ELLY THIO 張寶金 / SUARA HATI SAYA / 桃園女子監獄 / 受刑人
Taiwan Literature Awards for Migrants
ELLY THIO 張寶金 / SUARA HATI SAYA / 桃園女子監獄 / 受刑人
ELLY THIO 張寶金 / SUARA HATI SAYA / 桃園女子監獄 / 受刑人
鄭仙鳳 / 無題 / 桃園女子監獄 / 受刑人
鄭仙鳳 / 無題 / 桃園女子監獄 / 受刑人




Eny Trihariyanti / The Light at Formosa’s Sky (Cahaya di Langit Formosa) / tidak / tenaga kerja asing The Light at Formosa’s Sky (Cahaya di Langit Formosa) Mataku mata ikan, tak dapat terlelap malam ini. Sesekali mencoba memejamkan kedua bola mata namun pikiranku melayang. Terpaku memandang wajah malaikat-malaikat yang terlelap pulas di atas tikar tua. Maksud hati ingin … Continue reading “The Light at Formosa’s Sky (Cahaya di Langit Formosa)”
Eny Trihariyanti / The Light at Formosa’s Sky (Cahaya di Langit Formosa) / tidak / tenaga kerja asing
The Light at Formosa’s Sky
(Cahaya di Langit Formosa)
Mataku mata ikan, tak dapat terlelap malam ini. Sesekali mencoba memejamkan kedua bola mata namun pikiranku melayang. Terpaku memandang wajah malaikat-malaikat yang terlelap pulas di atas tikar tua. Maksud hati ingin memberikan selembar kertas hasil seleksi SNMPTN yang sudah berada dalam genggaman. “Bismillah, ini waktu yang tepat Aya!” gumamku dalam hati seraya menepuk dada dan menghela nafas panjang.
Aku mendekati malaikat itu. Segaris senyuman seperti mekarnya bunga desember yang merah merekah menghiasi raut wajahku. Belum sampai tangan menyentuh raganya. Tiba-tiba Ibu berbisik lirih dengan mata setengah terjaga. Segera kulipat kertas tadi memasukkannya kedalam saku celana.
“Aya, masih belum tidur?” tanya Ibuku sembari bergegas menuju dapur mengambil baskom berisi air hangat dan handuk.
“susah tidur Bu, siapa yang sakit? Citra?”
Ibu hanya menggelengkan kepala. Aku berpikir bahwa yang sakit adalah Citra adikku yang berumur 3 tahun Atau Aji kakakku. Kecemasanku mengikuti langkah Ibu dari dapur menuju kamar. Ia meletakkan kompresan itu diatas leher Bapak.
Apa yang terlihat adalah sebuah jawaban pertanyaanku. Ibu memberi tahu hasil lab dari puskesmas. Bapak terkena infeksi tenggorokan. Benjolan di lehernya semakin membesar. Menyulitkannya untuk menelan makan atau minum. Tubuhnya semakin kurus dan sudah tak mampu bekerja. Dokter menganjurkan segera dioperasi tapi, kendala biaya dan keadaan keluargaku yang jadi masalah.
“jangan cemas Ay, kita berdoa semoga ada jalan keluar. Bagaimana hasil beasiswanya?” ibu mengalihkan pembicaraan.
“Maaf Bu, Cayaha gagal” jawabku singkat.
Suasana menjadi hening. Air mataku tumpah tak dapat dibendung. Ibu mendekapku erat. Belaian tangan, tutur kata, dan pelukannya terasa hangat. Tak terasa ingusku menempel dibajunya. Sebenarnya, aku mendapatkan beasiswa masuk perguruan tinggi. Aku terpaksa berbohong karena tidak ingin menyulitkan keadaan keluargaku.
Yang kami butuhkan saat ini adalah uang. Aku harus mencari biaya operasi bapak. Kebutuhan sehari-hari, menyicil hutang, dan biaya adikku yang masih TK. Mereka berharap banyak terhadapku. Apa yang harus aku lakukan?.
Raja pagi telah menampakkan sinarnya. Aku mengasingkan diri di bawah pohon rindang. Buku harian usang dan pena yang tintanya hampir sekarat menjadi teman sekaligus bidang kemarahanku. Sambil menatap langit dan berpangku tangan membuka menutup diary dengan kasarnya. Tiba-tiba ada yang menarik perhatianku. Aku melihat sesosok bayangan hitam besar seolah-olah akan menerkamku dari arah belakang.
Awalnya aku takut tapi, matahari di siang itu begitu teriknya bayangan itu nampak jelas seperti tokoh wayang Semar. Sontak menggengam kedua tanganku seperti pose meminta. Aku harap itu Jin Botol yang bisa mengabulkan 3 permintaan atau Doraemon yang punya kantong ajaib. “Jreng…jreng…jreng iwak peyek nasi jagung yuhuu”
Ternyata kakakku Aji datang dengan petikan sinar gitarnya. Dengan ekspresi datar, aku hanya menurunkan kedua tangan yang mengadah tadi. Ditariknya tanganku tanpa sepatah kata, hanya teriakan namaku yang terdengar.
“Ay!”
“Oalah Mas, ngamen lagi?”
“Kamu malu? Yang penting kan halal!”
“Maksudku bukan begitu, Mas bisa mendapat kerja yang lebih baik menggunakan ijazah SMA kan?” jelasku.
“Dipikir nyari kerja itu gampang apa? Kamu sendiri juga belom kerja kok! kerja apapun yang penting halal dan menghasilkan duit!”
Aku diam mengiyakannya. Mas Aji mengeluarkan uang recehan hasil mengamen. Aku memberitahu keadaan Bapak yang sakit. Saat ini, kami berpikir keras mencari jalan.
“Kerja di Taiwan asyik juga ay! Temen mas Aji banyak yang sukses kerja disana lho” cetus mas Aji.
“Gundulmu mas! Ngomong itu mbok ya dipikir dulu! Kenyataan tak seindah drama taiwan METEOR GARDEN !”jelasku.
“Cari biaya operasi Ay!”
Aku sempat berpikir keras tentang saran kakaku. Mungkin ini jalan untuk mencari biaya operasi Bapak, masa depan keluarga dan masa depanku kelak. Berhari-hari kuberanikan diri menghasilkan tekad bulat. Awalnya orang tuaku tidak mengizinkan bekerja ke luar negeri. Tapi akhirnya mereka mengizinkan meskipun dengan berat hati.
Keesokannya, aku pergi ke koperasi simpan pinjam yang berada di desa. Aku meminjam uang untuk operasi Bapak dengan ketetapan bunga yang dibayar tiap bulannya. Bapak sudah berada di rumah sakit menjalani operasi. Kuintip dari pintu ruangan yang setengah terbuka. Ibuku memangku adikku dengan wajah bermuram durja.
Aku bersandar di dinding luar yang dingin dengan mata berkaca-kaca.
“Aku harus kuat! Sampai kapan? Kamu melihat Bapak mencari kayu bakar di hutan dan melihat Ibu menjadi buruh cuci baju tetangga!” Aku berbicara pada diriku sendiri.
Kubuka daun pintu menghampiri Ibu mengajaknya pulang.
Beliau terlihat letih sekali. Selang waktu berganti, And Aji datang menjemput kami menggunakan sepeda motor tua era 70-an. Selama di perjalanan, Mas Aji memberitahu persyaratan tentang PT yang menjadi tempat pelatihan TKI. Mas Aji mendadak berhenti di sebuah salon. Aku dan ibu dibuat keheranan.
“Eh Mas, mau ngajak kita nyalon? Atau cuma numpang parkir aja!”
Mas Aji memegang pundakku dan berkata,
“Rambutmu ay! Rambutmu!” jawabnya.
“Lah rambutku panjang dan rapi kok mas”
“Kenapa sama rambutnya aya?” Sambung Ibuku.
“Peraturannya rambut harus dipotong model cowok. Kayak rambutku.” jawab Mas Aji memamerkan gaya rambutnya.
Kami bertiga saling bertatap muka sejenak. Rasanya jatuh tertimpa tangga pula. Perasaan sedih saat berada di depan cermin melihat mahkota terakhirku. Alat-alat pemotong rambut telah menebas habis setiap helai rambutku. Air mata dan potongan rambut jatuh bersamaan.
“Wah kamu tampan Ay” berbicara di depan cermin sambil mengusap air mata yang tak henti menetes.
“Cahaya, akan tetap cantik dengan wujud apapun di mata Ibu” diraihnya tanganku yang bergemetar. Kamipun melanjutkan perjalanan pulang.
Sesampainya dirumah, aku mempersiapkan baju dan perlengkapan selama pelatihan. Lusa adalah jadwal keberangkatanku masuk PT. Aku hanya membawa beberapa pasang baju secukupnya. Dari kecil hingga beranjak dewasa hanyalah baju-baju bekas pemberian tetangga tempat ibuku bekerja yang memiliki anak seusiaku.
Aku mulai memasukkan semua perlengkapan kedalam tas. Sebuah tas yang terlihat seperti peninggalan nenek moyang. Jadul, kusam dan terdapat motif robekan-robekan kecil yang kasat mata.
Diwaktu bersamaan, terdengar suara bising dari arah dapur. Ibuku terlihat pergi dengan terburu-buru membawa panci masak. Aku mengikuti tanpa sepengetahuannya.
Selang beberapa menit Ibu tiba di sebuah toko. Sedang apa Ibu disana? Membawa panci masak? Pikirku keheranan. Akupun tercengang dibuatnya. Kuintip dari celah daun pisang yang menjuntai. Perlahan mendekat mengikuti suara berbisik namun terdengar jelas.
“Mbok! Mbok! kemarin Mbok butuh panci ini buat lebaran kan? Jadi tawar berapa?”sambil meletakkan panci diatas meja.
“Iya, katanya gak jadi dijual? Itu kan kenanganmu kerja semasa menjadi TKI di Arab?”saut Mbok Romlah.
“Ada keperluan mendadak Mbok”
Karena dagangan Mbok Romlah sepi hari itu dan tidak bisa memberikan uang sebagai gantinya, Mbok Romlah menukar dengan salah satu dagangan miliknya. Kulihat Ibuku menunjuk salah satu koper yang lebih murah harganya. Penjualan panci bekas dengan harga koper memang selisih banyak. Ibu berjanji akan membayar sisanya bulan depan.
Air mataku tumpah tak henti menetes kala melihat Ibu menjual panci masaknya kepada Mbok Romlah. Langkahku semakin berat sembari mengelus dada yang kian sesak rasanya. Aku pun berlari kearahnya. Senyuman kecil yang terhias diwajahnya telah menyambut ragaku. Bibirku membisu, tatapanku terpaku padanya.
Hari telah berganti, Bapak sudah diperbolehkan pulang. Alhamdulillah aku bahagia. Kulihat sekitar rumah untuk terakhir kali. Akupun berpamitan kepada Bapak, Ibu, dan Adikku. Aku juga sudah tidak menghubungi teman ataupun kekasihku. Kulepaskan semuanya.
