Bersembunyi di Balik Kontrak Kerja

Eka Dwi Saputri / Bersembunyi di Balik Kontrak Kerja / Tidak ada / tenaga kerja asing  Dua ribu lima ratus lima puluh lima hari telah berlalu, pertama mengijakkan kaki di bumi Formosa masih terekam jelas dalam memori ingatanku. Sampailah di sebuah apartemen elit aku yakin pasti sang pemilik orang yang kaya raya. Detak jantungku tak menentu napas tersenggal … Continue reading “Bersembunyi di Balik Kontrak Kerja”

Eka Dwi Saputri / Bersembunyi di Balik Kontrak Kerja / Tidak ada / tenaga kerja asing 

Dua ribu lima ratus lima puluh lima hari telah berlalu, pertama mengijakkan kaki di bumi Formosa masih terekam jelas dalam memori ingatanku.
Sampailah di sebuah apartemen elit aku yakin pasti sang pemilik orang yang kaya raya.
Detak jantungku tak menentu napas tersenggal pikiran melayang tak menentu membayangkan pekerjaan yang akan aku hadapi kelak.
Maklum aku belum pernah bekerja setelah lulus SMA.

Sepertinya ejenku menangkap apa yang aku pikirkan raut wajahku terlihat tegang bisa dibacanya.

“Eka, apakah kamu baik-baik saja?”
“Jangan takut,” Lanjutnya sembari merangkul pundakku.

Aku hanya menganggukkan kepala dan tersenyum, sebenarnya aku ingin menjawab dan menjelaskan kegundahan yang sedang aku rasakan namun kendala bahasa yang belum banyak kukuasai. Aku pun berjalan di samping mengikutinya yang mengantarkanku menuju tempat kerja dimana menjadi bagian perjalanan hidupku kini.

Siang yang terik panas tak kalahnya musim panas di Indonesia. Taiwan sedang musim panas ketika aku datang. Setiap sudut apartemen yang kami lewati terdapat interior indah, taman dan air mancur dikelilingi bangunan apartemen megah dengan penjagaan satpam di pintu utama terdapat ruang loby membuat suasana terlihan aman dan nyaman.

Sungguh aku sangat beruntung mendapatkan pekerjaan yang tidak begitu berat, tempat yang layak serta bos yang baik hati.
Di sini ternyata aku tak bekerja sendiri ada perawat- perawat dari Negara lain seperti Filipina, Vietnam dan juga dari Talu.
Nina teman samping kamarku dia berasal dari Semarang – Indonesia, Ling Ling dari Vietnam dan Jove berkewarganegara Filipina mereka bertiga kawan yang paling akrab diantara pekerja lainnya.

Hari pertama aku mulai bekerja berjalan lacar, seniorku semua baik dengan sabar mereka mengajariku, aku pun tidak sungkan menanyakan apa yang tidak aku pahami dengan berbekal mandarin seadanya dan bahasa inggris Alhamdullilah aku tidak mendapati kesulitan dalam komuikasi dan beradaptasi dengan lingkungan baruku.

Sore itu sepulang kerja aku berjalan-jalan di taman dekat asrama kami di sana ramai anak-anak kebetulan terdapat tempat bermain. Aku melihat anjing berwarna putih dari kejauhan anjing kecil itu berlari menuju ke arahku ia melompat-lompat ketika berada di dekatku bermaksud mengajakku bermain. Sungguh lucu dan menggemaskan anjing itu, pemiliknya tersenyum ramah kepadaku yang takut mendekati anjingnya. Bukan takut tapi lebih tepatnya umat islam tidak boleh terkena najis anjing.

“Kamu pekerja baru di panti jompo itu ya? Aku tak pernah melihatmu sebelumnya,” tanya pemilik anjing yang lucu tadi.

“Iya, baru datang kemaren. Anjingmu lucu dan menggemaskan bolehkan aku bermain dengannya? Siapa namanya?” Tanyaku menggunakan bahasa inggris.

“Tentu saja boleh. Namanya Momo,” Jawabnya sambil tersenyum.

Sejak pertemuan itu hampir setiap hari kami bermain dan seolah ajing itu tau bahwa aku tak bisa bersentuhan dengannya. Momo setiap kali melihatku dari kejauhan ia berlari mendekati setelah dekat hanya melompat-lompat mengitari tubuhku tanpa menyentuh sedikitpun. Ah! Kamu memang anjing yang cerdas.

“Maafkan aku momo, bukan aku tak mau menyentuhmu dan membelai bulu indahmu namun dalam agamaku tak dibolehkan,” bisikku dalam hati.

****

Minggu pagi yang cerah, angin menembus jendela kamarku yang sengaja aku buka semalaman hanya tertutup jendela kasa. Mentari bisa dengan leluasa membagikan vitaminnya ke tubuhku. Musim panas tahun ini aku begitu menikmati.
Teman kerja tak hanya sekedar teman lagi sudah terjalin persaudaraan yang erat, apa pun kami saling berbagi sunggung merekalah pengganti keluarga saat di perantauan.

“Jov, kamu liburkan hari ini? Nanti pulangnya tolong belikan martabak ya di Warung Indonesia dekat TMS,” pintaku.

Kulihat dia sibuk berdandan merias wajahnya yang memang sudah cantik sekali pun tanpa polesan bedak dan lipstik.
Ia tidak menjawab hanya mengangguk dan tersenyum ke arahku. Kuletakkan satu lembar uang lima ratusan di meja rias dan aku pun meninggalkan kamarnya.

“Toook … Tok … Toook!” kuketuk kamar Ling Ling salah satu sahabatku.
Aku masuk setela ia bukakan dan langsung duduk di tempat tidurnya.

“Hari ini kamu libur kemana?” Tanyaku ingin tahu.
“Aku capek, mau istirahat di asrama saja,” lanjutku sambil merebakan tubuh di kasur miliknya.

Ling Ling sibuk menata baju dalam tas rangsel. Sesekali melirikku sembari mengangkat bahunya. Seolah dia bingung menjawab pertanyaanku. Dia salah satu temanku yang rajin dan gesit dalam bekerja, dia ringan tangan membantu rekan kerja tanpa pernah memikirkan dirinya yang lelah. Dari ceritanya ia adalah tulang punggung keluarga. Ayahnya sakit-sakitan, Ibu yang hanya buruh harian di sebuah toko kelontongan. Ia pun membiayai adik-adiknya yang masih kecil. Melihat kegigihannya bekerja, diri ini tak ada apa-apannya yang kadang masih mengeluh. Sungguh aku sangat kurang bersyukur.

“Aku pamit dulu ya. Aku buru-buru hari ini ada kerja sampingan bersih-bersih di tiga rumah,” Jawabnya singkat.
Secepat kilat punggungnya sudah tak terlihat lagi meninggalkan aku yang masih rebahan di tempat tidurnya.

Waktu libur ia gunakan mencari uang tambahan dengan bekerja apa saja yang penting tidak mencuri katanya. Terkadang ia bekerja di restauran, kadang menjaga anak, dan juga membersihkan rumah milik warga pribumi yang membutukan tenaganya. Upah yang ia dapat dihitung per jam. Rata-rata per jamnya 120 dolar Taiwan.
Sebenarnya aku kasihan padanya tapi apalah dayaku? Karena aku pun bekerja di sini demi cita-citaku bisa melanjutkan study hingga kejenjang yang lebih tinggi kelak.
Aku mengkawatirkan keadaannya andai saja ketahuan pihak berwajib pasti mendapatkan sangsi keras.
Belum saja aku beranjak dari kamar Ling Ling, Nina datang membuyarkan lamunanku. Aku menoleh ke arahnya yang tiba-tiba sudah duduk di dekatku.

“Ka, ikut yuk ke kos-kosanku. Ada proyekk besar nih! Aku butuh tenagamu.”

Nina sudah sepuluh tahun di Taiwan bahkan dia punya rumah yang dia sewa untuk bisnis tata rias pengantin. Aku pernah sekali diajak ke rumah itu yang didekor layaknya studio rental kostum pengantin. Sunggu aku terkagum-kagum dibuatnya, Nina membangun bisnis sejak dua tahun terakhir, ia menyewakan baju pengantin dari berbagai adat daerah Indonesia dan gaun modern.
Ia pun merekrut teman-teman dari Indonesia yang sedang bekerja di Taiwan sebagai team rekan kerjanya mulai dari membantunya merias, fotografer hingga video shooting.
Luar biasa! Harga sewa satu set kostum pun ribuan dolar Taiwan bahkan bisa puluhan ribu.

“Eka! Kok bengong sih … Buruan siap-siap! Bantu aku ya, satu orang teamku sedang cuti jadi kurang tenaga. Ini proyek besar. Nanti aku kasih bonus lebih deh buat kamu,” pintanya.

Aku masih tak bergerak. Mengumpulkan tenaga dan merangkai kata untuk menolak dengan tidak membuatnya kecewa.

“Eka … Please bantu aku, aku butuh banget tenagamu,” pintanya sambil memelas.

“Maafkan aku Nina, aku tak bisa membantumu. Aku takut, Sekali lagi maafkan aku. Nina, aku takut terjadi sesuatu dan berakibat fatal.”

“Yang penting tidak ketahuan, ya sudah kalau gak mau,” Jawabnya seraya meninggalkanku sendiri.

