Sakura yg kau sia siakan

Merita raonamia / Sakura yg kau sia siakan / Justo lasso / tenaga kerja asing  Nama saya naila bisa di panggil ila,umur saya 21taun,saya dapat job jaga ama,dia masih bisa jalan,hanya saja dia agak rabun karena kadar gula terlalu tinggi mengakibatkan pembuluh darah ke retina lancar mengakibatkan penglihatan nya terganggu, ama punya 1 orang anak yaitu ayi,sebelum saya … Continue reading “Sakura yg kau sia siakan”

Merita raonamia / Sakura yg kau sia siakan / Justo lasso / tenaga kerja asing 

Nama saya naila bisa di panggil ila,umur saya 21taun,saya dapat job jaga ama,dia masih bisa jalan,hanya saja dia agak rabun karena kadar gula terlalu tinggi mengakibatkan pembuluh darah ke retina lancar mengakibatkan penglihatan nya terganggu, ama punya 1 orang anak yaitu ayi,sebelum saya datang ayi lah yg merawat dan menjaga ama,lebih dari 5 taun ayi berhenti bekerja,tidak pernah libur,pergi berkumpu dngan teman2 nya sj dia tidak pernah.usia ayi sekitar 50,dia belum menikahi dia jg tidak punya teman laki-laki,selama itu dia hanya fokus di rumah merawat ibunya.
Ayi pernah menceritakan tentang kisah hidupnya,masa kecilnya,masa perjuangan nya,masa kelam nya.dia bertanya kepada saya kenapa km pergi ke Taiwan,saya menjawab ayah saya meninggal 5 tahun yg lalu ibu saya hanya penjahit adik saya 2 masih sekolah butuh biaya,saya tidak mungkin membiarkan mereka terpuruk,ayi bertanya lagi padaku” kenapa km seperti itu? Kmu juga punya masa depan apa kamu tak memikirkan masa depan mu?” saya pun menjawab saya iklas membantu membahagiakan mereka,saya yakin Tuhan akan memberikan kebahagiaan jika kita mau membahagiakan orang lain, saya salut dengan mu yg ceria,dan dewasa di saat usia mu yg masih belia.
Ayi menceritakan kehidupan nya,ayahnya hanya tukang becak,lulus sd ayi membantu ama jd buruh cuci baju,setelah usia 18 ada teman mengajak ayi kerja jd pelayan lestoran di situ ayi kenal dengan pemilik lestoran cinta bersemi diantara keduanya kata orang jawa tresno jalaran soko kulino,ga tau kalo kata orang cina gimana,namun takdir menulis kan cerita lain,orang yang ayi impikan menjadi teman hidupnya lebih memilih menikah dgn wanita lain,karena ayi hanya pelayan lestoran,tidak mungkin berbanding dengan pemilik lestoran seorang kaya.sejak saat itu ayi bersumpah akan punya lestoran,dia bekerja mengumpulkan uang sebanyak mungkin, akan dia tunjuk an pada lelaki itu bahwa ia akan menyesal telah mencampakan nya,saking ia kerja keras ia lupa akan menikmati hidup,harapan dan keinginan sudah ia dapat kan tp hati nya kosong dia tidak menemukan cinta,tak menemukan kebahagiaan yg sebenarnya,
Saya bertanya pada ayi ” apa ayi masih menyimpan luka itu” ayi menjawab dengan lantang ” tidak”, lalu kenapa ayi tidak membuka pintu hati ayi,,keluar lah ayi,banyak teman 2 menunggu mu di luar sana, berbahagia lah,,sakura di yamingsan yg mekar cantik,matahari terbenam di tamsui jg indah, pergilah menikmati hidup ayi,,
Sejak saat itu setiap saptu minggu ayi pergi liburan.dan sepertinya dia juga sudah lupa pada masa lalu nya,kata anak kekinian MOVEON gitu,,
Ayi pun berkata pada ku,” terima kasih ila kamu telah memberi ku dukungan,membantu membuka jendela hati ku”,
Aku pun menjawab sama sama ayi tetap semangat ya…

Di Balik Gelar Nyonya Besar

Nurhayati / Di Balik Gelar Nyonya Besar / Tidak ada / tenaga kerja asing  Di Balik Gelar Nyonya Besar Kegagalan bukan akhir dari semuanya, tapi awal kita untuk menuju kesuksesan. Pengalaman adalah guru terbesar dalam hidup ini. Dari situ aku banyak belajar arti kehidupan yang sesungguhnya. Kerasnya kehidupan di Formosa mengajarkan diri ini lebih dewasa lagi dalam menyikapi … Continue reading “Di Balik Gelar Nyonya Besar”

Nurhayati / Di Balik Gelar Nyonya Besar / Tidak ada / tenaga kerja asing 

Di Balik Gelar Nyonya Besar
Kegagalan bukan akhir dari semuanya, tapi awal kita untuk menuju kesuksesan. Pengalaman adalah guru terbesar dalam hidup ini. Dari situ aku banyak belajar arti kehidupan yang sesungguhnya. Kerasnya kehidupan di Formosa mengajarkan diri ini lebih dewasa lagi dalam menyikapi segala hal. Pemberangkatanku yang pertama, tidak membawa kesuksesan. Namun, tidak membuatku putus asa. Perjuanganku belum selesai sampai di situ, untuk menyekolahkan ketiga adikku dan membahagiakan keluarga. Sekarang pemberangkatan yang kedua kalinya, aku harus finis kontrak–pulang membawa kesuksesan–walau seberapa beratnya kerjaanku nanti. Masih kugantungan asa ini di negeri Formosa, menggapai mimpi yang tertunda.

*****

Maret 2008, kuinjakan kaki di bumi Formosa, tepatnya di daerah Taichung City. Di sini aku bekerja menjaga seorang kakek yang kedua kakinya habis dioprasi, karena kecelakaan. Tuan bernama Jung Ta Wei dan Nyonya Lee Hua Mei, keduanya seorang guru, sehingga mereka jarang berada di rumah. Semoga Tuan dan Nyonya mengerti tata cara memperlakukan pekerjanya dengan baik, serta mengerti tentang hak dan kewajiban pekerjanya. Masa-masa adaptasi selama satu bulan kadang sulit kulewati–mencoba menyibukan diri dengan kerjaan–tak terasa waktu begitu cepat berlalu.

Kakek yang aku rawat lumayan baik, walau terkadang dia sering marah-marah. Mungkin dia marah karena menahan rasa sakit di kakinya itu. Tapi, dugaanku salah. Dia marah bukan menahan rasa sakit di kaki, tapi sakit dibatinnya. Di rumah ini kakek bagaikan mekanik, mereka menganggap kakek ada namun tak pernah mengajak dia bicara, kedua cucunya pun tak pernah menyapanya.

“Aila, maafkan aku karena telah memarahimu,” ucap kakek sambil menarik napas dalam-dalam.

“Tidak apa-apa, Kakek. Boleh aku tahu, kenapa mereka tidak pernah bicara denganmu?” tanyaku.

“Menantuku, Lee Hua Mei tidak suka sama aku, gara-gara masalah uang. Dulu keluarganya meminjam uang puluhan juta, namun tak mau membayarnya. Sehingga terjadi pertengkaran besar, sampai sekarang dia membenciku begitu juga dengan anakku. Ah, sudah jangan membahasa masalah ini lagi,” jawab kakek menitikkan air mata.

“Maaf Kakek, jika aku tidak sopan,” ucapku.

Kakek hanya menjawabnya dengan senyuman, dan aku kembali melanjutkan pekerjaan.

Sekarang aku mulai paham dan bisa merasakan apa yang kakek rasakan. Kadang melihatnya kasihan, saat Kakek makan tak pernah satu meja dengan mereka. Seolah mereka jijik jika makan bersama Kakek, di raut wajahnya penuh kesedihan. Tuan Jung yang bertubuh gemuk, perutnya buncit kaya orang hamil sembilan bulan itu, beliau walaupun kepala rumah tangga tak berani membantah perintah istrinya–Nyonya Lee–yang berkuasa dan harus mematuhi perintahnya. Nyonya Lee–dia yang memiliki tubuh ramping dan wajah cantik–selalu menjaga penampilan dan kecantikannya. Sehingga aku dilarang untuk memakai pakaian ketat disaat bekerja, takut kecantikannya tersaingi olehku. Nyonya Lee tak peduli dengan kebutuhan rumah tangga, sepeser pun beliau tak pernah memberiku uang belanja, semuanya dari kakek. Nyonya Lee bisanya cuma ; makan, tidur, main game di laptop serta bekerja.

Lambat laun keadaan kakek semakin membaik, dia sudah bisa berjalan walau menggunakan tongkat. Namun, ini bukan meringankan pekerjaanku. Tapi, kerjaan malah tambah banyak. Selain membersihkan rumah enam lantai, aku harus bekerja di rumah temannya Nyonya Lee.

“Aila, mulai besok pagi kamu bantu bersih-bersih di rumah temanku. Dia akan kasih kamu uang, lumayan buat jajan,” ucap Nyonya Lee berharap aku mau menurutinya.

“Tapi, Nyonya. Gimana dengan Kakek dan kerjaan rumah?” ungkapku berharap Nyonya memahaminya.

“Sekarang Kakek sudah bisa berjalan, serta kerjaan rumah bisa kamu kerjakan malam hari,” jelasnya.

“Maaf Nyonya, saya tidak bisa. Kalau seperti itu saya kerepotan. Sore hari saya harus menjemput anak Nyonya pulang sekolah, lalu masak dan mengurus kakek, kemudian lanjut pekerjaan rumah. Terus kapan saya istirahatnya, Nyonya?” ungkapku padanya semoga Nyonya mengerti.

“Sudahlah, jangan banyak ngomong! Pokoknya besok kamu harus pergi bekerja di rumah temanku itu,” ucapnya dengan nada sinis. Mau tak mau, aku harus menuruti perintahnya. Padahal, kerjaan di rumah sendiri menumpuk.

*****

Embun pagi masih menyelimuti bumi, tetesan airnya membasahi dedaunan yang menjadi segar. Beda denganku, tetesan embun tidak memberikan kesegaran pada tubuh ini, seperti semangat kerjaku hilang. Terasa malas untuk pergi bekerja di rumah orang lain. Pagi ini, Nyonya Lee yang mengantarku ke rumah temannya itu.

“Aila, cepat kita pergi! Aku tidak punya banyak waktu, karena aku juga harus bekerja,” ucapnya.

“Iya, Nyonya,” jawabku sambil berlari menuju mobil Nyonya Lee.

“Kamu harus ingat jalannya, besok kamu pergi sendiri,” ungkap Nyonya Lee seraya menancap gas dengan kecepatan tinggi.

Sepanjang jalan aku terus mengamati nama jalannya. Berharap esok pagi, ketika aku pergi sendiri tidak kesasar. Saat itu juga, aku kurang istirahat karena pulang dari rumah sahabatnya masih membersihkan rumah Nyonya Lee. Kakek memarahiku, agar aku tidak bekerja lagi di rumah orang lain.

“Aila, kamu di sini itu tugasnya merawatku bukan membersihkan rumah orang lain. Satu hari NT 100 ini sangat keterlaluan,” ucap Kakek merasa iba padaku.

“Aku juga tahu, Kakek. Tapi, aku tidak bisa melawan perintah Nyonya Lee, dia adalah majikanku. Aku bicara juga percuma, Nyonya Lee tetap memaksaku bekerja di rumah temannya. Mungkin kakek yang bicara, dia tak akan berani lagi mempekerjakanku di rumah orang lain,” ungkapku panjang lebar berharap kakek memahamiku.
Kakek hanya terdiam, sungguh tak mungkin dia bertatap muka dengan menantunya, bicara tentang masalahku ini. Karena sudah lama sekali, mereka saling diam. Yang dikatakan kakek memang benar, satu hari NT 100 sangat keterlaluan, karena uang segitu tidak cukup untuk uang jajanku, atau hanya sekadar untuk membeli obat jika badan sakit. Semenjak kerjaanku double, tubuh ini sering sakit–kecapean. Nyonya Lee walaupun beliau seorang guru, tapi tak punya hati nurani. Mata hatinya seperti sudah dibutakan oleh uang. Padahal uang banyak tak akan dibawa mati. Sikapnya yang masih seperti anak kecil membuatku jengkel.

Jam dinding menunjukan pukul 11:30 menit, sudah larut malam. Ada sebagian orang sudah terlelap dengan tidurnya, beda denganku masih bertarung dengan pekerjaan rumah yang masih menumpuk. Saat itu, aku sedang menyetrika baju–Nyonya Lee berteriak memanggilku–nadanya yang begitu nyaring membuat gending telinga ini seakan mau pecah. Kumatikan setrikaan dan segera menghampiri dirinya.