Aku hanya punya ongkos yang pas-pasan untuk perjalanan banyuwangi-surabaya. Mas Aji mengantarkanku ke PT dengan modal gitar dan suaranya. Karena dengan mengamen, ongkos yang tandinya untuk 2 orang penumpang bisa gratis. Semua supir bus di terminal sudah mengenal kakakku. Mas Aji mencarikan kursi untukku. Akupun duduk disebelah jendela.
“Tunggu sini Ay”
“Mas Aji mau kemana?”
“Biasalah, konser tunggal hehe”
Hatiku terenyuh melihatnya berdiri dihadapan para penumpang menyapa dengan kata pamungkasnya.
“Assalamualaikum Pa’e, bu’e dan mbak’e. Ketemu lagi sama saya, artis yang tak pernah masuk TV. Sebuah lagu “Oplosan” akan menghibur anda semua!” seru Mas Aji.
Aku melihatnya bernyanyi beberapa lagu sambil berdiri. Mas aji sudah terbiasa bermain gitar dengan mengangkat gitar diatas kepalanya. Untuk menghindari penumpang yang naik turun. Lalu, Ia menyodorkan kantong plastik kosong bekas bungkus permen kepada penumpang. Ada yang memasukkan uang koin, uang kertas bahkan tidak sama sekali. Ia tetap mengucapkan terimakasih.
Malam telah larut, kami menghabiskan waktu semalam di perjalanan. Setelah bergonta-ganti bus dan terminal. Akhirnya kami telah sampai di depan gerbang PT. Rasa takut yang muncul membuat langkah kakiku menjadi berat. Pagar besi itu telah terbuka lebar di hadapanku. Nampak ratusan calon TKI yang sedang mengantri makan siangnya.
Rupanya, aku benar-benar keluar dari zona amanku dan melihat dunia yang berbeda.
Siang itu juga Mas Aji harus pulang karena tidak diperbolehkan barada di PT.
“Jaga dirimu Ay, kalo ada waktu segera hubungi Ibu, Bapak dan Mas Aji”
“ Pasti Mas, terimakasih sudah mengantar cahaya. Hati-hati dijalan mas”
Langit yang tadinya cerah tiba-tiba mendung menitikkan hujan. Hujan meninggalkan genangan. Hidupku dilanda hujan berkepanjangan. Pagar besi telah tertutup rapat. Kupejamkan mata sejenak, menahan rasa dalam hati. Seorang wanita menyapaku,
“Mbak calon TKI baru ya, silahkan medical di ruang sana. Mari saya antar!”sapanya.
Aku hanya mengangguk mengiyakan mengikuti tahap medical dan persyaratan lainnya. Setelah semuanya selesai, wanita itu menunjukkan tempat tidur dan loker para TKI. Juga memberitahu jadwal apa saja yang harus di lakukan dari pagi-malam. Dari mulai piket membersihkan ruangan, kamar mandi, pelajaran bahasa mandarin, pelajaran suster, praktek memasak dan masih banyak hal lainnya.
Semua hal adalah pertama kalinya untukku. Aku mendapatkan pengalaman dan pelajaran berharga disini. Diajarkan untuk disiplin, saling berbagi dan kekuatan mental. Kenapa menjadi TKI? Ternyata dari sekian alasan yang aku tampung, masalah umum adalah ekonomi. Sulitnya lapangan pekerjaan di negara sendiri untuk orang yang terbatas pendidikan. Bahkan yang lulusan sarjana saja terkadang masih bingung mencari pekerjaan.
Semua orang datang dengan alasan berbeda namun, tujuan yang sama yaitu sukses. 4 bulan kemudian, masa pendidikan dan ujian telah usai. Jadwal penerbanganku sudah ditetapkan. Aku menghubungi kedua orang tuaku untuk datang menjengukku. Perasaanku sedikit campur aduk rasanya. Aku menunggu orang tuaku yang akan datang hari ini.
“Ni hau? ada yang namanya cahaya? Ditunggu keluarganya di pendopo sekarang.”
“Hau, xie-xie.” Jawabku dan bergegas lari menuju pendopo.
Dari kejauhan terlihat kedua orang tuaku telah menunggu. Kucium dan kupeluk erat mereka. Kedua orang tuaku diperbolehkan menginap karena besok jadwal penerbanganku ke taiwan.
“Bagaimana disini Ay? kamu nggak apa-apa kan nak?” tanya Ibuku.
“Aya sudah terbiasa, Ibu dan Bapak tidak usah mengkhawatirkan Aya”
“Jika kamu berubah pikiran, ayo kita pulang saja nak” sahud Bapak.
“Langkah Aya sudah sampai sejauh ini, Aya Cuma minta doa saja. Ini demi mengubah nasip keluarga kita.”
Senja sore itu sudah tak nampak. Langit mulai petang berganti malam. Ibu membawa bekal dari rumah semua makanan kesukaanku. Nasi yang di bungkus daun pisang, sambal teri, sambal goreng tempe dan kerupuk. Kami makan bersama dengan lahap. Entah rasa sambal yang terlalu pedas membuat mataku selalu berair. Sebuah tangisan bahagia menikmati detik terakhirku bersama mereka. Hingga waktu istirahat tiba, aku tertidur lelap dalam dekapan orang tuaku.
Ini adalah jam-jam terakhirku meninggalkan mereka. Formosa? Kenapa harus aku? Seorang puteri di negara sendiri telah menjadi upik abu di negara lain. Ada kalanya, kehidupan seseorang yang awalnya terang benderang seketika gelap gulita. Sesak rasanya bila meratapi kenyataan di hadapanku. Mau dikata apa? Inilah hidup! Suka atau tidak suka semua berjalan sesuai garis-NYA. Aku juga sudah menitipkan surat untuk kekasihku kepada Ibuku.
“Assalamualaikum Arga, terimakasih atas 6 tahun terakhir kita bersama. Ada kalanya orang dihadirkan untuk menjadi masalalu dan tidak untuk masa depan. Jika kita ditakdirkan berjodoh, sejauh apapun kita terpisah maka kita pasti akan bersama. Setidaknya aku sempat memiliki pangeran yang mencintai gadis biasa sepertiku. Salam manis cahaya.”
Keesokan harinya, waktu menunjukkan pukul 03.00 pagi. Aku bergegas mandi di temani Ibuku. Sambil mendengarkan nasehat-nasehatnya. Setelahnya, aku mengambil koper bersama teman-teman TKI. Selang beberapa menit sebuah mobil merah datang menjemput. Air mata kedua orang tuaku tak kuasa menahan isak tangis. Air matanya membasahi bajuku tepat pundak sebelah kiri saat kami berpelukan. Tanpa daya memasuki mobil yang akan membawaku ke bandara. Kulihat dibalik kaca mobil dari dalam mereka melambaikan tangan untuk perpisahan sementara ini.
“Selamat tinggal Indonesia”
Terbang dengan maskapai penerbangan asing dari bandara surabaya menuju taiwan. Aku melihat bentangan luas samudera di balik awan cerah. 7 jam kemudian aku telah sampai di bumi formosa. Aku duduk di bangku menunggu antrian sampai namaku dipanggil. Aku membuka tas kecil mencari makanan karena perutku mulai lapar. Kulihat isi dompet hanya terdapat uang Rp.2000 saja. Sungguh terlalu!.
Selang beberapa menit, Agency menjemputku dibandara dan melanjutkan perjalanan ke kantor agency. Karena sudah terlalu malam, besok pagi agency akan mengantarkanku ke tempat majikan. Aku mendapatkan job menjaga seorang nenek yang lumpuh total, ada selang sonde, sedot dahak, membantunya berbaring, tepuk punggung dan masih banyak pekerjaan pembantu pada umumya.
Terik surya telah menyapa hangat jiwaku di langit formosa. Kicauan burung pagi hari bersenandung merdu berterbangan riang di angkasa. Aku telah tiba di rumah majikan. Alhamdulillah semua menerima dengan baik. Kulakukan pekerjaan dengan sepenuh hati. Aku banyak mendapatkan kebaikan disini, mereka memperbolehkan sholat, mengaji dan menghubungi keluargaku. Sekarang aku berfikir, Taiwan seindah drama “Meteor Garden” pasalnya nenek memiliki 4 orang cucu laki-laki. Serasa aku seperti menjadi tokoh San Chai dalam drama F4. Hahaha.. kedatanganku adalah memburu NT untuk mewujudkan impianku di masa depan.
Terlahir dari keluarga sederhana itu tak masalah bagiku, asalkan kaya kebahagiaan bersama orang yang kita sayangi dan selalu ada orang yang menyemangati. Kemiskinan bukan kendala untuk bahagia. Bagiku keluargaku adalah malaikat yang terlihat. Ada Sebuah Cahaya di Langit Formosa yang menerangi hidup seorang Cahaya.
Ratna Sari Endang Sulastri / Saat Aku Bersenandung Di Formosa / melalu fb / tenaga kerja asing Saat Aku Bersenandung di Formosa Bukan sesosok yang sempurna Bukan pula orang yang tanpa dosa Masih sama Suka gemerlap dan aroma indah dunia Sering melirik dan ikut bercengkrama dengan hal yang tak semestinya Menjadi bagian dari mereka Yang tenggelam diantara impian … Continue reading “Saat Aku Bersenandung Di Formosa”
Ratna Sari Endang Sulastri / Saat Aku Bersenandung Di Formosa / melalu fb / tenaga kerja asing
Saat Aku Bersenandung di Formosa
Bukan sesosok yang sempurna
Bukan pula orang yang tanpa dosa
Masih sama
Suka gemerlap dan aroma indah dunia
Sering melirik dan ikut bercengkrama dengan hal yang tak semestinya
Menjadi bagian dari mereka
Yang tenggelam diantara impian dan fatamorgana negeri foromosa
Itulah aku
AKU Bukan gadis
Aku ibu muda yang mulai terkikis
Aku tulang rusuk
Tapi aku setangguh tulang punggung
Aku bukan pemimpi
Tapi aku punya mimpi
Aku pengagum gemerlap dunia
Tapi aku nyaman dengan kesederhanaan
Aku sedang salah jalan
Tapi aku ingin pulang
Aku…
Tau mana salah mana sia sia
Bukan tanpa sebab aku hilang arah
Tulang punggungku yang merapuhkan ku
Iman ku yang perlahan terkikis
Gemerlap formosa yang semakin indah dimataku
Beban masalah,tuntutan ekonomi,kurang nya kasih sayang dan kurang nya rasa syukur melemahkan kesadaran ku
Disini…
Aku masih berpijak
Masih kusimpan impian saat aku pertama menyapa formosa
Sederhana…
Namun belum sanggup aku sempurnakan
Meski sudah berdiri tegak
Gubuk kecil dari kucuran keringatku
Tapi,kini senyawa rumah tanggaku mulai memudar
Tergoyah mahligai yang sudah terbina 10 tahun
Untuk sebuah mimpi..
