thật nhẹ nhàng và bình yên. Dù vẫn còn phải đi thuê nhà để ở, song ngôi nhà nhỏ của My luôn đầy ắp tiếng cười trẻ thơ, hai vợ chồng luôn quan tâm đến nhau và cùng dành những tình cảm tốt đẹp nhất cho cô con gái bé bỏng của mình. Có lẽ với My hạnh phúc là những điều thật giản dị như thế mà thôi.

Nhưng cuộc sống không phải lúc nào cũng màu hồng, đã xảy ra một vài biến cố, thay đổi trong công việc nên khi cô con gái nhỏ tròn năm, thì chồng My quyết định đem vợ con về Đài sinh sống. Thế là bắt đầu từ đây, My bước vào một cuộc sống hoàn toàn mới: làm dâu trên xứ Đài.

Ngày đưa tiễn gia đình nhỏ của My về Đài ở sân bay, dù không nói ra, nhưng My vẫn đọc được sự lo lắng và cảm giác không nỡ rời xa đứa con gái và đứa cháu ngoại bé bỏng trong mắt của mẹ My. Bản thân My dù khi quyết định kết hôn với A Hải cũng đã có sự chuẩn bị tư tưởng bất cứ lúc nào cũng có thể phải theo chàng về dinh, song thực tế khi đến ngày ấy, My vẫn có cảm giác lưu luyến và không nỡ rời xa nơi chôn nhau cắt rốn của mình. My đã phải rất cố gắng để không cho những giọt nước mắt lăn ra nơi khóe mắt, My nói với mẹ: “Mẹ cứ yên tâm, con sẽ cố gắng hòa nhập vào cuộc sống mới, sẽ cố gắng sống tốt và làm tròn bổn phận của một người vợ, người mẹ, người con dâu trong gia đình chồng. Chúng con hẹn mẹ một ngày gần nhất sẽ trở về thăm bố mẹ…”

Vậy là chiếc máy bay chở My, A Hải và cô con gái nhỏ từ từ cất cánh rời xa quê hương Việt Nam để đến với quê hương mới: Đài Loan.
Ngày đầu tiên bước chân sang xứ Đài, My dù cũng hơi hồi hộp một chút nhưng cũng không nghĩ quá nhiều, bởi vốn dĩ My nghĩ có lẽ chỉ một thời gian ngắn, My cũng sẽ làm quen và thích nghi được với môi trường sống mới. My nghĩ mình là người biết tiếng Trung ở một trình độ nhất định, lại đã từng làm việc mấy năm trong môi trường có nhiều sếp và đồng nghiệp Đài nên việc về Đài sống có lẽ sẽ không gặp quá nhiều trở ngại, nhất là rào cản về ngôn ngữ.
Thế nhưng, cuộc sống thì không bao giờ đơn giản như những gì mà My nghĩ.
Sự thử thách đầu tiên đối với My là việc từ một cô gái nhân viên văn phòng, có công việc tạm gọi là ổn định, với một mức lương hợp lí biến thành một bà mẹ bỉm sữa, một bà nội trợ trong gia đình.
Trước đây My là nhân viên phiên dịch trong công ty Đài tại Việt Nam. Công việc hàng ngày của cô không chỉ đơn thuần là công việc phiên dịch tiếng Trung, là cầu nối giao tiếp của công nhân viên trong công ty với các sếp và đồng nghiệp Đài, mà My còn phụ trách rất nhiều mảng công việc khác như làm thủ tục xuất nhập khẩu hàng, tính lương, tính bảo hiểm cho công nhân viên trong công ty…Công việc hàng ngày của My tuy tương đối bận rộn nhưng bù lại, My thấy yêu thích công việc ấy, bởi nó cho cô cơ hội được tiếp xúc với nhiều người, nhiều tầng lớp, nhiều ngành nghề khác nhau, giúp cô mở rộng mối quan hệ, mở mang kiến thức, tầm nhìn và thế giới quan… Và quan trọng hơn hết công việc ổn định giúp cô độc lập tự chủ về kinh tế. Bản thân cô cũng rất vui vì hai vợ chồng chăm chỉ làm việc, có thu nhập ổn định để có thể lo cho cô con gái nhỏ có một cuộc sống đầy đủ nhất.
Nhưng từ khi về Đài sống, vì A Hải không muốn nhờ bố mẹ chồng My trông cháu giúp dù ông bà vẫn còn khỏe và rảnh rỗi, thế nên My tạm phải gác lại sự nghiệp của bản thân nơi nước mẹ đẻ để trở thành một bà mẹ bỉm sữa, một bà nội trợ trong gia đình nhà chồng, với công việc hàng ngày là chăm con, phụ giúp nấu nướng hay dọn dẹp nhà cửa…Công việc hàng ngày của My chỉ gói gọn trong phạm vi gia đình, dù các công việc trong gia đình chồng không quá vất vả, nhưng My thời gian đầu vẫn có cảm giác không quen với cuộc sống của một bà mẹ bỉm sữa, một bà nội trợ trong gia đình như thế. My lại càng không cảm thấy quen với việc mọi thứ chi tiêu lại phải hỏi và lấy tiền từ mẹ chồng. Sở dĩ My nhắc đến vấn đề muôn thuở và nhạy cảm là “Tiền” như vậy, là bởi từ ngày về Đài Loan sinh sống, A Hải đã dặn My: ” Từ nay về sau A My muốn mua gì thì cứ hỏi mẹ, bảo mẹ đưa tiền cho hoặc nhờ mẹ mua hộ”. My nhiều khi cảm thấy bối rối bởi muốn mua bất cứ thứ gì dù là nhỏ nhất, My đều phải đi hỏi mẹ chồng, nhiều khi My vẫn cảm thấy ngài ngại sao vậy bởi trước đây, thời còn đi làm, cô vẫn thích được tiêu những đồng tiền do chính bản thân mình kiếm ra.
Bên cạnh đó, cuộc sống chung cùng gia đình chồng với nhiều thế hệ cùng chung sống dưới một mái nhà cũng không phải là điều dễ dàng. Đôi khi có những rào cản trong việc trao đổi thông tin, vì suy cho cùng My cũng không phải là người bản xứ, tiếng Trung cũng chỉ ở một trình độ nhất định mà thôi, rồi những va chạm Mẹ chồng – Nàng dâu do chung sống cùng một nhà là điều không thể tránh khỏi do sự khác biệt về lối sống, quan điểm, suy nghĩ giữa hai người phụ nữ ở hai thế hệ khác nhau của hai đất nước hoàn toàn khác nhau. Cuộc sống vợ chồng dù xuất phát từ tình yêu nhưng cũng không tránh khỏi những lúc “Cơm không lành, canh không ngọt” khiến My nhiều khi không khỏi cảm thấy thất vọng, chán chường, đôi khi có cảm giác hụt hẫng về cuộc sống hiện tại.

Rồi còn có nhiều lần My và A Hải bất đồng quan điểm, thậm chí tranh luận gay gắt cũng chỉ vì vấn đề My đòi đi làm. Sở dĩ My mong muốn được đi làm cũng không phải không có lí do của nó.
Thứ nhất là My thấy mình cũng đã ở nhà chăm con được một thời gian dài, con thì cũng đã cứng cáp và hiểu biết hơn rất nhiều so với thời gian đầu lúc con mới về Đài mới chỉ được tròn năm. Mẹ chồng và bố chồng My thì đều còn khỏe, ở nhà cũng không bận công việc gì nhiều.
Thứ hai là A Hải chồng My lại mới từ bỏ công việc đi làm công ăn lương với thu nhập tương đối ổn định, mà quay sang mở công ty riêng. Công ty của A Hải thì mới bước đầu đi vào hoạt động, khó khăn chồng chất, lợi nhuận cũng chưa có nhiều. My không muốn cả gia đình nhỏ của My trở thành gánh nặng kinh tế của bố mẹ chồng.
Nhìn vào tình hình như vậy nên My mới bàn với A Hải muốn nhờ mẹ chồng trông giùm cháu giúp buổi ban ngày để My có thể đi làm ở công ty ngoài, cùng chồng chia sẻ bớt gánh nặng kinh tế. My muốn thời gian đầu đi làm công ty bên ngoài, có một khoản lương cố định, như vậy sẽ chia sẻ bớt với chồng về gánh nặng kinh tế. Còn về sau khi công ty của A Hải đi vào quỹ đạo, hoạt động ổn định hơn, cần người phụ giúp, thì My sẽ về công ty chồng làm việc, hai vợ chồng sẽ cùng nhau cố gắng, phấn đấu.
Thế nhưng A Hải khi mới nghe xong và biết được ý định của My thì gạt phăng đi. A Hải tỏ ra giận dữ, bảo My: “A My đừng nghĩ đẻ con ra để bắt bố mẹ A Hải phải trông hộ. Bố mẹ A Hải không có nghĩa vụ phải trông cháu nội. Con mình đẻ ra thì tự trông”…
Câu nói như gáo nước lạnh dội xuống đầu My. Chính trước đây hồi mới cưới sống ở Việt Nam, A Hải còn nói với My: ” Vợ chồng chúng ta trước mắt ở Việt Nam làm việc vài năm đã, bao giờ có con và con đến tuổi đi trẻ, chúng ta sẽ cho con về Đài Loan học, vì môi trường sống và học tập ở Đài Loan rất tốt…”. Hồi đó A Hải còn chủ động bảo My: ” Nếu sau về Đài Loan sống, con lớn một chút, A My có thể nhờ mẹ trông cháu giúp để đi làm công việc mà A My yêu thích…”.
Như đã nói ở trên, My có ý muốn nhờ bố mẹ chồng trông cháu nội giúp vợ chồng cô, vì bố mẹ chồng My đã có kinh nghiệm trông hai cháu ngoại, giờ đứa cháu ngoại nhỏ nhất cũng vừa đến tuổi đi trẻ, và hơn nhất, chính mẹ chồng My cũng đã chủ động bảo My là bà muốn trông cháu giúp vợ chồng My, để vợ chồng My có thể yên tâm đi làm.