Sering aku mengingatkan sahabat-sahabatku tapi mereka tak mengindahkan. Terkadang ingin aku melaporkan mereka kepada yang berwajib namun alangkah jahatnya aku. Ah! Serba salah. Mereka sahabatku sekaligus saudara tidak mungkin aku memukulnya dari belakang. Namun, jika tidak kulaporkan berarti aku ikut menyembunyikan sesuatu yang salah di muka bumi ini. Sungguh bagaikan buah simalakama hidupku.

“Tuhan … Ampuni hambaMu yang tiada daya ini.”

****
Pukul 22:00 batas waktu penghuni asrama harus sudah berada di dalam semua tanpa terkecuali, ketat memang aturan di asrama kami bahkan kami tak diijinkan tidur di luar asrama sekalipun itu jatah libur. Dan satu lagi orang luar tak diperkenankan masuk ke asrama kecuali di ruang loby.
Walau peraturan super ketat kami nyaman tinggal di sini buktinya aku sudah lebih dari tujuh tahun.

“Kreeeeeeggggg…. “
Suara gerbang di tutup oleh satpam piket malam ini. Berarti Jove sudah pulang. Aku bergegas menuju kamarnya berniat menanyakan titipanku pagi tadi. Sudah lama sekali aku tidak makan martabak kue terang bulan kesukaanku. Hari ini aku tak bisa menahan hasrat untuk menikmati kue tersebut.

“Took… Tok … Tok,” Kuketek pelan pintu kamarnya.
“Masuk kamar tidak dikunci,” Suaranya terdengar dari dalam.

Kulihat Jove sedang menghitung uang di atas kasurnya dari recehan hingga ribuan.
“Ada yang bisa aku bantu?” Candaku.

Dia hanya tersenyum dan mempersilahkan aku duduk.
“Itu titipanmu di meja, dan ini uangmu tadi pagi aku kembalikan gak usah bayar.”
“Pakai uangku saja,” Lanjutnya.

“Bulan ini keuntunganku tiga kali lipat gaji bulanan kita kerja,” Jelasnya.

Iya, Jove bekerja dip anti jompo ini sambil jualan online melalui facebook, ketika libur ia bawa barang pesanan kostumer ada yang ia kirim melalui kantor pos ada juga kostumer yang bertemu di aula TMS untuk mengambil barang pesanannya. Berbagai macam barang dagangannya dari mulai baju, sepatu, sandal, tas dan juga asesoris wanita bahkan barang elektronik. Terkadang dia libur membawa koper seperti orang yang hendak pergike luar negri.
Pantas saja jika keuntungannya bisa mencapai tiga kali lipat gaji bulanan.

“Tidak Jove, aku harus membayar titipanku ini. Walau keuntunganmu besar itu kerja kerasmu sendiri dan kamu tetap harus irit agar bisa membantu keluargamu di rumah,” jawabku.

Namun, ia tetap memaksa mengembalikan uangku. Dengan berat hati aku pun mengambil kembali uangku.

“Baiklah, kalau begitu kue ini kita makan bersama ya?” Pintaku.

Tanpa pamit padanya aku keluar memanggil Nina dan Ling Ling untuk ke kamar Jove. Sembari makan martabak kami ngobrol saling curhat satu sama lain. Indahnya kebersamaan ini seakan tak ingin cepat berlalu.
Tak terasa hampir satu jam kami mengobrol. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan maka aku piker ini waktu yang tepat untuk mengatakan pada mereka rencana kepulanganku besok pagi 31 Mei 2016.

“Jove, Nina, Ling Ling,” Sapaku.

Disambut hening seketika, mereka memandangi tatapan wajahku seolah mereka sedang menunggu sesuatu yang ingin aku sampaikan.

“InshaAllah, besok aku pulang ke Indonesia dan tidak akan kembali bekerja ke sini lagi,” lanjutku.

Suasana masih hening, jove yang sedang minum pun terbatuk dan menghentikannya, membelalakkan mata.
Begitu pula dengan Nina dan Ling Ling.
“Mengapa mendadak sekali,” protes Jove.

Ini bukan mendadak kawan. Ini sudah lama aku rencanakan namun belum ada waktu yang tepat untuk berbicara pada kalian. Dan memang sengaja aku rahasiakan selama ini.
Ini bukan karena kalian tak mengindahkan nasehat-nasehatku. Bukan! Karena aku sudah menata rencana kehidupanku di masa mendatang.
Aku bahagia berada di sini di antara kalian, pengalaman di negeri Formosa banyak hal mengajarkanku kemandirian, kedisiplinan, kebersihan dan kepedulian akan sesama. Tanpa sepatah kata pun kami saling berpeluk. Entah kata tak mampu terucap dari bibir, kami hanya mampu merasakan hangatnya pelukan satu sama lain.
Malam ini kami membiarkan tubuh kami berdekatan tidur satu kamar tanpa ada satu suara yang terucap. Seakan kami tak ingin berpisah hingga kami tertidur pulas. Diam-diam aku bangun meninggalkan mereka untuk ke kamarku dan menulis sepucuk surat perpisahan.
Yang akan aku selipkan di kamar Jove besok pagi sebelum aku meninggalkan Formosa.

***

Taipei, 2016 Mei 31
Pukul 01:40

Teruntuk sahabatku tercinta,
Jove, Nina & Ling Ling.

Sungguh sebuah anugrah bisa mengenal kalian menjadikanku sahabat bahkan saudara di negri yang jauh dari sanak family. Bertahun-tahun kita hidup bersama kita sudah sangat paham karakter masing-masing. Aku sangat sayang kalian.
Semoga persahabatan kita hingga akhirat. Aamiin ya Allah.
Duhai sahabatku,
Satu hal yang masih mengganjal dalam benak ini yang ingin aku utarakan pada kalian. Namun, sebelum aku utarakan maafkan aku yang bodoh ini, jika kata-kataku melukai hati kalian kelak.
Sungguh bukan maksud hati untuk membuat kalian terluka. Aku sangat sayang pada kalian sahabat-sahabatku.

Bisakah kalian menghentikan kegiatan kalian menambah uang pemasukan dengan bekerja di luaran, berjualan online dan juga bisnis tat arias kalian di luar jam kerja?
Aku mengkawatirkan kalian jika suatu waktu ketahuan pihak berwajib. Kalian sudah menyalahi aturan yang berlaku dengan bersembunyi di balik kontrak kerja yang sesungguhnya.

Sahabat,
hanya ini yang bisa saya pesankan sebagai bentuk kasih sayangku pada kalian. Selamat tinggal semoga kita bisa bertemu dilain kesempatan. Jaga diri kalian baik-baik ingat keluarga menunggu kepulangan kalian.
Terima kasih atas kasih sayang kalian selama ini.
Mohon maaf atas segala khilaf baik yang aku sengaja atau pun tidak.

Dariku yang mencintai kalian karena Allah,

Eka Dwi Saputri

Nhớ quê nhà

Đồng Thị Tuyết / Nhớ quê nhà / Không / phối ngẫu quốc tịch nước ngoài  床 前 明 月 光 疑 是 地上霜 舉 頭 望 明 月 低 頭 思 故鄉 Trước giường lặng ngắm vầng trăng bạc Ngỡ như mặt đất tỏa sương sa Ngước lên dõi ánh trăng vằng vặc Cúi đầu ray dứt … Continue reading “Nhớ quê nhà”

