尹氏娥 / Cô Giao Lop Em / 代理投稿 / 婚姻移民
Taiwan Literature Awards for Migrants
尹氏娥 / Cô Giao Lop Em / 代理投稿 / 婚姻移民
尹氏娥 / Cô Giao Lop Em / 代理投稿 / 婚姻移民
范氏芳 / Ky Ưc / 推薦人謝曜明 / 婚姻移民
范氏芳 / Ky Ưc / 推薦人謝曜明 / 婚姻移民

Chen Indigo / KAWANKU, INILAH JIHAD / Anggi Sutriaji / tenaga kerja asing KAWANKU, INILAH JIHAD Kawanku… 2400 mil kita dari tanah kelahiran Senasib kita di tanah perantauan Tanah Formosa negeri Taiwan Demi sebuah pekerjaan atau sesuap makan Demi rencana dan masa depan Kawanku… Hari demi hari kita lalui Meski keluh dan peluh bercampur satu Tetap langkahkan kaki … Continue reading “KAWANKU, INILAH JIHAD”
Chen Indigo / KAWANKU, INILAH JIHAD / Anggi Sutriaji / tenaga kerja asing
KAWANKU, INILAH JIHAD
Kawanku…
2400 mil kita dari tanah kelahiran
Senasib kita di tanah perantauan
Tanah Formosa negeri Taiwan
Demi sebuah pekerjaan atau sesuap makan
Demi rencana dan masa depan
Kawanku…
Hari demi hari kita lalui
Meski keluh dan peluh bercampur satu
Tetap langkahkan kaki demi pijakkan pasti
Kau bilang kita sedang berjihad
Kawan, aku setuju
Setiap hari kita berjibaku
Untuk Tuhan…
Untuk ayah dan ibu…
Untuk keluarga…
Untuk diri kita sendiri…
Kawanku…kau benar,
Inilah jihad masa kini
Bekerja demi orang yang disayangi
Berusaha demi kejar cita dan wujudkan mimpi
Bukan yang seperti itu…
Tidak yang seperti itu…
Kau tahu?ah pasti kau sudah tahu
Gerakan radikal yang membawa bawa panji agama
Ya agama kita…
Menebarkan teror tak punya kerjaan
Membantai manusia dengan syahadat menggema
Ah…MEMALUKAN!!!
ISLAM tidak seperti itu…
BANG…BANG…BANG
Paris, 13 November 2015
Rentetan peluru bernyanyi disertai teriakan takbir mengiringi
Ratusan manusia tak bersalah rubuh
Malam itu Eiffel yang gagah telah “runtuh”
Jakarta, 14 Januari 2016
Bom dan desing peluru saling bersahutan
Aparat terluka dan orang tak bersalah kehilangan nyawa
Siang itu monas kehilangan “mahkota emas”
Blam…blam…blam
Brussels, 22 Maret 2016
Raungan bom memekakkan suasana
Puluhan orang tewas seketika
Bandara burung besi luluh lantak
Hari itu Manneken Piss menangis
Kau tahu itu kawan…
Deretan aksi yang mereka bilang jihad
Jihad macam apa yang begitu jahat
Mungkin sudah ratusan kepala mereka pancung
Anak anak yang terbunuh
Wanita wanita yang disetubuhi
Jihad macam apa yang begitu laknat
Mengkafirkan satu agama
Membenci lain agama
Menjauhi orang tua dan keluarga
Ah…MEMILUKAN!!!
ISLAM tidak seperti ini…
Mereka tebar teror, kita menanggung malu
Mereka tebar fitnah, kita mendulang getah
Mereka buat kekacauan, membuat dunia buta kenyataan
Mereka sesat kawan, merekabsesata
Ajaran ISLAM tidak seperti itu!!!
Sekarang di negeri ini mereka tampak tanamkan benih
Tebarkan doktrin sesat tentang jihad
Di tanah penuh toleransi ini mereka buat pondasi
Membuat fitnah semakin menjadi jadi
Kawanku,
Kawanku,
Kawanku…
Berpeganglah kuat imanmu
Eratkan ikatan dengan TUHAN
Jangan pernah jadi bagian dari mereka
Gerombolan gila mirip serigala
Haus darah dan nyawa
Semoga mereka yang tersesat berhenti
Tersadar dan kembali
Pada kebenaran yang hakiki
Kawanku,
Bersabar adalah pilihan
Semoga tanah formosa tetap damai
Toleransi tetap dijunjung tinggi
Kawanku,
Kuatkanlah hati…
Kita buktikan dan kita telah buktikan
Jihad bukan seperti itu…
Islam tidak seperti itu…
A Shi / Fang Nai Nai (方奶奶) / tidak ada / tenaga kerja asing FANG NAI NAI (方奶奶) Oleh: A Shi Jika membicarakan tentang cinta, aku rasa memang tidak akan pernah tiada habisnya. Bahkan milyaran kata pun tak mampu mewakili cerita tentang cinta. Terkadang cinta mampu membuat kita bahagia dan menderita. Namun ada pula yang mampu bertahan hidup … Continue reading “Fang Nai Nai (方奶奶)”
A Shi / Fang Nai Nai (方奶奶) / tidak ada / tenaga kerja asing
FANG NAI NAI (方奶奶)
Oleh: A Shi
Jika membicarakan tentang cinta, aku rasa memang tidak akan pernah tiada habisnya. Bahkan milyaran kata pun tak mampu mewakili cerita tentang cinta. Terkadang cinta mampu membuat kita bahagia dan menderita. Namun ada pula yang mampu bertahan hidup karena cinta. Seperti Fang Nai nai ….
Taiwan adalah salah satu negara Asia yang dijuluki Formosa, yang konon katanya mempunyai arti Pulau yang Indah (bahasa portugis).
Sebut saja namaku A Shi, hanya sebuah nama panggilan Yeye dan Nai nai padaku. Aku orang Indonesia asli yang menjadi TKI di Taiwan sejak lima tahun silam, tepatnya di tahun 2011. Tempatku bekerja berada di wilayah Taipei, tepatnya di Kota Shipai. Kawasan apartemen yang menurutku biasa saja, tidak terlalu mewah dan tidak terlalu kumuh. Rumah majikanku tidak jauh dari rumah sakit Shipai, atau lebih dikenal dengan sebutan Taipei Veterans General Hospital. Tugasku hanya menjaga Yeye, sebutan untuk kakek yang sekarang ada di sampingku. Aku memanggilnya Fang Yeye. Beliau adalah lelaki tua berumur 95 tahun, menderita stroke, tapi masih mampu bicara walaupun terkadang tidak jelas. Fang Yeye masih mempunyai istri yang sangat setia, dan aku memanggilnya Fang Nai nai. Di rumah ini kami cuma bertiga. Namun, mereka mempunyai 1 anak perempuan di China atau lebih dikenal dengan sebutan Talu. Anak mereka lah yang menggajiku. Fang Nai nai setiap hari cuma sibuk dengan sampah-sampahnya. Beliau setiap hari mengumpulkan botol-botol minuman atau sampah apa pun yang bisa didaur ulang, lalu dijual, walaupun mendapatkan uang yang tidak seberapa. Dan aku, cuma di rumah menjaga Fang Yeye. Jujur, untuk makan sehari-hari, kurasa memang tidak layak. Dengan sayur 1 ikat dan telur dadar. Terkadang telur dadar dan sosis. Itu pun jarang. Aku tidak pernah mengeluh soal makan, karena melihat Fang Nai nai dan Fang Yeye tertawa pun aku sudah bahagia. Maklum, karena dari bayi, aku tidak mempunyai kakek dan nenek. Terkadang aku heran, kenapa anaknya tidak membawa orang tuanya ke Talu saja dan hidup bersama. Entahlah.
Suatu hari, kucoba memberanikan diri bertanya pada Fang Nai nai.
“Nai nai, kenapa Siaoce (panggilanku kepada anak perempuan Fang Na nai) tidak mengajak nai nai dan yeye ke Talu saja? Dari pada di sini, kalian pasti ingin berkumpul dengan anak cucu, kan?” Tanyaku setengah lancang.
Aku tidak pernah menduga jika pertanyaanku membuat Fang Nai nai menangis. Beliau menangis walaupun tidak bersuara, tapi kumelihat dengan jelas, air mata itu mengalir deras.
“Nai nai, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuatmu bersedih, ya sudah. Lupakan pertanyaanku, ya,” kataku gugup.
Wanita tua berusia 90 tahun itu angkat bicara walaupun dengan suara parau.
“A Shi, kamu tidak bersalah. Kalau kamu mau, aku akan bercerita padamu tentang keluargaku,” kata Fang Nai nai.
“Baiklah,” ujarku mantap.
Fang Nai nai mulai bercerita.
Jika dulu sewaktu Fang Yeye berusia 30 an, beliau adalah seorang jenderal di China/Talu. Ketua para pejuang di masa penjajahan. Waktu itu Fang Nai nai sedang hamil, sedangkan Fang Yeye harus pergi bertugas entah di mana dan entah pulang dalam keadaan hidup atau mati. Dengan berat hati, Fang Nai nai melepaskan suami tercinta untuk tugas negara. Satu bulan berlalu, 1 tahun dilalui, dan 40 tahun terlewati. Kabar apa pun tak kunjung datang. Fang Nai nai merawat dan membesarkan anak perempuan satu-satunya seorang diri. Sampai anak itu menikah dan lahirlah kedua cucunya. Namun, lagi-lagi kabar tentang keberadaan Fang Yeye pun tidak ada. Fang Yeye seperti debu yang ditiup angin begitu saja, lenyap. Tidak mudah bagi Fang Nai nai untuk bertahan sendirian. Antara menjadi janda atau masih berstatus isteri jenderal. Dulu tidak sedikit pemuda yang datang ingin menikahi, namun Fang Nai nai tetap percaya jika suaminya masih hidup. Dan beliau bertahan seperti itu, karena cinta. Ya, cinta ….
Fang Nai nai menangis ….
“Nai nai, tidak usah diteruskan tidak apa-apa. Kalau nai nai capek, istirahat saja dulu,” kataku sambil menepuk pelan bahunya.
“Tidak, A Shi. Kamu harus mendengarkan ceritaku sampai habis,” ucapnya sambil menyeka sudut matanya yang basah.
Empat puluh tahun, Fang Nai nai bertahan demi cinta. Bertahan demi suaminya dan bertahan atas dasar percaya dengan isi hati. Dan itu terlalu sukar aku cerna dengan logika.