Vậy mà mọi thứ không hề giống như những gì mà My mong đợi. My cảm thấy hụt hẫng, nhiều khi sống trong những phút giây trống trải, cô đơn, cảm thấy mình bơ vơ, lạc lõng trong gia đình chồng, có những nỗi ấm ức tủi hờn… mà không thể tìm được tất cả những sự an ủi ấm áp, bao dung bên người chồng mình. Nhiều khi My muốn buông tay, vì không tìm được tiếng nói chung trong cuộc sống vợ chồng. Cho dù lí do không phải là do có người thứ ba xen vào cuộc sống gia đình, cũng không hẳn là tình yêu đã vụt tắt hoàn toàn, mà là cả hai đã sống theo cái Tôi của bản thân quá nhiều, ai cũng muốn sống theo cách mà bản thân mình mong muốn. My nhiều khi cảm thấy cuộc sống của mình ngột ngạt, cô không được tự do làm những gì mà mình thích. Ngay cả những ý kiến My đưa ra, không cần suy xét có hợp tình, hợp lí hay không, A Hải chồng My cũng đều gạt đi, A Hải chỉ muốn My làm theo mọi ý kiến và sắp đặt của A Hải.
My biết A Hải gặp nhiều áp lực trong công việc, khi mọi thứ không được suôn sẻ thì nó cũng sẽ ảnh hưởng rất nhiều đến tâm lý, rồi thái độ sống. My không trách A Hải thay đổi. Nhưng My thấy những ý kiến mà mình đưa ra, dù sao cũng xuất phát từ mong muốn muốn sẻ chia cùng chồng gánh nặng kinh tế, muốn giúp chồng vượt qua giai đoạn khó khăn, vất vả trước. Chứ không phải là My muốn chối bỏ trách nhiệm của một người mẹ, một người con dâu, cũng không phải là My chỉ biết nghĩ cho riêng mình. Suốt những năm tháng về Đài Loan sống cùng gia đình chồng, My đều cố gắng chu toàn việc nhà, chăm con và nuôi dạy con tốt, làm tròn bổn phận của một người con dâu trong gia đình chồng. Không cần phải nói ra, nhưng My nghĩ cả A Hải và gia đình chồng My có lẽ cũng đều nhận ra sự cố gắng muốn hòa nhập vào cuộc sống gia đình chồng của My.

Vậy là tính đến hôm nay là tròn 5 hôm kể từ ngày A Hải bay sang Việt Nam bàn công chuyện làm ăn. Lúc ban chiều My lại đạp xe trên con đường quen thuộc để đi đón cô con gái nhỏ tan lớp, trong lòng nhen nhóm một niềm vui khó tả bởi chỉ tối nay thôi là A Hải chồng My sẽ trở về nhà để sum họp cùng mẹ con My.
Ngày hôm nay, cũng vẫn con đường quen thuộc ấy, nhưng My bỗng thấy lòng nhẹ nhàng hơn rất nhiều.
Tạm bỏ qua hết tất cả những gì thuộc về ngày hôm qua. Ngày hôm qua có những nỗi buồn, những tranh luận, cãi vã không vui vẻ, có cả những cuộc chiến tranh lạnh đến cả tuần mà hai vợ chồng không ai thèm nói với ai câu nào, cũng không ai muốn làm lành trước, đôi khi có cả cảm giác cảm thấy bản thân mình bất lực, muốn buông xuôi…Đó là những phút giây cả My và A Hải đều sống trong thế giới của riêng mình giống như hai người xa lạ, có chăng thời điểm đó, điểm nối kết duy nhất giữa hai người là cô con gái nhỏ mà thôi. Tình yêu vốn dĩ rất phức tạp, yêu để đến được với nhau là điều đã khó, để giữ được tình yêu còn khó hơn gấp nhiều lần, bởi con tim luôn luôn có những lí lẽ riêng của nó. Cuộc sống vợ chồng nhiều khi không tránh khỏi có những lúc cãi vã, căng thẳng. Là người, ai cũng có những giây phút không kiềm chế được cảm xúc, những phút giây sống ích kỷ cho riêng mình, chẳng có ai là hoàn hảo cả. Trong cuộc sống vợ chồng nhiều khi cũng không tránh khỏi có những lúc rơi vào trạng thái khủng hoảng, bế tắc… nhưng khi đã vượt qua được nó thì sẽ thấy trân trọng và yêu quý đối phương nhiều hơn. Cái quan trọng hơn nhất là tình yêu của My và A Hải dành cho cô con gái bé bỏng của họ là không hề thay đổi. Cả hai người cũng đã kịp nhận ra cái sai của bản thân để điều chỉnh, biết đối mặt để vượt qua, dung hòa cảm xúc, điều chỉnh thái độ sống, cả hai đã biết dẹp bỏ bớt cái Tôi cá nhân của bản thân, biết dừng lại đúng lúc để hàn gắn mối quan hệ, tiếp tục làm tròn bổn phận của một người cha, người mẹ. Hơn ai hết cả My và A Hải đều hiểu rằng đứa con gái nhỏ là người quan trọng nhất trong cuộc đời của họ. Chính cô con gái là trái ngọt tình yêu của hai người, nếu chỉ vì sự ích kỉ của cá nhân người lớn mà làm tổn thương đến cô con gái nhỏ của họ, khiến con thiếu vắng tình thương của người bố hay người mẹ, chắc chắn tới lúc đó cả My và A Hải sẽ sống trong sự day dứt khôn nguôi.

Ngày hôm nay, My đã tìm lại được sự tự tin, tìm thấy nguồn động lực lớn lao để bước tiếp con đường mà mình đã chọn bởi cách đây không lâu, My đã quyết định gửi con đi nhà trẻ và đi công ty A Hải để làm chứ không đi tìm công việc bên ngoài làm như ý định trước kia nữa. My đã sẵn sàng từ bỏ hình ảnh một cô nàng công sở với quần áo gọn gàng, ngồi làm việc bên máy vi tính trong căn phòng có máy lạnh mát rượi, đi đâu xa lại có xe công ty đưa đón…, giờ đây My đang cố gắng học cách gánh vác công việc cùng chồng mình, cho dù những công việc ở công ty A Hải, My chưa từng làm qua. Công việc mới này nhiều khi còn gắn liền với những việc nặng nhọc bằng sức lao động chân tay, mồ hôi nhễ nhại với những hôm làm bên ngoài trời, đôi khi còn có cả những chuyến đi dài với A Hải để chở hàng, giao hàng…nhưng My vẫn cảm thấy vui, bởi hai vợ chồng cô có cơ hội kề vai sát cánh, cùng nhau chia sẻ khó khăn, cùng nhau lao động chăm chỉ, học cách làm giàu…

My biết rằng dù con đường My đang đi sẽ còn gặp muôn vàn khó khăn, trở ngại ở phía trước, nhưng có một điều chắc chắn rằng phía cuối con đường này vẫn luôn có một ngôi nhà nhỏ đứng lặng lẽ chờ My trở về, trở về sum vầy với người chồng và cô con gái nhỏ, hai người thân yêu nhất mà cô đã dành tất cả tình yêu thương của mình ở nơi xứ người này.

“Nhìn theo, đường hun hút còn xa, xin cám ơn nhưng điều đã qua
Gọi anh người đương thời ơi, em yêu anh, em yêu anh rất nhiều.
Nhìn theo, đường hun hút còn xa, xin cám ơn nhưng điều đã qua
Gọi anh người đương thời ơi, em yêu anh, em yêu anh rất nhiều”

Lời cuối của bài hát đã đưa My trở lại với hiện thực. Chuông đồng hồ giờ đã điểm 11 giờ đêm. Còn ít phút nữa thôi là My sẽ lại được gặp A Hải – người chồng của mình sau 5 ngày xa cách. Cảm ơn tất cả những gì mà cuộc sống mới trên quê hương mới – Đài Loan đã đem lại cho My. Có gặp khó khăn, vất vả thậm chí là cả mồ hôi, nước mắt…mới thấm thía được giá trị của cuộc sống, tất cả đã giúp cô trở nên trưởng thành, mạnh mẽ hơn. Đài Loan – hòn đảo xinh đẹp giờ đây đã trở thành quê hương thứ hai của My, nơi đây có những con người bản xứ nhân hậu, khí hậu ôn hòa, đất nước văn minh, giàu đẹp…nó sẽ là miền đất hứa để cô tiếp tục vươn lên, trưởng thành và mở rộng trái tim mình hơn nữa.

sanaysay

rhea dioneda tiladan / Ang buhay bilang isang ofw sa taiwan… / Serve the People Association / dayuhang manggagawa Ang buhay bilang isang ofw sa taiwan… Isa ako sa milyong milyong ofw na nagtatrabaho sa bansang taiwan..ito ang buhay q bilang isang factory worker,dahil sa ninais makatulong sa pamilya minabuti kung umalis sa bansang akin pinagmulan..ngunit sa … Continue reading “sanaysay”

rhea dioneda tiladan / Ang buhay bilang isang ofw sa taiwan… / Serve the People Association / dayuhang manggagawa

Ang buhay bilang isang ofw sa taiwan…

Isa ako sa milyong milyong ofw na nagtatrabaho sa bansang taiwan..ito ang buhay q bilang isang factory worker,dahil sa ninais makatulong sa pamilya minabuti kung umalis sa bansang akin pinagmulan..ngunit sa aking pag lalakbay sa bansang napuntahan ndi ko alintana ang mga susunod n mangyayari sa aking buhay sa pagtungtong ko sa bansang taiwan…

mahigit 3 taon ang imamalagi at isasapalaran ko dito,sabi nga expect unexpected pero hindi maiwasan maramdaman ang lungkot at pangungulila sa pamilya, isa sa pinakamahirap na sitwasyon ang umabot sa sukdulan dahil dito nawalan aq ng trabaho walang nagnais na mangyari to sakin.

