dimanakah bahagia itu

Klephon Manies / dimanakah bahagia itu / tidak / tenaga kerja asing Saat qw terdiam, Runtunan tanya pun melintas, Siapa qw ini n apa tujuan hidup qw?! Saat qw terdiam, Ribuan tanya menari gemulai dibenak qw. Namun … Satu barisan sj yg qw garisi Dimana bhgia itu? Aqw.. Terlalu lelah mencari segumpal harapan putih yg mampu percikkan gelapny … Continue reading “dimanakah bahagia itu”

Klephon Manies / dimanakah bahagia itu / tidak / tenaga kerja asing

Saat qw terdiam,
Runtunan tanya pun melintas,
Siapa qw ini n apa tujuan hidup qw?!
Saat qw terdiam,
Ribuan tanya menari gemulai dibenak qw.
Namun …
Satu barisan sj yg qw garisi
Dimana bhgia itu?
Aqw..
Terlalu lelah mencari segumpal harapan putih yg mampu percikkan gelapny langkah qw..
Dimana bahagia itu?
Disini kah?
Disaat qw mulai mengais mimpi?
Tidak…
Msh tidak nampak.
Ya sudahlah,
Mungkin memang bahagia msh terselubung oleh garis derita Yg kokoh.
Mungkin..
Bhgia itu,
Adalah saat dimana qw berada dilingkaran penderitaan.
Ya sudahlah….
Qw kn sll berlari
N terjatuh
Lalu
Bangkit lagi..
Tuk dpt merangkai
Kata bahagia.

IGTSB ( IBU GURU TAPI SEPERTI BURUH)

Asih / IGTSB ( IBU GURU TAPI SEPERTI BURUH) / tidak ada / tenaga kerja asing IGTSB ( IBU GURU TAPI SEPERTI BURUH ) Apa yang kalian fikirkan ketika anda mendengar kata GURU yang ada di fikiran anda. Apa kah sama seperti yang saya fikirkan bawah GURU adalah sosok pahlawan tanpa tanda jasa, seseorang yang berpendidikan yang di … Continue reading “IGTSB ( IBU GURU TAPI SEPERTI BURUH)”

Asih / IGTSB ( IBU GURU TAPI SEPERTI BURUH) / tidak ada / tenaga kerja asing

IGTSB ( IBU GURU TAPI SEPERTI BURUH )