Entah suatu hari, melalui media radio dan koran. Dua puluh tahun lalu, pemerintahan Taiwan mengumumkan para pejuang dari China/Talu yang masih hidup dan menetap di Taiwan. Dan dari situlah Fang Nai nai yakin jika nama Fang Cheng Ci adalah suaminya yang empat puluh tahun ditunggu-tunggu. Akhirnya, bersama anak perempuan dan menantunya, Fang Nai nai pergi ke Taiwan. Dengan melalui berbagai cara, akhirnya ditemukan alamat Fang Cheng Ci, yang tak lain adalah Fang yeye. Fang yeye bekerja sebagai pemulung sampah daur ulang untuk melanjutkan hidup dan mendapat uang santunan dari pemerintah setiap bulannya.
Dan pertemuan dua sejoli, satu cinta yang sudah menua itu terjadi …. Saat bertemu, Fang Nai nai sudah 65 tahun. Dan Fang Yeye 70 tahun.
Sungguh, dari sini air mataku tak mampu aku bendung lagi. Aku pun ikut menangis. Fang Nai nai bertemu dengan Fang Yeye dua puluh tahun yang lalu, di usia yang tak lagi muda tapi cinta mereka tetap suci dan tidak berubah. Empat puluh tahun tidak mudah untuk bertahan pada cinta yang hilang, sungguh kesetiaan yang luar biasa. Sejak saat itu, Fang Nai nai dapat ijin tinggal di Taiwan karena memang masih mempunyai surat nikah syah sebagai isteri Fang Yeye. Anak mereka memilih ikut suami yang berada di Talu. Dan mengunjungi Taiwan setahun sekali.
Seiring berjalannya waktu, Fang yeye sakit-sakitan dan positif menderita stroke. Sebelum ada aku, Fang Nai nai lah lebih dulu merawat Fang yeye yang terkena stroke ini selama sepuluh tahun.
Fang Nai nai kembali menangis. Tanpa aku sadar, Fang Yeye yang dari tadi duduk tertidur di sofa pun ikut mendengar. Keduanya meneteskan airmata. Dan aku? Seperti melihat dongeng di hadapanku sendiri. Kupeluk mereka berdua dengan setulus-tulusnya. Aku menyayangi mereka, seperti kakek nenekku sendiri.
Pagi itu, Januari 2014 ….
Fang Nai nai pamit mau ke pasar beli ikan. Hujan lumayan deras, aku menyuruhnya di rumah dan biar aku saja yang pergi. Tapi beliau bersikeras mau pergi. Seperti biasa kalau pergi, aku selalu menaruh HP nya di saku jaket samping kanan. Dia pun bilang, mau belikan bakso ikan kesukaanku. Aku pun meng iyakan. Satu jam berlalu, dua jam telah berjalan. Fang Nai nai tak kunjung datang. Aku berfikir mungkin di pasar memunguti botol sampah seperti biasanya. Tiga jam berlalu. Aku mencoba menghubungi, namun … yang mengangkat orang lain, polisi. Entah aku harus bercerita apa di sini. Yang jelas, Fang nai nai ditabrak bus umum waktu mau nyebrang dan dia dilarikan di rumah sakit. Aku segera menghubungi Siaoce di Talu. Dan dengan gugup dan berlinangan air mata, aku dudukkan Fang Yeye di kursi roda lalu kubawa ke Rumah Sakit Veterans General Hospital, 10 menit kudorong kursi roda itu, diiringi gerimis dan hawa dingin yang amat sangat di Bulan Januari. Fang Yeye meremas tanganku, mungkin beliau ingin bertanya ‘ada apa’ tapi lidahnya kaku untuk bicara. Aku cuma bisa berkata, kalau Fang Nai nai tidak enak badan dan sekarang di rumah sakit. Walaupun beliau susah bicara dan stroke, aku yakin hatinya masih hidup dan memahami apa yang telah terjadi. Setibanya di rumah sakit, semua terlambat ….
Fang Nai nai pergi untuk selamanya ….
Bakso ikan itu, selalu mengingatkanku padanya. Kisah cinta mereka, selalu menjadi inspirasiku jika cinta suci itu ada. Perjuangan mereka membuatku paham akan arti kebersamaan. Dan kesetiaan Fang Nai nai mengajariku arti harga diri dan kehormatan.
Selamat tinggal Fang Nai nai. Aku akan menjaga Fang Yeye sampai kisah kalian usai.
Sepeninggal Fang Nai nai, rumah ini sepi. Hanya aku dan Fang Yeye. Terkadang aku melihat Fang Yeye meneteskan airmata. Aku tahu, beliau paham apa yang terjadi, dan hatinya peka. Hari-hari kami lalui dengan bercanda, walaupun susah bagiku untuk menyembunyikan kesedihan ini, tapi aku harus selalu ceria di hadapan Fang Yeye. Siaoce 1 minggu 1 kali terkadang menelpon, menanyakan kabar. Cuma itu.
Juni, 2014 ….
Aku sangat menyayangkan bekerja di Taiwan itu harus terikat kontrak. Yang di mana aku harus pulang ketika keadaan tak memungkinkan. Juni 2014, aku harus pulang ke Indonesia, setelah kurang lebih enam bulan hidup berdua bersama Fang Yeye. Sungguh aku tidak tega, tidak sanggup dan berat meninggalkan beliau. Jujur, aku tidak mau pulang. Tapi apa dayaku? Taiwan tetaplah negara asing dan aku harus taat pada peraturan. Siaoce datang merawat Fang Yeye, selama penggantiku belum datang. Andai Taiwan adalah Indonesia? Kan kubawa Fang Yeye ke rumahku, dan kurawat. Tuhan, aku tidak mau pulang ….
Tanggal 15 Juni 2014, aku pulang.
Membawa seribu duka yang mendalam, membunuh setiap rinduku pada Fang Yeye. Berusaha tertawa saat berpamitan pada Fang Yeye, walaupun hatiku bagaikan diiris-iris, dan menangis terisak dalam-dalam. Kupeluk beliau, dan beliau pun meneteskan airmata.
“Taiwan, aku mohon beri aku waktu untuk bertemu Fang Yeye lagi,” bisikku dalam hati.
Dan aku pun pulang ….
Selama aku di Indonesia, Siaoce selalu menelponku menanyakan ini dan itu, cara merawat Fang Yeye. Dua bulan berlalu, dan HP-ku berdering lagi.
“A Shi, kapan kamu datang ke Taiwan. Yeye menanyakan kamu terus, tadi malam dia jatuh dari ranjang, hidungnya berdarah dan ….”
Suara Siaoce di seberang sana menggantung, menggema dalam telepon genggamku.
“A Shi, Yeye meninggal ….”
Sambungan terputus. Bumi yang kupijak seakan membeku. Detik jam dinding pun berhenti. Waktu pun ikut mati. Fang Yeye telah tiada, tanpa ada aku di sampingnya. Dan cerita tentang cinta sejati itu telah usai …. walaupun bukan aku yang menjadi endingnya.
“Fang Yeye, Fang Nai nai … terima kasih, perjalanan hidup kalian adalah sepenggal nasihat dalam hidupku. Maafkan aku tidak bisa menyelesaikan tugas terakhir menjaga Fang Yeye ….”
Taipei, 18 April 2016
Nunung Nurjanah / Mungkin Tuhan Salah Dengar / Tidak ada / tenaga kerja asing Mungkin Tuhan Salah Dengar by: Nunung Nurjanah Mungkin ini yang dinamakan takdir. Manusia hanya bisa berencana dan Tuhan-lah yang menentukan semuanya. Namaku Nunung, aku dibesarkan di lingkungan keluarga yang sederhana, makanya tumbuh pun jadi gadis yang sederhana. Polos, lugu itulah aku. Bahkan dulu sewaktu … Continue reading “Mungkin Tuhan Salah Dengar”
Nunung Nurjanah / Mungkin Tuhan Salah Dengar / Tidak ada / tenaga kerja asing
Mungkin Tuhan Salah Dengar
by: Nunung Nurjanah
Mungkin ini yang dinamakan takdir. Manusia hanya bisa berencana dan Tuhan-lah yang menentukan semuanya.
Namaku Nunung, aku dibesarkan di lingkungan keluarga yang sederhana, makanya tumbuh pun jadi gadis yang sederhana. Polos, lugu itulah aku. Bahkan dulu sewaktu gadis saat ditanya apa cita-citamu? Jawabanku, bukan jadi dokter atau guru. Tapi, jadi ibu rumah tangga yang baik, tinggal di rumah, mengurus suami, menjaga anak, mengantar anak ke sekolah dan waktu senggang menemani mereka belajar dan bermain. Oh, indah sekali mimpi itu andai jadi kenyataan.
***
Maret, 2006
“Selamat Pagi.”
Aku terperanjat saat tangan mungil memegang bahuku. Terdengar samar sapaan yang diiringi senyum manis dari dua orang asing yang berdiri di hadapanku.
Pandangan terasa buram, mata sulit kubuka. Bukan karena masih ngantuk, tapi semalaman aku tidak bisa mengontrol butiran-butiran bening yang terus menghujani pipi tirusku. Kepala pun tersa pusing karena hingga hampir pajar menyongsong, kantuk tak kunjung tiba.
Dengan pikiran yang masih setengah melayang, aku pandangi setiap sudut ruangan, kamar yang asing, dan orang yang asing pula. Anak itu bukan putriku, wanita paruh baya itupun bukan ibu. Emh, siapa mereka? Aku dimana? Aku pun memcoba mengumpulkan ingatan, memutar memoriku ke hari kemarin.
***
Suhu dingin masih membalut Taiwan kala pertama kupijakan kaki di Bandara Tau yuan. Tubuh kurusku yang hanya terbalut jaket tipis berwarna merah yang diberikan PJTKI, sewaktu aku mau terbang, terasa menggigil. Mungkin aku belum terbiasa dengan cuaca negri Formosa.
Entah seperti apa penampakanku kala itu. Namun yang jelas aku merasa seperti orang bodoh. Diantara gerombolan orang-orang yang lalu-lalang, aku kebingungan dan merasa seperti orang aneh. Kebetulan aku belum berpengalaman ke luar negri, dan di berangkatkan hanya sendirian oleh PJTKI. Sungguh peristiwa itu jadi sesuatu yang tidak dapat terlupakan seumur hidup.
Saat tiba di Agency, disuguhkan dengan peristiwa yang membuat nyali ciut. Aku melihat, agency memukul tangan putranya dengan sebatang rotan, sebagai hukuman. “Oh, Tuhan apakah majikanku juga akan segalak itu?” pikirku.
