Suara Terakhir

Ismii Khalifah / Suara Terakhir / Tari Sasa / tenaga kerja asing Suara Terakhir Oleh: Ismii Khalifah Denting jam berbunyi menunjukan pukul 21:30, ketika detik demi detik terdengar lebih nyaring dari biasanya sedangkan aku pun nampak begitu resah dalam diamku, aku duduk beralaskan tikar dan bersandarkan tembok dengan kekhawatiran yang hanya bisa kusimpan aku mencoba tenang, perjuangan mendapatkan … Continue reading “Suara Terakhir”

Ismii Khalifah / Suara Terakhir / Tari Sasa / tenaga kerja asing

Suara Terakhir
Oleh: Ismii Khalifah

Denting jam berbunyi menunjukan pukul 21:30, ketika detik demi detik terdengar lebih nyaring dari biasanya sedangkan aku pun nampak begitu resah dalam diamku, aku duduk beralaskan tikar dan bersandarkan tembok dengan kekhawatiran yang hanya bisa kusimpan aku mencoba tenang, perjuangan mendapatkan ketenangan yang kurasa seperti perjuangan menahan lapar seharian saat berpuasa.
Terlihat olehku raut wajah ayah yang juga mengekspresikan kekhawatirannya, ayah yang sedari tadi mondar-mandir didepanku hampir membuatku pusing, tapi aku pun tidak bisa memaksanya untuk tenang karena aku paham jika setiap orang punya cara tersendiri menunjukan kekhawatirannya.
Sampai pada akhirnya tangis bayi memecah keheningan yang sempat terjadi cukup lama itu, air mataku menetes tanpa bisa tertahan, rasa haru menyelimuti hatiku terlebih ketika aku melihat senyum pertama ayah setelah kecemasannya yang langsung memasuki kamar tempat ibu melahirkan.
Segera kuusap air mataku lalu beranjak dari tempat dudukku dan mendekati kamar tapi langkahku terhenti ketika didepan pintu kamar, kulihat ayah menggendong adikku sembari mengadzaninya, ku melirik ke arah ibu yang masih terlihat lemas diatas tempat tidur, seharusnya ini adalah kebahagiaan dalam babak baru kehidupan.
Hari-hari kuisi dengan merawat adikku ketika ibu sedang mengerjakan beberapa pekerjaan rumah yang masih bisa dijangkau setelah ibu melahirkan, sedangkan ayahku mengerjakan pekerjaannya yaitu sebagai seorang petani, ayah berangkat setelah mencuci pakaian ibu dan pulang sebelum ashar.
Sempat terpikir dalam hati ini begitu lelah menjaga adikku walau sekedar duduk mengayun ayunan tempat adikku saat tertidur agar adikku bisa tidur nyenyak dan ibu bisa sedikit beristirahat, lelah itu hadir ketika aku hanya bisa menyaksikan teman sebayaku bermain didepan rumah sedangkan aku hanya bisa melihat dari jendela karena harus fokus menjaga adikku, dan seketika kejailanku muncul entah drimana sumbernya, kubuat adikku terbangun hingga menjadikan ibu menghentikan pekerjaannya, dan disaat ibuku menenangkan adikku lah aku punya kesempatan untuk bermain bersama teman-temanku.
Yang aku rasakan adalah lelah dan lelah sampai aku pernah mengerutkan dahi sembari memandang kearah adik bayiku, aku merasa tidak suka kalau setiap hari aku harus kehilangan waktu bermainku.
Tahun demi tahun berlalu dan kulihat adikku semakin besar, ada kebahagiaan yang seakan luar biasa ketika kulihat adikku memakai seragam pertamanya untuk pergi ke sekolah, tidak lupa kuajak dia berfoto dengan tujuan kelak ketika dia tumbuh dewasa dia bisa melihat foto itu.
Aku yang seorang siswi salah satu SMK di Indramayu seringkali disibukkan dengan tugas-tugas sekolah yang seringkali memusingkan kepalaku, bahkan sempat aku memarahi adikku hanya karena hal sepele, dan sebenarnya aku tidak patut melakukan itu, aku seakan melarikan kelelahanku akan tugas sekolah dengan memarahi adikku.
Sampai dipenghujung tahun yang menegaskan jika aku tinggal menjalankan beberapa ujian sebelum akhirnya diwisuda, aku punya keinginan untuk memberikan yang terbaik untuk orang tuaku karena dua tahun ini aku gagal dapat beasiswa, walaupun nilaiku besar tapi aku hanya bisa sampai dilima besar karena empat orang diatasku mendapatkan nilai yang lebih besar dariku, aku berharap ditahun terakhir sekolah aku bisa membanggakan orang tua.
Kumaksimalkan tenaga, pikiran, waktu, materi, semuanya untuk ujian-ujian terakhir sekolah, sampai pada akhirnya semua semangatku terhenti ketika kurasa mataku semakin samar melihat dunia, entah apa yang terjadi karena yang kutahu aku sudah ada didalam rumah padahal sebelumnya aku masih berada di sekolah.
Aku mencoba tidak terlalu menganggap serius kejadian itu karena aku berpikir mungkin saja aku kelelahan hingga pingsan, tapi ternyata anggapanku salah ketika seminggu berturut-turut aku mengalami hal yang sama, ayah tidak kuasa melihat aku pulang dengan tubuh tidak sadar sedangkan setiap berangkat sekolah selalu membawa keceriaan, sampai ada kalimat beliau yang benar-benar membuatku seakan dihantam benda keras, beliau menyuruhku untuk berhenti sekolah karena anggapan beliau jika aku sudah tidak ada kesempatan untuk sekolah.
Dengan wajah tertunduk aku membatin dalam diam, sejujurnya aku tidak mungkin menghentikan sekolahku begitu saja, terlebih hanya tinggal beberapa tahap lagi menuju kelulusan, tapi aku pun bingung bagaimana menemukan kesembuhan saat beberapa dokter dan tabib tidak bisa menyembuhkanku, sedangkan aku tidak punya banyak waktu untuk bersantai-santai, tugas sekolah sudah menumpuk, hari terus berlalu dan waktu ujian semakin dekat tapi aku tidak tau bagaimana meyakinkan ayah sedangkan tubuhku ini begitu lemah.
“Yayu harus cepat sembuh, kasihan teman-teman yayu yang setiap hari selalu mengantar yayu pulang, kasihan ibu dan bapak” Ucap adikku sembari menatapku yang sedang terbaring lemah diatas tempat tidur,
Aku hanya bisa terdiam sembari sesekali menyeka air mataku yang mencoba membasahi pipiku.
Walau aku masih sering pingsan tapi aku mencoba untuk menutupinya dari orang tuaku terutama ayah, aku tidak ingin membuat mereka khawatir dan sangat amat tidak mau jika ayah sampai mencabut paksa izin untukku bersekolah,
“Ayah, aku masih ingin sekolah, aku punya cita-cita, izinkan aku menyelesaikan sekolahku, aku akan berusaha untuk sembuh dan tidak membuat ayah dan ibu khawatir lagi” Ucapku dalam renunganku disuatu malam, dan banyak perjuangan yang amat tidak mudah kulalui tapi aku bersyukur bisa menyelesaikan sekolahku.
Masa berikutnya dimulai, ketika aku berusaha mencari pekerjaan seusai lulus sekolah, dalam benakku rasanya ingin sekali segera bisa membahagiakan orangtua dengan jerih payahku sendiri, juga untuk adikku yang senantiasa membuatku semakin semangat walau kusadar tubuh lemahku seringkai enggan menampung besarnya semangatku.
Beberapa kali mencoba pekerjaan, menempati satu demi satu tempat kerja dari toko, kompeksi, garmen, belum lagi pekerjaan-pekerjaan lain yang enggan menerimaku, semua itu terkadang membuatku lelah, orangtua memang tidak menuntutku tapi aku serasa punya tanggung jawab untuk membahagiakan mereka, sampai akhirnya aku memutuskan untuk mendaftarkan diri sebaga Tenaga Kerja indonesia untuk pemberangkatan menuju Taiwan.
Aku merasa Allah sudah mendekatkan aku dengan mimpiku yaitu membahagiakan orangtua dan adikku, beberapa bulan kulalui hingga sampai didetik-detik penerbanganku, aku mencoba menghubungi orang tua untuk melepas rindu sekaligus meminta doa untuk kelancaran perjalananku, ku panggil-panggil adikku yang terdengar cukup jauh ketika aku sedang berbicara dengan ibu lewat telephone,
“De, yayu mau ngomong” Saut ibu pada adikku,
“Tidak mau!” Jawab adikku yang membuatku tertawa ketika mendengarnya,
“Tidak apa-apa bu” Ucapku,
Obrolan itu terhentikan ketika ibu asrama meneriaki waktu pengumpulan hp, aku pun langsung menghentikan obrolanku dan mengatakan pada ibu jika minggu depan saja dilanjutkan obrolannya.
Suatu kejadian membuatku harus segera pulang menuju rumah sederhana disebuah kampung kecil wilayah jawa barat, tiada yg ingin ku lakukan selain pulang menemui orang tua juga kedua adikku, dalam benakku aku harus kuat, tiada sedikit rasa lelah,, sedih juga kecewa yg boleh aku tunjukan, ya, aku harus tegar didepan keluargaku walau entah hatiku seperti apa saat itu, karena langkah kaki pun seakan kapas yg terhempas angin seperti itulah kakiku yg melangkah namun tiada merasa.
Akhirnya jam 19: 30 aku pulang dari Jakarta menuju rumah orang tuaku, tiada kurasa pusing yang biasanya sering kurasakan saat menaiki mobil, tiada kurasa dingin walau malam semakin larut, tiada rasa lapar walau beberapa hari sebelumnya perutku hanya berisi air dan air, diam dan diam itu yg kulakukan ketika didalam mobil, karena aku ingin segera sampai dirumah, waktu berlalu desa demi desa ku lewati sampai akhirnya sekitar jam 1 hampir dini hari aku tiba dirumah, seseorang yg baik hati mau mengantarkanku sampai depan rumah.
Ketika sesampainya dirumah kulihat kedua orang tuaku juga pamanku tengah duduk didepan rumah, entah apa yg membuat mereka masih terjaga padahal hari itu aku tidak mengabari kalau ingin pulang, kujabat tangan kedua orang tuaku dgn penuh penghormatan juga kerinduan setelah beberapa bulan tidak bertemu, setelah kuletakkan barang bawaanku didalam kamar aku memutuskan untuk ikut berbincang-bincang bersama kedua orang tuaku, tiada rasa kantuk dalam benakku, akhirnya jam 4 dini hari aku baru tertidur dan 1 jam kemudian terbangun, waktu istirahat yang cukup singkat tapi terasa cukup untukku saat itu, aku pun melakukan aktifitasku selayaknya gadis desa, membantu pekerjaan rumah, memasak dan belanja, tidak lupa kuperhatikan makanan orang tuaku juga kedua adikku, tidak perduli aku makan atau tidak tapi mereka harus makan, aku tau kejadian itu sungguh mengguncang batin tidak terkecuali aku, tapi hidup terus berjalan dan aku masih ingin melihat mereka sehat, hari-hari kulalui dengan rasa yang berbeda, sempat tercipta tawa tapi seakan tawa semu yang tiada arti tapi setidaknya ada tawa yang kulihat dari mereka.
Tujuh hari berlalu, Oh My Allah… sungguh air mata ini tidak mampu lagi kubendung karena kesedihanku tidak mampu lagi kutahan, disamping makamnya kubacakan surat yasin beserta do’a dan tidak lupa permintaan maaf karena belum sempat menjadi kaka yang baik dan juga membahagiakannya, entah dia mendengar atau tidak, yang kutau aku merasa dia ada dan melihatku, masih ada rasa tidak percaya KAYU NISAN yang kulihat saat itu bertuliskan namamu dik, andai kala itu mimpi, sungguh aku ingin segera bangun bangun dan bangun, tapi itu bukan mimpi bahkan sekalipun aku menampar pipiku amat keras kusadar itu bukan mimpi, dengan perasaan amat berat kutinggalkan MAKAM itu dan pulang menuju rumah, Oh My Allah sungguh tiada yang mengetahui kapan Umur berhenti, tapi mungkin Engkau lebih menyayanginya daripada aku dan keluargaku..
Malam itu kukemasi baju dan perlengkapan lainnya, aku harus kembali lagi ke Jakarta untuk meraih mimpiku, entah apa sebabnya pada tengah malam badanku panas dan aku menggigil, aku menangis kesakitan, aku hanya tidur sendiri dikamarku dan entah sekeras apa tangisku itu sampai membuat ayahku terbangun, samar-samar kudengar beliau membangunkan ibu yang sepertinya tengah tertidur pulas, aku sungguh tiada maksud mengganggu waktu istirahat mereka, yang kutau pastilah mereka amat lelah jiwa dan raga mengurus pemakaman dan 7 harian alm adikku tapi itulah kasih sayang yang tiada terucap, kudengar langkah kaki yang perlahan mendekat padaku, kudengar suara lirih dari ibuku yang menanyakan aku kenapa dan rasa sakit apa yang membuatku menangis tengah malam, aku menangis dalam mata yang terpejam dan enggan terbuka tapi aku mampu merasa dan mendengar apa yang terjadi saat itu, akupun mulai tenang ketika tangan lembut ibu membelai rambutku, beliau menyelimutiku, dan menemaniku hingga kutertidur saat itu, aku langsung merasa tenang saat itu.
Mentari bersinar menerangi bumi Allah nan luas, aku masih dalam rasa sakitku tapi aku tidak boleh mengeluh dan manja, aku harus tetap pergi ke Jakarta untuk melanjutkan mimpiku, pagi itu ibuku menyiapkan sarapan untukku dan disela acara makan kami beliau bertanya apa tidak sebaiknya rencanaku di tunda, tapi aku tetap memilih untuk pergi walau untuk berdiri saja badanku terasa berat.
Ketika hendak pergi kulihat masih ada raut kesedihan dalam wajah mereka tapi aku tidak mau larut dalam kesedihan, bukan karena aku tidak sedih tapi rencana Allah adalah sebaik-baiknya rencana dan itu yang kutekankan dalam diri yg lemah ini.
Aku hanya ingin membahagiakan kalian, aku hanya ingin punya kesempatan untuk membahagiakan kalian, aku tau dan paham dengan karakter kalian wahai ibu bapakku, kalian memang bukan tipikal orang yg selalu mengatakan “nak ibu bapak menyayangimu”, tapi tindakanlah yang langsung kalian lakukan, biarlah cinta dalam diam kalian yang kalian pilih tapi aku tetep bisa merasakannya, aku tetap tau kalau ibu dan bapak menyayangiku tanpa perlu mengungkapkan rasa sayang itu dengan kata-kata.
Entah berapa kali kudengar kalimat tentang apa yang sepertinya cocok untukku yaitu penyesalan selalu ada diakhir, seandainya dan seandainya, berandai-andai yang menjadikanku seringkali mengingat masa-masa dimana aku merasa sangat tidak baik bersikap terhadap adikku bahkan kurang bisa menjaganya.
Ketika berkali-kali aku mencoba menenangkan diri aku mendapati sebuah keyakinan jika Allah lebih menginginkannya kembali kesisi_Nya, dalam doa disetiap ibadahku kuselipkan permintaan maaf dan terimakasihku, maaf karena mungkin aku hanyalah seburuk-buruknya seorang kaka, terimakasih karena sudah menjadi adik yang luar biasa dan sampai kapanpun kamu akan menjadi adikku, itulah kalimat-kalimat yang seringkali aku ulang-ulang.
Suara ditelfon waktu itu adalah suara terakhirnya, pelan, lirih, samar, suara yang kupikir sekedar menggodaku saat enggan diajak berbicara tapi ternyata itu adalah suatu pertanda jika memang dia ingin pergi.
Aku tidak bisa mengelakan sebuah takdir kematian yang akan hadir pada setiap yang bernyawa, aku baru sadar jika aku benar-benar menyayanginya, seorang adik yang lebih sering kuabaikan daripada kuperhatikan ternyata adalah salah satu orang yang kubutuhkan, penyemangat dalam kerapuhan, tapi semua sudah terlambat kurasakan karena dia telah pulang dan semua tinggal kenangan.