“Ada apa, Nyonya?” tanyaku.

“Perut saya laper, kamu bantu saya belikan makanan di pasar malam,” ungkapnya.

“Baik, Nyonya,” jawabku singkat, seraya pergi meninggalkan dirinya.

Di bawah terangnya lampu jalanan, aku masih mengayukan sepeda, menelusuri jalan yang mulai sepi. Jarak antara rumah dengan pasar malam itu lumayan jauh, jika di tempuh menggunakan sepeda ontelku ini, sekitar tiga puluh menit baru sampai. Lamannya kaki ini mengayunkan sepeda akhirnya sampai juga, aku segera membeli makanan yang Nyonya Lee pesan, kemudian langsung pulang.

Kuayunkan sepeda dengan cepat, takut Nyonya Lee marah-marah. Namun, dari belakang terasa ada orang yang mengintaiku. Pikiran mulai takut tidak karuan, sesekali aku menengok ke belakang–dua orang polisi–mengintaiku. Mau apa mereka berdua mengikutiku? Rasa penasaran mulai merasuk dalam pikiran, detak jantungku ikut berdenyut kencang. Dua polisi itu, langsung menghalangi jalanku.

“Stop!” Silakan turun dari sepedamu! Kami berdua akan memeriksamu,” ucap seorang polisi yang berbadan kekar dan tinggi, tatapan mata elangnya menatap wajahku tajam.

“Ada apa, Pak?” tanyaku penuh ketakutan.

“Kamu orang mana?” tanya Pak polisi bermata elang itu.

“Saya orang Indonesia, Pak,” jawabku.

“Kamu pasti orang kaburan, ya?” tanyanya lagi.

“Bukan, Pak. Saya pekerja resmi, saya tidak kaburan,” jawabku.

“Terus kamu ngapain malam-malam ke luar? Mana KTP-mu?” tanyanya lagi, dengan nada tinggi.

“Saya hanya ke luar untuk membeli makanan. Sebentar, KTP-nya saya cari dulu,” ucapku seraya membuka dompet kecil mencari KTP sebagai bukti bahwa aku bukan BMI kaburan.

“Okay.”

“Ini Pak, KTP saya!” kusodorkan KTP itu padanya.

Dua orang polisi itu memandangi wajahku dengan seksama, kemudian mereka mengembalikan KTP itu dan mempersilakan aku pergi.

“Alhamdulilah, rasanya lega hati ini,” gumamku sembari menarik napas dalam-dalam.

Kupercepat ayunan sepeda, takut Nyonya Lee menungguku terlalu lama. Sepeda ontel kupakirkan di depan rumah dan tak lupa menguncinya. Tangan ini mulai membuka gagang pintu, sambil menarik napas berharap Nyonya tak ada di ruang tamu. Kreekkk … pintu terbuka, mataku terbelalak kaget, ternyata Nyonya Lee sudah berada di hadapanku.

“Aila, kamu beli makanan itu di Hongkong, ya? Lama banget, tidak tahu kalau perutku sudah keroncongan,” cerocosnya.

“Maafkan saya, Nyonya. Tadi, saat perjalanan pulang ada polisi mengintai saya dan di introgasi olehnya,” jelasku semoga Nyonya mengerti.

“Iya, sudah. Mana makanannya!” ucapnya.

Aku pun memberikan makanan itu pada Nyonya Lee, dan langsung melanjutkan pekerjaanku yang tertunda.

*****

“Ting … tong … ting … tong … ting … tong ….”

Suara bel pintu berbunyi, aku berlari segera membukanya. Ternyata Nona Lan Jie Yi–temannya Nyonya Lee–dia datang pasti akan memberikan uang gajiku pada Nyonya Lee. Kupersilakan duduk, kemudian aku langsung pergi memanggil Nyonya Lee.

Mereka pun mulai bercakap. Sementara, di balik pintu dapur yang berdekatan dengan ruang tamu, aku menguping pembicaraan mereka. Nona Lan Jie Yi menyerahkan semua hasil keringatku pada Nyonya Lee, kurang lebih sekitar NT 25.000, jumlah uang yang lumayan besar dibandingkan gaji pokokku. Aku yang melihat dan mendengar percakapan mereka sangat menyayat hati, Nyonya Lee sedikitpun tak pernah punya rasa bersalah. Beliau seenaknya saja memakan uang hasil keringatku. Setelah mendapatkan semuanya, beliau tertawa bahagia. Nona Lan Jie Yi, tak berbincang banyak hal, setelah uang itu diterima Nyonya Lee, dia segera pamit pergi karena ada keperluaan.

Nyonya masih menghitung lembar demi lembar uang yang ada di tangannya, sesekali beliau tersenyum lebar. Beliau tertawa bahagia di atas deritaku. Ketika tertawa lepas, tangannya menyentuh bagian dada. Beliau berhenti tertawa, raut wajahnya mulai pias pudar. Aku yang masih berada di balik pintu dapur, pergi menghampiri dirinya.

“Maaf, Nyonya kenapa?” tanyaku sedikit cemas.

“Bagian payudara saya tiba-tiba sakit, begitu juga kepala. Sakit banget. Tolong panggilkan Tuan Jung, bilang antar saya ke dokter,” ucapnya dengan nada meringis kesakitan.

“Baik, Nyonya,” jawabku.

Aku pun memanggil Tuan Jung, langsung berbicara padanya sesuai apa yang Nyonya Lee katakan. Sebenarnya aku sering melihat Nyonya Lee kesakitan seperti itu, cuman kali ini rasa sakitnya tidak bisa beliau tahan lagi, dan minggu-minggu ini rambut Nyonya Lee mulai rontok. Aku mengetahuinya saat merapikan meja rias beliau, dibagian sisirnya banyak rambut yang nyangkut. Penasaran. Jadi selama ini Nyonya Lee punya penyakit apa? Entahlah, aku tak mau memikirkan beliau.

“Aila, ayo bantu Nyonya Lee masuk ke dalam mobil!” teriak Tuan Jung.

“Baik, Tuan,” jawabku.

Tuan Jung menyalakan mobil tergesa, beliau sangat khawatir dengan keadaan istrinya. Rasa sakit yang mulai menggerogoti tubuh Nyonya Lee membuat raganya lemas tak berdaya. Tuan Jung, sudah tahu dari awal penyakit yang didera isterinya. Tuan Jung membawa isterinya ke dokter pribadinya bernama–Wang Liu Zhen–dokter yang menangani penyakit isterinya itu. Dokter Wang membawa Nyonya Lee ke sebuah ruangan untuk diperiksa penyakitnya. Sementara, aku dan Tuan Jung menunggu di luar. Sepuluh menit berlalu, dokter Wang ke luar dari ruangan dan membicarakan tentang penyakit Nyonya Lee pada Tuan Jung.

“Maaf, Tuan Jung. Saya mau memberitahukan bahwa daging yang tubuh di dalam payudaranya Nyonya Lee sudah membesar, saya khawatir jika tidak segera di buang akar dari daging tersebut akan merambat kebagian tubuh lainnya. Tak ada cara lain lagi, harus segera di oprasi. Takut kankernya tambah parah,” ungkap dokter Wang sejelas-jelasnya.

“Iya, dokter kalau tidak ada cara lain, oprasi saja. Yang penting isteri saya bisa sehat kembali,” ucap Tuan Jung.

Aku tersentak kaget mendengar percakapan mereka, jadi selama ini Nyonya Lee punya penyakit kanker payudara. Pantas saja rambut Nyonya Lee sering mengalami kerontokan yang begitu banyak, bagian rambutnya menipis dan botak. Besok, Nyonya Lee akan dioprasi bagian payudaranya. Beliau pasti setres berat, karena kecantikannya mulai pudar dan tubuhnya semakin kurus. Walaupun Nyonya Lee sakit, aku masih tetap bekerja di rumah temannya itu. Terkadang lelah juga, kerja mondar-mandir dari rumah temannya, terus rumah sendiri dan malam menjaga Nyonya Lee di rumah sakit.

Aku terdiam di sudut pojok kamar pasien, batin menangis saat lelah menghampiri. Tidak bisa apa-apa, selain menuruti perintahnya itu. Mungkin aku orang bodoh, yang mudah dimanfaatkan olehnya. Karena kebaikan hatiku, sehingga aku tidak melaporkan masalah ini ke pihak konseling. Pernah melaporkan ke pihak agensi, namun mereka tak pernah mendengarkan jeritan hatiku. Seolah tak peduli dengan tugasnya–membantu BMI jika ada masalah–mereka menanggapinya dengan cuek, sama seperti Nyonya Lee. Kalau uang sudah ditangannya, bisa lupa segalanya tidak pernah peduli. Sehingga sekarang raganya terdampar di ranjang, namun di mata hati beliau tetap yang ada hanyalah uang.

Inilah kisah di balik gelar Nyonya besar, yang telah banyak memakan uang hasil keringat orang lain. Tidak takut azab dari Tuhan, walau raganya sekarang mulai merapuh. Harusnya beliau segera sadar, karma itu pasti ada. Mungkin rejekiku hanya segitu, aku hanya bisa mensyukurinya. Tak terasa akhirnya aku kerja di sini sampai finis kontrak. Pulang membawa kesuksesan dan sejuta cerita tentang kehidupan di negeri Formosa.

Cermin Dua Sisi

Uci Zahra / Cermin Dua Sisi / tidak ada / tenaga kerja asing  Cermin Dua Sisi Sejak kemarin sikap Yu En jie-jie sedikit aneh. Ada keraguan ketika dia bicara, atau senyum dan tatapannya seolah penuh tanya. Apa mungkin aku baru dua bulan di sini, ya, jadi dia masih meragukanku? Batin berprasangka. Yu En jie-jie adalah menantu akong Li, … Continue reading “Cermin Dua Sisi”

Uci Zahra / Cermin Dua Sisi / tidak ada / tenaga kerja asing 

Cermin Dua Sisi
Sejak kemarin sikap Yu En jie-jie sedikit aneh. Ada keraguan ketika dia bicara, atau senyum dan tatapannya seolah penuh tanya.
Apa mungkin aku baru dua bulan di sini, ya, jadi dia masih meragukanku? Batin berprasangka.
Yu En jie-jie adalah menantu akong Li, kakek yang menjadi pasienku di daerah Hua Shun, Banqiao. Anak akong, suami Yu En jie-jie bekerja di Touyuan dan seminggu sekali baru pulang. Yu En jie-jie sendiri tidak bekerja. Sedangkan anak mereka tinggal di Taipei bersama bibinya untuk kuliah.
Akong yang aku rawat menderita kencing manis dan darah tinggi. Usianya yang sudah sembilan puluh tahun menjadikan tubuhnya tidak lagi kuat memerangi penyakit. Fisiknya lumpuh dan bicaranya sudah tidak jelas, pun begitu beliau sangat ramah dengan senyumannya. Istri akong sudah meninggal sekitar tiga tahun lalu, itu penjelasan yang aku dapat dari anaknya.

Ujung mataku menangkap jie-jie yang sedang mencuri pandang ke arahku. Ketika kutoleh secara sempurna dia segera memalingkan wajah dengan cepat ke layar TV. Aku menggeleng heran. Tak lagi terusik dengan perilaku jie-jie, aku kembali menyuapi akong semangka. Sebab sebentar lagi jadwalnya membawa akong jalan-jalan. Kebiasaan kami yang merawat orang tua apabila kondisi mereka memungkinkan untuk dibawa keluar, maka jalan-jalan ke taman adalah kesempatan yang menyenangkan. Untuk pasien maupun yang merawat, agar tidak bosan.

