Sekawan st 366 F 1

Firis Salsabilla / Sekawan st 366 F 1 / Teman satu kuliah / tenaga kerja asing Sekawan st 366 F 1 Rasanya aku baru kemarin berada di sini, tapi kenapa waktu berlalu begitu cepat berlalu. Seorang Iris yang dulu pergi ke Taiwan demi pelarian konyol kini malah bersedih ketika mengetahui hari kepulangan nya ke tanah air. Aku benar-benar … Continue reading “Sekawan st 366 F 1”

Firis Salsabilla / Sekawan st 366 F 1 / Teman satu kuliah / tenaga kerja asing

Sekawan st 366 F 1
Rasanya aku baru kemarin berada di sini, tapi kenapa waktu berlalu begitu cepat berlalu. Seorang Iris yang dulu pergi ke Taiwan demi pelarian konyol kini malah bersedih ketika mengetahui hari kepulangan nya ke tanah air. Aku benar-benar sudah merindukan bumi pertiwi, Indonesia. Di sana lah ku rasa senang. Benar ada nya, walaupun negeri tetangga lebih mashur dan permai tetapi tetapi kampung dan rumahku lah ku rasa senang*. Seketika ingatan ku mengimbas kembali di saat pertama kalinya aku menginjakan kakiku di sini, Taiwan.
Jonghe, November 2013
Selamat siang dan selamat datang di San Non. Nama kamu siapa? Seseorang menyapa ku yang tengah bingung apa yang akan aku lakukan di sini nantinya. Dia begitu ramah dan sangat bersahabat, Miss Sharon namanya. Itu adalah seseorang yang mengajak ku berbicara untuk pertama kalinya aku datang ke sini, Taiwan. Nama ku Iris Aryani. Tetapi Miss Sharon memanggil ku Yani, nama belakang ku jadi setiap orang yang berada di pabrik itu selalu memanggil nama belakang ku. Aku adalah seorang yang beruntung, bagaimana tidak? Bos ku sangat menyayangi ku terbukti ketika mereka untuk pertama kalinya menanyakan berapa umur ku, setelah mereka tahu umur ku mereka meminta agensi ku untuk memperkerjakan satu orang lagi karyawan yang berasal dari Indonesia. Yah, aku memang awalnya sendiri di sini tapi tidak lagi setelah kedatangan teman ku Kimi namanya.
Jonghe, Desember 2013
Kimi adalah teman ku satu – satunya bekerja di sini. Setiap pagi aku dan dia akan bergantian mengayuh sepeda untuk berangkat demi mengejar impian. Aku bekerja sebagai operator QC*. Aku dan Kimi layaknya seorang kakak beradik, yang masih sangat terlalu kecil untuk bekerja di negri orang. Walaupun aku terlihat kecil tetapi aku mempunyai semangat yang berapi, demi cita-cita ku aku rela walaupun harus bekerja di negeri sebrang. Aku rela melepaskan keinginan ku demi untuk tidak melanjutkan pendidikan ke tingkat perkuliahan. Jauh di sudut hati aku akan terus berjuang walaupun harus ku telan pahit nya kehidupan. “ Yani, apakah kamu mau aku belikan Man tao? Itu adalah salah satu kebaikan bos ku. Setiap akhir pekan dia akan menanyakan ku apa yang ingin aku makan, dengan malu – malu aku dan Kimi saling menganggukan kepala ketika bos ku akan memberikan sesuatu. Aku tahu itu sangat tidak sopan berbicara dengan bahasa tubuh tapi aku masih belum terbiasa berbicara mandarin.
Tamsui, Juli 2014
“ Yani, nanti siang kamu ikut saya ke pabrik Silitech untuk mengecek barang yang rusak. Itu perintah dari sang kepala pabrik kala itu. Walaupun aku belum lancar berbicara bahasa mandarin tetapi aku terkadang menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa keseharian ku. Tidak biasanya beliau mengajak ku pergi ke lain pabrik. Dia mengatakan bahwa jangan heran kalau tiba-tiba aku di suruh mengikuti beliau untuk melihat permasalahan barang yang di produksi oleh pabrik ku.
Jonghe, Desember 2014
Tiba-tiba saja bos ku memberikan sesuatu di amplop merah, setelah aku buka ternyata di dalamnya uang. Puji syukur tuhan, bos ku adalah orang yang sangat dermawan. Dia sangat baik dan orang yang sangat toleran. Dia mengetahui bahwa aku seorang muslim, dia mengizinkan ku memakai jilbab, membolehkan ku beribadah di pabrik ketika memasuki waktu sholat, bahkan ketika akan membeli kan sesuatu dia akan lebih dulu mengimbau kepada bendahara bahwa aku tidak boleh memakan babi, terkadang dia juga akan melihat bahan apa saja yang terkandung di dalamnya.
Jonghe, Agustus 2015
“ Yani, nanti tolong kamu yang mengajarkan barang – barang yang rusak yang tidak boleh di kirim dan barang yang bisa di kirim. Sekarang aku mempunyai seorang teman lagi, dia orang Vietnam tapi dia sudah menjadi penduduk sini, namanya Phuong Vi. Aku biasa memanggil dia vi, dia juga sangat baik kepada ku dan Kimi. Dia yang mengajarkan ku berbicara bahasa mandarin, dia sangat pintar berbicara bahasa inggris jadi aku bisa berkomunikasi dengan nya. Setiap hari aku bekerja dengan harapan yang tak pernah padam. Aku sangat terbantu dengan adanya vi bekerja satu grup dengan ku, menjadi seorang QC.
Jonghe, Desember 2015
“ San Non sangat puas dengan kinerja aku dan Kimi, sehingga pada akhirnya bos ku menambahkan satu karyawan lagi dari Indonesia, namanya Anita Pauru. Dia bukan bekerja sebagai qc seperti ku tapi menjadi operator produksi, setiap hari dia akan mendengar dentuman mesin, tidak ayal dia begitu kuat dan bersemangat dalam bekerja sehingga dia merupakan tangan untuk urusan cetak mencetak.
Jonghe, Januari 2016
Ternyata pabrik ku semakin hari semakin mengalami peningkatan yang cukup drastis, pabrik ku sedang kekurangan karyawan. Maka di putuskan dia akan mengambil satu orang karyawan lagi berasal dari Indonesia, Reni namanya. Dia bekerja sama seperti mbak Anita, sama-sama menjadi operator produksi. Di sini lah awal berwarna nya hidup ku. Aku semakin kerasan bekerja di sini. Terlepas dari bos ku yang sangat menyayangi ku, aku semakin menikmati pekerjaan ku sebagai seorang QC. Maka, aku memutuskan untuk memperpanjang kontrak ku. San Non dunia ku, tempat ku bermetamorfosis. Tempat ku mencari rezeki demi cita-cita ku. Sekawan San Non yang menghidupkan ku. Aku, Kimi, Anita dan Reni.

Setangkai tak rasa

Susiyanti / Setangkai tak rasa / tidak ada / tenaga kerja asing Setangkai Tak Rasa (Boneka-boneka Hidup) Mereka telah berubah; mereka sudah tak membutuhkanku …” Mama menjatuhkan tongkat, lalu perlahan-lahan melangkahkan kakinya ke sofa. Dia melihat dua anaknya beserta menantunya sedang asik menonton televisi. Mark melihat Mama dan mendengus. “Sudah ku katakan, lebih baik kita harus mencari orang … Continue reading “Setangkai tak rasa”

Susiyanti / Setangkai tak rasa / tidak ada / tenaga kerja asing
Setangkai Tak Rasa
(Boneka-boneka Hidup)
Mereka telah berubah; mereka sudah tak membutuhkanku …”

Mama menjatuhkan tongkat, lalu perlahan-lahan melangkahkan kakinya ke sofa. Dia melihat dua anaknya beserta menantunya sedang asik menonton televisi.
Mark melihat Mama dan mendengus.
“Sudah ku katakan, lebih baik kita harus mencari orang untuk menjaga Mama.” Ujar Peter.
“Itu betul.”
“Lagi pula dengan begitu lebih mudah dan tidak merepotkan kita.”
“Tentu saja.”

Mama menatap anaknya sangat lama, perhatian yang lambat laun berubah menjadi ketidak pedulian.

Kenapa? Kenapa tak kalian saja yang menjaga Mama?
“Kita semua sibuk, tidak mungkin harus menjaga Mama selama 24 jam.”
Tapi Mama masih bisa melakukan rutinitas sendiri. Kalian tak perlu khawatir Mama tidak akan merepotkan kalian.
“Tidak mungkin.”
Jadi, apa gunanya menjadi anak jika kalian tak mau menjaga Mama?
“Tidak seperti itu.”
Lalu apalagi?
“Mungkin seperti ini, aku memilih orang lain untuk menjaga Mama bukan berarti kami dengan sengaja mengasingkan Mama.”
“Lagipula dengan adanya orang yang bisa menjaga Mama 24 jam, kami tidak akan dihantui rasa khawatir” Ujar Peter.
Begitu ya?
Mata Mama mulai berkaca-kaca.

Untuk beberapa saat ruangan terasa senyap sekali, hanya terdengar celotehan acara sajian televisi yang begitu monoton.

Apa kalian tidak bisa memikirkan lebih panjang lagi?
“Tidak Ma, besok kami akan mengurus orang yang akan menjaga Mama nanti.”
Tapi, Mama tidak mau!
“Sudahlah Ma, turuti saja mau kami.”
Tapi, hmmm ….
Kemudian Mama tidak bisa berkata-kata lagi, bibirnya seakan terasa berat untuk berucap. Dunia seakan sedang mengutuknya, perasaan terabaikan, ketidakpedulian tertampak sudah diraut wajah anak-anaknya. Mama mulai mencoba untuk menepiskan dukanya, mendengar hal itu seperti tamparan keras mengenai wajahnya.

Mama tak tahu apa yang kalian pikirkan, tapi itu tidak akan membuat keadaan menjadi lebih baik.
“Mama harus mencoba pendapat kami.”
Mama tidak bisa, Nak.
“Mama itu cerewet!” geram Peter.
“Tak ada yang sebaik dari pendapat kami.” Mark berkata, dan memandang Mama.
“Kedengarannya mengerikan.”