Aku hampir kehilangan masa depan
Mahal memang harga yang harus dibayar untuk sebuah kebahagiaan
Formosa
Sejengkal dataran penuh pesona
Kau tawarkan sejuta mimpi,sejuta harapan,sejuta fatamorgana
Bukan salah dia atau mereka
Saat pilihan yang kupilih berbuah sia sia
Karena smua kesadaran yang memilih
Hari ini…
Aku masih berdiri tegak
Diantara cinta formosa dan arti sebuah kata bahagia
Mungkin banyak kesia siaan yang kupunya
Tapi masih ada 26 bulan penuh harapan
Biarlah malam ini menutup kisah sia ku
Aku yakin,mentari menantiku dengan harapan baru
Formosa….kembalikan aku yang dulu
Formosa…biarkan aku menundukkan kepalaku untuk impian ku
Formosa….dekaplah aku dengan hangatnya keramahan mu
Formosa….percantik hati ku dengan keteguhan iman
Formosa…manjakan aku dengann kerja kerasku
Formosa..sanjung aku dengan keberhasilan ku
Formosa…kenanglah aku,saat aku pulang kepangkuan ibu pertiwiku
Karena aku adalah kebanggaan ibu pertiwiku
Terima kasih formosa
ADE AHIDIN / KETIKA KITA MERENUNG / ADE JUNITA / tenaga kerja asing KETIKA KITA MERENUNG Namaku ratih aku seorang gadis desa ,aku di lahirkan di keluarga yang serba kekurangan , ayah ku bekerja sebagai tukang becak sementara ibuku adalah seorang ibu rumah tangga, aku tidak mempunyai kerabat dekat ,karna mereka sudah tidak ada akhibat bencana alam , … Continue reading “KETIKA KITA MERENUNG”
ADE AHIDIN / KETIKA KITA MERENUNG / ADE JUNITA / tenaga kerja asing
KETIKA KITA MERENUNG
Namaku ratih aku seorang gadis desa ,aku di lahirkan di keluarga yang serba kekurangan , ayah ku bekerja sebagai tukang becak sementara ibuku adalah seorang ibu rumah tangga, aku tidak mempunyai kerabat dekat ,karna mereka sudah tidak ada akhibat bencana alam , aku adalah anak pertama aku memiliki adik dia seorang perempuan namanya riri dia baru umur 5 tahun, aku masih melanjutkan sekolah aku sekarang duduk di kelas 10 SMA ,walaupun aku dan keluargaku adalah keluarga kekurangan tapi aku tidak mau berhenti sekolah karna ini adalah jalan satu satunya untuk merubah kehidupan aku menjadi lebih baik.
Aku hanya bia melihat suasan keluarga ku yang setiap hari selalu kebingungan untuk mencari makan , mencari uang untuk biaya sekolah aku, dan setiap hari aku selalu menangi s dan aku selalu berkata kepada dunia”wahai dunia ku kenapa kau terlalu kejam bagi kehidupan aku” aku selalu mengeluh dan terkadang aku juga berfikiran “ apakah aku harus berhenti sekolah dan membantu kedua orang tua ku mencari uang “. Tapi pemikiran seperti itu akhirnya hilang ketika ibuku berusaha menyemangatiku.
Waktu sekolah pun telah tiba aku bersiap sipa untuk sekolah dan aku hanya bisa mengharapkan semoga kehidupan aku suatu saat nanti bisa berubah, tibanya disekolah aku selalu melihat teman -teman aku yang selalu berpakaian bagus sepatu bagus, sedangkan aku hanya bisa mengenakan baju bekas dan sepatu bekas, tapi itu semua tidak menjadi suatu masalah bagi diriku karna ini semu telah terbiasa .
Akhirnya waktu belajar pun dimulai, aku selalu duduk di bangku belakang , karna aku harus belajar dan mengerjakan kerjaan ku yang bisa membatu kehidupan keluarga ku, aku selalu mengambil sisa sisa bekas makanan para siswa siswi di kelasku ini yang aku lakukan setiap harinya tapi semua itu belum pernah ada teman ku yang melihat itu semua, aku pun menutupi semua tindakan aku ini dengan berprilaku baik kepada setiap teman teman aku,
Tapi pada suatu hari di sekolahan ku terjadi rajia bsar besaran dan mendatangkan langsung kepolisian untuk bisa membatu pengoprasian rajia , aku pun hanya bisa ketakutan dan gemetar ketika informasi itu terdengar oleh telingaku sendiri, kini pengoprasian rajia pun dimulai dari tiap kelas kekelasa lainya, waktu menunjukan pukul 11:00 siang , dan giliran kelasku untuk pemeriksaan kini semuanya meletakan tasnya di ats menja dan aku hanya bisa pasrah dan wajah yang ketakutan , perlahan lahan kini kepolisian menghampiriku dan berkata “ mana tas mu nak, sini bapak periksa”. Dan aku saat itu menangis, dan hanya bisa berkata “ tolong jangan di buka tas saya pak”, semua nya kebingungan dan heran kepada tingkah ku. Pak polisi pun berkata lagi “ sini nak bapak periksa dulu sebentar “ dengan nada tenang, aku pun menjawab “ tolong pak jangan periksa tas saya “ sambil menangis , kini pa polisi pun bertindak tegas “ sini saya periksa tasmu, apa kamu membawa benda benda terlarang” dengan nada tinggi, aku pun haya bisa ketakutan dan berkata “tidak pak, tolong jangan buka tas saya”. Sang guru pun memasuki kelas dan menenangkan semuanya , para siswa siswi pun keheranan dengan tingkah laku aku yang tidak biasanya, kini sanggurupun membujuk aku agar tasnya bisa di periksa, tapi aku tetap tidak mau.
Akhirnya sang guru dan kepolisian pun memberikan tindakan kepada aku, aku pun dibawa ke kantor sekolah dan semua orang menatap diriku seperti orang yang aneh, dan diriku menatap kepada mereka dengan penuh kebencian karna aku akan dipermalukan, kini setiba di ruangan kantor kepala sekolah pun menenangkan suasana ini dan berkata kepada murid murid supaya tetap tenang, dan akhirnya di ruangan kantor haya ada diriku, kepala sekolah dan bapak polisi, dan kepala sekolah pun dengan nada tenang ia menyuruh aku untuk membuka tas “ nak anaku sayang coba buka tas mu”, kini aku pun membuka tas ku pelan pelan, dan isinya adalah makanan sisa yang tadi pagi baru dikumpulkan, kepala sekolah dan ke polisian pun kaget dengan semua ini, dan akhirnya aku menceritakan kepada mereka “ aku adalah orang fakir yang tidak mempunyai apa-apa,ini semua ku lakukan demi mengurangi beban hidup keluargaku aku ga mau semua orang tau tentang ke adaan ku yang seperti ini, karna kalau mereka tahu bawa aku seperti ini maka pendidikan ku akan berakhir dan menjadi bahan ejekan bagi mereka “ dengan suasana menangis, dan akhirnya mereka yang menyaksikan kejadian ini semua nya menangis sejadi- jadinya, dan kepala sekolah serta kepolisian pun tidak bisa berkata apa apa dan hanya bisa menangis .
CATATAN: ketika kita sibuk dengan keadaan hidup kita sendiri coba lah sesekali lihat keadaan kehidupan di bawah kita.
Karya: ADE AH
Chen Indigo / KAWANKU, INILAH JIHAD / Anggi Sutriaji / tenaga kerja asing KAWANKU, INILAH JIHAD Kawanku… 2400 mil kita dari tanah kelahiran Senasib kita di tanah perantauan Tanah Formosa negeri Taiwan Demi sebuah pekerjaan atau sesuap makan Demi rencana dan masa depan Kawanku… Hari demi hari kita lalui Meski keluh dan peluh bercampur satu Tetap langkahkan kaki … Continue reading “KAWANKU, INILAH JIHAD”
Chen Indigo / KAWANKU, INILAH JIHAD / Anggi Sutriaji / tenaga kerja asing
KAWANKU, INILAH JIHAD
Kawanku…
2400 mil kita dari tanah kelahiran
Senasib kita di tanah perantauan
Tanah Formosa negeri Taiwan
Demi sebuah pekerjaan atau sesuap makan
Demi rencana dan masa depan
Kawanku…
Hari demi hari kita lalui
Meski keluh dan peluh bercampur satu
Tetap langkahkan kaki demi pijakkan pasti
Kau bilang kita sedang berjihad
Kawan, aku setuju
Setiap hari kita berjibaku
Untuk Tuhan…
Untuk ayah dan ibu…
Untuk keluarga…
Untuk diri kita sendiri…
Kawanku…kau benar,
Inilah jihad masa kini
Bekerja demi orang yang disayangi
Berusaha demi kejar cita dan wujudkan mimpi
Bukan yang seperti itu…
Tidak yang seperti itu…
Kau tahu?ah pasti kau sudah tahu
Gerakan radikal yang membawa bawa panji agama
Ya agama kita…
Menebarkan teror tak punya kerjaan
Membantai manusia dengan syahadat menggema
Ah…MEMALUKAN!!!
ISLAM tidak seperti itu…
BANG…BANG…BANG
Paris, 13 November 2015
Rentetan peluru bernyanyi disertai teriakan takbir mengiringi
Ratusan manusia tak bersalah rubuh
Malam itu Eiffel yang gagah telah “runtuh”
Jakarta, 14 Januari 2016
Bom dan desing peluru saling bersahutan
Aparat terluka dan orang tak bersalah kehilangan nyawa
Siang itu monas kehilangan “mahkota emas”
Blam…blam…blam
Brussels, 22 Maret 2016
Raungan bom memekakkan suasana
Puluhan orang tewas seketika
Bandara burung besi luluh lantak
Hari itu Manneken Piss menangis
Kau tahu itu kawan…
Deretan aksi yang mereka bilang jihad
Jihad macam apa yang begitu jahat
Mungkin sudah ratusan kepala mereka pancung
Anak anak yang terbunuh
Wanita wanita yang disetubuhi
Jihad macam apa yang begitu laknat
Mengkafirkan satu agama
Membenci lain agama
Menjauhi orang tua dan keluarga
Ah…MEMILUKAN!!!
ISLAM tidak seperti ini…
Mereka tebar teror, kita menanggung malu
Mereka tebar fitnah, kita mendulang getah
Mereka buat kekacauan, membuat dunia buta kenyataan
Mereka sesat kawan, merekabsesata
Ajaran ISLAM tidak seperti itu!!!
