Uci Zahra / Cermin Dua Sisi / tidak ada / tenaga kerja asing
Cermin Dua Sisi
Sejak kemarin sikap Yu En jie-jie sedikit aneh. Ada keraguan ketika dia bicara, atau senyum dan tatapannya seolah penuh tanya.
Apa mungkin aku baru dua bulan di sini, ya, jadi dia masih meragukanku? Batin berprasangka.
Yu En jie-jie adalah menantu akong Li, kakek yang menjadi pasienku di daerah Hua Shun, Banqiao. Anak akong, suami Yu En jie-jie bekerja di Touyuan dan seminggu sekali baru pulang. Yu En jie-jie sendiri tidak bekerja. Sedangkan anak mereka tinggal di Taipei bersama bibinya untuk kuliah.
Akong yang aku rawat menderita kencing manis dan darah tinggi. Usianya yang sudah sembilan puluh tahun menjadikan tubuhnya tidak lagi kuat memerangi penyakit. Fisiknya lumpuh dan bicaranya sudah tidak jelas, pun begitu beliau sangat ramah dengan senyumannya. Istri akong sudah meninggal sekitar tiga tahun lalu, itu penjelasan yang aku dapat dari anaknya.
Ujung mataku menangkap jie-jie yang sedang mencuri pandang ke arahku. Ketika kutoleh secara sempurna dia segera memalingkan wajah dengan cepat ke layar TV. Aku menggeleng heran. Tak lagi terusik dengan perilaku jie-jie, aku kembali menyuapi akong semangka. Sebab sebentar lagi jadwalnya membawa akong jalan-jalan. Kebiasaan kami yang merawat orang tua apabila kondisi mereka memungkinkan untuk dibawa keluar, maka jalan-jalan ke taman adalah kesempatan yang menyenangkan. Untuk pasien maupun yang merawat, agar tidak bosan.
Lagi-lagi, saat aku mencoba memindahkan akong dari sofa ke kursi roda, semakin jelas bahwa Jie-Jie mnengawasi tindakanku. Ada sedikit grogi, tapi sebisa mungkin mengabaikannya.
Aku mencoba memecah hening dengan berpamitan untuk membawa akong ke taman.
“Jie, kami pergi jalan-jalan dulu, ya.” Pamitanku membuatnya sedikit terkejut. Mungkin tadi dia melamun sebentar.
“Oh, ya, ya,” jawabnya ragu.
“Han!” panggilnya. Aku memberhentikan langkah.
“Kamu benar sudah menikah?” Keningku mengernyit.
“Sudah, Jie. Bukannya diperkenalan awal saya sudah menjelaskannya?” Aku balik bertanya dengan perasaan heran. Selang beberapa menit dia masih diam. Akong menoleh ke arahku. Seolah bertanya mengapa berhenti lama?
“Ya, siapa tahu saja. Aku banyak dengar pekerja asing yang belum berkeluarga mengaku sudah dan yang sudah mengaku belum.”
Oh, sungguh! Pernyataan jie-jie sedikit banyak memukul perasaanku.
Namun aku mencoba menanggapinya dengan senyuman. Mungkin tidak setulusnya, yang penting aku jujur adanya.
Tak lagi dia berbicara aku melanjutkan langkah. Dengan isi kepala penuh pertanyaan tentang sikap majikan yang tiba-tiba berubah.
***
Taman dekat pasar Minde adalah tujuan kami hari ini. Tempatnya luas, nyaman, dekat pasar, dan juga bisa bertemu teman-teman. Akong pun senang sebab bisa melihat banyak kejadian yang membuatnya terhibur. Meski tidak terluah namun dari raut wajahnya jelas menggambarkan kesenangan. Orang tua yang sakit ataupun lumpuh, meski mereka ada yang tidak bisa berbicara, tapi ada cara tersendiri untuk mengungkapkan perasaan mereka. Hal yang aku pelajari sejak merawat orang tua.
Di tengah jalan aku melihat mbak Yuli yang baru keluar dari rumah majikan dengan mendorong kursi roda. Dia merawat akong juga, tapi kondisi pasiennya jauh lebih baik dibanding pasienku.
Langkah kupercepat untuk menghampirinya.
“Mbak, Yul!”
“Hana!” Suaranya terdengar serak dan hidungnya memerah. Apa dia habis menangis? Batinku penasaran.
“Mbak, habis nangis, ya?” Kuluahkan juga hal yang mengganggu pikiran. Dia tidak langsung menjawab, baru setelah jauh dari rumah majikannya, dia mulai bicara.
