Purnama Sebelas Kandas

Ze Cayank Heaven / Purnama Sebelas Kandas / Tari Shasa / Indonesia / tenaga kerja asing Purnama Sebelas Kandas Karya : Ze Cayank Heaven “Cinta itu indah, yang menyakitkan ketika kita kehilangan seseorang yang kita cintai. Cinta sejati itu bagaikan langit dan bumi walau terpisah jarak beribu mil nanum tetap saling membutuhkan. Tak akan terpisah ruang dan waktu, karena … Continue reading “Purnama Sebelas Kandas”

Ze Cayank Heaven / Purnama Sebelas Kandas / Tari Shasa / Indonesia / tenaga kerja asing

Purnama Sebelas Kandas

Karya : Ze Cayank Heaven

“Cinta itu indah, yang menyakitkan ketika kita kehilangan seseorang yang kita cintai. Cinta sejati itu bagaikan langit dan bumi walau terpisah jarak beribu mil nanum tetap saling membutuhkan. Tak akan terpisah ruang dan waktu, karena kesungguhan rasa terpadu di antara keduanya.”
Terkadang kita harus belajar dari derasnya hujan, agar tahu betapa kejamnya hidup dalam kenyataan. Ada kalanya tiap rintik yang ia jatuhkan adalah sebuah pilar yang harus kita nikmati. Kemana tetes air itu jatuh dan mengalir, ke arah itu pula perjalanan hidup terus berjalan. Ia tak kan pernah menyalahkan langit ke mana ia akan di jatuhkan.
Belajar dari arti hidup. Aku bukan wanita pecundang namun bukan pula wanita yang tak punya logika. Ketika sendi-sendi tubuh mulai mengeram dan menjadikanku harimau yang sekaan sebagai pemenang. Inilah aku wanita yang mempunyai cinta pada engkau sosok pangeran yang selalu kupuja. Dalam setiap hembus doa kulafadkan nama untuk penenang jiwaku. Jika aku mampu menjadikannya utuh. Berarti Tuhan Maha pendegar segala doa. Namun, mustahil bagiku karena diriku ada karena Dia.

Tahun 2013 september lalu, di bawah rambu-rambu berdiri sosok lelaki yang tak pernah ku temui secara nyata sebelumnya. Tampan, gagah dan cool ibarat sang Arjuna. Ketika mendekatiku, degup jantung seakan menguat dua kali lipat. Bias sinar matanya yang mempesona, aduhai membuat pandangan tak lepas darinya. Motor RX- King yang iya tunggangi menambah kegagahan pada dirinya. Begitu mempesona dan tak jemu aku memandangnya.
“Hai, Ze? Sapanya dari kejauhan.
“Iya, Mas Anas. Timpalku.
“Iya, wajahmu tak berubah dan masih tetap seperti Ze yang dulu kukenal, sekarang makin cantik aja,” ucapnya manis merayu.
Rayuan maut itu seakan menutup logika, entah apa yang membuat aku melayang tinggi bagai rembulan di antara bintang-bintang. Aku tersanjung–
“Ahhh … Mas, kamu juga tetap sama seperti pertama aku mengenalmu.” Kataku sambil menunduk.
Semakin dekat semakin tak ada jarak aku dan dia berdampingan. Duduk di kursi tempat mangkal para polisi. Ya, di sana kami memulai cerita.
Anas, lelaki 29 tahun yang status berpacaran dua tahun bersamaku. Lengkang dan hambar tertelan sang waktu. Keadaan yang memaksa kita untuk tidak bersatu. Aku menyadari itu___. Dia adalah pangeran impianku waktu dulu. Orang yang selalu mengerti, menyayangi bahkan bersamanya aku merasa tenang dan bahagia.

Kebahagiaan itu tak berlangsung lama, kita logika menyadarkanku. Pada Naurin, gadis imut dan cantik yang terlintas dalam setiap kedip mataku. Dia putri kesayanganku dari pernikahan dini. Naurin membuyarkan lamunan yang telah menyeka otaku beberapa saat. Tentang sosok Anas, yang mengatakan aku adalah cinta pertamanya.
Pagi itu seakan buta, seberkas cahaya penerang tak lagi bersinar. Karena tertutup selimut cinta yang mengajarkan aku tentang apa arti bahagia sesungguhnya. Pertemuanku dengan Anas di sebuah villa di puncak Tawangmangu. Bersama silir angin sepoi membaur menjadikan aku dan dia menjadi kami. Kami terjerat dalam indahnya mahligai yang berdarah. Anas lelaki yang tampan gagah juga orang kaya. Dia menelanjangiku dalam pagi buta, menjadikanku permaisuri dalam hatinya. Aku bahagia–.
“Ai, apa janjinya untuk hubungan kita ini?” bisiknya lirih mendesah ditelingaku.
“Emm, mengapa Mas bertanya begitu padaku?” Jawabku pelan.
“Aku bertanya karena aku tak ingin kamu di miliki laki-laki lain selainku.” Ucapnya nada memelas.
Memelukku erat dan hangat. Makin terasa bahwa cintanya begitu besar padaku. Aku tersanjung. Melayang pikiran dan anganku hingga tak ku sadari dia sudah termiliki. Ya wanita itu, Suli.
Perpisahan dua tahun lamanya membuat dia berpaling dariku karena paksaan orantuanya. Ketika berusia dua puluh lima tahun. Ayahnya memaksanya untuk menikah. Entah! Sedangbrasa itu masih utuh dan bersemi. Laksana pohon yang subur kian hari makin rindang. Begitulah cinta itu bersemi.
“Aku mencintaimu ada dan tiada dirimu sayang, jika memang waktu tak memihak kita, biarkan surga kelak menanti untuk kita bersama.” Jawabku tegas karena aku begitu yakin padanya.
“Oh, My honey,” ciuman melayang di keningku.
******
Waktupun berlalu, perjalanan kesahku dengannya seakan tiada rasa sedih. Selain dia begitu baik pun bertanggung jawab atas aku dan buah hatiku. Walaupun bukan darah dagingnya. Anas sudah menjalin pernikahan selama lima tahun, namun tak kunjung Tuhan berikan momongan kepada pasangan itu.
Hatinya selalu sedih ketika orangtua dan kerabat serta sanak keluarganya menanyakan hal itu padanya. Namun sebagai sosok lelaki yang kuat ia tak pernah menunjukkan kelemahannya pada orang lain. Tetap terseny ramah dan tak pernah marah walaupun banyak orang menertawakannya.
“Cemen bro, nikah sekian tahun belum sukses juga?” Cela temannya.
“Emang belum dikasih sama Tuhan, apa aku harus marah? cetus Anas.

Pertemuanku dengannya kerap dijadikan ajang curhat. Karena bagi Anas aku adalah wanita yang sangat mengerti keadaan dia. Bahkann tak ada seka rahasia di antara kami. Selalu canda tawa menhiasi dan tak lupa di sela-sela candaan dia mengajariku tentang agama islam.
Terhenyak aku ketika—-
“Ai, maukah kamu kelak menjadi ibu dari anak-anaku? Aku ingin mempunyai keturunan dari rahimmu.” Pintanya sambil bersimpuh di depanku.
Aku terdiam. Tak kuasa seakan jendela mataku berlinang. Peluh bahagia sedih trrasa campur jadi satu. Bagaimana aku menjalani semua ini? Dia milik wanita lain, tetapi ingin hidup bersamaku. Salahkah aku? Kecamuk jiwa kian membuncah. Tatkala masalah datang bertubi-tubi menghampiriku.
“Ai jawab pertanyaanku, Sayang? ucapnya sembari genggam tanganku.
“Iya, Mas Insya Allah. Bagaimanapun rencana kita tetap Allah yang akan menentukannya nanti.” Jawabku.
Apa yang dia pikirkan hingga terucap kata-kata itu, apakah istrinya tidak bisa hamil, atau dia sedang mengujiku. Tuhan ujian apa lagi yang kau berikan kepadaku. Jangan kau biarkan aku terlarut dalam cinta terlarang ini. Namun Tuhan, jika memang cinta ini terlarang kenapa kau ciptakan rasa ini begitu megah di sukmaku. Apa rencana-Mu kelak untuk hamba yang tiada berdaya.

Satu tahun kemudian ….
Aku memutuskan untuk pergi merantau ke bumi Formosa. Keberangkatanku bukan aku menolak untuk mengandung anak darinya. Namun masih terlalu banyak problematika yang aku rencanakan. Membahagiakan putriku, Naurin. Ia butuh masa depan. Butuh biaya hidup. Sedang aku hanyalah wanita pengganguran. Karena rasa sayang dan wujud cintaku pada Anas, kutinggalkan sejenak barang kali tiga tahun untuk aku mencari modal dan berpikir kedepannya nanti.
Enam belas bulan aku mengadu nasib di Taiwan, aku bantu carikan ramuan tradisional china dari seorang tabib. Berharap agar istri dari Anas bisa hamil dan aku akan pergi. Aku iklhas dan bahagia melihat orang yang aku cintai juga bahagia bersama keluarganya. Selang beberapa bulan Suli meminum ramuan itu, pun lantaran jamu tradisional cina istri Anas pun hamil.
Telepon genggamku berdering ….

I can be tough, I can be strong
(Aku bisa tegar, aku bisa kuat )
But with you, it’s not like that at all
(Namun bersamamu, aku berubah )
There’s a girl that gives a shit
(Seorang gadis memperhatikan )
Behind this wall you just walk through it
(Di balik tembok yang baru saja kau lewati)
Segera kuangkat telepon,
“Ai, Mbak suli hamil. Terima kasih sayang. Mmmuachhh i love you.” Ucapnya.
Kebiasaan yang tak pernah lupa ucapan i love you ketika kebahagiaan terjadi di antara kami
Apa pun itu!
“Alhamdulilah Ya Allah, engkau kabulkan doa kami. Selamat ya Ai, I love you too.” Sahutku gembira.
Buah dari sebuah kesabaran pasti kemenangan. Entah bagaimana Tuhan berikan jalan untuk hambanya untuk hambanya yang selalu bersabar. Dan menerima ketentuan dari-Nya. Seakaan lengkap sudah buah dari penantianp yang panjang.
Aku—
Aku akan pergi dari hidupmu. Karena aku tahu semua ini hanya semu. Biarkanlah kuteruskan langkah arungi realita ini. Doaku untukmu, Ai. Bersama tulisan ini dan seluruh jiwa raga ini aku tersadar. Kulepas Kau–
Bahwasanya hidup berbahagia, bersedih, terluka dan kecewa hanyalah sementara. Rasa iklas dan ridha akan ketetapan Tuhan menjadikan pribadi yang tegar dan kuat. Karena hanya titipan dan esok kan kembali pada-NYa.
Sepenggal kata untukmu Anasku.
Purnama Sebelas
Purnama sebelas singkap sebuah rasa
Mencibir kecut pada danastri yang terluka
Luka teramat getir, memudar
Trauma; di balik senja

Aku tertatih dalam kenaifan
Angkara yang membendung begitu tajam
Membuncah dusta tinggalkan rasa
Yang kian mendera, putus asa

Pada jendela langit kukabarkan
Onak jiwa mengembara sepi
Terkebiri atma tertusuk duri
Tersayat perih dalam relung jiwa

Mendung jendela mata kian memuncak
Menjadikan gumpalan, terhenyak
Memecah keheningan dalam lautan sepi
Rintiknya bahasi pipi

Andaikan gelas kaca itu masih
Sedikit harapku menantikan hadirmu
Lewat cermin hati terlukis naluri
Aku, kau atau dia yang terisolasi.