Đồng Thị Tuyết / Nhớ quê nhà / Không / phối ngẫu quốc tịch nước ngoài 

床 前 明 月 光
疑 是 地上霜
舉 頭 望 明 月 低 頭 思 故鄉

Trước giường lặng ngắm vầng trăng bạc
Ngỡ như mặt đất tỏa sương sa
Ngước lên dõi ánh trăng vằng vặc
Cúi đầu ray dứt nhớ quê nhà
_Lý Bạch_
Nhớ quê nhà là tâm trạng chung của những người con xa xứ.Từng xa có lẽ mới thấu hiểu được hết thơ từ trên của “thi tiên”Lý Bạch.Tôi cũng là một trong những người con xa xứ,chưa ngày nào trái tim không ngừng nhớ về quê nhà nơi có những người thân của tôi.
Học xong lớp mười hai với bao ước mơ còn dang dở vì cuộc sống gia đình còn nhiều khó khăn.Tôi buộc rời xa dải đất hình chữ S thân yêu đến Đài Loan.Bước chân về nhà chồng với suy nghĩ của cô gái mới lớn mười chín tuổi mơ mộng,khao khát.May mắn thay tôi gặp được người chồng tốt yêu thương,chăm sóc tôi.Gia đình anh rất thân thiện chỉ bảo tôi từ cách giao tiếp,sinh hoạt,phong tục tập quán của người Đài.Sau một tháng,tôi bắt đầu làm việc tại một công ty nhỏ gần nhà.Thời gian rảnh tôi phụ giúp gia đình làm việc nhà.Cứ thế ngày qua ngày trôi đi tôi nhanh chóng hòa nhập với con người,cuộc sống mới.Đến nay,vừa tròn hai năm tôi xa nhà sinh sống nơi xứ người.Cùng với lòng quyết tâm,chăm chỉ làm viêc tôi góp được một số tiền giúp đỡ gia đình ở Việt Nam.Giờ đây nhiệm vụ của tôi là cùng chồng cố gắng làm việc chuẩn bị cho những dự định trong tương lai.Một trong những dự đinh ấy là có thể đón thêm thành viên mới sợi dây gắn kết tình yêu giữa tôi và anh gần hơn.Biết trong tương lai còn nhiều trông gai và khó khăn.Nhưng đôi chân tôi đang thôi thúc muốn bước tiếp trên con đường đã chọn bằng sự lỗ lực hơn và hơn nữa.
Đi song song với màu hồng trong cuộc sống ấy.Tôi cũng trải qua những ngày tháng buồn vì bản thân giao tiếp còn yếu kém,bất đồng ngôn ngữ, chữ viết.Đã có những giọt nước mắt mong nhớ người thân,quê nhà.Nhớ cái mảnh đất nơi tôi sinh ra và lớn lên,vùng quê ven biển thuộc thành phố Hải Phòng.Nhớ tiếng sóng biển “rì rầm” gió biển “vi vu”.Cả những ngày mưa bão thuyền bố không ra khơi,gia đình quây quần bên mâm cơm đạm bạc chỉ canh rau muống,muối vừng nhưng ngọt ngào vị quê hương mà trên đất Đài không có.Nhớ mùi hương lúa chín của mẹ trồng ngày thu hoạch,nhớ quãng thời gian cắp sách tới trường cùng bạn bè trên con đường làng phủ đầy rơm vàng.Nhớ đứa em trai nhỏ dại nhiều lần hỏi mẹ:
_ Mẹ ơi ! Sao bữa cơm hôm nay không có thịt.
Sinh sống ở Đài Loan hòn đảo ngọc xinh đẹp,văn minh,phát triển tôi có cuộc sống tốt hơn thật là tuyệt.Nhưng trong trái tim tôi luôn hướng về quê nhà nơi có những người yêu thương tôi.Giống như hoa hướng dương luôn hướng về phía mặt trời mọc.

Karsiwan Petaruh Jati Diri

Wahib Abdur Rohman / Karsiwan Petaruh Jati Diri / tidak ada / tenaga kerja asing  Takdir adalah garis batas maksimal yang tak mampu lagi di lampaui manusia. Pertaruhkanlah kesejatianmu untuk menelanjangi segala Kesakralannya Karsiwan adalah pemuda yang tinggal di Desa Jinawi, desa yang terletak di kaki pegunungan Walas Gung. Setelah lulus SMA Karsiwan belum mempunyai kepastian menyangkut kehidupan … Continue reading “Karsiwan Petaruh Jati Diri”

Wahib Abdur Rohman / Karsiwan Petaruh Jati Diri / tidak ada / tenaga kerja asing 

Takdir adalah garis batas maksimal yang tak mampu lagi di lampaui manusia. Pertaruhkanlah kesejatianmu untuk menelanjangi segala Kesakralannya

Karsiwan adalah pemuda yang tinggal di Desa Jinawi, desa yang terletak di kaki pegunungan Walas Gung. Setelah lulus SMA Karsiwan belum mempunyai kepastian menyangkut kehidupan ke depannya, walau terbersit keinginan untuk melanjutkan kuliah namun Karsiwan kerap mengurungkan niatnya tersebut. Pertimbangannya adalah penghasilan ayah Karsiwan sebagai Kayim yang hanya berupa Bengkok sawah, di rasa tak akan mencukupi bila dia tetap bersikukuh menuruti keinginanya.

Ketika malam tiba merupakan waktu untuk bercengkrama antara satu dengan lainnya di ruang tamu yang sekaligus di jadikan ruang keluarga, untuk memperbincangkan banyak hal yang telah di lalui pada siang hari. Kali ini Misni Ibu dari keluarga tersebut menyisipinya dengan menceritakan kembali romansa saat Dia dan Suaminya Atmo masih berstatus sebagai sepasang kekasih. Gelak tawa Karsiwan dan Noerma adik perempuanya seketika memenuhi ruangan saat cerita emaknya tiba pada bagian kekonyolan ayah mereka ketika mendekati emaknya. Walau telah menjadi bahan tertawaan, Atmo hanya tersenyum kecil sambil sesekali mengelus-elus rambut Pambudi adik terakhir Karsiwan.

Telah dua jam kebersamaan keluarga itu berlalu, satu persatu dari mereka mulai beranjak. Si bungsu Pambudi sudah terlelap, Noerma sudah menguap dan segera memasuki kamarnya.

Tatkala Noerma dan Pambudi sudah tidur, Karsiwan dan bapak ibunya masih berada di ruang keluarga, melanjutkan perbincangan mereka. Kali ini Atmo menggiring pembicaraan mereka ke arah Karsiwan.

“Wan, sudah hampir satu tahun kamu lulus SMA, bukankah kau ingin melanjutkan kuliah? Kau tak perlu khawatir mengenai biaya, karena sudah jauh-jauh hari bapak telah menyisihkan uang secara rutin untuk biaya kuliahmu”

“Pak, bagaimana dengan adik-adik? Noerma yang baru lulus SMP juga sedang membutuhkan biaya untuk mendaftar ke SMU. Bagaimana dengan Pambudi, bukankah bapak mempunyai rencana untuk mengkhitannya?”

“Perihal adik-adikmu kau tak perlu risau. Untuk sekolah Noerma bapak sudah memiliki anggaran, sedangkan untuk Khitanan Pambudi kita tunda saja, toh Pambudi baru kelas empat SD”

“Pak, Iwan sangat gembira sekaligus bangga dengan apa yang bapak sampaikan. Iwan mengerti bapak akan melakukan apapun demi Iwan. Tapi pak, Iwan minta maaf. Iwan akan kuliah nanti. Hanya Iwan akan bekerja dulu barang satu atau dua tahun. Setidaknya mengumpulkan uang terlebih dahulu untuk masuk kuliah”

“Apa kau sudah yakin dengan keputusanmu Wan?” tanya Misni yang sedari tadi hanya terdiam.

“Tentu aku telah memikirkanya masak-masak mak, sehingga aku telah meyakini apa yang aku putuskan”

“Bagaimana pak ?” Misni kembali mengambil perannya sebagai penyambung lidah.

“Baiklah bu. Sebagai orang tua bapak hanya bisa menuruti keinginan putra-putrinya sepanjang itu baik, dan kami akan senantiasa mendoakan kalian agar di beri kelapangan dalam tindak dan langkah”

Atmo sebagai kepala keluarga telah menuntaskan pembicaraan yang bersahaja malam itu. Walau tentu masih banyak pertanyaan yang menggelayut di benaknya.

Ketika bulan semakin habis ditelan cadar malam, saat kantuk semakin membius syaraf, keluarga Karsiwan telah rebah dalam peraduannya.
———–
Pancaran sinar mentari pagi menelusup melalui pori-pori kabut, menyibak tirai yang merendai hamparan lembah, seolah turut merayakan suka cita, angin bergerak beralun-alun menggoda pepohonan untuk meliukkan dahan dan dedauananya untuk mendendangkan suara alam.

Di pagi ini Karsiwan duduk termangu. Sesekali Karsiwan mencoba merunut kembali apa yang dia ungkapkan semalam kepada orangtuanya. “Adakah dari kata-kataku yang menyinggung emak dan bapak” dadanya sesak, perlahan kelopak matanya basah. “andaikan ada, maafkan aku pak-mak, sungguh aku tak bermaksud melukai perasaan kalian”.

Tak ingin terus larut dalam perasaan, Karsiwan mencoba beranjak; berjalan menyusuri hutan yang mengitari desanya: Menghirup udara pagi, meresapi kehangatan mentari, menikmati kicau burung dan saat sampai di penghujang hutan, telinga Karsiwan tergoda oleh gemericik air pancuran; kesegaran airnya mampu menghipnotis Karsiwan untuk sekedar membasuhkannya ke wajah. “Ku rasa batinku lebih tenang, sudah waktunya kembali ke rumah”. Saat Karsiwan berjalan pulang, dari kejauhan nampak sesosok lelaki dengan tas ransel tergendong. Seperti mengenalnya, Karsiwan mencoba menajamkan pandanganya untuk memastikan

“Kang Mudrik, sampean baru tiba dari rantau?”

“Hey Karsiwan. Iya nih barusan sampai tadi jam enam”

Karsiwan dan Mudrik saling bersalaman, mereka berdua berbincang di tepi jalan desa.

“Kang Sampean kerja di Jakarta?”

“Aku sudah tidak kerja di Jakarta Wan”

“Lantas dimana?”

“Aku bekerja di Pulau Sebrang?”

“Wah Kang, ajaklah aku kerja”

“Nanti, bila Bos ku membutuhkan orang, kau yang pertama akan aku ajak. Wan sudah hampir Jam 7, aku mau lanjut pulang dulu ya. Bertandanglah ke rumahku nanti malam”

Perbincangan tadi melambungkan kembali ingatan Karsiwan pada masa lampau. Saat Mudrik masih tinggal di desa, dimana Mudrik merupakan karib Karsiwan walaupun umur mereka terpaut empat tahun. Mudrik pulalah yang berperan mewarnai sudut pandang serta meneladankan sikap dan pemikiran kepada Karsiwan. Selain itu, jalinan pertemanan antara Mudrik dan Karsiwan dimulai ketika Karsiwan menaruh rasa pada Havva, adik perempuan Mudrik.