Sekarang di negeri ini mereka tampak tanamkan benih
Tebarkan doktrin sesat tentang jihad
Di tanah penuh toleransi ini mereka buat pondasi
Membuat fitnah semakin menjadi jadi
Kawanku,
Kawanku,
Kawanku…
Berpeganglah kuat imanmu
Eratkan ikatan dengan TUHAN
Jangan pernah jadi bagian dari mereka
Gerombolan gila mirip serigala
Haus darah dan nyawa
Semoga mereka yang tersesat berhenti
Tersadar dan kembali
Pada kebenaran yang hakiki
Kawanku,
Bersabar adalah pilihan
Semoga tanah formosa tetap damai
Toleransi tetap dijunjung tinggi
Kawanku,
Kuatkanlah hati…
Kita buktikan dan kita telah buktikan
Jihad bukan seperti itu…
Islam tidak seperti itu…
A Shi / Fang Nai Nai (方奶奶) / tidak ada / tenaga kerja asing FANG NAI NAI (方奶奶) Oleh: A Shi Jika membicarakan tentang cinta, aku rasa memang tidak akan pernah tiada habisnya. Bahkan milyaran kata pun tak mampu mewakili cerita tentang cinta. Terkadang cinta mampu membuat kita bahagia dan menderita. Namun ada pula yang mampu bertahan hidup … Continue reading “Fang Nai Nai (方奶奶)”
A Shi / Fang Nai Nai (方奶奶) / tidak ada / tenaga kerja asing
FANG NAI NAI (方奶奶)
Oleh: A Shi
Jika membicarakan tentang cinta, aku rasa memang tidak akan pernah tiada habisnya. Bahkan milyaran kata pun tak mampu mewakili cerita tentang cinta. Terkadang cinta mampu membuat kita bahagia dan menderita. Namun ada pula yang mampu bertahan hidup karena cinta. Seperti Fang Nai nai ….
Taiwan adalah salah satu negara Asia yang dijuluki Formosa, yang konon katanya mempunyai arti Pulau yang Indah (bahasa portugis).
Sebut saja namaku A Shi, hanya sebuah nama panggilan Yeye dan Nai nai padaku. Aku orang Indonesia asli yang menjadi TKI di Taiwan sejak lima tahun silam, tepatnya di tahun 2011. Tempatku bekerja berada di wilayah Taipei, tepatnya di Kota Shipai. Kawasan apartemen yang menurutku biasa saja, tidak terlalu mewah dan tidak terlalu kumuh. Rumah majikanku tidak jauh dari rumah sakit Shipai, atau lebih dikenal dengan sebutan Taipei Veterans General Hospital. Tugasku hanya menjaga Yeye, sebutan untuk kakek yang sekarang ada di sampingku. Aku memanggilnya Fang Yeye. Beliau adalah lelaki tua berumur 95 tahun, menderita stroke, tapi masih mampu bicara walaupun terkadang tidak jelas. Fang Yeye masih mempunyai istri yang sangat setia, dan aku memanggilnya Fang Nai nai. Di rumah ini kami cuma bertiga. Namun, mereka mempunyai 1 anak perempuan di China atau lebih dikenal dengan sebutan Talu. Anak mereka lah yang menggajiku. Fang Nai nai setiap hari cuma sibuk dengan sampah-sampahnya. Beliau setiap hari mengumpulkan botol-botol minuman atau sampah apa pun yang bisa didaur ulang, lalu dijual, walaupun mendapatkan uang yang tidak seberapa. Dan aku, cuma di rumah menjaga Fang Yeye. Jujur, untuk makan sehari-hari, kurasa memang tidak layak. Dengan sayur 1 ikat dan telur dadar. Terkadang telur dadar dan sosis. Itu pun jarang. Aku tidak pernah mengeluh soal makan, karena melihat Fang Nai nai dan Fang Yeye tertawa pun aku sudah bahagia. Maklum, karena dari bayi, aku tidak mempunyai kakek dan nenek. Terkadang aku heran, kenapa anaknya tidak membawa orang tuanya ke Talu saja dan hidup bersama. Entahlah.
Suatu hari, kucoba memberanikan diri bertanya pada Fang Nai nai.
“Nai nai, kenapa Siaoce (panggilanku kepada anak perempuan Fang Na nai) tidak mengajak nai nai dan yeye ke Talu saja? Dari pada di sini, kalian pasti ingin berkumpul dengan anak cucu, kan?” Tanyaku setengah lancang.
Aku tidak pernah menduga jika pertanyaanku membuat Fang Nai nai menangis. Beliau menangis walaupun tidak bersuara, tapi kumelihat dengan jelas, air mata itu mengalir deras.
“Nai nai, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuatmu bersedih, ya sudah. Lupakan pertanyaanku, ya,” kataku gugup.
Wanita tua berusia 90 tahun itu angkat bicara walaupun dengan suara parau.
“A Shi, kamu tidak bersalah. Kalau kamu mau, aku akan bercerita padamu tentang keluargaku,” kata Fang Nai nai.
“Baiklah,” ujarku mantap.
Fang Nai nai mulai bercerita.
Jika dulu sewaktu Fang Yeye berusia 30 an, beliau adalah seorang jenderal di China/Talu. Ketua para pejuang di masa penjajahan. Waktu itu Fang Nai nai sedang hamil, sedangkan Fang Yeye harus pergi bertugas entah di mana dan entah pulang dalam keadaan hidup atau mati. Dengan berat hati, Fang Nai nai melepaskan suami tercinta untuk tugas negara. Satu bulan berlalu, 1 tahun dilalui, dan 40 tahun terlewati. Kabar apa pun tak kunjung datang. Fang Nai nai merawat dan membesarkan anak perempuan satu-satunya seorang diri. Sampai anak itu menikah dan lahirlah kedua cucunya. Namun, lagi-lagi kabar tentang keberadaan Fang Yeye pun tidak ada. Fang Yeye seperti debu yang ditiup angin begitu saja, lenyap. Tidak mudah bagi Fang Nai nai untuk bertahan sendirian. Antara menjadi janda atau masih berstatus isteri jenderal. Dulu tidak sedikit pemuda yang datang ingin menikahi, namun Fang Nai nai tetap percaya jika suaminya masih hidup. Dan beliau bertahan seperti itu, karena cinta. Ya, cinta ….
Fang Nai nai menangis ….
“Nai nai, tidak usah diteruskan tidak apa-apa. Kalau nai nai capek, istirahat saja dulu,” kataku sambil menepuk pelan bahunya.
“Tidak, A Shi. Kamu harus mendengarkan ceritaku sampai habis,” ucapnya sambil menyeka sudut matanya yang basah.
Empat puluh tahun, Fang Nai nai bertahan demi cinta. Bertahan demi suaminya dan bertahan atas dasar percaya dengan isi hati. Dan itu terlalu sukar aku cerna dengan logika.
Entah suatu hari, melalui media radio dan koran. Dua puluh tahun lalu, pemerintahan Taiwan mengumumkan para pejuang dari China/Talu yang masih hidup dan menetap di Taiwan. Dan dari situlah Fang Nai nai yakin jika nama Fang Cheng Ci adalah suaminya yang empat puluh tahun ditunggu-tunggu. Akhirnya, bersama anak perempuan dan menantunya, Fang Nai nai pergi ke Taiwan. Dengan melalui berbagai cara, akhirnya ditemukan alamat Fang Cheng Ci, yang tak lain adalah Fang yeye. Fang yeye bekerja sebagai pemulung sampah daur ulang untuk melanjutkan hidup dan mendapat uang santunan dari pemerintah setiap bulannya.
Dan pertemuan dua sejoli, satu cinta yang sudah menua itu terjadi …. Saat bertemu, Fang Nai nai sudah 65 tahun. Dan Fang Yeye 70 tahun.
Sungguh, dari sini air mataku tak mampu aku bendung lagi. Aku pun ikut menangis. Fang Nai nai bertemu dengan Fang Yeye dua puluh tahun yang lalu, di usia yang tak lagi muda tapi cinta mereka tetap suci dan tidak berubah. Empat puluh tahun tidak mudah untuk bertahan pada cinta yang hilang, sungguh kesetiaan yang luar biasa. Sejak saat itu, Fang Nai nai dapat ijin tinggal di Taiwan karena memang masih mempunyai surat nikah syah sebagai isteri Fang Yeye. Anak mereka memilih ikut suami yang berada di Talu. Dan mengunjungi Taiwan setahun sekali.
Seiring berjalannya waktu, Fang yeye sakit-sakitan dan positif menderita stroke. Sebelum ada aku, Fang Nai nai lah lebih dulu merawat Fang yeye yang terkena stroke ini selama sepuluh tahun.
Fang Nai nai kembali menangis. Tanpa aku sadar, Fang Yeye yang dari tadi duduk tertidur di sofa pun ikut mendengar. Keduanya meneteskan airmata. Dan aku? Seperti melihat dongeng di hadapanku sendiri. Kupeluk mereka berdua dengan setulus-tulusnya. Aku menyayangi mereka, seperti kakek nenekku sendiri.
Pagi itu, Januari 2014 ….
Fang Nai nai pamit mau ke pasar beli ikan. Hujan lumayan deras, aku menyuruhnya di rumah dan biar aku saja yang pergi. Tapi beliau bersikeras mau pergi. Seperti biasa kalau pergi, aku selalu menaruh HP nya di saku jaket samping kanan. Dia pun bilang, mau belikan bakso ikan kesukaanku. Aku pun meng iyakan. Satu jam berlalu, dua jam telah berjalan. Fang Nai nai tak kunjung datang. Aku berfikir mungkin di pasar memunguti botol sampah seperti biasanya. Tiga jam berlalu. Aku mencoba menghubungi, namun … yang mengangkat orang lain, polisi. Entah aku harus bercerita apa di sini. Yang jelas, Fang nai nai ditabrak bus umum waktu mau nyebrang dan dia dilarikan di rumah sakit. Aku segera menghubungi Siaoce di Talu. Dan dengan gugup dan berlinangan air mata, aku dudukkan Fang Yeye di kursi roda lalu kubawa ke Rumah Sakit Veterans General Hospital, 10 menit kudorong kursi roda itu, diiringi gerimis dan hawa dingin yang amat sangat di Bulan Januari. Fang Yeye meremas tanganku, mungkin beliau ingin bertanya ‘ada apa’ tapi lidahnya kaku untuk bicara. Aku cuma bisa berkata, kalau Fang Nai nai tidak enak badan dan sekarang di rumah sakit. Walaupun beliau susah bicara dan stroke, aku yakin hatinya masih hidup dan memahami apa yang telah terjadi. Setibanya di rumah sakit, semua terlambat ….
Fang Nai nai pergi untuk selamanya ….
Bakso ikan itu, selalu mengingatkanku padanya. Kisah cinta mereka, selalu menjadi inspirasiku jika cinta suci itu ada. Perjuangan mereka membuatku paham akan arti kebersamaan. Dan kesetiaan Fang Nai nai mengajariku arti harga diri dan kehormatan.
Selamat tinggal Fang Nai nai. Aku akan menjaga Fang Yeye sampai kisah kalian usai.
