Pelangi Di Langit Formosa

Ninik Nuryati / Pelangi Di Langit Formosa / Tidak ada / tenaga kerja asing Namaku Layla,tetapi majikanku biasa memanggilku Lala.Aku tidak tahu apa penyebabnya,mungkin saja nama Lala lebih terdengar indah daripada Layla,atau nama Lala lebih mudah disebut.Apapun penyebabnya itu tidak menjadi masalah bagiku.Yang terpenting adalah Ama(sebutan untuk nenek)dan anak-anaknya baik terhadapku.Mereka benar-benar memperlakukanku dengan baik,mereka menganggapku seperti keluarga … Continue reading “Pelangi Di Langit Formosa”

Ninik Nuryati / Pelangi Di Langit Formosa / Tidak ada / tenaga kerja asing

Namaku Layla,tetapi majikanku biasa memanggilku Lala.Aku tidak tahu apa penyebabnya,mungkin saja nama Lala lebih terdengar indah daripada Layla,atau nama Lala lebih mudah disebut.Apapun penyebabnya itu tidak menjadi masalah bagiku.Yang terpenting adalah Ama(sebutan untuk nenek)dan anak-anaknya baik terhadapku.Mereka benar-benar memperlakukanku dengan baik,mereka menganggapku seperti keluarga sendiri.Anak-anak perempuan Ama melarangku memanggil dengan sebutan Thai-thai ataupun Siaoce ,mereka menyuruhku memanggil dengan sebutan Jie-Jie,biar lebih akrab.Bagiku dan tentunya bagi para BMI lainnya saat awal mulai kerja di Taiwan adalah masa yang sulit bagi kami.Kami harus belajar menyesuaikan diri dengan kehidupan baru.Tentang makanan yang mungkin pada awalnya terasa aneh (hambar)di lidah kami, yang sudah terbiasa dengan pedasnya sambal.Bekunya musim dingin yang belum pernah kami rasakan sebelumnya di Indonesia.Dinginnya sampai merasuk ke tulang,sudah pakai rompi jaket tetap saja dingin.Kalau mau jujur terkadang rasanya malas untuk keluar dari hangatnya selimut tebal,tapi bagaimanapun aku berusaha melakukan tugas-tugasku sebaik mungkin.Sikap kekeluargaan dari majikan seperti mesin penghangat yang memompa semangatku.Semuanya berjalan dengan baik,apa yang disukai dan yang tidak disukai Ama sekeluarga aku sudah hafal di keluar kepala.
Hingga pada suatu hari Ama yang telah divonis dokter menderita kanker sejak setahun lalu,kondisinya semakin memburuk.Dia tidak mau makan dan minum.Tubuh rentanya semakin mengurus.Benjolan tumor ganas di leher Ama membuat dia kesulitan untuk menelan makanan,bahkan untuk minum susu pun dia meringis kesakitan.
“Lala, besuk kita harus membawa Ama ke rumah sakit.Tolong siapkan semua keperluan Ama selama di rumah sakit” kata Jie jie kepadaku.
“Hao” jawabku,kemudian bergegas menyiapkan segala keperluan Ama.
“Jangan lupa membawa keperluan kamu sendiri” terdengar suara Jiejie yang lembut,mengingatkanku.
Pagi-pagi sekali kami berangkat dari rumah,mengendarai mobil menuju sebuah rumah sakit besar di Taipei.Jalanan kota Miaoli yang kami lewati masih lengang.Baru satu dua kendaraan terlihat berpapasan dengan kami.Ama terkulai lemah di pangkuanku.Iba sekali melihatnya.Meskipun baru 2 bulan merawatnya tapi aku sudah menganggap seperti nenekku sendiri.
Serangkaian pemeriksaan dilakukan oleh para petugas medis,setibanya di rumah sakit.
“Setelah melalui berbagai pemeriksaan,kami menemukan penyakit kanker di tubuh Ama sudah mencapai stadium 4” , ucap seorang lelaki berbaju putih yang kupastikan dia adalah dokter yang menangani Ama.Dia memberikan penjelasan panjang lebar yang tentunya aku tidak paham.Aku hanya diam melongo.
Hari – hari berikutnya kulalui di rumah sakit.Setiap hari secara bergiliran anak-anak Ama datang menemani.Siang hari mereka menyuruhku tidur,karena mereka tahu malam hari aku jarang tidur.Malam hari Ama susah tidur,dan aku dengan setia menemani di sampingnya,membelai tangannya.Aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengurangi sakit Ama ,setidaknya genggaman tanganku bisa menenangkan hatinya.Dokter mengatakan kemungkinan Ama untuk sembuh sangat kecil.Perlu dilakukan serangkaian pengobatan kemoterapi dan juga operasi pengangkatan tumor.Tapi,mengingat usia Ama yang sudah 90 tahun operasi tidak bisa dilakukan.Menitik air mata ini mendengarnya.Apa mau dikata hidup mati setiap manusia sudah diatur.
Hingga sampai saatnya malam itu semua anak-anak Ama sudah berkumpul,Ama menghembuskan nafasnya yang terakhir.Tangannya masih dalam genggamanku,mata yang hanya berkaca-kaca telah tumpah mengeluarkan airmata.
Selamat jalan Ama,semoga engkau tenang di sana.
Dengan kepergian Ama berarti finish sudah kontrak kerjaku dengan keluarga bermarga Xi itu.Aku tidak pernah membayangkan Ama akan pergi secepat itu,belum genap 4 bulan aku harus mencari majikan baru,
“Lala, kalau kamu mau ikutlah kami ke Taipei,merawat ibu mertua ku.” suara Tuan Xi menghapuskan kegelisahan ku,keresahan ku tentang masa depan ku di negeri Formosa ini.
Sama seperti sebelumnya keluarga mertua Tuan Xi juga memperlakukan ku dengan baik.Ibu mertua Tuan Xi(untuk memudahkan disini aku menyebutnya Ama juga)menderita kanker hati.Oh Tuhan,kanker hati yang dideritanya sudah menginjak stadium 4 juga.Semalaman Ama tidak tidur,akupun bergadang setiap malam.Aku merawatnya dengan ikhlas,sejak awal aku selalu menanamkan di hatiku bahwa tidak ada yang sia-sia.Selalu ada indah di balik kesusahan,ada hikmah di setiap musibah.Dengan begitu setiap pekerjaan apapun akan terasa lebih ringan.Aku selalu berharap adanya sebuah mukjizat,berharap Ama bisa membaik.Ternyata takdir berkata lain,aku kembali harus membiasakan diri dengan aroma obat-obatan yang menyengat.Kondisi Ama yang memburuk membuat kami harus membawanya ke rumah sakit..
Kejadian yang sama terulang lagi.Persis seperti dua bulan yang lalu,Ama menghembuskan nafasnya yang terakhir,sembari masih menggenggam tangan ku erat.Airmata menitik melepas kepergiannya.Selamat jalan semoga engkau tenang di alam sana.Setiap yang bernyawa pasti akan pergi,ini adalah hukum alam yang tidak bisa dipungkiri.
“Hhuhhhh” ku hela nafas panjang .Setelah usai upacara penghormatan Ama yang terakhir saatnya aku memikirkan masa depan ku di negeri ini.Ya…harus mencari majikan yang baru.Sebagai manusia biasa ,aku juga tak luput dari rasa was was ,memikirkan tentang majikan selanjutnya.
“Lala,aku punya teman ,dia mempunyai ayah yang perlu dijaga, kamu mau gak kerja di sana ” Ucap majikan ku di suatu sore.Sebelum aku menjawab di melanjutkan perkataannya ” Sekarang ini ada seseorang yang menjaga dia,juga orang Indonesia tetapi mereka kurang begitu suka.Kalau kamu mau kerja di sana Ati (nama BMI yang ada disana)akan di kembalikan ketempat agency”.
Aku terdiam sebentar…”Bagaimana?” majikan ku bertanya ulang sambil memandangku.
“Maaf Tuan,agency sudah menelepon saya pagi tadi ,saya sudah mendapat majikan baru.”Jawab ku berbohong.Jawaban yang sebenarnya adalah aku tidak mau merampas pekerjaan mbak Ati.Meskipun aku belum pernah bertemu dia,tetapi bagiku sesama BMI adalah semuanya teman,saudara harus saling menolong.
Kaki ku selanjutnya menapak di Daan Distrik,sebuah tempat yang strategis dekat Taman Daan.Sayangnya meskipun rumah majikan ku dekat dengan Taman Daan ,sekalipun aku belum pernah ke sana karena Ama yang ku jaga tidak mau keluar.Seperti roda sepeda yang selalu berputar ,dua majikan ku dulu sangat baik terhadap ku ,tapi yang ini “agak”kurang bersahabat.Kesan keramahan yang kulihat pertama kali saat masuk ke rumah ini,sekejap langsung menghilang bersamaan dengan deru mobil agency yang menjauh meninggalkan ku sendiri di rumah majikan baru ku.Bukan ,bukan sendiri karena di situ ada mbak Ani,perempuan asal Jawa Timur yang usianya beberapa tahun di atas ku.Perasaan ku dag dig dug juga,mengingat obrolan teman-teman di fb kalau satu rumah dua orang BMI pasti tidak enak,saling iri,saling menjatuhkan dan sederet kata lainnya yang berkesan negatif.
“Lalaaaaa,”suara serak Ama mengagetkan ku.
“Kamu kerja di sini harus mengikuti jadwal .Harus mengerjakan sesuai dengan waktunya,menyapu,mengepel,masak,dan menjaga ku,karena Ani bertugas merawat Akong.”ucap Ama panjang lebar.
Seperti anak sekolah sedang mendengarkan penjelasan ibu guru ,kepala ku manggut-manggut mendengarkan mbak Ani menjelaskan tentang jadwal kerjaku.Benar -benar seperti anak sekolah.Semua harus dikerjakan tepat waktu ,kalau terlambat 5 menit saja aku harus siap-siap mendengarkan ceramah Amaku yang dulu juga berprofesi sebagai guru.He…he….
Kami ,aku dan mbak Ani lumayan cocok ,kami bekerjasama menyelesaikan pekerjaan rumah .Ketakutan ku tentang permasalahan yang selalu ada bila 2 BMI bekerja di satu tempat tidak terbukti,nyatanya kami akur-akur saja.Saling membantu,pekerjaan mana yang belum selesai dikerjakan bersama-sama.Seringkali kami mendapat ceramah dari Ama,kami diam mendengarkan,tapi setelah itu kami lari ke dapur,saling pandang dan akhirnya tertawa bersama-sama.Yah,itulah cara kami menghilangkan rasa stress karena setiap hari harus menghadapi Ama yang super dan pekerjaan yang seperti tak ada habisnya.Kami bekerjasama menjaga Ama dan Akong yang sama-sama sudah lanjut usia.Apalagi Akong,kata mbak Ani sudah dua tahun ini Akong hidupnya bergantung pada tabung oksigen.Keluar masuk rumah sakit sudah menjadi kegiatan rutin.Sementara satu satunya anak Ama tinggal di Amerika.Jadi segala sesuatu kami yang mengurus.Hari -hari terasa begitu melelahkan ,apalagi saat Akong masuk rumah sakit.Karena mbak Ani menjaga Akong di rumah sakit,itu berarti aku harus menyiapkan telingaku untuk mendengarkan ceramah Ama yang tak ada habisnya,sepanjang hari.Belum lagi masalah belanja,kami harus laporan satu-satu sehabis belanja.Satu sen pun tidak boleh salah menghitung.Rumus matematika pun berlaku untuk menghitung berapa harga sebuah pampers. Huhhhh,jengkel banget rasanya.Tapi apa boleh buat ,ini adalah pekerjaanku,tanggung-jawabku.Meski letih aku harus berjalan sampai tujuan terakhir.
Waktu berjalan seiring bergantinya musim,dari musim panas ,ke musim gugur ,melewati musim dingin dan kembali ke musim semi.Musim semi tahun ini genap setahun aku bekerja di keluarga bermarga Zhao ini.Lelah rasanya,capek tenaga dan pikiran.Dan ternyata Akong juga lelah mondar mandir ke rumah sakit.Dia menghembuskan nafasnya yang terakhir di rumah di hadapan kami,aku dan mbak Ani.Ama sudah tertidur,saat itu.Aku bergegas membangunkan Ama,mbak Ani menelepon keponakan Ama,sekejap beberapa orang berdatangan ,juga dua orang polisi untuk memastikan bahwa kematian Akong adalah wajar bukan karena tindak kriminal.Belakangan baru ku tahu bahwa setiap kematian di rumah maka pihak berwajib akan datang untuk melakukan pemeriksaan.