Taiwan, 22 Maret 2015

Bahagia Kan Hadir Pada Masanya

Moede Dian / Bahagia Kan Hadir Pada Masanya / Ze Cayank Heaven / Indonesia / tenaga kerja asing BAHAGIA KAN HADIR PADA MASANYA Oleh: Moede Dian Ternyata, tak mudah mencari pekerjaan meski hanya ingin menjadi kuli. Rasa gelisah, hampir putus asa, yang dirasakan Ana saat itu. Wanita dengan status singgle parent alias janda, berumur kurang lebih 30 tahun, asal … Continue reading “Bahagia Kan Hadir Pada Masanya”

Moede Dian / Bahagia Kan Hadir Pada Masanya / Ze Cayank Heaven / Indonesia / tenaga kerja asing

BAHAGIA KAN HADIR PADA MASANYA
Oleh: Moede Dian

Ternyata, tak mudah mencari pekerjaan meski hanya ingin menjadi kuli. Rasa gelisah, hampir putus asa, yang dirasakan Ana saat itu. Wanita dengan status singgle parent alias janda, berumur kurang lebih 30 tahun, asal Losari, Jawa Tengah. Sudah 120 hari dia berada dalam tampungan PJTKI, tepatnya di Surabaya, Jawa Timur. Dengan tekad yang tinggi, demi kedua anaknya, berniat mengadu nasib, mengais rejeki di negeri Formosa, Taiwan.
Seperti layang-layang yang terikat benang, berjalan melenggang naik ke awang-awang. Begitu dirinya mencicil harapan untuk hidup bersama pria yang biasa dipanggil dengan sebutan Kang Aep. Laki-laki yang berahang kukuh, kepadanya ia pernah mencinta dan merindu, bersamanya pula ia pernah memeluk dunia.
Dari celah-celah jendela, Ana memandang ke arah luar. Dilihatnya ada pelangi menghiasi langit biru. Seketika itu, ia teringat masa dulu, kata-kata yang pernah terucap dari sang mantan suami.
“Ana, kau layaknya pelangi, yang selalu hadir setelah badai dan hujan.”
Ah, Kang Aep. Tak lagi ingatkah pada rupa pelangimu itu. Betapa pun kamu pernah memujanya, tetapi sekarang semua itu telah menjadi keping-keping yang menusuk, melangkah pergi, melepasmu pada peraduan perempuan simpananmu. Membiarkan lara mengikuti bayangan istri yang kau ceraikan dan dua anak yang kau tinggalkan.
Terkadang, mengalah itu bukan pertanda kita lemah. Bukan pula bukti bahwa kita yang salah. Justru, dengan mengalah kita paham arti bahagia yang sesungguhnya. Cinta tidak pernah salah, terkadang tempatnya saja yang tidak tepat.
***
Di akhir bulan Desember, hari sabtu malam minggu, tanggal 29, tahun 2012, adalah hari yang sangat dinanti-nantikan oleh Ana. Terbang dengan pesawat Eva Air, menempuh jarak kurang lebih 5-6 jam, hingga mendarat di negeri yang terkenal dengan gedung 101-nya itu.
Ini adalah kali pertama ia menginjakkan kaki di negeri Taiwan. Setelah cek kesehatan, Ana diantar menuju ke rumah agensi. Ke esokan harinya ia diantar ke rumah majikan, di kota Sanchong, New Taipei City.
“Ni she, Ana? (“Apa kamu, Ana?”) tanya seorang wanita.
“She, Thai-thai!” (“Benar, Nyonya!”) jawabnya dengan menganggukan kepala, tanda benar.
“Wo she ni te laupaniang.” (“Saya majikan perempuan kamu.”)
Pekerjaan Ana adalah menjaga nenek, selain itu di rumah ada sepasang suami istri dan empat anaknya yang masih kecil-kecil. Pagi bangun jam 04.30, setelah salat subuh, mulailah ia berperang dengan lap, kemoceng, sapu dan alat pel. Belum lagi ia pun harus mengurus anak-anak majikan yang akan pergi ke sekolah, membuat sarapan, menyiapkan pientang (Bekal makanan untuk makan siang). Pekerjaan rumah belum beres dikerjakan, ia sudah harus mengantar ke empat anak majikan ke sekolah.
Setelah pekerjaan rumah beres, ia membawa nenek ke toko majikan untuk bantu-bantu di sana. Tak perduli panas atau hujan, tak perduli keadaan nenek yang sedang sakit, mendorong wanita tua berumur 85 tahun dengan kursi roda. Yang paling memilukan makan dijatah. Pagi, satu buah mantou (roti khas orang Cina) tanpa kopi, teh susu, atau susu kacang kedelai. Siang, semangkuk kecil bubur nasi dengan lauk pauk ala kadarnya dan malam setengah piring mie goreng atau rebus tanpa sayuran, ikan atau pun daging. Tenaganya diperas habis, tetapi kebutuhan yang ada dalam tubuhnya tidak sesuai.
Tiap hari memasak, sehari tiga kali. Cuci baju tidak boleh pakai mesin cuci walaupun ada mesin cuci. Cuci piring, antar jemput anak sekolah, setrika baju. Belum lagi mengurus nenek yang dirawatnya. Setelah itu semua, nyonya menyuruhnya memijit selama kurang lebih 1-2 jam. Ana tidur tidak lebih antara 2-3 jam. Jam 12 malam baru diperbolehkan masuk kamar, terkadang tengah malam nenek bangun minta kencing, 2 jam sekali harus fansen (membalik badan) nenek, 4 jam sekali ganti popok.
Cuma tangis yang menemani, seakan air matanya sudah mengering. Setiap malam menangis meratapi nasibnya, merasa dirinya bodoh dan terlalu lugu. Pernah ia melapor kepada agensi, tetapi bukan perhatian atau pertolongan yang didapat melainkan amukan dari agensi.
“Kalau aku jadi kamu, pasti aku sudah kabur!” seru Asri teman Indonesia yang sering bertemu saat buang sampah.
Pernah terpikir oleh wanita berwajah manis itu, membenarkan ucapan dari Asri temannya. Dua puluh hari ia berpikir, berharap masih ada keajaiban yang datang, tetapi tidak ada. Akhirnya, entah setan yang datang dari mana, menguatkan tekadnya untuk kabur dari rumah itu. Segera ia kemasi barang-barang yang perlu untuk dibawa. Melalui bantuan Asri, ia diperkenalkan oleh agensi kaburan. Sesuai dengan perjanjian, hari, tanggal, waktu dan tempat yang ditentukan, Ana pun siap angkat kaki dari rumah itu.
Pagi, tepat jam 03.00. Ana diam-diam dengan langkah perlahan-lahan membuka pintu kamarnya. Langkahnya terhenti, karena pasiennya bangun dan memintanya jangan pergi.
Dalam hatinya ia merasa heran “Dari mana nenek tahu, kalau aku ingin pergi meninggalkannya?”
Dilihatnya si nenek, saat Ana mencoba membenahi selimut nenek, kulit tangannya bersentuhan dengan kulit tangan nenek, suhu badan nenek panas, sekujur tubuhnya berkeringat, tetapi anehnya nenek merasa kedinginan. Hati kecilnya tak tega melihat keadaan nenek.
Tak dihiraukan belasan kali telepon genggamnya berbunyi, segera ia membangunkan majikan, memberitahukan keadaan nenek. Majikan segera membuktikan kebenaran dari ucapan pembantunya itu, kemudian mereka membawa nenek ke rumah sakit.
***
Matahari perlahan muncul dari ufuk timur, sinarnya mulai masuk melalui celah-celah jendela, burung-burung pun mulai terdengar kicauannya. Suhu badan nenek tak kunjung reda, bahkan suhunya semakin tinggi hingga mencapai 42 derajat celcius. Unit gawat darurat tidak mampu menangani nenek. Menurut keterangan dokter, nenek terkena virus H1N1, hingga nenek terpaksa dibawa keruang ICU.
“Ya Tuhan, aku berlindung padaMu, berikanlah yang terbaik untukku dan pasien yang aku jaga,” Ana berdoa dalam hati.
Dua jam berlalu, dokter memberi keterangan kalau pasien yang Ana jaga telah pergi ke alam lain. Tak lama kemudian tuan Huang yang tak lain majikan Ana mengurusi segala proses pemakaman nenek. Ana sejenak berpikir, seandainya beberapa jam yang lalu, ia terus melangkah, mengikuti hawa nafsu setan yang telah meracuninya untuk kabur, pasti bukan hanya salah yang ia lakukan, dosa besar pun ia dapat. Hidup mati seseorang memang tiada yang tahu, tetapi ada kesempatan menolong hidup seseorang merupakan suatu kebajikan. Walaupun harapan yang didapat kan berbeda akhirnya.
***
Sebulan setelah kepergian nenek, Ana dijemput agensi untuk menuju rumah majikan yang baru. Kali ini berbeda kota, bukan di pusat kota, daerah pedalaman, dekat pesisir pantai, tepatnya Baisawan, Dansui District. Daerah yang jauh dari keramaian, seven eleven (Nama sebuah toko) pun jauh keberadaannya. Rumah-rumah di sekitar, jaraknya cukup berjauhan, kendaraan jarang yang berlalu-lalang, sepi.
Kesempatan kali ini, job Ana adalah menjaga kakek. Tinggal hanya berdua dengan kakek di sebuah rumah tua berlantai empat. Rumah yang cukup besar, tetapi berantakan macam kandang. Jelas saja, bertahun-tahun lamanya hanya kakek yang tinggal sendirian. Anak-anak kakek semua tinggal di kota faktor pekerjaan. Kakek tidak mau tinggal bersama mereka, karena ia tidak suka tinggal di kota, apalagi rumah itu mempunyai banyak kenangan bersama mendiang istrinya dulu.
Pekerjaan yang dibilang ringan, tidak ada pengawasan majikan, bekerja semaunya, bangun sebangunnya, makan pun sudah di penuhi segala kebutuhannya, cukup untuk satu bulan. Majikan datang setiap satu bulan sekali secara bergantian, untuk memberi gaji dan membelikan segala kebutuhan hidup untuk satu bulan. Di sini segala sesuatunya terjamin, berbeda dengan yang dulu.
Sayangnya tak berlangsung lama, kakek jatuh dari tangga, mengakibatkan nyawanya terenggut maut. Meskipun itu bukan 100% kesalahan Ana, karena kakek jatuh dengan sendirinya. Merawat orang yang pikun memang sangat diperlukan pengawasan ekstra, tidak boleh meleng (lalai) sedikit pun. Permasalahan tersebut telah menyeret Ana sampai ke meja hijau.
“Saat itu, saya sedang memasak di dapur, saya lihat Kakek masih tertidur. Maka dari itu, saya berani meninggalkan Kakek pergi ke dapur, yang ada di lantai 1,” keterangan Ana pada pihak yang berwajib.
Kecelakaan yang terjadi pada kakek membuat Ana harus di deportasi, pulang ke Indonesia tanpa kesuksesan. Ia sempat mengalami shock berat beberapa bulan, tidak mau makan, setiap malam susah tidur, bayang-bayang kakek terus menghantui pikirannya, selalu dalam ketakutan.
***
Nampaknya, Ana masih trauma untuk bekerja ke luar negeri lagi. Tetapi ia adalah seorang ibu sekaligus bapak yang bertanggung jawab atas kedua anaknya. Apapun pekerjaannya, asalkan halal, ia bersedia melakukannya. Seperti, kuli Tandur (Menanam padi) di sawah, mencuci pakaian, bersih-bersih di rumah orang kaya, jualan pete, jengkol, buah, bawang, cabe, sayur, dan apa saja sesuai musim panen yang ada.
Namun, semua itu tak dapat mencukupi segala kebutuhan yang ada. Ayu dan Tya adalah kedua putri Ana, mereka berdua semakin tumbuh besar. Ayu sudah kelas 3 SMP, mau ujian. Tya sudah kelas 6 SD, mau ujian juga. Biaya sekolah pun semakin besar. Penghasilan dan kebutuhan tidak seimbang, meminta pertolongan kepada orangtua atau saudara pun tidak ada, semua dalam keadaan kesusahan. Membuat kepala Ana penat mau pecah.
“Kalau tidak dapat ke Taiwan lagi, Kau bisa ganti haluan, pergi ke Hongkong misalnya!” tutur pak Robana, dia adalah seorang PL atau biasa disebut sponsor.
Ana tak lagi berpikir panjang, ia menerima tawaran sponsor itu untuk merantau ke negara kelahiran Andi Lau dan Toni Lung itu. Kali ini berbeda sebelumnya, PJTKI yang memberangkatkan Ana ke Hongkong, bertempat di Jakarta Pusat. Dua bulan berada di sana, job Ana langsung turun, kemudian terbang bersama pesawat China Airlines.
