Siapakah Khimar?

Erma / Siapakah Khimar? / Tidak ada / tenaga kerja asing Aku tiba di Taiwan tahun 2014 lalu. Ini adalah kontrak pertamaku. Baju yang kubawa tak banyak. Hanya beberapa kaos favorit, celana pensil, dan obat-obatan. Saat itu rambutku sangat pendek. Banyak yang mengira bahwa aku adalah laki-laki. Tak sedikit pula yang memanggilku dengan sebutan ‘Mas’. “Kerja di pabrik … Continue reading “Siapakah Khimar?”

Erma / Siapakah Khimar? / Tidak ada / tenaga kerja asing

Aku tiba di Taiwan tahun 2014 lalu. Ini adalah kontrak pertamaku. Baju yang kubawa tak banyak. Hanya beberapa kaos favorit, celana pensil, dan obat-obatan. Saat itu rambutku sangat pendek. Banyak yang mengira bahwa aku adalah laki-laki. Tak sedikit pula yang memanggilku dengan sebutan ‘Mas’.

“Kerja di pabrik mana, Mas? Ganteng-ganteng kayak gini kok mau sih jadi kuli di negara orang?” tanyanya. Kita bertemu setelah turun dari pesawat. Dan alangkah terkejutnya pria itu ketika mendengar suaraku.

“Maaf, saya perempuan.” jawabku supaya ia tak menganggapku laki-laki.
“Ha? Perempuan toh! Maaf, Mbak.” ucapnya. Lantas kami pun berpisah untuk meneruskan perjalanan masing-masing.

Aku mendapat job di daerah Hualien, Taiwan bagian timur. Menjaga kakek yang masih sehat adalah rejeki dan jodoh. Aku merasa klop banget dengan mereka. Kita hampir mempunyai kesamaan. Nyonya Ye Su Lan memiliki rambut pendek dan postur tubuhnya tinggi sepertiku. Sedangkan kakek adalah pensiunan guru SMA yang sangat menyukai dunia tulis menulis atau literasi. Sama, aku juga suka menulis. Bercerita tentang dunia dan khayalku.

Satu bulan, aku sudah memiliki teman sekufu. Namun aku tak pandai bersolek seperti mereka. Rupaku yang menyerupai kulit sawo matang tanpa taburan kosmetik ini, sering kali dijadikan bahan ledekan. Mereka bilang, jika aku tak merias diri akan terlihat tampan dan apabila terpoles sedikit bedak, pasti cantik menawan. Hahaha, lucu juga mereka.

Di rumah tingkat dua ini, ada sesuatu yang membuatku terpesona. Kak Lee Reen, dia anak kedua nyonya. Tampan, tinggi, putih, dan berhidung mancung. Baju-bajunya sungguh kece badai. Hari ini ia memakai kaos hitam bergaris putih dilengkapi tulisan mandirin di bagian punggung. Wuih, sungguh keren. Aku jatuh cinta!

Inginku segera bertanya, dimanakah ia membeli kaos itu? Ah, tapi hari ini aku tidak punya banyak waktu. Kakek memintaku untuk menemaninya pergi ke taman. Baiklah, nanti malam aku akan berbicara padanya.

Di sepanjang jalan, aku melihat sebuah distro yang menjual pakaian pria. Wuih, hatiku kembali bergetar tak karuan. Rupanya aku benar-benar kasmaran. Kakiku memaksa untuk kesana, namun tanganku dipegang kakek untuk terus menuntunnya menuju taman.

Jalan-jalan sore seperti ini ternyata menyenangkan juga. Banyak anak Indonesia yang kujumpai. Sering kita saling bertegur sapa menanyakan kabar, bertukar cerita, bahkan bagi-bagi makanan. Kebanyakan dari mereka mendapat job menjaga nenek yang sudah lumpuh. Aku salut, mereka bekerja dengan semangat dan tak mengeluh. Terkadang aku malu dengan diriku sendiri. Pekerjaanku tak begitu berat, namun aku sering tak bersyukur.

Usai mengobrol dengan kawan-kawanku, kakek mengajak duduk di kursi dekat lapangan sepak bola.

“Wati, apa kau tahu mengapa sore ini aku ingin kesini?” tanya Kakek.
“Tidak, Kek. Memangnya kenapa?” ucapku.
“Disini banyak anak sekolah yang bermain sepak bola dan basket. Aku rindu murid-muridku.” jawabnya.

Ah, jangan dianggap serius perasaan kakek. Aku selalu siap kok menjadi muridnya. Apa yang ia kerjakan di pagi hari selalu kuikuti. Senam ala orang Cina, jurus tonjok menonjok, serta berdiri dengan satu kaki. Di rumah pun aku tetap menjadi seorang murid. Lansia berumur 96 tahun itu juga mengajariku menulis mandarin dan cara membaca. Jadi kupikir, kakek tidak akan sampai galau berkelanjutan akibat rindu dengan anak didiknya.

Lama menikmati suasana sore hari, kakek mengajak pulang. Dengan kilat aku beranjak dari kursi lalu meninggalkan taman. Mataku kembali genit melihat sesutu yang dari tadi membuatku jatuh cinta. Kuajak kakek berjalan pelan. Distro itu sungguh menarik perhatian.

“Heeemmmm, keren!” gumamku.
“Kau kenapa, Wati? Matamu sejak tadi berkeliaran menyapu seluruh isi toko baju itu.” ucap Kakek.
“Hehehe, kau memperhatikanku ya, Kek?” jawabku terkekeh.
“Jangan tergoda dengan nikmat dunia.” pungkasnya.

Jlep!
Ucapan kakek seperti peluru yang menghujam jantungku. Garam asam yang kumakan memang belum seberapa dibanding pengalaman hidupnya. Mungkin benar kata kakek, aku tak boleh terlena. Apalagi hanya karena fashion yang tak ada matinya. Mau sampai kapan aku seperti ini? Tapi jika kutinggalkan, aku takut kehilangan kawan-kawanku. Mereka sangat modis dan mengikuti trend. Aku tak mau dijauhi karena penampilan yang udik, norak, dan kampungan.

Sampai rumah, aku menyiapkan air hangat di bak mandi untuk kakek. Ia masih sehat dan bisa mandi sendiri. Setelah itu, kubantu nyonya memasak untuk makan malam.

“Wati, kesini sebentar!” tiba-tiba Kak Lee Reen memanggilku dari lantai dua. Aku bergegas meluncur dan menghadapnya.

“Ada apa, Kak?” tanyaku.
“Aku punya teman kuliah asal Indonesia. Ia banyak bercerita tentang ibadah kalian.” terangnya.
“Lalu?” tanyaku.
“Apa menurutmu tak ada yang salah dengan dirimu?” ia kembali bertanya.
“Maksudmu apa? Tak ada yang salah dengan diriku. Aku sudah bersyukur kalian memberiku waktu untuk beribadah sesuai agamaku.” jawabku.
“Apa kau tak ingin merubah penampilanmu? Jangan tergoda oleh nikmat dunia!” pungkasnya dan pergi menuju ke ruang makan.

Memangnya apa yang salah dengan diriku? Aku tak pernah macam-macam, penampilanku juga wajar. Hari ini sudah dua orang yang menyentil godaan dunia. Tapi aku sama sekali tidak peka.

Makan malam telah siap. Aku duduk di samping kakek dan nyonya menikmati mie kuah rasa sapi serta sayur bayam sebagai pelengkap. Oh iya, mungkin ini saat yang tepat untuk menyatakan sesuatu pada kakak.

“Kak, aku mau ngomong.” kataku.
“Apa? Katakan!” jawabnya.
“Aku suka sama kaos yang kau pakai tadi pagi. Belinya dimana?” tanyaku.
“Kau ini tanya apa? Teman kuliahku selalu berbicara tentang khimar padaku. Tapi mengapa engkau berbeda, Wati!” tanyanya sedikit heran.
“Khimar? Siapa dia? Apa hubungannya denganku!” ucapku tak paham.

Ia diam tak melanjutkan pembahasan. Usai makan, aku langsung mencuci mangkuk lalu mandi. Masih ada sisa dua jam untuk mengantarkan waktu pada pukul sembilan malam. Kak Lee Reen terlihat sibuk dengan tugas kuliahnya, kakek dan nyonya menonton tv, aku sendiri bingung mau ngapain.

Oh, aku tahu. Kupikir tak ada salahnya jika aku bertanya pada nyonya dimana kakak membeli baju itu.

“Nyonya, baju yang dipakai Kak Lee Reen belinya dimana?” tanyaku.
“Apa yang membuatmu terus menanyakan hal itu, Wati? Apa kau selalu tergoda jika melihat pakaian pria yang menurutmu keren?” tanya Nyonya.
“Iya. Aku selalu jatuh cinta dan terobsesi untuk memilikinya. Apa itu salah?” aku kembali bertanya.
“Jangan tergoda dengan nikmat dunia!” pungkas Nyonya.

Jlep! Kalimat itu lagi. Aku heran, kenapa ya mereka selalu memberi jawaban serupa? Padahal baju yang kuinginkan sangat sopan, keren, dan modis. Tapi mengapa mereka seakan tak mengijinkanku untuk mendapatkannya?

“Sudah-sudah, waktunya tidur. Wati, jangan lupa kunci pintu gerbang!” perintah Nyonya.
“Baik.” segera kulaksanakan tugas terakhirku hari ini dan langsung istirahat.

***

Hari terus berlanjut. Musim-musim pun ikut berganti. Kegiatanku yang tidak begitu padat membuatku cepat merasa bosan, apalagi musim dingin seperti ini. Aku ingin libur seperti teman-temanku, tapi aku terkurung. Aku tak bisa menjelajahi Taiwan. Seperti apa eloknya? Bagaimana rasanya menikmati hujan salju di Yang Ming Shan? Sakit kah? Menyenangkan kah? Dingin kah? Aku tak tahu itu semua.

Tapi tak apalah, hari ini aku akan bermain salju di dalam kulkas. Membersihkan freezeer dari bunga es yg membeku. Ya, disana aku akan memperoleh gumpalan es yang unik, lalu kutaruh diatas telapak tangan.Terakhir, selfie bersamanya dan kusimpan dalam ponselku. Nanti jika sudah ada waktu luang, aku pasti mempostingnya di dinding facebook dan kububuhi caption tentunya.

“Hei kawan, lihatlah! Aku juga menemukan segumpal salju dari daerahku. Ya, inilah kembang es dari freezeer kulkas milik majikanku. Hahaha!” seperti itu kira-kira. Memang konyol, tapi itulah aku. Dengan begitu, hatiku sudah merasa senang dan kembali bersemangat untuk bekerja.

Suatu hari, aku diberi baju bekas oleh nyonya. Masih terlihat bagus dan aku suka. Hem kotak-kotak berwana merah dan hitam, serta beberapa helai kaos. Kalian tahu tidak, baju itu pernah dipakai siapa? Ya, siapa lagi kalau bukan si kakak. Nyonya mempunyai dua anak laki-laki. Keduanya memiliki sifat yang berbeda. Tapi kalau masalah pakaian, jangan ditanya lagi. Selera mereka sama, apalagi kedatangan aku. Wuih, kita sudah seperti tiga serangkai. Klop lah!

Meski begitu, aku tahu takaranku. Batasan-batasan seorang pembantu dengan majikan serta keluarganya tak pernah kulupakan. Aku bekerja juga tidak seenak jidatku sendiri.

Tepat pada hari minggu yang lalu, nyonya menyuruhku potong rambut. Tapi diisisi lain, ada bisikan dalam batinku untuk tetap membiarkan rambutku panjang. Aku perempuan, tapi banyak orang yang mengira bahwa aku seorang pria. Sempat berpikir tentang jati diri, tapi aku lebih nyaman berpenampilan tomboy seperti ini.

***

Entah pada bulan apa, aku lupa. Yang jelas akhir-akhir ini banyak postingan di facebook tentang ilustrasi bencana besar, siksa neraka, bahkan ilustrasi kehancuran dunia. Awalnya aku hanya mengabaikan video tersebut. Tapi semakin kesini, kok hatiku jadi gelisah, perasaanku tak enak. Aku ketakutan.