Lagi-lagi, saat aku mencoba memindahkan akong dari sofa ke kursi roda, semakin jelas bahwa Jie-Jie mnengawasi tindakanku. Ada sedikit grogi, tapi sebisa mungkin mengabaikannya.
Aku mencoba memecah hening dengan berpamitan untuk membawa akong ke taman.
“Jie, kami pergi jalan-jalan dulu, ya.” Pamitanku membuatnya sedikit terkejut. Mungkin tadi dia melamun sebentar.
“Oh, ya, ya,” jawabnya ragu.
“Han!” panggilnya. Aku memberhentikan langkah.
“Kamu benar sudah menikah?” Keningku mengernyit.
“Sudah, Jie. Bukannya diperkenalan awal saya sudah menjelaskannya?” Aku balik bertanya dengan perasaan heran. Selang beberapa menit dia masih diam. Akong menoleh ke arahku. Seolah bertanya mengapa berhenti lama?
“Ya, siapa tahu saja. Aku banyak dengar pekerja asing yang belum berkeluarga mengaku sudah dan yang sudah mengaku belum.”
Oh, sungguh! Pernyataan jie-jie sedikit banyak memukul perasaanku.
Namun aku mencoba menanggapinya dengan senyuman. Mungkin tidak setulusnya, yang penting aku jujur adanya.
Tak lagi dia berbicara aku melanjutkan langkah. Dengan isi kepala penuh pertanyaan tentang sikap majikan yang tiba-tiba berubah.
***
Taman dekat pasar Minde adalah tujuan kami hari ini. Tempatnya luas, nyaman, dekat pasar, dan juga bisa bertemu teman-teman. Akong pun senang sebab bisa melihat banyak kejadian yang membuatnya terhibur. Meski tidak terluah namun dari raut wajahnya jelas menggambarkan kesenangan. Orang tua yang sakit ataupun lumpuh, meski mereka ada yang tidak bisa berbicara, tapi ada cara tersendiri untuk mengungkapkan perasaan mereka. Hal yang aku pelajari sejak merawat orang tua.
Di tengah jalan aku melihat mbak Yuli yang baru keluar dari rumah majikan dengan mendorong kursi roda. Dia merawat akong juga, tapi kondisi pasiennya jauh lebih baik dibanding pasienku.
Langkah kupercepat untuk menghampirinya.
“Mbak, Yul!”
“Hana!” Suaranya terdengar serak dan hidungnya memerah. Apa dia habis menangis? Batinku penasaran.
“Mbak, habis nangis, ya?” Kuluahkan juga hal yang mengganggu pikiran. Dia tidak langsung menjawab, baru setelah jauh dari rumah majikannya, dia mulai bicara.
“Majikan perempuanku beberapa hari ini uring-uringan, Han, nuduh aku genit. Godain majikan lelaki, bahkan katanya aku juga genit sama akong. Kamu lihat sendiri kondisi akong sudah kayak begini. Masa aku segila itu, Han!? Kalau cuma kata-kata begitu sebenarnya aku coba tahan dan sabar, Han, tapi ia cerita begitu sama teman-temannya dan terus merendah-rendahkan TKW, terutama dari kalangan kita. Ia bilang memang kita ini benar-benar gila uang sampai jual diri!” ucapnya panjang lebar. Ada getaran emosi, `kekecewaan, dan tangis yang coba ditahan.
“Lah, apa sebabnya Mbak, sampai majikannya begitu amat?”
“Nah, itu dia! Gara-gara empat hari lalu ia melihat berita di TV soal satu TKW yang mengunggah video tidak sopannya di Facebook. Lalu masuk berita Taiwan. Langsung komentarnya nggak berhenti. Ada saja tambahan buruk tentang TKW. Apalagi kalau sudah kumpul dengan temannya, bumbunya semakin banyak, Han!” Mbak Yuli bercerita layaknya amarah yang terkurung lama dan akhirnya terbebas, menggebu penuh amarah.
“Oh, itu Mbak. Iya, hal itu ramai dibincangkan di Facebook. Tapi aku nggak lihat pas masuk TV Taiwannya. Eh, tunggu! Jangan-jangan majikanku berubah juga gara-gara berita itu!?” Tiba-tiba sikap dan ucapan majikan yang tidak seperi biasanya melintas.
“Memang majikanmu ngata-ngatain kamu, ya?”
“Nggak juga sih, Mbak. Tapi aneh saja, sampai dia tanya ulang soal statusku.” Mbak Yuli menggeleng heran.
Aku dan mbak Yuli sama-sama pekerja baru, tapi dia sudah habis potong gajinya sedangkan aku masih kurang tujuh bulan. Kami meneruskan langkah ke taman. Salah satu tempat yang menjadi ruang bagi kami untuk bertukar cerita, informasi bahkan rejeki. Ruang bebas bagi kami yang tidak dapat libur. Bertemu dan berbicara secara nyata bukan sekedar melalui media sosial, yang ekspresi lawan bicara tidak kita ketahui sama atau tidaknya dengan komentar mereka.
Obrolan dan langkah kami hentikan ketika mbak Win, salah satu teman kami yang sudah dua kali datang ke Taiwan menghampiri.
“Asyiknya bercerita sampai aku lambaikan tangan ke kalian nggak lihat!” tegurnya penuh canda.
“Eh, Mbak Win, maaf Mbak,” balas Mbak Yuli. Aku tersenyum senang.
“Lagi bahas apaan, sih?” tanyanya penasaran.
“Itu loh, Mbak, bahas artis dadakan di Facebook dari kalangan kita yang buat heboh jagat maya sampai TV Taiwan!” jelas Mbak Yuli masih dengan nada kesalnya.
“Oh, itu. Memang kenapa? Kalian kena dampaknya juga kah dari majikan?” Mbak Yuli ingin memnjawab tapi terhenti dengan ajakan mbak Win untuk masuk ke taman dan mencari tempat duduk. Pasien yang kami rawat menjadi pendengar setia. Ah, maafkan kami akong, ama. Bukan mengabaikan, kami hanya ingin berbagi cerita untuk mencari solusi saja. Ucapku dalam hati.
Setelah mencari posisi duduk yang aman untuk kami dan pasien, mbak Yuli langsung menjawab pertanyaan mbak Win. Sama seperti apa yang dia ceritakan padaku sebelumnya. Hanya saja, kali ini luapan emosinya lebih dramatis. Aku yang sedang memijati akong hanya tersenyum lucu mendengar obrolan mereka.
“Jangan terlalu sedih, ya, sudah resiko jika salah satu dari kita berbuat salah dampaknya akan menyebar luas. Nama bangsa ikut dibawa-bawa. Yang nggak ngerti apa-apa kena imbasnya. Itu sudah jadi makanan kita TKW dari dulu. Tapi jangan salah, nggak semua majikan percaya begitu saja dengan berita begituan, pun juga banyak TKW/TKI berprestasi di sini maupun di negara lainnya. Yang penting kita tetap kerja baik-baik. Dan jika majikan tetap bersikap nggak baik ke kita, tunjukkan bukti prestasi dan kebaikan lainnya dari kalangan kita ke mereka.” Mbak Win memberi nasehat sekaligus semangat.
Aku dan mbak Yuli tersenyum lega dengan apa yang disampaikan mbak Win. Buat kami yang termasuk anak baru di negara orang, banyak hal yang membuat kami terkejut dan kadang membawa kesedihan yang dalam. Hal ini membuatku ingat kembali dengan nasehat salah satu jie-jie di penampungan dulu, bahwa kerja ke luar negeri bukan hanya membutuhkan kepandaian dalam bekerja dan bahasa. Yang paling utama adalah mental. Sebab mental harus sudah siap di awal. Sedangkan kinerja dan bahasa akan mahir seiring berjalannya waktu.
Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul empat, aku, mbak Win dan mbak Yuli mengakhiri obrolan hari ini dengan senyum keyakinan. Bahwa semua akan baik-baik saja, meski segelintir lainnya tidak dalam keadaan baik. Saatnya kembali bekerja.
Ciayooo!!!
***
“Jie, lihat! Ini pekerja dari Indonesia menang lomba menulis antar empat negara, hadiahnya seratus ribu NT. Hebatkan?” tanyaku dengan bangga.
“Jie, lihat dua pekerja Indonesia masuk TV Taiwan atas kinerjanya dalam membantu sesama pekerja Indonesia dan prestasi mereka dalam berkreatifitas.”
“Jie, ada pekerja Indonesia yang memenangkan kejuaraan Tai chi. Keren kan?
Hampir setiap hari aku akan memberi informasi ke majikan, soal banyaknya pekerja dari Indonesia yang berprestasi. Salah satu cara yang diberi oleh mbak Win, bagaimana menunjukkan pada majikan atau orang Taiwan. Jika kami bukan sekedar seorang pekerja asing yang hanya banyak masalah. Tapi, pekerja asing yang mempunyai segudang prestasi. Tentunya dengan bantuan bahasa dari mbak Win. Ia akan menerjemahkannya ke bahasa mandarin dan aku akan menghafalkannya seharian. Diiringi gugup yang kadang menerbangkan hafalan.
Majalah berbahasa Indonesia menjadi langgananku kini. Dengannya aku akan selalu mendapat berita baru, tentang kesuksesan purna BMI, prestasi teman seperjuangan, dan info lain. Meskipun hal-hal tidak baik ikut menyertai juga. Setidaknya hal baiklah yang lebih mendominasi.
“Jie, lihat! Banyak pekerja yang meneruskan sekolah di sini. Wah, senangnya, andai aku juga punya kesempatan,” ucapku penuh harapan. Jie-Jie di sampingku hanya mengernyit heran.
Begitu seterusnya. Akan ada saja hal baru yang akan aku ceritakan pada majikan. Walau kadang jie-jie acuh dalam menanggapi, paling tidak dia tahu. Kami pekerja asing yang juga berkarya, masih punya tata krama dan tidak semua buruk akal juga tingkahnya.
Tapi pernah suatu ketika jie-jie melihat-lihat majalahku dan pas menemui gambar tentang video heboh itu. Dan, mulailah dia berceloteh panjang lebar, namun akhirnya aku tahu penyebab perubahannya dulu. Meski begitu, dengan bahasa ala kadarnya aku membela diri dengan tuduhan-tuduhannya kepadaku maupun pekerja lainnya. Bahwa, meski sama satu bangsa, kita berbeda cerita!
Ujungnya, jie-jie akan menghentakkan kaki dan pergi, entah ke taman atau ke kamarnya.
Aku, tersenyum lega.
Pelan-pelan jie-jie mau terbuka soal pemikirannya terhadap pekerja asal Indonesia. Dia tidak lagi menjelek-jelekkan kita. Bahkan, dia orang pertama yang akan membuka majalah langgananku. Yah, meski hanya bisa melihat gambarnya, tapi dia akan bertanya maksud dari foto yang membuatnya penasaran.
Keakraban, kepercayaan dan pengertian mulai bertunas di antara kami. Hal itu membuatku lebih tenang dan nyaman dalam bekerja merawat akong.
Alhamdulillah.
“Seperti cermin yang mempunyai dua sisi. Begitu pun kita dan kehidupan. Jika sisi depan tidak memantulkan hal baik, coba balik atau kita yang beralih arah dan melihat pantulan sisi lainnya. Pasti ada hal baik yang lebih indah untuk ditatap.” Pesan dari seorang teman di penampungan yang kembali teringat.
Banqiao, 29 Mei 2016

Hualien Ajariku Bersyukur

Arini / Hualien Ajariku Bersyukur / FLP Taiwan / tenaga kerja asing  Hualien Ajariku Bersyukur Kupandangi hamparan sawah yang menghijau. Pepohonan tumbuh rindang di tepi jalan. Matahari mulai menampakkan sinarnya dari ufuk timur. Merdunya kicau burung menambah hangatnya suasana pagi. Sungguh pemandangan alam yang sangan indah. Sebelum memulai aktivitas pagi, aku biasakan melemaskan otot sebentar di teras rumah. … Continue reading “Hualien Ajariku Bersyukur”

Arini / Hualien Ajariku Bersyukur / FLP Taiwan / tenaga kerja asing 

Hualien Ajariku Bersyukur

Kupandangi hamparan sawah yang menghijau. Pepohonan tumbuh rindang di tepi jalan. Matahari mulai menampakkan sinarnya dari ufuk timur. Merdunya kicau burung menambah hangatnya suasana pagi. Sungguh pemandangan alam yang sangan indah.

Sebelum memulai aktivitas pagi, aku biasakan melemaskan otot sebentar di teras rumah. Rasanya seakan tak percaya bahwa aku tinggal di pulau Formosa. Semua bayanganku tentang Formosa tak seperti yang ada di depan mataku. Cerita tentang keramaian kota Taipei. Megahnya gedung tertinggi 101 kebanggaan pulau Formosa juga tak pernah aku temui di sini. Rasanya seperti tinggal di kampung halamanku. Tapi semuanya tak pernah membuatku terasa sepi. Justru aku sangat merasa tentram dan damai.