Walau kabar Karsiwan menaruh hati pada Havva sudah jadi obrolan hangat warga desa, namun nyatanya mereka berdua belum ada tanda-tanda saling mengikat status. Hal demikian membuat Karsiwan kadang merasa malu namun di satu sisi juga merupakan “Pengumuman Karsiwan” kepada bujang-bujang desa “bila kalian menaksir Havva hadapilah aku dulu.”

Sore menjelang malam Karsiwan berniat untuk bertandang ke rumah Mudrik. Namun dia ragu, “baru tadi pagi Kang Mudrik sampai, sopankah bila malam ini aku ke rumahnya? tapi ku rasa dia telah cukup beristirahat. Tak mengapalah, nanti aku tetap akan ke sana” gumam Karsiwan berusaha menoleransi niatnya.

Malam hari setelah kepulangan Mudrik, rumahnya menjadi ramai oleh kunjungan teman-temannya. Riuh obrolan dan tawa terdengar oleh Karswian dari warung kopi depan rumah Mudrik. “Ramai sekali rumahnya, lebih baik ku batalkan saja”. Saat Karsiwan mulai berjalan untuk kembali pulang, tiba-tiba ada suara yang menyelia. “Wan mau kemana? Itu Kang Mudrik ada di rumah, apa tidak ingin ketemu?” suara yang tak asing bagi Karswian namun telah lama dia tak mendengarnya, “Havva.” tanpa berpikir lagi Karsiwan mengikuti ajakan Havva.

“Kita sambut Sedjoli Karsiwan-Havva” seru salah satu teman Mudrik menggoda kedatangan mereka.

“Apaan sih mas Paidi” Havva mencoba berkelit namun wajahnya tak bisa menyembunyikan kekikukannya.

“Sini Wan, duduk samping kakanda Mudrik” Paidi masih saja iseng dengan olokkannya.

Karsiwan dan teman-teman Mudrik sebenarnya sudah saling mengenal, namun keberadaan Havva di perkumpulan itu menjadikannya bersikap pasif. Setelah sekitar dua jam reuni di rumah Mudrik berlangsung satu persatu tamunya mulai pergi, hingga tersisa Mudrik, Havva dan Karsiwan.

“Va, sudah semester berapa sekarang?” Karsiwan membuka obrolan.

“Oh kalian berdua hendak ngobrol dulu ya” Mudrik menyelia sambil terkekeh memperhatikan Karsiwan dan Havva ”kalo begitu aku masuk dulu. Wan kamu nanti jangan pulang dulu ya!”

“aku sekarang semester 3 mas, eh Wan” entah mengapa Havva menjadi selip lidah dan dalam keberduan itu ada hal yang menerangkan bahwa kekikukan Havva semakin menjadi-jadi; kadang menyingkap rambutnya, menyentuh hidung, tempo suara yang tak teratur, dada yang berdegup ketika pandangannya beradu dengan mata Karsiwan, dan gejala alamiah itu berlangsung dalam intensitas yang terasa tak wajar bagi Havva.

Rupanya kegagapan Havva mampu meledakkan gelombang yang mentransimisikan entah energi apa ke relung jiwa terdalam Karsiwan. Dalam kemabukkanya, apa yang terucap dari mulut Karsiwan saat menanggapi perkatan Havva juga sering terdengar tak jelas bahkan pada kata-kata tertentu lidahnya justru terasa membeku.

“Ehemm” Mudrik berdehem mengisyratkan kehadirannya.

Walau sebenarnya Karsiwan tak rela Mudrik mengambil nuansa emosi yang sedang berlangsung, namun kehadirannya di saat yang tepat mampu mencairkan kekalutan yang sedang melingkupi mereka.

“Wan, maaf aku masuk dulu ya” saat Havva undur diri mata Karsiwan tak lantas surut dari memandangi geraknya.

“Jadi begini Wan. Tadi sore Bosku menanyakan kapan aku bisa berangkat, sekaligus aku sampaikan keinginanmu”

“Terus bagaimana Kang?”

“Setelah aku membujuk, akhirnya dia mau Wan untuk memperkerjakanmu”

“Syukurlah Kang, akhirnya aku dapat pekerjaan”
“Iya Wan. Yang aku minta pas bekerja nanti, kamu tetap menjaga sikap professional. Aku takkan ragu menegurmu andai kau nanti berbuat salah dalam bekerja”

“Perihal itu aku pun bisa memaklumi Kang”

“Wan udah jam 11, bukannya mengusuir nih. Oh iya, Seminggu lagi kita berangkat, segera saja kau persiapkan segalanya ”

“Baik Kang, aku pulang dulu ya.”

Sampai di rumah rupanya orang tua karsiwan belum tidur dan segera saja Karsiwan menyampaikan rencana pekerjaanya. Orang tua Karsiwan begitu antusias mendengar apa yang di ucapkan putranya tersebut karena setelah sekian lama akhirnya bisa mendapatkan pekerjaan.

Malam semakin beranjak namun tak jua mata Karsiwan dapat terpejam. Banyak hal yang melintas dipikirannya; mengenai bakal pekerjaan yang akan dihadapi dan hal yang lebih menyita pikirannya adalah sikap Havva. “Apakah Havva juga merasakan gejolak yang sama denganku, atau aku yang berlebihan menanggapi kebaikkan Havva. Oh Havva, sasmita apa yang sedang kau isyaratkan; jangan biarkan aku terjerambab dalam ketidakpastian ini”
—————
Seminggu yang di nanti telah tiba dan hanya beberapa jam lagi Karsiwan akan pergi. Dengan di bantu ibu dan adiknya segala hal yang terkait kepergiannya telah dipersiapkan.

“Sudah tidak ada yang ketinggalan Wan?”

“Sudah beres mak.”

“Wan, Bapak berpesan; saat kau tinggal disana jaga tindak langkahmu, petiklah pelajaran dari setiap perkara, dan berlakulah seperti kau ingin diperlakukan”

“Noerma, Pambudi kesini! Mas Iwan sudah mau berangkat” seru ibu mereka.

Setelah menyalami seluruh anggota keluarganya, Karsiwan segera melangkah menuju mobil Mudrik yang sudah berada di halaman rumah Karsiwan. Saat mobil mulai berjalan nampak emosi Karsiwan belum benar-benar reda. Lamat-lamat masih terngiang oleh Karsiwan; petuah bijak ayahnya, emaknya yang enggan melepaskan peluknya seolah tak rela melepas kepergian Karsiwan, Noerma yang menangis terisak sambil berucap “Mas Iwan siapa yang akan mengajari Noerma nanti”, dan permintaan polos Pambudi, “Mas nanti aku beliin mainan robot.” Sungguh romansa pagi yang menggetarkan dada Karsiwan ketika orang tua dan adik-adiknya melepas kepergiannya.

“Wan, hapus air matamu” dari jok belakang mobil Havva memberikan sapu tangannya. “Kuatkan dirimu ya Wan” tanpa disadari pula Havva menggengam pundak Karsiwan.

Sudah tiga jam berlalu mobil yang mengantar rombongan Karsiwan telah tiba di bandara. Setelah melakukan proses administrasi mereka segera meniti Garbarata menuju pesawat. Dari pesawat Karsiwan kembali menatap kebawah, ke daratan yang semakin mengecil. Seolah ada wajah emak-bapaknya, serta tawa Noerma dan Pambudi di angkasa “Pak, mak, doakan aku. Noer, Pam kelak salah satu hal terindah adalah senyum kalian menyambutku.”

Dua jam berselang pesawat yang mengantar mereka tiba di Pulau Sebrang. Sesampainya di bandara mereka berdua masih harus melanjutkan perjalanan darat sekitar tiga jam.

“Wan kita mesti melanjutkan naik mobil, jangan khawatir Bos telah mempersiapkan jemputan untuk kita”

“Sekarang sudah jam satu siang Kang, apakah masih lama jemputannya?”

“Itu dia mobilnya datang, bila tak ada halangan yang berarti jam empat sore kita sudah sampai di asrama. Kenalkan supir kita Wan. Pak Badari”

Setelah Karsiwan dan Pak Badari saling berkenalan dan sedikit berbasa-basi mereka bertiga segera masuk ke dalam mobil untuk melanjutkan perjalanannya. Perjalanan yang di lalui sebelumnya membuat Karsiwan dan Mudrik sangat kelelahan. Akhirnya bersama lelah yang dirasa mereka terlelap dalam tidur.

Jam empat sore mobil yang membawa rombongan mereka sampai di asrama. Saat akan memasuki pintu gerbang, seorang security bergegas menghampiri mobil “Orang baru Pak?”, “Eh Pak, iya ini temanku mau ikut kerja,” jawab Mudrik (sambil menempelken sebungkus rokok). Tanpa menunggu aba-aba selanjutnya, security tersebut segera membuka pintu gerbang lalu Pak Badari memasukkan mobilnya.