***
Pengalaman menjaga lansia sudah pernah didapat Ana, tetapi menjaga anak remaja umur 15 tahun yang tidak normal, maaf bukan fisik, tetapi otaknya. Membuat Ana tiap hari makan hati hingga kurus kering. Bayangkan, betapa susahnya merawat orang yang tidak normal otaknya. Bicara secara baik-baik tidak mungkin di dengarkan, apalagi kalau berbicara dengan nada tinggi dan marah? Kalau apa yang dikehendaki tidak segera dituruti, Ana dipukul dan diancam akan dibunuh, tanpa ada rasa takut akan dipenjarakan. Yaaa … namanya juga orang tidak waras.
Peraturan tenaga kerja di Hongkong berbeda dengan di Taiwan. Mengapa demikian? Karena di Hongkong bisa dengan mudah minta pindah majikan, berbeda dengan di Taiwan, cukup rumit prosesnya. Ana pun memohon agensi untuk pindah majikan dan dikabulkan.
Mungkin nasib Ana bisa dibilang kurang mujur, berkali-kali ia pindah majikan, berkali-kali pula ia menderita. Tak ada satu job pun yang ia mampu tuk bertahan. Setelah menjaga anak remaja yang tidak normal, job keduanya adalah bekerja diperternakan babi. Tiap pagi dan sore, Ana harus membersihkan kandang, memberi makanan dan minuman untuk 100 ekor babi. Karena terlalu berat, ia kembali minta pindah majikan. Job ketiga menjaga nenek umur 90 tahun. Awalnya ia merasa sedikit lega dengan job ini, tetapi sayangnya tidak berlangsung lama juga, karena si nenek pikunnya sudah sampai stadium atas. Ana sering mendapat pukulan, cubitan dan yang lebih sering lagi, ia sering mendapatkan semprotan air ludah. Begitu pula selanjutnya, job ke empat dan kelima pun telah membuat Ana seakan kapok.
Pulang ke Indonesia, itu menjadi keputusan Ana yang terakhir. Dua tahun ia bertahan, 20 KG berat badannya berkurang, dari yang 60 KG hingga turun sampai 40 KG.
***
“Sudahlah, mungkin rejekimu bukan di luar negeri, kamu yang sabar!” ucap si Mbok Cas, ibunya Ana.
“Mbok, mengapa kebahagian tak mau hinggap di peraduan hidupku, apakah aku bukan makhluk yang layak mendapatkan kebahagiaan?” keluh Ana dan menangis dalam pangkuan ibunya.
“Percayalah, Nak! Tuhan tak mungkin memberi cobaan di luar batas kemampuan umatnya,” ucap si Mbok menghibur putrinya.
***
Jauh dari pulau seberang, pria tampan bak seorang pangeran telah datang ke pulau Jawa bagian barat, tepatnya Cirebon, kota yang terkenal dengan sebutan kota terasi. Semua orang memanggilnya Bang Al, nama lengkapnya Alfirzal. Nampak sekali terlihat macam orang kaya. Jelas saja, karena ia telah membeli sebuah RUKO (Rumah dan toko) pinggir jalan di salah satu pusat kota Cirebon, seharga ratusan juta. Rencananya, ia akan membuka usaha penjualan kain khas minang, dan toko baju, dari mulai baju anak-anak sampai dewasa. Di pasangnya sebuah pengumuman pada papan spanduk depan tokonya
‘Menerima lowongan pekerjaan untuk pelayan toko, pria atau wanita, lulusan akhir tidak menjadi masalah, yang penting rajin bekerja dan jujur’
Kabar gembira itu sampai juga ke telinga Ana, ia pun segera mempersiapkan diri untuk melamar. Perjalanan yang ditempuh kurang lebih satu jam dari Losari ke Cirebon, dengan semangat yang tinggi dapat diterima bekerja, walaupun hanya dengan gaji tujuh ratus ribu rupiah perbulan. Kalau dibandingkan dengan gaji waktu kerja di luar negeri, memang sangat kecil sekali. Tetapi apalah daya, demi kelangsungan hidup seorang singgle parent beranak dua, seberapa pun penghasilannya, asalkan halal pasti ia lalukan.
Lagi-lagi Ana tidak mujur, pekerjaan yang diharapkannya itu telah diambil orang. Entah mengapa tiba-tiba butiran-butiran hangat menetes membasahi pipinya. Pandangannya menatap langit, seakan ingin bertanya kepada Tuhan, merasa tidak pernah mendapatkan keadilan dalam hidupnya. Bertumpuk pertanyaan dalam benaknya, masih adakah kebahagian yang tersisa?
Berjalan menelusuri jalan yang panjang, di bawah terik matahari yang menyengat, rasa haus dan lapar menambah rasa sedihnya. Dilihatnya duit yang ada dalam dompetnya, hanya tersisa lima lembar duit sepuluh ribuan. Hanya cukup untuk ongkos pulang. Ia pun tak menghentikan langkahnya, melaju menaiki Bis, pulang ke losari.
***
“Ana, apakah Kamu mau kerja ke Jambi?” tanya Sulastri tetangganya. “Jadi pelayan restoran, gajinya lumayan, untuk ongkos ke sana, biar semua aku yang tanggung!” lanjutnya.
“Ya, aku mau, Las!” Ana langsung menjawab dengan gembira.
Singkat cerita, Ana sampai di kota Jambi. Tempat yang asing sekali baginya, dalam hatinya hanya berdoa, semoga ini adalah jalan yang terbaik, sehingga ia dapat membiayai sekolah kedua anaknya.
“Ana, mulai sekarang jangan panggil aku dengan nama asliku, panggil aku dengan nama Selly,” kata Selly yang tak lain adalah Sulastri.
Memasuki rumah mewah bak istana yang megah, menambah perasaan aneh, bercampur rasa takut. Di dalam ada beberapa wanita, sepertinya teman-temanya Selly, dengan gaya mirip turis. Semua rambut mereka dicat warna-warni, semua berpakaian seksi, rata-rata merokok.
“Tidak usah takut, mereka semua orang baik!” hibur Selly.
Sampai di depan pintu sebuah kamar, seorang pria membukakan pintu. Selly menyuruh Ana tunggu di luar. Entah apa yang mereka bicarakan, setengah jam sudah Ana menunggu di luar. Selly pun keluar dari kamar itu kemudian, mengajak Ana ke lantai dua untuk beristirahat. Perasaan tidak enak terus menyelimuti hati Ana, ia menjadi curiga dengan Selly tetangganya itu. Diam-diam ia mencari tahu kebenaran, dan ternyata …
***
Hujan deras hari itu, mengiringi peristiwa naas yang terjadi pada Ana. Dengan susah payah ia mencari ide untuk keluar dari rumah terkutuk itu. Seseorang yang dianggapnya Dewi penolong yang diturunkan untuknya, ternyata adalah seorang siluman ular yang ganas dan beracun. Siluman itu akan menyeretnya ke dalam jebakan lembah hitam.
Di persimpangan jalan, Ana kelelahan, kakinya terasa mau patah, tulang belulangnya seakan remuk. Ia telah melompat dari lantai dua, kabur dengan berlari sejadi-jadinya macam orang yang dikejar setan. Dilihatnya sebuah masjid besar di seberang jalan. Ia yakin akan aman di sana, Tuhan akan melindunginya. Dalam sujudnya ia berpasrah sambil menangis sejadi-jadinya, mengadu kepada Sang Maha Esa, memohon petunjuk dan pertolongan untuknya, agar ia dapat kembali ke kampung halamannya.
“Kenapa Nona menangis? Apakah ada keluarga Nona yang sedang sakit?” tanya seorang pemuda.
“Kau pun terlihat habis menangis?”
“Ibuku sedang sakit, sekarang ia membutuhkan donor ginjal untuk kelangsungan hidupnya. Tapi …”
“Tapi apa? Belum menemukan seseorang untuk mendonorkan ginjal?” tanya Ana penasaran.
“Hu um!” pemuda itu menghela nafas dan menganggukan kepala tanda benar.
“Saya bersedia, mendonorkan ginjal saya, asalkan Abang memberi uang untuk saya pulang ke jawa.”
“Tapi …”
Entah ini dinamakan apa, kebaikan atau sebaliknya? Yang ada di otak Ana saat itu adalah ia ingin cepat kembali ke kampung halamannya, bertemu kembali dengan kedua buah hatinya.
“Lebih baik menjual ginjal dari pada menjual kehormatan,” pikir Ana.
***
Makan dengan sambal terasi, lalapan rebusan pepaya muda, sudah terasa nikmat. Begitulah yang dirasakan Ana setelah kepulangannya dari Jambi. Dapat berkumpul kembali dengan keluarga tercinta, walau hidup serba kekurangan, merupakan anugerah besar baginya. Kebahagian itu pasti ada, tidak perlu menunggu dan menunggu. Bahagia itu, bisa kita ciptakan sendiri. Jadikan keluhan, cobaan, ujian, yang ada sebagai bumbu penyedap. Hidup ini penuh warna, berbagai kisah itu ada, pahit dan manis selalu mengiringi roda kehidupan. Ambil hikmahnya, di situlah kita akan menemukan jawabannya.
***
“Ana, Kau tahu kabar Sulastri tidak?” tanya Salamah, tetangga belakang rumah Ana.
“Memang kenapa?”
“Dia kemarin di gerebek Polisi!” bisik Salamah. “Hukum pidananya cukup berat, selain pelacuran, ada kasus NARKOBA juga!” lanjutnya.
“Masa sih?” Ana terkejut.
Seharusnya, mendengar kabar ini Ana bahagia, tetapi malah sebaliknya. Dia merasa kasihan kepada Sulastri, karena Sulastri pun seorang janda beranak dua sama seperti dirinya. Sulastri pun wanita malang yang ditinggal suaminya, pergi bersama wanita lain. Hanya saja Sulastri menempuh jalan salah, mungkin karena keadaan yang memaksanya. Kejamnya krisis moneter yang melanda Indonesia, memang tak dapat dipungkiri.
Ana berjalan terhuyung, setapak demi setapak ia menjejak kebahagiaan. Mungkin juga pahit getir kehidupan sudah tak asing lagi baginya. Kisahnya, dari menjadi TKW (Tenaga kerja wanita), di negeri Taiwan dan Hongkong, kuli tandur, kuli cuci baju, jualan di pasar, bahkan hampir saja terjebak lembah hitam, sampai akhirnya ia harus kehilangan satu ginjalnya hanya untuk pulang ke kampung halamannya.
Jika ia boleh memilih, tentunya ia akan memilih tuk tidak jatuh cinta pada Kang Aep. Menurutnya, pertemuan dengan Kang Aep adalah malapetaka, mimpi yang paling buruk di kehidupannya. Tapi sayang, cinta bukan pembantu yang mampu disuruh jatuh di mana kita mau. Tidak ada makhluk hidup manapun yang dapat memutar kembali waktu. Walau tanpa cinta dari seorang Adam, walau ia harus menjanda seumur hidupnya. Hanya satu yang mampu menguatkan dirinya tuk bertahan hidup, yaitu kedua putrinya.
***
Cerita pelangi kan hadir setelah hujan, memang nyata adanya. Putri Cinderela yang penuh derita berakhir bahagia. Begitu pula dengan Ana. Terkejut hatinya, saat ia melintasi sebuah toko di pasar Kota Cirebon. Sebuah toko telah mengingatkan ia pada masa-masa yang sulit. Sebuah harapan bisa diterima sebagai pelayan toko namun kandas karena sudah didahului orang. Ini semua kehendak Tuhan. Andai saja saat itu Ana mendapatkan pekerjaan itu, mungkin ginjalnya tak kan terjual. Jodoh memang tak kan ke mana, pemilik toko tersebut adalah seorang pemuda yang membeli ginjalnya untuk ibunya.
“Kamu …”
“Ya benar! Aku Alfirzal.”
Sejak saat itulah bunga-bunga perlahan mekar dengan sendirinya, hujan pun reda meninggalkan embun yang sejuk. Pancaran sinar pelangi menghiasi langit biru, begitu indahnya. Nampaknya burung-burung pun ikut gembira. Menyaksikan hari-hari bahagia Ana. Percayalah! Tuhan Maha adil, segala sesuatu telah diatur olehNya. Jangan menyerah dengan cobaan yang ada. Jadikanlah segala cobaan pembelajaran untuk kita semua, memperkuat iman dan takwa kepada Sang Esa. Bahagia kan hadir pada masanya.
Tamat