Kekhawatiran menghiasi malam saat menginap di rumah agency, gelisah tak menentu membayangkan sosok seperti apakah majikanku? Esok paginya aku diantar ke tempat majikan, seorang wanita paruh baya dan anak laki-laki berumur sekitar tiga tahun menyambutku dengan senyum manis dan sapaan ramah. Rasa khawatir dan takut pun lenyap seketika. Apalagi saat mendengar celotehan, Yiyi keke, sapaan anak kecil yang kelak harus kujaga. Rasa rinduku pada putri tercinta, yang ku pendam selama lebih dari dua bulan, terobati.
“Halo, what is your name?” sapanya.
Sesaat aku terdiam aku bingung harus jawab apa? padahal walau aku cuma lulusan SMP, aku pernah belajar bahasa Ingris, dan bisa mengerti sedikit. Tapi, mungkin terlalu grogi membuat lidah ini tiba-tiba kelu, sampai-sampai harus penerjemah yang menjawab pertanyaan anak itu.
“Her name is Nunung.”
“Oh, Nono?” ucap anak itu.
“No …, no, no, no, not Nono, but Nunung!” jelasku.
“No-No,” ejanya lagi.
“No …. Nunu.”
Berulang kali aku menjelaskan namaku, namum wanita paruh baya itu yang tidak lain adalah majikanku, dan cucunya masih saja sulit mengucapkannya. Akhirnya mereka memangilku, Nono! Emh, salah tapi ya sudahlah yang penting aku yakin keluarga majikanku yang bermarga Lin ini, adalah keluarga baik-baik, dan sopan.
Penerjemah membantu menjelaskan tugas-tugasku. Jobku menjaga kakek berumur 85 tahun. Namun, karena kakek masih bisa beraktivitas dan tidak terlalu perlu di jaga, tugasku beralih menjaga cicitnya, dua balita. Satu perempuan berumur satu tahun bernama Jane, dan satunya lagi laki-laki berumur tiga tahun bernama Yiyi. Bangun, jam 06 pagi, dan harus menyiapkan sarapan, juga membereskan rumah. Tapi, fokus pekerjaan utama menjaga anak, pekerjaan lain bisa di nomor duakan.
“Nono …, Nono …!”
Suara pangilan itu, mengagetkanku lagi. Aku terperanjat saat tersadar dari lamunan. Jarum jam menunjuk angka 08: 00, dari sudut jendela kaca kamar diam-diam Sang Surya mulai mengintip.
“Ya Tuhan! Sudah siang, aku kesiangan! Ya Allah bagaimana ini?” bisikku panik.
“So …. So …. Sory Laupaniang, saya kesiangan,” ucapku gugup.
Aku ketakutan setengah mati, apalagi saat mengingat bagaimana agency memukul putranya saat itu. Aku takut sekali!
“Nggak, apa-apa mungkin kamu lelah,” ucap nyonya, diiringi senyum manis, “ayo bangun, sarapan, nanti siang mei-mei akan datang dari Yilan.”
Tidak kuduga! Sungguh, syukur alhamdulilah, Allah memberikan majikan yang sangat baik pada perjalanan pertamaku di luar negri.
Mei-mei? sebenarnya aku masih bingung saat itu. Saat nyonya menyebut nama mei-mei, siapa dia? Tapi, setelah waktunya tiba, aku baru tahu mei-mei itu adik dari Yiyi keke, anak perempuan cantik berambut ikal, namun sangat cengeng.
Senjak dilahirkan anak itu tinggal bersama nenek dari ibu di Yilan, karena ibunya sibuk bekerja sebagai suster. Sedangkan nenek yang di Taipei, nenek dari ayah sibuk menjaga Yiyi keke.
Banyak sekali kenangan dan pelajaran hidup yang bisa kuambil dari perjalanan pertamaku di Taiwan. Aku mengenal banyak teman, mengerti apa itu kebahagiaan sesungguhnya.
***
Ini hari pertama aku diijinkan mengajak anak-anak yang aku asuh jalan-jalan dan bermain di taman, setelah terkurung satu bulan di rumah. Mungkin terlalu pagi, maka suasana pun masih sangat sepi, hanya ada beberapa anak di arena bermain. Aku duduk diatas batu di sudut taman, memperhatikan anak-anak yang asyik bermain ayunan. Tiba-tiba seorang wanita cantik diatas sepeda menyapaku.
“Mbak, Indo ya?” teriaknya.
Aku, yang pemalu dan tak terbiasa bersuara keras hanya menganguk sambil tersenyum, dan wanita cantik itupun berlalu sambil melambaikan tangan, karena lampu hijau sudah menyala.
Selang berapa menit, saat aku asik membaca buku. Aku dikagetkan dengan tepukan tangan di bahu kiri.
“Hey! Khusyuk banget bacanya,” sapanya.
Emh, wanita cantik tadi. Dia tersenyum dan duduk di sasampingku. Mengajak berkenalan, dan banyak bercerita, dia juga menanyakan pekerjaanku.
“Menjaga mereka,” jawabku
“Wah, dua! repot sekali,” ucapnya.
Saat jariku menunjuk ke arah anak laki-laki yang sedang asyik bermain, dan mei-mei yang asik dengan mainanya di dalam kereta bayi.
Aku hanya tersenyum mendengar komentarnya, wanita itupun tersenyum. Namanya Amalia, usia 27 tahun lebih tua dua tahun dariku. Dia menjaga nenek berusia 90 tahun, keluarga majikannya juga baik sama seperti majikanku. Ameilia, adalah anak Indonesia pertama yang aku kenal di Taiwan, dan dia jadi sahabat pertamaku. Sosok yang ramah, dan selalu mampu memberikan semangat kala aku merasa mulai lelah dan rindu rumah.
Tak terasa, dua bulan sudah aku di Taiwan. Walau kadang masih meneteskan air mata menahan rindu yang menggunung, namun aku masih terus bertahan demi cita-cita mendapatkan kehidupan yang lebih baik kelak. Aku ingin menyekolahkan putriku setinggi mungkin. Mengingat akan kesusahan hidup di kampung, ingat kala putriku merengek meminta jajan, sedangkan di tangan cuma cukup untuk beli beras, kesulitan-kesulitan itu yang kadang mencambukku untuk lebih semangat.
Walau sebenarnya menjaga dua anak itu tidak mudah, apalagi si kecil yang cengenya minta ampun. Tapi, aku anggap anak-anak itu seperti anakku sendiri. Aku menyayangi mereka, begitu pun dengan mereka.
Orang bilang aku sangat polos, aku terlalu lugu untuk hidup di kota metropolitan seperti Taipei. Maklum aku berasal dari kampung, rumahku tepat di kaki gunung. Pergaulanku pun tidak luas.
Minggu pagi yang cerah, seperti biasa aku telah duduk di sudut taman.
Pengujung Mei yang indah! Aku suka dengan cuacanya, mentari cerah, kehangatanya membalut kulitku. Di taman kini aku tidak sedirian lagi, ternya banyak sekali teman-teman dari Indonesia yang berprofesi sama sepertiku, seorang BMI. Kini temanku bukan cuma Amalia, ada Santi, Dewi, Mbak Atun, dan masih banyak. Tapi mereka semua berasal dari Jawa Timur, Dan Jawa Tengah, bahasa kami berbeda. Aku sendiri dari Jawa Barat bahasaku sunda, jadi kadang aku hanya bengong tidak mengerti saat mereka saling merumpi. Ya, buku-lah yang jadi teman baikku kala itu. Aku, memilih membaca daripada nimbrung tapi tidak nyambung.
Juli, 2006
Pagi ini ada teman baru, dia berasal dari satu daerah denganku. Aku sangat bahagia saat itu, terasa bertemu sodara, kami pun akrab. Dia sudah seperti kakakku sendiri, namanya Any.
Mbak Any, pernah datang ke Taiwan sebelumnya. Katanya kali ini nasibnya tidak seberuntung dulu, nenek yang ini cerewet dan suka mukul. Aku jadi iba padanya.
Sore itu aku kepasar membeli sayur, anak-anak kutitipkan pada nyonya. Di pinggir taman, aku melihat Mbak Any sedang berbincang dengan seorang wanita paruh baya, yang nampak elegan dengan gaun pink-nya. Aku tidak berani menyapa, aku takut wanita itu majikannya. Kata Mbak Any, majikannya tidak suka dia mengobrol dengan sesama BMI. Emh, kasihan! Namun, belum berapa langkah kakiku beranjak, Mbak Any memangil, aku pun menghentikan langkah, dan menunggunya yang berlari ke arahku.
“Teh, Tadi siapa? Majikannya ya?” tanyaku.
“Bukan! Dia orang baik, aku mengenalnya kemarin di rumah sakit,” jawabnya.
Aku hanya manggut-mangut, sementara dia meraih tanganku dan bergelayut manja. Kebetulan rumah kami satu arah, sepanjang perjalanan dia bercerita tentang kekejaman majikannya.
***
Ada satu hal yang takkan pernah aku lupakan seumur hidupkku, di perjalanan pertamaku itu. Kebodohan, dan kepolosan telah membuahkan sesal yang tak terkira dalam hidupku.
Masih terngiang di telinga. Saat itu, aku masih di penampungan PJTKI, seorang wanita tambun berkulit sawo matang, namanya Sasa. Dia, pernah bekerja di Taiwan, namun hanya 7 bulan saja, entah apa alasannya dia pulang? Namun, dia sering sekali bercerita tentang keburukan majikannya, tapi aneh juga kalau aku berpikir dengan otak yang jernih. Dia sangat marah pada orang Taiwan, bola matanya membara kala bercerita. Tapi, kok, dia masih ingin kembali ke negara itu? Yah, dia sedang proses ke Taiwan lagi. Emh, heran!
Suatu malam dia bercerita ‘Ingatlah, majikan kalian itu yang gaji kalian, orang-orang di sekelilingnya sekalipun keluarga jangan sampai kalian kasih hati, mereka akan menginjak-injak harga diri kalian, memperlakukan kalian seenaknya kalau kalian baik,’ ucapnya.
Ucapanya itu terus terngiang di dinding telingaku. Sungguh aku yang bodoh, dan terlalu polos. Aku terpengaruh dengan ucapanya. Seakan ada magnet negatif yang mengikat hatiku.
Di rumah majikan, ada nenek ‘nyonya meng menggajiku’, ada ibu dan ayah anak-anak dan juga, Aco ‘bapak dari tuan’. Sementara tuan sendiri tinggal di Cia yi, mengurus pabriknya, sebulan sekali dia pulang ke Taipei.
Kata-kata Sasa bak racun dalam kehidupanku, aku terpengaruh!
Setiap pagi, ibu dan ayah anak-anak yang kujaga selalu menyapaku dengan ramah, namun sebaliknya wajah cemberut selalu kupasang untuk mereka. Di benakku tertanam “mereka bukan majikanku, mereka tidak menggajiku’ kalau diingat kembali, sungguh picik pikiranku saat itu.