Demi cinta ku melangkah

Ati / Demi cinta ku melangkah / Tidak ada / tenaga kerja asing Aq anak orang miskin bersadaura banyak penghasilan ortu tk mencukupi utk kami anak” nyA.n aq sebagai anak terbesar mempunyai kewajiban utk menanggung ekonomi klrga ku memilih melupakn segalanya hanya utk membiayai keluarga hingga kini ku pertaruhkn segalanya hingga ku lupa bgmn kehidupan diluar sana..kerja non … Continue reading “Demi cinta ku melangkah”

Ati / Demi cinta ku melangkah / Tidak ada / tenaga kerja asing

Aq anak orang miskin bersadaura banyak penghasilan ortu tk mencukupi utk kami anak” nyA.n aq sebagai anak terbesar mempunyai kewajiban utk menanggung ekonomi klrga ku memilih melupakn segalanya hanya utk membiayai keluarga hingga kini ku pertaruhkn segalanya hingga ku lupa bgmn kehidupan diluar sana..kerja non stop tiada cuti n tiada jumpa tema semua krn aq hnya ingin bekerja demi keluarga.orang” yg aq cintai pergi mengdap illahi hnya sesal yg kurasa tp apa daya ku harus tetap melangkah demi kedua orang tua n ke empat adikku..ujian demi ujian menghampiri bahkan kini saat ku mendekati kplngn cuti rencana nikahpun gk jelas calon suami dlm musibah n blom ada kbr slm 2 minggu hp gk aktif n gk ads titik terang hati semakin sedih semua tk berarti ya Tuhan sesungguhnya semua ini takdirMu untukku tapi ampunkn Aq yg serasa tk mampu berjln dibumi ini lemahku kian terasa saat ku hrs pertaruhkn hati ini..hidupku berantakn mimpiku lenyap n hrpnku kosong..

 

#Demi kehormatan orang tuaku#

Esah ramadani / #Demi kehormatan orang tuaku# / Bambang nurfauzi / Tiga tahun telah berlalu, dengan ijin tuhan aku mampu membiayai pembangunan rumah yang lebih layak untuk kedua orang tuaku. Senyum bahagia selalu menghiasi hari-hariku, rasa syukur selalu kupancatkan disetiap bait-bait doaku. Tiba-tiba muncul ingatanku ke masa silam, sosok yang membuatku mempunyai keinginan besar untuk mewujudkan impianku … Continue reading “#Demi kehormatan orang tuaku#”