Sa makatwid masaya ang pakikisama ko sa kanila subalit may kga bagay bagay tayong hindi natin inaasahan na darating pero hindi magtatapos dito ang pagsubok na darating pa.Sa ngaun heto aq ngaun hinaharap ang bukas,hinaharap ang mga masasamang ngyari,dahil may awa dios Ako si Rhea Doneda Tiladan isang ofw na walang hinangad ang makatulong sa pamilya peo akoy inabuso sa kadahilanan ng illegal na trabaho pero isang may mabuting puso ang tumulong sa akin,maraming salamat po sainyong lahat sa mga taong tukulong sana po maging halimbawa at ehemplo kau ng mga kabataan naway pagpalain po kau ng may kapal..Ang buhay bilang isang ofw sa taiwan…

TULA

MALAYA / TULA / SPA / dayuhang manggagawa ANG BUHAY MIGRANTE Ang buhay ofw ay maihahantulad sa pelikula, Lungkot, iyak at tawa, sari-saring nadarama , Tiniis hirap, pagod at puyat para sa pamilya, Mapadama lamang tunay na pagpapahalaga. Bata pa lamang, nagmulat na sa bansa ko, Mababaw na pamumuhay kinagisnan ko, Gayunman pinalaki at inaruga ng inay ko, … Continue reading “TULA”

MALAYA / TULA / SPA / dayuhang manggagawa

ANG BUHAY MIGRANTE

Ang buhay ofw ay maihahantulad sa pelikula,
Lungkot, iyak at tawa, sari-saring nadarama ,
Tiniis hirap, pagod at puyat para sa pamilya,
Mapadama lamang tunay na pagpapahalaga.

Bata pa lamang, nagmulat na sa bansa ko,
Mababaw na pamumuhay kinagisnan ko,
Gayunman pinalaki at inaruga ng inay ko,
Minulat at pinadama kahalagahan ng bansa ko.

Tayo’y magkaiba man ang bawat pamaraan,
Pansamantala iiwan ang bansang kinagisnan,
Bilang isang kerteker dito sa ibang bayan,
Ako ngayo’y nandito sa bansang taiwan.

Maraming araw’t buwan na tila nasa selda,
Mga malilikot na isip tila nakakulong na,
Hindi mailabas ang tunay kong nadarama,
Nasa isip ko’y umuwi na sa aking pamilya.

Bagama’t hangad ko sa atin ang kasaganahan,
Kahit pa labis na kalungkutan ay nararanasan
Lahat lalabanan hirap, pagod lalampasan,
Sa inyo gagawin maipadama lang pagmamahal.

Dito sa ibang bansa kapit lang sa tyaga,
Malupit na amo man ay aking nasapit,
Nadanas hirap at pasakit na sobrang lupit,
Tiniis lamang para sa pangarap na gusto makamit.

Wala na ibang magawa kundi ang magtiis,
Tatlong taon akong maghintay at maghinagpis,
Sobrang lungkot sa pamilya aking sinapit,
Na isip lamang ako nga ba’y dapat magtiis.

Ngunit ako’y napaisip at biglang natahimik,
Sa isang tabi, tila nakaramdam nang pait,
Naisip ko ang buhay OFW kailangan kumapit,
Mayroo pala akong utang sa bansang naiwan.

Subalit lahat ng hirap ay may katapusan,
Pasakit at kalungkutan sa akin ay nalagpasan,
Migranteng pinoy SPA, binigyan hangganan,
Ibibigay sa akin ang bagong kinabukasan.

Mahal ko ang bayan kong PILIPINAS,
Hintayin mo ang aking pagbalik bayan,
Mabuti at may pesbuk na inaabangan,
Mensahe sa pamilya sa bansang iniwan.

Mabasa lamang mensahe “anak mahal kita”,
Andito lamang kami para sa iyo mag ingat ka,
Puso ko’y lumulukso sa labis na sayo ina,
Kuya, Ate, at Inay ako po ngayon ay masaya.

Salamat sa walang humpay na pagmamahal,
DIYOS kayo ang nagbigay sa amin ng kalakasan,
Lahat nang nadamang sakit at nalampasan,
Huwag po kayong magsawa na ako’y gabayan.
TULANG AKDA NI: TERESITA S. HALLERA

Namaku Ani

Anni / Namaku Ani / tidak ada / tenaga kerja asing Namaku Ana Oleh: Anna Musim dingin kembali menyelimuti bumi Formosa. Angin di siang hari pun bagaikan serpihan salju yang turun dan memeluk tubuhku. Apalagi berada di kebun ubi yang sepi seperti ini. Januari adalah musim dingin yang sangat aku benci. Bukan aku tidak bersyukur, namun inilah jeritan … Continue reading “Namaku Ani”

Anni / Namaku Ani / tidak ada / tenaga kerja asing

Namaku Ana
Oleh: Anna
Musim dingin kembali menyelimuti bumi Formosa. Angin di siang hari pun bagaikan serpihan salju yang turun dan memeluk tubuhku. Apalagi berada di kebun ubi yang sepi seperti ini. Januari adalah musim dingin yang sangat aku benci. Bukan aku tidak bersyukur, namun inilah jeritan hatiku. Aku ingin bercerita melalui pena, tentang aku dan ratusan bebek peliharaan majikanku. Karena jika aku bersuara pun tidak akan ada yang mendengar, kecuali gunung dan sayuran serta bebek yang mungkin telah bosan mendengar jeritanku. Dan tidak akan ada yang paham dengan semua rintihan dan kesakitan batinku.
Namaku Ana, aku adalah janda berusia 40 tahun. Kedua anakku, Sekar dan Arum. Mereka lah semangatku untuk bertahan berada di di Taiwan. Aku bekerja di Canghwa tepatnya di Puyan. Puyan adalah daerah terpencil dengan suasana pedesaan yang jauh dari hiruk pikuknya udara kota. Sudah hampir tiga tahun aku di sini. Merawat nenek yang lumpuh total, dan membantu kakek ternak bebek, menanam sayur, terkadang juga mencangkul di kebun.
Mungkin bagi yang tidak tahu Taiwan, mereka akan selalu berfikir jika bekerja di Taiwan selalu bergelimang kemewahan, seperti di foto-foto yang terpampang di sosmed. Tapi apa kalian tahu penderitaanku?
Jam 5 pagi aku harus bangun, memasak bubur dan membersihkan rumah, merawat nenek dan menyuapi makan. Jam 8 pagi, aku dan kakek harus memberi makan bebek lalu pergi ke kebun, mencangkul. Sampai siang, pulang makan dan merawat nenek, lalu ke kebun lagi sampai jam 5 sore. Malam setelah nenek tidur, aku pun harus merebus puluhan kilo gram jagung untuk makanan bebekku keesok paginya. Baru jam 1 dini hari, pekerjaanku usai. Itu adalah pekerjaan rutin yang tidak boleh aku tinggalkan. Jangankan untuk berlibur? Masuk toko Indonesia pun aku tidak pernah. Sebulan sekali agency datang, menawarkan diri membantu mengirimkan uang untuk anak-anakku dan membeli kebutuhanku. Jangan bertanya tentang di mana itu Taipei, megahnya Gedung 101 atau indahnya Chiang Kai Shek Memorial Hall. Sungguh, aku mengetahui nama-nama itu cuma lewat majalah usang di lemari nenek dan di dalam TV.
Bukan aku wanita yang bodoh, yang menerima begitu saja pekerjaan ini, kawan. Sama sekali bukan. Tapi, karena aku berfikir kembali tentang niatku pergi ke Taiwan. Aku ke Taiwan untuk mencari uang, bukan untuk tamasya. Walaupun dalam hati aku ingin jalan-jalan seperti kalian. Namun, mungkin ini jalanku. Jalan yang Tuhan berikan padaku. Apalagi semua demi anakku ….
“Bu, apakah Gedung 101 itu indah? Kenapa ibu gak pernah foto-foto seperti Mbak Lina?” Tanya si Bungsu, Arum.
Lina adalah tetanggaku yang juga di Taiwan, yang selalu jalan-jalan di mall dan tempat wisata Taiwan. Apakah aku iri dengan Lina?
Itu pasti.
“Ibu gak sempat, Nak.” Jawabku singkat.
Aku tidak pernah bercerita kepada Sekar dan Arum tentang keadaanku. Karena aku tak mau mereka sedih memikirkan ibunya. Aku selalu bilang jika rumah majikanku di apartemen di daerah Taipei. Keduanya pun percaya. Padahal … setiap hari hanya cangkul dan topi penahan panas yang menemaniku, dilengkapi HP Nokia jaman dulu, bukan android seperti yang kalian punya. Karena bagiku, selama bisa SMS dan telfon anakku di Indonesia, itu sudah cukup.
Jangan tanyakan padaku kenapa aku tidak lapor 1955 atau KDEI tentang pekerjaanku yang bercocok tanam dan merawat bebek-bebek yang berjumlah ratusan. Jangan bertanya, kawan. Karena bagiku, selama majikanku baik, itu sudah cukup. Ya, cukup.
Pernah suatu ketika aku sedang mengantar nenek ke rumah sakit yang lumayan jauh, aku bertemu dengan TKI juga, namanya Dek Ratna. Kami pun mengobrol lama dan dia pun bertanya tentang pekerjaanku.
“Kok Mbak Ana mau dipekerjakan seperti itu? Kalau aku mah ogah, Mbak. Kita ini jauh-jauh dari Indonesia ke Taiwan, masa sih cuma mencangkul, rawat bebek. Gak jijik apa,” celotehnya.
Dek Ratna memang masih muda, masih gadis. Dan aku pun tersenyum menanggapinya.
“Aku ini udah tua, Dek. Gak mikir jijik atau berfikir mau lapor. Karena apapun itu pekerjaanku asal halal. Dan intinya harus bersyukur, itu saja. Dan kamu juga harus bersyukur, tempatmu di kota tidak mencangkul sepertiku,” kataku dengan tenang.
“Aduh, Mbak Ana kayak gak tahu aja. Majikanku rewel, makan aja apa-apa beli sendiri, setiap hari makan bubur aja, aku bosen. Kadang ingin kabur aja rasanya,” tambahnya lagi.
“Ya Allah, Dek. Jangan seperti itu. Kebanyakan manusia itu kurang bersyukur dan selalu melihat ke atas. Mungkin Dek Ratna selalu membandingkan dengan teman adek yang bernasib lebih baik. Tapi pernahkah adek membandingkan dengan yang bernasib sepertiku? Mencangkul, memelihara ratusan bebek, menanam ubi dan sayur. Tak peduli musim panas, hujan bahkan musim dingin sekali pun, kebun dan bebek adalah duniaku. Jadi jangan pernah punya pikiran ingin kabur karena masalah sepele,” kataku panjang kali lebar, menasehati Dek Ratna.
Aku lihat dia terdiam, menduduk dan mungkin memikirkan sesuatu. Tiga puluh menit kami terdiam, berperang melawan pemikiran masing-masing. Dan akhirnya dia berpamitan.
“Mbak Ana, terima kasih ya nasehatnya. Aku akan berusaha mencoba bersyukur. Oh ya, ini nomer HP ku. Kalau Mbak Ana ingin beli sesuatu, SMS aku saja. Nanti aku paketin ke Mbak. Mbak Ana kerja hati-hati, ya.” Ucapnya seraya merangkulku dan pergi.
Mungkin kisahku dan Dek Ratna pernah terjadi pada kalian. Di mana sebenarnya kasus TKI kabur itu karena kurang adanya rasa bersyukur dan terima apa yang Tuhan gariskan pada kita. Mereka selalu membandingkan dengan orang lain yang bernasib lebih baik dari pada dirinya sendiri. Lalu timbul rasa ingin dan iri. Kemudian merasa dirinyalah satu-satunya TKI yang menderita, dan kabur jalan yang ia tempuh. Sebelum kabur mestinya kalian berfikir. Tujuan kalian ke Taiwan itu mencari kebebasan, bertamasya, kuliner atau mencari uang. Memang, ada yang bilang, “menyelam sambil minum air,” yang bisa jadi diartikan, selama jadi TKI boleh lah bertamasya. Boleh, memang boleh. Tapi lihat kondisi dulu. Kalau memang Tuhan memberi kita jalan hidup yang sulit untuk bertamasya, jalan-jalan, apakah iya kita protes pada Tuhan? Tidak kan.
Mungkin dengan apa yang Tuhan berikan, itu yang terbaik untuk kita. Walaupun terkadang sedih, dan seperti tidak sanggup lagi menjalani. Tapi percayalah, hanya dengan bersyukur, semua akan baik-baik saja.
Kurang lima bulan lagi, aku finish kontrak. Dan aku akan DH(Direct Hiring). Mungkin di antara kalian akan bilang aku bodoh, kenapa gak ganti majikan saja, bukan?
Tidak, kawan. Karena yang aku cari adalah uang, kecocokan dan kenyamanan. Dan aku? Nyaman sekali di sini. Aku anggap seperti rumahku sendiri. Jadi seberat apa pun pekerjaan itu, jika kita menjalani penuh ikhlas dan bahagia. Hasilnya pun kita nyaman. Jangan pernah punya keinginan kabur karena masalah sepele. Lihat kembali, di luar sana masih banyak yang bernasib buruk dari kalian, tapi mereka bertahan. Bukan karena mereka bodoh, tapi karena mereka paham, mereka ke Taiwan untuk mencari uang, bukan berfoya-foya yang justru akan menghambat jalan pulang ke kampung halaman.
Taipei, 25 Mei 2016