Malamnya, kami menonton tv bersama. Ada sebuah berita yang menayangkan tentang bumi pasti akan hancur. Lalu kakek bertanya padaku.

“Wati, kau percaya jika bumi akan hancur?” tanyanya.
“Percaya, Kek.” jawabku.
“Apa kau takut?” ia kembali bertanya.
“Takut lah, Kek.” ucapku.
“Hahaha, mana mungkin bumi akan hancur.” jawabnya terkekeh.

Berbeda keyakinan, berbeda pula pemikiran kita. Kakek tak percaya jika suatu saat alam semesta akan binasa. Menurutnya, berita di televisi hanya hoax saja. Tak sampai disitu obrolan kami, masih ada seumbruk celotehan dari kakak tentang Khimar. Aku penasaran. Seperti apakah Khimar? Cantik kah? Pandai kah? Bagiku, perempuan tersebut adalah orang spesial di mata kakak. Karena hampir setiap bertemu denganku, ia selalu membahasnya.

Kakak bilang bahwa Khimar itu sangat cantik, sopan, dan tidak pernah terbuka dalam urusan pakaian. Wah, pasti ia adalah wanita muslim yang taat. Hebatnya lagi, cewe tersebut bisa memikat hati anak majikanku yang tampannya tidak ketulungan ini. Uhuy, sepertinya si Lee Reen sedang jatuh cinta dengan Khimar.

Lima hari lagi aku menerima gaji. Kali ini aku akan membelanjakan separuh uangku untuk pergi ke distro. Disana terdapat beragam model pakaian pria, aku pasti hanyut dibuainya. Tapi tenang kawan, membeli satu baju saja sudah cukup buatku. Meski banyak pilihan yang melambai-lambai, tapi pikiranku tetap normal. Aku tidak akan boros.

***

Yes! Akhirnya nyonya memberiku gaji tepat waktu. Kebetulan kakak juga ada di rumah. Aku akan memintanya untuk memberi saran, seperti apa model baju terbaru minggu ini dan bagaimana memilih motif yang tidak pasaran.

“Kak, motif kaos cowok yang bagus seperti apa? Aku mau ke distro.” kataku.
“Tidak perlu ke distro. Besok aku akan memberimu hadiah yang cocok untuk kau pakai.” jawabnya.
“Wah, yang benar? Ok, baiklah. Aku menunggu hadiah darimu saja kalau begitu.” ucapku senang.

Kak Lee Reen memang baik dan perhatian. Dulu, pertama kali ia tahu kalau aku suka menulis, ia langsung memberiku hadiah berupa buku. Saat aku mencoba mengirimkan cerpen di salah satu majalah berbahasa Indonesia di Taiwan, ia juga memberiku semangat dan dukungan. Kalau teringat hal itu, aku jadi sedih. Bukan tanpa alasan mengapa aku sedih, hanya saja aku terharu. Keluarga ini benar-benar tak mengganggapku seperti pembantu. Bahkan, kedua anak nyonya pernah bilang bahwa aku adalah adik perempuannya yang harus dijaga.

Sesingkat pagi menjelma siang, esok pun datang. Aku sudah tak sabar menerima kado dari kakak. Sebelum ia berangkat ke kampus, cowo tinggi itu menitipkan kotak bingkisan kepada mamanya.

“Pagi, Wati. Ada titipan dari Lee Reen. Ia tak bisa memberikan langsung kepadamu. Ada kuliah pagi di kampusnya, jadi ia harus berangkat pagi-pagi.” beritahu Nyonya.
“Isinya apa, Nyonya?” tanyaku penasaran.
“Nanti kau juga tahu sendiri.” jawabnya.

Kotak bingkisan itu terbalut kertas berwarna merah maroon dan hitam, seperti warna kesukaan. Tapi, apakah isinya juga sesuai harapanku? Entahlah. Pagi ini aku harus ke taman mengajak kakek olah raga. Sebaiknya, kusimpan dulu kado cantik itu.

Setelah kakek mencuci muka, kami pun berangkat olahraga. Hari ini ia memakai kaos oblong berwarna kuning, celana kungfu hitam, sepatu merk Fila kesukaannya, dan memakai topi berwarna putih. Sungguh tampan! Semua teman kakek menyapa dengan ramah.

“Hai, selamat pagi.” sapa teman Kakek.
“Pagi.” jawab kami.
“Wah, kau sungguh hebat. Pagi-pagi sudah datang. Semangat ya!” pungkas laki-laki itu.

Kakek hanya tersenyum. Ia terlihat bahagia jika ada orang yang memujinya. Pujian merupakan penyemangat hidup bagi kakek. Namun ia tetap rendah hati. Lansia mantan guru itu selalu membalas dengan pujian pula.

“Kau juga hebat, kawan. Badanmu sangat sehat. Semangat ya!” jawab Kakek.

Usai jalan-jalan di taman, kami langsung pulang lalu sarapan. Setelah perut terasa kenyang, aku mulai menyibukkan diri dengan berbagai macam pekerjaan seperti, bersih-bersih rumah, belanja sayur, dan memasak.

“Khimar memang terlihat sangat cantik!” tiba-tiba terdengar suara Kak Lee Shin.
“Wah, Kakak sudah tahu Khimar ya? Seperti apa orangnya?” tanyaku penasaran.

Kakak pertama hanya tersenyum. Aduh, jangan sampai mereka berdua jatuh cintan dengan perempuan yang sama. Baju saja seleranya selevel, apalagi masalah asmara!

Usai mengerjakan tugas di pagi hari, aku menuju kamar. Kalian pasti tahu apa yang akan kulakukan. Membuka kado? Ya, benar. Aku sudah penasaran dengan isi kado dari kakak kedua. Tanpa menunggu lama, kubuka bingkisan tersebut.

“Lhoh! Apa-apaan ini!” ucapku lirih.
Aku bergegas kembali menemui kakak pertama di ruang tamu, siapa tahu ia mengerti maksud adiknya. Tapi sial, ia sedang berbincang-bincang dengan temannya melalui telepon. Baiklah, akan kutunggu kepulangan si tampan.

Jam makan siang hampir tiba, sebentar lagi orang yang kutunggu pasti muncul.
Mbreeem!!!
Terdengar suara motor memasuki garasi. Bagus! Ia sudah pulang.

“Wati, apa isi kado itu?” suara Kak Lee Shin membuyarkan lamunanku.
“Aku tak tahu.” jawabku sekenanya.
“Itulah khimar! Khimar yang kumaksud kemarin bukanlah orang, tapi kerudung itu. Aku tahu dari teman kuliahku. Ia selalu bercerita tentang ketaatan seorang wanita yang memakai baju longgar, dilengkapi hijab yang menutupi dada. Lalu, aku minta tolong padanya untuk membelikan khimar itu.” kata Kak Lee Reen yang ternyata suda ada di belakangku.

“Lalu maksudmu apa, Kak?” tanyaku. Aku tidak suka isi kado itu! Harapanku, ia memberi kaos model baru seperti miliknya. Bukan kayak gini!

“Wati, kau ini muslim. Taati perintah agamamu! Jangan karena tinggal di Taiwan, kau jadi mengikuti budaya kami! Tak selamanya kau berada disini, jadi kuharap, jangan terpengaruh oleh keadaan. ” tutur Kak Lee Reen.
“Tapi, Kak?” kataku.
“Sudahlah, pakai saja! Aku tahu kewajiban kalian. Jadi buat apa kau taat aturan kerja disini tapi tak mentaati perintah agamamu! Kita sekeluarga tak mau menanggung dosa.” ketusnya.
“Tahu darimana mengenai kewajiban itu?” tanyaku kesal.
“Temanku yang bercerita!” pungkasnya.

Sial, aku tersudut! Kak Lee Reen benar-benar tahu banyak tentang keyakinanku. Mulai saat itu, keluarga kakek menyuruhku memakai khimar, kerudung lebar yang menutupi dada. Kain itu jika kupakai seperti mengenakan mukena. Apakah tak merepotkan? Sepertinya aku harus menyediakan karet gelang untuk mengikat sebagian kainnya. Tapi, aku masih ingin berpenampilan kece dengan mengenakan kaos dan topi kesukaanku. Duh, aku jadi galau.

Seminggu terbiasa dengan kerudung jumbo, banyak tetangga yang ketakutan. Mereka yang biasanya menyapa, kini malah buru-buru pergi. Mengetahui tetangganya yang ketakutan, kakek dan nyonya menjelaskan kepada mereka, bahwa ini adalah agama dan kewajibanku. Bersyukur, akhirnya mereka mengerti dan memperlakukanku seperti sedia kala.

Dalam kesendirian, aku teringat kembali berita di televisi tentang kehancuran bumi. Semakin hari ada rasa takut yang menyelimuti. Bagaimana jika kiamat tiba-tiba datang sedangkan aku masih dalam kelalaian? Bukankah keluarga kakek sudah mengijinkan untuk mentaati agamaku? Kenapa aku tetap keras kepala menuruti egoku?

Aku kembali kepada-Nya. Pelan-pelan kutinggalakan obsesiku untuk tampil keren di mata manusia. Khimar dari kakak merupakan hidayah yang tak kuduga sebelumnya. Khimar yang kukira seorang wanita cantik ternyata ia adalah sehelai kain panjang dan lebar untuk melindungi kecantikan wanita sesungguhnya.

Dulu, ketika aku melihat perempuan yang memakai baju dan kerudung besar, selalu kuanggap remeh. Mereka terlihat kampungan dan tidak gaul. Tapi sekarang, aku salut. Mereka tidak ada yang sempurna, tapi mereka berusaha taat kepada Sang Pencipta. Apalagi musim panas akan segera tiba, pasti terasa melelahkan. Taat memang berat, namun akan terasa ringan jika mengingat akhirat.

Ada yang membuatku sedih saat khimar disalahkan. Ketika seseorang berhijab lalu melakukan kesalahan, banyak yang bilang lebih baik tak usah berhijab jika masih berbuat maksiat. Stop! Jangan pernah berbicara seperti itu. Hijab dan akhlak merupakan dua hal yang sangat berbeda.

Berjilbab adalah perintah Allah, wajib untuk wanita muslim yang telah baligh tanpa memandang akhlak baik atau buruk. Sedangkan akhlak merupakan budi pekerti yang tergantung pada pribadi masing-masing. Jadi, jika ada seorang wanita berjilbab melakukan dosa atau pelanggaran, itu bukan karena jilbabnya, namun karena akhlaknya. Yang berjilbab belum tentu berakhlak mulia, tapi yang berakhlak mulia pasti berjilbab!

Aku sudah sadar jika apa yang kulakukan dulu adalah salah. Menjadi perempuan tomboy memang memiliki nilai tersendiri di mata manusia, tapi tidak di mata Allah. Bodohnya lagi aku tertipu oleh nikmat duniawi hingga melupakan Dia yang menciptakan seluruh isi dunia. Selalu resah memikirkan model baju keluaran terbaru, tapi tak resah memikirkan sebanyak apa dosaku.

Kini, aku dan khimar telah menyatu. Seperti tulang rusuk yang dipertemukan. Setiap hari bekerja dengan kerudung besar, ternyata tidak membuatku kerepotan. Aku masih bisa melakukan aktifitas meski berhijab.

“Kamu sungguh cantik dengan khimar itu.” ucap Kakek kepadaku..Aku hanya tersenyum.

Khimar telah membawaku pada perubahan yang besar. Sikapku yang dulu seperti anak laki-laki, sekarang berubah menjadi lemah lembut dan tidak ceplas-ceplos. Yang biasanya tidak malu berbicara dengan kakak, sekarang mau menyapa saja sudah sungkan.

Keluarga kakek sangat hebat. Aku tak pernah mengira jika mereka sepeduli itu. Pengetahuannya yang luas tentang budaya Indonesia, membuatku semakin betah tinggal bersama mereka. Mengapa? Karena aku tidak perlu menjelaskan lagi mengapa aku puasa, sholat, dan merayakan idul fitri. Nyonya selalu menanyakan kapan waktu puasaku? Jatuh pada tanggal berapa hari raya umat islam? Ia lah yang selalu perhatian. Bahkan, tak jarang wanita tinggi itu membuatkanku makanan untuk sahur.

