Eka Dwi Saputri / Bersembunyi di Balik Kontrak Kerja / Tidak ada / tenaga kerja asing
Dua ribu lima ratus lima puluh lima hari telah berlalu, pertama mengijakkan kaki di bumi Formosa masih terekam jelas dalam memori ingatanku.
Sampailah di sebuah apartemen elit aku yakin pasti sang pemilik orang yang kaya raya.
Detak jantungku tak menentu napas tersenggal pikiran melayang tak menentu membayangkan pekerjaan yang akan aku hadapi kelak.
Maklum aku belum pernah bekerja setelah lulus SMA.
Sepertinya ejenku menangkap apa yang aku pikirkan raut wajahku terlihat tegang bisa dibacanya.
“Eka, apakah kamu baik-baik saja?”
“Jangan takut,” Lanjutnya sembari merangkul pundakku.
Aku hanya menganggukkan kepala dan tersenyum, sebenarnya aku ingin menjawab dan menjelaskan kegundahan yang sedang aku rasakan namun kendala bahasa yang belum banyak kukuasai. Aku pun berjalan di samping mengikutinya yang mengantarkanku menuju tempat kerja dimana menjadi bagian perjalanan hidupku kini.
Siang yang terik panas tak kalahnya musim panas di Indonesia. Taiwan sedang musim panas ketika aku datang. Setiap sudut apartemen yang kami lewati terdapat interior indah, taman dan air mancur dikelilingi bangunan apartemen megah dengan penjagaan satpam di pintu utama terdapat ruang loby membuat suasana terlihan aman dan nyaman.
Sungguh aku sangat beruntung mendapatkan pekerjaan yang tidak begitu berat, tempat yang layak serta bos yang baik hati.
Di sini ternyata aku tak bekerja sendiri ada perawat- perawat dari Negara lain seperti Filipina, Vietnam dan juga dari Talu.
Nina teman samping kamarku dia berasal dari Semarang – Indonesia, Ling Ling dari Vietnam dan Jove berkewarganegara Filipina mereka bertiga kawan yang paling akrab diantara pekerja lainnya.
Hari pertama aku mulai bekerja berjalan lacar, seniorku semua baik dengan sabar mereka mengajariku, aku pun tidak sungkan menanyakan apa yang tidak aku pahami dengan berbekal mandarin seadanya dan bahasa inggris Alhamdullilah aku tidak mendapati kesulitan dalam komuikasi dan beradaptasi dengan lingkungan baruku.
Sore itu sepulang kerja aku berjalan-jalan di taman dekat asrama kami di sana ramai anak-anak kebetulan terdapat tempat bermain. Aku melihat anjing berwarna putih dari kejauhan anjing kecil itu berlari menuju ke arahku ia melompat-lompat ketika berada di dekatku bermaksud mengajakku bermain. Sungguh lucu dan menggemaskan anjing itu, pemiliknya tersenyum ramah kepadaku yang takut mendekati anjingnya. Bukan takut tapi lebih tepatnya umat islam tidak boleh terkena najis anjing.
“Kamu pekerja baru di panti jompo itu ya? Aku tak pernah melihatmu sebelumnya,” tanya pemilik anjing yang lucu tadi.
“Iya, baru datang kemaren. Anjingmu lucu dan menggemaskan bolehkan aku bermain dengannya? Siapa namanya?” Tanyaku menggunakan bahasa inggris.
“Tentu saja boleh. Namanya Momo,” Jawabnya sambil tersenyum.
Sejak pertemuan itu hampir setiap hari kami bermain dan seolah ajing itu tau bahwa aku tak bisa bersentuhan dengannya. Momo setiap kali melihatku dari kejauhan ia berlari mendekati setelah dekat hanya melompat-lompat mengitari tubuhku tanpa menyentuh sedikitpun. Ah! Kamu memang anjing yang cerdas.
“Maafkan aku momo, bukan aku tak mau menyentuhmu dan membelai bulu indahmu namun dalam agamaku tak dibolehkan,” bisikku dalam hati.