Taipei, 22 Maret 2016.

BUAH KEIKLASAN

Sri Retno Yulianti / BUAH KEIKLASAN / tidak ada / Indonesia / tenaga kerja asing BUAH KEIKLASAN Oleh : Sri Retno Yulianti “Greegggh.” Aku mendengar pintu besi di sebelah rumah yang kutinggali dengan ama dibuka. Itu pasti majikanku sudah datang ke gudang penyimpanan daging babi dagangannya. Waktu masih menunjukan pukul 03.00 dini hari. Segera kuhabiskan kopi susu di cangkirku … Continue reading “BUAH KEIKLASAN”

Sri Retno Yulianti / BUAH KEIKLASAN / tidak ada / Indonesia / tenaga kerja asing

BUAH KEIKLASAN
Oleh : Sri Retno Yulianti

“Greegggh.” Aku mendengar pintu besi di sebelah rumah yang kutinggali dengan ama dibuka. Itu pasti majikanku sudah datang ke gudang penyimpanan daging babi dagangannya. Waktu masih menunjukan pukul 03.00 dini hari. Segera kuhabiskan kopi susu di cangkirku lalu kupakai kerudungku dan membuka pintu rumah untuk segera pergi ke sebelah. Begitu pintu terbuka, angin dingin langsung menerpa wajahku membuat kulit pipiku serasa kaku. Dingin pagi ini serasa menusuk tulang, tadi kulihat di layar androidku jika suhu hanya 11 derajat celcius.

Aku sudah terbangun sejak setengah jam yang lalu ketika kudengar bunyi “bummm” beberapa kali. Itu adalah bunyi babi-babi utuh yang sudah dipotong dan diletakkan di depan gudang sebelah rumah. Babi-babi tersebut diantar oleh penjual babi. Nanti daging babi tersebut akan diiris menjadi potongan kecil-kecil yang sudah siap dijual ke konsumen di pasar. Dua minggu menjelang tahun baru cina seperti ini, dagangan daging babi majikanku sangat laris. Pada hari biasa dalam sehari hanya memotong satu atau dua ekor babi tapi sekarang bisa empat sampai lima ekor.

Di dalam kontrak kerja, pekerjaanku adalah menjaga seorang nenek berusia 80 tahun yang lumpuh. Dan memang benar, dalam keseharian aku menjaga nenek dan tinggal berdua dengannya. Namun disamping bekerja seperti yang tertuang dalam kontrak tersebut, aku juga harus membantu majikanku menyiapkan dagangan sebelum mereka berjualan di pasar. Aku membantu mengiris daging-daging tersebut setiap hari. Di musim dingin pekerjaan itu menjadi terasa sangat berat karena tempat mengiris daging tersebut ada di halaman sehingga udara dan angin dingin sangat menusuk tulang. Mereka akan berangkat ke pasar pada pukul 06.30 setiap harinya.

“Ati, kamu masak telor dadar dan keluarkan satu botol rumput laut untuk sarapan pagi. Jangan lupa buatkan meme roti bakar selai kacang, semalam dia bilang tidak mau makan bubur pagi ini.” Kata nyonya yang duduk disamping tuan sebelum mobil bak yang dikemudikan tuan meninggalkan halaman gudang.

“Baik, Nyonya.” Kuekori mobil majikanku itu dengan pandanganku sampai hilang di tikungan.

Setelah mencuci peralatan dan membersihkan lantai dari sisa-sisa daging dan darah babi, aku bergegas masuk ke rumah yang kutinggali. Kumelihat ke kamar sebentar untuk memastikan jika ama masih tidur di ranjangnya, kemudian aku ke kamar mandi. Segera kulepas celemek yang kotor dan bau anyir itu lalu kucuci muka dan tanganku sebanyak tujuh kali yang salah satunya dengan kugosokan debu yang memang sengaja kusiapkan. Aku melakukan pencucian sampai tujuh kali adalah agar aku kembali bersih supaya bisa beribadah sesuai tuntunan agama yang kuanut, islam.

Kutengok jam dinding di ruang tamu, sekarang sudah jam 06.45. Aku keluar dan melangkah ke arah rumah majikan. Setiap hari, setelah majikan pergi ke pasar aku akan pergi kesana yang jaraknya hanya 100 meter dari tempat tinggalku dan ama, untuk menyiapkan sarapan pagi bagi seluruh penghuni rumah majikan, ama dan untukku sendiri. Dua anak lelaki majikanku telah menikah, mereka juga tinggal di rumah besar tersebut bersama istri dan anak-anak mereka. Juga masih ada satu anak perempuan dan satu anak lelaki yang belum menikah.

Pagi ini setelah sarapan untuk keluarga majikan siap, aku bergegas pulang. Biasanya aku akan sedikit membereskan ruang tamu rumah majikan. Menyapu dan mengelap perabotan, namun hari ini aku akan pergi ke toko Indonesia untuk mengirimkan uang. Rencanaku akan kubersihkan nanti sore saja, sekitar jam 15.00, pada jam istirahatku.

Setiap bulan, setelah gajian pasti kukirimkan uangku. Aku seorang janda dengan empat orang anak. Suamiku menikah lagi ketika aku hamil 6 bulan anak keempat kami. Aku yang tidak sanggup dimadu memilih pulang ke rumah orang tuaku walaupun suamiku bersikeras tak mau menceraikanku. Mas Hasan menduakanku dengan teman kecilku, Dewi yang bekerja sekantor dengannya. Hari itu ketika tahu aku telah dihianati oleh suami dan sahabatku, aku merasa hancur, hatiku sakit, terluka sekali. Mengapa sahabatku setega itu? Mungkin akan lebih mudah andai saja wanita itu orang lain yang tidak kukenal, bukan teman kecilku.

Menjadi orang tua tunggal tanpa pekerjaan membuat kehidupanku berubah dratis. Memang sesekali mas Hasan masih memberikan hasil jerih payahnya, namun itu tidaklah mencukupi. Sekarang keempat anakku kutitipkan pada orangtuaku yang telah mulai tua. Sedang suamiku tinggal dengan maduku.

Kutinggalkan anak-anakku menuju PJTKI yang memproses keberangkatanku ke Taiwan ketika bayiku baru berusia 3 bulan. Aku berangkat dengan membawa banyak keraguan, karena sebelumnya belum pernah jauh dari anak-anak apalagi sampai bekerja ke luar negri. Kupilih Taiwan karena kudengar Taiwan banyak memberi harapan, terutama gajinya yang lebih tinggi juga perlindungan hukum yang lebih baik dari negara tujuan penempatan lainnya.

Aku sangat membutuhkan pekerjaan. Sangat sulit mencari pekerjaan di Indonesia hanya dengan mengandalkan ijasah SMP. Sementara aku tidak punya pengalaman kerja apapun karena selama menikah aku tidak pernah bekerja. Bersyukur akhirnya karena kemudian proses keberangkatanku lancar dan sekarang bekerja di rumah ini.

*******

Ama sudah kudandani, tadi telah kubantu dia untuk cuci muka dan menggosok gigi. Kini dia memakai sweter tebal dan duduk di sofa yang ada di sebelah ranjangnya. Sebuah penghangat ruangan berjarak dua meter darinya masih tetap menyala sejak semalam. Sekarang sedang kusuapi dengan semangkok bubur sambil menonton sebuah opera dengan bahasa tayi di TV. Pemainnya memakai pakaian tradisional Taiwan dengan warna-warna cerah yang didominasi oleh warna merah kuning dan hijau. Musik opera itu sangat khas, dialog-dialog yang diucapkan oleh pemain lebih banyak berupa syair-syair yang dilagukan. Tayangan itu telah berulang kali ama tonton, dengan cerita yang sama, namun sepertinya dia tak pernah bosan. Aku pernah melihat langsung pertunjukan opera seperti itu di halaman mio dekat rumah ketika ulang tahun dewa. Pertunjukan yang berlangsung selama sepekan tersebut juga lebih banyak di tonton oleh generasi usia lanjut. Barangkali anak muda Taiwan lebih menyukai pertunjukan modern dari pada opera-opera klasik seperti itu.

Setelah kuhabiskan sarapanku, aku berpamitan pada ama untuk keluar sebentar. Kemarin sudah kubilang pada nyonya kalau pagi ini mau mengirimkan uang ke Indonesia. Aku tidak kuatir meninggalkannya sendirian di rumah, dia akan tetap duduk di sofa itu tanpa mampu bergerak kemanapun, kedua kakinya lumpuh sejak tiga tahun lalu. Remot TV kuletakkan di dekatnya agar jika bosan dengan acara yang ditontonnya, dia bisa mengganti chanel TV.

Daerah tempatku bekerja adalah perbukitan dengan lahan pertanian yang luas. Untuk sampai ke toko Indonesia yang ada di kota terdekat diperlukan waktu sekitar 20 menit dengan sepeda. Kukayuh sepedaku di jalan yang berbukit namun beraspal mulus. Sesekali jika tak kuat lagi mengayuh karena jalanan yang terlalu menanjak aku akan turun dan mendorong sepeda itu. Hal yang paling menyenangkan adalah ketika melewati jalanan yang menurun, aku akan mengemudikan sepadaku dengan merdeka tanpa kayuh. Beruntung sekali rem sepeda ini sangat pakem sehingga aku tak perlu merasa kuatir, seminggu yang lalu paman yang tinggal di sebelah rumah telah menyetelnya karena sebelumnya aku terjatuh menubruk pagar ketika tiba-tiba ada anjing yang menyebrang.