Tempat kerja sekaligus asrama Karsiwan terletak di daerah terpencil dengan lahan dan bangunan seluas lapangan sepak bola dengan hutan di sekeliling pagarnya. Di bagian dekat pintu gerbang tak nampak adanya Plang papan nama yang membuat “orang luar” akan bertanya-tanya; ada kegiatan apakah di tempat ini? Namun bila di lihat dari adanya bangunan gudang yang luasnya mendominasi; beberapa truk, mobil pickup, mobil box, forklift, dan alat derek ringan namun tanpa adanya mesin produksi, maka akan di ketahui bahwa tempat tersebut menjalankan kegiatan jasa.

“Pak Mudrik apa temanmu akan tinggal dengamu?”

“Temanku di antar saja ke ruang yang lain. Pak Badari tolong sekalian bantu Karsiwan ya”

“Siap”

Dengan sigap pak Badari segera mengantar Karsiwan ke kamarnya sekaligus membantu menata kembali ruangan tersebut.

“Sudah beres”

“Ok. Terimakasih Pak Badari”

Keheningan, angin yang mendesis, dan lengkingan serangga hutan semakin menambah rasa kesendirian Karsiwan di tempat barunya. “Apakah semua orang meraskan hal yang sama bila mereka berada di lingkungan baru.” Saat Karsiwan merenung dalam kesendiriannya dia mengambil kembali sapu tangan pemberian Havva, dan saat dia melihatnya lebih teliti terdapat tulisan yang menyebabkan angin mengalir terasa lembut di dadanya.

“Mas” Entah mengapa kata tersebut terasa nyaman saat kuucapkan untuk menyebutmu.
Hal yang mesti kau ketahui adalah mengenai apa yang mengusik pikiranku ini Mas.
Kehadiranmu Mas. Ucap dan bahasa tubuh yang kau isyaratkan, telah menghujam alam bawah sadarku
Walau tetap saja aku tak berani memaknai kesejatiannya.
Maafkan atas kelancanganku ini. Havva.

“Havva. benarkah apa yang barusan aku baca” demi mebuktikannya Karsiwan segera menghubungi Havva via HP. Gundah yang membuncah, rindu yang menderu, dan misteri yang tersingkap akhirnya menyatukan Mudrik dan Havva dalam keterpaduan Cinta.
————————–
Pagi hari karsiwan telah bersiap untuk wawancara dengan calon Bosnya. Sebelum menghadap langsung, Mudrik terlebih dahulu memberinya briefing.

“Pak Mudrik di panggil Bos” seru salah satu pegawai perempuan. Dengan segera Mudrik langsung menemui Bosnya.

“Bagaimana dengan temanmu? Selama kau berteman di desa tentu kau telah mengetahui karakternya”

“Tentu Bos, karena itu aku berani merekomendasikannya kepada Bos”

“Ok. Lalu pada bagian apa dia kita tempatkan?”

“Kurasa, untuk tahap awal Karsiwan bisa kita tempatkan di bagian Pengiriman, untuk selanjutnya tentu tergantung kinerjanya”

“Baiklah. kalo begitu kau atur-atur saja bagaimana baiknya”

Mudrik bergegas meninggalkan ruang Bosnya dan segera menemui Karsiwan, Selanjutnya Mudrik mengantar Karswian ke gudang dan terlebih dahulu memperkenalkan dengan pekerja-pekerja lainnya.

“Bos nggak jadi mewawancaraiku kang?”

“Oh. Kamu langsung di suruh kerja Wan. Wawancaranya lain kali saja kalo kinerjamu dinilai bagus”

“Terus aku kerja di bagian apa?”

“Untuk tahap awal kau akan menjadi Kurir, mengantar barang-barang”

Mudrik sebagai Koordinator memasangkan Karsiwan dengan Japra; yang merupakan pekerja lokal.

“Japra kali ini kau bekerja bersama Karsiwan. Kau yang nyetir dulu ya”

“Siap bang. Masalah nyetir tak perlu khawatir”

Pada pekerjaan pertamanya Karsiwan dan Japra bertugas mengirim barang sampai ke luar propinsi. Perjalanan kali ini memakan waktu satu harian, dengan muatan berbagai macam barang yang memenuhi bak truck. Selepas meninggalkan gudang truck mulai memasuki jalan raya.

“Rokok Wan”

“Aku tidak merokok Bang”

“Oh. Maaf ya aku merokok di mobil”

“Tak mengapa”

“Kamu saudara bang Mudrik?”

“Bukan, aku tetangganya di desa. tempat kerja kita ko nggak ada namanya ya? Pertama datang aku sempat curiga kalo perusahaan ini illegal”

“Tak perlu khawatir. Keilegalannya karena tidak ada badan usahanya saja. Dan sebenarnya itu salah satu perusahaan bos yang bergerak di bidang ekspedisi”

“Syukurlah” lenguh Karsiwan

Tiga jam telah berlalu, pengiriman barang pertama adalah kain pesanan milik konveksi. Selanjutnya Karsiwan mengkoordinasikannya dengan penerima, alih-alih Japra memarkirkan trucknya. Hal tersebut berlanjut ke pengantaran-pengantaran berikutnya. Hingga pada pengantaran barang terakhir dimana posisi penerimanya berada di luar propinsi.

Saat hari beranjak malam barang terakhir telah di antarkan dan truck kembali berjalan pulang. Menjelang masuk perbatasan propinsi mendadak Japra menginjak rem karena ia melihat sesosok perempuan muncul dari balik pohon. Truk berhenti dan keduanya kemudian sama-sama berseru, “Siapa dia?”

Perempuan tersebut menghadang truck sambil membentangkan tangannya

“Pak, aku ikut,” ujar perempuan itu dingin dan kaku. Tatapan matanya kosong.

“Ikut? Kami mau pulang. Kamu siapa?” Tanya Karsiwan dari atas kabin.

“Namaku Murdaya” jawabnya dengan wajah memelas.

“Lalu apa yang membuatmu malam-malam di tempat antah-berantah ini?”

“Pak kumohon, aku naik dulu. Nanti di perjalanan kuceritakan”

Rajukkan Murdaya membuat Karsiwan dan Japra luluh, “Yasudah buruan naik” Murdaya segera naik dan duduk di tengah, seketika suasana terasa canggung. Pikiran Karsiwan dan Japra sibuk dengan pertanyaan dan kekhawatiran yang sama.

Hingga saat truck memasuki jalan besar keadaan mulai terkendali. Japra kembali menyalakan rokok. Sementara Karsiwan menengok ke kanan dan sekejap terlihat olehnya Murdaya sedang menangis. Bersama tangisannya Murdaya mulai mengungkapkan jati dirinya.

“Tadi sore bersama kekasihku kami menaiki mobil menuju daerah kalian, ditengah perjalanan tak disangka satu Kompi Polisi melakukan razia. Selain karena surat-surat kendaraan yang tak lengkap, dalam mobil kami juga tersimpan barang terlarang. Untuk menghindari penangkapan kami langsung tancap gas, dan seperti yang sudah kami duga polisi-polisi tersebut segera mengejar kami. Untungnya mobil kami dapat melesat jauh meninggalkan mereka, namun karena kecorobahan, kami malah berhenti di pinggir jalan dengan maksud melarikan diri ke hutan dan mobil kami tinggalkan. Baru saja aku keluar dari mobil, ternyata para polisi sudah nampak dari kejauhan, karena panik kekasihku pergi meninggalkanku, sementara aku berlari sendirian menuju hutan”

“Barang terlarang apa maksudmu?” sergah Karsiwan

“Ganja Pak”

“Ya Tuhan, kita bersama buronan Wan” teriak Japra bersama asap rokok yang mengepul dari mulutnya.

“Maaf, maaf pak. Aku mohon jangan turunkan aku di jalan, uangku sudah tak mencukupi sedangkan Hpku tertinggal di mobil tadi” Murdaya kembali menangis, kali ini suara tangisnya semakin parau menyiratkan kepedihan yang tak terperi.

“Apa polisi-polisi itu melihat wajahmu?,” Murdaya tak bergeming dan tiba-tiba Japra membelokkan mobilnya ke warung pinggir jalan. Tanpa ada yang berani bertanya, Karsiwan dan Murdaya juga ikut turun ke jalan mengikuti langkahnya Japra. Beberapa pasang mata menatap mereka penuh selidik, tanpa berani menoleh, mereka langsung menuju tempat duduk pinggir jendela.

Setelah beberapa menit berlalu mereka bertiga nampak berbicara. Murdaya belum juga beranjak dari kepedihannya, sementara Karsiwan berusaha menenangkan. Suara Japra tiba-tiba meninggi sambil berlalu ke luar warung.