Selamat jalan Akong……sekarang kamu sudah tidak merasakan sakit lagi.Selama setahun lebih aku sudah menyaksikan 3 orang menghembuskan nafasnya di depan mataku.Setiap yang bernyawa pasti akan mati.Selagi ada kesempatan marilah kita berbuat yang terbaik.
Suara deringan telpon mengejutkan lamunanku,
“Wei,maaf ini siapa?”tanyaku dengan bahasa Mandarin.
“Layla” suara yang sangat ku hafal,satu satunya orangTaiwan yang bisa mengeja namaku dengan benar ,Mr.Wu ,agency ku yang sekaligus juga agency mb Ani.
Mr.Wu memberikan penjelasan panjang lebar yang intinya bahwa karena Akong meninggal semestinya mbak Ani harus berpindah majikan tetapi Ama memutuskan agar mbak Ani tetap tinggal disitu karena mbak Ani lebih lama disitu jadi paham semuanya dibanding aku yang belum genap setahun di situ.Separoh rasa lega dan was-was.Lega karena selanjutnya tidak harus mendengarkan kuliah gratis dari Ama dan was-was memikirkan majikan baru.
Sudahlah,semuanya akan baik-baik saja bisikku dalam hati menyemangati diriku sendiri.Meskipun Ama orang nya rewel tapi dia tetap berbaik hati,selama menunggu majikan baru aku tetap boleh tinggal di situ ,bekerja di situ sampai mendapat majikan baru.Bayangan tidak menyenangkan tentang bagaimana rasanya harus menunggu majikan di tempat agency hilang sudah.
Selama ini sering terdengar cerita sedikit miring bahwa kita diwajibkan membayar sekian ratus nt perhari sebelum mendapat majikan baru.Entahlah mungkin setiap agency punya aturan sendiri-sendiri.
Waktu mengalir,sudah lebih dari sebulan aku menanti kabar dari agency.Tetapi mereka belum memberi kabar pasti.Yah,mungkin saja dengan sisa kontrak kerja ku yang tinggal 1,5 tahun ini agak sulit untuk mendapatkan majikan.Akupun tak tinggal diam ,bertanya kesana kemari siapa tahu ada teman yang punya informasi,tak lupa update status di fb ,siapa tahu nasib baik,he….he…
Banyak teman-teman BMI yang memberi respon,menunjukkan solidaritas yang tinggi di antara teman seperjuangan.Pesan memenuhi inboxku,aku saring satu persatu.Tapi sayangnya dari sekian info yang diberikan teman-teman BMI semuanya adalah job dari agency yang berbeda.Jadi aku harus berganti agency.Sudah bukan rahasia lagi ganti agency tidak semudah naik MRT,dalam hitungan menit sudah mencapai tempat tujuan.Dan benar saja Mr.Wu tidak mau melepaskanku.Gagal dech…
Hingga suatu hari seseorang menyapa ku saat aku mengantar Ama ke rumah sakit .
“Ni she Inni ma?” tanyanya sopan.
“She te.”
Lelaki berusia sekitar 40an itu bermarga Wang,dia mengantar ibunya untuk periksa dokter.Dia membutuhkan seorang caretaker untuk merawat ibunya.Karena setiap hari dia bekerja,tidak ada yang menemani ibunya di rumah.Pucuk dicinta ulam pun tiba,kata peribahasa.Aku menyapa ibu Tuan Wang dengan anggukan kepala .Perempuan itu tersenyum kecil.Hemmmm,kelihatannya orangnya baik dan ramah.
Aku memberikan nomor telepon agency dan juga nomor telepon ku agar mudah untuk urusan selanjutnya.Secercah sinar menerangi hatiku yang dipenuhi kegelesihan.Kegelisahan karena takut dipulangkan Indonesia jika dalam 2 bulan aku tidak juga mendapatkan majikan baru.Dari agency aku mendapat kabar kalau Mr.Wang menghubungi dia dan meminta aku bekerja di sana,aku senang sekali.Tapi,,masih ada tapinya
“Layla kamu harus bersabar lagi menunggu karena Mr.Wang belum mengurus surat -surat yang diperlukan untuk mengambil seorang caretaker.Dan aku kurang begitu yakin,karena kelihatannya ibu Mr.Wang masih sehat.” kata-kata Mr.Wu membuat ku tertunduk lesu. “Berdoa saja.”
Ya.Betul sekali ,berdoa ,aku yakin Tuhan akan mendengarkan doa-doaku.Selama menunggu mengurus surat-surat yang di perlukan Mr.Wang sering menelponku,memberitahukan kalau dia masih mengurus surat dokter ,ini,itu dan lain sebagainya.Kadang juga cuma bertanya kabar.Dan untuk menghormati karena dia adalah”calon majikan baru” aku pun selalu mengangkat teleponnya.Tak jarang dia mengirim sms dengan huruf pagar yang sebagian besar aku tak tahu artinya,karena memang di Indonesia kami tidak diajari menulis mandarin.Ditambah lagi aku malas belajar,ha….ha…melihat hurufnya yang bertumpuk melingkar-lingkar sudah membuat pusing.Jalan termudah biasanya aku hanya membalasnya dengan sticker.Obrolan di telepon mengalir begitu saja,dia sering mentertawakan bahasa mandarinku yang berlepotan,yang nadanya ngalor ngidul.Dia selalu menyemangati ku untuk terus belajar mandarin ,siapa tahu nanti berguna setelah pulang ke Indonesia.Benar juga toh tak ada salahnya menguasai bahasa lain selain bahasa nasional.Aku optimis jika nanti aku bekerja di rumah Tuan Wang pasti menyenangkan sekali,orangnya baik,siapa tahu mau mengajariku juga .
Jalan tak selamanya mulus,harapan tak selalu sesuai dengan kenyataan.
“Lala,duepuchi rumah sakit tidak meloloskan permohonan surat untuk ibu,karena beliau masih tampak sehat,jadi aku tidak bisa mengambil kamu bekerja di rumahku.Sebenarnya kami sangat membutuhkan seorang caretaker.” suara Wr,Wang lirih diseberang.Aku tidak begitu jelas apa yang dikatakan selanjutnya karena aku sibuk menenangkan diriku.Salah siapa aku terlalu optimis kalau aku bisa bekerja di rumah Mr.Wang.Menangis lagi,air mata adalah senjata ampuh untuk menumpahkan segala beban.
“Sabarlah ,aku akan mencobanya lagi.” kata Mr.Wang di ujung pembicaraan kami.
Aku mungkin bisa bersabar tapi 2 bulan masa tenggang ku untuk mencari majikan baru apakah juga bisa bersabar?,,,tentu saja tidak,aturan tetap aturan.Aku tidak boleh pulang ke Indonesia ,bisikku dalam hati.Terbayang jelas kedua orang tuaku bermandikan cucuran keringat,tidak peduli panas hujan selalu giat bekerja di sawah.Senyum mereka saat mereka melepasku terlintas kembali.Ya,aku tidak boleh pulang,aku harus menyelasaikan 3 tahun ku di sini.Aku ingin membawakan keberhasilan untuk mereka.
Akhirnya aku menerima tawaran agency untuk bekerja di Xindian.Aku mengiyakan tanpa berpikir panjang ,yang penting adalah aku segera mendapat majikan baru.
“Pekerjaan mu adalah menjaga Akong di rumah Chou Siaoce.Tapi karena dia belum begitu membutuhkan kamu untuk sementara dipinjamkan ke temannya dulu menjaga Ama juga di Xindian.”
Aku diam saja,”dipinjamkan” sebenarnya aku ingin protes,kenapa harus dipinjamkan.Tapi ku urungkan niatku.Di pinjamkan berarti hanya sementara,biarlah kuterima saja yang penting lancar.
Ama berusia 75 tahun itu sekarang menjadi majikan ku.Dia tinggal bersama cucunya yang masih sekolah.Pekerjaan ku adalah merawat Ama dan antar jemput anak itu.Sifatku yang tidak begitu menuntut membuat aku menerima pekerjaan yang kurasa lebih berat dari pekerjaan pekerjaan sebelumnya.Betapa tidak ,setiap hari aku harus mendorong kursi roda berjalan hampir satu jam lebih,mengajak Ama jalan-jalan.Dia memang sangat senang jalan-jalan,tapi kondisinya yang habis operasi tidak memungkinkan dia untuk berjalan sendiri.Tak peduli panas terik kalau dia mau jalan jalan aku juga harus patuh.Bahkan gerimis tetap juga jalan.Tubuhnya yang tinggi besar,hampir 90 kg membuat ku kewalahan.Ditambah lagi harus mengurus cucunya yang maaf agak lemah mentalnya.Lelah.
Tapi aku selalu menyemangati diri ku sendiri.Harus kuat,ikhlas agar terasa lebih ringan.Jia you ,jia you.
Semua akan lewat dan indah pada saatnya.Lama-lama aku menjadi terbiasa,meskipun tiap hari harus berjalan jauh aku anggap saja olahraga.Jalan kaki baik untuk kesehatan.Ha,,ha…meski tiap malam harus merendam kaki dengan air hangat agar tak terasa pegal.Berat badanku pun turun 2 kg,anggap saja diet gratis.
Sikap Ama kurang bersahabat meskipun aku sudah bekerja dengan baik.
“Itu memang sifat Ama jangan di masukkan hati.” hibur anak-anak Ama.Bagiku itu bukan masalah besar.Aku sudah mengalami hal yang sama dimajikan ku sebelumnya.Sudah terbiasa mendengar kata-kata yang tidak enak.Benar dianggap salah,salah harus siap-siap mendengarkan uraian panjang lebat.Sudah biasa,semua pasti berlalu. Pengalaman di waktu lalu telah membuat ku lebih kebal.
Empat bulan berlalu,agency menelpon aku harus segera berkemas dia akan mengantar ku ke rumah Chou Siaoce,karena besuk caretaker Ama yang sebenarnya akan datang dari Indonesia.Alhamdulillah,lepas sudah semuanya,semoga keluarga Chou Siaoce lebih baik,bisikku dalam hati.Meskipun senang lepas dari tugas-tugas rutin selama ini tapi iba juga melihat Ama berkaca-kaca melepas kepergianku.Yah,setiap orang selalu mempunyai sisi baik dan buruk.Semoga mbak yang merawat Ama bisa kerasan dan bisa beradaptasi dengan sikap Ama yang sedikit keras.
Ini kelima kalinya aku harus menenteng lagi koper kesayangan ku.Pindah rumah,pindah majikan.Perasaan ku biasa-biasa saja,tidak seperti dahulu waktu pindah ke majikan baru.Mungkin karena sudah terbiasa,bergonta ganti majikan,menghadapi pekerjaan yang berbeda,perlakuan yang berbeda pula membuat ku menjadi lebih siap menghadapi pekerjaan baru ini.Kalau tidak baik pasti kurang baik atau mungkin rewel,cerewet,apapun aku pernah mengalami.
Pintu terbuka,seraut wajah cantik keluar dengan senyum ramahnya,itulah Chou Siaoce.Seorang Akong duduk di sofa ruang tamu,tersenyum.Yah,dialah Akong yang akan ku rawat mulai hari ini dan seterusnya….
Terima kasih Tuhan,doa doa ku terjawab.Chou Siaoce sekeluarga memperlakukan ku dengan baik.Aku juga bebas masak apa saja kesukaan ku,masakan Indonesia .Tak jarang Jie jie(Chou Siaoce)menyukai masakan Indonesia yang ku masak,karena ternyata dia juga menyukai masakan pedas.Akong,bukan kesulitan bagiku untuk merawat dia.Meskipun agak ribet bagiku tidak masalah yang penting mereka baik terhadap aku.Mempercayai aku.Jie jie juga membebaskan aku untuk beribadah ,dan melakukan apa saja yang penting pekerjaan ku beres.Meskipun jarang libur tapi aku bisa mengajak Akong jalan -jalan keluar.Satu hal yang tidak pernah kubayangkan.Aku menganggap ini adalah jawaban Allah atas doa-doaku.Setelah melewati berbagai kesulitan setelah rintik hujan muncullah pelangi ,pelangi di langit hidupku.Hampir tak ada masalah ,aku kerasan sekali.Jie jie menyukai cara kerjaku.Orangtua ku juga senang mendengarnya.Bahkan Jiejie bilang kalau aku mau setelah selesai kontrakku yang kurang beberapa bulan ini aku bisa balik bekerja di sini.Dia akan membantuku dengan proses Direct Hiring.Dengan begitu gajiku utuh tidak terpotong sana sini.Aku bersyukur sekali mendapat majikan seperti dia.Akhinya di akhir kontrakku aku menemukan majikan yang baik.Kalau tidak ada halangan aku pasti balik ke sini lagi,karena aku punya cita-cita membuatkan rumah untuk kedua orang tua ku.