****
Minggu pagi yang cerah, angin menembus jendela kamarku yang sengaja aku buka semalaman hanya tertutup jendela kasa. Mentari bisa dengan leluasa membagikan vitaminnya ke tubuhku. Musim panas tahun ini aku begitu menikmati.
Teman kerja tak hanya sekedar teman lagi sudah terjalin persaudaraan yang erat, apa pun kami saling berbagi sunggung merekalah pengganti keluarga saat di perantauan.
“Jov, kamu liburkan hari ini? Nanti pulangnya tolong belikan martabak ya di Warung Indonesia dekat TMS,” pintaku.
Kulihat dia sibuk berdandan merias wajahnya yang memang sudah cantik sekali pun tanpa polesan bedak dan lipstik.
Ia tidak menjawab hanya mengangguk dan tersenyum ke arahku. Kuletakkan satu lembar uang lima ratusan di meja rias dan aku pun meninggalkan kamarnya.
“Toook … Tok … Toook!” kuketuk kamar Ling Ling salah satu sahabatku.
Aku masuk setela ia bukakan dan langsung duduk di tempat tidurnya.
“Hari ini kamu libur kemana?” Tanyaku ingin tahu.
“Aku capek, mau istirahat di asrama saja,” lanjutku sambil merebakan tubuh di kasur miliknya.
Ling Ling sibuk menata baju dalam tas rangsel. Sesekali melirikku sembari mengangkat bahunya. Seolah dia bingung menjawab pertanyaanku. Dia salah satu temanku yang rajin dan gesit dalam bekerja, dia ringan tangan membantu rekan kerja tanpa pernah memikirkan dirinya yang lelah. Dari ceritanya ia adalah tulang punggung keluarga. Ayahnya sakit-sakitan, Ibu yang hanya buruh harian di sebuah toko kelontongan. Ia pun membiayai adik-adiknya yang masih kecil. Melihat kegigihannya bekerja, diri ini tak ada apa-apannya yang kadang masih mengeluh. Sungguh aku sangat kurang bersyukur.
“Aku pamit dulu ya. Aku buru-buru hari ini ada kerja sampingan bersih-bersih di tiga rumah,” Jawabnya singkat.
Secepat kilat punggungnya sudah tak terlihat lagi meninggalkan aku yang masih rebahan di tempat tidurnya.
Waktu libur ia gunakan mencari uang tambahan dengan bekerja apa saja yang penting tidak mencuri katanya. Terkadang ia bekerja di restauran, kadang menjaga anak, dan juga membersihkan rumah milik warga pribumi yang membutukan tenaganya. Upah yang ia dapat dihitung per jam. Rata-rata per jamnya 120 dolar Taiwan.
Sebenarnya aku kasihan padanya tapi apalah dayaku? Karena aku pun bekerja di sini demi cita-citaku bisa melanjutkan study hingga kejenjang yang lebih tinggi kelak.
Aku mengkawatirkan keadaannya andai saja ketahuan pihak berwajib pasti mendapatkan sangsi keras.
Belum saja aku beranjak dari kamar Ling Ling, Nina datang membuyarkan lamunanku. Aku menoleh ke arahnya yang tiba-tiba sudah duduk di dekatku.
“Ka, ikut yuk ke kos-kosanku. Ada proyekk besar nih! Aku butuh tenagamu.”
Nina sudah sepuluh tahun di Taiwan bahkan dia punya rumah yang dia sewa untuk bisnis tata rias pengantin. Aku pernah sekali diajak ke rumah itu yang didekor layaknya studio rental kostum pengantin. Sunggu aku terkagum-kagum dibuatnya, Nina membangun bisnis sejak dua tahun terakhir, ia menyewakan baju pengantin dari berbagai adat daerah Indonesia dan gaun modern.
Ia pun merekrut teman-teman dari Indonesia yang sedang bekerja di Taiwan sebagai team rekan kerjanya mulai dari membantunya merias, fotografer hingga video shooting.