Semua masalah dan beban di hati sudah sedikit terasa ringan. Aku akui aku memang egois. Tak pernah bisa menerima keadaan. Dulu keluargaku hidup tercukupi. Suamiku memiliki usaha tekstil yang sudah lumayan berkembang. Kami juga memiliki beberapa orang karyawan. Selang berjalan lima tahun, usaha suamiku bangkrut total. Semua karena suamiku terlalu percaya dengan patner kerja. Hutang-hutang kami semakin menumpuk. Yang tersisa hanya rumah yang kami tempati. Aku yang dari awal tak pernah hidup susah, tak bisa menerima keadaan ini. Seharusnya aku memberi semangat buat suamiku. Tapi tidak denganku, aku malah memilih pulang ke rumah orang tuaku. Akan tetapi suamiku tak pernah mengizinkan membawa putriku. Beberapa bulan di rumah orang tuaku, ayah dan ibu hanya menyalahkanku. Aku semakin terpojok oleh keadaan. Dan akhirnya aku memilih untuk menjadi TKI, atas dukungan dan saran dari teman sekolahku. Walau berat hati juga tanpa restu mereka aku tetap memilih pergi. Inilah sepenggal kisahku sehingga aku berada di bumi Formosa.

Hualien, kota kecil yang terletak di bagian timur kepulauan Formosa. Ternyata juga banyak tempat-tempat wisata yang sangat indah. Juga banyak dikunjungi oleh wisatawan asing dan juga penduduk lokal Taiwan. Sebagian besar penduduknya adalah warga Yen chu min. Begitu pula dengan majikanku.

Disinilah aku temukan kehidupan baru. Kehidupan yang masih sangat asing bagiku. Pekerjaan sehari-hariku hanya merawat Kakek yang hanya bisa duduk di kursi roda. Majikanku sangat menghargai hasil kerjaku. Meski aku kadang masih belum faham bahasa, mereka telaten mengajariku. Rasa syukur yang tak ternilai harganya.
Suatu peristiwa yang sangat mengesankan disaat pertama kali melihat tungku kayu bakar di dapur.

“Lina, di rumah kamu sana ada tidak seperti ini?“ tanya nyonya sambil menunjuk tungku kayu bakar.

“Ada Nyonya,“ jawabku agak keheranan.

“Ini dipakai untuk merebus daging dan air mandi, kalau kamu tidak bisa menghidupkan apinya nanti aku ajari,“ jelas Nyonya padaku.

“Bisa, bisa kok Nyonya,“ jawabku, padahal aku di Indonesia sudah jarang masak pakai kayu bakar.

Inilah keluarga besar kakek. Kakek mempunyai empat anak laki-laki. Semuanya tinggal tak jauh dari rumah Kakek. Mereka semua hidup rukun dan saling membantu. Kakek tinggal bersama anak bungsunya. Keluarga majikanku bukan orang kaya. Tapi mereka memiliki lahan pertanian yang luas. Sayur yang dimakan sehari-hari juga hasil dari menanam sendiri di belakang rumah. Juga merupakan tugasku, selain merawat Kakek aku juga bantu menyiram sayur.
Kesederhanaan yang dimiliki keluarga majikanku menjadikan motivasi buatku. Aku yang dulu suka hidup berfoya-foya, kini aku sadar bahwa semuanya cuma sesaat saja.

“Lina, sebentar lagi di sini akan ada acara.Kamu mau tidak didandani pakaian adat kami?“ tanya Tuan sambil mengeluarkan pakaian adatnya dari almari.

“Malu saya Tuan, saya khan jelek,“ sahutku.

“Siapa bilang kamu jelek. Kamu pasti cantik banget pakai baju adat,“ canda Tuan padaku.

“Iya Lin, nanti saya yang dandani. Kakek pasti senang melihatnya,“ Nyonya menimpali.

Aku cuma senyum-senyum terharu mendengar canda tawa majikanku. Begitu besarnya perhatiannya padaku. Kakek yang aku jaga juga sudah mulai cocok denganku. Memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Merawat orang tua, semuanya harus dengan sabar dan telaten. Apalagi Kakek tak seberapa bisa bahasa mandarin. Kadang beliau tak mengerti maksudku dan sebaliknya aku.

Acara yang ditunggu-tunggu telah tiba. Tuan dan Nyonya sangat antusias menyambut acara ini. Kebetulan tahun ini Tuan adalah pembawa acaranya. Tuan, Nyonya dan juga aku hari ini memakai pakaian adat warga Yen chu min yang tak beda jauh dengan pakaian adat suku Dayak di Indonesia. Dengan sedikit malu-malu aku berjalan di belakang Nyonya sambil mendorong Kakek. Sedangkan Tuan sudah berada di tempat acara sejak pagi. Kakek tersenyum riang melihat dandananku.

“Lina, nanti kamu cari tempat duduk paling depan ya!“ ucap Nyonya padaku.

“Iya Nyonya. Emang acaranya seru banget ya?“ tanyaku.

“Bukan cuma seru tapi heboh pastinya. Banyak perlombaan juga. Tahun ini saya ikut lomba nyanyi,“ jelas Nyonya senyum-senyum.

“Saya doain moga-moga Nyonya yang jadi juara,“ sahutku.

“Terima kasih banyak Lina. Kamu cari tempat dulu, aku mau menemui Tuan.

Aku segera bergegas membaur diantara para penonton. Banyak juga teman-teman seprofesiku yang berdandan sepertiku. Jadi aku tak perlu malu-malu lagi.

Hari ini Kakek kelihatan senang sekali, melihat ramainya para penonton. Acara sangat meriah sekali. Apalagi Tuan sangat berwibawa dalam memberikan sambutan demi sambutan.

Acara semakin heboh disaat lomba nyanyi dimulai. Inilah kehebatan warga Yen chu min, memiliki suara yang sangat merdu dan nafas yang panjang. Acara demi acara berjalan sangat teratur dan meriah.
Empat jam sudah berlalu, waktupun sudah mulai merangkak sore. Berkat doaku dan juga Kakek, Nyonya kali ini mendapat juara dua. Sorak sorai para penonton saling bersahutan, disaat sang juara naik ke atas panggung. Kakek sangat gembira sambil melambai-lambaikan tangannya, melihat menantunya menerima seikat bunga, piala dan juga uang. Acarapun usai, penonton mulai meninggalkan tempat itu satu-persatu. Aku juga segera pulang tanpa harus menunggu Nyonya dan Tuan.

Untuk merayakan kemenangannya Nyonya mengundang saudara-saudaranya makan malam dirumahnya. Rumah begitu ramai dengan anak dan cucu Kakek. Aku sangat gembira melihat mereka hidup dengan rukun. Kakek pun juga terlihat sangat bahagia melihat anak-anak dan cucu-cucunya.

**************
Satu tahun kemudian, Tuan terpilih menjadi kepala desa. Dari awal kedatanganku, memang Tuan orangnya sangat bermasyarakat. Selalu bersikap ramah dan sopan pada siapapun. Tak heran juga bila warga memilih Tuan sebagai kepala desa. Meskipun sudah menjadi kepala desa Nyonya dan Tuan juga masih bekerja di sawah. Kesederhanaan yang di milikinya tak pernah berubah.

Belum ada satu tahun menjabat kepala desa, keluarga Tuan ditimpa musibah. Anak laki-laki satu-satunya ditangkap polisi karena kasus narkoba. Acen namanya. Padahal setahuku Acen adalah anak yang baik. Dia kuliah di Taipei mengambil jurusan kesenian. Acen memiliki cita-cita menjadi penyanyi. Saat pulang ke Hualien, Acen sering mengisi lagu-lagu rohani di gereja. Tapi Tuan tetap percaya bahwa anaknya tak mungkin melakukan hal itu. Setelah divisum, hasil test tidak membuktikan bahwa Acen adalah pengguna narkoba. Menurut cerita, teman kuliah Acen hendak pulang ke Pingtung. Dia menitipkan satu kardus kecil yang katanya berisi sepatu. Acen pun juga tak memeriksa isinya. Dan dua hari kemudian tiba-tiba polisi menggerebek kamar kost Acen. Acen tak bisa mengelak, karena telah di temukan narkoba sejenis pil di dalam kardus tersebut. Saat ini Acen dituduh sebagai pengedar.

Bolak-balik Taipei-Hualien. Aku lihat kondisi Tuan cukup lelah. Tapi Tuan tetap terlihat tegar. Begitupun Nyonya, beliau juga tetap seperti biasa. Tiap minggu juga berkumpul bersama teman-temannya di gereja. Cuma Nyonya suka termenung sendiri kalau sedang berada di rumah. Jarang makan. Aku sangat prihatin melihat keluarga Tuan. Mungkin ini adalah ujian Tuhan buat keluarga mereka. Gunjingan dari warga sekitar mulai menusuk di telinga. Bahkan sudah merambah ke media koran dan juga televisi. Tapi saudara-saudara Tuan tiap hari selalu datang melihat keadaan Nyonya dan Kakek.

Kondisi Kakek semakin hari semakin memburuk. Sampai harus dirawat empat hari di rumah sakit. Tapi Kakek masih sangat beruntung, anak-anaknya sangat memperhatikannya. Tuan sudah tiga hari tidak pulang ke Hualien. Nyonya kelihatan sangat sedih sekali. Aku beranikan diri untuk menanyakan keadaan Acen yang biasa aku panggil Titi.

“Nyonya, gimana keadaan Titi?“ tanyaku.

“Hari ini sidang terakhir Lin, makanya Tuan sudah tiga hari tidak pulang. Doakan ya Lin, moga Titi bebas dari tuduhan,“ jelas Nyonya.

“Iya Nyoya, saya juga percaya Titi tidak bersalah. Nyonya makan dulu, ini sudah waktunya makan siang!“ tawarku.

“Nanti dulu Lin, saya mau istirahat sebentar. Kamu juga jaga kesehatan ya!“ ucap Nyonya sambil masuk ke kamar.

Aku hanya bisa berdoa, semoga keluarga ini segera bebas dari masalah. Kasihan Kakek, keceriaannya yang dulu pun hilang. Tersenyum saja jarang. Tapi aku percaya Tuan orang baik. Semua masalah akan segera berlalu.

*****************
Setelah melalui dilema yang sangat panjang akhirnya Acen bebas dari tuduhan. Acen tetap meneruskan kuliahnya yang sempat terkatung-katung. Tuan maupun Nyonya sudah terlihat tenang. Keadaan Kakek juga mulai membaik. Aku pun juga ikut gembira tentunya.
Satu hal yang lebih membuat keluarga ini bahagia dan bisa kembali tersenyum, Acen lolos dalam sebuah audisi. Dan bulan depan akan melanjutkan audisi berikutnya di China.
Sebuah rona kehidupan yang selalu memberiku memotivasi.
Tetap sejuk di tempat yang panas.
Tetap kecil walau menjadi besar.
Tetap manis walau terasa pahit.
Tetap tegar di tengah badai yang hebat.
Selalu bersyukur dalam setiap keadaan yang kita hadapi, semua akan indah pada waktunya.
Tamat
New Taipei City, 28-05-2016

.