Agustus, di hari ulang tahunku. Teman-teman ingin mengadakan pesta perayaan untukku katanya. Jam 08:00, seusai buang sampah kami janji berkumpul di taman. Sorenya aku meminta ijin pada nyonya, dia pun mengijnkannya dan menyarankan anak-anak dititipkan pada orang tuanya karena nenek tidak bisa membantuku menjaga anak-anak. Nenek tidak tinggal bersama kami lagi, dia tinggal di apartmen barunya.
Malam setelah buang sampah aku berlari ke taman menemui teman-teman. Bukan lupa, aku pergi tanpa pamit pada ibunya anak-anak, namun aku sengaja. Pikirku, dia bukan majikanku, nenek majikanku karena dia yang menggajiku.
Kejutan demi kejutan indah mengiringi malam ulang tahunku. Di taman teman-teman sudah berkumpul, dengan kue tart yang cukup besar dan juga kado. Air mata pun, tak dapat kukontrol, mengalir begitu saja membiaskan rasa haruku. Semua begitu indah.
Seusai perayaan sekitar 40 menit, kami pun pulang. Senyum ceria menghiasi perjalananku menuju rumah. Setiba di depan pintu, anak laki-laki yang aku jaga sedang duduk di tangga sendirian. Dia menatapku, aneh.
“Aku menunggumu lama di sini,” ucapnya.
Aku segera menghampirinya, mengangkat tubuh mungil itu dan menaruhnya di pangkuan, kukecup manja pipi mulusnya.
“Maaf, tadi aku ada acara,” ucapku.
“Mama mencarimu! katanya kalau kamu pulang suruh kekamarnya.”
Ah, jantungku mendadak berdebar kencang. Pikiranku kacau.
“Pasti kena marah,” pikirku.
Anak itu segera beranjak dari pangkuan, dan menarik tanganku, menuntunku menuju kamar ibunya.
Suasana kamar masih terang, mei-mei pun masih terjaga. Ta Sau, pangilanku pada ibunya anak-anak, dia sedang menikmati acara tv. Sementara Ta Ke, ayah anak-anak tidak ada di rumah. Menyadari kehadiranku, Ta Sau mematikan tv-nya, dan mengalihkan pandangannya ke arahku.
“Kamu dari mana?” tanyanya.
“Maaf, tadi aku ada acara,” jawabku.
Walau kata-kata Sasa, masih menanamkan keangkuhan di hatiku, tapi saat melihat Yiyi keke di tangga tadi, aku tahu salah, lalai dari tugasku. Seharusnya tadi aku titipkan dia pada ibunya dulu. Meraka itu tanggung jawabku sekarang, aku digaji untuk menjaga mereka. Hanya Tuhan yang tahu, betapa tertekannya batinku kala itu.
“Acara apa?” tanya Ta Sau lagi.
“Aku ulang tahun,” jawabku pelan.
“Nono, kamu sayang tidak sama anak-anak?”
Pertanyaan yang aneh, tapi berhasil membuat detak jantungku semakin berpacu kencang.
“Tentu saja! Mereka sudah kuanggap anak sendiri.”
“Emh, kalau begitu kenapa kamu tidak mengajak mereka ke acaramu? Bukankah acara itu, perayaan ulang tahunmu? Apa kamu tidak ingin berbagi kebahagiaan dengan orang yang kamu sayang?”
Ya Allah, aku semakin merasa bersalah, kenapa tadi aku tidak berpikiran seperti itu.
“Keke!” pangil Ta Sau sambil melirik aneh ke arah putranya.
Ta Sau pergi ke kamar mandi, sementara keke tiba-tiba mematikan lampu. Ya Tuhan, sulit kubendung air mataku, aku merasa bersalah pada Ta Sau, dia selalu baik padaku, tapi aku …, Ya Allah.
Ta Sau keluar dari kamar mandi membawa kue tart berbentuk Kity berwarna pink, diiringi nyanyian selamat ulang tahun. Aku sangat terharu. Aku menangis sejadi-jadinya, bersimpuh meminta maaf atas khilafku. Wanita itu sungguh berhati emas, dia hanya tersenyum dan bilang kamu baru, belum kenal siapa kami. Dia pun menjelaskan untuk menganggap keluarganya seperti keluarga sendiri. Aku benar-benar merasa malu dengan sikapku selama ini, aku juga merasa beruntung tinggal di keluarga itu.
Di sini aku tahu, kalau sejatinya kebahagiaan itu ada dalam hati kita sendiri, pekerjaanku kini tanpa beban karena tak ada kebencian. Kujalani hari-hariku penuh keceriaan.
Tanpa beban hati dan pikiran, seberat apapun pekerjaan terasa ringan. Walau pada kenyataan sifat rewel dan nakal Jane, kadang sampai membuat aku harus meneteskan air mata menahan marah.
Aku bukan tipe perempuan yang bisa meluapkan kekesalan dengan marah-marah, tapi dengan menyendiri atau meluapkan dengan tangisan cukup membuat hatiku lega.
Jane mulai besar, namun cengenya belum juga berubah. Bahkan sikap seenaknya semakin menjadi, makan saja sampai harus dua jam. Malam sulit tidur, kadang jam 11:00 lebih, masih melek. Tapi terus terang aku sangat menyayaginya seperti putriku sendiri.
Seperti biasa, Minggu pagi aku sudah membawa anak-anak bermain di taman. Kali ini tidak seperti dulu, Jane sudah pintar berlari ke sana kemari, harus ekstra hati-hati menjaganya. Aku tidak bisa duduk santai seperti dulu lagi. Gadis mungilku itu super aktif.
Teman-temanku yang melihat kebandelannya hanya memandangiku, dan menggeleng kepala.
Saat aku duduk beristirahat di bawah pohon sambil mengelap keringat anak-anak. Seorang wanita cantik menghampiriku, wajahnya terasa tidak asing. Dia, wanita yang pernah kulihat tahun lalu berbincang dengan Mbak Any.
Awalnya dia basa basi, memuji anak-anak yang kujaga, lucu katanya. Lama-lama dia mulai mengutarakan isi hatinya, dia bilang dia iba padaku. Aku nampak lelah menjaga anak-anak, dia pun menyinggung tubuhku yang kurus. Yah, memang semenjak Jane pintar berjalan aku semakin lelah, berat badanpun turun drastis. Tapi jujur aku bahagia bersama mereka. Akhir dari kalimatnya dia menawarkan pekerjaan baru padaku, dengan iming-iming gaji yang sangat mengiurkan. Katanya kalau aku sudah siap, aku bisa menghubunginya dan dia akan menjemputku.
Sebelum berlalu, dia selipkan nomor teleponnya di pangkuanku.
Peristiwa itu cukup membuatku gelisah, hampir saja aku terbuai. Beruntung Amalia, mengingatkan untuk tidak tergoda, dia menyarankan agar nikmati saja pekerjaanku sekarang. Lagipula, aku sudah terlanjur jatuh cinta pada keluarga ini, jadi kubuang saja nomor teleponnya, dan melupakan semuanya.
***
Sudah sangat lama aku tidak bertemu dengan Mbak Any, tiba-tiba aku merindukanya. Aku orangnya ngirit, jarang menelpon teman kalau tidak terlalu penting.
Seperti ada ikatan batin anatara aku dan dia, saat aku sedang mengetik pesan untuknya, ponselku bergetar lebih dulu. Nama Any muncul di layar. Aku segera menekan tombol ON untuk menerima pangilanya. Belum sempat kuucap salam, suara tangis terdengar dari ujung telepon. Mbak Any mengajakku untuk ketemu setelah buang sampah, suaranya terdengar begitu tertekan dan memilukan.
Setelah buang sampah aku pun menemuinya di taman. Matanya nampak masih sembap, aku yakin dia dalam masalah.
Seperti dugaanku, dia bercerita kalau ibunya sakit dan harus dioperasi, dia butuh uang dan berniat meminjam 20.000 NT, padaku. Sebenarnya aku tidak tega, tapi aku juga tidak punya uang sebanyak itu, aku hanya mempunyai uang 7000 NT. Aku berjanji akan meminjamkanya 5000, besok pagi.
Sepertinya kehendak Tuhan, lain. Esok harinya aku tidak bisa keluar rumah sama sekali, Aco sakit.
Bukan bermaksud ingkar, Empat hari aku terkurung oleh tanggung jawab di rumah. Hari ke Lima aku paksakan diri lari ke taman sebentar. Aku terus memikirkan Mbak Any, dia butuh bantuan. Aku mencarinya namun dia tidak ada, hanya ada Amalia dan teman-teman yang lain sedang sibuk merumpi.
Melihat kehadiranku Amalia segara menghampiri. Tak ingin buang waktu aku segera bertanya tentang Mbak Any, tadinya aku ingin menitipkan uangnya pada Amalia. Namun betapa terkejutnya aku saat dia bercerita kalau Mbak Any kabur dua hari yang lalu.
Oh Tuhan! Mendengar semuanya ada perasaan yang berkecamuk di dada, ada sedih karena aku merasa kehilangannya, ada juga syukur karena uangku selamat.
Sejenak suasana hening, hanya terdengar sayup-sayup suara derai tawa teman-teman lain yang asyik merumpi di sudut taman.
“Sebenarnya jujur aku sangat kasihan sama Mbak Any,” ucap Amalia memecah keheningan, “kamu tahu? Dulu dia pernah ke Taiwan. Namun, keberangkatannya yang pertama dia kurang beruntung karena uangnya dihabiskan oleh suaminya, bahkan suaminya tega menikah lagi. Dan keberangkatannya yang ke dua, kamu tahu sendiri majikanya seperti apa? Di tambah lagi agency yang lebih memihak pada majikan. Aku bisa membayangkan bagaimana perasaan Mbak Any, kasihan sekali!”
Sesaat Amalia menghentikan ceritanya, jari-jari lentik menghapus butiran-butiran bening yang tak terkendali menghujani pipinya. Mataku pun mulai beriak kala mendengar ceritanya.
“Dulu, benerapa bulan lalu. Aku memergoki dia sedang menangis tersedu-sedu di sini, di taman ini! Lalu dia bercerita tentang keluarganya. Kata Mbak Any, keluarganya hanya menganggap dia seperti ATM, layaknya mesin pencetak uang. Terutama kakaknya yang membantu mengurus putri Mbak Any, dia seolah menjadikan anak sebagai senjata untuk menguras uang Mbak Any.”