Apa yang kalian fikirkan ketika anda mendengar kata GURU yang ada di fikiran anda.
Apa kah sama seperti yang saya fikirkan bawah GURU adalah sosok pahlawan tanpa tanda jasa, seseorang yang berpendidikan yang di hormati dan di segani oleh orang juga sejahtera hidupnya.
Namun beda dengan ibu guru yang satu ini mungkin ada yang seperti ini namun yang aku tau hanya beliau , darni nama seorang ibu guru yang mempunyai 7 orang anak . 5 anak nya masih duduk di bangku sekolah dan satu belum duduk di bangku sekolah dan satu nya lagi masih dalam kandungannya.
Beliau mempunyai seorang suami yang bekerja sebagai wirasuasta .
Dulu hidupnya lebih dari cukup semua serba ada . Ia selalu mengulurkan tangannya untuk saudara saudaranya dan orang yang membutuhkan uluran tangannya.
Namun beliau masih tinggal di perumahan, hingga suatu hari beliau berfikir untuk membangun rumah di desa kelahirannya. dari pinjaman bank yang sebagai jaminannya itu gaji perbulannya.
Tidak besar hanya 1 petak tanah, yang berisi 2 kamar , ruang tamu dan juga warung kecil untuk usaha beliau.
Di belakang rumah nya terdapat sebuah kandang kecil untuk menernak ayam dan bebek.
Kini hidupnya berdampingan dengan saudara saudaranya.
Namun ketika beliau tinggal di situ keadaan semakin hari semakin tak sama seperti dulu .
Warung nya pun semakin hari semakin sepih.
Hingga suatu hari suami beliau merantau ke kota mengadu nasib di kota sebagai kuli bangunan.
Namun kondisi beliau saat itu sedang mengadung anak ke terakhirnya.
Tiap bulan suami beliau datang dengan di sambut oleh anak anak nya penuh rasa rindu akan bapak nya.
Namun 3 bulan kemudian suami nya berkata bawah dia harus pergi merantau di pulau sebrang tugas dari atasannya hingga harus meninggalkan beliau dan anak anaknya yang masih kecil.
Saat itu usia kandungan masih 4 bulan namun apa daya harus beliau relakan suaminya pergi demi menyambung hidup keluarganya walaupun kondisi beliau dalam keadaan mengandung.
Namun tak di sangkah hari demi hari beliau menunggu kabar dari suaminya.
Namun tak kunjung datang kabar sedikit pun hingga saat itu beliau tidak punya uang sama sekali , hewan yang ia ternak pun sudah habis di jual untuk keperluan sehari harinya.
Sedangkan gajinya masih dalam pembayar hutang di bank yang uangnya untuk membangun rumah sederhana yang ia tempati itu.
hingga harus berhutang sana sini bakan kepada renternir agar bisa makan sehari harinya dan membayar sekolah anak anaknya.
3 bulan suaminya tak ada kabar namun ada kabar burung yang beliau dengar dari orang orang bawah suaminya telah menikkah lagi di sana.
Dan pada saat itu pula anak tertua nya terkena ledakan gas hingga membuat sekujur tubuhnya gosong.
Betapa sakit hati beliau dalam kondisi mengandung yang seharusnya penuh kasih sayang dari seorang suami namun harus di coba seperti ini.
Silih berganti ada saja satu di antara anak nya sakit, setelah anak pertama anak keduanya masuk rumah sakit bakan dokter bilang anak keduanya itu terkena gejala struk dini.
Malang niang baru berusia 18 harus menderita seperti itu , namun ingat cobaan tak akan melampaui batas kemampuan manusia.
Kondisi tubuh beliau kurus karna banyak yang ia fikirkan bakan janin yang ia kandung dokter bilang sangat lemah .
Namun allah ada melindunginya dan janin yang ia kandung, hingga tiba saat ia melahirkan.
Lahirlah seorang gadis kecil mungil manis dari rahimnya.
Hingga 2 bulan kemudian setalah kelahiran anak terakhirnya ini lah awal beliau menjadi buruh.
Saat itu liburan sekolah ia manfaatkan untuk menjadi Buruh serabutan , musim hujan ia menanam padi namun bukan sawah miliknya, mencari tutut, mencari ikan di sawah memancing di sungai bersama anaknya ,yang hasil untuk di jual ke orang . Dan mengumpulkan barang barang bekas untuk di tukar dengan uang.
Anak terbesar nya duduk di bangku SMA pun ikut membantu beliau mengerjakan semua itu ketika ia libur dan pada hari minggu.
sedangkan anak anak yang lainnya ada yang bertugas mencuci memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah lain.
Seakan terlatih mandiri atas kondisi yang yang ada.
Dan berjalannya waktupun lupa akan sosok seorang bapak atau kepala keluarga seolah hilang di gantikan beliau sendiri bukan hanya sebagai ibu tapi juga menjadi seorang bapak bagi anak anaknya.
Hasil tutut dan ikan kadang juga sayuran sayuran yang ia peroleh dari sawah orang ia masak untuk di jual keliling desa olehnya.
Walaupun 10000 ribu 20000 ribu yang ia peroleh dari hasil jualan nya namun berarti baginya.
Dan untuk anak anaknya.
Namun ketika tutut atau ikan yang ia jual tidak terjual habis atau sisanya ia makan sendiri dengan anak anaknya.
Kadang anak nya bersekolah tanpa uang saku hanya di bekali nasi yang di bungkus dengan daun pisang dan setabur garam yang di masak dengan bawang.
Hatinya tak tega sebenarnya melihat anak anak yang masih kecil tak sama seperti anak anak yang lain .
Namun apa daya untuk beli beras pun kadang tak bisa Bakan harus berhutang di tetangga nya.
Bulan berganti tahun dan kini anak laki lakinya lulus SMA. namun harus terhenti pendidikannya sampai di sini saja karna ia melihat keadaan ibunya seperti ini ia memutuskan untuk menjadi kuli di pabrik padi.
Sedangkan anak ke 2 nya yang masih duduk di bangku SMP kelas 2 setiap pulang sekolah berinisiatif untuk menambah uang janjannya bekerja sebagai kuli cuci pakaian di tetangganya.
Musim pun berganti menjadi musim panas saatnya petani panen padi.
Beliau pun ikut bekerja di ladang sawah orang yang panen padinya.
Bakan beliau pun tidak hanya memanen
Namun sehabis ia memanen di sawah milik orang itu.
Dalam perjalanan pulangnya ia mengumpulkan sisahan sedikit demi sedikit padi yang bercerakan di jalan yang tak sengaja di buang untuk ia olah sendiri menjadi beras.
Bertahun ia merasakan hidup seperti itu .
Guru bukan guru , buruh tapi ia guru.
Bakan kadang cemohan , hinaan ,cacian , karna keadaan dan pakaian yang ia pakai hanya bekas pemberian orang lain kepadanya, semua itu selalu ia terima dengan lapang dada.
Hidup tanpa seorang suami pendamping hidup , imam yang seharusnya ada di posisi beliau bertanggung jawab sebagai kepala keluarga harus menghidupi 7 orang anak dan mendidiknya sendiri itu tidak mudah di lakukan seorang wanita.
Namun ia mempunyai harapan terhadap anak anak nya agar tetap sekolah dan sukses agar bisa hidup lebih baik dari yang ia alamin sekarang.
Dan meringankan sedikit beban yang ia pikul selama ini .
Hingga tak terasa tahun berlalu hutang pun sedikit demi sedikit terbayar .
Anak lelaki pertamanya kini sudah berkeluarga dan tak terasa anak gadisnya kini sudah lulus SMA.
Ia memutuskan untuk menjadi seorang TKW pergi keluar negri mengadu nasib jahu dari orang tua untuk mengurangi beban ibu.
Kini harapan nya ada pada anak gadis nya berharap bisa membuat keadaan lebih baik dari kondisi sekarang ini walaupun tanpa seorang ayah yang entah kemana pergi nya dan bagaimana kabarnya. Bertahun sudah menghilang.
Berharap ada pelangi setelah hujan badai yang ia hadapi.
Yang di ciptakan oleh anak gadisnya.
Gadis tersebut bernama CAHAYA.
Kini dia sudah berada di negri sebrang , namun sudah dua bulan tak ada kabar hingga ibu darni pun sampai jatuh sakit memikirkan anaknya.
Satu bulan kemudian anak nya mengasih kabar bawah dia baik baik saja dan akan mengirim gaji hasil kerja dia di rantau sana.
Dan uang pun telah di terima oleh ibu darni , uang tersebut di bayarkan untuk hutang nya dan juga untuk ibu darni manfaat kan mengelolah kehaliannya membuat kue , yaitu kue donat.
Bulan berganti tahun dalam malam ibu darni selalu merindukan sosok anaknya yang jahu di negri sebrang .
Kadang ketika ada berita tentang negara tempat anak nya mengadu nasib , rasa kawatir selalu menyelimuti nya.
Kini dia sudah tidak lagi bekerja sebagai penanam padi, pencari tutut, pengumpul barang bekas, kini dia mengelolah warung kecilnya berjualan sayuran sayuran dan sarapan pagi.
Sedikit berkurang beban dan hutangnya tinggal separuh berkat anak gadisnya.
Namun fisik nya lambat laun lemah karna akibat selama ini bertahun ia merasakan penderitaan, tak seperti Guru lainnya yang hidup mewah , serba ada seperti dulu yang beliau alami.
Jangan kan membeli seelai baju untuk biaya 5 orang anaknya yang masih kecil dan masih duduk di bangku sekolah pun kadang tak sanggup memenuhinya.
Kini usia nya 48 tahun sudah , dari jahu anaknya mendoakan atas bertambahnya umur ibunya. Dan tak di sangkah sebuah bingkisan besar datang kerumah nya.
Lalu ibu darni membuka bingkisan itu berlinang lah air matanya ketika melihat sebuah bukusan baju baru dan kue ulang tahun yang bertulis.
“IBU SELAMAT ULANG TAHUN, ADINDA MERINDUKANMU”
Butiran air mata pun terjatuh tak terasa di pipinya.
Karna selama ini tak pernah membayangkan untuk mengharapkan suatu perayaan ataupun kejutan seperti ini, karna beliau hanya mementingkan anak anaknya.
Tanpa memperhatikan dirinya sendiri. Sebuah telepon pun berbunyi.
Dan ternyata itu dari anaknya yang jahu di negri sebrang menanyakan apa kah ibu nya bahagia atas sedikit hadiah yang ia berikan untuk beliau.
Rasa bahagia bercampur sedih dengan semua yang ia terima hari ini , sedihnya karna ia harus berjahuan dengan anak gadisnya selama ini.
Dalam hatinya berkata ” ya allah , angkatlah derajat anak ku berilah kelancaran untuknya, kasih sayangmu kepadanya agar ia kuat menjalani hidup di negri orang sana , amin ya allah”.
Kini yang di tunggu ibu darni adalah mengobati rasa rindu akan anak gadisnya yang sudah dua tahun jahu di negri sebranng tanpa memikirkan lagi sosok seorang suami , seakan hilang di kehidupannya.

Ratapan Anak Kandung

Ingkhan mardiani / Ratapan Anak Kandung / Tidak Ada / tenaga kerja asing Ibu, Ntah ibu siapa yg aku panggil waktu itu. Lidah ku begitu ringan menyebut ibu teman-teman ku. Tapi,bukan ibu kandung ku. Bahkan Aku lupa,kapan terakhir memanggil mu ibu. Aku iri dengan teman-teman ku,mereka senantiasa berglayut di pelukan ibu mereka saat lelah, Aku ingin seperti yang … Continue reading “Ratapan Anak Kandung”

Ingkhan mardiani / Ratapan Anak Kandung / Tidak Ada / tenaga kerja asing

Ibu,
Ntah ibu siapa yg aku panggil waktu itu.
Lidah ku begitu ringan menyebut ibu teman-teman ku.
Tapi,bukan ibu kandung ku.
Bahkan Aku lupa,kapan terakhir memanggil mu ibu.