Sepeninggal Fang Nai nai, rumah ini sepi. Hanya aku dan Fang Yeye. Terkadang aku melihat Fang Yeye meneteskan airmata. Aku tahu, beliau paham apa yang terjadi, dan hatinya peka. Hari-hari kami lalui dengan bercanda, walaupun susah bagiku untuk menyembunyikan kesedihan ini, tapi aku harus selalu ceria di hadapan Fang Yeye. Siaoce 1 minggu 1 kali terkadang menelpon, menanyakan kabar. Cuma itu.
Juni, 2014 ….
Aku sangat menyayangkan bekerja di Taiwan itu harus terikat kontrak. Yang di mana aku harus pulang ketika keadaan tak memungkinkan. Juni 2014, aku harus pulang ke Indonesia, setelah kurang lebih enam bulan hidup berdua bersama Fang Yeye. Sungguh aku tidak tega, tidak sanggup dan berat meninggalkan beliau. Jujur, aku tidak mau pulang. Tapi apa dayaku? Taiwan tetaplah negara asing dan aku harus taat pada peraturan. Siaoce datang merawat Fang Yeye, selama penggantiku belum datang. Andai Taiwan adalah Indonesia? Kan kubawa Fang Yeye ke rumahku, dan kurawat. Tuhan, aku tidak mau pulang ….
Tanggal 15 Juni 2014, aku pulang.
Membawa seribu duka yang mendalam, membunuh setiap rinduku pada Fang Yeye. Berusaha tertawa saat berpamitan pada Fang Yeye, walaupun hatiku bagaikan diiris-iris, dan menangis terisak dalam-dalam. Kupeluk beliau, dan beliau pun meneteskan airmata.
“Taiwan, aku mohon beri aku waktu untuk bertemu Fang Yeye lagi,” bisikku dalam hati.
Dan aku pun pulang ….
Selama aku di Indonesia, Siaoce selalu menelponku menanyakan ini dan itu, cara merawat Fang Yeye. Dua bulan berlalu, dan HP-ku berdering lagi.
“A Shi, kapan kamu datang ke Taiwan. Yeye menanyakan kamu terus, tadi malam dia jatuh dari ranjang, hidungnya berdarah dan ….”
Suara Siaoce di seberang sana menggantung, menggema dalam telepon genggamku.
“A Shi, Yeye meninggal ….”
Sambungan terputus. Bumi yang kupijak seakan membeku. Detik jam dinding pun berhenti. Waktu pun ikut mati. Fang Yeye telah tiada, tanpa ada aku di sampingnya. Dan cerita tentang cinta sejati itu telah usai …. walaupun bukan aku yang menjadi endingnya.
“Fang Yeye, Fang Nai nai … terima kasih, perjalanan hidup kalian adalah sepenggal nasihat dalam hidupku. Maafkan aku tidak bisa menyelesaikan tugas terakhir menjaga Fang Yeye ….”
Taipei, 18 April 2016
Nunung Nurjanah / Mungkin Tuhan Salah Dengar / Tidak ada / tenaga kerja asing Mungkin Tuhan Salah Dengar by: Nunung Nurjanah Mungkin ini yang dinamakan takdir. Manusia hanya bisa berencana dan Tuhan-lah yang menentukan semuanya. Namaku Nunung, aku dibesarkan di lingkungan keluarga yang sederhana, makanya tumbuh pun jadi gadis yang sederhana. Polos, lugu itulah aku. Bahkan dulu sewaktu … Continue reading “Mungkin Tuhan Salah Dengar”
Nunung Nurjanah / Mungkin Tuhan Salah Dengar / Tidak ada / tenaga kerja asing
Mungkin Tuhan Salah Dengar
by: Nunung Nurjanah
Mungkin ini yang dinamakan takdir. Manusia hanya bisa berencana dan Tuhan-lah yang menentukan semuanya.
Namaku Nunung, aku dibesarkan di lingkungan keluarga yang sederhana, makanya tumbuh pun jadi gadis yang sederhana. Polos, lugu itulah aku. Bahkan dulu sewaktu gadis saat ditanya apa cita-citamu? Jawabanku, bukan jadi dokter atau guru. Tapi, jadi ibu rumah tangga yang baik, tinggal di rumah, mengurus suami, menjaga anak, mengantar anak ke sekolah dan waktu senggang menemani mereka belajar dan bermain. Oh, indah sekali mimpi itu andai jadi kenyataan.
***
Maret, 2006
“Selamat Pagi.”
Aku terperanjat saat tangan mungil memegang bahuku. Terdengar samar sapaan yang diiringi senyum manis dari dua orang asing yang berdiri di hadapanku.
Pandangan terasa buram, mata sulit kubuka. Bukan karena masih ngantuk, tapi semalaman aku tidak bisa mengontrol butiran-butiran bening yang terus menghujani pipi tirusku. Kepala pun tersa pusing karena hingga hampir pajar menyongsong, kantuk tak kunjung tiba.
Dengan pikiran yang masih setengah melayang, aku pandangi setiap sudut ruangan, kamar yang asing, dan orang yang asing pula. Anak itu bukan putriku, wanita paruh baya itupun bukan ibu. Emh, siapa mereka? Aku dimana? Aku pun memcoba mengumpulkan ingatan, memutar memoriku ke hari kemarin.
***
Suhu dingin masih membalut Taiwan kala pertama kupijakan kaki di Bandara Tau yuan. Tubuh kurusku yang hanya terbalut jaket tipis berwarna merah yang diberikan PJTKI, sewaktu aku mau terbang, terasa menggigil. Mungkin aku belum terbiasa dengan cuaca negri Formosa.
Entah seperti apa penampakanku kala itu. Namun yang jelas aku merasa seperti orang bodoh. Diantara gerombolan orang-orang yang lalu-lalang, aku kebingungan dan merasa seperti orang aneh. Kebetulan aku belum berpengalaman ke luar negri, dan di berangkatkan hanya sendirian oleh PJTKI. Sungguh peristiwa itu jadi sesuatu yang tidak dapat terlupakan seumur hidup.
Saat tiba di Agency, disuguhkan dengan peristiwa yang membuat nyali ciut. Aku melihat, agency memukul tangan putranya dengan sebatang rotan, sebagai hukuman. “Oh, Tuhan apakah majikanku juga akan segalak itu?” pikirku.
Kekhawatiran menghiasi malam saat menginap di rumah agency, gelisah tak menentu membayangkan sosok seperti apakah majikanku? Esok paginya aku diantar ke tempat majikan, seorang wanita paruh baya dan anak laki-laki berumur sekitar tiga tahun menyambutku dengan senyum manis dan sapaan ramah. Rasa khawatir dan takut pun lenyap seketika. Apalagi saat mendengar celotehan, Yiyi keke, sapaan anak kecil yang kelak harus kujaga. Rasa rinduku pada putri tercinta, yang ku pendam selama lebih dari dua bulan, terobati.
“Halo, what is your name?” sapanya.
Sesaat aku terdiam aku bingung harus jawab apa? padahal walau aku cuma lulusan SMP, aku pernah belajar bahasa Ingris, dan bisa mengerti sedikit. Tapi, mungkin terlalu grogi membuat lidah ini tiba-tiba kelu, sampai-sampai harus penerjemah yang menjawab pertanyaan anak itu.
“Her name is Nunung.”
“Oh, Nono?” ucap anak itu.
“No …, no, no, no, not Nono, but Nunung!” jelasku.
“No-No,” ejanya lagi.
“No …. Nunu.”
Berulang kali aku menjelaskan namaku, namum wanita paruh baya itu yang tidak lain adalah majikanku, dan cucunya masih saja sulit mengucapkannya. Akhirnya mereka memangilku, Nono! Emh, salah tapi ya sudahlah yang penting aku yakin keluarga majikanku yang bermarga Lin ini, adalah keluarga baik-baik, dan sopan.
Penerjemah membantu menjelaskan tugas-tugasku. Jobku menjaga kakek berumur 85 tahun. Namun, karena kakek masih bisa beraktivitas dan tidak terlalu perlu di jaga, tugasku beralih menjaga cicitnya, dua balita. Satu perempuan berumur satu tahun bernama Jane, dan satunya lagi laki-laki berumur tiga tahun bernama Yiyi. Bangun, jam 06 pagi, dan harus menyiapkan sarapan, juga membereskan rumah. Tapi, fokus pekerjaan utama menjaga anak, pekerjaan lain bisa di nomor duakan.
“Nono …, Nono …!”
Suara pangilan itu, mengagetkanku lagi. Aku terperanjat saat tersadar dari lamunan. Jarum jam menunjuk angka 08: 00, dari sudut jendela kaca kamar diam-diam Sang Surya mulai mengintip.
“Ya Tuhan! Sudah siang, aku kesiangan! Ya Allah bagaimana ini?” bisikku panik.
“So …. So …. Sory Laupaniang, saya kesiangan,” ucapku gugup.
Aku ketakutan setengah mati, apalagi saat mengingat bagaimana agency memukul putranya saat itu. Aku takut sekali!
“Nggak, apa-apa mungkin kamu lelah,” ucap nyonya, diiringi senyum manis, “ayo bangun, sarapan, nanti siang mei-mei akan datang dari Yilan.”
Tidak kuduga! Sungguh, syukur alhamdulilah, Allah memberikan majikan yang sangat baik pada perjalanan pertamaku di luar negri.
Mei-mei? sebenarnya aku masih bingung saat itu. Saat nyonya menyebut nama mei-mei, siapa dia? Tapi, setelah waktunya tiba, aku baru tahu mei-mei itu adik dari Yiyi keke, anak perempuan cantik berambut ikal, namun sangat cengeng.
Senjak dilahirkan anak itu tinggal bersama nenek dari ibu di Yilan, karena ibunya sibuk bekerja sebagai suster. Sedangkan nenek yang di Taipei, nenek dari ayah sibuk menjaga Yiyi keke.
Banyak sekali kenangan dan pelajaran hidup yang bisa kuambil dari perjalanan pertamaku di Taiwan. Aku mengenal banyak teman, mengerti apa itu kebahagiaan sesungguhnya.
***
Ini hari pertama aku diijinkan mengajak anak-anak yang aku asuh jalan-jalan dan bermain di taman, setelah terkurung satu bulan di rumah. Mungkin terlalu pagi, maka suasana pun masih sangat sepi, hanya ada beberapa anak di arena bermain. Aku duduk diatas batu di sudut taman, memperhatikan anak-anak yang asyik bermain ayunan. Tiba-tiba seorang wanita cantik diatas sepeda menyapaku.
“Mbak, Indo ya?” teriaknya.
Aku, yang pemalu dan tak terbiasa bersuara keras hanya menganguk sambil tersenyum, dan wanita cantik itupun berlalu sambil melambaikan tangan, karena lampu hijau sudah menyala.
Selang berapa menit, saat aku asik membaca buku. Aku dikagetkan dengan tepukan tangan di bahu kiri.