Tetesan kasih di formosa

Nawang wulan / Tetesan kasih di formosa / Tidak ada / tenaga kerja asing Tetesan kasih di formosa Karya : Nawang Wulan Demi kebahagian keluarga, kuharus menepiskan segala kebutuhan pribadiku. Aku tak ingin melihat keluarga terus terusan berada dibawah garis kemiskinan. Aku bertekat pergi merantau, walaupun aku harus rela meninggalkan mereka di kampung halaman. Namun perjalan hidupku tak … Continue reading “Tetesan kasih di formosa”

Nawang wulan / Tetesan kasih di formosa / Tidak ada / tenaga kerja asing
Tetesan kasih di formosa
Karya : Nawang Wulan

Demi kebahagian keluarga, kuharus menepiskan segala kebutuhan pribadiku. Aku tak ingin melihat keluarga terus terusan berada dibawah garis kemiskinan. Aku bertekat pergi merantau, walaupun aku harus rela meninggalkan mereka di kampung halaman. Namun perjalan hidupku tak seindah yang ku bayangkan.
Kutelusuri hidupku setapak demi setapak. Letih raga tiada aku rasa, demi mewujudkan cita-cita keluarga bahagia. Liku liku kehidupan yang aku lalui tak membuatku surutkan langkah kaki. Maju dan terus maju, walau rintangan selalu menghadang didepanku. Ku bularkan tekatku dalam mengarungi gelombang kehidupan yang menyimpan berjuta misteri.
Singkat kata, dinegeri formosa kulangkahkan kaki mencari rejeki. Harapan ku tanamkan tanpa ada keraguan. Aku berusaha semaksimal mungkin bekerja sesuai dengan kemampuanku. Berdoa dan berusaha, bekerja keras demi cita cita. Akan tetapi sebagai manusia biasa yang bisa yang hanya bisa berencana, Tuhan jugalah yang menentukan.
Siang berganti malam, minggu berganti bulan. Setahunpun telah berlalu tanpa terasa, semua berjalan biasa saja, tak ada pengaruh yang berati bagiku. Namun menginjak tahun ke dua, aku mulaj merasakan perubahan pada diriku. Dku yang dulunga lugu dan culun, kini aku mulai suka berubah. Aku suka membeli alat-alat kecantikan. Yang dulunya pakaianku panjanv dan sederhana, kini aku suka pakai pakaian yang serba minim. Dulu yang rambutku selalu ku ikat ekor kuda, kini ku gerai dan ku semir pirang. Dan lagi yang dulu aku masa bodoh dengan tubuhku yang bongsor, kini aku mulai diet untuk mendapatkan tubuh yang sexi dan idial. Tubuhku yang tinggi membuatku yakin dan percaya diri aku bisa berpenampilan aduhai. Aku telah melupakan segala cita citaku. Aku melupakan tujuanku untuk apa aku sampai di negeri ini.
Begitulah aku yang sekarang bukan aku yang dulu lagi. Setiap liburan aku aku habiskan waktuku untuk hura hura bersama teman-teman yang berpandangan sama denganku. Tak ketinggalan kamipun mulai bisa mengkonsumsi rokok. Tak malu malu lagi kami merokok, walau didepan umum. Cuek dan masa bodoh apakata orang. Semua itu kulakukan dengan enjoy tanpa beban. Begitulah hari-hariku selama ini.
Hingga pada suatu hari aku mendapat kabar temanku jatuh dari lantai atas. Aku tertegun tak percaya. Satu temanku telah meninggalkanku, namun perasaan kehilangan cuma berlangsung beberapa minggu saja, kami masih terus menjalani hura-hura. Nasehat dan saran dari teman-teman tidak kami hiraukan.
Waktu terus berlalu, dan akupun belum ada tanda-tanda untuk menyadari bahwa apa yang kami lakukan salah. Gelak tawa canda, dandan sexy masih terus menjadi kebiasaan ku. Aku nyaman nyaman saja. Bahkan aku mulai ikut-ikutan berdugem ria. Aku tidak mau dibilang kurang gaul. Aku tidak ingin orang mengatai aku cewek kuper. Baju-bajuku kini separoh badan semua. Bahkan lebih terkesan hanya yang bagian penting saja yang tertutup. Tidak, aku suka menonjolkankan buah dadaku agar aku dibilang cewek yang gaul dan sexy. Aku sangat bangga dengan tubukku yang sexy, tinggi semampai, pastilah idaman setiap wanita. Dan aku selalu menyerang orang-orang yang berusaha menasehati aku. Selalu aku katakan karena mereka iri padaku. Begitulah aku dengan segudang perubahanku selama dinegeri formosa ini.
Pada suatu hari kami mengadakan acara ulang tahun salah satu temanku disebuah taman kota di Taipei. Taman 228, itulah tempat tujuan kami mengadakan acara. Bernyanyi, bergembira, dan tidak lupa berjoget ria dengan iringan musik yang ada di hp kami. Ditengah- tengah acara aku disuruh temanku untuk membeli makanan ringan ke seven eleven yang tidak jauh dari taman. Akupun segera berangkat dengan hati berbunga bunga. Pada saat itulah, karena kurang hati- hati, aku tidak memperhatikan jalanan. Aku berlari lari kecil, namun ” brusskk”, aku terjatuh. Itu yang ku ingat. Selainnya aku tidak ingat lagi. Aku tidur pulas, pulas sekali, bahkan aku tak tahu aku dimana dan kenapa.
Disuatu saat aku menelusuri sebuah lorong yang panjang, perlahan lahan kulangkahkan kaki panjangku yang berbalut celana jiens street warna biru muda, warna faforitku. Tas kulit usang bergantung dipundakku. Suasana sepi dan dingin menyayat membuat bulu kudukku merinding. Aku terus berjalan menelusuri lorong itu. Lorong inj menuju kemana, pikirku dalam hati. Namhn akhirnya aku tahu diujung lorong ada persimpangan lorong lagi, aku bingung, pilih yang arah mana. Hati kecilku menyuruhku ambil langkah kekanan, disisi hatiku yang lain menyuruhku membelok kekiri. Aku berdiri sejenak, dan aku teringat kata- guru agama sewaktu aku disekolah dulu. Bila kita lupa atau dalam kebingungan, pijitlah leher belakang pangkal kepala sambil menyebut nama Allah dan bersholawat. Mendadak aku terkesiap. Seketika itu juga aku lakukan apa yang ku ingat, rifleks ku langkahkan kakiku kearah kanan. Ya aku terus melangkah, hingga aku sampai ke station taipei. Lagi-lagi suasana sepi dan lenggang. Tam seorangpun aku lihat disana. Aku duduk dikursi ruang tunggu.
Kriiiyyyt, kriiiyyt, kriiyyyt, thok thok thok, bunyi langkah kaki membuat jantungku berdebar- debar. Kupalingkan kepalaku menengok kanan kiri mencari datangnya arah suara, namun belum kutemukan adanya orang yang sedang berjalan. Suara langkah kaki semakin jelas, dan dekat sekali, tetapi aku tak bisa melihatnya. Badanku menggigil, keringat dingin bercucuran. Siapa yang datang? Aku berdiri untuk memastikan apakah ada orang apa tidak. Di samping kanan yang agak terhalang oleh dinding tangga, mataku menangkap sebuah bayangan yang bergerak seperti menenteng sesuatu, aku tak berani menyapa, karena suasana dilorong itu sepi sekali, apakah laki-laki atau perempuan, aku tak bisa memastikan.
Dengan masih diliputi rasa ketakutan, aku berjalan keujung lorong yang kelihatan ada lampu bersinar terang. Bukan lampu, tetapi terangnya alam disiang hari, kata hatiku memastikan. Kepercepat langkah kakiku untuk menggapai ujung lorong. Dan ternyata benar. Ujung lorong yang menghubungkan dengan jalan raya. Namun belum sampai keluar lorong, tiba tiba ada mobil putih datang diparkir di ujung lorong, yang seakan menghalangi jalanku. Aku menghindari, namun tiba tiba pintu mobil dibuka dari dalam,