Dua puluh menit kemudian, Mama menghirup napas dalam-dalam. Ia mulai menyadari bagaimana tangan-tangan alam yang telah membentuk alur kehidupannya, bagaimana dia akan bisa menikmati setiap jengkal waktu menghiasi harinya?, betapa sangat tampak suram masa depannya.

“Mama, ini terakhir kalinya kami datang kesini. Besok kami pindah.”
Kenapa pindah?
“Ada urusan.”
Dimana?
“Amerika.”
Untuk apa?
“Bekerja disana.”
Peter berpikir kembali selama beberapa detik dan segera saja teringat akan janjinya.
“Aku harus pergi, Ma. Soalnya banyak hal yang perlu diurus.”
Kenapa kalian mengorbankan masa tua Mama hanya untuk pekerjaan kalian?
Mark memandang Mama, ia merasa tertuduh dan disudutkan. Emosi semakin menguasainya.
Dulu Mama meninggalkan karier hanya ingin mengurus kalian, dan sekarang nyatanya kalian lebih mencintai pekerjaan kalian. Beberapa orang terlahir sebagai Ibu yang baik, seperti lebah yang hendak menghisap setangkai sari bunga tanpa rasa.

Peter dan Mark menertawai hal itu,
**
Karena itu, pintu sempit telah membawa Mama tepat keruangan penuh boneka-boneka yang dipapah, disuapin, dimandikan dan masing-masing diterangi cahaya usang dari sudut bola matanya. Dan begitu juga setelah itu, Mama berteman dengan imajinasinya. Tak ada solusi, dan bagian lain dari dirinya telah merayap pergi sampai menemukan lubang untuk menunggu mereka yang telah mengasingkannya.
Mama mulai membuka jendela dan menatap sekeliling rimbunan pohon yang mendayu-dayu dengan tatapan kosong seketika bergumam;
“Aku sudah berada dijalan yang mereka inginkan, dirumah ini, tentang boneka-boneka hidup yang terus mengangguk-angguk.”
…..

Ombak Rasa di Formosa

Neni Triana / Ombak Rasa di Formosa / Tidak ada / tenaga kerja asing Apalagi yang membuat hati berdesir selain pertemuan yang tidak disengaja dan tumbuh butir demi butir rasa,lalu terhentak sesak pengap karena harus berpisah tiba tiba. *** Halo Assalamualaikum,Ku angkat hp ku “ini lho mah orang nya”Terdengar suara diseberang sana “Kenapa mz?ku tanya meski salam aku … Continue reading “Ombak Rasa di Formosa”