Aku iri dengan teman-teman ku,mereka senantiasa berglayut di pelukan ibu mereka saat lelah,
Aku ingin seperti yang lain ingin merasakan sentuhan hangat seorang ibu.
Aku sedih ketika teman ku menemukan jalan dari nasihat seorang ibu.
SEMENTARA AKU TIDAK!!

Aku pernah bermimpi,
Berkumpul seperti keluarga selayaknya.
Ketika mentari pagi muncul,
Kau lah orang pertama yang membangunkan ku dari tidur nyenyak ku.
Suara mu lembut.
Menikmati segelas susu buatan mu.
Bersendagurau di ruang tamu dengan gurau an hangat mu.
Sampai matahari terbenam hingga waktu tidur ku tiba.
Kecupan manis mu selalu mendarat di kening ku sebelum tidur.

YA TUHAN,
Itu semua hanya mimpi.
Sakit nya hati ku ketika terbangun dari mimpi belaka ku.
Aku hanya bisa menangis
Bertanya, apa salah ku.
Jangan kan mengharap kepulangan mu,
Dimana kau berada pun aku tak tahu.

DURHAKA KAH AKU..???

Aku hanya bertanya,
Apakah benar surga ku di telapak kaki mu,bu..??
Tapi kenyataanya ngkau tidak ada.
Lalu bagaimana dengan surga ku,bu..??

Bu,
Sudah lama kita tak jumpa.
15 tahun sudah kau pergi meninggalkan aku.
Apa sedikit kerinduan mu tidak ada untuk ku.
Aku anak kandung mu bu.
Aku darah daging mu.
Kapan ibu pulang,
Anak mu sudah besar bu.
Rambut ku panjang terurai seperti di photo mu.

Benarkah Kasih sayang ibu sepanjang masa,
Berlaku juga kah untuk ku.??

Maafkan anak mu bu,
Yang selalu merengek saat rindu pada mu.
Maafkan anak mu bu,
Yang masih mengharap kepulangan mu.
Pulang lah bu,kami semua merindukan mu.

Miaoli,5mei,2016.

Bahagia Adalah

Winarni / Bahagia Adalah / Tidak ada / tenaga kerja asing Tujuan hidup, apa sih tujuan hidup saya sesungguhnya ? 10 tahun lamanya saya berjuang tanpa merasakan kemerdekaan, air mata pun rasanya sudah mengering untuk menangisi kisah hidupku. Cita-cita yang kandas oleh mahalnya biaya sekolah. Mahligai cinta yang hancur di terpa guncangan ketidak setiaan. Lalu apa lagi tujuan … Continue reading “Bahagia Adalah”

Winarni / Bahagia Adalah / Tidak ada / tenaga kerja asing

Tujuan hidup, apa sih tujuan hidup saya sesungguhnya ?
10 tahun lamanya saya berjuang tanpa merasakan kemerdekaan, air mata pun rasanya sudah mengering untuk menangisi kisah hidupku.
Cita-cita yang kandas oleh mahalnya biaya sekolah.
Mahligai cinta yang hancur di terpa guncangan ketidak setiaan.
Lalu apa lagi tujuan hidupku ? Sesekali pandanganku mengarah ke jendela kamarku, tak ada yang istimewa di luar sana hanya bisa ku pandangi tarian pohon yang tertiup angin, sesekali daun yang kering pun terjatuh.
Dari sekian banyak cita-cita yang tak dapat ku gapai,aku hanya ingin bahagia saja. Namun bahagia tidak sesederhana kalimat yang di ucapkan oleh lisan, dimana bahagia butuh pengorbanan, butuh tenaga, butuh air mata, dan bahagia itu masih ku telusuri di sepanjang perjalanan hidupku.
Tak aku temukan kebahagiaan itu, ketika aku berfikir bahagia adalah saat kita di cintai oleh seseorang. Tak dapat aku raih bahagia itu ketika aku hanya berfikir bahagia bisa ku dapat ketika aku memiliki banyak uang. Bahagia… bisik batinku. Sesulit ini kah untuk mencari kebahagiaan.
Allah, hidup ini bukan hanya tentang kebahagiaan yang ingin aku raih, dimana aku hanya satu-satunya tulang punggung keluarga, Ayah ku hanya pekerja serabutan yang tak tentu penghasilannya, Ibu ku hanya seorang wanita yang sudah tua dengan penyakit diabetes yang di deritanya, lalu kakak ku yang sudah menikah namun tidak pernah mandiri, kemudian adik perempuanku yang baru kelas 1 SMA, di tambah putra ku yang sejak lahir belum pernah bertemu dengan ayahnya.
Yah, saya bercerai sejak anak saya baru berumur 2 bulan, karena pada saat saya sedang hamil suami saya ketahuan selingkuh dengan teman kerjanya, Demi Allah aku tak membenci dia, aku hanya tidak ingin memiliki pendamping seorang pengkhianat.
Lalu apa tujuan hidupku yang sebenarnya ?
Aku hanya ingin bahagia, dan aku akan terus berusaha untuk meraih bahagia itu.
15 juni 2015, Formosa ajarkan aku menghapus luka, di saat banyak orang beranggapan buruk tentang Formosa, aku malah mendapatkan hidayah, dimana hidayah menurutku adalah berhijrah dari yang baik menjadi lebih baik lagi, dari yang berjilbab menjadi berhijab syar’i, dari yang biasanya hanya menunaikan yang wajib saja sekarang muali menunaikan yang sunah juga, Formosa tak seburuk yang orang ceritakan padaku, banyak ukhwat muslimah yang suka rela membimbingku menjadi lebih pantas.
Lalu apa arti dari bahagia itu ?
Bahagia adalah dimana saat kita tidak bersedih 🙂
saat dimana kita selalu bersyukur.

Tetimakasih formosa

PENYESALAN DARI SEBUAH KEKHILAFAN

LIKA / PENYESALAN DARI SEBUAH KEKHILAFAN / tidak ada / tenaga kerja asing Saya seorang wanita dari pedesaan ditanah jawa.saya sudah menikah dan mempunyai satu anak.sebelumnya saya berasal dari keluarga yang sederhana,karena faktor keadaan suami saya yang sering berkeliaran tidak jelas membuat saya memutuskan hidup sendiri dinegeri perantauan.rasa kecewa,marah serta dendam karena ulah suami saya yang suka bermain … Continue reading “PENYESALAN DARI SEBUAH KEKHILAFAN”