” Oh my god” pekik ku lirih kagum akan ketampanan sang pengemudi yang membuka pintu. Aku terpana dibuatnya. Aku berdiri diam, namun sang tampan menyuruhku naik ke mobil. Aku riang sekali lagi aneh, kenapa aku harus naik mobil mu? Kataku sengit, aku menolak, tetapi dia memaksa naik. Aku menolaknya, dan akupun hendak berlalu meninggalkannya. Namun dengan gesit dia hadang jalanku dan menarik tanganku memaksaku masuk kemobil. Aku sangat tidak suka dengan kekasaranya. Diikat tangan ku, dipasangnya sabuk pengaman, dan di kuncinya pintu mobil itu, “hai, hai, buka pintu, aku gak mau iku kamu,” teriakku keras. Dia tak pedulikan aku. Dia acuhkan diriku yang memandangnya garang. Gejolak brutal yang mempengaruhiku masih tersimpan didada. Dia cuek dan tersenyum senyum simpul menyimpan misteri yang tak ku tahu.
Sampailah disuatu tempat, dia hentikan laju mobilnya. Dibukanya ikatan tanganku, dilepaskannya sabuk pengaman dibadanku, dibukanya kunci pintu mobil putihnya seraya menunjuk kesebelah arah. “keluarlah, jalanlah kamu kesana, ingat jangan belok belok lagi, jalan lurus dan terus,” katanya kepadaku sambil tersenyum. Alamaaaak, hatiku dibuatnya bergetar juga melihat senyumannya. Aseem, pekikku dalam hati sambil membalikan badan, takut kelihatan mukaku ketahuan berubah. Aku rasakan mukaku merah bukan marah, tetapi jengah. Aku ikuti petunjuknya. Aku kembali menyusuri lorong panjang, namun kali ini ada aroma semerbak harum. Selalu ku ingat pesannya, lurus dan lurus, berjalan. Sampai di satu tempat, kulihat ada seorang wanita tua sedang menyuapi dua anak kecil yang lucu lucu. Mereka bertiga serentak memandangku. Aku terkejut seakan kenal dengan mereka. Yeach aku kenal baik dan bahkan akrab dalam keseharianku. Tetapi kenapa mereka sampai disini, diTaiwan ini? Mamak ku sayang, kenapa berada disini, dan dua anak kecil itu, dua buah hatiku. Kutatap mereka dengan pandangan nanar dan berkaca kaca. Ada aliran hangat yang meleleh di sudut mataku. Kupercepat langkah kakiku ingin segera memeluk mereka. Namun kenapa aku tak bisa memeluknya, mereka berjalan terus, dan aku terus mengejarnya, sampai nafasku tersengal sengal.
“Maaak, maaaak,” aku memanggil mamak yang menhilang bersama dua buah hatiku yang selama ini ku tinggalkan. Aku terus berlari mengejarnya. “Maaak pean dimana maaak, aku sendirian kii loo maak,” aku memanggil sambil mulai terisak isak. Samar samar aku mendengar ada suara berbicara didekat telingaku. Berbisik lembut dan merdu seakan melantunkan sebuah lagu yang merdu. Eh bukan syair lagu. Kutajamkan pendengaran ku. Ya Arhamarohimiin. Ya Arhamaarohimiin. Hatiku tiba tiba begejolak dan bergetar hebat sekali. Lantunan itu semakin jelas. Lantunan itigoshah, yaa, orang melantunkan istigoshah. Tiba tiba aku menjerit keras, Yaa Allah, Yaa Allah Yaa Allah. Air mataku mengalir deras. Belaian lembut dan hangat kurasakan mengusap pipiku. Ku dengar seseorang mengucap syukur Alhamdulillah, dia sadar, katanya. Siapa yang sadar yaa, siapa yang pingsan pikirku terus. Tapi hatiku masih terpaku dengan lantunan istighoshah.
Perlahan lahan aku melihat suasana yang serba putih dan bersih. Semerbak bau obat obatan menghampiri hidung kecilku, ku. Kubuka mataku perlahan, kulihat seseorang memegang mataku dan membukanya, serta menyorotkan lampu senter kebola mataku. Aouw, silau man, pekikku. Namun aku tak bisa membuka mulut, karena sesuatu ada yang menyumlal mulutku.
Perlahan dan pasti kesadaranku pulih, alat-alat yang menempel ditubuhku sudah dilepasi semua. Tinggal satu jarum selang infus yang menempel. Aku masih tertidur saat kudengar sesorang yang disebut ustadz mengucapkan tahmid. Subhannallah alhamdulillah, Allah masih menyayanginya, dan masih memberi kesempatan. Semoga bila sudah sehat nanti, mbak ini bisa kembali kejalan yang benar, Amiin,, suara serempak kudengar mengaminkan. Dadaku kembali bergemuruh. Aku menangis haru, kulihat ada sekitar 9oeng mengerubungi aku sambil memberiku semangat. Cia yao,, cia yao, kami menunggumu bergabung dengan kami. Aku masih menangis, ternyata aku bermimpi tetapi bukan bermimpi sembarang mimpi. Kini aku sadar selama ini aku salah jalan. Astaghfirullohal’adziim, Yaa Allah, ampunilah hambamu ini Ya Allah…
Kini aku sudah pulih seperti sediakala, Allah telah menunjukan kasihnya dengan cara di masukannya kaki ku kedalam selokan, agarku terjatuh, dan kepalaku membentur beton, karena ketidak hati hatianku. Mungkin karen kondisi tubuhku yang saat itu tidak fit, dan atau apa, namun apapun kondisi tubuhku, Allah dengan kasih sayangnya menegurku agar aku mendekat kepadanya. Tetesan kasih Allah kurasakan begitu nyaman dan tenangnya hati sekarang ini. Allah tidak pernah meninggalkan kita, kitalah yang selalu melupakannya,,,
Formosa, 25 mei 2016.

Jangan Pandang Sebelah Status Kami

Zikriani Putri / Jangan Pandang Sebelah Status Kami / FLP Taiwan & KPKers Taiwan / tenaga kerja asing Jangan Pandang Sebelah Status Kami Karya: Zikriani Putri PRAKKK …!!! Suara kursi melayak ke lantai. Aku hanya terdiam dan menatap ngeri di sudut ruang tamu. Perempuan yang setiap hari selasa, kamis dan sabtu sering aku temui di ruang ini. Sosok … Continue reading “Jangan Pandang Sebelah Status Kami”

Zikriani Putri / Jangan Pandang Sebelah Status Kami / FLP Taiwan & KPKers Taiwan / tenaga kerja asing
Jangan Pandang Sebelah Status Kami
Karya: Zikriani Putri

PRAKKK …!!! Suara kursi melayak ke lantai. Aku hanya terdiam dan menatap ngeri di sudut ruang tamu.

Perempuan yang setiap hari selasa, kamis dan sabtu sering aku temui di ruang ini. Sosok perempuan tegar, menurutku! Aku dengar, saat umurnya 27 tahun dengan tiga anak. Ia harus kehilangan suaminya. Sehingga memaksanya harus berjuang sendiri.

Pranggg …!!! Perempuan itu kembali membating gelas yang ada di atas meja, setelah keluar dari kamar mandi. Dengan nafas tersengal-sengal.

Ia menghampiriku dengan wajah kacau dan kusut. Aku tertunduk dan bingung harus melakukan apa.

***
Kubuka tirai jendela berwarna hijau, angin membelai lembut rambutku yang masih berantakan. Kuhirup dalam-dalam angin segar. Musim dingin telah berlalu, waktu yang bagus untuk membawa Kakek jalan-jalan.

Di Sini aku seperti bagian dari keluarga mereka, semua kepercayaan sepenuhnya diberikan kepadaku. Aku hanya tinggal satu rumah dengan Kakek, sementara majikanku tinggal di apartemen sebelah. Kakek berumur 90 tahun, meski badannya masih sehat tetapi karena faktor umur menderita Demensia. Ia biasa berjalan sendiri sementara segala kebutuhan aku yang menyiapkan.