Neni Triana / Ombak Rasa di Formosa / Tidak ada / tenaga kerja asing

Apalagi yang membuat hati berdesir selain pertemuan yang tidak disengaja dan tumbuh butir demi butir rasa,lalu terhentak sesak pengap karena harus berpisah tiba tiba.
***
Halo Assalamualaikum,Ku angkat hp ku
“ini lho mah orang nya”Terdengar suara diseberang sana
“Kenapa mz?ku tanya meski salam aku pun tak dijawabnya.
“kamu kenapa menggangguku” jawabnya
“maksudmu apa mz”kembali kutanya,namun bukan jawaban yang kudengar melainkan obrolan yang seperti pertengkaran antara dia dan suara seorang wanita.ku matikan teleponnya tanpa pamit.
Perlahan ku baringkan badanku,apa yang kudengar beberapa hari yang lalu masih terngiang,terasa menusuk nusuk hatiku,ada sesak terasa didadaku.penyesalan selalu datang belakangan bahkan tak peduli dengan keadaan,8bulan sudah aku menjalin hubungan dengannya,jujur saja aku memang sangat mencintainya,pertemuan pertama yang tak disengaja saat kita sama sama melaksanakan shalat idulfitri disalah satu mesjid di daerah chungli,telah membuat kita dekat,app sosmed yang sedang marak membuat kita dengan mudah saling mengenal satu sama lain,hingga akhrnya komunikasipun terjalin setiap hari,dari situ bermula,Cinta itu memang buta kebohongan kebohongan dan kejadian buruk yang telah banyak didengar disomed tak membuat ku lantas takut dibohongi.siapa yang dengan mudah bisa menolak hati jika perasaan itu sudah mendahului muncul.singkat cerita aku pun menjadi orang yang sangat bahagya,ijin libur dijadikan kesempatan bertemu dengannya,hari hariku menjaga dan merawat kakek terasa ringan.majikan yang baik kakek yang sabar ditambah seorang kekasih yang mencintaiku tentu saja membuat aku semakin kerasan bekerja diformosa ini.
Waktu memang selalu merubah keadaan,Siapa yang tau akan ,tidak ada yang tau bahwa kita akan benar benar menyesal dan terluka,jika saja kita tau pasti saja cerita cerita itu akan kita buat pelajaran.
Dia yang tak kalah mencintaiku juga ternyata bukan seorang singel yang tak punya seorang kekasih seperti pengakuan nya pertama kali saat mengutarakan hatinya padaku,kalau sudah begini tentu saja aku sendiri yang salah yang ceroboh yang dengan mudah jatuh cinta dan kini aku sendiri yang terluka.dengan jujur aku tidak menyalahkannya jika itu adalah satu senjata agar aku menerimacintanya.
“kau wanita jalang,wanita yang tidak laku,percuma saja kau berkerudung kalau kelakuanmu menggoda dan merebut pacar orang”satu sms dari seorang wanita yang sama sekali namanya pun tidak ku tahu benar benar membuat hatiku sakit,membuat kepalaku panas,membuatku benar benar membenci laki laki itu,memang benar aku yang ceroboh tapi siapa yang menduga kalau dia juga berbohong bukankah ini sungguh tak adil fikirku aku yang tertipu aku pula yang kena marah.
“maafkan mz nna” satu sms menyusul setelahnya
“maaf?maaf untuk apa mz”ku blz msnya
“untuk semuanya nna,mz benar benar minta maaf”
“aku tidak menyalahkan kebohonganmu mz,kebohongan yang sama sekali tak disangka,8bulan ini aku sungguh tak pernah berfikir bahwa aku telah dirimu bohongi,tapi yang paling tak disangka dirimu tidak sedikitpun punya hati,perasaanmu slama ini sungguh dusta!hak mu untuk memilih diantara kami,tapi bukankah ini tidak adil jika dirimu dengan sengaja memberikan no hpku kepadanya sehingga dia dengan bebas melontarkan kata kata kotornya lupa kalau aku juga telah dibohongi dirimu, setelah pertama ditelepon itu saat dirimu dengan tidak punya hati memperkenalkan aku seperti itu”omelan panjang pun ku luapkan kepadanya dan itu menjadi akhir dari hubungan aku dengannya.
Tidak mudah memang melupakan rasa sakit disaat kesedihan datang bersamaan,saat kakek sedang kritis,kesehatannya yang semakin turun saat bersamaan juga aku harus melupakannya,melupakan kebahagyaan yang baru beberapa pekan menjadi satu penyemangat kerja jauh dari keluarga.
***
Hujan diluar malam ini semakin deras,suara mesin disebelahku sesekali mengagetkanku,membuat aku tidak bisa tidur,kupandangi ranjang kakek disebelah ku,ranjang yang berbeda dari biasanya.ya kini kakek tertidur pulas dalam kulkas dingin yang teramat dingin,sudah sebulan lebih kakek pergi.2 tahun sudah aku merawat kakek,kakek yang baik,seorang yang tak berdaya yang setiap harinya terbaring ditempat tidur karena kondisi kesehatan yang semakin melemah,sesak nafas kakek membuat masa tuanya selama 2tahun ini harus menderita.kini kakek telah pergi untukselamanya.pada saat beberapa hari kakek meninggal pada saat itupun hubungan aku harus berakhir dengannya,menambah setiap kesedihan itu terasa berat.
“kamu belum pindah majikan ya?masih menunggu mayat?kalau aku jadi kamu aku sudah telepon ejen minta pindah mau maunya nungguin mayat,sendirian lagi,kamu sangat berani ikhh”satu kalimat dilontarkan temanku saat aku menelponnya.
Kebaikan majikan dan kakek membuatku segan melakukan apa yang temanku sarankan.jujur saja saat malam pertama sampai 4hari kakek meninggal aku merasa aneh sedikit takut dan tak bisa tidur,bayangkan selama 2bulan menunggu hari terakhir kakek disembahyangkan aku harus menemani mayat kakek seperti biasa tidur bersebelahan dengan kulkas mayat,adat,kepercayaan dan kebiasaan yang berbeda,seorang yang meninggal mayatnya beberapa hari harus disimpan terlebih dahulu menunggu tanggal dan hari baik untuk dikebumikan.kesibukan majikanku karena pagi harus pergi bekerja membuat dia tak bisa menemani aku dan kakek,begitu juga 2anak nya yang tinggl serumah dengn kami,anak kakek 4orang 3diantaranya cewek,2ditaipe dan 1 dikaohsiung,anak pertama datang hanya sesekali saja,anak kedua dikarenakan mertua dia meninggal sang ayahpun tak bisa dia lihatnya,kepercayaan yang benar benar membuat kakek seakan tidak punya anak,seorang anak wanita bahkan setelah menikah sang mertua lebih dipentingkannya,adat mereka yang tidak memperbolehkan untuk sekedar menjenguk mayat kakek juga.hanya anak terakhir kakek yang serumah denganku seorang duda yang juga sibuk dengan kerjaannya,bukankah kakek begitu menyedihkan fikirku.
“maafkan aku anna uang tour sudah masuk kalau aku tidak pergi sayang,aku titip kakek padamu,Kamu pasti tidak takut,ada kakek disini dia pasti menjaga kamu dan mendoakan kamu agar nanti dapat majikan yang baik”kata sance anak ketiga kakek sambil menangis memelukku.sebelum dia pergi,uang tour yang dia keluarkan sebelum kakek meninggal membuat nya dengan berat hati harus pergi selama 10hari.Aku pun menganguk dalam hati aku bergumam,justru yang kutakutkan kakek sekarang dia berbeda,seumur hidupku aku belum pernah menyaksikan seorang yang mau meninggalpun kini bahkan aku harus menunggu mayat kakek sendirian dan 2 bulan bukan waktu yang sebentar lagi.namun kebaikan majikan dan pengertian kakek membuat aku kasian meski dengan terpaksa walaupun majikan yang baru telah menyuruhku cepat cepat datang.
Hari demi hari akhirnya akupun terbiasa menjaga mayat kakek,sesekali kutengoki kakek ku pandangi wajahnya kini bukan rasa takut yang kurasa tapi rasa kasian kulkas mayat yang dingin membuat wajah kakek semakin pucat.ahh melihat semua ini sungguh kebiasaan mereka terlalu asing bagiku.
Dreddd…satu sms masuk dihpku,mengagetku yang sedang memandangi kulkas mayat kakek.
“nonk kamu lagi apa?belum pindah majikan kan?udah move on belum kamu hahaa,jangn kamu pikirin dia terus masih banyak cowok yang bener.oh ya nonk aku pindah majikan,majikan aku sekarang pelit banget rese banget jadi aku malas kerja didia”sms dari salah satu sahabat terdekatku tina
“lah terus kamu dimana sekarang ?tanyaku!”
“aku dirumah kakek yang dulu nonk yang meninggal,soalnya tinggal diejen juga harus bayar makan perhari,nunggu punya majikan lagi”
“bukannya sama saja tinggal disitu juga harus makan,rumah kakekmu dulu kan kosong sekarang?jangan jangan kamu bohong,kulihat foto2 di sosmed fb mu,itu seperti nya kamu sekarang tengah malam keluyuran gitu?”
“iya kan aku belum dapat majikan lagi nonk,kadang tinggal diejen juga,ya bisa keluar ijin,pinjamin duit 2000nt nonk,kalau tidak ada 1000 nt juga tidak apa apa,buat makan sehari hari nonk please tolongin,aku butuh banget,sorry saat kamu lagi sedih aku malah pinjam duit”
“Udah biasa keles gak usah minta maaf,aku juga gak ada duit,harus pindah majikan lagi belum tahu bagaimana nanti disana,kalau 1000 ini ada tapi kamu kesini saja ambil”
“aku kesana kan harus pakai ongkos,gak ada uang sepeserpun,please nonk kirimin kalau punya sama indomie”
Melihat smsnya seperti itu,aku sedih banget benarkah untuk makan saja dia tidak ada,sedangkan aku dan dia sungguh sangat dekat bahkan dengan mamahnya pun aku sering berkomunikasi dan tidak jarang mamahnya selau menitipkan dia padaku.dia memang 2tahun lebih kecil dariku,aku dan dia pertama kali ketemu dipt saat pertama kali kita ketaiwan,ini untuk kedua kalinya kita bekerja ditaiwan,kita memang jarang bertemu karena dia memang tidak ada libur,namun komunikasi tidak pernah telat,apalgi sekarang setelah adanya sosmed,kenangan pertama dipt membuat kita seperti saudara sendiri,aku yang seperti seorang kakak kepada adiknya yang tak pernah telat membangunkannya dan menyuruh dia shalat,membuat dia sangat sayang juga padaku.dia yang dengan sayang menjaga aku saat aku sakit,tidak seharipun kita berpisah kemana mana selalu bersama,saat kedua kalinya kita berangkat ke pt aku lebih dulu pergi dan dia menyusul kembali.
“ya udah liat besok,kalau ada waktu aku kirim”
“makasih ya nonk,maafin aku disaat kakek kamu meninggal aku malah ngerepotin kamu,miss u”.
“iya kamu jaga diri baik baik diluaran sana,itu siapa lagi yang sering bersama kamu difoto,kaya cowok pacar kamu ya?mesra banget gitu,majikan belum dapat malah pacaran buat beli indomie aja kagak punya Huhh”
“hahha itu cewek ko bukan cowok nonk,teman aku dipt kemarin waktu kesini”
“lah itu kaya cowok banget,bahkan teman kita yang dipt dulu sampai nanya ke aku katanya pacar kamu itu cewek ya?”
“tenang aja nonk aku masih normal ko,”
“ya syukur lah harus tetap normal,kamu harus pilih pilih lah pergaulan disini tau kan bagaimana jangan sampai kaya aku juga,kita harus ingat mimpi kita,pokoknya kita harus jaga diri kita sendiri baik baik”
“ya nonk makasih,kamu juga jaga diri baik baik,lupakan dia,Tuhan masih sayang kamu sebelum terlambat kamu sudah tahu siapa dia”sms terakhrnya malam itu.
Hari ini tepat 2bulan kakek pergi,hari ini akan dikebumikan.selamat jalan kek agama dan kepercayaan kita memang berbeda tapi dirimu dimataku adalah seorang majikan yang baik yang pengertian seorang pasien yang sabar. ,semoga segala perbuatan baikmu diterimaNYa.doa dalam isak tangisku dihari terakhir kakek,hari terakhir aku menjaga kakek.
***
“Anna mau kah namamu kucantumkan dalam kartu keluarga”kata majikanku disaat malm terakhr aku dirumah kakek sebelum aku pindah majikan karena kontrakku memang masih 9bulan menuju 3th,dan Alhamdullilah aku sudah mendapat majikan yg jaraknya pun tidak jauh dari tempat ini.Sontak saja semua yang disitu tertawa,ada anak ketiga kakek dan 3 orang anak majikan aku.
“anna majikanmu bilang sebenarnya,kalau kamu mau tidak usah pindah majikan,kamu bisa menikah dengan adikku ”timpal anak ketiga kakek
“iya benar ayi kamu bisa menikah dengan papa”jawab anak majikanku yang cewek.Merah wajahku seketika,aku hanya tersenyum tidak menjawab perkataan mereka
“Anna mau tidak aku benar2 serius kamu bahkan bisa bawa mamah kamu kesini,kembali majikanku berkata
“kalau tidak mau kamu bisa kasih mamahmu uang perbulan” ujar sance(ank ketiga kakek)
“Ah jangan bercanda kataku sambil tertawa”
“Iya anna kamu mau tidak anak nya yang laki2 ikutan bicara.dengan mudah ku jawab aku dan kalian tidak akan sama agama ku bahkan tidak menyukainya ujarku dan aku tidak bisa melakukan ibadah dan kebiasaan kalian tentang agama.asal saja aku menjawabnya meski memang benar.
“kamu jangn khawatir majikanmu yang mengerjakan semuanya kamu tidak usah ikutan sembahyang”kata sance kembali atau kalau tidak mau kamu mau aku angkat sebagai anakku aku tidak punya anak cewek nanti suamiku bisa cariin kamu kerjaan di pabrik tapi kamu jangan kembali pulang Indonesia”
Aku pun tersenyum dan berkata,terimakasih semuanya saat ini aku hanya akan menyeleaaikan kontrak kerjaku.
“Ah anna padahal kami suka sekali dan tidak mau berpisah dengan kamu,terimakasih sudah menjaga kakek selama ini,jangan sungkan sungkan sering datang kesini kalau ada apa apa nanti dimajikanmu yang baru kamu pulang kesini dari sana kamu juga tau jaraknya tidak jauh kata sance sambil terisak nangis membuat semua orang yang tertawa tawa dengan candaan barusan serentak diam.
***
Angin sepoi sepoi menerpa wajahku,kupandangi jalanan didepan tidak jauh di depan sana sungai kecil mengalir,jembatan besar yang mempunyai sejarah ditaiwan terlihat tidak jauh dari tempatku berdiri..ah tempat ini sepertinya tidak asing fikirku.
Kupandangi kursi didepanku kursi panjang dibawah pohon besar ..tangga ke bawah menuju sungai kecil didepan menambah cantik pemandangan saat dikursi itu,kukunci kursi roda kakek lalu kududuk dikursi itu,,ah dunia ini kecil fikirku dulu aku dengan nya menyusuri jalanan ini bahkan dikursi ini pun kita berdua sempat menikmati pemandangan yang klasik ini,air sungai dan rumput ilalang dan hujan gerimis itu.Dan sekarang aku berada disini bahkan tempatku sekarang disekitar sini,ya majikan baru ku disini aku sekarang menjaga seorang kakek yang lumpuh sebelah,pagi membawanya terapi dan sorenya membawa dia jalan jalan.
“kek..apakah dulu kamu sering kesini?”tanyaku pada kakek mencoba akrab
“iya,dulu aku sering ambil rumput disini untuk makanan rusa”jawab kakek
MUNGKIN KAU SEKARANG MASIH BERBAHAGYA,DENGAN DIRINYA DENGAN CINTANYA..tiba tiba hpku berbunyi lagu fredy kesukaan ku pakai sebagai nada dering (panggilan masuk).kumatikan hpku seperti nya aku lebih senang menikmati pemandangan ini.Dreddd tiba tiba sms masuk“lagi apa nonk?lu marah ya?”satu sms dari sahabat ku tina
“lagi bawa kakek sanpu”jawabku
“nonk pinjamin pulsa internet ifu aku gak bisa keluar nanti ku ganti secepatnya”
“huhhh aku baru saja pindah majikan,uang waktu itu juga kamu gak dibayar bayar hihihi udah pulsanya juga yang kemarin aku juga lagi butuh”
“Oh iya ya nonk duitnya aku belum ada,aku pusing masih banyak hutang bank dirumah,belum lagi harus kirim buat makan mamih sehari hari”
“eh itu difoto teman teman satu pt kemarin ya?kamu kabur ya?itu kayanya bebas banget main main dikosan tengah malam gitu,parah kamu mah,itu yang kaya cowok lagi udah kaya pacar aja difoto sama kamu”
“iya nonk sebenarnya aku kabur,cape banget kerja sama majikan baru rewelnya minta ampun,tapi please nonk jangan sampai mamih aku tau ya,kamu jangan bilang ke dia ya nonk”
“lahh kamu bener bener ya kalau aku gak nanya terus kamu kayanya gak bakalan bilang,ngapain juga pinjam duit 1000,2000 udah gitu bentar bentar pulsanya bukannya pekerja ilegal gaji gede harusnya aku yang pinjam kamu”
“aku kan baru nonk,belum dapat kerja,untuk makan sehari hari saja dari mereka”
“jadi mereka itu semua kaburan ya,kamu diajak mereka gitu ya?parah kamu mah,emang enak ya jadi pekerja ilegal?”
“gak nonk aku sendiri yang niat,udah gak dikasih libur,udah rewel,kerjaan cape,ya enak sih daripada resmi punya majikan gila kaya aku kemarin”
“kamu udah lama kabur kan?ngapain pinjam pinjam duit ke aku waktu aku belum pindah majikan sebenarnya kamu udah kabur,huhhh udah pinjam duit,dibohongin lagi,kamu hati hati diluar sana ini negara orang masa kamu gak sayang diri sendiri apalagi liat foto kamu sama cewek yang kaya cowok itu,jangan terlalu dekat”
***
Hari ini tepat 1bulan aku menjaga kakek Li.malam ini hujan diluar lumayan deras,udara sedikit dingin kuambil selimut dibawah kakiku,kulihat kakek sudah tidur,kakek Li ini memang sangat malas kalau dibawa olahraga tapi kalau soal tidur dia cepat dan sangat suka.Kucoba buka app line,ku cari nama tina seperti nya aku belum ngantuk
“lagi apa?kemana kamu?aku butuh pulsa mau telepon mamah”ku pm(privat messenger)dia niat mau ngobrol kumulai dengan meminta pulsa yang dia pinjam.
“maaf tina nya lagi pake line ini,tenang nanti kalau sudah ada duit gw bayarin hutang dia semua”satu balasan dari akunnya yang memberikan satu kontak line ke aku,kulihat dan ku add kontak yang dia kasih,fotoprofilnya seperti temannya yang berpenampilan cowok,kucoba telepon ke no hpnya sama saja yang menjawab ternyata orang itu.
“sudah kubilang dia gak pake hp ini,kamu jangan ganggu dia nanti juga hutangnya dibayar”kata suara yang menjawab teleponku,sambil mematikan teleponnya
“lah memangnya aku tau hp nya dipake kamu”gumamku dalam hati dengan cepat ku pm kontak linenya langsung
“wah kamu benaran pacaran sama dia ya,sampai tukaran hp juga,parah banget,malah marah aku telepon no mu,emang aku tau dia yang pake,kamu benar benar sudah lupa diri,bahkan pinjam uang pinjam pulsa ke aku juga tidak pernah cerita apa apa.tin aku benaran sayang sama kamu,sepertinya melihat fotomu saja sama dia sangat aneh,gak ada cowok lagi apa ditaiwan sini?dan mungkin lebih baik aku yang tertipu sama cowok daripada punya pacar seperti kamu”panjang lebar aku omelin dia,uang dan pulsa yang dia pinjam kujadikan alat untuk mengomelinya.
“maafin aku nonk,aku tidak ada jalan lain selain berpura pura suka dia,dia yang memberiku tempat tinggal gratis,memberiku makan sebelum aku dapat kerjaan,dia benar benar baik nonk,tapi percayalah aku masih normal nonk,mamih juga sering komunikasi dengannya tapi mamih tidak tau tentang ini,kamu jang telepon dulu ke no itu dia cemburu sama kamu,aku tidak boleh dekat dekat sama kamu”balasan pm dari tina
“hahaha cemburu?yang benar saja dia cemburu padaku terus kamu masih normal?lalu kamu tidur bareng apa apa bareng dengan dia?sedangkan dia menganggapmu sebagai pacarnya,alasanmu berpura pura karena makan karena dia baik lalu kamu bohong juga padaku,pada mamih mu?bahkan menjadi pekerja ilegal mamihmu juga tidak tau terus kedepannya bagaimana,aku memang tidak bisa menolongmu tapi ku mohon kamu jangan terbawa arus lingkungan gitu jaga diri baik”ku akhiri chat line dengannya.
“iya nonk gak da cara lain lagi demi keselamatan aku,dia baik bahkan meminjamkan uang untuk aku kirim ke mamih,agar mamih tidak curiga.oh ya nonk aku pinjam ktp sama paspor mu buat pinjam duit,nanti aku lunasi hutang ke kamu sekalian kukasih lebihnya”ku pandangi smsnya rasa kecewa mulai menyelinap pelan pelan apa dia memanfaatkan rasa sayang dan kasihanku padanya fikirku,aku memang percaya padanya tapi setelah melihat dia sekarang kepercayaan ku sedikit hilang,ktp dan paspor?sungguh aku juga tidak sebodoh itu untuk menyerahkannya.kuabiarkan pm nya tidak kublz lagi
“nonk aku tau kamu kecewa padaku,mungkin kamu jijik melihatku sekarang,maafin aku ketahuilah aku benar benar sayang kamu dan kangen kamu”
Perlahan airmataku keluar,terbayang saat saat dipt bersamanya kemanapun kita pergi selalu bersama,waktu telah merubah persahabatan kita,keadaan,lingkungan,dan pergaulan berperan sangat besar bagi kita yang berkondisi seperti ini,aku juga sangat menyayangimu tin,semoga ketidakpercayaan ku kali ini padamu membuat kamu sadar kembali,menjadi pekerja ilegal memang tidak mudah meski gaji besar tetap saja keselamatan kita sangat bahaya,dari sekarang aku akan mengurangi komunikasi dengan mu demi dirimu juga,semoga nanti saat kita bertemu kembali kita sudah sama sama sukses dan tentunya kamu masih tetap seperti yang pertama aku kenal,aku juga benar benar merindukan mu,kebersamaan dan keceriaan itu.jaga diri baik baik tin kata kataku hanya dalam hati tak kuketik sebagai balasan pm dia.
kubawa,rindu,kecewa,harapan dan doa dalam mimpi malam ini.