“Hey! Khusyuk banget bacanya,” sapanya.
Emh, wanita cantik tadi. Dia tersenyum dan duduk di sasampingku. Mengajak berkenalan, dan banyak bercerita, dia juga menanyakan pekerjaanku.
“Menjaga mereka,” jawabku
“Wah, dua! repot sekali,” ucapnya.
Saat jariku menunjuk ke arah anak laki-laki yang sedang asyik bermain, dan mei-mei yang asik dengan mainanya di dalam kereta bayi.
Aku hanya tersenyum mendengar komentarnya, wanita itupun tersenyum. Namanya Amalia, usia 27 tahun lebih tua dua tahun dariku. Dia menjaga nenek berusia 90 tahun, keluarga majikannya juga baik sama seperti majikanku. Ameilia, adalah anak Indonesia pertama yang aku kenal di Taiwan, dan dia jadi sahabat pertamaku. Sosok yang ramah, dan selalu mampu memberikan semangat kala aku merasa mulai lelah dan rindu rumah.
Tak terasa, dua bulan sudah aku di Taiwan. Walau kadang masih meneteskan air mata menahan rindu yang menggunung, namun aku masih terus bertahan demi cita-cita mendapatkan kehidupan yang lebih baik kelak. Aku ingin menyekolahkan putriku setinggi mungkin. Mengingat akan kesusahan hidup di kampung, ingat kala putriku merengek meminta jajan, sedangkan di tangan cuma cukup untuk beli beras, kesulitan-kesulitan itu yang kadang mencambukku untuk lebih semangat.
Walau sebenarnya menjaga dua anak itu tidak mudah, apalagi si kecil yang cengenya minta ampun. Tapi, aku anggap anak-anak itu seperti anakku sendiri. Aku menyayangi mereka, begitu pun dengan mereka.
Orang bilang aku sangat polos, aku terlalu lugu untuk hidup di kota metropolitan seperti Taipei. Maklum aku berasal dari kampung, rumahku tepat di kaki gunung. Pergaulanku pun tidak luas.
Minggu pagi yang cerah, seperti biasa aku telah duduk di sudut taman.
Pengujung Mei yang indah! Aku suka dengan cuacanya, mentari cerah, kehangatanya membalut kulitku. Di taman kini aku tidak sedirian lagi, ternya banyak sekali teman-teman dari Indonesia yang berprofesi sama sepertiku, seorang BMI. Kini temanku bukan cuma Amalia, ada Santi, Dewi, Mbak Atun, dan masih banyak. Tapi mereka semua berasal dari Jawa Timur, Dan Jawa Tengah, bahasa kami berbeda. Aku sendiri dari Jawa Barat bahasaku sunda, jadi kadang aku hanya bengong tidak mengerti saat mereka saling merumpi. Ya, buku-lah yang jadi teman baikku kala itu. Aku, memilih membaca daripada nimbrung tapi tidak nyambung.
Juli, 2006
Pagi ini ada teman baru, dia berasal dari satu daerah denganku. Aku sangat bahagia saat itu, terasa bertemu sodara, kami pun akrab. Dia sudah seperti kakakku sendiri, namanya Any.
Mbak Any, pernah datang ke Taiwan sebelumnya. Katanya kali ini nasibnya tidak seberuntung dulu, nenek yang ini cerewet dan suka mukul. Aku jadi iba padanya.
Sore itu aku kepasar membeli sayur, anak-anak kutitipkan pada nyonya. Di pinggir taman, aku melihat Mbak Any sedang berbincang dengan seorang wanita paruh baya, yang nampak elegan dengan gaun pink-nya. Aku tidak berani menyapa, aku takut wanita itu majikannya. Kata Mbak Any, majikannya tidak suka dia mengobrol dengan sesama BMI. Emh, kasihan! Namun, belum berapa langkah kakiku beranjak, Mbak Any memangil, aku pun menghentikan langkah, dan menunggunya yang berlari ke arahku.
“Teh, Tadi siapa? Majikannya ya?” tanyaku.
“Bukan! Dia orang baik, aku mengenalnya kemarin di rumah sakit,” jawabnya.
Aku hanya manggut-mangut, sementara dia meraih tanganku dan bergelayut manja. Kebetulan rumah kami satu arah, sepanjang perjalanan dia bercerita tentang kekejaman majikannya.
***
Ada satu hal yang takkan pernah aku lupakan seumur hidupkku, di perjalanan pertamaku itu. Kebodohan, dan kepolosan telah membuahkan sesal yang tak terkira dalam hidupku.
Masih terngiang di telinga. Saat itu, aku masih di penampungan PJTKI, seorang wanita tambun berkulit sawo matang, namanya Sasa. Dia, pernah bekerja di Taiwan, namun hanya 7 bulan saja, entah apa alasannya dia pulang? Namun, dia sering sekali bercerita tentang keburukan majikannya, tapi aneh juga kalau aku berpikir dengan otak yang jernih. Dia sangat marah pada orang Taiwan, bola matanya membara kala bercerita. Tapi, kok, dia masih ingin kembali ke negara itu? Yah, dia sedang proses ke Taiwan lagi. Emh, heran!
Suatu malam dia bercerita ‘Ingatlah, majikan kalian itu yang gaji kalian, orang-orang di sekelilingnya sekalipun keluarga jangan sampai kalian kasih hati, mereka akan menginjak-injak harga diri kalian, memperlakukan kalian seenaknya kalau kalian baik,’ ucapnya.
Ucapanya itu terus terngiang di dinding telingaku. Sungguh aku yang bodoh, dan terlalu polos. Aku terpengaruh dengan ucapanya. Seakan ada magnet negatif yang mengikat hatiku.
Di rumah majikan, ada nenek ‘nyonya meng menggajiku’, ada ibu dan ayah anak-anak dan juga, Aco ‘bapak dari tuan’. Sementara tuan sendiri tinggal di Cia yi, mengurus pabriknya, sebulan sekali dia pulang ke Taipei.
Kata-kata Sasa bak racun dalam kehidupanku, aku terpengaruh!
Setiap pagi, ibu dan ayah anak-anak yang kujaga selalu menyapaku dengan ramah, namun sebaliknya wajah cemberut selalu kupasang untuk mereka. Di benakku tertanam “mereka bukan majikanku, mereka tidak menggajiku’ kalau diingat kembali, sungguh picik pikiranku saat itu.
Agustus, di hari ulang tahunku. Teman-teman ingin mengadakan pesta perayaan untukku katanya. Jam 08:00, seusai buang sampah kami janji berkumpul di taman. Sorenya aku meminta ijin pada nyonya, dia pun mengijnkannya dan menyarankan anak-anak dititipkan pada orang tuanya karena nenek tidak bisa membantuku menjaga anak-anak. Nenek tidak tinggal bersama kami lagi, dia tinggal di apartmen barunya.
Malam setelah buang sampah aku berlari ke taman menemui teman-teman. Bukan lupa, aku pergi tanpa pamit pada ibunya anak-anak, namun aku sengaja. Pikirku, dia bukan majikanku, nenek majikanku karena dia yang menggajiku.
Kejutan demi kejutan indah mengiringi malam ulang tahunku. Di taman teman-teman sudah berkumpul, dengan kue tart yang cukup besar dan juga kado. Air mata pun, tak dapat kukontrol, mengalir begitu saja membiaskan rasa haruku. Semua begitu indah.
Seusai perayaan sekitar 40 menit, kami pun pulang. Senyum ceria menghiasi perjalananku menuju rumah. Setiba di depan pintu, anak laki-laki yang aku jaga sedang duduk di tangga sendirian. Dia menatapku, aneh.
“Aku menunggumu lama di sini,” ucapnya.
Aku segera menghampirinya, mengangkat tubuh mungil itu dan menaruhnya di pangkuan, kukecup manja pipi mulusnya.
“Maaf, tadi aku ada acara,” ucapku.
“Mama mencarimu! katanya kalau kamu pulang suruh kekamarnya.”
Ah, jantungku mendadak berdebar kencang. Pikiranku kacau.
“Pasti kena marah,” pikirku.
Anak itu segera beranjak dari pangkuan, dan menarik tanganku, menuntunku menuju kamar ibunya.
Suasana kamar masih terang, mei-mei pun masih terjaga. Ta Sau, pangilanku pada ibunya anak-anak, dia sedang menikmati acara tv. Sementara Ta Ke, ayah anak-anak tidak ada di rumah. Menyadari kehadiranku, Ta Sau mematikan tv-nya, dan mengalihkan pandangannya ke arahku.
“Kamu dari mana?” tanyanya.
“Maaf, tadi aku ada acara,” jawabku.
Walau kata-kata Sasa, masih menanamkan keangkuhan di hatiku, tapi saat melihat Yiyi keke di tangga tadi, aku tahu salah, lalai dari tugasku. Seharusnya tadi aku titipkan dia pada ibunya dulu. Meraka itu tanggung jawabku sekarang, aku digaji untuk menjaga mereka. Hanya Tuhan yang tahu, betapa tertekannya batinku kala itu.
“Acara apa?” tanya Ta Sau lagi.
“Aku ulang tahun,” jawabku pelan.
“Nono, kamu sayang tidak sama anak-anak?”
Pertanyaan yang aneh, tapi berhasil membuat detak jantungku semakin berpacu kencang.
“Tentu saja! Mereka sudah kuanggap anak sendiri.”
“Emh, kalau begitu kenapa kamu tidak mengajak mereka ke acaramu? Bukankah acara itu, perayaan ulang tahunmu? Apa kamu tidak ingin berbagi kebahagiaan dengan orang yang kamu sayang?”
Ya Allah, aku semakin merasa bersalah, kenapa tadi aku tidak berpikiran seperti itu.
“Keke!” pangil Ta Sau sambil melirik aneh ke arah putranya.
Ta Sau pergi ke kamar mandi, sementara keke tiba-tiba mematikan lampu. Ya Tuhan, sulit kubendung air mataku, aku merasa bersalah pada Ta Sau, dia selalu baik padaku, tapi aku …, Ya Allah.
Ta Sau keluar dari kamar mandi membawa kue tart berbentuk Kity berwarna pink, diiringi nyanyian selamat ulang tahun. Aku sangat terharu. Aku menangis sejadi-jadinya, bersimpuh meminta maaf atas khilafku. Wanita itu sungguh berhati emas, dia hanya tersenyum dan bilang kamu baru, belum kenal siapa kami. Dia pun menjelaskan untuk menganggap keluarganya seperti keluarga sendiri. Aku benar-benar merasa malu dengan sikapku selama ini, aku juga merasa beruntung tinggal di keluarga itu.
Di sini aku tahu, kalau sejatinya kebahagiaan itu ada dalam hati kita sendiri, pekerjaanku kini tanpa beban karena tak ada kebencian. Kujalani hari-hariku penuh keceriaan.