“妳好嗎?我想妳” .
Sebuah pesan masuk di Line ku.Pesan dari Tuan Wang.Hampir saja aku melupakan orang itu.Ternyata dia masih mengingatku.Komunikasi terjalin kembali,saling bertanya kabar,sedang melakukan apa seperti seorang sahabat.Oh ya,aku sedikit-sedikit mulai belajar mengetik huruf mandarin.Tuan Wang selalu meledekku karena aku tak paham pesan pesan singkat yang dikirim dengan huruf pagar itu.Tapi itu memacu semangatku untuk belajar.Di sela-sela kesibukan bekerja aku mulai belajar mengenali huruf-huruf rumit itu.Di waktu luang aku sering browsing internet dan memanfaatkan fb untuk belajar dan bertukar pengalaman dengan teman lain.Tidak banyak yang aku bisa tapi setidaknya aku bisa membalas pesan-pesan Tuan Wang dengan huruf Mandarin.Hubungan semakin akrab,hingga di suatu sore kami bertemu,aku minta ijin Jie jie keluar sebentar.Aku ingin memberitahu dia bahwa 3 tahun kontrak kerjaku akan berakhir.Yah 4 bulan lagi aku akan pulang ke Indonesia.Tak di sangka dia menyatakan bahwa dia menyukai ku.Ingin hidup bersamaku.Aku anggap itu hanya gurauan ,aku tak begitu menanggapi.Dia menjelaskan semuanya panjang lebar.Dia sudah menyampaikan maksud hatinya kepada ibunya ,beliau sudah menyetujuinya.
Aku tidak bisa menjawabnya,aku jga tidak tahu bagaimana perasaan ku terhadapnya.Jujur aku menyukainya tapi aku tidak yakin aku bisa hidup bersamanya.Banyak hal yang perlu di pertimbangkan.Ini bukan hanya antara aku dan dia,tapi menyangkut orang tua ku juga.Hahhhh….menghela nafas panjang menjadi satu cara untuk melepaskan beban di hati.Tuan Wang semakin baik kepada ku.Dia membelikan oleh-oleh untuk kedua orang tua ku.Aku menolaknya tapi dia memaksanya.Akhirnya kuterima.Aku tidak tahu bagaimana memberi jawaban padanya.
Sampai detik ini,saat aku duduk di pesawat Eva Airlines aku belum bisa memberikan jawaban kepada Tuan Wang.Dia baik,aku menyukainya,hadirnya dalam lembaran hidupku memberi corak indah, tapi aku tak yakin bisa bersamanya….Biarlah waktu yang menjawab.

Taiwan selamat tinggal,Formosa yang telah mengajari banyak hal.Memberitahu ku bagaimana cara bersabar ,bagaimana harus ikhlas, dan tegar menghadapi kerikil tajam kehidupan.Semua kesulitan akan berlalu ,selagi kita tetap melangkah tidak ada kata gagal.Tuhan sealu punya rencana indah setiap manusia,jadi jangan pernah putus asa.Terima kasih Taiwan ,banyak hal yang aku dapatkan dari indahnya negerimu.Satu bulan lagi aku akan datang kembali….
Sekilas ku melihat keluar,semburat indahnya pelangi menghiasai langit Formosa,再見。
Indonesia aku pulang……

生活就是一個過程甜過,苦過,愛過,恨過
Shenghuo jiushe yi ge guocheng tianguo,khuguo,aiguo,henguo
Kehidupan adalah sebuah tahapan,manis,pahit,cinta,benci
其實每個過程會有結果
Qishe meige guocheng hui you jieguo.
Sebenarnya setiap tahapan pasti ada hasil/hikmahnya.
Keterangan :
Ama : Nenek
Akong : Kakek
Siaoce : Nona
Nihao : Apa kabar
Dupuchi : Maaf
妳好嗎 :Ni hao ma (Apa kabar)
我想妳 :Wo xiang ni (Saya rindu kamu)
再見 :Zai Jian (Selamat tinggal)

******

 

Perjalanan Sebuah Persahabatan

Yuni Lai / Perjalanan Sebuah Persahabatan / Tidak ada / tenaga kerja asing Perjalanan Sebuah Persahabatan Mentari masih bersembunyi di balik awan, suasana mendung namun hujan tak kunjung datang, ku ayuh sepedaku menuju tempat dimana aku bersekolah, Ya sekolah SMA N 2 dimana aku menuntut ilmu yang tak jauh dari rumahku. Namaku Laras, aku terlahir bukan dari keluarga … Continue reading “Perjalanan Sebuah Persahabatan”

Yuni Lai / Perjalanan Sebuah Persahabatan / Tidak ada / tenaga kerja asing

Perjalanan Sebuah Persahabatan

Mentari masih bersembunyi di balik awan, suasana mendung namun hujan tak kunjung datang, ku ayuh sepedaku menuju tempat dimana aku bersekolah, Ya sekolah SMA N 2 dimana aku menuntut ilmu yang tak jauh dari rumahku.
Namaku Laras, aku terlahir bukan dari keluarga berpunya, mungkin karena itu aku minder untuk bermain dengan teman sekelasku. Hari ini hari terakhir ku tuntaskan pendidikan, hari yang penuh dengan kecemasan, antara tidak lulus dan lulus hanya itu yang ada di pikiran aku sekarang.
Laras” pangil sang guru yang sedang membagikan kertas hasil ujian.
Dengan berdebar ku maju kedepan , setelah kudapat ku buka pelan- pelan,
Saat terlihat disitu tertulis Lulus, hatiku sangat gembira, aku ingin segera pulang dan memberitahukan hasil ujian terakhirku kepada kedua orang tuaku.