RUMAH IMPIAN

ENI OKTAVIANI / RUMAH IMPIAN / TIDAK ADA / tenaga kerja asing RUMAH IMPIAN Namaku Eni, aku sulung dari tiga bersaudara. Namun, takdir telah merenggut adik perempuanku lima tahun lalu. Belum diketahui penyebab pasti kepergiannya. Namun, mantri yang memeriksanya kala itu mengatakan ia terkena serangan jantung, karena meninggal dengan tiba-tiba seusai melaksanakan sholat magrib berjama’ah, tepat di halaman … Continue reading “RUMAH IMPIAN”

ENI OKTAVIANI / RUMAH IMPIAN / TIDAK ADA / tenaga kerja asing

RUMAH IMPIAN

Namaku Eni, aku sulung dari tiga bersaudara. Namun, takdir telah merenggut adik perempuanku lima tahun lalu. Belum diketahui penyebab pasti kepergiannya. Namun, mantri yang memeriksanya kala itu mengatakan ia terkena serangan jantung, karena meninggal dengan tiba-tiba seusai melaksanakan sholat magrib berjama’ah, tepat di halaman masjid. Ya, Allah ternyata menyayangi adikku yang manis itu. Hingga, Ia tak ingin Adikku berlama-lama menghirup kotornya udara dunia.
Kepergian Adikku itu tentu saja menyisakan duka yang amat mendalam. Belum lagi hari pemakaman si manis itu bertepatan dengan hari dimana aku mengikuti ujian nasional SMA. Campur aduk rasanya perasaan ini. Air mata tak pernah surut, sebisa mungkin aku berusaha kuat dan berkonsentrasi mengerjakan soal, aku pasrah.
Selepas ujian, seorang guru yang akrab kupanggil Bapak sosiolongi, memelukku, menepuk bahuku dan berkata, “Sabar, cobaan bukanlah beban. Kamu kuat.”
kalimat Beliau itu dalah suntikan semangat yang sangat luar biasa, aku kuat. Sangat kuat, lebih kuat dari yang orang pikirkan. Terbukti dengan hasil ujianku yang cukup memuaskan, aku lulus.

Usai kelulusan, terbesit keinginanku untuk kuliah. Namun kondisi ekonomi mengurungkan niatku. Bagaimana tidak, kami tinggal di rumah berdinding papan semi anyaman bambu penuh lubang, yang berdiri dia tanah orang. Ya, tanah itu milik Nenek, kami masih menumpang.
Mulai saat itu aku berpikir dewasa dan memilih bekerja, tawaran untuk dikuliahkan gratis oleh saudara pun, aku tolak. Mimpiku satu, aku belum akan menikah ataupun kuliah sebelum bisa membuatkan rumah yang layak untuk orang tuaku.

Enam bulan bekerja sebagai pelayan toko, ternyata belum cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah. Bapak hanya seorang buruh tani. Beliau bekerja tidak tetap, sehingga tidak ada pemasukan tetap dalam rumah. Aku yang mau tak mau harus siap menjadi tulang punggung keluarga, mengingat Bapak juga mengidap penyakit diabetes. Beliau tentu butuh obat. Setiap pulang cuti, aku selalu membawa bulang dua kotak obat untuk ayah, sekotak bisa untuk 3 bulanan.

Waktu berlalu, dan selama itu pula aku masih terus berpikir keras, bagaimana mewujudkan rumah impian untuk mereka kelak, apa yang harus kulakukan?
Ternyata, Allah mengerti kegelisahanku. Aku dipertemukan dengan seorang pelanggan toko tempatku bekerja yang ternyata seorang sponsor TKW. Aku bertanya banyak pada beliau tentang proses menjadi TKW dan gaji perbulannya. Aku mendapatkan titik terang, aku akan bisa membangun rumah impian itu dengan jalan menjadi seorang TKW.
Akupun keluar dari pekerjaanku, boss ku sangat keberatan. Tapi apa boleh buat, gaji disana tidaklah cukup untuk membangun mimpi. Aku pulang, dan akan memutuskan menjadi TKW di singapura.