Esah ramadani / #Demi kehormatan orang tuaku# / Bambang nurfauzi /

Tiga tahun telah berlalu, dengan ijin tuhan aku mampu membiayai pembangunan rumah yang lebih layak untuk kedua orang tuaku. Senyum bahagia selalu menghiasi hari-hariku, rasa syukur selalu kupancatkan disetiap bait-bait doaku. Tiba-tiba muncul ingatanku ke masa silam, sosok yang membuatku mempunyai keinginan besar untuk mewujudkan impianku (meninggikan derajat orang tuaku) saya sangat tidak rela melihat ibuku menangis karena penghinaan dari orang lain kepadanya. Dijauhi tetangga karena mereka takut ibuku akan berhutang, sore itu ibuku menyuruhku pergi kerumah tetangga yang rumahnya agak jauh untuk (Tandur) menanam padi tapi bayarannya nanti karena ibuku belum punya uang. Belum selesai aku bicara, beliau sudah menolak dengan memalingkan muka. Dia bilang “sudah ada yang  nyuruh, bayarannya langsung lagi.” jawabnya dengan nada merendahkanku. Seperti ditampar di muka umum, karena disitu banyak orang yang melihat. Butir-butir air mata jatuh dipipi merahku, aku tidak kuasa menahan tangis “Aku akan ingat ini,” bisikku dalam hati. Bibiku yang melihatku di permalukan seperti itu, langsung menghampiriku dan berkata : “sesok aku sing tandur nduk.” Besok aku yang menanam padinya sayang sahut bibiku sedikit mengobati luka hatiku. Dalam perjalanan pulang aku terus menangis, aku berpikir “ternyata sakit yah di hina orang lain, lalu bagaimana perasaan ibuku ? beliau bertahun-tahun banting tulang membantu perekonomian keluarga karena tenaga bapak tidak sekuat dulu, setelah beliau mendonorkan darahnya. Dan ibu tidak merasa malu untuk berhutang demi anak-anaknya yang masih kecil sedangkan aku baru sekali saja, sudah mewek.” Aku tidak memberitahu ibu dan hanya bilang kalau tetangga itu sudah ada yang nyuruh, pelan-pelan aku pandangi wajahnya yang kelihatan lelah. Detik itu juga aku berjanji pada diriku sendiri untuk meninggikan derajat ibu, agar tidak dihina lagi oleh orang lain. 6 juni 2012 aku terbang ke Taiwan, negeri formosa yang menjanjikan impian, 3 bulan aku dipenampungan. Aku bekerja di keluarga WU, aku tidak terlalu kesulitan untuk beradaptasi dengan bermodalkan sedikit pengetahuan tentang bahasa inggris. Tapi nyonya saya berpesan “walau kamu tahu bahasa inggris, kamu tidak boleh malas belajar bahasa mandarin” terus saya menjawab dengan anggukkan. Saya sering sakit saat musim dingin tiba, tapi majikan saya selalu membawa saya periksa ke dokter dengan kartu kesehatan yang saya punya (cien pao ka) ternyata tidak semudah yang saya kira, bahasa mandarin cukup membuat saya pusing selain kata-katanya yang hampir mirip tetapi juga beda pengartiannya. Tapi saya tidak menyerah, yang ada dalam benak saya adalah “Ibu dan Ayahku.” Beberapa bulan bekerja aku mengalami kesulitan, selain tidak boleh berkomunikasi dengan orang luar aku juga tidak diperbolehkan menggunakan Hp. Aku mencoba untuk tidak protes karena dalam perjanjian memang aku menyetujuinya, tapi aku yakin suatu saat majikan saya akan menuruti kemauan saya jika saya bekerja dengan baik. 8 bulan berlalu, aku berhasil melalui masa-masa sulit percobaan/adaptasi. Walau dengan tangisan dan merasa jauh dari orang-orang yang tersayang, tapi aku berhasil melewatinya. “Mungkin kedengarannya cengeng, tapi kalau aku merasa sendiri memang aku suka nangis hihi.” Dengan sabar dan telaten aku turuti dan patuh dengan perintah majikan dan agent ku, walau kadang aku merasa “kenapa hidup tidak adil.” Seminggu setelah itu, aku meminta ijin untuk menelepon pacarku. Aku menerima kabar yang kurang baik, pacarku bilang kalau orang tuanya menyuruh dia menkah dengan wanita lain jika aku tidak pulang dan menikah dengannya. Mendengar berita itu hatiku tidak tenang, di satu sisi aku berjanji untuk kehormatan orang tuaku tapi disisi lain aku menyayangi pacarku. Dengan perasaan sedih dan pikiran yang tidak karuan aku menelepon agent ku, untuk memintanya memulangkan aku ke Indonesia. Esok harinya mereka datang ketempatku dan menanyakan perihal yang terjadi “Pokoknya saya mau pulang,” isak tangisku dihadapan majikan dan agent ku. mereka menyuruhku berpikir dulu “pikirkanlah dulu, kalau kamu pulang kamu tidak bawa uang, dan kamu akan kesulitan lagi untuk datang kesini.” Jawab mereka meyakinkan saya, tapi aku tetap bersikeras untuk pulang. Setelah jurus-jurus rayuan dan nasehat mereka keluarkan, pikiranku mulai sedikit terbuka  dan dapat pencerahan. Akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan kontrak dengan syarat, aku dibolehkan menggunakan Hp dan diijinkan libur saat aku ada keperluan. Majikankupun tidak punya pilihan lain selain setuju, karena aku minta pulangpun tidak main-main. Sedikit demi sedikit aku mulai melupakan mantanku itu, aku mengikhlaskan dia menikah dengan wanita lain karena akupun tidak punya jaminan apa-apa untuk hubungan itu. Selama aku di Taiwan orang tuaku menyembunyikan kesengsaraannya, dulu yang aku setiap hujan pasti kebocoran dimana-mana. Tapi sekarang air hujan sudah mulai masuk kerumah tua itu, setiap hari bapak dan ibuku harus tidur kedinginan ditempat tidur diatas genangan  air. Kali ini benar-benar menguras air mataku mendengar berita dari tetanggaku tentang keadaan orang tuaku, tapi mereka tidak mau pindah dan tetap menempati rumah tua itu. Bagaikan teriris sembilu, aku disini bisa tidur dengan nyaman dan bantal yang empuk sedangkan orang tuaku tidur kedinginan diatas genangan air hujan. “Ya Allah bantu hamba dengan kekuatanmu, niatku untuk membuat hidup orang tua hamba lebih baik. Engkaupun pasti tidak tega melihatnya, tolong ridhoi niat hamba ya Allah, hamba yakin dengan kuasamu yang maha besar kabulkanlah permintaanku Aamiin.” penggalan-penggalan doa yang selalu aku pancatkan setelah sholatku, dengan penuh keyakinan dan kerendahan hati aku berserah diri pada tuhan. Aku berusaha sehemat mungkin untuk menabung, hari demi hari ingatkan diriku untuk tidak sembarangan membeli sesuatu sampai impianku terwujud. Alahmdulillah setelah 2 tahu lebih, uang yang aku tabung cukup untuk mendirikan rumah sederhana untuk kedua orang tuaku. Aku mengirimkan uang itu dan bilang kepada ibuku untuk menyewa tukang dan membangun rumah baru untuk mereka. Mereka terkejut dengan apa yang terjadi, mereka bertanya darimana aku tahu tentang air hujan yang masuk kerumah. Aku hanya menjawab “sudahlah yang penting sekarang adalah bagaimana niat kita berjalan dengan lancar.” Aku tidak bisa tidur nyenyak semenjak mendengar kesengsaraan orang tuaku, dan sekarang aku harus berpikir masalah biaya pembangunan dan biaya tukang. “Ya Allah bantu aku, mampukan aku hanya akulah harapan mereka.” Antara takut biayanya kurang dan takut yang namanya hutang aku selalu gelisah. Majikanku menawarkan hutang padaku, tapi mamaku bilang toko bangunan bisa meminjami sampai aku punya uang untuk melunasi “Alhamdulillah.” ucapku dengan rasa bersyukur. Sekarang tinggal mikirin pintu, jendela dan hutang. 2 bulan gajiku, aku kirimkan untuk membeli pintu dan jendela, tapi mendengar adikku sudah lulus sekolah dasar. Aku bilang uangnya untuk beli pintu dan biaya adik sekolah dulu, biar hutang dan jendelanya nanti saja toh masih ada bulan-bulan berikutnya. 3 tahun berlalu sudah saatnya aku harus pulang ke rumah baru orang tuaku, tadinya aku tidak ingin kesini lagi karena majikan tidak menyanggupi untuk menaikkan gajiku jadi aku bilang aku balik langsung. Tapi ternyata setelah melihat kesungguhanku bekerja, majikanku berubah pikiran dia mau menaikkan gajiku dan bersedia mengijinkanku pulang selama 1 bulan untuk mengurus visa dan melepas rindu kepada keluarga di rumah. Kejutan-kejuta dari Allah mulai terasa, aku mendapatkan kehangatan keluarga dan berhasil membuat orang bangga kepada ibu karena telah melahirkan aku. Kini rumah ibu sudah kokoh dan kuat, tidak akan ada lagi bocor sana-sini dan air hujan yang masuk kerumah. “Alhamdulillah ya Allah, jika aku tahu dari awal  bahwa rencanamu lebih indah tentu aku tidak akan sesedih waktu itu.” ucapku dalam hati. Kini adik bisa melanjutkan sekolah dan hutang-hutang sudah terlunaskan, aku berangkat lagi dengan semangat baru dari doa-doa keluargaku. Mereka yang menguatkan aku, dan menjadi penyemangatku. Pelan-pelan aku mulai mendewasa dan mempunyai rasa kasih sayang yang lebih pada sesama. Orang yang dulu menghinaku telah aku selip jauh, kini dia baik padaku dan kepada orang tuaku. “Sebenarnya aku harus berterima kasih padanya, jika dia tidak menghinaku mungkin aku tidak akan pernah tau kalau sebenarnya aku punya kemampuan untuk menghemat uang hehe.” Rencana tuhan memang selalu lebih indah untuk orang-orang yang bersabar dan mau berusaha. Aku belajar banyak hal dari perjalanan ku bekerja di Taiwan, bagaimana majikanku mengutamakan keluarga dan kedisplinan. Merekapun sudah mengaggapku seperti keluarga mereka sendiri, terima kasih Taiwan engkau ijinkan aku menginjak bumimu dan mengais pundi-pundi NT mu. Aku bangga bisa mengharumkan nama bangsa dengan bekerja sebaik-baiknya di rumah majikan. Doakan aku untuk melanjutkan kontrak kedua ku dan meninggalkan nama baik di keluarga majikanku Aamiin. Esah ramadani Taipei 7/4/2016

KISAH PERJUANGAN MENCARI REZEKI DI NEGRI FORMOSA

MULYANI / KISAH PERJUANGAN MENCARI REZEKI DI NEGRI FORMOSA / tidak ada / tenaga kerja asing Saya terlahir dari keluarga yang kurang mampu saya ingin bangkit berjuang seperti teman yang lain mencari rezeki ke luar negri sebelum berang kat kenyataan dan bayangan jauh berbeda . Sudah lama saya impikan ingin bekerja diluar negri. Saya fikir mudah proses dan … Continue reading “KISAH PERJUANGAN MENCARI REZEKI DI NEGRI FORMOSA”

MULYANI / KISAH PERJUANGAN MENCARI REZEKI DI NEGRI FORMOSA / tidak ada / tenaga kerja asing