Tanpa beban hati dan pikiran, seberat apapun pekerjaan terasa ringan. Walau pada kenyataan sifat rewel dan nakal Jane, kadang sampai membuat aku harus meneteskan air mata menahan marah.
Aku bukan tipe perempuan yang bisa meluapkan kekesalan dengan marah-marah, tapi dengan menyendiri atau meluapkan dengan tangisan cukup membuat hatiku lega.
Jane mulai besar, namun cengenya belum juga berubah. Bahkan sikap seenaknya semakin menjadi, makan saja sampai harus dua jam. Malam sulit tidur, kadang jam 11:00 lebih, masih melek. Tapi terus terang aku sangat menyayaginya seperti putriku sendiri.
Seperti biasa, Minggu pagi aku sudah membawa anak-anak bermain di taman. Kali ini tidak seperti dulu, Jane sudah pintar berlari ke sana kemari, harus ekstra hati-hati menjaganya. Aku tidak bisa duduk santai seperti dulu lagi. Gadis mungilku itu super aktif.
Teman-temanku yang melihat kebandelannya hanya memandangiku, dan menggeleng kepala.
Saat aku duduk beristirahat di bawah pohon sambil mengelap keringat anak-anak. Seorang wanita cantik menghampiriku, wajahnya terasa tidak asing. Dia, wanita yang pernah kulihat tahun lalu berbincang dengan Mbak Any.
Awalnya dia basa basi, memuji anak-anak yang kujaga, lucu katanya. Lama-lama dia mulai mengutarakan isi hatinya, dia bilang dia iba padaku. Aku nampak lelah menjaga anak-anak, dia pun menyinggung tubuhku yang kurus. Yah, memang semenjak Jane pintar berjalan aku semakin lelah, berat badanpun turun drastis. Tapi jujur aku bahagia bersama mereka. Akhir dari kalimatnya dia menawarkan pekerjaan baru padaku, dengan iming-iming gaji yang sangat mengiurkan. Katanya kalau aku sudah siap, aku bisa menghubunginya dan dia akan menjemputku.
Sebelum berlalu, dia selipkan nomor teleponnya di pangkuanku.
Peristiwa itu cukup membuatku gelisah, hampir saja aku terbuai. Beruntung Amalia, mengingatkan untuk tidak tergoda, dia menyarankan agar nikmati saja pekerjaanku sekarang. Lagipula, aku sudah terlanjur jatuh cinta pada keluarga ini, jadi kubuang saja nomor teleponnya, dan melupakan semuanya.
***
Sudah sangat lama aku tidak bertemu dengan Mbak Any, tiba-tiba aku merindukanya. Aku orangnya ngirit, jarang menelpon teman kalau tidak terlalu penting.
Seperti ada ikatan batin anatara aku dan dia, saat aku sedang mengetik pesan untuknya, ponselku bergetar lebih dulu. Nama Any muncul di layar. Aku segera menekan tombol ON untuk menerima pangilanya. Belum sempat kuucap salam, suara tangis terdengar dari ujung telepon. Mbak Any mengajakku untuk ketemu setelah buang sampah, suaranya terdengar begitu tertekan dan memilukan.
Setelah buang sampah aku pun menemuinya di taman. Matanya nampak masih sembap, aku yakin dia dalam masalah.
Seperti dugaanku, dia bercerita kalau ibunya sakit dan harus dioperasi, dia butuh uang dan berniat meminjam 20.000 NT, padaku. Sebenarnya aku tidak tega, tapi aku juga tidak punya uang sebanyak itu, aku hanya mempunyai uang 7000 NT. Aku berjanji akan meminjamkanya 5000, besok pagi.
Sepertinya kehendak Tuhan, lain. Esok harinya aku tidak bisa keluar rumah sama sekali, Aco sakit.
Bukan bermaksud ingkar, Empat hari aku terkurung oleh tanggung jawab di rumah. Hari ke Lima aku paksakan diri lari ke taman sebentar. Aku terus memikirkan Mbak Any, dia butuh bantuan. Aku mencarinya namun dia tidak ada, hanya ada Amalia dan teman-teman yang lain sedang sibuk merumpi.
Melihat kehadiranku Amalia segara menghampiri. Tak ingin buang waktu aku segera bertanya tentang Mbak Any, tadinya aku ingin menitipkan uangnya pada Amalia. Namun betapa terkejutnya aku saat dia bercerita kalau Mbak Any kabur dua hari yang lalu.
Oh Tuhan! Mendengar semuanya ada perasaan yang berkecamuk di dada, ada sedih karena aku merasa kehilangannya, ada juga syukur karena uangku selamat.
Sejenak suasana hening, hanya terdengar sayup-sayup suara derai tawa teman-teman lain yang asyik merumpi di sudut taman.
“Sebenarnya jujur aku sangat kasihan sama Mbak Any,” ucap Amalia memecah keheningan, “kamu tahu? Dulu dia pernah ke Taiwan. Namun, keberangkatannya yang pertama dia kurang beruntung karena uangnya dihabiskan oleh suaminya, bahkan suaminya tega menikah lagi. Dan keberangkatannya yang ke dua, kamu tahu sendiri majikanya seperti apa? Di tambah lagi agency yang lebih memihak pada majikan. Aku bisa membayangkan bagaimana perasaan Mbak Any, kasihan sekali!”
Sesaat Amalia menghentikan ceritanya, jari-jari lentik menghapus butiran-butiran bening yang tak terkendali menghujani pipinya. Mataku pun mulai beriak kala mendengar ceritanya.
“Dulu, benerapa bulan lalu. Aku memergoki dia sedang menangis tersedu-sedu di sini, di taman ini! Lalu dia bercerita tentang keluarganya. Kata Mbak Any, keluarganya hanya menganggap dia seperti ATM, layaknya mesin pencetak uang. Terutama kakaknya yang membantu mengurus putri Mbak Any, dia seolah menjadikan anak sebagai senjata untuk menguras uang Mbak Any.”
Mendengar cerita Amalia tentang Mbak Any, hatiku tersentuh. Ternyata aku sangat beruntung, aku memiliki keluarga dan juga majikan yang baik dan perhatian. Benar kata Amalia dulu saat aku sedikit putus asa oleh kenakalan Jane, masih banyak orang yang lebih kesulitan dari kita, ucapnya.
Dulu aku sering mengeluh. Mungkin tuhan salah dengar! pikirku. Tapi sekarang aku sadar, banyak sekali hal baik yang kudapat dari-Nya. Andai saja, aku hanya dirumah mengurus anak apa mungkin aku bisa mencukupi apa yang anakku butuhkan? Banyak sekali nikmat yang kulupakan. Di Taiwan aku bisa mencukupi kebutuhan keluargaku, walau sedikit aku bisa membaca dan menulis bahasa mandarin, bahasa Igrisku pun sedikit lebih lancar tanpa harus sekolah, walaupun aku wong deso tapi bisa belajar komputer, bahkan punya laptop sendiri. Nikmat apa lagi yang harus aku dustakan, Allah telah memberikan segalanya yang terbaik untukku. Rencana-Nya memang maha sempurna.
Tau yuan, 18, April, 2016
latifah / TAIWAN DAN LEMAK KU / Tidak ada / tenaga kerja asing TAIWAN DAN LEMAKKU Taiwan,terimakasih… Terimakasih sudah membantu ekonomiku Karena NTmu sudah cukup buat keluargaku Tetapi,taukah kamu? Pada tahun 2014 aku baru datang dengan tubuh kurusku Dan hingga suatu hari,aku menerima gaji bulan pertamaku Senang akhirnya aku bisa menghasilkan uang dengan keringatku sendiri Dengan NTmu juga … Continue reading “TAIWAN DAN LEMAK KU”
latifah / TAIWAN DAN LEMAK KU / Tidak ada / tenaga kerja asing
TAIWAN DAN LEMAKKU
Taiwan,terimakasih…
Terimakasih sudah membantu ekonomiku
Karena NTmu sudah cukup buat keluargaku
Tetapi,taukah kamu?
Pada tahun 2014 aku baru datang dengan tubuh kurusku
Dan hingga suatu hari,aku menerima gaji bulan pertamaku
Senang akhirnya aku bisa menghasilkan uang dengan keringatku sendiri
Dengan NTmu juga aku bisa beli apa aja dan aku bisa makan apa yang aku mau.
Seperti orang kesetanan,tanpa pikir akan menjadi lemak di tubuhku.
Hari demi hari
Bulan demi bulan
Dan tahun demi tahun
Tubuhku semakin gendut karena NTmu.
Karena semakin gendutnya aku
Orang di sekitarku mengejengku,membullyku
Aku drop…😟
Tidak tau harus gimana?
Aku stres dengan ejekan mereka.
Hingga suatu hari aku mencoba diet
Berbagai cara diet aku jalani,tapi hasilnya nihil!
Aku tidak menyerah terus berusaha diet walaupun gagal terus
Dan tiba-tiba saking capeknya dengan diet gagalku
Aku lepas kontrol
Aku lahap semua makanan yang aku pantangin,tidak perduli mau gendut atau apalah itu
Dan jadilah aku yang dulu 48kg dengan sekarang 60kg,super gendut bukan?
Tiba-tiba suatu hari aku melihat lelaki ganteng dan aku suka dia pada pandangan pertama.
Aku mau deket sama dia
Tetapi,siapalah aku? Berani-beraninya suka lelaki seganteng dia,sedangkan aku cuma wanita gendut yang tidak bisa kurus.
Karena lelaki yang aku taksir sukanya dengan wanita langsing,oh tuhan sedih rasanya!
Dan sampai saat ini aku masi berpikir bagaimana caranya bisa kaya tubuhku yang dulu lagi sebelum aku ke sini…
Taiwan oh taiwan…
Selesai.
Ade Junita / Cerita-cerita Yang Menelan Ayah dan Ibu / Tari Sasha / tenaga kerja asing Minggu kemarin dia bilang ingin membicarakan sesuatu mengenai Ibu. Entah apa yang sebenarnya dia inginkan. Seingatku sudah sekian tahun –aku malas untuk menghitungnya berapa- dia menjauhkan diri dari Ibu dan kami. Menjauhkan diri dengan bekerja ke luar negeri menjadi apalagi kalau bukan … Continue reading “Cerita-cerita Yang Menelan Ayah dan Ibu”
Ade Junita / Cerita-cerita Yang Menelan Ayah dan Ibu / Tari Sasha / tenaga kerja asing
Minggu kemarin dia bilang ingin membicarakan sesuatu mengenai Ibu. Entah apa yang sebenarnya dia inginkan. Seingatku sudah sekian tahun –aku malas untuk menghitungnya berapa- dia menjauhkan diri dari Ibu dan kami. Menjauhkan diri dengan bekerja ke luar negeri menjadi apalagi kalau bukan PRT. Aku tahu bukan itu alasan sebenarnya. Begitupun pada Ibu, aku yakin Ibu juga tahu kepergian dia ke luar negeri sebenarnya hanyalah alasan untuk bisa menjauhkan diri dari Ibu dan kami. Tapi aku tidak ingin tahu separah apa Ibu menahan perasaan tertekannya pada salah satu anak kandungnya yang berubah.