Dan,Allah lagi-lagi tidak tinggal diam. Keinginanku menjadi TKW tercium oleh sponsor dari desa tetangga. Beliau justru bersedia membiayai proses serta memberi uang saku, untuk bekerja ke Taiwan. Tentu saja langsung kusetujui. Bagaimana tidak, saat itu proses masuk taiwan harus membayar sekitar 2,5 juta, tanpa uang saku.
Tangis haru BAPAK dan ibu melepas kepergianku. Mereka tidak tahu tujuanku yang sebenarnya menjadi seorang TKW, yang mereka tahu hanyalah watakku yang sekali ingin, harus dilakukan. Itulah aku. Tujuanku untuk membangun rumah impian, masih kurahasiakan.
Setelah empat bulan merasakan getirnya tinggal di penampungan, tibalah aku di negeri yang serupa selembar daun mengapung, Taiwan. Negeri yang terkenal dengan sebutan formosa ini, akan mengajari serta membantuku membangun mimpi.
##
“ Pak, besok Eni kirim uang. Tolong belikan batu bata.” kataku pada Bapak dalam percakapan telepon malam itu.

“ Batu bata buat apa nduk?” tanya Bapak dengan nada heran.

“ Buat bangun rumah kita, buat apa lagi?”
Ya Allah ya Rabbi, apa ini mimpi? Alhamdulillah ya Allah. Buk e, anak kita mau bangun rumah buat kita Buk. Ya Allah ya rabbi, matursuwon,nduk.”
Suara Bapak dan Ibu terdengar serak,tangis bahagia beliau menumpahkan butiran bening di pipiku, aku lega.

Sejak saat itu,setiap bulan gajiku kukiririm ke rumah untuk mencicil bahan bangunan, mencicil rumah impian yang telah lama kami angankan. Dan, akhirnya setelah 2,5 tahun waktu berlalu, rumah itu telah berdiri kokoh. Dibangun tepat dimana hari aku aku dilahirkan, 20 oktober. Aku terharu, ternyata Bapaklah yang memilih tanggal itu. Ucapan selamat ulang tahun sekaligus senyum bahagia Bapak dan dan Ibu di hari itu, adalah hadiah terbesar yang takkan ternilai harganya. Rumah impian akan segera berdiri kokoh di depan mata dalam waktu singkat, melindungi mereka dari terik,hujan serata dinginnya angin malam. Aku lega.

“ Gimana Pak, rasanya tidur di rumah baru, Seneng gak?” tanyaku bahagia pada Bapak lewat telepon.

“ Ya seneng to Nduk. Kan sekarang kalo malam tidur sudah tidak khawatir kedinginan lagi. Tidak ada genteng bocor, dan tidak takut rumah roboh pas ada angin besar. Bapak dan Ibu berterimakasih sekali, Nduk. Lebih dari 20 tahun lamanya Bapak menjadi kepala rumah tangga, belum bisa membangun gubuk yang layak untuk kalian. Bapak sangat bersyukur, kini kamu bisa mengambil alih tanggung jawab Bapak. Maafkan Bapak, Nduk, Yang sakit-sakitan dan menjadi beban.”

Air mataku meleleh, aku tak kuasa menahan bahagia bercampur haru. Aku bisa mewujudkan rumah impian yan selalu dalam angan. Aku lega, bahagia. Sebuah rumah impian, sepetak kecil tanah untuk bercocok tanam serta sebuah motor second hand adalah harta yang amat tak ternilai yang kami punya. Mengingat sebelumya kami tak memiliki apa-apa. Aku bangga bisa mengukir senyum mereka dari balik formosa.

28 mei 2015, hari dimana aku akan cuti selama 2 minggu, pulang ke indonesia. Tiga hari aku harus menginap di jakarta untuk mengurus berkas di TETO dan KTKLN. Tentu saja hal itu mempersingkat waktuku untuk melepas kangen dengan keluarga, belum lagi tiketku pesawat yang terpaksa hangus karena lamanya proses pengurusan KTKLN. Aku harus pulang dengan jasa travel. Bapak mdnjemputku dengan sepeda motor supra fit hitam second, yang dibeli dengan uang yang kukirimkan untuk beliau, senyum bahagia melihat anaknya pulang, tergambar jelas diwajah.
Selama aku di rumah, Bapak selalu mengantarku kesana kemari. Ke pasar, nonton bola di Lapangan, kemanapun selalu aku diantar. Padahal aku bisa naik motor sendiri, tapi beliau bersikeras ingin mengantar, mungkin kangen, pikirku.

Rabu, 10 juni 2015, aku harus kembali terbang ke Taiwan. Kali ini dengan tujuan membangun mimpi keduaku, kuliah kemudian menikah dan dinikahkan langsung oleh Bapak.
Namun, Allah punya cerita lain untukku. 31 agustus 2015, Bapak berpulang kepangkuannya. Serangan jantung, katanya. Aku lemas, marah dan seperti orang linglung. Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku bingung, apa yang bisa kulakukan? Kenapa aku masih disini, sedangkan bapak terbujur kaku disana. Ternyata, keinginan Bapak mengantarku kemanapun aku pergi sewaktu di rumah kala cuti itu, dalah sebuah firasat bahwa beliau tidak akan mampu memboncengku lagi ketika aku finish kontraktiga tahun mendatang. aku ingin pulang. Ingin memeluk Bapak untuk terakhir kalinya. Tapi, kuurungkan niatku itu. Mengingat harga tiket pesawat yang melambung. Lebih baik uangnya kukirim saja ke rumah, untuk biayamengurus jenazah Bapak, biarlah aku disini menyulam do’a untuk beliau disana,serta menjadi tabungan pahala beliau di akhirat. Melanjutkn tanggung jawabku sebagai tulang punggung keluarga. Menghidupi Ibu dan Adik bungsu yang masih butuh pendidikan. Aku kuat, aku bisa dan yakin akan ada hikmah dibalik semua ini. Masih teringat jelas kalimat bahagia Bapak ketika tinggal di rumah baru. Tidak kedinginan saat tidur malam, serta tidak sibuk mencari ember kala hujan. Semoga Bapak bahagia dalam dekapNya, meski kini harus tidur di rumah yang sangat sempit dan gelap gulita, kami semua disini akan terus berdo’a untuk menerangi jalan Bapak disana.
Kami sayang Bapak serta Adik manis yang mendahului sebelum Bapak.

Kaohsiung city, 09 mei 2016.

Taiwan adalah impianku

Turinem / Taiwan adalah impianku / Tidak ada / tenaga kerja asing Namaku adalah turinem. Aku berasal dari kampung, daerah propinsi jawa tengah. Motivasiku ingin bekerja ke taiwan, dulu ketika masih duduk di bangku SMA. Menonton acara tv, drama serial ” Meteor Garden “. Film drama taiwan yang dibintangi oleh F4 dan 大S. Sejak itulah, impianku ingin bisa … Continue reading “Taiwan adalah impianku”

Turinem / Taiwan adalah impianku / Tidak ada / tenaga kerja asing

Namaku adalah turinem. Aku berasal dari kampung, daerah propinsi jawa tengah. Motivasiku ingin bekerja ke taiwan, dulu ketika masih duduk di bangku SMA. Menonton acara tv, drama serial ” Meteor Garden “. Film drama taiwan yang dibintangi oleh F4 dan 大S.

Sejak itulah, impianku ingin bisa menginjakkan kaki di negeri formosa. Karena rasa penasaran, ingin lebih tahu tentang kehidupan masyarakat taiwan.

Tahun 2007, aku masuk taiwan untuk yang pertama kalinya. Aku dapat job bersih-bersih rumah di daerah changhua. Sayangnya, aku hanya bisa bertahan kerja hingga satu tahun. Karena kondisiku sakit dan akhirnya aku putuskan untuk pulang ke indonesia.

Dan beberapa bulan kemudian, aku mencoba mendaftar lagi ke PT di jakarta . Aku ingin kembali bekerja ke taiwan. Tepatnya november 2008 aku dapat job di daerah tainan. Job pekerjaanku yang kedua kalinya adalah menjaga nenek. Aku jaga dan rawat nenek hingga hampir 8 tahun.

Awal aku datang di rumah majikan, rasanya masih terasa asing. Apalagi melihat kondisi nenek yang seperti orang tidak waras. Rasa takut ketika mulai berinteraksi dengan nenek. Nenek hanya bisa berbicara bahasa tayi. Aku menjadi kesulitan dalam komunikasi dengan nenek, karena aku belum mengerti bahasa tayi.

Jika kondisi nenek sedang kumat, beliau bisa memukulku. Bukan hanya memukul, terkadang juga menggigit. Hari berganti hari, aku lalui dengan kesabaran dalam menjaga nenek. Karena majikan memperlakukan aku seperti keluarga sendiri. Aku harus bisa lebih sabar dan merawat nenek seperti nenekku sendiri.

Lama kelamaan kondisi fisik nenek mulai mengalami banyak perubahan. Dari bisa jalan, tidak bisa berbicara dan akhirnya sekarang sudah tidak bisa apa-apa.

Banyak suka duka yang aku alami. Bagiku itu adalah sebuah pengalaman menjadi perawat jompo. Majikan begitu baik, selalu memberikan kebebasan dan kesempatan untuk banyak belajar tentang ilmu pengetahuan baru.

Dari banyak melihat acara tv taiwan, aku menjadi lebih banyak tahu tentang bahasa mandarin dan bahasa tayi. Aku juga suka mendengarkan lagu-lagu tayi seperti penyanyi 江蕙,黃乙玲.

Majikanku tidak pernah mengatur tentang pekerjaan. Aku rawat nenek dengan penuh kasih sayang. Anggota keluarga majikanku semua baik. Hari kerja biasanya aku hanya berdua sama nenek. Kebebasan itulah yang membuatku lebih betah, melakukan pekerjaan selalu dengan rasa keceriaan. Waktu luangku bisa aku gunakan untuk membaca buku atau belajar pengetahuan lewat media internet.

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Aku bahagia dan beruntung bisa punya majikan yang baik. Waktu hampir 8 tahun terlewati dengan banyak kenangan bersama keluarga majikanku.