Berbelanja ke toko Indonesia menjadi salah satu hiburan bagiku karena jika beruntung disana aku bisa bertemu dengan teman-teman sesama pekerja dari Indonesia. Jika hari kerja tempat itu tidak begitu ramai namun aku pernah datang di hari minggu toko itu dipenuhi oleh teman-teman dari Indonesia. Aku yang tidak memiliki hari libur merasa sangat tertolong dengan kehadiran toko ini. Disini banyak kudapatkan barang-barang yang bisa sedikit mengobati kerinduanku kepada tanah air.

Aku tak bisa berlama-lama ditempat ini. Setelah mengirimkan uang dan membeli beberapa barang yang kuperlukan aku segera kembali karena jam 10.30 aku sudah harus mulai memasak untuk makan siang. Setelah makan siang aku memiliki waktu sebentar untuk istirahat sambil menunggu majikan pulang dari pasar pada jam 13.30 karena jika majikan pulang dari pasar aku harus membantunya membereskan dagangan dan membuat sosis untuk dijual besok pagi.

Biasanya jam 15.30 segala aktifitas di gudang babi sudah selesai. Majikanku akan pulang untuk beristirahat begitupun denganku, namun hari ini aku tidak beristirahat karena tadi pagi seharusnya aku membersihkan ruang tamu rumah majikan tapi aku pergi ke toko Indonesia.

Setelah membersihkan rumah aku langsung memasak untuk makan malam. Jam 17.00 semua hidangan sudah selesai dan terhidang di meja makan. Aku mengambil wadah yang biasa kupakai untuk membawa makananku dan ama. Karena aku sendiri yang memasaknya aku tidak perlu merasa kewatir makananku tercampur babi. Majikanku membebaskanku memasak apapun yang kuinginkan. Sebenarnya hal inilah yang membuatku betah bekerja kepada mereka. Walaupun pekerjaanku sangat banyak dan capai, menjaga ama juga membantu di gudang daging babi tapi keluarga majikanku memenuhi kebutuhanku dengan baik, terutama soal makanan halal yang kukonsumsi.

Ama akan segera tidur jika telah selesai makan malam. Akupun terbiasa tidur cepat karena besok pagi harus bangun dini hari untuk kembali bekerja. Namun kadang rasa kantuk sulit sekali datangnya. Jika ama sudah tidur maka televisi di kamar sudah tak boleh dinyalakan. Biasanya aku akan tiduran di sofa yang ada di ruang tamu. Menelfon keluarga di Indonesia atau bermain game HP androidku.

“Kak, aku ada di rumah bapak. Aku akan bercerai dengan mas Pri.”

Kubaca sms yang adikku Rina kirimkan setelah kudengar bunyi “bep-bep” tanda sms masuk. Kabar itu tidak mengejutkanku. Dari sekitar tiga bulan lalu Rina sering bercerita tentang biduk rumah tangganya yang mulai goyah, sejak suami Rina di-PHK dari pabrik tempatnya bekerja. Minimnya ekonomi memang sering memicu pertengkaran. Aku sudah berkali-kali menasehati Rina untuk lebih bersabar namun semakin menipisnya perekonomian mereka membuat munculnya banyak masalah baru sehingga menyebabkan cek-cok pada mereka.

Kupencet nama Rina di kontak teleponku. Tak lama kemudian kudengar suara Rina di seberang. Ada suara gaduh anak-anak disana. Itu pasti suara anak-anakku dan anak-anak Rina yang sedang bermain. Kusuruh Rina menepi, meninggalkan anak-anak itu agar aku bisa bicara serius dengannya.

“Rin, apakah kau sudah benar-benar memikirkannya?” Tanyaku ketika tak lagi kudengar suara gaduh.

“Aku sudah tak bisa bersabar menghadapi mas Pri. Dia sudah berubah. Kesulitannya mencari pekerjaan membuat dia stres. Lalu aku dan anak-anak dijadikan tempat untuk melampiaskan kemarahannya. Aku tak bisa membiarkan anak-anakku dalam keadaan tertekan bila terus di dekat ayahnya.” Kudengar jawaban Rina lirih. Dia pasti sedang menahan gemuruh dihatinya.

“Seharusnya kau mendampinginya, dia membutuhkanmu saat ini. Bukan malah pergi meninggalkannya, Rin.”

“Aku sudah berusaha, Kak, tapi mas Pri sudah berani main tangan kepadaku dan juga kepada anak-anak.” Kali ini aku terdiam. Sudah sering kunasehati Rina sejak masalah mereka muncul tiga bulan yang lalu tapi sepertinya usahaku sia-sia. Padahal perceraian pasti akan menimbulkan banyak masalah salah satunya adalah masalah ekonomi yang akan dihadapinya karena selama menikah Rina juga tidak bekerja.

Sekarang, Rina akan memilih bercerai dengan suaminya dan kembali ke rumah orang tua, itu berarti bebanku bertambah. Rina membawa kedua anaknya dan itu berarti tanggunganku bertambah tiga orang. Ayah juga sudah semakin tua, beberapa bulan ini menjadi sering sakit-sakitan.

Pikiranku masih penuh dengan segala masalah yang terjadi di rumah ketika kemudian suara telfon mengagetkanku. Kulirik nama yang terlihat di layar. Titin. Dia temanku ketika di PJTKI dulu.

“Ati, bisakah kau meminjamiku uang lagi? 5000 Nt saja. Kamu sudah gajian kan? Anakku harus membayar uang sekolah. Pekan depan dia ada UTS. Jika belum membayar dia tak bisa mengikuti Ujian.” Suara Titin kudengar dari seberang begitu aku selesai mengucapkan salam.

Dua bulan lalu dia sudah meminjam uangku 8.000 Nt dengan alasan ibunya dirawat di rumah sakit. Aku merasa kasihan kepadanya. Kubayangkan bagaimana jika itu terjadi kepada keluargaku dan aku kesulitan mendapatkan uang untuk kukirimkan ke Indonesia, makanya kurelakan uang bonus yang sering kali nyonya berikan jika dagangannya laris terjual, uang yang kumasukan ke dalam celengan dari kaleng biskuit. Ketika itu dia berjanji akan mengembalikan beberapa hari lagi. Karena tanggal gajiannya belum sampai. Namun ketika waktu yang dijanjikannya telah lewat dia tak mengembalikan kepadaku. Tiga minggu lalu ketika aku bertanya kepadanya dia menjawab jika uang dua bulan gajinya sudah habis terpakai. Aku merasa dihianati oleh temanku sendiri. Pada hari aku menagihnya itu, anakku yang paling tua baru saja menelfon, mengatakan kalau ayahku pingsan di sawah dan butuh uang segera untuk berobat.

”Iya, aku sudah gajian kemarin, tapi tadi pagi sudah kukirimkan ke indonesia.”

“Apakah kamu kawatir aku tak membayarnya? Sungguh jika aku gajian akan kubayar sekalian dengan yang kemarin.”

“Aku tidak ada lagi, maaf.”

“Apakah kau tak ada simpanan sedikitpun, bukankah nyonyamu sering memberimu bonus?” Kata Titin penuh harap.

“Maaf Titin, walaupun ada simpanan aku tak akan meminjamimu lagi.” Aku hanya bisa menjawab itu dalam hati. Tidak kuucapkan kepadanya. Pepatah jawa mengatakan ajining diri soko lathi, yang artinya harga diri seseorang ada pada lisannya. Jika lisannya tak bisa lagi memegang janji bagaimana mungkin orang lain akan bisa percaya.

“Bonus dari nyonya sudah kau pinjam dua bulan lalu. Sekarang semua uangku sudah kukirimkan. Anak-anakku juga harus membayar uang sekolah, sama seperti anakmu.” Aku berusaha menjawab tanpa menyakiti hatinya.

“Kau pasti bohong, tidak mungkin kamu tidak punya uang. Kamu hanya tidak mau menolongku. Kamu takut aku tidak membayarnya. Dasar kamu tak bisa dijadikan teman.” Titin bicara dengan marah lalu terdengar bunyi tut tut tanda telfon sudah tak tersambung.

Menolak meminjami teman disaat mereka butuh memang menyakitkan bagiku. Aku paling tidak tega jika mendengar ada teman yang kesusahan. Tapi terjatuh di jurang yang sama adalah sebuah kebodohan. Titin sudah menyia-nyiakan kesempatan yang kuberikan. Dengan tidak merasa berdosa dia telah mengingkari apa yang diucapkannya, bagaimana aku masih bisa mempercayainya. Ketika ayahku sakit, aku menagih uang yang dipinjamnya tapi jangankan membayar hutang, bersimpatipun tidak.

Titin dan aku bekerja dengan gaji yang sama sesuai standar pemerintah Taiwan. Tapi entah mengapa Titin selalu saja ribut mencari pinjaman kepadaku juga kepada teman-teman yang lain. Mungkin gaya hidupnya di Taiwan membuat pengeluarannya sangat besar sehingga dia tidak bisa menyisihkan untuk keluarganya.

*****
Hawa dingin masih menyelimuti Taiwan. Walaupun sudah memakai baju berlapis aku tetap merasa sangat dingin. Di luar angin bertiup kencang. Semua jendela rumah ini kututup rapat, namun kusisakan sedikit celah agar udara di rumah ini tidak begitu pengap. Kupakai switer tebal yang diberi oleh menantu nyonya. Kedua menantu nyonya mempunyai tubuh yang hampir sama denganku sehingga baju yang mereka pakai ukurannya tidak berbeda denganku. Hal itu membuat mereka sering memberiku pakaian yang mereka sudah tidak ingin memakainya. Dengan senang hati kuterima pemberian mereka karena itu berarti aku bisa menghemat pengeluaran. Aku memang sangat jarang membeli pakaian karena tanpa membelipun pakaianku sudah sangat banyak.

Ini hari kedua tahun baru cina. Keluarga majikanku sedang berkunjung ke rumah orang tua nyonya di Chiayi. Tadi sebelum mereka berangkat nyonya mengatakan kalau mereka akan pulang lusa. Selama seminggu setelah tahun baru cina majikan tidak berjualan. Aku yang biasanya sibuk bekerja sekarang sedang menikmati waktu istirahat. Kemarin baru saja kuterima hong bao (amplop merah) dari majikan. Hong bao yang berisi 5 lembaran warna biru yang menjadi bonus bagiku. Ini adalah rejeki dari Allah yang harus kusyukuri karena mendapatkan nikmat dari-Nya.

Memberi hong bao kepada pekerja ataupun kepada generasi muda yang belum menikah merupakan tradisi dan budaya masyarakat Tionghoa pada saat merayakan tahun baru cina. Nilai uang yang ada di dalam hong bao hanyalah untuk menyenangkan si penerima hong bao, yang benar-benar memiliki arti adalah amplop merahnya. Hong atau merah merupakan warna kesenangan masyarakat Tionghoa yang memiliki arti kebahagiaan, kesenangan, keberuntungan, hoki dan semangat. Kebudayaan hong bao berasal dari konsep untuk saling membalas kebaikan diantara sesama dan menunjukan keharmonisan antar anggota keluarga, teman dan saudara.

Pada malam tahun baru, seluruh keluarga majikan berkumpul di rumah ama untuk menikmati makan malam. Rumah ini menjadi penuh sesak. Ama terlihat sangat gembira dan terus tersenyum melihat tingkah laku cucu dan buyutnya yang riuh. Kesempatan berkumpul seperti malam itu adalah kesempatan yang sangat langka. Selama ini mereka sibuk dengan urusan masing-masing namun pada malam tahun baru semua orang menyempatkan diri untuk berkumpul bersama keluarga besar.