Meski umurnya sudah banyak. Namun, giginya masih bagus. Untuk menyiapkan makan setiap hari tidak perlu dibedakan. Kata anaknya Kakek orang rajin gosok gigi, setiap hari kadang 5 kali gosok gigi. Pagi ini aku siapkan Cung Yu Ping, dengan telur mata sapi lengkap dengan minumannya yaitu segelas susu ditambah sedikit kopi.

Setelah selesai melahap makanan yang ada di meja, aku siapkan keperluan Kakek untuk jalan-jalan. Setiap pagi dan sore hari rutin olahraga kecuali kalau cuaca tidak bagus. Kakek yang masih bisa berjalan namun ada kalanya ketika kelelahan ingin istirahat, untuk itu setiap kali keluar rumah aku bawakan kursi roda untuk jaga-jaga.

Aku kagum dengan keluarga ini, mereka saling menghargai satu sama lain, begitu pula denganku. Apabila memaggilku atau menyuruhku dengan ucapan yang sopan. Majikanku seorang pengusaha sukses. Menurut dari cerita Nenek sewaktu hidup itu tak lain karena usaha Nenek yang disiplin mendidik anak-anaknya.

Empat tahun di keluarga ini, aku cukup mengenal karekter mereka. Dua tahun yang lalu Nenek yang tegas dan baik itu meninggal karena tumor paru-paru. Menyisakan luka yang amat dalam bagi Kakek, hingga Demensia makin bertambah. Meski dia sudah merelakan kepergian Nenek tetapi aku tahu betul bagiamana rasanya kehilangan istri yang ia cintai itu. Bagaimana tidak! Meski umur mereka yang sudah tua tetapi adakalanya mereka bersendau gurau dan aku melihat bagaimana kasih sayang diantara keduanya.

“Kakek, jalan kesana, yuk? Itu di sana banyak anak-anak kecil bermain?” tanyaku ke Kakek.

Kakek yang hanya memiliki 3 anak lelaki dan lima cucu, sangat senang bila melihat anak-anak. Kalau melihat anak kecil ia sambil senyum-senyum mengajak anak itu bermain dengan tangannya. Memutar-mutar ujung tangannya.

Kakek tidak menolak ajakannku, Di bawah sinar matahari pagi serta angin lembut, kami berjemur.

“Fa, Kakek kamu penurut, ya? Baik lagi,” ucap Laela baru datang dengan Neneknya.

“Alhamdulilah,” balasku kemudian.

Banyak teman-temanku suka bercanda dan kadang merayu Kakek yang murah senyum. Namun, ada kalanya Kakek kalau kambuh, berubah begitu saja. Yang biasa memanggilku dengan sebutan Fa berubah jadi panggil Siou Jie, bahkan memukulku.

Pagi hari tempat ini cukup ramai, banyak pekerja asing dengan pasien mereka masing-masing maupun juga para warga penduduk asli yang membawa anak-anaknya bermain.

Waktu menunjukan 10.30 waktunya kami pulang menyiapkan makan siang untuk pasien kami.

“Laela, aku pulang dulu ya?” ucapku berpamitan dan Kakek melambaikan tangan ke teman-temanku.

Sore hari persediaan sayur yang ada di dalam lemari es mulai menipis, khawatir malam tidak cukup untuk dimasak, aku bawa Kakek di rumah majikanku dan aku titipkan Kakek pada menantunya, Nyonya.

Di tengah perjalanan pulang, aku merasa batinku tidak tenang. Ada sesuatu yang mengganjal. Setelah memarkirkan sepeda dan ke rumah majikanku.

“Fa, Kekek hilang!” Spontan aku gugup dan mencari Kakek.

Kakek ditemukan di lantai 13 tergeletak disisi pojok tangga. Segera Majikanku menelepon 119.

Tak lama suara sirine mobil ambulance datang dan membawa Kakek ke rumah sakit. Di ruang Emergency Kakek langsung mendapatkan perawatan khusus, tidak ada memar di tubuh Kakek. Namun setelah aku raba, ada bencolan di bagian bawah kepala Kakek. Dokter segera melakukan pemeriksaan.

Aku dan Nyonya menunggu dengan gugup. Menurut keterangan dokter Kakek mengalami cereda bagian kepala yang cukup serius.

“Kakek harus secepatnya mendapatkan pertolongan!” ucap dokter, ”Siapa yang bertangungjawab bila segera ditangani? Kalau dibiarkan saja hanya menunggu waktu! Apakah setuju bila dipasang selang oksegien melalui mulutnya?” lanjutnya.

Nyonya panik karena majikanku Tuan Ke masih dalam perjalanan, Dokter membutuhkan tanda tangan darinya.

“Anak-anak Kakek bersedia Dok, Apapun caranya agar Kakek bisa bertahan!” ucap Nyonya setelah mematikan telepon dari Tuan.
Dokter kembali ke ruangan Kakek, kami masih menunggu dengan panik.

Setelah menunggu beberapa saat, Kami diperbolehkan masuk ke sebuah rungan. Ada sedikit sisa darah yang keluar dari mulut Kakek, sepertinya bekas memasukkan selang besar ke mulut Kekek untuk membantu pernafasaan. Disisi ranjang banyak alat-alat dan kebel.

“Bagaimana keadaan Kekek?” tanya Tuan Ke.

Melihat aku tertunduk sepertinya Tuan tahu benar apa yang aku rasakan,”Fa, kami tidak menyalahkanmu,” ucapnya bijak, “Kami tahu Setiap manusia punya waktunya masing-masing, mungkin ini cara Tuhan,” lanjutnya.

Aku tertunduk, mengusap embun yang hampir jatuh di kelopakku.
Tiba-tiba alat yang berada di samping ranjang Kakek berbunyi.

“Niiiiiiiiiitttttt …!”(Suara mesin elektro Kardiogram)

Mesin yang berada disisi ranjang Kekek menunjukan garis lurus. Suara nada panjang terdengar dari alat itu, secara medis Kakek mengalami Cardiac Arrest.

Aku panik dan mencari dokter untuk segera melihat kondisi Kakek. Tak lama suster dan dokter datang.

Dokter menyuruh suster untuk mengambil alat kejut jantung. Beberapa kali alat itu di letakkan di dada Kakek, seketika itu tubuh Kakek melayang beberapa senti. Namun, nampaknya tidak ada hasil.

“Niiiiiiiiittttt…!” (Mesin Kardiogram kembali berbunyi).

***

Aku lihat langit-langit rumah sakit yang bercat putih, duduk di kursi sambil menunggu pasienku memberikan susu. Sebulan semenjak kepergian Kakek, sekarang mendapatkan majikan baru menjaga Kakek lumpuh.

Seminggu sekali aku dikasih uang makan untuk membeli makanan di luar. Di situ aku bertemu beberapa teman TKI yang letak kamar pasien mereka berdekatan dengan kamar Kakekku.

“Ati, kamu tidak keluar beli makan?” tanyaku pada perempuan berambut kriting sebahu. Saat kutemui dia mengambil cucian dari mesin cuci yang letaknya bersebelahan ruang Kakek.

Dia menggelangkan kepala, Aku lihat kusut matanya sepertinya ada yang dia sembunyikan.

“Kamu sudah makan?” tanyaku memberanikan diri.

“Aku tidak makan kalau … tidak ada sisa makanan dari Nenek.”

Mendengar jawaban barusan membuatku menelan ludah.” Begitu nelansa nasibnya?” batinku berbisik.

“Aku ada makanan nanti aku kasihkan ke kamu, ya?”

“Tidak usah, aku takut nanti dimarahi Nenek. Apalagi nanti kalau Nenek lapor anaknya bisa kena masalah.”

“Tapi, An. Kamu tidak boleh diam begitu saja, kamu punya hak. Disini kita punya hak baik makan maupun tempat tinggal kita harus layak,” ucapku.

“Aku takut, Mbak.”

Ani yang baru satu bulan itu rasanya benar-benar ketakutan. Aku hanya menatapnya pergi jauh meninggalkanku.

Selesai memberikan susu pada Kakek, aku bawa ke luar ruangan. Sambil sesekali aku melatihnya untuk berjalan.

“Tut … Tut …Tut,” Pangilan masuk dari layar Sony milikku. Aku geser layarnya.

“Assalamualaikum!”

“Waalaikumsalam. Dek, aku sekarang sudah berlabuh,” ucapnya.

“Alhamdulilah, kalau begitu nanti kalau waktu istirahat telepon lagi ya, Mas. Ini aku lagi bawa Kakek berjemur.”

“Siapa?” tiba-tiba Ririn teman sebelah kamar menepuk punggungku.

“Kakakku, ia kerja di pelayaran,” ucapku.

“Kamu tega! Membiarkan dia kerja di laut. Apa tidak takut?”

“Maksud kamu?” tanyaku penasaran.

“Bekerja di pelayaran itu sangat sengsara. Selain merasakan ganasnya ombak di lautan juga banyak diantara mereka yang merasakan kerasnya kehidupan di daratan, gaji di bawah standar. Saya pernah melihat di palabuhan Pintung saat diajak Nenek ke rumah anaknya, disitu aku melihat bagimana kehidupan mereka. Bahkan tempat tidur mereka tidak begitu layak, apalagi saat mereka berlayar istirahat mereka kurang cukup, sedangkan tenaga mereka diperas habis-habisan,” tutur Ririn sambil meraih botol minuman di belakang kursi roda yang disediakan seperti kantong Doraemon, karena berisi berbagai peralatan Neneknya.

“Awalnya, aku tidak tahu Rin. Kalau Kakakku menyusul kesini. Tiba-tiba saja dia meneleponku setelah seminggu sampai di Taiwan. Sebenarnya aku tak tega, tahu dia mau ke sini aku suruh bekerja di pabrik. Mungkin, lebih minim resikonya. Kalau sudah habis potogan pindah di pabrik,” ucapku mengenang ucapannya beberapa bulan yang lalu.