Mendengar cerita Amalia tentang Mbak Any, hatiku tersentuh. Ternyata aku sangat beruntung, aku memiliki keluarga dan juga majikan yang baik dan perhatian. Benar kata Amalia dulu saat aku sedikit putus asa oleh kenakalan Jane, masih banyak orang yang lebih kesulitan dari kita, ucapnya.
Dulu aku sering mengeluh. Mungkin tuhan salah dengar! pikirku. Tapi sekarang aku sadar, banyak sekali hal baik yang kudapat dari-Nya. Andai saja, aku hanya dirumah mengurus anak apa mungkin aku bisa mencukupi apa yang anakku butuhkan? Banyak sekali nikmat yang kulupakan. Di Taiwan aku bisa mencukupi kebutuhan keluargaku, walau sedikit aku bisa membaca dan menulis bahasa mandarin, bahasa Igrisku pun sedikit lebih lancar tanpa harus sekolah, walaupun aku wong deso tapi bisa belajar komputer, bahkan punya laptop sendiri. Nikmat apa lagi yang harus aku dustakan, Allah telah memberikan segalanya yang terbaik untukku. Rencana-Nya memang maha sempurna.
Tau yuan, 18, April, 2016
latifah / TAIWAN DAN LEMAK KU / Tidak ada / tenaga kerja asing TAIWAN DAN LEMAKKU Taiwan,terimakasih… Terimakasih sudah membantu ekonomiku Karena NTmu sudah cukup buat keluargaku Tetapi,taukah kamu? Pada tahun 2014 aku baru datang dengan tubuh kurusku Dan hingga suatu hari,aku menerima gaji bulan pertamaku Senang akhirnya aku bisa menghasilkan uang dengan keringatku sendiri Dengan NTmu juga … Continue reading “TAIWAN DAN LEMAK KU”
latifah / TAIWAN DAN LEMAK KU / Tidak ada / tenaga kerja asing
TAIWAN DAN LEMAKKU
Taiwan,terimakasih…
Terimakasih sudah membantu ekonomiku
Karena NTmu sudah cukup buat keluargaku
Tetapi,taukah kamu?
Pada tahun 2014 aku baru datang dengan tubuh kurusku
Dan hingga suatu hari,aku menerima gaji bulan pertamaku
Senang akhirnya aku bisa menghasilkan uang dengan keringatku sendiri
Dengan NTmu juga aku bisa beli apa aja dan aku bisa makan apa yang aku mau.
Seperti orang kesetanan,tanpa pikir akan menjadi lemak di tubuhku.
Hari demi hari
Bulan demi bulan
Dan tahun demi tahun
Tubuhku semakin gendut karena NTmu.
Karena semakin gendutnya aku
Orang di sekitarku mengejengku,membullyku
Aku drop…😟
Tidak tau harus gimana?
Aku stres dengan ejekan mereka.
Hingga suatu hari aku mencoba diet
Berbagai cara diet aku jalani,tapi hasilnya nihil!
Aku tidak menyerah terus berusaha diet walaupun gagal terus
Dan tiba-tiba saking capeknya dengan diet gagalku
Aku lepas kontrol
Aku lahap semua makanan yang aku pantangin,tidak perduli mau gendut atau apalah itu
Dan jadilah aku yang dulu 48kg dengan sekarang 60kg,super gendut bukan?
Tiba-tiba suatu hari aku melihat lelaki ganteng dan aku suka dia pada pandangan pertama.
Aku mau deket sama dia
Tetapi,siapalah aku? Berani-beraninya suka lelaki seganteng dia,sedangkan aku cuma wanita gendut yang tidak bisa kurus.
Karena lelaki yang aku taksir sukanya dengan wanita langsing,oh tuhan sedih rasanya!
Dan sampai saat ini aku masi berpikir bagaimana caranya bisa kaya tubuhku yang dulu lagi sebelum aku ke sini…
Taiwan oh taiwan…
Selesai.
phuong le / Nghi Phượng / Không / lao động quốc tịch nước ngoài 32 tuổi NGHI Phượng đã phải ghánh lên mình cục nợ 300,000,000 triệu việt nam đồng,vì nợ lần Nghi Phượng chọn con đường sang Đài Loan làm việc.Với tấm bằng trung cấp kế toán,bằng tin học ,bằng B tiếng trung cộng với 9 năm … Continue reading “Nghi Phượng”
phuong le / Nghi Phượng / Không / lao động quốc tịch nước ngoài
32 tuổi NGHI Phượng đã phải ghánh lên mình cục nợ 300,000,000 triệu việt nam đồng,vì nợ lần Nghi Phượng chọn con đường sang Đài Loan làm việc.Với tấm bằng trung cấp kế toán,bằng tin học ,bằng B tiếng trung cộng với 9 năm kinh nghiệm làm quản lý ở Việt Nam,Nghi Phượng rất dễ dàng trúng tuyển đơn hàng “phiên dịch công xưởng kiêm quản lý ký túc xá”.Nợ lần chồng lên nợ lần nó lại phải vay thêm 100,000,000 triệu VND để sang Đài Loan làm việc .Ngày nó khăn gói lên đường cũng là ngày trời mưa tầm tã,phải chăng ông trời khóc thương cho số phận của nó.Nhìn cảnh hai con khóc đòi mẹ “mẹ ơi đừng đi làm xa nữachúng con cần mẹ lắm,hai con gái ôm chặt lấy nó không cho mẹ lên máy bay…”ai được chứng kiến cảnh này đều không cầm được nước mắt,hai đứa con còn quá nhỏ ,các con rất cần bàn tay người mẹ chăm sóc…Nó bước lên máy bay với tâm tư nặng trĩu
***
Công việc mới,chỗ ở mới ,bạn mới ,môi trường làm việc mới…đặc biệt hơn” lòng người “quá mới…Màn dạo đầu cũng làm cho nó run sợ,49 đôi mắt nhìn nó như muốn ăn tươi nốt sống ,nó được lằm trong tầm ngắm rất kỹ càng.Mọi người không hoan nghêng nó .Công việc của nó là sáng 7g30 điểm danh quân số nhắc nhở mọi người trước khi đi làm phải tắt điện ,quạt ,rút ổ cắm,khóa ga…8g đến công xưởng làm việc,nếu các bộ phận cần phiên dịch hay tuyên truyền nội dung gì thì quảng bô,sắp xếp lịch trực nhật nhà ăn ,dịch miệng dịch văn bản đều lằm trong bản công việc của nó,lao động đi khám bệnh…tối 22h điểm danh ký túc.
Sự phản kháng của đồng nghiệp làm cho nó phải chán nản,đồng nghiệp của nó sự đoàn kết quá cao,tinh thần vì đồng đội quá lớn …quyết tâm đấu tranh nghạt bỏ không cần quản lý quá lớn.Công việc thật là áp lực với nó cộng thêm nỗi nhớ nhà nhớ chồng con ,đã thế lại còn bị ốm 2 tháng ròng rã.Nhưng vì lòng kiên trì ,nhiệt tình nhiệt huyết nó đã chứng minh cho mọi người thấy.Không quản mưa gió ,đêm hôm ai ốm đau ai gặp khó khăn nó đều giúp đỡ,nó không sợ khổ ,sợ bẩn ,sợ vất vả trong công việc nó rất chăm chỉ chịu khó…lên bây giờ mọi người đã nhìn nó bằng ánh mắt khác xưa.
Nó rất sợ màn đêm kéo xuống nó lại nhớ 2 đứa con nhỏ dại ,con đã ăn cơm chưa?ăn được nhiều không?có khỏe không?…hàng trăm vạn nghìn câu hỏi đặt trong đầu của nó.Ôi nỗi nhớ đó nó như bóp chặt con tim nhỏ bé của Nghi Phượng .Nhiều lúc nó muốn bỏ dở hợp đồng để về bên các con.Mỗi lần gọi điện về cho con là đêm đó nó không sao chợp mắt được ,hai con của nó quá gầy thuộc trong tuýp suy dinh dưỡng nặng …”mẹ ơi con nhớ mẹ lắm,mẹ ơi bao giờ mẹ về,mẹ ơi ba đánh con…vv”
Cố lên Nghi Phượng ơi!
AnnaL / Có những nghĩ suy / 無 / sinh viên Vào một buổi chiều khi ánh dương dần tan đi trong mây khói, nó lặng lẽ thu dọn sách vở, khoác trên mình chiếc áo khoác lông vũ dày vội vàng trở về kí túc xá. Nó chẳng buồn ghé ngang một cửa hàng tiện lợi nào … Continue reading “Có những nghĩ suy”
AnnaL / Có những nghĩ suy / 無 / sinh viên
Vào một buổi chiều khi ánh dương dần tan đi trong mây khói, nó lặng lẽ thu dọn sách vở, khoác trên mình chiếc áo khoác lông vũ dày vội vàng trở về kí túc xá. Nó chẳng buồn ghé ngang một cửa hàng tiện lợi nào đó để mua một chút gì ăn tối, cũng chẳng buồn chào hỏi bạn cùng lớp, nó chỉ nhét tai nghe vào lỗ tai và bật một bản nhạc thật lớn để chìm đắm vào thế giới của riêng mình. Nó trống rỗng, cảm thấy như mình đang bay.
“Sài Gòn trời chợt nắng
Từng giọt nắng gọi mong
Sài Gòn trời chợt mưa
Từng giọt mưa gợi nhớ
Sài Gòn em và tôi
Đời vui theo nắng mưa
Sài Gòn em và tôi
Trong phút giây đợi chờ”
(Sài Gòn, em và tôi – Nhạc sĩ Nguyễn Ánh 9)
Nó nhớ nhà.
Đã hai năm kể từ khi nó rời xa quê hương, đặt chân đến nơi đất khách xa lạ để bắt đầu lại cuộc đời, cái nơi mà người ta vẫn gọi là “vùng đất hứa” – Đài Loan. Tục ngữ có câu “Nhập gia tùy tục, đáo giang tùy khúc”, hai năm qua nó đã phải trải qua biết bao khó khăn, tập làm quen với nhịp sống náo nhiệt nơi đây, phải đi học, đi làm bằng một ngôn ngữ hoàn toàn khác, phải tập sống tự lập, đôi khi phải làm quen với cả sự cô đơn. Ngôi trường mà nó đang theo học tọa lạc ngay tại thành phố Đài Bắc, một thành phố mà theo nó là thật xinh đẹp và hiện đại, nhịp sống lúc nào cũng thật ồn ào náo nhiệt, thật giống với Sài Gòn của nó. Tình yêu nó dành cho Đài Bắc cũng giống như tình yêu nó dành cho Sài Gòn vậy. Nó yêu Đài Bắc bằng cả trái tim và tâm hồn, nó yêu từng nẻo đường rộn rã, từng góc phố treo đầy bảng hiệu đầy sắc màu. Nó yêu cả cái thời tiết thất thường của thành phố. Nó yêu dãy cây xanh ngắt bên lề đường, bầu trời rộng với những áng mây trắng lững lờ trôi. Nó yêu những quán ăn từ cổ kính đến hiện đại. Nó yêu những con người thân thiện nơi đây, nó yêu những điều nhỏ nhặt nhất ở tại vùng đất này. Nó nhớ nhà, nó nhớ Sài Gòn nhưng nó cũng nghĩ rằng, nó có thể rất nhớ Đài Bắc rất nhiều nếu như bỗng một ngày nó rời đi.