Bahagiaku Milikku

Kara / Bahagiaku Milikku / tidak ada / mahasiswa  Tinggal satu bulan lagi, lalu genaplah satu tahun aku hidup di negara ini. Banyak suka duka yang kurasakan selama satu tahun ini, dan banyak juga pelajaran hidup yang tak kusangka akan kudapatkan disini. Ada waktu dimana aku sangat menikmati hidup seorang diri di ibu kota negara ini, dan ada … Continue reading “Bahagiaku Milikku”

Kara / Bahagiaku Milikku / tidak ada / mahasiswa 

Tinggal satu bulan lagi, lalu genaplah satu tahun aku hidup di negara ini. Banyak suka duka yang kurasakan selama satu tahun ini, dan banyak juga pelajaran hidup yang tak kusangka akan kudapatkan disini. Ada waktu dimana aku sangat menikmati hidup seorang diri di ibu kota negara ini, dan ada waktu ketika aku bertanya-tanya, apakah sekolah di sini merupakan pilihan yang tepat untukku. Tidak sedikit pula air mata yang telah kutumpahkan selama berada di sini, kadang air mata bahagia, namun selebihnya adalah air mata rindu.
Hanya satu tahun, baru satu tahun. Aku tak pernah berpikir kalau tahun pertamaku tinggal di negara asing ini akan merubahku secara drastis. Aku yang dulu jauh lebih egois, aku yang dulu takut sendirian, aku yang dulu, tidak tahu betapa berharganya hidup.
Ketika aku pertama kali memutuskan untuk melanjutkan studi ke Taiwan, hatiku berapi-api. Aku hanya ingin pergi dari rumah, pergi dari orang tuaku, pergi dari adikku, menjauhi setiap pertengkaran yang seringkali terjadi dan menyakitiku. Aku ingin merasakan kebebasan, merasakan indahnya dunia tanpa harus menangis setiap hari.
Ada masa dimana hari terasa lebih panjang, lebih menyakitkan, dan aku hanya ingin pulang. Pelajaran membuatku lelah, tugas yang harus kukerjakan bermalam-malam menggerogoti tubuhku, dan negara dengan bahasa yang tak kupahami ini membuatku merasa terasing. Beberapa teman yang dulu datang bersama-sama denganku sudah mulai memutuskan untuk pulang, dan kerap kali aku tergoda untuk melakukan hal yang sama. Tapi setiap kali terbayang Papa dan Mama, aku meneguhkan hati untuk bertahan.
Namun di sinilah aku sekarang, membisiki diriku untuk tetap bertahan dari hari demi hari. Demi masa depanku, demi harga diriku. Kehidupan di Taiwan menamparku dengan keras, setiap hari kuhabiskan dengan berdiam dan menangis. Aku rindu orang tuaku, aku rindu pulang. Anak keras kepala yang ingin bebas ini, akhirnya merindukan rumah. Beberapa kali seminggu aku akan menelpon ke rumah, kadang-kadang kami makan bersama via video. Ada perih di hati ketika aku duduk di asramaku dengan semangkok mie instant, sementara makanan masakan Mama terhidang di hadapan mereka. Tak jarang pula makanan kesukaanku nampak di sana.
Bila aku menelpon di sore hari, aku bisa melihat kalau teleponku akan memunculkan senyum di wajah Papa dan Mama. Selama satu tahun ini mereka sudah mengorbankan banyak hal agar aku bisa pergi ke Taiwan, agar aku bisa melanjutkan studi di jurusan yang aku inginkan. Beberapa anggota keluargaku sempat mempertanyakan kemampuan bahasa mandarinku yang sangat rendah, dan karena mereka menganggap kalau jurusan yang kupilih tak akan menghasilkan uang, mereka meremehkan keputusanku. Tapi Papa dan Mama selalu percaya padaku, mendukungku walau mereka sendiri terkadang nampak khawatir.
Ribuan kilometer dari tempat ini, aku meninggalkan semua orang yang kusayang demi mengejar masa depan yang lebih baik. Dan selain orang tuaku, aku tidak pernah menyangka aku akan sangat merindukan adik laki-laki yang selalu bertengkar denganku. Kami jarang akur, dan aku tidak terlalu suka mengalah. Aku kira dia adalah orang terakhir yang akan kurindukan, apa daya hati ini berkata lain. Benar perumpamaan yang mengatakan jauh di mata dekat di hati. Ketika kita berada jauh dari orang itu, barulah kita sadar betapa berharganya dia bagi kita. Kami sering mengobrol, aku senang ketika ia memberitahuku hal-hal yang tidak akan diketahui pada Papa dan Mama. Kadang-kadang aku menasehatinya untuk mengurangi waktu gamenya agar dapat meluangkan waktu bersama Papa dan Mama. Karena guru yang paling baik setelah pengalaman adalah penyesalan—andai aku tahu lebih awal waktu bersama mereka akan terasa sangat berharga, aku pun akan melakukan hal yang sama sejak dulu.
Di kotaku, aku selalu dikelilingi oleh orang-orang yang kusayang. Sahabat-sahabatku adalah keluargaku yang kedua. Orang tuaku mengenal mereka, dan aku sangat bersyukur memiliki mereka di hidupku. Memberi tahu diriku sendiri bahwa aku akan tinggal jauh dari mereka, adalah salah satu hal terberat yang harus kuterima. Sepanjang yang kuingat, mereka selalu ada di saat senang dan susah. Mereka mendukungku untuk mengejar mimpiku walaupun tiga ribu delapan ratus empat puluh enam kilometer akan membentang di antara kami. Saat mereka mengantarku ke bandara, aku menguatkan hatiku untuk tidak menitikkan air mata, karena aku tahu, ini bukan perpisahan.
Sembilan september dua ribu lima belas adalah hari pertamaku di kelas, dua orang gadis tiba-tiba mulai berbicara padaku, dan segera kami menjadi teman akrab. Kami adalah tiga serangkai, semua anak di kelas akan bertanya bila salah satu di antara kami tak nampak batang hidungnya. Hari-hari berlalu dengan sangat cepat, dan rasa rindu akan rumah dengan cepat memudar. Kami bertukar cerita tentang masa lalu kami, dan untuk pertama kalinya, aku menemukan seseorang yang pengalamannya dapat menjadi cermin hidupku. Mereka memaklumi kemampuan bahasa mandarinku yang masih sangat berantakan, serta tidak segan membantu setiap kali aku kesulitan. Hampir semua pengalaman pertamaku di Taiwan kulalui bersama mereka, dan setiap waktunya akan tetap menjadi kenangan indah bagiku. Keduanya berjanji bahwa empat tahun dari saat itu, mereka akan datang ke Indonesia, dan kami akan bertualang bersama di kota mungilku.
Namun hidup bukan jalan bebas hambatan. Hidup adalah jalan setapak di tengah hutan, yang terjal dan berliku-liku. Tujuh bulan kemudian, entah apa yang terjadi, kami memutuskan untuk berjalan sendiri-sendiri. Si tiga serangkai memutuskan untuk berpisah tanpa sepatah kata pun terucap. Saat itu aku hancur, aku memarahi Tuhan, mengapa hal seperti ini harus terjadi lagi? Bukankah tiga tahun yang lalu hal serupa sudah kualami? Berapa kali lagikah aku harus merasakan hal seperti ini? Berminggu-minggu aku mengurung diri di kamar. Aku mulai membolos beberapa kelas, berusaha sebisa mungkin untuk tidak melihat kedua temanku itu. Karena setiap kali bertemu mereka, luka di hatiku akan terbuka lagi.
Tapi setiap hal terjadi untuk suatu tujuan, dan apa yang tidak membunuhmu, hanya akan membuatmu menjadi lebih kuat. Ketika hal serupa terjadi dulu, aku berulang kali berpikir untuk mengakhiri hidupku. Aku merasa putus asa, tak berdaya. Kehilangan orang yang kusayang membuatku kalut. Saat itu, aku tak menyangka bahwa aku akan bertahan melewati semua itu. Seperti pelangi yang akan muncul setelah hujan, semua tangis dan air mataku membuahkan hidup baru yang lebih cerah. Aku menemukan sahabat-sahabat baru, lebih akrab dan banyak dari sebelumnya, dan pada akhirnya semua akan baik adanya.
Suatu hari aku terbangun dengan mimpi akan kejadian itu, dan seketika aku sadar: kebahagiaanku, adalah milikku. Tak seorang pun boleh merampasnya dariku. Belajar dari pengalamanku yang lama, aku mulai berbaur dengan teman-teman baru, berkumpul dengan orang-orang yang mau menerimaku. Kini aku belajar untuk menjadi lebih mandiri dan menolak untuk terus-menerus bergantung pada orang lain. Aku makan ketika ingin, dan pulang ketika aku lelah. Tidak ada yang harus kutunggu karena solidaritas, tidak ada yang mengatur jadwalku karena hanya aku yang akan menentukannya sendiri. Seketika, hidup terasa lebih mudah. Aku yang dulu takut sendirian dan kesepian, aku yang sejak kecil takut dikasihani orang karena berjalan seorang diri, belajar untuk mencintai kesendirian. Sendiri akan membuatku tenang, memberiku lebih banyak waktu untuk berkomunikasi dengan teman-teman yang kutinggalkan di Indonesia. Sendiri, membuatku sadar bahwa ada banyak hal yang lebih penting daripada sekedar mempedulikan apa kata orang. Aku mulai menikmati waktu sendirian di dalam bus, memandangi pemandangan di luar jendela dalam duniaku sendiri. Wisata seorang diri memberiku kebebasan untuk menentukan arah jalanku. Makan apa yang ingin kumakan, ke toilet hanya saat aku ingin. Tidak ada orang lain yang perlu kupedulikan perasaannya.
Hari ini aku duduk seorang diri di lantai dua sebuah kedai kopi. Jendela besar membentang di hadapanku, memberiku kebebasan untuk memandang seluruh pelosok kota Taipei yang indah. Segelas kopi dan sepiring kue cantik terhidang di hadapanku. Pikiranku melayang jauh, memandang diriku bertahun-tahun yang lalu. Kara yang dulu tidak akan pernah mengira bahwa suatu hari di masa depan, ia akan belajar mencintai hidupnya dari sebuah pengalaman yang begitu pahit. Kara muda, tidak akan pernah tahu bahwa suatu hari, ia akan menikmati kesendiriannya di sebuah kota terasing nan jauh, sambil menuliskan kisah hidupnya. Ketika langit mulai berubah gelap, aku dapat melihat pantulan wajahku di kaca jendela, dan seketika aku sadar—aku tengah tersenyum.
Taipei bukan rumahku, tapi ia telah menyambutku dengan ramah, tulisku. Ia menjagaku di bawah gedung-gedung pencakar langitnya yang tinggi menjulang, tapi ia tidak membiarkanku tumbuh manja, ia membuatku belajar untuk menjaga diriku sendiri. Taipei bukan rumahku,
Tapi di sini, aku menjadi dewasa.

Perjalanan Hidupku Seorang Imigran Baru di Negeri Formosa

Lian / Perjalanan Hidupku Seorang Imigran Baru di Negeri Formosa / Brilliant Time / pengantin asing Tulisanku ini adalah curahan hatiku selama 15 tahun di Taiwan ini, sebuah pernikahan tanpa saling kenal siapa calon suamiku, keluarganya seperti apa dan tinggal dimana aku tidak tanyakan dulu. Ya itulah aku tidak tahu berapa besar resiko yang aku ambil tanpa kufikirkan … Continue reading “Perjalanan Hidupku Seorang Imigran Baru di Negeri Formosa”

Lian / Perjalanan Hidupku Seorang Imigran Baru di Negeri Formosa / Brilliant Time / pengantin asing
Tulisanku ini adalah curahan hatiku selama 15 tahun di Taiwan ini, sebuah pernikahan tanpa saling kenal siapa calon suamiku, keluarganya seperti apa dan tinggal dimana aku tidak tanyakan dulu. Ya itulah aku tidak tahu berapa besar resiko yang aku ambil tanpa kufikirkan masa depan dan nasib taruhanku.
Namaku Lian, dilahirkan 35 tahun yang lalu, dikota Pontianak dari keluarga sederhana, dibawah kakiku ada 5 orang adik yang masih kecil dan sekolah saat aku berangkat ke Taiwan.
Walaupun sudah 11 tahun berlalu ku tidak pulang ke Indonesia, tetapi hubungan keluargaku masih terjawab dengan saling kirim kabar berita lewat telepon. Masuk kedalam rumah aku baru tahu suamiku anak pertama di keluarga bermarga Lin, dengan kedua orang tua yang masih sehat-sehat, diatasnya ada satu kakak perempuan dan dibawahnya ada adik laki-laki, semuanya sudah menikah dan punya dua anak laki-laki, selisih umur kami 16 tahun.
Menikah di Taiwan dengan sebutan pengantin asing memang tidak mudah dan tidak enak didengar, itu yang aku alami selama ini. Banyak pandangan negatif dari keluarga suamiku, saudara maupun tetangga yang memandang sebelah mata bahwa pengantin asing adalah hasil dari pembelian, apalagi kalau saya tak punya pekerjaan diluar, bisa dibayangkan berapa banyak kata sindiran yang harus sabar aku terima setiap hari atau keluar rumah selalu dibilang “ni na me hau ming, chia lai Taiwan pu yong cou se”, yang artinya hidupmu enak tidak perlu bekerja. Itu bukan kata pujian buatmu tetapi itu sindiran buatmu yang seharusnya rajin dan pintar bisa bekerja cari uang seperti orang-orang Taiwan yang seharusnya.
Bukannya saya tidak mau bekerja, selama menikah tugasku selalu di rumah jaga anak-anak dan suami, kalaupun bisa keluar rumah juga harus bersama anak-anak dan suami. Sewaktu anakku lahir, orang rumah sudah berpesan anak yang sudah kamu lahirkan anak harus kamu jaga sendiri, orang tua sudah lanjut usia tidak boleh disuruh mengasuh anak sebentar pun juga. Dengan begitu kedua anakku besar ditanganku sendiri, tanpa ada bantuan dari siapapun juga, itulah keluarga kecilku dengan dua anak cukup laki-laki dan perempuan, dengan suami yang cinta keluarga.
Tahun 2002 saya melahirkan anak perempuan, dari situ saya baru paham anak perempuan tidak ada harganya kalau sudah besar nanti, setiap hari seperti makan hati dan keluar airmata sering mendengar orang rumah dan tetangga yang menjelek-jelekan nama anak perempuanmu sudah tidak ada nilainya. Setiap malam makan bersama keluarga sering ditekan terus batin ini untuk bisa melahirkan anak laki-laki lagi, orang rumah tidak pernah tahu, kalau melahirkan juga harus selalu dipaksakan berapa beban berat yang harus kami pikul dalam hubungan suami istri, rasanya seperti babi yang harus dipaksakan hamil dan melahirkan anak laki-laki.
Tahun 2007 selisih 5 tahun dengan anak pertamaku, kumelahirkan lagi anak kedua berjenis kelamin laki-laki, puji syukur pada Tuhan yang selalu mendengarkan doa-doaku. Waktu masih mengandung dimana kaki berjalan dan bertemu tempat sembayang seperti wihara atau gereja tidak pernah lupa saya berdoa semoga anak dalam kandunganku adalah laki-laki maka lengkap sudah keluarga kecilku. Saya tahu Tuhan cinta sekali dengan umatnya, setiap doa-doaku Tuhan mengabulkannya. Puji syukur yang sebesar-besarnya pada Tuhan yang maha Esa. Saya juga tidak berfikir banyak seandainya anak yang kulahirkan perempuan lagi, semuanya kuserahkan pada Tuhan. Masa-masa gunjingan dari orang sudah kulalui dengan berjalannya waktu, berapa banyak ketidak adilan sudah aku terima dengan pasrah dan tidak mau berdebat dengan orang lain dan keluarga, dengan begitu aku bisa merasakan kedamaian di hati.
Saya juga tidak menceritakan sedetil mungkin masalah yang saya hadapi sini dan mengadu kepada orang tua, hanya doa-doa yang sering diucapkan oleh mama papa setiap telepon pulang ke rumah, semoga kita keluarga sehat-sehat semua. Karna saya fikir mengadu masalah juga percuma, setiap masalah kita juga yang harus menyelesaikannya juga, lebih baik diam dan mencari jalan keluarnya. Aku harus kuat dan tabah menerima keadaan seperti ini serasa penjara hidup, mau melakukan apapun harus diam-diam bertanya juga tidak ada yang bisa menjawabmu.