Setiap orang pasti menginginkan berpendidikan tinggi, begitupun aku, namun apakah aku bisa seperti mereka, untuk melanjutkan ke jenjang SMA saja kalau bukan karena beasiswa mungkin aku tak akan bisa.Namun jika harus berhenti disini apa kata keluarga bapak aku nanti, pasti mereka akan mencibir keluargaku, menghina dan mengejekku.
Keesokan harinya seorang tetangga yang kebetulan juga seorang guru memberiku selembar brosur.
Laras kamu ikut saja khursus keperawatan disini, kamu masih bisa mendapatkan beasiswa!, disini tertulis jika kamu pernah mendapatkan rangking 10 besar kamu berhak mendapatkan beasiswa 1 smester, kamu sang juara kelas, kamu pantas untuk mendapat pendidikan yang tinggi” kata Bu Nur serambi memberikan brosur itu.
Tapi bu ini berada dikota, jika dilanju naik kendaraan pasti bisa terlambat sampai kampus, jika harus kos, apa bapak dan ibu saya sanggup membiayai, pastinya makan dan tempat tinggal di kota mahal. Jawabku sambil mengamati syarat pendaftaran yang tertulis di brosur. dan kamipun saling berdiam diri.

Malamnya ku tanyakan kepada ibu dan bapak, dalam hati aku berdoa mereka menyetujuinya apalagi setelah lulus smester 2 lembaga akan mencarikan pekerjaan langsung. Aku tak harus capek cari lowongan kerja.
Kujelaskan panjang lebar, dan kebetulan di situ ada bibi, adik dari ibu aku yang sejak kecil ikut membantu mengasuhkku saat ibu ke ladang.
Tenang untuk biaya kos nanti bibi yang biayai! kata bibi meyakinkan.
Walau berat hati ibu karena harus merepotkan bibi tapi ibu setuju untuk aku mengikuti khursus keperawatan.

Inilah tantangan baru, aku harus jauh dari bapak dan ibu, harus lebih mandiri dan dewasa, sungguh aku sedih sulit untuk aku adaptasi dengan kehidupan ini .
Boleh aku duduk sebelah kamu?” tanya seorang teman mengagetkan lamunanku.
Ohh,,silahkan! Aku dengan senang hati. Kami pun mulai ngobrol. Dia bernama Venes rumah dia tak jauh dr kampung tempat aku tinggal, setelah menanyakan dimana dia kos.
Aku pun bingung, aku belum dapat tempat kos, untuk sementara aku laju naik angkot” jawab venes.
Bagaiman kalo kita ngekos bareng satu kamar saja, nanti pulang kita bareng ke tempat aku, kita coba tanyakan ke bu kos’ ajakku.
Inilah awal perkenalanku dengan venes, aku sangat berharap dia akan menjadi teman dan sahabat yang bisa saling membantu.
Bagiku venes anak yang sederhana dan baik, tutur katanya yang sopan dan dewasa membuat ku merasa ada kakak yang selalu memberi ku sebuah pendapat dan mengajariku banyak hal.

Ternyata kehidupan menjadi anak kos tak seperti cerita para anak kos, yang mereka bilang menyenangkan dan bebas, bagiku kehidupan menjadi anak kos mengajarkan aku untuk mandiri, berhemat dan lebih ketat untuk mampu bertahan hidup dalam uang yang pas-pasan, mungkin ini karena uang saku yang kita punya sangat kecil,cukup makan gak cukup puasa.
Sudah 2 minggu kita ga mudik Ras, uang saku nipis nih, kata venes sambil membuka buku pelajaran.
Iya nih Nes, aku ada ide bagaimana kalo kita cari kerja, kan enak bisa buat tambahan uang makan. Jawabku sambil berfikir pekerjaan apa yang bisa kita kerjakan.
Emang kerja pa Ras, waktu kita kan ga seberapa!
Bagaimana kalo semacam setrika baju , atau kerja cuci piring setelah kita pulang kuliah.
Boleh juga tuh Ras, tapi gimana caranya? venes sambil gigit jari.
Kita minta bantuan bu kos saja , diakan orang sini dan kenal warga sini sapa tau dia bisa bantu cari?
What……? bu pelit bin cerewet itu, gak mungkin deh Ras, dia kan benci banget,
Dan sudah kaya kucing dan tikus dalam kos kita ini.
Bener juga katamu Nes! Aku sambil berfikir keras mencari jalan keluar.

Tak terasa satu semester telah terselesikan.
Walau kadang banyak bolos namun dosen” selalu memberi maaf dengan alasan kita yang ada saja.

“Ras, aku hari ini terlambat, angkot macet!” Pesan aku menggunakan via hp jadul.
“Aku juga masih di perjalanan, kayaknya juga bakal telat.”
“Lu mah Mis Telat Nes.”
“Ga beda jauh dari kamu Ras.”
“Kamu sampe mana Nes?”
“Masih di Bis Nes!”
“Kamu tunggu aku di terminal.”
“OK Ras!”

Sesampai di terminal, kita pun langsung menuju ke angkot.
Eh…si nwng kembar, kesiangan hari ini neng, ayo cepet naik ke angkot! Salah satu supir angkot yang sering kita naiki.
Iya bang ayo cepat berangkat! Jawab kita serempak.
Di terminal para supir mengira kita anak kembar. Kadang ini menjadi gelak tawa kami, kami yang tak ada sedikitpun persamaan mereka bilang kembar.
Ras, kita telat hampir satu jam, bolos aja , kita nongkrong di terminal daripada pulang kena marah. Kata laras sambil melihat jamnya.
Bolos lagi Nes. Jawabku sedih.
Kita sekarang sudah tak lagi kos, karena jam kuliah lebih siang dan bisa di laju dengan bis dan diganti angkot, terkecuali ada kemacetan pastinya kita bolos.

Ternyata untuk menyelesaikan sekolah sampai semester 2 tidak mudah, dan kendala pertama adalah di uang, walau untuk biaya pendidikan kita mendapat beasiswa, tapi untuk kebutuhan sehari , angkot, makan dan kebutuhan lain membuat aku kadang tak tega untuk meminta kepada orang tua.

Tinggal setengah semester lagi kita wisuda, sekolahpun mengadakan PKL pelatihan kerja lapangan. Namun sayang kali ini aku harus terpisahkan dengan Venes selama 2 bulan, karena Rumah Sakit tempat kita PKL berbeda.

Ternyata menjadi suster dalam rumah sakit tak segampang yang kita tau. Setiap hari harus berhadapan dengan orang sakit, harus sopan, berhadapan dengan darah dan infus juga jarum.
“Nes kamu dah dapat pasien berapa, dengan diagnosa apa? Pesan sms kepada venes.
“Types, diare, kecelakaan dah dapat 7, kamu gimana Ras?
“aku dapat pasien meningal 2 kali, pertama karena dah tua, kedua kecelakaan, tau ga lu Nes, kepalanya pecah, aku lihat dwngan jelas itu mata keluar, muka ngelupas, rasanya aku pengin pingsan, yang parah dokter nyuruh aku ambil itu otak dia yg pecah suruh masukin plastik, gila banget Nes!”
“Hebat lu Ras”
“Eh Nes aku kangen banget, besok minggu kamu kerumahku ya nginep, dah q mau tugas lagi , bye” lasas mengakhiri pesan.

Minggu ini venes nginep di rumah. Sebenarnya ga enak harus ngajak dia nginep di rumah berdindingkan bambu, berlantaikan tanah. Tapi ini lah rumahku, rumah yang penuh kedamaian dan kebahagiaan.
Venes sahabat satu” nya yang aku punya, aku sayang dia layaknya saudaraku sendiri.
Teringat saat kos dulu, saat kita kehabisan makan, sepiring nasi kita bagi berdua, bahkan kadang semangkok mie instan kita pun makan berdua.
Kena marah ibu kos berdua.
Bolos sekolah berdua.
Semua ini membuat kita makin akrab.
Persahabatan ini memiliki beribu kepahitan yang tak akan pernah terlupakan.
PKL pun berakhir, dan ujian terkhirpun kita tempuh, menunggu hari kelulusan dan wisuda pun tiba.
Hari ini kita berdandan cantik, memakai seragam wisuda , datang bersama keluarga.
Akhirnya kita lulus dan di wisuda!!!
Teriak kami para murid.

Akhir sekolah bukan pula akhir persahabatan.
Pertama bekerja aku masih bersama venes,
Tapi kini tidak seperti dulu saling berjauhan, kadang kurang komunikasi, bahkan rasanya saling acuh, tapi kita tetap sahabat.
Perjalanan persahabatan kita tak akan terlupakan sampai akhir hayat.
Venes adalah sahabat sejatiku.
Aku rindu kamu venes yang jauh di yempat kamu bekerja,
Doa ku kita dapat berkumpul dan bermain seperti dulu.
Indahnya perjalanan sebuah persahabatan!