Dường như nó đã đem một phần trái tim của mình giấu đi ở một nơi nào đó ở Đài Bắc rồi…
Về tới căn phòng nhỏ đến ngột ngạt, nó ngồi vào bàn của mình, bật một bản nhạc quen thuộc mà nó thích, pha một cốc cà phê nóng, vừa nhâm nhi vừa đọc sách. Chỉ nhiêu đó những điều giản đơn thế thôi cũng làm nó thấy thật yên bình và dễ chịu. Nó nghĩ về Đài Bắc, về nhà rồi nó bỗng nghĩ về những người xa xứ giống như nó đang sống ở chốn phồn hoa đô thị này, đặc biệt là những người phụ nữ Việt mang danh phận “làm dâu xứ người”. Nó chợt nhớ đến chị, một người phụ nữ Việt Nam nhỏ nhắn nhưng thật mạnh mẽ, lấy chồng Đài Loan và mở một quán ăn để mưu sinh hằng ngày ở một góc nhỏ nhắn trong phiên chợ ồn ào và náo nhiệt ngay gần trường đại học của nó. Chị không quen biết nó, nhưng nó thì lại biết chị vì nó vẫn hay thường ghé qua mua thức ăn, chị không biết nó và chị là người đồng hương, và nó cũng chỉ tình cờ nghe cuộc nói chuyện của chị với một người phụ nữ Việt Nam khác. Chị nói cuộc hôn nhân của mình không hề hạnh phúc, chồng chị không hề yêu thương chị, anh ta lấy chị đơn giản là vì môt lí do nào đó, vì gia đình chăng? Nhưng chị thật may mắn khi có một người mẹ chồng tình cảm, hiền lành và phúc hậu. Nó ấn tượng ở câu nói của bà mẹ qua lời kể của chị rằng “Thôi, không ở với nhau được thì thôi, nó không thương con thì còn có mẹ thương con. Mẹ nhận con làm con gái của mẹ, con không cần phải là con dâu của mẹ nữa”. Biết bao nhiêu bà mẹ chồng có con dâu là người phương xa thấu hiểu được nỗi lòng ấy? Nó nghĩ chị là một người phụ nữ may mắn, nhưng nào phải ai cũng may mắn như chị…
“Chiều chiều ra đứng ngõ sau.
Trông về quê mẹ ruột đau chín chiều”
Phận làm phụ nữ đã là khổ, nhưng khổ nhất có lẽ là phận làm dâu xứ người. Nó biết. Nó biết rằng những người phụ nữ Việt Nam lấy chồng Đài Loan đều có lí do riêng của họ, có người thì vì giúp đỡ gia đình nghèo khó, có người thì muốn thay đổi cuộc đời, có người may mắn thì gặp được người họ yêu đích thực. Nhưng lí do phổ biến nhất có lẽ là “đỡ đần nỗi lo toan tiền bạc cho gia đình”. Nghĩ đến đây, nó lại chợt nhớ đến một người, nó tình cờ biết đến chị qua một đoạn phim ngắn. Chị cũng lấy chồng Đài Loan và có một cô con gái xinh xắn đáng yêu. Gương mặt chị hiện rõ một gương mặt tảo tần và lam lũ vì cuộc sống, vì chồng vì con. Đã ba năm không về thăm nhà, chị khao khát được một lần trở về quê hương. Chị may mắn được một tổ chức xã hội dành cho kiều bào xa xứ giúp đỡ. Nó nhớ đến đoạn chị ôm chầm lấy cha mẹ của mình, vừa cười vừa khóc. Chị như vỡ òa. Rồi chị dẫn họ đi Vịnh Hạ Long. Nó vẫn còn nhớ rất rõ chị đã nói thế này: “Tôi mơ ước một lần được dẫn cha mẹ tôi đi Vịnh Hạ Long chơi. Bây giờ thì ước mơ đó đã thành hiện thực rồi, Tôi vui lắm”. Giây phút bịn rịn chia tay ở phi trường thật sự khiến cho nó có ấn tượng sâu sắc nhất, nó hiểu cảm giác ấy, cảm giác khi mà phải rời xa những người thân yêu để một mình chiến đấu với cuộc đời, cảm giác khi mà những người thân thương ấy đứng ở ngoài cánh cửa lớn nhìn ta bước vào trong phi trường rồi mất hút dần. Nó không biết được rằng phải còn bao nhiêu năm nữa gia đình chị mới được lại một lần nữa sum vầy. Mười năm? Hai mươi năm sau đó? Nó không biết. Nhưng nó cũng nghĩ chị là người may mắn, nào phải ai cũng may mắn được về thăm nhà như chị…
Cuộc đời mỗi người là một câu chuyện. Mỗi câu chuyện ấy có thể là vui vẻ hay bi thương đều chỉ có người trong cuộc mới hiểu. Đối với mỗi người và câu chuyện của họ, nó có thể cảm thấy khác nhau, có người nó sẽ cảm thấy vui thay, có người thì nó sẽ cảm thấy thương cảm. Vui thay cho những phận “làm dâu đất khách” may mắn được hạnh phúc và thương thay cho những số phận lam lũ sớm khuya không được hoặc chưa được cái may mắn được hạnh phúc đó.
Bởi dân gian có câu:
“Thân em như hạt mưa rào
Hạt sa xuống giếng, hạt vào vườn hoa”
Nó nghĩ, mang phận phụ nữ khổ thì khổ trăm bề nhưng trong cái khổ ấy lại mạnh mẽ đến phi thường. Nhất là phụ nữ Việt Nam.
Nghĩ đến đây, nó vừa cười vừa gật gù. Một cảm giác phấn khởi đang dâng trào lên, chợt nó mở chiếc máy tính vẫn còn nằm im lặng trên bàn như đang chờ đợi nó. Có lẽ nó nên viết một cái gì đó dành riêng cho những người phụ nữ mạnh mẽ và kiên cường ấy, dưới góc độ của một sinh viên ở hải ngoại. Dường như từng dòng chữ viết ra khiến cho nỗi nhớ nhà của nó như tuôn trào, nhưng nó sẽ không buồn phiền nữa. Nó muốn viết, viết cho những ai đang ở nơi đây những dòng xúc cảm chân thành nhất, để cho họ biết rằng còn biết bao nhiêu người cũng đang hướng về quê hương. Vì suy cho cùng, tất cả đều là người Việt Nam.
Viết bởi AnnaL
Phạm Diễm / Trò chơi cuộc đời / Không / phối ngẫu quốc tịch nước ngoài 22 tuổi… Cầm trên tay tấm bằng cao đẳng chuyên nghành quản trị vane phòng,nó cứ nghĩ cuộc đời nó rồi đây sẽ mở ra một trang mới,nó sẽ có thẻ tìm cho mình một việc làm ổn định,phần lo cho gia … Continue reading “Trò chơi cuộc đời”
Phạm Diễm / Trò chơi cuộc đời / Không / phối ngẫu quốc tịch nước ngoài
22 tuổi…
Cầm trên tay tấm bằng cao đẳng chuyên nghành quản trị vane phòng,nó cứ nghĩ cuộc đời nó rồi đây sẽ mở ra một trang mới,nó sẽ có thẻ tìm cho mình một việc làm ổn định,phần lo cho gia đình,phần lo cho tương lai của nó..
Một đứa con gái mới lớn với tâm hồn mơ mộng,nó đắm mình trong những giấc mơ màu hồng,nào sự nghiệp,công danh,nào giàu sang phú quí…thế nhưng cuộc sống không dể dàng như vậy,trong cái xã hội mà tất cả đều được mua bằng tiền,và công việc gì cũng có cái giá của nó ,thì gia cảnh nghèo khó như gia đình nó làm sao có thể mua nỗi cho nó một việc làm phù họp với cái bằng cấp nó vốn có.
3 năm cao đẳng ,ra trường ,để giờ đây nó nhận ra xã hội hiện tại bằng cấp chỉ là tượng trưng ,không tiền thì chẳng thể làm gì được,nó thất vọng cho tương lai của chính mình và nó thấy buồn cho xã hội hiện tại.Nó lại quay về lủi thủi bên mẹ cha,bên cuộc sống nghèo khó của một tỉnh miền tây ,quanh năm hai mùa mưa nắng,nó lại phải hằng ngày ngắm nhìn đôi bàn tay cha chai sạm vì năm tháng vất vả ,rồi đôi mắt thâm quầng của mẹ sao bao đêm thức trắng để mai đồ cho khách,rồi vết nứt nẻ,vết thương trằng trịt lên nhau nới bàn chân ba,ôi sao mà tim nó đau đến thế..Phải chăng tất cả những đều đó như muốn minh chứng cho những năm tháng bôn ba cha mẹ đã hi sinh để chị em nó có ngày khôn lớn,nó thấy thất vọng vì bản thân nó vô cùng,nó tự nhủ trong lòng,phải cố gắn nhiều hơn nữa.
Rồi tháng 4 năm ấy,caí năm nó tròn 22 tuổi ,nó khăn gối theo người bà con lên thành phố tìm việc làm với hi vọng đỡ đần phần nào cho cha mẹ bớt cơ hàng,phải khó khăn lắm nó mới sinh được vào làm nhân công cho một công tì sản xuất giày thể thao,nhưng đồng lương hơn 3 triệu mỗi tháng,phải chi tiêu tiết kiệm lắm nó mới có dư chút ít gửi về nhà… ngày lại ngày qua,mọi thứ nơi đô thị càng thay đổi,vật giá tăng cao,nhưng tiền lương vẫn không tăng lên nữa,nó bắt đầu hụt hẫng với áp lực chi tiêu làm sao để có thể đủ tiền gủi về quê cho em gái ăn học,rồi thiếu thốn kéo đên,sống gío nơi đô thành như thử thách đứa con gái mới lớn như nó,nó không thể tiếp tục công việc,khi tiền lương mỗi tháng chỉ đù võn vẹn cho một mình nó chi tiêu mọi thứ,trong chò trơi lần này,nó thua rồi…
Nó…lại quay trở về quê ,tìm về bên vòng tay mẹ.