Japra berdiri diluar warung, sesekali pandangannya diarahkan ke jalan. Dilihatnya seorang pria sedang berbincang dengan dua pengendara motor. Lamat-lamat terdengar oleh Japra, empat orang tersebut mengaku sebagai polisi dan menanyakan keberadaan orang mencurigakan. Dan benar saja, pria tersebut memberi tahu salah satu ciri wanita yang persis seperti Murdaya. Japra panik mendengar hal tersebut. Dari dalam warung Karsiwan melihat Japra menaiki truck meninggalkanya, sejurus kemudian pandangannya menoleh ke pintu warung. Namun untung tak dapat diraih, keempat polisi tersebut telah melihat Murdaya dan berteriak; “Diam di tempat”

Entah ide gila darimana yang didapat Karsiwan. Segera dia menggamit lengan Murdaya dan menariknya berlari menuju ke hutan belakang warung. Tak mau buruannya lepas, dengan langkah sigap polisi-polisi tersebut turut mengejar mereka dari belakang, sambil sesekali melepaskan tembakkan ke udara “Woy berhenti! atau kutembak kalian”

Malam semakin larut dan berkabut. Sementara di balik rimbun pohon dan semak, riuh-rendah umpatan dan ancaman para Polisi semakin mengkerdilkan Karsiwan. “Dengan nafas terengah-engah aku terus saja berlari menembus belantara. ketika sampai di persimpangan jalan setapak kilatan sorot lampu senter berkelebat menyilaukan mata, “Berhenti… Angkat Tangan!!!!” teriakan-teriakan makin bergemuruh. “Cetarr-Jedar” ku rasakan sebutir timah menerjang kakiku, rasa panas campur nyeri perlahan melumpuhkan persendianku. Sekonyon-konyong aku limbung hingga tak terasa jatuh tersungkur. Sementara kulihat Murdaya sedang meronta-ronta saat di seret oleh polisi.”

Tatkala Karsiwan duduk meringis menahan sakit, salah satu polisi mengoloknya; “Seperti Inilah kesejatian takdir yang kuganjarkan akibat perbuatanmu”

MAHALNYA HARGA KEPERCAYAAN

UMI SUGIHARTI / MAHALNYA HARGA KEPERCAYAAN / tidak ada / tenaga kerja asing  Nilam, perempuan bertubuh langsing, berkulit putih bersih, tertunduk berusaha menutupi wajahnya di balik rambut hitam panjangnya. Perempuan belia berusia 24 tahun yang memiliki impian untuk mengubah nasibnya agar lebih baik dengan bekerja di negeri Formosa itu berupaya menutupi wajahnya dengan untaian rambut panjangnya demi menghindari … Continue reading “MAHALNYA HARGA KEPERCAYAAN”

UMI SUGIHARTI / MAHALNYA HARGA KEPERCAYAAN / tidak ada / tenaga kerja asing 

Nilam, perempuan bertubuh langsing, berkulit putih bersih, tertunduk berusaha menutupi wajahnya di balik rambut hitam panjangnya. Perempuan belia berusia 24 tahun yang memiliki impian untuk mengubah nasibnya agar lebih baik dengan bekerja di negeri Formosa itu berupaya menutupi wajahnya dengan untaian rambut panjangnya demi menghindari bidikan camera. Ia menjadi sorotan berita berbagai media, lantaran tindakan kriminal yang dilakukannya. Sementara tangannya diborgol, dua orang polisi wanita menggandengnya, sedikit memaksa menuju mobil sedan putih yang diatasnya terpasang lampu merah biru yang terus berpijar.

“Cantik-cantik penipu! Dasar manusia licik!” teriak garang seorang lelaki kerempeng, berambut ikal hitam panjang sebahu. Matanya merah melotot geram dan mengacung-acungkan kepalan tangan ke arah Nilam. Andai tidak dikawal ketat mungkin sudah meninju wajah perempuan itu. Wajah-wajah kesal lainnya seolah setuju denganya.

“Nilam! Kamu jahat, Nilam!” jerit perempuan penuh amarah dari arah depan, dekat mobil polisi. Nilam menatapnya dari sela juntaian rambut, tanpa mengangkat wajah. Ia sangat mengenalnya, hingga membuat tenggorokan seakan tercekat. Tubuhnya semakin menggigil dingin walau udara siang begitu gerah. lidah terasa kelu. Bahkan sebuah kata maaf saja, tidak bisa keluar dari mulut Nilam. Hanya air mata penyesalan mengaliri pipi tirusnya.

Dalam kendaraan yang membawanya menuju kantor polisi Nilam termangu dan ingatannya melayang masuk ke masa segala persoalan bermula.

Hati Nilam semakin sedih. Ingatannya kembali membuka memori tentang kedekatannya dengan Dinda. Ia pejamkan mata rapat-rapat, membayangkan bening bola mata gadis manis yang berasal dari Tegal, Jawa tengah itu, tersenyum menyapanya saat mereka sama-sama menjaga pasien di taman. Hingga satu minggu yang lalu, menjadi awal cerita duka.

***

“Nilam, kamu punya uang sepuluh ribu, nggak?” tanya Dinda dengan merendahkan suaranya, begitu duduk di samping kiri Nilam. Ia menoleh sebentar pada nenek yang sedang berjemur di bangku sebelah yang rupanya sedang asyik berbicara dengan dua temannya. Dirasa aman, Dinda kembali berbisik “Aku butuh banget,” lanjutnya. Mimiknya yang memelas, berhasil menyentuh hati Nilam.

“Wah, aku belum gajian. Tapi kalau memang butuh, aku punya teman yang bisa membantumu,” jawab Nilam tanpa ragu.

“Pasti ada, kan?” Dinda ingin memastikan perkataan Nilam. Namun yang pasti ada sedikit kelegaan mendengarnya.

“Pokoknya ada, deh. Percaya sama aku, pasti beres.” Kerlingan mata kiri Nilam, meyakinan. Lalu sedetik kemudian wajahnya berubah serius dan mendekatkan bibirnya ke telinga kanan Dinda, “siapkan saja persyaratannya! Fotokopi pasport dan ID!” perintahnya.

Saat itu juga Dinda minta ijin ke nenek yang di jaganya dengan alasan membeli minuman ke toko seven-eleven (7-11). Ia pun memfotokopi pasport dan kartu Identitas. Lalu mengambil tiga botol teh hijau melati. Beruntung tak banyak pengunjung, hingga tak butuh waktu lama. Dengan langkah ringan, Dinda menghampiri Nilam yang tampaknya sedang bicara serius dengan seseorang lewat telepon.

“Ok, nanti sore aku ke rumahmu. Bye-bye,” ujar Nilam menutup teleponnya. Senyum sumringah dan sinar matanya menyiratkan kebahagiaan. Lalu beralih menatap Dinda, tangan kanannya menengadah siap menerima sesuatu.

Dinda tanggap dan menyerahkan dua lembar kertas fotokopi yang sengaja digulung. Nilam segera membuka untuk memeriksanya.

“Tanda tangan dulu di bawah sini!” Nilam menunjuk sudut kiri kertas bergambar pasport. Dinda merogoh kantong depan tas kecilnya, mengambil pulpen bertinta biru. Lalu segera membubuhkan tanda tangan.

“Oke,” ujarnya dibarengi senyum kepuasan. Membayangkan besok sudah bisa mengirim uang ke keluarganya.

“Aku bantu kirim sekalian, ya?” tawar Nilam. Menyibak rambutponi yang panjang menghalangi pandangan mata kanannya.

“Iya, mau. Maaf bila merepotkan,” sahut Dinda. Ia pun memberikan secarik kertas resi pengiriman bulan lalu.

“Nggak apa, kita kan sahabat,” sahut Nilam sembari menggulung kembali kertas itu dan memasukkannya ke tas punggung berwarna merah hati. Ia sangat yakin semua masalah pasti dapat diselesaikan.

***

Air mata Nilam mengalir membayangkan betapa bening hati Dinda. Begitu mempercayainya. Sejuk udara dari AC mobil tak mampu membantu rasa panas di hatinya. Mobil berhenti bergerak menunggu lampu merah hingga berubah hijau. Nilam masih tertunduk, tegang. Ia sempat melirik tumbuhan perdu yang mulai memamerkan deretan bunga-bunga mekar beragam warna yang tertata rapi di sepanjang jalan Zhong Shan North Road. Indahnya seperti cinta yang ada di hati Nilam untuk seorang pemuda.

Namun saat memikirkan kekasihnya, bukan senyum yang ada, tetapi kebencian yang dalam. Karena dialah yang menghancurkan persahabatannya dengan Dinda. Bahkan borgol besi menjadi saksi kebodohannya. Dinda melapor ke polisi karena paspornya disalah gunakan Nilam. Karena sang rentenir mengirim surat tagihan ke alamat majikan Dinda.

Begitu sampai di kantor polisi, Nilam menjalani pemeriksaan. Setelah interogasi selesai, petugas semakin memperhatikan wajah Nilam, lalu keluar ruang. Selang lima menit, lelaki itu sudah kembali dengan sebuah laptop. Ia meletakkannya di atas meja kayu, dan membuka layar. Nilam terperangah saat petugas menunjukkan video rekaman CCTV. Tampak jelas ia menyerahkan sejumlah uang kepada kekasihnya, Randi, di sebuah tempat karaoke.

“Mungkinkah ini salah satu bukti penggunaan uang itu? Tapi bagaimana Dinda dan polisi tahu?” guman Nilam semakin bingung. Dalam hati mencoba menghubungkan video itu dengan perkara yang dilaporkan Dinda. Ia mengaku bersalah atas penggunaan dokumen orang lain, untuk meminjam uang ke seorang rentenir.

“Apa hubungan anda dengan orang ini?” Suara bariton lelaki tegap berkaos putih dibungkus rompi hitam bertuliskan identitas kepolisian, membuyarkan lamunan Nilam.

“Pa-pacar, Pak,” sahut Nilam sedikit tergagap.

“Sudah lama?”