“Iya, Fa. Kamu masih ingat kasus TKI sebagai nelayan yang membunuh kaptennya?”

“Ingat!”

“Kasihan! Aku rasa tidak ada api kalau tidak ada asap. Menurutku tidak banyak yang tahu dengan kasus ini, mereka menganggap kesalahan sepenuhnya pada TKI. Meski aku tahu, mereka tetap salah karena menghilangkan nyawa seseorang,” Tatapan Ririn menerawang seolah mengulang kejadian yang terjadi beberapa tahun silam.” Aku kasihan, bagaimana dengan keluarga para nelayan itu? Bagaimana menjengukknya? sementara mereka ditahan di sini,” imbuhnya.

“Aku kurang paham, Rin. Kayaknya mereka sekarang ditahan seumur hidup. Atau mungkin menunggu hukuman mati!” ucapku.

“Itulah, Fa. Seakan keadilan itu tidak berpihak pada kita BMI. Masih banyak kasus lainnya yang tidak tercium ke publik. Kamu dengar kasus Indayani yang membunuh mantan majikannya pada 18 April 2015 silam, karena gajinya selama 9 bulan tidak dibayar, bahkan sempat tercium kabar kalau selain tidak dibayar gajinya juga diperlakukan secara tidak senonoh,” ucap gadis lulusan UNS yang lebih memilih jadi TKI untuk pengobatan ayahnya.

“Tidak ada habisnya, Rin. Membahas kasus TKI, Minimnya perlindungan membuat sebagian mengambil jalan pintas, Terkadang dari pihak ejensi yang seharusnya melindungi TKI malah berpihak pada majikan. Semoga saja mereka yang disini menunggu hukuman mati, mendapatkan perlindungan hukum yang lebih baik.” Kulirik jam tangan di pergelangan tanganku, matahari mulai meninggi.

“Rin, aku kembali ke kamar dulu, ya? Ini aku mau ganti selang kencing.”

“Ya, Fa. Aku juga mau sedak dahak.”

Kami berpamitan setelah masuk kamar masing-masing. Tak lama saat aku mengganti selang kencing Kakek, Dokter datang. Memberi kabar kalau Kakek hari ini sudah boleh pulang.

***
Aku membawa rancel warna hitam di punggungku, kenang-kenagan dari almarhum Kakek. Aku memapah Kakek turun dari mobil. Semenjak aku menjaga Kakek ini, baru pertama kali ke rumah. Sebuah rumah bangunan tua, Saat Nyonya masuk Lif, menekan nomer 4.

Di dalam rumah itu, masih ada Nenek. Aku lihat dari sorot matanya begitu teduh.

“Selamat siang, Nek!” sapaku.

Nenek pun melontarkan senyum padaku, dari perbincangan diantara kami, aku ketahui kalau Nenek tidak bisa melihat dengan jelas. Umurnya yang sudah 85 tahun itu, masih kelihatan cantik. Tubuhnya yang mungil dan kulitnya yang bersih, mungkin banyak mengira umurnya belum ada 70-an.

***

Semburat sinar matahari yang bersiap masuk ke perut bumi, ditelan jajaran pegunungan, menampankan pemandangan begitu indah. Aku lihat dari kaca, sesekali berbicara pada Kekek saat ganti perban.

“Kakek, nama kamu siapa?” godaku, meski tanganku memegang kapas untuk membersihkan lukanya setelah mandi.

“Kuo … Zhang … Wei,” ucapnya, karena hanya nama dia yang masih diingatnya, itupun ia terkadang lupa.

Terdengar suara daun pintu terbuka, tak lama Ta Ayi datang membawa sekantung plastik berisi sayur dan daging.

“Fa, ini sayur untuk seminggu. Sayap ayam ini untuk Nenek dan daging babi giling ini untuk Kakek, untuk daging kamu makan sama Kakek, gading babi ini.”

Aku menelan nafas panjang sebelum mengutarakan apa yang mengganjal dihatiku,” Maaf, Ayi. Aku tidak boleh makan danging babi. Di agamaku dilarang,” ucapku memberanikan diri.

“Dulu Ati juga mau makan daging babi, awalnya tidak mau tapi lama-lama mau.”

“Saya bisa makan apa saja, jangan paksa saya untuk makan daging babi.”

“Ya, sudah. Besuk aku carikan ayam untukmu.”

“Sebenarnya tidak daging juga tidak apa, di dalam lemari ada telur, tahu ataupun apa aku bisa memakannya. Maaf, Ayi. Aku lanjutkan dulu kerjaan saya, memapah Kakek ke ruang tamu,” pamitku.

“Ok.” Ayi menaruh barang yang ia bawa ke meja makan, setelah itu ia duduk di kursi ruang tamu sambil mengeluarkan beberapa botol minuman.

“Tut … tut … tut,” suara masangger masuk dalam HP-ku.

Sebuah pesan yang menyatakan bahwa puisiku diterima sepuluh besar dan diharapkan untuk membacakannya bulan depan pada sebuah cara di Taipei City.

Bahagia, itu yang aku rasakan. Seketika itu juga aku bicara sama Ayi untuk meminta izin libur.

“Tidak, kamu tidak boleh libur,” ucapnya membuat aku sedikit kecewa.

“Bukankah dalam kontrak kerja kita diwajibkan libur sebulan sekali?” gumamku dalam hati.

“Please, Ayi. Ini acara penting!” rengekku.

“Ok, kamu aku kasih libur tetapi cuma setengah hari. Berangkat jam 12.00 pulang jam 18.00.”

Aku terima tawaran itu, meski rasanya agak susah, Bagaimana aku bisa menghabiskan perjalananan yang begitu singkat itu, padahal untuk sampai ke Taipei butuh waktu hampir dua jam.

“Hati-hati, Ma, dengan pembantu. Itu lihat di TV seorang TKI dari Indonesia memukuli pasiennya, untung ada rekaman CCTV. Kalau aku tidak datang ke sini. Mungkin, nasib kamu sama dengan nenek itu,” ucap majikanku dengan meneguk segelas bir.

“Tidak semua TKI itu seperti itu, Ayi. Mungkin hanya segelintir orang saja.”

“Kamu tidak tahu, Fa. Diam saja kamu!”

Ku tutup mulutku rapat-rapat meski jujur aku tidak terima kalau semua TKI disamaratakan. Apalagi yang disorot hanya sisi negatifnya saja.

***
Ranting pohon luruh tertiup angin malam, diiringi gesekan dedaunan yang dipermainkan angin. Hewan malam meningkahi dengan jerit paraunya kemudian suaranya perlahan menghilang. Aku duduk diatas kasur sambil mijiti Nenek, selama satu jam lamanya harus memijit telapak kakinya. Setelah itu memberikan obat tidur dan lelahku terbayar seharian dengan pundi–pundi NT yang setiap bulan aku terima.

“Fa, Maukah kamu mambantuku?” ucapnya sebelum lelap tertidur.

“Besuk beli ikan di pasar. Kalau kurang pinjam uang sama kamu, ya?”

“Iya, Nek. Kalau tidak lebih NT 5000 aku ada.”

Pagi yang sama dengan segala aktivitasku tidak ada yang berubah karena semua telah tertulis dalam kertas putih jadwal harianku dari pagi jam 06.00-22.00 malam.

Aku dengar suara segukan dari kamar, lihat Nenek memegang gagang telepon. Sepertinya habis menelepon anaknya, entah anak yang mana? Setahuku Nenek punya 6 anak. Namun, yang sering melihat Nenek setiap harinya hanya El Ayi dan Ta Ayi. Kalau yang lain sebulan sekali baru datang.

“Fa, Nanti kalau Ta Ayi datang. Bila ditanya, aku pinjam uang kamu.”

“Tapi … Nek. Kan, tadi tidak jadi pinjam. Bukankah uangnya untuk membayar ikan cukup?” tanyaku.

“Pokoknya, kamu nurut saja.”

Aku masih bimbang, haruskan aku katakan yang sebenarnya bahwa memang, nenek tidak meminjam uang kepadaku.

Sore hari, sepulang dari bawa Kakek jalan-jalan terdengar keributan.

“Fa, aku beli ikan NT 5000?”

“NT 3000, Nek.”

“Tadi aku beri NT 5000?”

“Nek, Bukannya pas diberikan sama penjualnya dihitung 3 lembar ribuan, Nenek juga lihat sendiri!”

Aku sudah merasa tidak nyaman, saat terdengar lontaran kata kalau aku tidak memperhatikan Nenek sampai salah menghitung. Namun, aku tetap pada pendirian. Disaat aku benar, aku harus bicara tentang kejujuran.

Aku tidak tahu menahu tentang uang itu, tetapi pada dasarnya kesalahan disudutkan padaku. Pertengakaran antara keduanya semakin menjadi, aku merasa terpojok. Apalagi kembali terdengar dari Ta Ayi kalau tas dan perhiasan Nenek dulu sering hilang oleh pembantu yang dulu.

Pada akhirnya, aku meberanikan diri.” Ayi, aku tidak pernah mengambil barang milik orang lain, kecuali barang itu dikasihkan padaku.” Kemudian keributan itu mereda.

Keesokan harinya El Ayi datang dan menanyakkan kejadian kemarin.

“Ayi. Kalau masalah pekerjaan saya diprotes tidak apa. Tetapi kalau menyangkut uang jujur saya merasa tidak nyaman,” terangku,”Maaf, bila ada kataku mungkin tidak berkenan,” lanjutku.

“Aku tahu, Fa. Kamu jujur dan bahkan Nenek juga bercerita kalau kamu sering menemukan uang Nenek yang jatuh ke lantai, kamu kembalikan. Kami tidak menyalahkanmu, Nenek akhir-akhir ini mulai pelupa, Fa. Kamu tahu, kan?”