“Con đã từng ghét bố như thế……”

LÊ THANH ÁNH QUYÊN-黎請映娟 /  “Con đã từng ghét bố như thế……” / 儒林補習班萬事通教育中心 / phối ngẫu quốc tịch nước ngoài “Con đã từng ghét bố như thế……” Buổi sáng sớm vẫn đang cuộn mình trong chăn thì bố gọi điện và mình đã khóc…. -Bố: Con à, con khỏe không? Hôm vừa rồi bố nghe có … Continue reading ““Con đã từng ghét bố như thế……””

LÊ THANH ÁNH QUYÊN-黎請映娟 /  “Con đã từng ghét bố như thế……” / 儒林補習班萬事通教育中心 / phối ngẫu quốc tịch nước ngoài

“Con đã từng ghét bố như thế……”
Buổi sáng sớm vẫn đang cuộn mình trong chăn thì bố gọi điện và mình đã khóc….
-Bố: Con à, con khỏe không? Hôm vừa rồi bố nghe có tin động đất ở Đài Loan, có sao không con?
-Con gái: Dạ con khỏe ạ, động đất không ảnh hưởng lắm đến nơi con ở nên bình an. Bố thì sao ạ?
-Bố: Bố bình thường, bố nhớ các con lắm….
-Con gái:…!!!…Con xin lỗi bố….đáng lẽ con nên gọi cho bố. Con đi làm về thì tiệm bán thẻ điện thoại đã đóng cửa, con vẫn chưa mua thẻ điện thoại nữa.
-Bố: ừ, bố hiểu. Không sao cả, để bố gọi. Rồi công việc của con ổn cả chứ?
-Con gái: Dạ, công việc tốt lắm bố ạ. Giám đốc trung tâm rất trọng dụng và luôn ủng hộ những dự án phát triển giáo dục cho Tân Di Dân của con. Còn các đồng nghiệp người Đài thì rất cởi mở, tử tế. Họ luôn sẵn sàng giúp đỡ khi con cần. Để đáp lại, con cũng luôn quý trọng và giúp đỡ lại khi các bạn cần con, ví dụ như các bạn muốn học tiếng Việt thì con đều giành thời gian để chia sẻ, hay muốn luyện nói tiếng anh thì con cũng đều sẵn sàng trợ giúp.
-Bố: vậy hả con? vậy thì tốt quá, bố có thể yên tâm về con rồi.
-Con gái: Bố…..bố ơi…..
-Bố: Sao con?
-Con gái: Bố…con cảm ơn bố….khi con tìm được công việc ý nghĩa này thì con đã nhớ đến bố rất nhiều. Hôm nay con muốn nói với bố rằng con cảm ơn bố vì tất cả. Và con cũng khai 1 sự thật là hồi nhỏ con đã rất ghét bố!
-Bố: hahaha, sao lại thế con?
-Con gái: Con ghét vì sự nghiêm khắc của bố. Mới có lớp 6 bố đã đưa con xuống thị xã học rồi, 1 tuần mới được về nhà 1 lần. Bố có biết, con đã khóc rất nhiều vì phải xa bố mẹ không?. Lúc ở trọ, mọi thứ con đều phải tự thân thu xếp, còn con người ta thì bố mẹ luôn cưng chiều, lo lắng cho hết. Đã vậy vào cuối học kỳ, bố nhất định phải kiểm tra sổ điểm, làm con thi cử lúc nào cũng phải cố, cố mà học bằng bạn bằng bè, cố mà đạt điểm cao.
-Bố: vậy hả?
-Con gái: Chưa hết, lúc con học lớp 7 trở đi, con người ta được xem tivi, chơi game thoải mái, đằng này mỗi ngày cứ đến 7h tối là bố tắt hết tivi rồi bắt tụi con ngồi vào bàn lấy sách vở ra học bài, trớ trêu hơn là bố và mẹ chẳng đi đâu, mẹ ngồi bên cạnh soạn giáo án và bố thì ngồi đọc sách canh chừng con đến khi nào con làm bài xong thì thôi. Sao bố lại nghiêm khắc lại dã man như vậy với tụi con chứ? Không cho con tự do chơi bời bay nhảy!!!
-Bố: ….Bố..bố đã không nghĩ nhiều về việc các con nghĩ gì, bố chỉ biết rằng nếu không học các con sẽ khổ sở trong tương lai. Các con còn nhỏ vẫn còn ngây thơ lắm, cái ăn cái uống vẫn 1 tay bố mẹ lo, các con đã trải nghiệm cuộc sống này đâu mà biết hậu quả của 1 cuộc đời học không đến nơi đến chốn? Công việc của bố là bắt những thằng ăn trộm, ăn cắp hàng ngày nên bố biết, tất cả hậu quả xấu đó đều là do không chịu học hành mà ra. Chỉ vì học hành không đến nơi đến chốn, không kiếm được việc nào đàng hoàng nên mới đi ăn trộm ăn cắp làm cái việc bị xã hội xem thường như thế. Nhìn mấy đứa ấy thực sự bố thấy tụi nó đáng thương hơn đáng trách. Ước gì bố mẹ chúng nó đừng lơ là, đừng quá nuông chiều tụi nó từ lúc nhỏ. Bởi vậy bố mẹ quyết định không nuông chiều tụi con. Tuy yêu thương nhưng nhất định không dễ dãi để tụi con muốn làm gì thì làm.
-Thời đại này xã hội vẫn còn trọng bằng cấp lắm con ạ, con có tấm bằng trong tay thì đi đâu cũng yên tâm chút đỉnh, đặc biệt là con gái. Con gái thì phải lấy chồng sinh con, nếu may mắn thì gặp thằng chồng tốt yêu thương hết lòng, lo cho con trọn đời thì không phải nói gì, còn nếu gặp cái thằng không tốt, đối xử với con không ra gì thì con còn có kiến thức mà đi xin việc mà tự nuôi sống bản thân và con cái.
-Nhà mình không giàu có gì nhưng nhất định không được nghèo về kiến thức. Bố mẹ có khổ cực tới đâu cũng ráng cố gắng để cho con học hành tới nơi tới chốn là như vậy.
-Cô con gái nước mắt giàn dụa và thấy hối hận vô cùng. Cô hối hận vì đã ghét bố mình, một người bố sâu sắc đã cho cô sự tự tin để bước đi trên con đường đời bây giờ của mình. Cổ họng cô nghẹn lại và không thể nói được gì nữa chỉ trả lời một tiếng “dạ, con hiểu rồi bố ạ.”
– Bố: Ừ, cố gắng lên con gái, con giữ gìn sức khỏe nghe con. Sắp hết tiền điện thoại rồi, hôm khác bố sẽ gọi lại.
Con gái: Dạ….. vâng………
***Bây giờ đã làm mẹ rồi thì mình mới hiểu thấu được lòng cha mẹ. Đến khi thực hiện những dự án giáo dục cho Tân Di Dân, mình cũng thấy thêm được một điều rằng dù bố mẹ có là ai đi chăng nữa thì tình yêu thương của họ giành cho con đều giống nhau và chỉ có một. Tình cha mẹ thật vĩ đại mà chỉ sau này khi ta lớn khôn, ta gặp thành công hay gian khó ta mới hiểu hết được!
**Tự dặn lòng là phải luôn yêu thương và nói lời cảm ơn với những ai yêu mình thật nhiều thật nhiều khi có thể, vì thời gian là thứ không bao giờ lấy lại được của đời người………..I LOVE YOU DADDY!

Serdadu Putri Kesepian

Angela / Serdadu Putri Kesepian / Facebook dan teman-teman / tenaga kerja asing Siapa aku hingga berhak menghakimi orang lain? Sosok lelaki tua, namun terlihat kasar, galak, dan tegap itu tersenyum sedikit padaku. Berdiri di sampingnya, seorang nenek yang masih bugar, namun terkesan serius menatapku. “Ni hao,” kataku. “Ni hao,” kata mereka menyambutku malam itu. Namanya Kakek Tjin … Continue reading “Serdadu Putri Kesepian”