LIKA / PENYESALAN DARI SEBUAH KEKHILAFAN / tidak ada / tenaga kerja asing

Saya seorang wanita dari pedesaan ditanah jawa.saya sudah menikah dan mempunyai satu anak.sebelumnya saya berasal dari keluarga yang sederhana,karena faktor keadaan suami saya yang sering berkeliaran tidak jelas membuat saya memutuskan hidup sendiri dinegeri perantauan.rasa kecewa,marah serta dendam karena ulah suami saya yang suka bermain wanita dan sering pulang pagi g jelas kemana yang menguatkan tekatku meninggalkan buah hatiku diusia masih sangat kecil.
Setibanya ditanah perantauan,alhamdulillah saya dapat majikan yang sangat baik sampai2 mereka sering membelikan baju untuk anak saya dikampung indonesia.tak kuduga bila ditanah TAIWAN yang terkenal dengan orangnya yang sangat keras ternyata masih bnyak sekali yang berhati mulia.8bulan berlalu nenek yg aku jaga meninggal karena sakit,dan itu membuatku berpindah majikan lagi,sekarang ama yang aku jaga sangat merepotkan,karena dia suka memukul,suka marah g jelas,membuat q g betah bekerja disini.untung saja majikan tidak pernah menuntutku bnyak tugas karena mereka tahu ama/mamanya yang kujaga sakit jiwa.Ahhh,mungkin kesabaranku mulai diuji dari sini.waktu berlalu begitu lambat,hingga q sudah mulai merasa bosan.akhirnya q curhat sama temen SePT dulu waktu diindonesia.dia menawarknku seorang teman lelaki yang katanya sangat baik dan rajin beribadah.awal q kenalan biasa2 aja tapi lama2 q terbawa Suasana.Q yang tadinya jarang bnget keluar untuk libur sekarang q jadi suka bnget libur.apalagi ketika dia(laki2 yang sekarang menjadi teman terdekatku)sudah mulai mengajakku masuk hotel,q jadi hilang kontrol tentang semuanya.merasa seperti tahanan yang lepas dari penjara.Q seakan lupa akan keluargaku dirumah,q lupa dengan si kecilku.karena apapun yang dibutuhkan teman lelakiku ini pasti akan q penuhi.4 bulan sudah q mengenalnya,uangku habis buat foya-foya. Dan tak terasa selama itu juga q tidak pernah menelpon keluargaku dirumah.suatu hari ada messenger datang dari suamiku yang bilang ingin meminjam uang buat usaha.tapi tak kukasih,hanya cacian yang amat kejam yang terucap dariku hingga dia tak pernah membalas messenger ku lagi.Q diperantauan sini masih sibuk dengan teman lelakiku,tiba2 ada messenger lagi,tapi kali ini dari kakak keponakan suamiku,dia mengirimiku fto anakku yang sedang dirawat dirumah sakit,hatiku terpukul,q menjadi bingung dan lemas ketika mereka bilang sudah kehabisan uang,sedangkan saya disini juga tidak ada uang,saya coba meminjam keteman terdekat mereka tak ada yang bisa membantu,saya coba lagi keteman lelaki saya dia bilang tak ad uang.sekarang q sadar bahwa terkadang hidup bnyak teman itu malah menjerumuskan walaupun itu tak semua. Ketika q mengirimkan sms kekeluargaku dikampung bahwa sekarang q sedang tak punya uang dan berharap mereka Berkenan menunggu hingga bulan depan,tak ada respon datang hanya foto surat perceraian dari suamiku yang nantinya harus q tanya tangani.Q hancur,keluargaku juga hancur,q menyesal dan mencoba meminta maaf.tapi kakak suamiku menjelaskan bahwa sebenarnya waktu itu suamiku bukan meminjam uang buat usaha tetapi dia hanya mengetesku saja,karena dia mendapat kabar dari temannya yang bekerja ditaiwan sini kalau temannya itu pernah melihatku libur bersama laki2 memasuki hotel dan bejalan2 dimall.dan sekarang anakku sakit tak ada uang yang bisa kukirim.Q menyesal ya Tuhan,,,,sungguh saya menyesal.sekarang sembari menunggu finish kontrak ku q hanya bisa berfikir kenapa saya jadi seperti ini??? Kenapa ??? Q kehilangan keluargaku karena kecerobohanku,dan q juga sudah memutuskan hub. Dengan teman laki2ku.sekarang q hanya ingin SENDIRI memperbaiki diri.

Anakku sayang

Nadya Nova / Anakku sayang / tidak ada / tenaga kerja asing Tiga malam lagi masih bersama tiga hari pula kita masih berjumpa Setelah itu….. tiga tahun lagi baru bertemu Maafkan mama anakku bukan mama tak sayang padamu tapi krn rasa sayang yg terlalu ini semua demi masa depan mu Lebih baik nangis menahan rindu dr pd hati … Continue reading “Anakku sayang”

Nadya Nova / Anakku sayang / tidak ada / tenaga kerja asing

Tiga malam lagi masih bersama
tiga hari pula kita masih berjumpa
Setelah itu…..
tiga tahun lagi baru bertemu
Maafkan mama anakku
bukan mama tak sayang padamu
tapi krn rasa sayang yg terlalu
ini semua demi masa depan mu
Lebih baik nangis menahan rindu
dr pd hati menjerit menahan pilu
karena …….
tdk bisa memberi apa yg kau mau
mama pergi menggapai harapan
berharap pulang bawa keberhasilan
Anakku sayang…tunggu mama pulang
membawa kesuksesan.

Nikmatilah

Solikhah  / Nikmatilah / Tidak ada / tenaga kerja asing “Brakkkk!” Hembusan angin musim dingin pada siang ini berhasil menghentakkan dengan keras pintu depan lantai kedua rumah kakek. Kaka meraih gagang pintu, membukanya, lalu menyemprotkan cairan pembersih, mengelap seluruh badan jendela kaca yang berjejer rapih memenuhi teras. Nyonya Kelima bersama anak lelakinya yang baru berusia 9 bulan yang … Continue reading “Nikmatilah”

Solikhah  / Nikmatilah / Tidak ada / tenaga kerja asing

“Brakkkk!”

Hembusan angin musim dingin pada siang ini berhasil menghentakkan dengan keras pintu depan lantai kedua rumah kakek. Kaka meraih gagang pintu, membukanya, lalu menyemprotkan cairan pembersih, mengelap seluruh badan jendela kaca yang berjejer rapih memenuhi teras.

Nyonya Kelima bersama anak lelakinya yang baru berusia 9 bulan yang sedang menonton televisi di lantai satu, segera saja menghampiri Kaka. Hembusan angin menyebabkan pintu yang terbuat dari bahan kayu dan kaca tersebut berbalik arah, ketika Kaka hendak membukanya. Hal itu tentu saja memecah keheningan rumah sederhana berlantai dua tersebut. Nyonya Kelima merasa terganggu mendengarkan kegaduhan itu, ia datang menegur Kaka.

“Mengapa kamu menutup pintu dengan sangat keras?” Tanya Nyonya Kelima.

“Tadi saya hendak membuka pintu, tetapi angin berhembus sangat kencang, sehingga menyebabkan pintu berbalik arah dan menimbulkan suara berisik.”
Terang Kaka menceritakan kronologi kejadian penyebab suara bising yang mengganggu waktu santai Nyonya Kelima.

“Kamu itu bekerja di rumah ini, saat majikanmu bicara, kamu hanya boleh bilang baik dan maaf, tidak ada alasan pembelaan apapun, paham!”

Baru seminggu Kaka bekerja merawat seorang Kakek berusia 86 tahun di Luzhu District. Kakek tinggal bersama anak kelimanya. Tuan Kelima memiliki istri seorang wanita yang berasal dari Vietnam. Mereka memiliki seorang anak lelaki yang baru berusia 9 bulan.
Tuan Kelima sangat sibuk. Setiap hari senin-jumat Tuan berangkat kerja pada pukul 5 pagi, sedangkan ia kembali pada pukul 8 malam. Sementara itu, Nyonya kelima tidak bekerja, ia hanya mengasuh anaknya di rumah.