Saya terlahir dari keluarga yang kurang mampu saya ingin bangkit berjuang seperti teman yang lain mencari rezeki ke luar negri sebelum berang kat kenyataan dan bayangan jauh berbeda .
Sudah lama saya impikan ingin bekerja diluar negri.
Saya fikir mudah proses dan cepat berangkar keluar negri ternyata tidak semudah itu. selama sayank proses banyak kendala dari segi keuangan sampai.mendapatkan majikan.
Saya harus sabar menunggu selama di PT perjuangan q gak kurang kuarang.
Menunggu selama kurang lebih 1 tahun.
Saya tahu betapa sulitnya proses kerja diluar negri dari dokumen sampai.mendapatkan majikan dan turun job itupun tinggal tunggu nasib.
Apa bila nasib baik kita segera berangkat dan majikan yang baik apabila nasib kita kurang baik kita udah nunggu lama dapat majikan yang kurang baik seperti halnya saya..
Itu pun harus saya jalani dengan sabarr dan berdoa.supaya bis mendapatkan apa yang aku impikan selama ini setelah aq mendapat job dan majikan dan sampai terbang ke negara taiwan di sambut majikan dengan baik.
Dibenak.pikiran ki majikanku baik keluarganya baik ternyata setelah say beberapa minggu bekerja tahu sifat dan kelakuan.majikan ku yang kurang baik setiap hari aku di bentak bentak.kerja ini salah kerja itu salah
Yang jadi hal utama permasalahan kita kurang bisa bahasa . Kadang bos yang kita kurang memahami bahwa kita orang asing belum.memahami bahasa mereka dalam hati saya setiap hari menangis karena majikan membentak bentak
Tapi itu semua saya jalani dengan iklas.
Karena aku ingin jadi orang yang berhasil.dan.membanggakan orang tua.
Sepahit apapun harus aku jalani. Selama saya bekerja di majikan ku ada teman yang kurang baik selalu mengadu domba tetapi hati q tetap bersabar ibarat berakit rakit dahulu bersenang senang kemudian
setelah sampai 3 tahun aku pulang ke indonesia setelah cuti beberapa bulan aku.proses balik lagi masuk taiwan.
Alhamdulilah TUHAN TELAH mendengar doa ku. Aku mendapat majikan yang baik.
Bos tau cara kerja ku hingga percaya aku dijadikan penerjemah aku membawahi 150 orang saya kerja dengan mati matian untuk membantu teman TKI.
Apabila ada keluhan.apapun aku siap.membantu tema teman TKI lainya.
Dari segi materi maupun tenaga.
Semua masalah saya membantu memecahkan mengasih solusi cara kerja yang baik ditaiwan hingga mengantar mereka berobat menyiapkan keuangan apabila mereka tidak.ada keuangan. Sampai sampai kebutuhan dapur kekurangan barang akupun siap membantu karena saya sadar betapa sulitnya hidup dinegara orang.
Siapa lagi kalau bukan saya yang membantu.
Itulah rasa saya bersyukur keberhasilanku dulu mendapatkan majikan yang kurang baik sekarang mendapatkan majikan yang sangat baik.
Apapun yang bisa saya lakukan untuk.membantu temen temen aku pasti lakukan dengan iklas..
Kesimpulanya untuk taman teman jangan putus asa berjuang dinegri orang semua itu perlu kesabaran, kejujuran, keiklasan,dan ulet dalam bekerja insyaalloh berhasil.

“Sabar Itu Indah”

Anie Laskar Cienta / “Sabar Itu Indah” / Tidak / Tenaga Kerja Indonesia “Sabar Itu Indah” Sebut saja aku anie. Di sini, aku bercerita tentang betapa susahnya mencari uang. Bahkan demi merubah nasib, aku rela pergi meninggalkan keluarga tercinta di indonesia demi uang, mereka berharap dengan perginya aku ke negeri formosa dapat bisa merubah perekonomian keluarga menjadi lebih … Continue reading ““Sabar Itu Indah””

Anie Laskar Cienta / “Sabar Itu Indah” / Tidak / Tenaga Kerja Indonesia

“Sabar Itu Indah”

Sebut saja aku anie.
Di sini, aku bercerita tentang betapa susahnya mencari uang. Bahkan demi merubah nasib, aku rela pergi meninggalkan keluarga tercinta di indonesia demi uang, mereka berharap dengan perginya aku ke negeri formosa dapat bisa merubah perekonomian keluarga menjadi lebih baik dari sebelumnya, tetapi tidak seperti yang aku bayangkan.

“Taiwan…Ohhh….Taiwan.” Aku berharap semua berubah sejak aku mengginjakkan kaki di negeri formosa ini. Kenyataan tak seindah bayangan.

Awal aku pergi ke taiwan, job yang aku terima adalah menjaga ama yang berumur 67 tahun. Dalam satu rumah, kami tinggal 5 orang. Anak anak nenek yang aku rawat semua baik, mereka selalu perhatikan kesehatan aku. Bahkan menantu nenek juga sanggat baik padaku.

Semua berubah menjadi benci padaku, setelah lima bulan aku bekerja, nenek selalu memarahiku dan selalu memukulku menggunakan gayung untuk mandi.

Baik ketika ada anak anaknya, itulah nenek yang aku rawat. Selama lima bulan bekerja, aku kirim uang kepada keluargaku. Hanya sedikit aku sisa untuk keperluan sehari hariku.

Serasa tak kuat aku menghadapi nenek, dan aku memutuskan pulang ke indonesia, tapi agency membujukku supaya aku mau berganti majikan. Sambil menunggu pergantian majikan, aku di perbolehkan untuk tetap bekerja dan merawat nenek sementara di rumah itu dan aku pun masih di gaji, karena mereka masih mengharapkan aku untuk tetap di sana menjaga nenek.

Delapan bulan sudah aku di rumah nenek, dan akhirnya aku melangkah keluar dari rumah yang sejak pertama aku datang. Ya….di mana saatnya aku bertempat di majikan yang baru.

Awal aku mengginjakkan kaki di majikan kedua, semua terlihat aneh. Biasa, bisa di sebut seperti itu. Perbedaan yang sanggat jauh, antara kaya dan biasa.

Job kedua, aku menjaga pasien yang tidak bisa apa apa, hanya terbaring di ranjangnya, di ibaratkan aku merawat mayat hidup. Dan, awal aku melihat pasienku, tak kuat hati aku melihatnya dan selalu meneteskan air mata. Lama dan lama aku merawat, terasa sudah terbiasa.

Setahun sudah aku di majikan kedua, dari awal sampai akhir aku hanya menggandalkan gajiku untuk bertahan hidup di taiwan. Dari awal aku bekerja, majikan pertama dan kedua tidak menafkahi aku. Makan, dan kebutuhan yang lain aku sendiri yang mencukupi dari hasil gajiku. Setahun setengah aku berada di taiwan, tak kunjung perekonomian keluargaku berubah.

“Dek, kakak butuh uang buat bikin ktp ibu.”
“Dek, keponakan kamu harus di rawat inap, karena deman berdarah, kakak pinjam uang.”
“Kak, kami butuh uang buat bayar sekolah karena sebentar lagi ujian akhir semester.”
“Dek, ibu minta uang buat beli beras sama kontrak rumah.”
Di sini lah tak bisa aku bendung air mata ini. Berharap semua berubah dengan perginya aku merantau, tapi tidak.

Di taiwan semua mahal, jajan mahal, dan semua kebutuhan aku cukupi sendiri. Setiap bulan aku kirim uang ke pada keluarga, dan sisanya aku pakai untuk kebutuhan bulananku.

“Tak bisa menabung.”

“Yaaaa…..apa mau di kata, sudah seperti ini mau di apa kan lagi.” Yang terpenting keluargaku bisa makan, itu sudah cukup buat aku tenang. Allhamdullillah, aku ada sedikit tabunggan karena aku sudah berniat untuk balik taiwan dengan job pabrik. Sekarang, dengan sisa masa kontrak, aku benar benar harus berhemat dan menabung, aku juga masih bisa sedikit menggirim uang buat keluarga.

Semanggat dalam bekerja itu tujuhan aku, supaya keluargaku tidak kekuranggan lagi. Hanya bisa bersabar dan banyak berdo’a dengan keadaan ini.

“Salam semanggat dariku kawan, semoga dengan berjuang dan banyak berdo’a, kita semua dapat menjadi apa yang di inginkan, amin.”

Tenaga Kerja Istimewa

Dewi Hariwinanti / Tenaga Kerja Istimewa / Boedi Oetomo / tenaga kerja asing Adakalanya jenuh menghadapi wanita setengah baya berkelakuan remaja yang sedang mematut diri di depan cermin itu. Meski berbagai penyakit jelas-jelas menggerogoti tubuhnya, dari program menyusutkan berat badan yang terkadang hampir merenggut nyawanya, dia tetap bertingkah bak remaja kemarin sore yang terus tersenyum dan berdandan untuk … Continue reading “Tenaga Kerja Istimewa”