Angela / Serdadu Putri Kesepian / Facebook dan teman-teman / tenaga kerja asing

Siapa aku hingga berhak menghakimi orang lain?
Sosok lelaki tua, namun terlihat kasar, galak, dan tegap itu tersenyum sedikit padaku. Berdiri di sampingnya, seorang nenek yang masih bugar, namun terkesan serius menatapku. “Ni hao,” kataku. “Ni hao,” kata mereka menyambutku malam itu. Namanya Kakek Tjin atau Ape Tjin. Ia tinggal bersama istrinya yang kupanggil Ayi Tjin dan mereka adalah induk semangku. Berusia 90an Ape Tjin masih sangat sehat dan gagah, begitu pula istrinya yang tampak bugar di usia mendekati kepala 8. Berbeda 180 derajat dengan para orang tua di Indonesia. Mereka tinggal di lantai 1, tepat di bawah rumah kos, tempatku tinggal. Rumah kedua orang tua itu bersih sekali, tampak seperti baru. Hampir tidak ada secuilpun debu di rumah beliau. Di dinding rumah terpampang berbagai penghargaan bertuliskan huruf mandarin yang tidak kumengerti. Terpampang pula beberapa foto Ape Tjin, sang istri Ayi Tjin, dan beberapa petinggi pemerintahan. Bahkan, saat aku datang melihat kamar kos, aku sempat melihat ruang tamunya masih dilengkapi pemutar piringan hitam dan tampak seperti baru. Sebuah kebersihan dan ketelatenan yang luar biasa.
Datang ke Taiwan tanpa bekal mumpuni, namun dengan impian tinggi. Impian naif di awal pertemuanku dengan negara ini adalah bermimpi lancar cas…cis..cus…bahasa mandarin seperti sinetron mandarin yang sering kutonton ketika SMA dulu, kemudian mendapatkan pekerjaan ideal di kantor perusahaan besar. Berbekal sedikit bahasa mandarin yang kupelajari dari sinetron Taiwan, beberapa buku mandarin anak-anak, tabungan hasil kerjaku, dan dokumen-dokumen yang menyatakan aku dapat beasiswa belajar bahasa mandarin di salah satu pusat belajar bahasa mandarin Taiwan, aku berangkat dengan percaya diri.
“Kamu orang Indonesia?” tanya Ayi Tjin. “Iya,” jawabku. “Saya juga orang Indonesia, 30 tahun yang lalu datang kemari.” Apakah Indonesia masih banyak orang jahat?” “Bolehkah kalian bercakap mandarin?” “Orang-orang Indonesia masih mata duitan?” tanyanya kembali. Aku bengong, bingung tidak tahu harus menjawab apa karena dari apa yang aku tahu negaraku baik-baik saja. Aku cukup senang karena Ayi Tjin bisa berbahasa Indonesia. Tidak lancar, namun hal itu membantuku sedikit banyak. Yah, baru kusadari ternyata hidup di negeri orang pertama kali tidak semudah bayanganku. Apalagi dengan bahasa yang sangat berbeda dengan bahasa Indonesia. Harga pangan yang lebih tinggi daripada harga makanan di Indonesia, terutama bagiku yang terbiasa makan di rumah memaksaku untuk mencari makanan murah meriah. Terkadang makanan hasil telunjukku tidak seindah bayangan, hanya cukup mengisi perut yang butuh asupan untuk diisi.
Sepasang suami istri itu memintaku berhati-hati di Taiwan karena banyak penjahat berkeliaran, kata mereka. “Taiwan tidak aman, terutama buatmu orang asing.” “Kini di Taiwan banyak penjahat, lihatlah berita TV menayangkan banyak penipu di sekitar kita.” “Anak perempuan jangan pulang malam-malam, banyak orang jahat, kamu harus hati-hati.” Begitulah kata-kata nasehat mereka di awal-awal pertemuan kami. Seringkali pasangan ini mengetuk pintu, membawakanku buah-buahan atau roti sekedar untuk sarapan dan penunjang makananku yang seadanya. “Mereka baik sekali Ma,” kataku pada Ibu di ujung pesawat telepon. “Mungkin karena mereka hanya hidup berdua, tidak punya anak dan keluarga lain, makanya mereka baik?” tambahku. “Baik-baiklah pada mereka, karena mereka yang menjagamu di sana.” “Oke,” sahutku.
Percakapanku dengan kedua suami istri tersebut susah susah gampang. Karena faktor umur, pendengaran Ape sudah jauh berkurang. Bercakap-cakap dengannya terkadang harus dengan suara lantang. Ayi Tjin yang terbiasa dengannya pun berbicara suara keras, kalau tidak katanya tidak jelas. Ape Tjin sering menceritakan masa mudanya yang dihabiskan dengan berlatih bersama prajurit-prajurit lain, di umur 15 tahun terpisah dari keluarganya karena perang saudara hingga akhirnya mengungsi ke Taiwan. Lama menetap di Taiwan tanpa sanak keluarga dan tertutupnya berbagai akses untuk mencari informasi membuat Ape terkungkung. Ape kemudian diperkenalkan dengan Ayi Tjin oleh seorang temannya. Merasa cocok, Ape kemudian melamar Ayi Tjin. Ayi Tjin yang saat itu berada di Indonesia kemudian menerima pinangan Ape karena ingin meninggalkan Indonesia dan merasa hal itu adalah jalan terbaik baginya. Di sisi lain, keluarganya di seberang pulau mengira Ape Tjin sudah tiada. Berdasarkan cerita yang kuperoleh, Ibunda Ape bahkan menangisi putranya setiap hari hingga kesehatan matanya terganggu dan meninggal tanpa tahu kabar berita Ape. Hal itu diceritakan adik Ape Tjin ketika mereka akhirnya bertemu kembali setelah pemerintah Taiwan membuka akses informasi dan adanya kemajuan teknologi 10 tahun yang lalu. Ape Tjin dan Ayi Tjin tidak memiliki anak, namun mereka memiliki seorang anak angkat yang cantik. Terkadang aku bertemu dengannya, tidak banyak cakap namun ramah. Alin nama panggilannya. Mungkin karena ia juga telah berkeluarga, Alin jarang datang menemui Ape dan Ayi, tapi di hari-hari tertentu ia akan datang bersama suami dan anak-anaknya yang masih balita untuk bercengkerama dan makan bersama.
Setengah tahun berlalu, temanku semakin banyak. Melalui informasi dari mereka, aku akhirnya tertarik untuk menjajal masuk perguruan tinggi yang diwarnai dengan iming-iming beasiswa 1 tahun. Diterima! Hati berbunga-bunga bukan kepalang, kupamerkan surat pemberitahuan tersebut pada kedua orang tuaku di Indonesia, namun tidak lupa pula aku kabarkan suka cita tersebut untuk bapak dan ibu kos baik hati itu.
Entah sejak kapan, keharmonisan itu mulai berubah rupa. Jadwal kuliahku yang padat, ditambah dengan kegiatan baruku kerja part time di sebuah kafe kecil membuatku sering lupa waktu dan kini jarang berkomunikasi dengan Ape dan Ayi. Sampai satu waktu, ketika aku baru pulang di malam hari, Ape menegurku. “Anak perempuan pulang malam begini?! Apa kata mamamu di sana?” katanya dengan suara lantang. Aku hanya tertunduk. “Kenapa sekarang sering pulang malam? Kamu tidak lihat sekarang sudah jam 10 lebih?” “Aku dagong,” kataku pelan. “Buat apa kamu dagong? Percuma kamu dagong, tidak menghasilkan. Seorang anak hanya punya kewajiban belajar, bukan bekerja. Bukankah orang tuamu di Indonesia sana kaya raya? Kalau tidak, mana mungkin bisa menyekolahkanmu kemari?” Hatiku terlecut, dalam diam kukatakan, “Kamu bukan siapa-siapa, orang tuaku saja tidak pernah memarahiku seperti itu. Aku kerja untuk kebutuhanku dan meringankan beban mereka, kenapa orang ini sewot sekali?” Masuk ke kamarku, mulai terpikir untuk pindah kos. Taipei sangat aman, selama kuliah 1 tahun, terkadang aku memang pulang malam beberapa kali dan bersyukur selamat sampai kos. Teman-temanku yang lain juga pulang larut malam dan mereka baik-baik saja. Tidak seperti Jakarta, di mana pulang malam artinya lampu kuning, harus ekstra hati-hati. Siang hari saja perempuan jalan sendirian kesulitan, apalagi malam hari.
Meskipun aku sudah betah di tempat kos yang lama, namun aku merasa kesal dengan kata-kata Ape, ditambah jarak ke sekolah dan keinginanku untuk lebih bebas, kubulatkan tekadku untuk pindah. Akhirnya, kuputuskan untuk pindah kos setelah 1,5 tahun menempati kos tersebut. Aku pindah cukup jauh dari tempat kos itu. Jika sebelumnya aku tinggal di sekitar Wanlong ketika belajar bahasa, kini aku pindah ke daerah Shilin yang lebih dekat dengan sekolahku. Ape dan Ayi sepertinya kecewa dengan keputusanku untuk pindah. Melihat mereka berdua melepasku, aku merasa sedikit menyesal dan akhirnya memutuskan untuk tetap menemui mereka di kala ada waktu senggang.
***
Sampai suatu ketika, hatiku bergejolak dan menahan segala amarah yang terpendam. Hari itu Ayi Tjin tiba-tiba bertanya padaku, “Kamu suka Taiwan? Mau nikah sama orang Taiwan? Kamu aku jodohkan saja, mau ya?” tanyanya bertubi-tubi. “Alin saja yang seumuran denganmu sudah punya anak dua, masa kamu belum punya pacar sama sekali?” “Anak dari saudara tetanggaku masih belum menikah sudah umur 40 tahun, Ayi kenalkan ya?” “Kalau kamu belum yakin, tidak apa, kenalan dulu sebagai teman.” Begitu bujuknya. Ape Tjin juga semangat sekali. “Benar, anaknya baik, sudah mapan, gajinya cukup, sudah punya rumah, dan dari keluarga baik-baik. Ape yakin dia jodoh yang cocok untukmu,” katanya berapi-api dengan logat khas, sampai muncrat air liurnya. Aku terpaku, tidak suka disodor-sodorkan seperti itu. “Kamu tunggu di sini sebentar, Ayi telepon orangnya kebetulan hari ini datang ke Taipei.” Dan… hari itu juga aku terpaksa kenalan dengan pria itu. Untungnya pria tersebut sepertinya menyadai aku tidak suka diperkenalkan dengannya. Ia juga kemudian mengambil jarak karena aku tidak mau memberikan nomor ponselku.
“Ma, aku ga suka dikenalin seperti itu, seperti mau digelandang ke pelaminan hari itu juga.” “Mereka bukan siapa-siapa, tapi begitu menurutku keterlaluan.” “Sabar Lala…maksud mereka mungkin baik. Yah namanya saja orang sudah tua, jadi seperti anak kecil. Jangan dimasukkan ke hati,” demikian nasihat ibuku. Ckckckck…sudah bukan jaman Siti Nurbaya, hari gini masih memaksa sebuah perjodohan. Siapa mereka? Keluargaku juga bukan, aku pandang mereka karena mereka dulu baik padaku dan sudah sepuh. “Aku ga mau Ma, pokoknya aku ga akan ke sana lagi, sudah keterlaluan maksa-maksa seperti itu.” “Apa Mama tahu kalau seminggu setelahnya Ayi menyuruhku untuk menghubungi pria tersebut? Rasanya seperti mempermalukan diri sendiri! Rendah sekali seperti ga punya harga diri!!!” Ibuku pun mengalah dengan keputusanku yang tidak ingin datang lagi ke rumah Ape dan Ayi karena insiden pemaksaan tersebut. Hidupku kini pun lebih terasa bebas karena tidak perlu meluangkan waktu untuk ke rumah mereka. Komunikasi sudah hampir tidak pernah terjadi karena aku tidak mau menelepon mereka duluan.
Suatu hari, Ayi Tjin meneleponku. “Lala…apa hari Sabtu malam kamu ada waktu?” Ayi mengundangku makan malam di rumahnya, sekedar melepas rindu. Aku ragu untuk menerima undangannya tersebut. “Apa yang akan mereka perbincangkan kali ini? Apakah akan ada jebakan batman?” pikirku, teringat terakhir kali aku ke sana mereka menyodorkan ‘jodoh’. Pada akhirnya, “iya” adalah jawabanku. Rasanya aneh karena begitu kesalnya aku pada mereka tapi aku masih berkata ‘iya’ untuk berkunjung makan malam. Entah kasihan karena sudah tua atau karena aku teringat ucapan ibuku.
“Banyak sekali makanannya Ayi, Ape…” begitu kataku ketika tiba di ruang makan keluarga Ape Tjin. “Ada apa hari ini?” tanyaku lagi. “Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin makan malam bersama. Hari ini Ape yang masak,” demikian kata Ape. “Alin dan keluarganya juga kami undang, karena itu masakannya cukup banyak.” Ada tim ayam jamur, sup bakut masak sayur asin, ikan asam manis, sayuran hijau, gorengan, selada dingin dengan berbagai daging khas masakan Cina tersaji di meja makan. “Jam berapa Alin akan datang?” tanyaku ketika jarum jam sudah menunjukkan pukul 6.45 malam. Bukan bermaksud tidak sopan, tapi biasanya mereka memulai makan malam tepat pukul 6 sore, karena itu sedikit aneh bagiku.
Pukul 7, Ape Tjin menghela napas dan kemudian berkata, “Ayo kita makan, tidak perlu menunggu Alin.” “Kenapa? Alin kan berkata akan mencoba datang ke mari selesai berkunjung ke rumah mertuanya di Taichong,” demikian Ayi Tjin menjawab. “Hahh…anak itu masih kamu bela terus? Dia lebih mementingkan keluarga kandungnya, keluarga kecilnya, dan mertuanya! Kamu kira aku bodoh! Alin itu tidak suka padaku. Kita memang orang tua angkatnya, ganpa dan ganma, tapi toh kita tidak pernah jadi yang pertama!” Diam terhenyak diriku, begitukah selama ini keadaan mereka? Terkadang aku suka mendengar mereka bertengkar, namun baru kali ini aku mendengar pembicaraan mengenai Alin. “Ayo kita makan sekarang Lala, kamu pasti sudah lapar.” Makan dalam keheningan, terasa Ape dan Ayi sepertinya bersitegang.
“Hidangan-hidangan ini semuanya enak sekali!” demikian kataku memecah keheningan. “Ini semua Ape yang masak?” “Iya benar, ini semua masakanku, dulu aku juga sempat bertugas jadi kepala koki istana” katanya bangga. Ah…mungkin itu sebabnya piagam yang diterima Ape begitu banyak. Sudah hampir 2 tahun aku baru menyadari hal tersebut. Selesai makan malam aku duduk bersama mereka yang menyalakan TV dan menonton berita ulangan hari ini. “Ayi, belakangan ini apa saja kegiatan kalian?” tanyaku pada sang istri. “Aku sekarang mulai ikut komunitas lingkungan untuk mengumpulkan sampah daur ulang. Hitung-hitung aku bisa mendapatkan teman baru dan sedikit tambahan penghasilan.” “Wah, lumayan sekali, Ape tidak mau ikutan?” “Tidak!” jawabnya ketus. “Kemarin saja aku tidak sengaja terjatuh ketika hujan, bisa apa aku kalau mengumpulkan sampah-sampah itu? Untung tidak apa-apa kata dokter, hanya sedikit lecet. Ini coba kamu lihat luka-lukaku. Rasanya sakit sekali, beginilah badan sudah tua.”
“Ape Tjin sebenarnya ingin shenqing wailao, tapi katanya tidak bisa karena beliau masih sehat. Tidak perlu kursi roda dan masih bisa mengerjakan semuanya sendiri,” Ayi Tjin kemudian bercerita betapa mahalnya biaya untuk mempekerjakan seorang asisten perawat di rumah. Sebulan mereka harus menyiapkan uang sekitar 25 ribu NTD dan masih harus menanggung beberapa persyaratan lainnya yang berarti menambah pengeluaran, sedangkan mereka hanya mendapatkan uang pensiun karena tidak lagi bekerja. “Ah…tapi Ayi juga ragu, apa mereka bisa betah kerja di sini? Ape Tjin sangat bersih, semua harus rapi, dan ia sangat menuntut, apa iya ada yang tahan?” “Hmm…mungkin tidak,” begitu pikirku tanpa berani mengucapkan satu katapun, mengingat apa yang pernah terjadi padaku dan apa yang mungkin terjadi jika aku menjawab pertanyaan Ayi dengan jujur. Di balik itu aku jadi berpikir, mereka yang menjaga orang tua di sini, banyak di antara mereka yang disebut wailao itu sebenarnya sangat hebat dan kuat. Kesabaran mereka sangat diuji dengan sifat anak-anak berwujud orang tua seperti Ape dan Ayi.
Ketika akan pamit pulang, Ape Tjin tiba-tiba berkata, “sering-seringlah main ke mari jika kamu ada waktu. Aku ini sudah tua, tidak tahu kapan akan pergi dari sini.” Mata Ape kemudian berkaca-kaca. “Mungkin tidak lama lagi aku akan pergi, waktuku tidak banyak, jadi sering-seringlah main kemari,” matanya mulai memerah menahan air mata. Aku terharu dan tidak tega melihatnya seperti itu. Tepat saat itu Alin dan keluarganya tergopoh-gopoh datang dan meminta maaf kepada Ape dan Ayi karena telat. Alin dan suaminya sempat menyapaku, kemudian mereka berkata mertua Alin hari itu sedang ingin bersama cucu mereka lebih lama, sehingga mereka tidak berani menolak.
“Kami kesepian…tidak banyak hal yang bisa kami lalui, Alin sudah jarang menjenguk kami, kamu juga. Kami hanya ingin ditemani,” demikian Ayi menutup pembicaraan di ambang pintu rumahnya ketika mengantarku.