“Majikan perempuanku beberapa hari ini uring-uringan, Han, nuduh aku genit. Godain majikan lelaki, bahkan katanya aku juga genit sama akong. Kamu lihat sendiri kondisi akong sudah kayak begini. Masa aku segila itu, Han!? Kalau cuma kata-kata begitu sebenarnya aku coba tahan dan sabar, Han, tapi ia cerita begitu sama teman-temannya dan terus merendah-rendahkan TKW, terutama dari kalangan kita. Ia bilang memang kita ini benar-benar gila uang sampai jual diri!” ucapnya panjang lebar. Ada getaran emosi, `kekecewaan, dan tangis yang coba ditahan.
“Lah, apa sebabnya Mbak, sampai majikannya begitu amat?”
“Nah, itu dia! Gara-gara empat hari lalu ia melihat berita di TV soal satu TKW yang mengunggah video tidak sopannya di Facebook. Lalu masuk berita Taiwan. Langsung komentarnya nggak berhenti. Ada saja tambahan buruk tentang TKW. Apalagi kalau sudah kumpul dengan temannya, bumbunya semakin banyak, Han!” Mbak Yuli bercerita layaknya amarah yang terkurung lama dan akhirnya terbebas, menggebu penuh amarah.
“Oh, itu Mbak. Iya, hal itu ramai dibincangkan di Facebook. Tapi aku nggak lihat pas masuk TV Taiwannya. Eh, tunggu! Jangan-jangan majikanku berubah juga gara-gara berita itu!?” Tiba-tiba sikap dan ucapan majikan yang tidak seperi biasanya melintas.
“Memang majikanmu ngata-ngatain kamu, ya?”
“Nggak juga sih, Mbak. Tapi aneh saja, sampai dia tanya ulang soal statusku.” Mbak Yuli menggeleng heran.
Aku dan mbak Yuli sama-sama pekerja baru, tapi dia sudah habis potong gajinya sedangkan aku masih kurang tujuh bulan. Kami meneruskan langkah ke taman. Salah satu tempat yang menjadi ruang bagi kami untuk bertukar cerita, informasi bahkan rejeki. Ruang bebas bagi kami yang tidak dapat libur. Bertemu dan berbicara secara nyata bukan sekedar melalui media sosial, yang ekspresi lawan bicara tidak kita ketahui sama atau tidaknya dengan komentar mereka.
Obrolan dan langkah kami hentikan ketika mbak Win, salah satu teman kami yang sudah dua kali datang ke Taiwan menghampiri.
“Asyiknya bercerita sampai aku lambaikan tangan ke kalian nggak lihat!” tegurnya penuh canda.
“Eh, Mbak Win, maaf Mbak,” balas Mbak Yuli. Aku tersenyum senang.
“Lagi bahas apaan, sih?” tanyanya penasaran.
“Itu loh, Mbak, bahas artis dadakan di Facebook dari kalangan kita yang buat heboh jagat maya sampai TV Taiwan!” jelas Mbak Yuli masih dengan nada kesalnya.
“Oh, itu. Memang kenapa? Kalian kena dampaknya juga kah dari majikan?” Mbak Yuli ingin memnjawab tapi terhenti dengan ajakan mbak Win untuk masuk ke taman dan mencari tempat duduk. Pasien yang kami rawat menjadi pendengar setia. Ah, maafkan kami akong, ama. Bukan mengabaikan, kami hanya ingin berbagi cerita untuk mencari solusi saja. Ucapku dalam hati.
Setelah mencari posisi duduk yang aman untuk kami dan pasien, mbak Yuli langsung menjawab pertanyaan mbak Win. Sama seperti apa yang dia ceritakan padaku sebelumnya. Hanya saja, kali ini luapan emosinya lebih dramatis. Aku yang sedang memijati akong hanya tersenyum lucu mendengar obrolan mereka.
“Jangan terlalu sedih, ya, sudah resiko jika salah satu dari kita berbuat salah dampaknya akan menyebar luas. Nama bangsa ikut dibawa-bawa. Yang nggak ngerti apa-apa kena imbasnya. Itu sudah jadi makanan kita TKW dari dulu. Tapi jangan salah, nggak semua majikan percaya begitu saja dengan berita begituan, pun juga banyak TKW/TKI berprestasi di sini maupun di negara lainnya. Yang penting kita tetap kerja baik-baik. Dan jika majikan tetap bersikap nggak baik ke kita, tunjukkan bukti prestasi dan kebaikan lainnya dari kalangan kita ke mereka.” Mbak Win memberi nasehat sekaligus semangat.