Sekarang aku duduk di sofa, disamping ama sambil memijat bahunya. Kutemani dia menonton opera di televisi. Aku menyayangi ama seperti menyayangi keluargaku sendiri, dia seperti telah nenekku sendiri. Bagiku tidak soal ketika tengah malam harus mengganti popoknya karena telah penuh dengan air kencing atau karena dia berak. Begitupun pekerjaan tambahan di gudang daging babi yang kadang terasa sangat berat. Itu adalah pekerjaan yang harus kujalani dengan iklas. Seberat apapun pekerjaan jika hati gembira dan ridho maka semua akan terasa ringan.
.
Selalu kuingat nasehat ibu sebelum aku berangkat ke PJTKI dulu, “Nak, berbuat baiklah kepada orang lain maka Allah akan membalasmu dengan kebaikan yang setimpal. Bekerjalah dengan keiklasan tanpa mengeluh walaupun itu berat maka Allah akan meringankannya.”

Mendengar suara anak-anak ketika aku menelfon mereka, lalu mereka berebut untuk bicara denganku adalah caraku mengobati kerinduan kepada mereka. Si sulung yang sudah SLTA sudah bisa menjaga dan mengajari adik-adiknya. Anak keduaku sudah kelas tiga SMP dan akan segera menempuh ujian akhir sementara anak nomer tiga sibuk mempersiapkan lomba cerdas cermat di kecamatan yang diikuti oleh anak anak kelas 5 SD. Si bungsu yang saat kutinggal baru bisa membalik badan kini sudah pandai berkejaran dengan teman-temannya, usianya sudah hampir tiga tahun. Mendengar kabar anak-anak tumbuh sehat dan pintar menjadi hal yang sangat membahagiakan.

Tidak mengapa sekarang aku harus menjadi tulang punggung keluargaku. Kalau aku tidak bekerja disini, pasti aku tidak bisa membantu perekonomian keluarga orang-tuaku. Tidak bisa membantu biaya berobat ayah dan tidak bisa menampung adikku dan dua anaknya. Semua ini adalah sebuah nikmat dari-Nya.

Ada banyak yang harus kusyukuri atas nikmat-Nya. Ketika Allah menghadirkan wanita lain dalam hidup suamiku, itu pasti teguran dari Allah, karena cintaku pada mas Hasan terasa berlebihan dibanding dengan rasa cintaku pada-Nya. Dia pasti cemburu, maka Allah memberikan kasih sayang-Nya kepadaku dengan cara seperti itu. Mas Hasan hanya manusia biasa, temanku Dewi juga perempuan biasa, begitu juga aku. Beberapa pekan lalu Dewi menelfonku dan meminta maaf atas kesalahannya. Dewi memutuskan untuk bercerai dengan mas Hasan dan pergi bekerja ke kota lain. Akupun memaafkan Dewi. Kepadanya kukatakan seribu terima kasih atas semua pelajaran dan hikmah yang bisa kuambil.

“Terima kasih kamu telah membuatku sadar bahwa aku memiliki sesuatu yang berharga dalam hidupku, yaitu suamiku. Terima kasih karena kamu mengingatkanku untuk selalu menjaga baik-baik apa yang kupunya. Kamu telah mengajarkanku rasa sakit dihianati. Kini aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak melakukan hal yang sama sehingga orang lain tidak perlu merasakan yang kualami. Maaf karena kelalaianku, menyebabkanmu melakukan kesalahan itu.”

Aku teringat pada sebuah tulisan yang pernah kubaca pada sebuah novel berjudul RINDU karya Tere Liye, “Selalu ada alasan terbaik kenapa sesuatu itu terjadi, meski itu menyakitkan, membuat sesak dan menangis. Kita boleh saja tidak paham kenapa itu harus terjadi, kita juga mungkin tidak terima. Tapi Tuhan selalu punya skenario terbaiknya. Jadi jalanilah dengan tulus. Besok, lusa mungkin kita bisa melihatnya dengan tersenyum lapang.”
~Tamat~

 

SELANG KEHIDUPAN

EMBUN / SELANG KEHIDUPAN / WANTI / Indonesia / tenaga kerja asing SELANG KEHIDUPAN Pagi yang tidak pernah pungkiri janjinya untuk selalu hadir buat seisi dunia, juga selalu punya cara untuk membuat semua penghuni bumi bangun dan tersenyum lagi. Di sebuah kontrakan tanpa jendela. Seorang gadis baru saja terbangun dari tidurnya. Ia bergegas mandi dan merapikan diri. Tujuannya … Continue reading “SELANG KEHIDUPAN”

EMBUN / SELANG KEHIDUPAN / WANTI / Indonesia / tenaga kerja asing

SELANG KEHIDUPAN
Pagi yang tidak pernah pungkiri janjinya untuk selalu hadir buat seisi dunia, juga selalu punya cara untuk membuat semua penghuni bumi bangun dan tersenyum lagi.

Di sebuah kontrakan tanpa jendela. Seorang gadis baru saja terbangun dari tidurnya. Ia bergegas mandi dan merapikan diri. Tujuannya kali ini adalah pergi ke tempat penampungan. Jauh dari ibu dan adik-adiknya. Ia nekat pergi ke penampungan. Baginya tempat itu adalah salah satu tempat persinggahan, yang bisa mengantarkannya untuk pergi sejauh mungkin dari tanah kelahirannya. Untuk mewujudkan cita-cita dan memenuhi kebutuhan ibu dan juga adik-adiknya.

Ia sudah terlalu bosan dengan keadaan hiruk—pikuk Ibu kota tempatnya bekerja yang hanya cukup memenuhi kebutuhan untuk makan saja. Baginya tempat penampungan itu tak begitu special. Tapi ia mempelajari ilmu kehidupan dari para sahabatnya yang selalu berkeluh kesah kepadanya.

Gadis pernah hidup selama lima purnama di tempat itu. Sebelum dirinya singgah di Taiwan.
Tempat yang bagaikan penjara. Untuk sekedar keluar menghirup udara segar, tak pernah ia rasakan. Waktu begitu cepat melesat dan mengantarkannya terbang ke bumi Formosa.

Ia bekerja pada keluarga yang sangat berada. Pasiennya seorang wanita yang masih cantik walaupun sudah lansia.

Di ruang tunggu masih sama dipenuhi para jiwa yang terkapar, hanya oksigen setia berkabar. Mesin denyut waktu penentu, selang-selang masih setia menyatu. Amplikasi perlahan menggerogoti tubuh yang mulai tak berdaya. Dingin bagai bongkahan es, panas bagai api lepas.

Di ujung terlihat jendela, ketukan embun merangkang segera. Hingga tetesannya menahan dahaga lelah. Senyumnya tampak ada, meski wajah mulai tak berseri. Akankah menunggu akhirnya pergi.

Di rumah sakit seorang perempuan cantik itu berteriak-teriak karena kesakitan dengan penyakit yang dideritanya. Usiannya yang menjelang 87 tahun dirinya masih terlihat sangat muda. Bahkan anaknya juga kalah cantiknya.

Ketika badannya terkapar di ranjang, hanya peralatan medis yang setia menempel. Jantungnya pun sudah bocor dua kali operasi. Kini tubuhnya tergantung dengan peralatan medis. Tiap malam selalu meraung-meraung suaranya meminta tolong.

Sang anak pun menyuruh pihak medis memasang peralatan yang lengkap dan mahal. Mereka sanggup membayar semuanya bahkan tak segan-segan mendatangkan dokter dari luar Negeri. Sayangnya para dokter dan perawat sudah angkat tangan. Mereka pun tidak bisa berbuat apa-apa?

Hanya seorang gadis yang masih setia duduk di samping ranjang pasiennya. Ia masih saja setia berada tempat itu. Berharap yang dirawatnya pun segera pulih dan bisa tersenyum menyapa dirinya.

Sudah tiga belas purnama gadis masih setia menemani pasiennya itu. Tiap hari ketika ia memandang pasiennya hanya buliran yang selalu membasahi pipinya. Berharap mukjizat Sang Kuasa datang menghampiri. Ingatan akan rasa kehilangan selalu terpahat jelas dipikirannya. Karena baginya tidak mudah, petualangan yang sering kali di singgahi punya tempat khusus di hatinya.

Taoyuan,17-03-2016.

 

Semangat Al-Hujuraat 13 untuk Buruh Migran sebagai Pewaris para Nabi-nabi

Luciana / Semangat Al-Hujuraat 13 untuk Buruh Migran sebagai Pewaris para Nabi-nabi / Tidak Ada /  Indonesia / Ex BMI Taiwan Judul Artikel: Semangat Al-Hujuraat 13 untuk Buruh Migran sebagai Pewaris para Nabi-nabi Sebelum mencapai maksud pokok-pokok artikel ini, mari dibaca sebuah ayat dari Al-Quran sebagai berikut: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang … Continue reading “Semangat Al-Hujuraat 13 untuk Buruh Migran sebagai Pewaris para Nabi-nabi”

Luciana / Semangat Al-Hujuraat 13 untuk Buruh Migran sebagai Pewaris para Nabi-nabi / Tidak Ada /  Indonesia / Ex BMI Taiwan

Judul Artikel: Semangat Al-Hujuraat 13 untuk Buruh Migran sebagai Pewaris para Nabi-nabi
Sebelum mencapai maksud pokok-pokok artikel ini, mari dibaca sebuah ayat dari Al-Quran sebagai berikut:
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan berbangsa-bangsa,dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antaramu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha mengenal.”