Aku tidak menyesal dulu pernah tomboy, tapi aku akan menyesal jika saat ini aku belum berubah. Kesempatan datang setiap hari, namun kita terkadang suka mengulur-ulur waktu dan akhirnya tidak jadi memperbaiki diri. Semoga hijrahku diterima oleh Allah dan aku akan berusaha istiqomah bersama khimar-khimar terbaruku.

Selesai.

KAIN ABU ABU DARI IBU

Cikal Kessy / KAIN ABU ABU DARI IBU / Arya Syarief, Erna Sulistyowati / tenaga kerja asing Siang itu 12 Juni 2003 dengan langkah gontai ku tinggalkan halaman sekolah, perasaanku gundah gulana aku tengah memikirkan sesuatu yang menurutku ternilai berat. Antara melanjutkan pendidikan atau bekerja meski hanya berbekal ijazah SLTP. ” Mak sebenarnya aku ingin sekolah aku ingin … Continue reading “KAIN ABU ABU DARI IBU”

Cikal Kessy / KAIN ABU ABU DARI IBU / Arya Syarief, Erna Sulistyowati / tenaga kerja asing

Siang itu 12 Juni 2003 dengan langkah gontai ku tinggalkan halaman sekolah, perasaanku gundah gulana aku tengah memikirkan sesuatu yang menurutku ternilai berat. Antara melanjutkan pendidikan atau bekerja meski hanya berbekal ijazah SLTP. ” Mak sebenarnya aku ingin sekolah aku ingin jadi Polwan tapi mak, bagaimana dengan biayanya sedangkan untuk makan sehari-hari saja kita masih susah ” desahku dalam hati sambil menyeka air mata. Seminggu berlalu sejak kelulusan itu aku sudah mempersiapkan surat-surat untuk melamar kerja tanpa sepengetahuan orang tua, hingga di suatu sore sepulang dari rumah Pak Lik aku melihat sesuatu yang terbungkus koran di atas kasur lusuhku perlahan ku buka bungkusan itu ternyata kain warna biru seragam untuk adikku yang akan mendaftar ke SLTP, tak terasa airmataku menetes sebab cita-citaku untuk menjadi Polwan hanyalah cerita. ” Ini kain siapa mbak ? tanya adikku sembari menyodorkan kain warna Abu-abu kepadaku . Mataku terbelalak secepat kilat aku menyambarnya dan berlari keluar mencari Emak, ” Mak, ini kain untuk siapa mak ? tanyaku pada emak yang sedang asyik ngobrol dengan Bapak.
” Untukmu katanya pengen sekolah SMA lanjutkan pendidikanmu Ndhuk soal biaya biarkan Bapak dan Emak yang memikirkan, kamu ga usah daftar jadi buruh di Pabrik Bratasena ” ucap emak sambil menatapku dengan tersenyum.
” Sekolah yang benar, jangan bolos dan jangan pacaran sekolah harus serius jangan main main kasihan orang tua yang mencarikan biaya ” ucap Bapak sembari menyeruput Kopi Hitam.
Airmataku mengalir tak dapat ku tahan lagi Emak terima kasih kan ku rawat baik-baik hadiah terindah darimu ini, aku akan sekolah dengan serius Mak tak akan ku sia-siakan kesempatan ini Mak, janjiku dalam hati. Tak terasa tiga tahun berlalu dengan cepat selama tiga tahun pula aku tak pernah meminta pada emak untuk mengganti seragam abu-abuku dengan yang baru. Meski lusuh aku tetap mengenakannya hingga hari kelulusan itu. Tradisi coret-coret yang sudah turun temurun pun ikut kami rayakan, aku berlari sejauh mungkin menjauhi teman-temanku karena aku tak ingin seragam Abu-abu pemberian Emak ikut tercoret. Empat Belas tahun telah berlalu sejak pertama kali kain abu-abu itu di berikan emak kepadaku aku masih tetap menyimpan rapi di kamarku sebagai hadiah terindah.
“Jie-jie wo xiang he sui ” ucap Mei-mei yang kujaga sambil menarik jilbab yang kukenakan seketika aku tersentak dari lamunan.
” Hao ” jawabku sambil beranjak mengambilkan air minum untuknya.
Emak terima kasih atas kasih sayangmu, biar waktu berlalu tak kan terbiar kasih untukmu.

FORMOSA DAN KISAHKU

Dewi Susanti / FORMOSA DAN KISAHKU / Tidak ada / tenaga kerja asing FORMOSA DAN KISAHKU By : Dewi Susanti “Jangan! Jangan!” teriakku ketakutan, dua bola mata menatap dengan tajam. “Sini kau!” teriaknya mengertak, lalu, sepasang tangan itu menarikku dari belakang. “Aku mohon, lepaskan?” pintaku. Sekuat tenaga aku menghindar, mencoba melarikan diri dari kejadian yang menyeramkan, tapi, semuanya … Continue reading “FORMOSA DAN KISAHKU”

Dewi Susanti / FORMOSA DAN KISAHKU / Tidak ada / tenaga kerja asing

FORMOSA DAN KISAHKU
By : Dewi Susanti
“Jangan! Jangan!” teriakku ketakutan, dua bola mata menatap dengan tajam.
“Sini kau!” teriaknya mengertak, lalu, sepasang tangan itu menarikku dari belakang.
“Aku mohon, lepaskan?” pintaku.

Sekuat tenaga aku menghindar, mencoba melarikan diri dari kejadian yang menyeramkan, tapi, semuanya sia sia. Sepasang tangan itu lebih kuat menyerang dan melumpuhkanku. Untuk kesekian kalinya, entah sudah berapa banyak, kejadian itu berulang.
___

Tidur di ruangan gelap dan berbau bukan menjadi masalah bagiku, yang terpenting adalah bisa memejamkan mata dengan perasaan tenang dan aman. Setiap kali ketika aku merasa terancam, tempat ini selalu menjadi persembuyian, sudah tidak terhitung berapa banyak malam panjang yang dingin terlewatkan, semut, kecoa, tikus, dan nyamuk seperti sudah bersahabat denganku. “Aaah,” …. desihku dalam hati.

Siapa yang tidak tertarik mempunyai uang banyak dan rumah yang bagus, aku adalah salah satunya. Panggilanku Mirna, sekarang berumur 20 tahun, aku lahir di desa, orangtuaku hanya buruh tani di sawah milik orang, walaupun bukan orang kaya, tapi aku mempunyai cita cita, agar kelak bisa menggangkat derajatku dan keluarga.

Mendengar cerita orang, menjadi buruh migran indonesia ( BMI) menyenangkan, membuat harapanku melambung tinggi, hanya dengan 3 tahun saja sudah bisa membeli rumah dan membawa uang untuk modal usaha. Sungguh cerita itu membuat jiwaku bergelora.

Menjadi BMI bukanlah impianku, tapi nasib yang memaksa, keadaan ekonomi keluarga yang serba kekurangan, membuatku memutuskan untuk bekerja ke luar negeri, menjadi Pahlawan Devisa demi masa depan dan keluarga tercinta.

Hanya dengan berbekal tamatan SD aku memberanikan diri, dan pilihanku jatuh di Taiwan. “mungkin teman bertanya, kenapa Taiwan yang aku pilih? bukan Negara lainnya” Karena banyak tetanggaku pulang dari Taiwan sukses, dan mereka pun bercerita, tentang kehidupan di Negara yang terkenal dengan sebutan Formosa (pulau yang indah) ini menyenangkan, aku juga sempat melihat foto-foto mereka yang penuh dengan kebahagiaan.

Tidak harus menunggu lama, akhirnya harapanku terwujud, atas bantuan Mba Leni, tetangga desa di rumah yang terkenal dengan sebutan Agensi.
“tapi aku hanya Tamatan SD Mba, memang bisa jika aku ingin bekerja di luar negeri?” ucapku polos penuh harap.
“Bisa! Tentu saja bisa, aku akan bantu, kamu tenang saja” jawabnya memberiku harapan.
***
Saat harapan menjadi malapetaka

Mataku berbinang-binar saat Mba Leni memberitahu kalau semuanya sudah siap. hatiku bahagia mendengar ucapannya, serta membayangkan sebentar lagi akan memegang uang yang banyak, bisa membeli apa saja dan bisa membahagiakan keluarga.
Tidak lama berselang, hanya butuh waktu 2 bulan, semua keinginanku untuk bisa menjadi BMI akhirnya terlaksana, Mba Leni benar benar pintar mengurus semua dokumen pemberangkatanku.
“Itu pesawatmu, aku hanya bisa mengantarmu sampai disini” kalimat terakhir Mba Leni

Dengan hati dag … dig … dug, aku menumpangi pesawat Eva Air yaitu sebuah maskapai penerbangan antara Jakarta – Taipei, sebelum meninggalkan negeri tercinta, terlebih dahulu aku berpamitan dengan ibu dan ke 3 adikku, yang saat itu ikut mengantarkanku ke bandara.
Air mata yang tertahan akhirnya tertumpah, jatuh membasahi pipi, saat aku melepaskan gengaman tangan Ibu, tangannya yang biasa hangat, berubah menjadi dingin, mungkin beliau tidak rela melepas kepergianku.

Penerbangan jauh selama kurang lebih 3 jam akhirnya mendarat, pesawat besar telah membawaku sampai di Taiwan. Negara gemerlap yang penuh dengan lampu penerangan membuat indah saat mata memandang.

“Alhamdulillah, akhirnya sampai juga” gumamku dalam hati.
“Mba Namanya Mirna ya?” suara seorang wanita mengagetkanku.
Matanya indah dengan bulu mata memanjang dan bibirnya merona, aku sempat berpikir itu adalah majikanku, ternyata bukan.
“iya”
“Mba ikut saya, saya mau antar kamu ke majikan ” ucapnya menyuruhku untuk mengikutinya.

Lalu, mobil berwarna hitam membawaku pergi jauh, dan, berhenti di sebuah rumah yang sangat megah. Pandanganku tertuju pada bangunan yang mirip seperti Istana.

Wanita itu namanya Any, ia adalah egensiku di Taiwan, itu yang kudengar saat ia memperkenalkan diri waktu di bandara, kemudian, kami berdua pun masuk ke istana, selang beberapa menit keluar seorang perempuan paruh baya, menyambut kami dengan tutur bahasa yang kurang kumengerti.

“ini adalah majikan kamu, Namanya Nyonya Wang, ia tinggal bersama suami dan 2 orang anak laki-lakinya, kamu di sini bekerja menjaga Ama, dia ibu nya Nyonya Wang.” ucap Mba Leni menjelaskan tentang jobku.
“Mba aku takut, aku tidak mengerti bahasa mereka, hanya sedikit yang aku bisa” ujarku tidak percaya diri.

Ini pertama kalinya aku merasa tidak percaya diri dan takut, aku tidak pernah membayangkan pergi ke luar negeri dengan Bahasa yang kurang memahami,

“Harusnya seorang BMI yang ingin bekerja ke luar negeri itu bukan hanya mengutamakan tenaga untuk bekerja, tetapi, dia juga harus memiliki kepandaian dalam berbicara bahasa negara tempat ia akan bekerja”

“kenapa pihak ejensi dengan begitu mudah memberangkatkan para TKI, lalu, bagaimana dengan nasibku di negara orang yang hanya berbekal tenaga? kenapa Mba Leni tidak memberitahuku kalau bahasa itu adalah nomer 1” gumahku dalam Hati.
****
Saat impian tidak seperti harapan

Kenyataan menjadi seorang BMI ternyata jauh dari harapan, tidak pernah terbayangkan semua menjadi seperti ini.

“Sini Mirna!” teriak nyonya dengan nada tinggi.
“Iya, Nyonya” sahutku pelan
“Kamu ini bagaimana, kenapa bajuku jadi jelek begini?!” tukasnya penuh kebencian, seraya melemparkan baju yang telah robek ke arahku.
“Maaf Nyonya, ini bukan aku yang melakukannya” ucapku membela diri, walaupun pada kenyataannya, bukan aku yang melakukan.
“Kalau bukan kamu lalu siapa lagi, kamu kan yang mencuci baju ini?” suaranya bergelegar bagaikan petir kala hujan badai.