**
Sakit jantung yang sudah delapan tahun diderita Kakek Lin, menyebabkan kondisi fisiknya semakin hari kian menurun. Ketika merasa dingin, lelah, tubuhnya sesekali bisa bergetar dengan kencang. Meskipun Kakek masih bisa berjalan sendiri dengan pelan-pelan, tetapi harus ada seseorang di sampingnya. Mengawasi dan menggandengnya karena tubuh Kakek terkadang mendadak lemas sehingga mudah terjatuh.
Selain menjalani pemeriksaan kesehatan jantung di rumahsakit, Kakek juga masih rutin menjalani pengobatan kesehatan jantungnya di klinik pengobatan tradisional China di Taoyuan City setiap hari sabtu.

Sebelumnya Kakek dirawat oleh Ami, seorang tenaga kerja Indonesia yang baru pertama kali bekerja di Taiwan.
Penurut, salah satu sifat yang selalu menjadi bekal utama seseorang ketika bekerja dan dimanapun ia berada. Selain merawat Kakek, membantu keperluan sehari-hari Kakek, seperti menyiapkan makanan, membantu mandi, membawanya ke dokter, memberinya obat, mengajaknya keluar jalan-jalan, dan membersihkan lingkungan tempat tinggal Kakek. Ami juga mendapatkan tugas dari Nyonya untuk merawat Titi.

Ami menyerah pada keadaan. Pekerjaan yang tiada pernah selesai, sikap majikan yang seringkali membuatnya menangis sebab kurang lancarnya komunikasi keduanya. Sikap belum percaya sepenuhnya kepada Ami dalam memberikan tanggung jawab menjaga Kakek. Memberikan obat-obat saja harus menunggu Nyonya Kelima. Memasak makanan harus sesuai perintah Nyonya Kelima, bertanya kepadanya beberapa menit sebelum waktu memasak tiba. Sementara Nyonya Kelima sendiri memiliki beberapa aktivitas lainnya di luar rumah, seringkali tidak ada di rumah ketika Ami hendak menghadapnya untuk sekedar bertanya, “mau masak sayur apa?”

Kakek yang baik lama-lama bisa geram, amarahnya meluap-luap hingga berujung pengaduan pada Agency. Nasib baik masih berpihak pada Ami, majikan dan Agency masih sudi untuk mencarikan majikan baru untuknya.

***
Kaka menutup buku diary merah muda kepunyaan Ami yang tertinggal bersama beberapa tumpukan majalah berbahasa Indonesia di lemari samping ranjang Kaka. Nafas Kaka memburu, emosinya membakar relungnya. Ia menulusuri setiap kejadian pilu yang sempat Ami utarakan dalam buku hariannya. Kebebasan hak beribadah yang terampas, kebebasan waktu istrirahat yang berkurang, sebab Ami tidak hanya menjaga Kakek yang setiap tidur malamnya 3-4 kali akan bangun untuk pergi buang air kecil, Ami juga menjaga titi, menemaninya bermain hingga malam saat Tuan Kelima pulang kerja.

Usai makan siang, seperti biasanya tugas Kaka adalah membereskan meja makan, mencuci piring, dan membersihkan dapur. Nyonya kelima beranjak dari kursinya sambil membanting mangkok ke lantai.

“Ada apa?” Tanya Kakek menatap menantunya kebingungan.

“Kaka itu berani sekali masak semaunya, tidak bertanya dulu kepadaku” terang Nyonya Kelima kesal.

“Maaf Nyonya, tapi tadi jam 11 pagi Nyonya belum kembali dari pasar, sedangkan Kakek sudah ingin makan”

“Kamu itu disini kerja, segala sesuatunya harus bertanya kepadaku, paham! Kamu tau, Nyonya Kedua, Ketiga, Keempat, dan Keenam, mereka semua tidak menyukaimu, lebih baik kamu bersiap-siap saja ganti majikan lagi”

Kaka terdiam, kesal, bimbang, sedih, adaptasinya gagal. Respon majikannya pada beberapa hari pertama masa kerjanya adalah tidak menyukainya. Mungkin ia kurang ramah, terlalu pendiam, entahlah. Ia gulana saat lingkungannya justru tidak bersahabat. Sepertinya cerita pilu yang Ami rasakan akan menjadi bagian kisahnya juga.

****
Anna tertawa mendengar keluh kesah Kaka. Kaka yang terus memaki sikap buruk majikan terhadapnya, kebencian majikan hingga segala yang ia kerjakan bernilai salah bagi Majikannya. Bibir Kaka semakin mengerut persis ikan koi yang sedang menerima umpan, sahabat baiknya tertawa mendengarkan kisah pilu yang kian mengikis senyumnya.

“Suka dan tidak suka adalah hak setiap orang. Kita tidak bisa memaksakan seseorang untuk menyukai kita, tapi kita bisa terus bersikap baik, bekerja dengan baik, karena itu adalah tugas kita. Seperti apapun sikap majikan, yang penting kita bisa bekerja dengan baik. Sudahlah tak usah sedih, nikmatilah agar hidupmu tentram”

Kaka terdiam, Ia menulusuri setiap poin-poin yang diucapkan sahabatnya, Ia menutup teleponnya setelah sebelumnya mengucapkan terimakasih kepada Anna.
Saling berbagi keluh kesah, saling menyemangati dan saling menasehati adalah salah satu hikmah berkawan.

Sikap humoris Kaka perlahan berhasil meredupkan amarah Kakek yang sewaktu-waktu membuncah memerahkan telinga. Ia sering mengajak Kakek mengobrol, bercanda terhadap berbagai macam topik obrolan. Kegembiraan Kakek terhadap sikap anak-anaknya yang sangat menghormatinya. Tentang ladang sawah milik Kakek di depan rumah yang belum kunjung ditanami padi sebab harus mengantri karena sang pemilik mesin tanam padi yang selalu sibuk menanam di sawah para petani.
Pengalaman bekerja Kaka merawat Kakek di Dayuan County selama 4 tahun memperkaya kosa kata bahasa mandarin Kaka. Disana ia begitu bahagia bekerja diiringi kepercayaan penuh dari majikan, dikelilingi teman-teman yang baik. Namun Kakek menghembuskan nafas terakhirnya sebab sesak nafas yang beliau derita melemahkan fisiknya pada musim dingin desember lalu.

“Cepat solat Ka, biar nanti bisa cepat tidur,” Kakek kini seringkali mengingatkan Kaka untuk solat, setelah semua senyuman ramah Kaka menyertai hari-harinya.

*****
Malam minggu ini Kaka menemani Kakek makan malam di restoran daerah Linkou, acara resepsi pernikahan cucunya Kakek dari anaknya Tuan Kedua. Mereka begitu ramah, menyambut dan menjamu semua tamu undangan yang hadir dengan senyum yang sama. Tuan Kedua duduk di samping Kaka terlihat antusias mengambilkan daging ayam untuk Kaka, sebab sepengetahuannya orang yang beragama Islam tidak makan daging babi, jadi boleh makan daging ayam yang banyak. Kakek tersenyum menikmati makanan mewah tanpa nasi itu. Cuaca malam ini terasa sangat sejuk karena AC-AC bertebaran memenuhi sudut-sudut restoran tersebut.