Aku harus terima menikah dengan orang Taiwan adalah nasib pilihan hidupku. Aku harus berjuang agar bisa hidup lebih baik lagi dimata orang tuaku dan teman-temanku, jangan membuat orang lain menanggung beban masalahmu. Aku juga selalu bersyukur dimana sering bertemu masalah selalu ada penolong dalam hidup, teman-teman dan doa-doa dari orang tua tidak pernah berhenti diucapkan selalu, yaitulah hidupku lebih baik dari orang dan sudah cukup bagiku atas segala yang ada hari ini.

Sebelumnya pernah terkurung sendiri 10 tahun di dalam rumah dan fokus pada rumah tangga, aku kehilangan komunikasi dengan sesama teman dan keluarga, bahasa Indonesiaku pun sudah lama tak kuucapkan hampir hilang dan punah. Aku tidak ada kesempatan bisa bergaul dan berteman diluar, pernah dengar ada sekolah khusus pengantin asing, aku tidak punya kesempatan sampai hari ini pun. Aku tidak putus asa walaupun tidak bisa sekolah setidaknya dengan membeli buku-buku yang dijual dimana pun aku bertemu tentang bahasa selalu kubeli dan belajar sendiri, ada huruf kalimat yang tidak paham kutanyakan pada suami saat pulang kerja.
Waktu berjalan begitu cepat anakpun mulai tumbuh dewasa, yang besar sudah duduk dibangku SMP dan yang kecil duduk dikelas 3 SD. Tidak pernah ada kata kalimat yang bisa mematahkan semangatku, aku juga belajar dengan anak-anakku kemana pun kaki melangkah selalu jadi pertanyaan selalu anak-anak yang membantuku.

Pada tahun 2011 kurasakan sedikit kebebasan setelah anak-anakku sekolah. Dan setelah ada jaringan internet masuk disetiap handphone juga semakin canggih dan bisa berteman dengan dunia maya, teman yang tidak pernah kita tahu orangnya seperti apa ternyata membawa dampak positif bagiku, bisa berteman dan curahan hati dengan mereka. Berbagai info cara membunuh waktu yang kosong tentang sekolah untuk belajar bahasa masih kucari walaupun kecil kemungkinan, dan info-info lowongan pekerjaan dari teman-teman selalu kutanyakan.
Bersyukur kembali aku pada Tuhan, disetiap doa selalu ada jawabannya, bertemu teman yang membuka toko Indonesia iseng-iseng kutanyakan adakah pekerjaan buatku untuk part time ibu rumah tangga sepertiku. Iya aku diterima dengan senang hati dalam kantor yang menerima pengiriman uang teman-teman Indonesia, walaupun sedikit sekali pengetahuanku yang kelamaan di rumah, dari situ aku banyak belajar kembali apa itu bahasa Indonesia dan komputer, karna aku harus berkomunikasi dengan setiap bos toko Indonesia dan pelanggan yang juga orang Indonesia.
Pekerjaan ini kudapat tanpa sepengetahuan orang rumahku, jam anak masuk sekolah sudah ku antar sampai pintu gerbang aku kembali ke jalan pekerjaanku yang tidak jauh dari rumah dan sekolah, jam anak pulang sekolah aku sudah siap jemput pulang ke rumah, makan, mandi, periksa tugas sekolah dan seterusnya sampai hari ini. Keperluan suami dan anak-anak kuatur sangat rapi, saat anak sakit juga ke dokter, pekerjaan rumah sedikit banyak kukerjakan satu persatu, dengan bantuan anak-anakku.
Aku tidak pernah mengeluh dengan keputusan yang kubuat selama hidupku, hanya satu yang kuingat hidup ini jangan merugikan orang lain dan memberi beban yang harus mereka pikul. Saya juga berharap apa yang kulakukan bisa meringankan beban orang lain dan orang itu bisa senang dengan apa yang sudah kita lakukan. Hidup ini harus banyak bersyukur, Tuhan selalu ada dimana kita berada, doa-doa yang kita panjatkan Tuhan juga menjawabnya.
Keputusan yang kubuat tidaklah salah, apa yang kulakukan yakin sudah di atur Tuhan, masuk kedalam lingkungan pekerjaanku sedikit demi sedikit aku banyak teman dan kegiataan. Waktu liburku selain bersama keluarga jalan-jalan keluar kota, juga ikutan kegiatan sosial dan acara-acara yang sering diadakan pemerintahan Taiwan dan Indonesia. Setiap bulan selalu ada dengan acara yang berbeda-beda yang dapat diikuti oleh teman-teman tenaga kerja dan migran dari Indonesia, bahkan saya pernah ikutan melihat acara lomba nyanyi empat negara, lomba cerita dalam bahasa Taiwan dan mandarin.
Ikutan jadi tenaga suka rela yang diadakan teman-teman Taiwan dan Indonesia dalam perpustakaan berjalan di hall Taipei main station setiap hari minggu, membuat saya jadi banyak teman dan pengalaman yang tidak bisa ditulis dengan kata-kata, dan sering diwawancara oleh beberapa wartawan tertulis dan station televisi dari Taiwan.
Saya tidak pernah bosan lagi dirumah ada kegiatan luar yang bisa kulakukan apa saja agar hati ini tenang dan tidak terkurung dalam rumah lagi. Dan punya banyak ribuan teman yang sebelumnya hanya bertemu didunia maya, sekarang sudah bisa saling menyapa disetiap pertemuan acara. Saya merasa hidup ini sudah cukup bahagia, jalan kedepan harus lebih baik lagi untuk keluargaku di Taiwan dan Indonesia.
Masih ada satu doaku belum terwujud semoga bisa secepatnya berkumpul lagi dengan keluarga yang di Indonesia bertemu mama papa adik-adik dan teman-teman semuanya, setelah 11 tahun tidak pulang ketanah air. Semoga doa-doaku bisa dikabulkan oleh Tuhan, amin.

Dari: Lian

SEMANGAT NEGRI FORMOSA

TANTRI SAKHINA / SEMANGAT NEGRI FORMOSA / DWI TANTRI /  tenaga kerja asing Setiap mendengar kata TKW banyak orang yang selalu memandang dengan sebalah mata.Tapi tidak bagi ku ,TKW itu luar biasa dari dulu hingga sekarang. Kalau mau membahas kata TKW kopi satu cangkirpun bisa habis tak berbekas,karena keunikan dan liku-liku perjalanan TKW seiring deburan ombak di lautan … Continue reading “SEMANGAT NEGRI FORMOSA”

TANTRI SAKHINA / SEMANGAT NEGRI FORMOSA / DWI TANTRI /  tenaga kerja asing

Setiap mendengar kata TKW banyak orang yang selalu memandang dengan sebalah mata.Tapi tidak bagi ku ,TKW itu luar biasa dari dulu hingga sekarang.

Kalau mau membahas kata TKW kopi satu cangkirpun bisa habis tak berbekas,karena keunikan dan liku-liku perjalanan TKW seiring deburan ombak di lautan lepas.

Nama ku Ningrum,umurku sudah bisa dikatakan berkepala tiga,saya sering mendengar cerita-cerita buruknya tingkah laku TKW di negri sebrang,benarkah itu dalam benak hati ku berkata apakah memang mereka seperti itu karena pergaulan dan adat istiadat yang berbeda,di luar negri terkesan bebas .

Dari cerita yang aku dengar jadi timbul keinginan yang kuat untuk membuktikan,benarkan sudah separh itu ,kalau benar betapa mirisnya nadib anak bangsa yang mengais rejeki di luar negri.Dan aku[un memutuskan untuk mewujudkan keinginan ku dan juga bisa dikatakan cita-ciat .

Mendengan cita-cita ingin menjadi seorang TKW pasti yang mendengar pada heran,”wah sudah gila itu orang masak cita-cita ko jadi TKW aneh”
Bagi ku itu tidak aneh dan juga tidak gila,karena semua cita-cita itu mulai lo.

Singkat cerita akupun terbang juga ke Negara Taiwan itu yang aku tujuh karena aku dengar Taiwan lebih ramah dan bersahabat,dan karena pengalamanku tidak begitu banyak tentang Negri luar ya aku pilih aja negara yang bersahabat dan ramah konon katanya.

Setelah melalui penggodokkan di kawah candradimuka maksud saya PJTKI kenapa aku namakan kawah candradimuka ..habis guru-gurunya serem apalagi pegawai kantornya wauu sadisnya luar biasa,kalau sudah bentak kita,mereka seperti lihat kita bukan manusia yang pantas disayangi dan dihargai…..heemmm dalam hati akupun berguman sendiri melihat perlakuan mereka dengan para calon TKW.”Awas ya,aku kelak habis dari Taiwan pasti bisa sejajar dengan kalian,”batin ku geram.

Keesokan harinya akupun terbang ke negara tujuan.
Selam lima jam aku duduk di burung besi gaga perkasa,jantung ku tank henti-hentinya berdekat dan bibirku selalu membaca doa yang tak ada henti-hentinya,maklum baru pertama saya naik pesawat dengan tujuan bekerja ikut orang yang belum aku kenal kehidupannya dan adat istiadat di negri yang konon katanya bebas dalam pergaulan.

Tangis ini tak terhenti kala aku di tampung disebuah penampungan yang begitu tak terawat ,sebelum diantar ke majikan masing-masing,tidur hanya beralas tikar itupun tanpa bantal,untung ada tas baju yang bisa menganti posisi bantal untuk tidur sementara.

Lengkapa sudah penderitaan awal perjalanan ku sebagai seorang TKW,tapi tak apa demi mewujudkan keinginan yang terpendam ..sambil tersenyum aku meratapi nasib,:begini ternyata jadi TKW susah dan sedih juga “.

Hari yang ditunggu sampai juga,aku diantara ke rumah majikan,dimana tempat aku harus jalani kehidupan yang panjang tanpa bertemu sana sanak keluarga selama tiga tahun lamanya..

Hari demi hari kulalu tanpa kegiatan di luar rumah dan akupun juga ngk pernah libur,hanya melihat dan mendengar cerita-cerita dari teman-teman di sekitar apartemen majikan.