“Baru dua bulan,” jawab Nilam agak malu. Masih tertunduk sambil menata debar hati yang semakin cepat.

“Kamu tahu, kemarin dia kami tangkap saat sedang berpesta sabu-sabu.” Petugas itu menerangkan

Kali ini membuat mata Nilam membulat. Menatap lekat mata lelaki di hadapannya. Bibirnya bergetar seolah kedinginan berada di dalam gundukan salju, membekukan tubuhnya. Namun api kemarahan mendorongnya untuk berontak.

“Tidak mungkin, Pak! Tidak mungkin!” Teriak Nilam, panik. Ia tidak percaya dengan perkataan polisi barusan. Rasa takut semakin menghinggapi hatinya. Wajahnya kian pucat, kini masalahnya bertambah berat.

“Anda juga pemakai, kan?” desak petugas berusaha menyudutkan Nilam.

“Sumpah, Pak. Saya tidak tahu apa-apa tentang narkoba. Pak, tolong jangan libatkan saya. Di video itu, saya menyerahkan uang. Tapi saya tidak tahu tentang masalah narkoba. Saya terpaksa karena dia mengancam,” ceracu Nilam berusaha membela diri.

“Tenang, tenang dulu. Anda harus menjelaskannya saat sidang nanti,” jawab Pak polisi, tegas. Ia pun mengisyaratkan sesuatu kepada seorang polisi wanita dengan sebuah anggukan kepala saja.

Rupanya itu sebuah perintah untuk membawa Nilam ke ruang tahanan. Sekotak ruang sempit berpintu jeruji besi. Tempat yang tidak pernah Nilam bayangkan. Dinginnya dinding terasa menusuk tulang, kala menyandarkan punggungnya. Nilam menatap langit-langit dan seluruh ruang. Walau bersih, namun tetap saja menakutkan hati.

Masih segar dalam ingatan kata-kata Randi, saat mereka duduk berdua di Taman Daan. Disitulah pangkal persoalan bermula. Nilam yang sangat lugu dan sangat mencintai kekasihnya nitu tak menyadari bahwa ia sedang diperalat.

***
“Sayang, bantu aku tiga puluh ribu nt. saja, ya. Pasti aku balikin bulan depan,” rayu lelaki ganteng berjanggut lancip, jangkung kurus, mata sedikit sayu. Rambut cepak bercat pirang menambah wah penampilan pemuda yang mengaku sebagai karyawan pabrik tisyu di daerah Taoyuan.

“Sayang, kok banyak amat? Untuk apa?” Nilam seketika menoleh, menatap lebih lekat mata pacarnya. Hanya mata merah dengan wajah memucat yang tertangkap. Pangkal alis mata Nilam menyatu merasakan kejanggalan akan kondisi tubuh Dandi. Seperti sedang sakit.

“Please, Sayang? Aku janji, ini yang terakhir,” rengek Randi. Suaranya semakin bergetar. Sejenak menatap sayu Nilam. Menyadari dirinya diperhatikan begitu serius, ia berpura-pura membuang muka ke arah tupai yang kebetulan sedang asyik makan di sebuah batang pohon yang terpotong.

Randi merogoh saku celana, mengambil telepon genggamnya. Lalu segera menunjukkan beberapa photo kepada Nilam, yang mendadak berubah gusar.Keringat dingin seakan menjalar dari ujung kepala hingga kaki. Tanpa penjelasan lebih banyak, ia mulai mengerti bahwa nama baiknya akan hancur bila tidak memenuhi kemauan pacarnya. Photo mereka yang sungguh tidak pantas untuk dipertontonkan.

***
Secara kebetulan saat liburan itu, Dinda sedang butuh uang. Dan demi memenuhi keinginan sang kekasih, akhirnya paspor Dinda sebagai jaminan untuk meminjam uang sebesar Nt. 40.000 pada seorang rentenir. Itulah sebenarnya penyebab petaka ini. Isak tangis Nilam tiada terbendung lagi mengingatnya. Sakit hati tiada terperih.

Tiba-tiba bayangan wajah ibu bermain di pelupuk matanya yang mulai sembab. “Nak, hati-hati bekerja. Jaga kepercayaan itu sangat penting. Allah maha melihat segala perbuatan kita.” Begitu nasehat ibunya setiap kali Nilam menelepon. Rasa bersalahpun semakin membuatnya tersudut.

“Maafkan Nilam, Bu,” sesal Nilam. Ia menekuk kedua kaki, hingga pahanya menekan perutnya. Kepalanya tertunduk, bersembunyi di tengah-tengah kedua tangannya yang merangkul dengkul. Tubuhnya bergetar karena tangis kesedihan dan penyesalan.

Tula

Gretchen De Guzman Lucas / Tula / SPA(Serve The People Association / dayuhang manggagawa  BUHAY OFW:ISANG SAKRIPISYO,KAISA AKO ISANG KATAKOT TAKOT AT DI BIRONG DESISYON YAN ANG UNANG HINARAP NA HAMON ANG MAKIPAGSAPALARAN SA IBANG NASYON UPANG HANAPIN ANG KAPALARAN AT PAG-ASANG NAROON KALAKIP NG BAWAT DAING AT PANALANGIN NA SANA’Y LAGING LIGTAS AT PAGPALAIN SA IBANG BANSANG … Continue reading “Tula”

Gretchen De Guzman Lucas / Tula / SPA(Serve The People Association / dayuhang manggagawa 

BUHAY OFW:ISANG SAKRIPISYO,KAISA AKO

ISANG KATAKOT TAKOT AT DI BIRONG DESISYON
YAN ANG UNANG HINARAP NA HAMON
ANG MAKIPAGSAPALARAN SA IBANG NASYON
UPANG HANAPIN ANG KAPALARAN AT PAG-ASANG NAROON

KALAKIP NG BAWAT DAING AT PANALANGIN
NA SANA’Y LAGING LIGTAS AT PAGPALAIN
SA IBANG BANSANG PATUTUNGUHA’T TATAHAKIN
MALAYONG MALAYO SA BANSANG KINAGISNAN NATIN

NGUNIT BUHAY NG OFW AY TUNAY NA SAKRIPISYO
KAYOD DOON,KAYOD DITO
SUSUUNGIN KAHIT NA ANO
PAGKA’T SA ISIP PAMILYANG NAIWAN ANG NAGSUSUMAMO

KAISA AKO BAWAT OFW NA WALANG IBANG NAIS KUNDI PAG-UNLAD
HANDANG MAGTIIS AT MAGSAKRIPISYO NG WALANG KATULAD
KARANGALAN SA AMING PAGKATAO’Y WALANG KATUMBAS NA BAYAD
WALANG SAWANG IPAGMAMALAKI’T ILALAHAD

KAISA AKO SA BAWAT OFW AKING KAPWA TAO
NA KONG ITURING AY “MAKABAGONG BAYANING FILIPINO”
ISANG NAPAKALAKING KARANGALAN KAISA AKO
BAYANING TAAS NOO KAHIT KANINO.

 

Wanita adalah Ibu

Julian / Wanita adalah Ibu / Linda Linarta / mahasiswa  Waktu sudah lama berlalu sejak kita berkumpul, menunggu angkatan baru keluar dari bandara internasional taoyuan yang baru akan melanjutkan studi mereka di Taiwan. Pandanganmu bergerak kesana kemari mencari-cari wajah polos Indonesia yang mungkin baru pertama kali menginjakkan kakinya di bumi Formosa. Tentu saja motivasi utama kita datang sebetulnya … Continue reading “Wanita adalah Ibu”

Julian / Wanita adalah Ibu / Linda Linarta / mahasiswa 

Waktu sudah lama berlalu sejak kita berkumpul, menunggu angkatan baru keluar dari bandara internasional taoyuan yang baru akan melanjutkan studi mereka di Taiwan. Pandanganmu bergerak kesana kemari mencari-cari wajah polos Indonesia yang mungkin baru pertama kali menginjakkan kakinya di bumi Formosa. Tentu saja motivasi utama kita datang sebetulnya ingin melihat cewek baru anggota PPI Taiwan. Sebenarnya, walaupun engkau berhati baik, terkadang aku tidak menyukai gaya hidup dan cara berpikirmu.

Dulu, satu semester lalu sebelum ini engkau sering ribut begitu melihat cewek cantik seangkatan dengan kita berjalan dengan seorang cowok berdua saja di Shilin night market. Mengapa engkau kelihatan iri? Engkau sudah memiliki pacar yang cakep dan baik. Tidak jarang juga engkau mendorong dia dan aku untuk menarik perhatian cewek-cewek mahasiswi yang baru bergabung dengan kita di Taiwan. Tanpa sadar juga, atas dorongan gengsi aku dan dia bersikap konyol, menuruti tantanganmu, menghadiahkan sesuatu yang kudapatkan dari permainan menembak balon dengan pistol di night market, mengajak dia ngobrol dengan kikuk, sementara aku engkau awasi dengan tawamu yang tertahan melihat kekonyolan aku dan dia.

Saat itu, diriku belum memahami arti cinta. Perasaanku mudah silih berganti menghadapi kebaikan mereka. Apa yang harus aku lakukan? Menurutmu, aku harusnya lebih gentle, mengajak kencan mereka seperti yang kau lakukan. Tapi apa kau mau mempertahankan hidup seperti ini? Bayang-bayang semu tarikan cewek yang tiada habis-habisnya. Aku sendiri bingung tidak merasakan makna hidup kita ini. Have fun yang tiada habis, tapi semu di dalamnya.