(Q.S Al-Hujuraat, surat 49 ayat 13)
Mari kita sejenak kembali kepada Sidang PBB yang ke-XV pada tanggal 30 September Tahun 1960. Pada saat itu, Ir. Sukarno membacakan ayat ini dengan kewibawaan yang tinggi di hadapan seluruh negara-negara anggota PBB dan lima negara yang memiliki hak veto. Apa yang melatar belakangi Presiden pertama Republik Indonesia ini dengan ayat Tuhan itu? Adalah sebuah sinyal bagi seluruh negara-negara di dunia, bahwa Tuhan menciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa sebagai karunia dan rahmat-Nya. Yah, ini menjadi menarik bagi seluruh buruh-buruh migran di dunia.
Dari pidato Bung Karno yang ia beri judul: “To Build The New World”, atau membentuk sebuah tatanan dunia baru, yang telah sama kita mahfumi sebelumnya terjadi Perang Dunia Ke-2, atau peristiwa Kemerdekaan Republik Indonesia dari penjajahan Belanda, maka, secara tidak langsung, Bung Karno-lah yang pertama kali membuka hal ini di sana. Sesungguhnya, inilah inti persamaan hak untuk hidup dan diakui sebagai manusia-manusia yang merdeka. Inilah inti keberagaman dalam kebersamaan yang indah itu. Lalu, bagaimana kondisi hak untuk hidup ini sekarang? Terutama kepada buruh-buruh migran yang berjuang di negara-negara lain untuk mencari penghidupan yang lebih baik lagi?
Sekarang, mari sejenak kita renungi pula amanat dalam Konvensi Internasional tentang perlindungan hak semua buruh migran dan anggota keluarganya, yang termaktub dalam Organisasi Buruh Internasional (ILO), seperti dalam konvensi mengenai migrasi untuk bekerja (No. 97), konvensi mengenai migrasi dalam keadaan teraniaya dan pemajuan persamaan kesempatan dan perlakuan bagi buruh migran (No. 143), atau mengenai konvensi penghapusan tentang kerja paksa (No. 105), sudahkah semua instrumen-instrumen ini (juga dari seluruh instrumen-instrumen di dalam sistem dan aturan migran negara-negara) berjalan dengan normal?
Saya kira, berdasarkan pengalaman saya yang bekerja sebagai buruh migran di Taiwan, konvensi-konvensi dan instrumen-instrumen ini bahkan belum tersosialisasi dengan baik. Saya kira pula (lagi dan lagi), sebagai buruh-buruh migran, sudah sepatutnya mempelajari konvensi-konvensi internasional ini, berikut seluruh perangkat-perangkat hukum lainnya, agar menjadi pegangan sebagai pengingat, jika suatu ketika mendapat kesulitan. Kesulitan pertama kali hidup untuk bekerja di sebuah negara adalah beradaptasi primer (utama). Adaptasi dengan sistem hidup di negara itu, adaptasi dengan hukum-hukum positif di negara itu, adaptasi dengan bahasa nasionalnya, adaptasi dengan keanekaragaman budaya dan seni, adaptasi dengan segala keramahan dan kejahatan yang tampak atau samar di negara itu. Banyak adaptasi-adaptasi lainnya yang bersifat sekunder, misalnya, pergaulan hidup, cara berdandan, tentang makanan, tentang tempat tinggal, tentang majikan, tentang transportasi, dan hal-hal sekunder lainnya yang penting pula di sini dikenal.
Kita, atau Anda yang saat ini menjadi buruh migran, tentu tak ingin mendapatkan masalah saat sudah di negara lain. Jadi, sebelum keberangkatan, belajarlah tentang seluruh aspek-aspek pokok sosial budaya dan hukum yang menjadi sendi-sendi negara tujuan itu. Tentu pula skill/keterampilan yang dimiliki terus ditingkatkan. Kita memiliki negara, sedang mereka adalah sebuah negara lain yang menjadi tumpuan hidup, maka, kitalah yang sebenarnya selangkah maju berdasarkan ayat Tuhan yang dibacakan oleh Bung Karno itu. Bukankah kita yang mendatangi mereka? Bukankah inilah proses untuk mengenal suku-suku dan bangsa-bangsa yang banyak itu? Bukankah kita menjadi paham dengan segala sistem negara yang dimiliki mereka? Menurut saya, mereka yang telah siap dengan pondasi yang kuat sebelum berangkat, maka ini yang menjadi kebaikan yang akan didapatkan. Bukan nantinya di sana menjadi terlunta-lunta, menderita, menjadi beban di negara tujuan.
Tetapi, memang, tidak semua kisah hidup itu bak cerita Cinderella, atau kisah dongeng oleh HC. Andersen yang selalu berakhir bahagia. Banyak kawan-kawan buruh migran yang mengalami nasib buruk. Banyak dari mereka kita dengar di berita-berita menjadi pesakitan, terhukum berat, akibat situasi yang buruk dialaminya saat bekerja. Ada dua kemungkinan menurut saya, pertama, situasi buruk itu akibat ketidaksiapan mental dan fisik sebelum berangkat ke tujuan, atau memang mendapatkan bos atau majikan yang berbudi lalim dan kejam. Jika kemungkinan pertama ini yang terjadi, maka, ini menjadi barometer pemerintahan negara yang mengirimkan buruhnya, agar melakukan seleksi yang ketat. Artinya, tes-psikotest harus benar-benar dilakukan. Pemerintah jangan hanya melihat ‘target’ pengiriman buruh-buruh, tetapi benar-benar men-seleksi yang terpilih. Mengapa? Sebab, jika proses pengiriman ‘ngasal’ saja yang dilakukan, maka, akibat yang ditimbulkan berdampak negatif sangat besar. Apa mau, buruh yang menjadi ‘martir-martir’ itu malah membuat coreng-moreng wajah negara sendiri? Akibat proses rekrutmen yang tidak konsisten?
Jika kemungkinan kedua yang didapatkan, hal inilah yang menjadi perhatian serius pula. Maka, pada kemungkinan satu, sudah diberikan penyuluhan—untuk mengantisipasi—bagaimana jika buruh migran yang sudah siap tempur itu—suatu ketika—mendapatkan bos, perusahaan, atau majikan yang jahat. Tentu mereka diberikan cara-cara atau alternatif lainnya. Misal, ke mana harus dilaporkan saat mendapatkan kejadian pahit ini. Hal inilah yang harus dilakukan, walaupun dengan syarat yang minim sekalipun.
Ada hal lain yang menurut saya bisa membantu para buruh migran ini aman dan selamat hidup bekerja di negara orang. Pemerintah melalui Departemen Luar Negeri, atau Departemen Tenaga Kerja, terus melobi kepada negara-negara tempat tujuan buruh migran, agar mereka memperhatikan keselamatan dan kesejahteraan buruh-buruh kita ini, dari bos, perusahaan, atau majikan yang tidak manusiawi. Saya kira, pemerintah perlu pula menanamkan secara simbolis kepada negara-negara tujuan, bahwa, yang dikirimkan ini adalah manusia-manusia yang hidup dan siap bekerja dengan profesional, manusia-manusia yang memiliki harga diri sebuah bangsa yang merdeka, manusia-manusia yang sama tinggi derajatnya dengan para bos-bos atau majikan-majikan itu. Bukan dilihat dari sisi pangkat dan derajat, tetapi dilihat dari sisi kemanusiaannya. Saya yakin, jika pelan-pelan ini ditanamkan, dan memang benar-benar berniat memberikan perlindungan paling hebat kepada setiap warganegaranya yang berjuang di negeri orang, maka, tak ada kata lain: dijalankan dengan penuh tanggung jawab oleh pemerintah! Bukan hanya sekadar lipservice belaka.
Inilah sedikit sumbangsih pemikiran dari saya selaku buruh migran. Saya berharap, kepada kawan-kawan yang membaca tulisan ini, mendapatkan manfaat. Saya sebagai buruh migran tentu memiliki kisah getir juga, namun, setelah membaca tentang segala aturan dan sejarah dunia, saya berkesimpulan: “Buruh migranlah yang membawa pesan-pesan Surat Al-Hujurat ayat 13 itu.” Saya tak pernah merasa rendah diri atau minder, mengapa? Bukankah kita mendapatkan segala ilmu-ilmu yang bermanfaat di negara lain? Kita pandai berbahasa mereka. Kita tahu segala adat mereka. Kita tahu tempat-tempat wisata indah mereka. Kita paham kesulitan-kesulitan mereka. Bahkan, banyak di antara kita pun menikah dengan mereka. Inilah bekal yang kita bawa pulang nanti. Segudang pengalaman hidup yang bermanfaat ataupun pengalaman pahit—untuk membangun Ibu Pertiwi kita: Indonesia tercinta.
Tak disangka, buruh migran pula tak langsung pewaris para nabi-nabi. Membawa pesan persamaan hak dan perdamaian ke seluruh dunia. Subhanallah. Saya merasa berbahagia. Kalian pun sama. Berbahagia.

16 Maret 2016

Luciana

Anh_ Đài Loan ngàn dặm

Mai sinh / Anh_ Đài Loan ngàn dặm / Không / Việt Nam / lao động quốc tịch nước ngoài Anh ơi! Đài loan mùi biển vắng. Quanh co núi rừng xanh ngắt đường đi. Em nghe, nghe tiếng hò của biển, Một khúc dân ca đậm chất tình. 101 kho vàng tháp bạc, Long lanh giữa trời tỏa … Continue reading “Anh_ Đài Loan ngàn dặm”

Mai sinh / Anh_ Đài Loan ngàn dặm / Không / Việt Nam / lao động quốc tịch nước ngoài

Anh ơi! Đài loan mùi biển vắng.
Quanh co núi rừng xanh ngắt đường đi.
Em nghe, nghe tiếng hò của biển,
Một khúc dân ca đậm chất tình.

101 kho vàng tháp bạc,
Long lanh giữa trời tỏa sức sống nơi nơi.
Là anh_ hay là người bản xứ,
Hơi ấm bao trùm giữ chọn tim em.
Cùng em đến thành Tưởng Giới Thạch.
Bước nhẹ nhàng trong lời vọng cổ xưa.
Uy nghi_trang trọng !
Kiên trúc đẹp tựa dấu ấn Đài Loan.
Em đã đến bên anh Ken Ding,
Sóng xanh ngời, ngọc bích biển khơi,
Nắng trải dài con đường đỏ rực.
Đẹp như bức tranh huyền diệu,
Của đức Mẹ thiên nhiên.

Anh ơi, Đài Loan miền đất hứa.
Mang cho người người cuộc sống giàu sang.
Gửi cho em tình người nơi Đảo Ngọc,
Xa xôi rồi Đài Loan ngàn dặm yêu.

Lao động bỏ trốn- “Giận mà Thương”

Đặng Quốc Quân / Lao động bỏ trốn- “Giận mà Thương” / không / Việt Nam / lao động quốc tịch nước ngoài Mỗi sáng thức dậy, đọc báo mạng đều thấy những tin tức như là “lao động nước ngoài bỏ trốn bị công an bắt ,lao động nước ngoài bỏ trốn mượn thẻ bảo hiểm của người … Continue reading “Lao động bỏ trốn- “Giận mà Thương””

Đặng Quốc Quân / Lao động bỏ trốn- “Giận mà Thương” / không / Việt Nam / lao động quốc tịch nước ngoài