Jantungku berdetak kencang, tubuhku gemetar ketakutan, dengan sadisnya tangan nyonya menarik rambutku, … perih! itu yang aku rasa, bukan 1 atau 2 kali nyonya memperlakukanku seperti ini

Terkadang, sempat terlintas di benakku untuk menyerah dan pulang, membebaskan diri secara instan, namun hati kecilku selalu berkata “sabar” teringat Ibu selalu berpesan, untuk bersabar dalam menjalani hidup.

“Bersabarlah saat menghadapi rintangan, sebab, tidak ada kesuksesan tanpa kesabaran, karena kesabaran adalah obat terbaik dari segala kesulitan”.

***
Saat Kesabaran membunuhku pelan pelan.

Memangku akui, sekarang aku memegang uang banyak, dari jerih payahku bekerja di rumah ini, uang itu adalah hasil mengumpulkan selama 5 bulan, semuanya didapat dengan kesabaran, namun, kesabaran aku semakin lama semakin di uji.
“Sini, Mir, bantu aku, jam tanganku hilang?” perintah takeke, ia adalah anak pertama dari Nyonya Wang.

Dengan alasan kehilangan jam tangan dia menyuruhku, untuk masuk ke kamar, dan, aku pun menurutinya, tapi, bukan jam tangan yang ingin ia cari. Dia menginginkan tubuhku.
“Jangan! Takeke. Jangan! kasihani saya, sebentar lagi Nyonya datang,” ucapku mengiba.

Kata kataku tidak di dengar sedikitpun oleh nya, seperti orang kerasukan ia menerkam tubuhku, aku berusaha menghindar dan berlari ke luar kamar, tetapi, tangan kuatnya lebih dulu menarik tubuhku sampai terjatuh.

teng … teng … teng ….

Jam dinding rumah menunjukan angka 10 pagi, seperti orang linglung, dengan rambut acak acakan dan baju yang robek aku keluar kamar.
Sedih dan kecewa perasaan itu berkecamuk di dada, kesucianku telah terengut paksa olehnya, selama 20 tahun tidak ada orang yang berani menyentuh tubuhku, tapi sekarang, aku sudah tidak suci lagi, air mata pun bercucuran membasahi pipi, menyesali keputusanku untuk menjadi seorang BMI.

Malam menjelang, di langit terlihat suram, bintang dan bulan tertutup oleh kabut hitam, sepertinya cuaca mendung, mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Di dalam kamar aku duduk meringkuk di bawah ranjang, meratapi kejadian buruk itu.
“Mirna, aku haus” suara nenek mengagetkanku. Beliau adalah Ibu dari Nyonya Wang, nenek yang aku jaga
“baik”

Perlahanku langkahkan kaki menuju dapur, mengambil air minum, dan sesampainya aku di sana, terlihat Ekeke, ia adalah anak ke 2 dari Majikan tengah mengambil gelas.
“Kamu belum tidur?” tanya Ekeke sambil menatapku
“eh, .. ” jawabku spontan.

Aku tidak mengira ia akan bertanya, karena ia biasanya orang yang paling cuek jika berpapasan denganku. Jangan kan untuk bertanya, menoleh ke arahku pun, ia tidak pernah, tapi, malam ini aku rasakan berbeda.

Satu gelas air putih sudah ada di tangan, aku pun kembali ke kamar, dan tiba tiba sepasang tangan itu menghadang, membuat gelas yang ada di gengaman terjatuh dan pecah. Craaaak ….
“Diam!” gertak takeke sambil membungkam mulutku.
“Tolong!, jangan sentuh aku lagi” ucapku dengan nada keras.
“Diam kau! Kamu dengar yah, jangan pernah bicara pada siapapun, awas kalau bicara, tahu akibatnya!” ucapnya mengancam.

Aku pun mengangguk tanda setuju, memilih diam. Tetapi, kediamanku membuat kelakuan seperti binatangnya terus berulang, aku tidak tahan, dan malam harinya aku memutuskan untuk Kabur dari rumah.
****
Pulau yang indah, Negara impian, semua hanya Angan bagiku, saat kenyataan jauh seperti yang aku harapkan, angin yang dingin dan malam yang gelap, hanya dengan penerangan lampu kecil di taman, aku duduk di bawah pohon, keputusanku memilih kabur ternyata bukanlah keputusan yang tepat.
“Nona, kamu sedang apa” tanya seorang pria ke arahku.
“Tuan, bisa kah aku meminjam hp mu” ucapku dengan nada terbatah batah,

Walaupun sudah genap setengah tahun, tapi aku masih belum mahir berbicara, lalu, pria itu menyodorkan telepon selularnya, dan kemudian aku keluarkan selembar kertas kartu nama dari saku celana.
Nada telepon pun tersambung. tut …. tut … tut.

“Halo, apa kabar, ini dengan siapa yah, bisa saya bantu” suara Mba Any di seberang sana.
“Halo Mba, ini aku, Mirna” jawabku gugup
“kamu dimana, aku jemput!” tegasnya singkat.
“Ini aku dimana?, jangankan untuk membaca papan jalan dengan tulisan KANZI (sebutan untuk tulisan mandarin), mendengar orang berbicara saja, kadang aku salah”
“Tuan bisakah anda memberitahu padanya, ini dimana dan tempat apa?” tanyaku.
“Hshincu. ….. ” ia mengucapkan sederet kalimat yang aku sendiri tidak mengerti, cuma 1 kata yang kupaham artinya, yaitu Hshincu.

Mobil mewah berwarna hitam tiba tiba berhenti pas di hadapanku, lalu, keluar seorang gadis cantik menghampiri, senyumnya mengembang saat melihatku.
“Mba ayuk masuk, cepetan!”
“iya” jawabku sambil belari menghampiri Mba Any

Mobil mewah Mba Any melaju dengan sangat cepat, membawaku pergi jauh meninggalkan rumah Nyonya Wang, dan kemudian mobil itu berhenti di sebuah Hotel, kami pun bermalam disana, menunggu pagi, dan melepaskan malam yang panjang.
____

Selember kertas putih bertuliskan Kanji berada di hadapanku, perempuan cantik yang bernama Any yang menyodorkannya kepadaku.

“Kamu tanda tangan disini” ucapnya dengan jarinya menunjuk ke arah bawah kertas, dengan perasaan gugup dan gemetar, aku mengikuti perintahnya.
“Bentar lagi, Majikan baru kamu datang”
“ini surat apa ya Non?” tanyaku penasaran
“ini Job kamu yang baru” jawabnya singkat.

Tanpa basa basi lagi, ia pun menyuruhku untuk tetap duduk di lobi hotel, menunggu majikan baru datang. Tak lama kemudian, sepasang Suami Istri datang menghampiri, ia melepas senyum ke arahku, dalam benakku melintas sebuah pertanyaan

“apakah ini majikanku yang baru” gumamku
Mba Any kemudian berbincang panjang lebar dengannya, menggunakan bahasa yang tidak aku mengerti. Dan, sebelum pergi ia berkata padaku.
“Mirna, ini Majikan baru kamu, harus nurut yah!, jangan pernah mencoba kabur lagi!, kabur itu engga enak” ucap nya dengan nada tinggi.
“Nama kamu Mirna?” tanyanya, dan ku balas dengan anggukan kepala.
“Kamu ikut saya, kerja di tempat saya!”

Perasaan tiba tiba berubah menjadi tidak nyaman, ketika aku melihat sebuah rumah besar dengan banyak Kendaraan Parkir di depan halaman.
“Ini Tempat apa?” tanyaku penasaran, tapi pertanyaanku tidak dihiraukan, ia terus menyuruhku untuk terus masuk.
“Khuai Tien (cepetan)!” perintahnya dengan nada meninggi.

Berjuta pertanyaan menyelimutiku, dan rasa penasaran makin bertambah, ketika di dalam aku melihat banyak orang, dan ruang yang gelap hanya diterangi beberapa lampu yang bergantian saat menyala.

“aduh oon banget, namanya juga orang udik, tidak tahu, jika itu bola lampu diskotik” gumamku.
“Kamu mulai sekarang kerja disini, melayani dan menemani tamu minum!” seru salah seorang pelayan memerintahku
“Pelayan? Minuman?” Aduh emaaak aku tidak mau!, dalam hatiku mengumpat.
“jam kerja kamu dari Jam 7 malam sampai Jam 7 pagi. Ok” serunya lagi.
****
Saat kebenaran mulai terungkap.

Malam kian larut, suara musik bergema menulikan pendengaranku, tidak terasa sudah satu Bulan telah berlalu, dan perlahan lahan kebenaran pun mulai terungkap, ketika salah satu dari pelayan itu berbicara dengan pelayan yang lain.
“Oh, … Itu Anak baru?” tanya dari salah satu pelayan yang aku sebut A.
“Iya,… Baru datang seminggu yang lalu, masih hangat!” jawab dari salah satu pelayan yang aku sebut B, ucapannya seketika menembak jantungku. Dor …

Ternyata. baru aku sadari, nona yang aku panggil dengan sebutan Mba Any itu, dia telah menjualku. Berbagai cara aku lakukan agar bisa keluar dari tempat Kotor ini. Setiap hari, berlumurkan dengan dosa dan maksiat, para lelaki hidung belang pemburu nafsu berkeliaran, dan, minuman berakhohol.

“Ya Allah ampuni aku” rintihku perih.
“Jangan panggil Aku dengan sebutan wanita penghibur, karena aku bukan seperti itu!”

Menyeset hati, dan tidak terima sebutan itu menempel di tubuh, setiap kali para pria hidung belang memanggilku
“Mirna, bangun!” teriak seorang perempuan yang biasa di sebut Mucikari itu sambil mengedor pintu kamarku, berulang kali, teriakan nya semakin keras, tapi, aku tidak menghiraukan nya.

Selang beberapa jam pintu pun terdobrak oleh seseorang, aku terkejut saat melihat raut wajah nya, seperti aku pernah melihat, tapi, dimana? dan ternyata, ia adalah Takeke anak pertama Nyonya Wang, Majikanku dulu.

“Ternyata kamu disini, sudah lama aku mencari jejakmu” umpatnya sinis.
“Ayo bangun, ikut bersamaku, kau sudah aku beli dari perempuan itu, sekarang kamu bebas”

Kata kata Takeke membuat aku melebarkan mata, kaget! Seakan tidak percaya jika aku telah bebas, dan, aku merasa senang karena bisa keluar dari tempat hina ini.
“demi keamananmu, ikut aku, akan kubawa kau ke tempat yang aman, sembari mengurus semua dokumen untuk kepulanganmu ke Indonesia” ucapnya mendinginkan pikiranku yang kalut.
“Terima kasih’sahutku senang.

Lalu, ia membawaku ke sebuah daerah terpencil di Pegunungan tea milik dari Nyonya Wang, sesampainya di Kebun tea, terlihat Sepasang suami istri keluar menyambut kedatangan kami. mereka adalah penjaga yang di tugaskan oleh Nyonya Wang untuk menunggu Kebun.

Aku berpikir Takeke sudah berubah, ternyata salah, ia sengaja menyekapku di tempat ini, agar ia bisa melampiaskan nafsunya., hampir setiap minggu datang kesini, terkadang juga membawa teman temannya. Dan gilanya! Ia menyuruhku untuk melayani semua orang.

Hanya tempat gelap dan berbau inilah yang selalu menjadi pelarianku untuk bersembunyi, setiap kali mendengar suara deruh mobil, dengan cepat aku berlari ke sini, tuhan sayang padaku karena menyediakan tempat ini untuk aku menyelamatkan diri.

Cuaca buruk melada hampir sebagian tempat di Formosa, termasuk di Kebun tea, suara gemuru petir bergema, angin dan hujan deras pun terjadi, tapi. tidak menyulutkan niatku untuk berlari ke tempat ini, sesaat setelah aku mendengarkan suara klakson mobil.