23 tuổi…
Nó mai mắn tìm được cho mình một công việc có phần ổn định,nó được tuyển làm nhân viên bán hàng cho một công ti điện thoại,với đồng lương khấm khá hơn nữa,nó bắt đầu phụ cha lo cho kinh tế gia đình,buổi cơm chiều nhà nó như sung túc hơn nữa,các em nó vì thế mà cũng có thêm quần áo mơi,nhưng cũng chỉ dừng lại ở đó,cái nghèo vẫn bám lấy gia đình nó như một người bạn vô cùng thân thiết…
Rồi…một ngày thu trời xanh,mây trắng cao vời vợi cảm giác bình yên bao lấy nó,nhưng tất cả vụt tắt trong tích tắt khi công ti thông báo cần mở một lớp tập huấn nâng cao tay nghề chuyên môn,mỗi người phải đống 10 triệu coi như tiền học phí… ôi thôi,với gia đình nó,10 triệu giờ đây là con số vô cùng xa xỉ,nó đã suy nghĩ nhiều và rồi nó đành thôi việc vì không đủ điều kiện đáp ứng yêu cầu của công ti,nó biết ba nó buồn mẹ nó cũng chẳng vui,nó lại lần nữa thấy mình vô dụng,trò chơi lần này nó lại tiếp tục thua….
Với nó,mỗi ngày trong cuộc sống cũng như chơi trò chơi vậy,mà đã là trò chơi thì phải có kẻ thắng người thua,nếu muốn mình chiến thắng thì phải biết cố gắn vươn lên,trong trò chơi cuộc đời nếu không muốn bị nhấn chìm thì cần biết cách bơi giỏi,không muốn bị đẩy lùi phải biết bước về phía trước và cái nó đang làm là tiếp tục bước đến,nó nhủ lòng …nhất định phải thoát nghèo,phải để tuổi già của ba mẹ nó không còn vất vả .ba mẹ nó cực khổ đã quá đủ rồi.
24 tuổi….
Nó đã thấm thía đủ rồi sự vất vả của mẹ cha,nhìn đôi vai gầy nheo cùng năm tháng,chiếc áo bạc màu cùng với thời gian,rồi đôi mắt buồn mòn mõi nhìn xa xâm tóc cha cũng thêm sợ bạc,lần đầu tiên trong đời nó thấy cha nó đã già,ôi sao mà thương quá mẹ cha ơi.
24 tuổi…nó thấy mình thật sự đã trưởng thành,lần này nó sẽ chơi một trò chơi lớn,trò chơi mà nó đã suy nghĩ bao đêm,trò chơi mang tên “SỐ PHẬN”,nó sẽ đánh cược với cuộc đời này ….đánh cược bằng cả hạnh phúc của đời mình..
Nó..lấy chồng nước ngoài.
Ngày mẹ cha nó hay tin nó muốn đi về miền đất hứa,cha mẹ đã không đồng ý,cha nó buồn không nói gì,còn mẹ thì chỉ muốn nó đừng đi ,con gái lấy chồng xa ,nhớ cửa nhớ nhà khó lắm về thăm,nó biết là như vậy nhưng nó quýêt định rồi nó phải đi.cha già mỗi ngày một yếu,còn mẹ nó cũng không còn khoẻ mạnh như xưa,hai con người đã chảy qua bao thăng trầm cực khổ của cuộc sống ,hơn nữa đời người gian lao,giờ đây đến lúc con gái phải làm gì đó cho cha mẹ rồi.
Cũng 24 tuổi,nhờ người chị bà con mai mối nó gặp anh,người đàn ông hơn nó gần 20 tuổi,tính tình anh hiền lành,luôn nồng nhiệt với mọi người,thật thà và biết quan tâm,hai con người xa lạ gặp nhau,không cùng ngôn ngữ,không cùng phong tục tập quán ,không cùng văn hóa vậy mà tạo hóa khiến xui cho gặp nhau phải chăng là duyên nợ? Nó không nghĩ mình sẽ yêu anh cho đến cái ngày anh trao nó chiếc nhẫn cưới trong lễ thành hôn nó bỗng thấy tim mình xao xuyến,nó không còn nghĩ anh là chiếc phao của cuộc đời nó,nó dẹp cái suy nghĩ đây chỉ là một cuộc mua bán hôn nhân,mà thay vào đó nó lại mơ về một ngôi nhà hạnh phúc,một bờ vai đủ vững chắc để nó dựa vào và nó thấy mình tin anh .nó linh cảm được rằng trò chơi lần này nó đã đúng.
Sau những tháng ngày chờ đợi ,cuối cùng nó cũng được theo anh về chung một nhà,về nơi mà mọi người vẫn còn bao hứa hẹn,ngày nó đi mẹ cha tiễn nó ra phi trường,không một giọt nước mắt,cũng không một nụ cười,tất cả lạnh tênh,phải chăng tận cùng của niềm đau là im lặng,những cái ôm vội vàng nhưng đủ mạnh để nó cảm thấy được rằng ba mẹ như muốn nếu nó lại và bảo nó đừng đi,đứa em thơ dạy chưa ý thức được rằng lần này chị phải đi xa và chắc lâu lắm mới được quay về,nó vẫn vô tư dặn dò chị khi nào về nhớ mua quà bánh cho nó,như những lần chị đi làm về …. nó nghe đâu đó trong tim mình quặng thắt…
Giờ bay đã đến…từ biệt cha mẹ con đi,những con người nhìn nhau đôi mắt buồn rười rượi.
25 tuổi…nó vẫn còn ngỡ ngàng với cuộc sống nơi này,với nó một ngày ở đây dài như một tháng,nhớ cửa nhớ nha,nhớ cha nhớ mẹ,nhớ tất cả thuộc về quê hương,nơi đất khách quê người nó thấy mình như chú chim non lạc mẹ,lơ lững giửa dong đời,ngôn ngửa nơi đây ôi xa lạ quá,con người nhìn nhau sau hờ hững vô cùng,phút chóc nó muốn mình bé lại,để về bên mẹ như xưa,về mà nằm trong vòng tay ấm,áp đầu vào lòng mẹ để thấy bình yên…Nó nhớ.
Đài Loan,nơi người ta vẫn ngày ngày kéo đên,với hy vọng đổi đời và tìm thấy tình yêu,nhưng đâu phải ai cũng đều mai mắn có được tất cả những mơ ước,có những con người bỏ lại quê nhà bao ước mơ còn dang dỡ để tìm đến nơi này,rồi lại thất vọng quay về.Nhưng mai mắn thay cho nó,nó đã tim được cho mìn một người đàng ông đích thực,người đàn ông luôn sẵng sàng giúp đở ,sang sẽ mọi gánh nặng với nó trong cuộc sống gia đình,luôn bao dung nó,dạy nó từ chữ,từng từ trong giao tiếp…. rồi thời gian trôi qua,mọi thứ dần trở nên ổn định,nó bắt đầu quen với cuộc sống nơi đây,mọi người giúp đở nó,chỉ dạy nó từ những đêu nó nhặt ….rồi nó được tham lớp học dành cho tân di dân,ngôn ngữ có phần cải thiện ,nó bắt đầu biết giao tiếp với mọi người và đó là Lúc nó nhận ra,tình người nơi đây cũng đầm ấm và nông nhiệt như ở quê nhà…. không cần phân biệt Bạn và Tôi…dù bạn là ai,ở nơi nào đến thì Đài Loan vẫn dang tay đón bạn ,đều đó nó đã học được trong cuộc sống hằng ngày nơi quê hương thứ hai này.
Nhìn những tấm ảnh mẹ gửi qua điện thoại,nhìn ba đang thông thả uống trà,nhìn các em vui đùa trên sân cỏ,nhìn cảnh nhà được xây mới khang trang,nó thấy lòng bình yên đến lạ,trong sâu thẩm thâm tâm nó thầm cám ơn anh,người đàn ông mà ngày trước nó đã nghĩ chỉ có thể đánh cược cuộc đời nó cho trò chơi hôn nhân,nhưng giờ đây nó không chơi nữa,trò chơi này nó đã thắng rồi,nó đã có anh,có được người mang cho mình hạnh phúc,trò chơi đã kết thúc và nó tự tin giao phó cuộc đời nó cho anh…
26 tuổi… nó đã làm mẹ…và đến hôm nay nó vẫn tin trong trò chơi cuộc đời 2 năm về trước nó đã không chọn sai….
Nó thấy lòng mang mác ,nhẹ nhàng đến bình yên ,ôm đứa con bé bỗng trong lòng nó chợt nghe đâu đó hai tiếng GỌI VỀ của quê hương…
Đài Loan ấm áp tình người.
Cũng như thuở bé,mẹ cười với con.
Đi xa con gái mõi mòn.
Trong ngày nắng đẹp ,con về thăm quê .
Câu thơ đôi chửi gửi về.
Mong cha,mong mẹ muôn bề bình an.
Công ơn cha mẹ nặng mang .
Con xin ghi khắc,đá vàng không phai.
Lời ru mẹ hát bên tai..
Ầu ơ điệu lý con say giấc nồng.
Xa quê,con nhớ ,con mong…
Ngày mai hạnh phúc,lưu vong con về…!
Ade Junita / Cerita-cerita Yang Menelan Ayah dan Ibu / Tari Sasha / tenaga kerja asing Minggu kemarin dia bilang ingin membicarakan sesuatu mengenai Ibu. Entah apa yang sebenarnya dia inginkan. Seingatku sudah sekian tahun –aku malas untuk menghitungnya berapa- dia menjauhkan diri dari Ibu dan kami. Menjauhkan diri dengan bekerja ke luar negeri menjadi apalagi kalau bukan … Continue reading “Cerita-cerita Yang Menelan Ayah dan Ibu”
Ade Junita / Cerita-cerita Yang Menelan Ayah dan Ibu / Tari Sasha / tenaga kerja asing
Minggu kemarin dia bilang ingin membicarakan sesuatu mengenai Ibu. Entah apa yang sebenarnya dia inginkan. Seingatku sudah sekian tahun –aku malas untuk menghitungnya berapa- dia menjauhkan diri dari Ibu dan kami. Menjauhkan diri dengan bekerja ke luar negeri menjadi apalagi kalau bukan PRT. Aku tahu bukan itu alasan sebenarnya. Begitupun pada Ibu, aku yakin Ibu juga tahu kepergian dia ke luar negeri sebenarnya hanyalah alasan untuk bisa menjauhkan diri dari Ibu dan kami. Tapi aku tidak ingin tahu separah apa Ibu menahan perasaan tertekannya pada salah satu anak kandungnya yang berubah.