“Terimakasih Kaka, kamu menjaga Kakek dengan sangat baik, Kakek sering bercerita tentang sikap sabarmu menyikapi emosi Kakek yang kadang membara. Benar, menjaga orangtua adalah dengan kesabaran dan kelembutan juga sikap humoris” Ujar Tuan Kedua menyerahkan sebuah amplop merah kepada Kaka.

Bersikap baik kepada siapapun, termasuk kepada mereka yang tidak menyukai kita. Yakinlah, perlahan mereka pun akan menjadi baik, kalau pun tidak, setidaknya hati kita tidak ikut serta menanam kebencian, hidup kita akan damai.
***TAMAT*****

Taoyuan, April, 29, 2016

Secercah harapan di negeri formosa

Ane juliane / Secercah harapan di negeri formosa / Tidak ada / tenaga kerja asing “An, wo yao niau-niau” teriak kakek membuyarkan lamunanku. Aku beranjak dari tempat duduk ku dan membawa pispot untuknya. Perkenalkan nama ku ane, usiaku….25 tahun, dan ini adalah usia dimana seorang wanita sudah siap siaga menjadi ibu rumah tangga 😄 namun aku, malu??? Bagaimana … Continue reading “Secercah harapan di negeri formosa”

Ane juliane / Secercah harapan di negeri formosa / Tidak ada / tenaga kerja asing

“An, wo yao niau-niau” teriak kakek membuyarkan lamunanku. Aku beranjak dari tempat duduk ku dan membawa pispot untuknya.
Perkenalkan nama ku ane, usiaku….25 tahun, dan ini adalah usia dimana seorang wanita sudah siap siaga menjadi ibu rumah tangga 😄 namun aku, malu??? Bagaimana tidak, di saat teman” ku yg lain sudah menikah bahkan ada yg sudah memiliki 2 orang anak. Tapi aku masih sibuk bekerja di negara orang.
Dan yaa, ini adalah pekerjaan ku. Merawat seorang kakek lansia berusia 86 tahun. Sudah hampir 7 tahun aku menghabiskan waktu di negara ini, negara yg memberi ku pengalaman berharga, tentang waktu. Dan disini pula aku tau, bagaimana rasanya berjuang dan di perjuangkan (ah maaf ini berlebihan) 😄
Dan aku bersyukur kakek ku di beri kesehatan hingga aku bisa merawat nya sampai sekarang.
“kriiiinggg” dering handphone ku berbunyi saat aku membenarkan posisi bantal kakek ku. Ku lirik di layar handphone ku “one message received from bapak” aku hanya tersenyum kecil. Setelah selesai mengurus kakek ku, aku beranjak mengambil handphone ku. “Nduk, lagi apa? Tadi siang mas Agung putra nya bapak mantri tetangga desa kesini. Dia bilang dia mau…….” belum selesai ku baca aku sudah tertawa. Ah, bapak ku ini. Dan tiba-tiba aku teringat beberapa tahun yg lalu. Saat aku baru lulus SMA. Saat itu aku berlari sambil membawa surat tanda kelulusan ku. Sesampainya di ambang pintu “buuuukkk, ibuk..” teriak ku panjang memanggil ibu.
“sopan banget to nduk cah ayuu, masuk rumah mbok ya salam dulu” ibuku yg keluar dari dapur dengan memakai daster kesayangan. Lalu aku berjalan mundur pelan sambil cengengesan “assalamualaikum buk, hihihi” di sambut dengan senyum ibuku pula.
“walaikumsalam. Ada apa kok teriak-teriak” ibu menghampiri dan duduk di ruang tamu, lalu aku duduk di samping nya.
“aku lulus buk,” ujarku tersenyum di sertai mata yang berbinar.
“NEM -nya lumayan tinggi loh buk, kalo di rata-rata bisa dapet 8,5” sambungku.
“alhamdulillah,” ibu merangkul dan mengelus elus kepala ku.
“oh iya buk, besok pagi kata temenku ada seleksi ujian bidik misi. Aku boleh ikut buk??”
Ibu memandang ku dengan tatapan kosong.
“buk, gimana?? Ibu takut ga ada biaya buat kuliah ya??” aku memicingkan mata sambil menarik nafas panjang.
“nah itu kamu tau nduk, emang kamu beneran mau kuliah? Ga kasian sama ibu sama bapak juga? Bapak mu udah tua nduk, adikmu juga masih kecil. Dia juga butuh biaya banyak. Lagian kamu perempuan, sekolah tinggi ujung-ujungnya juga di dapur” seketika itu aku langsung lemas.
Aku masih menimbang kata-kata ibu ku barusan. Ada benarnya juga, perempuan mau sekolah tinggi namun ujung-ujungnya harus melayani suami.
“yaudah kalo ibuk ga kuat biayain ane kuliah. Ane paham kok, besok ane coba langsung nyari kerja deh”
Ibuku meneteskan airmata.
“maafin ibu ya nduk, ga bisa sekolahin kamu tinggi” lalu ibu memeluk ku.
“gak apa-apa buk,” jawabku tersenyum.

Esoknya…
Baru pertama kali aku menulis surat lamaran. Aku mencoba melamar pekerjaan sebagai sales promotion girl di salah satu mall di kota ku. Di hari itu pula aku langsung ikut interview, dan aku lolos. Dengan sepeda motor matic ku, aku pulang dengan perasaan bangga.
Aku beritahukan kepada ibu, bahwa aku sudah mulai bekerja besok pagi. Hari demi hari ku lewati, dan aku baru tau rasanya mencari uang seperti apa. Lalu apa yg aku sesalkan selama ini, saat ibu harus bangun di pagi hari menyiapkan dagangan untuk di titipkan di warung warung sekolah. Dan hasilnya… Siapa lagi kalau bukan buat biaya ku sekolah. Ayah…laki-laki yang paling ku sayang di dunia ini, beliau pensiunan pegawai negeri sipil sejak aku kelas 1 SMA. Oleh sebab itu, perekonomian keluarga kami sedikit kurang semenjak ayah pensiun. Dan ibu harus berjualan nasi bungkus dan gorengan di setiap harinya.

2 bulan sudah aku bekerja sebagai SPG, namun ada sesuatu hal yg mengganjal. Apa aku harus menekuni pekerjaan ku ini, dimana pengeluaran lebih besar di banding gaji yg ku dapat. Atau aku yang kurang bersyukur?