poem

candice lauren manatad / poem / spa/migrante / dayuhang manggagawa Salamat Taiwan Aking buhay sa taiwan ay walang kasiguruduhan Lahat ng pgsubok at sakit ay aking naranasan. Araw at gabi dasal ko sa maykapal<br> Na sana balang araw mga pgsubok ay lilipas lamang. Salamat sa spa at mga kaibigan na laging sumusuporta, Kung hindi dahil sa inyo buhay … Continue reading “poem”

candice lauren manatad / poem / spa/migrante / dayuhang manggagawa

Salamat Taiwan

Aking buhay sa taiwan ay walang kasiguruduhan
Lahat ng pgsubok at sakit ay aking naranasan.
Araw at gabi dasal ko sa maykapal<br>
Na sana balang araw mga pgsubok ay lilipas lamang.

Salamat sa spa at mga kaibigan na laging sumusuporta,
Kung hindi dahil sa inyo buhay ko sa taiwan ay walang kwenta.
Takot at kirot sa puso ko unti unting nawawala,
Dahil sa nyong pgmamahal na pinapakita na walang ka duda-duda!

Oh! Taiwan huwag mo namang ipagkait sa akin
Ang tamang landas na dapat aking tatahakin!
Upang maabot ko mga pangarap sa buhay,
Na kaytagal na inasam-asam para sa mga mahal sa buhay!

Oh! Taiwan ang bansa kung pinagtratrabahoan,
Hinding-hindi kita makakalimutan.
Sapagkat dito ako natutung maging matapang at lumalaban.
Salamat salamat taiwan!

Mungkin Asa Tak di Formosa

nana / Mungkin Asa Tak di Formosa / Tidak ada / tenaga kerja asing eks taiwan Mungkin Asa Tak di Formosa Oleh Nana Kedua mataku berbinar kurasakan hembusan angin Daratan Cina menyapa lembut wajah, mencumbu tengkuk, menyibakkan rambut yang luruh di dagu saat aku tertunduk. Kupijakkan kaki di pelataran parkir Rumah Sakit Buddist Tzu Chi, di Xindian sesaat … Continue reading “Mungkin Asa Tak di Formosa”