Mỗi sáng thức dậy, đọc báo mạng đều thấy những tin tức như là “lao động nước ngoài bỏ trốn bị công an bắt ,lao động nước ngoài bỏ trốn mượn thẻ bảo hiểm của người khác để đi khám bệnh bị phát hiện…hay những tin tương tự như vậy. Thử nói xem nếu một người hỏi các bạn “ Nếu những lao động nước ngoài ấy là đồng bào của bạn, bạn cảm thấy thế nào ? “ ,tôi chả cần suy nghĩ mà trả lời ngay rằng “ giận mà thương” 。 Vì sao ư ??? Tôi xin nói về vế đầu tiên ,” giận“ Tôi luôn tự đặt câu hỏi rẳng tại sao các bạn nước tôi lại làm thế? Chắc các bạn ấy phải biết được những cái được và cái mất khi bỏ trốn rồi chứ? Chắc các bạn ấy suy nghĩ đủ chin chắn để quyết định như vậy chứ ? và gia đình các bạn ấy liệu có an tâm khi các bạn ấy làm như vậy ? Tôi giận khi các bạn tự mình từ bỏ quyền lợi được chăm sóc sức khỏe khi sinh sống và làm việc tại Đài Loan. Khi ốm đau ,sẽ không được hưởng quyền lợi như nhưng người bình thường, thăm khám bênh cứ phải dùng thân phận giả hay mượn thân phận người khác để đi khám mà trong lòng lúc nào cũng nơm nớp lo sợ bị phát hiện. chẳng phải đấy là điều các bạn muốn chăng . Nhìn những bức ảnh cuộc sống lưu vong của các bạn , tôi rơi nước mắt nhưng cũng giận lắm chứ? Các bạn có nơi ăn trốn ở có định, tuy không bằng ở nhà mình được đâu nhưng nó cũng là của riêng bạn vậy mà các bạn bỏ để chấp nhận cuộc sống chui lủi, ăn xó mó lieu, nay đây mái đó, hẳn đó mới là cách các bạn mong muốn? Tôi giân khi các bạn coi nhẹ chính sing mạng của mình. Khi không có một công việc ổn định các bạn phải dấn thân đitìm, bất chấp công việc nguy hiểm, bất chấp bản thân nguy hiểm chỉ để kiếm được tiền. Liệu các bạn có nghĩ rằng nếu kiếm tiền mà các bạn có vấn đề gì thử hỏi người nhận đồng tiền đó sẽ có cảm giác gì? Khi các bạn ra nước ngoài làm việc , các bạn đại diện cho hình ảnh tầng lớp lao động phổ thông của đất nước các bạn , nhìn vào các bạn, họ sẽ đánh giá những người đồng trang lứa với các bạn để rồi suy nghĩ tiếp tục sử dụng anh em đồng bảo của các bạn để làm việc cho công ty họ không? Nhưng thực tế thì sao ? Ngày nào cũng có lao động bỏ trốn, rồi thì rượu chè đánh nhau gây mất trật tự , rồi thì trộm cắp … Đói ăn vụng túng làm liều mà. Chính nhờ các bạn mà cơ hội cho những người có khát khao muốn sang nước ngoài làm việc chính đáng bị giảm đi một phần nào đó, chính nhờ các bạn mà mỗi khi nhận là đồng bào của các bạn thì chúng tôi nhận lại những ánh mắt ,lời nói không mấy thiện cảm . Như vậy chả phải oan uổng cho những người lao động chân chính ,cho những người thật sự cầu thị , như vậy không chỉ tôi mà người khác cũng giận các bạn. Nhưng thiết nghĩ ,”bầu ơi thương lấy bí cùng/ tuy rằng khác giống nhưng chung một giàn”, tôi cũng rất “thương” các bạn. Tôi thương các bạn vì ước mơ hoài bão đổi đời bị vùi dập không hề thương tiếc. Trước khi các bạn sang đây chắc đước vẽ ra một thế giới màu hồng mỹ mãn, công việc nhẹ nhàng, sạch sẽ, lương cao như kiểu ngồi mát ăn bát vàng, các bạn có tiền rủng rỉnh mà gửi về nhà , mà mua cái nọ cái kia. Các bạn nào có ngờ rằng chào đón mình là những công việc nặng nhọc , mệt mỏi trái ngược với những gì mình tưởng tượng hoặc được người khác vẽ ra cho mình. Khi không có hứng thú thì lấy đâu tinh thần làm việc , tôi hiểu chứ. Tôi thương khi các bạn gánh một khoản nợ khổng lồ mà với lứa tuổi đang lớn, tuổi ăn tuổi chơi như thế thì đó là một con số không tưởng. Để sang được nước khác các bạn phải chuẩn bị một khoản phí môi giới không hề nhỏ, tôi không cần đề cập đến phần lam thu , chỉ nói đến chi phí thuần thôi nhưng có gia đình nào trong nhà có đủ số tiền lớn như thế? Nói thật nếu có nhiều như thế chắc bố mẹ sẽ cho các banjhocj cái nghề tự kiếm sống chứ chẳng để con cái mình đi xa như vậy. Đa phần đều phải đi vay mượn cầm cố mới đủ số tiền cho các bạn đóng khoản phí đó, tương lai mong mỏi các bạn có thẻ trả số tiền đó .Các bạn phải từ bỏ ươc mơ của bản thân để bước sang một đất nước khác với gánh nặng cơm áo gạo tiền của gia đình. Áp lực của đồng tiền đè nặng trên đôi vai non nớt ấy.May mắn cho những ai có thể tìm được công xưởng tốt , công việc đều đặn có tang ca. Nếu rơi vào công xưởng mà không có việc, tang ca không có lấy đâu tiền mà gửi về, ước mơ của mẹ, của em làm sao có thể thực hiện? ắt hẳn tức nước thì vỡ bờ thôi, tôi tin lựa chọn bỏ trốn là điều bất đắc dĩ mà không ai muốn cả. Ai cũng có cuộc sống của riêng mình, tôi không nói các bạn nên hay không? Đúng hay sai khi bỏ trốn? Tôi cũng không là người vĩ đại gì để có thể giúp các bạn đòi lại những quyền lợi chính đáng cần được hưởng? Tôi chỉ mong các bạn suy nghĩ cho kỹ khi quyết định và sẵn sàng chấp nhận những kết quả của nó mang lại.Chỉ mong thông qua bài viết này để mọi người biết suy nghĩ của những người đồng bào- anh em của các bạn. Thân

 

 

meniti pelangi

Tri / meniti pelangi / tidak ada / Indonesia / tenaga kerja asing Meniti pelangi Seperti warna pelangi Penuh warna Begitu pula kisah anak Manusia ini Sebut saja ani… Gadis desa dari keluarga yang kurang mampu.. Ani masih muda baru lulus smp Tapi karena ketidak mampuan orang tuanya.. Ani memilih berhenti sekolah. membiarkan kakak dan adik saja yg … Continue reading “meniti pelangi”

Tri / meniti pelangi / tidak ada / Indonesia / tenaga kerja asing

Meniti pelangi
Seperti warna pelangi
Penuh warna
Begitu pula kisah anak Manusia ini
Sebut saja ani…
Gadis desa dari keluarga yang kurang mampu..

Ani masih muda baru lulus smp
Tapi karena ketidak mampuan orang tuanya..
Ani memilih berhenti sekolah. membiarkan kakak dan adik saja yg sekolah..
Di benak pikiran ani…aku harus bisa memenuhi keinginanku kebutuhanku sendiri tanpa harus menyusahkan bpk ibu…
Dari gemblengan hidup yg pas pas an ini lah timbul niat gadis ini..
Untuk bekerja,,,
Waktu itu ada pengumuman di Depnaker tempat tinggal ani
Sebuah pabrik triplek membutuhkan karyawan dan karyawati
Lalu dengan tekat dan hny berijazah smp ani ingin mendaftarkan diri.
Sore itu di dapur sambil membantu mak nya masak
Ani mengutarakan niatnya.
Mak”ada pengumuman di Depnaker lewat radio..
Pengumuman apa nak..?
Di Kalimantan timur membutuhkan tenaga kerja mak.
Ani ingin ndaftar
Ani pengin kerja mak.
Nak itu jauh,,, apa kamu ngk pengin meneruskan sekolahmu?
Ngk mak,, aku pengin kerja aja.
Nak apa kamu nanti ngk iri mbakmu dan adik mu sekolah..?
Ani tetap bersikeras…
Ngk mak biar mbak dan adik aja yg sekolah,
Ani tetap pengin kerja biar bisa membeli apa yg ani mau dan bisa membantu mak bapak.
Lalu dengan izin kedua orang tuanya
Ani mendaftarkan diri dan di terima.
Berangkatlah gadis kecil itu ke pulau seberang dengan sejuta mimpi dan harapan.
Tapi memang kadang tak seindah yg di impikan.
Setelah beberapa bulan bekerja
Karena punya wajah yg lumayan cantik.
Ani pun banyak yg mendekatinya
Dan ani pun terlena hingga menerima cinta salah seorang pria
Bahkan mengajaknya lari dari kontrak kerja yg belum finis.
Dengan umur yg terbilang masih muda 15 thn
Jatuh cinta hingga lupa niatnya dan tujuannya,
Lalu mereka berdua pulang kampung berniat untuk menikah..
Setelah menikah,,,,ini awal dari penderitaan ani..
Yg bermimpi meniti pelangi kehidupan
Ternyata penderitaan yg di dapatkan.
Suami yg di cintainya menjualnya ke tempat makelar untuk di jadikan pelacur..
Air mata terus menjadi teman setianya..ketidak berdayaa wanita Malang ini ada yg simpati.
Seorang pemuda cina menebusnya
Agar ani bisa bebas dari lembah hitam itu..
Kembali menjadi dilema ani yg masih muda itu.
Antar ingin kembali pulang ke kampung ato menyusul suaminya di luar pulau..
Bila memilih pulang di kampung
Ani malu dengan semua tetangga
Yg mengetahui betapa kotornya dia.
Lalu tidak ada pilihan lain kecuali menyusul suaminya..
Lalu mereka kembali hidup bersama
Ani memaafkan suaminya
Dan mengabdi sebagai istri yg baik walau sudah tidak ada cinta di hatinya..
Setelah beberapa thn berlalu
Dijalani hidup sebagai seorang istri dan ibu dari dua anaknya.
Kembali cobaan itu menerpa kesabarannya.
Pabrik tempat suami kena imbas moneter dan gulung tikar.
Lalu ani dan keluraga kecilnya harus plang ke kampung di tempat mertuanya..
Lalu suami ani menyuruh ani untuk menjadi tkw,,
Walau dengan berat hati karena harus berpisah dengan anaknya..
Tapi ani juga ingin agar anaknya bisa sekolah,, maka ani pun berangkat mengikuti proses tujuan negara Taiwan.
ani bermimpi ingin meraih pelangi
Dengan bekerja keluar negeri
Tetapi kembali semua tak seindah mimpi..
Ani terjerembab pada lingkungan yg bebas.
Mungkin kesakitan hatinya
Keputus asaan meraih pelangi kehidupan yg tak kunjung di tangan
dan tak kuatnya iman hingga menjadi pencandu narkoba..
Melapiasankan kekecewaan
Dan penderitaan pada benda yg tidak menolongnya tapi menjerumuskan dirinya hingga harus menjadi tkw kuburan…..semakin bebas tanpa kendali..
Ketergantungan obat yg membuat ani harus membayar mahal
Bukan hanya harus kehilangan pekerjaan, keluarga bahkan nyawanya…
Ani di temukan tewas di sebuah tempat kontrak an karena overdosis dalam mengkonsumsi narkoba.
Ani yg Malang
Ani yg tak pernah meraih pelangi
Karena tak sabar menunggu hujan reda…
Yaa kebahagiaan itu pasti butuh perjuangan..
Kebahagiaan itu pasti ada cobaan
Seperti pelangi akan ada
Setelah ada mendung lalu hujan itu reda….
Maka jangan pantang menyerah
Untuk meraih pelangi kita
Sabar dan terus berusaha
Pasti kita bisa meniti pelangi jingga

# FORMOSA FATAMORGANA #

SAROH / PUISI / TIDAK ADA / Indonesia / tenaga kerja asing # FORMOSA FATAMORGANA # FORMOSA adalah TAiwaN Indah Nan Elok Tuk DipaNdanG Tp TerkadaNg BuaT KesediHaN NamuN Banyak ORang Ingin MenyeberanG dalam KeadaaN FORMOSA FATAMORGANA PENUH PANCA ROBA KELUH KESAH SUSAH SENANG PENUH TANTANGAN FORMOSA FATAMORGANA KU ARUNGI DGN SABAR DAN DOA AGAR … Continue reading “# FORMOSA FATAMORGANA #”

SAROH / PUISI / TIDAK ADA / Indonesia / tenaga kerja asing

# FORMOSA FATAMORGANA #

FORMOSA adalah TAiwaN
Indah Nan Elok Tuk DipaNdanG
Tp TerkadaNg BuaT KesediHaN
NamuN Banyak ORang Ingin MenyeberanG
dalam KeadaaN

FORMOSA FATAMORGANA
PENUH PANCA ROBA
KELUH KESAH SUSAH SENANG
PENUH TANTANGAN

FORMOSA FATAMORGANA
KU ARUNGI DGN SABAR DAN DOA
AGAR KELAK MENJADI INDAH PADA WAKTUNYA

FORMOSA FATAMORGANA
TERIMA KASIHQ PADANYA
KARNANYA Q JADI DEWASA
BERDEPAN DLM SETIAP UJIAN

FORMOSA FATAMORGANA
SEMANGAT ADALAH PEDOMAN
DALAM MENJALANI KEHID