Dewi Hariwinanti / Tenaga Kerja Istimewa / Boedi Oetomo / tenaga kerja asing

Adakalanya jenuh menghadapi wanita setengah baya berkelakuan remaja yang sedang mematut diri di depan cermin itu. Meski berbagai penyakit jelas-jelas menggerogoti tubuhnya, dari program menyusutkan berat badan yang terkadang hampir merenggut nyawanya, dia tetap bertingkah bak remaja kemarin sore yang terus tersenyum dan berdandan untuk menarik perhatian lawan jenis. Menyuruhku memberi pendapat tentang dandanannya, mengantarkannya belanja, kemudian bertemu lelaki-lelaki yang sama tuanya sekedar berbincang dan pamer betapa sukses anak-anaknya. Jenuh mengikuti rutinitas itu, tapi inilah sumber peghasilanku.
Dia tidak mau dipanggil Ama hanya karena umurnya belum genap 50 tahun. Juga tidak mau dipanggil Nyonya, karena kematian suaminya merubah status Nyonya jadi Nona. Maunya dipanggil Mam hanya karena anak-anaknya lahir, besar dan bermukim di luar Taiwan. Almarhum suaminya adalah orang China, pemilik pabrik LCD, LED dan perangkat keras elektronik yang dipakai hampir seluruh perusahaan elektronik terkenal, seperti Samsung, Apple, Xiaomi dan brand besar lainnya. Anak lelakinya yang meneruskan bisnis itu, membuatnya lebih lama tinggal di China dari pada Taiwan. Sedangkan anak perempuannya sekolah dan bekerja di Amerika.
“Kau masih ingat Tuan Huang?” Dia tiba-tiba berbalik, menatapku penuh harap seolah jawaban dariku adalah pemecahan teka-taki silang berhadiah jutaan NT. “Yang kenalan di bandara saat kita mengantar YuFeng pulang ke China.”
Tuan Huang? Bandara? YuFeng? China? Kata kunci yang harus kupecahkan hanya untuk mendiskripsikan Tuan Huang itu. Demi Tuhan, lelaki yang bermarga Huang berjumlah jutaan di Taiwan ini. Aku dan dia juga sudah belasan kali mengantar YuFeng, anak lelakinya ke bandara. Terakhir kali kegiatan itu adalah tiga minggu yang lalu, dan aku tak ingat telah bertemu dengan Tuan Huang.
“Huang Zitao? Huang Gai? Huang Ding? Huang…”
“Hahahahaha…,” tawanya pecah.” Kenapa kau menyebutkan semua nama tetangga kita yang punya marga Huang? Kau payah dalam hal mengingat orang.”
“Kadang aku seperti itu. Hanya lelaki-lelaki tampan yang mudah kuingat.”
Sekali lagi tawanya pecah, membuat riasan wajah yang sudah selama dua jam dibuat dengan susah payah mengkerut-kerut seiring kerutan mukanya. Sebentar kemudian tawa itu mereda diikuti batuk keras yang keluar berkali-kali dari mulutnya. Segera kuraih air putih yang selalu ada di meja tepi tempat tidurnya. Kuulurkan padanya, dia menerima lalu meneguk air itu sampai batuknya teratasi.
“Memperkerjakanmu memang membuatku awet muda, tapi harus waspada kalau-kalau aku mati lebih cepat karena terlalu banyak tertawa. Kau lucu sekali!” Ini kalimat kesekian ratus yang diucapkannya untuk memujiku. Kupikir tidak ada yang lucu denganku. Seorang pembantu yang setiap hari menunjukkan wajah bosan, berharap sekali saja dibiarkan lepas dari rutinitas memikirkan masalah majikan. “Tuan Huang juga tampan dan baik. Dia mentraktir kita makan di kedai Chang Kee. Harusnya kau ingat dia juga.”
Oh, lelaki tinggi besar mirip preman yang katanya kerja sebagai direktur di perusahaan X itu? Di mataku, lelaki itu lebih mirip kuli panggul dari pada seorang direktur. Lagipula kalau dia benar seorang direktur harusnya mentraktir di restoran Italia, pesan pasta seafood dan chesse cake, bukan mie sayur dan bakpao daging di kedai pinggir jalan. Prediksiku, lelaki itu hanya menginginkan harta majikanku seperti beberapa lelaki sebelumnya.
“Mam…”
“Sssstttt!” katanya sambil menepatkan telunjuk di depan bibirnya. “Aku tahu kau mau bicara apa, tapi kali ini kumohon, biarkan aku meraih kebahagianku walau sekejap.”
Aku tidak tega kalau dia sudah memohon. Meski kita sama-sama tahu akhiran seperti apa yang akan dia dapat bersama lelaki itu, tapi dia tetap tak menyerah. Dia pernah bilang apa alasannya mencari lelaki, sebelum tubuhnya menyerah dengan penyakit yang terus merongrong kesehatannya, biarkan dia mencicipi kebahagiaan seteguk-seteguk. Alih-alih mencari kebahagian pada teman, saudara dan anak-anaknya, dia lebih memilih mencari lelaki. Katanya pasangan adalah kebahagiaan sesungguhnya untuk wanita kesepian sepertinya.
“Lupakan soal itu,” lanjutnya sambil berbalik menghadap cermin. “Jadi bagaimana penampilanku?” Dia berputar-putar, menggerankkan dress-nya ke kiri, ke kanan untuk mencari angel yang bagus dalam cermin. “Aku ada kencan dengan Tuan Huang, karena ini sangat mendadak aku belum sempat memberitahumu.”
“Dress hitam lebih menarik untuk acara makan malam, terlihat cantik, seksi, dan dewasa. Make up yang natural, pakai high heels perak tujuh centi dan jangan bawa tas Gucci itu terus. Bawa clutch bag senada dengan warna heels-mu.”
Dia memandangku dari cermin, melongo sejenak sebelum kemudian tersenyum cerah. “Ada jaminan kalau Tuan Huang akan tertarik kalau aku berpenampilan seperti itu?”
Aku mengangguk. Bukan hanya Tuan Huang, mungkin semua lelaki yang melihatnya akan tertarik padanya, apalagi kalau tahu betapa kayanya dia. “Dari pada baju pink itu. Melihatnya saja aku jadi sakit mata, bagimana dengan orang lain?”
“Hahahahaha,” tawanya pecah lagi. “Kau sudah seperti ahli fashion. Kalau begitu dandani aku!”
Aku menyeleksi semua gaun hitamnya. Mengambil satu yang paling sopan. Memilihkan sepatu hak tinggi warna perak blink-blink hadiah dari anak perempuannya, juga clutch berwarna sama. Kurias wajahnya, menutup tanda penuaan dengan concealer. Membuat shading pipi tirus dan tipuan mata lebar. Lalu tetek bengek lainnya kuaplikasikan padanya, lalu selesai.
Dia lebih pantas berpenampialan dewasa karena dia memang wanita dewasa. Aku melihat senyum itu terus terkembang saat dia mengaca. Tapi aku juga melihat kalau senyum itu akan luntur, seperti lunturnya maskara abal-abal yang terkena air mata. Kemudian cinta semunya dengan Tuan Huang yang menyusul luntur.
“Tuan Huang akan datang.”
“Tunggu sebentar, aku akan ganti baju!”
“Lu…,” cegahnya sambil menarik lenganku untuk tak meninggalkan tempat. Senyumya masih setia muncul ketika aku memberinya atensi. “Kali ini aku pergi sendiri.”
Aku mengernyit mendengar itu. Tak bisa. Menemaninya kemanapun dia pergi sudah seperti ritual wajib yang harus kulakukan. Aku harus bawa obat-obatan, air minum, mantel hangat dan semua keperluannya. Tidak ada yang bisa mencegahku ikut saat penyakitnya bisa kambuh kapan saja dan di mana saja. Karena aku tak mau kecolongan untuk hal satu itu.
“Satu kali ini saja. Aku bersama Tuan Huang dan banyak lagi orang di luar sana yang akan peduli padaku. Jadi tak akan terjadi apapun,” katanya meyakinkanku. “Aku akan bawa obat, mantel dan apapun yang akan kau berikan, tapi kau harus mengijinkanku pergi sendiri.”
Aku kalah berdebat, toh pada akhirnya tetap dialah majikanku. Mengantarkannya ke depan pintu adalah satu-satunya hal yang bisa kulakukan kali ini. Aku berikan semua yang akan dia butuhkan bila terjadi masalah kesehatan. Lalu kututurkan banyak hal, seperti aku inilah yang majikan.
“Lulu,” sebelum dia pergi masih sempat tersenyum manis. “Kuharap…”
“YuFeng dan YueYue tak tahu?” Dia mengagguk kecil. Sudah terlalu sering dia mengatakan kalimat itu setiap kali keluar dengan lelaki, aku sampai hafal. “Asal kau mau berjanji kembali dalam keadaaan baik seperti kau pergi sekarang, Mam!”
“Kau memang istimewa!” katanya mantap.
“Selamat bersenang-senang!”
YuFeng ada di Taiwan. Dia tak pernah selonggar ini kalau ada di rumah. Biasanya keluar bersama teman-teman, atau keluar bertemu kolega dengan kedok bisnis. Hari ini lain, dia berdiri di ambang pintu dapur, mengamatiku sedari menyiapkan bahan masakan sampai hampir selesai memasak. Sesekali tersenyum saat aku memandangnya, seperti jatuh cinta berulang-ulang. Serius, ini bukan soal cinta majikan dan pembantu, tapi cinta yang lebih rumit lagi.
“Lulu baby, ayo menikah!” ajaknya seakan pernah berlutut di depanku dan menyatakan cinta.
Aku memutar bola mataku. Terlalu tahu ajakannya itu punya maksud. Terakhir kali dia mengatakan akan menikahiku, agar ibunya memperbolehkanku ikut jalan-jalan dengannya. Dia akan menemui kekasihnya di luar sana, berkencan, bermesraan dan aku jadi setannya. Ditaruh di kursi belakang mobil dan dianggap tak ada, dibiarkan mengkonsumsi pemandangan mengerikan antara dia dan kekasihnya sampai aku harus menahan muntah berulang-ulang.
Tidak, YuFeng bukan playboy atau lelaki kurang kerjaan yang memanfaatkan pembantu untuk kepentingan pribadi. Dia adalah lelaki dewasa, berperawakan tegap, berbadan bagus, dan wajah tampan. YuFeng adalah lelaki introvert yang dingin bak bongkahan es dari kutub utara. Hanya dengan segelintir orang dia mau terbuka soal dan masalah hidupnya. Aku adalah salah satu orang itu, yang entah disebut untung atau buntung karena terjebak oleh masalahnya.
Sama dengan ibunya, YuFeng memiliki masalah pribadi menyangkut soal cinta. Bukan cinta sembarangan, karena YuFeng satu dari sekian orang yang menganut paham setia pada pasangan. Dia hanya lelaki yang kebetulan punya orientasi seksual berbeda dengan orang kebanyakan. Dia mencintai sesamanya.
“Aku punya 100 ribu NT cash untukmu,” katanya sambil berjalan masuk dapur. Duduk, dan bersiap makan. “Aku butuh kau satu minggu.”
Sudah seperti transaksi di panti pijat plus-plus saja. Dia lelaki hidung belang dan aku gula-gula yang siap dibawa pulang. Namun nyatanya ini bukan antara aku dan dia. Jasaku merayu ibunyalah yang dibeli. Karena ibunya tahu hubungannya dengan sesama lelaki, dia dilarang keras untuk keluar menemui kekasihnya atau ibunya akan mengancam bunuh diri. Satu-satunya cara adalah mengajakku, sebagai centeng yang merangkap informan untuk ibunya.
Sebulan yang lalu aku mengumpulkan 70 ribu per minggu, sekarang tawarannya naik. Masih dengan tugas sama, menjadi mahkluk kasat mata yang harus menahan muntah berkali-kali. Harus melihatnya bercumbu, pelukan, ciuman dan saling mengucapkan kalimat cinta. Pertama kali aku mengalami pusing mendadak kemudian muntah, ketika YuFeng dengan kekasihnya berciuman panas di depan mataku. Demi Tuhan bagaimana bisa dua orang dengan gender sama melakukannya? Namun kemudian aku mulai terbiasa, hanya mual tanpa muntah.
“Nanti kutambahkan sebelum aku kembali ke China.”
“Kenapa menawarkan uang sebegitu banyak?”
Sambil menyesap coklat panas yang kubuat dia menggeleng. “Tidak ada. Hanya jalan-jalan seperti biasanya, tapi kita akan menginap. Jangan khawatirkan Mama, dia akan memberikan ijin. Lagipula kita cuma pergi untuk satu malam saja, paginya kita sudah kembali. Aku yakin Mama akan baik-baik saja.”
Kalau memang tidak keluar kota, untuk apa menginap? Ajakannya iu janggal.
Kuletakkan sayur dan daging terakhir yang kumasak di depannya. YuFeng memandang sayur itu, kemudian memandangku, memandang sayurnya lagi, lalu padaku lagi. Seperti dihadapkan pada pilihan sulit, memakan sayur atau memakanku?
“Aku memutuskan alergi sayur hari ini,” katanya sambil mendorong mangkuk sayur itu menjauh. “Buatkan aku garlic bread!”
“Makin lama kau makin banyak maunya.”
“Maafkan aku!” katanya cepat. “Kau boleh tak pernah menjawab pinanganku, tapi jangan menyiksaku dengan makanan seperti ini dipagi hari.”
YuFeng menyengir, mengisyaratkan kalau dirinya telah berubah jadi manusia timur yang simple. Minum coklat panas dan makan roti di pagi hari. Siangnya makan di luar, di restoran mahal berteman westerner’s, dan baru malam hari mau makan masakan rumah. Itupun kalau mood-nya sedang bagus.
“Lulu baby,” panggilannya mengusikku yang sedang mengolesi roti dengan campuran mentega dan bawang putih. Segera kumasukkan roti itu dalam panggangan yang disetel otomatis untuk satu menit. “Kau masih ingat yang kubilang dulu? Ketika cinta sudah waktunya tumbuh, tidak peduli dengan siapa, kita akan tetap jatuh cinta.”
YuFeng mengatakan kalau apa yang dirasakannya pada BaiXian juga cinta. Cintanya tidak beda dengan pasangan lainnya, hanya beda pada pasangan. Menyukai sesama jenis itu bukan penyakit, karena selama ini belum pernah ada yang namanya obat untuk menyembuhkan cinta sesama jenis. Dan banyak lagi yang dikatakannya padaku, sayangnya walau semua perkataannya benar, cintanya tetap tak bisa diterima semua orang. Itulah yang membuatnya lebih banyak diam daripada harus berdebat dengan orang-orang tentang orientasi seksualnya.
Kalau YuFeng jadi semelow ini, aku jadi tidak tega. Benar dia tampan, pintar dan kaya, tapi perbedaan itu membuatnya terlihat menyedihkan.
Pemanggang membunyikan suara, tandanya rotinya sudah matang. Aku mengeluarkannya, menaruhnya di depan YuFeng yang disambut dengan senyuman lebar.
“Kau memang calon istri yang istimewa!” Langsung dicomotnya selembar roti lalu menggigitnya panas-panas. “Terakhir kali bertemu BaiXian, kita sedang bertengkar. Dia sering sekali tak menjawab telepon dariku, padahal aku sangat merindukannya. Makanya untuk hari ini kuputuskan menginap dengannya.”
Kembali pada topik menginap. Jadi karena mereka sedang bertengkar, YuFeng memutuskan menginap. Untuk menyelesaikan masalah dengan kekasihnya. Aku lega kalau kejanggalan yang kurasakan sebelumnya tidak benar-benar ada.
Kuambil air putih sekedar untuk membasahi tenggorakan. Sedangkan YuFeng terus menggigiti garlic bread yang kubuat.
“Aku benar-benar merindukannya.” Pandangannya menerawang jauh ke arah BaiXian berada. Dia tersenyum mencurigakan. “Sudah lama tak kusentuh dia. Jadi nanti kau menginap di kamar terpisah saat aku melakukannya,” katanya dengan wajah mesum.
Brusssssss
“Ohok! Ohok!”
Aku menyemburkan air minumku, tersedak, dan kerongkonganku jadi panas.
Tetapi dengan tidak berperikemanusiaan, YuFeng tertawa terbahak-bahak. Sialan!.