Kita sering menghabiskan waktu untuk mengobrolkan hal-hal yang sebenarnya tidak berguna sama sekali. Memang bias jadi benar menurut penelitian, sebagian besar waktu pria dihabiskan untuk memikirkan cewek cakep yang seksi dan seks. Walau sudah memiliki pacar resmi, masih saja dirimu ini sibuk membandingkan cewek ini dengan cewek itu. Atas komandomu pula dia dan aku sering menjadi pelengkap permainanmu. Sudah terlalu banyak wanita yang sudah berjalan bersama kita hanya untuk hedonisme belaka. Satu wanita untuk satu pria. Untung saja, ini hanya sekedar kencan buta biasa, aku masih memegang prinsip untuk melakukan hubungan itu dengan cewek yang kelak telah resmi bersatu denganku di mata hukum dan agama.

Kemudian, datanglah hari itu. Engkau mengajakku kencan buta dengan 2 mahasiswi angkan baru. Diriku diam saja melihatmu mengeluarkan berbagai jurus rayuan gombal. Suasana masih ceria sampai akhirnya dia datang. Aku sedang mengisi minuman ketika pacarmu tiba-tiba muncul dan segera mendampratmu dengan tatapan yang penuh emosi. Suasana menjadi tegang. Engkau tidak terima dimarahi di tempat umum seperti ini. Kalian adu mulut, seakan ini adalah tempat yang tepat untuk bersitegang, sementara mata-mata tamu lain bingung melihat keributan yang ditimbulkan dari orang asing berbahasa Indonesia yang tidak mereka pahami. Rupanya dia sering dikisiki oleh temannya tentang kelakukanmu sehingga dia tersiksa dan ingin membuktikan ucapan mereka. Akumulasi emosinya meledak. Dia bertanya “apakah engkau menganggap semua cewek sebagai mainan?” jawabanmu semakin menyulut emosinya. Air matanya berderai indah, suasana semakin tegang sehingga akhirnya aku berinisiatif mencairkan suasana.

Aku minta maaf kepadanya karena kita ke sini tanpa memberitahunya. Aku mengaku mengajakmu. Dan mengenai wanita, aku menceritakan padanya mengenai cintaku kepada seorang wanita, wanita yang sangat pengertian, memikirkanku setiap hari sementara aku jarang memikirkannya. Dia memandangku dengan jijik mendengar pernyataanku. Tapi, dengan suara mantap aku melanjutkan. Tidak peduli seberapa besar kesalahanku, dia selalu memaafkanku. Aku tidak tahu sudah berapa banyak air mata yang sudah dikeluarkannya demiku, sementara seringkali aku tidak memperdulikan nasehat dan perhatiannya. Aku masih hidup sembarangan, terkadang membahayakan diriku sendiri, dan tidak benar-benar memperhatikan masa depanku. Padahal, semua yang akan kulakukan, tidak akan cukup untuk membalas jasanya. Emosi kalian berdua masih tinggi dan mulai tidak sabar akan poin utama yang ingin kusampaikan. Kepada kalian, aku sampaikan. Wanita tersebut adalah ibundaku. Setelah pernyataanku ini, kusadari emosi kalian mulai mereda. Kalian tidak mengerti kenapa aku membawa-bawa namu ibundaku ke dalam masalah yang sedang terjadi sekarang. Aku sendiri tidak tau dan merasa takjub juga, dari mana kata-kata ini keluar dan dari mana kesadaran ini berasal.

Kepada pacarmu, kujelaskan. Kami berdua tidak akan berpikir yang tidak-tidak dan menjelekkan wanita, apalagi mempermainkan wanita. Sebab dengan menjelekkan wanita, secara tidak langsung kami juga menjelekkan ibunda kami sendiri. Aku mengajak dua mahasiswi baru ini supaya mereka lebih terbiasa dengan lingkungan Taiwan (alasan yang sebenarnya engkau kemukakan saat kita mengajak mereka). Setelah berbicara panjang lebar, kukatakan bahwa engkau salah bicara karena emosi, bahwa engkau tidak terima disalahkan sebab pada dasarnya akulah yang mengajakmu. Pacarmu tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan, akhirnya dia memilih meninggalkan restoran ini. Aku segera menyuruhmu menyusulnya, buru-buru juga aku minta maaf kepada dua mahasiswi adik kelas kita yang masih syok akan drama yang baru saja terjadi.

Kali ini aku melindungimu. Dari apa yang kulihat dari jauh, sepertinya hubunganmu dengan pacarmu masih dapat dipertahankan. Aku benar-benar lega, kalian tidak putus hanya karena hal-hal yang tidak semestinya. Sekarang aku sedang merenungkan hal yang baru terjadi, terutama hal-hal yang baru kuucapkan. Mengapa aku dapat mengutarakan hal rumit seperti itu? Dari mana kata-kata itu keluar?ini benar-benar misteri tersendiri bagiku. Sejak saat itu, kita benar-benar terkena efek jera. Untung saja orang Taiwan di sana tidak sampai menghubungi polisi untuk melerai kalian. Aku sendiri mulai memegang prinsip untuk menghargai wanita sebagaimana diriku menghargai dan menghormati ibundaku.

Akhirnya tidak acara tahunan yang dinantikan setiap mahasiswa-mahasiswi angkatan baru, malam keakraban bersama senior-senior untuk saling mengenal dan bersenang-senang. Aku tersenyum simpul melihatmu mengajak ngobrol cewek-cewek angkatan baru. Apa karena pacarmu tidak berada di sini? Engkau benar-benar tidak berubah, tapi juga tidak sama dengan dulu dengan mulai belajar untuk memahami perasaan wanita dan mempraktekkan etika dasar sedikit demi sedikit. Pada akhirnya, engkau memilih setia dengan pacarmu. Aku sungguh bangga akan perubahan positif ini. Dan berkat engkau juga aku sudah mulai belajar banyak hal mengenai kehidupan ini.

Aku mulai melihat hal-hal yang benar-benar ingin kupelajari. Tidak seperti ikut arus dan melanjutkan kuliah bersamamu, aku mulai belajar dengan mengiikuti retret hidup berkesadaran, ikut kegiatan humanis dan kegiatan lain yang membuatku semakin dewasa dan memahami sifat-sifat dasar manusia. Ya, aku ingin dapat memahami satu sama lain dan berusaha untuk membentuk kehidupan yang harmonis untuk semua orang. Keputusanku akan jalan hidup yang baru membuatku pindah ke jurusan psikologi dan pada satu bakti sosial yang kuikuti, akhirnya diriku menemukan wanita yang benar-benar membuatku jatuh hati. Ternyata kami memiliki sifat dan tujuan yang serupa. Hal ini menjadi motivasi utama kami menjadi sepasang kekasih. Jadi, diriku benar-benar bersyukur memilikimu sebagai teman baikku. Secara tidak langsung, dirimu menuntunku mencapai tujuan hidup yang tidak kuketahui sebelumnya. Tujuan hidup yang menjadi rahasia hidup ini juga, “dengan membahagiakan orang lain di sekitar kita, kita juga otomatis ikut berbahagia saat melihat orang lain yang bahagia. Dengan begini, hidup ini benar-benar menjadi indah.

Sebuah surat untuk mama

Virllyanti / Sebuah surat untuk mama / Tidak / tenaga kerja asing  Terimakasih mama 9 bulan kau membuat kU nyaman di bagian ragamu, Untuk kU kau sllu ada,engkau sllu berjuang untuk sang buah hati mu,engkau yang memeluk hangat anak-anak mu, Dan engkau yang tak pernah mempunyai batas cinta untuk buah hatimu. Surat ini untuk mu mama KU tidak … Continue reading “Sebuah surat untuk mama”

Virllyanti / Sebuah surat untuk mama / Tidak / tenaga kerja asing 

Terimakasih mama 9 bulan kau membuat kU nyaman di bagian ragamu,
Untuk kU kau sllu ada,engkau sllu berjuang untuk sang buah hati mu,engkau yang memeluk hangat anak-anak mu,
Dan engkau yang tak pernah mempunyai batas cinta untuk buah hatimu.
Surat ini untuk mu mama
KU tidak punya sesuatu yang berharga untuk mu mama,karna kU sadar tidak ada yang bisa kU sandingkan dan kU bandingkan atas apa yang kau korban kan untuk kU,
Yang kU bisa hanya menulis d kertas putih ini….
Mama,maafkan putri mu ini,yang belum bisa membuatmu bahagia dan berteriak bangga padaku.
Sekarang jarak yang memisahkan kita,hanya suara mu yang bisa mengobati rasa rindu kU Padamu.
Doa doa kU yang sllu kU panjatkan untuk kesehatan mu
Mama……
Maafkan putri mu yang nakal ini
Maafkan putri mu yang egois
Maafkan putri mu yng tak pernah mendengarkan nasehat mu
Dan,maafkan putri mu yang pernah membuat mu menangis.
KU hanya bisa menyadari bahwa engkau sllu berarti bagiku,ingin rasanya kU berbakti hingga ajal menanti……