Kata mereka kalau libur mereka banyak kegiatan,ada pengajian,duduk-duduk di aula Taipei dan sebagainya.Hati inipun menangis kenapa aku tidak bisa seperti mereka yang bisa libur dan mermain ketemu teman,ya mau gimana lagi emang sudah nasib,aku harus terima.

Wau…..selesai juga masa kontrak ku dan aku siap-siap untuk pulang bertemu keluarga yang tercinta di tanah air.
Yang mengagetkan ku sebelum aku pulang ternyata Boss angensi ku menawari aku kerja di PJTKI di Indonesia dimana aku waktu itu dibenta dan di godong sebelum ke Taiwan,tanpa pikir panjang aku terima tawaran itu.

Dalam hati kesombongan ku keluar..
“Ha…ha…. ha ..bisa juga aku jadi pegawai kantor PJTKI itu wah bisa tunjukkan nih ssama orang yang dulu bentak aku,bahwa TKW benak orang yang selalu direndahkan seenak dia mau.

Tak usah aku ceritakan kehidupan ku waktu aku di Indonesia karena selama satu tahun di Indonesia akupun berniat ke Taiwan lagi untuk jadi TKW dan rencana ke dua ini saya ingin bisa libur dan bisa bantu teman-teman yang bermasalah, karena permasalah TKW sangat banyak dan banyak juga yang kelewat tidak bisa terpantau.

Kedatanganku yang ke dua kalinya ini saya ditepamtkan di daerah Keelung dimana daerah itu sejuk dan indah dengan pemandangan lautnya.

Setelah mengenal Keelung beberapa bualan , wauuuuuu……ternyata ngeri juga, banyak pemandangan tanpa aku sengaja melihat ,banyak anak-anak bangsa yang bekerja sebagai Anak buah kapal atau yang terkenal ABK,pada suka mabok-mabokan dan sampai berantem.
Waktu itu aku sudah lupa kapan kejadiannya di depan 7 eleven mereka berkelahi bahkan ada yang bawa senjata tajam,tanpa pikir panjang akupun lari ketakutan.
Sampai dirumah akupun minum segelas air untuk menenangkan ketakutanku akan peristiwa yang aku lihat.
Setelah tenang akupun duduk terdiam sambil merenung kan kejadian itu.Dalam hati aku berkata,”kalau seperti itu saya harus bisa bantu mereka untuk beri wawasan agar ngk terulang lagi kejadian seperti itu,”tapi mungkinkah?

Lelah diri ini dan kurebahkan tubuhku diatas tempat tidur yang sederhana dan penuh buku-buku di samping ranjang sebagai teman tidurku,tanpa baca buku mata ini sulit untuk terpejam.

Tantri…….suara akong mengagetkan aku dari mimpi ,aku lekas-lekas berajak bangun dan lari ke kamar mandi .
Jampun menujukkan pukul 08.00 pagi waktunya aku berutinitas,tak terasa jam 1 siang waktu ku istirahat.

Tanpa pikir panjang akupun ijin keluar ke toko Indonesi dengan tujunan mencari Pimpinan Abk daerah Keelung yang kebetulan saya sdh dapat infor masih no ponsel dan nama dia,akupun tel dan janjian untuk ketemu dan saya urakaian tujuan ku ingin bertemu dia.

Hello…..mas Ato ya. dari sebrang iya menjawa iya saya ato, ini siapa ya? “aku Ningrum mas, saya ingin bertemu mas Ato karena saya ini buat suatu perubahan agar ABK tidak berkelahi anata teman sebangsa,
Diapun menjawab seperti ada tanda tanya,”emang mbak berani berjuang untuk perubahan ABK,”sepontan aku jawab “berani”dia pun berkata singkat tanda diakhriinya pembicaraan ponsel kami ‘ok”tunggu saya balik ke pelabuhan wanli,nanti saya hubungi mbak. setelah salam ponselpun di tutup ..

Wau, kelihatannya menakutkan sekali ini orang dari suaranyan,akupun berguman dalam hati “hem, sapa takut, setela itu akupun pulang kerumah dengan harapan secepatnya dia Ato maksud saya untuk segera hubungi saya dan atur startegi mulainya paguyuban untuk para ABK.

Waktu demi waktu berlalu yang ditungu-tunggupun nongol juga,kami ketemuan di toko indo dan kami bicarakan semua,walau sudah tahu ceritanya saya tetap tak gentar,tekat ku sudah bulat untuk masuk jadi bagian para Abk yang terkenal sebagai sosok laki-laki yang keras’kasar dan kadang juga ada yang sedikit arokgan.

Dari waktu kewaktu ku lalui akupun pergi dari pelabuhan satu ke pelabuhan yang lain untuk menyatukan mereka,dan memeberi wawasan agar mereka tidak berkelahi antar teman sebangsa.
Kebetulan juga aku diangkat ajadi SATGAS KDEI (satuan tugas Kantor Dagang Ekonomi Indonesia) untuk membantu teman-teman TKI yang bermasalah di di Taiwan daerah Keelung khususnya.Jadi sedikit bisa membantu mempermudah jalan saya menuju teman-teman ABK.

Ahkirnya perjuanganku yang panjang membuahkan hasil yang menyenangkan,semakin lama semaki membaik di Keelungpun sudah mulai berkulang perkelahian walau ngk mutlak dan Polis Keelungpun bilang ke saya sekarang Keelung sudah agak berubah jadi tenang tidak seperti dulu yang setiap musim libur abk selalu berkelahi,akupun tersenyum mendengar pembicaraan polisi.

Aku dan para ABK sydah akrap dan mereka memanggilku ku juga dengan sebutan khas anatara anak dan seorang ibu,panggilan ku “Bunda” itulah gelar yang diberikan mereka kepada ku,seneng juga kalau sudah mendengar sapaan itu.

Malampun tiba lama aku tidak pergi tengok anak-anak ABK,akupun berniat chat sama salah satu dari mereka, tidak di sangka malah ada chat yang sudah masuk.

Bunda….”kapan ke pelabuhan kami kangen lo sama crewetnya bunda,”isi chat fb yang dikirim ke aku.”
Dengan senyum kubalas chat itu sambil bercanda,”ngak ah..wong kalian kangen sama crewet bunda. Lo ko gitu bun…bukan gitu maksud saya ,kami kangen lama tidak lihat bunda,makan bersama dikapal dan nasehat bunda sambil marah-marah itu lo?hehehe…sambil tertawa dia mengahkiri tulisan chatnya. “Iya …iya besok bunda kesana “, janji saya kepada mereka dan sambil salam tanda mengahkiri chat itu.

Ke esokan harinya akupun tepati janji tuk berkunjung ke pelabuhan,taxi membawa ku ke arah tujuan yang aku tujuh,sampai disana ku lihat hidangan gorengan ikan layur yang jadi makanan favorit ku dan makanan lain siap di santap yang mengelitik perut ku.

Kamipun ramai-ramai menyantapnya tanpa ampun,sambil bercanda dan tertawa tak ketinggalan ada aja ABK yang kena semprot ku,karena aku lihat dia di toko Indonesia mabok,jewerpun menyertai gerakan tanganku.Tapi dasar anak-anak dijewerpun dia hanya meringis dan bilang ampun-ampun.Itulah yang membuat ku nyaman di tengah-tengah mereka semua.

Tak terasa malam merambat dan waktu ku pulang sudah berisyarat,akupun berpamitan untuk pulang dan tak lupa beri mereka pesan agar bisa jaga diri dan hati-hati dalam bekerja dan tetap jaga nama baik bangsa dan negara,dengan kelincahan gerangak tangan ku,yamg kemarin aku lihat mabok-mabokan kena jewer juga pertanda kalau saya ngk setuju denga cara mereka mabok.Dengan melambaikan tangan akupun meninggalkan mereka di redupnya malan di iringi deburan ombak laut pelabuhan wanli.
Karena aku sekarang tidak jaga ABK saja tapi juga harus jaga teman-teman baik dari sektor pabrik atau PLRT.

Lelah ini sangat menusuk tulang belulang, akupun merebahkan tubuhku dan menghela nafas panjang,matapun mulai meredup dan ingin terpejam,tapi dari atas meja yang tak jau dari tempat tidurku suara ponsel berbunyi,pertanda ada panggilan masuk,dalan hati berkata sudah selarut ini siapa ya yang telp/, tanpa pikir panjang lagi ku ambil juga ponsel itu dan ku terima panggilan masuk.
Hallo…”selamat malam ,apakan ini bunda Tantri? iya saya bunda Tantri, bisa saya bantu?
Tapi terasa suara itu sangat ketakutan dan sambil terdengan isakan tangis lirih.
Malam bunda ,bunda tolong,saya dalam kesulitanan ,majikan mau pukul saya bun tolong saya! iya iya kamu tenang ya kamu bicara yang jelas masalahnya biar bunda juga bisa kasih arahan ke kamu ?
Bun… saya sekarang lagi sembunyi di sembahyangan orang Taiwan karena saya mereasa nyawa saya terancam,majikan lempar saya dengan asbak untung tidak kena dan saya bisa melarikan diri, ini majikan mengikuti saya jadi saya ngk bisa keluar dari persembunyian.suara itu aku dengan tersendat-sendat karena menahan tangis,ok..ok sekarang gini ,kalau kamu sudah tidak melihat majikan ,kamu cepat lari ke kantor polisi untuk mencari perlindungan bisakan, ayo semangat bunda akan pandu kamu samapi ke kantor polisi via telp …semangat ya …kondisikan hp tetap aktif jangan terima telp dulu kecuali dari no ponsel bnda sampai di kantor polisi paham ? iya bun..

Setelah itu akupuntidak bisa tidur dan tetap harus pandangi ponselku yang ada di genggaman,aku tidak ingin terjadi apa-apa sama anak itu karena aku tidak menerima telpnya.

Waktu yang aku tiunggu sampai juga ,ponselku berdering dengan kecepatan yang super cepat ku terima panggilan itu, Hallo…”gimana ndok”karena saya sdh save no itu jadi mudah untuk mengenalinya,”bunda saya sudah sampai kantor polisi tapi saya tidak biasa bicara”, ya sudah berikan hp kamu ke pak polisi biar bunda berbicara.

Ternyata grogi campur khawatir juga aku sama ianak itu .jantung ku berdebar karena lihat nasib anak yang separoh baya yang harusnya masih mengecam bagaimana indahnya dunia remaja tapi dia sudah harus menjadi tulang punggung keluarga dan setelah disini dapat masalah lagi,air mata ku jatuh tak terbendung .

Aku mencoba bicara dengan Polisi Taiwan itu dan memohon untuk melindungi tkw itu untuk sementara dan selama agensi belum menjemput dia dan saya mohon dengan polisi aga jangan hubungi majikan sebelum agensi tkw itu datang,Alhamdulialh Polisi itu menyetujui.

Agensi aku hubungi untuk segera jemput TKW yang sekarang ada di kantor polisi,karena majikan melempar dengan asbak,Agensipun ok pertanga dia akan segera jemput TKW.

Selang beberapa jam kemudian ponselku berbunyi lagi dengan no yang tak ku kenal, dan aku terima Hello benar ini ibu Tantri/ iya saya sendir ada apa ya/,gini bu kami hanya mau menyampaika TKW yang di kantor polisi sudah bersama saya,.sebelu aku bilang iya akupun ajukan pertanyaan.,”anda siapa /agensi TKW itu ya/ iya bu ..ok kalau begitu ..maaf nama anada siapa dari agensi mana no hp anada berapa serta no telp kanttor agensi tolong sebutkan besok saya mau kroscek telp lagi? “iya bu ..setelah bla bla disebutkan semua akupun bisa tenang.

Karena agensi sudah menjemput TKW itu secara otomatis tugas ku malam ini selesai,tinggal besok pagi telp ulang ke agensi bagaimana untuk kelanjutan kasus semalam.

Mata kupun tak bisa bersahabat,lelahpun sudah mengoyak-ngoyak tubuhku karena memohon untuk segera berbaring,tak tahan juga diri ini menaha letih dan akupun terlelap juga dalam tidur malam ku.

Kehidupan kadang tak semudah dan seindah bayangan,tapi apapun itu kita tetap harus menjalani dengan penuh ke ihklasan.Dengan begitu kita akan bisa merasakan indahnya hidup dan nikmatnya pemberian Tuhan Yang Maha Esa kepada kita.

Pagipun cerah aku melangkah ringan dengan segala beban yang aku pikul setiap hari, suka ,duka semua aku lalui karena selain sebagai TKW aku juga harus melaksanakan amanah yang di berikan oleh KDEI sebagai Satagas.