“Ladies and Gantleman, this is where we were introduced to this God like entity. Danish fucking Alfa. 5 years down the line… My first and everlasting love.”
Kemudian mahkluk kecil berkulit gelap itu beraksi, menggeliat seperti cacing, patah-patah seperti robot dan jungkir balik berakrobat. Dia sedang menari, berhenti sejenak untuk mengetes suara. Detik berikutnya mulut kecilnya melantunkan suara berisik menirukan bunyi kereta, bunyi panci di pukul dan segala bunyi-bunyian asing di telinga. Beatboxing, apalah namanya itu.
“I freaking love you. Soooo soo much, Alf. Perfection… Dreamboat….Sigh!” yel-yel YueYue pada si anak yang barusan menyelesaikan dance dan beatbox dengan menyebut merek mobil Lamborghini Gelardo.
Aku, Mam dan YuFeng melonggo kurang lebih lima belas menit. Menyaksikan tingkah gila seorang anak didalangi oleh YueYue. YueYue pulang dari Amerika, baru masuk rumah dan acara inilah yang diberikannya pada kami. Entah anak siapa yang diculik dan dibawanya ke Taiwan, yang jelas wanita itu sudah mulai terlihat gila.
Seperti tahu apa yang sedang kami pikirkan, YueYue mulai memperkenalkan bocah itu. “Ma, YuFeng, dan Lulu, ini Alfa. Anakku dengan kekasih yang kuceriakan pada kalian dulu,” katanya seakan tak ada beban.
Dia memang cerita kalau punya kekasih di Amerika. Kekasihnya baik dan sangat bertanggung jawab. Tapi YueYue tak pernah bilang punya anak, juga tak pernah bilang kalau kekasihnya adalah keturunan kulit hitam. Punya anak sebelum menikah itu tabu untuk orang Asia, dan YueYue tak peduli soal itu.
Tuhan sepertinya mengutuk keluarga Dong, mereka kaya raya namun juga memiliki pemikiran menyimpang dari orang kebanyakan. Nyonya rumah yang suka mengejar lelaki, anak lelaki yang berpecaran dengan sesama lelaki, dan anak perempuan yang punya anak sebelum menikah.
“Lu, antarkan aku ke kamar!” pinta majikanku. Wajahnya tersenyum, tapi senyumnya keruh, sekeruh semua masalah di keluarganya.
Aku menuntunnya. Menjadi sandaran sementara oleh tubuh rapuh yang kapanpun bisa patah oleh terpaan cobaan. Kusaksikan mata itu sembab, berusaha terus-terusan ditahan agar air matanya tak jatuh sebelum masuk kamar. Dan setelah aku mendudukkannya di tempat tidur, dia menangis tanpa suara. Sudah tak bisa ditahannya lagi rasa sakit dari luka-luka kasat mata itu. Sementara aku tak bisa berbuat apa-apa.
“Apa Mama marah?” tanya YueYue ketika aku berada di dapur bersamanya, bersama putranya juga. “Apa dia sedih?”
Majikanku sangat sedih, menyalahkan dirinya sendiri karena tak becus mengurus anak. Dia juga menyimpulkan kalau masalah anak-anaknya itu sudah pasti karma dari perbuatannya.
Aku hanya bisa menggeleng. “Sedikit sedih, tapi dia akan baik-baik saja.”
YueYue menceritakan perihal hubungannya dengan kekasih Amerikanya. Dia bilang sangat menyintai kekasihnya. Tidak peduli mereka menikah atau tidak, yang penting bisa hidup bersama. Alfa, adalah bukti cinta mereka. Keduanya sangat menyayangi bocah itu. YueYue pikir, pulang ke Taiwan memberi kejutan untuk Ibunya, tapi tidak disangka kalau reaksi ibunya seperti itu.
“Lu, aku cuma punya seminggu untuk tinggal di Taiwan. Sebelum kembali, bisa kau bantu aku membujuk Mama?”
“Aku bisa apa?” jawabku pesimis.
“Aku tahu sejak dulu kau istimewa. Kau membantu Mama dengan lelakinya, membantu YuFeng dengan kekasihnya, kenapa tak membantuku juga? Aku cuma mau Alfa diakui cucu olehnya.”
YuFeng dan YueYue sudah tahu seperti apa ibunya, tapi mereka pura-pura tak tahu. Bingung. Aku percaya YueYue mencintai anaknya. Dia bisa membesarkan anak itu dengan atau tanpa akuan dari ibunya, tapi dia memilih agar diakui. Salut dengan sifatnya itu, tapi aku tidak seistimewa yang dia katakan. Harus kumulai darimana untuk membujuk majikanku?
“Lulu…” pintanya sambil mengatupkan kedua tangannya, memelas padaku.
“Akan kulakukan, tapi aku tidak bisa menjamin.” Aku selalu tidak tega kalau melihat orang memelas.
“Terima kasih!”
Sebulan kemudian hampir seperti tak terjadi apapun. Majikanku tiba-tiba mengulurkan segepok uang padaku, juga selembar kertas untuk ditanda tangani. Ini gajiku awal bulan ini. Saat kuhitung, jumlahnya lebih banyak dari sebelumnya.
“Tuan Ma mau mengajakku kencan nanti malam, antar aku ke salon ya!”
Dan aku tahu kalau uang ini sogokan agar memperbolehkannya pergi berdua tanpaku.
Di satu kesempatan YuFeng menggandengku ke pusat perbelanjaan. Dia mengoceh dengan gaya stoic-nya. Kalimat terakhir yang aku tangkap, dia mengatakan tas produk baru yang akan dibelikannya untukku.
“Setelah beli tas, nanti antar aku ke toko perhiasan.”
Saat kutanya untuk apa? Dia bilang beli cincin untuk melamar BaiXian. Membayangkan YuFeng dan BaiXian menikah, makanan yang barusan kumakan seperti mendesak ingin keluar dari perut.
Sedangkan YuFeng, tertawa lagi dan lagi.
Lalu di suatu pagi yang cerah, telepon berbunyi sangat nyaring. Telepon dari Amerika, YueYue menyapa dengan ceria. Sampai kalimat itu muncul menusuk telingaku.
“Aku punya kabar gembira. Coba tebak!” tapi aku tak mau menebak. “Aku akan datang lagi bulan depan. Kau senang tidak?” tanyanya berlebihan. “Satu lagi, aku hamil. Lulu, kau terkejut, kan?”
Sangat, aku sangat terkejut. Beritanya itu membuat pagi cerah ini jadi mendung seketika.
Ah, perasaanku saja yang sedang mendung.
Kata mereka aku istimewa, tapi keistimewaan itu menjadikanku tumbal untuk kebahagiaan majikanku dan anak-anaknya.
Aku harus melawan kebosanan akan masalah mereka.
Kalau dalam waktu dekat aku tak mampu keluar dari kebosanan ini, aku menolak untuk jadi istimewa.