Saat itu aku pulang kerja, dan ibu menghampiri ku di kamar.
“nduk, ada yg pengen ibu bicarakan.” ibu duduk di samping ku.
“apa buk??” aku menatap wajah ibuku, yg sudah mulai ada kerutan kecil di wajahnya.
“jadi gini, tadi siang ada tamu datang. Namanya pak baharudin. Beliau bilang, mau jadiin kamu mantunya nduk” ibu mengucapkannya dengan hati-hati. Mungkin takut aku tersinggung.
“trus ibu jawab apa?” aku memicingkan mata.
“ya ibu jawab terserah kamu to nduk, tak bilangin nduk.. Pak baharudin itu orang terkenal di kampung nya, dia itu kaya nduk, sawahnya aja berapa hektare. Anaknya yg mau di jadiin suami buat kamu itu juga pengusaha nduk, wes to pokok ga bakal nyesel kalau seandainya kamu nikah sama dia” ibu menjelaskan dengan panjang lebar.
“yang kaya kan bapaknya to buk, lagian aku masih belum siap buk buat nikah. Wong baru lulus sekolah kok mau nikah, apa kata teman-temanku nanti buk”
Aku menolak.
“halah, kok mikir umur. Ibu mu ini lo pas masih seusia mu udah punya anak kakakmu” ibu masih tak mau kalah.
“la itu kan dulu buk, apa ibu ga mau liat aku sukses punya uang sendiri” jawabku
Lalu ibu setengah berfikir ” oalah nduk, kamu kerja disini cuma cukup buat biaya sehari hari. Beda kalau udah punya suami, kamu mau apa aja pasti keturutan”
Dan tiba-tiba aku teringat dengan cerita temanku yang kakaknya bekerja di luar negeri dan ia pulang dengan membawa kesuksesan.
“gimana kalau aku keluar negeri buk, jadi TKW gitu??” ujarku pada ibu.
Ibu terbelalak kaget. “serius kamu nduk, kamu kan masih kecil. Masa mau ke luar negeri?”
“daripada aku nikah di usia muda buk, mending aku kerja buat ibuk, buat bapak, buat adik juga” Aku berusaha meyakinkan ibuku.

Dan akhirnya ibu mengiyakan permintaan ku.
Selama 3 bulan aku berada di PT. Lalu bagaimana dengan usia? usia ku waktu itu masih 18 tahun. Sebenarnya minimal usia untuk masuk ke Taiwan adalah 21 tahun. Namun, itu adalah keinginan ku sendiri. Dan aku meminta orang PT untuk memalsukan identitas ku.
Dan akhirnya… Ya, aku sekarang bernafas di negara ini. Negara yang memberi ku banyak pengalaman. Di antaranya, kesabaran itu yang pasti dan paling utama. Rindu, rindu ayah dan ibu ku. Namun aku masih harus tetap berjuang untuk mereka. Karna tujuan utama ku bekerja adalah untuk mereka. Selama 3 tahun aku menyisihkan gaji untuk membuka usaha. Agar ada peningkatan ekonomi di keluarga kami. Alhamdulillah aku finish kontrak yang pertama. Sepulang dari Taiwan, aku berencana untuk menikah. Aku mengenal seorang laki-laki dari dunia maya. Laki-laki yang bekerja di negeri ginseng korea. Hampir setahun lebih aku menjalin hubungan dengan dia. Dan tentu saja, kami hanya berhubungan lewat dunia maya. Video call tentunya. Lelaki yg selalu menemani ku di setiap malam nya seusai aku lelah bekerja seharian.
Namun apa yang terjadi, sesampainya di Indonesia, aku mendapat kabar dari dia sendiri. Bahwa ternyata selama ini dia telah membohongi ku. Dia sudah berkeluarga, betapa hancur hatiku. Aku tak tau harus bagaimana, lalu aku berfikir untuk pergi ke Taiwan lagi. Sebenarnya ibu melarang ku , beliau meminta ku untuk di rumah saja merawat mereka yang sudah mulai menua. Tapi, aku masih tak terima atas apa yang aku alami.
“nduk, anaknya pak mantan lurah lagi nyari calon buat pendamping hidupnya. Kamu mau?” ibu dengan secara tiba-tiba membuyarkan lamunan ku.
“aku masih pengen kerja di Taiwan buk, besok aku harus ke PT untuk proses lagi. Buk, aku bisa nyari pendamping hidup sendiri buk. Tanpa ibu harus menjodohkan aku dengan siapapun. Aku kan cantik persis seperti ibu, jadi jangan khawatir kalau aku ga laku ya buk” jawabku sambil memeluk ibuku.

“kalau itu mau kamu, ibu bisa apa nduk? Ibu cuma bisa mendoakan yg terbaik buat kamu. Asal kamu ga macem-macem selama disana”
Dan aku menganggukan kepala tanda setuju.

Proses kedua di Taiwan di mulai, by the way… Aku sudah pakai identitas asli ku lo, aku sudah berusia 22 tahun. Dan aku minta balik majikan. Karena majikan ku ini sangat baik. Sehingga tak ada rasa ragu untuk ku.
Hari-hari ku lalui bersama kakek yg ku rawat. Lelah, kesal dan yang pasti selalu ada perasaan ingin menyerah. Namun, aku masih memikirkan masa depan ku dan adikku kelak.
Bagaimana pun itu, aku akan selalu ingat tujuan awalku datang kesini. Dan yang pasti untuk senyum kedua orang tua ku.
Masalah jodoh? Ayolah, jangan takut untuk tidak kebagian. Allah sudah menuliskan jodoh, rejeki, dan umur kita. Jadi tak perlu ragu kapan aku akan duduk di pelaminan. Hehehe

“kriing” dering handphone ku membuyarkan lamunan ku lagi.
Message from bapak: “kok cuma di baca nduk, gimana mau ga kamu di lamar sama dia? Dia orang baik banget, tanggung jawab insyaallah” dan aku hanya tersenyum kecil.

Lalu kembali ku buka tumpukan chatting dari para pujangga yg menawarkan diri untuk menikahi ku. 😄
Kalau tiba-tiba ada laki-laki yg ga kamu kenal menawarkan diri untuk jadi imam kamu, jangan langsung di terima. Biasanya calon makmum nya banyak 😄✌

Dan begitulah, tak ada yang tau bagaimana jalan hidup kita kelak. Selain hanya bisa menikmati atas apa yg Tuhan beri.

Teman Tangis Kesetiaan

Nana Chyintia / Teman Tangis Kesetiaan / Tidak ada / tenaga kerja asing Teman Tangis kesetiaan Oleh: Nana_Chyintia Ini kedua kalinya aku datang ke Taiwan. Baru dua bulan yang lalu aku meninggalkan Taiwan dan sekarang aku sudah berada di sini lagi.. Udara pagi ini membuat aku menggigil sepertinya musim dingin belum berlalu, semilir angin menembus jacket berlapis-lapis yang … Continue reading “Teman Tangis Kesetiaan”

Nana Chyintia / Teman Tangis Kesetiaan / Tidak ada / tenaga kerja asing

Teman Tangis kesetiaan
Oleh: Nana_Chyintia

Ini kedua kalinya aku datang ke Taiwan. Baru dua bulan yang lalu aku meninggalkan Taiwan dan sekarang aku sudah berada di sini lagi..

Udara pagi ini membuat aku menggigil sepertinya musim dingin belum berlalu, semilir angin menembus jacket berlapis-lapis yang membungkus tubuhku.

Setelah menunggu beberapa jam, agency membawaku kerumah majikan

“apa kamu takut?” tanya penerjemah saat mengemudi mobil

Aku diam, tidak menjawab pertanyaan itu.

Kulangkahkan kaki keluar dari mobil sedan yang sudah berhenti di depan rumah, tidak cukup besar tapi berlantai dua. Rumah yang ada dihadapanku saat ini bukanlah rumah mewah yang selama ini aku bayangkan melainkan rumah yang berada di tengah persawahan jauh dari kota.

“ini adalah majikanmu, sapalah mereka” penerjemah menunjukkan majikanku.

“tajia hao?” *sapaku kepada mereka seraya menundukkan kepala, mereka membalas menundukkan kepala.