Keelung, 2016 05 26

Keberhasilak Butuh Kesabaran

atin / Keberhasilak Butuh Kesabaran / tidak ada / tenaga kerja asing Kami tinggal di suatu desa yang tidak punya pekerjaan tetap,kami sudah di karuniai dua orang anak cewek cowok.Berawal dari faktor ekonomi dan banyaknya hutang dengan penuh kesabaran aku merayu suami sampai tiga tahun lebih untuk Meminta ijin kerja keluar luar negeri.alhamdulillah akirnya suami mengijinkan aku kerja … Continue reading “Keberhasilak Butuh Kesabaran”

atin / Keberhasilak Butuh Kesabaran / tidak ada / tenaga kerja asing

Kami tinggal di suatu desa yang tidak punya pekerjaan tetap,kami sudah di karuniai dua orang anak cewek cowok.Berawal dari faktor ekonomi dan banyaknya hutang dengan penuh kesabaran aku merayu suami sampai tiga tahun lebih untuk Meminta ijin kerja keluar luar negeri.alhamdulillah akirnya suami mengijinkan aku kerja jadi tkw,negeri formosalah negara tujuanku.Dengan penuh lika liku aku belajar di pt sampai empat bulan lebih akirnya aku bisa terbang ke taiwan.Berat rasanya kaki mau melangkah,rasa senang sedih jadi satu.Senangnya sudah bisa terbang ke taiwan,sedihnya harus berpisah dengan keluarga meninggalkan anak anak ku yang masih kecil.suamiku hanya diam tanpa kata.Tanggal 18-08-2010 pertama kali kakiku menginjak bumi formosa,negara yang begitu asing bagiku.Hanya berbekal tekad dan niat yang kuat demi masa depan anak anak ku ,karena bahasa mandarin aku juga masih blepotan.Setelah selesai medical dan lain lain aku di anter ke kantor egensi untuk tanda tangan perjanjian kerja,rasanya sudah tak sabar pengen cepat sampai di tempat kerja.akirnya jam 14.00 egensi membawa saya kesuatu tempat ,sampai di situ aku di sambut dengan baik,tapi aneh nya aku tidak melihat ama ,karena di perjanjian kerja job saya jaga ama.Tak lama kemudian datanglah seorang laki laki muda ,egen bilang inilah majikanku ,setelah selesai tanda tangan perjanjian dengan laopan egen bilang saya mau di bawa ke sincu karena ama tinggal di sincu.Hari semakin gelap ,perjalanan satu jam lebih belum juga sampai rumah ama,aku semakin penasaran mau di bawa kemana aku ini,tak lama kemudian berhentilah mobil laopan dan naiklah seorang ibu muda ikut bersama kami,ternyata dia kakak perempuan laopan.Jam 20.15 saya di sebuah rumah yang gelap gulita tanpa seorang pun ,hanya se ekor anjing besar.Hatiku semakin penasaran mau di suruh kerja Apa ini.tak lama kemudian majikan masuk rumah dengan mengandeng ama yang masih sehat,ternyata ama maen kerumah tetangga.kami hanya tinggal berdua dengan ama,tapi ama cuci darah setiap hari senin,rabu,jum at.ama agak pikun,alhamdulillah majikan semua baik,saya juga di ijinkan pakek hp.sampai satu minggu aku bersih bersih belum selesai,setiap hari saya melihat uang di mana mana,sengaja aku kumpulkan lalu saya kasihkan majikan ,aku takut itu uang Majikan sengaja mau menguji kejujuranku,ternyata bukan itu semua uang ama ,dia tidak tahu.Ama mempunyai lima orang anak,dua laki laki tiga perempuan,mereka semua kerja seminggu sekali datangnya.Lama kelamaan keluarlah sifat asli ama,suatu malam jam 00.30 ama bangun langsung marah marah katanya nyuri uang ama 4800nt,setiap hari aku di tuduh nyuri telur,ayam dan lain lain.sampai pagi ama tidak tidur marah marah terus, aku mencari uang ama dimana mana gak ketemu ,pas jam 7.00. Aku buka tas ama ternyata uang ama ada didalam tas ,lalu aku kasih ama saya suruh dia ambil sendiri di dalam tas,bukanya ucapan terima kasih yang aku dengar,tetapi malah omelan yang aku dapat,kata nya aku sengaja memindahkan uang ama ke dalam tas.pas jam 8.15 aku di ajak ama ke kantor polisi, sebelum berangkat aku minta ijin ke kamar mandi mau kencing ,padahal aku telepon majikan apa yang sedang terjadi,setelah sampai di depan kantor polisi tiba” hp ama bunyi ,laopan telepon ama nyuruh pulang ,akirnya ama tidak jadi lapor polisi,sambil berjalan pulang ama ngomel” terus.sampai jam 12 siang q pun tidak boleh masak juga tidak boleh makan apa” sedangkan ama minum susu.alhamdulillah semua majikan percaya sama saya .Jam 5sore aku di usir ama tidak boleh masuk rumah ,pintupun di kunci ,haus lapar capek ngantuk sedih jadi satu,jadi teringat anak anak ku.tak tahan air mata ku .aku duduk di pinggir jalan .alhamdulillah di dekat rumah ama ada pembantu dari indo juga.akirnya aku di kasih makan minum ,dan di pinjemin uang untuk beli pulsa.aku telepon majikan jam 18.20 datanglah majikan ,marahin ama dan akupun akirnya di ajak masuk rumah.laopan dan ama bertengkar hebat sampai laopan di usir juga sama ama.majikan nasehatin aku kamu harus sabar karena ama sakit .jadi luan seng ci.aku berusaha sabar dan kuat.walau dengan sembunyi” alhamdulillah aku bisa solat.hari hariku penuh dengan caci makian dari ama ,tak jarang juga aku tidur di teras rumah.pernah juga jam 2 malam aku di usir sambil bawa pakaian duduk di perempatan jalan.aku berusaha iklas menjalani semua.tak lepas dari istifar .akupun tidak berani telepon rumah atau majikan karena aku pikir tengah malam tak ada gunanya juga.sampai pagitaku di luar pas jam 6 pagi aku telepon egen minta pindah majikan.tetapi usahaku tidak berhasil,karena egesi lapor majikan dan majikan tidak mengijinkan saya pindah .dia bilang itu penyakit ama aku harus sabar.Karena majikan semua baik dan percaya sama saya ,gajipun juga lancar.,akirnya aku putuskan untuk tetap bertahan.teman teman juga baik semua.Kulalui hari” ku dengan penuh kesabaran dan keiklasan.setelah aku kerja 6 bulan dapat kabar dari rumah katanya suamiku menghabiskan uang yang aku kirim untuk bayar hutang tidak di bayarkan.ingin rasanya menjerit sekuat kuatnya tapi aku hanya bisa menahan semua itu.aku pasrah mungkin semua karena AllOh swt sayang sama saya.ama pun semakin parah crewetnya.tiada hari tanpa marah.saya yakin semua akan berakir indah jika aku bisa sabar dan iklas,dan aku yakin AlLoh tidak akan menGuji Di luar kemampuan hamba”nya.Waktu berjalan begitu cepat aku Sudah kerja satu tahun lebih.Suatu hari aku di suRuh bersih” rumah anaknya ama yang perempuan karena tidak jauh darI rumah ama .aku pergi sendiri ama Sendiri di rumah.kerja juga beLum ada 15 meniT ,ada telepon darI tetangganya aMa katanya ama Terpeleset di depan rumah,aku langsung lari pulang.sampai rumah Sudah banyak orang meNoLong ama.mereka marahin saYa katanya saya Luan bao meiyO hao hao cauku ama..setelah majikan datang langsung telepon 119 Dan ama di bawa kerumah sakit,tangan ama ternyata retak terpaksa harus di giv.aKirnya ama tidak bisa gerak jadi semua aku yang urus mandi makan Ama.Dengan penuh kesabAraN aku meraWat ama Dia pun sudah tidak marah” lagi.alhamdulillah 4 bulan tangan ama sudah sembuh,aku pikIr dia terus baik padaku tidak tahunya kambuh lagi sifat asLinya.Lama kelamaan aku cari cara bagaiMana ngadepin ini orang?akirnya ketemu juga ,aku minta kunci rumah sama majikan,jadi setiap ama ngusir aku, aku sembunyi di rumah tetangga,lewat pintu jendela aku ngintip ama sudah tidur atau belum,kalau ama sudah tidur aku pelan” masuk rumah dan sembunyi di kamar depan pintu aku kunci,lampu aku mati in semua.dan setiap ama marah” aku cuma diam beribu kata tak ada satu katapun yang aku jawab.begitu aku jalani hari hariku.Kerja sudah dua tahuN lebih dapat kabAr lagi dari rumah bapak ku sakit ,karena mikiriN ulaH suami yang semakin menjadi jadi ,katanya ada pihak bank mau menyita tanah orang tuaku karena suamiKu pinjam uang ke bank. Pakai sertifikat tanah oraNg Tuaku.Coba an terus silih berganti,aku hampir salah pergaulan,karena semua beban yang aku alami.alhamdulillah di AllOh masih sayang Sama saya ,dipertemukanlah aku dengan temen satu pt dia alIm rajin soLat.dan akuPun di perkenalkan dengan salah satu majelis taklim on air yan ada di taiwan ,aku diajak ngaji,setiap ada waktu luang .subhanalloh walau hanya lewat udara dan sambil bekerja kami bisa menuntut ilmu,banyak teman walau hanya lewat telepon.Aku semakin tegaR menghadapi hari hariku.tidak terasa waktu berjalan begitu cepat akirnya saya sudah mau finis kontrak ,majikan semua memohon kepada saya untuk kembali lagi jaga ama.waktu tinggal 40 hari alhamdulillah semua proses berjalan lancar ,semua biaya direct hiring dan tiket pulang pergi semua majikan yang bayar bahkan gaji saya juga di tambah .Puji Syukus selalu saya panjatkan alhamdulillah iNi semua berkat kesabaraN dan KeiklasaN saya. Saya di kasih cUti satu bulan.Rasanya sudah tak tahan pingin cepat ketemu anak anak ku dan keluarga .Begitu keluar dari bandara aku tengok kanan kiri mencari keluarga yang menjemputku tak lama kemudian aku dengar tiriakan ibu itu ibu mas anakku yaNg cewek kupeluk kucium anak anak ku yang sudah tumbuh besar dan berpakaian acak acak an .tak tahan aku menahan air mataku aku peluk mereka erat” tanpa menghiraukan barang” ku.Kamipun langsung puLang jam 5 pagi kami saMpai di rumah ,aku langsung mencari ibuku yang semakiN tua.Aku peluk cium juga dia .Senang rasanya kumpul dengan keluarga melepas rindu yang sekian laMa .waktu aku pulang Bertepatan hari raya idul fitri .SeTelah di rumah 2 minggu datangLah 2 orang tamu pereMpuan dengan berpakaian rapi ,ternyata mereka pegawai bank mau menagih hutang ke suamiku.Aku hanya diam tak mau berkata apa”.Aku gunakan waktu cUtiku dengan Anak”.1 bulan waktu begitu cepatnya belum puas melepas rindu dengan keluarga terpaksa aku harus berangkat lagi walau dengan berat hati .anak” ku orang tua dan tetangga semua menangis. Tanggal 28-08-2013 aku menginjakan kaki ku yang ke 2 di bumi formosa .Setelah medical dan membuat arc aku langsung pulang kerumah ama di sincu.Mulai lagilah saya berjuang sebagai pahlawan devisa .Di kontrak yang ke 2 Ini ama sering keluar masuk rumah sakit.Hari” ku juga masih seperti dulu .ama semakin hari semakin parah dia sudah mulai memukul, mencubit ,nendang bahkan ngludahin aku apalagi kebiasaan ngusirnya semakin menjadi.aku tak menghiraukan semua itu karena aku tahu itu penyakit nya.waktu terus berjalan hanya kesabaran ,keiklasan dan penuh dengan kenyakinan semua akan berakir dengan keindahan dan kesuksesan.Alhamdulillah suamiku Akirnya juga sembuh dari Perbuatan buruknya,anak” juga Sudah tumbuh dewasa,majikan semua semakin Baik semakin sayang sama saya,mereka tak pernah membedakan antara pembantu dan majikan saya sudah di anggap keluarganya sendiri,hanya ama saja yang semakin menjadi jadi .tapi itu semua aku anggap biasa karena mungkin sudah terbiasa malahan kalau ama tidak marah rasanya bagaikan sayur tanpa garam .KesabAraN yang iklas pasti akaN berakir dengan keindahan !!