Perihnya menjadi seorang Tki

Ayu raswati / Perihnya menjadi seorang Tki  / tidak ada / tenaga kerja asing Aku seorang wanita yang ingin mewujudkan suatu ke inginan/cita-cita. Tetapi apa yang aku rasakan begitu jauh dari kenyatan.begitu perih yang aku rasakan.tetapi harus aku jalani. Berawal dari hinaan cacian dan bahan ketawan telah aku rasakan. Tidak mudah untuk menjadi seorang tki. Aku harus sabar … Continue reading “Perihnya menjadi seorang Tki”

Ayu raswati / Perihnya menjadi seorang Tki  / tidak ada / tenaga kerja asing

Aku seorang wanita yang ingin mewujudkan suatu ke inginan/cita-cita.
Tetapi apa yang aku rasakan begitu jauh dari kenyatan.begitu perih yang aku rasakan.tetapi harus aku jalani.
Berawal dari hinaan cacian dan bahan ketawan telah aku rasakan.
Tidak mudah untuk menjadi seorang tki.
Aku harus sabar dan tegar untuk menjalani semua itu.ya tuhan kuatkan hati dan imanku.

PILIHANKU MASIH DI SINI

Katty al Hadi / PILIHANKU MASIH DI SINI / TIDAK / tenaga kerja asing Maaf sebelumnya,saya disini bukan ingin bercerita,tapi tepatnya mencurahkan isi hati yg kebetulan disediakan tempat seperti lomba ini meski lewat tulisan..terimakasih. Ya,Taiwan adalah pilihan saya untuk bekerja sedari dulu.Dari yg saya dengar,taiwan itu negara yg bisa bikin kita tertawan.Tapi memang benar,setelah saya kerja di sini,saya … Continue reading “PILIHANKU MASIH DI SINI”

Katty al Hadi / PILIHANKU MASIH DI SINI / TIDAK / tenaga kerja asing

Maaf sebelumnya,saya disini bukan ingin bercerita,tapi tepatnya mencurahkan isi hati yg kebetulan disediakan tempat seperti lomba ini meski lewat tulisan..terimakasih.

Ya,Taiwan adalah pilihan saya untuk bekerja sedari dulu.Dari yg saya dengar,taiwan itu negara yg bisa bikin kita tertawan.Tapi memang benar,setelah saya kerja di sini,saya kerasan.Negara kecil yg maju dan indah,dan yg paling mengagumkan,warganya(orang taiwan),giat bekerja,semangat hidupnya tinggi.Banyak saya melihat,meski sudah tua,tapi mereka masih berusaha mandiri.Sebagai contoh,orang tua yg saya asuh,dg segala keterbatasannya,meski kaki sudah lemes,masih bersikeras ingin berdiri dan sesekali berjalan sendiri,,ini mengagumkan(tapi tetap kita di sampingnya).

Walau tidak bisa terelakkan,terkadang saya bertemu dg pekerjaan yg tidak sesuai dengan PK,dan kebetulan majikan punya perangai yg aneh bahkan pernah saya dapat majikan yg(maaf)”nakal”. Dan terkadang pula,kita kurang dapat perhatian dan pembelaan yg seharusnya dari pihak agency,,tapi Alhamdulillah..semua bisa diatasi.Sabar,dan ingat tujuan utama datang ke taiwan.Yeah,sebab itu saya bertahan.

Dan,bahkan sampai sekarang..meski sudah sekian banyak persoalan pernah saya alami di sini(taiwan),tapi karena kebutuhan..akhirnya saya putuskan untuk balik lagi,menyetujui kontrak kerja yg kesekian kalinya di negeri formosa ini.Taiwan masih tetap pilihan..

Meski sempat ada isyu taiwan mau di tutup untuk pekerja non formal seperti saya,,meski usia sudah bukan muda lagi,saya tidak peduli.Selama masih bisa kerja di taiwan,saya masih mau kerja sampai nanti benar-benar bisa mewujudkan cita-cita,amin.Apalagi kalau sampai benar-benar di takdirkan dapat orang taiwan,puji syukur ke hadirat Tuhan.Hehe,,

Sekali lagi,saya berucap terimakasih yg sebanyak-banyaknya kepada pihak penyelenggara lomba ini,yg mana telah membolehkan kami(saya)ikut untuk bercurhat ria lewat cerita tulisan ini.

Terimakasih pula untuk taiwan government yg begitu arif dg segala kebijakan aturan untuk kami para BMI.

Taiwan banyak memberi kami inspirasi,,

Taiwan banyak memberi ilmu,,
Sebab itu,PILIHANKU MASIH DI SINI,,
我爱台湾。

tingkatkan kualitas TKA demi mendapatkan kesuksesan impianmu

muhamad samsul huda / tingkatkan kualitas TKA demi mendapatkan kesuksesan impianmu / tidak ada / tenaga kerja asing KEHIDUPAN ekonomi di indonesia kian sulit terlebih bagi para warga indonesia yang bergolongan menengah kebawah. Dengan makin banyaknya kebutuhan sedangkan pemasukan.yang tidak memadai. . Sebagian besar warga indonesia banyak yang menjadi TKA (TENAGA KERJA ASING). Tidak banyak orang tahu bahwa … Continue reading “tingkatkan kualitas TKA demi mendapatkan kesuksesan impianmu”

muhamad samsul huda / tingkatkan kualitas TKA demi mendapatkan kesuksesan impianmu / tidak ada / tenaga kerja asing

KEHIDUPAN ekonomi di indonesia kian sulit terlebih bagi para warga indonesia yang bergolongan menengah kebawah.
Dengan makin banyaknya kebutuhan sedangkan pemasukan.yang tidak memadai. . Sebagian besar warga indonesia banyak yang menjadi TKA (TENAGA KERJA ASING).
Tidak banyak orang tahu bahwa bekerja diluar negri gak semudah apa yang dibayangkan banyak orang terlebih bagi orang yang ketepatan mendapatkan majikan yang kurang baik.
Disitulah letak.KESABARAN para TKA diuji. Apakah jiwa TKA itu kuat atau tidak? itu terletak pada diri masing masing TKA
KALAUPUN ketepatan mendapatkan majikan yang baik itu adalah suatu hadiah yang patut untuk disyukuri.
TKA itu bagai segrombolan semut merah pekerja. Sangat banyak resiko yang harus dihadapi. apa bila bekerja dengan baik dan maksimal akan menghasilkan sebuah hasil yang memuaskan.
Berangkat ke negri orang harus punya pendirian yang kuat.
Akan sangat banyak godaan yang menggangu dan menggoyahkan pendirian.
Misalnya: bermabuk mabukan secara berlebihan , ini adalah godaan yang akan menghancurkan TKA di masa depan soalnya uang yang harusnya ditabung atau buat keluarga habis dihamburkan hanya untuk membeli minuman keras..
***
Modal utama yang harus dimiliki seorang TKA adalah kejujuran dan keuletan dalam bekerja.
Tujuan utama dari TKA adalah kesuksesan dan mendapatkan kehidupan yang lebih baik dari sebelum menjadi TKA.
Nah… disini saya akan menjelaskan bagaimana cara agar TKA bisa mengontrol pendapatan terhadap pengeluaran untuk kebutuhan sehari hari.
Disini saya akan membuat rumus untuk para TKA yang ingin sukses…
*Pendapatan 100 %
*yang harus masuk Tabungan pribadi 50%
*buat keluarga jika masih ada 25 %
Sedang buat kebutuhan sehari hari 25 %
Tapi harus tetap bisa mengontrol keuangan agar membeli hal hal yang dianggap penting dan mengurangi kebutuhan yang kurang penting..
Jikalau ada sisa kita masukan.pada tabungan pribadi.
Dengan cara demikian bisa membantu para TKA untuk lebih mengontrol keuangan demi masa depan.
Dan setelah habis kontrak dan pulang ke indonesia kita dapat belajar berbisnis dari hasil yang sudah di kumpulkan selama.menjadi TKA.
***
KITA sebagai TKA harus menjunjung tunggi harkat dan marbat sebagai warga indonesia yang baik dan ramah. Jangan tinggalkan lambang negara kita PANCASILA walaupun berbeda beda tetapi tetap satu juga. kita tunjukkan bahwa indonesia memiliki SDM (SUMBER DAYA MANUSIA) yang berkualitas jangan bikin malu negara kita indonesia di negara orang
Kita bertamu baik baik dan harusnya kita pulang juga dengan baik baik .
***
kesimpulan nya adalah jangan mudah tergoda oleh hal hal yang negativ dan menjerumuskan kita pada kegagalan kita gunakan waktu waktu luang buat hal.hal yang bermanfaat bagi diri kita dan orang lain.. kita jaga selalu persaudaraan dengan orang disekitar kita .
Jaga dan kontrol dengan baik penghasilan kita keringat kita dinegara ORANG LAIN.
Seperti pepatah mengatakan
“siapa menanam dia yang memetik”
Maksutnya adalah apa yang sudah kita cari apa yang sudah kita dapatkan jika kita pandai mengaturnya pasti kita akan sukses sedang jika apa yang sudah kita cari dan dapatkan hanya kita buat berfoya foya kita akan jaug dari kata sukses. Soalnya penghasilan yang harusnya ditabung dibuat foya foya melakukan.hal yang tidak bermanfaat.

Taipei International Chain and Franchise Spring Exhibition Harvest 2016

Duwiq.aryani / Taipei International Chain and Franchise Spring Exhibition Harvest 2016 / CLC Bhakti Jaya Indonesia / tenaga kerja asing Taipei International Chain and Franchise Spring Exhibition 2016 “HARVEST” Taipei International Chain and Franchise Exhibition adalah sebuah acara pameran yang berlangsung selama empat hari diselenggarakan dari Jum’at, 11 Maret 2016 – Senin, 14 Maret 2016 bertempat di Taipei … Continue reading “Taipei International Chain and Franchise Spring Exhibition Harvest 2016”

Duwiq.aryani / Taipei International Chain and Franchise Spring Exhibition Harvest 2016 / CLC Bhakti Jaya Indonesia / tenaga kerja asing

Taipei International Chain and Franchise Spring Exhibition 2016 “HARVEST”

Taipei International Chain and Franchise Exhibition adalah sebuah acara pameran yang berlangsung selama empat hari diselenggarakan dari Jum’at, 11 Maret 2016 – Senin, 14 Maret 2016 bertempat di Taipei World Trade Center di Taipei, Taiwan. Dibuka dari jam 10.00 am – 17.00 pm acara ini berlangsung sangat menarik dengan menampilkan berbagai produk bisnis waralaba. Waralaba adalah industri pertumbuhan di Taiwan dan di negara-negara lainnya dalam bidang bisnis, industri, manufaktur, fabrikasi, perbaikan, pemeliharaan, logistik, pendidikan dan transportasi.