Itulah pengalamanku selama bekerja di rumah keluarga majikan. Ini kontrak yang ketiga kalinya aku bekerja untuk majikan. Aku menjadi betah tinggal di taiwan. Banyak kenalan orang taiwan, membuatku seperti di kampung sendiri. Karena taiwan, impian dan terwujud harapanku untuk membahagiakan kedua orang tuaku. Terima kasih taiwan.

Formosa adalah rumah keduaku

Anik Su / Formosa adalah rumah keduaku / tidak ada / tenaga kerja asing Taiwan adalah tempat tujuanku untuk mencari rejeki aku selalu membayangkan akan kesuksesanku sepulang dari Taiwan hahaha belum berangkat saja sudah berhayal pulang membawa kesuksesan. Akhirnya keinginanku untuk pergi ketaiwan terlaksana juga ditahun 2009 aku sampai ditaiwan, pertama tiba dibandara dibawa keagency sampai kerumah majikan … Continue reading “Formosa adalah rumah keduaku”

Anik Su / Formosa adalah rumah keduaku / tidak ada / tenaga kerja asing

Taiwan adalah tempat tujuanku untuk mencari rejeki aku selalu membayangkan akan kesuksesanku sepulang dari Taiwan hahaha belum berangkat saja sudah berhayal pulang membawa kesuksesan. Akhirnya keinginanku untuk pergi ketaiwan terlaksana juga ditahun 2009 aku sampai ditaiwan, pertama tiba dibandara dibawa keagency sampai kerumah majikan aku merasa asing bagaikan mengingjak planet baru yang dimana bahasa dan orang -orangnya sangat berbeda. Tapi tidak mengapa niatku datang ketaiwan kerja mencari uang jadi hari hariku aku hiasi dengan senyum semangat. Tapi terkadang senyumku hilang karena kurangnya bahasa yang aku kuasai job kerjaku menjaga seorang pasien lansia yang manja seperti anak kecil. Ketika dia menyuruhku dan aku tidak mengerti membuatnya menjadi jengkel dan disitu masalah mulai muncul yaitu bahasa, tapi majikanku dengan sabar mengajariku dengan gerak tangan dan menunjukan barang apa yang ditunjuk sambil bicara dan pelan pelan aku praktekkan. Dengan seiring waktu akhirnya aku sedikit bisa bicara mandarin dan mengerti artinya pasienku sekarang sudah tidak marah marah lagi.

Ada kejadian lucu tentang makanan yaitu ayam masak arak, ketika dirumah bosku ada pesta semua makanan ada tapi aku takut mau makan karena agamaku Islam aku tidak bolih makan daging babi atau pun arak. Saat itu mataku tertuju pada potongan sup ayam yang rasanya gurih manis enak sih seperti kolak tape saat itu musim dingin perut juga lapar, aku minum sopnya tiga mangkok. Tiba tiba badanku panas pipiku merah jalankku terasa melayang melihat orang itu seperti ada bayangan ditambah kepala pusing, kukira aku demam terus bosku tanya kamu kenapa aku pusing baru saja minum sop ayam. Terus bosku bilang kamu itu mabok sop itu masaknya pakai arak putih sambil menunjukan botol arak putih. Dalam hatiku OMG kalau bahasaku lancar mungkin aku berani untuk bertanya dulu… Hmmm intinya menguasai bahasa negara tujuan itu penting untuk komunikasi.

Terkadang rindu banget dengan kampung halaman disitu timbul rasa sedih, tapi majikanku tau kalau mukaku muram mereka bertanya kenapa lalu sedikit terlontar obrolan segar yang membutarkan lamunan tentang kampung halaman. Aku selalu senyum semangat dalam melaksanakan tugas kerjaku membuat mereka suka padaku. Akhirnya kontrak kerjaku sudah habis aku harus pulang kenegaraku, bosku mengucapkan terima kasih sudah membantu mereka menjaga orang tua mereka.

Ketika sampai diindonesia aku belum punya usaha yang bisa aku jadikan pekerjaan akhirnya balik lagi ketaiwan kontrak kedua beda majikan. Jobku juga menjaga lansia awalnya ya asing menjalani pekerjaan baru tapi karena aku percaya diri bisa melakukan pekerjaan yang aku jalani dengan baik membuat bosku percaya kepadaku untuk menjaga orang tua mereka. Tiga tahun sudah berlalu masa kontrakku sudah habis aku harus pulang kenegaraku lagi. Bosku pernah pesan padaku kalau kamu balik ketaiwan kamu mainlah kerumah ini anggap ini rumahmu ya.. Dengan senyum ramah aku jawab terima kasih bos …. Sebenarnya orang Taiwan itu baik dan menghargai kinerja kita, tapi kita sebagai pekerja harus inisiatif dalam melakukan tugas kita maka orang lain pun bisa segan kepada kita.

Dan ini kontrak yang ketiga aku kerja ditaiwan tidak satu majikan tapi beda majikan semua yang awal itu memerlukan proses kesabaran kini aku juga mendapatkan bos yang baik, mungkin yang jadi masalah adalah pasien yang rewel pokoknya sabar dalam menyikapi setiap masalah. Kesabaran memunculkan kelembutan dan kelembutan akan mengubah kekerasan.
Ya… Formosa bagiku rumah keduaku karena sejak menginjakkan kaki disini kujumpai penduduk sekitarku ramah ramah dan juga baik hati

Namaku Lintang

Tun Swardjo / Namaku Lintang / Tidak Ada / Alumni Mahasiswa Namaku Lintang, nama yang indah bukan? Begitulah dulu semasa kecilku bapak sering memujiku dengan nama itu. Seperti tidak pernah bosan, setiap ada waktu luang bapak sering menceritakan kenapa aku diberi nama itu dengan harapan agar aku bisa mengapai cita-citaku setinggi bintang dan tetap bisa menyala di dalam … Continue reading “Namaku Lintang”

Tun Swardjo / Namaku Lintang / Tidak Ada / Alumni Mahasiswa

Namaku Lintang, nama yang indah bukan? Begitulah dulu semasa kecilku bapak sering memujiku dengan nama itu. Seperti tidak pernah bosan, setiap ada waktu luang bapak sering menceritakan kenapa aku diberi nama itu dengan harapan agar aku bisa mengapai cita-citaku setinggi bintang dan tetap bisa menyala di dalam kegelapan. Usiaku masih terlalu dini kala itu, aku tidak pernah perduli betapa bapak selalu takjub dan seperti punya harapan besar akan makna dari nama itu karena aku lebih peduli dengan dongeng yang akan bapak ceritakan setelahnya. Aku benar-benar baru bisa memahami makna besar namaku sendiri beberapa tahun kemudian setelah kepergian bapak.

Usiaku baru 12 tahun kala itu, usia yang sangat dini untuk menerima kenyataan bapak telah berpulang selamanya. Usia yang masih sangat dini untuk menerima kenyataan bahwa orang miskin seperti keluarga kami tidak boleh sakit karena begitu kami sakit maka kematian atau hutang dari rentenir yang akan siap memporak-porandakan kehidupan keluarga kami. Pilihan yang sama-sama berat dan jika kami bisa memilih kami tidak pernah ingin memilih kedua-duanya. Bagaimana mungkin ibu bisa membawa bapak untuk sekedar berobat ke rumah sakit sedangkan untuk makan besok saja kami tidak tahu apa yang kami makan kecuali dari hasil ladang yang luasnya tidak seberapa. Kemiskinan benar-benar telah merenggut secuil kebahagiaan yang keluarga kami miliki sampai kami benar-benar lupa bagaimana rasanya bahagia.

Setelah kepergian bapak seperti ada lubang besar yang menganga di lubuk hatiku. Lubang yang tidak pernah bisa ditutup sampai kapan pun dan aku juga tidak akan pernah membiarkan orang lain menutup lubang itu karena disanalah tempat dimana aku selalu meletakkan kenanganku bersama bapak. Kenangan yang begitu indah untuk dilupakan tapi juga begitu sakit untuk dikenang tapi biarlah, biarlah kenangan itu yang akan selalu memompa semangatku dan menemani hari-hariku. Tidak banyak yang berubah dalam kehidupaku dan keluargaku. Kemiskinan yang tetap menghantui kehidupan kami, hinaan dari tetangga-tetangga yang tidak pernah berempati dengan penderitaan yang kami lalui meskipun masih banyak juga tetangga yang perduli. Satu hal yang aku rindu setelah kepergian bapak adalah tidak ada lagi orang yang menceritakan kepadaku tentang kebesaran arti namaku. Aku rindu akan kenangan-kenangan itu dan bahkan teramat rindu, perasaan rindu yang aku rasakan teramat dalam sampai jika aku merasakan rasa rindu itu justru rasa sakit yang aku rasakan. Rasa sakit yang menusuk sampai ke ulu hatiku.

Setelah lulus sekolah menengah pertama, ibu memaksaku untuk melanjutkan pendidikanku. Aku tidak pernah benar-benar menginginkannya. Bukan tidak menginginkannya lebih tepatnya, aku lebih berfikir realistis jika aku bisa sekolah sampai SMU bagaimana dengan adik-adikku? Bagaimana dengan sekolah mereka dan bagaimana dengan kebutuhan sehari-hari kami karena aku tahu biaya sekolah menengah atas tidaklah murah untuk ukuran keluarga kami. Selain itu aku lebih merasa setelah kepergian bapak, akulah yang seharusnya membantu ibu untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan untuk memenuhi biaya pendidikan adik-adikku. Tentang kenangan bersama bapak, ibu sama sepertiku. Ibu juga tidak pernah mau membiarkan posisi bapak dihatinya digantikan oleh orang lain sehingga ibu selalu menolah laki-laki yang meminangnya. Dan kesedihan ini sempurna menjadi milik kami, kesedihan yang membuat kami merasakan mejadi keluarga yang utuh. Utuh karena kami tetap menghidupkan bapak dihati kami, utuh menurut versi keluarga kami.