“Pak, bolehkan bermalam disini, aku habis mengantar teman dekat daerah sini, sekalian aku mampir menjenguk bapak dan ibu” suara merdu sayup sayup kudengar, itu suara siapa? aku benar benar penasaran, lalu, aku memutuskan keluar dari tempat bersembuyian dan ternyata, pemilik suara itu adalah Ekeke. Anak bontot dari Nyonya Wang.

Tatap matanya tajam penuh dengan tanda tanya, tertuju padaku, ini ke 2 kalinya ia menatapku seperti itu.
“Mirna, kog Kamu bisa ada disini?” tanya Ekeke penasaran.
“Iya” jawabku datar.

Atas kebaikan Bapak dan Ibu penjaga Kebun tea, akhirnya kami bisa berbincang, aku menjelaskan semua peristiwa yang sudah terjadi dari A sampai Z, aku melihat raut wajah angkuh, yang selalu cuek saat berhadapan dengan ku berubah menjadi hangat.

“aku terharu, kamu wanita yang hebat dengan Kesabaran luar biasa” ucapannya membuatku melambung tinggi ke langkit 7.
“Hehe,” … selama di Formosa baru pertama kali ini aku tertawa lepas tanpa beban.
“Terima kasih”
“Aku akan membantu semua dokumen kepulanganmu ke tanah air, maafkan atas semua kesalahan Takeke, mama yang selalu menghina dan menyiksamu, juga maafkan aku karena terlambat menyelamatkanmu, kamu wanita hebat yang pertama kutemui”ucapnya sambil melepar senyum manis ke arahku
“eeh” sahutku spontan

Aku tidak pernah menyangka, ia bisa mengucapkan kalimat semanis itu, yang mampu membuatku merasa menjadi wanita sesungguhnya.
Waktu terus berputar, dan hari berganti dengan sangat cepat, tidak terasa saat yang di nanti akhirnya tiba, hari kepulanganku ke negeri tercinta. Atas semua kebaikan hati seorang pria yang membuatku lepas dari semua luka, dan aku seperti memiliki sebuah impian baru.

“Ekeke adalah orang yang sangat baik, andaiku mengenalnya jauh lebih awal, andaikan aku tidak memilih kabur dan andaikan saja kakaknya tidak menodaiku? gerutuku dalam hati
“aah, …. “ sesalku dalam hati

Keperluan kepulanganku Ekeke sudah mempersiapkan semuanya, ia juga memberikan sejumlah uang, dan, sebelum aku pergi meninggalkan Formosa, ia mengucapkan satu kalimat yang membuat jantungku melaju cepat, kaget, bahagia, dan sedih.
“我爱你 (wo ai ni) “ ucapnya membuatku lemas.

Satu kalimat yang tidak pernahku duga akan keluar dari bibirnya, wajah putih dengan tatapan mata teduh, senyum manis merekah dibibirnya. “Ekeke, kamu tampan sekali” gumamku dalam hati.

Dengan langkah kaki terasa berat, aku meninggalkan Formosa, sikap hangat Ekeke membuatku ingin tetap tinggal, berada di sampingnya membuatku merasa aman. Tapi. Sudah waktunya aku untuk pulang, kembali ke kampung halaman.

Selamat Tinggal Formosa, sampai jumpa Ekeke. Aku pasti akan merindukanmu, kau sudah merubah pandanganku tentang Formosa yang menakutkan menjadi menyenangkan.

“Terima kasih Ekeke, wo ai ni” ucapku lirih sambil melambaikan kedua tangan meninggalkan Formosa, dan orang yang sudah mengambil hatiku.

Taipei, 26 Mei 2016
*** TAMAT****

Cerita FORMOSA

keyla / Cerita FORMOSA / BRILIAN TIME / tenaga kerja asing IBU……. Ya…. sosok dan nama yang tersirat dalam benak ku, saat pandangan ku tertuju pada sosok paru baya tepat di hadapan ku. Ya….. Seorang paru baya yang juga sama dengan ku,mengadu nasib di negeri FORMOSA. Secara kasat mata aku melihat ibu paru baya itu,kurang beruntung di sini. … Continue reading “Cerita FORMOSA”

keyla / Cerita FORMOSA / BRILIAN TIME / tenaga kerja asing

IBU…….
Ya….
sosok dan nama yang tersirat dalam benak ku, saat pandangan ku tertuju pada sosok paru baya tepat di hadapan ku.
Ya…..
Seorang paru baya yang juga sama dengan ku,mengadu nasib di negeri FORMOSA.
Secara kasat mata aku melihat ibu paru baya itu,kurang beruntung di sini.
Saat itu beliau mendorong kursi roda, duduk seorang gadis yang berkebutuhan khusus, dengan pengawalan seorang perempuan yang terlihat secara paras lebih muda dari ibu paru baya yang mendorong gadis berkebutuhan khusus itu.
Terlihat jelas mimik muka gugup dari ibu paru baya itu saat menyapa ku.
Gugup,takut dan tertekan mungkin itu gambaran yang pas.
Aku hanya mampu tersnyum dan mengangguk menyambut sapa nya.
Dan …..
ada kejadian yang sangat menyakit kan seketika itu, sang majikan yang aku bilang mengawal tadi, memarahi ibu paru baya itu di atas MRT di depan padat nya penumpang saat itu,aku lihat ibu paru baya itu hanya tetunduk diam.
Hati ku sakit teriris saat itu,tak kuasa aku menahan tangis.
Tak terbayang betapa sakit dan sedih nya perasaan ibu paru baya itu.
Tak bisa ku bayang kan bagaimana jika itu terjadi pada ibu ku ?
ingin ku menegur sang majikan,tapi apalah daya aku bukan siapa – siapa.
Dan aku pun tak mau jika sikap gegabah ku semakin menyusahkan ibu paru baya itu.
Sejenak aku termenung, melihat kejadian yang sangat menyakit kan itu, Betapa aku sering mengabaikan ibu ku.
Sesak di dada ku,membuat aku semakin berfikir untuk selalu berusaha membahagiakan ibu ku.
Sesampainya di rumah aku bergegas mengambil telephon genggam ku,dan menelfon ibuku. Hanya sekedar menanyakan sedang apa dan apa kabar hari ini ( karena aku termasuk sering sekali menelfon ibu ) jadi kita hanya sekedar mengobrol ringan saja,dengan begitu sedikit lega rasanya.
Kejadian tadi mengingatkan aku dengan cerita salah satu teman ku, dengan tuntutan dan kenakalan anak nya di Indonesia dengan segudang permintaan nya.( ya salam )
sampai – sampai kepngen banget aku menyampaikan ke anak nya
Tidak kah kamu tau bagaimana perjuangan ibu mu ?
Teringat pula dengan kejadian saat beberapa hari yang lalu aku membaca berita tentang seorang anak kecil yang di tinggal ibunya merantau bertahun-tahun tanpa kabar.
( tidak kah kau ingat penantian panjang anak mu untuk bertemu dengan mu ibu ? )
Begitulah kehidupan…..
Mengingat kejadian demi kejadian membuat ku semakin bisa perlahan menurun kan sedih dan amarah ku tentang kejadian tadi….
Aku hanya mampu mendoakan ibu paru baya tadi dari jauh.
Semoga di beri ketabahan dan kesabaran dalam menjalani semuanya.
Aku terbawa suasana lagi melow melow ga jelas,mendramatisir keadaan. Seolah – olah aku terhanyut dalam keadaan dan situasi itu..
ahh sudah lah…..
inilah Fenomena kehidupan ..
Banyak hal terjadi di sekitar kita tanpa di sangka – sangka dan di duga.
Lebih banyak bersyukur saja supaya di mudahkan dalam segala hal.
Aamiin……….

Bahagia itu Mudah

Yusnita / Bahagia itu Mudah / tidak ada / tenaga kerja asing Bahagia itu Mudah Seperti biasa pagi hari aku bersama akong dan ama jalan -jalan ke taman sebelum pulang kami mampir dulu ke pasar tradisiolan yang tidak jauh letaknya strategis tempatnya tidak luas ditambah para pedagang kebanyakan juga lansia. Senyum semeringah menyambut para calon pembeli menawarkan berbagai … Continue reading “Bahagia itu Mudah”

Yusnita / Bahagia itu Mudah / tidak ada / tenaga kerja asing

Bahagia itu Mudah

Seperti biasa pagi hari aku bersama akong dan ama jalan -jalan ke taman sebelum pulang kami mampir dulu ke pasar tradisiolan yang tidak jauh letaknya strategis tempatnya tidak luas ditambah para pedagang kebanyakan juga lansia. Senyum semeringah menyambut para calon pembeli menawarkan berbagai sayur maupun bahan makanan. Tujuan kami adalah pedagang daun ubi langganan usianya tidak jauh beda dengan akong sekitar 80 tahun jalannya pun sudah membungkuk tapi masih mampu mengendarai motor kebetulan dia baru sampai di depan toko kami menunggu sampai barangnya diturunkan usia yang serentan itu masih berjuang mengais rezeki tanpa minta-minta ataupun mengemis dalam batinku bangga dan beruntung bisa melihat perjuangan mereka.
Demikian contoh secercah kebahagiaan kita bisa melihat perjuangan, pengalaman orang di sekitar melihat warna dunia dari segi positifnya.
Bahagia itu mudah saat kita bisa merasakan indahnya bersyukur dan selalu berfikir positif saat kaki kita lelah berjalan setidaknya kita punya kaki yang sehat cukup istirahat semua selesai, kita juga tidak perlu berfikir terlalu berat seperti kapan sukses, kapan menikah syukuri saja kita masih hidup sehat dan bisa beribadah. Syukuri semua panca indra bisa melihat, mencium wanginya bunga, merasakan lezatnya makanan dan merasakan alunan dunia lewat musik maupun angin.
Jangan lupa tersenyum.

Badai Di Awal Musim

Puji Asri / Badai Di Awal Musim / Asri Fara / tenaga kerja asing Kabar terbaik yang selalu ditunggu setiap pasien, hanyalah kesembuhan dari sakit yang dideritanya. Kabar itu lah yang saat ini selalu aku tunggu, ibuku dan juga ayah dari anak-anakku. Awalnya aku tak pernah mengira jika sakit ini akan aku derita juga. Suatu pagi di bulan … Continue reading “Badai Di Awal Musim”

Puji Asri / Badai Di Awal Musim / Asri Fara / tenaga kerja asing

Kabar terbaik yang selalu ditunggu setiap pasien, hanyalah kesembuhan dari sakit yang dideritanya. Kabar itu lah yang saat ini selalu aku tunggu, ibuku dan juga ayah dari anak-anakku.

Awalnya aku tak pernah mengira jika sakit ini akan aku derita juga. Suatu pagi di bulan Maret, saat aku terbangun oleh bunyi alarm. Kepalaku terasa berat dan sekujur tubuhku tak bertenaga. Namun kupaksakan bangun juga untuk melakukan aktivitas seperti biasanya. Hingga siang menjelang, dadaku berdebar tak beraturan, keringat dingin membasahi bajuku, dan suhu badanku sangat tinggi.
“Mungkin saya hanya flu biasa, Nainai. Tak usah terlalu risau.” Ucapku pada nainai, yang tampak mengkhawatirkanku.
Malamnya ketika majikan pulang kerja, aku meminta ijin untuk periksa ke dokter. Klinik THT yang aku tuju, karena tiba-tiba saja muncul benjolan asing dipangkal leherku yang bila tersentuh terasa nyeri.

“Ini agak serius ,Nona. Kamu harus ke rumah sakit besar dan melakukan medical check-up untuk mengetahui jenis kanker di lehermu.”
Penjelasan dokter itu seperti sebuah palu raksasa yang dengan tiba-tiba menghantam kepalaku. Sejenak aku limbung, pandanganku terasa gelap. Namun masih kudengar suara perawat dan dokter yang memanggil-memanggilku.

“Nona, nona, apa kamu baik-baik saja?”Pertanyaan perawat itu mengembalikan kesadaranku. Aku pun melangkah gontai menuju rumah majikan setelah mnyelesaikan administrasi.