“Iya, terima kasih, Ayi.”

Akhirnya, seolah memberikan angin segar ketika kepercayaan itu datang dari seseorang. Gerumbul awan putih seolah mewakili tentang rasaku, uang Nenek NT 2000 ternyata diberikan pada cucunya dua hari yang lalu.

“Fa, Hati-hati di jalan. Taruh dompet yang aman!” pesan Nenek sembari memberikan kunci rumah padaku. Semejak melihat berita di televisi tentang pembunuhan yang menimpa bocah kecil tak berdosa dan beberapa pekan dalam waktu yang berdeketan juga banyak kasus yang hampir sama, membuat Nenek khawatir bila aku keluar rumah.

Terukir bahagia lewat wajahku, meski harus berkejaran dengan kereta dan waktu. Bisa melepaskan penat dalam berkerja selama sebulan hilang dengan kegiatan posifif yang aku lakukan.

Dengan membawa kunci rumah aku masuk begitu saja. Disana anak-anak Nenek berkumpul didampingi alkhohol dan makanan di atas meja, tadi pagi aku sajikan.

“Fa, kamu terlambat pulang. Telat 10 menit.”

“Maaf, Ayi. Tadi macet,” terangku.

“Lain kali kalau libur tidak boleh pulang lebih dari jam 18.00 .”

“Siap.” Aku menuju kamar dan menaruh tasku.

Terdengar suara gaduh dari luar setelah sebelumnya aku dengar percekcokan antara mereka. Nenek mencoba menengahi. Sementara, Kakek aku bawa ke kamar. Tidak begitu jelas yang mereka perbincangkan.

Pada akhirnya, Nenek yang mencoba menghalangi Ta Ayi menampar menantunya, tiba-tiba gemetaran dan kejang-kejang. Mereka masih beradu argumen pada pendirian masing-masing.

Aku masuk dalam kerumuan itu dan membawa Nenek duduk di kursi, ia terus gemetar.

“Apa kalian tidak lihat, Ibu kalian sekarat!” teriakku dengan air mata yang meleleh.

“Kamu siapa?” tanya Ta Ayi.

Aku bopong Nenek ke kamar, sementara anak-anaknya mematung. Bagaimana caranya menyelamatkan Nenek? akhirnya Nenek bisa membuka matanya, namun tangan dan sekujur tubuhnya masih dingin dan gemetaran.
***
Kursi yang terbuat dari papan kayu berserakan di lantai, Ayi mendekatiku. “Sepertinya, aku harus meninggalkan tempat ini,” gumamku.

“Kamu itu pembantu tidak punya hak mencampuri urusan kami! Pergi kamu … pergi ” pekiknya dengan menuding-nuding telunjuknya ke wajahku.

“Bagaimana aku membiarkan Nenek begitu saja?” gumamku lirih.

“Fa, jangan kamu hiraukan kata-kata Ta Ayi, dia lagi mabuk berat,” ucap anak bungsu Nenek.

Akhirnya mereka pergi meningglkan tempat Nenek dengan meja berantakan. Kembali ke rumah mereka masing-masing.

***
Langit tak selamanya biru begitu sebaliknya tak selamanya hujan menyisakan pelangi. Kulihat kembali gambar yang tertera dalam Album yang ada di Handpone, wajah Nenek yang masih kuingat setelah hampir satu bulan aku meningalkannya. Bukan karena kasus itu tetapi kontrakku telah usai.

Seperti pesannya yang begitu bijak,”Lakukan kebaikan, seandainya suatu saat kamu jadi orang punya jangan lupa memberikan sedikit rezekimu pada orang lain,” ucapnya sambil menyelipkan beberapa lembar ke tanganku sebagai tanda terima kasih telah menjaganya.

“Nek, seperti pesanmu. Lewat ilmu yang aku berikan pada anak-anak didikku, berbagi. Tumpukan buku bekas yang aku jajar dilemari toko milik ibukku telah dipijam beberapa orang, karena pada dasarnya berbagi bukan dari materi saja, bukan?” ucapku sambil menutup telepon dari Nenek. Rinduku merdu memanggil, tersandung langit kelabu. Menepikan pilu pada desau bayu, membisu.

Selesai

Catatan:
Demensia: Suatu ganguan otak atau pikun menahun
Mas: panggilan untuk saudara tua laki-laki.
Cung Yu Ping: Makanan yang berbahan tepung dan daun bawang.
Kardiogram: Alat pencatat denyut jantung
Cardiac Arres: Penghentian normal sirkulasi darah akibat kegagalan jantung.
Ta Ayi: Tante tertua
El Ayi: Tante kedua
Taiwan, 25 Mei 2016

HARU YANG MENUNGGU

ADI ANTO / HARU YANG MENUNGGU / KOMUNITAS PENULIS KREATIF TAIWAN / tenaga kerja asing HARU YANG MENUNGGU Oleh: Adi Anto Mata itu begitu sayu dan tanpa binar, seakan terpancar sejuta ratap dan putus asa. Bulir bening pun menggenang dalam. Haru yang kental dan begitu syahdu seiring rinai yang menetes ke bumi, waktuku untuk berlari pergi meninggalkannya dalam … Continue reading “HARU YANG MENUNGGU”

ADI ANTO / HARU YANG MENUNGGU / KOMUNITAS PENULIS KREATIF TAIWAN / tenaga kerja asing

HARU YANG MENUNGGU
Oleh: Adi Anto

Mata itu begitu sayu dan tanpa binar, seakan terpancar sejuta ratap dan putus asa. Bulir bening pun menggenang dalam. Haru yang kental dan begitu syahdu seiring rinai yang menetes ke bumi, waktuku untuk berlari pergi meninggalkannya dalam diam yang meradang.
Esok paginya dia pun masih sama, menatap nanar jauh entah di titik mana. Pandangan yang basah oleh titik-titik air mata dan ada alur di bawah mata sayunya tanda tangisnya pecah semalam. Ingin sekali aku bernasihat, memberinya semua kata bijak para pakar, menyemangatinya untuk menghentikan tangisnya. Hidup itu indah dan dia harus belajar menikmatinya. Tetapi sayu masih menggelayut dan dia kian larut. Apa yang bisa kuperbuat?
Sebelum mengayuh sepedaku pulang kulirik dia yang masih diam di tempatnya. Mungkin sudah beberapa hari ini dia tidak beranjak pergi, matanya yang sayu masih nanar menatap langit yang sudah berkelir hitam. Lara itu masih kentara dan tak kuasa rasanya seorang sepertiku mengusir jauh sang lara itu. Aku berlalu dengan kayuhan pelan sepeda tuaku, menjauh pergi membawa lelah dan iba yang berdesakkan.
“Sudah tahu kabar Mr. Yu?” tanya Anton sambil menyantap pientangnya dengan rakus.
“Masih koma ya?” jawabku balik bertanya.
“Iya … katanya tak ada harapan. Luka di kepalanya terlampau parah.”
Kucerna omongan Anton sambil menelan sesuap nasi yang belum hancur terkunyah dan sekilas sorot mata sayu itu terlintas.
Esok paginya kusempatkan duduk sebentar untuk menyapanya, mungkin perhatianku akan mengalihkan dunianya yang sedang biru.
“Cau an … kau baik-baik saja kan?”
Dia tak menjawab, menoleh kepadaku pun tidak. Tatapannya masih jauh menerawang tak bertujuan. Sepuluh menit kami saling diam aku berlalu saat bel panjang tanda jam kerjaku dimulai berdentang-dentang memekakkan.
Entah perasaan apa yang kumiliki rasanya ada keterikatan antara aku dan dirinya. Sungguh ada iba yang menyeruak menyaksikan bening yang menggantung di mata sayunya. Aku tak tega, sungguh andai aku ini adalah pujangga yang pintar membuat rangkaian kata akan kujelaskan bagaimana sorot mata itu memenjarakanku dalam iba yang tanpa pintu. Tak tega tapi sekali lagi aku bisa apa?
Siang harinya kami ada melakukan acara sembahyang selintas terdengar itu adalah asupan doa untuk kesembuhan Mr. Yu yang terbaring koma. Kulirik dia sepintas … masih sama dalam diam abadinya.
Entah hari itu hari apa yang kuingat hanya dua hari setelah doa bersama untuk Mr. Yu, dari corong speaker terdengar pengumuman dalam bahasa mandarin yang simpang siur kutangkap apa maknanya. Tak lama semua membicarakan Mr. Yu yang telah berpulang, pendarahan di otaknya tak mampu diredam. Setengah berlari aku mendatanginya, aku ingin menyampaikan kabar itu padanya. Ingin memeluk dan menghiburnya.
Dia kudapati lunglai sekarang, jika beberapa hari lalu kepalanya masih tertopang kini semua merebah setara tanah. Bening itu tak lagi menggenang tapi sudah bercucuran, dia menangis dalam.
“Kau tahu Mr. Yu meninggal? Dia sudah berpulang … sabar ya?” Entah kenapa justru kata-kata itu yang terlontar padahal ingin kukatakan hal indah yang bisa membuatnya sedikit bahagia.
Aku tetap tak dihiraukan.
“Mas … ayo pulang ngapain ngurusin anjing itu!” teriak sebuah suara di belakangku.
Entah siapa yang mengajakku pulang, fokusku hanya tertuju pada Haru yang telah beberapa hari ini menunggu. Haru yang hanya seekor Rottweiler mempunyai nurani untuk menanti sang tuan yang koma akibat kecelakaan. Haru yang tidak punya perikemanusiaan tapi menunjukkan padaku arti sebuah setia.
Kuusap tubuh gemetar dan mata yang membanjir air mata itu. Dia berduka begitu dalam lebih dalam dari duka para manusia-manusia.
“Bertahanlah Haru ….!” Itu ucap terakhirku sebelum kukayuh sepeda tuaku pulang. Esok paginya Haru juga tiada ….

Tainan, 25 Mei 2016