Entah kenapa hati ini gundah, hati ini mengatakan “AKU TIDAK INGIN DI SINI!!!”

Setelah Penerjemah mengajariku beberapa cara mengurus pasien yang aku jaga, dia memanggilku untuk duduk bersama majikan. tiba-tiba air mata menetes terlihat jelas mengaliri pipi cubbyku ini, entah karena apa aku menangis yang pasti aku belum siap dengan keadaan sekitar rumah ini. Sepertinya mereka merasakan keresahanku.

“jangan menangis, kasihan nyonya kamu ikut menangis juga.” melirik ke majikan yang ikut mengusap air matanya

Pasien yang aku jaga masih muda sekitar umur 52 tahun seusia ibuku, aku memanggilnya dengan sebutan mami. Mami mengalami kecelakaan 8 bulan sebelum kedatanganku, dia mengalami patah tulang pada kaki dan harus terapi 3 kali dalam seminggu.
***

Hari berlalu begitu cepat, satu tahun sudah aku merawatnya kesehatan mami semakin membaik dia sudah mulai berjalan tanpa menggunakan tongkat. Setelah kesehatan mami membaik aku kira pekerjaan akan terasa ringan karena tidak harus memapahnya. Tetapi perkiraanku salah pekerjaanku justru semakin sibuk.

Mereka tinggal bersama mertua mami, masih ada nenek dan kakek. Akhir-akhir ini kesehatan nenek semakin memburuk, setelah beberapa kali jatuh sakit dan dirawat inap. Nenek mulai tidak kuat memopang badannya sendiri, sekarang hanya bisa menghabiskan waktunya berbaring di ranjang.

Setiap 40 menit sekali, pasti jeritan nenek terdengar sampai lantai atas “Wa ai gi pang nio.” **cepat-cepatlah aku berlari menghampirinya.

Awal aku datang nenek bisa berjalan, walau memakai tongkat. Mulai dari kesehatan nenek yang tidak bagus lagi, kini pekerjaanku menjadi bertambah, selain menjaga mami aku juga menjaga nenek.

Pindah majikan sempat terbesit di fikiranku. Menjaga dua orang sekaligus bukanlah hal yang mudah, ketika aku sedang memandikan mami pada saat bersamaan nenek memanggilku mau buang air kecil, terpaksa aku harus lari menghampiri nenek membantunya berdiri. Selain mengurusi mereka aku juga harus mengurus pekerjaan rumah, dari berbelanja ke pasar, sampai hal sekecil apapun di rumah itu aku yang mengerjakan.

“sepertinya kita akan pulang telat” mami melirik jam tangannya “sudah jam 12:00 dokter belum memulai acupuncture” ***
setiap hari senin dan kamis mami melakukan terapi dan acupuncture kami pasti pulang telat, tidak hanya telat saja tapi pekerjaan juga menumpuk. jam 12:00 lebih kami pulang, sesampainya di rumah aku harus memasak makan siang terkadang sampai pukul 14:00 kita baru makan. Mami tidak pernah memikirkan untuk membeli makanan kotak, yang selalu beralasan makan seadanya saja.

Tetapi, mereka tidak pernah memarahiku ketika aku salah mengerjakan sesuatu. Bahkan mereka sabar dengan sifatku yang terkadang mudah tersinggung dan berbicara dengan nada keras. Aku juga begitu, aku mudah melupakan sesuatu yang membuat aku sakit hati. Itulah kecocokan kami.

Setelah aku berfikir ulang tentang kebaikan mereka terhadapku yang sudah menganggapku seperti anaknya sendiri, aku urungkan lagi niatku untuk pindah majikan. Aku memilih pekerjaan berat asal mereka baik terhadapku. Memiliki persamaan, dalam sebuah hubungan pekerjaan adalah hal penting untuk menyatukan sifat-sifat individu yang berbeda. Apalagi aku hanyalah seorang perawat lansia di sini, apa yang bisa aku andalkan kalau bukan ketrampilanku untuk mereka.
***

Sering kali aku mendengar isak tangis di pertengahan malam. dia menangis tersendu-sendu, mungkin dia tidak tau akan mengadu dengan siapa,sakit yang dia rasakan tidak hanya sakit pada tulang saja dia juga merasa tidak berguna, sampai pernah dia berkata “Kenapa aku tidak mati saja”.
Mengadu dengan suaminya pasti akan menambah beban, karena hanya suaminya lah tulang punggung di keluarga ini. Di balik selimut aku pun turut merasakan kesedihannya, betapa sedih hatinya melihat tetesan keringat di badan suami yang semakin kurus itu. Papi, ya … Aku memanggilnya dengan sebutan papi. Papi hanyalah pekerja bangunan, gajinya hanya cukup untuk memopang kehidupan kami. Dari situlah kesetiaanku kekeluarga mereka, aku tidak meminta tambah gaji karena aku tahu perjuangan papi sangatlah sulit.

“Ma … Mama … Ma … “ suara papi membangunkan nenek beberapa kali yang tak kunjung bangun.

Tiba-tiba suara papi hilang

“hoy … melamun aja.” haaah … aku kaget sampai berdiri dari kursi tempat dudukku “noh, es cream kamu meleleh’’ tegur temanku mencubit pipiku

“hehehee ….” aku tertawa lirih.

“Kamu kenapa? Melamun dari tadi.” tanyanya ulang

“hmm … Nggak ada apa-apa kok” jawabku tersenyum meliriknya

“Nana dipanggil boss suruh ke kantornya” sahut teman satu ruanganku, yang baru saja keluar dari ruangan boss

Aku hanya membalas dengan senyuman.
***
Sekarang aku bekerja di kantor pabrik kakak kedua mami yang didirikan di Indonesia, di kota Bandung. Mereka (mami dan papi) pindah ke Indonesia, bukan untuk menetap tapi entah sampai kapan. Aku dipekerjakan sebagai penerjemah sekaligus sekertaris untuknya.

Dulu sewaktu aku libur, aku pergunakan waktuku untuk belajar. Aku mengambil sekolah juga mengambil kursus bahasa mandarin. Di tengah-tengah kesibukanku mengurus mereka, aku masih menyempatkan diri untuk belajar sampai larut malam,terkadang waktu istirahatku tersita untuk belajar. Aku tidak pernah berhenti berharap bahwa keadaan pasti akan bisa berubah jika kita mau berusaha. Mereka sangat mendukungku sampai akhirnya aku mendapatkan pekerjaan di Negeriku sendiri Indonesia.

Kesibukanku yang sekarang juga membutuhkan ketrampilan, sama seperti kesibukanku yang dulu yang membutuhkan kesabaran. Sekarang nenek dan kakek di rawat oleh adik papi, yang tinggal tidak jauh dari rumah papi yang dulu.

Dalam pertengahan malam, kini aku tidak lagi mendengar tangisan sendu dari balik selimut. Yang aku dengar adalah senyuman bahagia dari mereka, yang dapat aku lihat setiap kali aku duduk bersama mereka menikmati secangkir kopi.

Chiayi, 26-maret-2016.

*tajia hao= apa kabar semua?
** wa ai gi pang nio= saya ingin pergi buang air kecil.
*** acupuncture= pengobatan atau terapi yang menggunakan jarum, sering disebut dengan tusuk jarum(akupuntur)