Luar biasa! Harga sewa satu set kostum pun ribuan dolar Taiwan bahkan bisa puluhan ribu.
“Eka! Kok bengong sih … Buruan siap-siap! Bantu aku ya, satu orang teamku sedang cuti jadi kurang tenaga. Ini proyek besar. Nanti aku kasih bonus lebih deh buat kamu,” pintanya.
Aku masih tak bergerak. Mengumpulkan tenaga dan merangkai kata untuk menolak dengan tidak membuatnya kecewa.
“Eka … Please bantu aku, aku butuh banget tenagamu,” pintanya sambil memelas.
“Maafkan aku Nina, aku tak bisa membantumu. Aku takut, Sekali lagi maafkan aku. Nina, aku takut terjadi sesuatu dan berakibat fatal.”
“Yang penting tidak ketahuan, ya sudah kalau gak mau,” Jawabnya seraya meninggalkanku sendiri.
Sering aku mengingatkan sahabat-sahabatku tapi mereka tak mengindahkan. Terkadang ingin aku melaporkan mereka kepada yang berwajib namun alangkah jahatnya aku. Ah! Serba salah. Mereka sahabatku sekaligus saudara tidak mungkin aku memukulnya dari belakang. Namun, jika tidak kulaporkan berarti aku ikut menyembunyikan sesuatu yang salah di muka bumi ini. Sungguh bagaikan buah simalakama hidupku.
“Tuhan … Ampuni hambaMu yang tiada daya ini.”
****
Pukul 22:00 batas waktu penghuni asrama harus sudah berada di dalam semua tanpa terkecuali, ketat memang aturan di asrama kami bahkan kami tak diijinkan tidur di luar asrama sekalipun itu jatah libur. Dan satu lagi orang luar tak diperkenankan masuk ke asrama kecuali di ruang loby.
Walau peraturan super ketat kami nyaman tinggal di sini buktinya aku sudah lebih dari tujuh tahun.
“Kreeeeeeggggg…. “
Suara gerbang di tutup oleh satpam piket malam ini. Berarti Jove sudah pulang. Aku bergegas menuju kamarnya berniat menanyakan titipanku pagi tadi. Sudah lama sekali aku tidak makan martabak kue terang bulan kesukaanku. Hari ini aku tak bisa menahan hasrat untuk menikmati kue tersebut.
“Took… Tok … Tok,” Kuketek pelan pintu kamarnya.
“Masuk kamar tidak dikunci,” Suaranya terdengar dari dalam.
Kulihat Jove sedang menghitung uang di atas kasurnya dari recehan hingga ribuan.
“Ada yang bisa aku bantu?” Candaku.
Dia hanya tersenyum dan mempersilahkan aku duduk.
“Itu titipanmu di meja, dan ini uangmu tadi pagi aku kembalikan gak usah bayar.”
“Pakai uangku saja,” Lanjutnya.
“Bulan ini keuntunganku tiga kali lipat gaji bulanan kita kerja,” Jelasnya.
Iya, Jove bekerja dip anti jompo ini sambil jualan online melalui facebook, ketika libur ia bawa barang pesanan kostumer ada yang ia kirim melalui kantor pos ada juga kostumer yang bertemu di aula TMS untuk mengambil barang pesanannya. Berbagai macam barang dagangannya dari mulai baju, sepatu, sandal, tas dan juga asesoris wanita bahkan barang elektronik. Terkadang dia libur membawa koper seperti orang yang hendak pergike luar negri.
Pantas saja jika keuntungannya bisa mencapai tiga kali lipat gaji bulanan.
“Tidak Jove, aku harus membayar titipanku ini. Walau keuntunganmu besar itu kerja kerasmu sendiri dan kamu tetap harus irit agar bisa membantu keluargamu di rumah,” jawabku.
Namun, ia tetap memaksa mengembalikan uangku. Dengan berat hati aku pun mengambil kembali uangku.