Aku dan mbak Yuli tersenyum lega dengan apa yang disampaikan mbak Win. Buat kami yang termasuk anak baru di negara orang, banyak hal yang membuat kami terkejut dan kadang membawa kesedihan yang dalam. Hal ini membuatku ingat kembali dengan nasehat salah satu jie-jie di penampungan dulu, bahwa kerja ke luar negeri bukan hanya membutuhkan kepandaian dalam bekerja dan bahasa. Yang paling utama adalah mental. Sebab mental harus sudah siap di awal. Sedangkan kinerja dan bahasa akan mahir seiring berjalannya waktu.
Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul empat, aku, mbak Win dan mbak Yuli mengakhiri obrolan hari ini dengan senyum keyakinan. Bahwa semua akan baik-baik saja, meski segelintir lainnya tidak dalam keadaan baik. Saatnya kembali bekerja.
Ciayooo!!!
***
“Jie, lihat! Ini pekerja dari Indonesia menang lomba menulis antar empat negara, hadiahnya seratus ribu NT. Hebatkan?” tanyaku dengan bangga.
“Jie, lihat dua pekerja Indonesia masuk TV Taiwan atas kinerjanya dalam membantu sesama pekerja Indonesia dan prestasi mereka dalam berkreatifitas.”
“Jie, ada pekerja Indonesia yang memenangkan kejuaraan Tai chi. Keren kan?
Hampir setiap hari aku akan memberi informasi ke majikan, soal banyaknya pekerja dari Indonesia yang berprestasi. Salah satu cara yang diberi oleh mbak Win, bagaimana menunjukkan pada majikan atau orang Taiwan. Jika kami bukan sekedar seorang pekerja asing yang hanya banyak masalah. Tapi, pekerja asing yang mempunyai segudang prestasi. Tentunya dengan bantuan bahasa dari mbak Win. Ia akan menerjemahkannya ke bahasa mandarin dan aku akan menghafalkannya seharian. Diiringi gugup yang kadang menerbangkan hafalan.
Majalah berbahasa Indonesia menjadi langgananku kini. Dengannya aku akan selalu mendapat berita baru, tentang kesuksesan purna BMI, prestasi teman seperjuangan, dan info lain. Meskipun hal-hal tidak baik ikut menyertai juga. Setidaknya hal baiklah yang lebih mendominasi.
“Jie, lihat! Banyak pekerja yang meneruskan sekolah di sini. Wah, senangnya, andai aku juga punya kesempatan,” ucapku penuh harapan. Jie-Jie di sampingku hanya mengernyit heran.
Begitu seterusnya. Akan ada saja hal baru yang akan aku ceritakan pada majikan. Walau kadang jie-jie acuh dalam menanggapi, paling tidak dia tahu. Kami pekerja asing yang juga berkarya, masih punya tata krama dan tidak semua buruk akal juga tingkahnya.
Tapi pernah suatu ketika jie-jie melihat-lihat majalahku dan pas menemui gambar tentang video heboh itu. Dan, mulailah dia berceloteh panjang lebar, namun akhirnya aku tahu penyebab perubahannya dulu. Meski begitu, dengan bahasa ala kadarnya aku membela diri dengan tuduhan-tuduhannya kepadaku maupun pekerja lainnya. Bahwa, meski sama satu bangsa, kita berbeda cerita!
Ujungnya, jie-jie akan menghentakkan kaki dan pergi, entah ke taman atau ke kamarnya.
Aku, tersenyum lega.
Pelan-pelan jie-jie mau terbuka soal pemikirannya terhadap pekerja asal Indonesia. Dia tidak lagi menjelek-jelekkan kita. Bahkan, dia orang pertama yang akan membuka majalah langgananku. Yah, meski hanya bisa melihat gambarnya, tapi dia akan bertanya maksud dari foto yang membuatnya penasaran.
Keakraban, kepercayaan dan pengertian mulai bertunas di antara kami. Hal itu membuatku lebih tenang dan nyaman dalam bekerja merawat akong.
Alhamdulillah.
“Seperti cermin yang mempunyai dua sisi. Begitu pun kita dan kehidupan. Jika sisi depan tidak memantulkan hal baik, coba balik atau kita yang beralih arah dan melihat pantulan sisi lainnya. Pasti ada hal baik yang lebih indah untuk ditatap.” Pesan dari seorang teman di penampungan yang kembali teringat.
Banqiao, 29 Mei 2016