Sesampainya di rumah majikan, kuberikan selembar kertas rujukan dari dokter tadi kepada majikan. Tampak wajah majikan tak kalah terkejutnya denganku. Esoknya aku pun diantarkan ke rumah sakit besar, kali ini dokter spesialis tiroid yang kami tuju. Setelah pemeriksaan, dokter memberikan berlembar-lembar kertas dalam dua bahasa, Inggris dan Mandarin, untuk diisi dengan hasil laboratorium.
Seminggu setelah itu ,hasil laboratorium menyatakan bahwa aku mengidap kanker tiroid stadium dua, dan jika dibiarkan akan mengganggu kerja otot jantung dan kotak. Hanya satu tindakan untuk mengatasinya, yaitu operasi pengangkatan.
Meski sudah kupersiapkan hati sejak awal pemeriksaan, masih saja aku terhenyak menghadapi kenyataan ini, yaa, kini aku salah satu pasien dari penyakit paling ditakuti semua orang. Ingin aku menangis, tapi hanya mataku yang terasa panas tanpa setetes pun air jatuh dari kelopaknya.
“Tuhan, mengapa harus aku?” Tanyaku dalam hati.

Di tengah kalut itu, aku menelepon ke Indonesia dan bermaksud menceritakan yang kualami kepada ibuku untuk meringankan sesak yang memenuhi rongga dada. Namun bukan suara ibu yang biasanya menyapa, melainkan tangis anak sulungku yang kudengar di sana.”Ibu, pulanglah, nenek tiba-tiba tak bisa bangun dari tempat tidurnya.Hu.hu.hu.hu. Gimana ini ,Bu?” Suara terbata anakku di antara tangis itu kembali menampar ketegaranku nyaris sirna.
“Ya, Tuhan … ujian apa lagi yang kau berikan padaku?” Sekali lagi ingin kumemprotes Tuhan. Aku benar-benar jatuh dan tertimpa tangga pula. Tapi aku tak mau berlarut dalam duka, aku harus tetap kuat untuk menguatkan anakku, dan ibuku. Segera kuhubungi saudara sepupuku, karena aku tak punya saudara kandung. Ibuku pun dibawa ke rumah sakit untuk menjalani perawatan.

Satu minggu ibuku dirawat karena serangan stroke, bersamaan itu aku mendapat kabar bahwa mantan suamiku, sakit jantungnya kambuh dan harus dirawat di rumah sakit. Dengan begitu, tak ada yang membantu mengawasi anak-anakku. Lengkap sudah kabar buruk yang diterima di awal musim ini.

Hanya doa tanpa putus yang kupanjatkan kepada sang pemilik takdir ,agar aku kuat dan mampu menjalani ujianNya. Hanya kesembuhan yang kupinta untukku, ibuku dan mantan suamiku. Beruntung, aku memiliki majikan yang baik dan peduli dan tak pernah lelah memberiku dorongan semangat dan dukungan. Terlebih Nainai, bila aku menemaninya nonton titi atau pun berjalan-jalan ke taman, beliau selalu menasehatiku dan menggenggam erat tanganku. “Percayalah, semua ini pasti berlalu.” Begitu selalu ucapnya seraya meraih kepalaku dalam rangkulannya. Di situlah aku menemukan kekuatan yang membuatku tetap bertahan.

Setiap hari ,majikan menyuruhku agar selalu menghubungi keluargaku untuk mengetahui keadaan ibu. Karena aku tak diijinkan pulang sebelum penyakitku sembuh.
Pelan tapi pasti , keadaan ibuku semakin membaik, beliau sudah mulai bisa berjalan setelah melakukan terapi rutin. Berita baik itu segera kukabarkan pada majikan, mereka pun turut merasakan kelegaan itu. Karena selama ini mereka pun tak kalah khawatirnya denganku.
Namun rupanya ujianku belumlah usai sampai di situ, Tuhan masih mengharuskanku mengerjakan soal baru. Bersamaan kabar baik dari ibuku, datang pula kabar buruk dari keluarga mantan suamiku. Tuhan telah memanggilnya menghadap, setelah satu bulan lebih berperang melawan sakit jantungnya. Kembali air mataku harus terjatuh, namun bukan karena kematiannya. Melainkan tentang bagaimana dengan anak-anakku yang masih terlalu kecil untuk menghadapi kehilangan ayah kandungnya.

Angin berhembus perlahan, menggoyangkan bunga-bunga yang bermekaran di awal musim ini, dia mengabarkan pada dunia bahwa musim akan segera berganti. Dan seperti angin itu yang berhembus sesaat, aku pun berharap badai yang sedang menyapaku juga segera berlalu. Sehingga aku mampu terus melangkah dan berjuang sendirian untuk membahagiakan ibuku serta membesarkan anak-anakku walau dengan tangan-tangan kecilku. Aku percaya, matahari akan bersinar lebih cerah selepas badai.
Nangang 26 Mei 2016

Semangkuk Sup

Riris Sirius / Semangkuk Sup / Ririn Arums / tenaga kerja asing Musim dingin belum berakhir, bulan Maret masih terasa menusuk tulang. Angin yang terbit sebentar-sebentar menembus persendian, ngilu. Jaket tebal yang kukenakan seperti tak mampu menghangatkan tubuhku, jari-jariku beku. Aku sedang dalam perjalanan pulang dari mengantar majikan perempuanku dari terapi penyembuhan kakinya. Hari menjelang waktu makan siang … Continue reading “Semangkuk Sup”

Riris Sirius / Semangkuk Sup / Ririn Arums / tenaga kerja asing

Musim dingin belum berakhir, bulan Maret masih terasa menusuk tulang. Angin yang terbit sebentar-sebentar menembus persendian, ngilu. Jaket tebal yang kukenakan seperti tak mampu menghangatkan tubuhku, jari-jariku beku. Aku sedang dalam perjalanan pulang dari mengantar majikan perempuanku dari terapi penyembuhan kakinya.

Hari menjelang waktu makan siang ketika sekonyong-konyong, majikan perempuan yang masih terlihat cantik di usianya yang tidak muda lagi itu mengatakan keinginannya untuk singgah makan sup di kedai langganan kami. Dalam hati aku bersorak; horai!

Kedai Yoyo hiruk pikuk ketika kemudian bos laki-laki yang turut serta mengantar berhasil menemukan tempat duduk untuk kami makan bertiga. Meja paling depan setelah pintu masuk, terdapat tiga buah kursi. Di atas meja terdapat dua buah botol kecil, masing-masing diisi kecap asin dan sebotol lagi diisi minyak cabe. Satu gulung tisu yang kuperkirakan tinggal setengah.
Seorang pelayan datang menyodorkan dua lembar kertas menu pada kami, aku menerimanya. Atas anjuran nyonyaku aku kemudian memesan sup daging kesukaanku. Sup mie daging kambing pedas manis. Nyonya memesan sup mie udang, dan tuan sup daging sapi. Seporsi oseng kangkung dan tiga buah telur hitam dimasak tahu.

Ketika pesanan sampai di meja kami, dengan serta merta kami memakannya dengan lahap. Amboi, porsi supnya luar biasa banyak. Tubuhku yang kecil ini tak mampu menghabiskan sup yang luar biasa enaknya itu. Meski sayang, terpaksa mangkuk yang isinya masih setengah itu aku singkirkan, kuletakkan sumpit dan sendok di posisi sejajar . Karena aku takut perutku sakit karena kekenyangan, jadi kuakhiri saja.

“Ah, enakkk, mantapp sekali!” kelakarku puas.

“Dulis, kau tidak habiskan supmu?” tanya nyonyaku, tuan menoleh. Aku menggeleng, mengelus perutku yang kini terlihat lebih besar. Seperti berkata, “Aku kenyang Nyonyaku sayang.”

“Sini aku habiskan…” ujar nyonya meminta sisa supku.

“Ha?!” aku kaget tentu saja.

“Ya, aku habiskan?” katanya lagi dengan tersenyum. Meski agak bingung kukatakan, “Hao? Hehee maaf ya?” setengah hati tidak enak, kusodorkan mangkukku ke arahnya.

“Tidak masalah” ujarnya, sekali lagi dengan tersenyum. Tuanku tersenyum melihat ulah istrinya. Lalu ia pun membuatku terkejut untuk kesekian kalinya ketika kemudian ia bahkan turut serta menghabiskan supku.

Keduanya asyik mengudap makanan itu. Nyonya dan tuan mungkin memang sedang lapar. Tadi pagi kami hanya sempat sarapan roti bakar dan kopi panas. Tapi aku rasa bukan karena rasa lapar itu, terlebih ada perasaan tertentu yang aku sendiri tidak tahu.
“Ternyata sup ini pedas sekali, ya?” tuan melontarkan tanya.

“Iya. Tapi rasanya sangat beda.”

Keduanya membincangkan sup itu, sebentar tertawa kecil, sebentar berbincang. Kuperhatikan keadaan nyonyaku dari hari ke hari makin membaik. Ketika sedang makan dengan lahap seperti itu, nyonya seperti layaknya seorang yang tidak menderita sakit apapun.

“Ah, andai saja kedua tanganku ini bisa menyembuhkan sakit nyonyaku dalam satu kali pijatan saja, alangkah bahagianya aku.” Kalimat yang selalu hanya bisa aku ucapkan dalam hati saja.

Demi menghindari air mata haruku terjatuh, aku lempar pandangan ke sudut-sudut ruangan yang masih hiruk pikuk para pengunjung. Seseorang duduk di tempat meja paling belakang dekat lemari besar penyimpan minuman dingin, tengah asik mengobrol dengan ketiga rekannya. Tampak sekali mereka menikmati keakraban itu.

Kuarahkan pandanganku ke dinding yang bercat biru laut, yang dipajang berbagai menu kedai Yoyo, juga foto-foto artis jaman dulu. Pernak pernik jaman dahulu juga dipajang di almari-almari kaca. Kedai Yoyo adalah kedai satu-satunya yang menurutku sangat unik, sangat membuat nyaman para pelanggan, menunyapun tergolong tidak mahal. Rasa supnya yang pas yang senantiasa menjadi favorit kami.

“Benarr kau sudah kenyang?” tanya nyonyaku lagi. Aku mengangguk.

“Sangat kenyang sekali, terimakasih” jawabku.

Menyaksikan mereka dengan tulus tanpa perasaan canggung menghabiskan sisa makananku, aku terharu. Aku merasa telah menjadi TKI yang paling beruntung karena memiliki majikan rendah hati seperti keduanya. Aku merasa harus bersyukur kepada Tuhanku karena mengabulkan doaku untuk bekerja pada keluarga yang baik hati kepadaku. Yang memiliki rasa kasih meskipun hanya kepada seorang pembantu seperti aku.

Nyonyaku yang baik ini sekarang kehilangan kemampuan untuk berjalan karena sebuah kecelakaan. Suatu keadaan yang tentu saja sangat berat bagi seorang semuda beliau. Untungnya, ia seorang yang berpikiran luas dan bijaksana. Keluasan berpikir itu membuatnya selalu mampu melihat suatu masalah dengan pikiran yang adil. Ia seorang yang berpendidikan dan rajin beribadah. Aku selalu menyertainya bersembahyang di kuil. Aku selalu menyaksikannya berdoa dengan sungguh-sungguh.
Nyonyaku seorang yang tidak rapuh. Ia bahkan seorang wanita yang tabah dalam menghadapi cobaan. Ia tidak putus asa meskipun telah menerima ujian berat dari Tuhan dengan kelumpuhan yang diderita kedua kakinya.

Melihat Nyonya, kadang aku merasa sedang melihat kearifan ibuku sendiri. Seorang yang sangat memahami hati banyak orang, bukan hanya kepada suami dan anak-anaknya, tetapi juga kepada banyak orang lain di sekitarnya. Nyonyaku yang terbatas ruang geraknya masih mampu melihat keluasan dunia dengan mata hatinya. Hati seorang bunda. Banyak sekali hal mengharukan yang sering dilakukan Nyonya kepadaku. Sering pula ia memberi kesempatan kepadaku untuk belajar banyak hal.