“Baiklah, kalau begitu kue ini kita makan bersama ya?” Pintaku.
Tanpa pamit padanya aku keluar memanggil Nina dan Ling Ling untuk ke kamar Jove. Sembari makan martabak kami ngobrol saling curhat satu sama lain. Indahnya kebersamaan ini seakan tak ingin cepat berlalu.
Tak terasa hampir satu jam kami mengobrol. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan maka aku piker ini waktu yang tepat untuk mengatakan pada mereka rencana kepulanganku besok pagi 31 Mei 2016.
“Jove, Nina, Ling Ling,” Sapaku.
Disambut hening seketika, mereka memandangi tatapan wajahku seolah mereka sedang menunggu sesuatu yang ingin aku sampaikan.
“InshaAllah, besok aku pulang ke Indonesia dan tidak akan kembali bekerja ke sini lagi,” lanjutku.
Suasana masih hening, jove yang sedang minum pun terbatuk dan menghentikannya, membelalakkan mata.
Begitu pula dengan Nina dan Ling Ling.
“Mengapa mendadak sekali,” protes Jove.
Ini bukan mendadak kawan. Ini sudah lama aku rencanakan namun belum ada waktu yang tepat untuk berbicara pada kalian. Dan memang sengaja aku rahasiakan selama ini.
Ini bukan karena kalian tak mengindahkan nasehat-nasehatku. Bukan! Karena aku sudah menata rencana kehidupanku di masa mendatang.
Aku bahagia berada di sini di antara kalian, pengalaman di negeri Formosa banyak hal mengajarkanku kemandirian, kedisiplinan, kebersihan dan kepedulian akan sesama. Tanpa sepatah kata pun kami saling berpeluk. Entah kata tak mampu terucap dari bibir, kami hanya mampu merasakan hangatnya pelukan satu sama lain.
Malam ini kami membiarkan tubuh kami berdekatan tidur satu kamar tanpa ada satu suara yang terucap. Seakan kami tak ingin berpisah hingga kami tertidur pulas. Diam-diam aku bangun meninggalkan mereka untuk ke kamarku dan menulis sepucuk surat perpisahan.
Yang akan aku selipkan di kamar Jove besok pagi sebelum aku meninggalkan Formosa.
***
Taipei, 2016 Mei 31
Pukul 01:40
Teruntuk sahabatku tercinta,
Jove, Nina & Ling Ling.
Sungguh sebuah anugrah bisa mengenal kalian menjadikanku sahabat bahkan saudara di negri yang jauh dari sanak family. Bertahun-tahun kita hidup bersama kita sudah sangat paham karakter masing-masing. Aku sangat sayang kalian.
Semoga persahabatan kita hingga akhirat. Aamiin ya Allah.
Duhai sahabatku,
Satu hal yang masih mengganjal dalam benak ini yang ingin aku utarakan pada kalian. Namun, sebelum aku utarakan maafkan aku yang bodoh ini, jika kata-kataku melukai hati kalian kelak.
Sungguh bukan maksud hati untuk membuat kalian terluka. Aku sangat sayang pada kalian sahabat-sahabatku.
Bisakah kalian menghentikan kegiatan kalian menambah uang pemasukan dengan bekerja di luaran, berjualan online dan juga bisnis tat arias kalian di luar jam kerja?
Aku mengkawatirkan kalian jika suatu waktu ketahuan pihak berwajib. Kalian sudah menyalahi aturan yang berlaku dengan bersembunyi di balik kontrak kerja yang sesungguhnya.
Sahabat,
hanya ini yang bisa saya pesankan sebagai bentuk kasih sayangku pada kalian. Selamat tinggal semoga kita bisa bertemu dilain kesempatan. Jaga diri kalian baik-baik ingat keluarga menunggu kepulangan kalian.
Terima kasih atas kasih sayang kalian selama ini.
Mohon maaf atas segala khilaf baik yang aku sengaja atau pun tidak.
Dariku yang mencintai kalian karena Allah,
Eka Dwi Saputri