Aku sudah tidak tahan lagi dengan kemiskinan yang terus menerus menjerat keluargaku. Aku sudah tidak tahan lagi mendengar rengekan adik bungsuku yang selalu menolak ke sekolah jika ibu tidak membelikan sepatu baru untuknya. Dan aku sudah tidak tahan lagi melihat ibu yang diam-diam menangis menahan kepedihan yang beliau rasakan, kepedihan yang selalu ditutupi rapat-rapat dan tidak pernah ingin diperlihatkan kepada kami apalagi untuk dibagi. Aku sudah tidak tahan lagi dengan semua penderitaan dan kesedihan yang aku dan keluargaku alami.

Setelah tamat sekolah menengah atas, aku diam-diam mendaftarkan diri menjadi tenaga kerja Indonesia ke agent penyalur tenaga kerja asing yang tidak jauh dari sekolahanku. Aku punya harapan besar dengan keputusanku itu. Aku ingin merubah nasib keluargaku, aku ingin adik-adikku merasakan kehidupan yang jauh lebih baik dari kehidupanku dan yang paling utama aku ingin mengambil alih tugas bapak. Ternyata keputusan itu mendapat tentangan keras dari ibu. Ibu begitu khawatir akan jalan yang akan aku lalui di Negara orang. Tempat baru di mana ibu sudah tidak bisa lagi menjagaku seperti janji yang telah ibu ucapkan kepada bapak. Dengan sekuat tenaga aku berusaha meyakinkan ibu dan berjanji akan menjaga diri dengan baik dan meminta ibu untuk tetap menjagaku dengan doa-doanya. Karena aku percaya tidak ada penjaga yang jauh lebih baik dari doa seorang ibu.

Hari keberangkatanku telah ditentukan beberapa bulan kemudian dan seperti tenaga kerja Indonesia lainnya aku mengikuti segala prosedur yang disyaratkan oleh PJTKI yang memberangkatkanku. Sebelum mengikuti Pembekalan Akhir Pemberangkatan (PAP) aku menyempatkan diri untuk mengunjungi makan bapak untuk yang terakhir kalinya, tempat di mana selama ini aku biasa mencurahkan segala isi hatiku, mengungkapkan segala keluh kesahku dan tempat di mana aku menyembunyikan rahasia dan kesedihanku dari ibu. Di depan nisan bapak aku berjanji akan menjadi bintang di langit yang akan memberikan cahayanya tidak hanya kepada keluarga kami tapi kepada semesta alam. Beberapa bulan kemudian aku baru sadar bahwa aku hanyalah anak usia belasan yang begitu naïf menghadapi kehidupan.

Masih melekat dalam ingatanku, tujuh tahun silam dipenghujung musim dingin, kali pertama aku menginjakkan kakiku di bumi Formosa dan semua perjalanan hidupku dimulai. Udara dingin menusuk tulangku ketika aku bersama beberapa orang yang aku kenal selama di PT mengikuti seorang lelaki tengah baya menuju sebuah mobil yang diparkir di pelataran bandara. Hembusan angin pagi yang sejuk seperti menyadarkanku bahwa aku telah berada ribuan kilo meter jauhnya dari rumah, ribuan kilo meter dari orang-orang yang aku cintai. Bayangan wajah ibu yang begitu sendu dan keceriaan ke empat adikku silih berganti melintas dalam pikiranku. Lamunanku tersentak ketika salah satu temanku menyengol lenganku dan memberitahukan bahwa kami sudah sampai dan harus segera turun. Sore harinya aku dijemput oleh sepasang suami istri yang kemudian aku kenal dengan nama Mr. dan Mrs. Wang. Orang yang diperkenalkan sebagai majikanku dimana aku akan bekerja untuk menjaga orang tua mereka.

Sesampainya di rumah mereka, Mrs. Wang memintaku meletakkan tas yang aku bawa disudut ruangan sebelah kamar mandi dan kemudian membawaku ke sebuah kamar yang terletak paling ujung rumah yang berukuran sedang itu. Begitu pintu kamar terbuka aku mencium bau yang seketika menusuk hidungku. Bau tidak sedap yang begitu tajam, ingin rasanya aku menutup hidungku karena tidak tahan akan bau tersebut tapi aku tidak mungkin melakukannya dan aku hanya bisa menahannya. Keadaan kamar tidak jauh lebih baik kondisinya. Tumpukan baju berserakan dimana-mana dan perlengkapan makan pun terletak sembarangan. Ada beberapa sisa makanan yang telah mengering tergeletak begitu saja di sudut ruangan. Sedangkan di atas kasur tergeletak wanita tua berselimut kain kumal yang tidak berdaya yang terus memandangiku tanpa ekspresi apapun. Aku kikuk, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan tapi aku tahu pasti bahwa wanita tua yang berbaring di atas kasur itu adalah orang yang harus aku jaga seperti aku menjaga keluargaku sendiri. Sebagai salam perkenalan, aku memberikan senyuman paling tulus yang aku miliki kepadanya.

Mengawali kehidupan di Negara orang ternyata tidaklah semudah yang aku bayangkan. Hari kedua aku tinggal di rumah itu sudah empat kali aku mendapatkan pukulan dari Mrs. Wang. Tidak ada yang bisa aku lakukan selain menerima apapun perlakuan yang Mrs. Wang berikan padaku. Sebenarnya aku ingin membela diriku tapi apa yang bisa aku lakukan sedangkan bahasa pun tidak aku kuasai. Setiap siksaan itu datang, aku selalu membayangkan wajah sendu ibu dan tawa ceria adik-adikku. Aku yakin besok atau lusa pasti aku bisa bekerja dengan baik seperti yang keluarga ini inginkan dan aku akan memetik buah dari kesabaranku. Hari berlalu dan minggu pun berganti. Beratnya tekanan yang biberikan keluarga ini telah memaksaku untuk belajar lebih cepat. Dengan susah payah aku mengingat dan menyematkan kata-kata baru yang biasa dipakai dalam otakku. Sedangkan pekerjaan yang aku kerjakan tidak semakin berkurang tapi semakin bertambah. Jika sebelum dijemput dari rumah agensi aku ingat bahwa pekerjaanku adalah menjaga orang sakit namun tidak begitu kenyataannya. Selain memenuhi semua kebutuhan Ama, aku juga bekerja menyiapkan semua kebutuhan orang seisi rumah dari mulai masak, mencuci pakaian, membersihkan rumah dan pekerjaan-pekerjaan lainnya. Aku tidak pernah mengeluhkan semua pekerjaan itu. Aku dengan ikhlas mengerjakan semuanya toh bukankah aku sudah biasa hidup menderita di rumah. Semua pekerjaan ini tidak akan pernah bisa melunturkan semangatku apalagi membunuhku. Tidak itu tidak akan pernah terjadi.

Seperti belum puas dengan semua hasil kerja kerasku di rumah, tiga bulan setelah kedatanganku dan ketika aku sudah mulai bisa berbicara bahasa Mandarin meskipun belum begitu lancar, pada suatu pagi Ms. Wang membawaku ke sebuah pom bensin yang letaknya tidak begitu jauh dari tempat keluarga Wang ini tinggal. Awalnya aku tidak pernah tau apa yang mereka inginkan dariku. Sampai ketika Ms. Wang menyuruhku memakai sarung tangan, masker dan menutup kepalaku dengan topi dan menyuruhku menjadi penjaga POM bensin tersebut. Sebelum pulang Ms. Wang mengancamku untuk tidak membuka masker dan topi yang aku pakai serta tidak berbicara dengan siapapun atau kalau tidak maka dia akan menyikasaku di rumah. Ancaman penyiksaan itu begitu mengintimidasiku, aku takut dan teramat takut karena jika sudah marah keluarga ini tidak segan-segan menyiksaku. Tamparan adalah hal paling ringan yang biasa aku terima selebihnya adalah pukulan atau tendangan yang mendarat ke tubuhku. Tubuhku tidak ubahnya seperti sasak hidup bagi keluarga ini.

Akhirnya aku menjalani kehidupanku seperti sebuah robot. Setiap harinya aku akan bangun jam 4 pagi dan menyelesaikan semua pekerjaan rumah dan kemudian jam 7 pagi aku sudah akan berangkat ke POM bensin untuk menjalankan pekerjaanku sebagai penjaga POM bensin tersebut dan kembali ke rumah pada .jam 10 malam. Begitu setiap hari berulang dan terus berulang dari hari ke hari. Satu hal yang selalu membuat aku bahagia adalah ketika agensi datang ke rumah dan memberikan aku gaji setiap bulannya. Setiap menerima uang itu aku selalu membayangkan senyum sumringah ibu dan adik-adikku. Senyum yang selalu membuat aku bisa bertahan menjalani hari-hari beratku satu bulan kedepan. Senyum yang aku gunakan sebagai tempat bersandara dan pegangan saat aku menerima siksaan dari majikanku, senyum yang bisa aku gunakan sebagai obat paling mujarab melebihi obat paling mahal di dunia sekalipun. Senyum yang selalu memaksaku untuk tegak berdiri meskipun seluruh hati dan pikiranku menginginkan aku untuk menyerah kalah dengan nasib.

Sebenarnya bukan tidak pernah aku menceritakan semua yang aku alami kepada agensiku. Sudah sering dan bahkan teramat sering. Hampir setiap kali agensiku datang setiap bulannya selalu aku ceritakan semuanya tapi yang keluar dari mulut mereka hanyalah kata sabar dan sabar. Entah sampai kapan aku harus bersabar. Hingga pada suatu hari aku mengancam kepada agensiku untuk kabur dari rumah majikanku jika mereka tidak mendengarkan keluhanku dan pada saat itu mereka berjanji untuk mecarikan aku majikan baru. Tapi nyatanya ke esokan harinya aku justru mendapatkan perlakuan yang jauh lebih sadis dari majikanku. Tendangan di perut dan pukulan di punggung serta mukaku membuat aku tersungkur tidak berdaya. Sambil menjambak rambutku mereka mengancam akan lebih menyiksaku jika sekali lagi aku berani mengadukan apa yang mereka lakukan kepadaku kepada pihak agensi. Aku limbung, aku seperti ingin menyerah dengan nasib biarlah.. biarlah kisah hidupku berakhir sampai disini dan biarlah bintang itu pudar tertutup oleh mendung dan tidak akan pernah memancarkan cahayanya lagi.