Peserta pameran termasuk pemasaran dan orang menjual, penasehat, franchise dan peluang bisnis, pemerhati kesehatan dan pangan, les bahasa mandarin dan inggris dan lain sebagainya. Acara yang diikuti oleh berbagai stand makanan yang memiliki banyak cabang di seluruh wilayah di Taiwan hingga merambah mancanegara.
Seperti menerima suatu keuntungan yang tinggi memberikan sebuah kontribusi besar terhadap perekonomian di Taiwan, saat ini ada 350 jenis usaha kecil dan waralaba di Taiwan yang beroperasi lebih dari 100.000 toko-toko dan memperkerjakan sekitar lebih dari 1 juta karyawan. Sektor ini merupakan salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi negara. Pemerintah Taiwan bertekad untuk memperbaiki iklim investasi lokal sedemikian rupa sehingga akan memacu pertumbuhan lebih lanjut dari usaha kecil dan bisnis waralaba lokal. Pameran ini bertujuan untuk meningkatkan perekonomian Taiwan.

Ekonomi Taiwan tumbuh 3.74% pada tahun 2014, mencatat pertumbuhan tertinggi dari tahun sebelumnya. Kinerja ekonomi Taiwan telah mendorong visibilitas internasional dan dalam keadaan yang menguntungkan seperti, rantai usaha kecil dan industri waralaba yang mana diharapkan mampu tumbuh dan meningkatkan profitabilitas.

Lee Jih Tung, kepala asosiasi dan promosi waralaba yang merupakan salah satu penyelenggara pameran perdagangan, mengatakan pada pembukaan yang telah mencapai NT$ 1 triliun pada hasil produksi, rantai usaha kecil lokal dan bisnis waralaba kini telah menempatkan posisinya pada pasar luar negeri. Walter M. S. Yeh, wakil presiden eksekutif development council (TAITRA), mengatakan TAITRA tahun lalu meluncurkan perusahaan lokal, rantai usaha kecil dan bisnis waralaba memasuki pasar luar negeri dan membangun merek dagang mereka di luar negeri. TAITRA adalah kelompok perdagangan yang disponsori pemerintah, mengundang perwakilan dari organisasi usaha kecil dan industri waralaba dari berbagai negara seperti Jerman, Indonesia, Macau, Cina dan Rusia untuk menghadiri pameran 2016 di Taipei dalam upaya meningkatkan pertukaran antara perusahaan Taiwan dan mitra asing mereka.

Hampir 200 jenis usaha kecil dan bisnis waralaba, setengah dari mereka berasal dari industri makanan, yang menampilkan produk dan merek mereka di perdagangan yang adil. Tak luput dari itu peserta pameran ialah merek makanan dan produk dagang yang ternama di Taiwan dan berbagai negara yang menjadi cabang dan mengunakan merk dagang mereka melalui kerjasama bisnis perdagangan.

Pada minggu, 13 Maret 2016 Yayasan Bhakti Jaya Indonesia atau di Taiwan lebih akrab disebut Pendidikan Kesetaraan Taiwan yang memiliki murid para BMI Taiwan yang memiliki organisasi Himpunan Pelajar CLC Bhakti Jaya Indonesia turut menghadiri acara tersebut sebagai tamu undangan suatu perusahaan sebagai marketing dan calon wirausaha. Para pelajar senayan antusias menghadiri pameran bisnis berskala internasional. Bisnis yang mereka pelajari ialah industri waralaba. Industri waralaba sendiri memiliki artian suatu kerjasama usaha dengan ketentuan dari pengusaha franchise itu serta mengikuti aturan penuh dalam bisnisnya.

Pelajar CLC Bhakti Jaya Indonesia di didik untuk menjadi Buyer(marketing) dan mempelajari bagaimana cara menjadi pengusaha dengan suatu brand ternama dan membuka sebuah cabang bisnis ataupun industri dengan cara mencari dan mengumpulkan informasi dari para sales dan manajer di setiap stand pameran tersebut.

Pelajar CLC Bhakti Jaya Indonesia berinteraksi dengan menggunakan dua bahasa internasional yaitu bahasa mandarin dan bahasa inggris, dengan dua bahasa ini mempermudah mereka untuk menggali informasi yang mereka butuhkan dan mewawancarai sales tentang apa produk yang dipamerkan dan bagaimana mereka menawarkan serta menjual produk mereka. Bagaimana cara mereka menarik minat pengunjung untuk menjadi bagian ataupun menjalin kerjasama membuka usaha atau cabang di tempat yang mereka inginkan tentunya mereka menyarankan tempat-tempat-tempat strategis serta menjelaskan prosesnya secara detail bagaimana memulai, mengelola dan menarik minat konsumen.

Untuk menjadi sales, supervisor ataupun marketing manajer dalam sebuah pameran dibutuhkan sebuah keahlian dalam menarik minang konsumen dan pengunjung yaitu sebuah keramahan dan harus murah senyum kepada setiap tamu yang menghadiri pameran dan melintas stand mereka untuk menarik pengunjung serta dibutuhkan ketelatenan dan juga kesabaran untuk menjawab setiap pertanyaan dari berbeda-beda pengunjung yang mengunjungi stand mereka.

Dari berbagai stand uang ada yang paling menarik bagi saya adalah stand makanan uang menawarkan kerjasama untuk membuka cabang usaha dari mereka yaitu, My Earl Day Cafe and Brunch dan Friend Chicken Master dua brand ini adalah salah satu dari peserta pameran berdiri sejak tahun 1987 dengan menu sarapan pagi dan makan siang serta ciri khas ayam bakar Taiwan. Aliansi kerjasama mereka sangat profesional dan sudah memiliki 1000 cabang di Taiwan serta cabangnya di luar negeri. Salah satu cabang mereka di luar negeri berada di Xi’an dan Shanghai, China; Vietnam; Singapura dan Indonesia. Di Indonesia terletak di Mall Ciputra, Lower Ground 2 No. 15-17 Jl. Arteri S. Parman, Grogol.

Salah satu franchise yang saya minati juga ialah usaha labuhanbatu es campur water paket spaghetti atau acacia teh susu. Menawarkan franchise fee gratis, bebas royalti, free margin. Gratis perencanaan toko-toko untuk membatu anda memulai dan mewujudkan mimpi. Memiliki lima paket keberuntungan atau terkenal sebagai ciri khas Taiwan di mata dunia serta memiliki berbagai cabang usaha yang sangat mudah untuk dijalankan. Acacia teh susu adalah minuman yang sangat digemari adalah sebuah usaha praktis, terbuka dan salah satu peluang usaha dengan banyak keberuntungan, homeplan akan membantu anda untuk sukses berwirausaha. Sedikit penjelasan dari chef pemilik stand acacia teh susu.

Untuk pelajaran yang dapat diambil dari pameran tersebut adalah bagaimana cara kita memulai usaha, menjalankan usaha serta mempromosikan bisnis kita untuk lebih dikenal masyarakat luas dengan cara memperlakukan konsumen dengan baik dan ramah serta memberi fasilitas yang nyaman dan aman serta menjaga kualitas dan kuantitas barang karena pelanggan adalah sasaran utama dari produk dan pengguna fasilitas yang kita miliki dan kita produksi.

sebuah gambaran wirausaha yang sangat bermanfaat untuk masyarakat, pelajar dan mereka yang ingin membuka peluang bisnis dan usaha franchise. Di sini pelajar CLC Bhakti Jaya Indonesia ialah TKi di Taiwan, mereka sangat beruntung sekali mampu menghadiri acara berskala internasional. Ketua yayasan Bapak Bambang Nurfauzi mengatakan bahwa acara tersebut diwajibkan untuk dihadiri oleh para siswanya yang memiliki waktu libur kerja karena untuk mendidik dan menyiapkan mental mereka untuk terjun menjadi marketon dan pengusaha, sebutan lain mereka kini ialah TKI Pemberdaya.

Mereka memiliki tugas untuk membuat laporan dan mewawancarai salah satu stand pameran yang mereka minati untuk membuka wawasan mereka di bidang bisnis makanan atau indusrri waralaba. Acara jalan-jalan yang disertai belajar sangatlah menyenangkan meskipun sangat melelahkan, selain untuk mencuci mata dan merefleksikan pikiran juga untuk mengasah sosialisasi pelajar dan membangun mental mereka untuk berinteraksi dalam lingkungan bisnis. Diharapkan kedepannya akan menjadikan pembelajaran dan menumbuh kembangkan pikiran mereka bagaimana cara memulai bisnis di kampung halaman mereka di Indonesia.

Sebuah ilmu yang sangat berharga yang akan menjadi bekal untuk masa depan . Kalaupun seorang TKI di Taiwan mampu meneruskan pendidikan dalam keterbatasan ruang dan waktu. Belajar sambil bekerja, meluangkan waktu liburnya untuk menghadiri acara dan event-event berkualitas di Taiwan untuk membangun dan mendidik sebagai tumpuan serta harapan harapan bahwa kita mampu dan sanggup berdiri sendiri dalam segala keterbatasan dan keterbatasan bukanlah halangan untuk berkreasi juga bukan rintangan untuk merealisasikan mimpi yang tertunda.
Di balik pameran yang diselenggarakan organisasi TAITRA, kesehatan pangan, kelompok usaha kecil dan industri bisnis waralaba, kami selaku pelajar CLC Bhakti Jaya Indonesia yang di kepalaku ole BapakBambang Nurfauzi memiliki harapan untuk membangun literatumembangun Indonesia di bidang Pendidikan dengan membantu mberi wadah dan ruang untuk menghimpun kami para TKI untuk belajar, membentuk, terbentuk. TKI Taiwan untuk pendidikan.