Ia selalu mendukungku untuk belajar. Ia tidak melarangku membaca, ataupun menggunakan telepon genggam. Membiarkan aku menikmati hobiku di sela-sela waktu menjaganya. Ia mengajariku cara membaca huruf-huruf Mandarin dengan sabar. Ketika aku menyerah ia akan membangkitkan semangatku . Tetapi, karena dukungan nyonyaku, aku bertekad akan terus belajar.

“Selama masih di Taiwan belajarlah yang banyak, siapa tahu akan berguna buatmu ketika kembali ke tanah air nanti.” Kalimat itu yang sering Nyonyaku sampaikan untuk menyemangatiku.

Kadang, sekali waktu kebaikan Nyonyaku membuat aku rindu pada ibuku di kampung. Rindu kepada nasehat-nasehat dan petuah-petuah ibuku. Rindu pada cerita-ceritanya yang selalu penuh makna. Rindu belaian ibuku ketika menenangkan aku saat aku menghadapi masalah-masalah yang sulit kupecahkan. Aku juga ingat kata-kata ibuku agar aku selalu kuat dan tidak cengeng. Mengingat ibuku, melihat majikan perempuanku, aku kemudian bersyukur, Tuhan tidak memberikan cobaan sebesar cobaan yang diberikanNya pada nyonyaku. Tuanpun sama baiknya seperti Nyonya.

Kadang ia memang keras, karena ia adalah orang yang memang disiplin. Ia selalu menunjukkan sikap tak mengenal kompromi pada hal-hal yang bersifat baik. Tapi beliau selalu memikirkan yang terbaik. Kesetiaannya pada keluarga ini, kepada Nyonyaku untuk terus pantang menyerah, selalu mendampinginya dalam situasi sesulit apapun, selalu membuatku terharu. Ia selalu mengingatkan
aku akan rasa sayang ayahku kepada ibuku.

Yah, memang aku tidak biasa hidup di lingkungan keluarga yang berantakan. Ayah dan ibuku selalu mengatakan menjaga keutuhan keluarga sangat penting. Bantu membantu dan kasih sayang antara adik dan kakakku tidak boleh aku abaikan. Meskipun aku sekarang sedang ada di perantauan. Dan berada di keluarga ini, aku merasa sedang memiliki keluarga kedua.
Kenyataannya, bahkan majikanku sering mengatakan aku layaknya anak mereka sendiri. Aku berharap, aku tidak akan lupa diri karena kebaikan mereka. Bagaimanapun, aku memiliki tanggung jawab untuk bekerja dengan baik di keluarga ini. Aku harus bisa menjaga kepercayaan majikanku itu, sehingga mereka tidak akan kecewa telah memutuskan mengambilku sebagai pekerja mereka. Kiranya tuan dan Nyonyaku selalu sebaik saat ini, sudah barang tentu kedua anaknya juga layaknya kedua adikku.
Majikanku memiliki dua anak. Keduanya baik padaku. Satu kuliah dan yang satunya masih kelas dua SMA. Mereka pandai dalam segala bidang pelajaran. Mereka juga sering mengajari aku belajar menulis Mandarin. Mereka sangat mengerti keadaan mama mereka. Meskipun mereka belum ada yang menyelesaikan sekolah, tetapi mereka tidak manja. Mereka mampu menyelesaikan tugas-tugas dan kewajiban mereka tanpa harus merepotkan aku yang harus melayani kebutuhan ibu mereka.

Memang, ada kalanya mereka merepotkan. Sesuatu yang sangat wajar. Emosi kanak-kanak yang muncul kadang-kadang. Melihat keduaya, aku seperti menemukan kembali sosok kedua adikku. Mereka memiliki kesamaan; kadang menjengkelkan tapi lebih sering menyenangkan.

Aku benar-benar sangat bersyukur karena Tuhan telah memberikan aku satu keluarga yang baik di negara yang jauh dari tanah kelahiranku.

“Oh… kenyang… Dulis, kita pulang.” kelakar nyonya mengejutkan aku dari lamunan.

“Baikk” Sahutku sedikit geragapan. Kamipun bersiap untuk pulang. Kudorong kursi nyonya menuju mobil di mana tuan memarkirnya.

Ketika aku melangkah menyertai Nyonyaku, ada sisa rasa hangat sup yang menyusup di tubuhku, membaur dalam kehangatan keluarga majikanku.
Hshincu, 25 Mei 2016

Sepaket Cerita dari Formosa

Irnelya Sari / Sepaket Cerita dari Formosa / tidak ada / tenaga kerja asing Taiwan telah mengunci hatiku untuk tidak lagi memikirkan tanah kelahiran. Pun juga lelaki yang telah menelantarkanku sedemikian lama. Dengan gaji yang aku terima tiap bulan, aku bisa membeli apa saja yang kuinginkan. Pakaian bagus, perhiasan, kosmetik, dan mengirimi orangtua uang untuk berobat, seperti yang … Continue reading “Sepaket Cerita dari Formosa”

Irnelya Sari / Sepaket Cerita dari Formosa / tidak ada / tenaga kerja asing

Taiwan telah mengunci hatiku untuk tidak lagi memikirkan tanah kelahiran. Pun juga lelaki yang telah menelantarkanku sedemikian lama.

Dengan gaji yang aku terima tiap bulan, aku bisa membeli apa saja yang kuinginkan. Pakaian bagus, perhiasan, kosmetik, dan mengirimi orangtua uang untuk berobat, seperti yang dulu sangat kuimpikan. Boleh dibilang Taiwan adalah tempat pelarian yang menyenangkan.

***

“A Huan, nanti sore tolong telepon sopir Takyubin untuk ambil pesanan bunga pelanggan aku, ya!” seru cucu menantu nenek dari dalam kamar mandi, saat aku hendak membereskan sampah.

Kebiasaan dia yang tak menutup pintu saat mencuci muka, sangat menguntungkanku. Aku bisa bertanya apa saja yang tidak aku mengerti tanpa menyita waktunya. Aku paham, dia harus banting tulang menghidupi ketiga putrinya sendiri karena keputusannya.

“Baik, Nona. Apakah ada lagi yang bisa aku bantu?” tanyaku.

“Hmmm … Kamu bantu keluarkan ikan dan daging dari dalam kulkas ya. Biar aku bisa langsung masak. Ya, sekitar jam 16:00 deh! Kemarin aku kena omel mertua karena ikannya masih keras di dalamya,” tuturnya sambil tergelak tertawa.

Ah dia memang paling bisa memendam kepiluan hatinya, gumamku dalam hati.

“Ta Cie!!!” teriakkan seorang wanita samar-samar terdengar dari lantai atas.

“Iya,” sahut nona pula, masih tetap tidak beranjak dari kamar mandi.

“A Hong mau makan makanan dari luar saja. Tolong belikan dumpling 2 porsi,” tambah suara itu pula.

Tidak menyahut nona memberengut ke arahku. Dia tahu tak ada gunanya melawan, meski hatinya ingin berontak. Tuan sedang mabuk kepayang dengan wanita itu.
Sebagai seorang istri yang dikhianati suami untuk wanita lain, dan mertua yang memperlakukannya tidak baik, namun masih bertahan pada keluarga yang tidak menerimanya, sungguh aku kagum padanya. Wanita tangguh yang rela mengorbankan segala kepentingannya hanya untuk anak-anaknya.

“Baiklah kalau hanya itu saja yang kamu butuhkan. Kalau ada yang terlupa, telepon saja aku. Aku siap membantu,” imbuhku sambil berlalu dengan tentengan sampah di tangan kanan dan kiriku. Tak tega rasanya melihat nona diperlakukan tidak adil seperti itu.

Tak berapa lama, kudengar dia sudah menyalakan motornya, membeli sarapan. Pekerjaan yang tidak ada habisnya, tak pernah membuat dia mengeluh. Jika disinggung soal itu, dia selalu berujar: “Mengeluh takkan membuat orang lain mengasihaniku. Anak-anak butuh pendidikan, tempat tinggal yang layak, dan orangtua yang utuh. Semua itu, jauh lebih penting dari urusan pribadiku. Dan kamu tahu, aku belum mampu membeli rumah sepetak pun dari hasil kerjaku selama puluhan tahun bukan?”

Dari jawabannya itu, aku sering membandingkannya dengan keadaanku. Rumah hasil jerih payahku di Taiwan, seakan tak rela diinjak beberapa jam saja oleh mantan suamiku. Padahal, dia kesana dengan membawa serta anak semata-wayangku. Hanya karena persoalan penghiatan cintanya beberapa tahun lalu, biaya membesarkan anak yang begitu besar pun aku seolah tak peduli. Bahkan menganggapnya sebagai kewajiban bapaknya karena telah merampas anakku dariku. Apakah aku lebih egois dari lelaki itu?

Di kampungku, status janda bukan lagi hal yang memalukan. Penghasilan suami yang pas-pasan seringkali dijadikan alasan sebuah perceraian. Kawin cerai sudah menjadi hal yang biasa. Ya, semudah itu ikrar suci pernikahan diputuskan.

Waktu telah menunjukkan pukul 08:10 pagi ketika aku selesai mengganti baju nenek. Hari ini jadwal nenek cek up. Rehabilitation bus akan menjemput kami pukul 08:30, berarti hanya tersisa waktu 20 menit untuk aku membersihkan diri dan berganti pakaian. Tak lupa pula, catatan belanja bulanan dan titipan teman-teman yang akan mengirim uang aku bawa serta. Tempat kerjaku yang berada di gunung, membuat aku harus sedikit bersabar ketika ingin mengirim uang. Toko Indonesia hanya bisa aku kunjungi sebulan sekali, itu pun saat nenek cek up ke rumah sakit. Sering pula kami bergantian membelikan kebutuhan bulanan. Sudah seperti saudara, mereka akan dengan senang hati dititipi pesanan dalam bentuk apapun selagi tidak merepotkan.

“Hallo! Selamat pagi,” sapa lelaki bertopi itu. Tepat ketika aku mendorong nenek keluar rumah. Tuan Wu adalah sopir yang ramah. Beliau sudah puluhan kali mengantar-jemput kami ke rumah sakit.

“Pagi juga. Apakah Anda sudah makan Tuan?” tanyaku pula. Menirukan kebiasaan orang Taiwan, aku selalu bertanya apakah lelaki kurus ini sudah makan atau belum. Tentu, tanpa bermaksud meledek. He … he ….

“Sudah,” jawabnya,”oh iya, aku harus menjemput satu pasien lagi sebelum kita berangkat. Mungkin kita akan terlambat tiba di rumah sakit sekitar 20 menit,” jelasnya pula. Begitulah keramahan Tuan Wu, dia bekerja bukan semata hanya mencari penghasilan, tetapi melayani dengan sepenuh hati.

Rehabilitation bus adalah bus gratis yang disediakan pemerintah Taiwan untuk melayani para manula dan penyandang disabilitas. Pasien yang banyak, mengharuskan kita memesannya 5-3 hari sebelum jadwal cek up. Melalui layanan operator kita bisa memilih jam berapa kita diantar dan dijemput, disesuaikan dengan nomor urut pemeriksaan. Seperti yang Tuan Wu bilang, setelah melalui dua gang ke belakang dari rumah majikan, pasien berikutnya sudah berada satu armada dengan kami. Seorang kakek yang aku terka berusia 80-an dijaga oleh seorang wanita bertopi dan berkaca mata hitam besar. Dari cara dia mengucapkan bahasa Mandarin saat berbicara dengan sopir dan kulit sawo matangnya, aku rasa dia bukan anak dari kakek tersebut. Tapi sehubungan sikapnya yang dingin, aku lebih memilih menyibukkan diri dengan hand phone di tanganku.