Dengan masih menahan rasa sakit, majikanku memaksaku untuk berangkat ke POM bensin untuk menjalankan pekerjaanku. Udara musim dingin yang menusuk membuat seluruh tubuhku terasa semakin sakit dan aku merasakan tubuhku menggigil kedinginan. Dengan langkah terseok-seok aku mengerahkan seluruh tenagaku untuk bisa sampai ke POM bensin segera mungkin atau jika aku ketahuan terlambat entah siksaan apa lagi yang aku terima dan aku sudah tidak sanggup lagi menerimanya. Sesampai di POM bensin pelanggan pertamaku memandangiku dengan iba. Meskipun aku berusaha menyembunyikan luka-luka pada tubuhku tapi percuma saja karena sembab di mataku tetap tidak bisa aku sembunyikan. Ada beberapa pelanggan yang berusaha bertanya apa yang terjadi denganku tapi aku memilih untuk bungkan seribu bahasa. Aku tidak mau membuat masalah baru yang akan menambah semakin panjang kepedihan yang aku alami dan rasakan pagi ini. Beberapa jam berlalu dan aku tetap berusaha mengerjakan tugasku sebaik yang bisa aku lakukan. Aku tidak memperdulikan tubuhku yang menggigil semakin hebat dan mataku yang semakin berkunang-kunang. Kedua kakiku seperti sudah letih menopang tubuhku dan sebelum tubuhku benar-benar terjatuh aku berpegangan pada tiang disampingku. Pada saat yang bersamaan datanglah dua orang polisi menghampiriku dan aku sudah tidak ingat lagi apa yang terjadi padaku setelahnya.

Aku berusaha membuka mataku dan ketika aku berhasil melakukannya aku mendapati tubuhku yang terbaring diatas tempat tidur yang begitu nyaman. Tempat tidur yang jauh berbeda dengan tempat tidur yang aku tempati selama ini. Wajah ramah seorang suster menyapaku dan menanyakan kondisiku. Aku berusaha membuka mulutku untuk menjawabnya tapi seperti ada sebongkah batu besar yang menyumbat kerongkonganku. Setelah kondisiku benar-benar normal akhirnya aku dibawa ke sebuah penampungan milik pemerintah. Ketika kali pertama aku menginjakkan kaki di penampungan aku bertemu dengan bu Dona yang merupakan penanggung jawab penampungan tersebut. Dari bu Donalah aku tahu bahwa sesungguhnya aku telah dipekerjakan diluar kontak kerjaku dan sudah masuk dalam kasus human trafficking. Kasus yang aku alami akan masuk ke ranah hukum dan aku harus memberikan kesaksian untuk menjerat majikanku yang telah menyiksaku dan juga telah melanggar aturan ketenagakerjaan yang berlaku. Bu Dona dengan sabar selalu mendampingiku setiap kali aku harus menghadiri persidang di pengadilan. Suatu hari bu Dona bertanya padaku apakah aku ingin menuntut majikanku dengan tuntutan yang lebih tinggi?. Tidak aku tidak ingin melakukannya. Biarlah aku mempercayakan semua kepada pihak berwajib karena selama ini mereka telah begitu baik memperlakukan aku dan aku juga tidak ingin menyimpan dendam kepada keluarga Wang.

Kehidupanku selama di penampungan telah mengajariku banyak hal. Di tempat itulah aku bertemu dengan orang-orang yang mempunyai nasib sama denganku atau bahkan jauh lebih buruk dari aku. Di sana jugalah aku telah menemukan arti sebuah keluarga ketika aku jauh dari keluarga. Selama tinggal di penampungan dan menunggu proses ganti majikan, Bu Dona juga telah mengajariku banyak hal mulai dari belajar bahasa, memasak masakan ala Taiwan bahkan telah memperkenalkan aku dengan mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Negara Formosa ini. Dari mereka aku menemukan semangat baru tapi saat ini aku hanya ingin mendapatkan majikan baru, bekerja dengan sebaik-baiknya dan mengumpulkan uang untuk keluargaku. Pada akhirnya aku harus meninggalkan penampungan karena aku telah mendapatkan majikan baru. Wanita cantik dengan senyum yang begitu ramah menjemputku. Bu Dona memperkenalkan padaku dengan nama Mrs. Huang. Sebelum meninggalkan asrama aku memeluk Bu Dona dengan erat. Ada seribu kata yang ingin aku ungkapkan. Aku tahu ucapan terima kasih tidak akan pernah cukup untuk mewakili semua perasaanku dan apa yang telah bu Dona lakukan kepadaku. Dalam hati aku berjanji aku tidak akan pernah melupakan penampungan ini dan akan mengunjunginya suatu hari nanti.

Mobil merah yang dikemudikan oleh Mrs. Huang melaju mulus di jalanan dan berbelok ke sebuah apartement mewah di pingiran kota Taipei. Mrs. Huang mengajakku menaiki lift yang menuju ke lantai 10 apartemen itu. Begitu masuk rumah Mrs. Huang menghampiri wanita tua yang berusia 65 tahun dan kemudian mengatakan sesuatu yang tidak bisa aku dengar. Wanita tua tersebut bangkit dari tempat duduknya kemudian menghampiriku dan bertanya siapa namaku?. “Namaku Lintang, Ama?” jawabku singkat. Aku melihat keteduhan di mata Ama. Keteduhan yang sama yang dimiliki oleh mata ibu. Sebelum pergi Mrs. Huang menjelaskan kepadaku bahwa aku hanya tinggal berdua dengan Ama di apartment ini dan tugas utamaku adalah menjaga Ama. Mrs. Huang juga meninggalkan nomer telephon yang bisa aku hubungi jika terjadi sesuatu dengan Ama.

Ama memperlakukan aku seperti cucunya sendiri. Setiap hari setelah mempersiapkan semua keperluan Ama dan membersihkan rumah, aku akan menemai ama jalan pagi di taman yang letaknya tidak begitu jauh dari apartment. Aku punya banyak sisa waktu luang yang aku gunakan untuk membaca tentang apapun atau sekedar menemani ama melihat film untuk mengasah kemampuan bahasa Mandarinku. Ama tahu bahwa aku tertarik dengan bahasa Mandarin, hal itulah yang membuat Ama menyuruhku mengikuti kelas bahasa Mandarin yang diperuntukkan kepada pengantin asing di sebuah sekolah dasar yang berada beberapa blok dari rumah. Kemampuan bahasa Mandarinku berkembang pesat. Dan itu menjadi kebanggaan tersendiri buat Ama. Ama akan menceritakan ke teman-temanya dan ketika Ama melakukannya sering kali aku diam-diam membasuh air mataku yang dengan susah payah aku tahan agar tidak jatuh kepipi. Entahlah.. aku merasa sangat terharu dengan apa yang Ama lakukan yang seolah-olah aku telah melakukan hal besar padahal tidak. Tapi bergitulah cara Ama untuk membesarkan hatiku. Sebenarnya setiap minggu Mrs. Huang mengijinkan aku untuk libur dan tugas menjaga Ama seharian akan digantikan olehnya. Tapi terkadang aku merasa enggan untuk libur karena aku tidak tahu kemana aku harus pergi. Aku hanya mengambil jatah liburku jika ada kegiatan-kegiatan yang aku rasa penting untukku atau ada pengajian yang ingin aku hadiri. Selebihnya aku lebih senang menghabiskan waktu di rumah dengan Ama dan keluarga Huang lainnya.

Hingga suatu hari aku meminta ijin kepada Ama dan Mrs. Huang untuk mengikuti perkuliahan yang diselenggarakan oleh salah satu Universitas Indonesia yang melakukan perkuliahan di Taiwan. Aku sangat bersyukur mempunyai kesempatan besar ini. Aku tidak pernah membayangkan bahwa aku akan mempunyai kesempatan untuk merasakan bangku kuliah. Meskipun tidak seperti perkuliah normal tapi aku benar-benar menikmati semua proses yang aku jalani. Di sana aku bertemu dengan teman-teman seperjuangan yang sama-sama bekerja demi keluarga dan pada waktu yang bersamaan belajar untuk mengembangkan diri menjadi pribadi yang jauh lebih baik. Tidak hanya itu, aku juga diberi kesempatan untuk bertemu dengan dosen-dosen muda yang semuanya adalah pelajar Indonesia dan salah satunya adalah yang pernah aku jumpai saat aku tinggal di penampungan. Mereka adalah pemuda-pemuda yang begitu perduli dengan pendidikan Indonesia. Bagaimana tidak, disela kesibukan mereka belajar tapi mereka masih mau membagikan ilmu yang mereka miliki untuk orang lain. Tidak hanya itu bahkan mereka mau meluangkan waktu lebih banyak jika kami para mahasiswanya tidak mengerti pelajaran atau kami mengalami masalah-masalah perkuliahan lainnya. Dan aku masih tidak percaya bahwa aku adalah salah satu dari orang-orang yang beruntung itu. Apakah salah jika saat ini aku berbangga diri?

Dua bulan yang lalu akhirnya aku bisa menyelesaikan kuliahku. Aku sengaja pulang ke Indonesia dan mengajak ibu dan ke-empat adikku untuk menghadiri wisudaku di Jakarta. Saat namaku dipanggil sebagai salah satu mahasiswa berpredikat coumlaude, ada rasa haru yang menyeruak dalam hatiku. Butiran air mata yang selama ini aku tahan aku biarkan terjatuh dipipiku. Jika saat ini orang melihatku berhasil, mereka tidak akan pernah tahu betapa pedihnya masa laluku. Ketika mereka begitu bangga padaku mereka tidak pernah tahu betapa banyak luka yang telah menggores tubuh dan hatiku. Dan ketika orang-orang berdecak kagum dengan prestasi yang aku peroleh mereka tidak pernah tahu disana ada doa ibu yang selalu memelukku dan ada kenangan bapak yang selalu mengingatkan akan kebesaran arti namaku. Lamunanku tersentak ketika wartawan salah satu televisi swasta bertanya kepadaku, “siapa nama anda?”. “Namaku Lintang…”.