nana / Mungkin Asa Tak di Formosa / Tidak ada / tenaga kerja asing eks taiwan

Mungkin Asa Tak di Formosa
Oleh Nana

Kedua mataku berbinar kurasakan hembusan angin Daratan Cina menyapa lembut wajah, mencumbu tengkuk, menyibakkan rambut yang luruh di dagu saat aku tertunduk. Kupijakkan kaki di pelataran parkir Rumah Sakit Buddist Tzu Chi, di Xindian sesaat setelah oto berplat nomor aksara Han Zi itu memboyongku untuk menemui majikanku. Aku tidak sendiri, ada Mr. Chen yang notabene sebagai agenku. Ada sesuatu yang membuncah isi kepalaku, hatiku membelungsing.
‘Bukankah aku sudah medical check up, kenapa harus ke rumah sakit lagi?’ gumamku dalam hati.
Meski begitu aku tetap mengekor mengikuti jejak Mr. Chen menuju lantai 7, ruangan nomor 23. Aroma pekat obat begitu kuat di dalam ruangan itu. Terdapat tiga ranjang pasien, langkah kami lurus menuju ranjang yang memangku jendela. Sontak perhatianku mengarah pada sosok pria yang tergolek pulas di atas ranjang. Dimana kedua tangannya dalam keadaan terbungkus dan terikat pada masing-masing sisi ranjang. Separuh batok kepalanya terbalut perban ada bercak darah, di hidungnya terpasang selang makan, di lehernya terdapat lubang sebagai saluran sedot dahak, di dadanya terpasang alat pendeteksi detak jantung. Dan di bagian bawah ranjang terdapat kantong kencing.
Kondisi pria itu sungguh memprihatinkan, dan pemandangan ini pertama kalinya sepanjang hidupku. Terdapat dua wanita yang berdiri di masing-masing sisi ranjang.
“Selamat Petang, Nyonya Ma.” Suara Mr. Chen menyapa wanita di depannya memecahkan lamunanku akan sosok pria yang tergolek di atas ranjang.
“Petang, Mr. Chen.” Salah satu wanita menjawab sapaan Mr. Chen. Wanita paruh baya, bertubuh kurus, tingginya kurang lebih sama denganku 150 cm kurang sesenti. Tergambar jelas guratan-guratan penuh beban di wajahnya, kusam, matanya terlihat lelah.
“Namanya Nana, baru datang dari Indonesia pagi ini, ” tambah Mr. Chen.
“Nana, ini Nyonyamu,” ungkap Mr. Chen padaku.
“Selamat petang Nyonya,” sapaku padanya sambil menganggukkan kepala. Ada sedikit rasa gugup meski ini bukan kali pertamanya aku bekerja menjadi buruh.
“Selamat datang,” jawab Nyonya, diikuti seraut senyuman hambar dari wajahnya.
“Nana, tugas utamamu menjaga Tuan Ma.”
“Beliau baru saja operasi di bagian kepala akibat kecelakaan.” Mr. Chen memberi penjelasan singkat padaku.
Perkenalan dilanjutkan dengan penjelasan tugas dan kewajibanku yang Nyonya paparkan panjang lebar. Aku sedikit tergemap, keadaan seperti ini bagai membeli kucing dalam karung. Aku tidak membaca dengan seksama isi lembar hijau yang telah terbubuh oleh tanda tanganku itu. Tepatnya semasa training di asrama PJTKI, sebelum terbang ke Taiwan. Yang ada dibenakku saat itu hanya ingin segera bekerja di Taiwan, tanpa memilah-milah bagaimana kondisi kerjanya. Pekerjaan kali ini sungguh berbeda dengan sewaktu di Singapura, yang kukira berkutat dalam urusan dapur dan kebersihan rumah. Namun berurusan dengan pesakit dan rumah sakit.
Meski begitu aku harus tetap konsisten, semua sudah terlanjur. Terikat perjanjian hutang bank selama 9 bulan, kuharus melunasinya. Aku harus tetap bekerja demi pulang membawa uang.
Mr.Chen pamit undur diri, sepesan wejangan dia wariskan padaku.
“Kerja baik-baik ya?”
“Kalau ada apa-apa hubungi aku,” pesannya sambil menepuk ringan pundakku.
“Terima kasih,” ungkapku sambil mengangguk.
Mr. Chen berlalu meninggalkanku, sementara sesosok wanita lain yang bersama Nyonya adalah yang merawat Tuan sebelum aku tiba. Namanya Ms. Anggie, perawakan tinggi besar dan wajahnya sinis menatapku. Untuk sementara dia juga yang akan mengajariku bagaimana merawat Tuan.
“Nyonya, kecil sekali dia!”
“Apa dia mampu menjaga Tuan?” ungkap wanita itu pada Nyonya sambil sesekali melirikku.
“Nana pernah bekerja di Singapura selama empat tahun.” Nyonya mencoba membela.
Magrib menjelang, senja di ufuk barat menyemburatkan asa yang segera tenggelam dalam dekapan malam langit negeri formosa. Nyonya pun telah berpulang ke kediamannya, dan mempercayakanku merawat Tuan di bawah pengawasan Ms. Anggie yang memang sudah berpengalaman.
“Kamu bisa sedot dahak kan?”
“Coba kamu praktekkan sekarang!” Suruh Ms. Anggie dengan nada agak tinggi. Entah apa yang terjadi, sejak awal kedatangan dia memperlakukanku dengan sinis. Kucuaikan saja, toh dia bukan majikan.
“Aku bisa, Ms. Anggie,” jawabku lirih.
“Selamat malam, Tuan.”
“Namaku Nana.”
“Nantinya aku yang akan merawatmu.”
“Permisi Tuan, aku akan membantumu sedot dahak.” Aku memperkenalkan diri pada Tuan sebelum melakukannya.
Tuan tak bersuara karena dibagian leher ada semacam lubang nafas dan itu dijadikan jalan saat sedot dahak, dia hanya mengangguk sebagai tanda setuju. Sesekali dia melirik ke arah Ms. Anggi, sorotan mata Tuan bak pisau tajam, penuh kebencian. Dahinya mengernyit, bibirnya komat-kamit menyumpah serapah, namun tak terdengar suara.
Kulakukan dengan perlahan penuh kehati-hatian. Aku ingat pesan Nyonya yang kenapa kedua tangan Tuan terikat. Karena otak Tuan bagian pengendali saraf motorik belum benar-benar pulih, hal ini menimbulkan gerak reflek memukul, mencakar, mencabut setiap apa saja yang ada didekatnya dan dia tidak sadar hal itu.
Saat aku sedang menyedot dahak pada sedotan ketiga, tiba-tiba pembungkus tangan Tuan sebelah kanan terlepas. Reflek tangan kanannya menampar wajahku sangat kuat, aku tersungkur menepi ranjang. Tangannya tak terkendali mencabut selang makan, menarik alat yang terpasang pada lehernya. Seketika darah segar muncrat bak air mancur dari lubang sedot dahak itu, tangannya tak berhenti mencakar-cakar tubuhnya sendiri.
“Dokter!”
“Suster!”
“Tolong!” Terdengar teriakan Ms. Anggie, wajahnya menggambarkan ketakutan.
Aku dengan gegas memencet tombol darurat di tepi ranjang, agar pertolongan segera datang. Kuraih tangan kanan Tuan, darah itu menyembur keluar mengenai wajahku. Ada sembilan perawat, tiga dokter yang datang menanganinya. Sesekali aku turut membantu membasuh darah yang mancur tak terkendali itu. Sementara kulirik Ms.Anggie yang berdiri menepi, terlihat sedang berbicara di telepon.
Tak lama Tuan dibawa masuk ke ruang ICU, dan waktu yang bersamaan Nyonya datang bersama kedua putrinya. Wajah mereka penuh kegelisahan berderai air mata. Namun reaksi Nyonya membuatku nanap terpatung.
“Pergi Kau, aku tak ingin melihatmu!” Dengan suara yang begitu lantang hingga beberapa penghuni ruang lantai 7 keluar menyaksikan pengusiran Nyonya padaku. Dia melempar tas yang berisi baju-bajuku, berserakan di lantai.
“Tapi, Nyonya… !” Aku berusaha menjelaskan, Nyonya berlalu tak pedulikanku.
“Tak punya pengalaman jangan kesini,” ejek Ms. Anggie yang mengikuti langkah Nyonya.
Dengan tubuh berlumur darah, kupunguti baju-bajuku. Beberapa pasang mata mengawasiku penuh iba ada pula yang mencaci, menyumpah serapah. Selanjutnya dalam lunglainya sang tubuh, wajahku bagai tersulut api, dadaku terpanggang, rasanya seperti ada hawa panas berdesak-desak, menggerapai kerongkongan, menggumpal di rongga hidung, berjalar pelan, lalu bermuara di balik kelopak mata, kubiarkan saja air mataku merembes mengalir pelan di pipi. Mindaku seolah masuk dalam delusi dan berbisik agar aku tak perlu takut.
Tanganku merogoh ke dalam tas, kuraih telepon genggam yang hanya memiliki tiga fungsi, menelepon, mengirim SMS, dan melatih kesabaran. Kutekan beberapa nomor, dan mulai berbicara.
“Selamat malam, Mr. Chen!”
“Aku….” Dengan nada terbata-bata aku mengubungi agen, namun belum selesai berucap dia sudah memotong pembicaraan.
“Ya, aku sudah tahu.”
“Bermalam saja di rumah sakit.”
“Besok aku jemput.” Mr. Chen berkata dengan nada ketus, sepertinya dia sudah tahu apa yang terjadi. Dia tak memberiku kesempatan berbicara dan langsung mematikan telepon.
Bulir-bulir bening tak berhenti menetes, isak tangis lirih memecah keheningan malam yang semakin larut. Bahkan satu-satunya pelindung di negeri ini menelantarkanku. Aku ingat Ibu, aku ingin mengadu padanya. Tapi tidak, ini kecerobohan yang kubuat sendiri. Aku tidak boleh membebaninya. Aku tidak memahami isi kontrak kerjaku, ambisi untuk segera mengeruk NT mematahkan nalarku, itu kelalaianku.
“Ibu, aku sudah sampai di Taiwan, majikanku sangat baik. Ibu doakan anakmu ya?” Selayang SMS kukirim untuk Ibu, agar beliau tidak khawatir.
Dinginnya AC ruangan lobi rumah sakit membawa lamunku pada sebuah perenungan. Kejadian hari akan jadi pengalaman tak terlupakan seumur hidupku. Belajar, belajar, dan belajar dari setiap skenario hidup yang terjadi.
“Kamu pergi mandi dulu!” Seorang perawat tiba-tiba mendekatiku sambil mengulurkan sebungkus roti dan sekaleng susu.
“Malam ini aku boleh bermalam di kursi ini?” izinku padanya.
Dia mengangguk tanda setuju.

Hongkong, 17 Mei 2016
Catatan:
NT : New Taiwan Dollar
Medical check up : tes kesehatan
Han zi : aksara cina
Training: pelatihan

Formosa, Negeri yang Kukira Surga

Kaka Clearny / Formosa, Negeri yang Kukira Surga / Jassy Ae / tenaga kerja asing Dalam hembusan sapu-sapu angin November, dengan semangat super meluber-luber jiwa dan ragaku lesap menuju negeri empat musim, Taiwan yang melambaikan berjuta asa disetiap koin NT-nya. Iming-iming gaji tinggi yang ditawarkan, mematahkan kesetianku pada negeri jiran, Malaysia yang telah mengayomiku selama empat tahun. Bersama … Continue reading “Formosa, Negeri yang Kukira Surga”

Kaka Clearny / Formosa, Negeri yang Kukira Surga / Jassy Ae / tenaga kerja asing

Dalam hembusan sapu-sapu angin November, dengan semangat super meluber-luber jiwa dan ragaku lesap menuju negeri empat musim, Taiwan yang melambaikan berjuta asa disetiap koin NT-nya. Iming-iming gaji tinggi yang ditawarkan, mematahkan kesetianku pada negeri jiran, Malaysia yang telah mengayomiku selama empat tahun. Bersama maskapai Eva Air yang meliuk di birunya angkasa, menyelinap diantara gumpalan putihnya mega selama lima jam perjalanan mengantarkanku berjodoh dengan Keluarga Lin.

IKAW AT AKO SA MAGKABILANG MUNDO

MYLA FARILLON GAHUM / IKAW AT AKO SA MAGKABILANG MUNDO / Wala / dayuhang manggagawa IKAW AT AKO SA MAGKABILANG MUNDO Nandiyan ka mahal,nandito naman ako. Kapwa pinaglayo ng tadhana at trabaho. Ayaw mo sana,lalo na ako. Nag usap,kapwa nagmuni-muni at plano’y nabuo. Mahal ko kahit tayo’y magkalayo. Magkabilang mundo man ang ating tungo. Tandaan lang na walang … Continue reading “IKAW AT AKO SA MAGKABILANG MUNDO”

MYLA FARILLON GAHUM / IKAW AT AKO SA MAGKABILANG MUNDO / Wala / dayuhang manggagawa

IKAW AT AKO SA MAGKABILANG MUNDO

Nandiyan ka mahal,nandito naman ako.
Kapwa pinaglayo ng tadhana at trabaho.
Ayaw mo sana,lalo na ako.
Nag usap,kapwa nagmuni-muni at plano’y nabuo.

Mahal ko kahit tayo’y magkalayo.
Magkabilang mundo man ang ating tungo.
Tandaan lang na walang magbabago.
Isiping nasa iisang langit pa rin tayo.

Tungo mo ay iba,Taiwan naman ako.
Binabalandra ko ang lugar ko sa Iyo.
Nakikinig ka,nakikitawa,nakikiisa.
Nagpapasalamat at dito ako napunta.

Pamumukadkad at ganda ng Taiwan.
Sa tuwina’y aking pinangangalandakan
Sa tuwing tayo’y magkaharap sa Line.
Sukli mo’y sa susunod tungo mo’y dito naman.

Pahinga ka na mahal,oras mo ay iba.
Sa pagtulog sana iyong isama.
Ang isipin lang ay ang masasaya.
Bukas,makalawa tayo dito ay magkasama.
Salamat sayo Taiwan.Salamat,Salamat.
Sa mga oportunidad at sa aki’y pagtanggap.
Asahang respeto ko ay laging tataas.
Ibabalik sayo ang dapat at sapat.