Hari ini hari kerja sehingga kedai makan yang dipilih untuk pertemuan kami cukup hening. Aku sendiri memang meminta ijin libur di hari biasa. Baru delapan bulan aku bekerja di Taiwan. Bukan maksudku hendak mengikuti jejaknya. Aku pun tidak memilih menjadi PRT seperti apa yang dia putuskan untuk ke 2 kalinya ke sini. Meskipun aku perempuan, aku memilih bekerja sebagai buruh pabrik di Taiwan, kendati prosesnya memang lama tapi toh aku bisa juga.
Kupilih sebuah meja dengan empat bangku agak ke dalam. Di bagian depan masih agak bising dengan suara kendaraan dan penjaga kedai warung Indonesia yang suka bicara dengan lantang saat memberitahukan menu masakan yang dipesan pada koki di dapur.
Dua lagu kuputar melalui earphone sembari menunggu. Secangkir lemon tea melepaskan panasnya dengan menguap. Kuteguk sedikit untuk menghangatkan tubuh. Dan sesaat setelahnya dia datang dengan senyum khasnya yang ringan. Senyum yang lepas begitu saja namun tanpa makna yang dalam.
Dia menyapa kemudian mengambil duduk di bangku yang berhadapan denganku. Menaruh tas mungilnya lalu berdiri kembali dan berjalan ke depan untuk memesan minuman dan cemilan. Dia tidak suka makan di luar, itu yang aku tahu. Hal yang juga tidak kusuka karena selalu mengingat pesan Ibu untuk jaga kesehatan.
“Kau tahu kan saat ibu dan ayah menikah, sebelumnya status mereka bukanlah janda dan duda?” tanyanya setelah berbasa-basi menanyakan kabar dan pekerjaanku sekarang.
Aku tahu itu tapi kubiarkan dia menganggapku tidak mengetahuinya. Dia diam sebentar. Nampak menimbang-nimbang sesuatu entah apa. Sekilas dia lirik jam tangan yang melingkar manis di tangan kirinya.
“Aku masih punya waktu lama kok,” kataku mengagetkannya.
“Aku tidak tahu ini baik untuk kamu atau tidak. Aku sendiri sangat shock ketika mengetahuinya.”
Dari siapa? Sayangnya pertanyaan itu hanya keluar dalam benakku. Aku ingin dia yang mengatakannya sendiri bukan karena aku.
Pesanannya datang. Ini sedikit mengganggu. Kenyamanan seseorang selalu akan terganggu ketika ada momen kecil yang tiba-tiba menyela. Tapi aku lihat tidak. Cepat dia membuka kunci hape dan mengubah modus hape dari umum menjadi diam. Jelas, dia tidak ingin ada hal lain yang mencoba mengganggunya lagi.
“Ibu memang wanita yang paling baik. Setidaknya selama ini seperti itulah peran yang ibu mainkan di depan mata kita. Ibu selalu sabar menghadapi kenakalanku waktu kecil. Aku banting radio, piring bahkan pernah memecahkan kaca lemari. Tapi ibu tidak marah. Dia biarkan aku melampiaskan marahku pada benda apapun di rumah.”
Barangkali dia selalu mengingat semua kebaikan Ibu dan tidak pernah mencoba untuk melupakannya. Aku juga ingat kendati dia anak nakal namun ibu sangat menyayanginya. Di sisi lain memang dia anak paling nakal saat dia marah, namun dia juga anak paling penurut pada ibu dan ayah. Dia adalah pribadi yang total dalam mencintai dan membenci sesuatu.
“Ibu selalu membereskan pecahan-pecahan kaca lemari dan piring akibat ulahku sebelum ayah pulang. Sehingga ayah tidak pernah tahu ulahku. Ibu selalu menyembunyikan kenakalanku di depan ayah.”
“Kita di sini bukan untuk membicarakan itu kan?” tukasku. Kuambil cangkir lemon tea di depanku dan kuteguk beberapa kali. Sisa sedikit. Aku ingin memesan lagi tapi urung.
“Aku tidak tega jika bilang ibu adalah wanita yang merebut ayah dari wanita lain. Tapi kenyataannya begitu. Ibu perusak rumah tangga orang lain. Kau mungkin baru mendengarnya dan tidak percaya.”
Aku tahu itu. Aku tahu, bahkan mungkin lama sebelum dia tahu. Aku tahu sejak umurku 8 tahun. Saat itu aku tidak mengerti kenapa Bira mengatakan kalau ibu pernah menyiksanya bahkan mencambuknya hingga luka-luka. Aku hanya mengangguk saat Bira menceritakan itu. Sedangkan ibu mengatakan kalau Bira adalah saudara jauhku, meski sampai aku berumur 13 tahun aku masih tidak tahu Bira saudara dari Ibu atau ayah. Nyatanya sampai dua tahun kemudian aku baru menyimpulkan kalau Bira adalah anak ayah dengan bekas istrinya. Bira memang saudaraku, hanya beda Ibu. Bira menjadi anak tiri dari ayahnya sekarang karena Ibu.
Dia diam sejenak dan melihatku dengan seksama. Aku sendiri tidak tahu harus berbuat apa di depannya. Apa yang dia katakan sebenarnya aku tahu tapi dia belum tahu itu. Sebisa mungkin aku pasang muka seperti orang yang penasaran dengan apa yang akan dia katakan selanjutnya.
“Kamu sudah tahu hal itu, Dian?” tanyanya melihat lagatku yang biasa saja.
“Tidak. Aku hanya belum mengerti kenapa kau sampai bisa beranggapan seperti itu,” kilahku kemudian.
Dia hanya diam. Masih menimbang-nimbang apa yang harus dia jelaskan selanjutnya.
“Aku baru tahu itu sewaktu pertama kali pulang dari Taiwan.”
“Siapa yang memberitahumu?” tanyaku kemudian. Aku tidak sabar ingin tahu siapa yang memulai petaka ini.
Masih sangat lekat di pikiranku saat dia menangis tidak jelas sepulang dari Taiwan pertama kali. Ayah sangat khawatir dengannya. Terlebih Ibu. Tapi tidak lama kemudian dia memutuskan pergi lagi ke Taiwan. Negara di mana aku juga akhirnya memutuskan bekerja di sini demi memperbaiki keadaan ekonomi keluarga.
“Yu Tuti. Dia yang menceritakan kalau Ibu adalah wanita perusak rumah tangga orang lain.”
Yu Tuti? Bisa ditebak kenapa dia menceritakan aib Ibu padanya. Yu Tuti juga yang dulu menanamkan bibit kebencian pada Ibu di benak Bira, anaknya sendiri. Sudah jelas apa yang menjadi motif dari semua ini. Yu Tuti membenci Ibu karena merebut ayah dari pelukannya. Ibu memang salah. Setidaknya itulah angapan mereka. Dan aku sampai sekarang, sampai saat aku tahu siapa yang membuat kakak berubah, masih belum tahu apakah Yu Tuti juga bisa dibilang bersalah.
Terlepas dari siapa yang salah, aku sangat tidak terima jika Ibu dikatakan sebagai perusak rumah tangga. Karena kata perusak berarti orang yang suka merusak. Dan aku sangat tahu kalau Ibu tidak seperti itu.
“Kau sama seperti Bira,” kataku membuatnya tersentak.
“Apa maksudmu?”
“Dulu Bira bercerita padaku kalau Ibu pernah menyiksanya sewaktu dia kecil. Mencambuknya…, memukulinya…. Awalnya aku memang percaya karena waktu itu rumah kita dengan rumah mereka hampir sebelahan. Tapi kemudian aku tahu kalau itu semua cuma omong kosong yang dibiuskan oleh Yu Tuti agar bira membenci Ibu. Bira tak mengalami luka apa-apa di tubuhnya. Aku tak pernah menemukan bekas cambukan atau pukulan kasar.”
“Hehh…, mungkin itu memang hanya omong kosong. Tapi wanita yang menjadi penyebab rumah tangga orang lain hancur bukankah wanita itu sama saja dengan wanita murahan?”
“Jangan pernah mengatakan kalau Ibu seperti itu?” ancamku. Jelas aku tidak terima dia mengatakan itu.
“Lalu kamu mau apa kalau memang seperti itu yang terjadi? Kita lahir dari rahim wanita murahan yang merusak rumah tangga orang lain,” katanya sembari tertawa. Entah tawa yang kulihat darinya ini sebagai tawa kepuasan atau kesedihan.
“Bukan ibu yang merebut ayah dari Yu Tuti,” kataku.
Dia diam seketika. Matanya melotot. Aku balas menatapnya dengan tajam. Aku tahu dan sadar kalau aku sangat tidak pantas bersikap seperti ini pada kakakku sendiri. Tapi dia sendiri yang memutuskan untuk tidak lagi menjadi kakakku semenjak cerita itu mengubah hidupnya.
“Maksudmu ayah yang menggoda ibu padahal dia masih menjadi suami Yu Tuti?”
“Memang seperti itu kenyataannya,” kataku dingin.
Aku tidak tahu harus menjelaskannya seperti apa lagi.
Dia diam dan menunduk. Kelu. Mencoba memercayai omonganku dengan logikanya.
“Dan sepertinya kau juga harus tahu kalau saat itu ibu masih menjadi istri lelaki lain. Ayah merebut istri orang lain padahal dia sendiri punya istri.”
Dia tersentak dan menatapku begitu lekat. Napasnya seketika tidak teratur. Ada amarah yang muncul seketika.
Aku tahu ini akan sangat mengguncang batinnya. Tapi mau bagaimana lagi? Aku harus memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi karena ini adalah pesan ayah padaku untuk terakhir kali dalam hidupnya. Ayah tidak ingin kakak membenci ibu sebagaimana Yu Tuti yang tidak ingin Bira membenci ayah kendati dia tahu ayah yang meninggalkannya begitu saja.
“Kita memiliki saudara ipar baik dari ayah ataupun dari ibu. Bira dan Danu.”
“Danu? Kau bilang Danu adalah saudara ipar?”
“Iya. Saudara ipar dari ibu. Lelaki yang saat ini kau bilang ingin menikah dengannya.”
“Apa? Kenapa… kenapa aku baru tahu sekarang?”
“Bukankah sudah jelas, karena selama ini ayah dan ibu merahasiakannya dari kita.”
Dia geram. Rahangnya mengeras. Namun dengan tiba-tiba dia lemas. Dan dadanya bergetar. Dia terisak.
Kudekatkan kotak tisu di hadapannya. Aku tahu dia sangat terguncang dengan ceritaku ini. Dua kenyataan menohok ulu hatinya sekaligus.
Guanyin, 130416
21:57