Mobil pun melaju membawa kami ke Kuang Tien General Hospital tanpa ada obrolan apapun sampai bus berhenti di pelataran rumah sakit. Setelah mengucapkan terima kasih kepada Tuan Wu, aku segera mendorong nenek ke lantai 2 untuk tes darah. Setelah menunggu beberapa nomer, tugas pertamaku pun selesai. Kami turun kembali ke lantai 1 dengan menggunakan lift. Di sanalah aku bertemu kembali dengan wanita yang satu bus denganku tadi. Sialnya, kami hanya berdua dengan dia dan dua pasien kami yang tak bisa bicara. Sungguh aku tidak suka keheningan itu, sehingga aku memutuskan menelepon majikan mengabarkan kondisi nenek sekalian meminta ijin untuk membawa nenek ke Toko Indonesia sembari menunggu hasil laboratorium darah nenek, satu jam lagi.
Aku berjalan ke arah toko Indonesia dengan sangat cepat. Mengirim uang sesegera mungkin, membuat aku tidak mempedulikan lalu-lalang orang di kanan kiri.

Puk!

Tiba-tiba seseorang mengagetkanku dari belakang.

“Mbak. Tunggu sebentar!”serunya sambil menepuk bahuku.
Serta merta aku mengerem laju kursi roda dan menengok dengan sedikit kesal.
Huh!!! Dengusku.

“Oh kamu? Ada apa, Mbak? Aku buru-buru!” jawabku sambil kembali mendorong kursi roda setelah mengetahui siapa yang memanggilku tadi.

“Aku baru beberapa hari kerja di sini, Mbak. Tadi aku dengar kamu ngomong lewat telepon mau ke toko Indonesia. Aku ingin mendaftar kartu telepon. Makanya aku ikuti kamu,” jelasnya sambil menjajari langkahku.

Sebenarnya aku sangat jengkel jika teringat sikap dinginnya tadi. Tapi jika mengingat kemungkinan-kemungkinan di balik sikap dinginnya, dan kita sama-sama mengadu nasib demi keluarga, aku kesampingkan semua itu.

“Ya udah. Kamu ikuti aku saja. Aku dikejar waktu.”

Mengingat masih banyak yang harus aku selesaikan. Aku tak peduli lagi Mbak itu mengikutiku atau tidak.
Di Toko Indonesia, pesanan anak-anak aku cari secepat kilat, begitu pun yang mengirimkan uang. Tapi, lagi-lagi Mbak yang belum aku tahu namanya itu mendekatiku.

“Mbak boleh pinjam ARC-nya nggak?” mohonnya.

“Lah emang ARC kamu kemana?” aku balik bertanya. Heran. Pikiran negatif langsung saja memenuhi otakku.

“ARC aku belum selesai diperpanjang, Mbak,” jelasnya.

“Maaf nggak bisa, Mbak. ARC tidak boleh dipinjamkan untuk hal apapun!” tegasku.

“Aku harus menghubungi anakku di kampung, Mbak,” katanya lagi. Kali ini dengan memasang muka memelas.

“Ya sabar. Tunggu sampai ARC-nya jadi, Mbak.”

Aku tetap tak peduli. Aku tak ingin bermasalah di kemudian hari. Ada banyak kasus penipuan yang aku baca di media sosial berawal dari pinjam-meminjam ARC.

Masih aku ingat kejadian 2 tahun lalu, sebelum aku berangkat ke Taiwan. Bibiku yang sudah pengalaman ke luar negeri, harus menanggung akibat atas kecerobohannya. Menurut pihak bank yang mendatangi bibi saat itu, bibiku meminjam sejumlah uang yang dipakai oleh teman sesama TKI sewaktu di Hongkong. Adapun kedatangan mereka karena teman bibi tidak menyetor cicilan selama 16 bulan. Bagaimana pun bibi membela diri, tapi tidak ada toleransi lagi. Rumah bibi pun akhirnya disita pihak bank sampai temannya yang kabur mau mempertanggungjawabkan hutangnya.

Setelah membayar belanjaan ke kasir aku segera pamit pergi. Sempat aku lihat matanya berkaca-kaca. Tapi tekadku sudah bulat. Aku tidak boleh lemah dalam hal ini. Aku meminta maaf sekali lagi, sebelum berlalu.

Masih ada dua tugas lagi yang harus aku selesaikan sebelum Rehabilitation Bus menjemputku pukul 12:00 nanti, memeriksakan nenek ke dokter dan mengganti selang makan.

Di Taiwan semua harus hati-hati. Berteman bukan berarti uang dan dokumen pribadi dipinjamkan sana-sini. Nanti yang rugi kita sendiri.

Waktu menunjukkan pukul 10:43 ketika giliran nenek periksa. Dari hasil tes darah, dokter menyimpulkan tak ada kendala yang berarti dari kesehatan nenek, selagi pola makan teratur dan diperhatikan buang air besar dan kecilnya. Setelah meminta surat pengantar untuk mengganti selang makan dan menebus obat, kami sudah diperbolehkan pulang.

Sukurlah masih ada waktu untuk membeli test pack, juga nenek dan aku makan siang sebelum Rehabilitation Bus datang. Aku tidak melihat tanda-tanda Mbak itu pulang bersama kami. Aku menarik napas lega karenanya.

***

Sore harinya ketika aku mengeluarkan ikan dan daging pesanan nona dari dalam kulkas, dengan hati-hati pula kuselipkan test pack di tempat yang diperintahkan oleh nona. Tapi alangkah terkejutnya aku, karena suaminya sudah memperhatikanku sedari tadi tanpa aku sadari.

Sial! Gerutuku. Sejak kapan dia berdiri di pintu itu? Tanyaku lebih kepada diri sendiri.

“A Huan, kamu memasukkan apa ke dalam tempat sumpit itu?” tanyanya curiga.

“Ng-nggak ada kok Tuan.”

“Jangan bohong kamu!” serunya.
Akibat teriakannya itu tak berapa lama pacarnya turun dari lantai atas.

“Ada apa ribut-ribut?” tanyanya.
Dengan berat hati aku ambil test pack dari tempat sumpit. Dengan sedikit kesal, aku serahkan ke Tuan yang masih memasang muka curiga.

“Nona minta dibelikan ini saat aku di rumah sakit. Tanya dia untuk apa ini semua, karena aku hanya membelikannya. Tugasku selesai. Aku akan memandikan nenek. Permisi,” kilahku sambil berlalu.

Tuan memang banyak berubah semenjak ia bersama pacar barunya. Ia sering kali mencurigaiku tanpa sebab, karena kedekatanku dengan nona.

Malam harinya sepulangnya nona dari pekerjaan, aku mendengar keributan dari lantai atas. Sepertinya, pacar baru Tuan mengamuk hebat ketika mengetahui Tuan masih berhubungan dengan nona. Miris memang, tapi itulah kenyataannya. Usut punya usut, Tuan menginginkan anak lelaki yang belum juga ia miliki dari pacarnya itu. Sampai larut malam, aku masih memikirkan nona. Perlakuan apa lagi yang akan diterimanya, setelah beberapa waktu keluarga suaminya memaksa dia menerima wanita lain dalam kehidupan rumah tangganya?

Keesokan harinya nona beraktifitas seperti biasa. Mengobrol denganku sambil ia mencuci muka dan aku membereskan sampah. Ada lebam di wajahnya. Tapi tak ada yang perlu dikhawatirkan dari wanita tangguh satu ini sepertinya. Ia sudah terlatih mengatasi masalahnya sendiri. Ketika kutanyakan dia hanya berujar: “Ini perbuatan wanita sundal itu. Tapi jangan khawatir. Dia sudah pergi. Dia sudah menerima akibat dari perbuatannya,” jelasnya tanpa aku minta.

Tuan yang mengetahui nona sedang berbadan dua, menjadi berbalik membelanya. Bahkan dia memperingatkan pacarnya untuk tidak lagi mengganggu rumah tangganya. Persoalan wanita ‘Pengganggu’ selesai sudah.

***

Tuan menjadi sangat protektif semenjak mengetahui nona mengandung bayi laki-laki. Dia bukan saja mewanti-wanti nona untuk tidak memasak sarapan, tapi melarangnya mengerjakan pekerjaan lainnya.

“A Huan, jadi sekarang kamu tahu apa yang harus kamu kerjakan bukan?” ucapnya serius.

“Mengerti, Tuan. Kamu yang harus menggantikan tugas nona memasak untuk kakek ya, A Huan!” ucapku. Sengaja aku mengulangi kata-kata Tuan bermaksud mencandainya.

“Eh, awas ya Kamu. Nanti aku potong gajimu!” serunya sambil berkacak pinggang.
Aku pun lari kocar-kacir.

Ah, akhirnya …
Secuil harapan itu memang telah menjelma jadi kebahagiaan. Dan nona telah mendapatkannya. Di balik diamnya dia tak menyerah. Terus berusaha, berjuang, pantang menyerah, dan mencari tahu kunci untuk merebut kembali semuanya. Dan dia telah menemukan jawabannya. Lalu aku?Bagaimana dengan kebahagiaanku? Dimanakah dia? Kenapa belum aku rasakan itu? Sepaket cerita ini akan kukemas rapi dalam memori. Tentang sjuta alasan kenapa seseorang memilih tidak bercerita, berbuat kejam, dan terlampau berhati-hati dalam segala hal adalah bekalku untuk mengejar kebahagiaan.

***

Lima bulan telah berlalu. Jadwal cek up nenek aku lalui seperti biasa. Memasuki trimester kedua usia kehamilannya, Tuan semakin memanjakan nona dengan perhatian penuh. Raut bahagia terpancar sekali dari wajah nona yang selalu dihiasi senyuman, pun antusias ketiga putrinya menyambut adik lelaki mereka. Sering kali nona kewalahan meladeni mereka yang berebut ingin mencium perut buncitnya. Seperti pagi itu. “Ayo anak-anak. Cepat ambil tas masing-masing nanti kalian terlambat!” seru Tuan saat aku memasak sarapan di dapur.

Ruangan dapur yang hanya tersekat tembok dari ruang tamu, membuat aku leluasa menguping rutinitas mereka. “Aku mau cium adik dulu.” “Aku jugaaa!” seru yang lainnya menyetujui. Entah siapa yang memulai lebih dulu, sehingga keriuhan terjadi di ruangan itu. Tuan berteriak melerai. Nona hanya terkekeh geli. Sementara tiga kakak-beradik berebut ingin duluan mencium. Ah! Andai saja nona sepertiku—yang memilih pergi dari suami, mungkin tak akan aku lihat kebahagiaan seperti ini. Aku hanya tersenyum getir. Setelah memastikan sarapan beres, aku segera bersiap-siap. Rehabilitation Bus akan menjemputku setengah jam lagi. Nenek sudah aku dandani sedari pagi. Waktunya aku mengganti baju dan memoleskan bedak agar kulit sawo matangku terlihat sedikit cerah.

Kali ini bukan Tuan Wu yang menjemput kami. Tapi aku sempatkan berbasa-basi dengannya. Penduduk Taiwan sangat ramah dengan siapapun. Demi menjaga kesopanan aku selalu menyapa meski hanya menganggukan kepala.
Eit! Mbak yang waktu itu? Hatiku bertanya kerika sudah di dalam mobil.

“Hallo, Mbak! Lama nggak ketemu. Apa kabar?” sapaku pada wanita yang telah lebih dulu duduk di dalam Rehabilitation Bus.

“Alhamdulillah baik. Kamu tinggal di sini, Mbak?” tanyanya balik.

“Iya. Oh iya. Maaf ya waktu itu. Aku nggak bisa bantu,” jelasku mengenang kejadian saat pertama kali ketemu wanita itu.

“Tidak apa-apa, Mbak. Wajarlah kalau kamu tidak percaya. Kita kan baru ketemu,” katanya maklum.

“Terus bagaimana?” tanyaku penasaran.

“Ya terpaksa aku menuruti saran kamu. Sabar sampai ARC-ku selesai diperpanjang,” ujarnya sambil terkekeh.

“Sukur, deh, kalau kamu nggak dendam sama aku, Mbak,” ucapku sedikit menyesal.

“Nggaklah kenapa harus dendam?”
Kami sama-sama tertawa. Obrolan kami selanjutnya membahas seputar pekerjaan masing-masing dan hand phone Mbaknya yang dicuri orang saat kongkow-kongkow di taman. Kami pun berpisah dengan tidak ada ganjalan di hati.

Terima kasih Mbak Ami tidak membenciku, karena telah berprasangka buruk menganggapmu seorang TKW Ilegal.