Hari ini hari kerja sehingga kedai makan yang dipilih untuk pertemuan kami cukup hening. Aku sendiri memang meminta ijin libur di hari biasa. Baru delapan bulan aku bekerja di Taiwan. Bukan maksudku hendak mengikuti jejaknya. Aku pun tidak memilih menjadi PRT seperti apa yang dia putuskan untuk ke 2 kalinya ke sini. Meskipun aku perempuan, aku memilih bekerja sebagai buruh pabrik di Taiwan, kendati prosesnya memang lama tapi toh aku bisa juga.
Kupilih sebuah meja dengan empat bangku agak ke dalam. Di bagian depan masih agak bising dengan suara kendaraan dan penjaga kedai warung Indonesia yang suka bicara dengan lantang saat memberitahukan menu masakan yang dipesan pada koki di dapur.
Dua lagu kuputar melalui earphone sembari menunggu. Secangkir lemon tea melepaskan panasnya dengan menguap. Kuteguk sedikit untuk menghangatkan tubuh. Dan sesaat setelahnya dia datang dengan senyum khasnya yang ringan. Senyum yang lepas begitu saja namun tanpa makna yang dalam.
Dia menyapa kemudian mengambil duduk di bangku yang berhadapan denganku. Menaruh tas mungilnya lalu berdiri kembali dan berjalan ke depan untuk memesan minuman dan cemilan. Dia tidak suka makan di luar, itu yang aku tahu. Hal yang juga tidak kusuka karena selalu mengingat pesan Ibu untuk jaga kesehatan.
“Kau tahu kan saat ibu dan ayah menikah, sebelumnya status mereka bukanlah janda dan duda?” tanyanya setelah berbasa-basi menanyakan kabar dan pekerjaanku sekarang.
Aku tahu itu tapi kubiarkan dia menganggapku tidak mengetahuinya. Dia diam sebentar. Nampak menimbang-nimbang sesuatu entah apa. Sekilas dia lirik jam tangan yang melingkar manis di tangan kirinya.
“Aku masih punya waktu lama kok,” kataku mengagetkannya.
“Aku tidak tahu ini baik untuk kamu atau tidak. Aku sendiri sangat shock ketika mengetahuinya.”
Dari siapa? Sayangnya pertanyaan itu hanya keluar dalam benakku. Aku ingin dia yang mengatakannya sendiri bukan karena aku.
Pesanannya datang. Ini sedikit mengganggu. Kenyamanan seseorang selalu akan terganggu ketika ada momen kecil yang tiba-tiba menyela. Tapi aku lihat tidak. Cepat dia membuka kunci hape dan mengubah modus hape dari umum menjadi diam. Jelas, dia tidak ingin ada hal lain yang mencoba mengganggunya lagi.
“Ibu memang wanita yang paling baik. Setidaknya selama ini seperti itulah peran yang ibu mainkan di depan mata kita. Ibu selalu sabar menghadapi kenakalanku waktu kecil. Aku banting radio, piring bahkan pernah memecahkan kaca lemari. Tapi ibu tidak marah. Dia biarkan aku melampiaskan marahku pada benda apapun di rumah.”
Barangkali dia selalu mengingat semua kebaikan Ibu dan tidak pernah mencoba untuk melupakannya. Aku juga ingat kendati dia anak nakal namun ibu sangat menyayanginya. Di sisi lain memang dia anak paling nakal saat dia marah, namun dia juga anak paling penurut pada ibu dan ayah. Dia adalah pribadi yang total dalam mencintai dan membenci sesuatu.
“Ibu selalu membereskan pecahan-pecahan kaca lemari dan piring akibat ulahku sebelum ayah pulang. Sehingga ayah tidak pernah tahu ulahku. Ibu selalu menyembunyikan kenakalanku di depan ayah.”
“Kita di sini bukan untuk membicarakan itu kan?” tukasku. Kuambil cangkir lemon tea di depanku dan kuteguk beberapa kali. Sisa sedikit. Aku ingin memesan lagi tapi urung.
“Aku tidak tega jika bilang ibu adalah wanita yang merebut ayah dari wanita lain. Tapi kenyataannya begitu. Ibu perusak rumah tangga orang lain. Kau mungkin baru mendengarnya dan tidak percaya.”
Aku tahu itu. Aku tahu, bahkan mungkin lama sebelum dia tahu. Aku tahu sejak umurku 8 tahun. Saat itu aku tidak mengerti kenapa Bira mengatakan kalau ibu pernah menyiksanya bahkan mencambuknya hingga luka-luka. Aku hanya mengangguk saat Bira menceritakan itu. Sedangkan ibu mengatakan kalau Bira adalah saudara jauhku, meski sampai aku berumur 13 tahun aku masih tidak tahu Bira saudara dari Ibu atau ayah. Nyatanya sampai dua tahun kemudian aku baru menyimpulkan kalau Bira adalah anak ayah dengan bekas istrinya. Bira memang saudaraku, hanya beda Ibu. Bira menjadi anak tiri dari ayahnya sekarang karena Ibu.
Dia diam sejenak dan melihatku dengan seksama. Aku sendiri tidak tahu harus berbuat apa di depannya. Apa yang dia katakan sebenarnya aku tahu tapi dia belum tahu itu. Sebisa mungkin aku pasang muka seperti orang yang penasaran dengan apa yang akan dia katakan selanjutnya.
“Kamu sudah tahu hal itu, Dian?” tanyanya melihat lagatku yang biasa saja.
“Tidak. Aku hanya belum mengerti kenapa kau sampai bisa beranggapan seperti itu,” kilahku kemudian.
Dia hanya diam. Masih menimbang-nimbang apa yang harus dia jelaskan selanjutnya.
“Aku baru tahu itu sewaktu pertama kali pulang dari Taiwan.”
“Siapa yang memberitahumu?” tanyaku kemudian. Aku tidak sabar ingin tahu siapa yang memulai petaka ini.
Masih sangat lekat di pikiranku saat dia menangis tidak jelas sepulang dari Taiwan pertama kali. Ayah sangat khawatir dengannya. Terlebih Ibu. Tapi tidak lama kemudian dia memutuskan pergi lagi ke Taiwan. Negara di mana aku juga akhirnya memutuskan bekerja di sini demi memperbaiki keadaan ekonomi keluarga.
“Yu Tuti. Dia yang menceritakan kalau Ibu adalah wanita perusak rumah tangga orang lain.”
Yu Tuti? Bisa ditebak kenapa dia menceritakan aib Ibu padanya. Yu Tuti juga yang dulu menanamkan bibit kebencian pada Ibu di benak Bira, anaknya sendiri. Sudah jelas apa yang menjadi motif dari semua ini. Yu Tuti membenci Ibu karena merebut ayah dari pelukannya. Ibu memang salah. Setidaknya itulah angapan mereka. Dan aku sampai sekarang, sampai saat aku tahu siapa yang membuat kakak berubah, masih belum tahu apakah Yu Tuti juga bisa dibilang bersalah.
Terlepas dari siapa yang salah, aku sangat tidak terima jika Ibu dikatakan sebagai perusak rumah tangga. Karena kata perusak berarti orang yang suka merusak. Dan aku sangat tahu kalau Ibu tidak seperti itu.
“Kau sama seperti Bira,” kataku membuatnya tersentak.
“Apa maksudmu?”
“Dulu Bira bercerita padaku kalau Ibu pernah menyiksanya sewaktu dia kecil. Mencambuknya…, memukulinya…. Awalnya aku memang percaya karena waktu itu rumah kita dengan rumah mereka hampir sebelahan. Tapi kemudian aku tahu kalau itu semua cuma omong kosong yang dibiuskan oleh Yu Tuti agar bira membenci Ibu. Bira tak mengalami luka apa-apa di tubuhnya. Aku tak pernah menemukan bekas cambukan atau pukulan kasar.”
“Hehh…, mungkin itu memang hanya omong kosong. Tapi wanita yang menjadi penyebab rumah tangga orang lain hancur bukankah wanita itu sama saja dengan wanita murahan?”
“Jangan pernah mengatakan kalau Ibu seperti itu?” ancamku. Jelas aku tidak terima dia mengatakan itu.
“Lalu kamu mau apa kalau memang seperti itu yang terjadi? Kita lahir dari rahim wanita murahan yang merusak rumah tangga orang lain,” katanya sembari tertawa. Entah tawa yang kulihat darinya ini sebagai tawa kepuasan atau kesedihan.
“Bukan ibu yang merebut ayah dari Yu Tuti,” kataku.
Dia diam seketika. Matanya melotot. Aku balas menatapnya dengan tajam. Aku tahu dan sadar kalau aku sangat tidak pantas bersikap seperti ini pada kakakku sendiri. Tapi dia sendiri yang memutuskan untuk tidak lagi menjadi kakakku semenjak cerita itu mengubah hidupnya.
“Maksudmu ayah yang menggoda ibu padahal dia masih menjadi suami Yu Tuti?”
“Memang seperti itu kenyataannya,” kataku dingin.
Aku tidak tahu harus menjelaskannya seperti apa lagi.
Dia diam dan menunduk. Kelu. Mencoba memercayai omonganku dengan logikanya.
“Dan sepertinya kau juga harus tahu kalau saat itu ibu masih menjadi istri lelaki lain. Ayah merebut istri orang lain padahal dia sendiri punya istri.”
Dia tersentak dan menatapku begitu lekat. Napasnya seketika tidak teratur. Ada amarah yang muncul seketika.
Aku tahu ini akan sangat mengguncang batinnya. Tapi mau bagaimana lagi? Aku harus memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi karena ini adalah pesan ayah padaku untuk terakhir kali dalam hidupnya. Ayah tidak ingin kakak membenci ibu sebagaimana Yu Tuti yang tidak ingin Bira membenci ayah kendati dia tahu ayah yang meninggalkannya begitu saja.
“Kita memiliki saudara ipar baik dari ayah ataupun dari ibu. Bira dan Danu.”
“Danu? Kau bilang Danu adalah saudara ipar?”
“Iya. Saudara ipar dari ibu. Lelaki yang saat ini kau bilang ingin menikah dengannya.”
“Apa? Kenapa… kenapa aku baru tahu sekarang?”
“Bukankah sudah jelas, karena selama ini ayah dan ibu merahasiakannya dari kita.”
Dia geram. Rahangnya mengeras. Namun dengan tiba-tiba dia lemas. Dan dadanya bergetar. Dia terisak.
Kudekatkan kotak tisu di hadapannya. Aku tahu dia sangat terguncang dengan ceritaku ini. Dua kenyataan menohok ulu hatinya sekaligus.
Guanyin, 130416
21:57